Karya Ilmiah
PERLINDUNGAN HUKUM INVESTOR REKSADANA
AKIBAT WANPRESTASINYA PT. DANAREKSA (PERSERO)
Oleh :
ROIDA NABABAN
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
FAKULTAS HUKUM
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkatnya
yang melimpah dan kemurahan kasih-Nya memberikan kesehatan, kasih sayang dan
kekuatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan Penulisan Karya Ilmiah ini
dengan judul :
“PERLINDUNGAN HUKUM INVESTOR REKSADANA AKIBAT
WANPRESTASINYA PT. DANAREKSA (PERSERO)”
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan sesuai
dengan yang diharapkan baik dari isi maupun tata bahasanya. Oleh karena itu penulis
dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua
DAFTAR ISI
A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian ... 81. Pengertian Perjanjian ... 8
2. Asas–asas Perjanjian ... 10
3. Syarat-syarat Sahnya Perjanjian ... 12
B. Tinjauan Tentang Reksa Dana di Pasar Modal... 14
1. Pengertian Reksa Dana ... 14
2. Karakteristik Reksa Dana ... 18
3. Jenis Reksa Dana ... 19
4. Tujuan Investasi Reksa Dana... 22
C. Tinjauan Tentang Umum Investor ... 22
1. Pengertian Investor ... 22
2. Jenis-jenis Investor... 23
3. Syarat-syarat Investor ... 24
D. Tinjauan Tentang Wanprestasi 1. Pengertian Wanprestasi... 26
2. Syarat-syarat Dapat Dikatakan Wanprestasi... 26
BAB III PEMBAHASAN
A. Perlindungan Hukum Investor Reksadana Akibat Wanprestasinya
PT. DANAREKSA (Persero)... 29
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 45
B. Saran ... 57
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam penjelasan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal disebutkan bahwa tujuan pasar modal adalah menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan, dan
stabilitas ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat. Dalam rangka
mencapai tujuan tersebut, pasar modal mempunyai peran strategis sebagai salah satu
sumber pembiayaan bagi dunia usaha, termasuk usaha menengah dan kecil untuk
pembangunan usahanya, sedangkan disisi lain pasar modal juga merupakan wahana
investasi bagi masyarakat, termasuk pemodal kecil dan menengah.
Hal ini sesuai dengan tujuan dasar rencana pembangunan berkelanjutan yaitu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan, mengembangkan
perekonomian yang berorientasi global sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi demi kesejahteraan rakyat.
Pasar modal di Indonesia masih tergolong baru sebagaimana umumnya pasar
modal di negara yang sedang berkembang terutama apabila dibandingkan dengan
pasar modal di negara-negara yang sudah maju. Jumlah investor domestik Indonesia
melakukan investasi dalam pasar modal, meskipun pasar modal seharusnya menjadi
alternatif utama dalam investasi.1
Pasar modal akan menjembatani hubungan antara pemilik dana atau investor
dengan yang akan menggunakan dana atau Emiten (perusahaan). Investor akan
menggunakan instrumen pasar modal untuk keperluan investasi portofolionya dengan
tujuan untuk memaksimalkan penghasilan. Instrumen pasar modal terbagi atas dua
kelompok besar, yaitu instrumen kepemilikan (equity) seperti saham, dan instrument utang seperti obligasi. Disamping saham dan obligasi, pasar modal juga memiliki
instrumen lain seperti Reksadana, Sekuritas Kredit, dan Waran.2
Pasar modal tidak berdiri sendiri melainkan dijalankan oleh berbagai pihak.
Pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan pasar modal antara lain3:
1. Otoritas pasar modal, Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang berada di bawah naungan Departemen Keuangan/Menteri Keuangan;
2. Bursa Efek; 3. Emiten;
4. Perusahaan Efek yang terdiri dari Underwriter atau Penjamin Emisi Efek (PEE), broker atau Perantara Pedagang Efek (PPE), dan Manajer Investasi (MI);
5. Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP); 6. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP);
7. Lembaga Penunjang Pasar Modal (LPPM), yang terdiri dari Kustodian, Wali Amanat, dan Biro Administrasi Efek (BAE);
8. Profesi Penunjang Pasar Modal (PPPM), antara lain Akuntan Publik, Konsultan Hukum, Notaris, dan Perusahaan Penilai (Appraisal);
1 Gunawan Widjaja dan Almira Prajna Ramaniya. 2006. Reksa Dana dan Peran Serta Tanggung
Jawab Manajer Investasi dalam Pasar Modal. Seri Pengetahuan Pasar Modal. Jakarta: Prenada Media Group, hlm.1.
2Ibid
3Abi Hurairah Moechdie & Haryajid Ramelan,Gerbang Pintar Pasar Modal, (Jakarta: Capital Bridge
9. Investor, yang terdiri dari investor perorangan atau individual dan investor institusi atau lembaga.
Investasi dalam pasar modal dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah
satunya dapat dilakukan melalui investasi portofolio, yaitu dengan membeli
instrumen-instrumen di pasar modal. Dalam hal ini, investor tidak berkepentingan
untuk menjalankan usaha dari perusahaan dimana ia menanamkan modalnya dalam
bentuk saham dan obligasi, tapi lebih berkepentingan kepada laba dan dividen dari
saham tersebut atau bunga obligasi. Selain investasi portofolio juga ada investasi
langsung, yaitu investor terlibat dalam pendirian suatu perusahaan. Dalam hal ini,
investor berkepentingan dalam menguasai dan menjalankan langsung usaha
investasinya.4
Reksadana merupakan suatu alternatif baru bagi investor dalam berinvestasi.
Reksadana PT dan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) diatur dalam Undang-Undang
Nomor 8 Tahun1995 tentang Pasar Modal (UUPM) mulai Pasal 18 sampai dengan
Pasal 29.5
Pasal 21 UUPM menyebutkan bahwa,
Pengelolaan Reksadana, baik yang berbentuk perseroan maupun yang berbentuk kontrak investasi kolektif, dilakukan oleh manajer investasi berdasarkan kontrak.
Reksadana mulai dikenal pertama kali di Belgia pada tahun 1822, yang
berbentuk Reksadana tertutup (closed end fund). Reksadana tersebut diciptakan untuk
para investor kaya yang ingin berpartisipasi dalam portofolio utang-utang pemerintah
yang ingin memiliki keuntungan tinggi.6
Sebagai salah satu jenis efek dalam berinvestasi, reksadana mempunyai
ciri-ciri yang unik apabila dibandingkan dengan jenis-jenis investasi lainnya. Dalam
reksadana para investor membeli penyertaan atas kumpulan-kumpulan efek yang
dikelola oleh Manajer Investasi yang sudah ahli, dengan tujuan mendapatkan
keuntungan. Dana investor digunakan oleh Manajer Investasi untuk mengelola
portofolio investasi efek, untuk memperoleh keuntungan yang kemudian hasil
keuntungan tersebut didistribusikan kembali kepada investor. Namun, Manajer
Investasi yang diberi kewenangan untuk mengelola dana hanya dapat
menginvestasikan kembali dana-dana tersebut dalam bentuk portofolio efek yang
telah disepakati sebelumnya dan diizinkan oleh BAPEPAM-LK. Jadi, disini Manajer
Investasi adalah sebagai pengelola sekuritas, yaitu membeli dan menjual efek-efek
yang diterbitkan perusahaan lain guna kepentingan investor.7
Manajer Investasi adalah pihak yang mengelola portofolio efek untuk para
nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah,
kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun dan bank yang melakukan sendiri kegiatan
usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.8 Peranan
Manajer Investasi sangat penting dalam mengelola reksadana di pasar modal dan
6
Munir Fuady, Pasar Modal Modern Cetakan ke-1, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996), hlm 106.
merupakan perusahaan efek yang memberikan jasa pengelolaan portofolio efek
nasabah dengan memperoleh imbalan dihitung berdasarkan perseroan tertentu dari
nilai dana yang dikelolanya.9
Mengingat dalam pengelolaan investasi reksadana dilakukan oleh Manajer
Investasi maka usaha jasa ini dapat digolongkan sebagai bisnis kepercayaan. Dengan
demikian diperlukan adanya persyaratan kejujuran dan integritas moral yang tinggi
dari pelakunya di dalam melaksanakan amanat investor. Hilangnya kepercayaan
investor berarti hilangnya peluang bisnis perusahaan reksadana bahkan lebih dari itu
dapat merusak tatanan tujuan dan sistem pasar modal itu sendiri. Di sinilah dituntut
profesionalisme Manajer Investasi yang harus menimbulkan kepercayaan pemodal.
