• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEGAKAN HUKUM DALAM PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENEGAKAN HUKUM DALAM PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENEGAKAN HUKUM DALAM PENANGANAN

GELANDANGAN DAN PENGEMIS

(SUATU TINJAUAN MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 DAN HUKUM PIDANA)

TESIS

Oleh

YUSRIZAL 097005047/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PENEGAKAN HUKUM DALAM PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS

(SUATU TINJAUAN MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 DAN HUKUM PIDANA)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum

Dalam Program Studi Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh YUSRIZAL 097005047/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Tesis : Penegakan Hukum Dalam Penanganan Gelandangan Dan Pengemis (Suatu Tinjauan Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Dan Hukum Pidana)

Nama Mahasiswa : Yusrizal

Nomor Pokok : 097005047 Program Studi : Ilmu Hukum

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH., M.Hum.) Ketua

(Dr. Faisal Akbar Nasution, SH., M.Hum.) (Dr. Hasim Purba, SH., M.Hum.) Anggota Anggota

Ketua Program Studi D e k a n

(Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH.) (Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum.)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 30 Juni 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum. Anggota : 1. Dr. Faisal Akbar Nasution, S.H., M.Hum.

2. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum. 3. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., M.S. 4. Dr. Idha Aprilyana, S.H., M.Hum.

(5)

ABSTRAK

Pasal 504 dan 505 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menyatakan bahwa perbuatan gelandangan dan pengemis dihukum dengan pidana kurungan, sebaliknya dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara serta negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Berdasarkan ketentuan diatas yang menjadi permasalahan yaitu: bagaimanakah fungsionalisasi hukum pidana terhadap gelandangan dan pengemis, bagaimanakah kedudukan Pasal 504 dan Pasal 505 KUHP bila dikaitkan dengan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945, bagaimanakah upaya dekriminalisasi terhadap perbuatan gelandangan dan pengemis dalam perspektif kebijakan hukum pidana. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan fungsionalisasi hukum pidana terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh gelandangan dan pengemis, bagaimanakah kedudukan Pasal 504 dan Pasal 505 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terhadap Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 dalam suatu tertib hukum. Serta mengkaji upaya dekriminalisasi terhadap gelandangan dan pengemis dalam perspektif kebijakan hukum pidana.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif yang mengacu pada norma hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Analisis data dilakukan secara kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa fungsionalisasi hukum pidana (penegakan hukum) terhadap gelandangan dan pengemis belum berfungsi secara maksimal karena operasionalisasi hukum pidana lebih diarahkan kepada penghukuman bukan perawatan. Penegakan hukum pidana dalam penanganan gelandangan dan pengemis harus diharmonisasikan dengan peraturan yang lebih tinggi dan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat (the living law). Serta implementasi dari Pasal 34 UUD 1945 dan kebijakan Perundang-undangan dalam berhukum didalam masyarakat, seperti Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Kesejahteraan Rakyat yang dapat memberikan kontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Secara hierarki Peraturan Perundang-undangan Pasal 504 dan 505 tidak mengikat dan berdaya guna dalam pelaksanaanya karena bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Hakikatnya gelandangan dan pengemis bukan merupakan perbuatan yang melawan hukum, bahwa suatu perbuatan tidak dapat dikatakan sebagai kriminal jika tidak terdapat kehendak jahat didalamnya sehingga sangat tepat apabila didekriminalisasikan karena tidak ada yang dirugikan dari perbuatan tersebut.

(6)

ABSTRACT

Article 504 and 505 of the KUHP that vagabonds and beggars on the street can be imprisoned. Conversely, but in article 34 of the 1945 constitutions states that the poor and the neglected children are taken care of by the government, and the government should develop social security system for all of people and empower the poor the weak and indigent according to dignity and human values.

