Strategi Pengembangan Sektor Pariwisata Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten samosir ( Studi Pada Dinas Pariwisata Seni Dan Budaya Kabupaten Samosir)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Strategi

Konsep strategi telah lama ada, yang mana kata ini berasal dari bahasa Yunani stategia yang berarti seni atau ilmu menjadi seorang jendral. Jendral Yunani yang efekfif perlu untuk memimpin tentara, menang perang dan mempertahankan wilayah, melindungi kota dari serbuan musuh, menghancurkan musuh. Setiap jenis tujuan memerlukan pemanfaatan sumberdaya yang berbeda. Orang Yunani mengetahui bahwa strategi lebih dari sekedar berperang dalam pertempuran. Sejak zaman Yunani kuno, konsep strategi sudah mempunyai komponen perencanaan dan pembuatan keputusan atau komponen tindakan.

(2)

Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa strategi adalah sebuah rencana yang disusun sedemikian rupa dengan memanfaatkan sumberdaya serta peluang yang ada untuk mencapai tujuan organisasi.

2.1.1 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Strategi

Berdasarkan pada defenisi yang telah dikemukakan, terdapat tiga faktor yang mempunyai pengaruh penting pada strategi, yakni analisis lingkungan eksternal, analisis Lingkungan internal, serta analisis tujuan yang akan dicapai. Intinya suatu strategi organisasi memberikan dasar-dasar pemahaman tentang bagaimana organisasi itu akan bersaing dan survive atau dapat bertahan hidup.

a. Analisis Lingkungan Eksternal

Analisis Lingkungan merupakan salah satu unsur penting dalam strategi, sebab dengan analisis lingkungan ini akan menghasilkan informasi-informasi yang diperlukan untuk menilai dan melihat masa depan organisasi. Lingkungan merupakan sumber yang sangat penting dan bermakna bagi perubahan strategi. Analisis Lingkungan Eksternal adalah analisis yang digunakan terhadap faktor luar dari organisasi yang dapat memberikan pengaruh terhadap organisasi. Yang tergolong dalam lingkungan Eksternal organisasi ini antara lain faktor ekonomi dan perdagangan nasional maupun global, politik nasional, perubahan nilai-nilai sosial dan budaya, sikap dan perilaku pelanggan serta kemajuan teknologi.

(3)

menguntungkan dan dapat merugikan posisi organisasi/perusahaan, divisi perusahaan, fungsi-fungsi perusahaan, serta produk dan jasa perusahaan (Jatmiko,2004:51) Analisis terhadap lingkungan eksternal untuk memperoleh gambaran mengenai peluang atau opportunities yang terbuka serta ancaman, gangguan, hambatan serta tekanan yang menghimpit organisasi kita. Dalam kancah persaingan, dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh organisasi (Gitosudarmo, 2001: 118)

b. Analisis Lingkungan Internal

Analisis lingkungan Internal adalah analisis yang diberikan terhadap lingkungan dalam organisasi itu sendiri. Analisis lingkungan internal ini ditujukan untuk dapat memperoleh kekuatan dan kelemahandalam organisasi. Kekuatan organisasi dapat diartikan sebagai kekuatan yang dimiliki organisasi yang tidak dimiliki orang lain yang dapat juga berfungsi sebagai ciri khas dari perusahaan. Dengan kata lain berarti bahwa analisis internal tersebut tidak boleh tidak harus dapat memperoleh gambaran tentang apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan organisasi yang mana akhirnya organisasi dapat mengembangkan kekuatan yang dimilikinya dan menekan kelemahan yang ada sehingga tidak berubah menjadi sebuah ancaman.

c. Analisis Tujuan yang akan Dicapai

(4)

perubahan-perubahan dan menciptakan kemakmuran yang mana untuk mencapai visi ini diperlukan waktu yang cukup lama.Misi adalah bagian dari visi yaitu untuk mencapai visi diperlukan beberapa misi yang mengarah pada proses pencapaian visi. Misi dapat diartikan sebagai penjabaran makna visi tersebut secara tertulis agar seluruh organisasi menjadi paham dan jelas (Umar,1999 : 89).

2.2 Manajemen Strategi

Manajemen Strategi berasal dari dua kata manajemen dan strategi. Pengertian strategi telah dijelaskan sebagai cara Manajemen strategi merupakan proses manajemen yang mencakup penyertaan organisasi dalam membuat rencana strategis dan kemudian bertindak berdasarkan rencana tersebut. Hofer dan schendel memfokuskan pada empat aspek kunci dari manajemen strategi. Pertama adalah penetapan sasaran, langkah berikutnya adalah merumuskan strategi berdasarkan sasaran tadi. Kemudian untuk mengimplementadikan strategi, ada pergeseran dari analisis kepada administrasi tugas untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan tadi. Faktor kunci pada tahapan ini adalah proses “politik”

internal organisasi dan reaksi individual, yang dapat memaksa revisi strategi. Tugas terakhir, pengendalian strattegis, memberikan umpan balik kepada manajer mengenai kemajuan yang dicapai(Stoner,1996:270).

(5)

2.2.1 Perumusan Strategi (Formulating)

Perumusan strategi (formulating) adalah proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi. Michael Porter (dalam Kotler, 1997:75) telah merangkum strategi menjadi tiga jenis umum yang memberikan awal yang bagus untuk pemikiran strategis.

1. Keunggulan biaya secara strategis, di sini unit usaha bekerja keras mencapai biaya produksi dan distribusi terendah sehingga harganya dapat lebih rendah dari pada pesaing dan mendapat pangsa pasar yang besar.

2. Diferensiasi, di sini unit usaha berkonsentrasi untuk mencapai kinerja terbaik dalam memberikan manfaat bagi pelanggan yang dinilai penting oleh sebagian besar pasar.Fokus, di sini unit usaha memfokuskan diri pada satu atau lebih segmen pasar mengejar pasar yang lebih besar.

Menurut Umar (Umar,1999:86) formulasi merupakan cara menetapkan tujuan strategis dan keuangan Organisasi, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut dalam rangka menyediakan customer value. Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk pembuatan suatu strategi,sebagai berikut :

1. Identifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan pada masa depan. Tentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang dicita-citakan dalam lingkungan tersebut.terbaik.

(6)

3. Merumuskan faktor-faktor penting ukuran keberhasilan (key succes factors) sesuai dengan perubahan lingkungan yang dihadapi.

Dirgantoro (Dirgantoro,2001: 82) menyebut formulasi strategi adalah menentukan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan. Aktivitas ini bisa dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu analisis strategi, perencanaan strategi dan pemilihan strategi.

Formulasi strategi yang baik memiliki ketergantungan yang erat dengan analisislingkungan di mana formulasi membutuhkan data atau informasi dari analisislingkungan.Dalam melakukan formulasi strategi, Dirgantoro (Dirgantoro ,2001: 83)merumuskan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:

a. Harus memahami benar Visi, Misi, dan Objektif perusahaan sehingga kita akan mengetahui kearah mana perusahaan akan dibawa serta bagaimana caranya menuju kearah tersebut.

b. Hal kedua yang harus dipahami adalah tentang posisi perusahaan saat ini. c. Kemampuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor lingkungan (intenal

maupun eksternal) yang sedang dihadapi perusahaan saat ini. Dengan mengidentifikasikan faktor-faktor tersebut akan memudahkan dalam memahami keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan.

d. Mencari alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi secara lebih efisien di masa yang akan datang. Untuk formulasi strategi tingkat perusahaan ada empat aktivitas utama yang harus dilakukan (Dirgantoro,2001:84-89), yaitu:

(7)

3. Menentukan peran dari setiap lini bisnis dalam perusahaan 4. Melakukan alokasi sumberdaya.

Adapun alternatif-alternatif general strategy ini menunjukkan beberapa strategi yang bisa dipilih perusahaan, yang tentu saja pemilihan tersebut tergantung kepada beberapa faktor yang menentukan seperti faktor lingkungan dan lain-lain.

a. Concentration Strategy Concentration Strategy adalah strategi di mana perusahaan memfokuskan diri kepada satu lini bisnis saja. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh keunggulan bersaing dengan mengkonsentrasikan seluruh sumber daya pada satu bidang dengan harapan akan diperoleh tingkat efisiensi tinggi. Bahayanya dari strategi ini adalah bila pasar jenuh atau menyusut atau muncul pesaing mengancam keberadaan perusahaan dalam industri, maka tidak ada cadangan atau bisnis lain yang menyokong perusahaan.

b. Stability Strategy Stability Strategy adalah perusahaan yang memfokuskan dirinya kepada lini bisnis yang sudah ada atau yang selama ini sudah digeluti dan usaha dilakukan untuk mempertahankannya.

c. Growth Strategy Growth Strategy adalah perusahaan yang biasanya mengejar

(8)

1. Vertical Integration

Pertumbuhan perusahaan dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan lainnya yang berada dalam saluran distribusi. Hal yang paling spesifik yang bisa diperoleh dari strategi ini adalah kemampuan perusahaan untuk melakukan kontrol terhadap lini bisnis.Integrasi Vertikal dapat dibedakan menjadi Backward Integration (IntegrasiHulu) dan Forward Integration (Integrasi Hilir).

2. Horizontal Integration

Pertumbuhan perusahaan dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan pesaing yang memiliki lini bisnis yang sama. Yang bisa didapat dari strategi ini adalah memperbesar pangsa pasar potensial perusahaan, meningkatkan penjualan dan memperbesar ukuran perusahaan.

3. Diversification

Pertumbuhan perusahaan dilakukan dengan mengakuisisi dalam industri lain atau lin bisnis. Dikenal dua jenis diversifikasi, yaitu Related atau concentric diversification yaitu apabila akuisisi dilakukan terhadap perusahaan yang memiliki teknologi, produk, saluran distribusi atau pasar yang serupa dengan perusahaan yang melakukan diversifikasi dan Unrelated atau conglomerate diversification yaitu apabila akuisisi dilakukan terhadap perusahaan yang lini bisnisnya berbeda sama sekali.

4. Merger dan joint venture-Merger

(9)

(Growth Strategy) sering kali dikatakan sebagai strategi pengembangan perusahaan, memiliki pedoman strategi sebagai pilihan generik. Pedoman strategi ini dapat berupa pengambilan kembali kegiatan bisnis yang pernah dilepas, konsolidasi, penetrasi pasar, pengembangan produk, pengembangan pasar dan diversifikasi.Dalam banyak metode yang digunakan, terdapat tida kategori dalam strategi pengembangan, yaitu:

1. Pengembangan Internal, kegiatan ini lebih memusatkan kepada kompetensii perusahaan.

2. Akuisi , memungkinkan perushaan untuk melakukan cakupan kegiatan baru atau masuk kepada kegiatan lain lewat perusahaan lain.

3. Pengembangan bersama (jointdevelopment) dan aliansi strategik (strateticalliances)

Adapun beberapa strategi yang diterapkan ketika perusaahaan sudah tidak lagi bisa bersaing secara efektif, terdiri dari:

a. Turnaround Strategy

Digunakan ketika performance perusahaan sudah buruk, akan tetapi belum memasuki tahap kritis. Dilakukan untuk membuat perusahaan menjadi lebih efisien, misalnya dengan melakukan penghapusan terhadap produk yang tidak menguntungkan, mengurangi jumlah tenaga kerja, dan lain-lain

b. Disvestment Strategy

(10)

c. Liquidation Strategy

Dalam strategy ini bisnis ditutup dan asetnya dijual.

d. Combination strategy

Perusahaan besar yang melakukan diversifikasi umumnya menggunakan kombinasi dari beberapa strategy. Formulasi strategi bisnis yang konsisten dalam perusahaan besar dan terdiversifikasi bukanlah hal yang mudah karena tingkat stategi harus dikoordinasikan untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.

2.2.2 Penerapan (Implementing)

Penerapan (implementing) strategi adalah proses pelaksanaan visi dan misi organisasi melalui strategi yang telah dirumuskan untuk pencapaian tujuan organisasi dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada. Suatu strategi yang telah di formulasikan dengan baik belum tentu menjamin bahwa

implementasi dari strategi tersebut akan baik pula dan tentunya memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan pada saat strategi tersebut di rumuskan. Thomas V. Bonoma (Dalam Dirgantoro 2001: 121-123) mengemukakan ada empat hasil yang mungkin terjadi dari kombinasi antara formulasi strategi dengan implementasi keempat hasil tersebut.

2.2.3 Pengendalian (Evaluating)

(11)

Proses pengendalian secara umum akan terdiri dari tiga aktivitas utama .Aktivitas pertama adalah melakukan pengukuran terhadap performance atau kinerja perusahaan. Aktivitas utama yang kedua adalah melakukan pembandingan dari hasil pengukuran dengan standar-standar yang telah ditetapkan, sedangkan aktivitas utama ketiga adalah melakukan koreksi apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan dari perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya (Dirgantoro 2004:137).Sedangkan evaluasi (evaluating) adalah proses penilaian akan efektifitas strategi terhadap hasil yang diperoleh apakah sesuai dengan apa yang diharapkan atau tidak. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program di masa mendatang. Dengan demikian, studi mengenai manajemen strategi menitik beratkan pada kegiatan untuk memantau dan mengevaluasi peluang dan kendala lingkungan, di samping memahami kekuatan dan kelemahan organisasi.

Dengan demikian, studi mengenai manajemen strategi menitik beratkan pada kegiatan untuk memantau dan mengevaluasi peluang dan kendala lingkungan, di samping kekuatan dan kelemahan perusahaan.

2.3 Pendapatan Asli Daerah (PAD)

(12)

Dalam rangka memenuhi prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab, kepada daerah diberikan sumber-sumber keuangan untuk membiayai berbagai tugas dan tanggungjawabnya sebagai daerah otonom. Klasifikasi PAD yang terbaru berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Jenis pajak daerah dan retribusi daerah dirinci menurut objek pendapatan sesuai dengan undang-undang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN, dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.

2.3.1 Pajak Daerah

(13)

Jenis-jenis pajak daerah untuk kabupaten/kota sesuai dengan UU Nomor 28 Tahun 2009 antara lain ialah:

1. Pajak hotel, 2. Pajak restoran, 3. Pajak hiburan, 4. Pajak reklame,

5. Pajak penerangan jalan,

6. Pajak mineral bukan logam dan batuan, 7. Pajak parker,

8. Pajak air tanah,

9. Pajak sarang burung wallet,

10.Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan 11.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Jenis hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan sebagaimana dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup:

1. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik Daerah/BUMD, 2. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik

pemerintah/BUMN, dan

(14)

Jenis lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup:

1. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan, 2. Jasa Giro,

3. Pendapatan Bunga,

4. Penerimaan atas Tuntutan Ganti Kerugian Daerah,

5. Penerimaan Komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualandan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah,

6. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar Rupiah terhadap Mata Uang Asing,

7. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, 8. Pendapatan denda pajak,

9. Pendapatan denda retribusi,

10.Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan, 11.Pendapatan dari pengembalian,

12.Fasilitas sosial dan fasilitas umum,

13.Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, dan 14.Pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.

Dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan.

1. Dana Bagi Hasil. Jenis Dana Bagi Hasil dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak,

(15)

2.3.2 Retribusi Daerah

Retribusi menurut Saragih (dalam Koswara Kertapraja,2010:65) adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemda untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Retribusi untuk kabupaten/kota dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Retribusi untuk kabupaten/kota ditetapkan sesuai kewenangan masing-masing daerah, terdiridari: 10 jenis retribusi jasa umum, 4 jenis retribusi perizinan tertentu,

2. Retribusi untuk kabupaten/kota ditetapkan sesuai jasa/pelayanan yang diberikan oleh masing-masing daerah, terdiri dari: 13 jenis retribusi jasa usaha. (Kadjatmiko alam Koswara Kertapraja, 2010:78). Jenis pendapatan retribusi untuk kabupaten/kota meliputi objek pendapatan berikut:

a. Retribusi pelayanan kesehatan,

b. Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, c. Retribusi pergantian biaya cetak KTP,

d. Retribusi pergantian cetak akta catatan sipil, e. Retribusi pelayanan pemakaman,

f. Retribusi pelayanan pengabuan mayat,

g. Retribusi pelayanan parkir ditepi jalan umum, h. Retribusi pelayanan pasar,

i. Retribusi pengujian kendraan bermotor,

j. Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran, k. Retribusipenggantian biaya cetak peta,

