• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandeirot M. Nancye Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth Jln. Cimanuk No. 20 Surabaya ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pandeirot M. Nancye Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth Jln. Cimanuk No. 20 Surabaya ABSTRAK"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PSIKOEDUKASI KELUARGA TERHADAP KEMAMPUAN

KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN MASALAH HALUSINASI

DI PUSKESMAS KEDUNGDORO DAN PUSKESMAS ASEMROWO SURABAYA

Pandeirot M. Nancye

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth Jln. Cimanuk No. 20 Surabaya

ABSTRAK

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien dengan kondisi halusinasi memerlukan perawatan dan dukungan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat individu pertama memulai hubungan interpersonal dengan lingkungan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kekambuhan terjadi ketika pasien dikembalikan pada keluarga. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengajarkan kepada keluarga bagaimana cara merawat pasien dengan halusinasi agar dapat mengurangi angka kekambuhan pasien. Design penelitian yang digunakan adalah Pre Experimental Designs”. Model yang digunakan adalah Pra – pasca test dalam satu kelompok (One – Group Pretest – Posttest design). Variabel independen yaitu psikoedukasi keluarga dan variabel dependen yaitu kemampuan keluarga merawat pasien dengan halusinasi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi di puskesmas Kedungdoro dan puskesmas Asemrowo Surabaya berjumlah 7 responden dengan sampel 7 reponden yang dipiih melalui teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner sebelum dan setelah dilakukan psikoedukasi keluarga, kemudian diuji dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semua responden tidak memiliki kemampuan merawat sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga sebanyak 7 orang (100%) sedangkan setelah dilakukan psikoedukasi keluarga responden yang mampu merawat pasien sebanyak 7 orang (100%) dan ada pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan masalah halusinasi dengan nilai p=0,018. Dengan psikoedukasi keuarga yang sudah diajarkan diharapkan keluarga dapat memiliki kemampuan dalam merawat pasien.

(2)

PENDAHULUAN

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada (Damaiyanti, 2008). Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang “khayal”, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang “teresepsi”(Yosep, 2010). Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai gangguan respon yang kurang, berlebihan, atau distorsi terhadap stimulus tersebut (Nanda-1, 2012). Pasien dengan kondisi halusinasi memerlukan perawatan dan dukungan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat individu pertama memulai hubungan interpersonal dengan lingkungan. Keluarga merupakan anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi/perkawinan (menurut WHO). Pada keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami halusinasi dibutuhkan kemampuan untuk merawat pasien tersebut, karena pada saat melakukan praktek di rumah sakit Jiwa Menur Surabaya penulis melihat banyak pasien-pasien yang tidak dikunjungi oleh keluarganya dan juga pada saat pasien dipulangkan tidak ada edukasi dari perawat bagaimana cara merawat pasien halusinasi di rumah serta pada saat praktek klinik juga penulis melihat banyak pasien-pasien yang masuk namun mereka adalah pasien-pasien lama yang pernah dirawat di rumah sakit Jiwa Menur Surabaya yang sudah pernah di pulangkan tetapi kambuh lagi. Oleh sebab itu dibutuhkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi. Kemampuan adalah kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu (Robins, 2006). Kemampuan atau abilities ialah bakat yang melekat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara fisik atau mental yang ia peroleh sejak lahir, belajar, dan dari pengalaman (Soehardi,2003). Dalam menunjang kemampuan keluarga merawat pasien dengan halusinasi yaitu menggunakan terapi modalitas. Ada beberapa terapi

modalitas diantaranya yaitu terapi kogitif perilaku, terapi kognitif, terapi perilaku, terapi kejang listrik, psikoedukasi keluarga, management psikoterapi, latihan asertif, family gathering, dan lain-lain. Salah satu dari terapi modalitas yang di gunakan adalah psikoedukasi keluarga. Psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi, edukasi, melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart dan Laraia, 2008). Menurut Carson 2000 psikoedukasi keluarga adalah alat terapi keluarga yang makin populer sebagai suatu strategi untuk menurunkan faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan gejala-gejala perilaku. Jadi pada prinsipnya psikoedukasi ini membantu anggota keluarga dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui pemberian informasi dan edukasi yang dapat mendukung pengobatan dan rehabilitasi pasien dan meningkatkan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri.

Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia mencapai 245 jiwa per 1000 penduduk, hal ini merupakan kondisi yang sangat serius karena lebih tinggi 2,6 kali dari ketentuan WHO. Prevalensi penderita di Indonesia adalah 0,3-1% dan bisa timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah menderita gangguan jiwa (Yosef, 2007). Berdasarkan data dari dinas kesehatan Jawa Timur menyatakan pada tahun 2010 penduduk Jawa Timur yang mengalami gangguan jiwa sebanyak 0,9%. Artinya jumlah penduduk Jawa Timur saat ini sebanyak 37 juta jiwa maka 0,9% nya sebesar 333.000 orang mengalami gangguan jiwa. Menurut riset kesehatan dasar pada tahun 2013 di provinsi Jawa Timur jumlah penduduk yang mengalami gangguan kesehatan jiwa menunjukkan angka 2,2 jiwa berdasarkan data jumlah penduduk Jawa Timur yaitu 38.005.413 jiwa, maka dapat disimpulkan 83.612 jiwa yang mengalami gangguan jiwa di Jawa Timur. Sebuah temuan baru menyatakan di Surabaya Timur dalam 3 tahun terakhir tercatat ada sedikitnya 120 penderita gangguan jiwa baru. Angka tersebut muncul dari hasil pemeriksaan para tenaga psikolog di puskesmas Ranakah, Tambaksari. Itu belum termasuk jumlah

(3)

penderita gangguan jiwa di wilayah Surabaya yang lain. Data yang di dapatkan di puskesmas Kedungdoro Surabaya pasien gangguan jiwa pada tahun 2015 adalah 201 orang dan 151 orang dianataranya mengalami halusinasi.

Halusinasi dapat terjadi karena beberapa faktor, baik itu factor predisposisi maupun factor presipitasi. Faktor predisposisi meliputi factor perkembangan, factor sosiokultural, factor biologis, factor psikologis, factor genetic, dan pola asuh (Yosef, 2010). Sedangkan factor presipitasi pada pasien dengan halusinasi meliputi proses informasi berlebihan, mekanisme gating yang abnormal, dan factor pemicu lain seperti kesehatan, lingkungan, dan sikap (Anna Budi Keliat, dkk, 2007). Pasien yang menarik diri dari lingkungan akan lebih mudah mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi. Faktor yang bisa menunjang ketidakmampuan keluaga dalam merawat pasien halusinasi adalah kurangnya pengetahuan keluarga dalam merawat pasien dengan masalah halusinasi di rumah, kesibukan keluarga yang dapat menyebabkan kurangnya waktu keluarga untuk merawat pasien dengan halusinasi dan juga keadaan ekonomi keluarga sehingga dapat mengakibatkan angka kekambuhan pasien halusinasi yang cukup tinggi. Oleh sebab itu diperlukan peran perawat untuk memberikan psikoedukasi kepada keluarga agar keluarga tahu dan mampu merawat pasien halusinasi dirumah sehingga dapat menguragi terjadinya kekambuhan pada pasien halusinasi.

Salah satu solusi agar keluarga mampu merawat anggota keluarganya yang mengalami halusinasi adalah dengan psikoedukasi keluarga dimana terdapat 5 sesi diantaranya adalah sesi 1: pengkajian masalah keluarga, sesi 2: perawatan klien gangguan jiwa, sesi 3: manajemen stress keluarga, sesi 4: manajemen beban keluarga, sesi 5: pemberdayaan komunitas untuk membantu keluarga. Dengan menggunakan sesi yang ada pada psikoedukasi keluarga di harapkan dapat mengurangi angka kekambuhan pada pasien halusinasi.

Dari penjabaran diatas dan pengalaman saat praktek klinik di rumah sakit jiwa menur surabaya maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampun Keluarga Merawat Pasien

Dengan Masalah Halusinasi Di Puskesmas Kedungdoro dan Puskesmas Asemrowo Surabaya”.

METODE

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka dalam penelitian ini rancangan yang digunakan adalah “Pre Experimental Designs”. Model yang digunakan adalah Pra–pasca test dalam satu kelompok (One– Group Pretest–Posttest design). Sebagai populasi dalam penelitian adalah semua Keluarga pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi di puskesmas Kedungdoro dan puskesmas Asemrowo Surabaya sebanyak 7 orang, yang diambil menggunakan tehnik Purposive Sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah psikoedukasi keluarga dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan merawat pasien dengan halusinasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN Data umum

Data ini menggambarkan tentang distribusi responden berdasarkan data demografi yang meliputi umur, pekerjaan, status perkawinan, jenis kelamin, pendidikan. Karakteristik responden berdasarkan umur

Diagram 1 Diagram pie karakteristik responden berdasarkan umur Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui responden terbanyak berumur >61 tahun sebanyak 43%. 0% 14% 14% 29% 43%

UMUR

20-30 th 31-40 th 41-50 th 51-60 th >61 th

(4)

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Diagram 2 Diagram pie karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Berdasarkan gambar 2 dapat diketahui responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan SD sebagian besar 57%. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Diagram 3 Diagram pie karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Berdasarkan gamba 3 dapat diketahui responden terbanyak memiliki perkerjaan swasta sebanyak 43%.

Karakteristik responden berdasarkan status perkawinan

Diagram 4 Diagram pie karakteristik responden berdasarkan status perkawinan

Berdasarkan gambar 4 dapat diketahui responden terbanyak memiliki status perkawinan janda/duda sebagian besar 57%.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Diagram 5 Diagram pie karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan gambar 5 dapat diketahui responden terbanyak memiliki jenis kelamin perempuan sebagian besar 57%.

Data khusus

Distribusi data mengenai kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum dan sesudah pelaksanaan psikoedukasi keluarga sesi 1-3

0% 57% 14% 29% 0%

pendidikan

Tidak sekolah SD SMP 28% 43% 0% 29%

pekerjaan

Wiraswasta Swasta PNS Tidakbekerja 0% 43% 57%

status perkawinan

Belum menikah Menikah Janda/Duda 57% 43%

jenis kelamin

Perempuan Laki-laki

(5)

diambil berdsarkan kuisioner dengan data sebagai berikut:

Karakteristik responden berdasarkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum pelaksanaan psikoedukasi keluarga. Tabel 1. Distribusi frekuensi responden

berdasarkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga Kemampuan merawat Jumlah Presentase Mampu 0 0% Tidak mampu 7 100% Total 7 100%

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak mampu merawat sebelum pelaksanaan psikoedukasi keluarga dengan jumlah responden 7 orang (100%) sedangkan responden yang mampu merawat sebanyak 0 orang (0%), sehingga pada saat sebelum dilaksanakan psikoedukasi keluarga semua responden tersebut tidak mampu untuk merawat.

Karakteristik responden berdasarkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi setelah pelaksanaan psikoedukasi keluarga. Tabel 2. Distribusi frekuensi responden

berdasarkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi setelah dilakukan psikoedukasi keluarga Kemampuan merawat Jumlah Presentase Mampu 7 100% Tidak mampu 0 0% Total 7 100%

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa semua responden mampu merawat pasien dengan halusinasi setelah dilakukan psikoedukasi keluarga dengan jumlah responden 7 orang (100%) sedangkan responden yang tidak mampu merawat 0 orang (0%).

Tabulasi silang kemampuan merawat sebelum dan sesudah pelaksanaan psikoedukasi keluarga

Tabel 3 Distribusi frekuensi kemampuan merawat sebelum dan sesudah pelaksanaan psikoedukasi keluarga Pelaksanaan Psikoedukasi keluarga Kemampuan merawat Pre % Post % Mampu 0 0 7 100 Tidak mampu 7 100 0 0 Total 7 100 7 100 Hasil uji Wicoxon

p=0,018

Berdasarkan tabel 3 Diketahui bahwa hasil dari penelitian di puskesmas Kedungdoro dan puskesmas Asemrowo Surabaya responden yang mampu merawat pasien dengan halusinasi sebelum pelaksanaan psikoedukasi keluarga sebanyak 0 orang (0%) dan setelah pelaksanaan psikoedukasi keluarga sebanyak 7 orang (100%).

Hasil analisis dari uji Wilcoxon diketahui bahwa nilai p=0,018 yaitu p > α (0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di puskesmas Kedungdoro dan Asemrowo Surabaya.

PEMBAHASAN

Pada pembahasan akan di uraikan hasil penelitian dari kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum dan sesudah pelaksanaan psikoedukasi keluarga, dan pengaruh psikoedukasi keluarga kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi di puskesmas Kedungdoro dan Asemrowo Surabaya.

Kemampuan keluarga dalam merawat pasein dengan halusinasi sebelum pelaksanaan psikoedukasi keluarga di puskesmas Kedungdoro dan Asemrowo Surabaya.

Sebelum dilakukan tindakan psikoedukasi keluarga, peneliti melakukan evaluasi pada responden tentang kemampuan merawat dengan menggunakan lembar

(6)

kuesioner. Dari hasil observasi terhadap ke 7 responden sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga tercatat bahwa ke 7 responden tersebut tidak mampu merawat pasien dengan halusinasi, hal ini dapat dilihat dari skor yang telah di peroleh pada kuesioner yang telah di bagikan kepada responden. Berdasarkan tabel 5.1 Kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum di lakukan psikoedukasi keluarga dapat di lihat bahwa keluarga yang mampu merawat sebanyak 0 orang (0%) dan yang tidak mampu merawat sebanyak 7 orang (100%).

Menurut Keliat (2015) kemampuan keluarga dalam merawat pasien halusinasi dapat dilihat dari keluarga mampu menyebutkan pengertian halusinasi, menyebutkan jenis halusinasi yang di alami oleh pasien, menyebutkan tanda dan gejala halusinasi pasien, mempragakan cara memutuskan halusinasi pasien, mengajak pasien bercakap-cakap saat tiba waktu pasien berhalusinasi, memantau aktivitas sehari-hari pasien sesuai jadwal, memantau dan memenuhi obat untuk pasien, menyebutkan sumber-sumber pelayanan kesehatan yang tersedia, memanfaatkan sumber-sumber kesehatan terdekat. Berdasarkan hasil penelitian di kaitkan dengan teori yang ada di dapatkan hasil dari ke 7 responden sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga memiliki ketidakmampuan dalam merawat pasien dengan halusinasi karena keluarga tidak pernah melakukan atau mengingatkan kepada pasien untuk menghardik halusinasi, dan juga mereka selalu membiarkan pasien saat berhalusinasi dan tidak melibatkan pasien dalam aktivitas atau kegiatan terjadwal.

Berdasarkan diargram 2 didapatkan data bahwa sebagian besar responden berpendidikan SD sebanyak 4 orang (57%). Menurut teori Notoadmodjo (2003), pendidikan adalah proses belajar yang semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pengetahuanya, sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan seseorang dapat menghambat penerimaan informasi. Berdasarkan hasil penelitian terdapat kesamaan antara fakta dan teori. Menurut peneliti hal tersebut dapat terjadi karena sesorang yang berpendidikan rendah cenderung sulit untuk menerima dan memahami informasi dimana informasi dari berbagai media cetak maupun elektronika

dan bahkan penyampaian informasi langsung dari orang lain melalui penyuluhan akan sulit diterima dan dipahaminya sehingga hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam merawat pasien dengan halusinasi yang terbukti 100 % responden tidak punya kemampuan merawat pasien halusinasi.

