PERMASALAHAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA

39 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BANDUNG

31 OKTOBER 2019

PERMASALAHAN

PELAKSANAAN

PENGADAAN

BARANG/JASA

DIREKTORAT ADVOKASI DAN

PENYELESAIAN SANGGAH WILAYAH II

(2)
(3)
(4)

Kasus 1

• Terdapat pengadaan alat uji air minum

yang memiliki spesifikasi detail dan

cenderung mengarah pada 1 merek

tertentu.

(5)

Analisis Kasus 1

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Spesifikasi disusun tanpa adanya

justifikasi teknis

yang menggambarkan

kebutuhan

user,

memang ada itikad untuk mengarah pada penyedia

tertentu untuk mendapatkan keuntungan

Penjelasan:

• Spesifikasi disusun sesuai dengan kebutuhan (tidak kurang atau tidak

berlebihan).

• Justifikasi teknis/alasan harus disusun sehingga spesifikasi dapat

dipertanggungjawabkan

• Pokja melakukan review/kaji ulang sebelum dilakukan tender.

(6)

Kasus 2

• Dalam rangka menyusun HPS pengadaan ATK

senilai Rp. 500 Juta, PPK melakukan survey

kepada beberapa toko ATK lalu kemudian harga

hasil survey tersebut ditambahkan keuntungan

15%, PPN 10% dan biaya survey pasar sebesar

Rp. 1 Juta.

(7)

Analisis Kasus 2

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Melakukan

mark up

HPS, persekongkolan

Penjelasan:

• survey pasar, identifikasi calon penyedia

• Besaran keuntungan yang wajar disesuaikan dengan kondisi pasar

• HPS harus dikalkulasikan berdasarkan keahlian

• HPS disusun berdasarkan komponen yang berkaitan, tidak boleh

memperhitungkan biaya tak terduga, PPh penyedia dan biaya lainnya

yang tidak berkaitan.

• Penyusunan HPS harus didokumentasikan

• PPK dapat melibatkan tim ahli

(8)

Kasus 3

• Terdapat paket Pekerjaan Konstruksi berupa Bangunan

Gedung 4 lantai senilai Rp. 45 Milyar dengan rencana

pekerjaan selama 6 bulan sesuai dengan Dokumen

Perencanaan yang disusun oleh Konsultan Perencana.

Paket ini akan dilaksanakan menggunakan anggaran

tahun 2019.

• Pada tanggal 30 Juli 2019 baru akan mulai direncanakan

persiapan pemilihan oleh Pokja

(9)

Analisis Kasus 3

Penyimpangan yang dilakukan

:

Proses tender tetap dilaksanakan dengan durasi penyelesaian pekerjaan dalam

waktu 5 bulan dan merencanakan akan memberikan kesempatan sebanyak

waktu yang diperlukan penyedia. Sehingga konsekuensinya bisa saja Penyedia

akan menawar dengan nilai pekerjaan yang sudah ditambahkan denda

keterlambatan.

Penjelasan:

• Pelaksanaan pemilihan dilaksanakan dengan mempertimbangkan ketersediaan

waktu tender, waktu pelaksanaan pekerjaan dan waktu yang tersedia di tahun

anggaran berjalan (jika akan menggunakan kontrak tahun tunggal).

• Jika ketersediaan waktu di tahun berjalan tidak cukup, maka Pokja sebaiknya

melakukan reviu dokumen RPP terhadap adanya kondisi tersebut dan

menyampaikan kepada PPK.

• PPK dapat mengusulkan paket tersebut dilaksanakan dengan kontrak tahun

jamak, merubah ruang lingkup pekerjaan sehingga waktu pelaksanaan

pekerjaan dapat berkurang dengan tetap berorientasi pada output, paket tidak

jadi dilaksanakan dengan pertimbangan tertentu.

(10)

Kasus 4

• Dalam proses tender barang XYZ, terdapat

sanggahan dari peserta (selaku Distributor) yang

digugurkan dalam proses tender karena Peserta

tersebut tidak melampirkan surat dukungan.

• Apakah persyaratan yang disusun oleh Pokja

sudah tepat?

