• Tidak ada hasil yang ditemukan

RRI Dalam Transisi Persaingan Udara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RRI Dalam Transisi Persaingan Udara"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

RRI Dalam Transisi Persaingan Udara

RADIO Republik Indonesia (RRl) mungkin sangat tidak asing ditelinga kita. Nainun sejauh mana pendengar radio di Indonesia mengenal program-program siaran RRl?, masih menjadi sebuah tanda tanya besar. RRl mungkin menjadi legenc!a perkembangan industri siaran radio di Indonesia. Mengutif sejarah perkembangan RRl menunjukkan bahwa RRl telah mengambil peran dalam sejarah perkembangan bangsa. Secararesmi RRl didirikan padatanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktirmengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Dalam perkembanganya ditahun 2002, RRl menjadi Lembaga Penyiaran Publik Milik Bangsa. Dengan disahkannya Undang-Undang No mor 32 tahun 2002 ten tang Penyiaran. Sesuai Pasal 14 Undang-Undang Undang-Undang Nomer 32 tahun 2002 menegaskan bahwa RRl adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersitat independen, netral dan tidak komersil. Selain itu RRl juga mernpunyai fungsi melayani kebutuhan masyarakat.

Perkembangan industri penyiaran di Indonesia berkembang pesat, baik secara teknologi hingga pengembangan program siaran. Perkembangan teknologi telah membawa Industri radio di Indonesia term as uk RRl hams memasuki era digitalisasi. Begitu juga dalam pengembangan program, RRl kini dituntut mampu inenghadirkan program-program yang inovatif sehingga menarik bagi pendengar. R R l mungkin telah banyak melakukan perubahan, seperti yang ttrtulis dalam www.rri-online.com. RRl kini memiliki 52 stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran kluisus yang ditujukan ke Luar Negeri, "Suara Indonesia". Kccuali di Jakarta. R R l di daerah hampir seluruhnya menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu Programa Daerah yang melayani segmen masyarakat yang In as sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II ) yang melayani masyarakat di perkotaan dan Programa 111 (Pro I I I ) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) kepada masyarakat luas. Di Stasiun Cabang Utama Jakarta terdapat 6 programa yaitu Programa I untuk pendengar di Propinsi OKI Jakarta LJsia Dewasa, Programa II untuk segment pendengar remaja dan pemucla di Jakarta, Programa I I I khusus berita dan informasi. Programa IV kebudayaan, Programa V u n l u k saluran pendidikan dan Programa VI Musik Klasik dan Bahasa Asing. Sedangkan "Suara Indonesia" (Voice of Indonesia) menyelenggarakan siarannya sendiri.

• Daya Pancar Dalam Klaim

(2)

menjangkau seluruh nusantara? Buktinya di beberapa daerah di Bali saja siaran R R l belum dapat ditangkap radio penerima. Daerah Timur Gunung Agung di Karangasem contohnya. Ada apa sebenarnya dengan daya pancar RRl? Belum lagi RRl m e m i l i k i beberapa programa siaran dan harnpir daya pancar keseluruhan programa sama, Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, bagaimana RRl mampu bersaing dengan lembaga radio swasta (komersial) lainnya.

Perkembangan industri radio di Indonesia khususnya Bali telah berkembang dengan pesat.'Cukup banyak radio komersial dan komunitas yang berkembang dengan kekuatan daya pancar cukup kuat. Beberapa radio komersial di Bali diantaranya memiliki kekuatan daya pancar berkisar antara 8-10 Killowatt. RR1 kini harus bersaing dengan radio-radio tersebut, sedangkan daya pancar RRI maksimal 5 Kilowatt, Keterbatasan daya pancar tidak hanya akan membuat RRI kalah bersaing, tetapi juga target untuk menyebarluaskan informasi hingga tingkat pedesaan tidak akan tercapai. Kondisi ini juga akan membuat semakin terbatas pendengar RRI akibat kemampuan daya pancar yang terbatas.

Pada dasarnya daya pancar menjadi salah satu faktor pendukung utama dalam siaran sebuah radio (lembaga penyiaran). Semakin baik daya pancar maka semakin bagus transmisi siaran yang diterima oleh pendengar. Penurunan daya pancar akan membuat RRI semakin kehilangan pendengar. Semboyan menjangkau hingga kepedesaan hanya akan tetap menjadi semboyan saja, bahkan terdapat kekhavvatiran siaran RRI menjadi remang-remang hilang.

Kedepan harus ada kebijakan baru dalam inembangun kekuatan daya pancar RRI. Manajemen RRI harus segera mengambil langkah maju untuk mampu bersaing di udara, jangan sanipai nialah tersisih. Mengingat RRI sebagai lembaga penyiaran publik memiliki tugas penting dan harus menjadi contoh bag! radio-radio komersial. Kekuatan daya pancar pada dasarnya menjadi salah satu factor pendukung bagi RRI dalam mempengaruhi pendengarnya. Reposisi RRI sebagai lembaga penyiaran publik pada dasarnya merupakan momentum bagi RRI untuk memperbaiki jasa layanan atau produk layanan pada pendengar.

• Kualitas Audio Siaran

(3)

menjadi masalah adalah kualitas rekaman dari hasil wawancara reporter di lapangan. Hal ini sangat penting menjadi perhatian mengingat RRI cukup sering rnenyiarkan hasil rekaman wawancara, Begitu juga dengan kualitas insert atau sisipan suara narasumber pada berita-berita yang disiarkan RRI. Kualitas audio ini menjadi begitu penting karena radio merupakan media yang mengandalkan kekuatan suara. Apalagi selama i n i RRI cukup identik dengan radio berita clan informasi.

Secara teori radio merupakan media yang memainkan daya imajinasi pendengarny a melalui kekuatan suara yang diterima pendengar. Khusus untuk insert pada berita-berita RRI cukup buruk. Jika dicermati rata-rata insert yang disiarkan kondisinya mendengung, noise tinggi, suara nara sumber tidak jelas dan volumenya terkadang terlalu kecil. Insert yang disiarkan dalam sebuah berita terkadang bukan member! kekuatan atau mendukung inti berita, namun j ustru menjadi sebaliknya. Mungkin ini merupakan masalah teknis perekaman atau tergantung kembali pada alat perekam yang digunakan. Jik a diamati dilapangan reporter RRI khususnya di Bali secara rata-rata masih menggunakan tape recorde. Kondisi diperparah dengan penggunaan satu kaset yang berulang-ulang. Selain itu saat perekaman tidak menggunakan microphon tambahan (mic luar) dan hanya mengandalkan microphon pada tape recorder.

Apabila kita kcmbalikan pada teori radio, dimana kekuatan radio adalah pada kekuatan audio atau suara. Jadi pendengar harus dimanjakan dengan kualilas audio yang baik, karena tidak ada alat bantu lain bagi pendengar untuk meyakinkan apa yang didengar melalui radio. Berbeda dengan televisi di inana pemirsannya diyakinkan dengan gambar-gambar yang ditayangkan. A u d i o atau insert tidak lagi dapat dipandang remeh pada industri radio, sebab aud io yang menjadi detak jantung dan napas penyiaran radio. Pada era digitalisasi saat ini, sudah saalnya RRI menggunakan recorder digital guna peningkalan kualitas audio yang akan disiarkan. Paradigm a penyiaran di RRI kini harus mulai diubah, bukan hanya menjangkau hingga kepelosok desa. tetapi bagaimana memanjakan pendengar dengan kualitas audio yang berkualhas. Beberapa lembaga penyiaran internasional seperti VOA, BBC, DWdan Suara Australia selalu rnemperhatikan dan inengkoreksi setiap hasil rekaman yang akan disiarkan. Begitu juga terhadap kualitas insert yang lebih him rah disebut 0-ton dan Soundbite. Seperti salah satunya Suara Jerman (DW) yang membuat software tersendiri bagi standar kualitas audio mereka, sehingga kualitas audio yang akan disiarkan secara rata-rata memiliki standar kualitas yang sama.

(4)

Mencermati program siaran radio ibarat pajangan produk atau barang dalam svvalayan, semakin baik kemasan maka seinakin teilarik konsumen. Konsumen atau dalam hal ini pendengar tentunya akan menentukan dan mencari manfaat yang didapatkan dalam sebuah program siaran radio. Segmentasi menjadi kata kunci bagi lembaga penyiaran dalam merancang sebuah program radio, baik dilihat dari segi umur maupun cakupan wilayah hingga hobi. Penentuan segmentasi tentunya terlebih dahulu diawali dengan melakukan riset untuk lebih mengetahui program acara apa yang sebenarnya diminati pendengar secara umum. Tentunya setiap pendengar me mi li ki keinginan tersendiri dan kuncinya adalah bagaimana mengkolaborasi dari berbagai keinginan dan minat menjadi sebuah program yang menarik.

Beberapa pegawai RRI Denpasar mengakui bahwa program acara yang ada di RRI ibarat sebuah swalayan. Jadi program apapun dan untuk umur berapapun juga ada. Kemudian akan menjadi sebuah pertanyaan benarkah ini? Jika program acara di RRI mampu mewakili sebagian besar kalangan mengapa RRI masih kalah bersaing dengan radio komersial dalam hal program acara?. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah program yang ada belum terkelola dengan baik atau bahkan program-program tersebut tidak berbedajauh dengan program radio pada umumnya. Buktinya lebih ban yak pendengar yang tertarik pada program siaran radio-radio swasta/komersial. Memang cukup banyak pertannyaan yang muncul. Kondisi seperti i n i l a h yang harus dievaluasi melalui sebuah riset. Sebagai sebuah lembaga penyiaran publik RRI ditun tut untuk mampu membaca kebutuhan publik yang kemudian memformulasikan kedalam formal siaran. Hal penting yang perlu dicatat adalah RRI sebagai lembaga penyiaran publik harus tetap berorientasi pada kepentingan publik, sebab RRI tidak akan mampu eksis tanpa dukungan publik.

Guna mengembangkan program siaran, RRI sebagai lembaga siaran publik tentunya berpedoman pada kepentingan publik. Disisi lain dalam merancang program siaran R R I tentunya harus juga memperhatikan manfaat program siaran tersebut pada vviiayah sekitarnya atau wilayah siaran. Khusus untuk R R I yang berada di daerah tentunya faktor kelokalan/kedekatan program harus diperhatikan. Memang menjadi sebuah tantangan yang menarik bagi RRI untuk mengkolaborasikan kebutuhan publik yang luas, namun juga menarik bagi pendengar ditingkat lokal. Sekali lagi, momentum penetapan RRI sebagai lembaga penyiaran publik harus dijadikan titik awal perubahan dan evaluasi bagi program-program siaran RRI. Jangan sampai program-program-program-program siaran R R I tidak diketahui oleh masyarakat, atau jangan sampai publik tak mengetahui frekuensi siaran Pro 1, Pro 2, Pro 3 dan Pro 4.

(5)

Station id ibarat menjadi sebuah tanda pengenal bagi radio, dimana bentuknya meinang menyerupai spot iklan. Semakin kreatif sebuah station id maka akan semakin menarik bagi pendengar. Memang tidak jarang juga sebuah station id dari suatu radio dalam suatu periode waktu diubah untuk member! nuansa barn bagi penggemarnya. Selain itu tidak jarangjuga sebuah radio m e m i l i k i beberapa bentuk station idyangberbeda-beda. Station id pada perkembanganya tidak saja diputar pada saat radio mulai mengudara ataupun memulai program siaran baru, tetapi pada petlengahan siaran station id juga tidak jarang juga di pular dalam bentuk jingle. Jingle ini juga bentuknya beragam ada yang bit yang ccpat. sedang dan lamban, dimana jingle seperti i n i biasanya digunakan untuk menjadi pengingat perubahan bit lagu yang akan diputar.

Bagaimana dengan station id dan jingle RRI? Secara umum selama in i station id dan jingle R R I cukup berumur. Kondisi ini terkadang membuat nuansa kejenuhan, walaupun lerkadang station id dan jingle tersebut mengingatkan pada kisah-kisah perjuangan tahun I945-an. Dalam perkembanganya, dengan identitas R R I yang baru sebagai lembaga penyiaran publik seharusnya juga terdapal nuansa baru melalui pembuatan station id ataupun jingle baru. Contohnya untuk mewakili kalangan muda yang enerjik perlu jingle dengan bit musik yang cu ku p cepat dan memacu semangat. Satu 3ml yang penting diperhatikan adalah jingle RRI harus memastikan bahwa RRI dalam posisi yang baru dan mewakili kepentingan publik.

• Standar Format Berita

Reran RRI sebagai cikal-bakal munculnya pemberitaan pada media radio memang tidak dapat dipungkiri. RRI telah menjadi salah satu lembaga peletak dasar jurnalistik radio yang berkembang sejak zaman kemerdekaan. Seiring dengan perjalanan waktu format berita radio terus berkembang. Tiap media radio memiliki standar format berita untuk menunjukkan ciri khas masing-masing radio. RRI sendiri m em i l ik i ciri khas yang cukup khusus. Namun apakah format tersebut tetap dijalankan dan mas in relevan ditengah perkembangan junialistik radio di tanah air?

Jika dicermati format berita yang ada saat ini cukup rancu. Perhatikan dari segi panjang berita, tiap laporan memiliki panjang berita yang berbeda. Begitu juga dalam penggunaan insert (petikan narasumber) juga berbeda-bedatiap laporan. Kondisi yang lebih rancu lagi adalah ketika memperhatikan jenis berita, dimana antara berita langsung dan berita dalam bentuk mini feature sulit dibedakan.

(6)

lapangannya yang rata-rata panjangnya satu menit tiga p u l u h detik untuk berita pendek atau berita langsung. Berita pendek tersebut menggunakan insert dengan panjang rata-rata 20-30 detik. Beralih pada format berita m i n i feature yang rata-rata memiliki panjang 2-3 menit dimana dalam satu laporan mini feature menggunakan sekitar 3-5 insert. Pada radio internasional seperti DW, BBC dan VOA rata-rata format laporan reporternya berbentuk mini feature dengan panjang laporan antara 2-3 menit. Begitu juga da lain penggunaan insert, rata-rata menggunakan 2-3 insert, tiap insert memiliki panjang 20-30 detik.

Perlu waktu panjang untuk melakukan perubahan apalagi perubahan tersebut kearah yang lebih baik. Begitu juga yang terjadi di RRI yang kini telah berada dalam posisi baru sebagai lembaga penyiaran publik. Harapan yang baru dan lebih baik tentunya sangat ditunggu-tunggu pen den gar RRI, terutama yang berada di daerah peiosok desa. Sebagai lembaga penyiaran p ub l i k tentunya RRI memikul(tanggungjawab yang lebih berat kedepan. Saatnya bag! masyarakat u n t u k meniberikan masukan baik dalam bentuk kritik dan saran bagi peningkatan' kualitas siaran RRI. Sudah saatnya RRI bangkit untuk mampu bersaing di udara dalam masa reposisi R R I sebagai lembaga penyiaran publik.

Terbit dalam :

Referensi

Dokumen terkait

Selain dari kunjungan Presiden, tonggak kemajuan penting lainnya untuk Indonesia pada ILC tahun ini mencakup partisipasi seorang pemimpin kaum muda Indonesia, kontribusi Indonesia

Dalam pasal 122 disebutkan, “Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Is- timewa Aceh dan Propinsi Daerah Isti- mewa Yogyakarta, sebagaimana dimak- sud dalam undang-undang


 Evaluasi standar Pendidikan dilaksanakan secara paralel atau bersamaan dalam suatu siklus penjaminan mutu internal, minimal setiap 1 (satu) tahun sekali dalam tahun

Penelitian ini sesuai dengan penelitian Mulyanti (2013) tentang kelengkapan imunisasi yang dihubungkan dengan factor internal orangtua, didapatkan hasil

Bahan ajar digital ini berisi materi mengenai harga pokok pesanan, harga pokok proses, laporan laba rugi perusahaan manufaktur, laporan keuangan dan jurnal

SERTIFIKASI UJI KOMPETENSI PENGAWAS OPERASIONAL PERTAMA PANAS BUMI Hotel Grand Aquila,Bandung -21 Oktober 2011. Nama :

Demikian peran penting profesi psikolog dan konselor dalam membantu klien (terkhusus untuk peserta didik) agar mampu insight dengan masalahnya sendiri, dan

Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada saudara Menteri PUPR beserta seluruh jajaran yang telah memenuhi undangan kami dalam Rapat Kerja pada siang hari ini.