Tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan
Teks penuh
(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT KEMANDIRIAN EMOSIONAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 32 PURWOREJO TAHUN AJARAN 2015/2016 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Oleh: Puspita Damayanti 111114013. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2016. i.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT.
(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. MOTTO DAN PERSEMBAHAN. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun dibawah langit ada waktunya. Ada masa bahagia, ada masa duka, jadi semua yang terjadi dalam hidup kita tidak akan selalu menyenangkan dan menyedihkan pasti aka ada di mana kita berada di atas dan kadang kita di bawah. Semua diizinkan Tuhan terjadi untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.” (Pengkotbah 3 : 1). “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencanaMu yang gagal.” (Ayub 42:2). Kupersembahkan skripsi ini untuk: Tuhan Yesus Kristus Kedua orang tuaku tercinta; Bapak YB. Waluya dan Ibu Indriyati Agnes Adikku Maria Rosalia Kartika Dewi Program Studi Bimbingan dan Konseling USD Teman- teman Mahasiswa Angkatan BK 2011 SMP Negeri 32 Purworejo Seseorang yang dengan sabar dan setia mendampingi penulis. iv.
(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang ditulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.. Yogyakarta, 12 Januari 2016. Puspita Damayanti. v.
(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS. Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama. : Puspita Damayanti. Nomor Mahasiswa. : 111114013. Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas. Sanata. Dharma. karya. ilmiah. yang. berjudul:. TINGKAT. KEMANDIRIAN EMOSIONAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 32 PURWOREJO TAHUN AJARAN 2015/2016 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN. Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 12 Januari 2016 Yang menyatakan,. Puspita Damayanti. vi.
(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRAK TINGKAT KEMANDIRIAN EMOSIONAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 32 PURWOREJO TAHUN AJARAN 2015/2016 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN Puspita Damayanti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2016 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 dan membuat usulan topik-topik layanan bimbingan yang dapat meningkatkan tingkat kemandirian emosional mereka. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 64 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kemandirian emosional. Instrumen penelitian dikonstruk dari empat aspek: yaitu memiliki kesadaran sebagai pribadi yang tidak ideal, memandang orang tuanya seperti memandang orang dewasa lainya, n sikap ketidaktergantungan terhadap orang lain, terutama orang tua, berani tampil sebagai pribadi yang unik. Teknik analisis data yang digunakan adalah kategorisasi norma yang berdasar pada PAN dengan 5 tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo yaitu: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 siswa (1,6%) memiliki tingkat kemandirian emosional sangat tinggi, 8 siswa (12,5%) memiliki tingkat kemandirian emosional tinggi, 20 siswa (39,1%) memiliki tingkat kemandirian emosional sedang dan ada 30 siswa (46,9%) memiliki tingkat kemandirian emosional rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disusunlah topik-topik bimbingan untuk meningkatkan tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016. Kata Kunci: Kemandirian, Kemandirian Emosional, Topik-topik Bimbingan,. vii.
(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRACT LEVEL OF EMOTIONAL INDEPENDENCE THE SEVENTH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 32 PURWOREJO ACADEMIC YEAR 2015/2016 AND ITS IMPLICATIONS TO THE PROPOSED TOPICS FOR GUIDANCE Puspita Damayanti Sanata Dharma University Yogyakarta 2016. This study aims to have an overview of the level of emotional independence of the seventh grade students of SMPN 32 Purworejo, academic year 2015/2016 and to propose some guidance topics that can improve the level of their emotional independence. This type of research was a descriptive research. The subject was the seventh grade students of SMP Negeri 32 Purworejo, academic year 2015/2016, who was 64 students in number. Data collection tool used in this study was a questionnaire of emotional independence. The research instrument was constructed mainly from four aspects: having consciousness as a person who is not ideal, looking at their parents as other adults, having an independence attitude towards others, especially the elderly, and being able to behave as a unique person. The data analysis technique used was based on the categorization of norms referring to PAN with 5 levels of emotional independence for the seventh grade students of SMPN 32 Purworejo namely: very high, high, medium, low and very low. The results show that: 1 student (1.6%) has a very high degree of emotional independence, 8 students (12.5%) have a high degree of emotional independence, 20 students (39.1%) have a moderate level of emotional independence and 30 students (46.9%) have a low level of emotional independence. Based on these results, some guidance topics are then compiled to increase the level of emotional independence of the seventh grade students of SMPN 32 Purworejo, academic year 2015/2016. Keywords: Independence, Emotional Independence, Guidance Topics. viii.
(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia yang melimpah yang telah diberikan, sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik sebagai tugas akhir syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana. Penulisan skripsi ini tidak dapat selesai tanpa bantuan orang lain. Pada kesempatan ini diucapkan banyak terimakasih kepada: 1.. Bapak Rohandi, Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.. 2.. Bapak Dr. Gendon Barus, M. Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.. 3.. Ibu Dra. M. J. Retno Priyani, M. Si., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dengan begitu sabar selama proses penulisan skripsi ini.. 4.. Bapak Juster Donal Sinaga . M . Pd., sebagai Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu dalam proses persiapan ujian pendadaran .. 5.. Para Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas ilmu - ilmu dan pengalaman yang diberikan selama ini sehingga memberikan bekal dalam menyelesaikan skripsi ini.. 6.. Bapak Stefanus Priyatmoko yang telah dengan sabar memberikan pelayanan selama menempuh studi di Program Studi Bimbingan dan Konseling.. 7.. Bapak Sukadi, S. Pd., M.M. Pd., selaku Kepala SMP Negeri 32 Purworejo yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian. ix.
(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 8.. Ibu Heni Subekti, S. Pd., M.M. Pd., selaku guru BK kelas VII di SMP Negeri 32 Purworejo yang telah membantu dalam penelitian.. 9.. Siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 atas kerjasamanya saat pelaksanaan penelitian.. 10. Kedua orang tuaku tercinta: Bapak YB. Waluya dan Ibu Indriyati Agnes yang senantiasa selalu memberikan cinta, kasih sayang, doa, dukungan, dan biaya yang telah diberikan selama menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma. 11. Adik Maria Rosalia Kartika Dewi yang selalu memberi semangat, dukungan dan doa. 12. Teman-teman angkatan 2011 yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan doanya secara khusus kepada : Tika, Melani, Dewi, Reny, Grace, Carol, Wulan, Yuli, Agnes, Aan, Sr. Siti, Fika, Resa, Nurul, Riska, dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 13. Teman-teman kost lama: Vidi, Ela, Niken, Dinda, Mbak Devi, Mbak Ririn, Mbak Tirta yang telah memberikan dukungan dan doa. 14. Mbak Wiwik, Trimutmainah, Mbak Ita, Mas Ikko, Mas Hari, Mbak Nisa, Mas Herman, Mbak Banon, Mbak Astin, Mbak Api, Yulia Dewi, Arin, Erlin, Irene Dian yang telah membantu, memberikan motivasi dan doa. 15. Mas Anas Hana Purwanto yang selalu memberikan dukungan dan doa. Disadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu masukan, saran dan kritik terhadap karya ini sangat diperlukan. Diharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. x.
(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN . ................................................................................. iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................. v LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ............................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................... vii ABSTRACT .............................................................................................................. viii KATA PENGANTAR ............................................................................................. ix DAFTAR ISI ............................................................................................................ xii DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xvi BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah .............................................. ....................... 1 B. Identifikasi Masalah .............................................. ............................. 5 C. Pembatasan Masalah .............................................. ............................ 6 D. Rumusan Masalah.............................................. ................................. 6 E. Tujuan Penelitian ........................................... ..................................... 7 F. Manfaat Penelitian .............................................................................. 7 G. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 8 BAB II LANDASAN TEORI....................................... ........................................... 9 A. Kajian Teori ............................. ........................................................... 9 1. Definisi Kemandirian Emosional ..... ........................................... 10 2. Aspek-aspek Kemandirian Emosional .................... .................... 12 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Emosional ...... 18 4. Kemandirian Emosional pada Remaja ... ..................................... 23 5. Dampak Kemandirian Emosional pada Remaja .... .................... 25 6. Remaja dan Perkembangan Kemandirian Emosional .. ............... 27 7. Pentingnya Kemandirian Emosional .................... ....................... 29 xv.
