• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - BAB I NONI SETIANI MATEMATIKA'14

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - BAB I NONI SETIANI MATEMATIKA'14"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang akan menentukan kualitas kehidupan seseorang maupun suatu bangsa. Dalam pendidikan formal, salah satu mata pelajaran di sekolah yang dapat digunakan untuk membangun cara berfikir siswa adalah matematika. Pelajaran matematika di sekolah tidak hanya menekankan pada pemberian rumus-rumus melainkan juga mengajarkan siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah matematis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi sampai saat ini matematika masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi sebagian besar siswa dan banyak orang yang memandang bahwa matematika sebagai bidang studi yang paling sulit (Abdurrahman, 2009).

(2)

Ada banyak hal yang diharapkan dapat diperoleh siswa dengan belajar matematika. Salah satu diantaranya adalah memecahkan masalah. Pemecahan masalah merupakan aspek kognitif yang sangat penting karena dengan cara memecahkan masalah, salah satu diantaranya siswa dapat berpikir kritis. Menurut Wena (2010) pemecahan masalah matematika dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi, namun hal tersebut dianggap bagian yang paling sulit dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya.

Setelah dilakukan survey di SMP Negeri 1 Cilongok melalui observasi dan wawancara (29 November 2013) dari salah satu guru matematika di sekolah tersebut, diperoleh informasi bahwa kelas VIII H adalah kelas yang memiliki nilai UTS matematika terendah dengan rata-rata 64,92 sedangkan batas ketuntasan belajar yang digunakan sebesar 71. Dari wawancara peneliti dengan guru, didapat bahwa rendahnya nilai diakibatkan kurangnya peran aktif dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

(3)

Pada saat pembelajaran peran aktif siswa masih rendah, terutama untuk siswa laki-laki. Dalam pembelajaran siswa masih sangat pasif, tidak mau bertanya bahkan ketika guru bertanya, siswa belum bisa menjawab pertanyaan dari guru, masih ada siswa yang ribut sendiri dibelakang pada saat guru menjelaskan pelajaran di depan. Peran aktif siswa di kelas VIII H masih kurang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan: a) sedikitnya siswa yang mau bertanya kepada guru, b) sedikitnya siswa yang mau menjawab pertanyaan dari guru, c) sedikitnya siswa yang mau mengerjakan tugas dari guru. Dengan demikian kurangnya peran aktif siswa dalam mengikuti pelajaran matematika mengakibatkan kondisi awal siswa kurang mendukung untuk proses belajar mengajar.

Rendahnya kemampuan pemecahan masalah di kelas VIII H diperkuat dengan hasil penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti dengan memberikan soal tes kemampuan pemecahan masalah matematis dan hasilnya terlihat bahwa sebagian besar siswa kelas VIII H mengerjakan soal dengan langsung menjawab apa yang ditanyakan tanpa menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, merencanakan solusi, serta membuat kesimpulan atau menafsirkan solusi. Dari 32 siswa hanya 3 siswa yang dapat menjawab soal tes awal kemampuan pemecahan masalah matematis dengan lengkap walaupun tidak semua soal dapat dikerjakan dengan benar.

(4)

masalah matematis siswa harus ditingkatkan dalam kegiatan pembelajaran, karena peran aktif siswa merupakan faktor utama dalam menentukan kesuksesan pembelajaran. Menurut Djamarah (2010) peran aktif siswa dalam pembelajaran sangatlah penting karena pada hakikatnya pembelajaran memang merupakan suatu proses aktif dari pembelajar dalam membangun pemikiran dan pengetahuannya. Sedangkan menurut Holmes (Wardhani, 2010) kemampuan pemecahan masalah matematis sangat penting karena orang yang terampil memecahkan masalah akan mampu berpacu dengan kebutuhan hidupnya, menjadi pekerja yang lebih produktif, dan memahami isu-isu kompleks yang berkaitan dengan masyarakat global.

Memperhatikan pentingnya siswa mempunyai peran aktif dan kemampuan pemecahan masalah matematis yang memadai dalam pembelajaran matematika maka diperlukan usaha dari guru dalam meningkatkan keduanya. Usaha yang dapat dilakukan oleh guru antara lain adalah memberikan strategi pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran matematika. Strategi adalah siasat yang sengaja direncanakan oleh guru, berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran berjalan secara lancar dan efisien serta tujuannya yang berupa hasil belajar bisa tercapai dengan optimal (Sugito, 1994).

(5)

mendorong siswa untuk bertanya kepada guru, c) mendorong siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, sehingga akan tercipta diskusi kelas dan disini peran aktif siswa sangat dibutuhkan. Suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan peran aktif dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Model pembelajaran berbasis proyek merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

(6)

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dari berbagai sumber yang mendeskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks sehingga diharapkan menggunakan Project Based Learning ini siswa dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Dari uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian sebagai upaya untuk meningkatkan peran aktif dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui pembelajaran Project Based Learning (PjBL) di SMP Negeri 1 Cilongok.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas adalah:

1. Apakah pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dapat meningkatkan peran aktif siswa?

2. Apakah pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa?

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk:

(7)

2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Project Based Learning (PjBL)

D. MANFAAT PENELITIAN

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Siswa

Dapat melatih siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dengan siswa dapat berperan aktif dalam belajar maka akan mempermudahkan siswa dalam pemecahan masalah matematika. 2. Guru

Dapat menjadi alternatif bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang dapat meningkatkan peran aktif dan kemampuan pemecahan masalah matematika.

3. Sekolah

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi guru-guru lain untuk menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) untuk meningkatkan peran aktif dalam

Referensi

Dokumen terkait

Ibu mengerti untuk lanjut obat Amoxlin dosis 3x1 tablet (diminum tiap 8 jam sehabis makan), obat diminum tepat waktu dan harus sampai habis, karena Amoxilin adalah jenis

192 / 393 Laporan digenerate secara otomatis melalui aplikasi SSCN Pengolahan Data, © 2018 Badan

P (Participants) P1 dalam dialog tersebut adalah Lorna yang sedang berbicara pada P2 yaitu James... 145 No

melaporkan dan menganalisa informasi, informasi dalam data warehouse berada di bawah kontrol pengguna data warehouse sehingga jika sistem sumber data dibersihkan informasi

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

Oleh karena itu, peristiwa turunnya Al Qur’an selalu terkait dengan kehidupan para sahabat baik peristiwa yang bersifat khusus atau untuk pertanyaan yang muncul.Pengetahuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata