• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERMINTAAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL BERSERTIFIKAT (VUB) DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH JURNAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ANALISIS PERMINTAAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL BERSERTIFIKAT (VUB) DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH JURNAL"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

ANALISIS PERMINTAAN BENIH PADI VARIETAS

UNGGUL BERSERTIFIKAT (VUB) DI

KABUPATEN LOMBOK TENGAH

JURNAL

Oleh :

Muhammad Hudari

C1G 111 058

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MATARAM

(2)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

ANALISIS PERMINTAAN BENIH PADI VARIETAS

UNGGUL BERSERTIFIKAT (VUB) DI

KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Muhammad Hudari* Halil** Ibrahim***

Mahasiswa* Dosen Pembimbing Utama** Dosen Pembimbing Pendamping Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Mataram

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : 1). Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah 2). Mengetahui sifat permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah 3). Mengetahui hambatan atau kendala yang dihadapi petani dalam permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan teknik survey. Kecamatan Jonggat ditentukan secara purposive sampling dengan dasar di Kecamatan tersebut terdapat jumlah petani terbanyak yang menggunakan benih padi VUB. Penentuan sampel berbasis pada 11 kelompok tani yang ada di Desa Nyerot Kecamatan Jonggat. Penentuan jumlah responden dilakukan secara quotasampling yaitu 25% dari populasi (329) petani dengan jumlah responden 82 orang. Penentuan responden dari setiap kelompok tani dilakukan secara proportional sampling.

Hasil penelitian ini menunjukkan : 1). Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan benih padi VUB adalah variabel luas lahan, harga benih padi VUB, harga benih padi non VUB dan pendapatan petani secara bersama-sama berpengaruh nyata pada permintaan benih padi VUB diindikasikan oleh nilai R2 sebesar 0,925, yang berarti 93% permintaan benih padi VUB dipengaruhi oleh faktor didalam model dan sisanya 7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Hasil uji F diketahui bahwa ke empat variabel tersebut berpengaruh secara bersama-sama terhadap permintaan benih padi VUB ditunjukkan oleh nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel. Sedangkan secara parsial hanya luas lahan usahatani yang berpengaruh signifikan terhadap permintaan benih padi VUB ditunjukkan oleh nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel. 2). Sifat permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah bersifat inelastis diindikasikan oleh nilai koefisien elastisitas yang bertanda positif 0,017<1 yang artinya harga tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan benih padi VUB. Elastisitas silang menunjukkan bahwa hubungan benih padi VUB dengan non VUB bersifat substitusi dan nilai koefisien elastisitas bertanda positif <1 yang artinya benih padi non VUB merupakan barang pengganti dari benih padi VUB. Sedangkan elastisitas pendapatan menunjukkan benih padi VUB merupakan barang kebutuhan pokok bagi petani dalam usahatani padi diindikasikan oleh nilai koefisien elastisitas bertanda positif <1 yang artinya persentase perubahan permintaan lebih kecil daripada perubahan pendapatan. 3). Hambatan petani dalam melakukan permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah adalah tingginya harga benih padi VUB, kurangnya ketersediaan benih padi VUB dan kurangnya daya tumbuh benih padi VUB.

(3)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

DEMAND ANALYSIS OF CERTIFIED HIGH YIELDING

VARIETIES (VUB) SEEDS IN CENTRAL LOMBOK

Muhammad Hudari* Halil** Ibrahim***

Mahasiswa* DosenPembimbingUtama** DosenPembimbingPendamping Program StudiAgribisnisFakultasPertanianUniversitasMataram

ABSTRACT

This study aims to know (1) The factors affecting the demands of Certified High Yielding Varieties (VUB) in Central Lombok, (2) The characteristics of VUB’s seeds

demands in Central Lombok, (3) The obstacles faced by the farmers in demanding the

VUB’s seeds in Central Lombok.

