• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KAWA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

INTERNATIONAL WORKSHOP AND GUEST LECTURE:

UTILIZATION VRML SYSTEM FOR ENCOURAGE COMMUNITY PARTICIPATION

ON CITY PLANNING AND DESIGN PROCESS On 5th 7thDecember 2013

at Architecture Department, Faculty of Engineering, Brawijaya University

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR

KAWASAN KAYUTANGAN

Antariksa

Pendahuluan

Kayutangan yang sekarang adalah Jalan Basuki Rahmat, merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang, kawasan ini pada masa colonial merupakan kawasan pusat perdagangan di Kota Malang selain kawasan Pecinan.Kawasan ini menyimpan banyak sejarah, hal ini dapat dilihat dari tampilan visual bangunan-bangunan yang ada di kawasan tersebut.Kawasan Kayutangan, adalah koridor Jalan Basuki Rahmat yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan perdagangan dan jasa. Koridor ini pada awalnya terdiri atas bangunan-bangunan kolonial kuno bersejarah yang berderet sepanjang Jalan Basuki Rahmat. Selain itu, ada pula kawasan perkampungan di gang-gang Kayutangan yang memiliki fungsi sebagai kawasan permukiman. Kawasan perkampungan ini masih memiliki bangunan-bangunan rumah tinggal dengan gaya arsitektur kolonial Belanda yang masih bertahan.

Tuntutan ekonomi dan kurangnya perangkat hukum menyebabkan bangunan-bangunan kuno bersejarah yang ada berganti dengan bangunan-bangunan baru bergaya arsitektur modern.Terdapat perubahandan pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah yang ada di Kawasan Kayutangan meskipun telah diatur dalam Kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Malang Nomor SK/104/U/II’80 yang kemudian diperkuat menjadi Perda No. 5 Tahun 1987 dan kemudian dilakukan perubahan menjadi Perda No. 10 tahun 1989 yang isinya mengatur tentang larangan merubah atau membongkar bangunan yang memiliki nilai sejarah termasuk Kawasan Kayutangan, sehingga menghilangkan cirri atauk arakter visual lama Kayutangan yang menganutaliran NieuweBouwen (Handinoto 1996:23). Bangunan-bangunan permukiman kuno bercorak kolonial yang berada di kawasan perkampungan kondisinya tidak terawat, selain itu bangunan tersebut mengalami perubahan façade dari bangunan kolonial menjadi bangunan modern, serta mengalami penghancuran sehingga tidak Nampak lagi nilai-nilai sejarah dan arsitekturnya.

Berkuasanya Belanda di Kota Malang ternyata secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi bentuk tata kota, permukiman dan arsitektur yang ada. Arsitektur merupakan produk yang dapat mewakili keberadaan suatu budaya masyarakat dari sutu kurun waktu tertentu.

SejarahPerkembangan Kota Malang dan Kayutangan

(2)

1914?. Hal tersebut karena investasi besar-besaran dalam bidang struktur dan komunikasi (UU Agraria dan UU Gula) baru dilakukan oleh Pemerintah Belanda dan swasta setelah tahun 1870.

Koridor Kayutangan merupakan kawasan di pusat Kota Malang yang merupakan akses utama yang menghubungkan pusat kota dengan Surabaya. Kawasan Kayutangan juga memiliki potensi yang cukup besar di dalam sejarah perkembangan Kota Malang, karena keberadaannya sebagai bagian struktur kota telah dimulai sejak zaman Kolonial Belanda (Widyawati 2004:165). Istilah Kajoetangan muncul disebabkan karena adanya penunjukkan arah berbentuk telapak tangan yang terbuat dari kayu, seperti yang diruaikan dalam buku Malang Tempo Doeloe Djilid Satoesebagai berikut (Widodo 2006:219):

“Di sebelah timur pertigaan Jl. Oro-oro Dowo dengan Kayutangan, pada saat itu terdapat petunjuk lalu lintas yang berbentuk telapak tangan yang sedang menunjuk dan terbuat dari kayu. Petunjuk tersebut menyarak ke tiga tempat. Ke arah barat menuju Batu, ke arah selatan menuju Blitar, dan ke arah utara menuju Surabaya.”

