PERATURAN
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16/PERMEN-KP/2014
TENTANG
PENGELOLAAN SATUAN KERJA INAKTIF
DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a.
bahwa guna meningkatkan efektivitas penyusunan
laporan keuangan, pengelolaan barang milik negara, dan
penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan yang
disebabkan suatu satuan kerja dinyatakan Inaktif
karena tidak dialokasikan anggaran dalam suatu tahun
anggaran, perlu dibuat panduan dalam mengelola satuan
kerja Inaktif tersebut di lingkungan Kementerian
Kelautan dan Perikanan;
b.
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pengelolaan
Satuan Kerja Inaktif di Lingkungan Kementerian
Kelautan dan Perikanan;
Mengingat
: 1.
Undang-Undang
Nomor
17
Tahun
2003
tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
2.
Undang-Undang
Nomor
1
Tahun
2004
tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3.
Undang-Undang
Nomor
15
Tahun
2004
tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
4.
Undang-Undang
Nomor
31
Tahun
2004
tentang
Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah
dengan
Undang-Undang
Nomor
45
Tahun
2009
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5073);
5.
Undang-Undang
Nomor
27
Tahun
2007
tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4739) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5490);
6.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2006 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4609);
7.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2006 Nomor
25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4816);
8.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 127,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4890);
9.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);
10.
Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara,
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2013 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 125);
11.
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang
Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara
Serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagaimana
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan
Presiden Nomor 56 Tahun 2013 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 126);
12.
Keputusan
Presiden
Nomor
84/P
Tahun
2009,
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 8/P Tahun 2014;
13.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007
tentang
Tata
Cara
Pelaksanaan
Penggunaan,
Pemanfaatan,
Penghapusan,
dan
Pemindahtangan
Barang Milik Negara;
14.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120/PMK.06/2007
tentang Penatausahaan Barang Milik Negara;
15.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/PMK.05/2007
Tahun 2007 tentang Penyusunan Rencana Tindak dan
Monitoring Tindak Lanjut Pemerintah terhadap Temuan
Pemeriksaan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan
atas
Laporan
KeuanganKeuangan
Kementerian
Negara/Lembaga, Laporan Keuangan Bendahara Umum
Negara, dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat;
16.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kelautan dan Perikanan;
17.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.05/MEN/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian
Kerugian Negara di Lingkungan Kementerian Kelautan
dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 100);
18.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.20/MEN/2011 tentang Penyelenggaraan Sistem
Pengendalian
Intern
Pemerintah
di
Lingkungan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 483);
19.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.25/MEN/2012 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
di
Lingkungan
Kementerian
Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 1);
20.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 198/PMK.05/2012
tentang Pelaksanaan Likuidasi Entitas Akuntansi dan
Entitas Pelaporan pada Kementerian/ Lembaga (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1278);
21.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
16/PERMEN-KP/2013
tentang
Pemindahtanganan
Barang Milik Negara yang Berasal dari Pelaksanaan Dana
Dekonsentrasi
dan
Dana
Tugas
Pembantuan
di
Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 899);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
TENTANG PENGELOLAAN SATUAN KERJA INAKTIF DI
LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Satuan kerja yang selanjutnya disebut Satker adalah unit organisasi lini
kementerian atau unit organisasi pemerintah daerah yang melaksanakan
kegiatan kementerian dan memiliki kewenangan dan tanggung jawab
penggunaan anggaran.
2.
Satuan kerja inaktif yang selanjutnya disebut Satker Inaktif adalah satuan
kerja yang tidak menerima alokasi anggaran dan/atau menerima kode
satker berbeda pada suatu tahun anggaran, memiliki sejumlah aset dan
kewajiban untuk menyelesaikan tindak lanjut hasil pemeriksaan.
3.
Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat dengan PA adalah pejabat
pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian.
4.
Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat PB adalah pejabat pemegang
kewenangan penggunaan barang Kementerian.
5.
Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat
yang memperoleh kuasa dari Pengguna Anggaran untuk melaksanakan
sebagian
kewenangan
dan
tanggungjawab
penggunaan
anggaran
Kementerian.
6.
Kuasa Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat KPB adalah pejabat
yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang milik
negara yang ada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
7.
Kuasa khusus Kuasa Pengguna Anggaran/Barang satuan kerja inaktif yang
selanjutnya disebut Kuasa Khusus Satker Inaktif adalah pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri untuk menyusun laporan keuangan, mengelola
barang milik negara, dan menyelesaikan tindak lanjut hasil pemeriksaan
dari satu atau lebih satuan kerja inaktif.
8.
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat
UAKPA adalah unit akuntansi instansi yang melakukan kegiatan akuntansi
dan pelaporan tingkat satuan kerja.
9.
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat UAKPB
adalah satuan kerja/kuasa pengguna barang yang memiliki wewenang
mengurus dan/atau menggunakan Barang Milik Negara.
10.
Barang Milik Negara yang selanjutnya disingkat BMN adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
11.
Sistem Pengendalian Intern Kementerian yang selanjutnya disingkat SPIK
adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan
secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi
melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan
perundangan-undangan.
12.
Rentang kendali adalah kemampuan manajemen untuk koordinasi secara
efektif dan sangat tergantung pada banyaknya jumlah bawahan yang
melaporkan dan menyampaikan pertanggungjawab kepadanya.
13.
Penilaian risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran kementerian.
14.
Kementerian adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan.
15.
Menteri adalah Menteri Kelautan dan Perikanan.
Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
(1)
Maksud ditetapkannya Peraturan Menteri ini adalah untuk memberikan
panduan dalam mengisi pejabat yang menjalankan kuasa khusus untuk
melaksanakan tugas dan fungsi laksana KPA dan KPB pada Satker Inaktif.
(2)
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini dalam rangka implementasi
SPIK guna terciptanya keandalan atas laporan keuangan dan pengamanan
aset negara milik Kementerian.
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mengatur mengenai Satker Inaktif yang terdiri dari
perencanaan dan penetapan Satker Inaktif, Kuasa Khusus Satker Inaktif yang
terdiri dari penetapan, tugas, wewenang, dan pembiayaan Kuasa Khusus
Satker Inaktif, serta pelaksanaan tugas dan wewenang Kuasa Khusus Satker
Inaktif.
BAB II
SATKER INAKTIF
Bagian Kesatu
Perencanaan Satker Inaktif
Pasal 4
Pejabat Eselon I di lingkungan Kementerian wajib:
a.
mengidentifikasi adanya Satker Inaktif di lingkungan kerja masing-masing
setelah persetujuan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;
b.
menyusun daftar Satker Inaktif di lingkungan kerja masing-masing;
c.
mengajukan usulan Satker Inaktif kepada Menteri melalui Sekretaris
Jenderal untuk ditetapkan;
d.
menyusun usulan pejabat yang akan menjadi Kuasa Khusus Satker Inaktif;
e.
mengajukan usulan Kuasa Khusus Satker Inaktif kepada Menteri melalui
Sekretaris Jenderal untuk ditetapkan; dan
f.
menyusun rencana kerja dan mengalokasikan anggaran secara memadai
untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi Kuasa Khusus Satker
Inaktif yang teridentifikasi di lingkungan eselon I masing-masing.
Bagian Kedua
Penetapan Satker Inaktif
Pasal 5
(1)
Satker Inaktif sampai dengan 31 Desember 2013 sebagaimana tercantum
dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
(2)
Sekretaris Jenderal atas nama Menteri diberikan wewenang untuk
menetapkan Satker Inaktif pada tahun berjalan untuk periode berikutnya
dengan Keputusan Menteri.
BAB III
KUASA KHUSUS SATKER INAKTIF
Bagian Kesatu
Penetapan Kuasa Khusus Satker Inaktif
Pasal 6
(1)
Dalam satu Eselon I ditunjuk satu Kuasa Khusus Satker Inaktif yang
menangani satu dan atau lebih Satker Inaktif.
(2)
Penunjukkan lebih dari satu kuasa khusus pada satu Eselon I dapat
dilakukan dengan pertimbangan rentang kendali dan penilaian risiko.
Pasal 7
(1)
Kuasa Khusus Satker Inaktif untuk Satker Inaktif sampai dengan 31
Desember 2013 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(2)
Sekretaris Jenderal atas nama Menteri diberikan wewenang untuk
menetapkan Kuasa Khusus Satker Inaktif pada tahun berjalan untuk
periode berikutnya dengan Keputusan Menteri berdasarkan usulan Pejabat
Eselon I.
(3)
Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terikat
pada tahun anggaran dan dapat dilakukan perubahan sesuai dengan
usulan serta berakhir jika seluruh aset dan kewajiban Satker Inaktif
dinyatakan tuntas oleh Inspektur Jenderal dan siap diteruskan untuk
dilakukan proses likuidasi entitas akuntansi.
Bagian Kedua
Tugas Kuasa Khusus Satker Inaktif
Pasal 8
Kuasa Khusus Satker Inaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
mempunyai tugas:
a.
menyiapkan rencana dan jadwal pelaksanaan sistem akuntansi instansi
yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan dan Sistim Informasi
Manajemen dan Akuntansi BMN;
b.
mengoordinasi pelaksanaan Sistem Akuntansi Instansi;
c.
melakukan pencatatan dan inventarisasi BMN;
d.
menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan dan Laporan Barang
KPB Semesteran/Tahunan;
e.
mengoordinasi pelaksanaan rekonsiliasi Laporan Keuangan dengan
Pengelola Anggaran, baik KPPN maupun Kantor Wilayah DJPB;
f.
mengoordinasi pelaksanaan rekonsiliasi BMN dengan pihak Pengelola BMN,
baik KPKNL maupun Kantor Wilayah DJKN;
g.
mengamankan BMN termasuk melengkapi bukti-bukti kepemilikan serta
melakukan pemeliharaan BMN;
h.
melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMN;
i.
melakukan identifikasi BMN yang tidak terkait dengan Tugas dan Fungsi
Eselon I untuk dilakukan proses serah terima, baik dengan metoda transfer
maupun hibah, sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
j.
menyelesaikan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP-TGR)
dan tindakan manajemen sebagai tindak lanjut hasil pemeriksaan;
k.
menutup rekening bendahara, rekening pengeluaran maupun rekening
pendapatan
l.
menyiapkan usul dan saran proses likuidasi entitas akuntansi;
m.
melaksanakan tugas-tugas tambahan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Bagian Ketiga
Wewenang Kuasa Khusus Satker Inaktif
Pasal 9
Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Kuasa
Khusus Satker Inaktif berwenang:
a.
menunjuk dan menetapkan organisasi UAKPA/UAKPB;
b.
menunjuk dan menetapkan anggota dari berbagai direktorat teknis untuk
membantu melaksanakan tugas dan wewenangnya;
c.
membentuk dan memimpin UAKPA untuk menyusun, menyajikan, dan
menyampaikan Laporan Keuangan masing-masing Satker Inaktif secara
periodik dan berjenjang;
d.
membentuk dan memimpin UAKPB untuk mengelola BMN sejak
perencanaan
kebutuhan/penganggaran,
penggunaan,
pemanfaatan,
pengamanan
dan
pemeliharaan,
penilaian,
penghapusan,
pemindahtanganan, penatausahaan, pelaporan, serta pembinaan,
pengawasan, dan pengendalian;
e.
mengoordinasi pelaksanaan Sistem Akuntansi Instansi;
f.
menandatangani dan menyampaikan Laporan Keuangan Satker Inaktif;
g.
mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan
penggunaan BMN;
h.
menggunakan BMN untuk kepentingan kementerian;
i.
mengajukan usulan pemindahtanganan dan penghapusan BMN;
j.
membentuk tim
ad-hoc
penyelesaian kerugian negara dan melaporkan
hasilnya kepada Tim Penyelesaian Kerugian Negara;
k.
menagih dan menyetorkan kewajiban tuntutan ganti kerugian negara
kepada pihak yang diwajibkan untuk mengganti sesuai keputusan Menteri;
l.
menyelenggarakan diskusi penyelesaian manajerial atas rekomendasi hasil
pemeriksaan; dan
m.
mengajukan usul penuntasan dan penutupan Satker Inaktif atau likuidasi
entitas akuntansi kepada Menteri setelah dilakukan audit oleh Tim dari
Inspektorat Jenderal.
Bagian Keempat
Pembiayaan Kuasa Khusus Satker Inaktif
Pasal 10
(1)
Pembiayaan Kuasa Khusus Satker Inaktif dilekatkan pada Satker yang
memiliki Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran dan mengikuti tata cara
pelaksanaan dan pertanggungjawaban pada Satker tersebut.
