BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Implementasi Kebijakan 2.1.1. Pengertian Kebijakan
Menurut Carl J Federick dalam Agustino (2008) mendefinisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kesempatan-kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pendapat ini juga menunjukan bahwa ide kebijakan melibatkan perilaku yang memiliki maksud dan tujuan, karena kebijakan harus menunjukan pelaksanaan pekerjaan yang sesungguhnya dikerjakan dari rencana kegiatan pada suatu masalah.
bukan hanya sekedar keputusan untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya istilah kebijakan dikaitkan deangan kepetingan pemerintah atau Negara (publik), sehingga akhirnya istilah kebijakan terkait erat dengan publik.
Berdasarkan pendapat berbagai ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan adalah tindakan-tindakan atau kegiatan yang sengaja dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang, suatu kelompok atau pemerintah yang di dalamnya terdapat unsur keputusan berupa upaya pemilihan diantara berbagai alternatif guna mencapai maksud dan tujuan tertentu.
2.1.2 Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional 2.1.2.1 Pengertian dan Tujuan Program JKN
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013) bahwa jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Program JKN merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yaitu suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial.
Jaminan Sosial. Undang-Undang ini merupakan pelaksanaan dari Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mengamanatkan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan transformasi kelembagaan PT Askes (Persero), PT Jamsostek (Persero), PT TASPEN (Persero) dan PT ASABRI (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Transformasi tersebut diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset dan liabilitas pegawai serta hak dan kewajiban. Undang-Undang ini membentuk 2 (dua) BPJS yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian. Terbentuknya dua BPJS ini diharapkan secara bertahap akan memperluas jangkauan kepesertaan progam jaminan sosial. BPJS mempunyai tugas sesuai Undang-Undang yaitu (Kementerian Kesehatan RI, 2014): a. Melakukan atau menerima pendaftaran peserta.
b. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja. c. Menerima bantuan iuran dari pemerintah.
d. Mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan peserta.
e. Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial.
f. Membayarkan manfaat atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan program jaminan sosial.
2.1.2.2Paket Pelayanan Kesehatan dalam Program JKN
1.
Program JKN mempunyai 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh Peserta JKN, yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta akomodasi dan ambulans (manfaat non medis). Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Prosedur Pelayanan
2.
Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama. Bila Peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh Fasilitas Kesehatan tingkat pertama, kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis.
Kompensasi Pelayanan
3.
Bila di suatu daerah belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah peserta, BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi yang dapat berupa: penggantian uang tunai, pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan fasilitas kesehatan tertentu. Penggantian uang tunai hanya digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi.
Penyelenggara Pelayanan Kesehatan
pemerintah, pemerintah daerah, dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing.
Adapun manfaat program JKN
a)
terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu manfaat medis berupa pelayanan kesehatan dan manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari fasilitas kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan:
b)
Penyuluhan kesehatan perorangan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.
c)
Imunisasi dasar, meliput i Baccile Calmett Guerin (BCG), difteri pertusis Tetanus dan hepatitisB (DPTHB), polio, dan campak.
d)
Keluarga berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana.
e)
Skrining kesehatan, diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.
mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi; f. Pelayanan kesehatan pada saat bencana ; dan g. Pasien bunuh diri atau Penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk menyiksa diri sendiri atau bunuh diri atau narkoba.
2.1.2.3Tarif Pelayanan Program JKN a. Jenis Tarif Pelayanan
Tarif pelayanan program JKN didasarkan pada t
Tarif pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama meliputi (a) tarif kapitasi yaitu rentang nilai yang besarannya untuk setiap fasilitaskKesehatan tingkat pertama ditetapkan berdasarkan seleksi dan kredensial yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tarif kapitasi diberlakukan bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan pelayanan kesehatan komprehensif kepada Peserta Program Jaminan Kesehatan berupa rawat jalan tingkat pertama. (b) tarif non kapitasi yaitu nilai besaran yang sama bagi seluruh fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan pelayanan kesehatan kepada peserta program jaminan kesehatan berupa rawat inap tingkat pertama dan pelayanan kebidanan dan neonatal (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
arif Indonesian - Case Based
Groups yang selanjutnya disebut Tarif INA-CBG’s adalah besaran pembayaran klaim
oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
terpencil dan kepulauan dibayar oleh BPJS Kesehatan yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan BPJS Kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Berdasarkan pedoman program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dijelaskan bahwa
b. Iuran
Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh peserta, pemberi kerja, dan/atau Pemerintah untuk program jaminan kesehatan. Pembayar iuran dalam program JKN bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah pemerintah (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Besarnya iuran JKN ditetapkan melalui Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar hidup yang layak. Setiap Peserta non PBI wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu jumlah nominal tertentu (untuk bukan penerima upah).
Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya, dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). Apabila tanggal 10 (sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh pemberi kerja.
(sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran JKN dapat dilakukan diawal.
BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN sesuai dengan gaji atau upah peserta. Dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran, BPJS Kesehatan memberitahukan secara tertulis kepada pemberi kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran iuran bulan berikutnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran iuran diatur dengan Peraturan BPJS Kesehatan.
c. Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan
BPJS Kesehatan akan membayar kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan kapitasi. Untuk fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan, BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s. Mengingat kondisi geografis Indonesia, tidak semua fasilitas kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. Maka, jika di suatu daerah tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan kapitasi, BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang lebih berhasil guna (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
menjalin kerjasama setelah memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang berlaku di wilayah tersebut.
d. Pertanggungjawaban BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan wajib membayar fasilitas kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Besaran pembayaran kepada fasilitas kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan Asosiasi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran, Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang diberikan. Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya: peserta menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya, dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan, yang disebut dengan iuran biaya (additional charge). Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.
2.1.2.4Kepesertaan Program JKN
adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain. Sedangkan pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja, atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lainnya.(Perpres RI No.111,2013)
a.
Peserta tersebut meliputi: PBI dan non PBI dengan rincian sebagai berikut:
b.
Peserta PBI jaminan kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu.
a)
Peserta non PBI adalah peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas:
b)
Pekerja penerima upah dan anggota keluarganya, yaitu: PNS; Anggota TNI atau Polri; Pejabat Negara; Pegawai Pemerintah Non PNS; Pegawai Swasta; dan pekerja yang tidak termasuk tersebut yang menerima upah.
c)
Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya, yaitu: pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri dan pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima upah. Pekerja tersebut termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan.
d)
Bukan pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas: investor; pemberi kerja; penerima pensiun; veteran; perintis kemerdekaan; dan bukan pekerja yang tidak termasuk tersebut yang mampu membayar iuran.
pejabat negara yang berhenti dengan hak pensiun; penerima pensiun selain tersebut di atas; dan janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang mendapat hak pensiun.
e) Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi: istri atau suami yang sah dari peserta; dan anak kandung, anak tiri atau anak angkat yang sah dari peserta, dengan kriteria: tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri; dan
f)
belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (duapuluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal. Sedangkan peserta bukan PBI JKN dapat juga mengikutsertakan anggota keluarga yang lain.
WNI di luar negeri. Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri.
a.
Prosedur pendaftaran Peserta program JKN meliputi:
b.
Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan.
c.
Pemberi kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan.
Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan.
Kesehatan berkewajiban untuk: (a) membayar iuran dan (b) melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah domisili dan atau pindah kerja. Sedangkan masa berlaku kepesertaan JKN berlaku selama yang bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta, dan status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran atau meninggal.
2.1.2.5Organisasi Penyelenggaraan JKN
Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014, kepesertaannya paling sedikit meliputi: PBI Jaminan Kesehatan; anggota TNI atau PNS di lingkungan Kementerian Pertahanan dan anggota keluarganya; anggota Polri atau PNS di lingkungan Polri dan anggota keluarganya; peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) beserta anggota keluarganya, serta peserta Jamsostek dan anggota keluarganya.
Adapun organisasi penyelenggaran JKN dalam SJSN adalah sebagai berikut: 1. Lembaga Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Dewan pengawas dalam melaksanakan pekerjaannya mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pelaksanaan tugas BPJS dengan uraian sebagai berikut:
1) Fungsi Dewan Pengawas adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas BPJS.
2) Dewan Pengawas bertugas untuk: (a) melakukan pengawasan atas kebijakan pengelolaan BPJS dan kinerja Direksi (b) melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan Dana Jaminan Sosial oleh Direksi, (c) memberikan saran, nasihat, dan pertimbangan kepada Direksi mengenai kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan BPJS; dan (d) menyampaikan laporan pengawasan penyelenggaraan Jaminan Sosial sebagai bagian dari laporan BPJS kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN.
3) Dewan Pengawas berwenang untuk (a) menetapkan rencana kerja anggaran tahunan BPJS, (b) mendapatkan atau meminta laporan dari Direksi, (c) mengakses data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS, (d) melakukan penelaahan terhadap data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS; dan (e) memberikan saran dan rekomendasi Presiden mengenai kinerja Direksi.
Fungsi, tugas, dan wewenang direksi dalam menyelenggarakan JKN, direksi BPJS mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang sebagai berikut:
1) Direksi berfungsi melaksanakan penyelenggaraan kegiatan operasional BPJS yang menjamin peserta untuk mendapatkan manfaat sesuai dengan haknya. 2) Direksi bertugas untuk (a) melaksanakan pengelolaan BPJS yang meliputi
dan di luar pengadilan; dan (b) menjamin tersedianya fasilitas dan akses bagi Dewan Pengawas untuk melaksanakan fungsinya.
3) Direksi berwenang untuk (a) melaksanakan wewenang BPJS, (b) menetapkan struktur organisasi beserta tugas pokok dan fungsi, tata kerja organisasi, dan sistem kepegawaian, (c) menyelenggarakan manajemen kepegawaian BPJS termasuk mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan pegawai BPJS serta menetapkan penghasilan pegawai BPJS, (d) mengusulkan kepada Presiden penghasilan bagi Dewan Pengawas dan Direksi, (e) menetapkan ketentuan dan tata cara pengadaan barang dan jasa dalam rangka penyelenggaraan tugas BPJS dengan memperhatikan prinsip transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas, (e) melakukan pemindahtanganan aset tetap BPJS paling banyak Rp100.000.000.000 (seratus miliar rupiah) dengan persetujuan Dewan Pengawas, (f) melakukan pemindahtanganan aset tetap BPJS lebih dari Rp100.000.000.000 (seratus miliar rupiah) sampai dengan Rp500.000.000.000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan Presiden; dan (h) melakukan pemindahtanganan aset tetap BPJS lebih dari Rp500.000.000.000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan DPR RI.
2. Hubungan Antar Lembaga
BPJS melakukan kredensialing terhadap fasilitas yang akan bekerja sama dengan BPJS. Kredensialing merupakan kegiatan peninjauan dan penyimpanan data-data fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) berkaitan dengan pelayanan profesinya yang mencakup lisensi, riwayat malpraktek, analisis pola praktek dan sertifikasi; merupakan suatu kegiatan dari BPJS kesehatan untuk melakukan kualifikasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes); dan merupakan proses evaluasi untuk menyetujui atau menolak fasyankes apakah dapat diikat dalam kerjasama dengan BPJS kesehatan, yang penilaiannya didasarkan pada aspek administrasi dan teknis pelayanan. Persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Permenkes RI Nomor 71 tahun 2013 Pasal 5 ayat (1), bagi Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan terdiri atas:
a. Untuk klinik utama atau yang setara harus memiliki: 1. Surat Ijin Operasional;
2. Surat Ijin Praktik (SIP) tenaga kesehatan yang berpraktik; 3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan;
4. Perjanjian kerja sama dengan laboratorium, radiologi, dan jejaring lain jika diperlukan; dan
b. Untuk rumah sakit harus memiliki: 1. Surat Ijin Operasional;
2. Surat Penetapan Kelas Rumah Sakit;
3. Surat Ijin Praktik (SIP) tenaga kesehatan yang berpraktik; 4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan;
5. Perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika diperlukan; 6. Sertifikat akreditasi; dan
7. Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional.
3. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem kendali mutu dan biaya. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab Menteri Kesehatan berkoordinasi dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).
4. Pengawasan
2.2.Strategi
2.2.1. Pengertian Strategi
Menurut Chandler dalam Rangkuti (2009) strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. Menurut Hamel dan Prahalad dalam Rangkuti (2009) strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan dimasa depan. Sedangkan menurut pakar strategi lain, yaitu Pearce dan Robinson (2005) pengertian strategi adalah: ”Strategic
is mean managers large scale, future oriented plans for interacting with the
competitive environment to achieve company objectives”, berarti strategi adalah
rencana para manajer yang berskala besar dan berorientasi ke masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan persaingan guna mencapai sasaran perusahaan.
Menurut David (2006), manajemen strategi didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuannya. Secara tersirat, manajemen strategi berfokus pada mengintegrasikan manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produksi atau operasional, penelitian dan pengembangan dan sistem informasi komputer untuk mencapai tujuan organisasi.
kegiatan operasi dapat mencapai kesuksesan. Manajemen strategi mempunyai kelebihan yaitu untuk mengembangkan nilai perusahaan, kemampuan manajerial, tanggung jawab organisasi dan sistem administrasi. Manajemen strategi juga berperan dalam sistem pengambilan keputusan organisasi baik operasional maupun fungsional. 2.2.2. Manfaat Strategi
Strategi menggambarkan arah perusahaan dan merupakan perkiraan terhadap apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Manfaat merumuskan strategi bagi perusahaan dapat digunakan sebagai pemecahan masalah di masa yang akan datang. Menurut Tripomo dan Udan (2005), rumusan strategi yang baik memiliki manfaat sebagai berikut:
(a) Mendorong pemahaman terhadap kondisi sebenarnya di dalam perusahaan
(b) Mengatasi konflik yang disebabkan oleh arah pengembangan perusahaan yang tidak jelas.
(c) Pemanfaatan secara efektif dan alokasi sumberdaya perusahaan yang terbatas. (d) Memenangkan kompetisi persaingan antar perusahaan yang sangat ketat.
(e) Mampu membantu perusahaan mencapai keinginan dan memecahkan permasalahan yang rumit.
2.2.3. Proses Perencanaan Strategi
dan menjamin adanya kesesuaian strategis (strategic fit) antara tujuan akhir (goals) dan peluang-peluang dipasar yang sedang berubah.
Menurut Rangkuti (2009) proses perencanaan strategi adalah melalui tiga tahap analisis yaitu: tahap pengumpulan data, tahap analisis dan tahap pengambilan keputusan. Tahap pertama adalah tahap pengumpulan data. Data pada tahap ini dibagi menjadi dua yaitu: data eksternal dan data internal. Tahap kedua adalah tahap analisis data untuk menentukan strategi-strategi alternatif, dimana dapat menggunakan teknik-teknik seperti matriks SWOT, matriks BCG, matriks IE (internal-eksternal), matriks SPACE, dan matriks grand strategy. Berikutnya tahap ketiga merupakan tahap pengambilan keputusan dengan tehnik QSPM (Quantitative strategic planning
matriks) dimana tehnik ini menggunakan informasi dari tahap input untuk
mengevaluasi alternatif strategi yang paling strategis dan sesuai untuk dilakukan pada tahap analisis.
a. Matriks Faktor Strategi Eksternal
Sebelum membuat matriks faktor strategi eksternal, perlu mengetahui terlebih dahulu EFAS (External Strategic Factors Analysis Summary). Berikut ini contoh tabel cara menentuan faktor strategi eksternal (EFAS):
Tabel 2.1 Contoh Matrik EFAS (External Strategy Factor Analysis Summary) Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Babot x Rating Catatan Peluang
Total Peluang Ancaman Total Ancaman Total EFAS
Keterangan :
1) Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman)
2) Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dengan 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting).
3) Hitung Rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang makin besar diberi
rating +4, tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating
ancaman adalah kebalikannya.
4) Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 (outstanding) sampai dengan 1,0 (poor)
5) Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.
Berdasarkan daftar faktor peluang dan ancaman setelah diberi pembobotan dan rating, dapat dilihat faktor peluang dan ancaman mana yang paling dominan dengan melihat weight score tertinggi.
b. Matriks faktor Strategi Internal
Menurut Rangkuti (2009) setelah faktor-faktor strategi internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factors Analysis
Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam
kerangka Strenght dan Weakness perusahaan. Berikut ini contoh tabel cara menentukan faktor strategi internal (IFAS) :
Tabel 2.2 Contoh Matrik IFAS (Internal Strategy Factor Analysis Summary) Faktor Strategi Internal Bobot Rating Babot x Rating Catatan Kekuatan
Total Kekuatan Kelemahan
Total Kelemahan Total IFAS
Sumber : Rangkuti (2009)
Tahapnya adalah sebagai berikut :
1) Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1.
3) Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya.
Berdasarkan daftar faktor kekuatan dan kelemahan setelah diberi pembobotan dan rating, dapat dilihat faktor kekuatan dan kelemahan mana yang lebih dominan dengan melihat weight score tertinggi.
2.3. Analisis SWOT
Pada perumusan suatu strategi korporasi dengan efektif, kita harus mengetahui dahulu keadaan sekeliling (lingkungan eksternal) dan keadaan perusahaan sendiri (lingkungan internal). Itulah sebabnya mengapa dalam strategi korporasi, setelah kita mampu membentuk misi dan tujuan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan suatu analisis strategik. Dengan penganalisisan strategik, diharapkan mampu menampilkan suatu tujuan jangka pendek dan jangka panjang beserta grand
or generic strategy and operating strategy (Mulyadi, 1997).
(opportunities) dan ancaman (threats) yang dimiliki dan dihadapi oleh perusahaan. Hal yang umum bahwa analisis SWOT itu sendiri timbul secara langsung atau tidak langsung dikarenakan persaingan yang datang dari perusahaan lain yang memproduksi barang dan jasa yang sejenis dengan produk perusahaan. Hal ini membuat perusahaan harus menetapkan strategi untuk memenangkan persaingan atau dapat bertahan hidup. Persaingan yang semakin ketat dan tajam mengakibatkan perusahaan membutuhkan antisipasi yang tepat dan akurat sehingga perusahaan dapat memasarkan produknya di pasar, dan bahkan bila memungkinkan, menjadi pemimpin pasar. Untuk itu, perusahaan harus menetapkan dan merealisasikan strategi agar perusahaan dapat bertahan dalam lingkungan yang dinamis (Rangkuti, 2009). Berikut ini adalah pengertian dan contoh analisis SWOT :
1. Strengths atau kekuatan-kekuatan :
Merupakan keunggulan-keunggulan internal dan kondisi internal lainnya yang dimiliki suatu perusahaan dan memungkinkannya mendapatkan keuntungan strategis dalam usahanya mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Contoh strengths adalah :
a. Kemampuan pendanaan yang memadai.
b. Sikap positif dari perusahaan terhadap produk/pelayanan perusahaan. c. Penggunaan teknologi yang tepat dan mutakhir.
d. Kemampuan perusahaan beroperasi dengan biaya rendah. e. Manajemen yang handal.
f. Lokasi yang strategis
h. Sinergi dari unit-unit bisnis, i. Dan lain – lain.
2. Weaknesses atau kelemahan-kelemahan
Merupakan kelemahan-kelemahan internal dan kondisi internal lainnya yang dimiliki oleh rumah sakit dan memungkinkan rumah sakit tersebut mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Contoh weaknesses adalah :
a. Arah strategi yang tidak jelas.
b. Keterampilan manajerial yang kurang memadai. c. Ketidakmampuan pemakaian teknologi.
d. Karyawan tidak memiliki keterampilan yang memadai. e. Pelaksanaan strategi yang tidak efektif.
f. Jaringan distribusi yang lemah.
g. Biaya produksi dan operasi yang lebih tinggi dari pada pesaing. h. Fasilitas operasi kurang memadai.
i. Budaya organisasi yang tidak jelas. j. Dan lain – lain.
3. Opportunities atau peluang-peluang
a. Menambah pelayanan terhadap kelompok konsumen. b. Memasuki pasar baru atau segmen baru.
c. Mengembangkan produk agar mampu mencapai kebutuhan konsumen yang lebih luas.
d. Peraturan pemerintah yang menguntungkan rumah sakit. e. Dan lain – lain.
