• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PESERTA PROLANIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PESERTA PROLANIS"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION

TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PESERTA

PROLANIS

Rusnoto, Ika Alviana

Prodi Keperawatan, STIKES Muhammadiyah Kudus [email protected]

Abstrak

Relaksasi otot progressive merupakan salah satu terapi non farmakologis untuk merilekkan otot dan menurunkan kecemasan sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk menggetahui Pengaruh Terapi Progressive Musle Relaxation Terhadap Penurunan Tekanan Darah Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen, desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre test dan post test two group. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi di prolanis Puskesmas Welahan I Jepara dengan rata-rata kunjungan tiap bulannya berjumlah 40 pasien hipertensi. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu secara non probability sampling berupa purposive sampling (suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti) berjumlah 32 responden. Hasil penelitian menunjukan tekanan darah sistolik 0,001 dan diastolik 0,002 (<0,05) yang berarti terdapat pengaruh terapi progressive muscle relaxation terhadap penurunan tekanan darah di puskesmas welahan i jepara tahun 2016.

Kesimpulan : Ada pengaruh terapi progressive musle relaxation terhadap penurunan tekanan

darah di puskesmas welahan I jepara tahun 2016.

Kata Kunci :hipertensi, relaksasi otot progresif, tekanan darah Jumlah Pustaka : 38 (2006-2015)

PENDAHULUAN

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Penyakit mematikan didunia ini juga dikenal sebagai silent killer, karena hampir tidak menimbulkan gejala apapun. Menurut Triyanto (2014) dalam buku World Health Organization (WHO) tercatat pada tahun 2012 sedikitnya sejumlah 839 juta kasus hipertensi, diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana penderitanya lebih banyak dari wanita (30%) di bandingkan pria (29%). Sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terjadi terutama dinegara-negara berkembang.

Di Jawa Tengah pada tahun 2008 terdapat sebanyak 865,204 penderita hipertensi, pada tahun 2009 terdapat sebanyak 698,816, Pada tahun 2010 terdapat

sebanyak 562,117, Pada tahun 2011 terdapat sebanyak 634,860, Pada tahun 2012 terdapat sebanyak 544,771.(Provinsi Jawa Tengah, 2012).

Di Kabupaten Jepara pada tahun 2015 terdapat 15.469 kasus hipertensi yang menduduki peringkat pertama dari penyakit tidak menular, dimana penderitanya lebih banyak wanita yaitu sebesar 11.520 sedangkan pria sebesar 3.939 (DKK Jepara, 2015). Di Puskesmas Welahan I Jepara tahun 2015 setiap tahun terdapat jumlah kunjungan rata-rata 1375 pasien dengan hipertensi rata-rata kunjungan pasien hipertensi tiap bulannya 115 orang. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan Puskesmas Welahan 2 dimana terdapat 979 pasien dengan hipertensi rata-rata kunjungan pasien hipertensi tiap bulannya 80 orang pasien hipertensi.

(2)

Progresive Muscle Relaxation (PMR) merupakan pengembangan metode respon relaksasi dengan melibatkan faktor peregangan otot diikuti dengan relaksasi otot dan psikis yang dapat menciptakan suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu pasien mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Purwanto, 2006). Relaksasi PMR memiliki beberapa keunggulan selain metodenya yang sederhana, tehnik ini juga dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa membutuhkan ruangan yang sangat khusus. PMR akan menghasilkan frekuensi gelombang alpha pada otak yang bisa menimbulkan perasaan bahagia, senang, gembira, dan percaya diri sehingga dapat menekan pengeluaran hormon kortisol, epinefrin dan norepinefrin yang merupakan vasokontriksi kuat pada pembuluh darah. (Price, 2005).

Di indonesia bukti pengaruh PMR terhadap tekanan darah sudah dilakukan oleh Rudi Harmono (2010) Penggaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan Darah Klien Hipertensi Primer mendapatkan hasil bahwa tindakan PMR memiliki hubungan yang signifikan dalam menurunkan tekanan darah pada hipertensi.

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Welahan I Jepara pada bulan Desember 2015 terhadap 10 pasien hipertensi didapatkan rata-rata tekanan darah sistoliknya 165,7 mmHg dari hasil pengukuran terakhir. Dari hasil observasi catatan medis obat yang banyak dikonsumsi adalah captopril, menurut pengakuan dari 10 pasien tersebut tekanan darah mereka kadang mengalami penurunan kadang juga menetap kadang juga meningkat meskipun sudah minum obat. Selain di Puskesmas Welahan I belum terdapat program terintegrasi penatalaksanaan hipertensi yang bertumpu antara obat-obatan dengan pilar yang lain seperti program relaksasi untuk menurunkan stress termasuk terapi PMR (Progressive Muscle Relaxation).

METODE

Metode kuantitatif dengan pendekatan quasy experiment. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Analisis penelitian ini menggunakan uji wilcoxon.

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi di Puskesmas Welahan I Jepara. Yang berjumlah 32 responden

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dengan hipertensi di Puskesmas Welahan I Jepara yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi. sebanyak 16 responden intervensi dan 16 responden kontrol.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Analisa Univariat

Hasil penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Di Puskesmas

Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32) Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Pekerjaan Frekuensi Presentase

(%) Frekuensi Presentase (%) Wiraswasta 3 18,8 5 31,3 IRT 5 31,3 6 37,5 Petani 3 18,8 2 12,5 Pedagang 5 31,3 3 18,8 Total 16 100.0 16 100.0 Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Umur Respon den Frekue nsi Present ase (%) Frekue nsi Present ase (%) Umur 36-45 5 31,3 4 25,0 Umur 46-55 8 50,0 7 43,8 Umur 56-65 3 18,8 5 31,3 Umur 66-75 0 0 0 0 Total 16 100.0 16 100.0

(3)

Bedasarkan tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar umur pasien yang menderita hipertensi adalah umur 46-55 tahun dengan jumlah kelompok intervensi 8 responden (50,0%) dan kelompok kontrol 7 responden (43,8%). Tabel 4.2Distribusi Frekuensi Responden

Berdasarkan Jenis Kelamin Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32)

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar jenis kelamin pasien hipertensi pada kelompok intervensi dan kontrol adalah perempuan pada kelompok intervensi sebanyak 10 responden (62,5%) dan kelompok kontrol sebanyak 9 responden (56,3%).

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32) Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Pendidi kan Freku ensi Present ase (%) Freku ensi Present ase (%) SD 7 43,8 7 43,8 SMP 5 31,3 3 18,8 SMA 4 25,0 6 37,5 Total 16 100.0 16 100.0

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan pasien hipertensi pada kelompok intervensi sebanyak 7 responden 43,8% berpendidikan SD sedangkan pasien hipertensi pada kelompok kontrol 7 responden 43,8% berpendidikan SD.

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32)

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pekerjaan pasien hipertensi kelompok intervensi adalah ibu rumah tangga 5 responden 31,3% dan pedagang 5 responden 31,3% sedangkan kelompok kontrol adalah ibu rumah tangga 6 responden 37,5%.

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Bedasarkan Tingkatan Tekanan Darah Sebelum Dan Sesudah Perlakuan Pada Kelompok Intervensi Terapi PMR Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016

Pada tabel 4.5 menunjukan bahwa tekanan darah sistolik responden sebelum dilakukan terapi PMR pada kelompok intervensi pada kategori ringan sebanyak 7 responden (43,8%), pada kategori sedang sebanyak 9 responden (56,3%), sedangkan Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Jenis Kelami n Frekue nsi Present ase (%) Frekue nsi Present ase (%) Peremp uan 10 62,5 9 56,3 Laki-laki 6 37,5 7 43,8 Total 16 100.0 16 100.0 Tekana n Darah Kelomp ok Interven si Sebelu m Perlaku an Ringan Presenta se (%) Sedang Presenta se (%) Berat Presenta se (%) Total Sistole 7 (43,8%) 9 (56,3 %) 0 16 (100 %) Diastole 10 (62,5%) 6 (37,5%) 0 16 (100 %) Tekana n Darah Sistole 11 (68,8%) 5 (31,3%) 0 16 (100 %) Diastole 14 (87,5%) 2 (12,5%) 0 16 (100 %)

(4)

kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah diastolik kelompok intervensi sebelum dilakukan terapi PMR pada kategori ringan sebanyak 10 responden (62,5%) sedangkan kategori sedang 6 responden (37,5%) sedangkan kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah sistolik responden sesudah dilakukan terapi PMR pada intervensi pada kategori ringan sebanyak 11 responden (68,8%), pada kategori sedang sebanyak 5 responden (31,3%), sedangkan kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah diastolik kelompok intervensi sesudah dilakukan terapi PMR pada kategori ringan sebanyak 14 responden (87,5%) sedangkan kategori sedang 2 responden (12,5%) sedangkan kategori berat tidak ada.

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Bedasarkan Tingkatan Tekanan Darah Sebelum Dan Sesudah Perlakuan Pada Kelompok Kontrol Terapi PMR Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016

Pada tabel 4.6 menunjukan bahwa tekanan darah sistolik responden sebelum dilakukan terapi PMR pada kelompok kontrol pada kategori ringan sebanyak 9 responden (56,3%), pada kategori sedang sebanyak 7 responden (43,8%), sedangkan kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah diastolik kelompok intervensi sebelum dilakukan terapi PMR pada kategori ringan sebanyak 10 responden (62,5%) sedangkan kategori sedang 6 responden (37,5%) sedangkan kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah sistolik responden sesudah dilakukan terapi PMR pada kelompok kontrol pada kategori ringan sebanyak 10 responden (62,5%), pada kategori sedang sebanyak 6 responden (37,5%), sedangkan kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan darah diastolik kelompok kontrol sesudah dilakukan terapi PMR pada kategori ringan sebanyak 12 responden (75,0%) sedangkan kategori sedang 4 responden (25,0%) sedangkan kategori berat tidak ada.

2. Analisa Bivariat

Tabel 4.7

Perbandingan Rata-Rata Tekanan Darah Sebelum Dan Sesudah Perlakuan Pada Kelompok Control Dan Kelompok Intervensi Terapi PMR

Dari hasil analisa wilcoxon didapatkan bahwa nilai p value dari kelompok tekanan darah sistole kelompok

kontrol di dapatkan hasil p value 0,157 > α

(0,05), sedangkan tekanan darah diastole kelompok kontrol di dapatkan hasil p value

0,190 > α (0,05), sedangkan sistole kelompok intervensi sebesar 0,001 < α (0,05),

sedangkan diastole kelompok intervensi

sebesar 0,002 < α (0,05). Hal ini dapat

disimpulkan bahwa pada kelompok kontrol sistole dan diastole tidak ada pengaruh penurunan tekanan darah dengan demikian Ha ditolak dan Ho diterima, sedangkan pada kelompok intervensi sistole dan diastole ada pengaruh penurunan tekanan darah, dengan demikian Ha diterima dan Ho ditolak yang bearti ada Pengaruh Terapi Progressive Muscle Relaxation Terhadap Penurunan Tekanan Darah Di Puskesmas Welahan I Jepara.

PEMBAHASAN

A. Pengaruh Terapi Progressive Muscle Relaxation Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Welahan I Jepara

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh terapi PMR terhadap perubahan tekanann darah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Welahan I Jepara, didapatkan sebagian besar responden kelompok intervensi mengalami hipertensi berat tidak ada, hipertensi sedang 9 responden , hipertensi ringan 7 responden. Sedangkan kelompok kontrol mengalami hipertensi berat tidak ada, hipertensi sedang 7 responden, hipertensi ringan 9 responden.

Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji wilcoxon diperoleh sistolik p value = 0,001 dan diastolik p value = 0,002 Lebih kecil dari nilai < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh terapi PMR dengan perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja puskesmas Welaha I Jepara.

Sesuai dengan analisis diatas didapatkan tekanan darah sistolik dari kelompok

(5)

perlakuan sebelum dilakukan terapi PMR adalah Ringan 7 responden (43,8%) Sedang 9 responden (56,3%) dan setelah perlakuan adalah ringan 11 responden (68,8%), sedang 5 responden (31,3%). sedangkan hasil uji statistik didapatkan nilai sig = 0,001 maka dari hasil p value dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan yang bermakna antara rata-rata tekanan darah sistolik sebelum terapi PMR dan sesudah terapi PMR pada kelompok perlakuan (P value/ Sig < 0,05). Dari hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa terapi PMR 5 hari secara berturut-turut dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar p value = 0,001.

Sesuai dengan analisis diatas didapatkan tekanan darah diastolik dari kelompok perlakuan sebelum dilakukan terapi PMR adalah Ringan 10 responden (62,5%), sedang 6 responden (37,5%) dan setelah perlakuan adalah ringan 14 responden (87,5%), sedang 2 responden (12,5%). sedangkan hasil uji statistik didapatkan nilai sig = 0,002 maka dari hasil p value dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan yang bermakna antara rata-rata tekanan darah diastolik sebelum terapi PMR dan sesudah terapi PMR pada kelompok perlakuan (P value/ Sig < 0,05). Dari hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa terapi PMR 5 hari secara berturut-turut dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar p value = 0,002.

Pada penelitian ini ditemukan responden dengan hipertensi di Puskesmas Welahan I Jepara sebelum di lakukan terapi PMR didapatkan hasil pada kelompok intervensi sistole berat tidak ada, sedang 9 responden (56,3%), ringan 7 responden (43,8%), sedangkan diastole sebelum perlakuan pada kelompok intervensi berat tidak ada, sedang 6 responden (37,5%), ringan 10 responden (62,5%). Sedangkan setelah perlakuan kelompok intervensi sistole berat tidak ada, sedang 5 responden (31,3%), ringan 11 responden (68,8%). Sedangkan diastole kelompok intervensi setelah perlakuan berat tidak ada, sedang 2 responden (12,5%), ringan 14 responden (87,5%). Sedangkan untuk nilai sig didapatkan kelompok intervensi sistole 0,001 dan diastole 0,002. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penurunan terapi PMR

terhadap penurunan tekanan darah, karna responden kooperatif dan mengikuti langkah-langkah terapi PMR dengan urut dan benar serta bersungguh sungguh setiap harinya. Namun dalam terapi PMR tidak dapat menurunkan tekanan darah kembali normal atau tetap tetapi hanya dapat mengurangi tekanan darah dan dapat kembali sewaktu waktu jika tidak di lakukan terapi PMR setiap hari dan mengubah pola hidup menjadi sehat.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian tentang “Pengaruh Terapi Progressive Muscle Relaxation Terhadap Peenurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja

Puskesmas Welahan I Jeepara” dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut

1. Ada perbedaan yang bermakna tekanan darah sistol post pre pada kelompok intervensi dengan nilai p value sebesar 0,001 (p < 0,05) dan nilai Z sebesar -3,418 dan tekanan darah diastole pre dan post dengan nilai p value sebesar 0,002 (p < 0,05) dan nilai Z sebesar -3,082.

B. SARAN

1. Bagi Peneliti

Dengan dilaksanakannya penelitian ini, peneliti dapat menerapkan hasil penelitian dilapangan dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang upaya penanganan hipertensi berbasis relaksasi PMR.

2. Bagi Stikes Muhammadiyah Kudus Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi mahasiswa Stikes Muhammadiyah Kudus. 3. Bagi Puskesmas Welahan I Jepara

Dengan dilaksanakannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan refrensi bagi Puskesmas Welahan I Jepara untuk melakukan upaya dalam penggobatan pasien hipertensi.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai acuan untuk referensi dan masukan dalam melakukan penelitian selanjutnya.

(6)

REFERENSI

Alim, M. N. (2009). pengaruh kompetensi. Jakarta: Nuha Medika.

Arif muttaqin, K. S. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkenihan. Banjarmasin : Salemba Medika.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifudin. (2012). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Dalimartha, e. (2008). Care yourself hypertension. Jakarta: Penebar Plus. Dewi, S. d. (2010). Hidup Bahagia Bersama

Hipertensi. Jakarta: A Plus Books. Dewi, S. (2010). Hidup Bahagia Dengan

Hipertens. Yogyakarta: A Plus. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

(2012). Pelayanan Medis Dasar. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

EI Wayan, S. (2013). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Cardiovaskuler. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Ganong, W. F. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC. Gunawan, L. (2012).Hipertensi “Tekanan

Darah Tinggi”.Yogyakarta: Kanisius.

Hawks, B. &. (2009). Medical Surgical Nursing Clinical Mnagement for Positive Outcomes. elseveir Saunders. Hidayat, A. (2007). Metode Penelitian

Kebidanan Dan Tehnik Analisis Data. Surabaya: Salemba.

Junaidi, I. (2010). Hipertensi Pengenalan, Pencegahan, dan Pengobatan. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer. Kushariyadi, S. &. (2011). Terapi Modalitas

Psikogeriatrik. Jakarta: Salemba Medika.

Lewis, et, al. (2011). Life satisfaction and student engagement in adolescents. Journal of youth & adolescence , 40:249-262.

Maryani, A. (2009). Pengaruh progressive muscle relaxation (PMR). Jakarta: Nuha Medika.

Mashudi. (2012). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Militus Tipe 2. Jurnal Health and Spor , 686-694.

Muhammadun, A. (2010). Hidup Bersama Hipertensi. Yogyakarta: In Books. Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi

Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ronny, S. F. (2010). Fisiologi kardiovaskular. Jakarta: EGC.

Setiawan, A. d. (2010). Metodologi Penelitian kebidanan. Jakarta: Nuha Medika.

Silbernagl, S. a. ( 2006). Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC. Snyder. M., L. R. (2002). Complementary Alternative Therapies In Nursing. New York: Springer Publishing Company, Inc.

Sudoyo A, e. a. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian

Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Gambar

Tabel  4.1Distribusi  Frekuensi  Responden Berdasarkan Umur Di Puskesmas

Referensi

Dokumen terkait

terapi hijamah dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.. Hal yang sama juga didapatkan pada penelitian Agustin

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa terdapat kecenderungan penurunan tekanan darah baik tekanan sistole maupun diastole pada penderita hipertensi antara

Dari hasil didapatkan p value tekanan darah sistole = 0,000 dan p value tekanan darah diastole = 0,000.Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh

Terdapat perbedaan kadar gula darah pada kelompok intervensi sesudah diberikan kombinasi PMR dengan musik pada pada pasien DM tipe 2 yakni didapatkan banyak

penulis lakukan di Puskesmas Selayo Kabupaten Solok ditemukan data bahwa pada tahun 2014 pasien yang mendatangi puskesmas tersebut yang mengalami hipertensi

Setelah diberikan terapi murottal Al-Qur’an sebagian besar pasien pre operasi katarak dengan hipertensi kelompok perlakuan memiliki tekanan darah sistole

Distribusi frekuensi tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan terapi bekam pada penderita hipertensi di Poliklinik Trio Husada Malang Kriteria f % Tekanan darah Sebelum Normal

Pengaruh terapi pijat refleksi terhadap penurunan tekanan darah pada penderia