(2)
Dukungan pembiayaan tidak dapat dijadikan hambatan langsung dalam
kelancaran pengelolaan Satker Inaktif
BAB IV
PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG
KUASA KHUSUS SATKER INAKTIF
Pasal 11
Kuasa Khusus Satker Inaktif menjalankan tugas dan wewenangnya di bawah
pengendalian Pejabat eselon I masing-masing, berkoordinasi dan dibina oleh
Sekretaris Jenderal, serta mendapat pengawasan dari Inspektorat Jenderal.
Pasal 12
Dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya, Kuasa khusus Satker Inaktif
berpedoman pada peraturan tentang tata cara penyusunan laporan keuangan,
tata cara pengelolaan BMN, tata cara penyelesaian hasil pemeriksaan, tata cara
pelaksanaan likuidasi entitas akuntansi dan entitas pelaporan, dan peraturan
perundang-undangan lain yang ditetapkan pejabat yang berwenang.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 13
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 April 2014
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SHARIF C. SUTARDJO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 April 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
LAMPIRAN I
Eselon I Kode Satker Nama Satker Aset Lancar Selain
Persediaan Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi Dalam Pengerjaan
Penyusutan Aset Tetap
Aset Tak Berwujud
Aset Lainnya (Aset Henti Guna)
Penyusutan Aset
Lainnya Grand Total
DKI JAKARTA
03206 03206015208TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jakarta Utara
- - 253,820,000 - - (149,770,876) - 104,049,124
03207 03207015208TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kota Jakarta Utara
- - 172,511,000 - - (167,191,714) - 5,319,286
03207 03207015605TP Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kepulauan Seribu
- - 80,705,000 - - (80,705,000) - -
Total DKI JAKARTA - - - 507,036,000 - - - - (397,667,590) - - - 109,368,410
INSTANSI KANTOR PUSAT
03203 03203498856KP PMU Promosi Perikanan Berkelanjutan - - 1,641,074,787 581,970,143 30,318,475,069 71,864,829,616 - - (17,139,971,081) - 87,266,378,534
03204 03204445387KP Pengembangan Kawasan Perikanan Budidaya Pusat
- 34,100,000 1,532,459,700 346,227,100 - - - (1,379,835,413) - 532,951,387
03207 03207465202KP Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (MCRMP)
- - 18,896,828,131 8,368,425,921 - - - (15,062,903,820) - 12,202,350,232
Total INSTANSI KANTOR PUSAT - 34,100,000 1,641,074,787 21,011,257,974 39,033,128,090 71,864,829,616 - - (33,582,710,314) - - - 100,001,680,153
PROVINSI JAWA BARAT
03203 03203021621TP DKP Kabupaten Ciamis - - 5,804,430,320 - - (2,031,550,612) - 3,772,879,708 03203 03203025311TP DKP Kabupaten Sukabumi - - 14,993,000 12,260,349,000 - - (4,594,410,475) - 7,680,931,525 03203 03203025449TP DKP Kota Cirebon - - 1,748,500,000 - (244,790,000) - 1,503,710,000 03206 03206026024TP Dinas Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan Kota Tasikmalaya
- - 3,316,000 - 194,165,000 - (2,487,000) - 194,994,000
03206 03206029481TP Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Kota Bandung
- - 441,598,480 3,231,174,992 - - - (323,032,823) - 3,349,740,649
03206 03206890742KD PPN Pelabuhan Ratu - - 3,591,987,000 - - - (329,551,050) - 3,262,435,950 03207 03207020831TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan
Kelautan Kabupaten Bekasi
- - 106,948,000 - - (106,948,000) - -
03207 03207021621TP DKP Kabupaten Ciamis - - 36,839,000 202,001,000 - - - (55,019,090) - 88,377,500 (74,584,340) 197,614,070
Total JAWA BARAT - - - 603,694,480 7,025,162,992 19,813,279,320 194,165,000 - (7,687,789,050) - 88,377,500 (74,584,340) 19,962,305,902
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN
PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16/PERMEN-KP/2014
TENTANG
PENGELOLAAN
SATUAN
KERJA
INAKTIF
DI
LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2013