Berdasarkan diagram 1 didapatkan responden terbanyak berusia >61 tahun sebanyak 3 orang (43%). Menurut Nugroho (2000) usia lanjut adalah tahap akhir dari siklus kehidupan manusia di dunia ini dimana pada tahap ini akan terjadi perubahan anatomi dan penurunan berbagai sistem fisiologis dalam tubuh manusia yang pada akhirnya akan mempengaruhi kebutuhan tubuh untuk menjalankan aktivitas kehidupannya salah satunya adalah penurunan sistem muskuloskletal hal ini ditandai dengan adanya nyeri pada daerah persendian. Berdasarkan antara teori dan fakta maka pada usia lanjut seseorang akan mengalami penurunan fungsi anatomi fisiologi seperti pendengran, penglihatan, daya ingat, dimana fungsi tersebut dapat mempengaruhi seseorang dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Salah satunya yaitu pada fungsi pendengaran, penurunan pendengaran merupakan kondisi yang secara dramatis dapat mempengaruhi kualitas hidup, sehingga seseorang yang mengalami penurunan pada fungsi pendengaran mereka cenderung tidak dapat menyerap informasi dengan baik dari orang lain dimana informasi tersebut dapat berpengaruh dalam merawat pasien.

Kemampuan keluarga dalam merawat pasien halusinasi setelah dilakukan psikoedukasi keluarga

Setelah pelaksanaan psikoedukasi keluarga yang dilakukan peneliti selama 3 sesi peneliti melakukan observasi terhadap responden dengan menggunakan lembar kuisioner. Hasil dari observasi peneliti terhadap ke 7 responden setelah dilakukan psikoedukasi keluarga yaitu tercatat bahwa ke 7 esponden tersebut mampu dalam merawat pasien dengan halusinasi, hal ini dapat dilihat dari skor yang telah di peroleh pada kuisioner yang telah di bagikan kepada responden. Berdasarkan tabel 5.2 kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi setelah di lakukan

(7)

psikoedukasi keluarga dapat di lihat bahwa keluarga yang mampu merawat sebanyak 7 orang (100%) dan yang tidak mampu merawat sebanyak 0 orang (0%).

Menurut Keliat (2015) kemampuan keluarga dalam merawat pasien halusinasi dapat dilihat dari keluarga mampu menyebutkan pengertian halusinasi, menyebutkan jenis halusinasi yang di alami oleh pasien, menyebutkan tanda dan gejala halusinasi pasien, mempragakan cara memutuskan halusinasi pasien, mengajak pasien bercakap-cakap saat tiba waktu pasien berhalusinasi, memantau aktivitas sehari-hari pasien sesuai jadwal, memantau dan memenuhi obat untuk pasien, menyebutkan sumber-sumber pelayanan kesehatan yang tersedia, memanfaatkan sumber-sumber kesehatan terdekat. Salah satu cara untuk mengatasi atau menangani kekambuhan pada pasien dengan halusinasi yaitu melalui psikoedukasi keluarga. Psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi, edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart & Laraia, 2008). Menurut Carson (2000) psikoedukasi merupakan alat terapi keluarga yang makin populer sebagai suatu strategi untuk menurunkan faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan gejala-gejala perilaku. Tujuan utama psikoedukasi keluarga adalah berbagi informasi tentang perawatan kesehatan jiwa (Varcarolis, 2006), mencegah kekambuhan klien gangguan jiwa, mempercepat pulihnya klien sehingga mampu beradaptasi ke lingkungan keluarga dan masyarakat dengan adanya suatu penghargaan terhadap fungsi sosial dan peran klien gangguan jiwa tersebut (Levine, 2002). Seperti halnya yang terjadi pada responden yang telah dilakukan psikoedukasi keluarga, kemampuan dalam merawat pasien dengan halusinasi menjadi mampu merawat. Hal ini dapat di lihat dari skor yang diperoleh dari kuisoner yang di bagikan setelah dilakukan psikoedukasi keluarga dan juga keluarga mampu mempragakan cara memutuskan halusinasi dihadapan pasien, keluarga mampu memenuhi kebutuhan obat pasien, keluarga sering melibatkan pasien dalam melakukan aktivitas seperti menyapu. Hal ini membuktikan adanya pengaruh

pemberian psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi. Jadi pada prinsipnya psikoedukasi ini membantu anggota keluarga dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui pemberian informasi dan edukasi yang dapat mendukung pengobatan dan rehabilitasi pasien dan meningkatkan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri. Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Pasien Dengan Masalah Halusinasi Di Puskesmas Kedungdoro Dan Asemrowo Surabaya.

