• Tidak ada hasil yang ditemukan

02.PENYELIDIKAN BATUBARA DAERAH JASA WAKSEPAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "02.PENYELIDIKAN BATUBARA DAERAH JASA WAKSEPAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENYELIDIKAN BATUBARA DAERAH JASA-WAKSEPAN KAB. SINTANG, PROV. KALIMANTAN BARAT

Eko Budi Cahyono

Kelompok Program Penelitian Energi Fosil

S A R I

Penyelidikan batubara di daerah Jasa - Waksepan dan sekitarya, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dilakukan dalam rangka pencarian potensi bahan galian khususnya batubara yang berada di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan batubara dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder berupa pencarian data dan informasi mengenai daerah yang bersangkutan, baik dari informasi dari pemerintah setempat, data pendukung geologis, penyelidik terdahulu dan segala informasi yang menunjang. Sedangkan penyelidikan di lapangan sebagai bentuk kegiatan primer dengan cara pencarian singkapan batubara dan mendapatkan informasi dari pemerintah serta penduduk setempat.

Secara umum geologi daerah peyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Ketungau. Secara stratigrafi formasi pembawa batubara di daerah peyelidikan adalah Formasi Ketungau, dimana luas wilayah formasi ini sebagian besar meluti di daerah penyelidikan.

Hasil penyelidikan di lapangan didapatkan lokasi singkapan batubara sebanyak 6 buah yang tersebar pada Formasi Ketungau dengan arah umum strike singkapan batubara adalah barat – timur, dengan kemiringan singkapan relatif datar, antara 6 O - 12 O. Ketebalan singkapan sangat tipis, berkisar antara 0,2 – 0,6 m. Analisa dari data laboratorium didapatkan nilai kalori rata-rata batubara sebesar 7.000 kal/gr (adb), dimana batubara mempunyai nilai kualitas tinggi.

Total perhitungan sumber daya batubara di daerah Jasa-Waksepan didapatkan sebesar 3.371.901,98 ton, dan hasil korelasi lapisan hanya terdapat 1 seam yang ada di wilayah ini, dengan bentangan lapisan batubara yang memanjang dari Desa Riam Sejawak hingga Nanga Bayan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam rangka usaha peningkatan tersedianya data dan informasi mengenai potensi batubara di daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, maka pemerintah mulai melakukan penyelidikan batubara dan mencari potensi serta sumberdaya energi, dalam rangka pemenuhan akan kualitas dan kuantitas komoditi wilayah, baik bagi kepentingan pemerintah daerah maupun

pemerintah pusat dalam rangka pemenuhan dan peningkatan ketersediaan data yang terbaru. Hal ini juga terkait dengan penyusunan neraca sumber daya batubara dan gambut serta peningkatan investasi di bidang eksplorasi batubara.

Maksud Dan Tujuan

(2)

ketebalan, jumlah lapisan, kemiringan, penyebaran dan aspek-aspek geologinya.

Tujuannya adalah untuk mengetahui potensi batubara di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia, baik kualitas maupun kuantitasnya. Selain itu, penyelidikan batubara dapat menambah data potensi batubara pada bank data di Pusat Sumber Daya Geologi dalam rangka penyediaan informasi bagi pemerintah dan menarik minat investor dalam pengembangan pertambangan batubara.

Lokasi Daerah Penyelidikan

Lokasi penyelidikan terletak sekitar 250 km ke arah timur dengan jalan darat dari Kota Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat menuju Kota Sintang, ibukota Kabupaten Sintang, kemudian 150 km ke arah barat laut menuju Kota Senaning dengan jalan air/darat.

Secara administratif lokasi penyelidikan berada di wilayah Kecamatan Senaning. Dan secara geografis berada pada 0o 45’ – 1o 03’ LU dan 111o 00’ – 111o 15’ BT. (Gambar 1)

Keadaan Lingkungan

Penduduk yang berdomisili di daerah penyelidikan secara umum cukup beragam baik penduduk asli atau penduduk pendatang dari daerah lain. Penduduk asli didominasi oleh suku Dayak dan suku Melayu sedangkan pendatang adalah penduduk transmigrasi asal Pulau Jawa dan sebagian lagi pendatang dari daerah lain di Kalimantan Barat. Pekerjaan penduduk antara lain berusaha di bidang pertanian, perkebunan, perdagangan, buruh, nelayan dan pegawai pemerintahan, sedangkan agama yang dianut umumnya adalah agama Nasrani

dan Islam. Dari data BPS kalbar Tahun 2006 disebutkan bahwa Jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2006 berjumlah sekitar 4,12 juta jiwa (angka proyeksi), dimana sekitar 2,11 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2,01 juta jiwa adalah perempuan. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat sebesar 146.807 Km2 atau lebih besar dari Pulau Jawa, maka kepadatan penduduk Kalimantan Barat baru sekitar 28 Jiwa per kilometer persegi.

Tingkat perekonomian penduduk di daerah ini relatif cukup baik demikian juga ketersedian bahan-bahan pokok cukup mudah dengan faktor pendukung adalah terdapatnya perkebunan karet dan pemukiman transmigrasi. Sarana dan pra sarana yang tersedia antara lain sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah, jaringan jalan, listrik, puskesmas. Pada beberapa tempat telah tersedia menara untuk keperluan komunikasi telepon selular. Untuk sarana transportasi sebagian daerah terutama yang terpencil masih menggunakan jalur sungai dengan perahu.

(3)

Peralatan Yang Digunakan

Penyelidik Terdahulu

Penyelidik terdahulu belum ada yang secara khusus meneliti sebaran batubara di daerah ini, namun beberapa penyelidik terdahulu yang pernah melakukan penyelidikan di sekitar daerah penyelidikan dapat dijadikan referensi untuk kepentingan informasi sekunder, diantaranya adalah :

1) Pusat Sumber Daya Geologi, 2007. Laporan Inventarisasi dan Penyelidikan Mineral dan Batubara Daerah Perbatasan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dengan Malaysia. Pusat Sumber Daya Geologi – Bandung

2) Dahlan Ibrahim, 2008. Penyelidikan Pendahuluan Bitumen Padat Di Daerah Nanga Dangkan dan sekitarnya, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung

Penyelidik terdahulu umumnya menyebutkan bahwa daerah sekitar penyelidikan terdapat beberapa indikasi adanya sigkapan batubara yang merupakan Coal Bearing Formation (Formasi Pembawa Batubara), dan lapisan pembawa batubara tersebut tersebar luas di wilayah sekitar penyelidikan.

GEOLOGI UMUM

Daerah Tering dan sekitarnya termasuk kedalam Informasi mengenai geologi daerah penyelidikan diperoleh berdasarkan publikasi Peta Geologi Lembar Sintang, Kalimantan, skala 1 : 250.000, terbitan Puslitbang Geologi Bandung (R.Heryanto, B.H. Harahap, P. Sanyoto, P.R. Wiliams dan P.E. Pieters, 1993) dan sebagian Peta Geologi Lembar Nangaobat, Kalimantan, skala 1 : 250.000, P3G Bandung (Y. Noya, P.E. Pieters dan Surono, 1993). (Gambar 2)

Lembar Sintang terletak di bagian tengah Provinsi Kalimantan Barat, secara fisiografi dicirikan oleh dataran rendah, kelompok perbukitan bergelombang rendah serta pegunungan yang mempunyai ketinggian hingga 1.100 m. Secara tektonik pada lembar ini terdapat tiga cekungan daratan muka yaitu Cekungan Ketungau dan Cekungan Mandai di bagian utara dan Cekungan Melawi di bagian selatan. Kedua bagian cekungan ini dipisahkan oleh Punggungan Semitau berumur Pra Tersier. Pada Eosen Akhir diperkirakan cekungan-cekungan tersebut awalnya menyatu, proses tektonik pada Oligo-Miosen membentuk Punggungan Semitau sehingga cekungan yang luas tersebut terbagi menjadi tiga bagian.

Tinggian Semitau memisahkan Cekungan Ketungau dan Mandai Kriau di utara dari Cekungan Melawi di selatan. Cekungan Ketungau membentuk struktur besar dan lebar setengah gelombang mencapai 50 kilometer, cekungan ini tersesarkan terhadap Bancuh Lubuk Antu (komplek Kapuas), di tepi selatan cekungan ini bersentuhan dengan sesar komplek Semitau.