4. Treats atau ancaman-ancaman
Faktor eksternal memungkinkan rumah sakit mengalami kegagalan dalam usahanya mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Menurut sejarahnya, konsep
threats ini mula-mula hanya terbatas pada faktor pesaing tetapi kemudian
berkembang ke faktor lainnya seperti pemerintah, serikat pekerja, masyarakat, dan
stakeholder lainnya. (Magister Manajemen Rumah Sakit UGM, 1997). Contoh
threats adalah :
a. Masuknya pesaing baru yang menawarkan biaya rendah.
b. Persyaratan untuk memenuhi peraturan pemerintah yang terlalu mahal. c. Perubahan-perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen.
d. Perubahan-perubahan demografis. e. Dan lain-lain.
Tabel 2.3 Matriks SWOT
Sumber : Rangkuti (2009)
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi SO menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal
b. Strategi ST
Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
d. Strategi WT
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Langkah-langkah dalam menyusun Matriks SWOT adalah: a. Tuliskan peluang eksternal kunci perusahaan.
b. Tuliskan ancaman eksternal kunci perusahaan c. Tuliskan kekuatan internal kunci perusahaan d. Tuliskan kelemahan internal kunci perusahaan.
e. Cocokkan kekuatan internal dengan peluang eksternal, dan catat hasil Strategi SO dalam sel yang ditentukan.
f. Cocokkan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan catat hasil Strategi WO dalam sel yang ditentukan.
g. Cocokkan kekuatan internal dengan ancaman eksternal, dan catat hasil Strategi ST dalam sel yang ditentukan.
h. Cocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal, dan catat hasil Strategi WT dalam sel yang ditentukan.
2.4. Analisis Kinerja Rumah Sakit Menggunakan Analisis SWOT
Pembobotan faktor internal dan eksternal untuk setiap bidang didasarkan pada besarnya pengaruh bidang tersebut kinerja rumah sakit yang diukur dari kontribusi yang dihasilkan dan besarnya usaha. Perhitungan pembobotan dan rating dilakukan dengan cara masing-masing faktor dan sub faktor bobot diberi nilai (dalam %) serta ditentukan peringkatnya (dengan skala 1-5) sesuai dengan besarnya peranan terhadap kinerja rumah sakit (Studi Kelayakan RSUP H. Adam Malik, 2002).
Hasil analisis SWOT selanjutnya digunakan sebagai acuan rumah sakit untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang serta secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan kelemahan dan mengatasi ancaman. Hal tersebut penting dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja rumah sakit yang berkesinambungan dimasa datang. Untuk mengetahui posisi rumah sakit berdasarkan analisis SWOT dapat dilihat pada gambar 2.1.
Keterangan:
1. Kuadran 1 (pengembangan dan pertumbuhan)
Merupakan dimana kondisi memiliki peluang dan kekuatan, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan peluang dan meminimalkan ancaman sehingga mendukung strategi agresif. Dalam kuadran ini kekuatan yang dimiliki rumah sakit lebih dominan dari pada kelemahannya, di samping itu peluang untuk tumbuh yang dimiliki rumah sakit sangat bagus, maka perlu memupuk dana yang lebih besar untuk investasi atau pengembangan dalam mengejar pertumbuhan.
2. Kuadran 2 (Stabilisasi dan Konsolidasi Internal)
Merupakan dimana kondisi mendukung strategi diversifikasi yaitu menggunakan kekuatan untuk meminimalkan ancaman dan memanfaatkan peluang. Peluang untuk tumbuh rumah sakit masih ada dengan terlebih dahulu harus mengadakan stabilisasi dan konsolidasi internal karena masih ada kelemahan faktor internal baik di bidang pelayanan keuangan, organisasi dan SDM serta sarana prasarana dan alat.
3. Kuadran 3 (Penciutan Kegiatan)
Merupakan kondisi perusahaan menghadapi peluang yang besar tetapi di lain pihak menghadapi kelemahan sehingga mendukung strategi Turn-Around. Dalam kuadran ini rumah sakit menghadapi tantangan yang cukup berat karena tidak mempunyai peluang untuk tumbuh, pasarnya mulai menurun dan kondisi internal lemah, maka perlu penciutan kegiatan usaha.
