• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perda No. 4 Tahun 2007 tentang Pembentukan Penghapusan dan Penggabungan Desa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perda No. 4 Tahun 2007 tentang Pembentukan Penghapusan dan Penggabungan Desa"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

OGAN KOMERING ULU SELATAN

TAHUN 2007 No. 4

PERATURAN DAERAH

KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN

NOMOR 4 TAHUN 2007

TENTANG

PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI OGAN KOMERING ULU SELATAN,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa jo Ketentuan Pasal 8 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2006 tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan, maka perlu diatur mengenai Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Desa ;

b. bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut pada huruf a diatas, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Propinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4347);

(2)

3. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);

4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4857);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN

dan

BUPATI OGAN KOMERING ULU SELATAN

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

: PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

SELATAN TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN DESA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

(3)

3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;

4. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

5. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

6. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa ;

7. Badan Permusyawaratan Desa, selanjutnya disingkat dengan BPD adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa;

8. Pembentukan Desa adalah penggabungan beberapa desa, atau bagian desa yang bersandingan, atau pemekaran dari satu desa menjadi dua desa atau lebih, atau pembentukan desa di luar desa yang telah ada;

9. Penghapusan Desa adalah tindakan menjadikan desa yang ada sebagai akibat tidak lagi memenuhi persyaratan;

10.Penggabungan Desa adalah penyatuan dua Desa atau lebih menjadi Desa baru.

BAB II

PEMBENTUKAN DESA

Pasal 2

Pembentukan desa bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Pasal 3

Pembentukan Desa, terjadi karena :

a. Penggabungan beberapa desa, atau bagian desa yang bersandingan; b. Pemekaran dari satu desa menjadi dua desa atau lebih;

c. Pembentukan desa diluar desa yang telah ada;

Pasal 4

(4)

(2) Pembentukan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan setelah mencapai usia penyelenggaraan pemerintahan desa paling sedikit 5 (lima) tahun;

(3) Persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini adalah sebagai berikut :

a. Jumlah Penduduk paling sedikit 1000 (seribu) jiwa atau 200 (dua ratus) KK;

b. Luas wilayah dapat dijangkau dalam rangka meningkatkan pelayanan dan pembinaan masyarakat;

c. Wilayah kerja memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar dusun;

d. Sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat setempat;

e. Tersedianya potensi desa yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia;

f. Batas desa yang dinyatakan dalam bentuk peta desa yang ditetapkan dengan peraturan daerah;

g. Tersedianya atau kemungkinan tersedianya potensi sarana dan prasarana perhubungan, prasarana sosial, prasarana pemerintahan desa;

h. Dalam pembentukan Desa perlu mempedomani pola tata desa yang memungkinkan perkembangan yang selaras dan sesuai dengan tata Pemerintahan Desa, tata masyarakat dan tata ruang fisik desa guna mempertahankan keseimbangan lingkungan yang lestari.

Pasal 5

Tata cara Pembentukan Desa adalah sebagai berikut :

a. Adanya prakarsa dan kesepakatan masyarakat untuk membentuk Desa;

b. Masyarakat mengajukan usul pembentukan Desa kepada BPD dan Kepala

Desa;

c. BPD mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk membahas usul

masyarakat tentang pembentukan Desa, dan kesepakatan rapat dituangkan dalam Berita Acara Hasil Rapat BPD tentang Pembentukan Desa;

d. Kepala Desa mengajukan usul pembentukan Desa kepada Bupati melalui

Camat, disertai Berita Acara Hasil Rapat BPD dan rencana wilayah administrasi desa yang akan dibentuk;

e. Dengan memperhatikan dokumen usulan Kepala Desa, Bupati

menugaskan Tim Kabupaten bersama Tim Kecamatan untuk melakukan observasi ke desa yang akan dibentuk, yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Bupati;

f. Bila rekomendasi Tim Observasi menyatakan layak dibentuk Desa baru,

(5)

g. Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan desa sebagaimana dimaksud pada huruf f, harus melibatkan pemerintahan desa, BPD, dan unsur masyarakat desa, agar dapat ditetapkan secara tepat batas-batas wilayah desa yang akan dibentuk;

h. Bupati mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan

Desa hasil pembahasan pemerintah desa, BPD, dan unsur masyarakat desa kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD;

i. DPRD bersama Bupati melakukan pembahasan atas Rancangan Peraturan

Daerah tentang Pembentukan Desa, dan bila diperlukan dapat mengikutsertakan Pemerintah Desa, BPD dan unsur masyarakat Desa;

j. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa yang telah

disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah;

k. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa

sebagaimana dimaksud pada huruf j, disampaikan oleh Pimpinan DPRD paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama;

l. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa sebagaimana

dimaksud pada huruf k, ditetapkan oleh Bupati paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama; dan

m. Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan

Desa yang telah ditetapkan oleh Bupati sebagaimana dimaksud pada huruf l, Sekretaris daerah mengundangkan Peraturan Daerah tersebut di dalam Lembaran Daerah.

BAB III

NAMA, BATAS DAN PEMBAGIAN WILAYAH DESA

Pasal 6

(1) Dalam pembentukan Desa harus menetapkan nama, luas wilayah dan batas desa dan atau Kelurahan yang berbatasan dengan memasang tanda-tanda batas yang dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani bersama dengan tetangga batas wilayah yang bersangkutan.

(2) Penetapan luas wilayah dan batas desa sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dituangkan dalam Peta Desa yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Pasal 7

(1) Wilayah Desa dapat dibentuk/dibagi atas beberapa dusun sesuai dengan asal usul desa atau adat istiadat.

(6)

BAB IV

PEMEKARAN, PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN DESA

Pasal 8

Desa dapat dimekarkan menjadi dua desa atau lebih dengan memperhatikan persyaratan Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud Pasal 4 Peraturan Daerah ini.

Pasal 9

(1) Desa yang karena perkembangan tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 ayat (3) Peraturan Daerah ini dapat dihapus dan digabung dengan desa yang berbatasan dalam satu kecamatan;

(2) Penggabungan atau penghapusan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, terlebih dahulu di musyawarahkan oleh Pemerintah Desa dan BPD dengan masyarakat desa masing-masing; (3) Hasil mengenai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini

dituangkan dalam Keputusan Bersama Kepala Desa yang bersangkutan;

(4) Keputusan Bersama Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pasal ini disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat;

(5) Hasil penggabungan atau penghapusan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini, ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten.

BAB V

PEMBIAYAAN

Pasal 10

Pembiayaan pembentukan, penggabungan dan penghapusan Desa

dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten.

BAB VI

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 11

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap Pembentukan, Penghapusan,

Penggabungan Desa dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten.

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan

(7)

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 12

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Peraturan Bupati.

Pasal 13

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

Ditetapkan di Muaradua pada tanggal 22 Mei 2007

BUPATI OGAN KOMERING ULU SELATAN

Cap/dto MUHTADIN SERA’I

Diundangkan di Muaradua pada tanggal 23 Mei 2007

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN

Cap/dto

M. ARDIN BACHTIAR

Referensi

Dokumen terkait

Watermarking digital sebagai salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini, dihadapkan pada permasalahan ketahanan terhadap distorsi yang mungkin terjadi

Dari hasil perhitungan Return On Asset (ROA), MBTO, MRAT, TCID selalu mengalami penurunan dan UNVR tidak mengalami peningkatan pada tahun setelah maraknya online

Lantaran itu, penulis merasakan kajian dan penilaian perlu dibuat terhadap pelaksanaan kurikulum qirā’āt di Darul Quran dan Ma’ahad Tahfiz al-Quran di bawah JAKIM khusus

Penelitian yang dilakukan oleh Dina Anggreini (2013) dengan menggunakan mekanisme good corporate governance dewan komisaris, dewan komisaris independen, komite audit

Rumah tangga pertanian padi dan palawija yang melakukan panen pada subround yang bersangkutan CAKUPAN RESPONDEN. Kepala rumah tangga pertanian padi dan palawija yang melakukan

Laju alir air susu yang bervariasi akan memberikan koefisien pindah panas overall dan waktu tinggal yang bervariasi, demikian pula dengan temperatur produk,

Sumber data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan antara ukuran komite audit terhadap timelines dari suatu laporang