Based on the statement above, the problem are formulated as follows: how to functionalize the criminal law on the vagabonds and beggars, how about the status of article 504 and article 505of the KUHP when they are connected with article 34 of the 1945 constitution, how to decriminalize the vagabonds and the beggars on the street in the perspective of the criminal law policy. This research was aimed to explain and analyze the functionalization of the criminal law against the violation done by vagabonds and beggars, how about the status of article 504 and article 505 of the KUHP on article 34 of the 1945 constitutions in a legal system, and how to study the decriminalization of the vagabonds and the beggars in the perspective of the criminal law policy.

The method of the research was the judicial normative which was referred to the legal norms or the legal doctrines in order to solve the problem. The data were analyze qualitatively.

The result of the research showed that the functionalization of the criminal law (law enforcement) against the vagabonds and the beggars was not maximal enough because the process of putting the criminal law in to operation was directed to punishment and not to development. The criminal law enforcement in handling the vagabonds and the beggars should be in harmony with the higher regulations and with the values of the living law. Moreover, the implementation of article 34 of the 1945 constitutions and the policy if the legal provisions in the law abiding in the society, such as the law of the national social security system and the law of people’s prosperity which can contribute to the abolishment of poverty. Hierarchialy, article 504 and article 505 KUHP are not restricted and efficient use of its implementations because they are not contrary with the high regulation. In principle, the vagabonds and the beggars do not violate the law; it can be said that and action cannot be categorized as illegal if there is no illegal intention so that it is true when the action is de-discrimination because no one complains because of their action.

Key words: Law Enforcement, Vagabonds and Beggars, The Constitution (UUD 1945), Criminal Law (KUHP)

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala karunia-Nya, akhirnya tersusunlah tesis ini dengan judul: Penegakan Hukum Dalam Penanganan Gelandangan Dan Pengemis (Suatu Tinjauan Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Dan Hukum Pidana).

Penulisan tesis merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera. Selesainya tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. untuk itu, dengan sepenuh hati penulis menghaturkan terima kasih kepada mereka.

Secara khusus terima kasih yang mendalam penulis sampaikan kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc. (CTM), Sp. A(K), selaku pimpinan tertinggi di Universitas Sumatera Utara.

2. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Runtung, SH.,M.Hum.

3. Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Suhaidi, SH.MH.

(8)

4. Pembimbing dalam penulisan tesis yaitu: Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH.M.Hum., Dr. Faisal Akbar Nasution, SH. M.Hum., Dr. Hasim Purba, SH. M.Hum., yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

5. Penguji tesis: Dr. Madiasa Ablisar, SH.MS. dan Dr. Idha Aprilyana., SH. M.Hum., yang telah memberi masukan dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan tesis ini.

6. Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Drs. A. Hadi Arifin, M.Si, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melanjutkan studi pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

7. Dekan Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, Sumiadi, SH.M.Hum.

8. Orang tua yang tersayang, Muhammad Hasbi Umar dan Ainsyah yang telah mencurahkan kasih sayang, doa dan dukungan kepada penulis, semoga keduanya mendapat pahala dan dimuliakan oleh Allah SWT.

9. Kepada adik-adikku tersayang, yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materil kepada penulis.

10. Isteri yang tercinta, Herawati, S.E., dan anakku yang terkasih Ahmad Tsaqif Altamis yang telah memotivasi dan rela memberi waktu, tenaga dan kesempatan demi penyelesaian tesis ini.

(9)

11. Teristimewa kepada: Ir. Nasrun, MT., dan Ummi Kalsum, SH.MH., yang telah banyak membantu penulis semasa perkuliahan.

12. Civitas akademika Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu penulis dalam proses perkuliahan di Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

13. Teman-teman Angkatan 2009 yang selalu memotivasi penulis agar cepat menyelesaikan kuliah, semoga kebersamaan yang sudah terjalin menjadi lebih erat dimasa mendatang.

Akhirnya demi kesempurnaan tesis ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak. Atas bantuan berbagai pihak penulis mengucapkan terima kasih yang that meulambong, semoga kebaikan tersebut mendapat balasan yang setimpal.. Amin ya Rabbal Alamin…..

