6
Universitas Kristen Petra
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Konsep Dasar Kepemimpinan
Kepemimpinan berarti berada di barisan paling depan; menggunakan badan, gerakan maju dan keterampilan komunikasi Anda untuk memberi arahan kepada yang lain jalan mana yang harus ditempuh (Timple, 1993, p.003).
Kemudian menurut Sule dan Saefullah (2005, p.255), kepemimpinan berarti cara memimpin, yang berasal dari kata dasar kata benda Pimpin yang berarti tuntunan, bimbingan, hasil memimpin dan kata kerja memimpin yang berati mengepalai, mengetuai, memandu, memegang tangan seseorang untuk dibimbing dan ditunjukkan jalan, melatih, mendidik, mengajar agar dapat mengerjakan sendiri.
Menurut Irawanto (2008) kepemimpinan adalah bagaimana seseorang dapat mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Secara lebih spesifik, menurut Numberi (2010) kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” (dalam bahasa Inggris lead) yang berarti
tuntun. Berarti, di dalamnya ada dua pihak, yaitu yang dipimpin (anggota
organisasi) dan yang memimpin (pimpinan). Setelah ditambah awalan “pe-“ menjadi “pemimpin” (leader) berarti orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi, sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Kata “kepemimpinan”
(leadership) berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam
mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan adanya kekuatan saling mempengaruhi di antara semua anggota kelompok dan pemimpinnya, maka timbullah dinamika kelompok dalam wujud bermacam-macam usaha dan tingkah laku yang kompleks. Dalam kekompleksan tingkah laku ini, jelas diperlukan pemimpin dan kepemimpinan. Tugas seorang pemimpin dalam kelompok adalah:
7
Universitas Kristen Petra 1. Memelihara struktur kelompok, menjamin interaksi yang lancar, dan
memudahkan pelaksanaan tugas-tugas
2. Menyesuaikan ideologi, ide, pikiran, dan ambisi anggota-anggota kelompok dengan pola keinginan pemimpin
3. Memberikan rasa aman dan status yang jelas kepada setiap anggota , sehingga mereka bersedia memberikan partisipasi penuh
4. Memanfaatkan dan mengoptimalkan kemampuan, bakat, dan produktivitas semua anggota kelompok untuk berkarya dan berprestasi 5. Menegakkan peraturan, larangan, disiplin, dan norma-norma kelompok agar tercapai kepaduan/cohesiveness kelompok, meminimalisasi konflik dan perbedaan-perbedaan
6. Merumuskan nilai-nilai kelompok, dan memilih tujuan-tujuan kelompok sambil menentukan sarana dan cara-cara operasional guna mencapainya
7. Mampu memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan para anggota, sehingga mereka merasa puas. Juga membantu mereka beradaptasi terhadap tuntutan-tuntutan eksternal di tengah masyarakat, serta memecahkan kesulitan-kesulitan hidup anggota kelompok setiap harinya
Menurut Prihandono dan Haryadi (2004) berbasiskan penelitian, kajian serta observasi kepemimpinan khususnya dalam budaya Indonesia, Leadership Inc. Telah mencetuskan profil kepemimpinan yang memiliki karakter kepemimpinan M3 (Milenium ketiga). Right Leader in The Right Time. Diantaranya adalah:
1. Integritas, jujur dan dapat dipercaya
2. Terampil dalam berkomunilasi, memimpin dan kuat dalam tim 3. Memiliki nilai spiritual serta mampu dalam mengelola emosi
4. Menjunjung tinggi etika performansi dan kompeten dalam bidang bisnis yang digeluti
5. Memiliki visi dan mampu memformulasikan pada konsep strategi 6. Menjadi contoh keteladanan (role modeling)
8
Universitas Kristen Petra
2.2. Kepemimpinan Kristen
Engstrom dan Dayton (dalam Barna, 2002, p.20) mendefinisikan bahwa kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Kepemimpinan Kristen menurut Sendjaya (2004, p.86) adalah kepemimpinan yang melayani. Pemimpin Kristen adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk memimpin, memimpin dengan dan melalui karakter seperti Kristus, kemampuan-kemampuan fungsional yang memungkinkan dilakukan oleh kepemimpinan yang efektif (Barna, 2002, p.27).
Menurut J. Oliver Crom, kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang positif dan penuh kepercayaan diri dengan visi dan nilai etika yang tinggi dengan keahlian mengkomunikasikan gagasan dan kemampuan untuk memotivasi dan berhubungan baik dengan orang lain (Shelton, 2002, p.255).
Menurut Sendjaya (2004) kepemimpinan yang sehat dan efektif adalah kepemimpinan yang biblikal. Kepemimpinan Kristen berfungsi sebagai orang yang berdiri menjembatani kesenjangan yang begitu lebar antara Tuhan dengan dunia (Yehezkiel 22:23-30).