(11)

Analisis Kasus 4

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Pokja membatasi penyedia yang ikut proses tender dengan mensyaratkan

surat dukungan oleh Distributor yang mana sebenarnya Distributor memiliki

kompetensi untuk menyediakan barang dimaksud.

Penjelasan

• prinsipnya dukungan diperlukan untuk menjamin ketersediaan barang yang

sangat berpengaruh dalam pencapaian output pekerjaan atau pengadaan

tertentu yang membutuhkan pemeliharaan sehingga dukungan pabrikan

diperlukan dalam rangka menjamin kepastian layanan purna jual

• Identifikasi calon penyedia

• persyaratan dukungan pabrikan harus mempertimbangkan posisi calon

penyedia tersebut di pasar (pabrikan, distributor, agen atau posisi lainnya).

Persyaratan dukungan pabrikan tidak wajib dipersyaratkan manakala

pabrikan/principal menawarkan produknya sendiri.

(12)

Kasus 5

• Tender perangkat komputer senilai Rp. 300 Juta

dan mengalami gagal tender sebanyak 2 kali

karena tidak ada penyedia yang menawar,

kemudian Pokja langsung melakukan penunjukan

langsung kepada CV XYZ.

(13)

Analisis Kasus 5

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Spesifikasi dan HPS disusun secara tidak tepat, penyebab tender pertama

gagal tidak direview, ada unsur kesengajaan untuk mengarah pada

penyedia tertentu yang dapat dilakukan dengan penunjukan langsung

akibat tender gagal 2 kali

Penjelasan:

• Penunjukan langsung karena 2 kali tender gagal tidak boleh ada unsur

kesengajaan

• Pokja harus mencari tahu penyebab kegagalan tender.

• Pokja melakukan review terhadap dok pengadaan dan dok rencana

pelaksanaan pemilihan jika terjadi tender gagal sehingga dapat

melakukan koreksi perbaikan

Pelanggaran:

Prinsip Efisien, Bersaing (tidak tercipta mekanisme pasar

dalam pengadaan B/J), Adil

(14)

Kasus 6

• Dinas Pendidikan memiliki anggaran dalam 1 (satu)

kode rekening belanja yaitu belanja barang senilai

6,5 Milyar dgn rincian uraian pengadaan:

-Belanja Pakaian Seragam 1,5 M

-Sepatu 1,8 M

-Tas Sekolah 1,7 M

-Baju Batik khas lokal 1,5 M

(15)

Analisis Kasus 6

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Menggabungkan paket tanpa melalui proses identifikasi pasar dan calon penyedia sehingga

membatasi kompetisi, tidak memberikan kesempatan pada Usaha Kecil.

Penjelasan:

• Dilarang memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud

menghindari Tender/Seleksi

• Pemaketan disusun berdasarkan kondisi pasar yang tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip

pengadaan yang efisien dan efektif dan menetapkan sebanyak banyaknya paket untuk usaha

kecil tanpa mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan usaha yang sehat, kesatuan sistem, dan

kualitas kemampuan teknis.

• Pada prinsipnya pemaketan pengadaan tidak mengacu pada kode rekening belanja/akun

anggaran sehingga PA dapat melakukan pemaketan pengadaan meskipun alokasi anggaran

untuk 1 (satu) paket pengadaan bersumber dari beberapa kode rekening belanja/akun anggaran

yang berbeda (kontrak pengadaan bersama) atau menetapkan beberapa paket pada 1 (satu)

kode rekening belanja/akun anggaran

(16)

Kasus 7

• 2 pemerintah kabupaten yang berdampingan berencana

akan membangun 1 pasar secara bersama-sama yang

dananya bersumber dari 2 Pemkab dimaksud dengan

alokasi Pemkab A sebesar 20 Milyar dan Pemkab B

sebesar 80 Milyar.

(17)

Analisis Kasus 7

• Konsolidasi kebutuhan dari pihak yang berbeda dengan

output yang sama.

