BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Gel yang kadang disebut jelly merupakan sistem semi padat (massa lembek) terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel dianggap dapat terbentuk akibat panggumpalan sebagian sol cair. Pada penggumpalan ini, partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu rantai panjang, rantai ini kemudian akan saling bertaut sehingga menbentuk suatu struktur padatan dimana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut. Dengan demikian terbentuk suatu massa berpori yang semi padat dengan struktur gel (Depkes, 1979).
Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long – acting yang diinjeksikan secara intramuscular, cairan oral, dan basis suppositoria (Depkes, 1979).
Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada shampo, parfum, pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut. (Depkes, 1995).
Menurut Anief, jelly (gel) adalah suatu salep yang lebih halus, umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin dipergunakan terutama pada membran mukosa, sebagai pelicin atau dasar salep terdiri campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik lebur rendah. Washable Jelly mengandung mucilagines seperti Gom, Tragacanth, Amylum, Pektin dan Alginat. Sebagai contoh: Starch Jellies (10% Amylum dengan air mendidih) (Anief, 1993).
Salah satu derivat sintesis dari substansi alam Yang digunakan untuk membuat gel yaitu Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC). HPMC merupakan suatu polimer glukosa yang tersubstitusi dengan hidroksipropil dan metil pada gugus hidroksinya. Nama lain dari Hidroksipropil Metilselulose adalah Cellulose, HPMC, Metocel, Methylcellulose propylene glycol ether, Metolose, Pharmacoat (Ansel, 1989).
Prinsip pembuatan gel yaitu apabila senyawa polimer/makromolekul yang bersifat hidrofil/hidrokoloid didispersikan kedalam air maka akan mengembang sehingga terjadi proses hidrasi molekul air melalui pembentuka ikatan hydrogen, dimana molekul-molekul air akan terjebak didalam struktur molekul kompleks tersebut dan akan terbentuk massa gel yang kaku/kenyal.
1.3 Tujuan Percobaan
- Mengetahui bentuk sediaan gel
- Mengetahui basis gel serta sifat-sifatnya
- Mengetahui pembuatan gel berdasarkan basis gel - Mengetahui persyaratan gel
- Mengetahui cara evaluas gel
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gel yang kadang disebut jelly merupakan sistem semi padat (massa lembek) terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri atas jaringan partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan sebagai sistem dua fase (misalnya gel aluminium hidroksida). Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang dinyatakan sebagai magma (misalnya magma bentonit), di mana massanya bersifat tiksotropik, artinya massa akan mengental jika didiamkan dan akan mencair kembali jika dikocok. Jika massanya banyak mengandung air, gel itu disebut jelly (Syamsuni, 2006).
Gel merupakan sediaan semi padat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi. Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak digunakan pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan. Polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintetis dan semisintetis seperti metil selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa, dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi (Depkes, 1995).
Gel dapat diberikan untuk penggunaan topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh. Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misalny karbomer) atau dari gom alam (misalnya tragakan). Sediaan tragakan disebut juga mucilago, walaupun gel-gel ini umumnya mengandung air, etanol dan minyak dapat digunakan sebagai fase pembawa. Sebagai contoh, minyak mineral dapat dikombinasi dengan resin polietilena untuk membentuk dasar salep berminyak (Depkes, 1995).
Menurut Ansel, Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan. Gel dalam nama makromolekulnya disebarkan ke seluruh caiarn sampai tidak terlihat ada batas di antaranya, cairan ini disebut gel satu fase. Dalam hal di mana massa gel terdiri
dari kelompok-kelompok partikel kecil yang berbeda, maka gel ini dikelompokkan sebagai sistem dua fase dan sering pula disebut magma atau susu. Gel dan magma dianggap sebagai dispersi koloid oleh karena masing-masing mengandung partikel-partikel dengan ukuran koloid (Ansel, 2005).