(4)

Ketungau (Teke), Formasi Payak (Teop), Formasi Tutoop (Tetu), Formasi Kantu (Teka), Kelompok Selangkai (Kse) dan Komplek Semitau (CRs). Adapun ciri litologi secara umum masing-masing formasi tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut :

Aluvial (Qal), litologinya terdiri dari lumpur, pasir, kerikil dan bahan tumuhan.

Batuan Terobosan Sintang (Toms), litologinya terdiri dari porfir dasit, mikrogranodiorit, dan mikrogranit.

Formasi Payak (Teop), litologinya terdiri dari perselingan batupasir, batulumpur, batulanau, setempatk kaya fosil. Berumur Oligosen Bawah.

Formasi Ketungau (Teke), litologinya terdiri dari batupasir berfosil jarang, lapisan tipis batubara pada bagian atas. Berumur Eosen Atas – Oligosen Bawah. Batupasir Tutoop (Tetu), litologinya terdiri dari batupasir dengan beberapa konglomerat dan batulumpur, pejal sampai berlapis. Berumur Eosen Atas – Oligosen Bawah.

Formasi Kantu (Teka), litologinya terdiri dari batupasir dengan beberapa konglomerat dan batulumpur pada bagian bawah, perselingan batupasir, batulanau dan batulumpur kelabu atau meah pada bagian atas. Berumur Eosen Atas – Oligosen Bawah.

Kelompok Selangkai (Kse), litologinya terdiri dari batulumpur, batupasir batulanau gampingan sedikit batupasir lumpur berlapis teratur dengan lapisan bersusun, batulumpur kerakalan dan konglomerat. Berumur Kapur Bawah – Kapur Atas.

Kelompok Semitau (CRs), litologinya terdiri dari sekis hijau, batuhijau, amfibolit, sedikit sabak, filit, batutanduk, kuarsit dan serpentinit, karsburgit terubah, setempat granit, granodiorit dan diorit. Berumur Karbon – Jura Bawah

Dari susunan stratigrafi di atas, Formasi Ketungau merupakan formasi pembawa batubara “ Coal Bearing Formation “, sehingga penyelidikan di konsentrasikan pada formasi tersebut, mengingat adanya indikasi keterdapatan lapisan batubara.

Struktur geologi yang berkembang di daerah Jasa – Waksepan dan sekitarnya berupa perlipatan, sesar turun dan sesar naik berarah timur-barat. Struktur geologi yang dominan di daerah penyelidikan adalah sesar dan rekahan, sesar berarah barat - barat laut, ke barat umumnya agak sejajar dengan batas formasi.

Sesar-sesar yang terdapat di daerah ini pada umumnya berupa sesar normal, dimana 2 (dua) sesar utama yang mengontrol perkembangan struktur daerah tersebut, memisahkan tinggian Semitau dari cekungan Ketungau dan Mandai Kriau ke utara dan cekungan Melawi ke selatan.

KEGIATAN PENYELIDIKAN

Mengingat penyelidikan ini dalam taraf survai tinjau (pendahuluan), secara garis besar dilaksanakan 2 tahapan pelaksanaan penyelidikan lapangan yaitu pengumpulan data primer, berupa penyelidikan ke lapangan dengan pencarian, pegukuran, ploting dan pengambilan sampel batubara pada wilayah daerah penyelidikan, dan pengumpulan data sekunder, berupa pengumpulan data dan informasi yang mendukung kegiatan lapangan.

(5)

Analisis Laboratorium

Untuk mengetahui kualitas batubara di daerah penyelidikan, dilakukan analisa kimia (proximat/ultimat) di laboratorum. Conto diambil dari singkapan yang ditemukan, dan dianalisa secara umum kualitas batubara di laboratroum kimia, agar kualitas batubara dapat diketahui.

Analisa conto kualitas batubara di laboratorium untuk mengetahui nilai kalori, kandungan sulfur, kandungan abu dan lain sebagainya. Conto batubara yang dianalisis sebanyak 5 buah, dengan kode ST-52, ST-54, ST-55,DH-07 dan ST-57.(Tabel 2)

Dari hasil analisa laboratorium kimia, didapatkan nilai kalori batubara berkisar antara 3.025 – 7.552 kal/gr (adb). Pada sampel kode St-52 dan ST-54 terdapat anomali kalori yang rendah dibanding sampel lainnya, hal ini dikarenakan oleh adanya sampel yang kurang bagus dalam analisa kimia, yang ditunjukkan dengan adanya nilai ash (abu) tinggi. Kemungkinan sampel dalam analisa banyak mengandung unsur pengotor/lempung, sehingga analisa nilai kalori berdampak rendah. Namun secara umum nilai kalori pada lapisan batubara di daerah penyelidikan merupakan batubara jenis kalori tinggi (high rank coal). Sehingga sampel dengan kode ST-52 dan ST-54 bisa dikatagorikan kurang representatif jika dilihat dari sudut nilai kalori dan nilai abu. Kandungan abu berkisar antara 5,08 – 17,59 % dan sulfur total 0,23 – 0,71 % (cukup rendah). Total moisture (ar) rendah - sedang, berkisar antara 5,08 – 12,88 %, demikian juga kandungan zat terbang (volatile matter), berkisar antara 10,56 – 38,06 %.

Pengolahan Data

Dalam peta geologi dan sebaran batubara hasil penyelidikan lapangan

dapat dilihat bahwa singkapan-singkapan batubara dijumpai pada Formasi Ketungau. Formasi ini merupakan satu-satunya formasi pembawa batubara di wilayah Jasa-Waksepan. Ada juga formasi pembawa batubara lain, yaitu Formasi Kantu, namun keberadaan formasi ini berada di sebelah selatan, diluar daerah penyelidikan.

Titik singkapan batubara yang telah ditemukan dikorelasikan dengan titik singkapan lainnya dalam peta geologi untuk mendapatkan sebaran lapisan batubara. Setelah mengetahui hasil korelasi lapisan batubara, di dalam peta geologi tersebut dibuat model/penampang dari peta geologi yang mewakili semua formasi batuan, terutama formasi pembawa batubara yang didalamnya terdapat singkapan batubara yang telah ditemukan di lapangan. Sehingga nampak gambaran secara vertikal urutan litologi yang mewakili daerah penyelidikan. Hasil korelasi dari lapisan batubara tersebut dipergunakan sebagai unsur penentu sejauh mana penyebaran lateral lapisan batubara tersebut terbentuk dan diendapkan. Nilai dari penyebaran lateral ini sebagai salah satu parameter dalam penghitungan sumber daya lapisan batubara.

HASIL PENYELIDIKAN

Geologi Daerah Penyelidikan

(6)

merupakan perbukitan terjal di bagian utara daerah penyelidikan, dan merupakan batas antar negara Indonesia dan Malaysia. (Gambar 3).

Aliran sungai umumnya mempunyai pola dendritik. Sungai terbesar adalah Sungai Ketungau, yang merupakan sungai utama dan memanjang dari hulu hingga ke daerah ibukota kabupaten. Lebar rata-rata Sungai Ketungau hingga mencapai 100 meter dan bisa mencapai 200 meter jika saat musim hujan/banjir. Anak Sungai Ketungau didaerah penyelidikan umumnya merupakan sungai kecil, dan di anak sugai inilah beberapa singkapan batubara ditemukan.

Berdasarkan letak dan posisi secara geografis di daerah penyelidikan, tatanan stratigrafi terdiri atas Aluvial (Qal), Batuan Terobosan Sintang (Toms), Formasi Ketungau (Teke) dan Formasi Tutoop (Tetu). Dari susunan stratigrafi di atas, Formasi Ketungau merupakan formasi pembawa batubara “ Coal Bearing Formation “, dan singkapan batubara terdapat pada formasi tersebut pada anak-anak Sungai Ketungau

Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan terdapat beberapa indikasi sesar. Berdasarkan dari pengamatan peta geologi daerah peyelidikan, kelurusan sesar berada di bagian bawah/selatan dengan penyebaran dan umunya mempunyai arah baratlaut – tenggara.