• Masing-masing Pemda menyepakati ruang lingkup

pekerjaan yang akan dilaksanakan

• menggabungkan sumber pendanaan untuk 1 paket

Tender (Pengadaan bersama)

• Masing-masing PPK akan berkontrak dengan penyedia

yang sama sesuai dengan lingkup pekerjaan (dituangkan

dalam kontrak)

(18)

Kasus 8

• Terinformasi pada media online direksi perusahaan A sudah

ditetapkan sebagai terpidana pada paket pekerjaan tahun 2016 di

Dinas PU Kota X. ditahun 2019 ini Perusahaan tersebut masuk

sebagai peserta Tender konstruksi dengan direksi yang baru sesuai

akta perubahan terakhir tahun 2019 tentang tentang pemberhentian

dan pergantian direksi perusahaan.

• Sesuai data pada LPSE didaerah lain penyedia tersebut sudah

ditetapkan sebagai pemenang pada paket pekerjaan di bulan Maret

2019. dan pada daftar hitam portal pengadaan nasional badan usaha

penyedia tersebut tidak termasuk dalam daftar hitam.

• Proses Tender saat ini sedang ada pada tahapan evaluasi

penawaran.

(19)

Analisis Kasus 8

• Yang bertindak untuk dan atas nama badan usaha tidak

diperbolehkan sedang menjalani sanksi pidana

• Selain informasi dari INAPROC, Pokja mencari tahu dan melakukan

klarifikasi kepada Dinas PU Kota X apakah Perusahaan A tersebut

dikenakan sanksi daftar hitam oleh PA/KPA setempat termasuk

memastikan masa berlaku sanksi sesuai SK Penetapan Daftar Hitam

PA/KPA.

• Jika hasil klarifikasi dinyatakan bahwa PA/KPA setempat tidak

pernah menerbitkan SK Penetapan Daftar Hitam dan telah

digantinya direksi perusahaan tersebut, maka perusahaan tersebut

tetap dapat mengikuti tender.

(20)

Kasus 9

Terdapat hasil Evaluasi sebagai berikut:

No Nama Penyedia Harga Penawaran Keterangan 1 PT. Aneka Rp. 2.150.000.000,- Calon Pemenang

2 PT. Bahagia Rp. 2.210.000.000,- Calon Pemenang Cadangan 1

3 PT. Citra Rp. 2.550.000.000,- Calon Pemenang Cadangan 2

Selanjutnya hasil pembuktian kualifikasi sebagai berikut:

PT.Aneka tidak bisa menunjukan keasilian dokumen :

• Mandor Lapangan, Pendidikan S1 Teknik Sipil dan Sertifikasi Keahlian (SKA) Ahli Teknik Jalan tingkat Muda

PT Bahagia tidak bisa menunjukan keaslian dokumen:

• Pemimpin Lapangan, Pendidikan S1 Teknik Sipil dan Sertifikasi Keahlian (SKA) Ahli Teknik Jalan tingkat Muda

• Mandor Lapangan, Pendidikan S1 Teknik Sipil dan Sertifikasi Keahlian (SKA) Ahli Teknik Jalan tingkat Muda

• Dukungan Keuangan Bank

(21)

Analisis Kasus 9

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Persyaratan kualifikasi yang berlebihan, Penyusunan jadual tidak logis, Mengarah ke penyedia tertentu, Persekongkolan

Penjelasan:

• Pokja harus berpedoman pada tata cara/kriteria yang ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan

• Jadwal pelaksanaan pengadaan Pokja harus memberikan alokasi waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan

• Pembuktian kualifikasi dilakukan dengan cara melihat dokumen asli atau rekaman yang dilegalisir oleh pihak yang berwenang, dan meminta rekamannya. Pokja

melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi kepada penerbit dokumen, apabila diperlukan.

• Pokja dapat melakukan pembuktian kualifikasi susulan sepanjang alasan ketidakhadiran Penyedia, yang disertai dengan bukti nyata dan dapat

dipertanggungjawabkan dapat diterima oleh Pokja . Apabila dalam pembuktian kualfikasi susulan, Penyedia tetap tidak dapat memenuhi dokumen yang

ditentukan Pokja maka penawaran Penyedia dimaksud digugurkan

(22)

Kasus 10

Terdapat hasil Tender sebagai berikut:

No Nama Paket Nilai Pengadaan Keterangan

1 Pembangunan Jalan di Kota A Rp. 3.150.000.000,- PT ABC

2 Pembangunan Jalan di Kota B Rp. 4.710.000.000,- PT ABC

3 Pembangunan Jalan di Kota C Rp. 3.650.000.000,- PT ABC

PPK tidak mau menerbitkan SPPBJ karena tidak yakin dengan hasil evaluasi

penawaran. Keseluruhan penyedia (selain PT. ABC) gugur karena metode

pelaksanaan pekerjaan dianggap tidak sesuai.

