• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI IDENTITAS SUPORTER DALAM LOGO VIKING PERSIB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REPRESENTASI IDENTITAS SUPORTER DALAM LOGO VIKING PERSIB"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

37

REPRESENTASI IDENTITAS SUPORTER DALAM LOGO

VIKING PERSIB

BETHA ALMANFALUTHI

[email protected]

ABSTRACT Viking Persib is a supporter group of one of Indonesian football clubs, Persib. Its members are scattered in various regions in Indonesia, even abroad. With no fixity of the standard form of Viking Persib logo, it has made the logo visually expressed differently based on the interpretation of each region or the so-called district. This study finds the pattern of Viking Persib logo variants in representing their identity. The study was conducted using Stuart Hall’s representation and Roland Barthes’ semiotics that analyzes the expansion of the signs meanings. From the analysis, it can be concluded that from the variations of the Viking Persib logos in various districts, its identity shows violence atmosphere and aggressiveness. These variations are influenced by punk ideology embraced by the Central Viking. The similar visual patterns asserts that they are proud to be part of a subculture that is exposed on the wider stage through football.

ABSTRAK Viking Persib adalah kelompok suporter salah satu klub sepakbola di Indonesia, Persib. Jumlah anggotanya tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan luar negeri. Tidak adanya ketetapan bentuk logo yang baku membuat logo Viking Persib memiliki tampilan dengan berbagai macam bentuk sesuai interpretasi masing-masing wilayah atau yang biasa disebut ‘distrik’. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pola penandaan pada varian logo Viking Persib dalam merepresentasikan identitas salah satu kelompok suporter Persib tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan representasi Stuart Hall dan semiotika Roland Barthes yang menganalisis perluasan makna tanda. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dari variasi logo Viking yang muncul di berbagai distriknya, identitas yang ditampilkan oleh suporter Viking kental dengan nuansa kekerasan dan agresif. Nuansa ini tidak lepas dari pengaruh ideologi punk yang dianut oleh Viking Pusat. Keseragaman pola elemen visual menegaskan bahwa mereka bangga menjadi bagian dari sebuah subkultur yang terekspos dalam panggung yang lebih luas melalui sepakbola.

Kata kunci: Viking Persib, representasi, identitas, sepakbola, hooliganisme, punk

Latar Belakang Masalah

Viking Persib merupakan salah satu kelompok pendukung klub sepakbola di Indonesia, Persib Bandung. Persib Bandung merupakan klub dengan jumlah

fans terbanyak di Indonesia. Data ini

disampaikan oleh Direktur Promosi dan Marketing Persib Bandung Muhammad Farhan kepada detikFinance pada Maret 2012. Di antara sekian kelompok pendukung Persib, Viking merupakan kelompok terbesar. Berdasarkan data dari bola.viva.

co.id, hingga tahun 2012 anggota Viking pusat tercatat mencapai sekitar 70.000 orang. Bermula dari sebuah rumah milik salah satu pendiri Viking, Ayi Beutik, di Jl. Kancra No.34, Viking Persib berdiri pada tanggal 17 Juli 1993. Pada tahun yang sama, Viking Persib pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia pertama. Nama ‘Viking’ diambil dari nama salah satu suku bangsa yang ada di wilayah Skandinavia, Eropa Utara. Menurut

(2)

38

penjelasan para pendirinya, mereka memilih nama ‘Viking’ karena suku tersebut memiliki sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, dan hidupnya selalu menjelajah. Gagasan mengenai identitas suku Viking tersebut yang menjadi latar belakang pemilihan nama kelompok suporter Persib tersebut.

Ada sebuah posisi unik dalam kepengurusan Viking Persib; posisi yang jarang ditemukan pada kelompok-kelompok suporter lainnya yang ada di Indonesia, yaitu sebagai Panglima. Posisi ini diberikan kepada Ayi Beutik yang merupakan inisiator kelompok ini. Hal ini dikarenakan Mang Ayi, sapaan akrab Ayi Beutik, selalu menunjukkan semangat yang tiada henti dalam mendukung Persib dalam setiap pertandingan. Selain itu, sikap Mang Ayi yang tak gentar menghadapi situasi buruk yang terjadi di dalam stadion menimbulkan rasa hormat, sehingga menjadi pengaruh secara alamiah terpilihnya Mang Ayi untuk dijuluki Panglima.

Dilihat dari penampilan Mang Ayi, ia termasuk individu yang sangat terbuka dengan hadirnya arus budaya asing. Kota Bandung memang termasuk salah satu wilayah urban yang menghadirkan banyak kesempatan bagi budaya asing untuk berkembang. Gaya rambut dan cara berpakaian Mang Ayi mengingatkan kita pada aliran punk. Dengan memegang peran yang cukup besar di dalam Viking Persib sebagai Panglima, tentu pemikiran Mang Ayi berpengaruh pada berkembangnya komunitas yang ia bentuk dari awal. Mang Ayi sering terlibat bentrokan antar suporter.

Diakuinya sikap anarki selama pertandingan merupakan bagian dari sifatnya sebagai suporter. Mang Ayi bisa dilihat sebagai individu yang mempraktikkan

hooliganisme atau kekerasan di Indonesia.

Ada pernyataan Mang Ayi yang menjawab pertanyaan seorang rekannya tentang alasan pemilihan nama yang tidak mewakili budaya Jawa Barat. Mang Ayi menjawab bahwa ia tidak ingin ada sikap kesukuan di dalam kelompok suporternya. Ia ingin Persib bisa dimiliki oleh siapa saja tidak hanya orang Jawa Barat. Ia memiliki alasan sulitnya mencari idiom yang mampu mewakili Indonesia namun tidak melekat pada satu suku tertentu (http://simamaung. com/beutik-bagian-ka-3-salam-nazi-ala-mang-ayi/). Dengan penampilan yang dipengaruhi budaya punk itu, tentu tidak ada keberatan dari Mang Ayi jika elemen visual yang pakai untuk logo Viking Persib berasal dari luar negeri.

Di awal perkembangannya, kelompok suporter hooligan sering dikaitkan dengan sebuah subkultur yang saat itu sedang populer yaitu

skinhead. Di akhir 1970-an skinhead

mulai dipengaruhi budaya punk. Punk merupakan gerakan yang dilakukan generasi muda saat itu sebagai bentuk anti terhadap norma-norma dan aturan yang berlaku. Di saat itulah

skinhead mulai dikaitkan dengan hooliganisme di dalam sepakbola.