(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 8.. Bimbingan Klasikal untuk Meningkatkan Kemandirian Emosional pada Remaja .............................................................. 30 B. Kajian Penelitian yang Relevan ........................................................... 35 C. Kerangka Pikir ..................................................................................... 36 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 40 A. Jenis Penelitian ..................................... .............................................. 40 B. Waktu dan Tempat Penelitian. ............................................................ 40 C. Subjek dan Sampel Penelitian ............................................................. 40 D. Alat dan Teknik Instrumen Pengumpulan Data ................................. 41 1. Alat Pengumpulan Data .................................................................. 41 2. Kisi-kisi Angket Uji Coba............................................................... 43 3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ............................................... 44 a. Validitas ...................................................................................... 44 b. Reliabilitas .................................................................................. 48 E. Prosedur dan Teknik Analisis Data ..................................................... 51 1. Persiapan & Pelaksanaan ................................................................ 51 2. Tahap Pengumpulan Data ............................................................... 52 3. Teknik Analisis Data ....................................................................... 52 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... ... 58 A. Deskrispsi Data ................................................................................... 58 1. Deskripsi tingkat kemandirian emosional ................................... 58 2. Analisis item-item kemandirian emosional ................................. 60 B. Pembahasan Hasil Penelitian .............................................................. 67 1. Deskripsi tingkat kemandirian emosional siswa .......................... 67 2. Analisis Item-item kemandirian emosional siswa ..................... 73 C. Implikasi Hasil Penelitian .................................................................. 75 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 76 A. Kesimpulan ......................................................................................... 76 B. Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 77 C. Saran ................................................................................................... 78 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 79. xvi.
(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR TABEL. Tabel 1 : Norma Skoring Inventori Kemandirian Emosional ................................. 42 Tabel 2 : Kisi-kisi angket Uji Coba Tingkat Kemandirian Emosional ................... 44 Tabel 3 : Hasil Penghitungan Koefisien Korelasi Item Instrumen Penelitian ....... 47 Tabel 4 : Kriteria Guilford ...................................................................................... 49 Tabel 5 : Kisi-Kisi Angket Kemandirian Siswa Kelas VII Setelah Uji Coba ........ 50 Tabel 6 : Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian ..................................... 53 Tabel 7 : Kategorisasi Tingkat Kemandirian Emosional ........................................ 55 Tabel 8 : Norma Kategorisasi Skor Item Tingkat Kemandirian Emosional............ 56 Tabel 9 : Kategorisasi Item Tingkat Kemandirian Emosional ................................ 57 Tabel 10 : Kategorisasi Deskripsi Tingkat Kemandirian Emosional ....................... 59 Tabel 11 : Kategorisasi Skor Item Tingkat Kemandirian Emosional........................ 61 Tabel 12 : Item Kemandirian Emosional yang Tergolong Sedang .......................... 64 Tabel 13 : Item Kemandirian Emosional yang Tergolong Rendah .......................... 66 Tabel 14 : Usulan Topik-topik Bimbingan ............................................................... 75. xvi.
(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR GAMBAR. Gambar 1. : Diagram Tingkat Kemandirian Emosional ....................................... 59. Gambar 2. : Diagram Skor Item Tingkat Kemandirian Emosional ...................... 62. xv.
(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. : Surat Izin Permohonan Penetian. Lampiran 2. : Tabulasi Data Uji Coba Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 3. : Tabulasi Data Penelitian Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 4. : Angket Uji Coba Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 5. : Angket Penelitian Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 6. : Hasil Uji Validitas Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 7. : Hasil Uji Coba Reliabilitas Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 8. : Hasil Uji Reliabilitas Tingkat Kemandirian Emosional. Lampiran 9. : Satiuan Pelayanan Bimbingan. xvi.
(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN Bab ini memaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional variabel penelitian. A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal bagi remaja yang didalamnya terdapat kegiatan pembelajaran dengan kurikulum yang sesuai dengan ketetapan oleh Departemen Pendidikan. Sekolah juga merupakan salah satu tempat untuk memperoleh pendidikan bagi siswa. Sekolah bukan hanya sebagai sarana bagi siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan namun juga merupakan sarana untuk mengembangkan potensi diri dan pembentukan kepribadian serta kemandirian emosional. Dilihat dari tahap perkembangannya, siswa SMP digolongkan ke dalam fase remaja awal. Fase remaja awal merupakan transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial dan emosional. Salah satu tugas perkembangan siswa yang harus dilaksanakan pada periode remaja adalah kemampuan untuk mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Pada masa remaja awal, secara fisik siswa SMP. sudah. mengalami perubahan menuju. kedewasaan diri, tetapi secara psikologis pengelolaan kognitif dan pengelolaan emosi masih belum stabil. Di sisi lain, pada masa ini mereka akan mudah tersinggung jika masih diperlakukan seperti anak-anak.. 1.
(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2. Bagi kebanyakan remaja, mengembangkan kemandirian emosional merupakan. hal. yang. sama. pentingnya. seperti. orang. dewasa. mengembangkan identitas. Diharapkan remaja memiliki kemandirian emosional, karena dengan demikian banyak hal-hal positif yang bisa diperoleh oleh para remaja tersebut, yaitu tumbuhnya rasa percaya diri, tidak tergantung pada orang lain, tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, bisa menentukan mana yang baik dan yang buruk bagi dirinya, mampu mengontrol dan mengendalikan emosinya, mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Situasi kehidupan yang dialami oleh remaja yang disebutkan di atas sangat nyata dan bahkan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi remaja yang mandiri yakni remaja yang menguasai dan mengatur diri sendiri, merupakan salah satu tugas perkembangan yang paling mendasar dalam masa remaja, bagi remaja tuntutan untuk memperoleh kemandirian harus dicapai salah satunya merupakan aspek emosional, remaja yang mandiri secara emosional antara lain dapat mengontrol dan mengendalikan emosi yang ditampilkanya, kemandirian emosi juga harus diiringi oleh kematangan emosi seseorang. Di sisi lain, ada juga remaja yang masih tergantung secara emosional pada orangtuanya, mereka menjadi “anak manja“ yang mengidolakan orangtuanya, orang tuanya dianggap yang paling ideal sehingga remaja merasa nyaman untuk menuruti keinginan orangtua dalam memperlakukan dirinya. Hubungan orangtua dan anak seperti ini sebenarnya tidak menjadi.
(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. masalah, tetapi menyebabkan remaja tidak menjadi mandiri secara emosional. Keadaan tersebut memaksa siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan menentukan sikap yang tepat tanpa harus bergantung dengan orang lain. Oleh karena itu, sikap yang dibutuhkan untuk menghadapi dan memecahkan suatu masalah dapat menggunakan sikap kemandirian. Mencapai kemandirian emosional seperti orang dewasa lainnya merupakan salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dicapai. Tuntutan untuk memperoleh kemandirian secara emosional bagi remaja merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintahperintah dan kontrol orang tua. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk dapat mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung secara emosional pada orang tuanya. Bila remaja mengalami kekecewaan, kesedihan atau ketakutan, mereka ingin dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Meskipun remaja dapat mendiskusikan masalah-masalahnya dengan ayah atau ibunya, tetapi mereka ingin memperoleh kemandirian secara emosional dengan mengatasi sendiri masalah-masalahnya dan ingin memperoleh status yang menyatakan bahwa dirinya sudah dewasa. Melihat kenyataan tersebut, dibutuhkan dukungan serta bantuan dalam pencapaian. kemandirian. emosional. tersebut. khususnya. keluarga,. lingkungan sekitar dan sekolah. Selain itu guru pembimbing juga mempunyai peran yang besar dalam proses pembentukan kemandirian emosional siswanya. Guru pembimbing diharapkan dapat memberikan.