(23)

Analisis Kasus 10

Penyimpangan yang mungkin dilakukan.

Persyaratan teknis tidak sesuai ketentuan, Evaluasi tidak sesuai ketentuan, Mengarah ke penyedia tertentu, Persekongkolan

Penjelasan:

• Pokja harus berpedoman pada tata cara/kriteria yang ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan

• pekerjaan konstruksi yang bersifat tidak kompleks atau sederhana dimana

metode pelaksanaan pekerjaannya bersifat baku/standar, metode pelaksanaan menjadi persyaratan wajib yang tidak dikompetisikan.

• Penilaian teknis selanjutnya dilakukan terhadap kapasitas/kemampuan personil dan peralatan yang ditawarkan serta kualifikasi penyedia yang bersangkutan. • PA dapat menyatakan Tender gagal apabila PA sependapat dengan PPK terkait

dengan hasil Tender yang diyakini tidak sesuai sehingga menyebabkan PPK tidak menandatangani SPPBJ

(24)

Kasus 11

Di suatu Pemerintah Daerah X terdapat kegiatan

pelayanan kepegawaian berbasis teknologi informasi

dengan pengadaan Sistem Aplikasi Kepegawaian

yang dianggarkan sebesar Rp.

5.000.000.000,-Pihak Pemda Setempat berencana akan meminta PT.

ABC sebagai penyedia jasa layanan kepegawaian

berbasis teknologi untuk Pengadaan Hardware dan

Software Sistem Aplikasi Kepegawaian

(25)

Analisis Kasus 11

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Perencanaan yang tidak dipersiapkan (tidak dilakukan identifikasi kebutuhan), melanggar prinsip

pemaketan, Mengarah ke penyedia tertentu, Markup

Penjelasan:

• Identifikasi kebutuhan dilakukan tidak terbatas pada maksud, tujuan dan ruang lingkup serta output yang

ingin dicapai tetapi juga melakukan survey/analisa pasar terhadap calon Penyedia yang memiliki

kemampuan teknis, mutu layanan dan alternatif teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.

• Diperoleh gambaran yang tepat terhadap strategi pemaketan pengadaan tersebut apakah termasuk dalam

pengadaan Barang, Pengadaan Jasa Konsultansi atau Jasa Lainnya berikut dengan kriteria Calon

Penyedianya.

• Penunjukan Langsung dapat dilakukan bilamana berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan dan

survey/analisis pasar menunjukan bahwa PT. ABC merupakan satu-satunya Penyedia yang bisa

memenuhi kebutuhan dalam Pengadaan Hardware dan Sofware Sistem Aplikasi Kepegawaian.

• Namun bilamana hasil Identifikasi tersebut menyatakan ada beberapa alternatif pemaketan pekerjaan dan

dapat dilaksanakan oleh beberapa Penyedia/tidak hanya oleh PT. ABC, maka Pengadaan Hardware dan

Sofware Sistem Aplikasi Kepegawaian dilakukan melalui Petenderan dan/atau Seleksi

(26)

Kasus 12

Terdapat rencana pengadaan barang yang akan

diserahkan kepada masyarakat atau kelompok

masyarakat.

• Apakah harus dilaksanakan dengan

e-purchasing

melalui

e-Katalog?

• Bagaimana jika barang yang dibutuhkan tidak terdapat

pada e-Katalog?

(27)

Analisis Kasus 12

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Perencanaan yang tidak dipersiapkan (tidak dilakukan identifikasi kebutuhan), melanggar prinsip pemaketan, Mengarah ke penyedia tertentu

Penjelasan:

• PPK melakukan identifikasi apakah barang/jasa yang akan diadakan termasuk dalam kategori barang/jasa yang akan diadakan melalui pengadaan langsung, E-purchasing,

tender atau termasuk pengadaan khusus.

