Perubahan Warna pada Gigi Anak anak yang

26  45  Download (1)

Full text

(1)

Perubahan Warna pada Gigi Anak-anak yang disebabkan oleh karena Karies Rampan

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas makalah di klinik Pedodonsia Disusun oleh :

Dewi Fitria Anugrahati (091611101003)

Pembimbing : drg. Sulistyani, M.Kes

KLINIK PEDODONSIA

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

(2)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perubahan warna gigi adalah salah satu alasan yang paling sering dijumpai mengapa pasien mencari perawatan gigi. Perubahan warna gigi dapat menyebabakan adanya permasalahan estetik, mengurangi rasa percaya diri maupun trauma psikologis. Pemahaman tentang etiologi perubahan warna gigi sangat penting untuk dokter gigi untuk menentukan diagnosis yang benar. Pengetahuan tentang penyebab perubahan warna gigi juga akan membantu dokter gigi untuk menjelaskan sifat yang tepat dari kondisi pasien. Dalam beberapa kasus, mekanisme pewarnaan gigi mungkin memiliki efek pada hasil pengobatan dan mempengaruhi pilihan perawatan yang ditawarkan kepada pasien (Watts dkk,2001).

Penyebab terjadinya perubahan warna gigi dapat diklasifikasikan menurut tempat stain, yaitu ekstrinsik maupun intrinsik. Perubahan warna intrinsik terjadi akibat faktor dari dalam gigi yang umunya terdapat pada email dan dentin. Gigi dapat mengalami perubahan warna atau diskolorisasi sebelum masa erupsi yaitu pada saat pembentukan gigi karena terpaparnya struktur gigi dengan penyebab diskolorisasi. Diantara penyebab diskolorisasi adalah obat-obatan yang dikonsumsi sewaktu masa pertumbuhan gigi, misalnya tetrasiklin dan fluoride. Sedangkan diskolorisasi ekstrinsik terjadi pada permukaan luar gigi. Perubahan warna ekstrinsik umumnya terjadi karena penggunaan rokok atau tembakau, minuman dan makanan berwarna seperti kopi dan teh (Manuel dkk, 2010).

(3)

mengakibatkan gangguan kesehatan yang panjang pada anak-anak salah satunya yaitu terjadinya perubahan warna pada gigi (Zafar, 2003).

Prevalensi rampan karies mencapai tingkat yang tinggi pada negara berkembang dan keparahanya meningkat seiring pertambahan usia anak. Oleh karena itu gigi sulung diharapkan dalam kondisi yang baik untuk perkembangan sistem stomatognatik anak yang baik dan adekuat. Gigi sulung yang sehat penting untuk kemampuan bicara, mastikasi, pencegahan kebiasaan oral yang buruk, dan berperan sebagai penuntun erupsi gigi permanen. Selain itu, estetika dari gigi anterior menunjang perkembangan kepribadian yang normal sehingga kepercayaan diri akan meningkat secara positif dan dapat mempengaruhi kualitas hidup anak pada masa depannya (Namita&Rai,2013).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasar uraian di atas didapatkan rumusan masalah yaitu bagaimana karies rampan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan warna pada gigi?

1.3 Tujuan Penulisan

(4)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Diskolorisasi Gigi

2.1.1 Definisi Diskolorisasi Gigi

Diskolorasi secara umum diartikan sebagai perubahan warna pada gigi. Diskolorasi pada enamel gigi dapat disebabkan oleh proses penodaan (staining), penuaan (aging), dan bahan-bahan kimia. Penggunaan produk tembakau, teh, kopi dan obat kumur tertentu, dan pigmen di dalam makanan menyebabkan terbentuknya stain yang akan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga mudah ditempeli sisa makanan dan kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan membentuk karang gigi (calculus) kemudian sampai ke akar gigi, akibatnya gusi mudah berdarah, gampang goyah dan tanggal. Stain pada gigi dapat terjadi dengan tiga cara : 1) Perlekatan stain secara langsung pada permukaan gigi.

2) Stain terjebak di dalam kalkulus dan deposit lunak.

3) Penggabungan stain dengan struktur gigi atau material restoratif.

2.1.2 Etiologi Diskolorasi Gigi

2.1.2.1 Diskolorasi gigi berdasarkan sumber

Penyebab perubahan warna gigi berdasarkan sumbernya dibagi menjadi eksogen dan endogen. Diskolorasi eksogen disebabkan oleh substansi dari luar gigi dan sering disebabkan kebiasaan minum minuman berwarna yang berkepanjangan seperti teh, kopi, sirup dan merokok. Tar dari asap rokok dapat menyebabkan perubahan warna dari coklat sampai hitam. Diskolorasi endogen sumbernya berasal dari dalam gigi, didapat dari sumber lokal maupun sistemik. Faktor lokal dapat disebabkan karena pedarahan akibat trauma, kesalahan prosedur perawatan gigi, dekomposisi jaringan pulpa, pengaruh obat-obatan dan pasta pengisi saluran akar, dan pengaruh bahan-bahan restorasi.Perubahan warna yang terjadi mengenai bagian dalam struktur gigi selama masa pertumbuhan gigi dan umumnya perubahan warna terjadi di dalam dentin sehingga relatif sulit dirawat secara eksternal.

