*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN DAN

PENYULUHAN PETUGAS KESEHATAN TENTANG PHBS RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAHUNA TIMUR KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

Gampu Deksius*, A. J.M Rattu*, Harvani Boky*

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, tindakan dan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare di wilayah kerja puskesmas tahuna timur kabupaten kepulauan sangihe. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional (Potong Lintang) dengan jumlah 64 responden. Teknik Analisis data menggunakan Uji chi- square dengan batas kemaknaan α (alpha) = 5% dari tingkat kepercayaan 95% dengan ketentuan P Value < 0,05 H0 ditolak, maka hubungan kedua variable signifikan tetapi jika P Value > 0,05 H0 gagal ditolak, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan. Hasil dari penelitian ini variabel tindakan terdapat hubungan dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur dengan hasil uji chi-square p V=0,004 ini berarti H0 di tolak dan hubungan dari variabel tindakan dengan kejadian diare sangat signifikan.

Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Penyuluhan petugas Kesehatan dan Kejadian Diare. ABSTRACT

The purpose of this research was to understand the relationship between knowledge, attitude, action and health workers counseling about household PHBS with diarrhea incidence in working area of East Tahuna Sangihe Islands Regency Primary Health Care Centre. This research used analytic survey method with cross sectional approach with total of 64 respondents.

Technique data analysis was done using chi square test with significance limit α (alpha) = 5% from 95% confidence level with P Value <0,05 Null hypothesis (H0) rejected, hence relation of both variable tested is significant but if P Value > 0,05 H0 fails to rejected, then the relationship between the two variables is not significant. The result of this research revealed that action variable have relationship with diarrhea incidence in children under five years in East Tahuna Primary Health Care Center, with result of chi-square test p V = 0,004 this mean H0 is rejected and relation between variable action and diarrhea incidence is very significant.

(2)

2 PENDAHULUAN

Kabupaten Kepulauan Sangihe Salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, dan dari hasil pengambilan data awal di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulawesi Utara, penderita diare di Kabupaten sangihe berjumlah 1509. Wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur merupakan puskesmas dengan angka kejadian penyakit diare tertinggi dari seluruh wilayah puskesmas yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan jumlah kasus 324 penderita kasus diare. Data Puskesmas Tahuna Timur tahun 2016 bulan Januari - Desember, penderita penyakit diare usia balita 0-4 tahun berjumlah 177 kasus penderita penyakit diare. (Dinkes Sangihe, 2016)

Sesuai dengan data yang ada, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan, sikap, tindakan dan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS tatanan rumah tangga dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional (Potong Lintang). Waktu Penelitian April- Juni

2017 di Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi berdasarkan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Sangihe adalah balita penderita diare dari januari – Desember 2016 di Wilayah kerja puskesmas Tahuna Timur dengan jumlah 177 penderita. Sampel Penelitian ini berjumlah 64 ibu rumah tangga yang mempunyai anak balita yang pernah menderita diare, sesuai pembagian jumlah populasi dengan menggunakan rumus slovin. Instrument yang di pakai dalam penelitian ini yaitu kuesioner untuk mengukur pengetahuan, sikap, tindakan dan penyuluhan petugas kesehatan. Analisis statistik yang dipakai untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, tindakan dan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga dengan Kejadian Diare pada anak balita yaitu menggunakan uji chi-squere dengan α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik responden dikaji berdasarkan umur, wilayah kerja, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga per bulan.

(3)

3 Tabel 1. Hubungan Antara Pengetahuan Tentang PHBS Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada anak Balita Pengetahuan Kejadian Diare