• Apabila akan dilaksanakan dengan E-purchasing, maka PPK melaksanakan E-purchasing dengan nilai pagu paling sedikit di atas Rp. 200 Juta dan Pejabat Pengadaan melaksanakan E-purchasing dengan nilai pagu paling banyak Rp. 200 Juta.

• pelaksanaan E-purchasing wajib dilakukan untuk barang/jasa yang menyangkut pemenuhan kebutuhan nasional dan/atau strategis yang ditetapkan oleh menteri, kepala lembaga, atau kepala Daerah.

• Barang/Jasa yang diluar kriteria pemenuhan kebutuhan nasional dan/atau strategis, pengadaan barang/jasanya tidak wajib dilakukan melalui metode E-purchasing.

(28)

Kasus 13

Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa LED Display

dengan nilai kontrak Rp.

7.800.000.000,-tercantum merk Shenzen Type DX.

Dalam pelaksanaanya Penyedia mengirimkan

barang dengan spesifikasi merk Shenzen Type DZ

dengan alas an Type DX telah discontinue (tidak

diproduksi lagi).

(29)

Analisis Kasus 13

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Pengadaan tidak sesuai kebutuhan (tidak efektif), persekongkolan, markup

Penjelasan:

• Apabila terdapat ketidaksesuaian merk/type barang yang dikirim dengan yang merk/brand yang tercantum dalam Kontrak, maka PPK tidak diperbolehkan menerima penyerahan barang dimaksud. PPK memerintahkan Penyedia untuk memperbaiki pekerjaan tersebut sampai barang dimaksud sesuai dengan yang disyaratkan dalam Kontrak.

• PPK meminta kepada Penyedia untuk memberikan bukti berupa surat dari pabrikan/pihak yang punya kewenangan yang menyatakan bahwa pabrikan tersebut sudah tidak memproduksi LED Display dengan merk Shenzen type DX sebagaimana tercantum dalam Kontrak.

• PPK melakukan klarifikasi terhadap kebenaran/keabsahan surat dari Pabrikan tersebut. Bilamana hasil klarifikasi menyatakan benar, maka perubahan type LED Display dapat diterima PPK dengan ketentuan barang tersebut harus memenuhi spesifikasi dan kualitas yang sama atau lebih baik dan memiliki fungsi dan kompatibilitas yang sama.

• Disamping itu harga yang diberikan tidak boleh melebihi harga pada kontrak awal sehingga apabila ada penambahan biaya hal tersebut merupakan tanggung jawab penyedia. Sebaliknya apabila harga barang yang menjadi pengganti lebih murah dari pada harga yang tercantum dalam kontrak maka harga kontrak mengikuti harga barang sesuai yang dibayarkan

(30)

Kasus 14

Terdapat pekerjaan Pembangunan Kapal perintis

sejumlah 20 (dua puluh) unit dengan jangka waktu

10 bulan.

Dalam pelaksanaanya terdapat beberapa

modifikasi berdasarkan usulan pengguna. Sampai

dengan saat ini progres baru tercapai 87,8%, sisa

waktu pelaksanaan tinggal 3 minggu, diperkirakan

pekerjaan tidak akan selesai tepat waktu

(31)

Analisis Kasus 14

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Tidak dilakukan pengendalian kontrak, persekongkolan,

Penjelasan:

• Apabila dalam jangka waktu sebagaimana diatur dalam kontrak, Penyedia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan karena kesalahannya, pada prinsipnya PPK dapat melakukan pemutusan kontrak secara sepihak.

• Sebelum dilakukan pemutusan kontrak, PPK harus melakukan penelitian apakah penyedia tersebut layak untuk diberikan kesempatan termasuk mempertimbangkan justifikasi teknis dan dampak/resiko akibat dilakukannya pemutusan kontrak, terlebih bila kondisi di lapangan Penyedia masih sanggup menyelesaikan pekerjaan dimaksud, dengan konsekuensi pengenaan denda keterlambatan

• Apabila diberikan kesempatan, jaminan pelaksanaan diperpanjang, penyedia dikenakan denda keterlambatan

• Bilamana pemberian kesempatan tersebut melewati tahun anggaran berikutnya, maka harus ada kepastian mengenai alokasi anggaran tahun berikutnya.

• Bilamana PPK memutuskan kontrak maka penyedia dikenai sanksi :Jaminan pelaksanaan dicairkan, Sisa Uang Muka harus dilunasi atau Jaminan Uang Muka dicairkan (apabila menggunakan Uang Muka), membayar denda keterlambatan dan

diusulkan dalam Daftar Hitam.

• Terhadap pelaksanaan pekerjaan yang sudah dilaksanakan penyedia, apabila PPK akan memanfaatkan realisasi pekerjaan yang sudah dilaksanakan maka PPK dapat melakukan pembayaran dengan terlebih dahulu dilakukan audit secara menyeluruh terhadap hasil pekerjaan tersebut

(32)

Kasus 15

•Terdapat pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Jembatan

antar pulau.

•Dalam proses pelaksanan kontrak, ternyata pada rencana jalur

jembatan antara Pulau teridentifikasi ada beberapa titik

pondasi jembatan yang dibawahnya ada ranjau laut bekas

penjajah yang kondisinya masih aktif. Akibatnya perlu

dilakukan netralisasi ranjau laut oleh TNI AL. Proses netralisasi

sejak survei sampai peledakan ternyata memerlukan waktu

lama akibatnya sisa waktu kontraktor menyelesaikan fisik

jembatan tidak mencukupi.

•Keberadaan ranjau laut yang tidak pernah diduga para pihak

dlm kontrak dan harus dibersihkan

•Terdapat potensi resiko yang terjadi jika pembersihan ranjau itu

tidak dilakukan akan menimbulkan korban (jiwa dan material)

Apa yang harus dilakukan PPK?

(33)

Analisis Kasus 15

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Tidak dilakukan pengendalian kontrak, persekongkolan,

Penjelasan:

• Perpanjangan waktu pelaksanaan dapat diberikan oleh PPK atas pertimbangan yang layak dan wajar untuk hal-hal sebagai berikut: a) pekerjaan tambah; b) perubahan disain; c) keterlambatan yang disebabkan oleh PPK; d) masalah yang timbul diluar kendali Penyedia; dan/atau e) Keadaan Kahar.

• Dalam hal adanya indikasi bahwa terdapat titik pondasi jembatan yang dibawahnya ada ranjau laut bekas penjajah yang kondisinya masih aktif, PPK terlebih dahulu melakukan penelitian apakah indikasi tersebut benar adanya, selain itu PPK harus melakukan penelitan apakah bila dilakukan proses netralisasi ranjau laut tersebut akan berpengaruh terhadap pembangunan jembatan tersebut • PPK dapat menugaskan Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak untuk meneliti kelayakan

perpanjangan waktu pelaksanaan dan/atau melibatkan Tim ahli (bila dianggap perlu)

• Bilamana hasil penelitian PPK bahwa akibat proses netralisasi sejak survai sampai peledakan ternyata mengakibatkan terhentinya proses pembangunan jembatan, maka PPK dapat

memperpanjang waktu pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya sama dengan waktu terhentinya kontrak

• Bilamana PPK menyetujui untuk memberikan perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan, maka harus dituangkan dalam dokumen perubahan kontrak (addendum) yang disepakati kedua belah pihak

(34)

Kasus 16

Bagaimana cara menentukan denda

keterlambatan apabila PPK memberikan

kesempatan kepada Penyedia terhadap pekerjaan

yang belum terselesaikan akibat kelalaian

(35)

Analisis Kasus 16

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Tidak dilakukan persiapan pengadaan yang matang, persekongkolan,

Penjelasan:

• Ketentuan besarnya pengenaan denda sebesar 1/1000 (satu perseribu) dari nilai kontrak atau nilai sisa pekerjaan yang belum terselesaikan untuk setiap hari keterlambatan,

• Pengenaan denda keterlambatan dari bagian kontrak dapat diterapkan apabila

penyelesaian masing-masing pekerjaan yang tercantum pada bagian kontrak tersebut tidak tergantung satu sama lain dan memiliki fungsi yang berbeda,dimana fungsi

masing-masing bagian kontrak tersebut tidak terkait satu sama lain dalam pencapaian kinerja pekerjaan.

