• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pakan dan mengurangi

Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pakan dan mengurangi

ketergantungan pada bahan pakan dan pakan dari pabrikan, maka

ketergantungan pada bahan pakan dan pakan dari pabrikan, maka

disusunlah buku petunjuk ini yang memuat informasi tentang pedoman

disusunlah buku petunjuk ini yang memuat informasi tentang pedoman

pembangunan pabrik pengolah pakan skala kecil, peralatan yang

pembangunan pabrik pengolah pakan skala kecil, peralatan yang

digunakan, cara pengolahan bahan pakan, nutrisi, formula, standar mutu

digunakan, cara pengolahan bahan pakan, nutrisi, formula, standar mutu

(SNI), pelatihan dan analisa

(SNI), pelatihan dan analisa ekonomi.

ekonomi.

Buku petunjuk ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi petugas dinas

Buku petunjuk ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi petugas dinas

peternakan, penyuluh, kelompok peternak dan pihak terkait dalam

peternakan, penyuluh, kelompok peternak dan pihak terkait dalam

mengembangkan usaha pengolahan pakan skala kecil pada tingkat

mengembangkan usaha pengolahan pakan skala kecil pada tingkat

kelompok.

kelompok.

Jakarta,

Jakarta, April

April 2010

2010

DIREKTUR

DIREKTUR BUDIDAYA BUDIDAYA TERNAK TERNAK NON NON RUMINANSIA,RUMINANSIA,

Drh. Dajadi Gunawan, MPH

Drh. Dajadi Gunawan, MPH

NIP.

NIP.

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Halaman Halaman KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR ... ... ii DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... ... iiii DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN ... ... iii.iii. I. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN ... .... .. .. 1.1. 1.

1. Latar Latar Belakang Belakang ... .... 1.1. 2. Tuju

2. Tujuan an ... . 2.2. 3.

3. Pengertian Pengertian ... ... 2.2. 4.

4. Ruang Ruang Lingkup Lingkup ... .... 3.3. II.

II. TAHAP TAHAP PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PABRIK PABRIK PAKAN PAKAN SKALA SKALA KECILKECIL ... ... 3.3. 1.

1. Penentuan Penentuan Lokasi Lokasi ... ... 3.3. 2.

2. Pendirian Pendirian Bangunan Bangunan Pabrik Pabrik ... .. 3.3. 3.

3. Tata Tata Letak Letak Pabrik Pabrik Pakan Pakan ... ... 3.3. 4.

4. Proses Proses Pengolahan Pengolahan Pakan Pakan ... ... 4.4. 5.

5. Kebutuhan Kebutuhan Peralatan Peralatan ... ... 6.6. III.

III. ALAT ALAT DAN DAN MESIN MESIN PENGOLAH PENGOLAH PAKANPAKAN... ... 6.6. 1.

1. Silo Silo ... 6.6. 2.

2. PengeringPengering ( Dryer)( Dryer) ... 7.7. 3.

3. Saringan KasarSaringan Kasar ( Screen )( Screen ) ... 7.7. 4.

4. PemecahPemecah ( Hammer mill )( Hammer mill ) ... 7.7. 5.

5. Penggiling/PenepungPenggiling/Penepung ( Diskmill )( Diskmill ) ... 8.8. 6.

6. Pemipil jagungPemipil jagung (Corn sheller )(Corn sheller ) ... 8.8. 7.

7. AyakanAyakan ( Shifter )( Shifter ) ... 8.8. 8.

8. TimbanganTimbangan ( Weight )( Weight ) ... 9.9. 9.

9. Pengaduk/ PencampurPengaduk/ Pencampur ( Mixer )( Mixer ) ... 9.9. 10.

10. Pembangkit UapPembangkit Uap ( Steam Boiler )( Steam Boiler ) ... 9.9. 11.

11. Pencetak PeletPencetak Pelet ( Pelletizer ( Pelletizer ) ) ... 10.10. 12.

12. Pemecah PeletPemecah Pelet ( Crumble )( Crumble ) ... 10.10. 13.

13. PendingingPendinging ( Cooler )( Cooler ) ... 10.10. 14.

14. Mesin Jahit KemasanMesin Jahit Kemasan ( Sewing Machine )( Sewing Machine ) ... 11.11. 15.

15. Peralatan Peralatan PendukuPendukung ng Lain Lain ... ... 11.11. -

- Gerobak Gerobak / / Troley Troley ... . 11.11. -

- Kaitan Kaitan / / Gaco Gaco ………...……... . 11.11. -

- Wadah/ Wadah/ Bak Bak Penampung Penampung dan dan Skop Skop ………...………... ... 11.11. -

- Peralatan Peralatan Bengkel Bengkel ... ... 11.11. IV.

IV. PENGOLAHAN PENGOLAHAN BAHAN BAHAN PAKANPAKAN... ... 12.12. 1.

1. Survey Survey Ketersediaan Ketersediaan Bahan Bahan Baku Baku Pakan Pakan ... .. 12.12. 2.

2. Perhitungan Perhitungan Kebutuhan Kebutuhan Pakan Pakan ... ... 12.12. 3.

(5)

4. Syarat-syarat Bahan Pakan ... 13.

5. Pengujian Mutu Bahan Pakan ... 13.

V. NUTRISI DAN FORMULA PAKAN... 14.

VI. PELATIHAN………...… 20.

VII. ANALISIS EKONOMI………...……… 21.

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA ……….. ……… 26.

LAMPIRAN :

1 . Hasil Pengujian Bahan Pakan Jagung ……….. 27. 2. Hasil Pengujian Bahan Pakan Dedak ………... 28. 3. Analisis Ekonomi Pengelolaan Pabrik Pakan Skala

Kecil ( kapasitas 2 ton / hari ) ... 29. 4. Keuntungan Pabrik Pakan Skala Kecil Ayam Broiler ... 30.

(7)

P E D O M A N

PEMBANGUNAN PABRIK PAKAN SKALA KECIL DAN PROSES PENGOLAHAN PAKAN

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Pakan ternak merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ternak. Kebutuhan pakan ternak meliputi jenis, jumlah dan kualitas bahan pakan yang diberikan kepada ternak secara langsung akan dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produktifitas ternak yang dipelihara.

Tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ternak sangat dipengaruhi oleh total biaya pakan yang dikeluarkan, dimana biaya pakan dapat mencapai 60 -70 % dari seluruh biaya produksi yang diperlukan untuk usaha budidaya ternak.

Ketergantungan peternak pada penggunaan pakan jadi yang diproduksi oleh perusahaan pakan masih tinggi, dimana sebagian besar bahan pakan tersebut masih diimpor. Apabila terjadi fluktuasi kenaikan harga bahan pakan, akan mengakibatkan tingginya harga pakan jadi.

Penyediaan pakan yang murah, dari bahan pakan lokal yang tersedia secara terus menerus di sekitar tempat usaha budidaya serta dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak, perlu diupayakan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya yang dilakukan.

]

Pembangunan pabrik pakan ternak skala kecil pada tingkat kelompok sangat diperlukan karena akan sangat menunjang usaha budidaya peternakannya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam memproduksi pakan bukan hanya pada aspek kualitas saja, tetapi perlu diperhatikan juga aspek ekonomis, dimana pakan yang dihasilkan dapat terjangkau oleh kemampuan peternak.

Agar pakan dapat tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau, maka pemerintah terus melakukan upaya upaya pembangunan pabrik pakan skala kecil. Untuk itu diperlukan sebuah petunjuk bagaimana membangun sebuah pabrik pakan skala kecil .

2. T u j u a n

Tujuan dari Petunjuk Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil (PP-SK) dan pengolahan pakan adalah :

(8)

1) Para pihak terkait dalam pengembangan pakan mempunyai panduan dalam proses pembangunan PP-SK dan pengolahan pakan

2) Sebagai acuan petugas teknis dilapangan untuk mensosialisasikan pengembangan PP-SK

3. Pengertian

Dalam petunjuk ini yang dimaksud dengan :

1) Pabrik Pakan Skala Kecil adalah suatu unit industri pengolah pakan ternak dengan kapasitas kurang dari 5 ton/hari, untuk pakan ternak unggas maupun ternak ruminansia yang menggunakan peralatan dan mesin secara mekanis.

2) Alat dan Mesin Pengolah Pakan adalah peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan pakan.

3) Analisis Proksimat   adalah pengujian laboratorium bahan pakan yang akan diformulasi dan diolah menjadi ransum pelet, crumble,

atau mash . Parameter pengujian bahan ini meliputi parameter kadar air, protein, lemak, serat kasar, abu, kalsium (Ca), dan fospor (P), sesuai standar nasional Indonesia (SNI).

4) Pakan  adalah campuran dari beberapa bahan pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

5) Bahan Pakan  adalah bahan-bahan hasil pertanian, perikanan, peternakan atau bahan lainnya yang layak dipergunakan sebagai pakan, baik yang telah diolah maupun yang belum diolah.

6) Pengujian Mutu Pakan adalah kegiatan dan tata cara menguji sampel pakan untuk mengetahui mutunya.

7) Bahan Pakan Konvensional   adalah bahan pakan yang sering digunakan dalam pakan yang mempunyai kandungan nutrisi yang cukup dan disukai ternak. Bahan pakan konvensional  adalah jagung kuning, bungkil kedelai, pollard  (dedak gandum), tepung ikan, dedak padi, dan bahan lainnya.

8) Bahan Pakan S ubstitusi  adalah bahan pakan yang berasal dari bahan yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan, akan tetapi dari kandungan nutrisinya masih memadai untuk diolah menjadi pakan. Bahan pakan subtitusi adalah bungkil inti sawit, lumpur sawit, tetelan daging (sisa fleshing), kulit biji kakao, kulit biji kopi, dan lain-lain.

(9)

9) Restriksi  adalah nilai batas maksimum atau minimum dari pemakaian satu atau lebih bahan pakan di dalam menyusun suatu formula dalam pakan.

10) Formulasi adalah suatu tahap kegiatan dalam produksi pakan yang bisa dilakukan dengan berbagai cara atau metode seperti kandungan nutrisi, batas penggunaan, energi, serta harga bahan pakan. Untuk memudahkan formulasi ini sudah tersedia perangkat atau program komputer yang dapat membuat formulasi pakan secara cepat.

11) Pakan Bentuk Mash  adalah bentuk pakan merupakan tepung dan granula berbagai jenis bahan pakan yang komposisinya telah dihitung dan ditentukan sebelumnya.

12) Pakan Bentuk Pelet  adalah pakan yang berasal dari berbagai bahan pakan dengan perbandingan komposisi yang telah dihitung dan ditentukan dan diolah dengan mesin pelet.

13) Pakan Bentuk  Crumble adalah pakan yang dipecah dengan tujuan untuk memperkecil ukurannya agar bisa dimakan oleh ternak. Kelebihan pakan bentuk pelet dan crumble adalah distribusi bahan pakan lebih merata sehingga kehilangan nutrisi bisa dicegah serta tidak akan tercecer pada waktu dikonsumsi ternak.

4. Ruang Lingkup

Untuk membangun PP-SK perlu diperhatikan 4 aspek penting yaitu : (1) pengelolaan PP-SK, (2) pengelolaan bahan pakan, (3) proses pengolahan bahan baku di PP-SK , (4) pelatihan.

1) Pengelolaan PP-SK a. Penentuan lokasi

b. Persyaratan bangunan c. Tata letak bangunan d. Kebutuhan peralatan 2) Pengelolaan Bahan Baku

a. Survey ketersediaan bahan baku b. Penghitungan kebutuhan pakan c. Penciptaan formula pakan

3) Pengolahan Bahan Baku 4) Pelatihan

a. Pelatihan operasionalisasi alsin b. Pelatihan formula pakan

II. TAHAP PEMBANGUNAN PABRIK PAKAN SKALA KECIL 1. Penentuan Lokasi

(10)

Pabrik pakan skala kecil sebaiknya didirikan di daerah sentra-sentra usaha peternakan atau di daerah sentra bahan baku pakan. Hal tersebut dengan pertimbangan untuk memudahkan transportasi serta mengurangi biaya produksi.

2. Pendirian Bangunan Pabrik

Luas bangunan pabrik pakan skala kecil yang dibutuhkan berkisar 100 – 200 m². Persyaratan bangunan pabrik pakan skala kecil adalah :

1) Bangunan harus dapat melindungi bahan pakan, peralatan dan produk pakan yang dihasilkan.

2) Konstruksi bangunan permanen.

3). Mempunyai sirkulasi udara yang cukup.

4) Lokasi pabrik pakan disarankan tidak berada ditengah-tengah pemukiman penduduk.

5) Apabila pabrik pakan berada dekat dengan pemukiman sebaiknya dilengkapi dengan kipas pengisap (exhaust fan) dan cerobong.

6) Tersedia air yang cukup untuk pembersihan lantai dan pencucian alat.

7). Bangunan pabrik diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan penempatan peralatan, bahan pakan dan produk yang dihasilkan, serta memudahkan pekerja.

3. Tata Letak Pabrik Pakan

Untuk menjaga agar alur proses pengolahan pakan tertib/teratur dan menghasilkan produk sesuai standar, maka pabrik pakan harus diatur tata letak dari bangunan dan penempatan peralatan pengolah pakan seperti gambar dibawah ini.

Keterangan :

Ruangan tidak perlu disekat, kecuali untuk kantor

1. Ruang kantor

2. Tempat bahan baku (silo ) 3. Mesin pemecah (Hammermill) 4. Mesin penepung( Diskmill)

5. Ruang servis alat (bor duduk dan alat-alat bengkel)

6. Ayakan (shifter)

7. Mesin pencampur( Mixer)

8. Mesin pembangkit uap (Steam boiler)

dan Mesin pencetak pelet (Pelletizer)

9. Alat penganginan (cooler ) dan pemecah pelet(crumble) 10. Tempat pengemasan

(mesin pengemas dan mesin jahit) 11. Tempat produk

(11)

4. Proses Pengolahan Pakan

Proses pengolahan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap mutu pakan, disamping faktor lain, seperti bahan pakan, bahan tambahan, peralatan pengolahan, serta perhitungan formulasi.

Secara garis besar, proses pengolahan pakan jadi mengikuti suatu mekanisme seperti yang tersaji pada gambar-1.

Gambar-1 : Mekanisme proses pengolahan pakan jadi

Dalam proses pengolahan bahan pakan ada beberapa tahapan yaitu : 1) Penerimaan Bahan pakan

Dalam tahap penerimaan bahan pakan yang perlu diperhatikan adalah pengamatan fisik bahan dan konsistensi mutu bahan.

2) Sortasi

Sortasi bahan pakan bertujuan untuk memisahkan bahan mana yang layak diolah atau yang tidak layak di olah.

3) Pembersihan/ Penyaringan (Screening )

Pembersihan bahan pakan terdiri dari pembersihan secara fisik dengan cara pengayakan. PENERIMAAN BAHAN PAKAN S O R T A S I PEMBERSIHAN/ PENYARINGAN PENGECILAN UKURAN DAN PENGAYAKAN FORMULASI PENGADUKAN/ MIXING PEMBERIAN UAP PANAS PEMELETAN PEMBENTUKAN CRUMBLE PEMBENTUKAN DAN PENGAYAKAN PENGEMASAN PENYIMPANAN PRODUK MASH PRODUK PELET PRODUK CRUMBLE A PENIMBANGAN

(12)

4) Pengecilan Ukuran (grinding) dan pengayakan (Sieving )

Pengecilan ukuran bertujuan untuk menghancurkan, menggiling atau menghaluskan. Sedangkan pengayakan bertujuan untuk menghasilkan hasil gilingan seragam.

5) Penimbangan (Weighing )

Penimbangan bahan baku dilakukan setelah perhitungan formulasi. Untuk bahan pakan makro seperti tepung jagung, tepung bungkil kedele, bekatul padi digunakan timbangan kasar (skala ratusan kilogram). Sedangkan untuk bahan pakan mikro/ additives , seperti :

methionin , minyak ikan, vitamin, mineral mix, premix, antioksidan, anti  jamur digunakan timbangan analitis atau elektronik.

6) Pencampuran/ pengadukan (Mixing)

Proses pencampuran atau pengadukan bertujuan agar bahan tercampur secara merata(homogen) dan seluruh komponen bahan pakan yang di formulasi dapat tersebar secara seimbang

7). Pemberian Uap Panas (steaming )

Pemberian uap panas bertujuan untuk menimbulkan aroma pada pakan jadi dan juga bertujuan menstaerilkan bahan.

8) Pembentukan pelet (pelletizing )

Pelletizing bertujuan untuk membentuk suatu kesatuan pakan, atau pemadatan sehingga tidak mudah tercecer.

9) Pembentukan Crumble (crumbling )

Pembentukan crumble bertujuan untuk memotong atau memecah pelet hasil pengolahan pelletizer menjadi beberapa bagian.

10) Pendinginan atau Penganginan (Cooling )

Proses pendinginan atau penganginan (cooling ) bertujuan untuk menghilangkan uap air yang terdapat pada permukaan luar pelet hasil palletizing. Proses cooling ini hanya berlangsung selama 5- 15 menit. 11) Pengemasan ( Packaging )

Proses pengemasan bertujuan untuk memudahkan pengangkutan hasil produk, dan untuk menjaga agar pakan tidak cepat mengalami penurunan mutu.

12) Penjahit kemasan (sewing )

Penjahitan kemasan dilakukan agar produk pakan terlindung, juga mencegah kontaminasi atau tercampurnya bahan dengan benda asing.

13) Penyimpanan (Storage )

Penyimpanan pakan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang tidak terlalu gelap, hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya proses

(13)

5. Kebutuhan Peralatan

Observasi dan informasi kebutuhan peralatan perlu dikuasai dan diakses secara maksimal, agar peralatan yang dibeli dan digunakan merupakan alat yang telah terbukti kinerjanya. Disamping itu harus tersedia suku cadang dengan mudah.

Peralatan yang akan digunakan dalam pabrik pakan skala kecil perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Sudah memenuhi standar mutu (SNI), dan sudah diuji dibawah lembaga yang berwenang serta mengutamakan produk lokal.

2) Spesifikasi teknis peralatan sesuai dengan kebutuhan . III. ALAT DAN MESIN PENGOLAH PAKAN

Untuk alat dan mesin pengolah pakan yang digunakan untuk keperluan sendiri, minimal diperlukan : Hammermill, Mixer, Pengering dan Timbangan. Jenis alat dan mesin yang dipergunakan untuk pembuatan pakan ternak pada pabrik pakan skala kecil terdiri dari : Silo, Pengering, Saringan, Hammermill, Diskmill, Pemipil Jagung, Ayakan, Mixer, Steam Boiler, Pencetak Pelet, Pemecah Pelet, Pendingin, Timbangan, Mesin Jahit Kemasan dan alat pendukung lainnya.

1. Silo

Silo merupakan unit (sarana) penyimpanan bahan pakan, terutama yang berbentuk biji-bijian (cereal grains). Untuk pabrik pakan skala kecil, silo tidak terlalu diperlukan, sebagai pengganti dapat digunakan bangunan gudang penyimpan bahan pakan.

Penampungan bahan pakan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Terlindung dengan kemasan.

• Tidak ditempatkan pada tempat terbuka.

• Dilakukan pemisahan antara satu bahan dengan bahan lainnya. • Tidak ditempatkan pada tempat yang gelap.

(14)

2. Pengering (Bed dryer )

Berfungsi untuk mengeringkan bahan baku pakan dengan cara udara panas dari burner/heater   dihisap kipas dan disebar merata yang akan mengeringkan bahan baku pakan yang ada di bak pengering kapasitas muat sampai dengan 1 ton.

3. Saringan kasar (Screen ) 

Dipergunakan untuk membersihkan bahan pakan dari benda asing (besi, kerikil, pasir, kayu dan lain-lainnya). Penyaringan tahap awal ini dimaksudkan untuk menyaring bahan agar mempunyai ukuran yang relatif seragam sebelum dilakukan pengecilan ukuran.

4. Pemecah(Hammer mill)

Dipergunakan untuk memperkecil ukuran bahan pakan berupa biji-bijian kering atau bahan pakan lainnya.

(15)

5. Penggiling/Penepung(Disk mill) 

Alat ini berfungsi untuk mengecilkan ukuran bahan pakan menjadi bentuk seperti tepung agar pakan jadi yang terbentuk dapat dicerna dengan baik oleh ternak.

6. Pemipil Jagung (Corn Sheller )

Dipergunakan untuk memipil jagung kering dari bonggolnya

7. Ayakan( shifter  )

Alat ini berfungsi untuk menyaring bahan yang digiling dari alat disk mill  sehingga ukuran bahan menjadi seragam dan akan memudahkan pengolahan selanjutnya. Sebaiknya menggunakan ukuran mash yang kecil sehingga bagian yang masih kasar akan digiling kembali.

DISKMILL

(16)

8. Timbangan (Weighing )

• Timbangan kasar (makro) dipergunakan untuk menimbang bahan dengan skala kilogram.