Gel mempunyai kekakuan yang disebabkan oleh jaringan yang saling menganyam dari fase terdispers yang mengurung dan memegang medium pendispers. Perubahan dalam temperatur dapat menyebabkan gel tertentu mendapatkan kembali bentuk cairnya. Gel mempunyai sifat tiksotropi dimana gel menjadi encer setelah pengocokan dan segera menjadi setengah padat atau padat kembali setelah dibiarkan tidak terganggu untuk beberapa waktu tertentu. Tiksotropi adalah suatu sifat yang diinginkan dalam suatu sistem farmasetis cair yang idealnya harus mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah, namun dapat dituang dan tersebar dengan mudah (Ansel, 1989).
Kandungan air yang tinggi dalam basis gel dapat menyebabkan terjadinya hidrasi pada stratum korneum sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui kulit. Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada tempat- tempat spesifik di jaringan epidermis. Gel mempunyai sifat yang menyejukkan, melembabkan, mudah penggunaannya, mudah berpenetrasi pada kulit sehingga memberikan efek penyembuhan. Secara ideal, basis dan pembawa harus mudah diaplikasikan pada kulit, tidak mengiritasi dan nyaman digunakan pada kulit. Basis gel yang digunakan dalam sediaan gel adalah hidroksipropil metil selulosa (HPMC) yang merupakan derivat sintetis selulosa dan termasuk dalam basis hidrofilik (Lachman, 1989).
Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel - Keuntungan sediaan gel :
Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan penyebarannya pada kulit baik.
Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.
Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk mencapai kejernihan yang tinggi.
Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat aktif (Lachman, 1989).
2.2 Penggolongan Gel
2.2.1 Berdasarkan sifat fasa koloid
- Gel anorganik, contoh : bentonit magma - Gel organik, pembentuk gel berupa polimer 2.2.2 Berdasarkan sifat pelarut
- Hidrogel (pelarut air)
Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas yang tinggi sebab hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dengan cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel; hidrogel menstimulasi sifat hidrodinamik dari gel biological, sel dan jaringan dengan berbagai cara; hidrogel bersifat lembut/lunak, elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah setelah mengembang. Contoh : bentonit magma, gelatin
- Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik)
Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.
- Xerogel
Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah diketahui sebagai xerogel. Xerogel sering dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga sisa – sisa kerangka gel yang tertinggal. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang mengimbibisi, dan mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene (Lachman, 1989).
2.2.3 Berdasarkan bentuk struktur gel - Kumparan acak
- Heliks - Batang
- Bangunan kartu (Lachman, 1989).
2.2.4 Berdasarkan jenis fase terdispersi
- Gel fase tunggal, terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu.
- Gel sistem dua fasa, terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu (Ansel, 2005).
2.3 Sifat / Karakteristik Gel
Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain. Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan topical (Lachman, 1989).
Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau
digunakan). Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel terjadi satelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation (Lachman, 1989).
Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut : 1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang. 2. Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah, sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel.
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer separti MC, HPMC, terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental. Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit.
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik
dengan konsentrasi elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut.
5. Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan peningkatan konsentrasi pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel.
6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non – Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran (Lachman, 1989).
2.4 Pembuatan Gel
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi :
1. Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi.
2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut). 3. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi
dengan komponen lain dalam formulasi.
4. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.
5. Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat penggunaan topikal.
6. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol.
7. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel)
Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila daya adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel akan rusak (Allen, 2002).
Dalam pembuatan gel semua bahan harus dilarutkan dahulu pada pelarut atau zat pembawanya sebelum penambahan gelling agent. Pada pembuatan sediaan gel ini digunakan gelling agent hidroksipropil metil selulosa, dimana pembuatannya basis gel (HPMC) dilarutkan/ didispersikan terlebih dahulu baru kemudian ditambahkan bahan pembawa (vehicle) yang sebelumnya sudah dicampur, kemudian diaduk sampai homogen (Allen, 2002).
Secara umum pembuatan gel dan basis larut air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Pembuatan gel dengan air dingin
Basis dikembangkan dengan dalam air dingin sambil diaduk sampai terbentuk campuran yang homogen, kemudian zat aktif dan bahan lainnya ditambahkan kedalamnya sambil diaduk sampai terbentuk gel yang jernih.
b. Pembuatan gel dengan air panas
Basis dikembangkan dalam air panas, kemudian diaduk sampai terbentuk campuran yang homogen, kemudian didalamnya ditambahkan zat aktif dan bahan lainnya sambil diaduk sampai terbentuk gel yang jernih (Allen, 2002).
2.5 Evaluasi Sediaan Gel
Tujuan dilakukannya pengujian kontrol kualitas adalah untuk menjamin kualitas produk sampai ke konsumen. Parameter untuk mngevaluasi gel (Rowe et al., 2006) antara lain:
1. Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan pemeriksaan secara visual setelah gel berada dalam wadah, dengan melihat bentuk atau penampakan dan adanya daya agregat. Syarat homogenitas adalah tidak boleh mengandung bahan kasar yang dapat teraba(Syamsuni, 2006).
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah sediaan yang telah dibuat homogen atau tidak. Caranya, gel dioleskan pada kaca transparan dimana sediaan diambil 3 bagian yaitu atas, tengah dan bawah. Homogenitas ditunjukkan dengan tidak adanya butiran kasar (Mappa, 2013).
2. pH
pH formulasi gel ditetapkan dengan menggunakan pH meter digital. pH sediaan disesuaikan dengan pH kulit berkisar 5-6,5 (Lachman, 1994).
Uji pH dilakukan untuk melihat tingkat keasaman sediaan gel untuk menjamin sediaan gel tidak menyebabkan iritasi pada kulit. pH sediaan gel diukur dengan menggunakan stik pH universal. Stik pH universal dicelupkan ke dalam sampel gel yang telah diencerkan, diamkan beberapa saat dan hasilnya disesuaikan dengan standar pH universal. pH sediaan yang memenuhi kriteria pH kulit yaitu dalam interval 4,5 – 6,5 (Mappa, 2013)
3. Kadar Obat
Kadar obat diukur dengan menggunakan alat Spektrofotometri. Sediaan gel yang baik tidak mempengaruhi kandungan obat didalamnya.
4. Viskositas
Pengukuran viskositas gel dilakukan dengan menggunakan Viscotester Brookfield, untuk mengetahui kekentalan gel.
5. Daya Sebar
Salah satu kriteria gel yang ideal adalah memiliki kemampuan daya sebar yang baik. Sediaan gel diharapkan dapat menyebar ketika diaplikasikan pada area kulit. Keberhasilan terapi formula juga tergantung pada nilai sebar.
6. Uji Iritasi Kulit
Gel diaplikasikan pada punggung tikus untuk mengetahui apakah gel tersebut mengiritasi kulit atau tidak, diamati selama 7 hari secara visual ada tidaknya eritema dan edema.
7. Uji Stabilitas
Formulasi sediaan yang mengandung kadar air yang tinggi dan terdiri dari bahan padat, harus disimpan pada temperatur yang dingin sebelum 14 hari (Lachman, 1994).
2.6 Absorpsi Obat Melalui Kulit
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan.
Prinsip absorpsi obat atau zat melalui kulit adalah difusi pasif oleh karena itu perlu dipahami ini mengenai prinsip dasar difusi zat melalui membran. Difusi pasif adalah proses dimana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul (Anief, 1997).
Tujuan umum dari penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada jaringan epidermis. Daerah yang terkena umumnya adalah epidermis dan dermis (Lachman, 1994).
