• Tidak ada hasil yang ditemukan

ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh. 3 : 30) EDISI Agustus 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh. 3 : 30) EDISI Agustus 2012"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

“ ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3 : 30) EDISI Agustus 2012 Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Selamat bertemu kembali dalam Warta KKI Edisi Agustus 2012 ini. Bulan Agustus adalah bulan yang istimewa bagi Indonesia karena pada tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia merayakan peringatan hari kemerdekaannya dan pada tahun ini kita merayakan 67 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Kita ikut bergembira atas peringatan kemerdekaan ini dan berdoa agar Negara Indonesia berkembang maju dan rakyat kecil dapat menikmati keamanan dan kesejahteraan hidup.

Bagi kita warga KKI Melbourne, bulan Agustus ini adalah bulan yang sibuk. Selain kegiatan rutin seperti misa mingguan dan acara wilayah, kita juga mengikuti rangkaian acara Kitab Suci bersama Romo Hendrikus Pidyarto Gunawan O Carm, yang lebih dikenal dengan nama Romo Pid. Beliau adalah dosen Kitab Suci Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Malang dan cukup lama menjadi pengisi kolom “Umat Bertanya Romo Pid Menjawab” di Majalah Hidup. Selama di Melbourne Romo Pid memimpin serangkaian kegiatan pendalaman dan penghayatan Kitab Suci dari tanggal 10 sampai dengan tanggal 14 Agustus.

Rangkaian acara ini adalah sebenarnya bagian dari aneka acara menyambut peringatan dan perayaan Hari Ulang Tahun KKI Melbourne yang ke-25, yang mencapai puncaknya pada tanggal 23 September dalam Perayaan Ekaristi di St. Patrick’s Cathedral yang dipimpin oleh Archbishop of Melbourne Denis J. Hart DD. Selain itu, pada tanggal 1 September ada Konser Musik di gereja Our Lady of Mount Carmel, Middle Park dan tanggal 15 September Malam Resepsi HUT KKI di hall gereja St. Francis, Mill Park. Semua warga KKI diharapkan berpartisipasi dan hadir dalam kegiatan-kegiatan ini, khususnya pada Malam Resepsi dan Perayaan Ekaristi HUT KKI.

Dalam Warta KKI edisi ini Anda dapat mengikuti tulisan mengenai almarhum Uskup Agung Albertus Soegijapranata SJ, yang terkenal dengan ucapannya “seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia”. Ketika memperingati Hari Kemerdekaan RI ada baiknya kita mengenang kembali tokoh Gereja, Uskup Indonesia pertama yang juga adalah seorang pahlawan nasional. Peranan Soegijapranata dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah salah satu bukti kontribusi umat Katolik bagi nusa dan bangsa. Dan selain Soegijapranata, kita juga mengenal pahlawan nasional lain yang berlatar belakang Katolik, yaitu Agustinus Adisucipto, Ignatius Slamet Riyadi, Yos Sudarso dan Cornel Simanjuntak. Selain tulisan itu, Anda juga dapat mengikuti tulisan chaplain kita, Romo Waris.

Selamat membaca, sampai jumpa dalam kegiatan-kegiatan KKI.

MISA KKI Minggu, 2 Sept 2012 St Martin de Porres 25 Bellin Street Laverton VIC Pukul: 11.30 Minggu, 9 Sept 2012 St. Joseph Church 95 Stokes Street Port Melbourne VIC

Pukul: 11.30 Minggu, 16 Sept 2012 St Francis’ Church 326 Lonsdale St Melbourne VIC Pukul: 14:45 Sabtu, 23 Sept 2012 St. Paschal 98-100 Albion Rd

Box Hill VIC Pukul: 11.30 MISA MUDIKA Sabtu pertama Monastry Hall St. Francis Church 326 Lonsdale Street Melbourne VIC Pukul: 12.00 PDKKI Setiap Sabtu St. Augustine’s City Church

631 Bourke Street Melbourne VIC

(2)

SUSUNAN PENGURUS KKI 2009-2012

Website: www.kki-mel.org

Moderator/Pembimbing Rohani: Romo Paulus Waris Santoso O.Carm Ketua: Heru Prasetyo

Wakil ketua I: Andi K Mihardja Wakil ketua II: Prabudi Darmawan

Bendahara: Matheus Huang, Hari Setiawan Sekretaris: Ray Christian, Eko Aryanto

Sekolah Minggu: Suria Winarni, Aureine Wibrata, Samy Sugiana, Sintia Hermawan

Kegiatan Reguler Port Melbourne: Linda Munanto, Bradley & Christine

Kegiatan Reguler Boxhill: Julius Indria Wijaya, Cae-sar Sutiono, Chandra & Lina Terliatan