Gaya skinhead era punk digunakan orang-orang yang merupakan anggota kelompok suporter hooligan.

Skinhead merupakan budaya yang

dibangun oleh kaum pekerja kelas bawah. Saat itu pemain sepakbola

(3)

39 yang direkrut oleh klub-klub di liga

Inggris adalah orang-orang yang berasal dari kelas pekerja. Adanya rasa kesamaan dengan pemain sepakbola membuat banyak pemuda

skinhead menjadi suporter sepakbola.

Saat itu, perpaduan punk dan

skinhead ini yang mendapat banyak

perhatian media karena kasus-kasus

hooliganisme dalam sepakbola.

Pengaruh budaya yang diadopsi oleh kelompok suporter

hooligan tampak jelas dari segala

macam aksi yang dilakukan. Hal itu juga mereka ekspresikan melalui gambar sebagai identitas visual mereka. Sebagai sebuah komunitas, salah satu identitas visual yang penting adalah logo kelompok mereka. Simbol-simbol yang terbangun saat era pertumbuhan budaya punk skinhead dibawa untuk mempertegas siapa yang ada di dalam kelompok suporter hooligan. Salah satu simbol yang kerap digunakan oleh komunitas skinhead adalah gambar tengkorak.

Pada awal tahun 1970-an, Italia juga dilanda fenomena gerakan resistensi dari generasi muda saat itu. Ultras yang semula tampil sebagai kelompok suporter yang atraktif di stadion tidak lepas dari aksi kerusuhan antar suporter. Banyak anggota kelompok suporter ultras yang merupakan orang-orang yang aktif melancarkan aksi resistensi terhadap kondisi yang ada. Sama halnya dengan hooliganisme, banyak yang memanfaatkan sepakbola sebagai arena untuk mendapatkan perhatian. Simbol-simbol yang ditampilkan dapat dilihat

sebagai cara mereka untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan maksud mereka. Kesamaan antara hooligan dan ultras adalah sifatnya yang mudah mengumpulkan massa usia muda dari golongan kelas perkerja. Simbol-simbol yang digunakan sebagai identitas tidak jauh berbeda dengan yang digunakan kelompok suporter hooligan. Jika melihat orang-orang yang bergabung ke dalam dua kelompok suporter itu, tidaklah mengherankan bila ada kemiripan karakteristik pada pemilihan gambar-gambar yang dijadikan simbol. Kelompok Ultras sendiri menggunakan gambar-gambar yang sifatnya memperlihatkan sifat mereka yang selalu ingin mengintimidasi pemain-pemain lawan.

Dari uraian di atas terlihat bagaiamana sepakbola dekat dengan sebuah subkultur. Seperti yang diungkapkan Phil Cohen (1972:23), bahwa subkultur merupakan:

As so many variations on a central theme – the contradiction, at an ideological level, between traditional working class Puritanism, and the new hedonism of consumption; at an economic level, between the future as part of the socially mobile elite, or as part of the new lumpen. Mods, Parkers, Skinheads, Crombies, all represent, in their different ways, an attempt to retrieve some of the socially cohesive elements destroyed in their parent culture, and to combine these with elements selected from other class fractions.

Dari pendapat tersebut maka terlihat bahwa subkultur dapat hadir dalam bentuk apa saja, yang merupakan

(4)

tindakan-40

tindakan keseharian yang berlawanan dengan norma-norma umum yang berlaku (Nwalozie, 2015, 7:1-16). Subkultur merupakan sebuah resistensi terhadap kondisi yang dibentuk oleh kelas-kelas yang lebih memiliki power.

Fokus penelitian ini adalah logo Viking Persib Pusat dan Viking Persib distrik-distrik yang tersebar yang menunjukkan identitas kelompok suporter Persib. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana identitas suporter direpresentasikan dan identitas apa yang ingin ditampilkan melalui logo Viking Persib.

Kerangka Teori

Penelitian mengenai identitas suporter pernah dilakukan oleh tim dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani yang terdiri dari lima orang peneliti, yaitu Papoutzis Lazaros, Kyridis Argyrios, Christodoulou Anastasia-Charikleia, Fotopoulos Nikos, dan Vamvakidou Ifigeneia. Artikel yang berjudul “Football Stickers and Slogans as Creators of ‘Special’ Identities. The Case of Aris FC Thessaloniki” dimuat dalam Lexia Journal of Semiotics. Salah satu gambaran yang ada dalam tulisan ini adalah mengenai bagaimana kelompok suporter klub asal Yunani, Aris Thessaloniki, menggunakan elemen-elemen visual dalam membentuk sebuah penandaan. Makna yang terbangun dari penandaan tersebut akhirnya membangun identitas kelompok suporter klub tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan dengan melakukan pendekatan semiotika Roland Barthes. Istilah semiotika

itu sendiri merupakan sebuah kata yang awalnya berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘semeion’ yang berarti ‘tanda’.. Sebagai penerus Ferdinand de Saussure, Barthes juga meyakini bahwa sebuah tanda mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh manusia.

Aspek pertama adalah yang disebut dengan signifier (penanda), yaitu bunyi atau goresan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Signifier adalah sesuatu yang terlihat dan mempunyai wujud seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, objek, dan lain-lain. Aspek lainnya disebut dengan signified (petanda) yang merupakan sebuah gambaran mental manusia berupa konsep atau makna. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut dinamakan signification. Barthes mengembangkan teori penanda dan petanda ini.

Benny Hoed mendefinisikan semiotika sebagai suatu ilmu yang dapat digunakan untuk mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Hoed, dalam bukunya yang berjudul Semiotik & Dinamika Sosial

Budaya (2014), menjelaskan bahwa Barthes

mengembangkan penanda dan petanda di atas menjadi ekspresi (E) untuk penanda dan isi (C/contenu) untuk petanda. Akan tetapi, Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) sehingga membentuk tanda (Sn). Ia mengemukakan konsep tersebut dengan E-R-C. Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena R ditentukan oleh pemakai tanda. Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal secara umum (denotasi).

(5)

41

Denotasi adalah makna harafiah dari tanda dan oleh Barthes disebut sistem primer, E1-R1-C1, Kemudian proses perluasan makna, proses kognitif yang berangkat dari gejala budaya, disebut sistem sekunder, E2-R2-C2. Analisis logo Viking pusat dan Viking beberapa distrik lainnya di bawah ini akan menerapkan teori sistem sekunder yang mengembangkan sisi C-nya, hal ini disebut konotasi, yaitu saat tanda menjadi penanda di sistem sekunder tersebut. Proses ini menghasilkan makna baru, dari satu E bisa berkembang menjadi lebih dari satu C, dari satu tanda bisa memiliki lebih dari satu makna (Hoed, 2014:179).

Adanya makna konotasi yang berbeda-beda dari satu makna denotasi ini dapat terjadi karena perbedaan budaya tempat tanda tersebut berada. tiap pembaca tanda akan dipengaruhi oleh pengetahuan empirisnya masing-masing, maka latar belakang budaya dan pendidikan akan memengaruhi pengetahuan-pengetahuan mereka (Crow, 2010:34).

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini juga dilandasi teori Stuart Hall mengenai representasi. Representasi menggabungkan tanda-tanda yang ada menjadi makna dan karena masing-masing individu memiliki empiris yang berbeda-beda, maka sifatnya tidak stabil, tidak pernah diam pada satu pemaknaan saja. Makna tidak secara pasti berasal dari objek itu sendiri ataupun dari maksud penulis atau pembicara, namun dibangun melalui sistem representasi lewat konsep dan tanda.

Makna dibangun berdasarkan sistem representasi yang di dalamnya terdapat konsep-konsep yang dimiliki oleh pembaca

tanda. Makna tidak melekat menjadi bagian dalam sebuah tanda tetapi merupakan hasil konstruksi, dihasilkan melalui sebuah proses hasil penandaan yang menghasilkan makna (Hall, 1997).

Representasi, selain menghasilkan makna, juga membangun. Identitas sendiri merupakan sebuah produksi yang tidak pernah selesai melainkan selalu berada dalam proses perubahan, sehingga dapat dikatakan bahwa identitas “always constituted within,

not outside, representation” (Hall, 1990:

222). Dengan demikian, identitas tidak bisa lepas dari representasi. Representasi dengan segala sistem konsep dan tandanya yang menghasilkan makna membentuk identitas.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes dan representasi Stuart Hall. Penelitian dilakukan dengan pengamatan terhadap variasi logo Viking Persib yang ada. Sebanyak 201 variasi logo Viking Persib dikumpulkan untuk dianalisis. Variasi terdiri dari satu logo milik Viking Pusat dan yang lainnya adalah logo-logo Viking distrik yang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia dan beberapa di luar negeri. Logo sebanyak 201 tersebut dikumpulkan melalui media internet. Logo-logo tersebut diunggah oleh anggota-anggota Viking Persib di berbagai situs. Adanya blog dan media sosial di internet seperti facebook dan twitter memudahkan pencarian logo Viking distrik. Banyaknya wadah yang bisa digunakan sebagai forum lewat dunia maya membuat anggota Viking

(6)

42

Persib pun ikut membuat akun-akun di media sosial atas nama kelompok suporter. Dari sini dapat kita lihat ekspresi dari para anggota termasuk logo Viking Distrik mereka masing-masing.

Selanjutnya, dari 201 logo yang ada dilakukan pemetaan berdasarkan elemen-elemen visual yang membangun logo-logo tersebut. Pemetaan ini dilakukan untuk menemukan pola dominan yang digunakan oleh anggota Viking Persib dalam membuat logo mereka. Pemilihan elemen-elemen visual tersebut merupakan hasil ekspresi dari anggota Viking Persib yang mengusung nilai-nilai suku Viking dalam tindakan mereka sebagai pendukung setia Persib.

4. Analisis Logo

Hasil pengumpulan data berupa unit analisis variasi logo-logo Viking Persib memperlihatkan adanya pola umum dalam penggunaan elemen visual. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa elemen visual yang dominan dalam sebaran variasi logo Viking Persib. Elemen paling dominan adalah visual sepasang tanduk. Sebanyak 92,5% logo Viking Persib terdapat elemen visual berupa sepasang tanduk. Persentase

ini terbagi atas 77,1% logo Viking Persib yang memiliki elemen sepasang tanduk menempel pada helm dan 15,4% logo Viking Persib yang mengandung elemen sepasang tanduk namun tidak menempel pada sebuah helm.

Setelah mengetahui adanya elemen yang mendominasi di seluruh varian logo Viking distrik, dilakukan pengamatan terhadap elemen-elemen lain. Elemen visual lain yang muncul di mayoritas logo Viking Persib adalah sosok yang digambarkan sedang menggunakan tanduk, baik yang menempel pada helm maupun yang tidak. Elemen visual sosok tersebut juga hadir pada 7,5% logo yang tidak mengandung helm ataupun tanduk. Dari 201 logo yang ada, pola logo Viking Persib dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok menurut sosok yang ada pada logo. Pada kelompok pertama terdapat 6,5% distrik yang mengganti karakter prajurit Viking pada logo dengan elemen visual berupa hewan sebagai elemen visual utama. Pada kelompok kedua terdapat 26,4% yang tetap mengikuti pola Viking Pusat yang menggunakan elemen visual sosok pria. Sedangkan kelompok ketiga yang memiliki persentase paling besar, yaitu 64,2% logo-logo tersebut menggunakan elemen visual tengkorak.

Elemen Visual Hewan

Elemen visual berupa gambar hewan tidak memiliki persentase yang besar dalam varian logo Viking Persib. Akan tetapi, dari hasil pengelompokan dapat dilihat bahwa visual hewan dijadikan salah satu

Gambar 1.

(7)

43 alternatif dari tiga kategori yang muncul.

Logo yang mengandung elemen visual hewan berjumlah 18, dan dari angka tersebut sebanyak 13 logo menggunakan hewan sebagai visual utama. Sementara 5 sisanya menempatkan hewan-hewan tersebut sebagai elemen pendukung. Visual hewan ini ada yang dijadikan sosok yang menggunakan helm bertanduk dan ada juga yang digambarkan tanpa menggunakan helm atau tanduk. Dari empat belas logo ini terdapat enam jenis hewan.

Macan atau yang biasa disebut ‘maung’ oleh masyarakat Jawa Barat menjadi hewan yang paling banyak digunakan. Gambar maung ini ditemukan pada enam buah logo Viking distrik. Hal ini tentu tidak lepas dari pengaruh salah satu julukan bagi klub Persib itu sendiri yakni

Maung Bandung.