2.1.2.2 Diskolorasi gigi berdasarkan lokasi

(5)

bahan-bahan dalam struktur gigi. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya diskolorasi intrinsik :

1)Dekomposisi jaringan pulpa atau sisa makanan. Gas yang dihasilkan oleh pulpa nekrosis dapat membentuk ion sulfida berwarna hitam.

2) Pemakaian antibiotik, misalnya tetrasiklin. Tetrasiklin merupakan penyebab paling sering dari perubahan warna gigi intrinsik. Pemakaian obat golongan tetrasiklin selama proses pertumbuhan

gigi dapat menyebabkan perubahan warna gigi permanen. Periode waktu pemberian tetrasiklin yang menyebabkan perubahan warna pada gigi :

1)Semasa dalam kandungan, pada usia kehamilan ibu lebih dari 4 bulan, molekul tetrasiklin dapat melewati barier plasenta mengenai gigi sulung yang sudah terbentuk.

2) Masa bayi sesudah lahir sampai usia 5 tahun, pada periode ini terjadi pembentukan mahkota gigi seri permanen. Mekanismenya adalah tetrasiklin akan terikat dengan kalsium dan

membentuk senyawa kompleks berupa tetrasiklin kalsium ortofosfat. Jaringan gigi yang sedang dalam proses mineralisasi itu tidak hanya memperoleh kalsium, tetapi juga molekul tetrasiklin

yang kemudian tertimbun di dalam jaringan dentin dan email.

3) Penyakit metabolik berat selama fase pertumbuhan gigi, misalnya alkaptonuria menyebabkan warna coklat, endemik fluorosis menyebabkan bercak coklat pada gigi.

Perubahan warna ekstrinsik terdapat pada enamel dan biasanya bersifat lokal. Mayoritas diskolorasi yang terjadi pada gigi permanen bersifat ekstrinsik. Berdasarkan penyebabnya stain ekstrinsik dibagi menjadi 2 kategori :

1) Diskolorasi non metalik, disebabkan oleh kromogen organik melekat pada pelikel. Warnanya berasal dari warna asli kromogen tersebut. Diketahui dapat menyebabkan stain langsung adalah

merokok, mengunyah tembakau, teh, dan kopi. Pada gigi terlihat warna berasal dari komponen polyphenol yang memberikan warna makanan.

2)Diskolorasi metalik, dihasilkan dari interaksi kimia antara komponen penyebab perubahan warna dengan permukaan gigi (Manuel dkk, 2010).

2.2 Proses Pertumbuhan Dan Perkembangan Gigi

Pertumbuhan gigi susu dimulai sejak janin dalam kandungan usia 8

(6)

6 bulan sejak ia lahir, gigi tumbuh secara berurutan yang dimulai dengan gigi seri pertama bawah, kemudian diikuti dengan gigi seri pertama atas, selanjutnya gigi seri kedua atas dan bawah akan tumbuh pada usia 1 tahun, pada usia 18 bulan akan tumbuh gigi geraham pertama atas dan bawah yang akan diikuti dengan tumbuhnya gigi taring. Pada usia 2 tahun tumbuh gigi geraham kedua atas dan bawah. Gigi mencapai tumbuh sempurna pada saat anak berusia 2 tahun (Afrilina,2006).

Diet yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, tetapi perkembangan gigi geligi tampaknya lebih banyak di pengaruhi oleh gangguan keseimbangan kalsium dan fosfor di dalam aliran darah, panas badan yang tinggi atau infeksi usus dapat mengganggu keseimbangan mineral dan lebih banyak mempengaruhi struktur gigi geligi janin dibanding gangguan nutrisi ibu (Narendra, 2002).

2.2.1 Tahap-Tahap Pertumbuhan Gigi

Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seseorang anak, tahap-tahap penting pertumbuhan gigi dapat dilihat pada Tabel 1.

Gigi geligi Waktu erupsi (bulan)

(7)

kebal terhadap karies dan mengarah kepada keterlibatan dari pulpa gigi sedari dini.

Menurut Tinanoff (1983) mendefinisikan rampant caries sebagai karies yang terdapat pada orang hidup yang memiliki 5 atau lebih permukaan gigi yang karies selama setahun.

Menurut Masseler (1945), rampant karies merupakan keadaan karies yang muncul secara tiba-tiba, menyebar dengan cepat dan terdapat keterlibatan awal dari pulpa, dan mengenai gigi-gigi yang biasanya kebal terhadap karies yang biasa.