• Timbangan halus (mikro/ additive ) dengan skala miligram atau gram.

9. Pengaduk/Pencampur( Mixer ) 

Untuk mencampur bahan pakan supaya homogen, terdiri dari 2 jenis

• Mixer type horizontal kapasitas 300-500kg, dengan daya motor 12 hp. • Mixer type vertikal kapasitas mencapai lebih 2 ton/jam, dengan daya

motor 3 hp dan ¾ hp.

10. Unit pembangkit uap ( steam boiler )

Tujuan pemberian steam adalah untuk memunculkan aroma dalam ransum sehingga dapat meningkatkan palatabilitas pada ternak.

(17)

11. Pencetak Pelet (Pelletizer).

Pakan bentuk pelet dibuat dengan menggunakan mesin pelet (pelletizer) 2 (dua) tipe mesin pelet yang umum digunakan :

- mesin pelet proses basah ( tipe horizontal dengan penekan screw) dan - mesin pelet proses kering (tipe vertikal dengan penekan geardrum )

12. Pemecah Pellet (Crumble)

Mesin pemecah pelet (crumble)  terutama digunakan untuk pakan ayam pedaging (periode grower   dan finisher ). Mesin ini berfungsi untuk memecah pelet menjadi dua atau tiga bagian. Tenaga motor yang digunakan 1 HP dengan kapasitas pengolahan 400-500 kg/jam (skala kecil ).

13. Pendingin (cooler )

Fungsi alat ini untuk mendinginkan/mengeringkan pelet hasil dari proses pemeletan, dengan meniupkan udara dari kipas yang digerakkan motor.

CRUMBLE

COOLER

(18)

14. Mesin Jahit Kemasan (sewing machine )

Dengan mesin pengemas dan mesin jahit, bahan pakan dalam kemasan akan tertutup dan terlindung dengan baik.

15. Peralatan pendukung lain terdiri atas : • Gerobak / Troley

Untuk memudahkan dan mempercepat membawa bahan pakan.

• Kaitan ( Gaco )

Penggunaan gaco terutama pada saat menaikkan atau menurunkan karung bahan pakan atau mengangkut pelet yang sudah dikemas dalam karung.

• Wadah atau bak penampung dan skop

Diperlukan untuk menampung bahan pakan yang akan ditimbang dan hasil pengolahan,terutama untuk pengolahan pakan kapasitas kecil. • Peralatan bengkel

(19)

Terdiri dari kunci, palu, obeng,tang, gergaji dll digunakan kalau ada masalah pada peralatan.

IV. PENGELOLAAN BAHAN PAKAN

Sebelum melakukan formulasi pakan dan mengolah bahan pakan menjadi pakan jadi, perlu dilakukan dulu survey ketersediaan bahan pakan, penghitungan kebutuhan pakan di PP-SK serta harus dipahami informasi yang berkaitan dengan tujuan penggunaan bahan pakan, syarat-syarat bahan pakan, uji mutu bahan pakan, fungsi bahan pakan, bahan pakan yang umum digunakan, dan bahan pakan substitusi.

1. Survey Ketersediaan Bahan Baku pakan

Penggunaan bahan pakan lokal merupakan tujuan pengembangan pabrik pakan skala kecil di pedesaan. Hal ini dilakukan agar diperoleh beberapa keuntungan sebagai berikut :

1) Dapat menyerap produk hasil pertanian lokal, terutama bahan pakan utama, yaitu jagung, dedak padi, dan tepung ikan. Selain itu juga, bahan pakan substitusi/alternatif seperti ampas tahu, ampas kecap, ampas kelapa, limbah kulit udang, daun talas, bungkil inti sawit, dan lainnya.

2) Mendorong perekonomian pedesaan, karena dengan digunakannya bahan pakan lokal akan meningkatkan permintaan bahan pakan yang dapat diproduksi secara kontinu karena ada kepastian pasar.

3) Mendorong pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan produktif karena adanya permintaan hasil pertanian dan kepastian pasar.

2. Penghitungan Kebutuhan Pakan

Jumlah kebutuhan pakan bisa disesuaikan dengan jumlah ayam yang dipelihara di dalam kandang. Sebagai patokan kebutuhan pakan optimal bisa dihitung dengan cara sebagai berikut :

1) Jumlah ayam = 3.000 ekor/kandang

2) Lama 1(satu) siklus pemeliharaan sampai panen = 40 hari 3) Jumlah produksi ayam = 1kg/2 kg pakan

4) FCR = 2 (Feed Conversion Ratio)

5) Jumlah pakan dibutuhkan/kandang/siklus (40hari) = 3.000 x 2 kg = 6 ton.

(20)

3. Tujuan Penggunaan Bahan Pakan

Tujuan penggunaan bahan pakan dimaksudkan agar hasil penyusunan formula pakan harus terkomposisi atau terbuat dari bahan yang mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap. Kandungan nutrisi itu meliputi protein, lemak, serat kasar, mineral, energi yang diperlukan dan lainnya sebelum produksi pakan dilakukan agar memperoleh hasil yang maksimal seperti :

1) Laju pertumbuhan karkas 2) Laju produksi telur,

3) Ketahanan terhadap penyakit

4) Ketahanan terhadap kondisi lingkungan 5) Palatabilitas dan

6) Tingkat kecernaan yang baik.

4. Syarat-syarat Bahan Pakan

Sebelum mengolah pakan dalam jumlah yang cukup besar, perlu diperhatikan informasi tentang keberadaan bahan pakan. Pakan yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan antara lain :

1) Mengandung nilai nutrisi tinggi 2) Mudah diperoleh,

3) Mudah diolah,

4) Tidak mengandung racun (antinutrisi), 5) Harga murah dan terjangkau,

6) Butirannya halus atau bisa dihaluskan. 5. Pengujian Mutu Bahan Pakan

Bahan pakan yang akan digunakan selayaknya diuji dulu. Pengujian bahan pakan ataupun pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologis.

1) Pengujian secara fisik .

Cara ini digunakan untuk mendapatkan informasi bahan secara keseluruhan, dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

• Makroskopis

Meliputi : warna masih tetap (tidak berubah) , pecah atau utuh (untuk biji-bijian) , bebas bau tengik, bebas benda asing, bebas jamur, bebas insekta, kadar air (basah/kering),

• Mikroskopis

Menggunakan mikroskop , untuk mengetahui kemurnian bahan pakan; memerlukan tenaga terlatih yang dapat mengidentifikasi dan

(21)

menghitung berapa bahan yang tercampur beserta kontaminasinya, misalnya benda asing, jamur, dll.

2) Pengujian Secara Kimiawi

Cara ini lebih akurat namun memerlukan waktu dan biaya yang cukup tinggi . Dari analisa kimia ini biasanya meliputi :

• Analisa Proksimat , yaitu menggolongkan komponen yang ada dalam bahan pakan , meliputi kadar : Air, abu (mineral Calsium dan phosphor), protein kasar, lemak kasar dan, serat kasar

• Analisa Serat, biasanya digunakan untuk mengetahui kandungan sellulose, hemisellulose dan lignin utuk pakan ruminansia (hijauan) • Bomb Calorimeter , untuk menghitung Energy Total (gross energi )

pakan dan bahan atau produk sampingan (faeces dan urine) ,  jaringan.