Faktor- faktor yang mempengaruhi absorpsi perkutan, yaitu: a) Konsentrasi obat
b) Luas area pemakaian
c) Afinitas obat dalam pembawa/ basis versus afinitas obat terhadap kulit d) Basis (vehicle)
e) Hidrasi kulit
f) Perlakuan terhadap kulit g) Stratum corneum (tebal/ tipis)
h) Lamanya pemakaian
(Sulaiman dan Kuswahyuning, 2008). Absorpsi perkutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi langsung obat melalui stratum corneum. Stratum corneum terdiri atas kurang lebih 40% protein dan 40% air dengan lemak. Komponen lemak dipandang sebagai faktor utama yang bertanggung jawab terhadap rendahnya penetrasi obat melalui stratum corneum. Setelah obat melalui stratum corneum, kemudian diteruskan ke jaringan epidermis yang lebih dalam dan masuk ke dermis. Bila obat mencapai lapisan pembuluh kulit maka obat tersebut siap untuk diabsorpsi ke dalam sirkulasi umum (Ansel, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi bahan obat dari sediaannya ke dalam kulit :
a. Sifat kulit, yaitu kondisi kulit, jenis kulit, dan perlakuan kulit.
b. Sifat dan pengaruh obat, yaitu konsentrasi, kelarutan di dalam basis, ukuran molekul, daya difusi, kecepatan pelarutan, daya disosiasi, distribusi antara fase basis, situasi distribusi antara sediaan dan kulit.
c. Sifat dan pengaruh sediaan obat, yaitu sifat pembawa (hidrofil, lipofil, jenis emulsi), tingkat keteraturan fase pembentuk perancah (ketergantungan dari teknik pembuatan) (Voigt, 1984).
2.7 Pengemasan dan Penyimpanan Gel
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, dalam botol mulut lebar, terlindungi dari cahaya, ditempat sejuk. Pada etiket harus tertera “Kocok dahulu” (Syamsuni, 2006).
Sediaan yang mengandung air seperti halnya gel baik dikemas didalam tube. Ada beberapa macam tube antara lain tube plastik, tube timah, dan tube alluminium. Tube plastik baik digunakan untuk mengurangi resiko kontaminasi pada saat penggunaannya, tube timah sering digunakan karena sifatnya tidak mudah bereaksi, sedangkan tube alumium jarang digunakan karena sifatnya bisa berinterkasi dengan bahan penyusun formula atau gel tersebut (Collect dan Aulton, 1990). BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat - Beaker glass - Cawan porselin - Lumpang dan stamper - Spatula - Sudip - Batang pengaduk - Objek glass - Timbangan gram - Timbangan miligram - Kertas perkamen 3.2 Bahan - HPMC
- Propilen glikol - Metil Paraben - Minyak sereh 3.3 Formula R/ HPMC 2,5% Propilen glikol 15 Metil Paraben 0,1% Minyak sereh 1% Aquadest ad 100 m.f. jelli 3.4 Perhitungan Bahan 1. HPMC : 2,5/100 × 100 = 2,5 gram 2. Propylenglikol : 15 gram × 1 = 15 gram 3. Metil Paraben : 0,1/100 × 100 = 0,1 gram 4. Minyak sereh : 1/100 × 100 = 1 gram
5. Aquadest : 100 – ( 2,5 g + 15 g + 0,1 g + 1 g) = 100 - 18,6
= 81,4 ml 3.4 Prosedur Kerja
1. Timbang sejumlah HPMC, zat aktif dan zat tambahan lainnya 2. Kembangkan HPMC dengan air panas 50 ml
3. Tambahkan HPMC yang sudah dikembangkan ke dalam campuran zat aktif dan zat tambahan lainnya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan.
4. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam pot plastik dan diberi etiket. 3.5 Evaluasi
a. Uji homogenitas (F.Ind.Ed.III, 1979) Alat : Objek glass/kertas perkamen
Cara : Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lainnya yang cocok harus menunjukkan susunan yang homogen.
b. Uji Viskositas
Cara : Sebanyak 150 ml gel dimasukkan ke dalam beaker glass. Celupkan spindel no. 5 kedalam gel. Hidupkan alat dengan menekan saklar kearah on, biarkan piringan skala penunjuk berputar sampai stabil (6 x putaran), tekan pemutar handle pemutar piringan skala agar kedudukan penunjuk skala dapat dibaca dengan jelas, lalu tekan saklar ke arah off. Ulangi cara yang sama dengan memasukkan spindel no.4, 3 dan 2,5. Catat skala yang ditunjukkandan besarnya viskositas dihitung.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
- Dari hasil uji homogenitas, gel yang telah dibuat memberikan hasil baik yaitu homogen.
- Uji Viskositas
50 Rpm = 52,4 % Cp = 6290 4.2 Pembahasan
Percobaan yang dilakukan adalah membuat gel yang merupakan sediaan semi padat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi.
Pada percobaan ini dilakukan uji homogenitas dan uji viskositas gel, uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan sediaan yang dibuat. Homogenitas sediaan dapat dilihat dari ketercampuran bahan-bahan yang digunakan pada basis semisolida. Uji ini dilakukan dengan cara tiap sediaan diletakkan pada objek glass lalu dilekatkan objek glass lainnya dan dilihat homogenitas sediaan. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, isi dari kedua sediaan salep mempunyai homogenitas yang baik dimana tidak terdapat serbuk yang tidak halus di objek glass.
Uji viskositas gel dilakuan dengan cara Sebanyak 150 ml gel dimasukkan ke dalam beaker glass. Celupkan spindel no. 5 kedalam gel. Hidupkan alat dengan
menekan saklar kearah on, biarkan piringan skala penunjuk berputar sampai stabil (6 x putaran), tekan pemutar handle pemutar piringan skala agar kedudukan penunjuk skala dapat dibaca dengan jelas, lalu tekan saklar ke arah off. Ulangi cara yang sama dengan memasukkan spindel no.4, 3 dan 2,5. Catat skala yang ditunjukkan dan besarnya viskositas dihitung. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
- Gel dibuat dengan menggunakan basis gel yaitu kombinasi propilenglikol dan metil paraben
- Pembuatan dilakukan dengan cara melarutkan metil paraben terlebih dahulu, lalu ditambah HPMC (dikembangkan selama 15 menit), kemudian ditambah propilenglikol. Digerus homogen
- Uji homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan gel ke objek glass, Setelah di evaluasi gel memiliki homogenitas yang bagus
- Uji viskositas gel dilakuan dengan cara Sebanyak 150 ml gel dimasukkan ke dalam beaker glass. Celupkan spindel kedalam gel.
5.2 Saran
- Pada saat melakukan penggerusan diharapkan praktikan benar-benar menggerus dengan baik dan benar-benar halus agar gel yang dihasilkan mermiliki homogenitas yang baik.
- Setelah gel selesai digerus sebaiknya sebelum melakukan uji viskositas agar terlebih dahulu membiarkan gel selama beberapa hari agar pada gel tidak terdapat gelembung udara sehingga pada saat pengujian diperoleh hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, L., V., (2002). The Art, Science and Technology of Pharmaceutical Compounding. Washington D.C: American Pharmaceutical Association. Anief, Moh. (1993). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ansel, C.H. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press. Ansel, C.H. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press.
DITJEN POM. (1979). Famakope Indonesia edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
DITJEN POM. (1995). Famakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Lachman, L., H.A. Lieberman., dan J. L. Kaning. (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan oleh : S. Suyatmi. Jakarta: UI Press.
Mappa, Tiara., Hosea Jaya Edy., dan Novel Kojong. (2013). Formulasi Gel Ekstrak Daun Sasaladahan (Peperomia pellucida (L.) H.B.K) Dan Uji Efektivitasnya Terhadap Luka Bakar Pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus. Dalam Jurnal Ilmiah Farmasi. 2 (2): 49-55.
Rowe, R. C., P.J. Sheskey., dan S.C. Owen. (2006). Handbook of Pharmaceutical Excipients edisi V. Washington: American Pharmaceutical Press.
Syamsuni, A. (2006). Ilmu Resep. Jakarta: EGC.
Sulaiman, T. N. S., dan Kuswahyuning, R., (2008), Teknologi dan Formulasi Sediaan Semipadat. Yogyakarta: UGM Press.
Voight, S. (1995). Buku Pelajaran Tekhnologi Farmasi edisi ke-5. Yogyakarta: UGM Press.