Berdasarkan tabel 3 jumlah responden sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga responden yang memiliki kemampuan merawat sebanyak 0 orang (0%) dan setelah dilakukan psikoedukasi keluarga responden yang memiliki kemampuan merawat sebanyak 7 orang (100%). Hasil uji statistik Wilcoxon pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi didapatkan p=0,018 yang berarti p < α (0,05) dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yang memiliki arti ada Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Pasien Dengan Masalah Halusinasi Di Puskesmas Kedungdoro Dan Asemrowo Surabaya. Psikoedukasi keluarga adalah perawatan kesehatan jiwa keluarga membantu anggota keluarga dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui pemberian informasi dan edukasi yang dapat mendukung pengobatan dan rehabilitasi. Menurut Stuart & Laraia (2008) psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi, edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik. Jadi psikoedukasi keluarga dapat berpengaruh terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi.

Jika dikaitkan fakta maka didapatkan kesamaan karena psikoedukasi keluarga sangat mempengaruhi kemampuan keluarga yang awalnya tidak mampu merawat menjadi mampu merawat pasien dengan halusinasi, hal ini terbukti saat peneliti melakukan psikoedukasi keluarga sesi pertama yaitu pengkajian masalah keluarga dimana

(8)

sebagian besar keluarga mengatakan bahwa mereka memliki masalah dalam ekonomi, stress dalam merawat pasien dan juga malu dengan keadaannya. Pada sesi kedua yaitu perawatan klien gangguan jiwa dimana pada sesi ini peneliti mengajarkan kepada keluarga cara merawat pasien dengan halusinasi yakni dengan cara mengajarkan menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan pasien jika pasien berhalusinasi atau mengingatkan pasien utnuk bercakap-cakap dengan orang lain apabila sedang berhalusinasi, mengajarkan pada keluarga agar selalu memberikan aktivitas atau kegiatan kepada pasien, dan mengajarkan kepada keluarga bahwa pentingnya minum obat secara teratur agar dapat membantu proses penyembuhan pasien dan di akhiri dengan tanya jawab atau saling berdiskusi dalam merawat pasien. Pada sesi ketiga manajemen stress keluarga yaitu menanyakan pada keluarga terkait stress yang dialami keluarga dengan adanya klien gangguan jiwa mengajarkan kepada keluarga cara menghilangkan stress dengan cara berolahraga, pijat, yoga, tertawa, mendengarkan musik, bermain game atau melakukan aktivitas lain yang dapat meringankan stress keluarga. Psikoedukasi keluarga dilakukan selama 2 kali dalam seminggu. Jadi psikoedukasi keluarga yang dilakukan sangat mempengaruhi perubahan pola pikir dan kemampuan keluarga menjadi baik. Baik secara langsung maupun tidak langsung, perlahan ingin mengubah perilaku keluarga dari yang tidak mampu merawat menjadi mampu merawat khususnya yang berkaitan dengan pasien halusinasi, seperti yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa kemampuan merawat keluarga bisa dibilang mampu merawat karena saat beberapa kali melakukan kunjungan keluarga sudah bisa mempragakan cara menghardik halusinasi langsung dihadapan pasien dan sudah melibatkan pasien dalam kegiatan harian seperti menyapu, membersihkan gerobak sate, mencuci piring dan juga keluarga mengatakan jika mengalami stress biasanya keluarga tidur atau membaca alqur’an.

Manfaat psikoedukasi keluarga bagi keluarga dirasakan sangat bermanfaat karena sebagian keluarga mengatakan sejak diberikan psikoedukasi keluarga keluarga mampu merawat pasien halusinasi akhirnya mereka yang belum mengetahui menjadi

mengetahui dan mengerti cara merawat pasien dengan halusinasi.

Dengan psikoedukasi keluarga yang diberikan sangat mempengaruhi kemampuan keluarga dalam merawat karena sebagian besar keluarga mengatakan mereka sudah merasakan manfaat dari psikoedukasi keluarga. Hal ini bisa dibuktikan dengan bisa melihat kemampuan keluarga mengajarkan cara mengahrdik halusinasi pada pasien, melibatkan pasien dalam aktivitas sehar-hari, dan selalu memberikan obat secara rutin pada pasien. Bagi keluarga dengan psikoedukasi keluarga yang didapatkan sanagat bermafaat bagi keluarga dalam menerapkan saat merawat pasien dengan halusinasi agar dapat memabantu proses penyembuhan pasien. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan tujuan, maka dapat disimpulkan; 1) Kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi sebelum dilakukan psikoedukasi keluarga berada dalam kategori tidak mampu merawat, 2) Kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi setelah dilakukan psikoedukasi keluarga berada dalam kategori mampu merawat., 3) Terdapat pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan masalah halusinasi di puskesmas Kedundoro dan Asemrowo Surabaya dengan hasil uji statistik Wilcoxon p=0,018. Saran yang dapat diberikan adalah hasil penelitian digunakan sebagai tambahan referensi tentang metode pemberian psikoedukasi keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan keluarga dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi, 2) keluarga lebih memperhatikan pasien dengan gangguan jiwa halusinasi agar tidak diasingkan dan dihindari dengan tujuan untuk meningkatkan rasa di terima, diperhatikan, dihargai, rasa aman bagi klien tidak merasa sendiri sehingga dapat menurunkan angka kekambuhan pada pasien dengan halusinasi, 3) Puskesmas lebih memperhatikan tentang dukungan keluarga terhadap kilen dengan halusinasi dengan membuat suatu kebijakan yang lebih untuk meningkatkan peran keluarga dalam proses perawatan klien halusinasi.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8 Vol.3.

Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Damiyanti, Mukhripah dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Davies, Teifion. 2009. ABC Kesehtan Mental. Jakarta: EGC.

Johnson & M Maas. 2000.Nursing Outcomes Classification. St. Louis: Mosby. Jakarta: EGC.

Keliat, Budi Anna. (2015). Modul Terapi Keperawatan Jiwa. Depok. Universitas Indonesia.

. 2011. Management Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta; EGC Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta

Kedokteran Jilid 1 Ed. 3. Jakarta Media Aesculapius.

Masli, Rusdi, Dr. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan Dari PPDGJ-III. Jakarta; PT. Nuh Jaya

NANDA. 2001. Nursing Diagnosis; Definition and Classification (2001-2002) Philadelphia.

Nurjannah, Intansari. 2004. Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta: Mocomedia.

Nursalam, 2016. Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 4. Jakarta ; Salemba Medika.

Stuart dan Sundeen. 2005. Buku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC Setiadi. 2007. Psikologi Untuk Keperawatan.

Jakarta ; EGC

Yosep Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa. Bandung ; Refika Aditama.

Gambar

Diagram  1  Diagram  pie  karakteristik  responden berdasarkan umur   Berdasarkan  gambar  1  dapat  diketahui  responden  terbanyak  berumur  &gt;61  tahun sebanyak 43%
Diagram  4  Diagram pie karakteristik  responden berdasarkan status  perkawinan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penemuan dari analisis teks pemberitaan pada headline surat kabar Republika mengenai dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan

1.6 Customer acknowledges and agrees that it is solely responsible for compliance with all legal, regulatory and safety-related requirements concerning its products and any use

2 Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Komunikasi Orang Tua-Anak Terhadap Kedisiplinan Anak dalam Mentaati Waktu Arista Fitriawanti (2010), dari Universitas

Jaya Institute mengundang bapak/ ibu Direktur Rumah Sakit untuk mengirimkan staf guna mengikuti pelatihan “Implemantasi Ketrampilan Komunikasi Efektif Sebagai Unsur

thazard). 2) Harga ikan nominal adalah harga rata-rata tahunan dari ikan cakalang dan tongkol dari tahun 1993-2006, sedangkan harga riil merupakan harga yang telah

Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode regresi logistik ordinal dan metode regresi probit ordinal sama baiknya untuk menganalisis faktor-faktor yang

[r]

Pada tingkat masyarakat gampong, Musrenbang bertujuan untuk mencapai kesepakatan tentang prioritas kebutuhan gampong, yang kemudian menjadi kerangka acuan bagi