(3)

a

Kayutangan termasuk ke dalam Kecamatan Klojen. Berdasarkan sejarah zaman Belanda, Kecamatan Klojen ini mempunyai banyak bukti bangunan bersejarah pada masa pemerintahan Belanda yang menjadi saksi perkembangan kota dan arsitektur kolonial Belanda di Kota Malang. Menurut Handinoto (1996:15) Belanda mulai menguasai daerah Kota Malang sejak tahun 1776 dengan mendirikan benteng di daerah yang sekarang ditempati Rumah Sakit Umum Syaiful Anwar di daerah Klojen Lor. Kata “Klojen” berasal dari kata “loji” yang berarti sebutan untuk rumah orang Belanda.

Bebarapa sumber sumber sejarah telah banyak menyebutkan, bahwa pusat keramaian Kota Malang pada awal abad ke-19 terletak di sekitar alun-alun. Kayutangan merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang. Kawasan perdagangan “elit” yang disediakan untuk kaum Belanda adalah di sepanjang Jl. Kayutangan, dan di seputar alun-alun.

Perkembangan Koridor Kayutangan pada masa kolonial akan diuraikan dalam dua periode; yakni periode sebelum tahun 1914 ketika Kota Malang masih berstatus sebagai Kabupaten dan periode tahun 1914-1940 ketika Kota Malang telah diresmikan sebagai Kotamadya.

A

Arrssiitteekkttuurrppeerriiooddeesseebbeelluummttaahhuunn11991144

Permukiman di sepanjang Kajoetanganstraat merupakan cikal bakal permukiman penduduk Eropa pada periode setelah masuknya Belanda tahun 1767 sampai dengan sebelum tahun 1914, seperti diuraikan dalam bukuStadsgemeente Malangberikut ini:

“Permukiman Orang Eropa terletak di sebelah Barat Daya (zuidwesten) alun-alun yang meliputi daerah Taloon, Tongan, Sawahan dan sekitarnya) selain itu juga terdapat di sekitarKajoetangan,Oro-oro dowo, Tjelaket, Klodjenlor dan Rampal”

(4)

Eropa. Kesan seperti itu tampak karena pada permukiman di koridor Kajoetanganstraat pada saat itu telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai, bila dibandingkan dengan pemukiman untuk etnis Cina di Kawasan Pecinan, etnis Arab di Kawasan Kauman, dan terutama bila dibandingkan dengan permukiman pribumi yang cenderung terabaikan.

Perkembangan Kajoetanganstraat menjadi semakin pesat setelah pada tahun 1878/1879 dibangun rel kereta api menuju ke Surabaya, Pasuruan, dan daerah Jawa Timur lainnya. Jalan ini kemudian menjadi jalan utama Kota Malang dengan didirikannya bangunan-bangunan dengan fungsi pelayanan publik seperti Gereja Kayutangan (bangunan-bangunan gereja pertama di Kota Malang), Kantor Pos Telegram Telepon, serta Gedung Serbaguna (Societeit Concordia).

Sejalan dengan makin pentingnya peran Kajoetanganstraat dan mulai dilakukannya aktivitas perdagangan internal Kota Malang, koridor jalan ini kemudian tumbuh sebagai koridor komersial pertama di Kota Malang yang ditandai dengan berdirinya kantor-kantor perdagangan kecil meskipun dalam jumlah yang masih relatif terbatas. Secara perlahan terjadi pergeseran guna lahan menjadi semi komersial. Pada tahun 1920, badan jalan Koridor Kajoetanganstraat diperkeras dengan aspal bersama dengan Jl. Tjelaket dan Jl. Oro-oro Dowo. Beberapa bangunan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda dengan fungsi pelayanan publik dibangun pada periode sebelum tahun 1914 di antaranya adalah:

A. Gedung Kantor Pos Telegram Telepon (sekarang Plasa Telkom)

Bangunan ini dibangun pada tahun 1909 oleh Departemen BOW (Burgelijke Openbare Werken) atau Departemen Pos Telegram Telepon (PTT) (Gambar 1). Bangunan tersebut direnovasi setelah masa perang, dan kemudian dikategorikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya Kota Malang (Widyawati, 2005:78). Namun, pada tahun 2006 bangunan Plasa Telkom direnovasi kembali secara total. Akibatnya, kesan kolonial yang semestinya dipertahankan menjadi hilang (Gambar 2).

