218
KORELASI ANTARA AKTIVITAS MAHASISWA DI MASJID
AL-BAROKAH DENGAN PRESTASI BELAJAR MEMBACA
AL-QUR’AN MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
DI IKIP PGRI PONTIANAK
Musti’ah
Program Studi Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial IKIP PGRI Pontianak Jalan Ampera No. 88. Pontianak 78116
e-mail: [email protected] Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah melihat adanya korelasi antara aktivitas mahasiswa di Masjid Al-Barokah dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam mahasiswa IKIP PGRI Pontianak. Permasalahannya adalah adakah korelasi antara aktivitas mahasiswa di Masjid Al-Barokah dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak. Variabel bebas dalam penelitian ini aktivitas mahasiswa di masjid Al-Barokah dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa di IKIP PGRI Pontianak. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian korelasional, populasi penelitian ini seluruh mahasiswa geografi semester II di IKIP PGRI Pontianak yang berjumlah 139. Sampel diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling yang berjumlah 32 mahasiswa kelas B Pagi. Dari hasil analisis data diketahui bahwa r hitung sebesar 0.61 dan ternyata r hitung lebih besar dari r tabel, 0,35. Ini berarti “ada korelasi antara aktivitas mahasiswa di Masjid Al-Barokah dengan prestasi belajar membaca Al-Qur’an mata kuliah Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak. Dari perhitungan dengan product moment diketahui bahwa r hitung sebesar 0,61 berarti ada korelasi positif antara aktivitas mahasiswa di Masjid Al- Barokah dengan prestasi belajar membaca Al-Qur’an mata kuliah Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak, dengan tingkat korelasi cukup.
Kata kunci: Aktivitas mahasiswa, prestasi belajar, Pendidikan Agama Islam.
Abstract
The purpose of this study is to investigate correlation between students’ activities at Masjid Al-Barokah and students’ achievement on reciting Quran of Islamic Education subject at IKIP PGRI in Pontianak and how significant the correlation between students’ activities and their achievement on Islamic Education subject. The independent variable of this study was student activities the mosque of Al-Barokah and the dependent variable was students’ achievement on Islamic Education subject IKIP PGRI Pontianak. This was a descriptive study by using correlational research with 32 students taken as samples using random cluster sampling technique. The results of the data analysis showed that r count was 0.61, and it was compared with r table, 0.35. So, it can be said that there was positive correlation between students’ activities at Masjid Al Barokah and students’ achievement on reciting Qur’an Islamic Education Subject with moderate significant level.
219
PENDAHULUAN
Proses pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan di perguruan tinggi. Setiap pendidikan hendaknya juga dapat bekerja sama dengan pendidikan lingkungan lain, sebab setiap lingkungan pendidikan sebenarnya merupkan komponen dalam sistem lingkungan pendidikan. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang bertanggung jawab. Belajar mengajar telah diketahui bukanlah berproses dalam kehampaan, tetapi berproses dalam kemaknaan, didalamnya ada sejumlah nilai yang akan disampaikan kepada anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses belajar mengajar. Jadi, dapat dikatakan bahwa dari berbagai sumberlah bahan pelajaran itu diambil.
Proses pembelajaran pada diri anak tidak hanya terjadi pada waktu mereka mendapatkan pelajaran dari pengajarnya (dosen), akan tetapi para mahasiswa bisa belajar diluar jam pelajaran, salah satunya mahasiswa dapat belajar di masjid, mereka memanfaatkan masjid sebagai salah satu sumber belajar yang mereka butuhkan, baik yang berhubungan dengan mata pelajaran atau diluar materi pelajaran. Sesungguhnya ada satu segmen penting yang perlu dihidupkan kembali peranan dan fungsinya dalam komunitas kita, ketika semua sendi kehidupan masyarakat, institusi, dan lembaga serta sistem sosial memburuk, peranan masjid sangat penting dalam membentuk peradaban umat sekaligus pusat seluruh aktivitas. Mungkinkah kita mampu mengembalikan peranan dan fungsi masjid yang mulia itu sebagaimana awalnya, seiring perkembangan zaman dan era globalisasi serta banyaknya lembaga pranata sosial.
