• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUASAAN MATERI AJAR GURU KIMIA DI SULAWESI TENGAH PASCA PENDAMPINGAN OLEH LPMP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUASAAN MATERI AJAR GURU KIMIA DI SULAWESI TENGAH PASCA PENDAMPINGAN OLEH LPMP"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUASAAN MATERI AJAR GURU KIMIA DI SULAWESI

TENGAH PASCA PENDAMPINGAN OLEH LPMP

Erisda Eka Putra

1)

, Liliasari

2)

, Wahyu Sopandi

2) 1)

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sulawesi Tengah;

2)

Universitas Pendidikan Indonesia)

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian untuk melihat efektivitas program pendampingan yang dilakukan oleh LPMP dalam rangka meningkatkan kompetensi penguasaan materi ajar guru kimia SMA di Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan one group pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan di Kota Palu dan melibatkan 16 orang guru kimia SMA Negeri yang mengajar kelas X. Materi ajar dibatasi pada Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia. Data tentang kemampuan guru diperoleh dari sebelum dan sesudah kegiatan pendampingan. Sebelum pendampingan guru diobservasi ke kelas dan sebelum pendampingan diberikan tes awal. Setelah kegiatan pendampingan usai kepada guru diberikan tes akhir. Nilai gain ternormalisasi rata-rata dari hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kualitas penguasaan materi guru sebesar 0,55 (SD=0,29). Penyerapan tertinggi terjadi pada materi ajar Struktur Atom sebesar 0.65 (SD=0,25) dan penyerapan terendah 0,52 (SD=0,29) pada materi Sistem Periodik.

Kata Kunci: penguasaan materi ajar, guru kimia, pendampingan.

PENDAHULUAN

Penguasaan materi ajar untuk guru yang akan mengajarkan IPA apalagi

untuk guru yang akan mengajarkan kimia kepada peserta didiknya adalah

sangat penting. Penguasaan materi ajar kimia yang lemah pada diri guru akan

berdampak kepada kualitas pembelajaran kimia yang dilakukannya. Oleh

karena itu untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, penguasaan materi ajar

guru harus diperbaiki lebih dahulu.

Hal ini terbukti dari penelitian Putra (2009) bahwa ada korelasi antara

penguasaan materi ajar guru kimia SMA dengan kualitas pembelajaran yang

telah mereka laksanakan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap pembelajaran

kimia yang telah dilakukan pada sejumlah SMA Negeri di Kota Palu

ditemukan bahwa pembelajaran kimia yang dilakukan sangat berpusat pada

guru (teacher centered) sehingga pembelajaran didominasi ceramah yang di

dalamnya pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, hukum, teori dan prosedur)

kimia ditransmisikan dari guru tanpa menstimulasi peserta didik untuk

“berpikir/bernalar”. Selanjutnya, juga ditemukan bahwa karakter kimia sebagai

“experimental science” tidak tampak dalam kegiatan belajar-mengajar kimia,

sebab pada umumnya sangat jarang peserta didik distimulasi untuk melakukan

observasi terhadap fenomena kimia, serta menginterpretasikan fenomena

tersebut dengan menggunakan pengetahuan teoretiknya, apalagi merancang

kegiatan eksperimen untuk memecahkan suatu permasalahan. Hal lainnya

adalah materi pelajaran yang padat dan sangat bersifat teoritik-akademik, tanpa

menyinggung aplikasinya untuk memahami peristiwa alam di sekitarnya atau

produk-produk teknologi dalam kehidupan sehari-hari sehingga menimbulkan

(2)

kesan bagi peserta didik bahwa pelajaran kimia terisolasi dari kehidupan

sehari-hari.

Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

yang telah berlangsung tidak berkualitas. Dari pengamatan dan wawancara

dengan guru diketahui bahwa penyebabnya adalah karena guru tidak

menguasai materi ajar secara luas dan mendalam (what to teach and how to

teach). Ini tentu saja tidak dapat dibiarkan, harus ada upaya untuk memperbaiki

kualitas proses pembelajaran. Jadi, tidak ada kata lain sebelum proses

pembelajaran diperbaiki kualitasnya maka penguasaan materi ajar guru harus

terlebih dahulu diperbaiki. Perbaikan kemampuan penguasaan materi ajar guru

kimia SMA ini dilakukan dalam bentuk pendampingan.

Pendampingan adalah salah satu bentuk upaya untuk membantu guru

meningkatan profesionalismenya berdasarkan data hasil monitoring yang telah

dilakukan kepada guru yang bersangkutan. Sehingga program yang diberikan

disesuaikan dengan kekurangan yang ada pada guru. Pendampingan dilakukan

karena pelatihan guru yang ada selama ini belum berhasil meningkatkan

kinerja guru. Salah satu indikatornya adalah belum mampu meningkatkan

kualitas proses pembelajaran. Oleh sebab itu perlu cara lain yang secara khusus

dititik beratkan pada perbaikan kinerja guru melalui penguasaan materi ajar

secara luas dan mendalam (what to teach and how to teach).

Selanjutnya, untuk melihat sejauh mana efektivitas kegiatan

pendampingan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kemampuan

penguasaan materi ajar guru, maka telah dilakukan penelitian. Adapun tujuan

penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana kemampuan penguasaan

materi ajar guru meningkat setelah kegiatan pendampingan. Penelitian

dilakukan di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini dibatasi pada

guru kimia SMA Negeri kelas X. Adapun penguasaan materi ajar yang akan

diteliti adalah Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia.

Pentingnya Penguasaan Materi Ajar Oleh Guru

Penelitian Cochran (1998) menemukan ada guru IPA yang tidak

menguasai materi ajar secara luas dan mendalam. Selanjutnya Ginns (1995);

Smith (1989) menunjukkan bahwa miskonsepsi yang ditemukan pada peserta

didik dalam mata pelajaran IPA sama dengan miskonsepsi yang ditemukan

pada gurunya. Berikutnya Anderson (1994) mendapatkan bahwa pengetahuan

guru IPA SD di bawah pengetahuan guru IPA SMP dan SMA. Lebih jauh lagi

Smith (1989) mengatakan bahwa guru IPA yang tidak menguasai materi ajar

dengan baik menjadi kurang terampil dalam membimbing siswa berinkuiri

seperti merumuskan hipotesis dan merancang percobaan. Penelitian Carlsen

(1992) kembali menunjukkan bahwa guru yang tidak menguasai materi ajar

cenderung text book dalam mengajar, pembelajarannya monoton karena

cenderung teacher centered dan umumnya guru yang tidak menguasai materi

ajar susah untuk berdiskusi secara lebih mendalam dan intens dengan peserta

didiknya. Terakhir Hickey (1999) dalam penelitiannya tentang influence of

science teachers’ content knowledge and science teachers knowledge on

content-pedagogy in assessing students’science assignments menemukan

bahwa guru yang memiliki penguasaan materi ajar tinggi lebih akurat dalam

menilai sciencetific process peserta didiknya dan tepat dalam merancang

kegiatan remedial. Sebaliknya, guru yang tidak menguasai materi ajar dengan

baik tidak memahami bagaimana menilai scientific process pada peserta

didiknya. Sehingga dengan demikian, dari penelitian di atas terbukti bahwa

tidak bisa tidak guru harus menguasai materi ajar dengan baik agar proses

belajar mengajar yang dilaksanakan efektif, bermakna dan tidak merugikan

peserta didik.

(3)

Jadi, penguasaan materi ajar (content knowledge) merupakan syarat

mutlak bagi seorang guru (Hinduan, 2005). Guru yang menguasai materi ajar

akan efektif dan berhasil dalam mengajar. Pembelajaran yang berhasil dan

efektif adalah pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Agar

pembelajaran bermakna maka tugas guru adalah membantu peserta didik

membangun konstruksi pengetahuan secara benar dan menyenangkan.

Pembelajaran yang menyenangkan menuntut guru untuk merancang

pengalaman belajar yang menantang dan membangkitkan motivasi peserta

didik untuk belajar, untuk berkreasi dan berkreativitas mengembangkan

kemampuan berpikir kritis, kreatif dan logis supaya peserta didik bisa mandiri

dalam kehidupannya dan mampu memecahkan masalah. Sedangkan

pembelajaran yang benar adalah pembelajaran dimana tidak ada kesalahan

konsep dari guru ataupun dari siswa yang dibiarkan terjadi oleh guru. Oleh

sebab itu, guru harus memiliki pengertian konseptual yang lebih mendalam

daripada konsep yang diharapkan akan dicapai oleh peserta didiknya

(Sarwanto, 2008).

Namun demikian, penguasan guru terhadap materi ajar tidak akan

bermakna apabila guru tidak terampil menyampaikannya. Penyampaian materi

ajar merupakan seni dalam mengajar. Untuk itu, kemampuan lain yang harus

dimiliki guru adalah pengetahuan tentang pedagogik. Hal ini sesuai dengan apa

yang ditetapkan oleh National Science Education Standard (NRC, 1996) bahwa

guru IPA profesional adalah guru yang mampu mengintegrasikan pengetahuan

konsep IPA, pedagogi dan siswa. Penguasaan materi ajar guru IPA perlu

diaplikasikan dalam pembelajaran IPA melalui percobaan dan inkuiri (NRC,

1996). Dalam pembelajaran inkuiri pada semua jenjang pendidikan, guru perlu

membimbing, mengarahkan, memfasilitasi dan memacu siswa belajar

(Rustaman, 2007). Oleh karena itu, peran guru dalam memfasilitasi belajar IPA

bagi siswanya dapat dilakukan dengan cara antara lain: memotivasi siswa dan

mencontohkan model keterampilan-keterampilan proses, menumbuhkan sikap

keingintahuan, keterbukaan terhadap gagasan baru dan data serta skeptisisme

yang merupakan karakteristik IPA (NRC, 1996).

Akhirnya, Penguasaan materi memang bukan segala-galanya dalam

menentukan kemampuan guru mengajar, tapi Cruickshank, at. al. (2006) dalam

bukunya The Act of Teaching mengatakan, “How our knowledge of subject

matter affects our teaching”. Begitu juga dengan Grossman (1995)

menyarankan bahwa, “Teacher content knowledge affects both what and how

we teach”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Disain penelitian

yang digunakan adalah

one group pretest-posttest design

(Creswell, 1994).

Penelitian dilakukan terhadap 16 orang guru kimia SMA Negeri kelas X di

Kota Palu yang telah mengikuti program pendampingan. Pretes dan postes

diberikan pada kelas eksperimen dengan menggunakan soal yang sama.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes penguasaan materi

Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia. Sebelum digunakan,

instrumen diujicobakan. Hasil uji coba menunjukkan semua item soal adalah

valid dan reliabel. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan

gain ternormalisasi (N-gain).

N-gain =

Skor tes akhir – Skor tes awal

(Meltzer, 2002)

Skor maksimum – Skor tes awal

(4)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. menyajikan hasil uji

penguasaan materi guru sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan

pendampingan. Ada 20 soal yang diujikan baik dalam tes awal maupun dalam

tes akhir. Keduapuluh soal tersebut berhubungan dengan konsep-konsep yang

ada pada materi Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia. Adapun

konsep yang ada pada Struktur Atom meliputi atom, struktur atom, inti atom,

proton, netron, elektron, nomor atom, nomor massa, isotop, konfigurasi

elektron dan orbital. Sedangkan konsep yang ada pada materi Sistem Periodik

adalah perioda, golongan, keperiodikan sifat unsur dan energi ionisasi.

Sementara itu konsep yang ada pada materi ikatan kimia meliputi struktur

Lewis, ikatan kimia, molekul polar, ikatan hidrogen dan gaya London.

Penjabaran dari konsep dengan soalnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Konsep dan nomor soal yang diujikan

Kosep

No. Soal

Atom

12

Struktur atom

13

Inti atom

14

Proton, netron dan elektron

15

Nomor atom

16

Nomor massa

17

Isotop

18

Konfigurasi elektron dan

orbital

1, 19, 20

Keperiodikan sifat unsur

4,5

Energi ionisasi

8

Perioda dan Golongan

10

Ikatan kimia

2

Molekul Polar

3

Kekuatan ikatan

6

Ikatan hidrogen

7

Struktur Lewis

9

Gaya London

11

Hasil secara lengkap skor hasil uji penguasaan materi guru melalui

konsep dan soal yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Peningkatan Penguasaan Konsep Struktur Atom, Sistem Periodik dan

Ikatan Kimia

(5)

No. Tes

Awal

Tes Akhir

N-gain

1. 12.5

20

1

2.

9

15.5

0.59

3. 13

20

1

4. 10.5

12.5

0.21

5. 5.5

16.5

0.76

6. 6.5

16.5

0.74

7. 6.5

11.5

0.37

8. 5.5

16.5

0.76

9. 9.5

15.5

0.57

10. 3

8.5

0.32

11. 8

11.5

0.29

12. 6

13.5

0.54

13. 8.5

10.5

0.17

14. 7.5

17.5

0.8

15. 10

16.5

0.65

16. 7

8

0.08

Rerata 8.03

14,41

0.55

SD 2.66

3,69

0,29

Pada Tabel 2. dapat dilihat hasil analisis data tes awal-tes akhir guru

kimia SMA kelas X. Rata-rata skor tes awal guru adalah 8,03 dengan standar

defiasi 2,66 dan rata-rata skor tes akhir 14,41 dengan standar deviasi 3,69.

Berdasarkan data itu dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan penguasaan

konsep guru. Peningkatan penguasaan konsep guru pada materi Struktur Atom

, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia dapat diketahui dengan menghitung

rata-rata nilai gain ternormalisasi tes awal-tes akhir. Setelah melalui proses analisis

data pada Tabel 2 diperoleh rata-rata nilai gain ternormalisasi (N-gain) sebesar

0,55 dengan simpangan baku 0,29. Dari data ini terlihat bahwa peningkatan

yang terjadi itu sangat bervariasi. Yang menarik adalah pada nomor 1, 3, 16, 13

dan 4 dimana peningkatan yang terjadi adalah 1; 1; 0,08; 0,17 dan 0,17.

Peningkatan yang sangat kecil pada nomor 16 terjadi karena sedari awal

monitoring sudah diketahui yang bersangkutan tidak menguasai materi ajar

secara luas dan mendalam. Hal itu bisa dilihat dari tes awal guru yang rendah

dan ketika ada observasi mengajar yang bersangkutan tidak percaya diri,

(6)

tanpa memperhatikan apakah konsep yang ada pada buku teks itu benar atau

salah. Untuk nomor 4 kasusnya berbeda, penguasaan materi guru sudah baik

namun karena yang bersangkutan adalah seorang wanita, ibu rumah tangga dan

mempunyai balita penderita step maka ketika pendampingan yang

bersangkutan tidak bisa maksimal mengikuti kegiatan. Nomor 13 tidak begitu

meningkat karena kurang sehat selama kegiatan berlangsung. Di lain pihak

nomor 1 dan 3 meningkat sangat signifikan karena yang bersangkutan adalah

guru yang pernah mengikuti kegiatan Pemantapan Kerja Guru (PKG).

Sementara itu, penguasaan konsep guru sebelum dan sesudah mengikuti

pendampingan untuk materi Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia

dapat dilihat pada Tabel 3,4 dan 5.

Tabel 3.

Penguasaan Konsep Struktur Atom

No.

Soal

Tes

Awal

Tes Akhir

Normalized Gain

1.

11

16

1

12.

2.5

11

0.63

13.

3

10

0.54

14.

3.5

11

0.6

15.

7

8.5

0.17

16.

5.5

14

0.81

17.

9

14

0.71

18.

12

16

1

19.

0

8

0.5

20.

5

11

0.55

Rerata

5.85

11.95

0.65

SD

3.88

2.89

0,25

(7)

Tabel 4.

Penguasaan Konsep Sistem Periodik

No.

Soal

Tes

Awal

Tes Akhir

Normalized Gain

4.

4

11

0.58

5.

5

8

0.27

6.

0

6

0.37

8.

3

8

0.39

10.

13

16

1

Rerata

5

9.8

0.52

SD

4.85

3,9

0.29

Tabel 5.

Penguasaan Konsep Ikatan Kimia

No.

Soal

Tes

Awal

Tes Akhir

Normalized Gain

2.

11

16

1

3.

9

12

0.43

7.

6

12

0.6

9.

13

15

0.67

11.

3

7

0.31

Rerata

8.4

12.4

0.60

SD

3.97

3.51

0.26

Peningkatan penguasaan materi berturut-turut untuk materi ajar Struktur

Atom adalah 0,65 (SD=0,25), Sistem Periodik 0,52 (SD=0,29) dan Ikatan

Kimia 0,60 (SD=0,26) dapat dilihat pada Tabel 3, 4 dan 5. Ini terjadi karena

materi ajar Struktur Atom dan Ikatan Kimia lebih abstrak dan menuntut

kemampuan berpikir yang lebih dibandingkan materi ajar Sistem Periodik.

Sehingga dengan demikian, orientasi soal-soal nya pun pada materi Struktur

Atom dan Ikatan Kimia lebih abstrak dan menuntut guru untuk berpikir

dibandingkan pada materi Sistem Periodik yang cenderung ingatan. Hal ini

sesuai dengan yang diungkapkan oleh Daud, (2009) bahwa perbedaan

penguasaan materi bisa terjadi karena perkembangan usia si testee. Untuk

orang dewasa, jenjang pertanyaan ingatan lebih menyulitkan ketimbang

pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menuntut proses berpikir. Semakin

dewasa usia, semakin tumpul daya ingat seseorang, tapi sebaliknya daya

pikirnya semakin baik.

(8)

PENUTUP

Hasil penelitian yang dilakukan untuk menguji efektivitas kegiatan

pendampingan oleh LPMP pasca monitoring kepada 16 orang guru kimia SMA

Negeri kelas X Kota Palu, Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa ada

peningkatan penguasaan materi guru. Peningkatan yang terjadi sebesar 0,55

dengan simpangan baku 0,29. Peningkatan terbesar terjadi untuk materi ajar

Struktur Atom dan Sistem Periodik. Sedangkan peningkatan terkecil adalah

untuk materi ajar Sistem Periodik. Diperkirakan perbedaan penguasaan materi

ini bisa terjadi karena perkembangan usia peserta pendampingan. Untuk orang

dewasa, jenjang pertanyaan ingatan lebih menyulitkan ketimbang

pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menuntut proses berpikir. Semakin dewasa usia,

semakin tumpul daya ingat seseorang, tapi sebaliknya daya pikirnya semakin

baik.

D

D

A

A

F

F

T

T

A

A

R

R

P

P

U

U

S

S

T

T

A

A

K

K

A

A

A

A

n

n

d

d

e

e

r

r

s

s

o

o

n

n

,

,

R

R

.

.

D

D

.

.

(

(

1

1

9

9

9

9

4

4

)

)

.

.

R

R

e

e

s

s

e

e

a

a

r

r

c

c

h

h

o

o

n

n

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

e

e

r

r

E

E

d

d

u

u

c

c

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

.

.

I

I

n

n

D

D

.

.

L

L

.

.

G

G

a

a

b

b

e

e

l

l

(

(

E

E

d

d

)

)

.

.

H

H

a

a

n

n

d

d

b

b

o

o

o

o

k

k

o

o

f

f

R

R

e

e

s

s

e

e

a

a

r

r

c

c

h

h

o

o

n

n

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

i

i

n

n

g

g

a

a

n

n

d

d

L

L

e

e

a

a

r

r

n

n

i

i

n

n

g

g

.

.

N

N

e

e

w

w

Y

Y

o

o

r

r

k

k

:

:

M

M

a

a

c

c

M

M

i

i

l

l

l

l

a

a

n

n

.

.

C

C

o

o

c

c

h

h

r

r

a

a

n

n

,

,

K

K

.

.

(

(

1

1

9

9

9

9

8

8

)

)

.

.

T

T

h

h

e

e

S

S

u

u

b

b

j

j

e

e

c

c

t

t

M

M

a

a

t

t

t

t

e

e

r

r

K

K

n

n

o

o

w

w

l

l

e

e

d

d

g

g

e

e

o

o

f

f

P

P

r

r

e

e

s

s

e

e

r

r

v

v

i

i

c

c

e

e

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

e

e

r

r

.

.

I

I

n

n

t

t

e

e

r

r

n

n

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

a

a

l

l

H

H

a

a

n

n

d

d

b

b

o

o

o

o

k

k

o

o

f

f

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

E

E

d

d

u

u

c

c

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

.

.

D

D

o

o

r

r

d

d

r

r

e

e

c

c

h

h

t

t

,

,

T

T

h

h

e

e

N

N

e

e

t

t

h

h

e

e

r

r

l

l

a

a

n

n

d

d

s

s

:

:

K

K

l

l

u

u

w

w

e

e

r

r

,

,

P

P

.

.

C

C

r

r

e

e

s

s

w

w

e

e

l

l

l

l

,

,

J

J

.

.

W

W

.

.

(

(

1

1

9

9

9

9

4

4

)

)

.

.

R

R

e

e

s

s

e

e

a

a

r

r

c

c

h

h

D

D

e

e

s

s

i

i

g

g

n

n

:

:

Q

Q

u

u

a

a

l

l

i

i

t

t

a

a

t

t

i

i

v

v

e

e

a

a

n

n

d

d

Q

Q

u

u

a

a

n

n

t

t

i

i

t

t

a

a

t

t

i

i

v

v

e

e

A

A

p

p

p

p

r

r

o

o

a

a

c

c

h

h

e

e

s

s

.

.

N

N

e

e

w

w

D

D

e

e

l

l

h

h

i

i

:

:

S

S

a

a

g

g

e

e

P

P

u

u

b

b

l

l

i

i

c

c

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

s

s

.

.

Daud. (2009). Teknis Tes dalam Pengajaran Membaca, [online]. Tersedia:

http://www.geocites

. Com/daudp 65/e-book/appendix/baca 53 html

E

E

k

k

a

a

P

P

u

u

t

t

r

r

a

a

.

.

(

(

2

2

0

0

0

0

9

9

)

)

.

.

P

P

r

r

o

o

f

f

i

i

l

l

K

K

o

o

m

m

p

p

e

e

t

t

e

e

n

n

s

s

i

i

G

G

u

u

r

r

u

u

K

K

i

i

m

m

i

i

a

a

d

d

i

i

S

S

u

u

l

l

a

a

w

w

e

e

s

s

i

i

T

T

e

e

n

n

g

g

a

a

h

h

.

.

M

M

a

a

k

k

a

a

l

l

a

a

h

h

.

.

F

F

i

i

r

r

m

m

a

a

n

n

,

,

H

H

.

.

(

(

2

2

0

0

0

0

0

0

)

)

.

.

B

B

e

e

b

b

e

e

r

r

a

a

p

p

a

a

p

p

o

o

k

k

o

o

k

k

p

p

i

i

k

k

i

i

r

r

a

a

n

n

t

t

e

e

n

n

t

t

a

a

n

n

g

g

p

p

e

e

m

m

b

b

e

e

l

l

a

a

j

j

a

a

r

r

a

a

n

n

k

k

i

i

m

m

i

i

a

a

d

d

i

i

S

S

L

L

T

T

A

A

.

.

M

M

a

a

k

k

a

a

l

l

a

a

h

h

d

d

i

i

s

s

k

k

u

u

s

s

i

i

g

g

u

u

r

r

u

u

m

m

a

a

t

t

a

a

p

p

e

e

l

l

a

a

j

j

a

a

r

r

a

a

n

n

k

k

i

i

m

m

i

i

a

a

M

M

a

a

d

d

r

r

a

a

s

s

a

a

h

h

A

A

l

l

i

i

y

y

a

a

h

h

s

s

e

e

J

J

a

a

w

w

a

a

B

B

a

a

r

r

a

a

t

t

d

d

i

i

B

B

a

a

l

l

a

a

i

i

P

P

e

e

n

n

a

a

t

t

a

a

r

r

a

a

n

n

G

G

u

u

r

r

u

u

B

B

a

a

n

n

d

d

u

u

n

n

g

g

.

.

G

G

i

i

n

n

s

s

,

,

I

I

.

.

S

S

.

.

(

(

1

1

9

9

9

9

5

5

)

)

.

.

A

A

n

n

A

A

n

n

a

a

l

l

y

y

s

s

i

i

s

s

o

o

f

f

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

t

t

i

i

f

f

i

i

c

c

U

U

n

n

d

d

e

e

r

r

s

s

t

t

a

a

n

n

d

d

i

i

n

n

g

g

o

o

f

f

P

P

r

r

e

e

s

s

e

e

r

r

v

v

i

i

c

c

e

e

E

E

l

l

e

e

m

m

e

e

n

n

t

t

e

e

r

r

y

y

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

e

e

r

r

E

E

d

d

u

u

c

c

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

S

S

t

t

u

u

d

d

e

e

n

n

t

t

.

.

J

J

o

o

u

u

r

r

n

n

a

a

l

l

o

o

f

f

R

R

e

e

s

s

e

e

a

a

r

r

c

c

h

h

i

i

n

n

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

i

i

n

n

g

g

.

.

H

H

i

i

c

c

k

k

e

e

y

y

.

.

(

(

1

1

9

9

9

9

9

9

)

)

.

.

T

T

h

h

e

e

i

i

n

n

f

f

l

l

u

u

e

e

n

n

c

c

e

e

o

o

f

f

T

T

e

e

a

a

c

c

h

h

e

e

r

r

s

s

C

C

o

o

n

n

t

t

e

e

n

n

K

K

n

n

o

o

w

w

l

l

e

e

d

d

g

g

e

e

a

a

n

n

d

d

P

P

e

e

d

d

a

a

g

g

o

o

g

g

i

i

c

c

a

a

l

l

C

C

o

o

n

n

t

t

e

e

n

n

K

K

n

n

o

o

w

w

l

l

e

e

d

d

g

g

e

e

i

i

n

n

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

W

W

h

h

e

e

n

n

J

J

u

u

d

d

g

g

i

i

n

n

g

g

S

S

t

t

u

u

d

d

e

e

n

n

t

t

s

s

S

S

c

c

i

i

e

e

n

n

c

c

e

e

W

W

o

o

r

r

k

k

.

.

C

C

u

u

r

r

t

t

i

i

n

n

U

U

n

n

i

i

v

v

e

e

r

r

s

s

i

i

t

t

y

y

o

o

f

f

T

T

e

e

c

c

h

h

n

n

o

o

l

l

o

o

g

g

y

y

,

,

A

A

u

u

s

s

t

t

r

r

a

a

l

l

i

i

a

a

.

.

(

(

U

U

n

n

p

p

u

u

b

b

l

l

i

i

s

s

h

h

e

e

d

d

D

D

o

o

c

c

t

t

o

o

r

r

a

a

l

l

D

D

i

i

s

s

e

e

r

r

t

t

a

a

t

t

i

i

o

o

n

n

)

)

.

.

Hinduan, A.A. (2005). Meningkatkan Profesionalisme Guru IPA Sekolah.

Makalah Seminar Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu Pendidikan Alam

Indonesia (HISPIPAI), Bandung tanggal 22-23 Juli 2005.

Meltzer, D E. (2002). The Relationship between Mathematics Preparation and

Conceptual Learning Gains in Physics: A possible “hidden variable” in

diagnostic pretest scores. American Journal of Physics, 70, (12),

1259-1268.

(9)

NRC. (1996). National Science Education Standards. Washington, DC:

National Academy Press.

Smith. (1989). The Construction of Subject Matter Knowledge in Primary

Science Teaching. Teaching and Teacher Education.

Sarwanto. (2008). Pelatihan Pembelajaran IPA Berbasis Organisasi Belajar

Bagi Guru Sekolah Dasar. (Disertasi tidak dipublikasikan). UPI.

Bandung.

Gambar

Tabel 1. Konsep dan nomor soal yang diujikan
Tabel 3. Penguasaan Konsep Struktur Atom
Tabel 4. Penguasaan Konsep Sistem Periodik

Referensi

Dokumen terkait

Aaker (1997, dalam Hutami, 2011) menyatakan bahwa persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas suatu produk atau jasa yang sesuai

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang kesehatan reproduksi pada lansia pre-menopause yang berlangsung di Desa Sumberejo

Pada Penelitian di Piket Nol Pronojiwo Lumajang ditemukan banyak variasi paku yaitu 3 kelas yang memiliki 31 jenis, hal ini karena Piket Nol Pronojiwo Lumajang

Mencari pasangan hidup di Tinder dimaknai sebagai bentuk lingkungan baru untuk bertemu orang baru yang karakternya bebeda dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, selain

Analisis dinamik merupakan metode analisa yang mengamati kerja suatu sistem yang dapat terlihat dari perilaku suatu sistem sebelum Malware dijalankan dengan perilaku setelah

Penilaian Proper terhadap kinerja penanggung jawab Usaha dan/atau Kegiatan yang melebihi ketaatan yang diwajibkan dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana

Ekstrak daun sembung memiliki aktivitas penghambatan polimerisasi heme dengan aktivitas tertinggi terdapat pada ekstrak etanol 70% dengan kandungan senyawa kimia flavonoid,