Ketika Allah berkenan membangkitkan seorang pemimpin, maka Ia akan memberikan sebuah panggilan. Itu sebabnya kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimulai dan hanya dimulai dengan panggilan Allah. Kepemimpinan Kristen bukanlah sebuah ambisi pribadi.
2.3. Karakter dalam Kepemimpinan Kristen
Ada beberapa karakter pemimpin Kristen yang ditunjukkan oleh (Sendjaya, 2004), yaitu:
1. Pemimpin Visioner
Karakteristik pemimpin yang paling penting yang membedakannya dengan non-pemimpin adalah kejelasan tujuan. Visi. Ada banyak karakteristik lain, namun visi adalah prasyarat utama yang harus ada. Seseorang bisa saja memiliki 50 karakteristik
9
Universitas Kristen Petra kepemimpinan. Namun tanpa visi, ia tetap tidak dapat disebut sebagai seorang pemimpin.
Visi didefinisikan sebagai sebuah gambaran masa depan yang sangat jelas yang Allah komunikasikan kepada para pemimpin-pelayan-Nya berdasarkan pengenalan yang akurat tentang Allah, diri sendiri, dan lingkungan. Dari definisi tersebut, visi adalah sebuah fusi atau perpaduan yang harmoni dari tiga elemen yang interdependen, yaitu: Allah: Kehendak dan beban dari Allah, Diri kita: Talenta dan kapasitas yang Allah berikan, dan Lingkungan: Kebutuhan zaman yang Allah tunjukkan.
2. Pemimpin dengan Air Mata
Pemimpin dengan air mata artinya pemimpin dengan pengorbanan hidup yang begitu agung, konkret, dan berani. Semua itu dilakukan karena peduli. Dalam Alkitab kita menemukan sebuah kisah pengorbanan yang tak kalah dramatisnya dalam diri Nehemia
3. Pemimpin dengan Kualifikasi Eksklusif
Pemimipin Kristen harus memiliki visi, integritas, stamina, wawasan, dan seterusnya. Namun pemimpin yang bukan kristiani pun memiliki semua itu. Bahkan mereka sering kali memiliki visi yang lebih besar, integritas lebih tinggi, stamina yang lebih kuat, dan wawasan yang lebuh luas.
Karakteristik eksklusif pemimpin Kristen yang membedakannya dari pemimpin non-Kristen adalah kelemahan. Semakin menonjol karakteristik ini, semakin leluasa Allah bekerja di dalam melalui diri pemimpin. Dalam kelemahan pemimpin, kuasa Allah yang tidak terbatas itu dinyatakan. Karena “only the weak shall be strong; only the humble exalted; only the empty filled; only nothing
shall be something”, demikian kalimat Martin Luther. Inilah rahasia
terbesar dari kepemimpinan Kristen. 4. Pemimpin dengan Integritas
Integritas adalah modal utama seorang pemimpin, namun sekaligus modal yang paling jarang dimiliki oleh pemimpin. Integritas
10
Universitas Kristen Petra dimengerti sebagai “wholeness, completeness, entirety, unified”. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalam seluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Integritas sendiri adalah integrasi antara etika dan moralitas. Semakin keduanya terintegrasi, semakin tinggi level integritas yang ada. Integritas kita diukur dari apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan pada saat kita benar-benar sendirian. Dan orang yang memiliki integritas tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan atau ditakuti. Hidup mereka transparan bagai surat yang terbuka.
5. Pemimpin dan Arogansi
Kesombongan bagaikan penyakit yang aneh. Yang menderita bukanlah orang yang mengidap penyakit itu, namun orang lain di sekelilingnya. Orang yang menderita penyakit ini pada umumnya tidak merasakan gejala apa-apa, namun orang yang berinteraki dengannya merasa mual dan muak.
Dalam konteks pemimpin Kristen banyak seseorang menganggap dirinya hamba Tuhan sehingga membuat pemimpin Kristen terkadang berlaku seperti Tuhan daripada seperti hamba. Kemudian ketika seorang pemimpin menerima legitimasi dari orang lain dan diterima kepemimpinannya, berarti ia dipersepsi oleh publik sebagai seorang yang lebih siperior dibanding orang lain. Dan terakhir adalah bagaimana banyak pemimpin yang gagal karena keberhasilannya. Kutipan ayat (2 Tawarikh 26:16) menceritakan tentang Raja Uzia yang jatuh justru karena sukses dalam karir politiknya.