Dulu Rasulullah SAW. membentuk kehidupan masyarakat Islam di Makkah selama 13 tahun dengan tarbiyah iman kepada para sahabat, kemudian hijrah ke Madinah. Begitu juga ketika Rasulullah SAW membentuk masyarakat
220
Islam yang kokoh dan terpadu yang terdiri diri atas kaum Anshar dan Muhajirin, langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. adalah memakmurkan masjid. Masjid merupakan basis pembinaan umat dan pusat seluruh aktifitas umat Islam. Pada saat itu, masjid merupakan satu-satunya pusat atau pranata sosial tunggal untuk membicarakan dan menyelesaikan berbagai masalah. Hal ini dapat diartikan bahwa segala macam kegiatan hendaknya berangkat dari masjid. Berangkat dari masjid kita akan membangun suatu komunitas masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai takwa kepada Allah SWT. Allah SWT memperingati dalam Q.S. At Taubah ayat 108 yang artinya: “Sesungguhnya masjid yang
didirikan atas dasar takwa”. (Departeman Agama Republik Indonesia, 2005). Masjid bagi umat Islam bukan hanya sebagai tempat beribadah kepada Allah, beri’tikaf, berdzikir dan memperbanyak amalan-amalan ibadah lainnya, melainkan sebagai sentral kegiatan seluruh umat Islam yang memiliki asal usul, nilai dan sejarah tersendiri. Masjid mempunyai nilai yang tinggi dan suci, sebagai pusat kebudayaan dan tempat menumbuhkan sebuah peradaban Islam yang tidak bisa disamakan dengan bangunan pencakar langit lainnya yang ada di atas bumi ini. Masjid adalah sarana untuk menyebarluaskan takwa sehingga seluruh lapisan masyarakat akan memperoleh ketenangan, kesejukan, kebahagiaan, dan sejenisnya, bukan sebaliknya, masjid sebagai sarana amuk masa dan kebrutalan lainnya. Dengan demikian, kewajiban kita adalah mengembalikan peran masjid sebagaimana mestinya dan menjadikan semua aktivitas sebagai kesatuan dari upaya gerakan memakmurkan masjid. Oleh karena itu, untuk menghidupkan kembali peran dan fungsi masjid seperti sedia kala, ada satu hal yang perlu diubah yaitu opini masyarakat luas yang mengatakan bahwa masjid hanyalah untuk tempat melaksanakan shalat fardhu.
Rasulullah SAW pernah bersabda (Bukhori Muslim, 2002):
“Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk masjid maka saksikanlah bahwa dia beriman karena sesungguhnya Allah SWT telah berfirman dalam surat At Taubah ayat 18 ”Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allahlah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada
221
siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (H.R. Ahmad dan At Rirmidzi).
Oleh karena itu, dengan menghidupkan kembali peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan fungsi sosial mudah-mudahan kita mampu memelihara dan mengembangkan institusi dan lembaga suci (masjid) ketika lembaga-lembaga sosial lainnya belum maksimal peran dan fungsinya untuk menuju terbentuknya sebuah komunitas masyarakat madani. Membaca Al-Qur’an merupakan salah materi dalam perkuliahan PAI. Mahasiswa harus dapat membaca dengan baik serta memahami makna yang terkandung didalamnya sehingga setelah mereka memahami maknanya, diharapkan mereka juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Al-Qur’an tidak cukup dilakukan di dalam kelas akan tetapi aktivitas mahasiswa di dalam masjid memiliki peranan yang penting dalam menambah pengetahuan dalam membaca Al-Qur’an termasuk pembelajaran adalah TPA/TPQ, kajian remaja baik yang sifatnya umum dan intensif, kajian rutin ba’da Maghrib dan Isya untuk jamaah (kajian pemikiran Islam, pendidikan akhlak, kitab sholih Bukhori, kitab dosa-dosa besar, fiqh Ikhtilaf, tafsir Al-Qur’an), program kerja remaja masjid (hafalan Al-Qur’an, bahasa arab, kajian rutin, binaan dan regenerasi remaja masjid), dan pengadaan kegiatan bakti sosial, out bond, rihlah yang bersifat refreshing (Hermawan, 2012: 3).
Berdasarkan pra-observasi mahasiswa di IKIP PGRI Pontianak ada yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di masjid Al-Barokah dan masih ada juga yang belum pernah masuk ke masjid al-Barokah. Berdasarkan alasan tersebut penulis ingin mengkaji dengan penelitian tentang “Korelasi Aktivitas Mahasiswa di Masjid Al-Barokah Terhadap Prestasi Belajar Membaca Al-Qur’an pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Isalam di IKIP PGRI Pontianak.”
METODE
Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik korelasional. Metode diskriptif adalah suatu penelitian yang diupayakan untuk
222
mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat objek tertentu. Penelitian ini akan menjawab permasalahan adakah korelasi antara aktivitas mahasiswa IKIP PGRI Pontianak di masjid al-Barokah dengan prestasi belajar agama Islam.
Bentuk penelitian ini adalah penelitian korelasional (correction studies) dengan tujuan mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel. Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah aktivitas mahasiswa di masjid al-Barokah, yang menjadi indikatornya adalah: (1) mahasiswa sholat berjama’ah; (2) membaca Al-Qur’an; (3) mahasiswa menghadiri kajian ilmiah di masjid al-Barokah; (4) mahasiswa musyawarah di masjid al-Barokah; (5) mahasiswa mengikuti perlombaan di masjid al-Barokah.
Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam mahasiswa semester I IKIP PGRI Pontianak. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 108). Dapat dikatakan bahwa populasi merupakan objek yang menjadi sasaran dalam satu kegiatan ilmiah atau dalam penelitian. Dalam penelitian ini penulis menetapkan populasi sebagai berikut.
Tabel 1. Populasi Responden
No Kelas Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan 1 A PAGI 20 12 28 2 B PAGI 22 16 32 3 A SORE 23 13 36 4 B SORE 21 12 33 Total 139
Selanjutnya, dari seluruh mahasiswa yang berjumlah 139 diambil sampel dengan cara cluster random sampling setelah uji homogenitas dari total populasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 2. Sampel Responden
No Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
223 Teknik pengumpul data merupakan cara atau strategi yang harus dilakukan peneliti dalam mengumpulkan antara variabel-variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik observasi dan dokumentasi.
Teknik komunikasi tidak langsung adalah teknik pengumpulan data secara tidak langsung atau melalui angket, sebagaimana dikemukakan oleh Zuldafrial (2004: 31) bahwa teknik komunikasi tidak langsung adalah suatu teknik pengumpulan data, dimana si peneliti tidak berhadapan langsung dengan subjek penelitian untuk mendapatkan data atau informasi yang diperlukan, tetapi dengan menggunakan angket, yaitu sejumlah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh subyek penelitian atau responden. Jadi teknik komunikasi tidak langsung adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu alat pengumpul data yang telah disusun oleh peneliti, yaitu berupa angket. Teknik ini digunakan peneliti untuk memperoleh data primer, yaitu data aktivitas mahasiswa di masjid al-Barokah.
Teknik Pengukuran adalah cara mengumpulkan data hasil belajar siswa dengan menggunakan soal tes berupa tes objektif yang bersifat kuatitatif untuk mengetahui tingkat atau derajat aspek tertentu dibandingkan dengan norma tertentu pula sebagai satuan ukur yang relevan. Teknik ini digunakan untuk memperoleh hasil belajar dalam membaca Al-Qur’an.
Alat pengumpul data. Kualitas penelitian sangat ditentukan oleh alat pengambil data atau alat pengukurnya. Berdasarkan teknik-teknik pengumpul data yang digunakan, maka alat pengumpul data yang sesuai dengan teknik-teknik tersebut adalah panduan angket. Panduan angket berisi jenis kegiatan aktivitas mahasiswa selama berada dalam masjid. Pada alat pengumpulan data ini, peneliti menyebarkan angket yang terdiri dari 25 pertanyaan secara tertutup, artinya pertanyaan tersebut sudah peneliti lengkapi dengan jawaban a, b, c, dan d. sedangkan skor masing-masing jawaban adalah: jawaban a=4, b=3, c=2, dan d=1.
Tes hasil belajar adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Pengumpulan data melalui alat ini, peneliti menggunakan tes lisan, artinya mahasiswa diminta
224
untuk membacakan beberapa ayat Al-Qur’an, dengan aspek penilaian (indikator) meliputi makhrajil huruf (ketepatan dalam melafalkan huruf al-Qur’an dan tajwidnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis dalam suatu penelitian merupakan bagian yang sangat penting, karena dengan analisis data ini, data yang diperoleh akan disajikan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian untuk mencapai tujuan akhir penelitian.
Penelitian korelasi ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua varibel dan apabila ada, seberapa erat hubungan serta berarti hubungan itu (Arikunto, 2002: 239). Sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi diantara dua variabel, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Product Moment.
Berdasarkan perhitungan, maka dapat diketahui bahwa terdapat hubungan positif sebesar 0.61 antara aktivitas mahasiswa di masjid al-Barokah dan prestasi belajar membaca al-Qur’an pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam karena r hitung lebih besar dari rtabel sehingga Ho pada penelitian ini ditolak. Selanjutnya koefisien korelasi yang sebesar 0.61 dikonsultasikan dengan tabel interpretasi, diketahui 0.61 berada diantara 0.600 sampai dengan 0.800 yang berarti ada korelasi positif antara aktivitas mahasiswa di masjid al-Barokah dengan prestasi belajar membaca al-Qur’an pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan katagori cukup. Hasil akhir dan perhitungan ini akan menunjukkan kuat tidaknya hubungan dua variabel. Adapun mengenai kuat tidaknya hubungan dua variabel dapat dilihat dari hasil besar kecilnya angka yang dihasilkan dan kemudian dikonsultasikan dengan interpretasi nilai r.
Aktivitas mahasiswa di lingkungan masjid memiliki peranan penting dalam memperluas khasanah keilmuan, khususnya ilmu agama. Untuk itu perlu ada fasilitas atau sumber ilmu, serta kajian-kajian agama (dakwah) yang dapat membantu mahasiswa memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari hasil observasi dan analisis
225 dokumen, yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan rumus korelasi
product moment. Dari analisa tersebut dapat diketahui bahwa ada korelasi positif antara aktivitas mahasiswa di Masjid al- Barokah dengan prestasi belajar membaca Al-Qur’an pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak. Dengan demikian masjid merupakan salah satu sumber pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan agama mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya peranan masjid sebagai sumber pembelajaran yang dilakukan oleh Waluyo (2012). Selain itu juga dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa masjid dapat menjadi sumber inspirasi dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian ini perlu dikembangkan kegiatan yang lebih bervariatif dan pemanfaatan masjid yang sudah ada, karena masjid selain temapat ibadah mahdloh (ibadah murni/langsung kepada Allah SWT.) masjid juga sangat berperan dalam ibadah ghoiru mahdlhoh (interaksi antar manusia) dalam bentuk sikap dan perilaku yang islami serta sebagai sumber pembelajaran dalam membantu prestasi Pendidikan Agama Islam. Sesuai dengan pendapat Jabir (2006) remaja dapat disalurkan dan diarahkan pada jalan yang benar dan bermanfaat melalui peningkatan fungsi peran remaja masjid sehingga mereka dapat terhindar dari dampak negatif globalisasi seperti kenakalan remaja, pengedaran dan penggunaan obat-obat terlarang, dan lain-lain. Dengan demikian, mahasiswa perlu memanfaatkan masjid tidak hanya dalam ibadah akan tetapi juga sebagai sumber pembelajaran dalam meningkatkan prestasi belajar tentang keagamaan.
SIMPULAN
Berdasarkan pengolahan analisis data diketahui r hitung sebesar 0.61 dan ternyata r hitung lebih besar dari r tabel, 0,35 yang berarti “ada korelasi antara aktivitas Mahasiswa di Masjid al-Barokah dengan Prestasi Belajar Membaca Al-Qur’an Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak”. Dengan diketahui r hitung (product moment) diketahui bahwa ada korelasi positif antara Aktivitas Mahasiswa di Masjid al- Barokah Terhadap Prestasi Belajar Membaca
226
Al-Qur’an Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di IKIP PGRI Pontianak, kemudian dikonsultasikan dengan Interpretasi Nilai r dengan tingkat korelasi rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Hermawan, A. 2012. Peran Masjid sebagai Pusat Pendidikan Islam dalam Pembentukan Akhlak Remaja (di Masjid Al-Muhajirin Semanggi Pasar Kliwon Surakarta). Surakarta: UNS. Skripsi. (tidak dipublikasikan).
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Bukhori Muslim. 2002. Mukhtarul Ahadtis. Libanon: Bairut.
Departeman Agama Republik Indonesia. 2005. Al-Quranul Karim. Bandung: Syamil.
Waluyo, E. 2012. Pemanfaatan Masjid Jami’ Kranji sebagai Sumber Pembelajaran IPS. Journal of Educational Social Studies UNNES, JESS 1 (2). 112-117. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Jazairi, A.B.J, 2006. Minhajul Muslimin, Darul Bayan Li Ulumil Qur’an. Bairut
Libanon.
Muhaimin, dkk. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: Karya Abdi Tama. Sugiono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.