Medan, Juni 2011 Penulis

(10)

Riwayat Hidup

Identitas Diri

1. Nama : Yusrizal

2. Tempat/Tanggal Lahir : Kampung Tempel/13 April 1983 3. Jenis Kelamin : laki-laki

4. Agama : Islam

5. Status Perkawinan : Kawin

6. Alamat : Gampong Batu XII, Kec. Cot Girek 7. Pekerjaan : Dosen Fakultas Hukum Unimal 8. Pangkat/Gol : Penata Muda TK I/III b

9. NIP : 198304132006041001

10. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli

Pendidikan:

1. SD Negeri Kampung Tempel : Lulus Tahun 1995 2. SMP Negeri 1 Cot Girek : Lulus Tahun 1998 3. SMU Negeri 1 Lhoksukon : Lulus Tahun 2001 4. Fakultas Hukum Unsyiah : Lulus Tahun 2005 5. Magister Ilmu Hukum USU : Lulus Tahun 2011

(11)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ……… ii

KATA PENGANTAR ………. iv

DAFTAR ISI ……… vii

BAB I : PENDAHULUAN ..………. …… 1 A. Latar Belakang ………... 1 B. Perumusan Masalah ………. 12 C. Tujuan Penelitian ………... 12 D. Manfaat Penelitian ………... 13 E. Keaslian Penelitian ………... 13

F. Kerangka Teori dan Konsep ………. 14

G. Metode Penelitian ………. 26

BAB II: FUNGSIONALISASI HUKUM PIDANA TERHADAP PELANGGARAN KETERTIBAN UMUM YANG DILAKUKAN OLEH GELANDANGAN DAN PENGEMIS …. ... 31

A. Latar Belakang Munculnya Gelandangan dan Pengemis ..……… 31

B. Fungsionalisasi Hukum Pidana ……….. 35

C. Penghukuman Dalam Penanganan Gelandangan dan Pengemis... 49

BAB III: KEDUDUKAN PASAL 504 DAN PASAL 505 KUHP DALAM KAITANNYA DENGAN PASAL 34 UNDANG- UNDANG DASAR 1945 ………... 57

(12)

B. Harmonisasi Hukum ……… 70

C. Penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional Sebagai Wujud Perlindungan Masyarakat (Sosial Defence) …………... 75

BAB IV: DEKRIMINALISASI TERHADAP GELANDANGAN DAN PENGEMIS DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN HUKUM PIDANA ………... 89

A. Proses Dekriminalisasi ………... 89

B. Gelandangan dan Pengemis Dalam Perspektif Kebijakan Hukum Pidana ……….. 102

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN ………... 119

A. Kesimpulan ………... 119

B. Saran ………... 121

DAFTAR PUSTAKA ………... 124

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan hal tesebut, maka telah dilakukan pene- litian untuk penentuan konsentrasi dan efektivitas gelatin dari limbah tulang ikan bandeng sebagai

Penjelasan mengenai batas usia 21 tahun ditetapkan berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha kesejahteraan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seseorang

Artikel Bidang Penelitian Budidaya berupa review tentang simulasi Penggunaan Model (program komputer) WaNulCAS untuk Manajemen Tumpang Sari tanaman sela di antara

mengenai UMP berlaku bagi seluruh kabupaten/kota di suatu provinsi, dalam hal di kabupaten-kabupaten/kota-kota di provinsi tersebut belum ada pengaturan mengenai

Pembangunan jaringan transportasi darat yang memadai di Kota Depok adalah mampu meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi masyarakat, meningkatnya nilai

c/q. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu. yang dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama wajib pajak PBB-P2 ..., dengan ini mengajukan

Untuk meningkatkan efisiensi pemisahan secara distilasi, dapat dilakukan dengan sistem refluk yaitu dengan mengembalikan cairan hasil kondensasi uap yang keluar dari

Hasil penelitian menjelaskan bahwa dalam hukum pidana Islam, tindak pidana peretasan terdapat unsur mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain tanpa