(16)

m. Retribusi pemakaian kekayaan daerah,

n. Retribusi jasa usaha pasar grosir atau pertokoan, o. Retribusi jasa usaha tempat pelelangan,

p. Retribusi jasa usaha terminal,

q. Retribusi jasa usaha tempat khusus parkir,

r. Retribusi jasa usaha tempat penginapan/pesanggrahan/villa, s. Retribusi jasa usaha penyedotan kakus,

t. Retribusi jasa usaha rumah potong hewan, u. Retribusi jasa usaha pelayaran pelabuhan kapal, v. Retribusi jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga, w. Retribusi jasa usaha penyebrangan diatas air, x. Retribusi jasa usaha pengolahan limbah cair,

y. Retribusi jasa usaha penjualan produksi usaha daerah, z. Retribusi izin mendirikan bangunan,

aa. Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol, bb.Retribusi izin gangguan,

cc. Retribusi izin trayek.

2.3.3 Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan

Milik Daerah yang Dipisahkan

Menurut Halim (dalam Syamsudin Haris,2005:68), “Hasil perusahaan milik

Daerah dan hasil Pengelolaan kekayaan milik Daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan Daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik Daerah dan pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan”. Menurut Halim ( dalam

(17)

berikut:”1) bagian laba Perusahaan milik Daerah, 2) bagian laba lembaga

keuangan Bank, 3) bagian laba lembaga keuangan non Bank, 4) bagian laba atas penyertaan modal/investasi”.

2.3.4 Lain-Lain PAD yang Sah

Menurut Halim (dalam Syamsudin Haris,2005:69), pendapatan ini merupakan penerimaan Daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah Daerah. Jenis pendapatan ini meliputi objek pendapatan berikut, “1) hasil

penjualan aset Daerah yang tidak dipisahkan, 2) penerimaan jasa giro, 3) penerimaan bunga deposito, 4)denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, 5)penerimaan ganti rugi atas kerugian/kehilangan kekayaan Daerah”.

2.4 Pariwisata

Menurut Richard Sihite dalam Marpaung dan Bahar (2000:46-47) menjelaskan definisi pariwisata sebagai berikut : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamsyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

(18)

2.4.1 Konsep Pariwisata

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 , pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Sedangkan kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata yang bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempat, sesame wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.

Kepariwisataan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memperkukuh jati diri dan persatuan bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, mempererat persahabatan antar bangsa.

Menurut UN-WTO (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009: 18-19), ada tiga elemen dasar dalam pengertian pariwisata secara holistic yaitu:

1. Domestic tourism (residen/penduduk yang mengunjungi/mengadakan

perjalanan wisata dalam wilayah negaran ya).

2. Inbound tourism (non- residen/bukan penduduk yang mengadakan perjalanan

wisata, masuk ke negara tertentu).

(19)

Ketiga bentuk pariwisata ini dapat dikombinasikan sedemikian rupa sehingga dapat diturunkan tiga kategori lagi, yaitu:

1. Internal tourism (termasuk domestic tourism dan inbound tourism). 2. National tourism (termasuk domestic tourism dan outbound tourism). 3. International tourism (termasuk inbound dan outbound tourism).

Cohen (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009 : 20) mengklasifikasikan wisatawan atas dasar tingkat familiarisasi dari daerah yang akan dikunjungi, serta tingkat pengorganisasian perjalanan wisatanya. Atas dasar ini, Cohen menggolongkan wisatawan menjadi empat, yaitu:

1. Drifter, yaitu wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang sama sekali belum diketahuinya, yang bepergian dalam jumlah kecil

2. Explorer, yaitu wisatawan yang melakukan perjalanan dengan mengatur perjalanannya sendiri, tidak mau mengikuti jalan-jalan wisata yang sudah umum melainkan mencari hal yang tidak umum (off the beaten track). Wisatawan seperti ini bersedia memanfaatkan fasilitas dengan standar lokal dan tingkat interaksinya dengan masyarakat lokal juga tinggi.

3. Individual Mass Tourist, yaitu wisatawan yang menyerahkan pengaturan perjalanannya kepada agen perjalanan, dan mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenal.

(20)

Mill dan Morrison (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009 : 22) juga mengembangkan sebuah model sistem pariwisata, yang terdiri dari empat komponen utama berikut:

1. Market (reaching the marketplace),

2. Travel (the purchase of travel products),

3. Destination (the shape of travel demand),

4. Marketing (the selling of travel).

Baron (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009: 17) mengkompilasi beberapa definisi mengenai wisatawan dan pariwisata seperti yang terlihat dalam tabel.

Tabel 3: Beberapa Konsep Pariwisata

No

Traveller kecuali dan tidak termasuk crew (awak) transport, non-revenue (low revenue) traveler seperti bayi, perjalanan cuma-cuma (gratis) atau dengan potongan harga 25% atau lebih.

2. Tourism (pariwisata) Aktivitas dari visitor, orang yang melakukan perjalanan ke dan tinggal di tempat di luar tempat tinggalnya (residen) sehari-hari untuk periode tidak lebih dari 12 bulan untuk beragam kegiatan leisure, bisnis, agama, dan alasan pribadi lainnya tetapi tidak mendapat upah/gaji dari perjalanannya tersebut

3. Visitor (V) Setiap orang yang melakukan perjalanan ke

(21)

Dan tidak diperhitungkan sebagai visitor. Demikian juga bagi mereka yang melakukan perjalanan sepanjang tahun antara dua tempat di daerah sekitar tempat asalnya (residence) seperti weekend homes,dan

residential study dikeluarkan dari pengertian visitor

4. Tourist(T) : Stay-over /overnight

Visitor yang tinggal paling tidak semalam (overnight) tempat yang dikunjunginya, terdiri atas: a.Cruise Visitor (CV): seseorang yang melakukan perjalanan selama

sehari atau lebih, tetapi tinggal dan mungkin bermalam dalam kapalnya (termasuk awak angkatan laut negara

lain yang sedang bertugas di suatu negara) b. Border Shopper (BS): seseorang yang melakukan pembelian dalam jumlah besar terhadap barang- barang tertentu dan melintasi wilayah perbatasan suatu Negara lain tetapi tidak termasuk pekerja yang memang bertugas di

perbatasan

6. Traveller Visitor dan : a. Direct transit traveler (DT),

yaitu saat di airport, dan antara dua pelabuhan berdekatan. b. Commuters, yaitu perjalanan rutin ke tempat kerja, studi, atau belanja, dan sebagainya. c. Other noncommuting travel (ONT), yaitu berupa perjalanan khusus, awak transport atau awak perusahaan travel

komersial, buruh migran (termasuk pekerja tidak tetap), diplomat (ke dan dari tempat tugas).

7. Tourism industry Bisnis atau perusahaan penyedia layanan dan

barang kepada visitor, termasuk: a. Hospitality (hotel dan restoran, dll.) b. Transportasi c. Tur operator dan biro pe rjalanan, atraksi wisata, dll. d. Usaha –usaha ekonomi lain yang mendukung kebutuhan visitor (beberapa darinya termasuk penyedia layanan dan barang yang signifikan bagi visitor maupun non-visitor)

8. The travel and tourism industry (TTI)

(22)

2.4.2 Prinsip Dasar Kebijakan Pengelolaan Pariwisata

Pengelolaan pariwisata haruslah mengacu pada prinsip-prinsip pengelola-an yang menekankan nilai nilai kelestarian lingkungan alam, komunitas, dan nilai sosial yang memungkinkan wisatawan menikmati kegiatan wisatanya serta bermanfaat bagi kesejahteraan komunitas lokal. Menurut Cox (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009 : 30), pengelolaan pariwisata harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Pembangunan dan pengembangan pariwisata haruslah didasarkan pada kearifan lokal dan special local sense yang merefleksikan keunikan peninggalan budaya dan keunikan lingkungan.

2. Preservasi, proteksi, dan peningkatan kualitas sumber daya yang menjadi basis pengembangan kawasan pariwisata.

3. Pengembangan atraksi wisata tambahan yang mengakar pada khasanah budaya lokal.

4. Pelayanan kepada wisatawan yang berbasis keunikan budaya dan lingkungan lokal.

5. Memberikan dukungan dan legitimasi pada pembangunan dan pengembanganpariwisata jika terbukti memberikan manfaat positif, tetapi sebaliknya mengendalikan dan/atau menghentikan aktivitas pariwisata tersebut jika melampaui ambang batas (carrying capacity) lingkungan alam atau akseptabilitas sosial walaupun di sisi lain mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

(23)

1. Membangun kerangka (framework) operasional di mana sektor publik dan swasta terlibat dalam menggerakkan denyut pariwisata.

2. Menyediakan dan memfasilitasi kebutuhan legislasi, regulasi, dan kontrol yang diterapkan dalam pariwisata, perlindungan lingkungan, dan pelestarian budaya serta warisan budaya.

3. Menyediakan dan membangun infrastruktur transportasi darat, laut dan udara dengan kelengkapan prasarana komunikasinya.

4. Membangun dan memfasilitasi peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan menjamin pendidikan dan pelatihan yang professional untuk menyuplai kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata.

5. Menerjemahkan kebijakan pariwisata yang disusun ke dalam rencana kongkret yang mungkin termasuk di dalamnya :

a) evaluasi kekayaan aset pariwisata, alam dan budaya serta mekanisme perlindungan dan pelestariannya;

b) identifikasi dan kategorisasi produk pariwisata yang mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif;

c) menentukan persyaratan dan ketentuan penyediaan infrastruktur dan suprastruktur yang dibutuhkan yang akan berdampak pada keragaan (performance) pariwisata, dan;

d) mengelaborasi program untuk pembiayaan dalam aktivitas pariwisata, baik untuk sektor publik maupun swasta.

(24)

bahwa pembangunan pariwisata itu akan mampu memberikan keuntungan sekaligus menekan biaya sosial ekonomi serta dampak lingkungan sekecil mungkin. Di sisi lain, pebisnis yang lebih terfokus dan berorientasi keuntungan tentu tidak bisa seenaknyamelakukan segala sesuatu demi mencapai keuntungan, tetapi harus menyesuaikan dengan kebijakan dan regulasi dari pemerintah. Misalnya melalui peraturan tata ruang, perijinan, lisensi, akreditasi, dan perundang-undangan. Liu (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009 : 218) membuat kerangka implementasi kebijakan pariwisata yang paling tidak menyentuh empat aspek, yaitu:

1. Pembangunan dan pengembangan infrastuktur; 2. Aktivitas pemasaran;

3. Peningkatan kualitas budaya dan lingkungan; serta 4. Pengembangan sumber daya manusia.

Penjabaran detail dari keempat aspek kebijakan pariwisata tersebut menurut Liu (1994) dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 4: Aspek Kebijakan Pariwisata

No. Aspek Implementasi

1. Penentuan tujuan pembangunan pariwisata

a. Tentukan tujuan pembangunan dan pengembangan pariwisata dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan faktor sosial budaya.

b. Konsultasikan tujuan tersebut kepada komunitas lokal terutama kepada pemilik lokasi pembangunan dan pengembangan. c. Rancang area pembangunan dan

pengembangan beserta aktivitas yang diperlukan untuk memperlancar proses keberhasilannya.