• Chromatography , untuk melihat kandungan mineral dengan dasar melihat perbedaan warna , sangat sensitif, mudah dan cepat.

• Calorimetry dan pectrometry  , analisas kimia dimana cahaya dilewatkan cairan sample dan akan menghasilkan informasi konsentrasi atau komponen/zat makanan, obat-obatan dan vitamin. • Analisis Asam Amino dan Protein, terutama untuk pakan

konsentrat ternak non ruminansia yaitu asam amino. Peralatan dan pengoperasian dengan peralatan yang canggih.

3) Biologi

• Pengujian secara biologi dilakukan dengan Metode Mikrobiologi dan menggunakan hewan ternak dengan persyaratan tertentu untuk mengaplikasikannya.

Alamat Balai Pengujian Mutu Pakan:

Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak (BPMPT) Bekasi: Jln. MT. Haryono No.98, Kec Setu, Kab. Bekasi 17320 Telp. (021)- 82602182, Fax . (021)- 82602182

V. NUTRISI DAN FORMULA PAKAN

Dalam pengolahan pakan perlu diketahui nilai nutrisi dari bahan inkonvensional yang umum digunakan dan substitusinya .

(22)

Berikut ini Nutrisi beberapa bahan pakan penting dari hasil uji di Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak (BPMPT) th 2007 :

Jenis Bahan K. Air (%) K. Abu (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) K. Ca (%) K. P (%) Jagung 11.73 1.21 7.83 3.68 3.28 0.06 0.59 Dedak Padi 10.56 7.37 11.86 15.24 8.63 0.10 1.64 Bk. Kedele 8.79 7.06 44.37 1.90 3.39 0.35 0.80 Tp. Ikan Lokal 10.73 29.76 40.83 11.32 13.77 8.69 4.79 Tp. Ikan Import 14.78 22.53 52.76 4.40 1.46 5.93 3.97 Tepung Tulang 0.60 97.79 0.00 0.56 2.51 31.12 0.08 Tp. Kerang 0.41 97.43 - - 0.20 - -Bungkil Kelapa 5.87 5.77 19.44 15.97 11.38 0.04 0.54 Bkl. Kacang 13.87 17.48 5.65 6.28 18.64 0.50 0.09 BK. Inti Sawit 7.55 3.88 14.69 10.34 26.51 0.20 0.45 Pollard 12.09 4.07 14.75 4.17 7.55 0.26 0.81 MBM 5.17 21.58 52.79 13.21 3.55 - -PMM 5.23 21.85 55.06 9.81 3.46 - -Corn Gluten Meal 6.76 2.86 12.66 5.49 1.23 0.33 0.37

(23)

Nutrisi beberapa bahan pakan Substitusi dari hasil uji di BPMPT tahun 2007 :

Jenis Bahan K. Air (%) K. Abu (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) K. Ca (%) K. P (%) Onggok 12.74 1.30 1.88 1.05 11.24 0.06 TTD Limbah Kacang 11.99 6.83 9.01 9.53 3.03 0.38 0.22 Kulit Kopi 11.34 8.00 13.01 1.71 31.56 0.69 0.12 Dedak Jagung 12-13 - 8.5 4.0 3.0 - -Kopra 5.36 6.86 20.16 10.64 2.29 0.30 0.56 Kulit Coklat 4.69 10.42 6.48 0.95 47.30 0.37 0.00 Ampas Kecap 7.77 8.31 34.82 0.66 6.85 0.49 0.12 Kulit Udang 14.37 44.34 25.46 1.57 17.85 11.88 1.17 Maggot Kering 8.31 13.10 34.29 25.24 18.02 4.11 0.56 Keong Mas 8.51 51.25 28.23 2.11 8.22 GE 3609.2 Keong Sawah 3.10 70.51 20.55 0.92 3.33 27.22 0.25

Formula pakan sangat mempengaruhi mutu / kualitas produk pakan yang dihasilkan, untuk itu penguasaan formula pakan sangat diperlukan .

Dalam menyusun formula pakan beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :

1. Jenis pakan yang akan dibuat dan nutrisi yang terkandung (sesuai SNI/PTM) seperti terlampir.

2. Metode formulasi yang akan digunakan.

(24)

(a). Metode Linier adalah metode paling sederhana dan praktis. Prinsip yang digunakan dengan mengetahui dan menghitung kandungan protein bahan pakan. Sehingga nutrisi bahan pakan merupakan modal pokok.

(b). Metode “Exel”  , yaitu menyusun dengan bantuan computer program “exel”  karena mempermudah perhitungan. Diperlukan ketrampilan untuk melakukan proses ini.

3. Ketersediaan bahan pakan.

Untuk mengetahui ketersediaan bahan pakan, kelompok peternak atau petugas dapat melakukan inventarisasi potensi bahan pakan yang berada disekitar lokasi pabrik.

4. Harga dan kualitas bahan pakan.

Fluktuasi harga bahan pakan perlu dipantau secara intensif guna menghitung biaya produksi pakan yang murah dan berkualitas. Selanjutnya untuk mengetahui kualitas bahan pakan yang baik perlu diperhatikan beberapa hal : (a). Warna tidak berubah; (b) tidak berbau tengik ; (c) tidak terlalu basah/lembab; (d). Tidak berjamur dan (e). tidak tercampur bahan lain.

Berikut ini disajikan beberapa contoh formula pakan praktis untuk beberapa  jenis ternak

1. Pakan untuk Petelur

1.1 Pakan untuk periode awal (starter)  sebaiknya menggunakan pakan  jadi produksi pabrik

1.2 Pakan untuk periode pertumbuhan (Grower ) sbb :

Formula A Formula B

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 50.0 % Jagung 50 .0 %

Dedak 27.5 % Dedak 22.0 %

Bkl. Kedele 3.0 % Bkl. Kedele 4.0 %

Bkl. Kac. Tanah 3.0 % Bkl. Kac. Tanah 3.0 %

Tepung Gaplek 8.0 % Tepung Onggok 10.0 %

Tepung Ikan 3.0 % Bkl. Kelapa 2.5 %

Tepung Udang 5.0 % Tepung Ikan 2.0 %

Premix 0.5 % Tepung Udang 6.0%

(25)

Formula C Formula D

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 50.0 % Jagung 55.0 %

Dedak/bekatul 22.0 % Dedak halus 0.7 %

Kacang Kedel 7.0 % Ampas kelapa 1.3 %

Tepung Onggok 5.0 % Tepung ikan 1.0 %

Bungkil Kelapa 2.5 % Bungkil kelapa 0.5 %

Tepung gaplek 5.0 % Tepung daun lamtoro 1.0 %

Tepung Ikan 2.0 % -

-Tepung Udang 6.0 % -

-Premix 0.5 % -

-Formula E Formula F

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung kuning 45.0 % Jagung kuning 35.0 %

Dedak 29.0 % Dedak 31.0 %

Bkl. Kedele 5.0 % Bungkil kedele 5.0 %

Kulit buah kopi 10.0 % Kulit buah kopi 15.0 %

Tepung ikan 5.0 % Tepung ikan 6.0 %

Minyak kelapa 2.0 % Minyak kelapa 3.0 %

Kapur 2.0 % Kapur 3.0 %

Premix 2.0 % Premix 2.0 %

Formula G Formula H

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung kuning 25.0 % Jagung kuning 50.0 %

Bungkil kedele 12.0 % Dedak 20.0 %

Daun talas 3.8 % Bungkil kedele 12.0 %

Daun talas 8.0 % Lumpur sawit 8.0 %

Tepung ikan 10 % Keong Mas 2.0 %

Minyak Kelapa 3 % Tepung ikan 1.5 %

Kapur 2 % Minyak kelapa 2.5 %

Premix 2 % Kapur 2.0 %

(26)

1.3 Pakan untuk periode  bertelur (layer) sbb :

Formula A Formula B

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 50% Jagung 5,5%

Dedak/bekatul 20% Kedele 0,7%

Bkl. Kacang Tanah 6% Tp. Tapioka 1,3%

Bkl. Kelapa 3% Tp. Kc. Tanah 1,0%

Kacang Hijau 3% Tp. Daun singkong 0,5%

Tepung Tulang 2% Tp. Bekicot 1,0%

Kapur 2% Tp. Cacing Tanah 5%

Mineral 6%

Kulit kerang 6%

Formula C Formula D

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung kuning 25% Jagung 42,5%

Beras 25% Beras 20%

Kacang hijau 25% Dedak 10%

Bagah 25% Tepung ikan 10%

Tambahan hijauan segar

Formula E Formula F

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung kuning 35% Jagung kuning 25%

Dedak 31% Bungkil kedele 1%

Bungkil Kedele 5% Daun talas 31%

Kulit buah kopi 15% Ampas kelapa 11%

Tepung ikan 6% Tepung ikan 10%

Minyak kelapa 3% Minyak kelapa 3%

Kapur 3% Kapur 2%

Premix 2% Premix 2%

Formula G

Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung kuning 50% Dedak 20% Bungkil kelapa 8% Lumpur sawit 8% Keong mas 2% Tepung ikan 5% Minyak kelapa 3% Kapur 2% Premix 2%

(27)

2. Pakan Ayam Pedaging

2.1 Pakan periode awal (starter )  sebaiknya menggunakan pakan jadi produksi pabrik.

2.2 Pakan periode  pertumbuhan (grower)  sbb :

Formula A Formula B

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 42.5% Jagung 27,5%

Beras 20% Beras 50%

Dedak 10% Dedak 12%

Tepung ikan 10% Tepung ikan 10%

Bungkil kedele 15% Garam 0.5%

Kulit kerang 2%

Garam 0.5%

Formula C Formula D

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 50% Jagung 50%

Sorgum 10% Sorgum 10%

Bekatul 7% Bekatul 20%

Tepung gaplek 5% Tepung gaplek 2%

Tepung Rese 8% Tepung daun pepaya 3%

Tepung ikan 3% Tepung bekicot 7%

Tepung bulu 6.5% Tepung bulu 7%

Kacang hijau 9% Minyak kelapa 1%

Tp. Daun Singkong 1.5%

Formula E

Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 5.5%

Dedak halus 0.7%

Tepung ikan 1.0%

Tepung daun lamtoro 1.0%

Bungkil kelapa 0.8%

Minyak kelapa 0.3%

(28)

3. Pakan Itik

Pakan itik, dibagi menjadi 3 phase pemeliharaan : 3.1 Pakan Starter  (umur 1 hari – 2 minggu) 3.2 Pakan Grower  (umur 2 minggu – 4 bulan) 3.3 Pakan Layer (umur 4 bulan – 2 tahun)

3.1. Pakan periode awal (Starter).

Pakan untuk anak itik (Meri) sebaiknya menggunakan pakan starter 

 jadi produksi pabrik.

3.2. Pakan periode pertumbuhan (Grower).

Formula A Formula B

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Dedak 35% Dedak 45%

Nasi kering 34.5% Cangkang udang 25%

Kepala udang 10% Ikan segar 20%

Ikan rucah 20% Konsentrat 9.5%

Premix 0.5% Premix 0%

Formula C

Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung giling 25% Bekatul 35% Kedele 10% Ikan 9% Daun singkaong 5% Bekicot cincang 15% Garam 1%

3.3 Periode itik bertelur (layer) 

Formula A Formula B

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Dedak 55% Dedak 30,5%

Menir 13% Ikan rucah 21%

Cangkang udang 20% Cangkang udang 12%

Ikan segar 9% Nasi kering 33%

Kapur 2% Tepung Kapur 3%

(29)

Formula C Formula D

Jenis Bahan Pakan Persentase Jenis Bahan Pakan Persentase

Dedak 25.5% Jagung 10%

Ikan rucah 12% Bekatul 15%

Konsentrat 3% Bungkil kelapa 5% Ampas tempe 58% Beras merah 30%

Premix 0.5% Kedele giling 12%

Tepung kapur 1% Tp. Tulang 4.5%

Tp. ikan 3%

Garam 0.5%

Formula E

Jenis Bahan Pakan Persentase

Jagung 25%

Dedak kasar 25% Kc. Kedele giling 15% Bekicot cincang 15% Tepung ikan 10% Tepung daun singkong 5%

Garam 5%

VI. PELATIHAN

Pelatihan /magang yang diperlukan dalam pengembangan pakan khususnya dalam pembangunan pabrik pakan skala kecil dan pengolahan pakan adalah : 1. Pelatihan Operasionalisasi Alsin

1.1 Aspek operasional alat 1.2 Aspek komponen alat 1.3 Aspek perawatan

1.4 Aspek pengolahan pakan 2. Pelatihan Formulasi Pakan 3. Pelatihan Pengujian Pakan

VIII. ANALISIS EKONOMI

Pengelolaan pabrik pakan skala kecil harus memperhatikan nilai efisiensi dan ekonomis dalam pemanfaatannya. Secara ekonomis dalam pemanfaatannya akan menguntungkan kalau biaya operasionalnya tidak melebihi dari penerimaan bersih atau hasil yang sesungguhnya.

(30)

Alat dan Mesin atau Alsin yang digunakan harus sudah teruji kinerja dan kemampuannya sesuai spesifikasi teknisnya dalam pengolahan pakan atau sudah mempunyai standar tertentu. Alsin tersebut harus telah dapat dioperasionalkan sehingga dapat memberikan hasil yang baik selama masa pakai atau umur ekonomisnya.

Setiap peralatan yang digunakan harus mempunyai analisa pemanfaatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga dapat memberikan keuntungan yang wajar bagi pengelolanya. Demikian pula bahan pakan yang digunakan harus dari bahan yang bermutu baik dan mempunyai nilai gizi yang sesuai dengan kebutuhan untuk tiap jenis ternak dalam tingkat pertumbuhan tertentu. Biaya pokok per kg pakan yang dihasilkan masih dapat memberikan keuntungan setelah dipasarkan atau untuk digunakan sendiri oleh kelompok. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian pabrik pakan yaitu :

1. Umur ekonomis.

Secara ekonomis pemanfaatan pabrik pakan akan menguntungkan kalau diusahakan dilokasi dimana banyak terdapat sarana pendukung seperti bengkel, kios suku cadang, tersedia bahan pakan yang cukup yang murah dari bahan pakan yang tersedia disekitar lokasi tempat pengolahan pakan tersebut. Pemanfaatan pabrik pakan ini harus sudah mempunyai analisa yang menyeluruh sehingga pabrik pakan yang didilrikan tersebut akan dapat berjalan dan memberikan keuntungan secara terus menerus pada kelompok dan peternak sekitarnya.

Umur ekonomis suatu Alsin adalah sejak dari pembelian dalam keadaan baru 100% hingga umur pada saat Alsin tersebut tidak ekonomis lagi dan sebaiknya diganti dengan yang baru daripada jika terus digunakan. Dengan kata lain biaya perawatannya sudah semakin besar. Nilai akhir suatu Alsin adalah harga nya pada akhir umur ekonomisnya. Penghitungan nilai akhir suatu peralatan diasumsikan 10% dari harga pembelian setelah melalui penghitungan penyusutan setiap tahun atau diperkirakan 5 tahun. 2. Umur Teknis

Selanjutnya harus diperhatikan umur secara teknis yaitu kemampuan Alsin memberikan hasil kinerja yang baik dalam pengoperasiannya, komponen peralatan, masa pakai efektif, tingkat kerusakan. Umur teknis adalah batas dimana alsin tersebut masih bisa beroperasi secara normal sampai sama sekali tidak bisa digunakan. Umur ekonomis dan Teknis harus dapat berjalan seiring dan saling bersinergi untuk memberikan hasil yang baik.

(31)

3. Perhitungan Biaya 3.1 Biaya Tetap

Komponen biaya tetap bersifat berdiri sendiri (independen) terhadap penggunaan alsin. Dengan kata lain biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan jam kerja, pengoperasian dll. Biaya tersebut adalah sebagai berikut;

1). Biaya penyusutan

Penurunan dari nilai biaya modal suatu alat akibat dari pertambahan umur alsin dalam penggunaan. Rumus yang digunakan adalah :

AD = (IC - SR)/N Dimana :

AD = biaya penyusutan tiap tahun, Rp/th IC = harga beli mesin (Investment Cost)

SR = Nilai Akhir, Rp (asumsi 10% dari harga beli) N = Perkiraan umur ekonomis, th

2) Biaya Bunga Modal

Biaya bunga modal adalah biaya kesempatan (opportunity cost) dari bunga yang diinvestasikan dalam suatu usaha yang menyebabkan uang tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk tujuan lain. Dengan kata lain biaya bunga modal diperhitungkan untuk mengembalikan nilai modal yang ditanam, sehingga pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai “present value” (nilai sekarang) sama dengan nilai modal yang ditanam.

Perhitungan bunga modal yang digunakan adalah bunga terhadap modal rata-rata yaitu :

AI = IC + SR X IR 2

Dimana :

AI = Bunga Modal, Rp IC = Harga Awal, Rp

SR = Nilai Akhir, Rp (10% x harga beli) IR = Tingkat suku bunga saat ini

3) Asuransi dan Pajak

Hal ini di Indonesia belum popular, sehingga belum dimasukkan dalam perhitungan biaya.

3.2. Biaya Tidak Tetap

(32)

1). Biaya perawatan dan perbaikan

Besarnya biaya perawatan dan perbaikan diasumsikan sebesar 2 % dari harga awal.

2) Biaya Operator

Biaya operator tergantung pada keadaan setempat, dimana mereka menerapkan upah operator yang berbeda. Biaya operator per jam dapat dicari dari :

Biaya Operator/jam = Gaji Upah Operator (Rp)/hari Kapasitas Kerja Alsin (jam/hari) 3) Biaya bahan bakar

Adalah pengeluaran solar atau bensin pada kondisi kerja per jam. a. Untuk mesin diesel (bahan bakar solar)

FNCM = 0,18 x HP

b. Untuk mesin bensin (bahan bakar premium) FCNM = 0,38 x HP

Dimana :

FCNM = Kebutuhan bahan bakar,Liter/jam HP = Besar tenaga engine (penggerak)

Biaya bahan bakar = FNCM x harga bahan bakar/lt 4) Biaya olie mesin

Besarnya kebutuhan olie dapat dicari dengan rumus : OILCN = 0,001 x HP

dimana :

OILOCN = Kebutuhan oli, Lt/jam

HP = Besar tenaga engine (penggerak) 4. Kriteria Investasi

Ada dua kelompok Kriteria Investasi yaitu perhitungan dengan ”Undiscounted” dan ”Discounted”

4.1. Undiscounted

Adalah perhitungan yang tidak memperhatikan waktu dari arus biaya dan pemasukan. Perhitungan ini juga tidak memasukkan perubahan nilai terhadap waktu. Terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu :

(33)

Titik Impas adalah dimana pemasukan dan pengeluaran pada titik tersebut adalah sama

BEP = FC/{ 1 – (VC/R) dimana :

BEP = pemasukan, Rp/ton FC = biaya tetap, Rp/Th VC = biaya tidak tetap, Rp/th R = Penerimaan kotor,th

Pemanfaatan Alsin disesuaikan dengan jenis alsin serta produk yang dihasilkan misalnya mesin tetas (doc/periode), pakan (ton/th).

2) Pay Back Periode (PBP), Periode Pengembalian.

Adalah waktu sejak awal pembelian/investasi sampai waktu dimana keuntungan bersih sama dengan biaya untuk investasi awal atau waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi yang telah ditanam.

Rumus yang digunakan adalah: PBP = IC / AABF AABF = B (X ) – { (FC – AD) + VC (X)} dimana : PBP = periode pengembalian,th IC = harga pembelian, Rp B = pemasukkan, Rp/th FC = biaya tetap/th AD = biaya penyusutan/th VC = biaya tidak tetap/th

X = tingkat penggunaan,ton/th 4.2. Discounted

Perhitungan discounted adalah kriteria perhitungan yang mempertimbangkan adanya perubahan nilai uang terhadap waktu. Ada 3 (tiga) perhitungan discounted :

1) Net Present Value (NPV)

Adalah selisih antara nilai present value ( nilai saat ini) dari pemasukan dengan present value dari pengeluaran selama umur ekonomisnya. NPV harus lebih besar atau sama dengan nol agar tidak rugi.

(34)

2) Internal Rate of Return (IRR)

IRR adalah nilai bunga NPV bernilai nol (total pemasukkan = pengeluaran).