2.4 Prevalensi Rampan karies

Prevalensi rampan karies mencapai tingkat yang tinggi pada negara berkembang dan keparahanya meningkat seiring pertambahan usia anak. Oleh karena itu gigi sulung diharapkan dalam kondisi yang baik untuk perkembangan system stomatognatik anak yang baik dan adekuat. Gigi sulung yang sehat penting untuk kemampuan bicara, mastikasi, pencegahan kebiasaan oral yang buruk, dan berperan sebagai penuntun erupsi gigi permanen. Selain itu, estetika dari gigi anterior menunjang perkembangan kepribadian yang normal sehingga kepercayaan diri akan meningkat secara poaitif dan dapat mempengaruhi kualitas hidup anak pada masa depannya.

Rampan karies juga dikenal sebagai karies botol merupakan karies gigi yang parah dan terjadi pada bayi atau anak-anak, berkembang dengan cepat dan mengakibatkan gangguan kesehatan yang panjang pada anak-anak. Kesulitan makan adalah keluhan yang sering dialami anak penderita rampan karies, karena sakit bila mengunyah sehingga, anak sering mengemut makananya untuk

menghindari terjadinya rasa nyeri bila mengunyah, anak sering menangis karena rasa nyeri yang mengenai seluruh gigi, serta adanya bau mulut.

2.5 Gambaran Klinis

(8)

karena jaraknya yang dekat dari tempat sekresi kelenjar mandibula juga karena proses pembersihan dari lidah selama proses menghisap susu botol.

Lesi awal biasanya muncul pada permukaan labial dari insisiv maksila dekat dengan margin gingiva, terlihat sebagai area keputihan dari dekalsifikasi atau pitting dari permukaan enamel segera setelah erupsi. Lesi ini dengan cepat terpigmentasi menjadi warna kuning dan pada waktu yang bersamaan menyebar ke arah permukaan proximal dan juga kearah sisi insisal dari gigi. Pada kasus yang jarang dekalsifikasi muncul pada permulaan di permukaan palatal atau pada insisal edge pada kasus yang extreme. Pada kasus yang lebih parah, proses karies akan menyebar pada lingkar gigi, yang nantinya mengarah pada fraktur patologis dari mahkota pada trauma yang kecil. Gigi yang lain, seperti molar 1 sulung, molar 2 sulung dan bahkan kaninus akan terkena secara bertahap.

Nursing bottle caries, juga dikenal dengan nama seperti bottle caries, baby bottle syndrome, baby bottle decay merupakan bentukan dari rampant karies pada gigi sulung dari bayi atau anak-anak(2, 3, dan 4 tahun). Pada kebanyakan kasus, masalahnya biasanya ditemui pada bayi yang sering tertidur dengan botol bayi yang berisi susu atau air gula. Kondisi seperti ini juga bisa ditemui pada bayi yang

meminum ASI yang memiliki kebiasaan minum ASI yang terlalu lama atau pada bayi yang menggunakan dot yang dicelupkan ke madu, gula, atau syrup. Penurunan flow rate saliva selama tidur juga mengumpulkan larutan manis disekitar gigi, juga berakibat pada lingkungan kariogenik yang tinggi.

Rampant karies juga bisa muncul pada gigi permanen pada usia remaja, karena seringnya mereka mengkonsumsi snack-snack yang bersifat kariogenik juga minuman yang manis diantara waktu makan. Rampant karies pada orang dewasa ditandai dengan karies pada bukal dan lingual dari premolar dan molar dan juga proximal dan labial karies di insisiv Rahang bawah.

Bentukan spesifik dari rampant karies bisa muncul pada anak-anak dan orang dewasa yang memiliki aliran saliva yang menurun drastis sebagai hasil dari radioterapi untuk perawatan kanker bagian kepala dan leher setelah pembedahan neoplasma pada rongga mulut.

(9)

Dua faktor predisposisi mayor pada rampant karies adalah specific mikroorganisme dan diet. 4 variabel penting yang mengawali dan berperan dalam terjadinya karies yaitu:

Host: Saliva dan permukaan gigi harus dipertimbangkan sebagai penyebab dari penyakit ini.·

Saliva: Beberapa faktor yang menyebabkan saliva bertanggung jawab sebagai faktor penyebab.

Aliran saliva: Seseorang yang memiliki sekresi saliva yang lebih rendah dari biasanya akan lebih nudah terserang karies. Seseorang yang sedang menjalani radiotherapy dan obat antihistamin memiliki lebih sedikit sekresi saliva.

Faktor biologis: Saliva mengandung beberapa komponen, yang dapat mengurangi tingkat terserang karies, seperti misalnya opsononis, lysozomes dan agen bakterolytic

Fungsi khemis: 2 fungsi khemis dari saliva yang telah diketahui. Kemampuan buffer saliva dan kereaktifannya terhadap ion inorganic, khususnya kalsium dan fosfat dengan permukaan enamel.

Permukaan gigi: Gigi yang mengalami hypoplastik atau hypokalsifikasi lebih mudah terserang karies.

Microflora oral

Streptococcus mutans merupakan bakteri patogen yang penting dalam proses perkembangan karies. Biasanya mikroorganisme ini tidak terdeteksi pada mulut bayi sampai tahap lanjut dari kerusakan insisiv. Tidak terdeteksinya s.mutans pada tahap perkembangan menandakan bahwa keberadaan dari micro-organisme ini berhubungan dengan infeksi awal, dan sumber utama dari s.mutans pada infeksi awal ini biasanya dari ibu.

Microorganisme lain yaitu lactobacilus, veillonella juga bertanggung jawabterhadap karies gigi. Mikroorganisme ini bisa bereaksi terhadap substrat(makanan) seperti misalnya sukrosa untuk membentuk extracellular dan intracellular polysaccharides seperti amylopectins, dextrans, dan levans. Substansi extracellular ini yang berasal dari substansi yang lengketyang nantinya mengikat plak pada struktur gigi dan polysaccharida intracellular memberikan nutrisi yang terus menerus kepada plak yang nantinya akan membentuk bakteria.

Substrate (Diet)

(10)

frekuensi mengkonsumsi gula-gula yang lengket dibandingkan dengan jumlah gula yang dikonsumsi. Molekul karbhohidrat yang sederhana yang siap berdifuse dengan plak dan dimetabolisme oleh bakteri plak lebih kariogenik dibandingkan molekul karbhohidrat komplek. Sukrosa diketahui sebagai gula yang paling kariogenik, karena :

• Kecil, mudah berdifusi ke dental plak

• Sangat soluble, dan bertindak sebagai substrat untuk produksi extracellular polysaccharides dan produksi asam

• Berpengaruh dalam menjaga kehidupan s.mutans dalam gigi Penyebab lain dari rampant karies adalah:

• Pemberian susu botol dengan air gula yang terlalu lama, biasanya saat tidur siang.

• Pemberian susu ASI yang terlalu lama.

• Anak-anak menggunakan dot yang biasanya di celupkan kedalam madu atau gulaRemaja yang sering mengkonsumsi snack, makanan yalengket dan coklat, serta jus buah.

2.7 Proses Terjadinya Rampan Karies

Penyebab terjadinya rampan karies (baby bottle syndrome) adalah pemberian susu botol yang tidak tepat, hal ini terjadi akibat kebiasaan minum susu atau cairan yang mengandung gula dari botol dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai anak tertidur. Proses karies ini berlangsung sangat cepat dan menyebar dari satu gigi ke gigi seri rahang lainnya, pada gigi seri rahang bawah jarang terjadi karena gigi-gigi itu terlindung oleh saliva ketika anak menghisap susu dari botol (Afrilina, 2006). Dan bila di tinjau dari dari faktor pathogenesis bahwa posisi tidur, dengan dot botol dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung terutama insisif, molar atas dan molar bawah, pada keaadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas bakteri kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa

(11)

2.8 Pencegahan Rampan Karies

Tindakan pencegahan terhadap rampan karies harus dilakukan, karena semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus dilakukan. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya rampan karies, meliputi : a. Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet.

b. Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol.

c. Jangan membiarkan anak menghisap ASI secara kontinyu saat tidur karena ASI juga dapat menyebabkan kerusakan gigi. Biasakan anak menghisap dot botol yang berisi air.

d. Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak

e. Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi.

f. Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun. Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun.

g. Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak

2.9 Perawatan Rampant karies

(12)

dan kekooperatifan anak. Faktor-faktor ini harus diperhitungkan pada kunjungan awal anak ke dokter gigi.

Perawatan awal mencakup :

Perawatan sementara

Stabilisasi karies dan tumpatan sementara harus di tempatkan pada gigi yang bebas gejala dengan karies dentin yang terjaga untuk meminimalisasi resiko terpaparnya pulpa di masa depan dan untuk meningkatkan fungsi dari gigi. Pulpotomy formacresol bisa dilakukan jika pulpa masih dalam keadaan vital, tapi indikasi pulpektomy yang diikuti oleh obturasi dengan zinc oxide eugenol cement, dilakukan bila pulpa nonvital.

Program diet

Orang tua harus diberikan pengetahuan untuk mengurangi frekuensi konsumsi sukrose oleh anak-anak mereka, terutama diantara waktu makan. Konsumsi makanan dan hidangan yang mengandung gula harus dibatasi saat makan. Orang tua bisa di instruksikan untuk merekam jumlah dan kuantitas dari makanan dan hidangan yang dikonsumsi selama dan diantara waktu makan untuk 3 hari berurutan. Suplemen vitamin makanan dan juga medikasi oral harus dimasukkan. Keberhasilan management dari rampant karies mengharuskan modifikasi pola makan yang berat.