Tidak Ya Total n % P Value n % n % Baik 17 14.1 28 30.9 45 70.3 19 29.7 0.083 Kurang 3 5.9 16 13.1 Jumlah 20 20 44 44 64 100 Pada hasil analisis didapatkan bahwa dari 64 responden yang berpengetahuan PHBSnya baik 45 responden (70,3%), sebanyak 19 responden (29,7%) yang memiliki pengetahuan tentang PHBSnya kurang baik. hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,083 yang berarti p value > α (α= 0,05). Hal ini berarti H0 di terima dan H1 di tolak atau menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Tahuna Timur. Ini disebabkan oleh karena responden pada penelitian ini adalah berpengetahuan baik dan responden yang pengetahuanya baik belum tentu berperilaku hidup bersih dan sehat atau melakukan tindakan nyata sesuai dengan apa yang diketahui responden. Adapun kemungkinan adanya faktor lain seperti faktor budaya, responden banyak yang sudah mengetahui berperilaku sehat dengan contohnya ASI Ekslusif saja cukup diberikan pada anak balita 0-6 bulan dan kebanyakan responden memberikan makanan pendamping di

atas 6 bulan. Penelitian ini di dukung oleh penelitian dari Al-Askar (2014) tentang hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan kejadian diare pada balita di Kelurahan Tamansari Kota Bandung yang menyatakan juga pada penelitiannya bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang PHBS dengan kejadian diare pada balita (p Value 0,465 > 0,05). Dalam penelitian Al-askar dijlaskan ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang PHBS mampu untuk menerapkan di dalam kegiatan sehari-hari dan mempunyai dampak pada menurunya angka kejadian diare tetapi tidak demikian, terdapat sebagian ibu yang memiliki pengetahuan PHBS baik tetapi tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari akibatnya tidak menurunya angka kejadian diare. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan baik belum tentu perilakunya baik. Perilaku akan baik jika apa yang diketahui responden bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Nasution (2012) tentang pengaruh perilaku ibu tentang pola makan anak balita terhadap kejadian diare di kecamatan tanjung morawa, dari hasil analisis bivariat antara tingkat pengetahuan ibu tentang pola makan dengan kejadian diare pada balita di

(4)

4 Kecamatan Tanjung Morawa, diperoleh ada hubungan pengetahuan ibu tentang pola makan terhadap kejadian diare pada balita. Hasil penelitian sudah baik, tetapi diare masih banyak terjadi, hal ini dikarenakan variabel pengetahuan yang diteliti belum menjadi satu kesatuan dalam pembentukan perilaku.

Tabel 2. Hubungan Antara Sikap Tentang PHBS Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada anak Balita

Sikap Kejadian Diare Tidak Ya Total n % P Value n % n % Baik 13 14.4 33 31.6 46 71.9 18 28.1 0.410 Kurang 7 5.6 11 12.4 Jumlah 20 20 44 44 64 100 Hasil analisis antara sikap tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare terdapat sebanyak 45 responden (70,3%) memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 19 responden (29,7%) memiliki pengetahuan kurang baik. Hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,410 yang berarti p value > α (α= 0,05). Hal ini berarti H0 di terima dan H1 di tolak atau menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Tahuna Timur. Karena banyak responden yang sudah mampu bersikap untuk berprilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari yang didasari oleh pengetahuan responden sebelumnya yaitu baik sehingga dari apa yang diketahui responden mampu untuk

bersikap memilih untuk berprilaku sehat.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2011) tentang hubungan antara kejadian diare pada balita dengan sikap dan pengetahuan ibu tentang PHBS di puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat yang mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare pada balita dengan sikap dan pengetahuan ibu tentang kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui uji Chi Square. Pengetahuan dan sikap ibu terhadap kebiasaan hidup bersih dan sehat berpengaruh terhadap status kesehatan anak dalam kesehariannya.

Tabel 3. Hubungan Antara Tindakan Tentang PHBS Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada anak Balita

Tindakan Kejadian Diare Tidak Ya Total n % P Value n % n % Baik 16 10.6 18 23.4 34 53.1 32 46.9 0.004 Kurang 4 9.4 26 20.6 Jumlah 20 20 44 44 64 100

Hasil analisis antara tindakan tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian

(5)

5 diare dapat dilihat sebanyak 34 responden (53,1%) memiliki tindakan baik tentang PHBS rumah tangga dan sebanyak 30% responden (46,9%) memiliki tindakan kurang baik sehingga terdapat hubungan antara perilaku PHBS dengan kejadian diare pada anak balita (p Value = 0,004). Banyak responden sudah mengetahui apa yang akan dilakukan dan bersikap mana yang akan membuat perilaku hidup bersih dan sehat baik tetapi perilaku atau tindakan langsung dari responden masih belum di praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Didukung juga dengan banyak responden yang masih berusia <30 kurang memperhatikan kebersihan. Berbeda dengan penelitian dari Suparno (2014) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di kelurahan saung naga kecamatan baturaja barat dengan hasil penelitian didapatkan dari 36 responden dengan tindakan baik sebanyak 22 (61,1%) balita responden mengalami diare, dan dari 29 responden dengan tindakan buruk sebanyak 12 (41,4%) balita responden mengalami diare. Berdasarkan analisa Bivariat hasil uji statistik Chi-square diperoleh p.value 0,182 hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare dengan tindakan. Pada dasarnya setelah seseorang mengetahui stimulus terhadap sesuatu hal dalam hal

ini tentang diare, kemudian seseorang tersebutakan mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang telah di ketahui untuk selanjutnya dilaksanakan atau dipraktekan dalam kehidupan sehari-harinya. Suatu sikap belum otomatis tewujud dalam suatu tindakan. Agar terwujud sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung berupa fasilitas dan dukungan dari pihak lain. Sedangkan jika anak diare diberikan cairan pengganti untuk pertolongan pertama atau berikan oralit. Jika anak sudah mencret yang sangat hebat sampai buang air kecilnya sulit atau tidak ada dan anak lemas, harus segera dibawa ke rumah sakit (Irianto,K 2015).

Tabel 4. Hubungan Antara Penyuluhan Petugas Kesehatan Tentang PHBS Rumah Tangga dengan Kejadian diare. Penyuluhan petugas kesehatan Kejadian Diare Tidak Ya Total n % P Value n % n % Baik 15 14.7 32 32.3 47 73.4 17 26.6 0.894 Kurang 5 5.3 12 11.7 Jumlah 20 20 44 44 64 100

Hasil analisis antara variabel hubungan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian

(6)

6 diare pada anak balita menunjukan bahwa dari 64 reponden dapat dilihat sebanyak 47 responden (73,4%) mendapat penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga dan sebanyak 17 responden (26,6%) kurang mendapatkan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga. Didapatkan secara statistik bahwa tidak terdapat hubungan antara penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS dengan kejadian diare pada anak balita dengan nilai p= 0,894 > (p= 0,005). Hal ini dikarenakan responden lebih banyak telah mendapatkan informasi tentang PHBS rumah tangga dari petugas kesehatan akan tetapi belum pernah mendapatkan brosur-brosur dari petugas kesehatan. Sejalan dengan Penelitian Marisa (2009) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja puskesmas swakelola 11 ilir Palembang, menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara efektifitas penyuluhan kesehatan dengan kejadian diare pada anak. Hasil ini bertentangan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat dan signifikan antara penyuluhan kesehatan dengan upaya pencegahan yang dilakukan. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor lain yang menghambat efektifitas penyuluhan kesehatan. Faktor-faktor lain tersebut

adalah predisposisi factor (adanya tradisi, kepercayaan masyarakat, dan sebagainya), enabling factor (tersedianya fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan), dan reinforcing factor ( sikap dan perilaku tokoh masyarakat, dan tokoh agama serta petugas kesehatan).

Namun dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian responden sudah pernah mendapatkan penyuluhan tentang perilaku PHBS rumah tangga, Dapat diartikan bahwa pelaksanaan penyuluhan petugas kesehatan tentang PHBS rumah tangga salah satu strategi preventif dan sangat penting untuk menurunkan kejadian diare (Selviana, 2015). Selviana (2015) juga menjelaskan untuk mencapai upaya peningkatan PHBS dalam tatanan rumah tangga, selain keluarga perilaku yang diharapkan untuk berprilaku hidup bersih dan sehat, peran petugas kesehatan dan kader kesehatan sangat penting untuk memberdayakan keluarga menjadi keluarga sehat. Fungsi dan peran kader dan petugas kesehatan merupakan unsur penggerak dan penghubung di tingkat keluarga dalam rangka mencapai hidup bersih dan sehat yang pada akhirnya akan mencerminkan keluarga dalam rangka mencapai hidup bersih dan sehat yang sehingga PHBSnya semakin meningkat. Penyuluhan petugas kesehatan

(7)

7 berpengaruh pada pengetahuan seseorang, penyuluhan kesehatan sudah baik dengan presentase sebanyak (73,4%) yang mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan. Penyuluhan dan pengetahuan yang sudah baik harusnya diikuti dengan adanya tindakan yang baik pula sehingga perilaku hidup bersih dan sehat menjadi lebih baik dan dapat menurunkan angka kejadian diare di wilayah kerja puskesmas tahuna timur.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada ibu dari anak balita yang terkena diare di Wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur. 2. Tidak terdapat hubungan antara

sikap tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur.

3. Terdapat hubungan antara perilaku tentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur.

4. Tidak terdapat hubungan antara penyuluhan petugas kesehatabvtentang PHBS rumah tangga dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur.

SARAN

a. Bagi Pemerintah atau instansi yang terkait

1. Memberikan informasi tentang kejadian diare dan pentingnya menjaga lingkungan sekitar agar bisa terhindar dari kejadian diare terhadap anak. Pemberian informasi tersebut dapat secara langsung diberikan di Puskesmas, pada saat posyandu, maupun kunjungan rumah.

2. Lebih lagi memberikan dukungan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai anak balita agar di perhatikan kebersihan keluarga dan memberikan penyuluhan dengan diikuti contoh nyata dari pemerintah

3. Perlu adanya pembagian brosur ata leaflet tentang cara hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga. b. Bagi Masyarakat

1. Agar supaya anak balita terhindar dari masalah penyakit diare harus melakukan atau mulailah berprilaku sehat 2. Harus lebih sering lagi

(8)

8 petugas kesehatan dan mulai untuk perlahan-lahan merubah tindakan dari yang dulunya kurang baik agar jadi lebih baik dalam berperilaku hidup bersih dan sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2013. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI

Al-Askar. 2014. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Kejadian Diare pada Balita di Kelurahan Tamansari Kota Bandung. Abstrak. Fakultas Kedokteran Universitas Islam. Bandung. Agustina Y.M, 2013. Hubungan Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian Diare pada Balita di Posyandu Dusun Ketangi Desa Banyusoco Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta

Agriati (2015). Gambaran Perilaku Ibu Rumah Tangga tentang Penanggulangan Diare pada Balita di Desa Mangon Kecamatan Sanana Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara

Dinkes Sangihe, 2016. Laporan Bulanan Program P2 Diare Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe

Ginting SBR, 2011. hubungan antara kejadian diare pada balita dengan sikap dan pengetahuan ibu tentang PHBS di puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat [homepage on the Internet]. 2011 [cited 2017 Mei 20]. Available from: http:// www.fk.unair.ac.id/

attachments/1589_Srimurni%20 Br%20Gint ing.pdf. Diakses 20 Mei 2017.

Irianto K, 2015. Memahami Berbagai Penyakit, Penyebab, Gejala, Penularan, Pengobatan dan Pencegahan. Bandung, Jl. Gegerkalong Hilir No. 84 Notoatmodjo S, 2012. Metodologi

Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2012

Nuraeni A, 2012. Hubungan Penerapan PHBS Keluarga dengan Kejadian Diare Balita di Kelurahan Tawangmas Kota Semarang

Nasution, E. 2012. Pengaruh Perilaku Ibu Tentang Pola Makan Anak BalitaTerhadap Kejadian Diare di Kecamatan Tanjung Morawa. UniversitasSumatera Utara. Tesis

(9)

9 Novitasari D., Suklan, 2013. Hubungan

Praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian Penyakit Diare pada Murid SDN Makasar 07 pagi Jakarta timur

Priyoto, 2014. Teori Sikap dan Perilaku dalam Kesehatan. Yogyakarta: NuhaMedika.

Selviana S A, 2015. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap dan Penyuluhan Petugas Kesehatan Tentang PHBS Tatanan Rumah Tangga Dengan Kejadian Diare Di Puskesmas Ranomuut Kota Manado,Sinta F, 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu, Edisi Pertama 2011

Figur

Tabel  2.    Hubungan  Antara  Sikap  Tentang  PHBS  Rumah  Tangga  dengan  Kejadian Diare Pada anak Balita

Tabel 2.

Hubungan Antara Sikap Tentang PHBS Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada anak Balita p.4