KEMEN TERIAN LIN GKUN GAN HIDUP DAN KEHUTAN AN
REPUBLIK IN DON ESIA
Jl. D.I Panjaitan Kav.24 Jakarta 13410 Phone/ Fax: 021-8580081 Email: [email protected]
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia
INDEKS
KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP
INDONESIA
TAHUN
2014
INDEKS
KUALITAS LINGKUNGAN
HIDUP INDONESIA
TAHUN 2014
Pe nga r a h:
Dr. Henry Bastaman, MES., Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan
dan Peningkatan Kapasitas, Kementerian Lingkungan Hidup
Pe na nggung Ja w a b:
Ir. Laksmi Dhewanthi, MA., Asisten Deputi Data dan Informasi Lingkungan,
Kementerian Lingkungan Hidup
Pe ny usun:
Dida Gardera, Lindawati, Esrom Hamonangan, Dewi Ratnaningsih, Jetro Pande
Situmorang, N uke Mutikania, Heru Subroto,Hasan N urdin, Indira Siregar,
Darmanto, W iyoga
N a r a Sumbe r :
Prof. Dr. Akhmad Fauzi, Prof. Dr. Lilik Budi Prasetyo, Dr. Budhi Gunawan,
Dr. Driejana,Ir. Idris Maxdoni Kamil, M.Sc.,Ph.D., Dr. Herto Dwi Ariesyady,
Hernani Yulinawati, ST., MURP, Ph.D.
G a mba r Pe t a :
http:/ / id.wikipedia.orgDit e r bit k a n o le h:
Kementerian Lingkungan Hidup KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan
hidup Indonesia, upaya mengurangi laju kerusakan dan
pencemaran terus dilakukan oleh pemerintah baik pusat
maupun daerah serta berbagai komponen masyarakat.
Upaya ini masih belum meningkatkan kualitas lingkungan
hidup sebagaimana yang kita harapkan bersama. Kita
masih mengalami berbagai bencana lingkungan hidup
seperti banjir, kekeringan, longsor, pencemaran dan
kerusakan lingkungan lainnya. Kondisi ini merupakan
gambaran bahwa fungsi lingkungan hidup telah mengalami
penurunan.
Kata Pengantar
Berbagai inisiatif yang dilakukan harus ditingkatkan dengan melibatkan lebih banyak lagi
pemangku kepentingan dan dilakukan dengan tepat sasaran. O leh karenanya diperlukan tolok
ukur pencapaian yang dapat mudah dipahami dan bersifat implementatif. Hal ini mengingat bahwa
lingkungan hidup bersifat kompleks dan berbasis ilmiah dan diperlukan pemahaman operasional.
Dengan begitu dapat dilakukan perencanaan, implementasi dan evaluasi secara lebih optimal. Untuk
mengetahui tingkat pencapaian upaya-upaya tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun
2009 telah mengembangkan alat ukur yang mudah dipahami, yaitu Indeks Kualitas Lingkungan
Hidup (IKLH).
Melalui indeks ini akan mendorong proses pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan tepat.
Seluruh data dan informasi yang dibutuhkan harus dikemas dalam bentuk yang lebih sederhana. IKLH
adalah pengejawantahan parameter lingkungan hidup yang kompleks namun tetap mempertahankan
makna atau esensi dari masing-masing indikatornya. Pada IKLH 2012 yang diterbitkan pada tahun
2013 telah dilakukan penyempurnaan dengan tetap difokuskan pada media lingkungan: air, udara
dan lahan/ hutan. Penyempurnaan ini meliputi pembenahaan metodologi perhitungan dan kriteria
baku mutunya (benchmark). IKLH akan terus disempurnakan kualitasnya agar dapat mencapai indeks
lingkungan hidup yang ideal dan mendekati kondisi realitas senyatanya di lapangan.
Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan amanat Undang undang Dasar 1945
sebagaimana tertuang dalam pasal 28H. IKLH sebagai indikator pembangunan bidang lingkungan
hidup menjadi acuan bersama bagi semua pihak dengan mengukur kinerja perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup. IKLH sudah dinyatakan dalam Visi Misi Jokowi-JK, sebagai bagian
Berdikari Dalam Bidang Ekonomi, yaitu membaiknya Kualitas Hidup dengan Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup. Peraturan Presiden Republik Indonesia N omor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah N asional (RPJMN ) 2015-2019, telah menempatkan IKLH sebagai
2015 merupakan baseline bagi kinerja lingkungan hidup sampai dengan Tahun 2019. O leh karenanya capaian pada Tahun 2014 ini harus merupakan acuan dasar untuk mempertajam prioritas program
dan kegiatan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Dalam kesempatan ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/ Kota atas kesediaannya untuk berbagi data sehingga Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2014 dapat tersusun. Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi
bagi para pakar dan pihak lainnya yang telah membantu perumusan Laporan IKLH 2014 ini. Semoga
kerja sama erat yang baik ini dapat selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Jakarta, Juni 2015
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
BAB I PEN DAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
C. Ruang Lingkup 3
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP
A. Landasan Teori 4
1.Environmental Q uality Index (EO I) 5
2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 6
B. Indikator dan Parameter 7
1. Kualitas Air Sungai 7
2. Kualitas Udara 10
3. Kualitas Tutupan Lahan 10
BAB III IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP
A. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 11
B. Perbandingan IKLH 2011, IKLH 2012 dan IKLH 2013 16
BAB IV KESIMPULAN
A. Kesimpulan 22
B. Rekomendasi 23
DAFTAR PUSTAKA
24L A M P I R A N
METO DO LO GI PERHITUN GAN IKLH 25
PRO FIL PRO VIN SI 32
DAFTAR GAMBAR
viDAFTAR TABEL
viiBAB I
Tabel 1.1 Sasaran Pokok Pembangunan N asional RPJMN 2015-2019 Bidang Lingkungan Hidup
BAB II
Tabel 2.1. Indikator dan Parameter EQ I Tabel 2.2. Indikator dan Parameter IKLH
BAB III
Tabel 3.1. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2014
Tabel 3.2. Proporsi Kontribusi Provinsi terhadap IKLH N asional Tabel 3.3. Rentang N ilai IKLH
Tabel 3.4. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2013 Tabel 3.5. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2012 Tabel 3.6 Margin Error untuk IKLH
Daftar Gambar
BAB II
Gambar 2.1. Struktur IKLH
Gambar 2.2. Sungai-sungai yang dipantau di 33 provinsi
BAB III
Gambar 3.1. Peta IKLH 2014
BAB I PEN DAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Ruang Lingkup
BA B I
PEN DA HULUA N
A . La t a r Be la k a ng
Kualitas lingkungan hidup Indonesia merupakan salah satu isu yang sangat penting ditengah
meningkatnya tekanan yang berpotensi mengubah kondisi lingkungan, baik sebagai dampak pertumbuhan
ekonomi maupun peningkatan jumlah penduduk. Dalam perdebatan akan kualitas lingkungan hidup,
satu hal yang sering sekali sulit untuk di jawab secara lugas berdasarkan data-data yang ada adalah
apakah kualitas lingkungan hidup Indonesia berada dalam kategori baik, sedang atau buruk.
Selama ini data kualitas lingkungan hidup hanya diperoleh melalui proses laboratorium ataupun
sarana berbasis teknologi lainnya, misalnya citra satelit. Hal ini sangat menyulitkan bagi masyarakat
awam untuk memahami angka pengukuran karena diperlukan latar belakang berbasis keilmuan teknis.
Selain daripada itu, indikator lingkungan hidup diukur secara parsial, yaitu berdasarkan media,
seperti air, udara, dan lahan sehingga sulit untuk mendapatkan gambaran yang dapat mewakili kondisi
lingkungan hidup secara utuh dan menyeluruh.
Sementara, pemahaman akan kualitas lingkungan hidup ini sangat penting untuk mendorong
semua pemangku kepentingan (stakeholder) melakukan aksi nyata dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkepentingan untuk mempermudah
masyarakat awam dan para pengambil keputusan mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah
daerah untuk memahami kualitas lingkungan hidup Indonesia.
O leh karenanya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengembangkan suatu indeks
lingkungan berbasis provinsi sejak 2009 yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi
lingkungan hidup pada periode tertentu. Indeks ini diterjemahkan dalam angka yang menerangkan
apakah kualitas lingkungan berada pada kondisi baik, atau sebaliknya.