This study applies the descriptive method while the data collection technique is done through surveys. Jonggatsub-district is selected by purposive sampling method, based on the consideration that it is the one out of other 12 sub-districts in Central Lombok with highest VUBseeds demands.Furthermore, the research is done in Nyerot Village – Jonggat and is engaged with 11 farmer groups. There are 82 respondents to this research which are selected by using the quota sampling method and represents 25% of total population (329). The sampling method within the farmer groups is then done by proportional sampling system.

The results of the study are: (1) There are four factors that affect the demands of VUB seeds in Central Lombok, they are: VUB farming land area, the price of the VUB rice-seeds, the price of non-VUB rice-seeds and the income of the farmers. These variables are jointly having significant effects on the demand of VUB rice seeds, which is indicated by the R2value of 0,925. This means that 93% of VUB rice seeds demand is influenced by factors mentioned in the model and the remaining 7% is influenced by other factors outside the model. The result of F-test shows that these four variables jointly affect the demand for VUBrice seed, indicated by the F-count value is higher than the F-table value. Meanwhile, only the farmland area has a partially significant influence to the demand of VUB rice seeds because the T-count value is higher than the T-table value.(2) The nature of the demands of VUB rice seeds in Central Lombok is inelastic, indicated by the value of the coefficient of elasticity which marked positive 0.017 <1. It means that prices do not overly affect the demand for VUB rice seeds. The Cross-Elasticity shows that the relationship between VUB rice seeds and non-VUB rice seeds are substitutes and the coefficient of elasticity is marked positive <1. It means that non-VUB rice seed is a replacement item ofVUB rice seeds. While the income elasticity shows that the VUB rice seeds are basic needs/essential goods for the farmers indicated by the value of the coefficient of elasticity is marked positive <1 which means the percentage change in demand is smaller than the change in income. (3)The obstacles/barriers carried by the farmers in demanding the VUB rice seeds are: the high price of the seeds, lack of VUB seeds availability and the lack of ability to grow of the VUB seeds.

(4)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian bertujuan meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan untuk mencapai swasembada pangan, meningkatkan produksi tanaman industri dan tanaman ekspor, mewujudkan agroindustri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta berusaha meningkatkan pendapatan petani. Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, tidak dapat dihindari dari penggunaan benih varietas unggul bersertifikat yang merupakan mata rantai pertama dalam proses budidaya tanaman. Peningkatan produksi pertanianpun banyak ditunjang oleh peran benih varietas unggul bersertifikat. Meski program perbenihan nasional telah berjalan sekitar 30 tahun, tetapi ketersediaan benih bersertifikat belum mencukupi kebutuhan potensialnya (BPSB NTB, 2013).

Pentingnya penggunaan benih bermutu merupakan salah satu unsur panca usaha pertanian yang utama dalam upaya peningkatan produksi karena tanpa penggunaan benih unggul yang bermutu, maka penerapan sarana produksi lainnya akan kurang bermanfaat bahkan menimbulkan kerugian petani (Anonim 1999).

Pulau Lombok, khususnya Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu sentra produksi padi nasional, karena itu perkembangan usaha dan produksi padi di Pulau Lombok memegang peranan penting guna menjaga kestabilan produksi padi akan ketahanan pangan nasional. Namun dengan potensi yang ada belum mampu mensejahterakan masyarakat secara utuh, khususnya penduduk di pedesaan yang sebagian besar mata pencahariannya tergantung pada Sektor pertanian (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah, 2007).

Untuk terjaminnya ketersediaan benih padi varietas unggul bersertifikat di pasar tidak hanya dengan mengandalkan pemerintah saja sebagai penyedianya. Akan tetapi, perlu juga adanya keterlibatan pihak swasta sebagai penyedia (produsen) benih varietas unggul bersertifikat.