B. Algemeen Nederland Indiesche Electiciteit Maatschappij – ANIEM NV. (sekarang Kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Malang)

Bangunan ini pada saat itu merupakan semacam perusahaan listrik milik pemerintah. Bangunan ini bergaya Nieuwe Bouwen, yakni suatu gaya yang mengingatkan pada karya-karya AF. Aalbers, seorang arsitek generasi pertama yang menganut modern-internationalis (Wiryomartono dalam Kusdiwanggo, 2003:38). Gedung Aniem ini bertanggungjawab terhadap penyediaan dan distribusi kelistrikan di Kota Malang, termasuk di dalamnya penerangan jalan-jalan di seluruh pelosok kota (Kusdiwanggo, 2003:38).

Gambar 1.Kantor Pos lama ± 1920 di Jl. Kajoetangan.

Sumber:www.djawatempodoloe.multiply.com

(5)

Dalam perkembangannya, gedung ini digunakan sebagai Kantor PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN Tbk.) Kota Malang. Bentuk dan gaya bangunan sengaja dipertahankan sesuai aslinya, sebagai focal point bagi Koridor Kayutangan dari arah utara. Perubahan yang terjadi pada bangunan ini berupa pengecatan ulang. Tampilan bangunan Kantor PLN Kota Malang (Gambar 2).

Gambar 2. Tampilan bangunan Kantor PLN Kota Malang(kiri) (Fauziah 2012), dan tampilan gedungAlgemen Nederland Indische Electiciteit Maatscappij ANIEM NV.(1948) (kanan) (Utomo 2006).

C. Badan jalanKajoetanganstraatdan elemennya.

Kajoetanganstraat menghubungkan alun-alun sebagai pusat kota dengan jalan menuju ke luar kota (Kota Surabaya). Elemen utama dari badan jalan ini adalah rel trem yang menghubungkan daerah kota yang ada di sebelah utara dengan sebelah selatan. Lebar badan jalan dipergunakan untuk wadah lalu lintas bagi trem, mobil, dan kendaraan non bermotor. Pejalan kaki dapat menggunakan jalur pedestrian yang tersedia yang terpisah dari jalan raya dengan pohon-pohon yang berjajar rimbun. Meskipun memiliki elemen yang cukup komplit, badan jalan ini belum dilengkapi dengan median pembatas, sehingga arus lalu lintas dua arah masih bercampur.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi, trem yang digunakan untuk sarana transportasi berangsur ditinggalkan. Untuk kepentingan pelebaran jalan, seiring dengan semakin bertambahnya arus lalu lintas, rel trem dihilangkan, jalur pedestrian dipersempit, dan dilakukan penebangan terhadap pepohonan yang ada. Kondisi badan jalan Koridor Kayutangan (Gambar 3).

Gambar 3. Badan Jalan Kayoetanganstraat yang dilengkapi dengan jalur trem dan tanpa median pembagi arus kendaraan (Sumber: Handinoto 1996).

A

Arrssiitteekkttuurrppeerriiooddeettaahhuunn11991144--11994400

(6)

Gambar 4. Gereja Kajoetangan 1910-an. Sumber:www.djawatempodoloe.multiply.com

dengan didominasi oleh penggunaan lahan untuk perdagangan dan jasa. Ciri khas bangunan-bangunan yang dibangun pada periode ini pada umumnya lebih mengutamakan segi fungsional sebagai sarana perdagangan dan jasa. Beberapa bangunan yang didirikan pada periode ini di antaranya:

A. Gereja Hati Kudus Yesus

Sejarah perkembangan kawasan koridor Kayutangan seperti tampak Gereja Hati Kudus Yesus (yang dikenal dengan nama Gereja Kayutangan) dibangun tahun 1905. Arsiteknya adalah M.J. Hulswit (1862-1921). Menara pada pintu masuk masih belum dibangun, karena biaya dan kesulitan konstruksi (Gambar 4). Kemudian pada tahun 1930-an terlihat adanya menara gereja yang dibangun pada tahun1923-1926 (Gambar 5) dan Gambar 6 menunjukkan pada kondisi Gereja kajoetangan saat ini.