SATKER INAKTIF PADA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Eselon I Kode Satker Nama Satker Aset Lancar Selain
Persediaan Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi Dalam Pengerjaan
Penyusutan Aset Tetap
Aset Tak Berwujud
Aset Lainnya (Aset Henti Guna)
Penyusutan Aset
Lainnya Grand Total
SATKER INAKTIF AKUN BARANG MILIK NEGARA
03207 03207080914TP Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Kepulauan Mentawai (Coremap)
- - - 2,322,117,473 1,088,207,037 1,858,025,727 - (2,782,282,119) - 132,589,000 (132,589,000) 2,486,068,118
03207 03207081210TP DKP Kabupaten Pasaman Barat - - - - - - - - 128,109,000 (36,555,340) 91,553,660 03207 03207085547TP Dinas Perikanan dan Kelautan Kota
Padang
- - 350,330,000 - - (292,149,647) - 58,180,353
03207 03207085714TP DKP Kota Pariaman - - 129,823,200 493,013,000 - - (191,387,319) - 431,448,881
Total SUMATERA BARAT - - - 5,626,906,483 3,733,086,430 2,489,959,084 9,650,000 - (6,089,018,413) - 440,164,066 (253,186,529) 5,957,561,121
PROVINSI RIAU
03207 03207090069TP BAPPEDA Prov. Riau (MCRMP) - - 329,661,000 - - (329,661,000) 134,870,000 134,870,000 03207 03207090246TP DKP Kabupaten Bengkalis - - 248,475,000 - - (237,953,226) - 10,521,774 03207 03207090517TP DKP Kabupaten Indragiri Hilir - - 107,500,000 79,425,000 - - (110,879,608) - 76,045,392 03207 03207090535TP DKP Kabupaten Indragiri Hilir (MCRMP) - - 381,523,050 - - (336,256,382) - 45,266,668
03207 03207090819TP DKP Kabupaten Rokan Hilir - - 46,700,000 - - (40,857,858) - 5,842,142 03207 03207095333TP DKP Kota Dumai - - 81,000,000 - - (81,000,000) - -
Total RIAU - - - 1,194,859,050 79,425,000 - - - (1,136,608,074) 134,870,000 - - 272,545,976
PROVINSI JAMBI
03203 03203100546TP DKP Kabupaten Kerinci - - 220,623,858 998,372,142 - - (50,204,347) - 1,168,791,653 03203 03203100723TP DKP Kabupaten Tanjabtim - - 560,438,000 3,111,754,572 2,096,210,352 - - (1,397,239,942) - 4,371,162,982 03207 03207100064TP BAPPEDA Prov. Jambi (MCRMP) - - 1,311,343,990 - - (1,311,343,990) - - 03207 03207100209TP DKP Kabupaten Tanjung Jabung Barat - - 197,174,000 - - (190,591,136) - 6,582,864
03207 03207100232TP DKP Kabupaten Tanjab Barat (MCRMP) - - 202,782,000 - - (202,771,650) - 10,350
03207 03207100629TP Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Peternakan, dan Perikanan Kab. Merangin
- - 29,000,000 - - (23,964,286) - 5,035,714
03207 03207100712TP DKP Kabupaten Tanjung Jabung Timur (MCRMP)
- - 147,083,708 - - (147,083,708) - -
03207 03207100723TP DKP Kabupaten Tanjung Jabung Timur - - 89,565,000 75,952,500 - 50,600,000 - (97,919,775) - 118,197,725
Total JAMBI - - - 2,537,386,698 3,408,330,930 3,094,582,494 50,600,000 - (3,421,118,834) - - - 5,669,781,288
PROVINSI SUMATERA SELATAN
03203 03203110351TP Dinas Perikanan Kabupaten Musi Banyuasin
- - 1,393,670,000 - - - (13,936,700) - 1,379,733,300
03203 03203110813TP DKP Kabupaten Ogan Komering Ilir - - 1,621,791,000 - - - (145,961,190) - 1,475,829,810 03203 03203119036TP DKP Prov. Sumatera Selatan (TP) - - 369,453,486 1,898,463,000 - - (1,084,794,534) - 1,183,121,952 03207 03207110813TP DKP Kabupaten Ogan Komering Ilir - - 129,507,000 - - (124,373,072) - 5,133,928 03207 03207110932TP DKP Kabupaten Banyuasin - - 29,150,000 - - (25,100,000) - 4,050,000 03207 03207115147TP DKP Kota Palembang - - 80,700,000 - - (80,700,000) - -
Total SUMATERA SELATAN - - - 239,357,000 3,384,914,486 1,898,463,000 - - (1,474,865,496) - - - 4,047,868,990
Eselon I Kode Satker Nama Satker Aset Lancar Selain
Persediaan Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi Dalam Pengerjaan
Penyusutan Aset Tetap
Aset Tak Berwujud
Aset Lainnya (Aset Henti Guna)
Penyusutan Aset
Lainnya Grand Total
SATKER INAKTIF AKUN BARANG MILIK NEGARA
03206 03206205218TP TP KOTA BAU-BAU - - 278,374,000 531,219,000 - - - (224,581,510) - 585,011,490 03207 03207200064TP Dinas Perikanan dan Kelautan Prov.
Sultra (Coremap)
- - 403,262,000 - 31,450,000 (363,467,500) - 92,960,000 (92,960,000) 71,244,500
03207 03207200065TP BAPPEDA Prov. Sultra (MCRMP) - - 997,081,000 - - (905,952,566) - 91,128,434 03207 03207200135TP BAPPEDA Kab. Kendari (Konawe)
(MCRMP)
- - 175,527,000 - - (145,387,549) - 30,139,451
03207 03207200212TP DKP Kabupaten Buton - - 602,812,300 259,423,108 - - (486,011,794) - 376,223,614 03207 03207200240TP DKP Kabupaten Buton (Coremap) - - 3,254,671,900 327,014,960 9,600,000 (2,468,639,673) - 1,122,647,187 03207 03207200241TP BAPPEDA Kab. Buton (MCRMP) - - 166,431,000 - - (146,037,000) - 20,394,000 03207 03207200311TP DKP Kabupaten Muna - - - 876,199,660 453,440,000 111,818,000 - (843,346,373) - 598,111,287 03207 03207200531TP DKP Kabupaten Konawe Selatan - - 29,900,000 - - (24,578,572) - 5,321,428 03207 03207200708TP DKP Kabupaten Wakatobi (Coremap) - - 3,810,520,076 211,152,000 - 11,850,000 (2,599,034,525) - 1,434,487,551
03207 03207200709TP DKP Kabupaten Wakatobi - - 29,997,000 - - (24,104,143) - 5,892,857 03207 03207200920TP DKP Kabupaten Konawe - - 85,441,000 - - (85,441,000) - - 03207 03207201002TP DKP Kabupaten Konawe Utara - - 14,870,000 - - (12,745,715) - 2,124,285
Total SULAWESI TENGGARA - 411,300,000 - 12,582,536,784 9,308,147,108 3,926,911,112 52,900,000 - (10,625,931,125) - 92,960,000 (92,960,000) 15,655,863,879
PROVINSI MALUKU
03203 03203210525TP DKP Kabupaten Kepulauan Aru 18,375,000 18,000,000 - - - - 36,375,000 03203 03203210622TP DKP Kabupaten Seram Bag. Barat - - 1,403,500,000 - - (42,105,000) - 1,361,395,000 03206 03206210227TP DKP Kabupaten Maluku Tenggara - - 357,266,000 - - (17,863,300) - 339,402,700 03206 03206210316TP DKP Kabupaten Maluku Tenggara Barat - - 293,094,000 - - - (14,654,700) - 278,439,300
03207 03207210151TP DKP Kabupaten Maluku Tengah - - 114,634,000 - - (109,294,714) - 5,339,286 03207 03207210316TP DKP Kabupaten Maluku Tenggara Barat - - 96,158,000 - - (96,158,000) - -
03207 03207210414TP DKP Kabupaten Pulau Buru - - 78,308,000 - - (74,022,286) - 4,285,714 03207 03207210518TP DKP Kabupaten Kepulauan Aru - - 113,500,000 - - (108,142,858) - 5,357,142 03207 03207210708TP DKP Kabupaten Seram Bagian Timur - - 113,300,000 - - (107,942,858) - 5,357,142
Total MALUKU 18,375,000 18,000,000 - 515,900,000 2,053,860,000 - - - (570,183,716) - - - 2,035,951,284
PROVINSI BALI
03206 03206220755TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Badung
- - 824,055,000 74,732,000 149,994,000 - - (794,338,855) - 254,442,145
03207 03207220441TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Gianyar
- - 38,921,000 - - (33,886,714) - 5,034,286
03207 03207220708TP Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Badung
- - 10,000,000 - - (10,000,000) - -
Total BALI - - - 872,976,000 74,732,000 149,994,000 - - (838,225,569) - - - 259,476,431