(25)

2. Inventarisasi a. Lakukan survai dan analisis karakteristik kawasan pembangunan dan pengembangan termasuk lingkungan, sejarah, budaya, masyarakat, ekonomi, sumber daya, pola penguasaan dan pemilikan tanah dan perairan.

b. Lakukan identifikasi dan evaluasi atraksi dan aktivitas pariwisata yang potensial untuk dikembangkan.

c. Lakukan identifikasi dan evaluasi sarana dan prasarana akomodasi yang tersedia dan fasilitas serta pelayanan pariwisata.

d. Evaluasi akses transportasi ke kawasan pengembangan pariwisata termasuk kondisi infrastruktur pendukungnya saat ini dan pengembangannya di masa depan.

e. Review dan pastikan kebijakan dan rencana pembangunan kawasan dari pemerintah setempat baik jangka pendek maupun jangkapanjang terutama cetak biru program pengembangan pariwisata.

3. Infrastruktur dan fasilitas

a. Sediakan infrastruktur dan fasilitas untuk pembangunan dan pengembangan pariwisata. b. Bangun mekanisme untuk membantu sektor informal membangun usaha yang terkait dengan pengembangan pariwisata dan cari cara membantu mereka agar bisa memenuhi standar baru yang ditetapkan.

4. Pasar a. Analisis kondisi pasar pariwisata nasional dan internasional, tetapkan tujuan dan target pemasaran, analisis akomodasi, fasilitas, pelayanan yang dibutuhkan.

b. Ketahui target pasar sehingga harapan dan tujuan realistis dapat diwujudkan. Target pasar harus bisa diakses oleh fasilitas komunikasi dan transportasi.

c. Bantu usaha perseorangan dengan menyediakan riset pasar yang berpotensi membantu pemasaran dan program promosi.

5. Daya dukung a. Tentukan batas ambang (carrying capacity)kawasan pengembangan pariwisata melaluianalisis lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

(26)

c. Implementasikan prosedur yang dapat menentukan kapan kawasan pengembangan dan dalam kondisi mengalami perusakan bagaimana kondisi tersebut dapat dipulihkan.

6. Pengembangan a. Buat rencana pengembangan struktur pariwisata di kawasan tersebut termasuk atraksi dan aktivitas utama, pengembangannya secara regional, disertai akses dan jaringan transportasinya.

b. Buat rekomendasi yang dibutuhkan untuk perbaikan fasilitas, pelayanan, dan infrastuktur terkait.

c. Bantu pemodal dan pengembang lokal mengenai apa yang dibutuhkan agar memenuhi kelayakan menurut standar yang telah ditentukan.

d. Buat rencana kontingensi untuk tantangan potensial di masa depan untuk menjaga stabilitas pemasaran termasuk kemungkinan pengaruh bencana alam.

7. Ekonomi a. Lakukan analisis ekonomi untuk kondisi sekarang dan perkiraan masa depan dari pengembangan pariwisata.

b. Buat strategi untuk meningkatkan keuntungan ekonomi dari kegiatan pariwisata.

c. Pastikan manajemen finansial bekerja dengan baik sehingga pengusaha lokal dapat memperoleh keuntungan, pengunjung membayar kewajibannya, penduduk lokal mendapat pembagian keuntungan secara adil.

8. Lingkungan a. Evaluasi dampak pariwisata terhadap lingkungan dan cari cara untuk menurunkan atau mencegah dampak negatif tersebut dan mendorongnya ke arah yang positif.

b. Buat sinergi antara pembangunan dan pengembangan pariwisata dengan usaha konservasi lainnya, termasuk pembangunan wilayah lindung, manajemen kawasan lindung, pengelolaan limbah, energi, air, zone pesisir, terumbu karang, bencana alam

(27)

dengan menerapkan manajemen yang konsisten dengan nilai lokal.

c. Buat audit sosial dalam hal bagaimana komunitas lokal, penduduk desa dan masyarakat sekitarnya dipengaruhi oleh pariwisata.

10. Standar kualitas a. Buat desain untuk pengukuran standar kualitas bagi fasilitas dan akomodasi untuk memenuhi persyaratan pariwisata.

b. Lakukan penilaian standar kualitas untuk akomodasi dan fasilitas pariwisata.

c. Mediasi dan pacu komponen pendukung pariwisata yang belum memenuhi standar kualitas dengan menyediakan insentif finansial dan pajak serta akses kepada spesialis.

11. Sumber daya manusia

a. Rencanakan kebutuhan sumber daya manusia dengan promosi dan degradasi jabatan serta kewirausahaan di bidang pariwisata.

b. Sediakan pendidikan dan latihan yang cukup untuk penyelenggara pariwisata termasuk sertifikasi dan program pelatihan, serta transfer teknologi dan skill.

c. Jalankan program kepedulian/kesadaran masyarakat sehingga turut berperan positif terhadap kesuksesan pariwisata.

12. Organisasi Bangun hubungan kerjasama antara organisasi publik, swasta, dan pemerintah untuk menjamin koordinasi yang efektif.

13. investasi Sediakan insentif investasi bagi pemodal luar sehingga merangsang keterlibatan investor lokal dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas pariwisata.

14. Regulasi dan pengawasan

a. Bangun mekanisme legislasi dan regulasi untuk mendorong pengembangan pariwisata melalui dukungan organisasi pariwisatanasional, agen biro perjalanan, akomodasi dan sektor-sektor lain dalam pariwisata.

b. Buat standar fasilitas, insentif investasi, dan zoning,

c. Buat prosedur penilaian dan pengawasan.

15. System data dan informasi

Bangun sistem data dan informasi pariwisata secara terintegrasi untuk menjamin kontinuitas operasional yang juga berfungsi sebagai informasi pasar.

(28)

perencanaan pariwisata.

b. Kolaborasikan dengan dunia industri dan dunia akademik untuk menjamin pertanggungjawaban implementasi tersebut.

2.5 Potensi Sumber Daya Pariwisata

2.5.1 Sumber daya Alam

Elemen dari sumber daya, misalnya air, pepohonan, udara, hamparan pegunungan, pantai, bentang alam, dan sebagainya tidak akan menjadi sumber daya yang berguna bagi pariwisata kecuali semua elemen tersebut dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karenanya, sumber daya memerlukan intervensi manusia untuk mengubahnya agar menjadi bermanfaat. Menurut Damanik dan Weber (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009: 42), sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata alam adalah:

1. Keajaiban dan keindahan alam (topografi), 2. Keragaman flora

3. Keragaman fauna, 4. Kehidupan satwa liar, 5. Vegetasi alam,

6. Ekosistem yang belum terjamah manusia,

7. Rekreasi perairan (danau, sungai, air terjun, pantai) 8. Lintas alam (trekking, rafting, dan Iain-lain), 9. Objek megalitik,

(29)

Menurut Fennel (dalam I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, 2009 : 68), sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya pariwisata di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Lokasi geografis. Hal ini menyangkut karakteristik ruang yang menentukan kondisi yang terkait dengan beberapa variabel lain, misalnya untuk wilayah Eropa yang dingin dan bersalju seperti Swiss mungkin cocok dikembangkan untuk atraksi wisata ski es.

2. Iklim dan cuaca. Ditentukan oleh latitude dan elevation diukur dari permukaan air laut, daratan, pegunungan, dan sebagainya. Bersama faktor geologis, iklim merupakan penentu utama dari lingkungan fisik yang memengaruhi vegetasi, kehidupan binatang, angin, dan sebagainya.

3. Topografi dan landforms. Bentuk umum dari permukaan bumi (topografi) dan struktur permukaan bumi yang membuat beberapa areal geografis menjadi bentang alam yang unik (landform). Kedua aspek ini menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan kondisi geografis suatu wilayah/benua dengan wilayah/benua lainnya sehingga sangat menarik untuk menjadi atraksi wisata. 4. Surface materials. Menyangkut sifat dan ragam material yang menyusun permukaan bumi, misalnya formasi bebatuan alam, pasir, mineral, minyak, dan sebagainya, yang sangat unik dan menarik sehingga bisa dikembangkan menjadi atraksi wisata alam.

(30)

6. Vegetasi. Vegetasi merujuk pada keseluruhan kehidupan tumbuhan yang menutupi suatu area tertentu. Kegiatan wisata sangat tergantung pada kehidupan dan formasi tumbuhan seperti misalnya ekowisata pada kawasan konservasi alam/hutan lindung.

7. Fauna. Beragam binatang berperan cukup signifikan terhadap aktivitas wisata baik dipandang dari sisi konsumsi (misalnya wisata berburu dan mancing)maupun non-konsumsi (misalnya birdwat-ching).

2.5.2 Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia diakui sebagai salah satu komponen vital dalam pembangunan pariwisata. Hampir setiap tahap dan elemen pariwisata memerlukan sumber daya manusia untuk menggerakkannya. Singkatnya, faktor sumber daya manusia sangat menentukan eksistensi pariwisata. Sebagai salah satu industri jasa, sikap dan kemampuan staff akan berdampak krusial terhadap bagaimana pelayanan pariwisata diberikan kepada wisatawan yang secara langsung akan berdampak pada kenyaman-an, kepuasan dan kesan atas kegiatan wisata yang dilakukannya.

(31)

1. Airlines (maskapai penerbangan), merupakan salah satu industri perjalanan yang menyerap dan menggunakan sumber daya manusia dalam jumlah paling besar. Bagi masyarakat lokal, airlines menyediakan berbagai level pekerjaan, mulai dari level pemula sampai manajer. Contohnya, agen pemesanan tiket, awak pesawat, pilot, mekanik, staf pemeliharaan, penanganan bagasi, pelayanan makan dan minum di pesawat (catering), pemasaran, ahli komputer, staf pelatihan, pekerjaan administrasi kantor, agen tiket, peneliti, satpam, sampai tenaga pembersih (cleaning service), dan sebagainya.

2. Bus companies, memerlukan manajer sumber daya manusia, agen tiket, agen pemasaran, petugas informasi, pengemudi bus, staf pelatihan, administrasi, akuntansi, dan sebagainya.

3. Cruise companies. Peluang karir terbuka untuk posisi kantor perwakilan dan penjualan, agen tiket, tenaga administrasi, peneliti pasar, direktur rekreasi, akuntansi, dan sebagainya.

4. Railroad. Diperlukan tenaga pelayanan penumpang, penjualan tiket, tenaga reservasi, masinis, petugas pengatur lalu lintas kereta, mekanik, manajer regional/wilayah, dan sebagainya.

5. Rental car companies. Agen penjualan/reservasi, agen penyewaan, mekanik, pengemudi, administrasi, pelatihan, manajer wilayah/regional, dan sebagainya.

(32)

manager, housekeeper, bellboy, lobby porter, washer, waiter, waitress, bartender, enginer, dan seterusnya.

7. Travel agencies. Tenaga administrasi, penasihat travel, peneliti, pemasaran, konsultan, akuntan, reservasi, ahli komputer, dan seterusnya. 8. Tour companies. Tenaga tour manager, tour coordinator, tour planner,

pemasaran, reservasi, akuntan, agen penjualan, group tour specialist, hotel coordinator, dan sebagainya.

9. Food service. Tenaga waiter dan waitress, chef, cooks, bartender, ahli gizi, agen penjualan, tenaga penjualan, pemasaran, kasir, dan seterusnya.

10.Tourism education, memerlukan tenaga administrasi, pengajar, profesor, dosen, guru, peneliti, litbang, penerbit, pemasaran, dan seterusnya.

11.Tourism research, memerlukan tenaga analis untuk melakukan riset pasar, survai konsumen, dan tenaga peneliti di masing-masing sektor seperti tenaga litbang di airlines, departemen pariwisata, dan sebagainya.

12.Travel journalism, misalnya sebagai editor, staf penulis, penulis paruh waktu, humas, public speaking, kampanye perusahaan, dan sebagainya. 13.Recreation and leisure. Misalnya direktur aktivitas, ski instructor, penjaga

taman wisata, museum guide, tenaga penjaga hutan, camping director, lifeguards, golf and tennis instructor, manajemen, supervisory, clerk, administrasi, dan sebagainya.

(33)

15.Tourist offices and information centre. Peluang karirnya, misal, sebagai direktur, asisten direktur, economic development specialist, analis, peneliti, humas, marketing coordinator, travel editor, media coordinator, photographer, administrasi, dan sebagainya.

16.Convention and visitor bureaus, memerlukan tenaga manajer, asisten manajer, riset, pemasaran, information specialist, marketing manager, humas, sales, sekretaris, clerk, keamanan, transportasi, dan sebagainya. 17.Meeting planners, bertanggung jawab untuk mempersiapkan,

merencanakan, dan menyelenggarakan pertemuan.

18.Gaming, memerlukan tenaga managerial, humas, pemasaran, promosi, reservasi, akuntan, pengamanan, dan sebagainya.

19.Other opportunities. Seperti club manajemen, percetakan dan penerbitan, asosiasi profesional, dan sebagainya.

2.5.3 Sumber Daya Budaya

(34)

Istilah 'budaya' bukan saja merujuk pada sastra dan seni, tetapi juga pada keseluruhan cara hidup yang dipraktikkan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta mencakup pengertian yang lebih luas dari lifestyle dan folk heritage. Dalam pariwisata, jenis pariwisata yang menggunakan sumber daya budaya sebagai modal utama dalam atraksi wisata sering dikenal sebagai pariwisata budaya. Jenis pariwisata ini memberikan variasi yang luasmenyangkut budaya mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, festival, makanan tradisional, sejarah, pengalaman nostalgia, dan cara hidup yang lain.

Pariwisata budaya dapat dilihat sebagai peluang bagi wisatawan untuk mengalami, memahami, dan menghargai karakter dari destinasi, kekayaan dan keragaman budayanya. Pariwisata budaya memberikan kesempatan kontak pribadi secara langsung dengan masyarakat lokal dan kepada individu yang memiliki pengetahuan khusus tentang sesuatu objek budaya. Tujuannya adalah memahami makna suatu budaya dibandingkan dengan sekedar mendeskripsikan atau melihat daftar fakta yang ada mengenai suatu budaya. Sumber daya budaya yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bangunan bersejarah, situs, monumen, museum, galeri seni, situs budaya kuno dan sebagainya.

2. Seni dan patung kontemporer, arsitektur, tekstil, pusat kerajinan tangan dan seni, pusat desain, studio artis, industri film dan penerbit, dan sebagainya.

(35)

4. Peninggalan keagamaan seperti pura, candi, masjid, situs, dan sejenisnya. 5. Kegiatan dan cara hidup masyarakat lokal, sistem pendidikan, sanggar,

teknologi tradisional, cara kerja, dan sistem kehidupan setempat.

6. Perjalanan {trekking) ke tempat bersejarah menggunakan alat transportasi unik (berkuda, dokar, cikar, dan sebagainya).

2.6 Defenisi Konsep

Defenisi konsep adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak mengenai kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi perhatian ilmu sosial (Singarimbun 1995:37). Tujuannya adalah untuk mendapatkan pembatasan yang jelas dari setiap konsep yang diteliti, maka berdasarkan kerangka teori yang ada, maka konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Strategi pemerintah kabupaten Samosir (Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya) dalam meningkatkan pendapatan asli daerah adalah kegiatan yang diarahkan pemerintah daerah untuk mengelola dan mengembangkan sektor pariwisata Kabupaten Samosir yang diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat

(36)

3. Potensi pariwisata, adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata, dan merupakan daya tarik agar orang-orang (wisatawan) mau datang berkunjung ke daerah tersebut, dan juga merupakan faktor penting untuk pengembangan pariwisata.

Figur

Tabel 3: Beberapa Konsep Pariwisata NoKonsep  Keterangan

Tabel 3:

Beberapa Konsep Pariwisata NoKonsep Keterangan p.20
Tabel 4: Aspek Kebijakan Pariwisata No. Aspek

Tabel 4:

Aspek Kebijakan Pariwisata No. Aspek p.24

Referensi

Memperbarui...