METODOLOGI PENELITIAN

(5)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Benih Padi Bersertifikat

Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi permintaan benih padi varietas unggul bersertifikat di Kabupaten Lombok Tengah adalah, Luas Lahan, Harga Benih Padi Bersertifikat, Harga Benih Padi Non Bersertifikat, Pendapatan petani dari usahatani, Harga Pupuk, Harga Pestisida, dan Produksi Padi. Faktor-faktor tersebut merupakan variabel bebas, sedangkan permintaan benih padi bersertifikat menjadi variabel terikat dimana pada penelitian ini data di analisis dengan model rgeresi linier berganda yang diturunkan dari fungsi produksi cobb douglas dengan menggunakan program SPSS for Windows.

Hasil Uji Asumsi Klasik Tahap I

Sebelum dilakukan pengujian secara serentak dan parsial terhadap hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan benih padi varietas unggul bersertifikat di Kabupaten Lombok Tengah, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik regresi berganda untuk mengetahui terjadi gangguan atau tidak pada model, sehingga persamaan yang diperoleh terbebas dari penyimpangan terhadap asumsi klasik. Uji yang dilakukan meliputi uji multikolinieritas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan uji data berdistribusi normal.

1. Uji Multikolinieritas Tahap I

Untuk mengetahui terjadi atau tidak multikolineritas dalam persamaan regresi dapat dilihat dengan menggunakan nilai varians inflations faktor (VIF) dan tolerance value (TOL) dengan kriteria bila nilai varians inflations faktor < 5 dan nilai

tolerance value mendekati 1 berarti tidak terjadi multikolinieritas (Nachrowi, 2006). Sedangkan pada model yang diperoleh dalam penelitian ini diduga masih terdapat sifat multikoloinearitas yang dapat dilihat padabTabel 4.7, dimana variabel X1, X4, X5, dan X7 memiliki nilai VIF yang sangat tinggi (> 5).

Tabel 4.7. Hasil Analisis Uji Multikolinearitas Tahap I dengan SPSS

(6)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

variabel bebas yang diduga mempunyai sifat kolinearitas dibuang yaitu pendapatan petani dari usahatani padi, harga pupuk, harga pestisida dan produksi.

2. Uji Autokorelasi Tahap I

Secara sederhana, analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara data observasi yang satu dengan data observasi data sebelumnya. Metode pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji Durbin Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jika DW lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4-dl) maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi positif.

b. Jika DW terletak antara du dan (4-du), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi baik positif maupun negatif.

c. Jika DW terletak antara dl dan du, atau terletak antara (4-dl) dan (4-du) maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti. Untuk lebih jelasnya nilai Durbin Watson dapat dilihat pada Tabel 4.5.2 berikut:

Tabel 4.8. Tabel Uji Autokorelasi Tahap I dengan Uji Durbin Watson

k = 6 k = 7 k = 8 VUB di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, diperoleh banyaknya variabel independen (k) = 7 dan jumlah sampel (n) = 82. Berdasarkan Tabel 4.8 di atas diperoleh nilai dl = 1,4616 dan du = 1,8299 dan nilai Durbin Watson = 1,9080; ini berarti bahwa du < DW < 4-du yang artinya tidak terjadi autokorelasi.

Tabel 4.9. Hasil Analisis Uji Durbin Watson Tahap I dengan SPSS

Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), X7, X3, X2, X6, X5, X1, X4 b. Dependent Variabel: Y

3. Uji Heteroskedastisitas I

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah data model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual suatu pengamatan yang lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastistas. Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat pola titik-titik pada grafik

(7)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastistas. Untuk lebih jelas Gambar Scatterplot dapat dilihat pada Gambar dibawah ini :

Gambar 1.4 Scatterplot Tahap I

Berdasarkan Gambar 1.4, di atas yang mana titik-titik terlihat berpola dengan menyebar di bawah angka nol dan agak jarang di atas angka nol, maka data pada penelitian ini terjadi sifat heteroskedastisitas.

Hasil Uji Asumsi Klasik Tahap II

Sebelum dilakukan pengujian secara serentak dan parsial terhadap hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan benih padi varietas unggul bersertifikat di Kabupaten Lombok Tengah, terlebih dahulu perlu dilakukan pengujian asumsi klasik regresi berganda untuk mengetahui terjadi gangguan atau tidak pada model, sehingga persamaan yang diperoleh terbebas dari penyimpangan terhadap asumsi klasik. Uji yang dilakukan meliputi uji multikolinieritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas, maka berdasarkan uji asumsi klasik Tahap I diketahui bahwa terdapat adanya sifat multikolinearitas dan sifat heteroskedastisitas sehingga tidak dapat dilanjutkan dengan uji simultan dan uji parsial. Oleh karena itu langkah yang diambil adalah dengan membuang beberapa variabel yang diduga memiliki hubungan linear dan mempunyai ketidaksamaan variance antara variabel bebas yang satu dengan yang lainnya, selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik Tahap II dengan hasil sebagai berikut:

1. Uji Multikolinieritas Tahap II

(8)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

Tabel 4.10. Hasil Analisis Uji Multikolinearitas Tahap II dengan SPSS.

Coefficientsa

a. Predictors in the Model: (Constant), X1 b. Dependent Variabel: Y

Berdasarkan Tabel 4.10, diketahui bahwa nilai tolerance dari masing-masing variabel tidak ada yang lebih dari 1 dan nilai VIF tiga variabel < 5, hal ini berarti bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas yang satu dengan yang lainnya. Artinya asumsi klasik regresi berganda pada model ini telah terpenuhi.

2. Uji Autokorelasi Tahap II

Secara sederhana, analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara data observasi yang satu dengan data observasi data sebelumnya. Metode pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji Durbin Watson (uji DW). Hasil uji DW Tahap II adalah sebagai berikut:

Tabel 4.11. Tabel Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin Watson

(9)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di kecil dari R Square dan angka ini bisa memiliki permintaan negatif. Menurut Santoso (2001) bahwa untuk regresi dengan lebih dari dua variabel bebas digunakan Adjusted R2 sebagai koefisien determinasi.

3. Uji Heteroskedastisitas II

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah data model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual suatu pengamatan yang lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastistas. Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat pola titik-titik pada grafik

scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya). Dasar pengambilan keputusan yaitu:

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastistas. Untuk lebih jelas Gambar Scatterplot untuk uji heteroskedastisitas Tahap II dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gammbar 4.2 Scatterplot Tahap II

(10)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

4.4.3 Pengujian Koefisien Regresi Secara Serentak dan Parsial

Setelah dilakukan uji multikolinearitas, autokorelasi dan heteroskedastisitas Tahap II tidak ditemukan pelanggaran terhadap asumsi klasik pada model, sehingga dapat dilakukan pengujian koefesien regresi secara serentak dan parsial terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk lebih jelas hasil analisis terhadap variabel-variabel yang diduga mempengaruhi permintaan benih padi VUB dapat dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13. Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Permintaan Benih Padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2014.

No .

Variabel Koef.