6. Pemimpin Rendah Hati
Seorang yang rendah hati adalah seorang yang mengatakan bahwa semua kemampuannya berasal dari Tuhan dan bahwa ia mampu melakukan sesuatu karena Tuhan yang memampukannya. Tanpa Tuhan, ia sama sekali bukan apa-apa. Kerendahan hati memang unik. Kalau kita klaim kita memilikinya, maka kita justru tidak memilikinya. Saat kita merasa bahwa kita orang yang rendah hati, saat
11
Universitas Kristen Petra itulah kita kehilangan kerendahan hati kita. Inilah paradoks kerendahan hati, “Kerendahan hati adalah satu-satunya karakteristik yang kita miliki tanpa kita merasa memilikinya.”
7. Pemimpin yang Melayani
Setelah cukup lama merenungkan ajaran Yesus, ada beberapa kristalisasi pemikiran yang mengemuka:
Memimpin adalah melayani,
Namun melayani belum tentu memimpin. Yang tidak mau melayani,
Tidak boleh dan tidak berhak memimpin. Pemimpin adalah pelayan,
Namun pelayan belum tentu pemimpin. Yang tidak rela menjadi pelayan, Tidak layak menjadi pemimpin. 8. Pemimpin dengan Akuntabilitas
Secara umum, kamus-kamus mendefinisikan akuntabilitas sebagai sebuah proses dimana seorang individu atau sebuah institusi mampu mempertanggungjawabkan setiap aksi yang mereka lakukan dan setiap konsekuensi yang ditimbulkan oleh aksi tersebut. Pemimpin perlu akuntabel terhadap sesamanya sebagai wujud akuntabilitasnya terhadap Tuhan. Jika ia tidak rela akuntabel, maka ia pun tidak berhak menuntut akuntabilitas dari orang lain.
2.4. Bisnis Menurut Iman Kristen
White (1987) mengemukakan lima prinsip Alkitab bagi aktivitas bisnis Kristen. Pertama, timbangan yang benar (just weight) seperti yang dicatat dalam Ulangan 25:13-15. Prinsip timbangan yang benar merupakan keharusan dalam transaksi bisnis yang benar. Dengan kata lain kualitas barang yang dibayar sesuai dengan apa yang diiklankan. Pengusaha Kristen harus bertanggungjawab penuh dalam kualitas barang dan layanan perbaikan. Seorang pengusaha Kristen harus bekerja sepenuh hati dalam bisnisnya dengan mengingat Kolose 3:23 yang berkata: ”Apapun
12
Universitas Kristen Petra yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Kedua, Allah menuntut kejujuran yang sepenuhnya (total honesty) Surat Efesus 4:25 mengajar kita untuk berkata benar. Sekalipun sering berbuat salah, seorang pengusaha Kristen harus memiliki kejujuran yang penuh terhadap para pegawai dan pelanggannya. Penting bagi pengusaha Kristen mengendalikan perkataannya sebagaimana yang dicatat dalam Yakobus 3:2. Selain itu, Roma 12:17 mengingatkan pebisnis Kristen melakukan apa yang baik bagi semua orang dengan kejujuran. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita sudah jujur sepenuhnya dalam melaporkan penggunaan waktu kita, uang dan prestasi?
Prinsip yang ketiga adalah menjadi pelayan (being a servant) Menjadi pelayan harus dibuktikan dengan tingkah laku. Melayani Allah terdengar begitu mulia, tetapi melayani sesama adalah soal lain yang seringkali sukar dipraktekkan. Matius 20:28 berkata bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani manusia, bahkan menyerahkan hidupnya bagi manusia. Nilai bisnis terkandung dalam pelayanannya. Batasan sukses adalah sejauh mana kebutuhan pelanggan atau konsumen dilayani dengan sebaik-baiknya. Dengan pelayananyang baik, maka Allah memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita dalam berbisnis.
Prinsip keempat adalah tanggung jawab pribadi. Seorang pengusaha Kristen harus mengambil tanggung jawab penuh dalam tindakan dan keputusannya, dalam apa yang dikatakan dan diperbuat. Tidak boleh ada sikap melemparkan kesalahan kepada orang lain atau menyalahkan lingkungan sekitar.Roma 12:2 mengingatkan agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini.