Website KKI: Hanny Santoso, Erick Kuncoro Sie Liturgie: Robin Surjadi, Lucie Hadi, Anna Mu-nanto, Rudy Pangestu

Warta KKI: Edy Lianto, Sucipto, Benjamin Sugija, Rufin Kedang

Sie Konsumsi: Inge Setiawan, Angela Roy Mudika: Utusan Mudika

PDKKI: Utusan PDKKI KTM: Utusan KTM

Kegiatan Reguler Point Cook: Ray Christian, Su-handi

Kegiatan Reguler St Francis: Robin Surjadi, FX Heru Sugiharjo

Kegiatan Non Reguler: Thomas Yani, Bernadette Sidharta, Lylia Dewi, Siska Setjadiningrat

The Power of Faith

Jangan takut. Percayalah saja!

Oleh : Romo Waris, O.Carm

(bagian kedua dari 3 tulisan)

Sahabat, pada bagian pertama tulisan ini telah kita lihat iman yang menyembuhkan. Iman yang kita lihat dalam diri perempuan yang telah 12 tahun lamanya menderita pendarahan. Sekarang kita hendak melangkah maju, seiring perjala-nan Yesus yang juga melangkah maju. Setelah selesai berdialog dengan perempuan yang baru saja mengalami kesem-buhan, Yesus kembali kepada Yairus dan rombongannya. Ia mengajak mereka untuk segera bergegas ke rumah. Percayalah Saja!

Baru saja Yesus dan rombongan hendak melanjutkan langkah, serombongan orang datang tergopoh-gopoh. Mereka adalah orang-orang dari keluarga dekat Yairus. Mereka tidak ikut menemui Yesus pada awal karena harus tinggal di rumah, melihat apa yang akan terjadi. Dan memang terjadi. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Mereka harus segera memberitahu Yairus agar tidak membuang waktunya Yesus.

“Anakmu sudah mati.” Katanya lugas. “Untuk apa engkau menyusahkan Yesus lagi.” Lanjutnya pasrah, namun lebih tepat putus asa. Mereka putus asa karena pada awalnya masih melihat ada harapan pada diri Yesus. Mereka tahu bahwa ka-lau Yesus datang sebelum anak itu mati, Yesus bisa menyembuhkan dia. Tetapi kini semuanya sudah terlambat. Anak itu sudah mati. Tidak ada lagi harapan.

Yairus juga dihinggapi rasa gelisah dan putus asa yang sama. Ia mulai melihat hal-hal yang lain. Pikirannya dijangkiti rasa kecewa dan sedikit amarah, Seandainya Yesus tidak disela oleh perempuan yang sakit tadi. Seandainya Yesus tidak mencari orang yang memegang jubbah-Nya, yang membuat kekuatan-Nya keluar, seandainya… dan pengandaian yang lain. Yairus kecewa, lebih tepatnya marah dan putus asa. Ada kemarahan karena usahanya sia-sia. Tapi perasaan yang dominan adalah putus asa, bahkan ada ketakutan juga di sana.

Yesus bukannya tidak menyadari keadaan yang terjadi. Yesus menyadari benar adanya perubahan emosi yang mengalir dalam diri Yairus sejak kedatangan anggota keluarganya. Yesus melihat itu. Yesus melihat kegundahan yang

(3)

menge-“Jangan takut. Percayalah saja!” Sebuah penegasan yang tanpa basa-basi. Ia tidak mau meladeni segala informasi yang makin menciutkan hati. Ia hanya mau Yairus tetap teguh kepada imannya. Bukankah tadi ia datang dengan iman yang gagah. Yang percaya penuh kepada Yesus? Mengapa sekarang goyah?

Tanpa membuang jeda, Yesus lebih dulu mengayunkan langkah. Ia berjalan gegas melarutkan segala rasa gundah. Yairus masih ragu dan cemas. Anggota keluarganya bahkan sudah kehilangan percaya. Mereka hanya melangkah saja menunggu hal yang lebih buruk datang. Mereka tidak melihat adanya kuasa. Mereka tidak melihat bahwa yang mustahil di mata manusia adalah mungkin bagi Allah. Mereka tidak tidak melihat itu, tetapi Yesus tidak peduli. Ia melangkah saja. Tertawa…

Perjalanan itu mestinya tidak jauh, tetapi terasa begitu lama karena adanya aneka rasa yang berkecamuk. Apalagi rom-bongan itu terbagi-bagi dalam jumlah dan perasaan. Di depan ada Yesus dengan para murid serta Yairus. Di belakang-nya ada anggota keluarga Yairus yang berjalan seolah diseret. Mereka berjalan sembari membicarakan Yesus. Bukan sekadar membicarakan, mereka bahkan menertawakan. Memang belum terang-terangan. Mereka hanya menunggu saat yang tepat.

Akhirnya mereka sampai di rumah si kepala rumah ibadat. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Penangis sewaan juga sudah menjalankan tugasnya. Oh iya, di Israel pada waktu itu adalah jamak orang menyewa tukang tangis. Mungkin terasa janggal. Tetapi bisa dijelaskan. Begini kira-kira dasar pemikirannya. Kematian itu ada waktunya, kalau memang sudah waktunya, maka kematian itu tidak perlu ditangisi bahkan harus dirayakan. Tetapi apabila kematian itu datang sebelum waktunya, maka tangisan harus menjadi iringan utama, bahkan jika dibutuhkan penangis sewaan juga bisa didatangkan. Kapan kematian itu pantas datang? Apabila tugas seseorang di dunia sudah usai. Misalnya, orang yang sudah tua dan anak-anaknya sudah menikah semua. Sudah tidak ada tanggungan lagi. Sebaliknya, anak kecil yang meninggal haruslah ditangisi sedemikian rupa sebagai wujud kesedihan yang mendalam.

Anak kepala rumah ibadat itu baru 12 tahun. Maka tangisan yang mengharu biru, bahkan tak jarang yang melolong-lolong menghiasi seluruh udara rumah. Pada saat seperti itulah Yesus dan rombongan datang. Tentu suasana sangat tidak nyaman. Yesus ingin menenangkan. Lebih dari itu Yesus ingin menunjukkan kebenaran. Ia hanya mengajak Petrus, Yohanes, Yakobus dan kedua orangtua anak yang katanya sudah meninggal tersebut masuk. Sedangkan yang lain tidak Ia ijinkan masuk. Di dalam rumah semakin banyak yang menangis bahkan dengan suaranya yang nyaring. Maka Yesus menegur mereka. “Mengapa kamu ribut dan menangis?Anak ini tidak mati, tetapi tidur!”

Kontan saja orang-orang itu menertawakan Yesus. Jelas anak tersebut sudah meninggal dan dikatakan hanya tertidur. Mereka yang ada di luar, yang mendengar Yesus mengatakan demikian juga tertawa. Mereka meledek para murid yang ada di luar. Bagaimana gurunya bisa mengatakan anak itu tidak mati padahal faktanya mati.

Pesarean…

Toh Yesus tidak menghiraukan mereka semua. Yesus kemudian meminta orang-orang itu keluar, dan hanya orang tua si anak yang Ia ajak masuk ke dalam kamar. Dan memang benar, anak itu terbujur kaku. Tidak ada nafas tanda kehidupan. Tidak ada helaan lembut dari hidung tanda ia tertidur. Dia memang sudah meninggal.

Toh Yesus tidak menghiraukan itu. Ia pegang tangan anak itu dengan lembut. Dengan lembut pula Ia berkata, “Talita Kum!” Kalau diterjemahkan berarti, “Hai anak, bangunlah!” Yesus membangunkan anak tersebut, karena anak tersebut memang tertidur. Dan memang Yesus tidak berbohong. Anak itu tertidur.

Mungkin Anda sekalian kurang sependapat. Mari kita lihat secara lebih jeli. Dalam banyak kebudayaan, orang tidak menggunakan kata mati, atau meninggal. Orang menggunakan kata tertidur. Bahkan orang jawa mengatakan kuburan itu sebagai pesarean. Berasal dari kata sare yang artinya tidur. Jadi pekuburan itu adalah tempat orang tertidur. Maka memang diperbolehkan menyebut orang yang meninggal itu sedang tidur. Lebih tepatnya tidur panjang.

(4)

Mengalahkan kematian…

Sahabat, saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan lebih jauh makna kematian dan artinya Yesus mengalahkan ke-matian. Bagi kita orang beriman apakah kematian itu? Apakah berhentinya seluruh fungsi biologis kita? Atau bagaimana? Jika kita mengikuti upacara-upacara kematian, selalu dikatakan bahwa mereka itu tidak meninggal, tetapi beralih dari dunia ini ke dunia yang lain. Jika demikian, apakah kematian itu?

Kematian adalah hilangnya relasi manusia dengan Allah. Dalam kisah kejadian dikatakan bahwa ketika selesai mem-bentuk manusia dari tanah, Allah menghembusinya sehingga hidup. Secara sederhana bisa kita pahami bahwa manusia itu hidup karena mendapatkan nafasnya dari Allah. Manusia hanya hidup kalau memiliki hubungan dengan Allah. Maka manusia itu mati kalau tidak memiliki hubungan dengan Allah. Di sini kematian memiliki arti yang lebih dalam dari sekadar berfungsi atau tidaknya organ-organ biologis manusia.

Lalu, apa artinya Yesus mengalahkan kematian? Kita harus melihatnya dari awal keterpisahan manusia dengan Allah. Dahulu kala, ketika manusia tidak melawan Allah, mereka hidup damai di taman Eden. Tetapi begitu mereka berbuat dosa dengan melawan perintah Allah, mereka mulai terpisah. Mereka mulai berkenalan dengan kematian. Karena buah dosa adalah maut. Nahhh, Yesus mengalahkan kematian yang berarti Dia mengembalikan hubungan manusia dengan Allah. Relasi yang terputus karena dosa Ia satukan lagi dalam kurban di salib.

Apakah jika demikian semua menjadi bebas? Ternyata tidak. Manusia masih memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak penyelamatan itu. Kalau mereka memilih untuk bersekutu dengan dosa, maka mereka akan tetap mengalami kematian. Tetapi kalau mereka mengikuti Yesus, maka mereka akan diselamatkan dari kematian. Ingat, kematian adalah keterpisahan manusia dengan Alllah. Artinya, seseorang bisa mengalami kematian meskipun secara biologis organ-organnya masih berfungsi kalau mereka kehilangan relasi dengan Allah.

Penutup

Sahabat, bagaimana dengan kita? Ada baiknya saya berikan beberapa point untuk direfleksikan lebih jauh secara pribadi. Pertama, dan ini adalah yang utama dalam catatan ini, apakah kita sungguh percaya kepada Allah? Ketika Allah berkata bahwa Ia akan mencukupkan hidup kita, tatkala Dia meminta kita mencari dulu kerajaan Allah dan kebenarannya sehing-ga yang lain akan ditambahkan kepada kita. Percayakah kita akan janji-janji Allah itu. Seperti kata Yesus kepada Yairus, “jangan takut, percayalah saja!”

Kedua, beranikah kita mengungkapkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Ketika kita ditertawakan karena percaya kepada Tuhan. Ketika kita dianggap bodoh karena percaya kepada kuasa Tuhan; masihkah kita percaya dan terlebih lagi men-jalankan kepercayaan kita itu? Atau jangan-jangan kita menjadi pihak yang menertawakan tatkala ada orang memiliki iman yang begitu besar.

Terakhir, apakah yang akan kita pilih; kehidupan atau kematian. Jika kita memilih kehidupan, maka hanya ada satu jalannya yaitu menjalin relasi yang intim dengan Allah. Kalau kita mengabaikan hal ini berarti kita memilih kematian. Jalinan relasi dengan Allah itu bukanlah sesuatu yang instan dan konstan. Dia memerlukan proses dan peningkatan terus menerus. Yesus meminta Yairus agar memberi anaknya makan. Kehidupan itu harus terus ditopang dengan makanan. Relasi pribadi kita dengan Allah juga harus terus ditopang dengan berbagai makanan rohani. Jika kita mengabaikan makanan rohani ini maka matilah relasi kita dengan Allah. (bersambung)

(5)

Albertus Soegijapranata – Uskup Pertama Indonesia (1896 – 1963)

“Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia”