Regresi t-hit Signifikan Ket

1. Intercept 1,574 155,769 0,000

2. Luas Lahan 0,951 31,393 0,000 s

3. Harga Benih VUB 0,017 0,497 0,56 ns

4. Harga Benih Non VUB 0,038 1,238 0,219 ns

5. Pendapatan 0,162 1,299 0,198 ns

Koefesien Determinasi (R2) 0,925

Koefesien Korelasi (r) 0,962

F-Hitung 985,549

F-Tabel 3,960

T-Tabel 1,990

Signifikan 0,000

Sumber : Hasil analisis dengan SPSS for windows

Berdasarkan Tabel 4.13, diperoleh bahwa nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,925 yang berarti bahwa 92 % permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah dipengaruhi oleh variabel-variabel bebas dalam model yaitu : luas lahan usahatani padi (X1), harga benih padi VUB (X2), harga benih padi non VUB (X3) dan pendapatan petani (X4) sedangkan sisanya 8 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Koefisien korelasi (R) sebesar 0,962, ini menunjukkan bahwa hubungan antara variabel-variabel bebas dengan variabel terikat sangat kuat. Hasil pengujian secara serentak menggunakan SPSS for windows diperoleh nilai F-hitung 985,549 dan nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak yang artinya secara bersama-sama yaitu variabel yang diteliti yaitu luas lahan (X1), harga benih padi VUB (X2), harga benih padi non VUB (X3) dan pendapatan petani (X4) yang dimasukkan dalam model berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah.

(11)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

4.4.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda menggunakan program

SPSS for Windows dapat diketahui bahwa variabel-variabel bebas yaitu luas lahan usahatani (X1), harga benih padi bersertifikat (X2), harga benih padi non sertifikat (X3) dan pendapatan petani(X4) diketahui bahwa variabel yang berpengaruh secara parsial terhadap permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah diperoleh persamaan model sebagai berikut:

Y = 1,574 + 0,951 + 0,017 + 0,038 + 0,162 1. Luas Lahan Usahatani (X1)

Berdasarkan persamaan fungsi di atas diketahui bahwa nilai koefisien regresi untuk luas lahan usahatani (X1) adalah 0,951. Nilai tersebut mengandung makna bahwa jika variabel lain dianggap tetap (cateris paribus)

maka setiap kenaikan luas lahan 1 ha akan menyebabkan naiknya permintaan benih padi VUB sebesar 0,951 kg. Lebih lanjut dianalisis secara statistik diperoleh nilai t-hitung sebesar 31,393 sedangkan t-tabel sebesar 1,990. Jadi t-hitung > t-tabel, yang berarti variabel luas lahan berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa luas lahan usahatani padi berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah pada taraf nyata 5 %.

2. Harga Benih Padi VUB (X2)

Berdasarkan persamaan fungsi di atas diketahui bahwa nilai koefisien regresi untuk harga benih VUB (X2) adalah 0,017. Nilai tersebut mengandung makna bahwa jika variabel lain dianggap tetap (cateris paribus) maka setiap kenaikan harga benih padi VUB sebesar Rp.1 akan menyebabkan naiknya permintaan benih sebesar 0,221 kg. Lebih lanjut dianalisis secara statistik diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,497 sedangkan t-tabel sebesar 1,990. Jadi t-hitung < t-tabel, yang berarti variabel harga benih padi vub tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa harga benih VUB tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah pada taraf nyata 5 %.

3. Harga Benih Padi NonVUB (X3)

(12)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

4. Pendapatan Petani (X4)

Berdasarkan persamaan fungsi di atas diketahui bahwa nilai koefisien regresi untuk pendapatan petani (X4) adalah 0,162. Nilai tersebut mengandung makna bahwa jika variabel lain dianggap tetap (cateris paribus) maka setiap kenaikan pendapatan petani sebesar Rp.1 akan menyebabkan naiknya permintaan benih sebesar 0,162 kg. Lebih lanjut dianalisis secara statistik diperoleh nilai t-hitung sebesar 1,299 sedangkan t-tabel sebesar 1,990. Jadi t-hitung < t-tabel, yang berarti variabel pendapatan petani tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah pada taraf nyata 5 %.

Hasil perhitungan statistik dari masing-masing variabel membuktikan hanya ada satu variabel yang berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB yaitu luas lahan pada tingkat kepercayaan sebesar 92% sedangkan sisanya variabel harga benih padi VUB, Non VUB dan pendapatan petani berpengaruh nyata terhadap permintaan benih padi VUB pada tingkat kepercayaan sebesar 8%.