Akhirnya, prinsip kelima adalah keuntungan yang wajar
(reasonable profits). Apakah keuntungan yang wajar itu? Keuntungan yang
wajar adalah sesuatu yang diperoleh seseorang untuk dirinya. Dalam mencari keuntungan tidak boleh berlebihan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan sebagaimana yang dikatakan dalam Lukas 6:31. Bagi pengusaha,
13
Universitas Kristen Petra keuntungan yang wajar adalah harga dari jasa dan barang di atas biaya yang sudah dikeluarkan. Bagi pegawai atau pekerja, keuntungan yang wajar adalah penghasilan atas pekerjaan yang sudah dilakukannya. Lukas 3: 14 mengingatkan agar seorang pegawai mencukupkan kebutuhannya dengan gaji yang diperolehnya dan seorang pegawaiyang sudah bekerja patut mendapat upahnya (1 Timotius 5:18). Pada akhirnya prinsip Alkitab dalam bisnis ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah
2.5. Kepemimpinan yang Melayani
Lantu, Pesiwarissa dan Rumahorbo (2007) menyatakan bahwa seorang pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mampu menghindarkan pemenuhan kepemntingan pribadi dan golongan tertentu, tetapi memiliki kemampuan untuk memenuhi dan mewujudkan kepentingan publik, kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Kepemimpinan yang melayani harus dimulai dari dalam diri kita sendiri dengan cara memberikan contoh yang lebih baik kepada pihak-pihak yang kita pimpin. Namun, pemberian contoh yang baik agar menjadi suri tauladan saja tidak cukup, seorang pemimpin yang melayani juga dituntut untuk memiliki visi yang jelas, yang diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi yang dipimpinnya. Salah satu contoh kepemimpinan pelayan adalah yang dipraktikkan oleh para pemimpin organisasi-organisasi keagamaan. Pemimpin-pemimpin tersebut adalah pelayan bagi para anggotanya-umatnya. Mereka dengan segenap kesabaran memberikan arah jalannya organisasi melalui keterampilannya dalam mendengarkan, memberikan perhatian, membimbing dan melindungi anggotanya, serta memikul tanggung jawab organisasi sehingga menghasilkan kepercayaan dari para anggotanya. Praktik kepemimpinan pelayan dapat juga kita temukan dalam berbagai organisasi pemerintahan, bisnis, ataupun lingkungan kerja. Misalnya pemimpin yang mampu membawa keberhasilan bagi perusahaan yang awalnya merugi
Sementara Spears (dalam Prihandono & Haryadi, 2004) menyatakan definisi umum kepemimpinan yang melayani, yaitu seorang
14
Universitas Kristen Petra yang secara terus menerus berusaha mendorong perkembangan pribadi para karyawan dan menignkatkan kualitas, perhatian yang diberikan kepada institusi-institusi melalui kombinasi kerjasama kelompok dan lingkungan, keterlibatan personal dalam pengambilan keputusan dan perilaku untuk mau memperhatikan berdasar etika.
Selain itu Wheeler (2012, p.13) menyatakan bahwa kepemimpinan yang melayani bukanlah satu set dari teknik atau aktivitas. Kepemimpinan yang melayani berbicara bagaimana hal tersebut bisa dilakukan, yaitu filosofi tentang hidup dan bagaiman mempengaruhi orang lain. Seperti ada seseorang yang mengatakan bahwa, “Saya menyadari orang-orang sedang mengarahkan perhatiannya kepadaku-seperti yang saya katakan, apa yang saya lakukan, adalah meluangkan waktu, menghidupi nilai-nilai yang saya anggap penting dan menunjukkan pada setiap orang bahwa saya menghidupi apa yang saya percayai.”
2.6. Karakter Kepemimpinan yang Melayani
Topik awal tentang kepemimpinan yang melayani atau kepemimpinan yang melayani mulai muncul sejak adanya tulisan-tulisan Greenlaf yang memberi kesan mendalam dan lama atas para pemimpin, pendidik, dan banyak lagi orang yang berurusan dengan isu-isu kepemimpinan, manajemen, pelayanan dan pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu penelitian awal mengenai kepemimpinan yang melayani, yaitu menurut Spears (dalam Renesch, 1994, p.156-159) mengkategorikan kepemimpinan yang melayanimenjadi 10 karakteristik:
1. Mendengarkan (Listening)
Para pemimpin secara tradisional dinilai berkaitan dengan keterampilan mereka dalam hal berkomunikasi dan pengambilan keputusan. Memang dua hal ini merupakan keterampilan-keterampilan yang penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin yang melayani, namun harus diperkuat dengan komitmen mendalam untuk secara intens mendengarkan orang-orang yang berbicara kepadanya. Seorang pemimpin yang melayanisenantiasa berupaya untuk
15
Universitas Kristen Petra mengetahui kehendak kelompoknya, dan dia mencoba untuk mengklarifikasi kehendak itu. Dia berupaya untuk mendengarkan apa saja yang dikatakan dan tidak dikatakan oleh orang-orang lain kepadanya. Seorang pendengar yang baik juga selalu mendengarkan suara di dalam batinnya, dan berupaya untuk memahami komunikasi yang disampaikan orang-orang lain lewat bahasa tubuh mereka, seperti ekspresi wajah dsb. Upaya mendengarkan harus disertai refleksi secara teratur demi tercapainya pertumbuhan sang pemimpin yang melayaniitu sendiri.
2. Empati (Empathy)
Seorang pemimpin yang melayanisenantiasa berupaya untuk memahami dan berempati dengan orang-orang lain. Orang-orang mempunyai kebutuhan untuk diterima dan diakui untuk semangat mereka yang istimewa dan unik. Seorang pemimpin yang melayaniharus mengandaikan adanya niat-niat baik dari orang-orang yang dilayaninya dan tidak menolak mereka sebagai pribadi-pribadi manusia, walaupun dia terpaksa harus menolak perilaku atau prestasi kerja mereka. Para pemimpin yang melayaniyang paling sukses adalah mereka yang menjadi sangat terampil sebagai para pendengar yang penuh empati.
3. Penyembuhan (Healing)
Belajar untuk menyembuhkan adalah suatu kekuatan hebat terciptanya transformasi dan integrasi. Satu dari kekuatan-kekuatan dahsyat pemimpin yang melayaniadalah dimilikinya potensi untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang-orang lain. Banyak orang menderita karena berbagai macam luka emosional. Walaupun ini adalah suatu bagian dari keberadaan kita sebagai manusia, seorang pemimpin yang melayanimelihat hal ini sebagai suatu kesempatan untuk menolong orang lain yang dijumpai agar dapat menjadi seorang pribadi yang utuh.
16
Universitas Kristen Petra 4. Kesadaran (Awareness)
Kesadaran umum, dan terutama kesadaran-diri akan memperkuat diri seorang pemimpin yang melayani. Membuat komitmen untuk memperkuat kesadaran dapat menjadi menakutkan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita alami! Kesadaran juga membantu sang pemimpin yang melayani dalam memahami isu-isu yang menyangkut etika dan nilai-nilai. Kesadaran akan memampukan sang pemimpin yang melayaniuntuk memandang kebanyakan situasi yang dihadapi dari posisi yang lebih terintegrasi dan holistik sifatnya. Kesadaran memang mempunyai risiko-risiko, namun kesadaran membuat hidup ini menjadi lebih menarik; yang jelas kesadaran ini memperkuat keefektifan seseorang sebagai seorang pemimpin. Apabila seseorang senantiasa sadar, hal ini berarti lebih daripada sekadar berjaga-jaga yang biasa, dan sang pemimpin juga berkontak secara lebih intens dengan situasi yang langsung dihadapi.
5. Persuasi (Persuasion)
Seorang pemimpin yang melayanimenggunakan persuasi, bukannya menggunakan otoritas karena posisinya, dalam meyakinkan orang-orangnya terkait pengambilan keputusan-keputusan dalam sebuah organisasi. Seorang pemimpin yang melayaniberupaya untuk menyakinkan orang-orangnya, bukan dengan memaksakan mereka untuk taat kepada perintahnya. Unsur yang satu ini menunjukkan satu perbedaan paling jelas antara model tradisional yang menekankan otoritas dan pemimpin yang melayani. Seorang pemimpin yang melayani itu efektif dalam membangun konsensus di dalam kelompok-kelompok.
6. Konseptualisasi (Conceptualization)
Seorang pemimpin yang melayani berupaya memelihara kemampuannya untuk “memimpikan mimpi-mimpi besar” (to dream
great dreams). Kemampuan untuk melihat sebuah masalah (atau
sebuah organisasi) dari perspektif konseptualisasi berarti seseorang harus berpikir melampaui realitas-realitas sehari-hari. Para manajer
17
Universitas Kristen Petra tradisional dikuasai oleh pemikiran untuk mencapai tujuan operasional yang bersifat jangka pendek. Namun seorang manajer yang juga ingin menjadi seorang pemimpin yang melayani harus merentangkan pemikirannya agar dapat mencakup pemikiran konseptual yang berbasis lebih luas. Seorang pemimpin yang melayanidipanggil untuk berupaya memelihara keseimbangan antara pemikiran konseptual dan pendekatan yang terfokus dari hari ke hari.
7. Tinjauan ke masa depan (Foresight)
Yang dimaksudkan dengan foresight adalah kemampuan di atas rata-rata untuk memprakirakan apakah yang akan terjadi dan di manakah terjadinya hal tersebut di masa depan. Kemampuan ini erat terkait dengan “konseptualisasi” yang dikemukakan dalam butir 6 di atas: sulit untuk didefinisikan namun mudah untuk diidentifikasikan. Kita mengetahuinya ketika kita melihatnya! Foresight adalah suatu karakteristik yang memampukan seorang pemimpin yang melayani memahami pelajaran-pelajaran dari masa lalu, realitas-realitas hari ini, dan konsekuensi-konsekuensi yang dimungkikan dari sebuah keputusan berkaitan dengan masa depan. Foresight juga berakar secara mendalam dalam pikiran yang intuitif. Ada ahli-ahli yang mengatakan bahwa foresight ini adalah karakteristik bawaan sejak lahir dari seorang pribadi, sedangkan karakteristik-karakteristik lainnya dapat dikembangkan lewat pelatihan dan studi. Yang jelas
foresight ini belum merupakan pokok yang banyak diselidiki dan
ditulis oleh para ahli kepemimpinan. 8. Kepengurusan (Stewardship)
Peter Block, pengarang “Stewardship and The Empowered Manager mendefinisikan stewardship ini sebagai memegang/mengurus sesuatu untuk orang lain atas dasar kepercayaan. Menurut pandangan Robert Greenleaf, semua lembaga adalah tempat di mana CEO, para pekerja dll., semua memainkan peranan yang signifikan dalam mengurus lembaga-lembaga mereka atas dasar kepercayaan demi kebaikan masyarakat yang lebih besar. Kepemimpinan yang melayani, seperti
18
Universitas Kristen Petra juga stewardship pertama-tama dan terutama mengandaikan suatu komitmen untuk melayani kebutuhan-kebutuhan orang lain. Hal tersebut juga menitik-beratkan penggunaan keterbukaan dan persuasi, bukan pengendalian (kontrol).
9. Komitmen terhadap pertumbuhan orang-orang (Commitment to the
growth of people)
Seorang pemimpin yang melayanipercaya bahwa pribadi-pribadi memiliki nilai intrinsik yang melampaui kontribusi-kontribusi mereka yang kelihatan sebagai pekerja-pekerja dalam perusahaan (dalam hal dunia bisnis). Dengan demikian sang pemimpin yang melayanimemiliki komitmen mendalam berkaitan dengan pertumbuhan setiap individu dalam lembaganya. Sang pemimpin yang melayanidi sini mengakui tanggung-jawab yang besar sekali untuk melakukan segala sesuatu di dalam kekuasaannya untuk memelihara pertumbuhan pribadi, pertumbuhan profesional dan pertumbuhan spiritual. Dalam prakteknya, hal ini dapat mencakup (namun tidak terbatas pada) tindakan-tindakan konkret seperti menyediakan dana yang diperlukan untuk pengembangan pribadi dan pengembangan profesional, menaruh perhatian pribadi sang pemimpin pada ide-ide dan usul-usul dari setiap orang, mendorong serta menyemangati keterlibatan orang yang dipimpinnya dalam proses pengambilan keputusan, dan secara aktif membantu para karyawan yang terkena PHK supaya mendapat pekerjaan baru.
10. Membangun komunitas (Building Community)
Seorang pemimpin yang melayani merasakan bahwa masyarakat modern telah kehilangan banyak dalam sejarah manusia – teristimewa akhir-akhir ini – karena adanya pergeseran dari komunitas-komunitas lokal kepada lembaga-lembaga besar sebagai pembentuk utama kehidupan manusia. Kesadaran ini menyebabkan sang pemimpin yang melayani berupaya untuk mengidentifikasikan beberapa cara untuk membangun komunitas di antara mereka yang bekerja dalam sebuah lembaga tertentu. Kepemimpinan yang melayani menyarankan bahwa
19
Universitas Kristen Petra komunitas sejati dapat diciptakan di antara mereka yang bekerja dalam bisnis dan lembaga-lembaga lain. Greenleaf sendiri mengatakan, bahwa apa yang diperlukan untuk membangun kembali komunitas sebagai bentuk kehidupan yang dapat hidup terus bagi orang-orang yang berjumlah banyak, adalah agar ada cukup banyak pemimpin yang melayani untuk menunjukkan jalannya, tidak dengan gerakan-gerakan massal, melainkan oleh masing-masing pemimpin yang melayani yang mendemonstrasikan kewajibannya sendiri yang tak terbatas untuk melayani kelompok khusus yang terkait komunitas.
2.7. Karakter Kepemimpinan yang Melayani Menurut John C. Maxwell
Dalam perkembangannya, kepemimpinan yang melayani mulai banyak diaplikasikan dalam kegiatan manajemen dan mulai banyak penelitian yang mengembangkan konsep dasar kepemimpinan yang melayani.
Secara lebih sederhana, menurut Maxwell (2009) seorang pemimpin yang melayani:
1. Lebih mendahulukan orang lain daripada agendanya sendiri.
Tanda pertama dari kepelayanan adalah kemampuan untuk mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri dan kepentingan pribadi. Kepelayanan adalah lebih dari sekedar rela menunda agenda sendiri. Kepelayanan artinya sengaja mencari tahu akan kebutuhan orang lain, sengaja menawarkan diri untuk membantu, dan dapat menerima bahwa keinginan-keinginan mereka itu penting.
2. Memiliki keberanian untuk melayani
Inti dari kepelayanan adalah kemapanan. Seseorang yang menganggap dirinya terlalu penting untuk melayani pada dasarnya tidak mapan. Cara kita memperlakukan orang lain sesungguhnya mencerminkan cara kita memandang diri sendiri. Ahli Filsafat merangkap penyair, Eric Hoffer mengatakan:
20
Universitas Kristen Petra “Yang luar biasa adalah bahwa kita sungguh mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiril kita lakukan kepada orang lain seperti yang kita lakukan kepada diri sendiri. Kita benci orang lain jika kita benci diri sendiri. Kita toleran terhadap orang lain, jika kita toleran terhadap diri sendiri. Kita ampuni orang lain jika kita ampuni diri sendiri. Akar dari segala kesulitan yang menimpa dunia kita bukanlah kasih terhadap diri sendiri melainkan benci terhadap diri sendiri.”
Hukum pemberdayaan mengatakan bahwa hanya pemimpin yang tidak merasa khawatirlah yang dapat memberikan kekuasaan kepada orang lain. Namun pernyataan bahwa hanya pemimpin yang memiliki rasa amanlah yang memperlihatkan kepelayanan juga benar. 3. Menginisiatifkan pelayanan bagi orang lain
Boleh dikata semua orang akan melayani jika terpaksa, ada pula yang akan melayani dalam suatu krisis. Namun anda benar-benar dapat melihat hati seseorang yang menginisiatifkan pelayanan bagi orang lain. Pemimpin-pemimpin besar melihat kebutuhan, mengambil kesempatan itu, dan melayani tanpa mengharapkan balasannya.
4. Tidak terlalu mementingkan posisinya
Para pemimpin yang melayani tidak memfokuskan dirinya pada pangkat atau posisi. Ketika Kolonel Schwarzkopf melangkah ke lapangan hijau itu, ia sama sekali tidak memilirkan pangkat. Ia adalah seorang yang berusaha menolong orang lain. Posisinya sebagai pemimpin justru memberinya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melayani.
5. Melayani atas dasar kasih
Kepelayanan tidaklah bermotifkan manipulasi atau promosi diri. Kepelayanan didorong oleh kasih. Akhirnya, seberapa besar pengaruh Anda ditentukan oleh seberapa dalam Anda mementingkan orang lain. Itulah sebabnya mengapa seorang pemimpin harus rela melayani.
21
Universitas Kristen Petra
2.8. Karakter Kepemimpinan yang Melayani Menurut A. B. Susanto
Perkembangan terhadap kepemimpinan yang melayani mulai semakin luas dan mengambil sudut pandang yang lainnya dalam melihat suatu kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan di dalamnya. Menurut Susanto (2009) karakter seorang kepemimpinan yang melayaniadalah: 1. Kerendahan Hati
dalam menggembleng para pengikut-Nya, Yesus secara tegas menyatakan bahwa Ia datang “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani”. Komitmen-Nya sangat kuat untuk melayani dengan segenap hati agar anggotanya mencapai hasil maksimal dan “berbuah banyak”, serta bersama-sama mencapai kemenangan. Semangat pelayanan semacam inilah yang diminta Yesus dari diri kita.
Untuk dapat melayani seorang pemimpin harus mengosongkan dirinya sendiri dari dampak negatif kepemimpinan yaitu berperan sebagai penguasa, sehingga ia mampu bersikap rendah hati dan mampu mengayomi semua anggotanya dengan perhatian yang tulus. Yesus dalam memimpin para murid-Nya pun tidak pernah menganggap kebesaran-Nya sebagai suatu hal yang patut disombongkan. Padahal menurut pengakuan Yohanes Pembaptis, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Yohanes 1:27). Kerendahan hati merupakan kunci utama kepemimpinan Yesus, sebab dari sinilah meluaplah kasih-Nya yang berlimpah untuk melayani semua orang percaya kepada-Nya.
Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau
22
Universitas Kristen Petra Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (“Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya”, Yohanes 13:4-8)
Semangat melayani sebagaimana yang dihembuskan Yesus itu janganlah diartikan sebagai suatu hal yang hina dan tak pantas dilakukan seorang eksekutif. Justru sebaliknya, hal ini memperlihatkan bahwa pemimpin yang bersedia melayanilah yang betul-betul memiliki kekuatan dirinya, baik dari sisi pengetahuan, keluasan wawasan, dan dari sisi kekuatan komitmennya.
2.9. Karakter Kepemimpinan yang Melayani Menurut Sendjaya
Sendjaya (2004) menuturkan, konsep kepemimpinan umum biasanya dikaitkan dengan konsep kuasa (power). Karena pemimpin diidentikkan dengan kuasa, muncul opini umum yang mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kuasa. Jadi pemimpin kristen adalah seorang pemimpin-pelayan. Namun pemimpin-pelayan seringkali dianggap sebagai kontradiksi dalam terminologi (oxymoron). Bagaimana mungkin kita dapat menjadi pemimpin dan pelayan pada saat bersama?
Untuk mengerti kedalaman dan menghargai keindahan konsep pemimpin-pelayan, kita perlu melihat minimal dua acuan karakter dari kepemimpinan yang melayani yang mengacu pada firman Tuhan sebagai pedoman, yaitu:
1. Komitmen
Pertama, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:30-37)
Yesus lalu mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang. Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang
23
Universitas Kristen Petra pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang terkasih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan.
2. Pelayan yang memimpin, bukan pemimpin yang melayani
Kedua, “Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Markus 10:43,44).
Untuk kesekian kalinya, Yesus menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan. Kata “ingin” dan “hendaklah” dalam ayat 43 dan 44 di atas berasal dari kata “want” dan “must” dalam bahasa inggris. Jadi yang lebih tepat adalah “ingin” dan “harus”. Yesus mengajukan syarat yang konkret. Ingin menjadi besar, harus menjadi pelayan, Ingin menjadi terkemuka, harus menjadi hamba. Kita cenderung berat sebelah, condong kepada sisi “ingin” dan melupakan sisi “harus”. Kita cenderung ingin jadi besar namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama. Kita memilih untuk menjadi yang terkemuka, namun tidak pernah rela menjadi hamba bagi orang lain.
Namun yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa dalam konsep pemimpin-pelayan, yang menjadi tekanan bukanlah aspek :pemimpin”, namun aspek “pelayan”. Pemimpin-pelayan bukan pemimpin yang melayani, namun pelayan yang memimpin. Ia bukan seorang pemimpin yang lalu merelakan diri untuk melayani orang lain. Namun ia pertama-tama adalah seorang pelayan, seorang hamba Allah yang lalu terpanggil untuk memimpin.
2.10. Penelitian Terdahulu
1. Menurut Washington, Sutton, dan Feild (2006) dalam penelitiaannya yang berjudul “Individual Differences in servant leadership: the roles
of values and personality.” Terdapat kekurangan penjelasan empiris
mengenai kepemimpinan yang melayani, sehingga peneliti mengatasi kekurangn tersebut dengan menyelidiki hubungan antara konsep
24
Universitas Kristen Petra kepemimpinan yang melayani dengan empat perbedaan individu yang ada, yaitu:
- Values of empathy (nilai empati)
- Integrity (integritas)
- Competence (kompetensi)
- The five-factor model's personality factor of agreeableness
(keramahan)
Penelitian menyatakan bahwa peningkatan dukungan pengikut terhadap pemimpin yang memiliki konsep melayani memiliki keterkaitan yang erat terhadap peningkatan nilai-nilai empati, integritas dan kompetensi dalam perusahaan. Kepemimpinan yang melayani juga mempengaruhi keramahan dalam perusahaan.
2. Dalam peneletian yang berjudul Servant Leadership in English Sixth
Form Colleges: what do teachers tell us? (Stoten, 2013).
Menunjukkan bagaimana kepemimpinan yang melayani dapat diterapkan pada manajemen dalam perguruan tinggi. Penelitian mengungkapkan bagaimana kepemimpinan yang melayani mempengaruhi berbagai macam instrumen dalam perguruan tinggi seperti organisasi-organisasi yang ada di dalamnya. Penelitian dilakukan dengan meminta pendapat pengajar yang ada di dalamnya mengenai macam-macam kepemimpinan yang seharusnya digunakan di dalam perguruan tinggi. Dan ternyata model kepemimpinan yang melayani merupakan tipe kepemimpinan yang paling banyak diakui dan disetujui oleh para pengajar yang ada di dalam perguruan tinggi tersebut.
3. Peneletian dengan judul Servant Leadership in the People's Republic
of China: a case study of the public sector (Han, Kakabadse dan
Kakabadse, A., 2010) membahas bagaimana konsep kepemimpinan yang melayani secara umum memiliki makna yang sama dengan kepemimpinan yang melayani sesuai kebudayaan China. Penelitian ini membahas ada 6 tipe kepemimpinan melayani yang diketahui secara umum dan menambahkan 3 karakter kepemimpinan yang melayani
25
Universitas Kristen Petra sesuai kebudayaan China. Dan kesimpulan dari penelitian ini ingin mencari dan membandingkan secara kontras bagaimana bentuk-bentuk kepemimpinan yang melayani antara kebudayaan Cina dan kebudayaan barat.
2.11. Kerangka Berpikir
Sumber : Maxwell (2009) ; Susanto (2009) dan Sendjaya (2004) CV Golden Lion Inc.
KarakterKepemimpinan yang Melayani: 1. Lebih mendahulukan orang lain
2. Keberanian untuk melayani
3. Menginisiatifkan pelayanan bagi orang lain 4. Tidak terlalu mementingkan posisi
5. Melayani atas dasar kasih 6. Komitmen
7. Pelayan yang memimpin, bukan pemimpin yang melayani 8. Kerendahan hati
Penerapan Kepemimpinan yang Melayani pada CV Golden Lion Inc.