4. Kuadran 4 (Diversifikasi Kegiatan)
mendukung strategi defensif. Dalam kuadran ini posisi rumah sakit berada dalam pasar sangat kecil dan tingkat pertumbuhan rendah sehingga perlu diversifikasi usaha.
2.5. Rumah Sakit
Rumah Sakitadalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat
Penyelenggaraan rumah sakit bertujuan (a) mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan; (b) memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit; (c) meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit; dan (d) memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan institusi rumah sakit.
(Permenkes RI, 2010). Menurut Undang-Undang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menjelaskan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rumah sakit adalah gedung tempat merawat orang sakit, gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan.
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis; c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan; dan d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
Adapun kewajiban Rumah Sakit adalah:
a. Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat;
b. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;
c. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
d. Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
e. Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin; f. Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan
ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan;
g. Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;
h. Menyelenggarakan rekam medis;
i. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia;
j. Melaksanakan sistem rujukan;
k. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan;
l. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien;
m. Menghormati dan melindungi hak-hak pasien; n. Melaksanakan etika Rumah Sakit;
o. Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;
p. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional;
q. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya;
s. Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas; dan memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok.
2.6. Landasan Teori
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013) bahwa
Kebijakan JKN merupakan salah satu kebijakan publik bidang kesehatan yang harus diselenggarakan oleh rumah sakit
jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Program JKN merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yaitu suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial.
dalam memeberikan pelayananan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat
mengharuskan rumah sakit memperbesar kekuatan untuk mengatasi kelemahannya. (Rangkuti, 2009).
Analisis SWOT penting dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja rumah sakit yang berkesinambungan di masa datang. Untuk mengetahui posisi rumah sakit berdasarkan analisis SWOT dapat dilihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2. Posisi Rumah Sakit Berdasarkan Analisis SWOT (RSUP H. Adam Malik Medan, 2002)
Keterangan:
1. Kuadran 1 (pengembangan dan pertumbuhan)
Merupakan dimana kondisi memiliki peluang dan kekuatan, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan peluang dan meminimalkan ancaman sehingga mendukung
O (Opportunity)
-0,7 Strategi Diversifikasi
strategi agresif. Dalam kuadran ini kekuatan yang dimiliki rumah sakit lebih dominan dari pada kelemahannya, di samping itu peluang untuk tumbuh yang dimiliki rumah sakit sangat bagus, maka perlu memupuk dana yang lebih besar untuk investasi atau pengembangan dalam mengejar pertumbuhan.
2. Kuadran 2 (Stabilisasi dan Konsolidasi Internal)
Merupakan dimana kondisi mendukung strategi diversifikasi yaitu menggunakan kekuatan untuk meminimalkan ancaman dan memanfaatkan peluang. Peluang untuk tumbuh rumah sakit masih ada dengan terlebih dahulu harus mengadakan stabilisasi dan konsolidasi internal karena masih ada kelemahan faktor internal baik di bidang pelayanan keuangan, organisasi dan SDM serta sarana prasarana dan alat.
3. Kuadran 3 (Penciutan Kegiatan)
Merupakan kondisi perusahaan menghadapi peluang yang besar tetapi di lain pihak menghadapi kelemahan sehingga mendukung strategi Turn-Around. Dalam kuadran ini rumah sakit menghadapi tantangan yang cukup berat karena tidak mempunyai peluang untuk tumbuh, pasarnya mulai menurun dan kondisi internal lemah, maka perlu penciutan kegiatan usaha.
4. Kuadran 4 (Diversifikasi Kegiatan)
2.7. Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian dan landasan teori, maka dapat dirumuskan kerangka pikir dalam penelitian ini yaitu:
Gambar 2.3. Kerangka Pikir Penelitian Strength (Kekuatan)
• Pelayanan • Keuangan
• Organisasi dan SDM • Sarana prasarana
Strategi Rumah Sakit dalam Menghadapi Implementasi
Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional Weakness (Kelemahan)
• Pelayanan • Keuangan
• Organisasi dan SDM • Sarana prasarana
Opportunity (Peluang) • Pelayanan
• Keuangan
• Organisasi dan SDM • Sarana prasarana
Threat (Ancaman) • Pelayanan
• Keuangan