Instruksi oral Hygiene

(13)

circular scrub dengan baik, dibawah pengawasan orang tua. Setelah 11 sampai 12 tahun, teknik menyikat sulkular seperti teknik Bass bisa diajarkan.

Perawatan di rumah dan penggunaan Fluor oleh dokter gigi

Baik perawatan fluor sistemik maupun topikal sangat berguna dalam mencegah karies gigi. Pilihannya didasarkan pada level dari fluoride yang terkandung dalam air minum dan tahap perkembangan dari gigi geligi.

Anak-anak yang masih terdapat gigi sulung akan sangat baik bila menggunakan tablet fluor dan pasta gigi berfluoride dalam jumlah kecil. Anak-anak harus diberikan dorongan untuk mengunyah tablet ini, pada saat sebelum tidur. Terapi topical fluoride yang periodik dengan gel acidulated phosfate fluoride (APF) atau varnish fluoride sangat bermanfaat pada anak-anak dengan rampant karies untuk mencegah kehancuran gigi.

Berikut merupakan metode dari perawatan fluoride dan metode lain yang digunakan dalam mencegah terjadinya rampant karies dalam kelompok umur yang berbeda.

Gigi sulung (usia 0 – 5 tahun)

Saran pola makanan - Konsultasi tentang pemberian pola makan yang baik dengan orang tua

− Terapi Fluoride - pasta gigi

− pemberian tablet pada daerah yang kurang fluoridasi air − Fluoridasi

− pemberian topikal fluoridasi oleh dokter gigi. − Aplikasi setiap 6 bulan sekali

• Plak kontrol - menginstruksikan orang tua untuk menjaga oral hygiene anaknya. Mengawasi saat anak sikat gigi. (suruh datang kembali setelah 3 – 6 bulan)

Fase geligi pergantian (5-12 tahun)

• Saran pola makanan - konsul tentang pola makan dengan orang tua dan pasien

• Terapi fluoride - pasta gigi

− Pemberian tablet hingga usia 8 tahun pada daerah yang air nya

tidak terfluoridasi

− Pembersihan mulut

(14)

• Plak kontrol - Instruksi untuk menjaga oral hygiene pada pasien. Menyikat gigi tanpa diawasi orang tua, disclosing tablet, fissure sealent (suruh datang kembali setelah 3-6 bulan)

Fase geligi permanen (12 tahun dan seterusnya) • Terapi fluoride - pasta gigi

− Pembersihan mulut

− topikal fluoride setiap 6 bulan oleh dokter gigi.

• Plak kontrol Instruksi untuk menjaga oral hygiene pada pasien. -Disclosing tablet, fissure sealents, dental floss.

(suruh datang kembali setelah 3-6 bulan untuk fissure sealant)

(15)

3.1 Etiologi Perubahan Warna Gigi 3.1.1 Perubahan Warna Intrinsik

Diskolorisasi intrinsik terjadi akibat faktor dari dalam gigi yang umumnya terdapat pada email dan dentin. Gigi dapat mengalami perubahan warna atau diskolorisasi sebelum masa erupsi yaitu pada saat pembentukan gigi karena terpaparnya struktur gigi dengan penyebab diskolorisasi. Diantara penyebab diskolorisasi ialah obat-obatan yang dikonsumsi sewaktu masa pertumbuhan gigi misalnya tetrasiklin dan fluoride.Penggunaan obat tetrasiklin pada ibu hamil selama bulan-bulan terakhir kehamilan akan menyebabkan diskolorisasi gigi sulung anaknya. Ini karena tetrasiklin akan berikatan dengan jaringan gigi yang

sedang mengalami proses mineralisasi dan membentuk kompleks tetrasiklin kalsium ortofosfat.

Penyebab kedua adalah trauma yang terjadi selama pertumbuhan gigi, perubahan pada pulpa, nekrosis pulpa dan penyebab lain pada gigi nonvital, misalnya trauma selama ekstirpasi pulpa, material restorasi gigi, dan material perawatan saluran akar. Perubahan warna yang disebabkan oleh penumpukan produk nekrosis di dalam tubulus dentin dapat diputihkan secara bleaching internal dan dapat memberikan hasil yang baik.

3.1.2 Perubahan warna ekstrinsik

Perubahan warna atau diskolorisasi ekstrinsik terjadi pada permukaan luar gigi. Perubahan warna ekstrinsik umumnya terjadi karena penggunaan bahan-bahan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Misalnya akibat dari penggunaan rokok atau tembakau, minuman dan makanan yang berwarna seperti kopi dan minuman berkarbonasi sehingga membentuk stain pada bagian email. Warna stain yang terlihat pada gigi berasal dari komponen polyphenol, yang memberikan warna pada makanan. Ditambah lagi dengan oral hygiene yang buruk sehingga menyebabkan pembentukan plak dan kalkulus juga dapat mempengaruhi warna gigi. Perubahan warna ekstrinsik relatif lebih mudah ditanggulangi dengan membersihkan stain pada emailnya dibandingkan dengan perubahan warna

(16)

bawah dan bagian palatal di rahang atas. Perubahan warna ini dapat diputihkan secara bleaching eksternal dan dapat memberikan hasil yang baik.