Oleh: Rufin Kedang

Nama kecilnya Soegija dan dia dilahirkan di Surakarta (Solo) sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara. Ayahnya seorang abdi dalem Keraton Solo dan ibunya pedagang kain setagen. Mereka sekeluarga pindah ke Yogyakarta ketika Soegija masih kecil. Di kota gudeg ini Soegija kecil bersekolah di Sekolah Rakyat Ngabean dan HIS Lempuyangan. Seb-agai anak yang cerdas dan berbakat, Soegija tertarik untuk melanjutkan pendidikannya di Kolese Xaverius Muntilan yang terkenal karena disiplin dan mutu pendidikannya yang tinggi. Sekolah ini didirikan pada tahun 1897 oleh Romo Van Lith SJ yang dikenal sebagai seorang pastor Belanda berhati Jawa. Mula-mula keinginan Soegija ke Muntilan ini ditentang oleh orang tuanya, tetapi akhirnya dia bisa meyakinkan mereka dan dia diijinkan masuk asrama Kolese Xaverius. Awal pendidikannya di Muntilan tidak berjalan mulus, ada sedikit rasa pertentangan dan kecurigaan terhadap pimpinan dan staf pengajar yang hampir semuanya terdiri dari para pastor Belanda. Dalam perjalanan waktu, Soegija menyadari bahwa romo-romo ini berbeda dari orang-orang Belanda lain yang selama ini dikenalnya sebagai pihak penjajah. Mer-eka, para romo ini, tidak bekerja untuk mencari keuntungan, malah uang dan sumbangan dari keluarga dan sanak saudara mereka di Belanda disalurkan untuk membantu Kolese Xaverius. Mereka bekerja tanpa pamrih untuk mening-katkan pendidikan anak-anak Indonesia. Pengalaman-pengalaman ini mendorong Soegija untuk minta dibaptis menjadi Katolik. Pastor Martens yang membimbingnya tidak serta-merta mengabulkan permintaan itu, tetapi menganjurkan ke-pada Soegija untuk meminta ijin dari orang tuanya. Dan ke-pada tanggal 24 Desember 1910, sesudah mendapat ijin orang tuanya, Soegija dibaptis dengan mengambil nama Albertus.

Setelah tamat dari Kolese Xaverius, Soegija bekerja sebagai guru di sekolah tersebut selama setahun sebelum masuk Seminari Menengah Muntilan di mana dia belajar bahasa Yunani, bahasa Latin dan Perancis sebagai persiapan untuk mendalami Kitab Suci dan sastra klasik. Pada tahun 1919 Soegija berangkat ke Belanda untuk menjalani dua tahun novisiat SJ di Mariendaal. Sesudah masa novisiat, dia belajar filsafat selama tiga tahun di Kolese Berchmann di Ouden -bosch sebelum pulang ke Muntilan dan ditugaskan mengajar selama dua tahun. Dia mengajar agama, bahasa Jawa dan aljabar di Kolese Xaverius.

Soegija kembali ke Belanda pada tahun 1928 untuk belajar teologi di Maastricht. Selama pendidikannya di Belanda dia menjalin kontak dengan para mahasiswa pelopor PI (Perhimpunan Indonesia) yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Iwa Kusuma Sumantri, Sastra Widagdo dan Sitanala. Pada tanggal 15 Agustus 1931 Soegija ditahbiskan menjadi imam dan sejak itu dia menambahkan kata “pranata” di belakang namanya. Seperti kita tahu, “pranata” berarti suatu sistem atau norma yang mengatur tingkah laku hidup atau keteraturan dalam masyara-kat. Suatu nama yang mencerminkan pribadinya yang tegas dan berwibawa.

Sesudah sekian lama belajar dan berkarya di Belanda, pada tahun 1933 Romo Soegijapranata kembali ke Indonesia, mula-mula bekerja sebagai pastor di gereja Kidul Loji dan setahun kemudian dipindahkan ke gereja Bintaran. Sebagai pastor dia berusaha menanamkan rasa kekatolikan dalam masyarakat. Bahwa dengan menjadi seorang Katolik yang baik kita juga menjadi anggota masyarakat yang baik.

Pada tahun 1940 Romo Soegijapranata diangkat oleh Takhta Suci menjadi Uskup pertama Indonesia dan ditahbiskan di Semarang pada tanggal 6 Nopember. Sejak menjadi uskup, beliau dikenal di Jawa dengan panggilan Romo Kanjeng. Awal masa jabatannya sebagai uskup ditandai dengan banyak masalah di Indonesia. Selama masa pendudukan Je-pang banyak gedung milik Gereja disita dan banyak pastor berkebangsan Belanda ditawan, bahkan ada yang dibunuh. Sedapat mungkin beliau berada dekat umat dan menguatkan mereka dalam situasi sulit ini.

(6)

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945, pasukan Jepang mulai menarik diri dan pasukan Sekutu datang untuk melucuti senjata Jepang. Terjadi banyak kerusuhan karena para pemuda Indonesia berusaha merampas senjata Jepang. Keadaan bertambah ruwet dengan masuknya kembali Belanda (NICA) dan tentaranya. Mgr Soegijapranata me-nasihati orang Katolik untuk berjuang mempertahankan Negara Indonesia. Hal yang sama ini ditegaskannya lagi dalam sebuah pidato di Radio Republik Indonesia pada tahun 1947. Situasi perang memaksa Soegijapranata memindahkan kantor dan administrasi keuskupan Semarang ke gereja Bintaran di Yogyakarta. Korespondensinya dengan Tahta Suci turut membuka jalur diplomasi antara Vatikan dan Indonesia. Hubungannya dengan Presiden Sukarno bertambah dekat. Presiden menghadiahinya sebuah repro lukisan Italia dengan catatan sebagai berikut:”....Sekarang saya bergembira hati dapat menghadiahkan lukisan itu kepada Yang Mulia sebagai tanda penghargaan saya kepada golongan Roma Katolik di Indonesia. Mudah-mudahan golongan Roma Katolik tetap sejahtera dalam Republik”.

Ketika Gereja Katolik Indonesia yang berdaulat terbentuk pada tahun 1961, Mgr Soegijapranata diangkat menjadi Uskup Agung Semarang. Meskipun kondisi kesehatannya menurun, beliau tetap aktif dalam tugasnya. Dalam perjalanan menghadiri Konsili Vatikan II beliau jatuh sakit dan meninggal di Steyl, Belanda, pada tanggal 22 Juli 1963 dalam usia 66 tahun. Menurut rencana awal, jenasah beliau akan dimakamkan di pemakaman biara pusat SJ, tetapi atas permintaan Presiden Sukarno, jenasah dibawa pulang ke tanah air dengan pesawat khusus dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang pada tanggal 30 Juli 1963. Gelar Pahlawan diberikan kepada almarhum Uskup Agung Soegijapranata pada tanggal 26 Juli 1963, saat jenasahnya masih dalam perjalanan ke Indonesia.

Soegijapranata adalah seorang pemimpin yang besar peranannya bukan hanya bagi Gereja Katolik tetapi bagi bangsa dan Negara Indonesia. Teladan hidupnya mengajarkan bahwa antara Gereja dan Negara jangan dipertentangkan. Bahwa umat Katolik ikut berjuang bagi bangsa dan Negara, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Contoh yang jelas adalah pahlawan-pahlawan nasional Agustinus Adisucipto, Ignatius Slamet Riyadi dan Yos Sudarso. Semboyan terkenal “Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia” berasal dari pidato Soegijapranata pada Konggres Katolik Seluruh Indonesia di Semarang pada tahun 1954.

Nama Soegijapranata diabadikan dalam nama jalan di kota-kota seperti Semarang, Malang dan Medan, juga universitas yang cukup terkenal di Semarang, yaitu Universitas KatolikSoegijapranata. Pada bulan Juni tahun 2012 ini film Soegija yang melukiskan tentang riwayat Mgr Soegijapranata selama masa revolusi Indonesia diluncurkan oleh sutradara Garin Nugroho. Film yang melibatkan ribuan pemain ini dibintangi oleh Nirwan Dewanto, seorang Muslim, dan hampir menem-bus satu juta jumlah penonton dalam beberapa minggu, suatu jumlah yang luar biasa untuk ukuran Indonesia. Albertus Soegijapranata adalah berkat bagi Gereja dan umat Katolik Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Rasio Kemandirian keuangan daerah Kabupaten Trenggalek tahun anggaran 2013-2015 dengan hasil tingkat rata” sebesar 27.80%, menggambarkan kinerja masih sangat rendah sehingga

 Penggunaan SAP Solution Manager Enterprise Edition (dan setiap penerus SAP Solution Manager Enterprise Edition yang diberikan berdasarkan dokumen ini) akan tunduk

Kelakuan berkas berupa jangkau proton dan profil berkas di dalam target cair diamati dengan simulasi program SRIM, dan efek-efeknya tentang perubahan suhu dan tekanan yang

tertulis atau cetak yang berisi materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar, dan latihan yang disusun secara sistematis dan menarik untuk

Dari definisi di atas kiranya dapat di tarik kesimpulan bahwa manajemen merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang

Dalam mengeksiskan Pesantren sebagai organisasi Islam modren di masa penjajahan penuturan Azyumardi Azra tersebut diperkuat oleh Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh

Pondok merupakan tempat tinggal bersama antara kyai dengan para santrinya.Di Pondok, seorang santri patuh dan taat terhadap peraturan – peraturan yang diadakan, ada

Cultural transform dan jenis konteks arkeologi di situs Benteng Putri Hijau Berdasarkan laporan penelitian tahun 2008 dan 2009, data artefaktual yang diperoleh dari