Setiap maung yang ada pada masing-masing logo memperlihatkan sosok maung yang mulutnya terbuka dan memperlihatkan taringnya. Lima logo Viking distrik dengan visual utama maung ini menampilkan bagian kepalanya saja dengan fokus pada raut wajah. Sedangkan satu logo, yakni milik Viking Yogyakarta memperlihatkan seluruh tubuh maungnya. Pose tubuh maung terlihat seolah sedang bersiap menerjang dengan satu kaki depan dibuat lebih besar seakan berada lebih dekat. Sehingga cakar tajamnya menjadi terlihat lebih jelas. Posisi kaki depan ini diposisikan berada di tengah-tengah logo. Ini menjadikan kaki depan dan cakar maung itu menjadi fokus utama dalam logo Viking Yogyakarta.

Gambar 3.

Logo Viking Dengan Visual Utama Gajah

Gambar 2.

(8)

44

Elemen visual hewan berikutnya yang digunakan dalam beberapa logo Viking distrik merupakan hewan gajah. Terdapat tiga buah logo yang menggunakan gambar gajah.

Dua dari tiga gambar.3 merupakan distrik yang berada di provinsi Lampung. Pemilihan karakter gajah sebagai elemen visual yang dijadikan sosok pengguna helm bertanduk ini tentu didasari oleh pemikiran tentang sebuah ciri khas daerah setempat. Seperti yang telah diketahui secara umum di Indonesia, Lampung merupakan tempat adanya Taman Nasional Way Kambas yang merupakan tempat perlindungan bagi gajah. Satu logo lain yang mengandung elemen visual gajah adalah logo milik Viking Politeknik Piksi Ganesha (PPG). Gambar gajah ini tentu diinspirasi dari nama Ganesha, salah satu dewa dalam agama Hindu. Ganesha digambarkan sebagai dewa yang selain pintar juga memiliki kekuatan yang sangat dahsyat sehingga mampu melawan rintangan apa saja yang ditemui, termasuk para raksasa. Berangkat dari latar belakang tersebut, logo distrik Viking PPG menggunakan elemen visual pengguna helm bertanduk berupa badan manusia, yang dianggap sebagai dewa berkepala gajah.

Logo berikutnya yang mengandung elemen visual hewan adalah logo milik Viking Pandeglang yang berupa gambar badak bercula satu. Sama halnya dengan Viking yang ada di Lampung, Viking Pandeglang mengambil inspirasi dari salah satu ciri khas daerah Pandeglang yaitu badak bercula satu. Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang, Banten, adalah kawasan perlindungan margasatwa badak bercula satu. Selain badak bercula satu yang digunakan oleh Viking distrik Pandeglang, terdapat pula hiu yang digunakan sebagai sosok dalam logo Viking distrik Pangandaran. Pangandaran yang merupakan sebuah daerah yang identik dengan pantai yang menghadap Samudera Hindia. Laut lepas inilah yang erat kaitannya dengan ikan hiu, bahkan tidak jarang diberitakan adanya hiu yang terdampar di derah Pangandaran. Selain itu, di salah satu pantai di daerah Pangandaran terdapat sebuah pantai yang dinamakan Pantai Batu Hiu. Dari pantai ini dapat terlihat sebuah batu yang menyerupai sirip ikan hiu.

Dari dua logo di atas, yakni yang mengandung elemen visual badak bercula satu dan ikan hiu, dua-duanya ternyata memiliki elemen visual tambahan yang merujuk pada menggambarkan sosok bajak laut. Badak pada logo Viking Pandeglang diberi penutup mata pada salah satu matanya yang dilengkapi dengan aksesoris anting di salah satu daun telinganya. Kemudian pada logo bergambar ikan hiu, penggambaran sosok bajak laut dibuat dengan menambahkan elemen kait yang dijadikan pengganti salah satu siripnya.

Gambar 4.

(9)

45 Bajak laut atau perompak merupakan sebuah

istilah yang disematkan pada sekelompok orang yang melakukan aksi penyerangan atau penyerbuan yang dilakukan lewat jalur laut. Sejarah mencatat, baik Pandeglang atau pun Pangandaran, keduanya merupakan wilayah yang dulunya sering disinggahi para perompak. Penyerangan dilakukan dengan menggunakan kapal, baik menyerbu sebuah wilayah maupun membajak kapal lain. Istilah perompak juga melekat pada suku Viking mengingat pada abad pertengahan (middle ages) mereka pernah menjadi sebuah momok yang menakutkan saat mengarungi lautan.

Aksi merompak merupakan tindakan yang mengandung kekerasan karena yang dilakukan adalah mencuri atau mengambil kepemilikan orang lain secara paksa. Aksi ini juga ada dalam setiap serangan yang dilancarkan oleh suku Viking. Munculnya beberapa logo Viking distrik yang menggunakan elemen visual dari identitas yang dimiliki bajak laut ini bisa dimaknai sebagai elemen visual alternatif untuk menggambarkan karakter suku Viking. Persamaan yang dimiliki oleh Viking dan

perompak adalah sama-sama merupakan penjelajah lautan dan hidup dengan cara melakukan aksi kekerasan.

Elemen Visual Pria Berjenggot

Elemen visual utama yang ada pada kategori kedua adalah sosok pria yang berkumis dan memiliki jenggot. Setiap pria berjenggot pada logo-logo Viking Persib digambarkan sebagai prajurit. Wujud yang ditampilkan terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan porsi bagian tubuh yang diperlihatkan. Kelompok pertama terdiri dari logo-logo yang menampilkan bagian kepala prajurit yang terfokus pada wajah. Sementara kelompok kedua terdiri dari logo-logo yang selain menampilkan wajah juga menampilkan sebagian atau seluruh badan.

Elemen visual prajurit Viking yang digunakan tiap distrik sebagian besar berbeda-beda. Hanya ada sembilan logo yang tetap mempertahankan elemen visual prajurit Viking yang sama dengan yang ada pada logo Viking Pusat. Umumnya untuk

Gambar 5.

(10)

46

visual pria yang digunakan adalah sosok yang berkumis dan berjenggot. Kumis dan jenggot secara umum dimiliki oleh lelaki yang sudah beranjak dewasa. Rambut-rambut yang tumbuh di sekitar bibir, pipi, dan dagu merupakan tanda seorang lelaki telah beranjak dewasa. Logo-logo distrik ini melakukan penegasan di bagian rambut dan jenggot. Penegasan di sini dimaksudkan pada perbedaan antara sosok pria yang ditampilkan pada logo Viking Pusat dan Viking distrik. Pada logo Viking Pusat rambut prajurit tidak terihat karena tertutup helm dan kain yang ada di bagian belakang kepala hingga leher. Selain itu, jenggot yang dimiliki sosok prajurit dalam Viking Pusat bukan tipe jenggot yang lebat dan panjang. Sedangkan pada beberapa logo-logo Viking distrik, elemen prajurit suku Viking memperlihatkan rambutnya yang rata-rata lebih panjang dan berjenggot lebih lebat.

Semua logo Viking distrik yang menggunakan elemen visual pria sebagai visual utama memiliki kesamaan pada ekspresi wajahnya. Ada penegasan pada raut wajah terutama di bagian mata dan mulut. Raut wajah yang ditampilkan lebih menonjolkan mata dengan tatapan yang tajam serta ekspresi yang ditunjukkan di bagian mulutnya dan di bagian alis mata yang diturunkan. Gaya penggambaran sosok prajurit memiliki pola yang sama, yakni dengan menggunakan blocking warna dan stroke/garis hitam yang tebal.

Elemen Visual Tengkorak

Berdasarkan pemetaan kategori visual dalam penelitian ini ditemukan alternatif yang ketiga, yakni elemen visual utama yang mendominasi di antara seluruh logo distrik Viking Persib. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, penggunaan elemen visual tengkorak menjadi pilihan sebagian besar distrik Viking untuk dijadikan elemen visual utama menggantikan kepala seorang prajurit suku Viking yang digunakan oleh Viking Pusat.

Salah satu visual atau gambar yang banyak digunakan untuk diidentikkan dengan bangsa Viking adalah tengkorak yang menggunakan helm prajurit Viking. Pada varian ini, elemen visual yang paling

Gambar 6.

Logo Viking Dengan Visual Utama Tengkorak Menggunakan Helm Bertanduk

(11)

47 sering digunakan adalah tengkorak dan

helm bertanduk. Sama seperti yang telah disinggung sebelumnya, elemen yang membuat visual tersebut identik dengan

dengan prajurit-prajurit yang telah gugur lainnya dalam sebuah aula besar bernama Valhalla, istilah itu berasal dari kata Val yang berarti fallen yang berarti telah gugur dan halla dari kata hall yang berarti aula. Valhalla merupakan tempat persinggahan bagi mereka yang telah gugur untuk melanjutkan perjuangan mereka bersama kerajaan yang disebut Kerajaan Asgard yang dipimpin oleh raja yang bernama Odin untuk menghadapi pertempuran dahsyat yang disebut Ragnarok. Simbol para prajurit yang telah gugur melanjutkan perjuangannya dengan ikut bertempur bersama kerajaan Asgard di Valhalla digambarkan dengan Visual tengkorak menggunakan helm bertanduk.

Visual tengkorak sebagai elemen visual utama memiliki pola lain selain menempel pada helm. Hasil pengamatan

Gambar 7.

Logo Viking Dengan Visual Utama Tengkorak Bertanduk

Viking adalah bagian helmnya. Sedangkan untuk elemen tengkorak, jika dilihat secara terpisah, tidak secara langsung merujuk pada identitas bangsa Viking. Simbol-simbol yang menggunakan elemen tengkorak erat kaitannya dengan kematian. Suku Viking memang dikenal sangat erat dengan simbol tengkorak. Kosakata “skol” yang dalam bahasa Norse berarti mangkok yang berakar dari kata skull yang dalam bahasa Indonesia berarti tengkorak. Kata skol itu sendiri, saat ini bagi orang-orang Denmark dipakai untuk istilah saat bersulang.

elain erat dengan istilah untuk bersulang, tengkorak juga merupakan simbol kehidupan setelah kematian bagi para prajurit suku Viking. Prajurit yang gugur di medan pertempuran dipercaya

akan menjalani kehidupan baru berkumpul Gambar 8.

(12)

48

data, sebanyak 14,9% dari seluruh distrik memiliki logo yang menggunakan elemen visual tengkorak bertanduk.

Elemen Visual Pendukung

Beberapa elemen visual lain yang ditemui dari hasil analisis antara lain ditemukannya beberapa logo yang mengandung elemen visual senjata sebagai elemen pendukungnya. Dari 201 logo Viking distrik terdapat 74 distrik yang menambahkan elemen senjata pada logonya. Jenis senjata yang paling banyak digunakan adalah salah satu dari beberapa macam senjata yang biasa digunakan oleh prajurit suku Viking yaitu pedang. Terdapat 24 distrik Viking yang menggunakan visual pedang dalam logonya. Disusul dengan elemen kujang yang menjadi senjata yang paling banyak digunakan setelah pedang, yaitu ada di 18 logo distrik Viking. Kemudian ada senjata-senjata lainnya yang ada pada logo-logo distrik tersebut yaitu antara lain kapak dan tombak. Pedang, kapak, dan tombak seperti yang telah diuraikan sebelumnya memang merupakan senjata-senjata andalan suku Viking ketika terlibat pertempuran. Selain senjata, perlengkapan bertarung yang juga menjadi bagian dari visualisasi logo adalah perisai. Ada 75 logo Viking Distrik yang menampilkan elemen visual perisai. Bentuk perisai bervariasi untuk tiap-tiap logo distriknya.

Tengkorak dan Suporter Sepakbola

Tengkorak adalah salah satu ekspresi visual yang sering digunakan di mana-mana. Penggunaan elemen ini sering dikaitkan dengan kematian atau bahaya. Penggunaan tengkorak juga sering digunakan oleh komunitas sepeda motor. Hal ini disampaikan oleh Wakil Presiden Bikers Brotherhood MC di Jawa Barat, Dede Edun, bahwa “Citra tengkorak dikaitkan dengan sesuatu yang sulit dan dianggap maskulin dalam persepsi masyarakat umum. Dunia ada di seluruh dunia”.

Salah satu penggunaan lain yang sangat terkenal adalah pada simbol bajak laut, yang dikenal dengan nama Jolly

Roger. Rediker dalam bukunya Villains of All Nations (2004) mengatakan bahwa

penggunaan gambar tengkorak oleh bajak laut adalah simbol kematian yang digunakan untuk memberi peringatan kepada calon korban perompakan.

Tengkorak juga menjadi salah satu simbol yang digunakan oleh komunitas

punk. Simbol kematian tersebut digunakan

untuk menggambarkan komunitas punk sebagai kelompok orang yang tidak memiliki kehidupan di tengah masyarakat (Wojcik, 1995 in Ensminger, David A., 2011). Elemen tengkorak digunakan oleh banyak kelompok musik punk untuk logo, album sampul musik, serta kaos dan atribut lainnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa band beraliran punk seperti Misfits, Suicidal Tendencies, Social Distortion, Combat 84, The Exploited, dan Cockney Rejects yang menggunakan gambar tengkorak.

(13)

49 Di Inggris, aliran punk yang

berkembang adalah punk subgenre street

punk atau juga dikenal dengan sebutan Oi!. Aliran Punk di Inggris lebih tampak

pengaruhnya pada fashion dan musik pada akhir tahun 1970-an. Pengaruh ini dapat dilihat dari musik dengan beat yang lebih cepat dan keras, lirik-lirik lagu yang dekat dengan tema kekerasan di jalanan, perjuangan kelas pekerja, minuman keras, dan sepakbola. Punk Oi! merupakan sebuah gerakan yang terlihat berupaya memelihara budaya-budaya milik kelas pekerja yang antara lain beriringan dengan skinhead dan sepakbola. (Bushell, 1981: 30–1). Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, termasuk Bandung. Punk, skinhead, dan sepakbola merupakan perpaduan yang tumbuh dalam sebuah subkultur.

Mempertahankan Karakter Agresif

dan Keras

Sebagai seorang individu, seorang prajurit suku Viking digambarkan sebagai orang yang memiliki kemampuan menghadapi situasi yang keras dan berbahaya. Ketika dipandang sebagai sebuah pasukan, suku Viking dikenal memiliki prajurit-prajurit solid yang membantai lawan-lawannya dengan cara yang sadis. Baik secara individu maupun kelompok, pandangan terhadap suku Viking terletak pada sifatnya yang hidup dan matinya ada dalam pertempuran.

Logo Viking Pusat yang memiliki elemen visual wajah seorang prajurit suku Viking sebagai elemen utama dapat dilihat sebagai representasi suporter yang tidak gentar menghadapi situasi apa pun.

Berkembangnya alternatif sosok prajurit yang ditampilkan turut memperkuat representasi tersebut. Dari analisis sebelumnya, terlihat logo-logo Viking distrik yang menggunakan alternatif elemen prajurit berusaha lebih menonjolkan kesan maskulin. Selain itu, logo-logo tersebut memunculkan ekspresi yang lebih emosional. Alternatif sosok prajurit yang dipilih untuk menggantikan visual Abah Aki adalah gambar-gambar sosok prajurit yang pada wajahnya terlihat lebih ekspresif dalam meluapkan emosi. Ini adalah cara mereka merepresentasi sifat agresifitas yang dimiliki oleh anggota kelompok suporter Viking Persib. Mereka secara sadar ingin memperilhatkan pada khalayak bahwa anggota kelompok suporter Persib yang bergabung dalam keluarga besar Viking Persib merupakan pendukung yang agresif dalam menununjukkan emosi mereka.

Bicara mengenai kekerasan dalam sepakbola, anggota Viking Persib termasuk salah satu kelompok suporter yang agresif. Viking Persib selalu memberikan atmosfer yang keras dan menegangkan. Itu terlihat dari yel-yel dan nyanyian yang dihadirkan oleh Viking Persib. Sebagai dampak dari keagresifitasnya, tidak jarang pula teriakan-teriakan yang dilontarkan bersifat provokatif. Hal-hal yang sifatnya merendahkan lawan dan suporternya memang dimaksudkan untuk memancing reaksi dari pihak lawan tersebut. Mereka tentu saja mengetahui konsekuensinya dengan melakukan hal-hal tersebut. Mereka tidak gentar menghadapi kekacauan yang bisa saja terjadi. Maka tentu saja, Viking Persib sering diberitakan terlibat bentrokan dengan kelompok suporter klub lawan,

(14)

50

terutama dengan kelompok suporter Persija yaitu The Jakmania. Dalam kurun waktu dari tahun 2012 ke 2013, terjadi beberapa kali bentrokan antara keduanya. Tahun 2012 bentrokan terjadi di dalam stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Kemudian pada 22 Juni 2013 terjadi penyerangan terhadap bus yang ditumpangi tim Persib yang menyulut terjadinya pertikaian.

Lebih jauh lagi mengenai karakter mereka, akar dari karakter agresif dan keras ini diperlihatkan oleh mayoritas distrik Viking Persib dalam identitas visualnya. Datangnya inspirasi dari anggota Viking Persib dari berbagai distrik dalam mengekspresikan identitasnya tentu melihat bagaimana mereka melihat Viking Pusat. Orang-orang yang ingin bergabung dengan sebuah komunitas tentu sebelumnya melihat dulu apakah ada ketertarikan yang sama dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergabung. Tentu hal itu berlaku juga bagi orang-orang yang ingin bergabung dengan Viking Pusat atau mendirikan Viking distrik. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa dari awal berdirinya, Viking Persib sudah dilihat sebagai kelompok suporter yang keras.

Apa yang selama ini dipertontonkan oleh anggota Viking yang berada di bawah naungan Viking Pusat menjadi faktor-faktor penentu ekspresi identitas visual yang kini melekat pada Viking Persib yang terekspos oleh sekian banyak distrik yang tersebar di seluruh Indonesia. Karakter agresif dan sarat dengan kekerasan terlihat tampil pada setiap logo Viking Distrik Persib. Ini tentu tidak lepas dari setiap aksi yang dilakukan terutama saat berada di dalam stadion. Heroisme yang mengusung

nilai maskulinitas dan penaklukan terlihat di semua alternatif visual utamanya, mulai dari sosok prajurit suku Viking, karakter hewan, maupun pada logo yang menggunakan tengkorak.

Dengan setiap konstruksi pemaknaan yang dibangun dari elemen-elemen pembentuk logo-logo Viking distrik ini membangun identitas yang begitu kental di dunia persepakbolaan Indonesia khususnya di kota Bandung. Logo-logo Viking Persib dengan penggunaan anchor utama berupa tulisan ‘Viking’ dan elemen visual tanduk yang jika disandingkan dengan tulisan nama distrik sudah memiliki makna konotasi yang merujuk pada kelompok suporter Viking yang memiliki karakteristik agresif. Ditambah lagi dengan elemen visual utama pada masing-masing logo yang terbagi dalam tiga kategori berdasarkan pola yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu sosok yang menggunakan helm bertanduk. Pemilihan elemen-elemen visual ini tak lepas dari sifat dan karakter yang dijunjung oleh para anggota Viking Persib. Sehingga dilihat dari hasil pengamatan logo-logo ini maka dapat dilihat sudah berada pada tahap mitos. Viking adalah kelompok suporter Persib yang agresif dan dekat dengan kekerasan.

Selanjutnya, mengenai komunikasi tentang karakter mereka, akar agresivitas dan karakter keras ditunjukkan oleh mayoritas distrik Viking Persib dalam identitas visualnya. Inspirasi dari berbagai distrik dalam mengekspresikan identitas pasti berasal dari bagaimana mereka memandang Viking Pusat. Viking Pusat tidak lepas dari sosok Mang Ayi yang memang memiliki reputasi sebagai

(15)

51 pendukung yang kerap mencuri perhatian

melalui tindakan agresif dan provokatif menggunakan gaya punk.

Apa yang telah ditunjukkan oleh anggota Viking Pusat menentukan ekspresi visual seluruh distrik Viking Persib. Karakter agresif dan kekerasan terlihat muncul di setiap logo Viking Persib. Heroisme tentang bagaimana mereka mendukung Persib yang menjunjung tinggi maskulinitas dan penaklukan terlihat di semua alternatif visual utama, mulai dari tokoh kesangsian Viking, karakter binatang liar, serta logo yang menggunakan tengkorak.

Dari setiap konstruksi makna yang dibangun dari pembentukan elemen logo, Viking Persib telah membentuk identitas mereka sendiri di dunia sepakbola Indonesia. Logo Viking Persib dengan menggunakan jangkar utama berupa kata ‘Viking’ beserta gambar tanduk saat disandingkan dengan nama kabupaten sudah memiliki konotasi yang mengacu pada sekelompok pendukung sepak bola yang memiliki ciri agresif. Khususnya masing-masing logo tersebut disertai dengan sosok helm bertanduk yang terbagi dalam tiga kategori berdasarkan pola yang telah dideskripsikan sebelumnya (pria agresif, binatang liar, tengkorak). Seleksi elemen visual ini tidak lepas dari sifat dan karakter yang ditegakkan oleh anggota Persatuan Viking. Berdasarkan pengamatan tersebut, pandangan kelompok pendukung Persib melalui logo-logonya ini bisa dilihat sudah terdapat pada tahap mitos; bahwa Viking adalah kelompok pendukung Persib yang memiliki sifat agresif dan dekat dengan kekerasan.

Kesimpulan

Tidak adanya aturan ketat mengenai logo membuat Viking Persib mempersilakan suporter-suporter yang mendirikan distrik bebas dalam merancang logo Viking distrik. Satu-satunya keharusan dalam pembuatan logo adalah mencantumkan tulisan ‘Viking’. Variasi logo yang begitu banyak memang membutuhkan sebuah jangkar agar setiap logo disrtrik berada dalam konteks yang sama, bernaung di bawah kelompok suporter bernama ‘Viking’. Yang menarik dari temuan ini yaitu adanya perubahan identitas yang muncul ketika distrik-distrik Viking Persib bermunculan. Memang seperti yang diungkapkan Hall, bahwa identitas itu tidak akan diam di satu titik tertentu. Ini juga terlihat dari cara distrik-distrik merepresentasi identitas anggota Viking Persib dalam logo-logonya. Tetap dengan menggunakan elemen visual utama yang diasosiasikan dengan diri mereka, namun dengan cara yang berbeda.

Dari berbagai alternatif elemen visual yang ada terlihat bagaimana anggota berusaha memaknai suporter Viking Persib. Dalam penelitian ini, representasi identitas suporter Viking Persib adalah dengan membuat bagian elemen utama lebih menonjolkan sifat keras dibandingkan dengan logo Viking Pusat. Bagi yang menggunakan elemen visual sosok prajurit, wajah dan tubuhnya dibuat lebih maskulin, lebih agresif, dan lebih dekat dengan kekerasan. Ini dimaksudkan agar kesan ‘lelaki’ lebih terasa. Untuk hal ‘dekat dengan kekerasan’ tampak dari dilengkapinya logo-logo Viking Distrik tersebut dengan elemen visual senjata. Elemen visual

(16)

52

lain yang jadi alternatif tampak pada temuan adalah penggunaan elemen visual hewan. Hal ini merepresentasikan suporter Viking Persib memiliki naluri yang sama berkaitan dengan kekerasan. Identitas yang direpresentasikan dalam logo bergambar hewan menggambarkan bahwa mereka memiliki tenaga seperti yang ada pada hewan-hewan tersebut, seperti gajah, badak, hiu, dan harimau. Hewan-hewan yang tergolong liar itu sebenarnya juga memperlihatkan bagaimana respon mereka jika merasa terganggu. Tanpa pikir panjang, dengan agresifitasnya akan mengamuk dan megerahkan segala tenaga yang ada.

Elemen visual utama yang mendominasi pada logo distrik Viking adalah gambar tengkorak yang menggunakan helm. Dalam cerita mengenai suku Viking, tengkorak memang dikenal sebagai simbol kesetiaan. Anggota kelompok suporter Viking ingin memperlihatkan tingkat loyalitasnya yang tinggi tanpa batas melalui logo. Namun dari temuan yang ada, ini bukan murni merepresentasi loyalitas. Tengkorak juga sangat kental dengan nuansa bahaya atau kekerasan. Meminjam simbol kesetiaan prajurit Viking, anggota kelompok suporter Viking menggunakan elemen visual tengkorak untuk merepresentasikan identitas suporter yang dekat dengan kekerasan. Agresifitas anggota kelompok suporter Viking Persib ini tidak lepas dari peran Viking Pusat yang merupakan arena Sang Panglima, Ayi Beutik, dalam membentuk karakter kelompok Viking Persib. Ayi Beutik yang selalu tampil paling depan dan mengomandoi setiap aksi-aksi baik di dalam maupun di luar stadion menjadi referensi

bagi anggota-anggota Viking Distrik dalam merepresentasi identitas mereka. Kecenderungan menggunakan hitam pada setiap logo Viking distrik juga merupakan bagian dari identitas punk (DeLong, M., Martinson, B., 2012:151). Penampilan dan perliaku Ayi Beutik terlihat jelas mendapat pengaruh dari budaya street punk termasuk kegemaran menggunakan kaos berwarna hitam. Jika bicara tentang street punk, maka tidak lepas dari sifat agresif. Dalam sepakbola, street punk yang beririsan dengan budaya skinhead membuatnya juga dekat dengan hooliganisme.

Oleh karena itu, bagi Ayi Beutik, kegemarannya terhadap sepakbola dan ideologi yang dimiliki membuat Ayi Beutik dapat total dalam mempraktekkan

hooliganisme. Budaya street punk memang

budaya yang terpelihara di kalangan kelas pekerja. Banyaknya jumlah anggota yang bergabung dalam Viking Persib dibanding dengan kelompok suporter Persib lainnya menunjukkan banyaknya yang merasa memiliki kesamaan dengan cara menjadi suporter menurut Viking Persib. Dari kajian ini juga tampak bagaimana anggota kelompok suporter distrik Viking melihat Viking Persib sebagai sebuah panggung bagi mereka yang ingin ikut menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Viking Persib sudah menjadi sebuah komunitas yang sangat dikenal tidak hanya di Bandung, namun juga Indonesia. Dengan tereksposnya Viking Persib yang dikenal sebagai kelompok suporter dengan jumlah anggota terbanyak, maka tiap anggota merasa menjadi bagian penting dalam eksistensi komunitas Viking Persib. Kehadiran Viking Persib seolah memberikan

(17)

53 sebuah panggung untuk menjadikan

seseorang merasa penting, bermanfaat, dan dibutuhkan oleh kelompoknya. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Hogg (2005) tentang alasan-alasan mereka yang ingin bergabung ke dalam kelompok suporter, yaitu antara lain adanya kesamaan minat, adanya sikap saling support sesama anggotanya, dan yang tak kalah penting terbentuknya identitas seseorang yang didapat lewat identitas sosial.

Untuk mempertegas bahwa mereka adalah bagian dari kebesaran Viking, mereka mempertahankan identitas Viking yang dibangun oleh Viking Persib melalui logo. Dengan demikian, mayoritas anggota kelompok suporter Viking Persib memiliki identitas yang sama dengan Ayi Beutik yang berperan besar dalam membentuk dan menjaga identitas ‘ke-viking-an’ kelompok suporter Persib. Identitas tersebut adalah suporter yang terinspirasi dan merasa memiliki semangat street punk, merayakan anti kemapanan dan menjaga rivalitas dalam bentuk kekerasan demi terpeliharanya hooliganisme.

Daftar Rujukan

Beka, I., Yadi (2012). Sejarah Lahirnya

Viking Persib Fans Club. http://bola.

viva.co.id/news/read /322273-sejarah-lahirnya-viking-persib-fans-club (diakses tanggal 22 Mei 2014).

Bushell, G (1981). Oi! The Debate, Sounds, 24 January 1981, 30–1.

Cohen, P. (1972). Sub-cultural Conflict

and Working Class Community.

Birmingham: Centre for Contemporary Cultural Studies.

Crow, D. (2010). Visible Signs (Second

Edition): An Introduction to Semiotics in the Visual Arts (Required Reading Range). Lausanne: AVA Publishing.

Daniel, W. (2012). Punya 5,3 Juta Fans,

Persib Pede Jual Saham di Bursa. http://

finance.detik. com /read /2012/03/13/ 143228/1865986/6/punya-53-juta-fans-persib pede-jual-saham-di-bursa (diakses tanggal 21 Mei 2014).

DeLong, M., Martinson, B. (2012). Color

and Design. London: Berg.

Eko (2014). Beutik (Bagian ka 3), Salam

Nazi ala Mang Ayi. http://simamaung.

com/beutik-bagian-ka-3-salam-nazi-ala-mang-ayi/ (diakses tanggal 14 Agustus 2015).

Ensminger, D A. (2011). Visual Vitriol: The

Street Art and Subcultures of the Punk and Hardcore Generatio. Mississippi : University Press of Mississippi.

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora in Rutherford, J. (ed.) Identity:

community, culture, difference. London:

Lawrence & Wishart.

_______. (1997). Representation: Cultural

Representations and Signifying Practices.London: Sage Publications.

Hoed, B H. (2014). Semiotik & Dinamika

Sosial Budaya. Depok: Komunitas

Bambu.

Hogg, M A., Terry, D J. (2002). Social

Identity Processes in Organizational Contexts. New York: Psychology Press.

Nwalozie, C J. Rethinking Subculture and Subcultural Theory in the Study of Youth Crime – A Theoretical Discourse.

Journal of Theoretical and Philosophical Criminology, 7:1-16.

(18)

54

Papoutzis, L., Kyridis, A., Christodoulou, A., Fotopoulos, N., Vamvakidou, I. (2014). Football Stickers and Slogans as Creators of ‘Special’ Identities. The Case of Aris FC Thessaloniki. Lexia– Journal

of Semiotics 17-18: 651–670.

Rediker, M (2004), Villains of All Nations:

Atlantic Pirates in the Golden Age.

Referensi

Dokumen terkait

produksi usahatani ternak sapi dari anggota. Upaya yang telah dilakukan koperasi, diharapkan dapat memenuhi berbagai kebutuhan anggota yang menunjang usahatani

Android merupakan sistem operasi yang tertanam pada smartphone. Pengguna smartphone dengan sistem operasi android sangat tinggi, rata- rata setiap orang

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam siklus 1 kegiatan pelaksanaan tindakan kelas diperoleh data bahwa ketuntasan belajar pada materi memahami

[r]

Selanjutnya, hasil analisis inferensial menggunakan SPSS menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang sinifikan antara hasil belajar matematika siswa yang

Sedangkan pada kegiatan penatalaksanaan pasien secara mandiri, mahasiswa diberikan requirement untuk menangani satu kasus maloklusi ringan dengan menggunakan peranti

[r]

Dari landasan teori yang telah diuraikan, secara umum dapat diartikan Sistem Pelayanan Pelanggan adalah kumpulan dari bagian-bagian atau hal-hal yang berkaitan