3.2 Etiologi Karies

Karies terjadi karena sejumlah faktor di dalam mulut yang saling berinteraksi. Newburn (1997) menggolongkan faktor tersebut menjadi tiga faktor utama, yaitu host meliputi gigi dan saliva, mikroorganisme dan substrat serta satu faktor tambahan yaitu waktu.

Faktor yang paling berperan untuk terjadinya karies rampan adalah aktifitas mikroorganisme penyebab karies yang tinggi, seringnya menkonsumsi

makanan dan minuman kariogenik serta kebersihan mulut yang buruk. Faktor psikologis, sistemik, dan herediter dapat juga berhubungan dengan terjadinya karies rampan.

3.2.1 Faktor Etiologi Utama

Faktor etiologi utama meliputi host (gigi dan saliva), mikroorganisme, substrat, dan waktu.

3.2.1.1 Gigi (Host)

Proses karies gigi sulung berjalan lebih cepat dibanding gigi tetap karena ketebalan enamel gigi sulung hanya setengah dari gigi tetap. Enamel gigi sulung lebih banyak mengandung bahan organik dan air, sedangkan jumlah mineral lebih sedikit dibanding gigi tetap.

(17)

itu, susunan gigi geligi pada masa gigi bercampur yang sering crowding dan overlapping akan mendukung prevalensi karies pada gigi sulung.

3.2.1.2 Saliva (Host)

Saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies. Ini terbukti pada penderita xerostomia akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat. Anak-anak yan mendapatkan radioterapi untuk perawatan kanker di daerah kepala dan leher atau terkena pembedahan neoplasma di rongga mulut akan mengalami penurunan sekresi saliva sehingga fungsi saliva terganggu dn mempermudah terjadinya karies.

3.2.1.3 Mikroorganisme

Mikroorganisme berperan dalam terjadinya karies gigi. Mikroorganisme utama di dalam mulut yang berhubungan dengan karies adalah jenis streptokokus dan laktobasilus. Jumlah Streptokokus mutans dan Laktobasilus pada sampel plak anak dengan karies rampan seratus kali lipat dibanding anak yang bebas karies. Kohler dkk. (1980) melaporkan bahwa semakin cepat rongga mulut seorang anak terkolonisasi Streptokokus mutans maka semakin tinggi pula prevalensi karies. Ibu yang memiliki Streptokokus mutans di dalam mulutnya dapat memindahkan mikroorganisme tersebut ke mulut bayinya sebelum gigi bayinya erupsi ketika menggunakan sendok untuk memberi makan bayinya atau membasahi dot dengan air ludahnya sebelum diberikan ke bayinya.

3.2.1.4 Substrat

(18)

menyebabkan penurunan pH dibanding ASS. Oleh karena itu, ASI memiliki potensi kariogenik yang lebih tinggi dibanding ASS.

Diet karbohidrat terutama gula merupakan substrat yang paling penting untuk metabolisme mikrorrganisme. Peranan langsung karbohidrat dalam terjadinya karies adalah kemampuannya menyediakan sumber energi yang dapat difermentasi secara sempurna oleh mikroorganisme. Stephen dan Joy (1956) dalam penelitiannya menjumpai bahwa semakin sering individu mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan gula di antara jam makan dapat menyebabkan karies rampan.

3.2.1.5 Waktu

Pengertian waktu disini adalah kecepatan terbentuknya karies serta lama dan frekuensi substrat menempel di permukaan gigi. Kroll dan Stone melihat adanya korelasi karies dan waktu tidur anak dengan susu botol di dalam mulutnya. Hal ini didukung oleh Dilley dkk. dan Johnson (1988) yang menemukan persentase karies yang tinggi pada anak yang mengisap susu botol sambil tidur sepanjang malam.

Bayi menyusui 10 sampai 40 kali setiap hari sehingga pemberian ASI yang tidak tepat seperti tetap membiarkan bayi tertidur selama menyusui akan mempercepat proses kerusakan gigi.

Keadaan lain yang menybabkan substrat lama berada di dalam mulut adalah kebiasaan anak menahan makanan kariogenik di dalam mulut dimana makanan tidak cepat-cepat ditelan.