Elastisitas Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah

Berdasarkan fungsi permintaan yang didapat dari perhitungan regresi linier berganda maka dapat diketahui nilai elastisitas permintaan benih padi VUB. Elastisitas permintaan yang dihitung dalam penelitian ini adalah elastisitas harga, elastisitas silang dan elastisitas pendapatan. Melalui persamaan yang diperoleh dari tabel 4.13 didapat nilai elastisitas permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah sebagai berikut :

Log Y = 1,574 + 0,951 + 0,017 + 0,038 + 0,162

Berdasarkan persamaan di atas harga benih padi VUB memiliki nilai elastisitas terhadap permintaan benih padi VUB sebesar 0,017. Artinya dengan meningkatnya harga benih padi VUB sebesar 1% maka akan menyebabkan peningkatan jumlah permintaan benih padi VUB sebesar 0,017 % (apabila variabel lain dianggap tetap). Elastisitas permintaan benih padi VUB bersifat inelastis (0,221<1). Hal ini menunjukkan derajat kepekaan permintaan benih padi VUB terhadap perubahan harga benih padi VUB adalah rendah karena persentase perubahan permintaan benih padi VUB lebih kecil dibandingkan dengan persentase perubahan harga benih padi VUB.

Untuk elastisitas silang dari harga benih padi VUB terhadap benih padi non VUB didapat nilai elastisitas sebesar 0,038. Elastisitas harga benih non VUB bersifat inelastis (0,038 < 1). Nilai koefisien regresi yang positif membuktikan bahwa benih non VUB merupakan barang substitusi dari benih VUB. Nilai koefisien silang dari harga non VUB juga lebih kecil dari 1. Maka elastisitas silang dari satu barang tersebut bersifat inelastis. Koefisien regresi yang dihasilkan dari uji statistik bahwa kedua barang tersebut memiliki nilai atau tanda positif hal ini membuktikan bahwa benih padi non VUB merupakan barang substitusi dari benih padi VUB.

(13)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

benih padi VUB merupakan barang normal bagi petani yang artinya harga tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan benih padi VUB.

Hambatan dalam Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat di Kabupaten Lombok Tengah.

Dalam suatu kegiatan usahtani, petani akan dihadapkan pada berbagai macam hambatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hambatan tersebut perlu untuk di ketahui agar dalam pengembangan dan pengelolaan usahanya dapat diiantisipasi secara optimal. Demikian pula dengan petani padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah, mereka dihadapkan pada kendala-kendala dalam menjalankan usahanya.

Tabel 4.14. Hambatan Petani dalam Perrmintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2014.

No Hambatan dalam perrmintaan benih padi VUB

Petanni Responden Jumlah

(Orang)

Persentase (%)

1. Harga Benih Padi VUB Yang Mahal 62 76%

2. Ketersediaan Benih padi VUB 12 14%

3. Tingkat keseragaman benih padi VUB 8 10%

Sumber : Data Primer diolah.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.14. dapat dijelaskan bahwa hambatan atau kendala yang paling banyak dihadapi oleh petani dalam permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah adalah harga benih padi VUB yang mahal dialami oleh petani sebanyak 76%, akan tetapi hambatan disini bukan berarti tidak melakukan permintaan tetapi hanya sekedar keluhan. Dari 76% petani responden rata-rata yang mempunyai hambatan adalah petani yang mempunyai luas lahan yang tinggi karena benih yang dibutuhkannya lebih banyak.

Selain itu hambatan yang dihadapi oleh petani dalam permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah adalah ketersediaan benih sebanyak 14% petani. Ketersediaan benih ini menjadi kendala terutama pada saat mulai tanam terjadi peningkatan permintaan benih padi VUB. Karena keterbatasan benih, maka petani membeli benih di luar Kabupaten Lombok Tengah.

(14)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis data maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan benih padi VUB adalah variabel luas lahan, harga benih padi VUB, harga benih padi non VUB dan pendapatan petani secara bersama-sama berpengaruh nyata pada permintaan benih padi VUB diindikasikan oleh nilai R2 sebesar 0,925, yang berarti 93% permintaan benih padi VUB dipengaruhi oleh faktor didalam model dan sisanya 7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Hasil uji F diketahui bahwa ke empat variabel tersebut berpengaruh secara bersama-sama terhadap permintaan benih padi VUB ditunjukkan oleh nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel. Sedangkan secara parsial hanya luas lahan usahatani yang berpengaruh signifikan terhadap permintaan benih padi VUB ditunjukkan oleh nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel.

2. Sifat permintaan benih padi VUB di Kabupaten Lombok Tengah bersifat inelastis diindikasikan oleh nilai koefisien elastisitas yang bertanda positif 0,017<1 yang artinya harga tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan benih padi VUB. Elastisitas silang menunjukkan bahwa hubungan benih padi VUB dengan non VUB bersifat substitusi dan nilai koefisien elastisitas bertanda positif <1 yang artinya benih padi non VUB merupakan barang pengganti dari benih padi VUB. Sedangkan elastisitas pendapatan menunjukkan benih padi VUB merupakan barang kebutuhan pokok bagi petani dalam usahatani padi diindikasikan oleh nilai koefisien elastisitas bertanda positif <1 yang artinya persentase perubahan permintaan lebih kecil daripada perubahan pendapatan.

3. Hambatan yang dialami oleh petani dalam permintaan benih padi VUB adalah harga benih padi VUB yang mahal, ketersediaan benih yang kurang, dan kurangnya daya tumbuh benih padi VUB.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian pada analisis permintaan benih padi VUB dan kesimpulan yang telah diuraikan, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut : 1. Kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah adalah memberi subsidi harga pada benih

padi VUB, sehingga harga benih dapat dijangkau oleh seluruh petani.

2. Untuk mengurangi kelangkaan benih padi VUB pada saat musim tanam melalui peningkatan produksi benih padi VUB dengan jalan peningkatan luas areal budidaya dan menambah jumlah penangkar benih padi.

(15)

Jurnal : Analisis Permintaan Benih Padi Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) di Kabupaten Lombok Tengah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2013.

Laporan Tahunan 2013. Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat.

Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah, 2007. Laporan Tahunan 2007.

Junaidi, 2015. (http://junaidichaniago.wordpress.com).

Gambar

Tabel 4.7. Hasil Analisis Uji Multikolinearitas Tahap I dengan SPSS
Gambar Scatterplot dapat dilihat pada Gambar dibawah ini :
Tabel 4.10. Hasil Analisis Uji Multikolinearitas Tahap II dengan SPSS.
gambar dibawah ini:
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil daeri penelitian ialah faktor dari luas lahan, biaya produksi dan harga. berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani padi

Berdasarkan uji beda Wilcoxon pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan terdapat perbedaam sikap petani padi yang signifikan terhadap benih unggul padi bersertifikat antara petani

Hasil daeri penelitian ialah faktor dari luas lahan, biaya produksi dan harga. berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani padi

Penerapan model PTT padi sawah dengan menggunakan VUB oleh petani kooperator mampu memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan teknologi yang biasa digunakan petani

Dengan adanya kemitraan, petani penangkar benih berharap mendapatkan manfaat seperti adanya jaminan pasar, mendapatkan harga jual benih yang lebih tinggi sehingga pendapatan

Peluang penangkaran benih VUB Inpara 3 masih cukup besar karena benih yang dibutuhkan untuk areal lahan rawa pasang surut masih kurang, terutama untuk memenuhi kebutuhan benih

Berdasarkan anaslisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan menunjukkan faktor luas lahan, biaya tenaga kerja, biaya benih, biaya pupuk kandang, biaya pupuk

Berdasarkan uraian tersebut, maka kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui penampakan fenotipe varietas unggul baru (VUB) dari inbrida padi lahan rawa (Inpara 2) yang