Nilai IRR ini adalah nilai maksimum dari bunga Bank dimana investor tidak menderita kerugian. Nilai IRR didapat dengan cara interpolasi dari 2(dua) nilai bunga bank :

IRR = IR(2) – IR(1) x NPV(1)

NPV(2) -NPV(1) dimana :

IR (1) = tingkat bunga terendah (bunga bank saat ini)

IR (2) = tingkat bunga bank tertinggi

NPV (1) = net present value dengan tingkat bunga terendah NPV (2) = net present value dengan tingkat bunga tertinggi

3) Benefit Cost Ratio (BCR)

BCR adalah perbandingan antara nilai present value dari pemasukan dengan present value dari pengeluaran

dimana :

BCR = Present value (NPV) pemasukan Present value (NPV) pengeluaran

IX. PENUTUP

Pabrik pakan skala kecil ini akan dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok peternak sesuai dengan pakan yang diperlukan.Bahan pakan dapat disediakan secara lokal baik dari bahan pakan konvensional yang sudah dikenal selama ini maupun bahan pakan inkonvensional yang berasal dari sisa agroindustri seperti bungkil inti sawit, lumpur sawit, tepung singkong, onggok-onggok, keong mas, kulit buah kopi dll.

Untuk mempercepat pembangunan pabrik pakan skala kecil tersebut sangat dibutuhkan dukungan dari Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat berupa bimbingan teknis, pendanaan dan sosialisasi sehingga pengembangan pabrik pakan berdampak baik terhadap ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan pakan ternak serta sekaligus dapat meningkatkan pendapatan para peternak.

(35)

X. DAFTAR PUSTAKA

1. Rizal Alamsyah, Ir, MSc. : Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan Secara Modern, Jakarta: Penebar Swadaya, 2005.

2. Soejono, Mohamad, MSC, MS : Analisis dan Evaluasi Pakan - UGM. 1991 Staf Bagian Kimia Makanan dan Pengolahan Bahan Makanan Ternak, “Kimia Makanan Ternak” Fakultas Peternakan IPB.

3. Tanenjaya R. : Pakan, Makalah disampaikan pada pendidikan dan pelatihan Production Enginering bagi Supervisor Industri Pakan ternak, 1997.

4. Wahyu S. : Ilmu Nutrisi Unggas, Universitas Gajah Mada, 1985.

(36)

XI. DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran -1. HASIL PENGUJIAN BAHAN PAKAN JAGUNG

NO PROPINSI KADAR KADAR PROTEIN LEM AK SERAT Ca P AIR ABU KASAR KASAR KASAR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Jawa Tengah 1 (Jagung Banyumas) 15.90 1.23 9.04 1.78 2.05 0.15 0.24 2 Jawa Tengah 2 (Jagung Putih) 15.73 1.32 8.29 3.10 2.58 0.04 0.27 3 Jawa Tengah 3 (Jagung PBG) 13.26 1.27 8.55 3.73 1.52 0.02 0.25 4 Jawa Tengah 4 (Jagung Madura) 14.20 1.35 10.45 4.41 2.87 0.20 0.28 5 Jawa Tengah 5 (Jagung Giling) 13.86 1.15 7.98 5.49 1.90 0.12 0.15 6 Jawa Tengah 6 (Jagung Giling) 16.58 1.03 8.08 2.16 1.75 0.08 0.14 7 Jawa Tengah 7 (Jagung Putih) 13.69 1.21 9.34 3.55 2.51 0.06 0.14 8 Jambi 1 15.92 1.37 7.98 2.31 3.52 0.17 0.22 9 Jambi 2 (Jagung Halus) 14.7 1.02 8.5 2.5 2.64 0.2 0.15 10 Jambi 3 (Jagung Giling) 17.08 1.01 8.06 1.41 1.55 0.09 0.15 11 Jambi 4 (Jagung Giling) 15.97 0.95 6.19 3.59 3.15 0.15 0.55 12 Jambi 5 13.6 1.5 7.44 2.39 4.67 0.02 0.25 13 Jambi 6 13.61 1.13 7.8 1.43 3.07 0.02 0.18 14 Batam 12.89 0.8 6.67 1.58 1.72 0.13 0.12 15 Sulawesi Selatan 12.84 1.45 8.38 4.33 3.63 0.21 0.25

(37)

Lampiran -2 HASIL PENGUJIAN BAHAN PAKAN DEDAK

NO PROPINSI KADAR KADAR PROTEIN LEMAK SERAT Ca P

AIR ABU KASAR KASAR KASAR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Jawa Tengah 1 11.27 7.65 10.36 7.13 12.99 0.17 0.78 2 Jawa Tengah 2 9.48 8.46 10.96 6.30 15.60 0.14 0.59 3 Jambi 1 9.4 10.18 12.96 15.2 8.92 0.15 2.08 4 Jambi 2 10.09 11.84 8.6 7.41 23.11 0.02 0.14 5 Jambi 3 9.56 17.22 7.05 6.92 23.92 0.03 0.56 6 Jambi 4 10.89 9.91 10.57 7.7 14.64 0.04 1.26 7 Batam 1 9.08 17.38 5.24 3.6 30.93 0.07 0.3 8 Batam 2 12.85 7.5 11.26 9.5 8.54 0.11 0.96

(38)

Lampiran – 3 : Analisis Ekonomi Pengelolaan Pabrik Pakan Skala kecil ( kapasitas 2 ton / hari  )

(000 Rp )

No Uraian Satuan Harga Jumlah

I II III Modal Tetap - Tanah - Bangunan - Alat/mesin Sub total I Biaya Tetap /th - Perawatan( 4% dari Biaya bangunan) - Penyusutan( 10%

dari biaya peralatan) - Pengawasan mutu - Promosi/ pemasaran - Biaya modal ( 20 % ) - Asuransi ( 5% dr biaya Bangunan ) - Biaya lain-lain Sub total II

Biaya Tidak Tetap/th - Biaya Pakan (Broiler) - Upah tenaga kerja - Kemasan

- Listrik dan telepon - Air

- Angkutan - Bahan bakar - Pelumas - Lain-lain Sub Total III

Biaya Produksi/tahun 150 m² 100 m² 1 unit 200 500 75.000 30.000 50.000 75.000 155.000 600 6.750 5.000 5.000 9.000 2.500 5.000 33.850 1.169.689 48.000 30.000 30.000 15.000 30.000 6.750 300 2.000 1.331.739 1.365.589

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

hambatan-hambatan guna mencapai efektivitas penggunaan informasi dalam proses perencanaan di Sub Bagian Bina Program Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, khususnya yang menyangkut:

Para pekerja yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan memilki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan para pekerja yang memiliki tingkat kepuasan kerja

Pengaruh langsung good corporate governance komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komite audit , karakteristik perusahaan ukuran perusahaan dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri Staphylococcus aereus pada seluruh sampel penelitian mengalami penurunan setelah diberi perlakuan dengan campuran

Koefisien regresi variabel Pupuk Subsidi (X₁) bertanda positif (+) berarti antara variabel Pupuk Subsidi (X₁) dengan variabel Tingkat Pendapatan (Y) memiliki

Hasil penelitian pengetahuan siswi kelas V SD Muhammadiyah Wirobrajan 3 Yogyakarta tentang menstruasi didapatkan dalam kategori cukup sebanyak 33 responden

Kedelapan artikel tersebut mengulas tentang: Penentuan status stok sumberdaya rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) dengan metode spawning potential ratio di perairan