Studi-studi tentang kualitas lingkungan berbasis indeks sudah banyak dilakukan oleh perguruan
tinggi di luar negeri, seperti Columbia University yang menghasilkan Environmental Sustainability Index (ESI) dan Virginia Commonwealth University yang menghasilkan Environmental Q uality Index (EQ I). Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengembangkan Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) untuk 30
ibukota provinsi sejak 2007. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bekerja sama dengan
Dannish International Development Agency (DAN IDA) juga mulai mengembangkan indeks lingkungan
berbasis provinsi yang pada dasarnya merupakan modifikasi dari Environmental Performance Index (EPI)
pada tahun 2009. EPI sendiri merupakan studi yang dipublikasikan oleh Yale University dan Columbia
University yang berkolaborasi dengan World Economic Forum dan Joint Research Center of the European
Bagi Indonesia, penyusunan indeks kualitas lingkungan hidup terkait erat dengan kebutuhan
sasa-ran pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Pembangunan N asional sesuai
den-gan Peraturan Presiden N o. 43 Tahun 2014, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015 yang memuat
sasaran dan arah kebijakan yang terkait dengan Isu Strategis 25 berupa Peningkatan Keekonomian
Keanekaragaman Hayati dan Kualitas Lingkungan Hidup. Pada Tahun 2015 ditargetkan angka sebesar
64,5 (dari nilai maksimum 100).
Selain itu dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah N asional
(JMN ) 2015-2019, IKLH juga menjadi ukuran utama untuk Sasaran Pokok Pembangunan N asional
RP-JMN 2015-2019, sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 1.1
BAB I PEN DAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Ruang Lingkup
Sesuai dengan Rancangan RPJMN bahwa kebijakan pengelolaan kualitas lingkungan hidup
diarahkan pada peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang mencerminkan kondisi kualitas air,
udara dan lahan, yang diperkuat dengan peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan dan penegakan
hukum lingkungan.
Adapun strategi yang akan dilakukan yaitu berupa penguatan sistem pemantauan kualitas
lingkungan hidup; penguatan mekanisme pemantauan dan sistem informasi lingkungan hidup dan
penyempurnaan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH).
B. Tujua n
Tujuan disusunnya Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) adalah:
Memberikan informasi kepada para pengambil keputusan di tingkat pusat dan daerah tentang
kondisi lingkungan di tingkat nasional dan daerah khususnya tingkat provinsi sebagai bahan evaluasi
kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik tentang pencapaian target program-program
pemerintah di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
No Pembangunan Baseline 2014 Sasaran 2019
1 Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 15,5% 26,0%
2 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 63,0 - 64,0 66,5 – 68,5 3 Tambahan Rehabilitasi Hutan 2 juta ha
(dalam dan luar kawasan)
750 ribu ha (dalam kawasan)
No Pembangunan Baseline 2014 Sasaran 2019
1 Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 15,5% 26,0%
2 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 63,0 - 64,0 66,5 – 68,5 3 Tambahan Rehabilitasi Hutan 2 juta ha
(dalam dan luar kawasan)
750 ribu ha (dalam kawasan) Ta bel 1 .1 . Sa sa ra n Pok ok Pem ba nguna n N a siona l RPJM N
2 0 1 5 -2 0 1 9 Bida ng Lingk unga n Hidup
Dalam fungsinya sebagai pendukung kebijakan, indeks dapat membantu dalam penentuan skala
prioritas yang disesuaikan dengan derajat permasalahan lingkungan sebagaimana diindikasikan oleh
angka indeks kualitas lingkungan hidup. Indeks kualitas lingkungan hidup juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi sumber permasalahan dalam pengelolaan lingkungan hidup.
6HPHQWDUDLWX,./+GDODPIXQJVLQ\DVHEDJDLµEDKDVD¶NRPXQLNDVLXQWXNSXEOLNGDSDWPHPEDQWX
meningkatkan kesadaran masyarakat awam sehingga indeks dapat menjadi alat penggerak bagiketerlibatan publik.
C. Rua ng Lingk up
Kerangka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang diadopsi oleh KLH adalah pengembangan
dari konsep yang dikembangkan oleh Virginia Commonwealth University (VCU) dan BPS dengan
menggunakan kualitas air sungai, kualitas udara, dan tutupan hutan sebagai indikator. Karena
keterbatasan data, kualitas lingkungan di wilayah pesisir dan laut serta kondisi keanekaragaman hayati
belum menjadi indikator dalam perhitungan IKLH.
BA B II
PEN Y USUN A N
IN DEKS KUA LITA S LIN G KUN G A N HIDUP
A . La nda sa n Te o r i
Studi-studi tentang indeks kualitas lingkungan sudah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi di luar
negeri, seperti Yale University dan Columbia University yang menghasilkan Environmental Sustainability Index (ESI), Virginia Commonwealth University yang menghasilkan Environmental Q uality Index (EQ I)
dan oleh Yale University dan Columbia University yang berkolaborasi dengan World Economic Forum
dan Joint Research Center of the European Commission yang menghasilkan Environmental Performance Index (EPI).
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadopsi Environmental Q uality Indeks (EQ I)
untuk mengukur kondisi lingkungan di Indonesia. Selain karena lebih sederhana dan mudah dipahami,
juga karena data yang tersedia relatif lengkap dan kontinu.
1. Environmental Q uality Index (EQ I)
EQ I yang dikembangkan oleh Virginia Commonwealth University (VCU) pada dasarnya mengukur
kecenderungan kualitas atau kondisi lingkungan dari media air, udara, dan lahan, beban pencemar toksik,
perkembangbiakan burung (keanekaragaman hayati), dan pertumbuhan penduduk. EQ I merupakan
gabungan 7 indikator, dan beberapa indikator terdiri dari parameter-parameter sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 2.1.
N O IN DIKATOR PARAM ETER BOBOT
1 Kualitas Udara 18
SO2 18
2 Kualitas Air Permukaan (Indeks Kesesuaian Habitat) 13
Kualitas Air permukaan (N utrien) 13
Nitrogen 50
Phosphorous 50
3 Pembuangan Bahan Beracun 11
4 Lahan basah 15
5 Perkembangbiakan burung 15
6 Populasi 10
N O IN DIKATOR PARAM ETER BOBOT
Ta bel 2 .1 . Indik a tor da n Pa ra m eter EQ I
1 Kualitas Udara 18
SO2 18
2 Kualitas Air Permukaan (Indeks Kesesuaian Habitat) 13
Kualitas Air permukaan (N utrien) 13
Nitrogen 50
Phosphorous 50
3 Pembuangan Bahan Beracun 11
4 Lahan basah 15
5 Perkembangbiakan burung 15
6 Populasi 10
Pb BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP
A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
Indikator dan parameter ditetapkan oleh komite teknis yang dibentuk oleh tim penyusun EQ I. Komite
ini terdiri dari para pakar, serta wakil-wakil dari pemerintah negara bagian dan lembaga swadaya
masyarakat (LSM). Penetapan bobot pada awalnya dilakukan dengan tehnik Delphi, yaitu berdasarkan
pendapat dari akademisi, industriawan, LSM, dan pemerintah negara bagian. Selanjutnya hasil survei
tersebut diagregasikan menjadi bobot rata-rata untuk setiap indikator dan parameter.
EQ I dihitung pada tingkat county (setingkat kabupaten/ kota) dengan menggunakan rumus:
EQI dihitung pada tingkat county (setingkat kabupaten/ kota) dengan menggunakan rumus:
ܧܳܫ =σ ௧ೖೌೝ×ೖೌೝ
௧௧್್
ୀଵ ………2.1
Selanjutnya indeks untuk tingkat negara bagian dihitung dengan menggunakan rumus:
ܸܧܳܫ = σୀଵ ܧܳܫ_ܥݑ݊ݐݎݕ×௨௦௨௦_௨௧௬_ௌ௧௧………..2.2
2.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan DAN IDA menunjuk tim
konsultan untuk menyusun indeks kualitas lingkungan pada tahun 2009. Tim konsultan kemudian
mengajukan konsep yang merupakan adopsi dari EPI. Selain itu BPS juga sejak tahun 2008
mengembangkan indeks kualitas lingkungan perkotaan. Dari berbagai seminar yang diadakan oleh BPS
dan focus discussion group (FGD) yang diadakan oleh KLH bekerjasama dengan DAN IDA, akhirnya diputuskan untuk mengadopsi konsep indeks yang dikembangkan oleh BPS dan VCU yang dimodifikasi.
Konsep IKLH, seperti yang dikembangkan oleh BPS, hanya mengambil tiga indikator kualitas
lingkungan yaitu kualitas air sungai, kualitas udara, dan tutupan hutan. Berbeda dengan BPS, IKLH
dihitung pada tingkat provinsi sehingga dapat menghasilkan indeks tingkat nasional. Perbedaan lain
dari konsep yang dikembangkan oleh BPS dan VCU adalah setiap parameter pada setiap indikator
digabungkan menjadi satu nilai indeks. Penggabungan parameter ini dimungkinkan karena ada
ketentuan yang mengaturnya, seperti:
1. Keputusan Menteri N egara Lingkungan Hidup N omor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penentuan Status Mutu Air. Pedoman ini juga mengatur tatacara penghitungan indeks
pencemaran air (IPA).
2. Keputusan Menteri N egara Lingkungan Hidup N omor Kep- 45/ MEN LH/ 10/ 1997 tentang
Indeks Pencemar Udara.
Pada IKLH 2009 hingga 2011 dilakukan penyempurnaan agar IKLH lebih mencerminkan kondisi
senyatanya di lapangan. Hal yang disempurnakan adalah perubahan titik acuan dan metode perhitungan.
Sebagai pembanding atau target untuk setiap indikator adalah standar atau ketentuan yang berlaku
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
berdasarkan peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti ketentuan tentang baku
mutu air dan baku mutu udara ambien. Selain itu dapat digunakan juga acuan atau referensi universal
dalam skala internasional untuk mendapatkan referensi ideal (Benchmark).
Pada IKLH 2012, struktur IKLH relatif sama dengan yang sebelumnya, yaitu terdiri dari 3 (tiga)
indikator, namun ada perubahan dalam pembobotan. Hal ini mengingat perlu adanya keseimbangan
antara indikator yang mewakili green issues (isu hijau) dan brown issues (isu coklat).
Isu hijau adalah pendekatan pengelolaan lingkungan hidup yang menangani aspek-aspek
konservasi atau pengendalian kerusakan lingkungan hidup. Isu hijau seharusnya memiliki kontribusi
yang sama terhadap IKLH, namun karena hanya diwakili 1 (satu) indikator, yaitu tutupan hutan, maka
bobotnya lebih besar dibanding indikator lainnya.
Sedangkan isu coklat menangani isu pencemaran lingkungan hidup yang pada umumnya berada
pada sektor industri dan perkotaan. indikator udara dan air yang mewakili isu coklat memiliki bobot
sama. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.1.
IKLH
100%
Indeks Pencemaran Udara
30 %
Indeks Pencemaran Air
30 %
Indeks Tut upan Hahan
40 %
Ga m ba r 2 .1 . Struk tur IKLH
Ta bel 2 .2 . Indik a tor da n Pa ra m eter IKLH
NO INDIKATOR PARAM ETER BOBOT KETERANGAN
1 Kualitas Udara SO2 30% NO2
2 Kualitas Air Sungi
TSS 30% Dihitung Indeks
N O INDIKATOR PARAM ETER BOBOT KETERANGAN
1 Kualitas Udara SO2 30% NO2
2 Kualitas Air Sungi
TSS 30% Dihitung Indeks BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
Parameter dari setiap indikator untuk perhitungan IKLH tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel
2.2. Perhitungan kualitas udara tetap menggunakan indeks pencemaran udara. Khusus untuk parameter
kualitas air, karena akan diperbandingkan dengan indeks tahun 2009 dan 2010 maka yang akan
dihitung tetap tiga parameter, yaitu TSS, DO dan CO D.
Perhitungan IKLH untuk setiap provinsi dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut:
dimana:
IKLH_Provinsi= indeks kualitas lingkungan tingkat provinsi IPA = indeks pencemaran air
IPU = indeks pencemaran udara ITH = indeks tutupan hutan
IKLH_Provinsi =(IPA×30%)+(IPU×30%)+(ITH×40%)
IKLH_Provinsi =(IPA×30%)+(IPU×30%)+(ITH×40%)
ܫܭܮܪ
௦=
σ
ଷଷୀଵܫܭܮܪ
௩௦×
൝
൬ುೠೌೞೞೌುೠೌೞುೝೡೞ ାಽೠೌೞೞೌಽೠೌೞುೝೡೞ ൰
ଶ
ൡ
…
Setelah didapatkan nilai indeks provinsi, kemudian dihitung indeks nasional dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
Perhitungan nilai indeks kualitas air mengacu pada baku mutu atau standar yang ditetapkan
oleh Peraturan Pemerintah (baku mutu air). Indeks Kualitas Udara mengacu kepada referensi standar
internasional, yaitu W HO dan European Union. Sedangkan untuk indeks tutupan lahan/ hutan
menggunakan standar ideal tutupan hutan.
B. Indik a t o r da n Pa r a me t e r
1. Kualitas Air Sungai
Air, terutama air sungai mempunyai peranan yang sangat strategis dalam kehidupan manusia
dan makhluk hidup lainnya. Evaluasi pencemaran air dengan metode Storet menunjukkan peningkatan
persentasi titik pantau dengan status tercemar selama 2009-2013 (KLH2013). Kondisi kualitas air
sungai pada umumnya berada pada status tercemar berat. Persentasi mutu air tercemar berat selama
kurun 2009-2013 memperlihatkan tren peningkatan dimana pada tahun 2009 sebesar 62 persen dan
meningkat menjadi 80 persen di tahun 2013. Data dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2007
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
air sungai juga menjadi sumber air baku untuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti industri, pertanian
dan pembangkit tenaga listrik di lain pihak sungai juga dijadikan tempat pembuangan berbagai macam
limbah sehingga tercemar dan kualitasnya semakin menurun.
Karena peranannya tersebut, maka sangat layak jika kualitas air sungai dijadikan indikator
kualitas lingkungan hidup. Selain kualitasnya, sebenarnya ketersediaan air sungai (debit air) juga perlu
dijadikan indikator. N amun karena data yang tidak tersedia, maka debit air untuk sementara tidak
dimasukkan sebagai indikator.
Perhitungan indeks untuk indikator kualitas air sungai dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri
N egara Lingkungan Hidup N omor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Dalam
pedoman tersebut dijelaskan antara lain mengenai penentuan status mutu air dengan metoda indeks
pencemaran (Pollution Index
ă3,
Menurut definisinya PIj adalah indeks pencemaran bagi peruntukan j yang merupakan fungsi
dari C
i/ Lij, dimana Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air i dan Lij menyatakan konsentrasi
parameter kualitas air i yang dicantumkan dalam baku peruntukan air j. Dalam hal ini peruntukkan yang akan digunakan adalah klasifikasi mutu air kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah N omor 82 Tahun
2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Formula penghitungan indeks
pencemaran adalah:
Pada prinsipnya nilai PIj > 1 mempunyai arti bahwa air sungai tersebut tidak memenuhi baku
peruntukan air j, dalam hal ini mutu air kelas II. Penghitungan indeks kualitas air dilakukan dengan
dimana:
(Ci/ Lij)M adalah nilai maksimum dari Ci/ Lij (Ci/ Lij)R adalah nilai rata-rata dari Ci/ Lij Evaluasi terhadap PIj adalah sebagai berikut:
0HPHQXKLEDNXPXWXDWDXNRQGLVLEDLNMLND3,M 7HUFHPDUULQJDQMLND3,M
7HUFHPDUVHGDQJMLND3,M
4. Tercemar berat jika PIj > 10,0.
ܲܫ
=
ඨ
൫
Τ ൯
ೕ ಾమ
ା൫
Τ ൯
ೕ ೃమଶ
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Setiap lokasi dan waktu pemantauan kualitas air sungai dianggap sebagai satu sampel;
2. Hitung indeks pencemaran setiap sampel untuk parameter TSS, DO , BO D, CO D, Total
Phosphat, E. Coli dan Total Coliform;
3.
0HODNXNDQ QRUPDOLVDVL GDUL UHQWDQJ QLODL WHUEDLN ă WHUEXUXN MXPODK VDPSHO
GHQJDQQLODL3,M!PHQMDGLQLODLLQGHNVGDODPVNDODăWHUEXUXNăWHUEDLN
Setiap provinsi diwakili oleh satu sungai yang dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Sungai tersebut lintas provinsi, atau
2. Sungai prioritas untuk dikendalikan pencemarannya.
Pemantauan setiap sungai paling sedikit dilakukan empat kali setahun pada tiga lokasi sehingga
setidaknya ada 12 sampel (data) kualitas air sungai setiap tahunnya. Sedangkan sungai-sungai yang
dipantau dapat dilihat pada Gambar 2.2.
2. Kualitas Udara
Kualitas udara terutama di kota-kota besar dan metropolitan sangat dipengaruhi oleh kegiatan Ga m ba r 2 .2 . Sunga i-sunga i y a ng dipa nta u di 3 3 provinsi
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
transportasi. Pada tahun 2008 kegiatan transportasi di Indonesia diperkirakan mengemisikan CO 2,
CH4, dan N 2O masing-masing sebesar 83 juta ton, 24 ribu ton, dan 3,9 ribu ton.
Data kualitas udara didapatkan dari pemantauan di 193 ibukota kabupaten/ kota dengan
menggunakan metoda passive sampler. Pemantauan dilakukan empat kali per tahun di lokasi-lokasi
yang mewakili daerah permukiman, industri, dan padat lalu lintas kendaraan bermotor dan parameter
yang diukur adalah SO 2 dan N O 2.
Pada tahun 2014 pengukuran kualitas udara hanya dilakukan sebanyak dua kali per tahun
dianggap mewakili kualitas udara tahunan untuk masing-masing parameter. N ilai konsentrasi tahunan
setiap parameter adalah rata dari nilai konsentrasi per triwulan. Selanjutnya nilai konsentrasi
rata-UDWDWHUVHEXWGLNRQYHUVLNDQPHQMDGLQLODLLQGHNVGDODPVNDODăXQWXNVHWLDSLEXNRWDSURYLQVL
Perhitungan nilai indeks pencemaran udara (IPU) dilakukan dengan formula sebagai berikut:
dimana:
IPU = Indeks Pencemaran Udara IPN O 2 = Indeks Pencemar N O2 IPSO 2 = Indeks Pencemar SO2
ܫܷܲ
=
ூ
ಿೀమାூ
ೄೀమଶ
3. Tutupan Hutan
Hutan merupakan salah satu komponen yang penting dalam ekosistem. Selain berfungsi sebagai
penjaga tata air, hutan juga mempunyai fungsi mencegah terjadinya erosi tanah, mengatur iklim, dan
tempat tumbuhnya berbagai plasma nutfah yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Berdasarkan klasifikasi yang telah ditetapkan hutan terbagi atas hutan primer dan hutan
sekunder. Hutan primer adalah hutan yang belum mendapatkan gangguan atau sedikit sekali mendapat
gangguan manusia. Sedangkan hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh melalui suksesi sekunder
alami pada lahan hutan yang telah mengalami gangguan berat seperti lahan bekas pertambangan,
peternakan, dan pertanian menetap.
Untuk menghitung indeks tutupan hutan yang pertama kali dilakukan adalah menjumlahkan luas
hutan primer dan hutan sekunder untuk setiap provinsi. N ilai indeks didapatkan dengan formula:
dimana:
ITH : Indeks Tutupan Hutan LTH: Luas Tutupan ber-Hutan LKH: Luas W ilayah Provinsi
ܫܶܪ
=
ௐ
்ு
…
BAB II PEN YUSUN AN IN DEKS KUALITAS LIN GKUN GAN HIDUP A. Landasan Teori
1. Environmental Q uality Index (EO I) 2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup B. Indikator dan Parameter
BA B III
Inde k s Kua lit a s Lingk unga n Hidup
A . Inde k s Pr o v insi da n N a sio na l
Secara konsepsi, perhitungan indeks termasuk Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) memiliki
sifat komparatif yang berarti nilai satu provinsi relatif terhadap provinsi lainnya. Dalam perspektif IKLH,
angka indeks ini bukan semata-mata peringkat, namun lebih kepada suatu dorongan upaya perbaikan
kualitas lingkungan hidup. Dalam konteks ini para pihak di tingkat provinsi terutama pemerintah provinsi
dapat menjadikan IKLH sebagai titik referensi untuk menuju angka ideal, yaitu 100. Semakin jauh dengan
angka 100, mengindikasikan harus semakin besar upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang dilakukan.
Selain komparatif terhadap provinsi lainnya, angka indeks nasional dapat menjadi acuan, apabila
angka indeks provinsi berada dibawahnya (lebih kecil) artinya ada dalam kategori upaya yang harus
terakselerasi sedangkan apabila diatasnya (lebih besar) artinya ada dalam kategori pemeliharaan.
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
B. Perbandingan IKLH 2011, IKLH 2012 dan IKLH 2013
No
Provinsi
Indeks
Udara 2014
Indeks Air
2014
1
Aceh
91.20
54.57
72.17
72.60
2
Sumatera Utara
87.23
56.67
45.89
61.53
3
Sumatera Barat
89.16
53.71
65.13
68.91
4
Riau
60.30
47.53
50.60
52.59
5
Jambi
91.26
52.75
47.09
62.04
6
Sumatera Selatan
89.25
66.19
37.47
61.62
7
Bengkulu
86.48
62.67
55.03
66.76
8
Lampung
85.98
60.86
30.92
56.42
9
Bangka Belitung
90.39
61.30
36.77
60.21
10
Kepulauan Riau
95.53
64.29
53.30
69.27
11
DKI Jakarta*
46.28
34.00
31.99
36.88
12
Jawa Barat
59.24
39.00
38.98
45.06
13
Jawa Tengah
82.64
51.03
51.33
60.63
14
DI. Yogyakarta
82.01
39.00
33.08
49.53
15
Jawa Timur
73.20
49.11
49.47
56.48
16
Banten
53.15
42.86
37.16
43.67
17
Bali
86.61
60.89
38.90
59.81
18
Nusa Tenggara Barat
92.83
53.50
63.72
69.39
19
Nusa Tenggara Timur
77.13
52.48
60.23
62.98
20
Kalimantan Barat
84.57
64.81
58.73
68.31
21
Kalimantan Tengah
92.69
49.17
69.54
70.37
22
Kalimantan Selatan
88.35
44.00
44.51
57.51
23
Kalimantan Timur
83.96
54.80
80.93
74.00
24
Sulawesi Utara
88.55
50.00
60.30
65.69
25
Sulawesi Tengah
85.99
60.67
81.01
76.40
26
Sulawesi Selatan
90.43
56.29
50.10
64.06
27
Sulawesi Tenggara
92.56
54.74
69.87
72.14
28
Gorontalo
96.20
48.49
80.28
75.52
29
Sulawesi Barat
92.23
58.63
67.59
72.29
30
M aluku
91.81
48.11
82.04
74.79
31
M aluku Utara**
96.94
50.83
82.22
77.22
32
Papua Barat
91.03
58.00
99.51
84.51
33
Papua 84.24
54.67
97.44
80.65
N o
Provinsi
Indeks
Udara 2014
Indeks Air
2014
91.20
54.57
72.17
72.60
87.23
56.67
45.89
61.53
89.16
53.71
65.13
68.91
60.30
47.53
50.60
52.59
91.26
52.75
47.09
62.04
89.25
66.19
37.47
61.62
86.48
62.67
55.03
66.76
85.98
60.86
30.92
56.42
90.39
61.30
36.77
60.21
95.53
64.29
53.30
69.27
46.28
34.00
31.99
36.88
59.24
39.00
38.98
45.06
82.64
51.03
51.33
60.63
82.01
39.00
33.08
49.53
73.20
49.11
49.47
56.48
53.15
42.86
37.16
43.67
86.61
60.89
38.90
59.81
92.83
53.50
63.72
69.39
77.13
52.48
60.23
62.98
84.57
64.81
58.73
68.31
92.69
49.17
69.54
70.37
88.35
44.00
44.51
57.51
83.96
54.80
80.93
74.00
88.55
50.00
60.30
65.69
85.99
60.67
81.01
76.40
90.43
56.29
50.10
64.06
92.56
54.74
69.87
72.14
96.20
48.49
80.28
75.52
92.23
58.63
67.59
72.29
91.81
48.11
82.04
74.79
96.94
50.83
82.22
77.22
91.03
58.00
99.51
84.51
84.24
54.67
97.44
80.65
1
Aceh
2
Sumatera Utara
3
Sumatera Barat
4
Riau
5
Jambi
6
Sumatera Selatan
7
Bengkulu
8
Lampung
9
Bangka Belitung
10
Kepulauan Riau
11
DKI Jakarta*
12
Jawa Barat
13
Jawa Tengah
14
DI. Yogyakarta
15
Jawa Timur
16
Banten
17
Bali
18
Nusa Tenggara Barat
19
Nusa Tenggara Timur
20
Kalimantan Barat
21
Kalimantan Tengah
22
Kalimantan Selatan
23
Kalimantan Timur
24
Sulawesi Utara
25
Sulawesi Tengah
26
Sulawesi Selatan
27
Sulawesi Tenggara
28
Gorontalo
29
Sulawesi Barat
30
M aluku
31
M aluku Utara**
32
Papua Barat
33
Papua
G
a
m
b
a
r
3
.1
.
P
e
ta
I
K
L
H
2
0
1
4
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
B. Perbandingan IKLH 2011, IKLH 2012 dan IKLH 2013
Provinsi Penduduk
Persentase
Ekoregion Sumatera 21.31% 24.97% 23.14%
Lampung 7.608.405 3.20% 34.624 1,80% 2,50%
Sumatera Barat 4.846.909 2.04% 42.013 2,19% 2,11% Sumatera Selatan 7.450.394 3.14% 91.592 4,76% 3,95% Sumatera Utara 12.982.204 5.46% 72.981 3,80% 4,63%
Aceh 4.494.410 1.89% 57.956 3,01% 2,45%
Jambi 3.092.265 1.30% 50.058 2,60% 1,95%
Bangka Belitung 1.223.296 0.51% 16.424 0,85% 0,68%
Riau 5.538.367 2.33% 87.150 4,53% 3,43%
Kepulauan Riau 1.679.163 0.71% 7.411 0,39% 0,55%
Bengkulu 1.715.518 0.72% 19.919 1,04% 0,88%
Ekoregion Jawa 57.49% 6.73% 32.11%
DI. Yogyakarta 3.457.491 1,45% 3.133 0,16% 0,81% Jawa Tengah 32.382.657 13,63% 32.801 1,71% 7,67% Jawa Barat 43.053.732 18,12% 35.378 1,84% 9,98%
Banten 10.632.166 4,47% 9.663 0,50% 2,49%
DKI Jakarta 9.607.787 4,04% 0.664 0,03% 2,04%
Jawa Timur 37.476.757 15,77% 47.800 2,49% 9,13%
Ekoregion BaliNusra 5,50% 3,80% 4,65%
Bali 3,890,757 1,64% 5.780 0,30% 0,97%
Nusa Tenggara Barat 4,500,212 1,89% 18.572 0,97% 1,43% Nusa Tenggara Timur 4,683,827 1,97% 48.718 2,53% 2,25%
Ekoregion Kalimantan 5,80% 28,31% 17,05%
Kalimantan Barat 4.395.983 1,85% 147.307 7,66% 4,76% Kalimantan Timur 3.553.143 1,50% 204.534 10,64% 6,07% Kalimantan Selatan 3.626.616 1,53% 38.744 2,02% 1,77% Kalimantan Tengah 2.212.089 0,93% 153.565 7,99% 4,46%
Ekoregion Sulawesi-M aluku 8,39% 14,00% 11,20%
Gorontalo 1.040.164 0,44% 11.257 0,59% 0,51%
Sulawesi Tengah 2.635.009 1,11% 61.841 3,22% 2,16% Sulawesi Utara 2.270.596 0,96% 13.852 0,72% 0,84%
M aluku 1.533.506 0,65% 47.350 2,46% 1,55%
M aluku Utara 1.038.087 0,44% 33.278 1,73% 1,08% Sulawesi Barat 1.158.651 0,49% 16.787 0,87% 0,68% Sulawesi Selatan 8.034.776 3,38% 46.717 2,43% 2,91% Sulawesi Tenggara 2.232.586 0,94% 38.068 1,98% 1,46%
Ekoregion Papua 1,51% 22,19% 11,85%
Papua 2.833.381 1,19% 309.934 16.12% 8.66%
Papua Barat 760.422 0,32% 116.571 6.06% 3.19%
Indonesia 237.641.326 1.922.442
Provinsi Penduduk
Persentase
Ekoregion Sumatera 21.31% 24.97% 23.14%
a c d e f g
Ekoregion Jawa 57.49% 6.73% 32.11%
Ekoregion BaliNusra 5,50% 3,80% 4,65%
Ekoregion Kalimantan 5,80% 28,31% 17,05%
Ekoregion Sulawesi-M aluku 8,39% 14,00% 11,20%
Ekoregion Papua 1,51% 22,19% 11,85%
Indonesia 237.641.326 1.922.442
Papua
Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur DI. Yogyakarta M aluku Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara
2.833.381 1,19% 309.934 16.12% 8.66%
760.422 0,32% 116.571 6.06% 3.19%
4.395.983 1,85% 147.307 7,66% 4,76%
3.553.143 1,50% 204.534 10,64% 6,07%
3.626.616 1,53% 38.744 2,02% 1,77%
2.212.089 0,93% 153.565 7,99% 4,46%
3,890,757 1,64% 5.780 0,30% 0,97%
4,500,212 1,89% 18.572 0,97% 1,43%
4,683,827 1,97% 48.718 2,53% 2,25%
3.457.491 1,45% 3.133 0,16% 0,81%
32.382.657 13,63% 32.801 1,71% 7,67%
43.053.732 18,12% 35.378 1,84% 9,98%
10.632.166 4,47% 9.663 0,50% 2,49%
9.607.787 4,04% 0.664 0,03% 2,04%
37.476.757 15,77% 47.800 2,49% 9,13%
7.608.405 3.20% 34.624 1,80% 2,50%
4.846.909 2.04% 42.013 2,19% 2,11%
7.450.394 3.14% 91.592 4,76% 3,95%
12.982.204 5.46% 72.981 3,80% 4,63%
4.494.410 1.89% 57.956 3,01% 2,45%
3.092.265 1.30% 50.058 2,60% 1,95%
1.223.296 0.51% 16.424 0,85% 0,68%
5.538.367 2.33% 87.150 4,53% 3,43%
1.679.163 0.71% 7.411 0,39% 0,55%
1.715.518 0.72% 19.919 1,04% 0,88%
1.040.164 0,44% 11.257 0,59% 0,51%
2.635.009 1,11% 61.841 3,22% 2,16%
2.270.596 0,96% 13.852 0,72% 0,84%
1.533.506 0,65% 47.350 2,46% 1,55%
1.038.087 0,44% 33.278 1,73% 1,08%
1.158.651 0,49% 16.787 0,87% 0,68%
8.034.776 3,38% 46.717 2,43% 2,91%
2.232.586 0,94% 38.068 1,98% 1,46%
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
B. Perbandingan IKLH 2011, IKLH 2012 dan IKLH 2013
Secara konsepsi, perhitungan indeks termasuk Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) memiliki
sifat komparatif yang berarti nilai satu provinsi relatif terhadap provinsi lainnya. Dalam perspektif IKLH,
angka indeks ini bukan semata-mata peringkat, namun lebih kepada suatu dorongan upaya perbaikan
kualitas lingkungan hidup. Dalam konteks ini para pihak di tingkat provinsi terutama pemerintah provinsi
dapat menjadikan IKLH sebagai titik referensi untuk menuju angka ideal, yaitu 100. Semakin jauh dengan
angka 100, mengindikasikan harus semakin besar upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang dilakukan.
Selain komparatif terhadap provinsi lainnya, angka indeks nasional dapat menjadi acuan, apabila
angka indeks provinsi berada dibawahnya (lebih kecil) artinya ada dalam kategori upaya yang harus
terakselerasi sedangkan apabila diatasnya (lebih besar) artinya ada dalam kategori pemeliharaan.
Untuk mendapatkan angka nasional ini, masing-masing provinsi memberikan kontribusi berdasarkan
jumlah penduduk dan luas wilayahnya terhadap total jumlah Indonesia. Untuk detailnya dapat dilihat
Berdasarkan perhitungan IKLH 2014, upaya yang lebih besar dalam pengelolaan lingkungan
hidup berlaku terhadap semua provinsi, karena pada dasarnya IKLH N asional masih berada pada
posisi yang relatif kurang. Angka 63,42 dari IKLH N asional ini memiliki arti kurang. Berikut ini adalah
klasifikasi penjelasan kualitatif dari angka Indeks.
Ta bel 3 .3 Renta ng N ila i IKLH
Waspada
X
<
50
X
>
90
Pembagian kategori penjelasan kualitatif ini didasari pada sebaran angka dalam perhitungan
indeks. Pembagian ini masih dapat disempurnakan lagi seiring upaya pencapaian dalam membangun
IKLH yang ideal. Kategorisasi penjelasan kualitatif ini dapat juga dijadikan dasar pembuatan kebijakan
dengan penggunaan bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami sebagai bahasa komunikasi,
terutama bagi publik. Sebagai contoh, Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan D.I. Yogyakarta
EHUDGDGDODPNDWHJRUL³ZDVSDGD´+DOLQLGDSDWGLMDGLNDQEDKDVDEHUVDPDGDULVHOXUXKSHPDQJNX
kepentingan untuk berbuat sesuai dengan proporsi dan kemampuan masing-masing untuk memperbaikikualitas lingkungan hidup. Sebaliknya pada posisi teratas, yaitu Provinsi Papua Barat dengan kategori
³VDQJDWEDLN´KDUXVEHUDGDSDGDSRVLVLPHPSHUWDKDQNDQGDQMXJDVHODOXEHUXSD\DXQWXNPHQLQJNDW
SDGDSRVLVL³XQJJXO´
Esensi dari IKLH yang dilihat berdasarkan indikator media adalah sebagai berikiut:
1 . Uda ra
yang secara nasional memiliki angka indeks 80,54 masih relatif baik.Ć
Titik pantau dilakukan di 193 kabupaten/ kota, mayoritas kota sedang dan kecil.Ć
Parameter N O x kecenderungan meningkat (memburuk). Hal ini seiring dengan pertambahankendaraan bermotor.
Ć
Parameter SO x kecenderungan menurun (membaik). Parameter ini dominannya berasaldari industri (batubara dan solar).
Ć
Parameter SO x pada tahun 2014 relatif kurang valid sehingga mayoritas menggunakanBAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
Ć
Provinsi kepulauan Riau memiliki data SO x dan N O x tahun 2014 relatif kurang valid sehingga untuk perhitungannya menggunakan data tahun 2013Ć
Provinsi Papua Barat tidak memiliki data terbaru, sehingga menggunakan data tahun 2012Ć
Provinsi Maluku Utara tidak memiliki data maka digunakan data dari Laporan StatusLingkungan Hidup Daerah 2012 Provinsi Maluku Utara. Data yang didapatkan merupakan
pemantauan 1 jam (hourly) dengan standar perhitungan untuk 1 jam (hourly). Data ini
tentu saja tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan data passive sampler namun
sedikitnya dapat tetap menjadi gambaran.
2 . Air
yang secara nasional memiliki angka indeks5 2 ,1 9
berada dalam kondisisa nga t k
u-ra ng
atau mengkhawatirkan.Titik pantau dilakukan di 33 provinsi, pada umumnya sungai utama yang lintas-provinsi,
yaitu sebagai berikut :
Sunga i y a ng dipa nta u
dengan jumlah total 99 sungai dan anak sungai- Sungai utama : 58 sungai
- Anak Sungai : 41 anak sungai
Titik Pa nta u
dengan jumlah titik pantau : 533 titik pantau- Titik pantau sungai utama : 483 titik pantau
- Titik pantau anak sungai : 50 titik pantau
Pada umumnya kondisi air di seluruh bagian Indonesia masih mengkhawatirkan, kecuali
di beberapa di wilayah Sumatera.
3 . Tutupa n Huta n
yang secara nasional memiliki angka indeks5 9 .0 1
yang dapat diartikanberada dalam kondisi relatif
k ura ng.
Pada umumnya kondisi tutupan hutan di Jawa dan Sumatera adalah mengkhawatirkan.
B. Pe r ba ndinga n IKLH 2 0 11, IKLH 2 0 12 , IKLH 2 0 13 da n IKLH 2 0 14
Pada tahun 2014 diperoleh data tutupan hutan yang merevisi data tutupan hutan hingga tahun
2000. O leh karenanya dilakukan revisi terhadap IKLH 2011, 2012 dan 2013 seiring dengan perhitungan
2014. Revisi data ini mempunyai konsekuensi pada perubahan atau revisi mengubah nilai indeks namun
tidak secara siginifikan. Selain daripada itu, sehubungan adanya penyempurnaan perhitungan IKLH
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
sejak tahun 2013, untuk melihat perkembangan IKLH baik pada tingkat nasional maupun tingkat provinsi,
dilakukan perhitungan ulang pada IKLH 2011, 2012 dan 2013 dengan struktur, indikator dan parameter
serta standar yang sama. Hasil perhitungan ulang IKLH 2013 dan 2012 adalah sebagaimana tercantum
pada tabel-tabel berikut:
Ta bel 3 .4 . Indek s Kua lita s Lingk unga n Hidup 2 0 1 3
No Provinsi
Indeks Udara 2013
Indeks Air 2013
1 Aceh 91.28 51.54 72.17 71.72
2 Sumatera Utara 87.81 60.67 45.89 62.90
3 Sumatera Barat 86.41 52.71 65.13 67.79
4 Riau 52.89 48.71 50.60 50.72
5 Jambi 85.46 51.00 47.09 59.77
6 Sumatera Selatan 83.86 63.20 37.47 59.10
7 Bengkulu 87.61 64.12 55.03 67.53
8 Lampung 79.19 62.00 30.92 54.72
9 Bangka Belitung 84.36 64.25 36.77 59.29
10 Kepulauan Riau 94.45 58.67 53.30 67.26
11 DKI Jakarta* 41.51 34.71 31.99 35.66
12 Jawa Barat 65.56 41.80 38.98 47.80
13 Jawa Tengah 79.43 45.47 51.33 58.00
14 DI. Yogyakarta 86.04 42.57 33.08 51.81
15 Jawa Timur 72.45 49.10 49.47 56.25
16 Banten 57.79 47.10 37.16 46.33
17 Bali 82.80 57.00 38.90 57.50
18 Nusa Tenggara Barat 86.82 54.13 63.72 67.77
19 Nusa Tenggara Timur 83.51 50.14 60.23 64.19
20 Kalimantan Barat 87.74 61.00 58.73 68.12
21 Kalimantan Tengah 88.92 50.13 69.53 69.53
22 Kalimantan Selatan 81.83 46.16 44.51 56.20
23 Kalimantan Timur 84.79 48.67 80.93 72.41
24 Sulawesi Utara 83.97 47.54 60.30 63.57
25 Sulawesi Tengah 87.96 65.56 81.01 78.46
26 Sulawesi Selatan 87.98 57.14 50.10 63.58
27 Sulawesi Tenggara 86.50 49.38 69.87 68.71
28 Gorontalo 90.24 50.00 80.28 74.19
29 Sulawesi Barat 86.58 57.11 67.59 70.14
30 M aluku 90.90 45.67 82.04 73.78
31 M aluku Utara** 96.94 51.67 82.22 77.47
32 Papua Barat 91.03 54.44 99.51 83.45
33 Papua 88.67 58.00 97.44 82.98
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
Ta bel 3 .5 . Indek s Kua lita s Lingk unga n Hidup 2 0 1 2
No Provinsi
Indeks Udara
2012
Indeks Air 2012
1 Aceh 89.65 57.00 72.67 73.06
2 Sumatera Utara 85.50 62.00 46.15 62.71
3 Sumatera Barat 86.02 59.29 65.51 69.80
4 Riau 51.91 54.30 50.65 52.12
5 Jambi 84.49 55.00 48.77 61.36
6 Sumatera Selatan 84.06 55.00 37.54 56.73
7 Bengkulu 87.26 57.40 55.66 65.66
8 Lampung 78.44 53.29 30.96 51.90
9 Bangka Belitung 83.93 59.50 36.76 57.73
10 Kepulauan Riau 89.46 61.00 53.63 66.59
11 DKI Jakarta* 44.31 41.05 32.06 38.43
12 Jawa Barat 65.53 43.75 38.96 48.37
13 Jawa Tengah 79.27 52.40 51.37 60.05
14 DI. Yogyakarta 83.65 49.04 33.07 53.03
15 Jawa Timur 68.88 57.09 49.54 57.61
16 Banten 53.13 53.50 37.16 46.85
17 Bali 83.64 61.50 38.91 59.11
18 Nusa Tenggara Barat 86.20 54.00 63.76 67.57
19 Nusa Tenggara Timur 87.84 54.82 60.26 66.90
20 Kalimantan Barat 89.19 63.25 60.45 69.91
21 Kalimantan Tengah 88.48 54.25 70.06 70.84
22 Kalimantan Selatan 77.46 53.26 44.71 57.10
23 Kalimantan Timur 83.94 51.39 81.31 73.12
24 Sulawesi Utara 84.90 53.85 60.31 65.75
25 Sulawesi Tengah 87.96 70.00 81.48 79.98
26 Sulawesi Selatan 87.98 61.00 50.16 64.76
27 Sulawesi Tenggara 84.65 56.50 69.95 70.32
28 Gorontalo 89.17 52.19 80.69 74.69
29 Sulawesi Barat 87.03 60.84 67.72 71.45
30 M aluku 89.71 48.67 82.06 74.34
31 M aluku Utara** 96.94 57.57 82.39 79.31
32 Papua Barat 91.03 54.50 99.61 83.50
33 Papua 90.19 55.00 97.48 82.55
Indeks Nasional BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
A. Indeks Provinsi dan N asional
Secara nasional, kondisi kualitas lingkungan hidup Indonesia yang diwakili IKLH relatif tetap
walaupun berkecenderungan meningkat, yaitu dari 63,20 menjadi 63,42. Pada laporan IKLH 2013,
angka IKLH 2013 adalah 63,13 dan berubah pada laporan ini menjadi 63,20. Sebagaimana
disampaikan sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya revisi data tutupan hutan tahun 2000 hingga
tahun 2013 seiring pembaruan data tutupan hutan tahun 2014.
Apabila dilihat dari medianya, kualitas udara sedikit meningkat dari 80,17 menjadi 81,12.
Demikian pula untuk kualitas air terdapat peningkatan, yaitu dari 51,82 menjadi 52,19. Sedangkan,
tutupan hutan relative tetap, yaitu 59,01.
Melihat kondisi realitas di lapangan dan kemungkinan adanya data yang kurang valid, maka
diasumsikan terdapat margin error. Margin error yang ditetapkan adalah sebesar 0,65 untuk IKLH
nasional dan 1,84 untuk IKLH di tingkat provinsi. Sehingga, IKLH 2014 yang meiliki nilai 63,42 dan
mengalami peningkatan sebesar 0,22 dari tahun 2013 yang sebesar 63,20 dapat dikatakan tetap
karena selisihnya berada dibawah angka margin error yang sebesar 0,65. Untuk lengkapnya Margin
Error adalah sebagai berikut :
Jika selisih angka masih di bawah atau sama dengan angka margin error, artinya tidak mengalami
perubahan yang signifikan pada kondisi senyatanya di lapangan. Sedangkan selisih di atas angka
margin error mengindikasikan adanya kecenderungan menurun atau membaik. Untuk perbandingan
indikator IKLH 2013 dan 2014, indeks udara, air dan tutupan hutan relatif tetap. Ta bel 3 .5 M a rgin Error untuk IKLH 2 0 1 2 da n 2 0 1 3
Indeks Kualit as Udara Indeks Kualit as Air Indeks Tut upan Hut an IKLH
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
B. Perbandingan IKLH 2011, IKLH 2012 dan IKLH 2013
Margin Error IPU IPA ITH IKLH
Nasional 3.01 1.05 0.76 0.65
Provinsi 4.28 2.93 1.40 1.84
Margin Error IPU IPA ITH IKLH
Nasional 3.01 1.05 0.76 0.65
Sebagai perbandingan lebih lanjut, pada Tabel 3.7. berikut ini ditampilkan IKLH 2011.
1 Aceh 90.96 53.68 75.06 73.42
2 Sumatera Utara 89.60 60.19 47.20 63.82
3 Sumatera Barat 91.05 61.90 67.24 72.78
4 Riau 67.07 55.60 60.49 61.00
5 Jambi 90.33 58.86 51.85 65.50
6 Sumatera Selatan 89.34 60.80 34.52 58.85
7 Bengkulu 87.80 64.10 59.14 69.23
8 Lampung 87.23 62.96 30.19 57.13
9 Bangka Belitung 89.52 61.85 39.44 61.19
10 Kepulauan Riau 90.82 60.88 57.23 68.40
11 DKI Jakarta* 47.21 35.65 32.06 37.68
12 Jawa Barat 71.03 46.27 38.24 50.49
13 Jawa Tengah 81.93 48.23 48.27 58.36
14 DI. Yogyakarta 78.51 42.03 34.15 49.82
15 Jawa Timur 73.84 57.94 51.72 60.22
16 Banten 74.05 51.04 37.92 52.70
17 Bali 80.15 56.15 39.32 56.62
18 Nusa Tenggara Barat 89.51 47.25 62.83 66.16
19 Nusa Tenggara Timur 92.19 56.73 57.31 67.60
20 Kalimantan Barat 95.38 63.63 64.87 73.65
21 Kalimantan Tengah 93.26 54.69 76.58 75.02
22 Kalimantan Selatan 88.69 54.32 45.15 60.96
23 Kalimantan Timur 87.35 50.88 82.36 74.41
24 Sulawesi Utara 90.77 55.95 63.54 69.43
25 Sulawesi Tengah 89.07 59.93 91.11 81.14
26 Sulawesi Selatan 91.42 53.44 50.21 63.54
27 Sulawesi Tenggara 90.00 54.75 87.08 78.26
28 Gorontalo 95.06 53.50 83.83 78.10
29 Sulawesi Barat 88.89 55.84 69.75 71.32
30 M aluku 95.01 48.93 81.45 75.76
31 M aluku Utara** 96.94 54.63 80.98 77.86
32 Papua Barat 92.51 64.50 92.54 84.12
33 Papua 91.07 49.43 98.91 81.71
Indeks Nasional BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
A. Indeks Provinsi dan N asional
Berdasarkan tabel tersebut diatas, dapat dilihat bahwa secara nasional kualitas lingkungan hidup
Indonesia mengalami penurunan, yaitu dari 65,76 pada tahun 2011 menjadi 63,96 pada tahun 2012
dan menjadi 63,42 pada tahun 2014. Apabila dilihat per media, kualitas udara, kualitas air dan tutupan
hutan pada tahun 2014 menunjukkan penurunan. Bahkan dengan mempertimbangkan margin error,
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun 2011 hingga
BAB III Indeks Kualitas Lingkungan Hidup A. Indeks Provinsi dan N asional
BA B IV
Pe nut up
A . Ke simpula n
Pemerintah telah mentargetkan peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sebagai
bagian penting dari Rencana Kerja Pemerintah tahun 2015 dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah N asional 2015-2019. Target peningkatan IKLH mencakup seluruh sektor pembangunan, baik
di pusat maupun daerah yang tercermin pada meningkatnya kualitas air, udara serta tutupan hutan untuk
mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan dan kehidupan masyarakat dalam lingkungan
yang bersih dan sehat.
Peraturan Presiden (Perpres ) N o. 43 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah 2015
mensyaratkan bahwa IKLH harus meningkat ke angka 64,50. Sementara Peraturan Presiden N o. 2 Tahun
2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah N asional (RPJM) 2015-2019 tentang perbaikan
kualitas lingkungan hidup menetapkan target kualitas lingkungan hidup berada pada posisi 66,5-
68,5 pada tahun 2019. Untuk mencapai target ini, tentu diperlukan aksi nyata dari semua pemangku
kepentingan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Peningkatan kualitas lingkungan hidup ini tentu harus didukung dengan penguatan kapasitas
pengelolaan lingkungan hidup yang antara lain mencakup kelembagaan, sumber daya manusia,
penegakan hukum lingkungan, dan kesadaran masyarakat.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan laporan IKLH sejak tahun 2009
sebagai bagian dari pertanggungjawaban pemerintah dalam pencapaian program-program terkait
target perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kepada publik. Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan mengadopsi Environmental Q uality Index (EQ I) untuk mengukur kondisi lingkungan hidup
di Indonesia dengan menggunakan indikator kualitas udara, air dan tutupan hutan sebagai perhitungan.
Laporan IKLH yang berbasis provinsi ini juga dimaksudkan sebagai informasi kepada para
pengambil keputusan di tingkat pusat dan daerah tentang kondisi lingkungan hidup di tingkat nasional
dan daerah, yang bisa dipergunakan sebagai bahan evaluasi dalam pembuatan kebijakan pembangunan
yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang diterjemahkan dalam angka diharapkan mempermudah
semua pemangku kepentingan (stakeholder) mulai dari pemerintah dan masyarakat (publik) dalam
memahami kualitas lingkungan hidupnya, apakah dalam kategori baik, sedang atau buruk. Dengan
mengetahui kualitas lingkungan hidup, maka sumber daya yang ada dapat dialokasikan secara lebih
akurat sehingga akan lebih efektif dan efisien.
Berdasarkan perhitungan IKLH tahun 2014, angka IKLH Nasional yaitu 63,42 yang dapat diartikan
berada dalam rentang kondisi kurang, walaupun ada kecenderungan sedikit meningkat dibanding tahun 2013
yaitu 63,20. Namun pada tahun 2012 mencapai angka 63,96 dan pada tahun 2011 mencapai angka 65,76.
Secara rinci, IKLH 2014 menunjukkan bahwa indeks kualitas air, udara dan tutupan hutan,
cenderung tetap dari periode sebelumnya. Khusus untuk indeks tutupan hutan, walaupun memiliki angka
indeks yang sama dengan tahun 2013, namun kondisi ini jauh menurun jika dibandingkan dengan nilai
indeks tahun-tahun sebelumnya.
Indeks air secara nasional memiliki angka 52,19, yang berarti berada dalam kondisi sangat
kurang atau mengkhawatirkan. Kondisi yang tidak menggembirakan pula adalah tutupan hutan yang
secara nasional memiliki angka 59,01 atau relatif kurang. N amun demikian, kondisi udara secara
nasional memiliki angka 80,54 yang berarti masih berada dalam kondisi yang relatif baik.
Angka indikatif ini mungkin masih berada dalam ranah perdebatan namun Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup ini dapat menjadi acuan yang memberikan gambaran kualitas lingkungan secara
umum. Tentu diperlukan kajian yang lebih mendalam lagi untuk semakin mendekati kondisi senyatanya
yang dilihat dan dirasakan oleh publik. N amun IKLH sudah dapat dijadikan alat yang membantu proses
pembuatan keputusan atau kebijakan.
B. Re k o me nda si
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus berupaya untuk menyempurnakan laporan
IKLH. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan IKLH,antara lain yaitu:
x
IKLH perlu dikembangkan sebagai salah satu alat pendukung pembuatan keputusan
(
Decision making support
);
x
IKLH dikembangkan sesuai dengan konsep yang holistik dan menyeluruh, sedangkan
kebutuhan akan ketersediaan data mengikuti konsep tersebut (
Concept Driven
bukan
Data Driven
). Konsepsi IKLH yang ideal (struktur dan indikator) harus selalu
dikembangkan hingga ditemukan konsepsi yang sangat mendekati kondisi di lapangan;
x
IKLH memiliki sifat dapat ditelusuri (
Traceable
) sehingga setiap angka indikatif dapat
ditemukannya sumber permasalahannya;
x
IKLH didukung oleh data komprehensif namun disajikan secara sederhana dan dapat
dipahami pemangku kepentingan (
Back-end
NRPSUHKHQVLIă
front-end
sederhana);
x
Metodologi perhitungan IKLH perlu terus dikembangkan, termasuk memperkuat uji
statistik dan menentukan parameter kunci;
x
Pembenahan dan penyempurnaan keterwakilan, kesahihan dan keakuratan sumber
BAB IV KESIMPULANDa f t a r Pust a k a
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (1997). Keputusan Kepala Bapedal N omor
107 Tahun 1997 Tentang Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks Standar
Pencemar Udara. Jakarta: Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
Daniel C. Esty, C. K. (2008).
2008 Environmental Performance Index.
N ew Haven: Yale Center
for Environmental Law and Policy.
Elshouf, Sef van den. (2012). CAQ I Air Q ulity Index : Comparing Urban Air Q uality across
Borders - 2012, European Union, IN TERREG IVC
Kementerian Lingkungan Hidup (2013). Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012 : Pilar
Lingkungan Hidup Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup (2014). Status Lingkungan Hidup Indonesia 2013 : Ketahanan
Lingkungan Hidup Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian N egara Lingkungan Hidup. (2003). Keputusan Menteri N egara Lingkungan
Hidup N omor 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Jakarta:
Kementerian N egara Lingkungan Hidup.
Kementerian N egara Lingkungan Hidup. (1999). Peraturan Pemerintah N omor 41 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta: Sekretariat N egara Republik
Indonesia.
Kementerian N egara Lingkungan Hidup. (2001). Peraturan Pemerintah N omor 82 Tahun
2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencedmaran Air. Jakarta:
Sekretariat N egara Republik Indonesia.
Sub Direktorat Statistik dan Jaringan Komunikasi Data Kehutanan, Direktorat Perencanaan
Kawasan Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan. (2008). Statistik Kehutanan
Indonesia 2008. Jakarta: Departemen Kehutanan.
VCU Center for Environmental Studies. (2000, December 6).
Virginia Environmental Q uality
Index.
Dipetik March 10, 2009, dari Virginia Commonwealth University: http:/ / www.
L A M P I R A N
M e t o do lo gi Pe r hit unga n IKLH
1. Inde k s Pe nce ma r a n Uda r a
Pemantauan kualitas udara dilakukan melalui metode Passive Sampler dilakukan di 4 (empat)
lokasi, yaitu area transportasi, industri dan 2 (dua) titik di area komersial, yaitu dalam hal ini perumahan
dan perkantoran/ perdagangan. Dalam satu tahun, umumnya dilakukan 3 (tiga) kali periode pemantauan
dengan durasi pemantauan masing-masingnya 2 (dua) minggu.
Metodologi perhitungan Indeks Kualitas Udara mengadopsi Program European Union melalui
(XURSHDQ5HJLRQDO'HYHORSPHQW)XQGSDGD5HJLRQDO,QLWLDWLYH3URMHFW\DLWX³&RPPRQ,QIRUPDWLRQWR
(XURSHDQ$LU´&LWHDLU,,GHQJDQMXGXO
CAQ I Air Q uality Index : Comparing Urban Air Q uality across%RUGHUVă
Common Air Q uality Index (CAQ I) ini digunakan melalui www.airqualitynow.eu sejak 2006. Indeks ini dikalkulasi untuk data rata-rata per-jam, harian dan tahunan. Sehubungan dengan bakumutu udara Indonesia masih mengacu pada PP 41/ 1999 yang bersifat longgar maka dalam perhitungan
indeks mengadopsi Direktif EU (EU Directives) sebagai berikut:
Standar ini terkait dengan standar yang ditentukan oleh World Health O rganisation
(W HO ).
Ta bel 1 . Referensi EU untuk Kua lita s Uda ra
Sumber : Elshouf, Sef van den. (2012)
Adapun perhitungan indeksnya adalah membandingkan nilai rata-rata tahunan terhadap standar
EU Directives, apabila angkanya melebihi 1 berarti melebih standar EU, begitu pula sebaliknya apabila
sama dan di bawah 1 artinya memenuhi standard dan lebih baik.
LAMPIRAN
Contoh Perhitungan :
Untuk memudahkan pemahaman perhitungan
digunakan contoh provinsi Sumatera Barat untuk perhitungan
IKLH 2012.
La ngk a h 1
Menghitung rerata parameter
N O
2 danSO
2 dari tiap periode pemantauan untuk masing-masing lokasi (titik)sehingga didapat data rerata untuk area transportasi
(A), industri (B) dan 2 (dua) titik di area komersial,
yaitu dalam hal ini perumahan (C1) dan perkantoran/
perdagangan (C2).
Ta bel 2 . Perhitunga n Indek s Kua lita s Uda ra M odel EU
Sumber : Elshouf, Sef van den. (2012)
Ta bel 3 . Perhitunga n Pem a nta ua n Kua lita s Uda ra Pa ssive Sa m pler Ta hun 2 0 1 2 pa da Provinsi Sum a tera Ba ra t
Keterangan:
A: Transportasi C1: Komersial 1 B: Industri C2: Komersial 2
Padang
17,52 12,07 11,17 14,58 15,17 11,13 22,11 15,40 13,84 15,95 14,24 10,77 6,34 8,69 11,76 10,74 5,50 6,72 10,01 8,68
Menghitung rerata parameter
N O
2 danSO
2 untuk masing-masing kota atau kabupaten yangmerupakan perhitungan rerata dari keempat titik pemantauan.
La ngk a h 3
Menghitung rerata parameter
N O
2 danSO
2 untuk provinsi yang merupakan perhitungan reratadari kota atau kabupaten.
Langkah 2 sampai dengan 3 tertuang dalam Tabel 3.
LAMPIRAN
La ngk a h 4
Angka rerata N O 2 dan SO 2 provinsi dibandingkan dengan Referensi EU akan didapatkan Index
Udara model EU (IEU) atau indeks antara sebelum dinormalisasikan pada indeks IKLH.
La ngk a h 5
Index Udara model EU dikonversikan menjadi indeks IKLH melalui persamaan sebagai
berikut :
Langkah 4 dan 5 ini terangkum pada Tabel 4.
Ta bel 4 . Perhitunga n Index Uda ra untuk IKLH
۷ܖ܌܍ܠ ܃܌܉ܚ܉ ۷۹ۺ۶= െ ൬,ૢ࢞ ࡵࢋ࢛ െ , ൰
g
Parameter Rerata Pemantauan 2012 Referensi EU Index
NO2 8,99 40 0,2248
SO2 9,57 20 0,4784
Index Udara
(Index Annual model EU-Ieu)
0,3516
Index Udara 2012 IKLH 86,02
g
Parameter Rerata Pemantauan 2012 Referensi EU Index
NO2 8,99 40 0,2248
SO2 9,57 20 0,4784
0,3516
86,02
Index Udara
(Index Annual model EU-Ieu)
Index Udara 2012 IKLH
2 . Inde k s Pe nce ma r a n A ir
Pemantauan kualitas air dilakukan melalui pemantauan sungai yang pada umumnya sungai lintas
provinsi pada masing-masing provinsi. Mayoritas sungai memiliki 6 (enam) titik pantau dan dalam satu
tahun, umumnya dilakukan 5 kali periode pemantauan.
La ngk a h 1
Masing-masing titik pemantauan diasumsikan sebagai 1 (satu) data dan akan memiliki status mutu
air. Sebagai contoh diambil titik pantau Batang Hari, Hulu (BH1), Pemantauan Periode III, 11 September
2012, pada kondisi cerah dan hujan.
La ngk a h 2
Kemudian konsentrasi parameter dibandingkan dengan baku mutu. Apabila nilai (Ci/ Lij) hasil
pengukuran lebih besar dari 1,0 maka digunakan nilai (Ci/ Lij)baru yaitu dengan rumus sebagai berikut :