Di dalam reksadana juga ada kemungkinan-kemungkinan kerugian
dikarenakan tidak diberikannya informasi mengenai perkembangan usaha reksadana.
Manajer investasi dari reksadana ini lalai memberi tahu perkembangan dana yang
ditanamkan pada berbagai investasi reksadana. Akibatnya ketika terjadi keadaan yang
merugikan investasi tersebut, investor tidak mengetahuinya, sehingga investor tidak
melakukan tindakan yang dapat menyelamatkan investasinya, misalnya dengan
menarik dananya dari reksadana.10
Akibatnya investor mengalami kerugian. Namun dalam hal ini investor tidak
dapat meminta penyelesaian hukum terhadap kelalaian yang dilakukan Manajer
Investasi tersebut. Hal ini dikarenakan belum ada ketentuan hukum yang mengatur
9 Ibid
10 Hadisoeprapto, Hartono, Pokok-Pokok Hukum Perikatan Dan Hukum Jaminan, (Yogyakarta:
tentang sanksi bagi manajer investasi yang lalai memberi informasi kepada investor.
Dengan kata lain investor berada dalam keadaan tidak terlindungi.
Dari alasan-alasan dan uraian latar belakang tersebut maka penulis tertarik
mengambil judul PERLINDUNGAN HUKUM INVESTOR REKSADANA
AKIBAT WANPRESTASINYA PT. DANAREKSA (PERSERO).
B. Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah yang akan dibahas dalam
Penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perlindungan hukum investor reksadana akibat wanprestasinya
Manajer Investasi?
C. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan dari penyusunan tersebut, yakni :
1. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap investor
reksadana PT. Danareksa.
D. Manfaat Penulisan
1. Secara Teoritis
Memberikan pemahaman kepada para investor baru yang akan memulai
berinvestasi saham tentang tindakan Manajer Investasi yang dapat merugikan
mereka. Sehingga para investor dapat melakukan pengawasan terhadap
investasi mereka yang dikelola oleh Manajer Investasi. Secara teori juga akan
membantu para investor untuk mengetahui perlindungan hukum apa yang
mereka dapatkan ketika berinvestasi saham di pasar modal.
2. Secara praktik
Penulisan ini dapat memberi masukan kepada investor mengenai aspek resiko
adanya wanprestasi dalam reksadana serta bermanfaat untuk menambah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian
1. Pengertian Perjanjian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perjanjian adalah “persetujuantertulis
atau dengan lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat
akan mentaati apa yang persetujuan tersebut dalam itu.”11
Kamus Hukum menjelaskan bahwa perjanjian adalah “persetujuan yang
dibuat oleh dua pihak atau lebih, tertulis maupun lisan, masing-masing sepakat untuk
mentaati isi persetujuan yang telah dibuat bersama.”12
Menurut Pasal 1313 KUH Perdata, “Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau
lebih.”13
Para sarjana Hukum Perdata pada umumnya berpendapat bahwa definisi
perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan tersebut tidak lengkap dan terlalu luas.
Tidak lengkap karena hanya mengenai perjanjian sepihak saja dan dikatakan terlalu
luas karena dapat mencakup hal-hal yang mengenai janji kawin, yaitu perbuatan di
dalam lapangan hukum keluarga yang menimbulkan perjanjian juga, tetapi, bersifat
11
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Ikhtisar Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta : Balai Pustaka. 2005. hlm. 458.
istimewa karena diatur dalam ketentuan-ketentuan tersendiri sehingga Buku III KUH
Perdata secara langsung tidak berlaku terhadapnya. Juga mencakup perbuatan
melawan hukum, sedangkan di dalam perbuatan melawan hukum ini tidak ada unsur
persetujuan.14
R. Subekti mengemukakan perjanjian adalah“suatu peristiwa dimana seorang
berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk
melaksanakan sesuatu hal.”15Menurut Salim HS, Perjanjian adalah "hubungan hukum
antara subjek yang satu dengan subjek yang lain dalam bidang harta kekayaan,
dimana subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum
yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai dengan yang telah
disepakatinya.”16
Dari pengertian-pengertian di atas dapat dilihat beberapa unsur-unsur yang
tercantum dalam kontrak, yaitu17:
1. Adanya hubungan hukum
2. Adanya subjek hukum
3. Adanya prestasi
4. Di bidang harta kekayaan
Perjanjian merupakan sumber terpenting dalam suatu perikatan. Menurut
Subekti, Perikatan adalah “suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua
14 Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan Dengan Penjelasan, PT.
pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak
yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu”.Perikatan
dapat pula lahir dari sumber-sumber lain yang tercakup dengan nama undang-undang.
Jadi, ada perikatan yang lahir dari “perjanjian” dan ada perikatan yang lahir dari
“undang-undang”.
Perikatan yang lahir dari undang-undang dapat dibagi lagi ke dalam perikatan
yang lahir karena undang-undang saja dan perikatan yang lahir dari undang-undang
karena suatu perbuatan orang (Pasal 1352 KUH Perdata).18 Sementara itu, perikatan
yang lahir dari undang-undang karena suatu perbuatan orang dapat lagi dibagi
kedalam suatu perikatan yang lahir dari suatu perbuatan yang diperoleh dan yang lahir
dari suatu perbuatan yang berlawanan dengan hukum (Pasal 1353 KUH Perdata).19
2. Asas-Asas Perjanjian
Asas hukum itu umumnya tidak berwujud peraturan hukum yang konkrit,
tetapi merupakan latar belakang dalam pembentukan hukum positif. Oleh karena itu
maka asas hukum tersebut bersifat umum atau abstrak.
Adapun asas-asas tersebut adalah sebagai berikut20:
1. Asas konsensualisme (consensualisme)
Pada mulanya suatu kesepakatan atau perjanjian harus ditegaskan dengan
sumpah. Namun pada abad ke-13 pandangan tersebut telah dihapus oleh gereja21.
18
Ibid.
19Ibid.
20Dikutip dari: http://www.jurnalhukum.com/asas-asas-perjanjian/, Wibowo Tunardy,Jurnal Hukum,
Kemudian terbentuklah paham bahwa dengan adanya kata sepakat di antara para
pihak, suatu perjanjian sudah memiliki kekuatan mengikat.
Asas ini dapat ditemukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata yang mensyaratkan
adanya kesepakatan sebagai syarat sahnya suatu perjanjian. Meskipun demikian,
perlu diperhatikan bahwa terhadap asas konsensualisme terdapat pengecualian. Yaitu
dalam perjanjian riil dan perjanjian formil yang mensyaratkan adanya penyerahan
atau memenuhi bentuk tertentu yang disyaratkan oleh undang-undang.22
2. Asas kekuatan mengikat (pacta sunt servanda)
Bahwa masing-masing pihak yang terikat dalam suatu perjanjian harus
menghormati dan melaksanakan apa yang telah mereka perjanjikan dan tidak boleh
melakukan perbuatan yang menyimpang atau bertentangan dari perjanjian tersebut.
3. Asas kebebasan berkontrak
Asas kebebasan berkontrak berarti setiap orang menurut kehendak bebasnya
dapat membuat perjanjian dan mengikatkan diri dengan siapapun yang ia kehendaki.
Namun kebebasan tersebut tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang bersifat memaksa, ketertiban umum dan kesusilaan.
4. Asas keseimbangan
Menurut Herlien Budiono, asas keseimbangan adalah suatu asas yang
dimaksudkan untuk menyelaraskan pranata-pranata hukum dan asas-asas pokok
hukum perjanjian yang dikenal di dalam KUH Perdata yang berdasarkan pemikiran
21 Herlien Budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan,
Bandung: PT. Citra Aditya, 2010., Hlm. 29.
dan latar belakang individualisme pada satu pihak dan cara piker bangsa Indonesia
pada lain pihak.23
3. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian
Syarat sahnya suatu perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata yang
mengemukakan empat (4) syarat, yaitu24:
1. Adanya kesepakatan kedua belah pihak
2. Kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum
3. Adanya suatu hal tertentu
4. Adanya sebab yang halal.
Kedua syarat yang pertama disebut syarat subjektif karena kedua syarat
tersebut mengenai subjek perjanjian sedangkan dua syarat terakhir merupakan syarat
objektif karena mengenai objek dari perjanjian.
Keempat syarat tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut25:
1. Adanya kesepakatan kedua belah pihak
Syarat pertama dari sahnya suatu perjanjian adalah adanya kesepakatan para
pihak. Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau
lebih dengan pihak lainnya. Yang sesuai itu adalah pernyataannya, karena kehendak
itu tidak dapat dilihat/diketahui orang lain. Pernyataan dapat dilakukan dengan tegas
atau secara diam-diam. Pernyataan secara diam-diam sering terjadi di dalam
23
Herlien Budiono, Op. Cit., Hlm. 33.
kehidupan sehari-hari kita. Misalnya, seorang penumpang yang naik angkutan umum,
dengan membayar ongkos angkutan kepada kondektur kemudian pihak kondektur
menerima uang tersebut dan berkewajiban mengantar penumpang sampai ke tempat
tujuannya dengan aman. Dalam hal ini, telah terjadi perjanjian walaupun tidak
dinyatakan secara tegas.
2. Kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum
Menurut 1329 KUH Perdata bahwa “setiap orang adalah cakap untuk
membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan cakap”.26
Kecakapan bertindak adalah kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum. Dimana
perbuatan hukum ialah perbuatan yang menimbulkan akibat hukum.
Ada beberapa golongan oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap yaitu:
a. Orang yang belum dewasa
b. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan
c. Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang telah
melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Tetapi dalam
perkembangannya istri dapat melakukan perbuatan hukum.
3. Adanya suatu hal tertentu
Suatu hal dapat diartikan sebagai objek dari perjanjian. Yang diperjanjikan
haruslah suatu hal atau suatu barang yang cukup jelas atau tertentu. Menurut Pasal
1332 KUH Perdata, hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat
menjadi pokok-pokok perjanjian. Pasal 1333 KUH Perdata menyatakan bahwa“suatu
persetujuan itu harus mempunyai pokok suatu barang yang paling sedikit dapat
ditentukan jenisnya”.27Tidak menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu asal
barang kemudian dapat ditentukan atau dihitung.
4. Adanya sebab yang halal
Di dalam undang-undang tidak disebutkan pengertian mengenai sebab
(orzaak, causa). Yang dimaksud dengan sebab bukanlah sesuatu yang mendorong para pihak untuk mengadakan perjanjian, karena alasan yang menyebabkan para
pihak untuk membuat perjanjian itu tidak menjadi perhatian umum. Adapun sebab
yang tidak diperbolehkan ialah jika isi perjanjian bertentangan dengan
undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Dari uraian di atas, apabila syarat subjektif
tidak terpenuhi, maka salah satu pihak dapat meminta supaya perjanjian itu
dibatalkan, namun, apabila para pihak tidak ada yang keberatan, maka perjanjian itu
tetap dianggap sah. Sementara itu, apabila syarat objektif tidak terpenuhi, maka
perjanjian itu batal demi hukum.
B. Tinjauan Tentang Reksadana di Pasar Modal
1. Pengertian Reksadana
Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada Pasal
1 angka 27 bahwa Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun
dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek
oleh Manajer Investasi.28
Reksadana merupakan suatu bentuk pemberian jasa yang didirikan untuk
membantu investor yang ingin berpartisipasi dalam pasar modal tanpa adanya
keterlibatan secara langsung dalam prosedur, administrasi, dan analisis dalam sebuah
pasar modal. Hal ini dikarenakan Reksadana, termasuk yang dikenal di Indonesia
baik yang berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) maupun Reksadana berbentuk
Perseroan dikelola oleh Manajer Investasi yang mewakili para investor yang
berpartisipasi dalam Reksadana.29
Reksadana merupakan suatu alternatif baru bagi para investor dalam
berinvestasi. Reksadana yang ada di Indonesia berbentuk Reksadana Perseroan dan
Kontrak Investasi Kolektif (KIK) diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995
tentang Pasar Modal (UUPM) mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 29.30
Menurut Arys Ilyas secara umum, Reksadana dapat diartikan sebagai suatu
wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang
selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Dalam
pengertian ini terkandung tiga unsur penting.Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal (investor). Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio Efek.
Ketiga, dana tersebut dikelola oleh Manajer Investasi. Dana yang dikelola oleh Manajer Investasi tersebut merupakan milik bersama dari para pemodal, dan Manajer
Investasi adalah pihak yang dipercayakan untuk mengelola atau menginvestasikan
dana tersebut dalam Reksadana.31
Menurut M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya secara sederhana Reksadana
adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan uang kepada
pengelola Reksadana (Manajer Investasi) untuk digunakan sebagai modal
berinvestasi di pasar modal. Investasi Reksadana bisa dikatakan relatif lebih
konservatif, karena menghindari fluktuasi dan kerugian yang besar, namun jelas
capital gain-nya tidak sama besarnya dengan saham, tetapi ada juga Reksadana yang investasinya semua ditempatkan pada instrumen saham.32
Menurut Asril Sitompul, Reksadana adalah diversifikasi investasi dalam
portofolio yang dikelola oleh Manajer Investasi di perusahaan reksa dana.33
Definisi Reksadana yang diberikan oleh Walter Updegrave dalam bukunya
“Investing in Mutual Funds” adalah sebagai berikut:34
Mutual-fund (reksadana) adalah suatu perusahaan yang menghimpun uang dari pemodal seperti anda dan mempekerjakan seorang Manajer Investasi (biasanya
disebut manajer portofolio atau manajer reksadana) untuk membeli saham, obligasi,
surat-surat berharga, atau gabungan dari efek-efek tersebut dengan uang yang
terkumpul itu. Apabila anda melakukan investasi di dalam reksadana, anda membeli
saham yang mewakili sebagian dari kepemilikan efek dalam reksadana tersebut.
31Gunawan Widjaja dan Almira Prajna Ramaniya,Op. Cit.,hlm. 9.
32M. Irsan Nasarudin & Indra Surya,Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia cetakan ke-6, (Jakarta:
Kencana, 2010)., hlm. 156.
33Asril Sitompul,Reksa Dana Pengantar dan Pengenalan Umum, ( Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,
2000 ), hlm. 1.
Dengan demikian, anda berhak atas bagian dari penghasilan dan keuntungan (atau
kerugian) yang dihasilkan oleh efek tersebut.
Dari defenisi di atas dapat ditarik beberapa unsur dari Reksadana. Menurut
Asril Sitompul, unsur-unsur Reksadana adalah :35
1. Suatu perusahaan atau badan usaha
2. Himpunan dana dari para investor
3. Dana dikelola oleh Manajer Investasi
4. Dana diinvestasikan dalam berbagai jenis portofolio
5. Tujuan investasi untuk mendapatkan laba.
Reksadana atau investment fund melakukan pooling (penghimpunan) dana pemodal untuk selanjutnya dibentuk suatu portofolio efek yang terdiri dari berbagai
macam surat berharga yang berupa saham, obligasi, SBI, deposito berjangka, dan
commercial papers.36
Menurut Munir Fuady, eksistensi Reksadana sangat membantu pihak investor,
terutama pihak investor yang tidak mempunyai banyak waktu, skill dalam menganalisa mengenai pembelian saham di pasar modal. Dalam hal demikian,
seorang investor cukup memberikan sejumlah uang untuk dikelola oleh Manajer
Investasi yang memang sudah professional untuk itu.37
35Ibid.,hlm. 3
2. Karakteristik Reksadana
Karakteristik reksadana sangat penting diketahui oleh para investor, sebagai
acuan sebelum berinvestasi pada reksadana ini, dengan demikian para investor lebih
berhati-hati untuk mengambil keputusan berinvestasi pada reksadana ini serta agar
para investor dapat menjalankan investasinya dengan baik dan benar. Reksadana
mempunyai 5 (lima) karakteristik, yaitu:38
1. Kumpulan dana dan pemilik, dimana pemilik reksadana adalah berbagai pihak
yang menginvestasikan atau memasukkan dananya ke reksadana dengan berbagai
variasi. Artinya, investor dari reksadana dapat perorangan dan lembaga dimana
pihak tersebut melakukan investasi ke reksadana sesuai dengan tujuan investor
tersebut.
2. Diinvestasikan kepada efek yang dikenal dengan instrumen investasi. Dana yang
dikumpulkan dari masyarakat tersebut diinvestasikan ke dalam instrumen
investasi seperti rekening koran, deposito, surat utang jangka pendek, surat utang
jangka panjang seperti Obligasi dan efek saham maupun efek yang berisiko tinggi
seperti opsi,futuredan sebagainya.
3. Reksadana tersebut dikelola oleh Manajer Investasi. Manajer Investasi ini dapat
diperhatikan dari dua sisi yaitu sebagai lembaga dan sebagai perorangan.
38Adler Haymans Manurung,Reksa Dana Investasiku, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2007),
4. Reksadana merupakan instrumen investasi jangka menengah dan panjang.
Karakteristik keempat ini merupakan karakteristik yang tidak tertulis secara jelas
tetapi merupakan karakteristik yang tersirat dari konsep tersebut.
5. Reksadana merupakan produk investasi yang berisiko. Berisikonya reksadana
karena oleh instrumen investasi yang menjadi portofolio reksadana tersebut, dan
pengelola reksadana (Manajer Investasi) yang bersangkutan. Berisikonya
reksadana karena harga instrumen portofolionya yang berubah setiap waktu.
3. Jenis-Jenis Reksadana
Hal yang penting bagi investor sebelum melakukan investasi pada reksadana
adalah jenis-jenis reksadana, karena investor harus sudah mengetahui jenis reksadana
apa yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan investasinya.39
Di Indonesia perusahaan yang menyelenggarakan reksadana ini belum banyak
dan juga belum begitu popular. Di dalam Undang-undang Pasar Modal dan peraturan
pelaksanaannya yang dikeluarkan oleh Bapepam juga tidak ditemukan jenis-jenis
reksadana, seperti yang akan dibahas berikut ini. Undang-undang Pasar Modal hanya
menyinggung sedikit tentang adanya reksadana terbuka dan reksadana tertutup,
namun tanpa penjelasan lebih lanjut, terutama mengenai reksadana tertutup yang
tidak diketemui penjelasannya.
39Eko Priyo Pratomo, Ubaidillah Nugraha,Reksa Dana Solusi Perencanaan Investasi di Era Modern,
Dari sisi peraturan Bapepam-LK, reksadana Indonesia dibagi dalam 4 (empat)
jenis kategori, dimana penggolongan jenis reksadana ini memang berdasarkan
kategori instrumen di mana reksadana melakukan investasi, yaitu:40
1. Reksadana Pasar Uang (RDPU)
Reksadana Pasar Uang didefinisikan sebagai reksadana yang melakukan
investasi 100% pada efek pasar uang.
Efek pasar uang sendiri didefenisikan sebagai efek-efek utang yang berjangka
kurang dari satu tahun. Secara umum, instrumen atau efek yang masuk dalam
kategori ini meliputi Deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Obligasi serta efek
utang lainnya dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Reksadana Pasar Uang
merupakan reksadana dengan tingkat risiko paling rendah.
Tujuan investasi RDPU umumnya untuk perlindungan kapital dan juga untuk
menyediakan likuiditas yang tinggi sehingga jika dibutuhkan, kita dapat
mencairkannya setiap hari kerja dengan risiko penurunan nilai investasi yang hampir
tidak ada.
2. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT)
Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT) adalah reksadana yang melakukan
investasi sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek
bersifat utang. Efek bersifat utang umumnya memberikan penghasilan dalam bentuk
bunga, seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi, dan instrumen
lainnya.
Umumnya RDPT memberikan pembagian keuntungan berupa uang tunai
(dividen) yang dibayarkan secara teratur, misalnya 3 bulanan, 6 bulanan atau
tahunan. Pembagian keuntungan ini mirip pembayaran bunga deposito yang dapat
dianggap sebagai pendapatan rutin untuk kebutuhan tertentu.
3. Reksadana Saham (RDS)
Reksadana Saham (RDS) adalah reksadana yang melakukan investasi
sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat
ekuitas (saham).
4. Reksadana Campuran (RDC)
Tidak seperti RDPU, RDPT, dan RDS yang mempunyai batasan alokasi
investasi yang boleh dilakukan, Reksadana Campuran (RDC) dapat melakukan
investasinya baik pada efek utang maupun ekuitas dan porsi alokasi yang lebih
fleksibel. Per defenisi, RDC adalah reksadana yang melakukan investasi dalam efek
ekuitas dan efek utang yang perbandingannya (alokasi) tidak termasuk dalam
kategori RDPT dan RDS.
Melihat fleksibilitas baik dalam pemilihan jenis investasinya (saham atau
obligasi atau deposito atau efek lainnya) serta komposisi alokasinya, RDC dapat
berorientasi ke saham, ke obligasi atau bahkan ke pasar uang tergantung pada kondisi
pasar dengan melakukan aktivitas trading, atau sering juga disebut usaha melakukan
4. Tujuan Investasi Reksadana
Adapun yang menjadi tujuan investasi reksadana adalah41
:
1. Growth fund, yaitu Reksadana yang menekankan pada upaya mengejar pertumbuhan
nilai reksadana. Reksadana jenis ini biasanya mengalokasikan dananya pada saham.
2. Income fund, yaitu Reksadana yang mengutamakan pendapatan konstan. Reksadana
jenis ini mengalokasikan dananya pada surat utang atau obligasi.
3. Safety fund, yaitu Reksadana yang lebih mengutamakan keamanan daripada
pertumbuhan. Reksadana jenis ini umumnya mengalokasikan dananya di pasar uang,
seperti deposito berjangka, sertifikat deposito dan surat utang jangka pendek.
C. Tinjauan Umum Tentang Investor
1. Pengertian Investor
Investor berasal dari Bahasa Inggris, yang dalam Bahasa Indonesia artinya
adalah Penanam Modal.42 Investor yang dimaksud dalam ini artinya tidak sama
dengan investor yang tertera dalam Undang-Undang Nomor. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal. Karena Investor dalam Undang-Undang Penanaman Modal
tersebut artinya adalah perorangan atau badan usaha yang melakukan penanaman
modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing.
Sedangkan, investor yang dimaksud dalam ini adalah perseorangan atau
badan usaha yang melakukan penanaman modal pada produk investasi atau efek
41 Adek Suryani Lubis,: Akibat Hukum Wanprestasi Reksadana Dikaitkan Dengan Perlindungan
Hukum Terhadap Investor (Studi Di BNI 46 Cab. Medan), (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), hlm. 44.,
42 Salim HS., Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
reksa dana dimana investor tersebut menggunakan jasa penitipan kustodian melalui
perbankan untuk menitipkan dana investor tersebut dan dana itu dikelola oleh
Manajer Investasi yang akan menetukan jenis investasi apa yang akan digunakan.
Arti investor secara mendasar adalah penanam uang atau modal; orang yang akan
menanamkan uangnya dalam usaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan.43
2. Jenis-Jenis Investor
Ada tiga jenis investor dalam reksadana, yaitu44
:
1. Risk Taker atau Risk Lover atau Risk Seeker, yaitu investor yang berani mengambil resiko, yaitu jika ingin untung besar harus berani mengambil resiko
yang juga besar. Investor seperti ini berasal dari mantan pengusaha, atau mantan
penjudi, atau mantan koruptor. Jenis investor Risk Taker sangat cocok ditawari Reksadana Saham.
2. Risk Averter atau Risk Aversion, yaitu investor yang takut merugi, yang berasal dari karyawan menengah ke bawah, pegawai negeri menengah ke atas, dan
masyarakat menengah ke bawah. Jenis investor Risk Averter ini cocok ditawari Reksadana Pendapatan Tetap. Jenis investor Risk Averter tidak mengaharapkan keuntungan setinggi-tingginya, tetapi lebih senang keuntungan di atas deposito
asalkan tetap aman dan tidak rugi.
43Tri Kurnia Nurhayati,Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jakarta: Eska Media Press, 2005), hlm.
314.
3. Moderate Investor, yaitu investor yang menghendaki keuntungan yang sedang dengan risiko moderat, yaitu keuntungan di atas obligasi tetapi aman. Jenis
moderate investor berasal dari kalangan artis, olahragawan, pegawai menengah ke atas, dan kalangan masyarakat menengah ke atas. Jenis moderate investor
cocok ditawari Reksadana Campuran
3. Syarat-Syarat Investor
Dari sisi peraturan dan kelengkapan administrasi ada 5 persiapan yang harus
dipenuhi untuk bisa menjadi investor reksadana antara lain45:
1. Memenuhi syarat administrasi dasar yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan
NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Tanpa kedua dokumen ini, proses
pembukaan rekening, pembelian dan penjualan reksa dana akan menjadi lebih
sulit.
2. Mempersiapkan kondisi finansial dengan baik. Definisi baik tidaknya kondisi
finansial adalah minimal:
a. Memiliki dana cadangan minimal senilai 6-12 bulan pengeluaran
b. Tidak memiliki angsuran mobil dan rumah yang nilainya lebih dari 30%
pendapatan bulanan
c. Tidak memiliki hutang kartu kredit/hutang konsumtif lainnya.
45 Dikutip dari
3. Membuat perencanaan investasi yang komprehensif. Perencanaan yang
komprehensif memiliki ciri-ciri antara lain memiliki kejelasan tentang APA
tujuan investasi, BERAPA nilai tujuan yang harus dicapai, KAPAN tujuan
tersebut harus mencapai dan BAGAIMANA strategi yang akan dipergunakan
untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Menyiapkan strategi investasi reksadana yang sesuai dengan kemampuan
finansial dan rencana investasi. Secara umum strategi investasi reksadana bisa
dilakukan dengan:
a. Investasi sekaligus di awal (Lumpsum Investment) b. Investasi berkala secara periodik (Cost Averaging)
c. Investasi dengan mempertahankan komposisi investasi (Rebalancing and Diversification)
d. Investasi dengan fokus pencapaian tujuan investasi (Dynamic Rebalancing and Averaging)
5. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita akan cara kerja reksadana,
pemilihan reksadana yang berkinerja baik dan isu-isu terkait investasi reksadana
itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengambil kursus investasi,
belajar dari sumber-sumber yang kompeten seperti tabloid dan situs ataupun bisa
D. Tinjauan Tentang Wanprestasi
1. Pengertian Wanprestasi
Wanprestasi (default atau non fulfiment ataupun yang disebut juga dengan istilah breach of contract) adalah tidak dilaksanakan prestasi atau kewajiban sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-pihak tertentu
seperti yang disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan.46
Dalamrestatement of the law of contracts (Amerika Serikat) wnprestasi atau
breach of contracts dibedakan menjadi dua macam, yaitu total breachts dan partial breachts. Total breachts artinya pelaksanaan kontrak tidak mungkin dilaksanakan, sedangkan partial breachts artinya pelaksanaan perjanjian masih mungkin untuk dilaksanakan.47
2. Syarat-Syarat Dapat Dikatakan Wanprestasi
Debitur dapat dikatakan dalam keadaan wanprestasi ada syarat-syarat tertentu
yang harus dipenuhi yaitu48:
1. Syarat meteriil, yaitu adanya kesengajaan berupa:
a. Kesengajaan, adalah suatu hal yang dilakukan seseorang dengan di kehendaki
dan diketahui serta disadari oleh pelaku sehingga menimbulkan kerugian pada
pihak lain;
46Salim H.S.Op. Cit., hlm 98-99. 47
Ibid
48 Mirwan Syarief Bawazier, Tesis: Akibat Hukum Jika Debitor Wanprestasi Dalam Pembiayaan
b. Kelalaian, adalah suatu hal yang dilakukan dimana seseorang yang wajib
berprestasi seharusnya tabu atau patut menduga bahwa dengan perbuatan atau
sikap yang diambil olehnya akan menimbulkan kerugian
2. Syarat formil, yaitu adanya peringatan atau somasi
Hal kelalaian atau wanprestasi pada pihak debitur harus dinyatakan dahulu
secara resmi, yaitu dengan memperingatkan debitur, bahwa kreditur menghendaki
pembayaran seketika atau dalam jangka waktu yang pendek. Biasanya peringatan
(sommatie) itu dilakukan oleh seorang juru sita dari Pengadilan, yang membuat proses verbal tentang pekerjaan itu, atau juga cukup dengan surat tercatat atau surat
kawat, asalkan jangan sampai dengan mudah dipungkiri si debitur
3. Jenis-Jenis Wanprestasi
Mariam Darus menyebutkan wujud dari tidak memenuhi perikatan
(wanprestasi) terbagi tiga yaitu49:
1. Debitur sama sekali tidak memenuhi perikatan,
2. Debitur terlambat memenuhi perikatan,
3. Debitur keliru atau tidak pantas memenuhi perikatan.
Sementara itu, R. Subekti menyebutkan wanprestasi (kelalaian atau kealpaan)
seorang debitur dapat berupa empat macam50:
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;
c. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Untuk mengetahui sejak kapan debitur dalam keadaan wanprestasi, perlu
diperhatikan apakah dalam perikatan itu ditentukan tenggang waktu pelaksaanaan
pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan
prestasi “tidak ditentukan”, perlu memperingatkan debitur supaya ia memenuhi
prestasi. Tetapi dalam hal telah ditentukan tenggang waktunya, menurut ketentuan
pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya tenggang waktu
yang telah ditetapkan dalam perikatan.51
51Lihat Pasal 1238 KUH Perdata bahwa“siberutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah
BAB III
PEMBAHASAN
A. Perlindungan Hukum Investor Reksadana Akibat Wanprestasinya PT.
DANAREKSA (Persero)
Reksadana merupakan suatu bentuk pemberian jasa yang didirikan untuk
membantu investor yang ingin berpartisipasi dalam Pasar Modal tanpa adanya
keterlibatan secara langsung dalam prosedur, administrasi dan analisis dalam sebuah
pasar modal.
Dalam membeli produk reksadana, setiap investor akan mendapatkan bukti
satuan kepemilikan reksadana yang dinamakan dengan Unit Penyertaan atau saham.
Dengan bukti Unit Penyertaan atau saham ini, investor dalam reksadana dapat
dengan mudah menjual kembali reksadana tersebut atau dapat meminta laporan hasil
pendapatan atas investasi portofolio reksadana yang dilakukan oleh Manajer
Investasi.
Pengelola Reksa Dana “memutar” dana yang telah ditanamkan investor
melalui Bank Kustodian, mengacu pada kebijakan portofolio investasi yang
dijalankan perusahaan pengelola Reksa Dana tersebut. Pengelola Reksa Dana secara
teratur melakukan pemantauan dan penyesuaian kebijakan portofolio investasinya
Dalam melakukan investasi di Reksadana yang sangat diperlukan oleh
Investor adalah apabila ia berkecimpung dalam Investasi Reksadana mereka akan
mengharapkan mendapatkan perlindungan, kepastian dan penegakan hukum.
Penegakan hukum di pasar modal merupakan bagian terpenting dalam rangka
melahirkan industri pasar modal yang efisien, transparan dan terpercaya bagi setiap
pihak yang melakukan kegiatan investasi di dalamnya. Penegakan hukum merupakan
alat untuk menghasilkan kepastian dan perlindungan hukum bagi Investor, pemodal
atau pihak-pihak lain di pasar modal secara umum. Kepastian dan perlindungan
hukum menjadi barometer untuk menghasilkan kepercayaan pasar (market confidence), sehingga dapat membangunpublic trustyang menjadi ukuran hidup atau matinya pasar itu sendiri.52
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal dari sasaran
pembentukannya, maka ada beberapa hal yang ingin dicapai dalam pelaksanaannya,
yaitu53:
1. Menciptakan kerangka hukum yang kokoh;
2. Meningkatkan transparansi dan menjamin perlindungan terhadap masyarakat pemodal;
3. Meningkatkan profesionalisme pelaku pasar modal sehingga dapat meningkatkan objektifitas, kewajaran dan efisiensi serta keterbukaan di pasar modal;
4. Menciptakan sistem perdagangan yang aman, efisien dan likuid; 5. Penegakan hukum dengan memberikan sanksi yang tegas terhadap
pelanggaran rambu-rambu hukum di bidang pasar modal yang dilakukan oleh para pelaku pasar modal terkait, baik berupa sanksi
52 Dikutip dari http://ashibly.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html,
Ashibly, Perlindungan Hukum Bagi Investor Dalam Investasi Reksadana, diakses 16Juli 2013.
administratif, perdata maupun pidana yang berkualifikasi pelanggaran atau kejahatan;
6. Penyediaan kesempatan berinvestasi bagi pemodal kecil.
Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai
peluang keuntungan, Reksadana pun mengandung risiko dimana risiko ini dapat
timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksadana tidak
segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan
saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang
terkait dengan Reksadana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran (seperti tindak
pidana penipuan, pengelabuan, manipulasi pasar, insider trading, praktek tanpa izin,
dan lain-lain) atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB
Reksadana.
Hak-hak investor sering kali tidak dapat dilaksanakan bahkan kerugian dalam
pelaksanaan kegiatan usaha pasar modal. Kejadian seperti ini akan memunculkan
masalah antara investor dengan perusahaan pasar modal yang diawali dengan
pengaduan oleh investor terhadap perusahaan tersebut. Hal yang diadukan oleh
investor harus dapat diselesaikan oleh perusahaan pasar modal tersebut dengan baik
agar tidak berpotensi menjadi perselisihan atau sengketa yang pada akhirnya akan
merugikan perusahaan tersebut mauun investor. Penyelesaian sengketa antara
investor dengan PT. Danareksa dapat dilakukan melalui jalur pengadilan atau melalui
Perlindungan Hukum Investor Reksadana Akibat Wanprestasinya Manajer
Investasi adalah sebagai berikut :
1. Perlindungan Hukum Melalui Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia
(BAPMI)
Lembaga BAPMI sudah berdiri sejak Agustus 2002. Tujuan pendirian
BAPMI adalah untuk menyediakan wahana penyelesaian sengketa di luar pengadilan
khusus di bidang pasar modal. Dengan jalur ini, para pendiri BAPMI berharap proses
penyelesaian sengketa bisa berlangsung lebih cepat dan murah. Tentu, keputusannya
tetap mengikat dan adil.
BAPMI menangani sengketa hanya apabila diminta oleh pihak-pihak yang
bersengketa. Namun tidak semua persengketaan dapat diselesaikan melalui BAPMI,
syaratnya adalah54:
a. hanya mengenai persengketaan perdata para pihak sehubungan dengan kegiatan di bidang Pasar Modal, bukan merupakan perkara pidana dan administrasi, seperti manipulasi pasar, insider trading, dan pembekuan/pencabutan izin usaha;
b. terdapat kesepakatan di antara para pihak yang bersengketa bahwa persengketaan akan diselesaikan melalui BAPMI;
c. terdapat permohonan tertulis dari pihak-pihak yang bersengketa kepada BAPMI;
d. membayar biaya yang terdiri dari biaya pendaftaran, biaya pemeriksaan dan komisi (fee).
Berdasarkan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
bahwa BAPMI menyediakan 3 mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan,
yakni Mediasi, Arbitrase dan Pendapat Mengikat. Di dalam menjalankan fungsinya
sebagai lembaga APS, BAPMI menjamin profesionalitas, netralitas dan
independensinya.55
1. Mediasi
Mediasi BAPMI adalah cara penyelesaian masalah melalui perundingan di
antara para pihak yang bersengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral dan
independen yang disebut Mediator. Mediator tidak memberikan keputusan atas
masalah, mediator hanya fasilitator pertemuan guna membantu masing-masing pihak
memahami perspektif, posisi dan kepentingan pihak lain sehubungan dengan
permasalahan yang tengah dihadapi dan bersama-sama mencari solusi
penyelesaiannya. Tujuan dari mediasi adalah dicapainya perdamaian di antara para
pihak yang bermasalah.
Biaya administrasi mediasi ini sama dengan pendapat mengikat, yakni Rp 1,6
juta untuk biaya pendaftaran dan Rp 5 juta untuk deposit pemeriksaan. Adapun imbal
jasanya bisa dua macam. Pertama, berdasarkan jumlah yang disepakati dengan nilai
minimal Rp 60 juta. Kedua, antara 0,16% hingga 0,6% dari nilai tuntutan yang
timbul.
2. Pendapat Mengikat
Ada kalanya para pihak dalam suatu perjanjian berbeda pendapat mengenai
suatu persoalan berkenaan dengan perjanjian, misalnya mengenai penafsiran
ketentuan yang kurang jelas atau perubahan pada pelaksanaan perjanjian sehubungan
dengan timbulnya keadaan baru. Secara material pada fase ini belum timbul sengketa,
namun untuk menghindari permasalahan menjadi semakin membesar, para pihak
meminta kepada pihak ketiga yang dianggap netral dan ahli untuk memberikan
pendapatnya atas persoalan itu agar tidak ada lagi penafsiran lain.
Berdasarkan penjelasan itu, Pendapat Mengikat BAPMI adalah pendapat yang
diberikan oleh BAPMI atas permintaan para pihak mengenai penafsiran suatu
ketentuan yang kurang jelas di dalam perjanjian agar di antara para pihak tidak terjadi
lagi perbedaan penafsiran yang bisa membuka perselisihan lebih jauh. Sesuai dengan
namanya, pendapat ini bersifat final dan mengikat kepada para pihak. Setiap tindakan
yang bertentangan dengan Pendapat Mengikat dianggap sebagai pelanggaran
perjanjian.
Berbeda dengan Mediasi dan Arbitrase yang dilakukan oleh Mediator/Arbiter
BAPMI, pemberian Pendapat Mengikat dilakukan sendiri oleh BAPMI sebagai
institusi, yang dalam hal ini diwakili oleh Pengurus BAPMI secara kolektif. Oleh
karena itu di dalam proses Pendapat Mengikat di BAPMI tidak mengenal penunjukan
pihak ketiga yang dianggap netral dan ahli oleh para pihak, melainkan dengan
sendirinya pihak ketiga yang dimaksud adalah Pengurus BAPMI.
3. Arbitrase
Arbitrase BAPMI adalah cara penyelesaian sengketa dengan cara
menyerahkan kewenangan kepada pihak ketiga yang netral dan independen yang
disebut Arbiter untuk memeriksa dan mengadili perkara pada tingkat pertama dan
terakhir. Keputusan yang dijatuhkan oleh Arbiter tersebut bersifat final dan mengikat
Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa Arbitrase BAPMI
pada hakekatnya mirip dengan Pengadilan, dan Arbiter dalam proses Arbitrase adalah
layaknya hakim pada proses litigasi, yang membedakannya adalah:
1. Arbitrase merupakan pilihan dan kesepakatan para pihak yang bersengketa; 2. Proses Arbitrase baru dapat dilaksanakan setelah ada permohonan dari pihak
yang bersengketa kepada BAPMI;
3. para pihak berhak menentukan apakah Arbiter akan berjumlah satu (Arbiter Tunggal) atau lebih (Majelis Arbitrase);
4. Para pihak bebas menentukan tempat Arbitrase; 5. Para pihak berhak memilih Arbiter;
6. Arbiter dipilih berdasarkan keahliannya;
7. Proses persidangan dilangsungkan menurut peraturan BAPMI; 8. Persidangan Arbitrase berlangsung tertutup untuk umum; 9. Putusan Arbitrase tidak mengenal preseden atau yurisprudensi;
10. Arbiter dapat mengambil keputusan atas dasar keadilan dan kepatutan (ex aequo et bono), tidak semata-mata atas dasar ketentuan hukum; dan
11. Putusan Arbitrase tidak dapat diajukan banding.
Biaya proses penyelesaian melalui arbitrase di BAPMI memungut sejumlah
imbal jasa. Saat ini, besarnya imbal jasa adalah antara 0,24% sampai 8% dari nilai
tuntutan.
2. Perlindungan Hukum Melalui Pengadilan
a. Tahap Pemeriksaan Oleh Bapepam
Dalam rangka pemeriksaan, Bapepam dapat meminta keterangan dan atau
konfirmasi, serta memeriksa catatan, pembukuan, dan atau dokumen lain dari pihak
yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang
Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya ataupun pihak lain apabila dianggap
Kewenangan-kewenangan Bapepam dalam rangka pemeriksaan sebagaimana
diatur dalam Pasal 100 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 adalah56:
a. meminta keterangan dan atau konfirmasi dari Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya atau Pihak lain apabila dianggap perlu;
b. mewajibkan Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu;
c. memeriksa dan atau membuat salinan terhadap catatan, pembukuan, dan atau dokumen lain, baik milik Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya maupun milik Pihak lain apabila dianggap perlu; dan atau
d. menetapkan syarat dan atau mengizinkan Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya untuk melakukan tindakan tertentu yang diperlukan dalam rangka penyelesaian kerugian yang timbul.
Berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 1995, kegiatan pemeriksaan adalah
serangkaian kegiatan mencari, mengumpulkan, dan mengolah data dan atau
keterangan lain yang dilakukan oleh Pemeriksa untuk membuktikan ada atau tidak
adanya pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
Tujuan dari pemeriksaan adalah untuk membuktikan ada atau tidak adanya
pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.57
56
Akmal Sukrizal, Tesis: Penegakan Hukum Terhadap Reksa Dana Tanpa Izin di Pasar Modal Indonesia (Studi Kasus Reksa Dana Prudence Asset Management), (Yogyakarta: Sekolah PascasarjaUniversitas Gadjah Mada, 2008), hal. 42., diambil dari Electronic Theses & Dissertations Gadjah Mada University, diakses pada tanggal 3 Juli 2013..
Pemeriksaan dapat dilakukan dalam hal (Pasal 2 ayat (2) PP 46 Tahun
1995)58:
a. adanya laporan, pemberitahuan atau pengaduan dari pihak tentang adanya pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal;
b. tidak dipenuhinya kewajiban yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang memperoleh perizinan, persetujuan atau pendaftaran dari Bapepam atau pihak lain yang dipersyaratkan untuk menyampaikan laporan kepada Bapepam; atau
c. terdapat petunjuk tentang terjadinya pelanggaran atas peraturan perundang undangan di bidang Pasar Modal.
Berdasarkan Peraturan Bapepam Nomor II.F.4 tentang Pemeriksaan
Reksadana, Pemeriksaan oleh Bapepam dapat dilakukan sewaktu-waktu apabila
dipandang perlu. Reksadana, Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang berkaitan
dengan Reksadana wajib memperlihatkan buku, catatan dan dokumen-dokumen
kepada pemeriksa, serta memberikan keterangan yang diperlukan dalam rangka
pemeriksaan. Pemeriksa wajib menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan dan
dokumen-dokumennya.59
b. Tahap Penyidikan Oleh Bapepam
Penjelasan Pasal 101 ayat (2) Undang-Undang Pasar Modal mendefinisikan
Penyidikan di bidang Pasar Modal adalah serangkaian tindakan penyidik untuk
mencari serta mengumpulkan bukti yang diperlukan sehingga dapat membuat terang
tentang tindak pidana di bidang pasar modal yang terjadi, menemukan tersangka,
serta mengetahui besarnya kerugian yang ditimbulkannya. Penyidik di bidang pasar
modal adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Bapepam yang
diangkat oleh Menteri Kehakiman sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.60
Dalam kerangka perlindungan investor, BAPEPAM diberi kewenangan oleh
Undang-Undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1995. Pasal 101 UUPM mengatur bahwa dalam hal BAPEPAM
berpendapat pelanggaran terhadap undang-undang ini dan atau peraturan
pelaksanaannya mengakibatkan kerugian bagi kepentingan pasar modal dan atau
membahayakan kepentingan pemodal atau masyarakat, BAPEPAM menetapkan
dimulainya tindakan penyidikan.61
Apabila kerugian yang ditimbulkan membahayakan sistem pasar modal atau
kepentingan pemodal dan atau masyarakat, atau apabila tidak tercapai penyelesaian
atas kerugian yang telah timbul, BAPEPAM dapat memulai tindakan penyidikan
dalam rangka penuntutan tindak pidana
c. Tahap Penuntutan dan Persidangan di Pengadilan
Pasal 1 angka 7 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana),
menyatakan bahwa “penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan
perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam undang-undang ini, dengan permintaan supaya diperiksa dan
diputuskan oleh hakim di sidang pengadilan”.62
Pasal 1 angka 9 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana),
menyatakan bahwa mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima,
memeriksa, dan memutuskan perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak
memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang ini.63
Setelah penyidik melakukan penyelidikan dan tersangka terbukti melakukan
pelanggaran terhadap UUPM, maka terdapat 3 sanksi yang dapat diterapkan oleh
Undang-Undang Pasar Modal, yaitu64
:
1. Sanksi Administratif
Sanksi ini diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap melanggar peraturan
perundang-undangan di bidang pasar modal.
Jenis dari sanksi administratif diantaranya adalah65:
a. Peringatan tertulis
62Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana 63
Ibid.
64Akmal Sukrizal.Op. Cit., hlm. 54
65Hasil wawancara dengan Gunawan Benjamin selaku Perantara Pedagang Efek, Jumat 19 Juli 2013,
2. Sanksi Perdata
Sanksi perdata biasanya diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap
melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan investor.
3. Sanksi Pidana
Undang-undang pasar modal mengancam setiap pihak yang terbukti
melakukan tindak pidana di bidang pasar modal diancam hukuman pidana penjara
bervariasi antara satu sampai sepuluh tahunyang merugikan investor
Ketentuan pidana mengenai Reksadana yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, antara lain66:
Pasal 103:
(1) Setiap pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal 50, dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Setiap Pihak yang melakukan kegiatan tanpa memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 104:
Setiap Pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat (1), dan Pasal 98 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Pasal 105:
Manajer Investasi dan atau Pihak terafiliasinya yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 diancam dengan
pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 106:
(1) Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
(2) Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Pasal 109:
Setiap Pihak yang tidak mematuhi atau menghambat pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dalam hal upaya PT. Danareksa melindungi investasi dana masyarakat adalah
suatu lembaga yang sangat tergantung kepada kepercayaan dari masyarakat, sehingga
tanpa adanya kepercayaan dari masyarakat, tentu PT. Danareksa tidak akan mampu
menjalankan usahanya dengan baik. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila dunia
pasar modal harus sedemikian rupa menjaga kepercayaan dari masyarakat dengan
memberikan perlindungan hukum terhadap kepentingan masyarakat, terutama
kepentingan investor dari yang bersangkutan.
Hubungan hukum antara investor dengan pihak PT. Danareksa adalah
didasarkan atas suatu perjanjian, untuk itu adalah merupakan suatu kewajaran apabila
kepentingan dari investor memperoleh perlindungan hukum, sebagaimana
Setiap tindakan salah satu pihak yang bertentangan dengan hasil perundingan
merupakan tindakan cidera janji (wanprestasi). Undang-undang No. 30 tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Bab II Pasal 6 secara
jelas menyatakan bahwa mediasi sangat tergantung dari itikad baik para pihak, dan
hasilnya sangat tergantung dari kehendak para pihak. Tidak ada ancaman jika salah
satu pihak tidak menjalankan kesepakatan mediasi selain ancaman tuntutan
wanprestasi dari pihak yang berkepentingan.
Masalahnya, sejauh mana kesepakatan ini mempunyai kekuatan hukum
(mengikat). Apabila sudah ada kesepakatan ternyata salah satu pihak wanprestasi,
maka bagaimana agar pihak yang wanprestasi tersebut dituntut untuk melakukan apa
yang menjadi prestasi. Dengan adanya kekuatan mengikat kesepakatan tidak perlu
lagi diulang atau diperiksa oleh pengadilan atau arbitrase. Di sini negara melalui
undang-undang mempunyai peran yang sangat penting. Peran ini adalah
mengupayakan agar akta kesepakatan hasil mediasi dapat disamakan dengan putusan
pengadilan atau putusan arbitrase, dimana kesepakatan tersebut dapat mempunyai
kekuatan eksekutorial agar efiensi dalam hal waktu dan biaya dapat dicapai. Hal ini
sebetulnya bukan hal yang aneh mengingat dalam hukum acara perdata, akta
perdamaian pun dapat dimintakan penetapan.
Di Indonesia proses arbitrase, mediasi (BAPMI) memang untuk sengketa
perdata. Sehingga jika muncul suatu perkara atau sengketa yang mengandung unsur
pidana atau terkait dengan dugaan tindak pidana di bidang pasar modal, perkara
investor dengan PT. Danareksa adalah wewenang dari penegak hukum melalui
pengadilan. Namun dimungkinkan digabungnya pemeriksaan guna penyelesaian
sengketa perdata dengan pidana di pengadilan untuk menuntut jumlah kerugian
materil yang diderita oleh investor jika terbukti telah terjadi suatu tindak pidana
dalam transaksi yang merugikan investor.
Dalam hal dana masyarakat diinvestasi kepada pihak ketiga, pihak PT.
Danareksa tidak ikut bertanggung jawab atas keselamatan dana tersebut. Hal tersebut
dikarenakan kedudukan pihak PT. Danareksa hanya sebagai perantara atau penjual
sedangkan keputusan dana mutlak menjadi kewenangan dan keputusan investor
sendiri. Dalam hal ini upaya PT. Danareksa dalam memberikan perlindungan hukum
Skema Perlindungan Hukum Investor Reksadana Akibat Wanprestasinya
PT. DANAREKSA (Persero)
perjanjian
Sumber : Hasil olahan Penulis
Pasar Modal
Investor Reksadana PT. DANAREKSA Wanprestasi
Perlindungan Hukum Bagi Investor Reksadana
Melalui Pengadilan Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia
Tahap Pemeriksaan
Tahap Penyidikan
Tahap Penuntutan Dan
Persidangan
Mediasi Pendapat
Mengikat
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Perlindungan hukum terhadap investor selalu melekat pada investor dan menjadi
perhatian utama. Upaya hukum terhadap wanprestasi reksadana dapat dilakukan
melalui upaya hukum sengketa pengadilan dan atau melalui alternatif
penyelesaian sengketa pada BAPMI. Dalam hal perlindungan terhadap investor
reksadana di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan berbagai peraturan
perundang-undangan antara lain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal, Undang-Undang Nomor Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa.
2. Saran
Setelah melihat berbagai kondisi yang ada, penulis mengajukan beberapa
saran sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat atas keberadaan Reksadana PT.
Danareksa agar semakin mudah memahami sistem kerja reksadana dan juga harus
didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang professional.
2. Perlindungan hukum terhadap investor harus selalu menjadi perhatian utama
Manajer Investasi untuk selalu menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya
dan mengedepankan transparansi demi mencegah hal-hal yang dapat merugikan
investor.
3. Bapepam diberi amanah yang sangat besar dalam menjaga roda perekonomian
negara dari sektor pasar modal, khususnya Reksadana. Guna menjalankan tugas
yang berat dan menunjang kinerja yang profesional, maka Bapepam harus terdiri
dari orang-orang yang terampil, cerdas, berani, peka dan tegas, khususnya para
pejabat-pejabat tingginya. Maka dari itu, sebaiknya proses pengisian jabatan
dalam instansi pemerintah tersebut dilakukan secara ketat dan transparan, agar
Bapepam semakin mampu memberikan perlindungan bagi investor secara
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Badrulzaman, Mariam D. 2005. KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan
Penjelasan. Bandung: PT. Alumni Bandung.
Budiono, Herlien. 2010. Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di
Bidang Kenotariatan. Bandung: PT. Citra Aditya.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Ikhtisar Indonesia Edisi
Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.
Fuady, Munir. 1996.Pasar Modal Modern Cetakan ke-1. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Hadisoeprapto, Hartono. 1996. Pokok-Pokok Hukum Perikatan Dan Hukum
Jaminan. Yogyakarta: Liberty.
Manurung, Adler Haymans. 2007. Reksa Dana Investasiku. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Moechdie, Abi Hurairah & Haryajid Ramelan. 2012. Gerbang Pintar Pasar Modal. Jakarta: Capital Bridge Advisory.
Nasarudin, M. Irsan dan Indra Surya. 2010. Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia
cetakan ke-6. Jakarta: Kencana.
Pratomo, Eko Priyo dan Ubaidillah Nugraha. 2009. Reksa Dana Solusi
Perencanaan Investasi di Era Modern, Edisi Revisi 2. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Salim HS. 2008. Hukum Kontrak, Teori & Teknik Penyusunan Kontrak. Jakarta : Sinar Grafika.
Samsul, Mohammad. 2006. Pasar Modal & Manajemen Portofolio. Jakarta: Erlangga.
Satjipto, Rahardjo. 2001.Hukum Melindungi Kepentingan. Bandung: Tarsito.
Sitompul, Asril. 2000. Reksa Dana Pengantar dan Pengenalan Umum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Sudarsono. 2007.Kamus Hukum, Jakarta: Rineka Cipta.
Tri Kurnia Nurhayati. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Eska Media Press.
Widjaja, Gunawan dan Almira Prajna Ramaniya. 2006.Reksa Dana dan Peran Serta Tanggung Jawab Manajer Investasi dalam Pasar Modal. Seri Pengetahuan Pasar
Modal. Jakarta: Prenada Media Group.
Undang-Undang
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Kitab Undang Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetbook)
Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan Di
Bidang Pasar Modal