• Bilamana PPK akan mengenakan denda keterlambatan dari bagian kontrak maka PPK harus mencantumkan bagian-bagian pekerjaan yang dimaksud.

• Namun apabila pekerjaan yang belum selesai tersebut mengakibatnya belum dapat berfungsi atau terlaksananya output pekerjaan, maka pengenaan denda keterlambatan didasarkan dari total nilai kontrak.

• Pemilihan besaran denda keterlambatan harus ditentukan oleh PPK ketika menetapkan rancangan kontrak. Selanjutnya rancangan kontrak tersebut merupakan bagian dari Dokumen Pengadaan yang menjadi pedoman bagi Penyedia Barang/Jasa dalam mengikuti Petenderan Pengadaan Barang/Jasa

(36)

Kasus 17

Apakah para pihak dapat merubah jenis kontrak saat

pelaksanaan kontrak ?

(37)

Analisis Kasus 17

Penyimpangan yang mungkin dilakukan:

Perencanaan yang tidak dipersiapkan, persekongkolan

Penjelasan:

Pemilihan Jenis Kontrak harus ditentukan oleh PPK ketika

menetapkan rancangan kontrak. Selanjutnya rancangan kontrak

tersebut merupakan bagian dari Dokumen Pengadaan yang menjadi

pedoman bagi Penyedia Barang/Jasa dalam mengikuti Petenderan

Pengadaan Barang/Jasa.

Jenis Kontrak dalam pelaksanaan kontrak tidak boleh dilakukan

perubahan karena penentuan jenis kontrak berpengaruh terhadap

kompetisi pada proses pemilihan (khususnya berkaitan dengan

penawaran penyedia)

.

Perubahan jenis kontrak akan berpengaruh terhadap pelaksanaan

kontrak (addendum, pengenaan denda, penyesuaian harga dan

lainnya)

(38)

Kasus 18

• Mengacu pada hasil petenderan pembangunan jembatan penyeberangan A, yang ditetapkan oleh Pokja, PPK telah menerbitkan SPPBJ dan penandatanganan Kontrak dengan Penyedia.

• Selanjutnya Penyedia telah selesai melaksanakan pekerjaan 100% sesuai kontrak dan PPK telah malaksanakan pembayaran sesuai dengan Kontrak kepada penyedia

• Jembatan telah berfungsi dan dimanfaatkan.

• Beberapa waktu setelah dilakukan pembayaran, ternyata Pokja/PPK baru diketahui bahwa penyedia tersebut sedang dikenai sanksi Daftar Hitam oleh PA/KPA di daerah lain saat proses pemilihan jembatan penyebrangan A.

• Pada saat proses pemilihan, Pokja tidak mendapatkan informasi bahwa Penyedia tersebut telah dikenakan sanksi Daftar Hitam karena pada Daftar Hitam Portal Pengadaan Nasional (INAPROC) tidak ditemukan nama penyedia dimaksud.

(39)

Analisis Kasus 18

Penyimpangan yang mungkin dilakukan: Persekongkolan

Penjelasan:

Besaran kerugian negara yang harus dikembalikan bukan total loss (seluruh uang negara yang telah dikeluarkan) apabila pekerjaan telah dilaksanakan sesuai kontrak, tujuan dari proyek tersebut tercapai, memberi manfaat bagi Negara dan dapat dikategorikan sebagai asset sehingga uang yang dikeluarkan Negara tidak sia-sia. (Pendapat Ahli).

• Penyedia tersebut seharusnya tidak dapat ditunjuk sebagai pelaksana kontrak, maka seharusnya Penyedia tersebut tidak berhak menerima keuntungan sama sekali, sehingga Penyedia tersebut wajib mengembalikan keuntungan yang telah diterimanya.

• Meminta kepada Penyedia agar mengembalikan keuntungan yang telah diterimanya dan menyetorkan ke Kas Daerah;

• Mengenakan sanksi pencantuman Penyedia dalam Daftar Hitam; dan

• Melaporkan Penyedia secara pidana kepada pihak berwenang apabila ditemukan tindak pidana (membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan).

• Pengguna Anggaran memberikan sanksi kepada PPK dan Pokja ULP apabila terbukti melakukan pelanggaran dan/atau kecurangan dalam proses PBJ

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :