1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
Sejak berdirinya ASEAN pada tahun 1967 konflik yang terjadi di kawasan Asia Tenggara cenderung tidak mengarah ke arah konflik terbuka. Banyak konflik baik antar negara maupun domestik tidak sampai berujung pada keterlibatan aksi militer. Berbagai kalangan berpendapat hal tersebut tercapai karena manajemen konflik ASEAN yang didasarkan pada prinsip ASEAN Way. Namun, menurut beberapa pihak ASEAN cenderung gagal menyelesaikan beberapa konflik yang terjadi dan berakhir dengan talkshop. Tesis ini akan membahas secara eksplanatif dan analitis efektifitas ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik di Asia Tenggara dengan studi kasus konflik Preah Vihear dan konflik Muslim Rohingya. Lebih lengkapnya, tesis ini ingin melihat bagaimana efektifitas ASEAN Way sebagai sebuah mekanisme penyelesaian konflik dan mengapa implikasi
ASEAN Way berbeda pada masing-masing kasus.
Pada akhir 1990-an studi mengenai ASEAN terfokus kepada norma dan aturan yang mengatur perilaku negara anggotanya. Ketika para peneliti mempelajari mengenai ASEAN sebagai sebuah lembaga internasional ataupun peranannya, analisis mereka harus didasari norma-norma ASEAN. Kata kunci untuk norma ini adalah ASEAN Way, yang merujuk pada norma diplomatik atau aturan-aturan yang ditaati oleh negara anggota. Mempelajari ASEAN dari berbagai sisi, termasuk sebagai penyelesaian konflik, analisanya harus didasarkan pada kata kunci ini.1 Meskipun Banyak perdebatan mengenai kemampuan ASEAN sebagai organisasi regional. Berdasarkan mandat dasar dari ASEAN
charter, ASEAN telah memberikan peran yang penting. Antara lain berperan
menurunkan kompetisi keamanan antara negara anggota sehingga berkontribusi
1 Taku Yukawa, “Transformastion of ASEAN’s Image in the 1980’s: The Cambodian Conflict and the Economic Development of It’s Member Countries”, Journal Southeast Asian Studies, 2011, hal 240-267.
2
terhadap kestabilan kawasan.2 Namun, beberapa pihak berpendapat bahwa apa yang dilakukan negara-negara anggota ASEAN hanya sebatas “talkshops” yang tidak begitu berdampak signifikan terhadap isu penting, utamanya isu keamanan. Keberhasilan integrasi ASEAN dalam berbagai bidang dan ditandatanganinya
joint declaration ekonomi dan sosial budaya tidak berbanding lurus dalam bidang
keamanan.3
Terlepas dari berhasil tidaknya upaya penanganan konflik yang dilakukan sebuah kerjasama regional seperti ASEAN, peranannya masih sangat penting dalam penanganan konflik. Hal ini disebabkan oleh faktor kedekatan geografis yang menurut Stefan Wolff merupakan modal penting bagi kerjasama kawasan untuk cepat tanggap dalam melakukan tindakan pencegahan agar konflik tidak meluas.4 Peran kerjasama regional juga menjadi penting karena tujuan pembentukannya adalah tercapainya stabilitas politik, sosial dan ekonomi di kawasan. Tidak ubahnya dengan kerja sama Negara-negara Asia Tenggara atau yang lebih dikenal dengan ASEAN (Association of South East Asia Nation). Pada awal didirikan di tengah tekanan dari perang dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, pendiri ASEAN kala itu menginginkan terciptanya sebuah kawasan yang damai, sejahtera dan stabil. Untuk mewujudkan agenda tersebut, organisasi regional menjunjung semangat regionalisme. Walaupun beberapa pihak pesimis terhadap keefektifan organisasi regional dalam menyelesaikan konflik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa regionalisme berperan penting dengan karakteristik yang permanen pasca Perang Dunia II.5 Pasca Perang Dunia II dan masuknya era globalisasi membuat kerja sama regional dianggap sebagai solusi dari semakin terkoneksinya dunia. Hal ini menyebabkan jarak antara satu negara dengan negara lainnya sudah tidak begitu memiliki batas-batas yang jelas lagi. Globalisasi, melalui perkembangan teknologi diberbagai bidang,
2
Mark Rolls, Centrality and Continuity: ASEAN and Regional Security since 1967, East Asia 29,2. 2012 hal 127
3 Kei Koga, “The Normative Power of The ASEAN Way”, Journal of Southeast Asia Studies, 2010, hal80-81
44
Marc Weller dan Stefan Wolff, Autonomy, Self-governance and Conflict Resolution: Innovative Approaches to Institutional Design in Divided Societies, ed.Routledge, London ,2005.
5 Louise Fawcett, dan Andrew Hurrel. Regionalism in World Politics: Regional Organization and International Order. Oxford University Press: New York,1995.
3
baik transportasi maupun informasi juga membuat semakin tergantungnya satu negara dengan negara lain.
Perbedaan kepentingan yang mengakibatkan munculnya friction (gesekan) antarnegara anggota sering berakhir dengan konflik. Banyaknya konflik yang muncul di Asia Tenggara bukanlah hal yang tidak wajar. Hal ini tidak terlepas dari sejarah negara-negara anggota ASEAN itu sendiri yang sejak dulu tidak begitu menaruh perhatian besar terhadap daerah perbatasan, sehingga menimbulkan permasalahan pada masa sekarang. Misalnya, konflik perbatasan yang masih menjadi perdebatan menarik sampai sekarang, seperti Laut China Selatan, konflik perbatasan antara Malaysia dan Singapura dan sebagainya. Selain itu, heterogenitas penduduknya juga menjadi penyebab munculnya konflik. Tercatat beberapa konflik yang muncul karena perbedaan etnis atau agama seperti konflik etnis Rohingya, dan konflik agama di Thailand Selatan.
Tidak bisa dipungkiri Asia Tenggara memiliki banyak potensi konflik antar-negara, namun konflik cenderung tidak berujung pada penggunaan kekerasan. Melly Caballero Anthony berpendapat bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip yang dianut oleh ASEAN.6 Sejak berdiri, ASEAN sebagai sebuah institusi secara perlahan mulai membentuk prinsip yang diakui bersama. Hal ini menjadi landasan tata cara negara anggotanya saling berhubungan dan memanajemen konflik. Prinsip-prinsip tersebut dinilai cukup mampu mengakomodir kepentingan masing-masing negara anggota, tanpa harus melakukan external coercion atau subversion. Nilai dan norma asli yang sudah ada sejak lama di Asia Tenggara, seperti musyawarah dan mufakat dijadikan dasar dan pijakan pembentukan nilai-nilai ASEAN, atau ASEAN values. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi dasar pemikiran atau prinsip untuk menciptakan gaya kerjasama yang kita kenal dengan ASEAN Way. ASEAN Way sendiri, setidaknya sampai saat ini berhasil menghindarkan kawasan Asia Tenggara dari konlik terbuka. Dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ASEAN Way bisa diraih kepercayaan dari negara-negara anggota sehingga masing-masing pihak yang
6 Melly Cabalero Anthony. “Mechanisms of Dispute Settlement: The ASEAN Experience”. Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Vol 20, No 1, 1998, hal 38-66.
4
bersengketa atau berkonflik tidak langsung melakukan penggunaan kekerasan (use of force).
ASEAN Way sendiri terakomodir dalam beberapa perjanjian atau kesepahaman
antar negara anggota ASEAN. Misalnya dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC) tahun 1976, Protocol and Dispute Settlement (DSM) tahun 1996, ASEAN
Protocol on Enhanced Dispute Settlement Mechanism tahun 1994, dan Piagam
ASEAN tahun 2007. Prinsip perdamaian yang terkandung dalam beberapa perjanjian tersebut berisi tujuan yang menekankan pada kerukunan yang meningkatkan kerja sama. Apabila terjadi konflik, prinsip-prinsip tersebut akan diterapkan dalam mekanisme kelembagaan. Mekanisme tersebut berisi pertemuan puncak, pertemuan menteri luar negeri, pertemuan menteri ekonomi dan lingkungan serta pertemuan pejabat senior. Total keseluruhan pertemuan yang terjadi di ASEAN adalah sekitar 230 pertemuan pertahun. Pertemuan-pertemuan tersebut berisis dialog dan upaya penanganan konflik secara damai.7
Penjelasan mengenai prinsip-prinsip ASEAN Way sendiri bisa dilihat dengan jelas di bagain 1 artikel 2 dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC) :8
1. Penghormatan yang sama terhadap kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial dan identitas nasional semua bangsa.
2. Hak terhadap kedaulatan negara untuk memimpin eksistensi nasional terbebas dari intervensi pihak luar, subversi (penggulingan) dan pemaksaan/kekerasan.
3. Tidak mengintervensi urusan dalam negeri satu sama lain.
4. Penyelesaian perselisihan atau persengkataan dengan cara-cara damai. 5. Penolakan pada ancaman atau penggunaan kekerasan.
6. Kerja sama efektif antar anggota.
Di balik niat baik ASEAN yang ingin tetap menyatukan kawasan dalam sebuah kerjasama regional dan segala prinsip yang terkandung di dalamnya,
7 Sana Mao, Peran ASEAN dalam Penyelesaian Konflik Thailand-Kamboja, dalam Djelantik Sukawarsini, Asia Pasifik: Konflik, Kerjasama, dan Relasi antarkawasan,: Pustaka Obor: Jakarta, 2015, hal 192.
8 Lihat Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia. Chapter One, Purpose and Principle. Artikel dua.
5
terdapat beberapa pihak yang juga bersikap pesimistis terhadap mekanisme penyelesaian konfliknya. Sikap pesimistis tersebut bukan tidak beralasan, hal ini disebabkan oleh tidak adanya lembaga khusus dalam struktur organisasi ASEAN yang bisa mengelola dan mengurangi konflik. ASEAN belum memiliki sebuah lembaga peradilan yang bisa menangani konflik. ASEAN hanya arena atau forum untuk mendiskusikan sebuah masalah, tetapi lemah pada tahap penyelesaian. Beberapa konflik yang terjadi cenderung tidak bisa diselesaikan, walaupun berhasil dalam avoiding conflict. Misalnya Konflik Thailand-Kamboja yang mempersengketakan Kuil Phreah Vihear. Dalam penyelesaian konflik tersebut, ASEAN tidak bisa memaksa Thailand atau Kamboja untuk menarik pasukannya, PBB lah yang kemudian mengeluarkan putusan untuk penarikan pasukan.9 Hal ini terjadi karena ASEAN merupakan kumpulan negara yang berdaulat dan sesuai dengan prinsip ASEAN Way, tidak mencapuri urusan dalam negeri masing-masing anggota. Begitu juga dengan konflik yang bersinggungan dengan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) seperti konflik etnis Rohingya, prinsip-prinsip ASEAN Way tidak berlaku efektif karena kembali berbenturan dengan kedaulatan negara yang tidak mau urusan dalam negerinya dicampuri oleh ASEAN.
Komitmen negara anggota untuk bekerja sama menyelesaikan konflik secara damai melalui prinsip ASEAN Way adalah hal penting dalam mewujudkan cita-cita kawasan. Komitmen bersama bisa mengubah pola upaya penyelesaian konflik yang pada awalnya hanya sebatas dialog menjadi lebih koheren dengan mekanisme yang dimiliki PBB. Dalam Konflik Thailand-Kamboja misalnya, keengganan Kamboja untuk menyelesaikan konflik secara bilateral disebabkan besarnya pengaruh Thailand di kawasan. Selain itu, Thailand yang merupakan negara pendiri dan pendukung aktif ASEAN justru menginginkan konflik diselesaikan secara bilateral tanpa melibatkan pihak lain, termasuk ASEAN. Sikap Thailand tersebut tentu saja menjadi penghambat upaya penyelesaian konflik dan menjadi contoh yang buruk bagi anggota lain. Tumpang tindihnya klaim teritorial dan kedaulatan negara dengan norma ASEAN juga berakibat pada upaya
9 Rudolf Volman, “Strategi Kamboja dalam penyelesaian konflik Kuil tahun 2011”, eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 2, Nomor 1, 2014,hal 45.
6
penyelesaian konflik ASEAN yang dianggap sebagai pihak hanya ada pada permukaan tanpa menyentuh esensi konflik.
Negara anggota ASEAN adalah negara yang berdaulat dan masing-masing memiliki kepentingan nasional yang ingin dicapai. Permasalahan konflik cenderung menjadi penghambat upaya perdamaian dari lembaga kerjasama regional. Sekuat apapun komitmen pemimpin negara untuk menyelesaikan konflik melalui kerangka regional, apabila tidak didukung dari dalam negeri, maka yang terjadi adalah seperti yang menimpa Perdana Menteri Samak Sundaravej dari Thailand. Pada masa PM Sundaravej berkuasa, pemerintahannya cenderung bersikap lunak terkait permasalahan kuil Phreah Vihear dengan memberikan persetujuan atas ditetapkannya kuil tersebut dalam world heritage list sebagai milik Kamboja. Namun, rezim militer yang memiliki kekuasaan dominan di Thailand tidak setuju dengan keputusan PM Sundaravej dan menarik kembali persetujuan Thailand tersebut. PM Sundaravej kemudian dianggap menjual kedaulatan negara dan diberhentikan dari jabatannya sebagai perdana menteri.10 Dari kasus tersebut bisa dilihat bagaimana benturan antara political will dengan kedaulatan negara pada akhirnya akan tetap dimenangkan oleh kedaulatan sehingga upaya penyelesaian konflik sering kali mandek di tengah jalan. Hal ini terjadi bukan karena tidak adanya political will dari pemimpinnya, namun karena desakan dalam negeri yang berkaitan dengan permasalahan kedaulatan.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dilihat bahwa upaya penyelesaian konflik melalui kerjasama regional merupakan cara yang lebih efektif karena berkaitan dengan agenda stabilitas keamanan sebuah kawasan. Tidak berbeda dengan prinsip ASEAN Way yang mencoba pendekatan kekeluargaan antar anggota dalam penyelesaian konfliknya. Prinsip tersebut berhasil menghindarkan konflik-konflik agar tidak berujung pada penggunaan aksi kekerasan atau militer. Namun di sisi lain, perlu diakui juga bahwa pada beberapa kasus, konflik sering berbenturan dengan faktor eksternal yang menghambat upaya penyelesaian
10
Putra,Triawan, dkk. “Strategi Indonesia Dalam Kepemimpinan Asean 2011 (Analisis Peranan Indonesia Sebagai Penengah Konflik Thailand-Kamboja 2008-2011)”, Jurnal Ilmu Pemerintahan, Volume: 2 No: 2 Tahun 2013, hal 4.
7
konflik. Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut tentang sejauh mana efektifitas prinsip ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Kajian terhadap tema ini diperlukan karena ASEAN masih menyimpan berbagai potensi konflik yang bisa berujung pada konflik terbuka. Oleh karena itu, kajian terhadap efektifitas mekanisme tersebut diharapkan bisa menemukan celah atau titik lemah yang bisa diperbaiki untuk meningkatkan kemampuan ASEAN sebagai sebuah lembaga yang diharapkan bisa menyelesaikan konflik di kawasan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, bisa dilihat bahwa kerjasama regional berperan penting dalam upaya penyelesaian konflik yang terjadi antara negara anggotanya. Meskipun pada prakteknya, banyak hambatan dalam upaya yang dilakukan oleh kerjasama regional tersebut. Tesis ini menggunakan dua konflik sebagai studi kasusnya, yaitu konflik Preah Vihear dan konflik Muslim Rohingya. Maka dari itu, fokus pertanyaan pada penelitian ini adalah:
1. Seberapa efektifkah prinsip ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik di antara negara anggota pada studi kasus konflik Preah Vihear dan konflik Muslim Rohingya?
2. Mengapa efektifitas prinsip ASEAN Way berbeda pada tiap kasus dan faktor apa saja yang mempengaruhinya?
1.3. Literature Review
Penelitian dalam tesis ini akan menelaah dan menganalisis secara mendalam mengenai efektifitas ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik di Asia Tenggara. ASEAN Way sendiri sudah banyak dikaji oleh akademisi hubungan internasional. Untuk keperluan tesis ini, peneliti akan menuliskan beberapa studi yang pernah dilakukan terhadap ASEAN Way, dengan tujuan untuk menunjukkan posisi tesis ini diantara penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya. Peneliti membagi literature review ke dalam dua bagian, yaitu ASEAN Way sebagai sebuah rezim dan ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik.
8
1.3.1 Studi tentang ASEAN Way sebagai sebuah norma
Penelitian Jones yang berjudul ASEAN and the Norm of Non-interferemce in
Southeast Asia: A Quest for Social Order mengkritisi pemahaman mengenai
norma umum yang berlaku di Asia Tenggara, dalam hal ini ASEAN Way. Menurutnya, ASEAN Way tidak begitu berlaku ketika dikonfrontir dengan bukti-bukti empirik. Beberapa kali justru ASEAN Way terbukti melanggar salah satu norma dalam ASEAN Way, yang menjadi fokus kajian dalam penelitian Jones, yaitu non-interference. Menurut Jones, ada saat-saat negara-negara anggota ASEAN terlibat atau ikut campur dalam urusan anggotanya. Jones, dalam tesisnya menolak pandangan konstruktivis dan realis mengenai intervensi dan mengajukan logika dasar yang menurutnya lebih logis melalui pandangan sejarah material. Jones menyatakan bahwa tujuan utama ASEAN pada perang dingin mencerminkan penolakan terhadap kontrol sosial yang mengontrol mereka, yakni mencoba untuk mempertahankan tatanan sosial non-komunisme. Dengan kata lain, tujuan utama ASEAN pada saat itu adalah untuk mencegah pengaruh komunis menyebar semakin luas di kawasan. Sehingga penerapan norma-norma ASEAN Way pada dimensi itu tepat dilakukan, namun tidak untuk dimensi lain. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivis, realis dan historical material, Jones mengatakan bahwa norma non-intervensi yang di sucikan oleh ASEAN tidak lebih dari “organisez hypocrisy”. Kestabilan kawasan yang di anggap sebagian pihak sebagai keberhasilan penerapan ASEAN Way, menurut Jones terjadi berkat agensi kemanusiaan yang membentuk tatatan sosial yang lebih stabil, bukan karena ASEAN Way semata.11
Berbeda dengan Jones, Ramcharan dalam penelitiannya mengemukakan bahwa prinsip non-interference ASEAN merupakan prinsip yang teguh dipegang oleh kerjasama kawasan. Hal ini dikarenakan benturan kepentingan kawasan terhadap kedaulatan masing-masing negara anggotanya. Prinsip non-interference dianggap masih perlu diterapkan agar tetap menjaga keutuhan kerjasama kawasan. Namun, Ramcharan tidak menafikan bahwa bila dianalisis lebih lanjut,
11 Lee Jones, “ASEAN and the Norm of Non-interference in Southeast Asia: A quest for Social Order”. Nuffield College Politics Group Working Paper, Nuffield College, Oxford, 2009, hal 1-29.
9
negara anggota ASEAN terkadang menerapkan standar ganda dalam penerapan prinsip tersebut, tergantung pada kondisi politik, kepentingan, bahkan propaganda politik masing-masing negara. Ramcharan mengemukakan pertanyaan apakah kedaulatan yang dimiliki sebuah negara hilang pada sebuah kerjasama kawasan yang menyamakan kedaulatan tiap negara, ataukah konsep kedaulatan itu sendiri akan berubah karena konsekuensi dari prinsip non-interference yang dianut ASEAN.12 Ramcharan menggambarkannya pada kasus Kamboja, yang mana pada saat itu hampir menjadi anggota ASEAN namun tertunda karena beberapa permasalahan politik negaranya. ASEAN melakukan beberapa upaya yang dianggap Ramcharan sebagai bentuk intervensi, termasuk dalam mengintervensi pelaksanaan pemilu di Kamboja. Namun, pada beberapa kasus seperti kasus pelanggaran HAM di Myanmar, kasus asap di Indonesia, dan kasus Timor-Timur, ASEAN begitu kukuh melaksanakan prinsip non-interference tersebut.
Studi Tentang ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik Penelitian Melly Cabalerro Anthony memuji positif mekanisme penyelesaian konflik yang dimiliki ASEAN. Anthony berargumen, ASEAN mampu menjaga kestabilan perdamaian di kawasan Asia Tenggara dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip tidak mengintervensi urusan dalam negeri masing-masing anggotanya. Selain itu, Anthony juga berargumen bahwa ASEAN adalah satu-satunya lembaga kerjasama kawasan yang tampak bersungguh-sungguh untuk mempromosikan perdamaian kawasan. Anthony menggunakan konsep penyelesaian konflik untuk menganalisis jenis mekanisme penyelesaian konflik ASEAN. Ada beberapa jenis penyelesaian konflik yang disebutkan Anthony, di antaranya yang formal dan informal. Pilihan penyelesaian konflik oleh setiap kerjasama regional dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk sejarah interaksi antarnegara dalam kawasan tersebut.13
Anthony mengklasifikasikan dua jenis mekanisme penyelesaian konflik yang dimiliki, atau pernah digunakan oleh ASEAN. Pertama, mekanisme institusional,
12
Robin Ramcharan. “ASEAN and non-interference: A Principle Maintaned”. Institute of South East Asian Studies (ISEAS), Vol 22 No 1, 2000, hal 61.
13 Melly Caballero Anthony.” Mechanisms of Dispute Settlement: The ASEAN Experience”. Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Vol 20, No 1, 1998, hal 41.
10
yang menggunakan ASEAN sebagai wadah untuk menyelesaikan konflik. Mekanisme ini bisa dilihat melalui perjanjian-perjanjian yang sudah disepakati bersama, misalnya Treaty of Amity and Cooperation, piagam ASEAN dan sebagainya. Kedua, mekanisme informal, mekanisme jenis ini dilakukan negara anggota ASEAN melalui cara-cara conflict avoidance (menghindari konflik), diplomasi bilateral, dan terakhir yang sangat khas dari ASEAN adalah musyawarah untuk mufakat. Mekanisme-mekanisme tersebut menurut Anthony sangat berperan besar dalam mensukseskan usaha ASEAN untuk menjaga kestabilan dan keamanan kawasan.14
Sejalan dengan Anthony, Dewa Gede Sudika Mangku dalam penelitiannya berjudul Suatu Kajian Umum tentang Penyelesaian Sengketa Internasional
Termasuk di Dalam Tubuh ASEAN membedakan dua jenis cara penyelesaian
konflik. Pertama penyelesaian konflik dengan jalan damai, seperti arbitrase,
Judicial Settlement, Inquiry, Goof Offices, negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.
Kedua, penyelesaian konflik dengan jalan paksaan, seperti perang dan tindakan bersenjata non perang, retorsi, tindakan pembalasan, blokade secara damai dan intervensi. Ketiga, penyelesaian konflik melaluikerja sama regional ASEAN, yakni melalui Treaty of Amity and Cooporation (TAC) dan ASEAN Charter.15
Mangku berargumen bahwa begitu banyak jenis atau cara penyelesaian konflik yang tersedia. Masing-masing negara hanya tinggal memilih mana yang akan diterapkan. Namun, pendekatan yang digunakan Mangku terbatas pada usahanya untuk menjelaskan jenis-jenis saja, tanpa menganalisis sejauh mana kemungkinan mekanisme-mekanisme tersebut bisa diterapkan dan faktor eksternal lain yang mungkin mempengaruhi negara dalam bersikap. Penelitian dalam tesis ini akan mengunakan jenis-jenis mekanisme penyelesaian konflik yang sudah dijelaskan oleh Mangku sebagai alat analisis atau konsep. Pembahasan dalam jurnal tersebut akan berbeda dengan pembahasan dalam tesis
14Loc.cit.
15Dewa Gede Sudika Mangku, “Suatu Kajian Umum tentang Penyelesaian Sengketa Internasional termasuk di dalam tubuh ASEAN” Jurnal Perspektif Vol XVII No3, 2012, hal 151-157.
11
ini, karena tesis ini akan menganalisis keefektifan hal yang oleh Mangku dalam jurnalnya hanya dideskripsikan saja.16
Berdasarkan studi-studi tentang ASEAN Way di atas (ASEAN Way sebagai sebuah norma/rezim, dan ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik) terlihat bahwa fokus pada penelitian-penelitian tersebut adalah pada pertanyaan efektif atau tidak efektifnya ASEAN Way, baik sebagai sebuah norma, maupun sebagai sebuah mekanisme penyelesaian konflik. akademisi-akademisi tersebut hanya berfokus pada penerapan ASEAN Way sebagai sebuah norma dan penyelesaian kasus, apakah berhasil mewujudkan tujuannya sebagai sebuah norma, dan apakah berhasil menyelesaikan sebuah konflik. Namun kajian-kajian tersebut cenderung menafikan pihak lainnya. Yang mengatakan ASEAN Way efektif, cenderung menafikan kegagalan-kegagalannya, begitu sebaliknya yang mengatakan ASEAN Way tidak efektif cenderung menafikan keberhasilan-keberhasilannya. Melalui analisis mengenai efektifitas sebuah rezim dalam penyelesaian konflik, tesis ini akan mencoba mengisi kekosongan tersebut.
1.4. Kerangka Konsep
1.4.1 Konsep Analisis Konflik
Konsep analisis konflik juga akan digunakan sebagai alat analisis dalam tesis ini. Konsep ini akan membantu dalam mendefinisikan, mengklasifikasikan dan memetakan berbagai kasus atau konflik yang akan di bahas dalam penelitian ini. Miall dan kawan-kawan mendefenisikan konflik sebagai sebuah ekspresi heterogenitas kepentingan, nilai, dan keyakinan yang muncul sebagai formasi baru yang timbul dari perubahan sosial yang muncul bertentangan dengan hambatan yang diwariskan.17 Konflik juga sering disamakan maknanya dengan perkelahian, sengketa yang disertai kekuatan fisik antara dua belah pihak atau lebih. Pemaknaan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena secara gramatikal konflik berarti perkelahian, peperangan, atau perjuangan berbentuk konfrontasi fisik. Namun defenisi konflik mengalami perkembangan dan perluasan makna,
16
Loc.cit.
17 Miall Hugh, et.al. Resolusi Konflik Kontemporer, ed.tejemahan. Raja Grafindo Perkasa: Jakarta, hal. 31.
12
tidak hanya sekedar konfrontasi fisik saja. Maknanya meluas menjadi lebih umum, yakni suatu fenomena ketidaksepakatan atau perbedaan tajam atas kepentingan, ide, opini dan lain sebagainya. Secara luas konflik adalah hubungan dua pihak atau lebih yang memiliki, atau merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Artinya ada persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived
divergence of interest), di mana apirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat
tercapai secara simultan.
Apabila menggunakan pemahaman tersebut, unsur-unsur yang terdapat dalam konflik adalah persepsi, aspirasi, dan aktor yang terlibat di dalamnya mulai dari tingkat individu sampai kelompok, organisasi masyarakat dan negara. Semua bentuk hubungan manusia, mulai dari sisi sosial, politik, ekonomi mengalami pertumbuhan, perubahan dan konflik. Munculnya konflik karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan yang saling terkait tersebut, kemudian membentuk sebuah rantai yang berpotensi untuk menghadirkan perubahan, baik konstruktif maupun destruktif.18 Konflik bisa muncul pada skala yang berbeda, misalnya konflik antar individu (interpersonal conflict), konflik antar-kelompok (ntergroup conflict), konflik antara kelompok dengan negara
(vertical conflict) dan konflik antar-negara (interstate conflict). Masing-masing
konflik memiliki dampak, skala, latar belakang dan arah perkembangan yang berbeda.
Konsep analisis konflik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah konsep yang dikenalkan oleh Wehr yang disebut pemetaan konflik. Menurut Wehr, pemetaan konflik adalah langkah pertama dalam campur tangan untuk mengelola sebuah konflik tertentu. Dalam arti, apabila ingin melalukan penyelesaian, managemen, ataupun resolusi konflik, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan konflik. Pemetaan konflik memberikan pemahaman yang jelas kepada pihak-pihak yang turut campur dalam konflik tentang asal-usul, sifat, dinamika dan kemungkinan penyelesaian konflik.19 Pemetaan konflik juga merupakan metode menghadirkan sebuah analisa
18 Dean G. Pruitt, Dan Jeffrey Z. Rubin. Teori Konflik Sosial. Penerbit Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2004, hal 9-12.
13
terstruktur terhadap konflik tertentu dan pada waktu tertentu. Metode ini digunakan oleh para analis untuk memberikan gambaran singkat tentang pandangan mereka terhadap situasi konflik, dan juga digunakan dalam workshop penyelesaian konflik untuk memberikan sebuah gambaran konflik yang sedang diamati.20
Berdasarkan panduan pemetaan konflik yang digagas Wehr, dibawah ini adalah langkah-langkah untuk menganalisa konflik.
a. Latar belakang 1. Peta area
2. Deskripsi singkat tentang negara 3. Garis besar sejarah konflik
b. Pihak-pihak yang bertikai dan persoalannya
1. Siapa yang menjadi pihak yang bertikai? (apa sub-kelompok internal mereka dan pada apa mereka bergantung)
2. Apa persoalan konflik? (apa mungkin membedakan antara posisi, kepentingan/kepentingan materi, nilai, hubungan/ dan kebutuhan?) 3. Apa hubungan antara pihak-pihak yang bertikai? (apakah ada
ketidaksimetrisan kualitatif dan kuantitatif?)
4. Apa persepsi penyebab dan sifak konflik di antara pihak-pihak yang bertikai?
5. Bagaimana perilaku terakhir dari kelompok yang bertikai? (apakah konflik dalam fase ‘eskalasi’ atau fase ‘deskalasi?)
6. Siapa pemimpin pihak-pihak yang bertikai? Pada tingkat elit dan individual, apa tujuan, kebijakan, kepentingan, kekuatan dan kelemahan relatif mereka?
c. Konteks: Faktor-faktor global, regional dan tingkat-negara
1. Pada level negara: apa sifat negara yang sedang bertikai? Bagaimana keterbukaan dan aksesibilotas aparatur negara? Apakah ada institusi atau badan uang dapat berfungsi sebagai saluran legitimasi untuk mengelola konflik? Bagaimana masalah keadilan dalam pembangunan
14
ekonomi dan apakah ada kebijakan ekonomi yang dapat mempunyai dampak positif?
2. Pada tingkat regional: bagaimana hubungan dengan negara dan masyarakat tetangga dapat mempengaruhi konflik? Apakah pihak-pihak yang bertikan mempunyai pendukung regional eksternal? Aktor regional mana yang dapat dipercaya oleh pihak-pihak yang bertikai? 3. Pada tingkatan global: apakah ada kepentingan geopolitik dari pihak
luar dalam konflik itu? Apa faktor eksternal yang menjadi pendorong konflik dan apa yang dapat mengubahnya?21
1.4.2 Konsep Efektifitas Rezim
Salah satu fungsi utama dari pembentukan organisasi internasional adalah untuk menciptakan keteraturan. Oleh karena itu konsep rezim dalam organisasi internasional adalah hal yang sangat penting. Konsep rezim muncul atas kebutuhan dunia terhadap adanya tatanan (order) untuk mencapai kepentingan atas pihak-pihak yang berkonflik. Konsep rezim internasional berdasar pada pemikiran neo-realisme yang berpendapat bahwa untuk mecapai kepentingan negara, akan selalu bertentangan dengan negara lain. Maka dari itu diperlukan sebuah kerjasama untuk memaksimalkan pencapaian kepentingan-kepentingan negara tersebut.
Konsep rezim sendiri telah didefenisikan oleh banyak akademisi internasional, salah satunya adalah Stephen D. Krasner. Krasner mendefinisikan rezim sebagai seperangkat norma, peraturan, dan prosedur pengambilan keputusan baik secara implisit maupun eksplisit diantara ekspektasi aktor-aktor yang saling bertemu dalam sebuah lingkup hubungan internasional. Selain Krasner, Robert. O. Keohane juga memiliki defenisi tersendiri mengenai konsep rezim. Keohane mendefinisikan rezim sebagai sebuah institusi yang memiliki peraturan secara tertulis atau eksplisit dan disepakati oleh pemerintah-pemerintah yang ada didalamnya. Atau dengan kata lain rezim merupakan seperangkat
15
prinsip, norma, aturan, dan prosedur pengambilan keputusan yang kompleks dan terangkum dalam konsep perundangan atau peraturan yang tunggal.22
Dalam defenisi rezim yang dikemukakan oleh Hedley Bull disebutkan bahwa efektivitas rezim terletak pada pentingnya peraturan, dimana peraturan tersebut mengacu kepada prinsip imperatif yang dibuat dan ditetapkan oleh beberapa pihak dalam kelompoknya.23 Kelompok tersebut wajib berperilaku sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Tugas dari institusi adalah menjamin anggota institusi mematuhi peraturan tersebut dengan cara merumuskan, mengkomunikasikan, menegakkan, melegitimasikan dan mengadaptasi peraturan tersebut kepada anggotanya.24
Eksistensi rezim sangat penting dan signifikan dalam hubungan internasional karena rezim dapat memfasilitasi negara-negara dalam bentuk global
governance dalam dunia anarki.25 Rezim mampu memainkan peran yang
signifikan dalam meurunkan tingkat konflik internasional antar negara dan memfasilitasi kerjasama pada level internasional. Rezim dapat muncul dalam bentuk konvensi, perjanjian, persetujuan dan institusi pada berbagai macam area baik keamanan, ekonomi dan lain-lain. Rezim muncul pada aera atau isu-isu yang menjadi kepentingan banyak negara. Teori rezim sendiri berbicara mengenai ketaatan negara anggota terhadap suatu rezim internasional dalam mewujudkan kepentingan mereka. Sering kali rezim diasosiasikan dengan perjanjian/persetujuan, maka rezim juga dapat membentuk perilaku dari negara anggotanya.26
Selain defenisi rezim secara umum, terdapat pula defenisi rezim yang lebih khusus. Dalam kaitannya dengan studi keamanan, rezim memiliki defenisi yang sangat spesifik. Menurut Donald K. Emmerson, rezim merupakan suatu
22
Robert O. Keohane, Neoliberalism Institutionalism: A Perspective on World Politics, Little Brown, Boston, 1989, hal 1-20.
23 Hedley Bull, The Anarchial Society: A study of Order in World Politics, Columbia University Press, New York, 1977, hal 54.
24
Loc.cit.
25 Charles Lipson dan Benjamin. J.Cohen, Theory and Structure in International Political Economy, MIT Press, Massachusetts, 2000, hal 154.
16
kesepakatan formal atau informal berupa kerjasama antar negara untuk menjaga kedaulatan mereka dalam suasana yang damai.27 Upaya penjagaan ini dilakukan secara internal maupun bekerjasama dengan negara lainnya.28 Rezim keamanan berfungsi sebagai kelompok negara yang bekerja sama untuk memanajemen konflik agar tidak berkembang, atau berakhir dengan konflik bersenjata/perang. Menurut Amitav Acharya sebuah rezim keamanan bertahan dikarenakan adanya sekumpulan prinsip, norma, peraturan dasar dan prosedur yang menjadi instrumen dalam pemenuhan tujuan bersama dalam isu keamanan.29 Rezim dapat mengendalikan dan mengatur perilaku anggota rezim tersebut. Berdasarkan defenisi tersebut, prinsip dapat diartikan sebagai keyakinan terhadap fakta, hubungan kausalitas dan kebenaran.30 Sementara defenisi norma sendiri diterjemahkan dalam bentuk hak dan kewajiban.31 Norma berperan sebagai pedoman perilaku negara terhadap isu tertentu. Sedangkan peraturan merupakan sesuatu yang ditetapkan sebagai aturan dan mekanisme penghukuman ternadap sebuah aksi.32 Yang dimaksud dengan aksi adalah segala jenis perbuatan kasual yang bertentangan dengan prinsip dan norma. Prosedur pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai praktik yang berlaku untuk membuat dan mengimplementasikan pilihan kolektif. Kapasitas rezim dapat menjadi terbatas apabila prinsip, norma, peraturan dan prosedur pengambilan keputusan dalam sebuah rezim tidak koheren atau aktualisasi tidak konsisten dengan prinsip, norma, peraturan dan prosedur pengambilan keputusannya.33
Pembentukan sebuah rezim umumnya bertujuan untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian sebuah rezim internasional dapat dikatakan efektif apabila rezim tersebut memiliki kontribusi besar terhadap pemecahan masalah.34 Kemampuan untuk menyelesaikan masalah ditentukan oleh adanya norma dalam rezim, yaitu peraturan. Peraturan yang ada dalam rezim akan mengikat aktor
27 Volker Rittberger, Regime Theory and International Relations, Clarendon Press, Oxford, 1993, hal 53.
28 Loc.cit.
29 Amitav Acharya, Constructing a Security Community in Southeast Asia, Routledge, New York, 2001, hal 16-18.
30 Charles Lipson dan Benjamin Cohen, Op.cit hal 186. 31
Loc.cit. 32Loc.cit.
33 Charles Lipson dan Benjamin Cohen, Op.cit hal 189. 34Loc.cit.
17
anggota rezim untuk bertindak menaati dan mengimplementasikan peraturan tersebut. Dengan adanya tindakan inilah sebuah rezim dapat menjadi efektif. Komitmen negara anggota terhadap penegakan peraturan memiliki kontribusi yang signifikan untuk mengurang atau menyelesaikan permasalahan dalam isu tertentu.
Berdasarkan defenisi efektivitas rezim di atas, Alrid Anderdal menekankan bahwa kemampuan sebuah rezim internasional dalam memecahkan dan menyelesaikan sebuah permasalahan merupakan kunci jawaban dalam menjelaskan efektivitas sebuah rezim. Hal ini berdasar pada argumen bahwa beberapa masalah internasional dapat diselesaikan secara lebih efektif dikarenakan rezim tersebut memiliki institusi atau sistem yang terintegrasi dengan kuat, ataupun memiliki kekampuan dan energi untuk memecahkan masalah tersebut.35
Efektifitas rezim internasional dapat dilihat dari implementasi peraturan dan pemenuhan kewajiban yang ditetapkan oleh anggota rezim tersebut, yakni apakah anggota sungguh-sungguh melakukan tindakan nyata untuk menerapkan aturan dan memenuhi komitmen yang tertera dalam rezim. Perlu dilihat juga apakah unit-unit yang berada dibawah yurisdiksi dan kekuasaan anggota juga menerapkan aturan dan memenuhi komitmen yang ditetapkan rezim internasional.36 Efektifitas rezim internasional dapat dilihat dari keluaran (output), hasil (outcome) dan dampak (impact). Output merujuk pada aturan-aturan, program-program, dan pengorganisasian yang ditetapkan anggota untuk mengoperasionalkan ketentuan dalam rezim, sehingga kesepakatan bersifat formal dapat direalisasikan. Sementara outcome mencakup perubahan perilaku subjek yang dikenai ketentuan rezim. Sedangkan impact berkaitan dengan tingkat keberhasilan dalam menanggulangi masalah yang merupakan dasar pembentukan sebuah rezim.37
Untuk dapat menganalis pendekatan efektifitas rezim tersebut, tesis ini menggunakan metode yang dikembangkan oleh Arild Anderdal. Skema
35
Alrid Anderdal, Methods of Analysis. Dalam Edward L Miles, et.al, Environment Regime Effectiveness, Confronting Theory with Evidenc, MIT Press: Cambridge, 2002. hal 23.
36Ibid, hal 109-110. 37Loc.cit.
18
pengukuran yang diajukan Anderdal memilah antara variabel dependen (efektifitas rezim) dan variabel independen. Skema Anderdal dipilih karena memiliki indikator yang menurut peneliti lebih lengkap dan jelas dibanding dengan teori sejenis. Misalnya, menurut Olav Stoke, efektifitas rezim dapat diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu validitas, determinacy, dan generalitas.38 Sementara menurut Oran Young, pengukuran efektifitas rezim bisa dilakukan dengan menggunakan delapan indikator, yakni transparansi, kekokohan, perubahan peraturan, kapasitas pemerintahan, distribusi kekuasaan, saling ketergantungan, dan aktor intelektual.39 Sedangkan menurut Abram Chayes dan Antonia Chayes ada tigal hal yang harus dipenuhi apabila sebuah rezim dikatakan efektif, yaitu efisiensi, interest atau kepentingan negara, dan adanya norma.40
Pengukuran terhadap efektifitas rezim berdasarkan skema Anderdal (variabel dependen) dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Membandingkan keadaan sebelum adanya rezim dengan keadaan sesudah rezim
b. Membandingkan keadaan yang ada sekarang dengan keadaan optimal yang seharusnya bisa dicapai dengan adanya rezim.
Sedangkan variabel independen yang terdiri dari dua jenis, yakni tipe permasalahan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tipe permasalahan terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu tipe permasalahan yang secara intelektual kompleks atau kurang dipahami dan permasalahan yang secara politik tergolong mempunyai efek yang negatif. Tipe permasalahan bisa bersifat malign (berefek buruk) atau sebaliknya benign (berefek baik). Political benignty pada sebuah permasalahan merupakan bentuk fungsi yang saling terkait diantara kepentingan-kepentingan aktor di satu sisi dengan preferensi-preferensi yang muncul sebagai akibat dari adanya kepentingan-kepentingan tersebut pada pihak
38Olav Stoke, “Regimes as Governance System” dalam
In Global Governance: Drawing Insights from the Environmental Experience, O.R Young, MIT Press: MA, 1997, hal 27-63.
39
Oran Young, In Global Governance: Drawing Insights from the Environmental Experience, MIT Press, MA, 1997,
40Abram Chayes dan Antonia Handler Chayes, “On Compliance”. International Organization. Volume 47, No 2, hal 175-205.
19
lain. Semakin sama dan harmonis preferensi aktor yang ada, maka permasalahan tersebut akan semakin benign, sebaliknya semakin tidak harmonis preferensi aktor yang terlibat, maka sifat permasalahan tersebut semakin malign.
Seperti telah disebutkan tujuan rezim internasional adalah untuk mengakomodasikan perilaku aktor dalam situasi dimana ketiadaan atau kegagalan koordinasi menjadikan outcome yang ada menjadi tidak optimal. Terdapat dua kategori untuk membedakan jenis permasalahan tersebut. Kategori pertama disebut dengan problem of incongruity yang dikatakan sebagai permasalahan yang bersifat malign. Kategori kedua disebut sebagai problem of coordination yang bersifat benign.
Terkait dengan permasalahan yang bersifat benign atau problem of coordination akan mudah diatasi melalui suatu bentuk kerjasama sukarela apabila disertai dengan adanya sifat symetry serta cross-cutting cleavages. Disebut symetry jika pihak yang terlibat terikat sedemikian rupa sehingga nilai-nilai yang ada menjadi harmonis dan kepentingan menjadi selaras. Semakin besar coordination maka semakin mudah pula upaya untuk menemukan solusi yang dapat diterima semua pihak. Cross-cuttin cleavages dalam suatu permasalahan membuat sebuah permasalahan menjadi sederhana. Cross-cutting cleavages terjadi ketika pihak yang menang atau kalau pada satu sisi, belun tentu menang atau kalah disisi lain. Dari uraian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa problem of cooperation terdiri dari tiga unsur yaitu coordination, symmetry dan cross-cutting cleavages. Dari ketiga unsur tersebut, coordination merupakan kriteria utama dalam klasifikasi tersebut, sedangkan kedua unsur lainnya merupakan tambahan yang berfungsi untuk menyelaraskan masalah dalam problem of coordination. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:
20
Tabel 1.1 Karakteristik Permasalahan Benign dan Malign Karakteristik Rezim
(Kondisi Hubungan antar Aktor)
Benign Malign
Tipe Coordination Incongruity
Arah Symmetry Asymmetry
Bentuk cleavages Cross-cutting Cumulative
Sumber: Edward L. Miles, et.al Environtment regime: Effectiveness, confronting
theory with Evidence, Cambridge: MIT Press, 2002, hal 21.
Kemudian Anderdal juga berargumen bahwa sebuah permasalahan dapat di atasi dengan efektif jika ditangani oleh lembaga atau sistem yang memiliki kekuatan serta didukung dengan adanya keterampilan dan energy yang memadai. Apabila sebuah solusi dihasilkan melalui keputusan kolektif, maka problem solving capacity bisa dipahami sebagai fungsi saling terkait yang terdiri dari tiga unsur. Unsur pertama adalah aturan kelembagaan (International setting) yang ada dalam sebuah rezim. Dalam international setting terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, harus dilihat dalam arena politik apa rezim tersebut terlibat dan organisasi seperti apa yang berfungsi sebagai aktor dan melayani rezim dalam arena tersebut. Institusi sebagai arena bisa dianalogikan sebagai jawaban dalam pertanyaan, ‘siapa’ berurusan dengan ‘apa’, ‘bagaimana’, ‘kapan’, dan ‘dimana’. Penggunaan arena negosiasi sebagai sebuah bentuk institusi formal yang eksis dalam jangka waktu panjang akan bisa memfasilitasi kerjasama dan meningkatkan efektivitas rezim internasional dengan mendorong aktor untuk berpikir luas dengan bersedia menerima norma yang beragam dan tidak sekedar menerapkan prinsip timbal-balik. Yang kedua, terkait dengan organisasi sebagai aktor, organisasi internasional bisa berperan sebagai aktor yang bisa menyediakan input independen kedalam proses problem-solving atau memperkuat output yang muncul dari proses tersebut. organisasi tersebut harus mempunyai keterikatan internal yang kuat, otonomi, dan aktivitas eksternal yang nyata. Organisasi internasional dengan kapasitas aktor yang memadai atau signifikan akan mempengaruhi efektivitas rezim internasional.
Kedua distribusi kekuasaan (distribution of power) antara aktor yang terlibat. Power disini dimaknai sebagai penguasaan terhadap peristiwa yang penting, baik
21
pagi aktor maupun pihak lain. Jika satu aktor mendominasi dalam sebuah peristiwa penting, maka aktor tersebut bersifat hegemon. Aktor hegemon sendiri ada dua jenis, yaitu benevolent hegemon dan coersive hegemon. Disebut benevolent hegemon apabila aktor bersedia menyediakan collective goods dengan menggunakan sumber daya yang dimilikinya, atau dengan kata lain aktor tersebut bersedia dan mampu untuk membentuk dan mempertahankan sebuah bentuk solusi unilateral untuk menangani problem kolektif. Sedangkan yang kedua, coersive hegemon merupakan keadaan dimana aktor hegemon menggunakan dominasinya untuk mengendalikan pihak lain atau memaksa pihak lain untuk mengikuti keinginannya.
Dan unsur ketiga adalah skill dan energy yang digunakan untuk mencari solusi yang kooperatif. Unsur ketiga ini terdiri dari dua jenis yaitu instrumental
leadership dan epistemic community. Semakin besar skill dan energy maka
efektivitas rezim juga semakin tinggi. Kepemimpinan instrumental merupakan kecenderungan untuk memfasilitasi pembentukan dan implementasi rezim. Semakin tinggi tingkat benignty permasalahan, maka kepemimpinan instrumental akan menjadi kurang dibutuhkan. Yang kedua, epistemic community terdiri dari kelompok kerja, baik formal maupun informal. Jaringan informal dan para ahli ini memberi kontribusi bagi tingkat efektivitas rezim dengan memperkuat basis pengetahuan yang menjadi landasan gerakan rezim. Semakin mumpuni kelompok epistemik, maka semakin tinggi pula kemampuannya untuk bisa mempengaruhi pembuat keputusan, yang tentunya akan berpengaruh besar terhadap efektivitas rezim.
Selain variabel dependent dan independent, Anderdal juga menyebutkan variabel lain untuk menilai efektivitas sebuah rezim. Anderdal menempatkan tingkat kolaborasi sebagai sebuah intervening variabel. Tingkat kolaborasi juga dipengaruhi oleh problem benignty dan problem solving capacity yang ada dalam sistem yang membentuk rezim, dan berkontribusi pada efektivitas rezim. Permasalahan yang bersifat benign akan berpengaruh positif terhadap tingkat kolaborasi dan tingkat kolaborasi berpengaruh positif terhadap efektivitas rezim. Sehingga masalah politik yang bersifat benign akan meningkatkan efektivitas
22 Independent
Variable
Benign (+)
Malign (-)
rezim. Tingkat kolaborasi didukung juga oleh kemampuan mengatasi masalah. Karena tingkat kolaborasi mendukung efektivitas rezim, maka kemampuan untuk mengatasi masalah berpengaruh positif terhadap tercapainya efektivitas rezim. Untuk lebih jelas hubungan antara ketiga variabel di atas dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:
Bagan 1.1 Skema Efektifitas Rezim Anderdal konflik: Konflik Muslim Rohingya
Sumber: Diolah dari Edward L. Miles, et.al Environtment regime: Effectiveness,
confronting theory with Evidence, Cambridge: MIT Press, 2002
Untuk melihat tingkat kolaborasi sebuah rezim, Anderdal menggunakan skala ukuran level kolaborasi seperti berikut:
0. Terdapat gagasan bersama tanpa suatu koordinasi tindakan bersama 1. Koordinasi tindakan atas dasar kesepahaman secara diam-diam
2. Koordinasi tindakan dengan dasar aturan atau standar yang dirumuskan secara eksplisit, namun implementasi berada sepenuhnya di tangan pemerintah sebuah negara. Tidak ada penilaian terpusat akan efektivitas dari sebuah tindakan.
3. Koordinasi tindakan dengan dasar aturan atau standar yang dirumuskan secara eksplisit, namun implementasi berada sepenuhnya ditangan
Independent Variable (+) Problem solving capacity Intervening Variable (+): Level of Collaboration (level 0) (le Dependent Variable: Regime uneffectiveness
23
pemerintah sebuah negara. Terdapat penilaian terpusat akan efektivitas dari sebuah tindakan.
4. Kordinasi yang terencana, dikombinasikan dengan implementasi pada level nasional. Didalamnya terdapat penilaian terpusat akan efektivitas sebuah tindakan.
5. Koordinasi dengan perencanaan dan implementasi yang menyeluruh terintegrasi, dengan penilaian terpusat akan efektivitas.41
Seluruh uraian di atas dapat dijabarkan dalam indikatir-indkator efektivitas rezim seperti yang tertera dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1.2 Tabel Konfigurasi Efektivitas Rezim
Independent Variabel
Indicator (Hypothesized Score)
Effective Regime Ineffective Regime
Type of Problem Predominantly benign or at least mixed State of knowledge: Good
Predominantly malignant State of knowledge: Poor Problem
Solving Capacity
High, as indicated by: - Decision rules of providing for adoption of rules by (qualified) majority - An IGO with significant actor capacity serving the regime - A well-integrated epistemic community - Distribution of power in favor of pushers or pushers and intermediaries - Instrumental leadershi by one or a few parties or by individual delegates or coalitions of
Low, as indicated by: - Decisions rules
requiring unanimity or cencensus
- Weak IGO serving the regime
- No epistemic community presen - Distribution of power
in favor of laggards or laggards and bystander - Scant instrumental
leadership provide by coalitions or delegates
24 delegates Political content Favourable, as indicated by: - Linkages to other benign problems - Ulterior motives or selective incentives for cooperation Unfavourable, as indicated by: - Linkages to other malign problems - No ulterior motives or selective incentive for cooperation
Sumber: Diolah dari Edward L. Miles, et.al. Environment Regime: Effectiveness,
confronting theory with evidence, Cambridge: MIT Press, 2002, hal 63-309.
1.5. Hipotesis
Prinsip ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik memiliki implikasi dan tingkat efektifitas yang berbeda pada tiap kasusnya. Pada konflik dengan tipe permasalahan benign atau positif yang cenderung terdapat pada konflik antar negara, mekanisme ini berhasil meredam konflik sehingga tidak berujung pada konflik terbuka, namun pada konflik dengan tipe permasalahan
malign atau bersifat negatif yang cenderung terdapat pada konflik domestik,
mekanisme ini cenderung tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Hal ini disebabkan setiap konflik memiliki sejarah, aktor/pelaku, kepentingan, dan konteks yang berbeda. Tipe permasalahan, kapasitas penyelesaian masalah dan tingkat kolaborasi juga mempengaruhi tingkat efektifitas mekanisme penyelesaian konflik di beberapa kasus.
1.6. Metode Penelitian
Tesis ini menggunakan metode kualitatif yang merupakan suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasar pada metodologi dalam menyelidiki fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau metode kuantitatif. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berbentuk kata-kata tertulis ataupun lisan dari individu dan perilaku yang diamati. Penggunaan metode ini diharapkan akan memberikan data-data menyeluruh tentang situasi yang sedang dipelajari oleh peneliti. Metode kualitatif akan menganalisis secara mendalam bagaimana konteks sebuah konflik berpengaruh pada tingkat efektifitas
25
prinsip ASEAN Way, sehingga penelitian ini akan bersifat kualitatif analitis. Sementara itu, metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan yang lebih banyak memanfaatkan data-data sekunder seperti buku-buku, hasil penelitian, majalah, jurnal, laporan instansi terkait, surat kabar, serta sumber-sumber materi lain yang relevan.
1.7. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Bab I menjelaskan mengenai latar belakang pemilihan topik dan permasalahan yang akan diteliti. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan review literatur dan konsep yang akan digunakan sebagai alat analisis. Bab ini juga berisi hipotesis awal penelitian, metode dan sistematika penulisan untuk bab selanjutnya.
BAB II SEJARAH DAN KARAKTERISTIK ASEAN WAY
Pada bab ini akan dijelaskan gambaran ASEAN Way secara umum. Pembahasan akan dimulai dari deskripsi sejarah pembentukan ASEAN dan pembentukan karakteristik masyarakat Asia Tenggara yang melandasi terciptanya prinsip-prinsip ASEAN Way. Berlanjut pada penjelasan mengenai sejarah konflik yang ada dan pernah ada di kawasan Asia Tenggara.
BAB III ANALISIS KONFLIK PREAH VIHEAR DAN MUSLIM ROHINGYA
Pada bab ini akan dijelaskan gambaran konflik Preah Vihear dan Muslim Rohingya, peta, sejarah dan perkembangan konflik secara umum. Pada bab ini juga akan dijelaskan upaya yang dilakukan oleh ASEAN untuk menyelesaikan konflik Preah Vihear dan Muslim Rohingya. Bab ini akan menggunakan konsep analisis konflik untuk mengetahui jenis dan karakter dari konflik.
26
BAB IV ANALISIS EFEKTIFITAS ASEAN WAY SEBAGAI MEKANISME
PENYELESAIAN KONFLIK DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHINYA
Bab ini akan mengalisis implikasi ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Juga akan dianalisis efektifitas ASEAN Way dengan menggunakan teori efektifitas rezim. Bab ini akan menjawab pertama mengenai efektifitas ASEAN Way sebagai mekanisme penyelesaian konflik dan pertanyaan kedua penelitian, yakni mengapa efektifitas prinsip ASEAN Way berbeda pada tiap kasus dan faktor apa saja yang mempengaruhinya.
BAB V Penutup
Bab ini berisi kesimpulan yang didapat dari seluruh analisis yang dilakukan pada bab-bab sebelumnya, serta saran yang di dapat dari hasil penelitian ini.