• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Kinerja Instansi

Pemerintah

Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol

Januari 2017

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

(2)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| i

KATA PENGANTAR

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol Tahun 2016 merupakan salah satu perwujudan laporan pelaksanaan anggaran berbasis kinerja dan juga sebagai laporan pertanggungjawaban dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasi.

Melalui Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2016, Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol melaporkan kinerjanya yang diukur dari pencapaian kinerja misi, sasaran, program, dan kegiatan yang dilakukan pada tahun 2016 sesuai yang tertuang dalam Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Rencana Kinerja Tahunan Tahun 2016. Pengukuran pencapaian kinerja dilakukan dengan merujuk pada indikator kinerja output dan outcome yang telah ditetapkan dan direalisasikan per tahun.

Dengan disusunnya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah ini, diharapkan dapat memberikan informasi secara transparan kepada seluruh pihak yang terkait mengenai tugas fungsi Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol, sehingga dapat memberikan umpan balik guna peningkatan kinerja pada periode berikutnya.

Demikian Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol Tahun 2016 ini kami susun untuk dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Jakarta, Januari 2017 Sekretaris Badan Pengatur Jalan Tol,

Ir. Arief Witjaksono, M.Eng.Sc NIP. 19581009 198603 1 003

(3)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... iv RINGKASAN EKSEKUTIF ... v BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang/Permasalahan ... 1 1.2 Tugas, Fungsi ... 2 1.3 Struktur Organisasi ... 3 1.4 Isu Strategis... 5

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 13

2.1.Uraian Singkat Renstra ... 13

2.2.Perjanjian Kinerja ... 16

2.3.Metode Pengukuran ... 19

2.4.Target Tahun Ini Menurut Renstra ... 20

BAB III KAPASITAS ORGANISASI ... 22

3.1. SDM Unit Kerja... 22

3.2. Sarana dan Prasarana... 23

3.3. DIPA ... 24

BAB IV AKUNTABILITAS KINERJA ... 26

4.1. Capaian Kinerja Organisasi ... 26

4.2. Perbandingan Kinerja Organisasi ... 28

4.3. Analisis Kinerja Organisasi ... 29

4.4. Efisiensi dan Efektivitas ... 39

BAB V PENUTUP ... 41

5.1.Permasalahan ... 41

5.2.Langkah ke Depan ... 42

(4)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Organisasi BPJT ... ... 4

Gambar 2 Isu Terkait Pengusahaan Jalan Tol ... 8

Gambar 3 Peta Stategis BPJT Tahun 2015-2019 14

Gambar 4 Rencana Percepatan Jalan Tol 2015-2019 ... ... 16

Gambar 5 Jumlah Pegawai Menurut Golongan ... 22

Gambar 6 Jumlah Pegawai Menurut Tingkat Pendidikan ... 22

Gambar 7 Peresmian Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi IV ... 37

(5)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Produk Peraturan Perundangan dalam rangka Percepatan Pengusahaan Jalan Tol ... 10

Tabel 2 Rencana Pembangunan Jalan Tol 2015-2019... 15

Tabel 3 Perjanjian Kinerja Sekeratriat BPJT 2016 ... 18

Tabel 4 Metode Pengukuran Output ... 19

Tabel 5 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Target Renstra 2015- 2019 .. 20

Tabel 6 Capaian Kinerja Sekretariat BPJT ... 26

Tabel 7 Pengukuran Kinerja ... 29

Tabel 8 Ruas-ruas Jalan Tol Konstruksi per 2016 ... 31

Tabel 9 Ruas-ruas Jalan Tol Selesai Lelang per 2016 ... 32

Tabel 10 Ruas-ruas Jalan Tolo Ground Breaking Kumulatif 2014-2016... 32

Tabel 11 Ruas Jalan Tol yang Sudah Operasi ... 34

Tabel 12 Progres Pembangunan Jalan Tol Tahun 2016 ... 36

(6)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| v

RINGKASAN EKSEKUTIF

1. Tujuan dan Sasaran

Berdasarkan tujuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Bina Marga melaksanakan tujuan penyelenggaraan pembangunan bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk konektivitas nasional guna meningkatkan produktivitas nasional guna meningktakan produktivitas, efisiensi dan pelayanan sistem logistik nasional bagi penguatan daya saing bangsa di lingkup global; yang berfokus pada keterpaduan konektivitas daratan dan maritim. Sasaran yang diharapkan dicapai selama periode 2015-2019 adalah:

1. Meningkatnya dukungan konektivitas bagi penguatan daya saing dengan indikator

tingkat konektivitas nasional sebesar 77% pada akhir 2019.

2. Meningkatnya kemantapan jalan nasional dengan indikator tingkat kemantapan

jalan nasional mencapai 98% pada akhir 2019. .

Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol dalam rangka mewujudkan tujuan tersebuat diatas, melaksanakan sasaran strategis “ meningkatnya dukungan konektivitas bagi penguatan daya saing”, dengan indikator tingkat konektivitas nasional sebesar 77% pada akhir tahun 2019. Sasaran program penyelenggaraan jalan yang didukung Sekretariat BPJT yaitu

“Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama” dengan indikator kinerja program waktu

tempuh pada koridor utama sebsar 2,6 jam/100 km. Implementasi sasaran program tersebut

telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan yang mendukung program penyelenggaraan jalan terutama yang terkait dengan pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol. Paket-paket kegiatan untuk mendukung pelaksanaan pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol tertuang dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA/KL) satker-satker di lingkungan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol dimana anggaran untuk pelaksanaan kegiatan tersebut didanai melalui DIPA Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol dan Satker BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat BPJT Tahun Anggaran 2016.

2. Pencapaian Kinerja

Rata-rata capaian kinerja output Sekretariat BPJT tahun 2016 adalah 98.53 %. Dari angka rata-rata capaian kinerja ini, kinerja output Sekretariat BPJT dapat dikatakan berhasil. Hal ini dikarenakan dari 11 indikator kinerja output, old a semua old an r kinerja output sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam Dokumen Penetapan Kinerja. Indikator kinerja output yang tidak sesuai dengan dokumen Penetapan Kinerja adalah old an r kinerja output Dokumen Pengadaan Tanah (BLU), Laporan e-Monitoring Kementerian PU, serta Peralatan dan Fasilitas Perkantoran masing-masing capaiannya

(7)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| vi

adalah 97.12; 92.70; dan 65.10%. Hal yang menyebabkan capaian kinerja output ini tidak sesuai dengan nilai yang ditargetkan adalah karena belum adanya prioritas penggunaan anggaran untuk pembelanjaan meubelair dan alat pengolah data untuk memenuhi kebutuhan operasional sarana dan prasarana kantor.

3. Pencapaian Keuangan

Untuk aspek keuangan, alokasi anggaran Sekretariat BPJT adalah Rp. 64.612.000.000,- yang terdiri dari DIPA Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol sebesar Rp. 44.612.000.000,- dan DIPA Satker Badan Layanan Umum-Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol (BLU-BP Set BPJT) sebesar Rp. 20.000.000.000,-. Sampai akhir TA 2016, total anggaran Sekretariat BPJT setelah direvisi sebesar Rp. 64.612.000.000,-. Realisasi penyerapan anggaran untuk seluruh kegiatan TA 2016 meliputi belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal mencapai Rp. 47.106.874.000,- atau sebesar 72.91% dari total anggaran, yaitu realisasi sebesar Rp. 35.316.811.000,- untuk Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol dan Rp. 11.790.063.000,- untuk Satker BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol.

Selain itu dalam rangka mendukung kegiatan BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat BPJT yang memiliki fungsi strategis mendukung pelaksanaan dana bergulir untuk pembebasan lahan, pemerintah juga menerbitkan DIPA APBN Bagian Anggaran 999.

4. Kendala yang dihadapi

Dengan mengacu pada kinerja tahun 2016 serta permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan perhatian untuk peningkatan kinerja ke depan khususnya terhadap pencapaian sasaran kegiatan. Beberapa hal yang terkait dengan upaya peningkatan kinerja tersebut adalah

a. Perlu analisis perencanaan SDM yang efektif dan peningkatan kualitas SDM melalui

pelatihan teknis/seminar/workshop, peningkatan keterlibatan dan tanggung jawab staf pada substansi, serta penambahan staf profesional bila diperlukan;

b. Perlu dilakukan proses perencanaan program tahunan Sekretariat BPJT yang lebih

baik dan tajam guna mencapai sasaran yang ditargetkan, untuk kegiatan yang masih perlu tindak lanjut, agar diproses dalam kegiatan lanjutan sehingga dapat dicapai sasaran dan manfaat yang maksimal;

c. Peningkatan peran manajemen dalam pengelolaan organisasi yang efektif agar

kinerja perencanaan, pelaksanaan, supervisi, dan evaluasi bisa dilaksanakan secara optimal.

Dalam hal kinerja dukungan pengusahaan jalan old an program pembangunan 1000 km jalan tol, kendala dan tantangan yang perlu ditindaklanjuti antara lain

(8)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| vii

2. Dukungan dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan/atau Kota, instansi

Pemerintah lain serta old an penegak old untuk percepatan penyelesaian pengadaan tanah termasuk percepatan penyelesaian konsinyasi, tanah wakaf, tanah kas desa dan bangunan-bangunan yang masih berdiri di dalam ROW sehingga tidak mengganggu pelaksanaan konstruksi

3. Percepatan penyelesaian dokumen perencanaan dan/ atau penetapan lokasi dan/

atau dokumen lain sesuai ketentuan UU No.2/2012 dan Perpres No. 30/2015

4. Kemudahan pemenuhan persyaratan pinjaman dari Pemberi Pinjaman, dalam hal

pelaksanaan konstruksi yang dipercepat (early construction) persyaratan tanah harus sudah bebas 100% dan kepercayaan Pemberi Pinjaman terhadap Pemegang Saham mayoritas

5. Kepastian dukungan Pemerintah untuk meningkatkan kelayakan pada beberapa

ruas jalan tol (contoh : Jalan Tol Manado-Bitung dan Balikpapan-Samarinda)

6. Penerapan ketentuan cidera janji dan pengakhiran PPJT apabila BUJT tidak

(9)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang/Permasalahan

Jaringan jalan merupakan salah satu infrastruktur utama dalam pengembangan suatu kawasan atau daerah. Adanya kemudahan akses menuju suatu daerah akan memudahkan mobilitas barang dan orang, sehingga mampu memicu pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Dengan dua per tiga jaringan jalan nasional sudah mengalami kemacetan dan lalu lintas diperkirakan akan tumbuh dua kali lipat dalam 15 tahun mendatang, muncul kebutuhan infrastruktur atau jalan tol untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat setempat yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kegiatan perekonomian di Indonesia.

Kualitas infrastruktur di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Dalam hasil survey yang dilakukan World Economic Forum (2016), Indonesia berada pada peringkat 41 dari 138 negara dengan nilai 4,52 skala 7 dalam Global Competitiveness Index (GCI) dan peringkat 60 dengan nilai 4,24 dalam hal perkembangan infrastruktur. Meski dengan nilai yang sama, peringkat Indonesia turun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu peringkat 37 dari 140 negara. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia perlu memajukan pembangunan salah satunya dalam hal infrastruktur sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian negara.

Dalam rangka mewujudkan 1000 km jalan tol sampai dengan tahun 2019, terdapat berbagai tantangan mendasar antara lain progress delivery yang lambat (20 km/th). Permasalahan lain yang seringkali menjadi bottleneck dalam pengusahaan jalan tol adalah ketersediaan tanah. Penyediaan jalan tol bersifat monopoli dan bukan merupakan pasar yang kompetitif sehingga faktor kualitas pelayanan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pengguna jalan tol. Standar Pelayanan Minimum (SPM) jalan tol telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2014, sebagai usaha pemerintah untuk melindungi pengguna jalan tol. Namun, SPM jalan tol saat ini belum sepenuhnya berafiliasi pada keinginan pengguna. Operator tidak menyediakan kualitas layanan jalan tol yang sesuai dengan harapan pengguna, sementara standar pelayanan minimal sebagai acuan pembangunan jalan tol belum sepenuhnya merepresentasikan harapan pengguna. Kesenjangan pembiayaan menjadi kendala yang menghambat pembangunan infrastruktur di Indonesia, termasuk jalan tol. Oleh karena itu, pemerintah fokus untuk mengajak pihak swasta/ badan usaha untuk menjadi mitra dalam penyediaan

(10)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 2

infrastruktur melalui program Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sektor swasta/ Badan Usaha memiliki peran yang penting karena diharapkan bisa membiayai sebagian besar pertumbuhan ekonomi melalui proyek-proyek KPBU. Namun sampai saat ini, kerangka proyek KPS/ KPBU belum menunjukkkan hasil yang memuaskan karena terdapat berbagai permasalahan, terutama dalam hal membangun track record yang baik yang menunjukkan kemampuan untuk mewujudkan dan mengelola proyek-proyek KPS sehingga meningkatkan kepercayaan sektor swasta terhadap proyek KPS/KPBU.

BPJT dibentuk sesuai amanat UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan sebagai regulator jalan tol menggantikan fungsi PT. Jasa Marga yang sebelumnya berperan sebagai regulator dan operator jalan tol. Dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari, Sekretariat BPJT bertugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada BPJT.

1.2 Tugas, Fungsi

Berdasarkan Pasal 45 ayat (6) Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, tugas BPJT adalah melaksanakan sebagian penyelenggaraan jalan tol, yang meliputi:

a. pengaturan jalan tol, mencakup pemberian rekomendasi tarif awal dan

penyesuaiannya kepada Menteri Pekerjaan Umum, serta pengambilalihan jalan tol pada akhir masa konsesi dan pemberian rekomendasi pengoperasian selanjutnya;

b. pengusahaan jalan tol, mencakup persiapan pengusahaan jalan tol, pengadaan

investasi, dan pemberian fasilitas pembebasan tanah;

c. pengawasan jalan tol, mencakup pemantauan dan evaluasi pengusahaan jalan

tol, dan pengawasan terhadap pelayanan jalan tol.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor Nomor 43/M/PRT/2015, Sekretariat BPJT mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan adminstratif kepada BPJT. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, Sekretariat BPJT menyelenggarakan fungsi :

a. pelaksanakan kajian dan evaluasi penyiapan pengusahaan jalan tol dan sistem

informasi jalan tol;

b. pelaksanaan penyiapan, pelayanan, dan pengawasan pengusahaan jalan tol;

c. pelaksanaan pengawasan dan pemantauan pelaksanaan Perjanjian Pengusahaan

Jalan Tol oleh Badan Usaha;

d. pelaksanaan perencanaan, pengelolaan, dan penyiapan bahan penetapan skala

prioritas penyaluran dana bergulir serta administrasi, penyaluran, dan pengembalian pinjaman dana bergulir;

e. pelaksanaan kegiatan hukum dan humas, ketatausahaan, kepegawaian, dan

(11)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 3

1.3 Struktur Organisasi

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) adalah badan non struktural yang dibentuk di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/M/2015. Secara formal BPJT dibentuk oleh Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 28 Juni 2005 sebagai unit non struktural yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pekerjaan Umum, bertujuan untuk melaksanakan sebagian wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan tol.

Struktur BPJT terdiri dari seorang Kepala (merangkap Anggota) dan empat orang Anggota. Kepala BPJT adalah pejabat Kementerian Pekerjaan Umum sebagai wakil unsur Pemerintah, sedangkan empat orang Anggota BPJT masing-masing adalah: pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan pejabat Kementerian Keuangan (sebagai wakil unsur Pemerintah), seorang dari asosiasi profesi (wakil unsur pemangku kepentingan), dan seorang dari akademisi (wakil unsur masyarakat).

Untuk membantu dalam pelaksanaan fungsi dan tugas BPJT maka dibentuk Sekretariat BPJT di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai unsur staf yang mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada BPJT. Sekretariat BPJT dipimpin oleh seorang Sekretaris sebagai pejabat struktural setingkat eselon II/a.

Sekretariat BPJT secara teknis operasional bertanggung-jawab kepada Kepala BPJT dan secara administratif bertanggung jawab kepada Menteri. Struktur Organisasi Sekretariat BPJT terdiri atas; Bagian Umum, Bidang Teknik, Bidang Investasi, Bidang Operasi dan Pemeliharaan serta Bidang Pendanaan sebagai staf struktural setingkat eselon III. Kemudian pada tingkat dibawahnya Sekretariat BPJT didukung sebelas staf struktural eselon IV sebagaimana tercantum pada Gambar 1 di bawah ini.

(12)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 4

ANGGOTA BPJT (Wakil Unsur Kem. Pekerjaan Umum)

KABID INVESTASI

KEPALA BPJT

SEKRETARIS BPJT ANGGOTA BPJT

(Wakil Unsur Kementerian Keuangan) (Wakil Unsur Asosiasi/Profesi)ANGGOTA BPJT (Wakil Unsur Akademisi)ANGGOTA BPJT

KABID TEKNIK KABID OPERASI DAN PEMELIHARAAN KABID PENDANAAN KABAG UMUM

KASUBBID PERSIAPAN DAN PELAYANAN

INVESTASI KASUBBID PENGAWASAN INVESTASI KASUBBID PERENCANAAN TEKNIS KASUBBID PENGAWASAN KONSTRUKSI KASUBBID OPERASI DAN PEMELIHARAAN I

KASUBBID OPERASI DAN PEMELIHARAAN II

KASUBBID PERENCANAAN KASUBBID PELAKSANAAN KASUBBAG ADMINISTRASI DAN KEPEGAWAIAN KASUBBAG HUKUM DAN HUMAS

KASUBBAG KEUANGAN

(13)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 5

Khusus struktur Bidang Pendanaan, terdapat instansi Badan Layanan Umum. BLU merupakan instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2013 tentang perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/PRT/M/2013 tentang perubahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kelola BLU Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol, tugas pokok dan fungsi BLU-BP Set BPJT adalah melaksanakan kewenangan operasional dalam pengqelolaan dana bergulir pengadaan tanah untuk jalan tol sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta melaksanakan pengusahaan jalan tol yang ditugaskan pemerintah yaitu mengelola hasil pengusahaan jalan yang belum ditetapkan operatornya secara permanen, jalan tol yang telah habis masa konsesi atau yang gagal dalam pelaksanaan konsesi.

Dalam unit kerja Sekretariat BPJT, terdapat dua Satuan Kerja yang melaksanakan tugas dan fungsi kesatkeran yaitu Satuan Kerja Sekretariat Pengatur Jalan Tol dan Satuan Kerja BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat BPJT.

1.4 Isu Strategis

Dalam program pembangunan jalan, salah satu prioritas yang mendukung agenda Nawa Cita tersebut adalah rencana pembangunan 1000 km jalan tol pada 2015-2019 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 yang telah dicanangkan pemerintah.Dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019. Jalan tol direncanakan untuk dibangun di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial. Pembangunan jalan tol merupakan strategi peningkatan mobilitas pada koridor-koridor utama di Indonesia. Selain itu, pembangunan jalan tol juga diharapkan dapat mengurangi waktu tempuh koridor-koridor utama serta menjadi pendorong peningkatan kualitas logistik di Indonesia. Jalan tol dikembangkan sebagai tulang punggung transportasi darat pulau-pulau besar di Indonesia.

Penyelengaraan jalan tol masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara seksama, pasti dan paling penting adalah keberanian untuk mengimplementasikan aturan yang sudah ada. Mewujudkan 1000 km jalan tol sampai dengan tahun 2019, terdapat berbagai tantangan mendasar antara lain progress delivery yang lambat (20 km/th). Permasalahan lain yang seringkali

(14)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 6

menjadi bottleneck dalam pengusahaan jalan tol adalah ketersediaan tanah. Pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang No 12 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum beserta peraturan-peraturan turunannya. Peraturan-peraturan tersebut telah dikeluarkan pemerintah untuk mempermudah dan mempercepat proses pengadaan tanah.

Penyediaan jalan tol bersifat monopoli dan bukan merupakan pasar yang kompetitif sehingga faktor kualitas pelayanan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pengguna jalan tol. Standar Pelayanan Minimum (SPM) jalan tol telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2014, sebagai usaha pemerintah untuk melindungi pengguna jalan tol. Namun, SPM jalan tol saat ini belum sepenuhnya berafiliasi pada keinginan pengguna. Operator tidak menyediakan kualitas layanan jalan tol yang sesuai dengan harapan pengguna, sementara standar pelayanan minimal sebagai acuan pembangunan jalan tol belum sepenuhnya merepresentasikan harapan pengguna. Kesenjangan pembiayaan juga menjadi kendala yang menghambat pembangunan infrastruktur di Indonesia, termasuk jalan tol. Oleh karena itu, pemerintah fokus untuk mengajak pihak swasta/ badan usaha untuk menjadi mitra dalam penyediaan infrastruktur melalui program Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sektor swasta/ Badan Usaha memiliki peran yang penting karena diharapkan bisa membiayai sebagian besar pertumbuhan ekonomi melalui proyek-proyek KPBU. Namun sampai saat ini, kerangka proyek KPS/ KPBU belum menunjukkkan hasil yang memuaskan karena terdapat berbagai permasalahan, terutama dalam hal membangun track record yang baik yang menunjukkan kemampuan untuk mewujudkan dan mengelola proyek-proyek KPS sehingga meningkatkan kepercayaan sektor swasta terhadap proyek KPS/KPBU.

Menterjemahkan semangat Not Business As Usual dalam penyediaan infrastruktur

berakibat perlunya merubah pola pikir masa lalu yang mengatakan bahwa infrastruktur harus dibangun dengan menggunakan anggaran Pemerintah. Karena anggaran Pemerintah yang terbatas, maka penerapan pola pikir tersebut berujung pada kesulitan memenuhi kebutuhan infrastruktur yang memadai bagi perekonomian yang berkembang pesat. Saat ini telah didorong pola pikir yang lebih maju dalam penyediaan infrastruktur melalui skema kerjasama pemerintah

dan Badan Usaha atau Public-Private Partnership (PPP).

Keterlibatan Badan Usaha dalam pelayanan publik mengharuskan Pemerintah siap untuk menyediakan perangkat aturan yang dapat memberi insentif bagi dunia usaha sekaligus penyediaan pelayanan prima bagi masyarakat termasuk

(15)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 7

sistem pengawasan dan evaluasi yang memadai sehingga tujuan penyediaan infrastruktur dimaksud tercapai. Hal ini menuntut lembaga seperti BPJT harus siap berbenah secara kelembagaan sehingga pada gilirannya mampu melayani seluruh stakeholders terkait secara memuaskan.

Dalam menjalankan tugasnya yang strategis di atas, BPJT tidak sedikit hambatan dan halangan yang dihadapi oleh BPJT. Belum efisiennya pengusahaan jalan tol secara komprehensif dan harmonis merupakan masalah utama yang dihadapi. Hal ini tidak terlepas dari beberapa kelemahan yang berhasil diidentifikasi berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan tugas BPJT terdahulu. Jika dirinci, ada beberapa tantangan utama yang menjadi tantangan BPJT dalam penyediaan jalan tol: (1)ketersediaan tanah dan alokasi dana tanah yang tidak mencukupi (2) dukungan pemerintah yang terbatas, (3) belum ada jaminan pemerintah, (4) tingkat kelayakan proyek yang rendah-marjinal, (5) terbatasnya Badan Usaha Jalan Tol.

Kurangnya kepercayaan dari sektor swasta seringkali menjadi salah satu permasalahan yang menyebabkan investasi kurang maksimal. Persiapan dan penataan proyek perlu ditingkatkan sehingga dapat memberikan kepercayaan pada swasta untuk berinvestasi melalui skema KPBU.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan perwujudan industri Jalan Tol yang sehat dalam mendukung Program Pembangunan Jalan Tol (1000 Km), disusunlah arahan dasar kebijakan KPBU sektor jalan tol. Arahan tersebut diwujudkan dalam empat kegiatan utama yaitu Skema KPBU baru, Penyederhanaan Prosedur, Penambahan Dukungan Pemerintah dan Percepatan Pengadaan Tanah.

Strategi pendanaan Jalan Tol, diupayakan menggunakan dana non APBN, dimana proyek harus layak secara ekonomi dan finansial. Apabila kelayakan finansial rendah/marjinal, perlu diupayakan dukungan pemerintah (government support) baik berupa dukungan penjaminan resiko dari PII, kontribusi pinjaman lembaga bilateral/multilateral atau dikemas dalam skema kerjasama pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tepat (misalnya BOT, DBO, DBL, leasing, annuity, dan sebagainya).

Saat ini telah dikembangkan skema-skema baru dalam penyediaan infrastruktur melalui kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) atau PPP untuk mensiasati terbatasnya alokasi dana pemerintah untuk pembangunan dan menarik lebih banyak investor untuk bekerja sama dalam penyediaan infrastrutur. Skema baru yang dimaksud adalah Performance-Based Annuity Scheme/Annuity Payment (PBAS/AP) dan penugasan BUMN untuk proyek-proyek infrastruktur tertentu.

(16)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 8

Pelaksanaan skema PBAS/ Availability Payment dalam pengusahaan jalan tol telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2015 tentang KPBU dalam Penyediaan Infrastruktur dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.08/2015 tentang Pembayaran Ketersediaan Layanan dalam rangka KPBU dalam Penyediaan Infrastruktur. Skema ini muncul untuk menjawab tantangan besarnya dukungan Pemerintah untuk membiayai model SBOT dan besarnya dukungan pemerintah di awal untuk model Design and Build. Skema Modified PBAS untuk jalan tol dilaksanakan dengan mekanisme BOT dengan AP dan BOT dengan AP dan Pinjaman Jangka Panjang. Pilot Proyek Modified PBAS adalah jalan tol Serang-Panimbang.

Selain skema PBAS, model baru pengusahaan jalan tol dilaksanakan melalui optimalisasi penugasan BUMN. Penugasan BUMN dilaksanakan pada proyek yang bertujuan untuk mendorong pengembangan wilayah dengan kondisi terbatasnya pendanaan Pemerintah untuk proyek tersebut. Pembiayaan proyek jalan tol yang dibiayai melalui skema penugasan BUMN adalah proyek jalan tol Trans Sumatra (Medan-Binjai, Pekanbaru-Dumai, Palembang-Indralaya, Bakaheuni-Tebanggi Besar).

(17)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 9

Untuk mengatasi mengejar ketertinggalan pembangunan jalan tol yang makin jauh dibandingkan dengan negara tetangga selama ini, maka pemerintah melakukan reformasi regulasi jalan tol dengan mengeluarkan beberapa peraturan perundang-undangan serta sejumlah kebijakan baru guna memacu percepatan pengusahaan jalan tol yang melibatkan partisipasi badan usaha swasta/daerah.

(18)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 10

Tabel 1 Produk Peraturan Perundangan Dalam Rangka Percepatan Pengusahaan Jalan Tol

No Aturan Umum Penga- daan

Tanah Jami- nan dan Duku-ngan Penga- daan Peng- usahaan Jalan Tol Kons- truksi Pengope- rasian Jalan Tol

1 UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi ●

2 UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan ● ● ● ● ● ●

3 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

4 PP No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol sebagaimana telah diubah

dengan PP No. 44 Tahun 2009

● ● ● ● ● ●

5 PP No. 36 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 65

Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.

6 Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama

Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peratuan Presiden No.56 Tahun 2011

● ●

7 Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2010 tentang Penjaminan

Infrastruktur Dalam Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha

8 Permen PU No 43/PRT/M/2015 tentang Badan pengatur Ja;an Tol ●

(19)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 11

No Aturan Umum Penga- daan

Tanah Jami- nan dan Duku-ngan Penga- daan Peng- usahaan Jalan Tol Kons- truksi Pengope- rasian Jalan Tol

KKPI No. PER-03/M.EKON/06/2006 tentang tata cara dan kriteria penyusunan daftar prioritas proyek infrstruktur kerjasama pemerintah dengan badan usaha

10 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. PER-04/M.EKON/06/2006 tentang tata cara evaluasi proyek kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur yang membutuhkan dukungan pemerintah

● ●

11 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 04/PRT/M/2007 tentang Tata Cara Penggunaan Dana Bergulir Pada Badan Layanan Umum – Badan Pengatur Jalan Tol Untuk Pengadaan Tanah Jalan Tol

12 Peraturan Kepala BPN No.3 Tahun 2007 tentang ketentuan pelaksanaan Perpres No. 36 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan Perpres No. 65 Tahun 2006

13 Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan

Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pmbangunan Nasional No.3 Tahun 2009 tentang tata cara penuyusunan daftar rencana proyek kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur

● ●

14 Peraturan Menteri Keuangan No. 260/PMK.011/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Infrastruktur Dalam Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha.

(20)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 12

No Aturan Umum Penga- daan

Tanah Jami- nan dan Duku-ngan Penga- daan Peng- usahaan Jalan Tol Kons- truksi Pengope- rasian Jalan Tol

15 Peraturan Menteri PU No.06/PRT/M/2010 tentang pedoman evaluasi penerusan pengusahaan jalan tol

16 Peraturan Menteri PU No.13/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pelelangan Pengusahaan Jalan Tol

17 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 16/PRT/M/2015 tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol

18 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 02/PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Pemeliharaan Jalan Tol dan Jalan Penghubung

19 Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional

(21)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 13

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

2.1. Uraian Singkat Renstra

Dalam rangka percepatan pembangunan jalan tol, Badan Pengatur Jalan Tol yang menyelenggarakan sebagian kewenangan Pemerintah dalam pengusahaan jalan tol melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Kebijakan pengembangan dan percepatan pembangunan jalan tol mengacu pada kebijakan dalam hal penyiapan peraturan dan perundangan dengan melalui koordinasi internal dan eksternal yang sinergis, penyusunan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol PPJT yang “bankable” dan “investor friendly”,

penyiapan dana bergulir untuk pengadaan tanah jalan tol,

pemantauan/pengawasan pemenuhan kewajiban PPJT dan kinerja jalan tol yang intensif dan berkelanjutan, dan pengembangan sumber daya dan tata laksana yang efektif dan efisien.

Strategi pendanaan bidang jalan dikaitkan dengan kebutuhan investasi bidang jalan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu (pendekatan top-down). Khusus untuk pengembangan Jalan Tol, diupayakan menggunakan dana swasta, dimana proyek harus layak secara ekonomi dan finansial. Apabila kelayakan finansial rendah/marjinal, perlu diupayakan dukungan pemerintah (government support), baik melalui penyediaan tanah oleh pemerintah, dukungan penjaminan resiko dari PII, kontribusi pinjaman lembaga bilateral/multilateral atau dikemas dalam skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) yang tepat (misalnya BOT, DBO, DBL, leasing, annuity, dan sebagainya).

(22)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 14

2

PETA STRATEGI BADAN PENGATUR JALAN TOL

2015-2019

Harapan Stakeholders dan customer yang harus dipenuhi

Untuk melaksanakan internal proses diperlukan :

SDM yang

kompetitif Organisasi yang kondusif Sistem manajemen informasi yang terintegrasi Pelaksanaan anggaran yang optimal

Harapan stakeholders dan customers dapat dipenuhi melalui internal proses :

COMPLIANCE JALAN TOL KETERPADUAN PERENCANAAN,

PEMROGRAMAN DAN PENGUSAHAAN JALAN TOL

PELAKSANAAN JALAN TOL

Pelayanan Jalan Tol

Meningkatnya dukungan konektivitas bagi penguatan daya saing

Pembangunan > 1.000 km jalan tol

Pengawasan pemenuhan kewajiban badan usaha, Skema Investasi yg bervariasi

dgn memenuhi value for money

Pengadaan tanah mendukung pembangunan jalan tol

Pembangunan jalan tol pada koridor utama, dan Perkotaan di Sumatera Jawa, Kalimantan dan Sulawesi

Jalan tol eksisting yang memenuhi SPM

Meningkatnya Kepuasan Pengguna Jalan Tol

Laik fungsi jalan tol Perencanaan

teknis sesuai dgn standar jalan bebas hamabatan

Pendanaan pengadaan tanah jalan tol yg berkelanjutan

Skema delivery

yang efisien dan efektif Persiapan proyek jalan tol yg

matang

Iklim investasi yg kondusif Jalan tol yang handal, berkeselamatan, dan berwawasan lingkungan

Gambar 3 Peta Startegi Badan Pengatur Jalan Tol 2015-2019

Kebijakan Badan Pengatur Jalan Tol dilaksanakan dalam rangka mendukung Program Penyelenggaraan Jalan dengan melaksanakan kegiatan pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol.

(23)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 15

Tabel 2 Rencana Pembangunan Jalan Tol Tahun 2015-2019

Sesuai program Nawa Cita butir Dimensi Pembangunan Pemerataan dan Kewilayahan, tantangan utama dalam pengembangan wilayah untuk pemerataan pembangunan adalah mengurangi kesenjangan antarwilayah yang ditunjukkan dengan semakin besarnya kontribusi wilayah luar Jawa melalui akselerasi pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Tantangan lainnya adalah mendorong pembangunan pusat-pusat pertumbuhan (industri) untuk meningkatkan nilai tambah sektor unggulan yang diprioritaskan berada di luar Jawa dan Kawasan Timur Indonesia sebagai motor penggerak perekonomian wilayah yang didukung dengan peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur dasar dan pendukung. Kualitas sumberdaya manusia juga perlu ditingkatkan melalui pemenuhan pendidikan dan kesehatan dasar serta peningkatan ketrampilan. Selain itu, juga perlu dilakukan peningkatan kapasitas dan kualitas institusi di daerah yang ditujukan untuk mendorong peningkatan investasi. Peningkatan konektivitas intrawilayah dan antarwilayah adalah hal yang sangat diperlukan dengan pertimbangan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau

(24)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 16

untuk mengurangi biaya distribusi barang dan jasa serta transportasi. Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan hubungan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal pembangunan. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun agenda pembangunan nasional ke depan yang dapat menjawab berbagai permasalahan atau isu di tiap wilayah. Dalam program pembangunan jalan, salah satu prioritas yang mendukung agenda Nawa Cita tersebut adalah rencana pembangunan 1000 km jalan tol pada 2015-2019.

Gambaran rencana percepatan pembangunan jalan tol 2015-2019 terbagi dalam program pembangunan jalan tol di Pulau Jawa (meliputi Jalan Tol Trans Jawa, Jalan Tol Jabodetabek dan Jalan Tol Non Trans Jawa), jalan tol di Pulau Sumatera (Trans Sumatera), jalan tol di Pulau Bali (Bali Mandara), jalan tol di Pulau Kalimantan (Balikpapan-Samarinda), jalan tol di P Sulawesi (Manado-Bitung). Profil percepatan pembangunan jalan tol 1000 km tersaji sebagaimana gambar berikut:

BPJT

KEM.PUPR

13 TOLL ROAD PPP IN INDONESIA

TARGETED TOLL ROAD IN OPERATION UNTIL 2019

Jakarta Bandun g Surabaya Banda Aceh Medan Lhokseumawe Dumai Pekanbaru Padang Jambi Palembang Bengkulu Lampung Balikpapan Samarinda Manado Solo Semaran g SOLO-MANTINGAN-NGAWI 90 KM PEJAGAN-PEMALANG 58 KM MEDAN-KUALAMANU-LUBUK PAKAM-TEBING TINGGI 62 KM 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Cengkareng – Kunciran : 14 km Kunciran – Serpong : 11 km Serpong – Cinere : 10 km Cinere – Jagorawi : 15 km Cimanggis – Cibitung : 25 km Cibitung – Cilincing : 34 km Depok – Antasari : 22 km Bekasi – Kp. Melayu : 21 km Sunter – Rawa Buaya - : 20 km Batu Ceper

Sunter – Pulo Gebang : 9 km

1. Bogor Ring Road : 11 km 2. Ciawi-Sukabumi : 54 km

Akses Tanjung Priok 17 km PASIRKOJA-SOREANG 11 KM NGAWI-KERTOSONO 87 KM PALEMBANG-INDRALAYA 22 KM BAKAUHENI-TB.BESAR 138 KM MEDAN-BINJAI 16 KM CIKAMPEK-PALIMANAN 117 KM Balikpapan – Samarinda 99 km Batang – Semarang 75 km Pemalang – Batang 39 km Kayu Agung – Palembang - Betung 112 km Pekanbaru – Kandis – Dumai 135 km SEMARANG –SOLO 73 KM (23 km operasional) Manado – Bitung 39 km Gempol – Pasuruan 34 km Gempol – Pandaan 14 km KERTOSONO -MOJOKERTO 41 KM (15 km) MOJOKERTO – SURABAYA 36 KM (2 km operasional) Pandaan – Malang 38 km Cileunyi – Sumedang – Dawuan 59 km

Region / TRANS Length (km) Constructed

S.D 2014 (Km)

Planned Development + Operation (Year/Km) 2015 2016 2017 2018 2019 TOTAL

Sumatera 43 - - 79 74 50 203 Jawa 749 215 44 93 266 203 821 a. Jabodetabek 209 - - 37 22 47 106 b. Trans Jawa 363 186 33 33 225 98 575 c. Non Trans Jawa 177 29 11 23 19 58 140 Kalimantan - - - - 12 - 12 Bali 10 - - - -Sulawesi 18 - - - 14 - 14 Total 820 215 44 172 366 253 1,050 In Operation Partly in Operation Already GroundBreaking Land Acquisition Progress Sumber: Data BPJT 30/11/2016 2.2. Perjanjian Kinerja

Dokumen ini merupakan suatu kesepakatan kinerja yang akan diwujudkan oleh seorang pejabat penerima amanah yang merupakan pimpinan suatu unit kerja/organisasi kepada atasan langsungnya. Dokumen perjanjian kinerja dilampiri oleh dokumen Penetapan Kinerja (PK) yang

(25)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 17

menggambarkan kinerja yang akan diwujudkan dalam suatu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelola. Dokumen penetapan kinerja disusun setelah ada kejelasan mengenai alokasi anggaran. Hal ini dimaksudkan agar dokumen penetapan kinerja dapat disusun secara lebih realistis dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber dana yang nyata sudah akan diperoleh.

Penetapan Kinerja Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol merupakan komitmen untuk tercapainya kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam RENSTRA Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol Tahun 2015-2019. Di dalam penetapan kinerja Sekretariat Badan pengatur Jalan Tol Tahun 2016 telah ditetapkan target capaian kinerja sasaran kegiatan tahun 2016 yang menjadi panduan arah untuk mencapai visi dan misi dari Direktorat Jenderal Bina Marga. Agar target capaian kinerja yang ditetapkan dalam penetapan kinerja dapat terukur dengan baik, maka disusun indikator kinerja output dengan target dan alokasi anggaran kegiatan berdasarkan RKA-KL Awal tahun 2016.

Komponen penetapan kinerja tahun 2016 dapat dijelaskan meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Sasaran Strategis, sesuai dengan yang dimuat dalam RENSTRA

Direktorat Jenderal Bina Marga, pada penetapan kinerja Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol tahun 2016 hanya terdapat 1 (satu) sasaran, yaitu Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama. Sasaran tersebut juga merupakan sasaran yang diharapkan dicapai oleh Direktorat Jenderal Bina Marga selama periode 2015-2019.

b. Indikator Kinerja Program, sesuai dengan RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga terdapat 3 indikator kinerja program yang mendukung kinerja Direktorat Jenderal Bina Marga. Dari 5 indikator kinerja outcome tersebut, terdapat 1 indikator kinerja outcome yang mendukung kinerja Sekretariat BPJT, yaitu: waktu tempuh pada koridor utama.

c. Indikator Kinerja Output , sesuai dengan yang dimuat dalam RENSTRA Unit Kerja Eselon II sebagaimana dicantumkan dalam RKA-KL Sekretariat BPJT Tahun 2016 bahwa terdapat 11 indikator kinerja output yang mendukung sasaran strategis Sekretariat BPJT. Adapun 11 indikator kinerja output yang tercantum dalam Dokumen Penetapan Kinerja Sekretariat BPJT Tahun 2016 dilaksanakan oleh Unit Kerja Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol melalui dua satuan kerja yaitu Satuan Kerja Sekretariat Pengatur Jalan Tol dan Satuan Kerja BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol dengan output sebagai berikut:

1. Jumlah Dokumen Bagian Umum

(26)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 18

3. Jumlah Dokumen Pengawasan dan Pemantauan

4. Jumlah Dokumen Investasi Jalan Tol

5. Jumlah Dokumen Pendanaan Jalan Tol (BLU)

6. Jumlah Laporan Sistem Pelaporan Secara Elektronik (e-Monitoring)

Satker Kemen PU II

7. Jumlah Bulan Layanan Perkantoran

8. Jumlah Bulan Layanan perkantoran (BLU)

9. Jumlah Kendaraan Bermotor

10.Jumlah Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi

11.Jumlah Peralatan dan Fasilitas Perkantoran

d. Target, merupakan kuantitas yang ingin dicapai dari indikator kinerja output yang dimiliki Sekretariat BPJT di tahun 2016. Target yang dicantumkan bersumber dari dokumen anggaran (RKA-KL) Awal Sekretariat BPJT Tahun 2016.

e. Jumlah anggaran, merupakan total alokasi anggaran Direktorat Bina Program yang bersumber dari dokumen anggaran (RKA-KL) awal Sekretariat BPJT Tahun 2016.

Penetapan Kinerja Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol sebagaimana gambar di bawah ini.

SASARAN

PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET

Menurunny a Waktu Tempuh pada Koridor Utama

Indikator Kinerja Program

Waktu Tempuh pada Koridor Utama 2,6 jam/ 100 km

Jumlah Dokumen Bagian Umum 3 Laporan

Jumlah Dokumen Bidang Teknik 2 Dokumen

Jumlah Dokumen Pengawasan dan

Pemantauan 2 Laporan

Jumlah Dokumen Investasi Jalan Tol 2 Dokumen

Layanan Perkantoran 12 Bulan

Layanan

Jumlah Dokumen Pendanaan Jalan Tol 1 Dokumen

Layanan Perkantoran (BLU) 12 Bulan

Layanan Jumlah Laporan Sistem Pelaporan Secara

Elektronik (e-Monitoring) Satker Kemen PU II

28 Laporan

(27)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 19

Jumlah Perangkat Pengolah Data dan

Komunikasi 40 Unit

Jumlah Peralatan dan Fasilitas Perkantoran 83 Unit

Kegiatan

Pengaturan, Pengusahaan dan Pengawasan Jalan Tol

Anggaran

Rp 64.612.000.000,-

2.3. Metode Pengukuran

Metode pengukuran sasaran program menurunnya waktu tempuh pada koridor utama dilaksanakan melalui perhitungan oleh IRMS. Waktu tempuh pada IRMS merupakan fungsi dari kondisi IRI, Lebar perkerasan jalan, volume capacity ratio/VCR) dan Survai waktu tempuh sehingga sumber data yang digunakan untuk mengukur didapatkan dari hasil survey.

Sedangkan untuk indicator kinerja kegiatan, sumber data menggunakan e-monitoring dan metode pengukurannya adalah sebagai berikut:

NO SASARAN KEGIATAN PENGUKURAN CARA

(1) (2) (3)

Pengaturan, Pengusahaan dan Pengawasan Jalan Tol

1 IKK1 Jumlah Dokumen Bagian Umum Jumlah dokumen

yang tersusun

2 IKK2 Jumlah Dokumen Bidang Teknik Jumlah dokumen

yang tersusun

3 IKK3 Jumlah Dokumen Pengawasan dan Pemantauan

Jumlah dokumen yang tersusun

4 IKK4 Jumlah Dokumen Investasi Jalan Tol Jumlah dokumen

yang tersusun

5 IKK5 Layanan Perkantoran Jumlah dokumen

yang tersusun

6 IKK6 Jumlah Dokumen Pendanaan Jalan Tol Jumlah dokumen

yang tersusun

7 IKK7 Layanan Perkantoran (BLU) Jumlah bulan layanan

(28)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 20

yang tersusun

9 IKK9 Jumlah Kendaraan Bermotor Jumlah unit yang dibeli

10 IKK10 Jumlah Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi Jumlah unit yang dibeli 11 IKK11 Jumlah Peralatan dan Fasilitas Perkantoran Jumlah unit yang dibeli

2.4. Target Tahun Ini Menurut Renstra

Tahun 2016 adalah tahun kedua dalam pelaksanaan RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2019 yang mengacu pada RENSTRA Kementerian Pekerjaan Umum 2015-2019. Sekretariat BPJT, telah berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi target RENSTRA sehingga bisa menjadi target acuan untuk pelaksaan RENSTRA di tahun-tahun selanjutnya. Adapun capaian indikator kinerja output Sekretariat BPJT dibandingkan dengan target kinerja yang ditetapkan oleh RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2019 dapat ditunjukan pada tabel berikut ini:

Tabel 3 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Target Renstra 2015-2019

No Indikator Kinerja Satuan

Target RENSTRA

2015-2019

Realisasi

2016 Target Sisa Ket.

1 Jumlah Dokumen Bagian Umum Dok 15 3 9 Sesuai

target

2 Jumlah Dokumen Bidang Teknik Dok 10 2 6 Sesuai

target 3 Jumlah Dokumen Pengawasan dan

Pemantauan Dok 10 2 6 Sesuai target

4 Jumlah Dokumen Investasi Jalan Tol Dok 10 2 6 Sesuai target 4 Jumlah Dokumen Pendanaan Tanah

Jalan Tol (BLU) Dok 10 2 6 Sesuai target

5 Terpenuhinya Layanan Perkantoran Bulan 60 12 36 Sesuai target 6 Terpenuhinya Layanan Perkantoran

(BLU) Bulan 60 12 36 Sesuai target

7 Jumlah Kendaraan Bermotor Unit 4 0 4 Tidak

Sesuai target 8 Jumlah Perangkat Pengolah Data dan

(29)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 21

target 9 Jumlah Peralatan dan Fasilitas

Perkantoran Unit 80 34 46 Sesuai Tidak

target

3. Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masih terdapat 3 indikator kinerja

output Sekretariat BPJT yang belum memenuhi target yang ditetapkan oleh RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2014. Namun, hal ini tidak begitu saja berarti bahwa kinerja dari indikator kinerja output tersebut dikatakan tidak berhasil. Permasalahan yang terjadi pada dasarnya adalah membandingkan kinerja yang dicapai dengan target yang ditetapkan di RENSTRA bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena pola perencanaan 5 tahunan untuk indikator kinerja output yang bersifat non-fisik masih belum cukup matang dan memadai. Sebuah tantangan yang sangat besar yang harus dihadapi pada masa RENSTRA yang baru adalah memperbaiki sistem perencanaan 5 tahunan, khususnya perencanaan 5 tahunan untuk indikator kinerja output yang bersifat non-fisik. Dokumen RENSTRA 2015-2019 yang handal dan akurat diharapkan menjadi alat yang bisa menjadi acuan ukuran indikator kinerja output yang bersifat non-fisik dalam pencapaian rencana lima tahunan yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun perencanaan tahunan.

(30)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 22

BAB III KAPASITAS ORGANISASI

3.1. SDM Unit Kerja

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Sekretariat BPJT didukung oleh sumber daya manusia baik pada unit kerja struktural maupun dalam unit kerja fungsional berupa satker. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi ini, Sekretariat BPJT didukung oleh sumber daya manusia yang cukup memadai yaitu, terdiri dari 55 orang PNS, 46 orang tenaga Non PNS dan 18 konsultan. Data Pegawai Negeri Sipil BPJT berdasarkan pangkat/golongan, tingkat pendidikan dan status kepegawaian dapat dilihat pada grafik secara rinci digambarkan sebagai berikut :

0 6 33 16 Gol I Gol II Gol III Gol IV

Gambar 5 Jumlah Pegawai Menurut Golongan

Jumlah pegawai menurut golongan : Golongan I sebanyak 0 orang, Golongan II sebanyak 6 orang, Golongan III sebanyak 33 orang dan Golongan IV sebanyak 16 orang. Sesuai dengan grafik tersebut proporsi pegawai berdasarkan golongan terbanyak pada Golongan III yaitu 60 % dan terkecil Golongan II sebanyak 10 %.

0 9 2 19 23 2 SLTP SLTA D-III S1 S2 S3

(31)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 23

Jumlah pegawai menurut pendidikan : S3 sebanyak 2 orang, S2 sebanyak 23 orang, S1/D4 sebanyak 19 orang, D3/D1 sebanyak 2 orang, SLTA sebanyak 9 orang dan SLTP sebanyak 0 orang. Berdasarkan grafik tersebut jumlah pegawai berdasarkan tingkat pendidikan S2 merupakan yang terbanyak dengan proporsi 41,8 % sedangkan SLTP merupakan yang terkecil dengan jumlah 0 %. Jumlah pegawai laki-laki sebanyak 17 orang dan dan jumlah pegawai perempuan sebanyak 38 Orang.

3.2. Sarana dan Prasarana

Sesuai dengan Laporan Barang Milik Negara (BMN) Tahun Anggaran 2016 dengan Pagu Anggaran Belanja Modal Rp. 400.000.000,00, terdapat beberapa penambahan pembelian peralatan dan mesin. Realisasinya adalah sebagai berikut :

a. Semester I sebesar Rp 24.270.500,00 dengan rincian barang sebagai

berikut :

Kelompok Barang Kuantitas Nilai

Lemari Besi/ Metal 1 buah Rp 2.174.250,00

Filing Cabinet Besi 1 buah Rp. 3.066.250,00

Printer 1 buah Rp. 2.640.000,00

Scanner 2 buah Rp. 16.390.000,00

b. Semester II sebesar Rp 98.725.000,00 dengan rincian barang sebagai

berikut :

Kelompok Barang Kuantitas Nilai

Lemari Besi/ Metal 2 buah Rp 4.235.000,00

Kursi Besi/ Metal 30 buah Rp. 28.875.000,00

PC. Unit 5 buah Rp. 60.775.000,00

Printer 2 buah Rp. 4.840.000,00

Untuk menunjang operasional Satker Sekretariat BPJT, sarana dan prasarana yang dimiliki BPJT sampai dengan saat ini, antara lain :

a. 6 unit Mini Bus (Satker SPJT) dan 9 unit Mini Bus Satker BLU-Bidang

Pendanaan

b. 5 unit sepeda motor Satker SPJT, 8 unit sepeda motor Satker BLU

c. 54 buah PC Unit,

d. 39 buah Notebook,

e. 37 buah Printer,

f. 4 buah Camera Electronic, dll

Sarana dan prasarana tersebut pada umumnya berada pada kondisi baik sampai sedang, kecuali untuk meja dan lemari yang diperoleh pada tahun 2006 kondisinya rusak dan sdang dilakukan inventarisasi untuk proses penghapusan barang milik Negara.

(32)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 24

3.3. DIPA

Alokasi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Sekretariat BPJT adalah Rp. 64.612.000.000,00 yang terdiri dari DIPA Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol sebesar Rp. 44.612.000.000,00 dan DIPA Satker Badan Layanan Umum Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol (BLU BP SET BPJT) sebesar Rp 20.000.000.000,00. Sampai akhir TA 2016, total anggaran Sekretariat BPJT setelah direvisi menjadi sebesar Rp. 64.612.000.000,-, dengan total dana self blocking (tahap 2) sebesar Rp. 3.561.514.000,- pada Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol . Realisasi penyerapan anggaran untuk seluruh kegiatan TA 2016 meliputi belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal mencapai Rp. 47.106.874.000,00 atau sebesar 72.91% dari total anggaran, yaitu realisasi sebesar Rp. 35.316.874.000,00 (79.16%) untuk Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol dan Rp. 11.790.063.000,00 (58.95%) untuk Satker BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol.

(dalam ribuan) TAHUN

ANGGARAN DIPA AWAL DIPA REVISI REALISASI CAPAIAN (%)

2011 71,000,000 91,400,000 59,683,916 84.06 2012 103,999,800 83,182,370 40,711,096 39.15 2013 103,317,078 97,057,144 69,662,100 67.43 2014 84,999,999 74,091,162 54,154,093 63.74 2015 64.612.000 62,379,034 42,600,473 68.30 2016 64.612.000 64.612.000 47.106.874 72.91

Anggaran (DIPA) di lingkungan Sekretariat BPJT mengalami beberapa kali revisi. Revisi pertama dilaksanakan pada bulan Februari 2016 dimana revisi dilakukan di tingkat Dirjen Perbendaharaan dalam rangka perubahan antar output kegiatan dan revisi pejabat perbendaharaan yang tidak mengurangi pagu anggaran awal. Revisi kedua ditetapkan pada bulan Oktober 2016 dalam rangka penghematan dan optimalisasi anggaran, dimana terdapat pagu DIPA self blocking sebesar Rp. 3.561.514.000 (pada Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol).

Sekretariat BPJT juga mengelola belanja gaji untuk PNS. Alokasi anggaran untuk belanja gaji dan tunjangan di Sekretariat BPJT adalah sebesar Rp. 5.087.937.000,00; sebesar Rp.

(33)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 25

Tingkat pencapaian kinerja dilihat dari realisasi anggaran di Sekretariat BPJT memang bisa dikatakan kurang optimal karena tingkat penyerapannya hanya mencapai 72.91%. Ada beberapa paket kegiatan yang tidak terlaksana pada tahun anggaran 2016 ini yaitu:

1. Pengadaan kendaraan bermotor karena dana bintang dari Dirjen

Anggaran Kementerian Keuangan,

2. Paket Jasa Penyusunan Pedoman Evaluasi Calon Debitur BLU BP SET

BPJT Sudah dilakukan proses lelang dan sudah mendapatkan pemenang, namun gagal kontrak krn UU tanah yg baru dimana dana bergulir dilakukan oleh APBN, maka paket pekerjaan jasa penyusunan pedoman evaluasi calon debitur BLU-BP SET BPJT dianggap tdk relevan lagi.

3. Swakelola Sosialisasi Tata Cara Penilaian Kinerja Pegawai BLU (IKU)

Sehubungan Pembayaran Remunerasi tidak dilaksanakan.

Kurang optimalnya kinerja penyerapan anggaran tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menajamkan perencanaan dan pelaksanaan kinerja kegiatan di Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol. Pada tahun-tahun mendatang, upaya untuk peningkatan kinerja harus lebih dioptimalkan. Dalam rangka mendukung kegiatan Badan Layanan Umum-Badan Pengatur Jalan Tol yang memiliki fungsi strategis mendukung pelaksanaan dana bergulir untuk pembebasan lahan, pemerintah juga menerbitkan DIPA APBN Bagian Anggaran 999.

(34)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 26

BAB IV

AKUNTABILITAS KINERJA

4.1. Capaian Kinerja Organisasi

Tabel 6 Capaian Kinerja Organisasi berdasarkan e-Monitoring

Kode Kegiatan/OuProgram/ tput Pagu (Rp. Ribu) Realisasi (Rp. Ribu) Keuangan TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 RN RL RN RL RN RL RN RL Pengaturan, Pengusahaan , Pengawasan Jalan Tol 64.612.000 47.106.874 10,63 5,94 43,21 21,25 73,92 33,91 100 72,91 001 Dokumen Kegiatan Bagian Umum 3.577.806 2.578.434 14,39 5,64 43,22 26,08 73,29 45,63 100 72,07 002 Dokumen Kegiatan Bidang Teknik 11.776.190 8.713.639 7,19 4,42 46,39 25,65 73,58 31,05 100 73,99 003 Dokumen Pengawasan dan Pemantauan 9.531.050 7.930.560 7,24 3,64 48,94 8,21 71,87 23,83 100 83,21 004 Dokumen Investasi 9.274.570 8.229.015 2,37 4,36 43,66 23,34 70,33 35,94 100 88,73 005 Dokumen Pendanaan Tanah Jalan Tol (BLU) 10.762.416 7.239.410 2,70 5,16 28,16 20,09 84,81 26,73 100 67,27 006 Layanan Perkantoran (BLU) 8.223.414 4.348.344 25,00 2,41 50,0 0 12,05 75,00 30,87 100 52,88 201 Pelaporan secara Elektronik 59.098 23.57 13,28 9,90 23,18 18,27 33,08 29,31 100 39,88 994 Layanan Perkantoran 10.022.036 7.718.596 22,36 15,82 48,27 36,31 74,18 55,43 100 77,02 995 Kendaraan Bermotor 558.420 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100 0,00 996 Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi 596.600 286.953 0,00 3,19 16,76 3,19 33,52 3,19 100 48,10

997 Peralatan dan Fasilitas Perkantoran

230.400 38.35 0,00 0,00 43,40 2,27 65,10 4,11 100 16,65

Fisik Capaian

Target

TW 1 TW 2 TW 3 TW 4

RN RL Kinerja RN RL Kinerja RN RL Kinerja RN RL Kinerja

7,5 3 7,27 96,62 23,40 25,66 109,64 64,36 50 ,0 4 77,74 100 98,5 3 98,53 2,3 9 4,1 1 171,77 4,9 8 23, 40 469,97 55, 62 49 ,1 7 88,40 100 100, 00 100,00 5,9 4 4,18 70,29 24,84 26,88 108,23 60,09 52 ,4 3 87,25 100 10 0, 00 100,00 2,2 0 2,56 116,27 12,17 14,64 120,30 62,36 39 ,9 0 63,98 100 100, 00 100,00 0,2 7 4,3 6 1.618, 42 9,9 7 27, 12 271,95 55, 21 49 ,3 6 89,41 100 10 0, 00 100,00 2,5 6 3,63 141,93 24,63 23,00 93,38 79,56 61 ,9 3 77,83 100 97 ,1 2 97,12 25, 00 21,21 84,83 50,00 35,34 70,69 75,00 53 ,0 2 70,69 100 100, 00 100,00 0,0 0 20,26 0,00 0,00 30,96 0,00 38,51 33 ,9 0 88,01 100 92 ,7 0 92,70 15, 08 12,61 83,65 31,61 32,45 102,65 63,40 49 ,1 7 77,57 100 10 0, 00 100,00 0,0 0 0,00 100,00 0,00 0,00 100,00 0,00 00 0, 100,00 100 00 0, 100,00 0,0 0 0,00 100,00 0,00 0,84 0,00 33,52 84 0, 2,50 100 10 0, 00 100,00 0,0 0 0,00 100,00 0,00 2,27 0,00 65,10 16 ,2 8 25,00 100 65 ,1 0 65,10

(35)
(36)

Dalam rangka mengukur capaian kinerja, Sekretariat Pengatur Jalan Tol telah mengeluarkan Dokumen Rencana Aksi yang di monitoring secara berkala melalui Laporan Monev dan Pengukuran Kinerja per triwulan. Data lengkap Laporan Monitoring dan evaluasi dan Pengukuran Kinerja disajikan dalam tabel di bawah ini:

Penjelasan kriteria penilaian dari tabel diatas sebagai berikut :

NO KATEGORI NILAI ANGKA INTERPRETASI KATEGORI WARNA 1 AA >85 – 100 Memuaskan 2 A >75 – 85 Sangat Baik

3 B >65 – 75 Baik, Perlu sedikit perbaikan

4 CC >50 – 65 Cukup (memadai), perlu banyak

perbaikan yang tidak mendasar

5 C >30 – 50 Kurang, perlu banyak perbaikan,

termasuk perubahan yang mendasar

6 D 0 – 30 Sangat Kurang, perlu banyak sekali

perbaikan & perubahan yang sangat mendasar

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada triwulan pertama, kedua dan ketiga, hampir seluruh indikator kinerja output belum dapat memenuhi target kinerjanya. Walupun pada akhirnya di triwulan keempat sebagian besar indikator kinerja output berhasil memenuhi target kinerjanya, tabel di atas memberikan informasi bahwa Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol perlu memperbaiki pola perencanaan per triwulannya. Untuk perbaikan di masa yang akan datang, Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol akan berupaya untuk menyusun target kinerja per triwulan dengan lebih matang dan rasional agar tidak terjadi deviasi yang besar target kinerja dan realisasi. Pelaksanaan pekerjaan di tahun yang akan datang akan diupayakan untuk selalu mengacu pada target per triwulan yang telah ditetapkan sehingga dapat menghasilkan kinerja yang lebih berkualitas, akuntabel, efektif dan efisien

4.2. Perbandingan Kinerja Organisasi

Dalam pelaksanaan dan pencapaian kinerja dari tahun ke tahun, Sekretariat BPJT selalu berupaya melakukan perbaikan. Adapun gambaran perbandingan rata-rata capaian kinerja output Sekretariat BPJT mulai tahun 2011-2016 dapat dilihat dari grafik berikut ini:

(37)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 29

Gambar 2 Perbandingan Rata-Rata Capaian Kinerja Output Sekretaris BPJT Tahun 2011-2016

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja Sekretarariat BPJT cenderung berkisar pada angka 85-100 %. Rata-rata capaian kinerja tersebut fluktuatif karena adanya beberapa penyesuaian terkait kebijakan pemerintah misalnya adanya penghematan anggaran yang mempengaruhi besaran capaian kinerja output. Pada tahun 2013, terdapat penurunan kinerja yang cukup signifikan, yaitu sebesar 5% karena adanya dana bintang di Satker BLU-BP Set BPJT yang jumlahnya cukup signifikan sehingga mengurang progress capaian kinerja satker yang pada akhirnya berpengaruh pada capaian output Eselon II Sekretariat BPJT, namun capaian kinerja tersebut telah diperbaiki di tahun 2014. Tahun 2015, capaian output secara keseluruhan di Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol mengalami penurunan karena berbagai faktor yang disebutkan sebelumnya. Namun demikian, Pada Tahun 2016, capaian output mengalami peningkatan kembali yaitu dengan capaian sebesar 98.53 persen.

4.3. Analisis Kinerja Organisasi

Pengukuran Kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi dari masing-masing Instansi Pemerintah.

PENGUKURAN KINERJA

Unit Kerja Eselon II Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol Tahun Anggaran 2016

SASARAN

PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI %

Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama

Outcome

Waktu Tempuh pada Koridor Utama 2,6

jam /100km 100 100

Output

Jumlah Dokumen Bagian Umum 3 Dokumen 3 Dokumen 100 Jumlah Dokumen Bidang Teknik 2 Dokumen 2 Dokumen 100 Jumlah Dokumen Pengawasan dan

Pemantauan 2 Laporan 2 Laporan 100

Jumlah Dokumen Investasi Jalan Tol 2 Dokumen 2 Dokumen 100 Jumlah Dokumen Pendanaan Tanah

Jalan Tol 2 Laporan 2 Laporan 100

Jumlah Laporan Sistem Pelaporan Secara Elektronik (e-Monitoring) Satker Kemen PU II

28 Dokumen 28 Laporan 28 Terpenuhinya Layanan Perkantoran 12 Bulan

(38)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 30

Terpenuhinya Layanan Perkantoran

(BLU) 12 Layanan Bulan 12 Layanan Bulan 100

Jumlah Kendaraan Bermotor 4 Unit 0 Unit 0

Jumlah Perangkat Pengolah Data dan

Komunikasi 40 Unit 20 Unit 50

Jumlah Peralatan dan Fasilitas

Perkantoran 83 Unit 50 Unit 63

Jumlah Anggaran : Rp. 64.612.000.000,00 Jumlah Realisasi : Rp. 47.106.874.000,00

Keberhasilan/kegagalan capaian indikator kinerja outcome dan output di Sekretariat Pengatur Jalan Tol dijelaskan sebagai berikut :

1. Kinerja outcome Sekretariat BPJT Tahun 2016 mendukung 1 (indikator)

indikator kinerja outcome program Penyelenggaraan Jalan di Direktorat Jenderal Bina Marga yaitu Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama.

2. Rata-rata capaian kinerja output Sekretariat BPJT tahun 2016 adalah 95.83%.

Dari angka rata-rata capaian kinerja ini, kinerja output Sekretariat BPJT dapat dikatakan berhasil. Hal ini dikarenakan dari 11 indikator kinerja output, hampir semua indikator kinerja output sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam Dokumen Penetapan Kinerja. Indikator kinerja output yang tidak sesuai dengan dokumen Penetapan Kinerja adalah indikator kinerja output Kendaraan Bermotor, Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi, serta Peralatan dan Fasilitas Perkantoran masing-masing capaiannya adalah 0%, 80% dan 15%. Hal yang menyebabkan capaian kinerja output ini tidak sesuai dengan nilai yang ditargetkan adalah karena adanya perubahan prioritas pemenuhan kebutuhan belanja meubelair dan alat komunikasi dan pengolah data sehingga dalam berakibat pada tidak tercapainya pemenuhan target output. Selain itu, masih terdapat kendala dalam hal proses penghapusan barang-barang modal yang dalam kondisi rusak. Untuk belanja kendaraan bermotor, dana untuk belanja tersebut dibintang oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Adapun penjelasan rinci mengenai capaian kinerja Sekretariat BPJT, diuraikan sebagai berikut:

Sasaran strategis : Meningkatnya Dukungan Konektivitas Untuk Penguatan Daya Saing

Indikator kinerja outcome: Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama Indikator kinerja Output pada outcome tersebut adalah:

1. Dokumen Bidang Teknik terdiri atas paket-paket pekerjaan yang

dilaksanakan oleh Bidang Teknik Sekretariat BPJT. Pada indikator kinerja output tersebut, realisasi pegukuran kinerja mencapai 100%. Namun demikian, beberapa kinerja produk masih perlu ditindaklanjuti dan dikembangkan agar lebih berdaya guna dan bisa dimafaatkan secara optimal.

(39)

Laporan Kinerja Instasi Pemerintah 2016| 31

Dukungan paket-paket kegiatan dalam output ini dimaksudkan untuk memberikan pendampingan dalam pemeriksaan DED, revieu desain jalan tol termasuk usulan penambahan fasilitas jalan tol; melakukan monitoring

konstruksi jalan tol; melaksanakan laik fungsi jalan tol serta mendukung

tugas-tugas dari bidang teknik BPJT terkait proses penyiapan pelelangan pengusahaan jalan tol. Paket kegiatan lainnya pada output tersebuat diatas adalah paket pekerjaan Penyusunan Review FS Rencana Pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan yang bertujuan untuk meninjau kembali kelayakan finansial ruas jalan tol tersebut sebagai prasyarat penyelenggaraan lelang pengusahaan jalan tol. Selain itu juga terdapat paket kegiatan Evaluasi Perencanaan Teknis Jalan Tol dan Monitoring Pembangunan Jalan Tol yang diarahkan untuk memberikan bantuan teknis bagi BPJT dalam evaluasi basic design dan pemantauan konstruksi ruas jalan tol yang sedang dibangun.

Pelaksanaan paket pekerjaan pada output ini tidak mengalami kendala berarti kecuali yang terkait koordinasi dengan instansi-instansi daerah.

Status s.d.Oktober 2014 Oktober 2014 – Oktober 2015

Konstruksi OlehSwasta : 193,84 km Swasta : 378,61 Km Swasta : 423,57 Km

1.Kertosono-Mojokerto (Seksi II,III) [24,70 km] 1.Kertosono-Mojokerto (Seksi I) [14,70 km] 1.Pejagan-Pemalang (Seksi I & II) [20,22 km] 2.Surabaya-Mojokerto (Seksi IA, IB, IV) [17,17 km] 2.Pejagan-Pemalang (Seksi I & II) [20,22 km] 2.Kertosono-Mojokerto (Seksi I) [14,70 km] 3.Cinere-Jagorawi (Seksi II) [5,55 km] 3.Depok-Antasari (Seksi I) [5,82 km] 3.Bekasi-Cawang-KampungMelayu (Seksi I) [11,00 km] 4.Porong-Gempol (SeksiKejapanan-Gempol) [3,55 km]4.Bekasi-Cawang-KampungMelayu (Seksi I) [11,00 km]4.Depok-Antasari (Seksi I) [5,82 km]

5.Gempol-Pasuruan (Seksi I) [14,70 km] 5.Medan-Kualanamu-Tb. Tinggi (Seksi II) [43,9 km] 5.Medan-Kualanamu-Tb. Tinggi (Seksi II) [43,9 km] 6.Cikampek-Palimanan [116, 75 km] 6.Medan-Binjai [16,72 km] 6.Medan-Binjai [16,72 km]

7.Gempol-Pandaan [12,05 km] 7.Palembang-Indralaya [24,48 km] 7.Palembang-Indralaya [24,48 km] 8.Bakauheni-TerbanggiBesar [155 km] 8.Bakauheni-TerbanggiBesar [155 km] 9.Semarang-Solo (Seksi III) [17,57 km] 9.Semarang-Solo (Seksi III) [17,57 km] 10.Solo-Mantingan- Ngawi (Seksi III & IV) [69,20 km] 10.Solo-Mantingan- Ngawi (Seksi III & IV) [69,20 km]

11.Pemalang-Batang (39,20 Km) 12.Semarang-Batang (75 Km) 13.Pasirkoja-Soreang (10,57 km) 14.Cimanggis-Cibitung (25,39 km) 15.Pekanbaru-Kandis (131 Km) 16.Kayu Agung-Palembang Betung (111,69) 17.Tb. Besar-Kayu Agung (185 Km)

Oktober 2015 – Saat ini

Tabel 8 Ruas-ruas Jalan Tol Konstruksi per 2016

2. Dokumen Investasi Jalan Tol, kinerja produk diarahkan dalam rangka

mendukung pelaksanaan fungsi penyiapan, pelayanan dan pengendalian pengusahaan jalan tol (investasi jalan tol). Realisasi pengukuran kinerja adalah 2 dokumen sesuai dengan target awal penetapan kinerja sebanyak 2

Gambar

Gambar 1 Stuktur Organisasi Badan Pengatur Jalan Tol
Gambar 2 Isu Terkait Pengusahaan Jalan Tol
Tabel 1 Produk Peraturan Perundangan Dalam Rangka Percepatan Pengusahaan Jalan Tol
Tabel 2 Rencana Pembangunan Jalan Tol Tahun 2015-2019
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan sekarang ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan antara lain pada sistem, metode maupun media pembelajaran yang digunakan. Seiring dengan

Hasil analisis jumlah hemoglobin kelompok VI pada hari ke-28 setelah perlakuan mengalami peningkatan (P>0.05) jika dibandingkan dengan jumlah hemoglobin kelompok

Faktor Paling Dominan Dengan Kasus Difteri Anak di Puskesmas Bangkalan Tahun 2016 Variabel P Value OR Status Imunisasi DPT 0,037 4,667 Tingkat Pendidikan 0,016 1,67

Rentabilitas dan risiko kredit berpengaruh positif dan signifikan, permodalan mempunyai pengaruh positif tidak signifikan, likuiditas tidak berpengaruh signifikan,

Hasil penelitian ini, diperoleh bahwa keberagamaan yang berkembang pada masyarakat kasepuhan Sunda didasari oleh pengaruh kebudayaan Sunda buhun/wiwitan dan juga

Berdasarkan kepada tema hasil kajian, projek CSR perladangan cili kontrak yang telah dilaksanakan oleh syarikat korporat multinasional di Malaysia dengan kerjasama pihak

Pengga- bungan model pembelajaran guided inquiry dan mind mapping diharapkan dapat mengeksplorasi kemampuan siswa dalam belajar dengan bimbingan dari guru, melatih

Observant par ailleurs que la logique ne nous fournit jamais de connaissances nouvelles, car elle ne parle pas du monde mais des rapports entre des propositions, Peirce s’est dit