B. Pertokoan di sepanjangKajoetanganstraat

Pada awalnya, Kajoetanganstraat merupakan cikal bakal permukiman bagi warga Eropa di Malang. Seiring dengan perkembangan kota, penggunaan lahan di sepanjang Kajoetanganstraat beralih menjadi guna lahan yang lebih komersial. Pada sekitar tahun 1930-1940-an Kajoetanganstraat berkembang menjadi suatu pusat perdagangan dan perbelanjaan bagi masyarakat kalangan menengah ke atas dan warga Eropa di Kota Malang (Utomo 2007:1). Pada umumnya pertokoan di sepanjang Kajoetanganstraat dibangun antara tahun 1930-1940. Pertokoan tersebut merupakan alih fungsi dari perumahan sebagai bentuk penyikapan terhadap perkembangan koridor dan perkotaan yang semakin pesat. Kajoetanganstraat kemudian mulai dipenuhi dengan bangunan-bangunan perdagangan dan pelayanan publik. Koridor ini kemudian

Gambar 5. Gereja Hati Kudus di Jl. Kajoetangan tahun 1935. Sumber:www.desainrumah.com

Gambar 6. Gereja Hati Kudus di Jl. Jendral Basuki Rahmad tahun 2007.

(7)

berkembang menjadi suatu pusat perbelanjaan dan pertokoan di Kota Malang. Maka dari itu, Kajoetanganstraat disebut sebagai Malang’s Europeesche Winkelwijk (Wertheim dalam Kusdiwanggo, 2003:31). Tampilan bangunan-bangunan pada kawasan ini pun memberikan kenyamanan tersendiri. Menurut Dwi Ari (2003: 1–2), sebagian besar bangunan dilengkapi dengan menara, utamanya pada bangunan-bangunan yang berlokasi di persimpangan jalan. Keberadaan menara pada bangunan dengan aliran Nieuwe Bouwen menunjukkan kolaborasi yang sempurna antara ciri khas bangunan periode sebelumnya yang direnovasi karena mengikuti perkembangantrendatau karena perluasan vertikal.

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan tampilan bangunan. Banyak fasade bangunan yang tertutup oleh papan reklame (Gambar 6).

Gambar 6. Tampilan bangunan di sepanjang Koridor Kayutangan (Sumber: Handinoto 1996)

C. Bangunan di persimpanganKajoetanganstraat-Semeroestraat-Riebeeckstraat

Herman Thomas Karsten merancang persimpangan Kajoetanganstraat-Semeroestraat-Riebeeckstraatsebagai titik pusat Kota Malang dan sekaligus membuka akses ke arat barat sebagai perkembangan kota yang baru sekaligus memiliki vista skenik kota ke Gunung Kawi (de ligende vrouw yang berarti wanita yang sedang berbaring) (Handinoto & Soehargo, 1996:110). Hal ini merupakan suatu nilai tambah bagi keberadaan persimpangan ini, sehingga bangunan-bangunan pengisinya mendapat rancangan yang khusus dan berkarakter. Bangunan-bangunan di persimpangan ini dirancang dan didirikan fungsi bangunan komersial seperti kompleks pertokoan dan perhotelan (Kusdiwanggo, 2003:42-43).

(8)

Juwelier Tan yang berganti menjadi bangunan Bank Artha Niaga Kencana (Gambar 7 sampai dengan Gambar11). Di perematan Kayoetangan-Semeroe-Kahuripan ada empat gedung pertokoan dibangun pada tahun 1935 dalam gaya art deco. Tiap gedung mempunyai menara yang bisa dipakai sebagai tanda orientasi bagi lingkungannya. Dalam perencanaan kota oleh Thomas Karsten (1884-1945) perempatan ini menjadi pusat dari sistem jaringan jalan di Malang (Hersanti 2008:58).

Gambar 7 Suasana di persimpangan Kajoetanganstraat-Semeroestraat-Riebeeckstraat(Sumber Handinoto 1996)

Gambar 10. Bangunan kembar di perempatan

Kajoetanganstraat-Semeroestraat.

(Sumber: Handinoto 1996)

Gambar 11. Bangunan kembar di perempatan Jl.Basuki Rachmat–Jl. Semeru saat ini .(Sumber: Utomo2006)

Penutup

(9)

“Gemente”. Mengapa kota yang sangat strategis dan sangat indah ini baru berkembang setelah tahun 1914? Hal tersebut karena investasi besar besaran dalam bidang struktur dan komunikasi (UU Agraria dan UU Gula) baru dilakukan oleh Pemerintah Belanda dan swasta setelah tahun 1870.

Pada era kolonial daerah Kayutangan merupakan salah satu daerah pertokoan dan perdagangan orang Belanda. Daerah ini merupakan daerah perdagangan yang ramai dikunjungi masyarakat Malang memiliki potensi yang cukup besar di dalam sejarah perkembangan Kota Malang. Keberadaannya sebagai bagian struktur kota telah dimulai sejak zaman pemerintahan Belanda. Berkuasanya Belanda di Kota Malang ternyata secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bentuk tata kota, permukiman dan arsitektur yang ada. Arsitektur merupakan produk yang dapat mewakili keberadaan suatu budaya masyarakat dari suatu kurun waktu tertentu.

Pada saat ini telah terjadi banyak perubahan fisik arsitektural pada bangunan-bangunan di Koridor Kayutangan, perubahan fisik ini menciptakan suasana visual bangunan menjadi munurun. Karena arsitektur merupakan wujud aktivitas ‘desain’ dari bangunan lama (tua) yang sejakan dengan peradaban manusia pada waktu itu. Saat ini di Koridor Kayutangan tidak sedikit bangunan bersejarah diabaikan, dibongkar tanpa melihat nilai-nilai sejarah arsitekturnya. Ini terjadi karena perubahan fungsi ruang dalam bagian sebuah kota, sehingga dipandang baik oleh pemerintah maupun warga kota, yaitu dari segi ekonomi dengan mengabaikan bangunan-bangunan lama yang terdapat sekitarnya. Tidak tingginya apresiasi masyarakat terhadap bangunan bersejarah sehingga banyak bangunan lama yang mempunyai nilai sejarah dan seni tinggi tidak dirawat bahkan dirombak dan dihancurkan.Bangunan bersejarah merupakan komoditi yang sangat bernilai dan tidak dapat diperbarui sehingga pemiliknya baik pemerintah, institusi maupun individu mempunyai kewajiban memelihara.

Sumber Pustaka

Handonoto &S oehargo, P.H. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Surabaya: LPPM Universitas Kristen PETRA.

Hersanti, N.J. 2008. Tipologi Rancangan Pintu dan Jendela Rumah Tinggal Kolonial Belanda di Kayutangan Malang.Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya. Karisztia, D.A., 2008. Tipologi Façade Rumah Tinggal Kolonial Belanda di Kayutangan-Malang.

Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Sumalyo, Y. 1993. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogkakarta: Gadjah mada University Press.

Utomo, D.M. 2007. Tingkat Pelayanan Jalur Pedestrian di Koridor Kayutangan Malang. Skripsi.Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Wdyawati. 2004. Studi Penataan Bentuk dan Masa Bangunan Koridor Kayutangan di Malang. Jurnal Ruas. 2 (2): 164-169.

Gambar

Gambar 1.Kantor Pos lama ± 1920 di Jl.
Gambar 2. Tampilan bangunan Kantor PLN Kota Malang(kiri) (Fauziah 2012), dantampilan gedung Algemen Nederland Indische Electiciteit Maatscappij ANIEM NV
Gambar 4. Gereja Kajoetangan 1910-an.
Gambar 6. Tampilan bangunan di sepanjang Koridor Kayutangan (Sumber: Handinoto 1996)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang positif dan bermakna dengan koefisien korelasi yang cukup kuat antara ekspresi protein EGFR dan ekspresi

Hasil analisis ketahanan hidup dengan stadium kanker menunjukkan bahwa stadium tidak mempengaruhi ketahanan hidup secara signifikan karena secara keseluruhan, EPG

Pada laporan ini, dapat diperoleh gambaran bahwa pasien tipe mutasi yang ada adalah mutasi tunggal (single

Gambar 10 Keberhasilan Pemahaman perangkat keras Hasil dari post tes tentang pemrograman C untuk aplikasi mikrokontroler dan robot, 60% peserta dapat memahami dengan

Untuk lokasi terpilih “Urimesing” dapat dilihat dari beberapa kriteria yaitu : kriteria lokasi dari hasil pengolahan data expert choice menunujukan lokasi urimesing

Mengapa pesantren penting untuk di ajak bekerja sama dalam deradikalisasi yaitu: Pertama : Secara salah kaprah, banyak orang percaya bahwa pesantren adalah tempat yang subur

Untuk informasi kesehatan dan keselamatan untuk komponen masing-masing yang digunakan dalam proses manufaktur, mengacu ke lembar data keselamatan yang sesuai untuk

Justeru, perubahan dasar ekonomi telah dilaksanakan untuk menyertai pertubuhan antarabangsa dan juga serantau seperti ASEAN untuk mendapatkan pengiktirafan antarabangsa telah