3.2.2 Faktor Etiologi Penunjang

(19)

3.2.2.1 Kebersihan Mulut

Pada dasarnya anak balita belum mampu melaksanakan kebersihan mulut sendiri. Belum ada kesadaran dan pengetahuan tentang hal ini sehingga sangat diperlukan peran orang tua terutama ibu untuk mengajarkan, mendemostrasikan, mengawasi, membantu, dan melakukan pelaksanaan kebersihan mulut anak.

Kebersihan mulut yang buruk mengakibatkan penumpukan plak dalam jumlah banyak dan berkembangnya mikroorganisme sehingga keadaan pH rongga mulut turun mencapai di bawah 5,5. Pada keadaan ini terjadi demineralisasi enamel dan proses karies pun dimulai.

3.2.2.2 Faktor Psikologis

Stimulasi serabut simpatis di glandula submandibularis atau sublingualis menyebabkan sekresi saliva yang bersifat kental dimana sistem saraf ini merupakan bagian penting mekanisme seseorang dalam bereaksi terhadap stres. Hal inilah yang menjadi penyebab pada orang-orang yang mengalami stres terjadi pengentalan dan penurunan sekresi saliva.

Gangguan emosi pada anak seperti perasaan tertekan, rasa takut, ketidakpuuasan pada prestasi, pemberontakan terhadap situasi rumah, perasaan rendah diri, pengalaman buruk (trauma) di sekolah, dan kegelisahan serta ketegangan yang terus-menerus akan mempermudah terjadinya karies. Gangguan emosi ini juga akan mengakibatkan kebiasaan buruk dalam hal memilih dan mengkonsumsi diet dimana anak suka mengkonsumsi makanan dan minuman kariogenik.

3.2.2.3 Faktor Sistemik

(20)

3.2.2.4 Faktor Herediter

Faktor potensial imunitas lainnya yang mempengaruhi perkembangan karies pada anak-anak adalah level imunitas yang diperoleh untuk melawan bakteri penyebab karies. Ibu yang dilahirkan di daerah geografis dengan prevalensi karies rendah akan memiliki perkembangan level imunitas yang rendah pula terhadap karies. Lehner (1980) menyatakan bahwa imunitas terhadap streptokokus mutans yang dimiliki ibu dapat berpindah ke janin.

3.3 Mekanisme Terjadinya Karies Rampan

Penyebab terjadinya rampan karies (baby bottle syndrome) adalah

pemberian susu botol yang tidak tepat, hal ini terjadi akibat kebiasaan minum susu atau cairan yang mengandung gula dari botol dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai anak tertidur. Proses karies ini berlangsung sangat cepat dan menyebar dari satu gigi ke gigi seri rahang lainnya, pada gigi seri rahang bawah jarang terjadi karena gigi-gigi itu terlindung oleh saliva ketika anak menghisap susu dari botol (Afrilina, 2006). Dan bila di tinjau dari dari faktor pathogenesis bahwa posisi tidur, dengan dot botol dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung terutama insisif, molar atas dan molar bawah, pada keaadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas bakteri kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan ph saliva sehingga lingkungan rongga mulut menjadi asam permukaan gigi yang terkena akan mengalami demineralisasi dan akhirnya karies (Kidd Edwina).

Mekanismenya, sebagai berikut : 1. EARLY ENAMEL LESION

Awal dari proses demineralisasi, tanda-tandanya:

• Email berwarna “Chalky White” dari warna translusennya • Permukaan email menjadi rapuh

• Meningkatnya porositas

• Berkurangnya kepadatan email 2. The Advancing Coronal Lesion

(21)

• Proses remineralisasi semakin sulit dilakukan (penumpukan bakteri oleh plak meningkat dan asam dari makanan)

• Adanya respon pulpa ok asam mulia masuk ke tubuli dentin • Peningkatan mineralisasi sebagai pertahanan dari pulpa 3. The Slowly Progression Lesion

• Lesi dan kavitas semakin besar (email dan dentin semakin rapuh)

4. The Rampant Lesion

• Karies semakin luas, dasar dentin lunak

• Pulpa dalam keadaan bahaya ok proses remineralisasi dapat mengurangi permeabilitas tubulus

Berdasarkan perkembangannya, Early Childhood Caries atau karies rampan dibagi menjadi 4 stadium yaitu :

1. Stadium inisial

Stadium inisial dikarakteristikkan dengan adanya lesi demineralisasi yang opak seperti kapur pada permukaan gigi insisivus sulung maksila ketika anak berusia 10 – 20 bulan atau kadang lebih muda. Pada stadium ini, lesi bersifat

reversibel tetapi sering terabaikan oleh orang tua maupun dokter gigi saat memeriksa rongga mulut anak. Garis putih yang khas dapat dilihat pada bagian servikal permukaan labial dan palatal gigi insisivus maksila, dapat didiagnosa setelah gigi yang terlibat dikeringkan.

Gambar 1. Karies Rampan Stadium Insisal

2. Stadium kedua

(22)

lunak. Orang tua terkadang sadar akan perubahan warna gigi anak dan menjadi perhatian. Pada gigi molar sulung maksila terlihat lesi inisial pada bagian servikal, proksimal dan oklusal.

Gambar 2. Karies Labial (stadium 1 dan 2) pada anak usia 3 tahun 3. Stadium ketiga

Stadium ketiga mulai berlangsung ketika anak berusia antara 20 – 36 bulan, dengan gambaran yang khas yaitu lesi yang besar dan dalam pada gigi insisivus maksila serta terjadi iritasi pulpa. Anak mengeluh sakit ketika mengunyah atau saat menyikat gigi. Anak juga mengeluh rasa sakit spontan pada malam hari. Saat tahap ini terjadi, pada gigi molar sulung maksila berlangsung ECC stadium 2 dan pada gigi molar sulung mandibula dan kaninus maksila berlangsung ECC stadium 1.

Gambar 3. Karies rampan stadium 3 4. Stadium keempat

(23)

berlangsung ECC stadium 3. Gigi molar dua dan kaninus maksila serta molar satu mandibula berlangsung ECC stadium 2. Beberapa anak menderita tetapi tidak dapat mengekspresikan keluhan sakit gigi mereka. Mereka mengalami gangguan tidur dan menolak makanan.

Gambar 4. Karies Rampan Stadium 4

3.4 Pencegahan Rampan Karies

Tindakan pencegahan terhadap rampan karies harus dilakukan, karena semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus

dilakukan. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya rampan karies, meliputi : a. Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu, formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet.

b. Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol.

(24)

d. Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak

e. Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi.

f. Jika air minum yang diminum setiap harinya tidak mengandung fluoride, maka suplemen fluoride atau perawatn fluoride seperti topikal aplikasi dan fissure sealant dapat diberikan.

g. Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun.Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun.

h. Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak (Paradipta, 2009).

3.5 Perawatan Rampan Karies

Pada kasus rampan karies dapat di lakukan beberapa perawatan sebagai berikut :

a. Relief of pain (menghilangkan rasa sakit)

Tindakan yang di lakukan adalah trepanasi apabila di jumpai ganggren pulpa atau abses, kemudian berikan obat- obatan melalui oral (antibiotic,analgetik) b. Menghentikan proses karies

Tiap kavitas meskipun kecil mempunyai jaringan nekrotik, setelah rasa sakit hilangkavitas dipreparasi untuk membuang semua jaringan yang nekrotik sehingga proses karies terhenti.

c. Anjuran untuk melakukan diet kontrol dan jelaskan mengenai DHE dan oral hygene. Lakukan oral profilaksis pada gigi.

d. Lakukan topical aplikasi dengan larutan fluor pada gigi sebagai preventif. Apabila tidak jumpai karies cukup dengan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluor.

(25)

BAB IV. KESIMPULAN

Penyebab terjadinya perubahan warna gigi dapat diklasifikasikan menurut tempat stain, yaitu ekstrinsik maupun intrinsik. Perubahan warna intrinsik terjadi

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Afrilina, G. 2006. 75 Masalah Gigi Anak Dan Solusinya. Jakarta: Gramedia

Child development, 2009. Pertumbuhan gigi, http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu35.html

Gultom, M, 2010. Pengetahuan Sikap Dan Tindakan Ibu-ibu Rumah Tangga. http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter I.pdf.html

Kidd, Edwina. 1991. Dasar-dasar karies. Jakarta: EGC

Mamimendy, 2010. Rampan Karies. http://mamymendy.Blogspot.com

Manuel ST, Abhisek P, Kundabala M, 2010. Etiology of tooth discoloration. Nig Dent J Vol.18.

Namita, Rita Rai. 2012. Adolescent Rampant Caries. Contemporary Clinical

Dentistry Vol 3.

Narendra, M.sularyo, dkk. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Kesehatan Gigi Anak dan Jaringan Sekitarnya. Jakarta : Sagang Seto

Suwelo, I.S.,1992. Karies Gigi Pada Anak dengan Berbagai Faktor Etiologi, Jakarta: EGC

Siahaan, Riden A. Masalah Karies Rampan Pada Anak : Pencegahan Dan Perawatannya . http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/8059

Sobia Zafar, Soraya Yasin, Alaudin. 2003. Early Childhood Caries. International Dentisry Vol.11(4).

Figure

Gambar 1. Karies Rampan Stadium Insisal

Gambar 1.

Karies Rampan Stadium Insisal p.21
Gambar 2. Karies Labial (stadium 1 dan 2) pada anak usia 3 tahun

Gambar 2.

Karies Labial (stadium 1 dan 2) pada anak usia 3 tahun p.22
Gambar 3. Karies rampan stadium 3

Gambar 3.

Karies rampan stadium 3 p.22
Gambar 4. Karies Rampan Stadium 4

Gambar 4.

Karies Rampan Stadium 4 p.23

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in