Sesar tersebut di atas, tidak banyak mempengaruhi tatatan batuan atau formasi di sekitarnya. Diduga jenis sesar tersebut merupakan jenis sesar geser, namun indikasi dan jejak sesar sulit ditemukan di lapangan. Walaupun demikian, keberadaan sesar-sesar tersebut akan berpengaruh terhadap pembentukan batuan di sekitarnya.

Potensi Endapan Batubara

Berdasarkan dari data singkapan batubara di lapangan, secara megaskopis batubara tersebar pada Formasi Ketungau. Pada Formasi Ketungau ini secara umum kenampakan batubara mempunyai ciri-ciri berwarna hitam-kecoklatan, agak kusam, sebagian kompak, dan dijumpai beberapa pengotor lempung. Ini menunjukkan bahwa secara megaskopis singkapan batubara pada Formasi Ketungau mempunyai indikasi kalori yang sedang-tinggi.

Secara umum kenampakan batubara kompak, hitam-kecoklatan, kilap kusam dan agak ringan, sebagian ada lapisan pengotor lempung. Pengambilan sampel dilakukan dari hasil menyusuri anak-anak sungai dan informasi penduduk sekitar, sehingga singkapan didapatkan dan diukur arah jurus dan kemiringannya, serta posisi singkapan scara koordinat dan di plot pada peta kerja. Rata-rata ketebalan singkapan batubara berkisar antara 0,2 - 0,6 meter.

(7)

penambangan “ underground ”, dimana batubara pada lapisan ini ada perbedaan baik secara fisik dan parameter kualitas, dibandingkan dengan batubara yang berada di wilayah Jasa dan sekitarnya.

Batubara di wilayah Malaysia, merupakan batubara yang berada pada Formasi Silantek, dimana formasi ini berbeda umur pengendapannya dengan Formasi Ketungau. Dari hasil korelasi dan prediksi sementara, Formasi Silantek ini seumur dengan Formasi Kantu. Dimana Formasi Kantu ini tersebar di sebelah timur daerah penyelidikan, yaitu daerah Nanga Kantu/Sungai Kantu, dan sedikit tersebar di bawah selatan Sungai Ketungau, yaitu di daerah sekitar selatan daerah Empura. Ciri-ciri fisik batubara Silantek mempunyai kalori yang lebih tinggi dan ketebalan rata-rata hingga mencapai 2 meter. Kondisi dan parameter batubara ini tidak dijumpai pada batubara pada Formasi Ketungau. Secara geologis, dan parameter yang ditemukan di lapangan, batubara di wilayah Jasa dan sekitarnya berbeda dengan batubara di wilayah Silantek. Namun keberadaan lapisan batubara Silantek ini dapat diperkirakan posisinya berada di bawah Formasi Ketungau. Berdasarkan korelasi dari penampang geologi, sebaran Formasi Silantek di Malaysia menerus dengan Formasi Kantu yang berada di Indonesia, di dalam satu cekungan yang sama yaitu Cekungan Ketungau. Sehingga berdasarkan dari urutan stratigrafi pengendapan yang selaras pada Cekungan Ketungau, dapat ditarik kesimpulan bahwa Formasi Silantek di Malaysia adalah sama dengan Formasi Kantu di Indonesia. Hal ini juga diperjelas dari laporan Eddy. R., 1995 yang telah melakukan penyelidikan batubara di Formasi Kantu di daerah Sungai Tabun dimana Formasi Kantu ini menerus hingga ke Silantek – Serawak,

dan formasi ini disebut sebagai Formasi Silantek (Tan, D.N.K., 1982)

Dari hasil korelasi penampang geologi estimasi lapisan batubara Formasi Silantek/Kantu berada di kedalaman sekitar 1150 meter di bawah perbatasan Indonesia – Malaysia. Dengan asumsi bahwa kemiringan lapisan batubara relatif datar, sekitar 8 - 10o.(Gambar 4). Pertambagan batubara yang berada di Silantek- Malaysia, dapat dimungkinkan mencapai/melewati perbatasan Indonesia jika teknologi tambang batubara Silantek sudah dalam tahap lanjut, dimana memenuhi kriteria antara lain:

1) Mempunyai struktur terowongan dengan bentuk “ concrete-cement “ dengan cara “ grouting “ hingga dasar terowongan

2) Room dan pilar eksploitasi tambang bawah tanah dengan sistematis

3) Transportasi pekerja dan pengangkut batubara (conveyor) harus terpisah

4) Sistem ventilasi udara secara sistematis dan dikontrol secara digital, baik secara vertikal maupun horizontal (intake and outake) 5) Penanganan analisa sampel gas di

tiap-tiap cabang terowongan harus diamati, untuk mencegah adanya gas methan yang membahayakan tambang

6) Keselataman kerja yang cukup memadai kepada alat dan pekerja tambang (masker oksigen,personal safety/apd (alat pengaman diri), dll) 7) Pengontrolan hidrogeologi air

tanah/air sungai, demi mencegah kebocoran tambang akibat luapan aquifer dan sungai atas permukaan 8) Jenis alat eskploitasi tambang

batubara (rock header, drum-cutter, blasting, excavator, sentrifugal core, dll)

(8)

baik, dimana dapat menghubungkan antara di luar tambang (kontorl) dan di dalam tambang

10) Pengukuran dan rencana tambang, dan lain sebagainya

Sistem/kriteria di atas jika terpenuhi, tambang bawah tanah Silantek dapat dieksploitas hingga mencapai kedalaman di atas 1000 meter. Dan harus kita pelajari apakah syarat/kriteria tersebut di atas dapat dibuktikan di dalam tambang, tentunya harus dilakukan pemantauan langsung ke dalam tambang tersebut. Pemantauan dan penyelidikan secara atas permukaan untuk melihat kemenerusan lapisan batubara Formasi Silantek atau kemenerusan terowongan bawah tanah, disamping secara geologi harus dikaji dengan menggunakan metode lain, seperti pendekatan secara geofisik (seismik, sounding, geolistrik dll), pemboran, analisa citra satelit dan sebagainya. Hal ini diperlukan pendekatan dan pembuktian dengan metode lebih lanjut untuk mendapatkan bukti secara akurat dan ilmiah.

Umur dari Formasi Ketungau di wilayah Indonesia hampir seumur dengan Formasi Silantek/Kantu (Eosen Atas – Oligosen Bawah) di bawahnya, dan kedua formasi ini hanya diselingi oleh Formasi Tutoop yang memisahkannya. Secara umum kedua lapisan pembawa batubara ini terdapat lapisan batubara dengan nilai kalori yang tinggi, namun ketebalan lapisan batubara Formasi Silantek/Kantu lebih tebal dibanding lapisan batubara pada Formasi Ketungau di wilayah Indonesia.

Hasil korelasi lapisan batubara dari singkapan batubara di lapangan dan kaidah geologi setempat didapatkan hanya 1 seam. Sedangkan dari hasil penghitungan sumberdaya batubara, didapatkan total sumberdaya batubara

sebesar 3.371.901,98 ton, dengan batasan sumberdaya mencapai kedalaman 50 meter. Dan panjang lapisan lateral searah strike dibatasi sejauh 2000 meter

Prospek Pemanfaatan dan Pengembangan Batubara

Penyebaran lapisan batubara di daerah penyelidikan relatif memanjang dan menerus, dengan ketebalan batubara realtif tipis dengan rata-rata di atas mencapai 0,2 meter. Bila dilihat dari kondisi geologi dapat dimungkinkan adanya pengaruh pengendapan yang relatif singkat terhadap pembentukan coalifikasi yang berdampak pada tingkat kematangan batubara, sehingga daerah tersebut hanya menghasilkan batubara dengan nilai kalori yang sedang-tinggi. Dari hasil analisa kimia terdapat beberapa sampel batubara yang mempunyai nilai kalori tinggi seperti pada sampel ST-55, DH-07 dan ST-57, hampir mencapai 7.000 kal.gr. Nilai sulfur juga cukup rendah dibawah 0,5 %. Ini menunjukkan bahwa lapisan batubara di daerah ini mempunyai nilai kalori dan kualitas yang relatif tinggi. Tidak menutup kemungkinan lapisan batubara di daerah Jasa-Waksepan dapat dijasikan Cooking Coal ?, tentunya memerlukan analisa kimia dan fisika lebih lanjut, seperti adanya parameter uji FSI (free swelling index), Fluidity, Dilatation, Gray King Coke dan Roga Index, dan petrografi organik, untuk memastikan bahwa batubara di wilayah Jasa-Waksepan tersebut memenuhi unsur parameter tersebut di atas.

(9)

kualitas batubara ini lebih tinggi nilai produksinya di pasar ekonomi. Sehingga walaupun dengan ketebalan di bawah 1 meter dapat menghasilkan nilai produksi batubara yang bagus. Tentunya sarana dan prasarana harus cukup menunjang demi kelancaran transportasi dalam mengangkut batubara ini.

.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kegiatan penyelidikan batubara di daerah Jasa – Waksepan dan sekitarnya merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui akan adanya prospek potensi keberadaaan batubara pada wilayah berbatasan negara Indonesia – Malaysia..

Dari semua uraian yang telah di sebutkan pada bab sebelumnya, untuk sementara dalam laporan pendahuluan ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1) Secara umum geologi daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Ketungau, dimana morfologi daerah penyelidikan terdiri atas 80 % morfologi perbukitan dataranl dan 2-% merupakan morfologi perbukitan terjal.

2) Startigrafi daerah penyelidikan secara umum terdiri atas Aluvial, Batuan Terobosan Sintang, Formasi Ketungau dan Formasi Batubara Tutoop. Singkapan batubara hanya ditemukan pada Formasi Ketungau. 3) Hasil lapangan didapatkan 6 titik

singkapan batubara dengan ketebalan seam bervariasi antara 0,2 – 0,6 meter.

4) Dari hasil analisa kimia didapakan bahwa batubara di daerah penyelidikan merupakan katagori batubara kalori sedang - tinggi, dengan nilai kalori sebesar 6.281 –

7.552 kal/gr (adb) atau rata-rata kalori 7.000 kal/gr (adb).

5) Dari hasil analisa, baik dari hasil kandungan nilai kalori, total moisture, volatil-matter, ash-content, sulfur dan lainnya, batubara daerah Jasa-Wakepan cukup bagus, namun ketebalan lapisan batubara yang masih kecil, masih dibawah 1 meter. 6) Hasil perhitungan sumberdaya

batubara didapatkan sebesar 3.371.901,98 ton (tereka).

7) Diharapkan dari data awal ini, dapat dilakukan studi lanjut mengenai potensi batubara daerah Jasa-Waksepan untuk dikembangkan lebih lanjut, terutama mencari kemenerusan sebaran lapisan batubara pada formasi yang sama di daerah lain di sekitarnya, sehingga akan didapatkan ketebalan lapisan batubara yang maksimal.

Kemudian saran yang dapat dikemukakan pada hasil penyelidikan adalah sebagai berikut :

(10)

dengan dengan nilai kalori tinggi yang diinginkan.

2) Perlu adanya informasi data dukung akan keberadaan batubara yang mempunyai nilai kalori tinggi, baik informasi data dari pihak PEMDA terkait dan perusahaaan swasta di sekitar daerah penyelidikan, serta dukungan informasi masyarakat lokal setempat.

DAFTAR PUSTAKA

Distamben Provinsi Kalimantan Barat, 2010. Laporan Peninjauan Pertambangan Batubara Bawah Tanah (Underground Mining) Di Silantek – Serawak, Malaysia

Dahlan Ibrahim, 2008. Penyelidikan Pendahuluan Bitumen Padat Di Daerah Nanga Dangkan dan sekitarnya, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

Pusat Sumber Daya Geologi, 2007. Laporan Inventarisasi dan Penyelidikan Mineral dan Batubara Daerah Perbatasan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dengan Malaysia. Pusat Sumber Daya Geologi - Bandung

Herman D., dkk, 2000, An Outline of The Geology of Indonesia, Indonesian Association of Geologist, IAGI, Jakarta

Heryanto.R, B.H. Harahap, P. Sanyoto, P.R. Wiliams dan P.E. Pieters, 1993. Peta Geologi Lembar Sintang, Kalimantan, skala 1 : 250.000, terbitan Puslitbang Geologi Bandung.

Koesoemadinata, R.P., dan Hardjono., 1977. Kerangka sedimenter endapan batubara Tersier Indonesia. Pertemuan Ilmiah Tahunan ke VI, IAGI.

Noya.Y, P.E. Pieters dan Surono, 1993. Peta Geologi Lembar Nangaobat, Kalimantan, skala 1 : 250.000, P3G Bandung

(11)

Lokasi Daerah Penyelidikan

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Jasa-Waksepan dan Sekitarnya

(12)
(13)

Gambar 4. Korelasi Penampang Lapisan Batubara daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia

Tabel 1. Singkapan Batubara Daerah Penyelidikan

No Kode

Singkapan Lintang Bujur

Jurus/ Kemirin gan

Teb al (m)

Lokasi Deskripsi

1 ST – 52 1

o

1’ 5,1’’ 111

o

9’ 19,5’’ 74 / 8 0,2 S.

Semawang Bb,

htm,ksm,komp,banded, ringan

2 ST – 54 1 o 1’ 1,1’’ 111 o 8’ 51,7’’ 72 / 7 0,4

S. Bluku Bb,

htm,ksm,komp,banded, ringan

3 ST – 55 1o 1’ 0,5’’ 111o 8’ 52,9’’ 70 / 6 0,6

S. Bluku Bb,

htm,ksm,komp,banded, ringan

4 ST – 57 1

o

0’

28,4’’ 111

o

7’ 30,6’’ 80 / 10 0,2

S. Udang Bb,

htm,ksm,komp,banded, ringan

5 DH - 07 1

o

1’ 00,2’’

111o 9’

115,5’’ 0,2

Waksepan Borehole

6 MR – 12 0

o

57’

36,0’’ 111

o

4’ 48,0’’ 42 / 8 0,2

Riam Sejawak

Bb,

htm,ksm,komp,banded, ringan

7 JS – 42 1 o 1’ 12,0’’ 111 o 12’ 0,0’’ 82/ 12 0,2

A.Sungai Jasa

Bb,

(14)

Tabel 2. Tabel Analisa Kimia Proksimat Batubara di Daerah Penyelidikan

No. Conto

Kode Conto

ANALISA

Total Moisture

(%)

Volatile Matter

(%)

FC (%)

Abu (%)

Total Sulfur

(%)

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Jasa-Waksepan dan Sekitarnya
Gambar 3. Peta Geologi dan Sebaran Batubara Daerah Jasa-Waksepan dan Sekitarnya
Gambar 4. Korelasi Penampang Lapisan Batubara daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia
Tabel 2.  Tabel Analisa Kimia Proksimat Batubara di Daerah Penyelidikan

Referensi

Dokumen terkait

Endapan batubara Tempino dan sekitarnya terdapat dalam Formasi Muara Enim, terdiri dari 2 (dua) lapisan utama yang mempunyai ketebalan masing-masing Lapisan A (2,30 -9,50m) dan

Lapisan batubara utama yang bisa ditambang adalah batubara di anggota M2 dari Formasi Muara Enim yaitu lapisan Suban yang mempunyai ketebalan cukup konsisten sekitar 10 m, kecuali

Hal ini menunjukan bahwa peringkat batubara (coal rank) pada conto yang memiliki Rv max yang rendah berasal dari batubara pada Formasi yang relatif lebih muda, yaitu Formasi

Indikasi batubara di daerah penyelidikan ini di tunjukkan oleh adanya suatu lapisan yang mendukung pembentukan batubara, lapisan tersebut mengisi formasi Amasing, dengan

Indikasi batubara di daerah penyelidikan ini di tunjukkan oleh adanya suatu lapisan yang mendukung pembentukan batubara, lapisan tersebut mengisi formasi Amasing, dengan

Lapisan batubara utama yang bisa ditambang adalah batubara di anggota M2 dari Formasi Muara Enim yaitu lapisan Suban yang mempunyai ketebalan cukup konsisten sekitar 10 m, kecuali

Hasil pengukuran penampang lubang bor ( well logging ) dengan metoda Sinar gamma (Gamma-Ray ) memperlihatkan kontras yang jelas untuk lapisan serta ketebalan batubara di

Di lokasi OB-2 terdapat 4 (empat) lapisan batubara, lapisan paling atas merupakan batubara berwarna hitam kecoklat-coklatan, agak kusam, brittle, tebal lapisan yang terukur 0,45 m;