(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4. kesempatan pada siswa agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan. Dengan demikian siswa akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri. Perkembangan kemandirian emosional pada remaja merupakan isu yang penting dan menarik untuk diteliti dengan isu perkembangan identitas. Pentingnya kajian secara serius terhadap isu perkembangan kemandirian pada remaja didasarkan pada pertimbangan bahwa bagi remaja, pencapaian kemandirian merupakan dasar untuk menjadi orang dewasa yang sempurna. Kemandirian emosional remaja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat membantu, membimbing, dan mendidik agar menjadi pribadi yang mandiri secara emosional. Diantaranya faktor eskternal dan internal. Faktor internal yang mempengaruhi kemandirian emosional yaitu dorongan dari dalam diri remaja itu sendiri, antara lain usia, jenis kelamin. Sedangkan faktor eksternal yaitu berbagai stimulasi yang datang dari lingkungan. Faktor eksternal berkaitan dengan pola asuh orang tua, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Salah satu dari faktor tersebut, keluargalah yang sangat berperan penting terhadap perkembangan remaja. Keluarga merupakan unit terkecil pertama di mana anak tumbuh, dibesarkan, dibimbing, dan diajarkan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan harapan sosial tempat dimana keluarga tinggal..
(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 5. Menurut hasil wawancara dari Guru BK SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 masih banyak siswa yang masih tergantung pada orang tua dalam memutuskan sesuatu, siswa belum berani mengambil inisiatif sendiri, mudah sekali terpengaruh teman-temannya dan belum mampu mengelola emosinya dengan baik. Untuk itu guru pembimbing perlu mampu menyajikan topik-topik bimbingan yang sesuai untuk mengembangkan kemandirian emosional siswa. Hal ini perlu dilakukan karena para siswa juga perlu mampu mengembangkan kemandirian emosionalnya. sebagai. bekal. menghadapi. tantangan. dan. tugas. perkembangan di masa dewasa. Maka diperlukanlah sebuah penelitian untuk menjawab seberapa rendahkah tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 guna mendukung perkembangannya sebagai pribadi. Setelah melihat semua hal di atas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul “Tingkat Kemandirian Emosional. Siswa Kelas VII. SMP Negeri 32 Purworejo Tahun Ajaran 2015/2016 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan”.. B. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan perilaku kemandirian dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut: 1.. Kurangnya rasa percaya diri pada siswa-siswi.. 2. Sekitar 75% siswa kelas VII belum mampu mengelola dan.
(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 6. mengontrol emosi dengan baik. 3. Belum mampu menentukan mana yang baik dan yang buruk bagi dirinya pada siswa-siswi. 4. Sekitar 75% siswa kelas VII kurang memiliki kesadaran akan tanggung jawab pada diri siswa-siswi. 5. Sekitar 70 % siswa kelas VII belum bisa mengambil inisiatif sendiri. 6. Sekitar 50 % siswa kelas VII masih mudah sekali terpengaruh teman-temannya. 7.. Siswa-siswi masih bergantung pada orang tuanya untuk memutuskan sesuatu.. 8. Belum ada topik-topik bimbingan pribadi yang sesuai dengan kebutuhan siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016.. C. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, fokus kajian di arahkan pada menjawab masalah mengenai seberapa rendah tingkat kemandirian emosional pada siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016.. D. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1.. Seberapa rendahkah tingkat kemandirian emosional pada siswa kelas.
(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 7. VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016? 2.. Butir pengukuran kemandirian emosional mana yang teridentifikasi rendah yang implikatif diusulkan sebagai topik-topik bimbingan siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016?. E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu: 1. Mendeskripsikan tingkat kemandirian emosional siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016. 2. Menyusun topik-topik bimbingan pribadi yang sesuai untuk mendukung kemandirian emosional pada siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016?. F. Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini, diharapkan muncul beberapa manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pengembangan pengetahuan mengenai kemandirian emosional. 2. Manfaat Praktis a. Bagi para guru BK SMP Negeri 32 Purworejo. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur yang dapat digunakan sekolah untuk menentukan langkah-langkah.
(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 8. yang dapat diberikan kepada siswa untuk meningkatkan kemandirian emosional siswa di sekolah tersebut. b.. Bagi siswa SMP Negeri 32 Purworejo Siswa. semakin. mengetahui. seberapa. rendah. tingkat. kemandirian emosional yang ada dalam diri mereka dan mampu untuk. mengembangkan. kemandirian. emosional. dalam. kehidupan sehari-hari. c. Bagi Peneliti Semakin mengetahui dan memahami bagaimana tingkat kemandirian emosional pada siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016.. G. Definisi Operasional Variabel Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini yaitu : 1. Kemandirian Emosional merupakan kondisi dimana seseorang mampu untuk mengambil sikap, keputusan, langkah dalam suasana hati yang bebas, terlepas dari perasaan yang membebaninya. 2. Bimbingan Klasikal adalah suatu proses pemberian bantuan kepada siswa untuk memahami dirinya dan lingkungannya secara optimal, yang diberikan oleh guru BK di satuan kelas tertentu..
(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini memaparkan hakikat kemandirian emosional, hakikat remaja dan bimbingan. A. Kajian Teori Istilah kemandirian oleh banyak orang didefinisikan berbeda-beda, ada yang menggunakan istilah independence dan otonomi. Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya merujuk pada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi perubahan (Desmita, 2013: 211). Sedangkan Istilah otonomi juga digunakan oleh L. Steinberg dan Santrock. Santrock, (2003 : 190) mendefinisikan otonomi remaja jauh lebih rumit dan sulit dipahami dari pada kelihatannya. Bagi kebanyakan individu kata otonomi berkonotasi mengatur diri sendiri dan bebas. Hill & Holmbeck dalam Santrock, 2003: 191) menyatakan bahwa otonomi remaja bukanlah sebuah dimensi kepribadian tunggal yang secara konsisten tampak dalam setiap perilaku. Steinberg (2002: 290) menyatakan bahwa terdapat tiga karakteristik kemandirian remaja yakni kemandirian emosional, kemandirian perilaku, dan kemandirian nilai. Istilah “autonomy” mengenai remaja sering disejajarkan artinya secara silih berganti dengan kata “independence”, meskipun sesungguhnya ada perbedaan yang sangat tipis diantara keduanya (Steinberg, 1993: 286). Independence, “secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk ‘menjalankan’ atau ‘melakukan sendiri’ aktivitas hidup terlepas dari pengaruh 9.
(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 10. kontrol orang lain”. Sedangkan istilah autonomy = otonomi, (Kamus Inggris Indonesia) berarti kemampuan untuk memerintah sendiri, mengurus sendiri, atau mengatur kepentingan sendiri (Steinberg, 1993:286). 1. Definisi Kemandirian Emosional Steinberg (2002: 290) menyatakan bahwa kemandirian emosional adalah salah satu aspek yang berkaitan dengan perubahan hubungan kedekatan individu, terutama dengan orangtua. Kemandirian emosional menurut Douvan & Adelson (dalam Maya Puspaningtyas, 2008: 18) “The degree to which the adolescence has managed to cast off infantile ties to the family”.(Suatu tingkat masa remaja yang telah berhasil melepaskan ikatan hubungan anak dengan keluarga).. Steinberg & Silverberg (Sprinthall & Collins: 1995) berpendapat bahwa kemandirian emosional menunjuk pada pengertian yang dikembangkan remaja mengenai individuasi dan melepaskan diri atas ketergantungan mereka dari orang tua. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian emosional merupakan aspek kemandirian yang berkaitan dengan perubahan kedekatan hubungan keluarga khususnya orang tua untuk berusaha melepaskan diri dari ikatan kekanak-kanakan, mampu untuk tidak bergantung pada orang lain terutama orang tua dan berusaha melepaskan diri dari ikatan kekanak-kanakan serta dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri.. 2. Aspek-aspek Kemandirian Emosional Terdapat aspek yang mempengaruhi kemandirian emosional seseorang..
(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. Menurut Steinberg. 11. (2002: 292) aspek-aspek kemandirian emosional. tersebut, yakni: a. Kesadaran bahwa Orang Tua sebagai Pribadi yang tidak Ideal (Deidealized) Remaja yang mandiri secara emosional pada aspek de-idealized merupakan remaja yang tidak lagi memandang orang tua sebagai orang yang mengetahui segala-galanya atau menguasai segala-galanya. Deidealized sendiri mempuyai arti bahwa remaja mempunyai pandangan tidak harus selalu sama dengan keinginan orang tuanya, remaja tidak memandang orang tuanya sebagai orang yang mengetahui dan menguasai segalanya (Steinberg 2002: 293). Remaja mampu memandang orangtuanya sebagaimana adanya, maksudnya tidak memandangnya sebagai orang yang idealis dan sempurna. Sejauh mana remaja mengidealkan orang tua mereka. Ciri khas dari aspek ini yakni kadang-kadang orang tua juga membuat kesalahan. Menurut Zeman & Shipman (dalam Steinberg 2002 : 293) mempercayai bahwa de-idealization. merupakan. salah. satu. yang. pertama. untuk. mengembangkan aspek kemandirian emosional, karena remaja menumpahkan kesan kekanak-kanakan mereka dari kesan orang tua mereka sebelumnya dan mengganti dengan yang lebih dewasa. Sehingga remaja tidak lagi tergantung kepada orang tua saat menentukan sesuatu. Remaja dapat memandang orang tua bahwa orang tuanya juga terkadang membuat kesalahan. Remaja tidak lagi.
(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 12. memandang orang tua sebagai orang yang serba tahu, benar dan memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, pada saat menentukan sesuatu mereka. tidak. lagi. bergantung. kepada. dukungan. emosional. orangtuanya. Remaja juga dapat mengerti keterbatasan orang tuanya. Remaja tengah (madya) memiliki kemungkinan lebih kecil dari pada remaja awal untuk mempertahankan gambaran idealized ketika orang tua melihat mereka sebagai individu, remaja pada usia 15-20 tahun belum tentu mandiri secara emosional dari pada usia 10 tahun. Pendapat dari Zeman & Shipman sangat berlawanan dengan penelitian yang dilakukan oleh Smollar dan Younis pada tahun 1985 (dalam Budiman, 2012) yang menyatakan tidak mudah bagi remaja untuk melakukan de-idealized karena mereka masih menganggap orang tua sebagai orang yang serba tahu, benar dan berhak atas dirinya sendiri. Bayangan masa kecil mereka tentang kehebatan orang tua tidak mudah dikritik. Kesulitan untuk melakukan de-idealized remaja terbukti dari hasil riset yang dilakukan Steinberg (2002: 293) yang menemukan bahwa masih banyak remaja awal yang sudah mandiri secara emosional. Mereka masih menganggap orang tua mereka sebagai orang yang serba tahu dan serba benar dan berkuasa atas dirinya. Mereka terkadang masih sulit untuk sekedar menerima pandangan bahwa orang tua terkadang melakukan kesalahan. Beberapa penulis telah menelusuri munculnya proses perbedaan pengembangan kemandirian emosional remaja yang mungkin karena.
(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. akibat dari perceraian orang tua ((Feldman & Quatman. 13. (dalam. Steinberg 2002: 293). Penulis serupa berpendapat bahwa perceraian orang tua mendorong para remaja untuk tumbuh cepat dewasa menuju de – idealized orang tua dari pada ketika mereka berada pada usia yang lebih dini. b. Memandang Orang Tuanya seperti Orang Dewasa Lainnya. (Parent as people) Remaja yang mandiri secara emosional dalam aspek parent as people yakni, mampu memandang dan berinteraksi dengan orang tua sebagai orang pada umumnya – bukan semata-mata sebagai orang tua Sejauh mana remaja melihat orang tuanya seperti orang dewasa lainnya. Dapat memandang orang tua sebagai orang dewasa lainnya berarti remaja memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orangtua, baik sebagai orangtua sesungguhnya maupun sebagai teman dalam mendiskusikan berbagai hal (Steinberg, 2002: 291). Remaja dapat berdiskusi secara leluasa menyampaikan pikiran dan perasaanya kepada orang tuanya termasuk apabila terjadi perbedaan. Remaja dapat melihat orang tuanya sebagai seorang individu selain sebagai orang tuanya (orang lain) dan dapat berinteraksi dengan orang tua tidak hanya dalam hubungan antara orang tua & anak tetapi juga dalam hubungan antar individu (Budiman, 2012: 7). Di suatu sisi, remaja juga dapat menolak pendapat orang tua dan dapat mengungkapkan perasaannya dengan bebas pada orang tuanya. Selain.
(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 14. itu, dalam berinteraksi dengan orang tua, remaja tetap dapat menampilkan emosi cinta kepada orang tua. Disisi lain remaja juga melihat orang tuanya bukan hanya sebagai sumber dukungan emosionalnya saja, namun sebagai pihak yang membutuhkan dukungan emosional saat mengalami kesusahan. c. Memiliki Sikap Ketidaktergantungan terhadap Orang Lain, terutama orang tua. (Non – dependency) Remaja yang mandiri secara emosional dalam aspek nondependecy, yakni remaja tidak serta merta lari kepada orang tua ketika mereka dirundung kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran atau membutuhkan bantuan. Ketika remaja mempunyai masalah, ia tidak selalu bergantung kepada orang tua untuk menyelesaikan masalah tersebut. Contoh, remaja yang memiliki sikap ketergantungan pada orang tuanya yakni ketika remaja tersebut dihadapkan pada sebuah pilihan untuk mengambil keputusan akan melanjutkan sekolah lanjutan Remaja bergantung kepada diri sendiri (non-dependency) merupakan suatu tingkat dimana remaja memiliki sikap yang lebih percaya kepada kemampuan sendiri daripada meminta bantuan orangtua (Steinberg, 2002: 292). Remaja pada umumnya memiliki kekuatan emosi yang hebat untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan di luar keluarga dan dalam kenyataannya remaja merasa lebih dekat dengan teman dibanding dengan orangtua (Steinberg, 2002: 291)..
(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 15. Remaja mampu untuk membuat keputusan dalam menyelesaikan masalahnya, meskipun demikian remaja dapat mendiskusikan dengan orang tuanya dan mampu mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dipilihnya untuk mengatasi masalah-masalah pada dirinya sendiri. Remaja yang kemandirian emosionalnya tinggi, mampu menunda keinginannya untuk meluapkan apa yang sedang dirasakan pada orang lain, mampu menunda untuk meminta dukungan emosionalnya kepada orang tua atau orang lain ketika dia menghadapi masalah. Ketika remaja berbuat salah, remaja mampu mengatasi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. d. Berani Tampil sebagai Pribadi yang Unik (Individuated) Pada aspek individuated ini remaja yang mandiri emosionalnya, sering memiliki energi emosional yang besar dalam rangka menyelesaikan hubungan-hubungan di luar kelurga dan dalam kenyataannya mereka merasa lebih dekat dengan teman-teman daripada orang tua. Dimana tidak semua yang terkait dengan pribadi saya, orang tua. harus. tahu.. Contoh. perilaku remaja. yang. mencerminkan rasa tanggung jawab atas dirinya sendiri, misalnya mampu mengelola uang jajan mereka dengan cara menabung tanpa sepengetahuan orang tua. mereka. Individuasi sendiri berarti. berperilaku lebih bertanggung jawab. Ini didukung pendapat dari seorang Psikoanalis Peter Blos (dalam Steinberg 2002: 292) individuasi menunjukkan bahwa orang yang terus berkembang untuk.
(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 16. meningkatkan tanggungjawabnya dalam mengambil keputusan yang akan dilakukan, daripada menyimpan sendiri tanggungjawab tersebut dari pengaruh dan pengawasan dari orang dewasa. Menurut Josselson (dalam Desmita, 2013: 211) menyatakan bahwa proses pencarian identitas merupakan proses di mana seorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain, ini sering disebut dengan individuasi. Menurut beberapa penelitian dari Bulcroff, Holmbeck (dalam Steinberg: 1989) juga menyebutkan bahwa, penyebab utama pemicu proses individuasi adalah masa pubertas. Perubahan pada masa remaja seperti penampilan fisik dapat memicu perubahan cara pandang remaja baik untuk diri sendiri maupun oleh orang tuanya yang mana dapat memicu interaksi orang tua dengan anak. Konflik yang ditekan yang pernah dialami remaja sejak usia dini akan bangkit kembali pada masa remaja awal karena kebangkitan impuls seksual. Sesaat setelah mengalami masa pubertas hampir sebagian besar keluarga mengalami peningkatan percekcokan dan pertengkaran. Konflik tersebut ditandai dengan adanya peningkatan ketegangan antara anggota keluarga, argumen yang tidak tentu yang menimbulkan ketidaknyamanan berada di dalam rumah. Badai dan stress yang dialami oleh remaja merupakan suatu yang biasa, aspek yang normal, sehat, dan tidak terhindarkan dari perkembangan emosi selama masa remaja, Bahkan Freud (dalam.
(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 17. Steinberg : 2002) juga percaya bahwa dengan tidak adanya konflik antara remaja dan orang tuanya menandakan bahwa remaja itu merupakan remaja yang bermasalah. Pendapat mengenai beberapa penelitian tersebut juga didukung oleh pendapat. dari Cooper,. Holmbeck & Hill (dalam Steinberg 2002: 293) yang menyebutkan bahwa peningkatan konflik orang tua mereka dalam membantu remaja melihat keterangan yang berbeda dalam mengembangkan rasa individuasi. Collins (dalam Steinberg 2002; 293) juga percaya bahwa gerakan ke arah yang lebih tinggi dari tingkat remaja individuasi dirangsang oleh perkembangan kognitif sosial mereka. Kognisi sosial yang dilakukan untuk diri sendiri dan hubungan kita dengan orang lain. Orang tua dan remaja akan mengubah hubungan mereka selama masa remaja, namun ikatan emosional mereka tidak akan terputus. Hal ini menunjukkan perbedaan penting bahwa kemandirian emosional selama masa remaja melibatkan perubahan, bukan remaja yang berpisah dengan orang tua akan menjadi mandiri secara emosional dari orang tua tanpa harus berpisah dengan mereka. Proses individuasi dimulai dari masa kanak-kanak dan berlanjut ke akhir masa remaja, sedikit demi sedikit secara bertahap, melatih orang untuk mandiri, kompeten, dan terpisah dari orang tua . Oleh karena itu individuasi telah banyak menghasilkan sesuatu yang besar dengan perkembangan suatu identitas, melibatkan perubahan bagaimana kita.
(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 18. melihat dan merasakan tentang diri kita . Individuasi tidak melibatkan stres dan kekacauan. Lebih baik, melepaskan ketergantungan kekanak-kanakan pada orang yang lebih dewasa, lebih mendukung, lebih bertanggung jawab, dan mengurangi ketergantungan pada orang lain. Remaja yang berhasil membangun sebuah kesan individuasi dapat menerima tanggung jawab mereka untuk mengambil keputusan dan tindakan (Josselson, 1980 dalam Steinberg, 2002 : 292 ). Remaja tampil sebagai pribadi yang berbeda dengan orangtuanya, remaja merasa berbeda dengan orang tuanya, remaja menegakkan privasi. Remaja mempunyai pemikiran tentang sesuatu hal yang menurut pandangannnya baik. Remaja mampu melepaskan diri dari ikatan orang tuanya, remaja tidak lagi mencurahkan segala apa yang dipikirkan atau dirasakan kepada orang tuanya. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Emosional. Untuk mencapai kemandirian emosional diperlukan suatu proses dan perkembangan, kemandirian emosional bukanlah semata-mata pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan baik di sekolah maupun masyarakat. Perkembangan kemandirian emosional remaja tidak lepas dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi kemandirian emosional yaitu dorongan dari dalam diri remaja itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal yaitu berbagai stimulasi yang datang dari lingkungan..
(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 19. Faktor eksternal berkaitan dengan pola asuh orang tua, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Remaja laki-laki biasanya lebih mandiri dibandingkan perempuan (Bumpus, Crouter, & McHale, 2001 dalam Santrock, 2014). Remaja yang tinggal terpisah dengan orang tua biasanya akan lebih berkembang secara mandiri dibandingkan dengan remaja yang masih tinggal dengan orang tua (Bucx & van Wel, 2008; Nelson & others, 2011 dalam Santrock, 2014). Sementara itu, pola pengasuhan orang tua juga perkembangan kemandirian emosional dilihat dari pola kontrol dan kehangatan yang diberikan orang tua kepada remaja (Santrock, 2014). Menurut Hurlock, 2003; Masrun dkk, (dalam Arifin, 2009 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian emosional antara lain : a. Usia & Jenis Kelamin Keinginan untuk berdiri sendiri dan mewujudkan diri sendiri, sendiri merupakan kecenderungan yang benar-benar terwujud dalam sikap mandiri ketika seseorang telah mencapai usia dewasa. Pada masa ini bersikap mandiri merupakan hak dan kewajiban orang dewasa yang penting dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Pada masa dewasa ini tentunya mereka juga diharapkan untuk mengambil keputusan sendiri. Menurut Setyawan (dalam Arifin, 2009: 10) pada usia di bawah umur, anak laki-laki maupun anak perempuan masih tergantung dengan orangtua dalam hal keuangan, pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Seiring dengan kematangan sikap, semakin. meningkatnya. kecakapan. dan. ketrampilan,. maka.
(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 20. ketergantungan-ketergantungan itu semakin berkurang dan berganti sikap mandiri. Menurut Sarwono (dalam Arifin, 2009: 10) anak- anak terutama pada fase pertama di dalam perkembangan dalam keadaan selalu tergantung atau keadaan selalu minta tolong pada orangtuanya. Steinberg (1993: 144-145) memperlihatkan bahwa tidak banyak pengaruh dari perbedaan jenis kelamin terhadap perkembangan kemandirian emosional remaja. Hasil penelitian Alfredo Oliva dalam Aprilia. menemukan. bahwa. terdapat. peningkatan. kemandirian. emosional yang signifikan pada remaja laki-laki saja, di sepanjang masa awal dan akhir masa remaja. Sedangkan nilai kemandirian emosional pada remaja perempuan hampir sama pada semua kelompok umur remaja. b. Pendidikan Masrun (dalam Arifin, 2009: 10) menyatakan bahwa pendidikan yang dialami seseorang tidak harus berasal dari sekolah. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai peranan cukup besar bagi terbentuknya kemandirian emosional seseorang, dan semakin tinggi tingkat pendidikan individu akan semakin tinggi pula kemandirian emosionalnya. Suryabrata (dalam Arifin, 2009: 10) menegaskan pendidikan adalah usaha manusia dengan penuh tanggung jawab membimbing anak didik ke kedewasaan. Sebagai manusia yang belum dewasa, anak didik belum dapat mandiri secara pribadi, anak didik masih membutuhkan.
(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 21. pendapat atau bimbingan dari orang yang lebih dewasa sebagai pedoman bagi sikap dan tingkah lakunya. Pendidikan baik formal maupun non formal sangat membantu bagi perkembangan kepribadian seseorang dan kemandirian emosional merupakan salah satu aspek dari kepribadian. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai peranan yang cukup besar bagi terbentuknya kemandirian emosional seseorang. c. Konsep diri Menurut Sukadji (dalam Arifin, 2009: 11) konsep diri yang positif mendukung adanya perasaan kompeten pada diri individu untuk menentukan langkah yang akan diambil didalam penyelesaian masalah. d. Lingkungan keluarga, Pola asuh orang tua dan Urutan Posisi Anak Lingkungan keluarga, lingkungan dimana individu bertempat tinggal sangat mempengaruhi tingkah laku dan dapat membentuk pola perilaku serta kebiasaan–kebiasaan seseorang dalam membentuk kemandirian emosional. Perlakuan orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan seberapa baik remaja akan dapat memenuhi tuntutan peningkatan menjadi dewasa. Seifert dan Hoffnung (dalam Arifin, 2009: 11) menyatakan bahwa tanggung jawab orangtua untuk menciptakan hubungan baik antara orangtua dan anak, dimana hal tersebut akan menumbuhkan kemandirian emosional dan rasa percaya diri pada anak yang akan berguna dalam interaksi sosial..
(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. Orang. tua. dengan. pola. asuh. yang. demokratis. 22. sangat. merangsang kemandirian emosional anak dimana orang tua memiliki peran. sebagai. pembimbingnya. untuk. memperhatikan. dan. memperlakukan terhadap setiap aktivitasnya dan kebutuhan anak, terutama yang berhubungan dengan studi dan pergaulannya baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Soekanto (dalam Arifin, 2009: 11) mengatakan bahwa orangtua yang bersifat otoriter akan membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan anak, karena tidak memberi kesempatan pada anak untuk berdiri sendiri. Maka untuk selamanya anak dari orangtua otoriter akan tetap bergantung pada orangtuanya, keadaan ini bukanlah keadaan yang ideal bagi anak-anak maupun mereka yang sudah pada tahap perkembangan remaja, karena tidak menjadi mandiri dan tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Menurut Gerungan (dalam Arifin, 2009: 12) bagaimana orangtua membiasakan anak untuk bertindak mandiri pada usia awal, telah banyak mempengaruhi sikap kemandirian emosionalnya pada masa remaja dan dewasa. Jika sejak kecil orangtua sudah membiasakan anak secara mandiri, membiasakan anak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, memberikan dorongan, pujian terhadap sikap mandiri anak, maka akan membuat anak semakin mandiri di masa remaja dan dewasa. Conger (dalam Arifin, 2009: 12) menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan mengenai peran orangtua dalam hubungannya dengan.
(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 23. anak-anaknya, orangtua dapat membantu atau sebaliknya membuat anak. tidak. mampu. untuk. berusaha. memperoleh. kesempatan-. kesempatan dan mengatasi masalah-masalah yang ditemui di luar rumah. . Menurut (Hurlock, 2003 : 203) anak pertama yang diharapkan untuk bisa menjadi contoh teladan dan menjaga berpeluang. untuk. anak. bungsu. yang. adiknya,. lebih. mendapatkan perhatian. berlebihan dari orang tua dan kakak-kakaknya berpeluang lebih kecil. Selain itu, tempat tinggal atau dengan siapa remaja tinggal juga mempengaruhi kemandirian emosional. (Holmbeck, Durbin & Kung, dalam Santrock, 2007). Berdasarkan penelitian mengenai hubungan antara kedekatan keluarga dengan tingkat kemandirian emosional, didapatkan hasil bahwa semakin tinggi tingkat kedekatan keluarga maka semakin rendah tingkat kemandirian emosional seorang remaja (Dibble, 1986). 4. Kemandirian Emosional pada Remaja. Kemandirian emosional perlu dan penting dimiliki remaja karena kemandirian emosional pada remaja merupakan salah satu tugas perkembangan remaja yakni mencapai kemandirian emosional seperti orang dewasa lainnya. Kemandirian emosional berkembang lebih awal dan menjadi dasar perkembangan kemandirian emosional nilai dan perilaku..
(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 24. Kemandirian emosional menjadi perhatian utama pada masa remaja, dimana pada masa ini terjadi perubahan sosial, fisik, dan kognitif pada remaja, (Santrok, dalam Yahya: 2009). Kemandirian emosional pada masa anak-anak lebih ditekankan pada tingkah lakunya sedangkan pada masa remaja kemandirian emosional sudah melibatkan perkembangan kognisi, emosi dan psikomotor yang lebih matang dan tahap ini juga dibebankan tanggung jawab (Santrock, dalam Yahya, 2009). Steinberg (2003: 290) membagi tiga aspek dari kemandirian emosional, yaitu kemandirian emosional (emotional autonomy), kemandirian dalam bertingkah laku (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (value autonomy). Perkembangan kemandirian emosional juga akan berlanjut ke masa dewasa muda, dimana pada masa ini individu telah mencapai kematangan kemandirian emosional, kemandirian emosional bertingkah laku dan kemandirian emosional nilai yang dianutnya (Santrock, dalam Yahya, 2009). Suatu penelitian yang dilakukan Nuryoto (dalam Arifin, 2009: 3) membedakan tingkat kemandirian yang terbagi menjadi dua tahap perkembangan yaitu masa remaja awal dan remaja akhir, hal ini untuk mengetahui perkembangan kemandirian emosional remaja dalam kurun waktu tertentu dengan pengertian masa remaja awal masih terpengaruh masa anak-kanak dan masa remaja akhir diharapkan sudah menunjukan sikap dewasa. Hasil penelitian Nuryoto menunjukkan bahwa secara umum memang terjadi peningkatan pada kemandirian emosional remaja.
(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 25. mengikuti fase atau tahap perkembangannya. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kemandirian emosional remaja akhir lebih tinggi daripada kemandirian emosional remaja awal Pada masa remaja ini disebut pula masa revolusi dimana hentakan/ledakan perkembangan dari kemampuan fisik dan psikis yang hebat. Namun pada masa ini juga terdapat gejala melemahnya ikatan afektif dengan orang tua, pada masa ini sering timbul rasa tanggung jawab, rasa kebebasan dan juga rasa aku/ego-nya. Semua kejadian tersebut menumbuhan rasa diri yang kuat. Dia mulai menyadari kekuatan sendiri, harga dirinya sebagai seorang individu atau sebagai aku yang mandiri. Namun perasaan hidup yang positif kuat ini juga sering membawa anak muda pada aktivitas mengasingkan diri, dalam artian menjauhkan diri dari kekuasaaan orang tua lalu menggerombol dengan teman yang senasib dan seumuran, dalam usahanya mendapatkan pengakuan terhadap Aku-nya. Secara sadar remaja juga mulai melepaskan relasi dengan lingkungannya dan kekuasaan orang tua atau orang yang dianggap memiliki kewibawaan terhadap dirinya. 5. Dampak Kemandirian Emosional pada Remaja Pada. umumnya. remaja. belum. mandiri. secara. emosional.. Perkembangan kemandirian emosional remaja, tidak terlepas dari interkasi antara remaja dengan orang tuanya. Orang tua merupakan lingkungan pertama yang paling berperan dalam pengasuhan anak.
(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 26. remajanya, sehingga mempunyai pengaruh yang paling besar pada pembentukan kemandirian emosional remaja. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif. Tidak jarang ditemukan seorang remaja menentang, berdebat, beradu pendapat, atau mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tuanya. Remaja berusaha mandiri secara emosi, bagi remaja tuntutan untuk memperoleh kemandirian emosional secara emosional merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintah-perintah dan kontrol orang tua. Menurut Prayitno (dalam Jurnal Ilmiah Konseling Volume 1 No 1 September 2012) remaja yang mandiri secara emosi dapat meluapkan emosinya dengan cara tidak berkelahi yang terjadi seperti masih dalam periode anak-anak. Melainkan dengan cara yang lebih sopan, yaitu diam, pergi keluar, latihan fisik keras sebagai pelarian emosi mereka. Penelitian Lamborn dan Steinberg (dalam Desmita 2013 : 218) menunjukkan bahwa perjuangan remaja untuk meraih otonomi tampaknya berhasil dengan sangat baik dalam lingkungan keluarga yang secara simultan memberikan dorongan dan kesempatan bagi remaja untuk memperoleh kebebasan emosional. Sebaliknya, remaja yang tetap tergantung secara emosional pada orang tuanya mungkin dirinya selalu merasa enak, mereka terlihat kurang kompeten, kurang percaya diri, kurang berhasil dalam belajar dan bekerja dibandingkan dengan remaja.
(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 27. yang mencapai kebebasan emosional (Dace & Keny dalam Desmita, 2013 : 218) Remaja yang telah mencapai kemandirian emosional secara emosi bisa memahami dirinya sendiri, menentukan apa yang baik dan yang buruk bagi dirinya sendiri. Remaja belum mencapai kemandirian emosional secara emosi terkadang merasa dirinya tidak puas sehingga dapat memicu konflik. 6. Remaja dan Perkembangan Kemandirian Emosional. Menurut Hurlock (2003: 206) remaja merupakan peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi perubahan intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik (Sarwono, 2009: 6). Ini juga didukung oleh pendapat ahli lain yang mengatakan bahwa masa remaja merupakan peralihan masa perkembangan yang berlangsung sejak usia sekitar 10 atau 11 atau bahkan lebih awal sampai masa remaja akhir atau usia 20an awal (Papalia dan Olds, 2009: 8) Menurut pendapat lain yang dikemukakan Konopka (dalam Yusuf 2013: 71) remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Sedangkan Calon (dalam Monks, 1989: 217) menyatakan bahwa masa remaja.
(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 28. menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Dapat disimpulkan bahwa remaja adalah. individu mengalami. perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. Dimana remaja sebagai. individu. yang sedang. berkembang dengan segala potensi yang dimiliki sehingga membutuhkan bimbingan dan arahan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja yang sering dikenal dengan masa pencarian jati diri Desmita (2012: 37). Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (1980: 108) antara lain : a. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. b. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Disini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi dan belum dapat dianggap dewasa. Status. sebagai orang. remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu. padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menetukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya..
(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. c. Masa remaja sebagai periode. perubahan. 29. pada emosi, perubahan. tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan. d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perananya dalam masyarakat. e. Masa remaja adalah masa yang menimbulkan ketakutan, karena sulit diatur, dan cenderung berperilaku yang kurang baik. f. Masa remaja adalah masa yang tidak realistis. Remaja cenderung memandang kehidupan dari kaca mata yang berbeda, melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih ketika menentukan cita-citanya. g. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau. kesulitan di dalam usaha meninggalkan kebiasaan pada usia. sebelumnya dan di dalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. 7. Pentingnya Kemandirian Emosional pada Remaja. Pentingnya kemandirian emosional bagi remaja, dapat dilihat dari situasi yang kompleks terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh komplektisitas kehidupan remaja tersebut sangat membutuhkan perhatian dalam dunia pendidikan khususnya fenomena yang sekarang terjadi seperti perkelahian antar remaja, penyalahgunaan obat terlarang, perilaku agresif.
(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 30. dan perilaku menyimpang lainnya. Oleh karena itu fenomena tersebut menuntut. dunia. pendidikan. untuk. mengembangkan. kemandirian. emosional remaja. Kemandirian emosional sudah mulai berkembang sebelum mencapai tahap dewasa. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan seorang yang dari kecil mengatakan “tidak” terhadap berbagai hal yang diminta atau disuruh untuk dilakukan oleh orang tua. Dari contoh ini terlihat bahwa dari sejak dini seorang individu selalu mencoba untuk terlepas dari orang lain atas kekuasaan atas dirinya sendiri. Kemandirian emosional berkembang pada tiap tahapan sesuai dengan usia dan tuntutan pada tiap tahap perkembangannya. Perubahan dan perkembangan fisik yang dialami remaja juga mempengaruhi psikologisnya. Yang menyebabkan konflik batin, perasaan tersebut berakibat timbulnya rasa tertekan, kesal, ingin marah, mudah tersinggung dan canggung dalam pergaulan. Keadaan yang mudah berubah-ubah ini disebabkan oleh perubahan fisik dan psikisnya karena remaja dalam masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Yang sering disebut masa perpanjangan dari masa anak-anak, jadi belum mencapai kedewasaan. Melihat keadaan tersebut sebenarnya remaja belum memiliki tempat yang jelas dan tetap. Ada suatu sisi dimana remaja tidak lagi dikatakan sebagai anak-anak, namun di pihak lain remaja juga belum tergolong orang dewasa. Remaja belum mempunyai pekerjaan yang tetap dan usaha sendiri untuk benar-benar mandiri. terlepas dari orang tua.
(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 31. dengan memikul tanggung jawab sendiri namun mereka masih tergantung terhadap bimbingan dan bantuan orang tua. Fenomena-fenomena mengembangkan. diatas,. kemandirian. menuntut khususnya. dunia. pendidikan. kemandirian. untuk. emosional.. Kartodinata (dalam Desmita, 2012: 189) menyebutkan beberapa gejala yang berhubungan dengan permasalahn kemandirian yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan, yaitu : a. Ketergantungan disiplin pada kontrol luar dan bukan karena dari niat sendiri yang ikhlas. Perilaku ini akan mengarah pada formalistik, ritualistik dan tidak konsisten yang akan menghambat etos kerja dan etos kehidupan yang mapan sebagai salah satu ciri dari kualitas sumber daya dan kemandirian manusia. b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan hidup. Ketidakpedulian terhadap lingkungan merupakan gejala perilaku impulsif yang menunjukkan kemandirian masyarakat rendah. c. Sikap hidup yang konformistik tanpa pemahaman dan mengorbankan prinsip. Mitos bahwa segala sesuatu bisa diatur dan berkembang dalam masyarakat menunjukkan ketidakjujuran dalam berpikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah. Gejala tersebut merupakan kendala utama dalam mempersiapkan individu-individu yang mengarungi kehidupan masa mendatang yang kompleks dan penuh tantangan. Oleh karena itu perkembangan.
(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 32. kemandirian emosional menuju ke arah kesempurnaan menjadi sangat penting untuk dilakukan secara serius, tertata dan terprogram. 8. Bimbingan Klasikal untuk Meningkatkan Kemandirian Emosional pada Remaja Kemandirian emosional merupakan kecakapan yang berkembang sepanjang rentang kehidupan individu yang sangat dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan pendidikan. Oleh sebab itu pendidikan khususnya di sekolah. perlu. melakukan. upaya-upaya. pengembangan. kemandirian. emosional remaja salah satunya dengan melakukan bimbingan (Ali, 2005: 119) antara lain : a.. Penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk : 1) Saling menghargai antar anggota keluarga. 2) Keterlibatan dalam memecahkan masalah remaja atau keluarga.. b.. Penciptaan keterbukaan. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk: 1) Toleransi terhadap perbedaan pendapat 2) Memberikan alasan terhadap keputusan yang diambil bagi remaja. 3) Keterbukaan terhadap minat remaja.. c.. Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan dan mendorong rasa ingin tahu mereka. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk : 1) Mendorong rasa ingin tahu remaja.
(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 33. 2) Adanya jaminan rasa aman dan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan. 3) Adanya aturan tetapi tidak cenderung mengancam bila ditaati. d.. Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk : 1) Menerima apa pun kelebihan maupun kekurangan yang ada pada diri anak. 2) Tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain. 3) Menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk kegiatan produktif. apapun. meskipun. sebenarnya. hasilnya. kurang. memuaskan. e.. Empati terhadap remaja. Ini dapat diwujudkam dalam bentuk: 1) Memahami dan menghayati pikiran dan perasaan remaja. 2) Melihat. berbagai. persoalan. remaja. dengan. menggunakan. perpekstif atau sudut pandang remaja. 3) Tidak mudah mencela karya remaja betapa pun kurang bagusnya karya itu. f.. Menjalin hubungan yang akrab dengan yang lain. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk : 1) Interaksi secara akrab tetapi saling menghargai. 2) Menambah frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja..
(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 34. 3) Membangun suasana humor dan komunikasi ringan dengan remaja. Menurut Stone (dalam Winkel & Hastuti 2010: 1) bimbingan adalah suatu proses membantu orang-perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut (Winkel, 1997: 520) menyatakan bahwa bimbingan klasikal adalah suatu bimbingan yang diberikan kepada kelompok siswa yang tergabung dalam satu-satuan kelas dalam tingkat tertentu pada suatu jenjang pendidikan, pada waktu yang diterapkan pada jadwal. bimbingan.. Kegiatan-kegiatan. dalam. bimbingan. klasikal. dilaksanakan sejalan dan disepakati oleh pihak-pihak terkait. Menurut Winkel dan Hastuti (2010: 565-566) bimbingan klasikal bermanfaat bagi tenaga bimbingan dan juga para siswa. Manfaat bimbingan klasikal bagi siswa antara lain : a. Menjadi lebih sadar akan tantangan yang dihadapi sehingga mereka memutuskan untuk berwawancara secara pribadi dengan konselor. b. Lebih rela menerima dirinya sendiri, setelah menyadari bahwa temantemannya sering menghadapi persoalan, kesulitan dan tantangan yang kerap kali sama. c. Lebih berani mengemukakan pandanganya sendiri bila berada dalam kelompok. d. Diberi kesempatan untuk mendiskusikan sesuatu bersama dan dengan demikian mendapat latihan untuk bergerak dalam suatu kelompok, yang akan dibutuhkan selama hidupnya..
(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 35. e. Lebih bersedia menerima suatu pandangan atau pendapat bila dikemukakan. oleh. seorang. teman. daripada. pendapat. hanya. diketengahkan oleh seorang konselor saja. f. Tertolong untuk mengatasi suatu masalah yang dirasa sulit untuk dibicarakan secara langsung dengan konselor karena malu atau bersifat tertutup.. B. Kajian Penelitian yang Relevan Pada penelitian yang relevan ini ditemukan penelitian tentang kemandirian emosional. Ditemukan hasil penelitian tentang Studi Deskriptif Tingkat Kemandirian Emosional Siswa Kelas IX SMP N 2 Mlati Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Klasikal dan Studi Komparatif Mengenai Kemandirian Emosional Pada Siswa SMP yang Tinggal Di Asrama dan yang Tinggal Di Rumah Dengan Orang Tua. Penelitian tentang Studi Deskriptif Tingkat Kemandirian Emosional Siswa Kelas IX SMP N 2 Mlati Sleman Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Klasikal. ditulis oleh Chintya Sekar Septesa Dani (2014). Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa : pertama, ada 4 (3, 74%) siswa yang tergolong memiliki tingkat kemandirian emosional yang sangat tinggi. Kedua, 68 (63, 55%) siswa tergolong memiliki tingkat kemandirian emosional yang tinggi. Ketiga, 35 (32, 71%) siswa tergolong memiliki tingkat kemandirian.
(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 36. emosional yang sedang, dan keempat tidak ada (0%) siswa yang tergolong memiliki tingkat kemandirian emosional Penelitian. tentang. Studi. Komparatif. Mengenai. Kemandirian. Emosional Pada Siswa SMP yang Tinggal Di Asrama dan yang Tinggal Di Rumah Dengan Orang Tua ditulis oleh Ervini Natasya Mangkudilaga, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan tingkat kemandirian emosional yang signifikan antara siswa SMP yang tinggal di asrama dan siswa SMP yang tinggal di rumah dengan orang tua Meski demikian, kedua kelompok penelitian mayoritas memiliki tingkat kemandirian emosional tinggi, yaitu 60% untuk siswa di yang tinggal di asrama dan 81% untuk siswa yang tinggal di rumah dengan orang tua.. C. Kerangka Pikir Penetapan kerangka pikir dalam suatu karangan ilmiah sangat penting karena kerangka pikir dianggap sebagai arah dalam suatu penelitian. Kerangka pikir ini merupakan suatu yang dianggap benar atau konstan serta. dimaksudkan. untuk. menghindari. terjadinya. penyimpangan-. penyimpangan dalam pembahasan. Kerangka pikir merupakan titik tolak atau pokok pikiran dari permasalahan yang sedang diteliti dan secara logika dapat diterima keabsahannya. Seperti dikemukakan (Arikunto, 2006: 74). Kerangka pikir adalah sebuah titik tolak yang kebenarannya.
(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 37. diterima oleh peneliti dan sifat kebenaran ini selanjutnya diartikan pula peneliti dapat merupakan satu atau lebih hipotesis yang sesuai dengan penelitiannya. Kemandirian emosional. merupakan salah satu bagian dari tugas. perkembangan remaja yang harus diselesaikan oleh remaja khususnya usia remaja awal yakni siswa SMP. Tugas perkembangan tersebut yakni mencapai kemandirian emosional seperti orang dewasa lainnya. Subyek skripsi ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo yang tingkat kemandirian emosionalnya tergolong rendah. Faktor penyebab kemandirian emosional cukup beragam, mulai dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang dimaksud seperti dorongan dari dalam diri seperti usia, jenis kelamin. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah pola asuh, pendidikan, konsep diri. Dalam penulisan kerangka berpikir ini, dapat digambarkan seperti bagan 1.1.
(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 38. Bagan 1.1 Kerangka Berpikir SISWA KELAS VII SMP KEMANDIRIAN EMOSIONAL. Internal Usia Jenis Kelamin. Eksternal Pendidikan Konsep diri Pola asuh. Aspek Kemandirian Emosional 1. De-idealized (kesadaran pribadi yang tidak ideal) 2. Parent as people (memandang orang tuanya seperti memandang orang dewasa lainnya) 3. Non-dependency (memiliki sikap ketidaktergantungan terhadap orang lain 4. Individuated (berani tampil sebagai pribadi yang unik. Tinggi. Rendah. Untuk mencapai kemandirian emosional seseorang juga terdapat aspek yang mempengaruhi Aspek-aspek tersebut terbagi menjadi empat dimensi, yakni : de-idealized (kesadaran pribadi yang tidak ideal), parent as people (memandang orang tuanya seperti memandang orang dewasa lainnya), non-dependency (memiliki sikap ketidaktergantungan terhadap orang lain, individuated (berani tampil sebagai pribadi yang unik). Remaja.
(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 39. yang telah mencapai kemandirian emosional secara emosi bisa memahami dirinya sendiri, menentukan apa yang baik dan yang buruk bagi dirinya sendiri. Remaja belum mencapai kemandirian emosional secara emosi terkadang merasa dirinya tidak puas sehingga dapat memicu konflik. Kesimpulannya. adalah. siswa. memiliki. tingkat. kemandirian. emosional rendah. Siswa siswi yang masuk dalam kategori rendah mengindikasikan bahwa mereka belum mandiri secara emosional. Rendahnya tingkat kemandirian emosional siswa-siswi masih menganggap orang tuanya selamanya tahu, benar dan berkuasa. Siswa-siswi juga belum bisa tampil diri/pribadinya sebagai pribadi yang unik dan masih bergantung dengan orang lain ketika menghadapi masalah. Siswa perlu memiliki dan meningkatkan kemandirian emosional sehingga tugas perkembangannya tercapai dengan baik..
(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menguraikan jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, validitas dan realibilitas dan teknik pengumpulan data. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah. penelitian deskriptif dengan menggunakan. pendekatan survei. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best, dalam Sukardi, 2003: 157).. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian berada di SMP Negeri 32 Purworejo. Penelitian dilaksanakan selama 2 minggu dimulai tanggal 16 September 2015 – 25 September 2015. Tanggal 16 September 2015 dilaksanakan uji coba angket kemandirian emosional dan pada tanggal 22 September 2015 & 25 September 2015 digunakan untuk pengambilan data.. C. Subyek dan Sampel Penelitian Subyek penelitiannya adalah remaja kelas VII SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016. Dipilih kelas VII sebagai subyek penelitian karena siswa-siswi kelas VII berada pada tingkat awal kelas di sekolah lanjutan pertama dan merupakan masa peralihan anak-anak ke remaja. Adanya penelitian ini, diharapkan nantinya siswa-siswi dapat memiliki kemandirian emosional yang baik.. 40.
(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 41. Jumlah kelas VII di SMP Negeri 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016 sebanyak 6 kelas, yaitu kelas VII A- VII G, namun yang dipakai untuk penelitian hanya 3 kelas yaitu kelas VII A dan VII F yang masing-masing kelas berjumlah 32 siswa dan totalnya berjumlah 64 siswa.. D. Alat dan Teknik Instrumen Pengumpulan Data Sukardi (2003: 194) menjelaskan bahwa penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan satu metode atau lebih. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Angket yang disusun menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang tentang fenomena social (Sugiyono, 2011: 134). 1. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Angket Kemandirian Emosional. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2012: 199). Item-item angket ini disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek Kemandirian Emosional yang dikemukakan Steinberg (2002). Angket terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama memuat tujuan angket dan petunjuk angket. Bagian kedua memuat pernyataan-pernyataan tentang Kemandirian Emosional siswa kelas VII SMP 32 Purworejo tahun ajaran 2015/2016..
Gambar
Dokumen terkait
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses pembelajaran pada mata diklat Sistem Pemindah Tenaga (SPT) pada Kompetensi Dasar memperbaiki/merawat transmisi manual
[r]
Sebelum pelaksanaan praktik mengajar di kelas, mahasiswa PPL harus membuat skenario atau langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan di kelas yang meliputi
Berdasarkan hal di atas, telah dilakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Jaringan yang Digunakan sebagai Bahan Setek terhadap Pertumbuhan Beberapa Tipe Tanaman Gambir.”
Oleh karena itu rumusan masalah dalam pelaksanaan program PPM ini adalah “Bagaimana membekali d an meningkatkan kemampuan para guru SMK Negeri 1 Pajangan Bantul,
Penelitian kandungan klorofil dan karotenoid ekstrak kasar sayuran hijau tokal dilakukan dengan menggunakan metode Lichtenthaler (1987), sedangkan potensinya sebagai
ada hubungan positif yang kuat antara self monitoring dan customer orientation pada taraf signifikansi 5%.. Kata kunci : self monitoring dan
Merupakan pajak penghasilan dalam tahun berjalan yang dipungut oleh bendahara pemerintah baik pusat maupun swasta berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan