• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYALAHGUNAAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENYALAHGUNAAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF. pdf"

Copied!
258
0
0

Teks penuh

(1)

PENYALAHGUNAAN NARKOBA DALAM

PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM

DAN HUKUM PIDANA NASIONAL

DISERTASI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk

Memperoleh Gelar Doktor dalam Ilmu Agama Islam

Oleh :

M A RD A NI

N I M : 01.3.00.1.01.01.0008

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

iii

Disertasi dengan judul “Penyalahgunaan Nark oba dalam Perspek tif Huk um Pidana Islam

Dan Huk um Pidana Nasional” yang ditulis oleh Mardani nomor pokok: 01. 3. 00. 1.

01. 01. 0008, telah diperbaiki sesuai saran Tim Penguji dalam ujian Disertasi

tertutup tanggal 23 Maret 2004, dan selanjutnya disetujui untuk dibawa ke sidang

ujian terbuka (promosi Doktor)

Jakarta,

Penguji I Prof. Dr. Hj. Chuzaimah Tahido Yanggo, MA( )

Jakarta,

Penguji II Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA ( )

Jakarta,

Penguji III Prof. Dr. H. Fathurrahman Djamil, MA ( )

Jakarta,

Penguji IV Prof. Dr. H. Abdul Ghani Abdullah, SH. ( )

Jakarta,

(3)

iv Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mardani

NIM : 01.3.00.1.01.01. 0008

Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 4 Nopember 1970

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Disertasi dengan judul: Penyalahgunaan Narkoba dalam Persepektif Hukum Pidana Islam Dan Hukum Pidana Nasional adalah benar merupakan karya asli saya, kecuali kutipan yang disebutkan sumbernya.

Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya sepenuhnya adalah tanggung jawab saya

Jakarta, April 2003

(4)

v

1. Konsonan Tunggal

ا = a ز = z ق = q

ب = b س = s ك = k

ت = t ش = sy ل = l

ث = ts ص = sh م = m

ج = j ض = dl ن = n

ح = è ط = th و = w

خ = kh ظ = dh ه = h

د = d ع = ‘ ء = `

ذ = dz غ = gh ي = y

ر = r ف = f

2. Konsonan rangkap ditulis rangkap, misalnya:

ﺔﻓﺎﻛ (kâffah)

3. Ta marbuthah ditulis h, misalnya:

ﺔﻣﺎﻣﻻا (al-`imâmah)

4. Ya nisbah ditulis i, misalnya:

ﻲﺳﺎﯿﺴﻟا (al-siyâsî)

5. Vokal pendek; fathah ditulis a, kasrah ditulis i, dan dhommah ditulis u.

6. Vokal panjang ditulis sebagaimana vokal pendek dengan diberi garis di atasnya; misalnya: â, î, û

(5)

vi

Kejahatan narkoba adalah kejahatan yang mengerikan. Inilah kejahatan yang merusak generasi muda negeri ini. Yang mengerikan adalah narkoba telah melanda kalangan muda dari berbagai lapisan masyarakat. Adalah kenyataan bahwa perdagangan narkoba yang ilegal itu justru meningkat dari waktu ke waktu. Yang lebih kaya membelinya dengan mudah, yang miskin menjadi pengidap dan sekaligus pengedar agar bisa membiayainya.

Perdagangan narkoba merupakan jaringan international. Dan suka atau tidak suka, Indonesia adalah negeri surga yang sangat longgar dan empuk bagi peredaran narkoba. Inilah negara dengan pasar yang luas karena penduduknya banyak, hukumnya rapuh, dan aparatnya korup. Inilah negeri yang memang menggiurkan dibanding Malaysia dan Singapura yang sangat keras terhadap narkoba.

Indonesia yang pada mulanya sebagai negara transit perdagangan narkoba kini sudah dijadikan daerah tujuan operasi daerah produksi oleh jaringan narkoba international yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi canggih. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengedar berkebangsaan asing yang tertangkap berikut dengan penyitaan barang bukti narkoba dalam jumlah besar, meliputi seluruh kota-kota besar sampai ke pelosok desa-desa.

Karena itu, tidak mengherankan jika dari 25 orang terpidana mati perkara narkoba itu berasal dari berbagai narkoba. Hanya enam orang Indonesia. Terbanyak adalah delapan orang Nigeria, empat orang Thailand, dan sisanya masing-masing satu orang yang berasal dari tujuh negara (Nepal, Malawi, Pakistan, Cordova, Ghana, Belanda dan India).

Jadi hukuman mati itu menyangkut 19 orang atau 76 % yang berasal dari sembilan negara asing. Sebuah bukti tersendiri, betapa negeri ini menjadi sasaran empuk perdagangan narkoba yang melibatkan jaringan international.

Karena itu, eksekusi hukuman mati buat mereka yang telah ditolak grasinya, menjadi sangat penting. Penting, untuk memperlihatkan kepada dunia kesungguhan bangsa ini membasmi narkoba. Tujuannya jelas, agar jera dan takut berdagang narkoba di negeri ini. Negeri ini harus menjadi neraka bagi pedagang narkoba. Diperkirakan pada saat ini di Jakarta saja omzet narkoba dalam sehari mencapai 260-760 milyar rupiah.

Diperkrakan sampai tahun ini, 80 % pecandu narkoba jenis heroin menggunakan alat suntik. 10-40 % dinyatakan terinfeksi HIV / AIDS dan 70-80 % terinfeksi Hepatitis C.

Untuk menanggulangi bahaya narkoba pemerintah membentuk BNN (Badan Narkoba Nasional), Badan Narkotika Propinsi (BNP) dan untuk tingkat kabupaten dan kota dibentuk Badan Narkotika Kabupaten / Kota (BKK), pemerintah juga membuat UU No. 22 tahun 1997 dan UU No. 5 tahun 1997 tentang Narkotika dan Psikotropika. Tetapi kejahatan narkoba terus meningkat.

(6)

vii

(7)

viii

ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ

ﻦﲪﺮﻟﺍ

ﺍ

ﻢﺴﺑ

KATA PENGANTAR

Sebagai ekspresi rasa syukur, penulis panjatkan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan karunia Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas penelitian ini dengan baik tulisan ini, sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar doktor dalam Ilmu Agama Islam pada Program Studi Syari'ah Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sanak keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat. Amin.

(8)

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang nyata-nyata telah membimbing dan menuntun penulis melalui materi perkuliahan, sehingga penulis mempunyai bekal dalam penulisan disertasi ini; Pimpinan dan staf Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah, perpustakaan Pascarsarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Perpustakaan BPHN, Perpustakaan Iman Jama’ dan perpustakaan LIPIA Jakarta yang telah memberikan kemudahan-kemudahan fasilitas kepada penulis dalam mencari referensi yang relevan; rekan-rekan mahasiswa/i program studi Syariah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selalu memberikan saran-saran dan motivasi kepada penulis dalam meraih cita-cita.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada seluruh pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan semuanya, yang telah turut membantu dalam menyelesaikan disertasi ini.

Penulis berdo'a semoga segala amal saleh seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian disertasi ini dibalas oleh Allah SWT, dengan pahala yang berlipat ganda.

Jakarta,

Shafar 1224 H April 2004 M

(9)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL LUAR

HALAMAN SAMPUL DALAM ... i

TIM PENGUJI DISERTASI... ii

PERSETUJUAN TIM PENGUJI ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN TRANSLITERASI ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI …. ... x

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 15

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 16

D. Tinjauan Pustaka ... 17

E. Metode Penelitian ... 19

F. Sistematika Penulisan... 21

BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PIDANA MENURUT ILMU FIQIH DAN ILMU HUKUM ... 24

A. Hukum Pidana dalam Perspektif Ilmu Fiqih... 24

1. Pengertian Pidana dalam Islam ... 24

2. Pengertian Tindak Pidana dalam Islam... 25

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana dalam Islam... 28

4. Kategorisasi Tindak Pidana dalam Islam... 30

(10)

xi

6. Hukuman dalam Hukum Pidana Islam ... 70

7. Tujuan Hukuman dalam Pidana Islam... 74

B. Hukum Pidana dalam Persepektif Ilmu Hukum... 77

1. Pengertian Pidana... 77

2. Pengertian Tindak Pidana ... 78

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 80

4. Kategorisasi Tindak Pidana ... 83

5. Sumber Hukum Pidana Nasional ... 87

6. Hukuman dalam Hukum Pidana Nasional... 89

7. Tujuan hukuman dalam Hukum Pidana Nasional... 91

BAB III. PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN NARKOBA ... 94

A. Pengertian Narkoba ... 94

1. Menurut Hukum Pidana Islam... 94

2. Menurut Hukum Pidana Nasional ... 99

B. Jenis-Jenis Narkoba... 102

C. Peralatan yang Dipakai untuk Narkoba ... 114

D. Penyalahgunaan Narkoba dalam Lintasan Sejarah ... 115

E. Tanda-Tanda Seseorang telah Menjadi Pemakai Narkoba ... 125

F. Gejala Ketagihan Narkoba ... 127

G. Penyebab Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkoba... 128

H. Akibat Zat Aktif Narkoba Terhadap Mental dan Perilaku... 135

(11)

xii

BAB IV. TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA

NASIONAL TENTANG PENYALAHGUNAAN NARKOBA.... 151

A. Status Hukum Penyalahgunaan Narkoba... 151

1. Status Hukum Pemakai, Produser dan Pengedar Narkoba menurut Hukum Pidana Islam ... 151

2. Status Hukum Pemakai, Produser dan Pengedar Narkoba Menurut Hukum Pidana Nasional ... 161

B. Sanksi Hukum Bagi Pelaku Penyalahgunaan Narkoba... 165

1. Menurut Hukum Pidana Islam ... 165

2. Menurut Hukum Pidana Nasional... 171

C. Analisis Perbandingan... 214

1. Perbandingan antara Ilmu Fiqih dan Ilmu Hukum tentang Hukum Pidana ... 214

2. Perbandingan Pendapat Fuqaha tentang Narkoba………….. . 220

3. Perbandingan antara Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional tentang Narkoba... 226

BAB V. PENUTUP... 232

A. Kesimpulan ... 232

B. Saran-Saran ... 236

DAFTAR PUSTAKA ... 241

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR ISTILAH

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional Indonsia bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera dan damai berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera tersebut perlu peningkatan secara terus menerus usaha-usaha di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan termasuk ketersediaan Narkoba sebagai obat, di samping usaha pengembangan ilmu pengetahuan meliputi penelitian, pengembangan, pendidikan dan pengajaran sehingga ketersediaannya perlu dijamin melalui kegiatan produksi dan impor.

Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, yang dilakukan melalui berbagai upaya kesehatan, diantaranya penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

(13)

dengan standar pengobatan, terlebih jika disertai dengan peredaran Narkoba secara gelap akan menimbulkan akibat yang sangat merugikan perorangan ataupun masyarakat khususnya generasi muda, bahkan dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan melemahkan ketahanan nasional.

Penyalahgunaan Narkoba adalah pemakaian Narkoba di luar indikasi medik, tanpa petunjuk atau resep dokter, dan pemakaiannya bersifat patologik (menimbulkan kelainan) dan menimbulkan hambatan dalam aktifitas di rumah, sekolah atau kampus, tempat kerja dan lingkungan sosial. Ketergantungan Narkoba adalah kondisi yang kebanyakan diakibatkan oleh penyalahgunaan zat yang disertai dengan adanya toleransi zat (dosis semakin tinggi) dan gejala putus zat.1

Semua zat yang termasuk kategori Narkoba; ganja, opiat (morphine, heroin, putaw), kokain, alkohol (minuman keras), amphetamine (ekstasi, shabu-shabu), sedative/hipnotika (nitrazepam, barbiturat) menimbulkan adikasi (ketagihan) yang nantinya dapat berakibat dependensi (ketergantungan) yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

____________________ 1

Lutfi Baraza, Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Narkoba, Makalah Seminar Narkoba

(14)

1. Keinginan yang tak tertahankan (an overpowering desire) terhadap zat yang dimaksud;

2. Kecenderungan untuk menambah takaran (dosis);

3. Ketergantungan psikologis, yaitu apabila pemakaian zat dihentikan maka akan menimbulkan gejala kejiwaan;

4. Ketergantungan fisik, yaitu bila pemakaian zat dihentikan akan menimbulkan gejala fisik (gejala putus obat).2

Permasalahan penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika dan obat berbahaya (Narkoba) mempunyai dimensi yang luas dan kompleks, baik dari sudut medis, maupun psikososial (ekonomi, politik, sosial, budaya, kriminalitas, kerusuhan masal dan lain sebagainya). Sering kali terjadi di masyarakat, dampak dari penyalahgunaan/ ketergantungan Narkoba antara lain; merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar dan produktivitas kerja secara drastis, sulit membedakan mana perbuatan baik maupun perbuatan buruk, perubahan perilaku menjadi perilaku anti sosial (perilaku maladaptif), gangguan kesehatan (fisik dan mental), mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, tindak kekerasan dan kriminalitas lainya.3

____________________ 2

Ibid.

3Dadang Hawari, Konsep Islam Memerangi AIDS dan NAZA (Yogyakarta: Dhana Bakti

(15)

Yang memperihatinkan masyarakat yang menjadi korban Narkoba adalah anak-anak yang masih tergolong anak usia sekolah. Data yang diperoleh pada tanggal 14 Agustus 2002 menunjukkan bahwa anak usia sekolah yang ditahan di rumah tahanan (Rutan) Pondok Bambu dengan kasus Narkoba berjumlah 300 orang, anak usia sekolah yang ditahan di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Anak Pria Tangerang dengan kasus Narkoba berjumlah 72 orang, yang ditahan di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Anak Wanita Tangerang berjumlah 4 orang, bahkan pada tanggal 17 Agustus 2002 media elektronika, stasiun televisi Metro menyiarkan bahwa pada tahun 2002 secara umum data kasus Narkoba yang mengenai anak-anak meningkat 30% dibanding tahun sebelumnya.4

Yang memperihatinkan juga adalah korban penyalahgunaan Narkoba pada umumnya remaja dan dewasa muda 16 – 25 tahun, justru mereka sedang dalam usia produktif dan merupakan sumber daya manusia atau aset bangsa di kemudian hari.5 Kondisi ini sangat memperihatinkan sekali karena kalau tidak bisa diatasi jelas akan merusak generasi muda Indonesia dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia, bangsa dan negara.

____________________ 4

Mahdiah, Hak Asasi Manusia Untuk Anak Usia Sekolah Korban Narkoba (TT: Direktorat Jenderal Perlindungan HAM, Departemen Kehakiman dan HAM RI, 2002), hal. 13.

(16)

Apalagi kejahatan Narkoba telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi canggih. Peredaran Narkoba, secara ilegal di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini, semakin meningkat. Indonesia yang pada mulanya sebagai negara transit perdagangan Narkoba kini sudah dijadikan daerah tujuan operasi oleh jaringan Narkoba internasional. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengedar berkebangsaan asing yang tertangkap berikut dengan penyitaan barang bukti Narkoba dalam jumlah besar.6

Pada awalnya Narkoba di Indonesia pertama kali berasal dari dan dibawa oleh para pedagang Cina, dan saat ini Narkoba di Indonesia berasal dari Golden Triagle (Burma, Laos, Muangthai), Afganistan, Pakistan, Meksiko, RRC bagian Selatan, dan dari dalam negeri Indonesia sendiri berasal dari Aceh yang merupakan pusat peredaran ganja. Dan saat ini Indonesia bukan hanya sebagai sasaran pengedar internasional, tetapi juga sudah sebagai eksportir, hal ini didukung oleh penemuan pabrik ekstasi di Bintaro yang oleh DEA (Drug Enforcement Administration) Amerika Serikat

____________________

6Lihat Kata Pengantar dalam UU Narkotika & Psikotropika (Jakarta: Penerbit Sinar

(17)

dan BNN (Badan Narkotika Nasional) dianggap sebagai pabrik terbesar di Indonesia dan di dunia.7

Saat ini di Indonesia sendiri terdeteksi pemakai Narkoba sekitar 3.000.000 (tiga juta) orang, dan ini mungkin yang hanya di permukaan, karena jumlah pemakai Narkoba seperti fenomena gunung es, yang terlihat hanya sedikit puncaknya, namun dasarnya atau bawahnya lebih besar.8

Peredaran Narkoba di dalam negeri hampir meliputi seluruh kota-kota besar sampai sejumlah desa-desa, dan sebagai tempat transaksinya biasanya tempat hiburan (diskotik, karaoke), lingkungan kampus, hotel, apartemen, dan tempat kumpul remaja, seperti mall, pusat belanja dan lain-lain.9

Peningkatan kwantitas penyalahgunaan Narkoba dari data rumah sakit ketergantungan obat Rumah Sakit Fatmawati Jakarta mengalami peningkatan. Tahun 1995 terjadi 2.645 kasus kunjungan rawat, tahun 1997 terjadi 3.659 kasus kunjungan rawat, tahun 1998 terjadi 5.000 kasus kunjungan rawat dan tahun 1999 (Juli) terjadi 7.200 kasus kunjungan rawat.

____________________ 7

Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan, “Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba oleh

Masyarakat Sekolah”, (Jakarta : Depag RI, 2003), hal. 48.

8 Ibid.

9 Togar M. Sianipar, Perkembangan Kejahatan NarkobaMakalah dalam seminar Narkoba

(18)

Jumlah di atas banyak terjadi pada korban dengan rentang usia 15-19 tahun, dan aktif sebagai siswa di SLTP dan SLTA menduduki peringkat kedua terbesar setelah rentang usia 20-24 tahun.10

Pasien penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntikan yang terinveksi HIVpun meningkat, yaitu pada tahun 1999 berjumlah 18% dan pada tahun 2000 menjadi 41% dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 50%.11

Peningkatan kualitas jenis Narkoba yang digunakan semakin variatif. Tahun 1969 dan seterusnya jenis canabis (ganja), tahun 1991 jenis luminal, morphin, rohypnol dan nipam, tahun 1992 jenis canabis dan ectacy dan tahun 1994 jenis putaw, shabu-shabu dan cocain.12

Dengan demikian, menurut Direktorat pelayanan rehabilitasi sosial korban Narkoba, dalam kurun tiga tahun terjadi peningkatan 400%. Dari pihak kepolisian Republik Indonesia, dilaporkan pula adanya peningkatan jumlah penyalahgunaan Narkoba. Kasus penyalahgunaan Narkoba pada tahun 1997 baru tercatat sebanyak 662 kasus. Pada tahun 1998 mengalami kenaikan

____________________ 10

Kanwil Depdiknas DKI Jakarta, Kami Peduli Penanggulangan Bahaya Narkoba (Jakarta: PT. Kloang Klede Putra Timur, 2001), hal. 12.

11

Mawardi Djamaludin, Makalah : Sosialisasi Rancangan Undang-undang atas Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tanggal 22 Juli 2003.

(19)

sebesar 54, 01%, menjadi 958 kasus. Pada tahun 1999 meningkat lagi menjadi 1.883 kasus atau mengalami kenaikan sebesar 91, 33%.13

Terjadi peningkatan pula dalam jumlah maupun jenis Narkoba yang beredar. Hal dapat dilihat dari hasil tangkapan bea dan cukai sepanjang tahun 1998 dan tahun 1999. Sepanjang tahun 1998, pihak bea dan cukai telah berhasil memergoki belasan usaha penyelundupan Narkoba. Narkoba yang berhasil disita terdiri dari 15.980 kg heroin, 993 butir ectasy, 301 gr shabu-shabu dan 30 kg ganja, yang bernilai total 6,5 Milyar Rupiah. Pada tahun 1999 mengalami peningkatan, yakni mencapai 11 milyar Rupiah, tetapi komposisinya berubah, yakni heroin sebanyak 6.575 kg, ectasy sebanyak 54.872 butir dan shabu-shabu sebanyak 27.610 gr. Sehingga diperkirakan pada saat ini di Jakarta saja omzet Narkoba dalam sehari mencapai 260-760 milyar Rupiah.14

Diperkirakan sampai tahun 2000, 80% pecandu Narkoba (heroin) menggunakan alat suntik. 10-40% dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS dan 70-80% terinfeksi hepatitis C.15

____________________ 13

Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan, Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba oleh

Masyarakat Sekolah (Jakarta: Depag RI, 2003), hal. 81-82.

14 Ibid.

15

(20)

Saat ini pemerintah mulai serius menangani masalah Narkoba. Sikap serius ini tampak dari dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) tentang Badan Narkotika Nasional (BNN)16 tanggal 22 Maret 2002. Keppres Nomor 17 Tahun 2002 ini merupakan pengganti Keppres Nomor 116 Tahun 1999 tentang Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN). Ketua BNN dijabat oleh eks officio, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar. Hal ini seperti dikemukakan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menneg PAN) Feisal Tamin kepada wartawan, usai bertemu Wapres Hamzah Haz di Istana Merdeka Selatan Jakarta, Selasa (26/3).17

Menanggapi pembentukan BNN, Wakil Presiden menyatakan bahwa dalam penanganan peredaran narkotika hendaknya tidak saling menyalahkan antara satu instansi dengan lainnya. Putusan Pengadilan Negeri Tangerang yang pernah menjatuhkan hukuman mati pada pelaku pengederan narkotika harus dijadikan contoh.18

Penamaan BNN memang tidak menyebutkan kata anti karena pada dasarnya narkotika bermanfaat dan diperlukan untuk pelayanan kesehatan

____________________ 16

Konsep BNN mengikuti suatu badan milik pemerintah Amerika Serikat yang bernama DVG (Drug Enforcement Administration), yang bertugas mengurangi pengedaran Narkoba seminimal mungkin. Lihat Ibid., hal. 33.

17

Lihat Kompas, Kamis 28 Maret 2002, hal. 10.

(21)

serta pengembangan ilmu pengetahuan. Tapi jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, apalagi jika disertai dengan perederan narkotika secara gelap, akan merugikan.

Menurut Feisal Tamin, BNN adalah lembaga nonstruktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Lembaga non struktural merupakan suatu lembaga yang berbentuk forum yang ditunjang oleh suatu sekretariat. Materi Keppres No 17/2002 tetap mengacu kepada UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, yaitu menekankan pada tugas melaksanakan koordinasi dengan instansi pemerintah terkait dalam rangka ketersediaan, pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.19

Agar tugas BNN lebih operasional dibentuk satuan tugas yang terdiri dari 25 instansi pemerintah terkait sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Instansi pemerintah itu antara lain; Depsos, Depkeu, Depdiknas, Depdagri, dan Polri. Di Provinsi dan kabupaten/kota dapat dibentuk Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan Badan Narkotika Kabupaten /kota (BNK) yang ditetapkan oleh gubernur, bupati/walikota. ____________________

(22)

Kewenangan Badan Narkotika Nasional (BNN) semula hanya bersifat koordinatif ditingkatkan menjadi kewenangan yang bersifat operasional bersama-sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan instansi pemerintah yang terkait, untuk melakukan upaya pencegahan, penanggulangan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, dan melakukan koordinasi dalam pelaksanaan rehabilitasi medis dan sosial bagi pasien ketergantungan narkoba.20

BNN selain bertanggung jawab langsung di bawah Presiden juga bersifat mandiri dengan diberikan anggaran tersendiri dan ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan khusus dalam penanganan Narkotika. Badan ini juga diberi kewenangan untuk memberikan premi kepada anggota masyarakat baik yang telah berjasa mengungkap adanya tindak pidana narkotika maupun telah berjasa dalam upaya-upaya preventif, rehabilitatif, kuratif, dan promotif bagi para korban pengguna dan penyalahguna Narkotika.21

Keseriusan upaya pemerintah dalam hal penanggulangan bahaya Narkoba dapat juga diperhatikan dalam kenyataan diundangkannya Undang-____________________

20

Lihat Rancangan Penjelasan Undang-undang atas Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997, hal. 2

21

(23)

Undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika22, Undang-Undang Republika Indonesia No. 7 tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances, 1988 (konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1988), Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1996 tentang Pengesahan Convention on Psychotropic Substances

1971 (Konvensi Psikotropika 1971), Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 785 / Menkes / Per / VII / 1997 tentang Ekspor dan Impor Psikotropika, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 853 / Menkes / SK /X / 1993 tentang Penunjukan Laboratorium Pemeriksaan Cairan Tubuh untuk mendeteksi adanya narkotika dan zat adiktif lainnya sebagai penunjang diagnosis penyalahgunaan zat.

Semakin kompleksnya permasalahan Narkoba seperti yang telah penulis jelaskan di atas, melatarbelakangi penulis untuk meneliti Penyalahgunaan Narkoba dalam Perspektif Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional. Apalagi Narkoba dalam konteks hukum Islam adalah

____________________ 22

(24)

termasuk masalah `ijtihâdî, karena Narkoba tidak disebutkan secara langsung dalam al-Qur'an dan al-Sunnah serta tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW. ketika itu yang ada di tengah-tengah masyarakat adalah peminum

khamr.23

Yang penulis maksud dengan hukum pidana Islam yaitu ilmu yang berkenaan dengan larangan-larangan syara’ yang diancam oleh Allah SWT dengan hukuman had atau ta’zir yang diperoleh atau digali dari al-Qur`an dan Hadis atau lazim disebut fiqih jinayah. Sedangkan yang penulis maksud dengan hukum pidana nasional yaitu hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran, kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum dan perbuatan yang diancam dengan hukuman seperti yang diatur di dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.24

____________________

23 Khamr dalam al-Qur'an diharamkan secara gradual (bertahap). Tahap pertama; turun Q.S.

al-Baqarah: 219, tahap kedua, turun Q.S. al-Nisa`: 43 dan pada tahap ketiga (tahap pengharaman secara tegas turun Q.S. al-Maidah: 90 – 91. Lihat Muhammad Khudari Bik, Târîkh Tasyî’ al-`Isâlmî, (Surabaya: Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan wa `Awlâduhu, T.Th.), hal. 20 – 21.

24 Definisi hukum pidana Islam di atas sebetulnya merupakan definisi yang telah

(25)

Penulis ingin mendalami lebih lanjut tentang penyalahgunaan narkoba dalam perspektif Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional terutama tentang bahayanya, sanksi hukumnya dan unsur persamaan dan perbedaan antara kedua sistim hukum tersebut. Apalagi sumber-sumber kepustakaan dan referensi ilmiyah tentang hal itu cukup tersedia di perpustakaan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Narkoba sebagai permasalahan yang kompleks, dapat dijadikan bahan kajian dan dapat ditinjau dari berbagai aspek seperti aspek medis (kedokteran), sosial keagamaan, penanggulangan, rehabilitasi, hukum, fiqih dan seterusnya. Sedangkan kajian dalam tulisan ini sesuai bidang penulis difokuskan pada kajian penyalahgunaan Narkoba dalam persepektif hukum pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional.

Adapun masalah yang akan diteliti dalam disertasi ini adalah:

1. Bagaimana pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional tentang pelaku penyalahgunaan narkoba, bahayanya dan sanksinya?

(26)

C . Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan yang ingin dihasilkan dalam penelitian Disertasi ini adalah:

1. Untuk mengetahui pola pikir dan argumentasi yang dikemukakan oleh fuqaha, yang merupakan penyebab perbedaan pendapat dalam menetapkan sanksi hukum bagi pelaku penyalahgunaan Narkoba sehingga dapat dicarikan tarjih25 hukumnya;

2. Untuk mengetahui sanksi hukum materil yang berlaku di negara Republik Indonesia terhadap pelaku penyalahgunaan Narkoba;

3. Untuk mengetahui bahaya dan akibat zat aktif Narkoba terhadap mental dan perilaku;

4. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara hukum pidana Islam dengan hukum pidana nasional terhadap Narkoba dan pelaku penyalahgunaan Narkoba.

____________________ 25

(27)

Kegunaan dan manfaat/signifikansi penelitian Disertasi ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiyah dalam bidang hukum penyalahgunaan Narkoba, mengingat kejahatan Narkoba telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi canggih.

2. Penelitian ini diharapkan menjadi inspirasi dalam rangka konseptualisasi kejahatan narkoba, khususnya mengenai sanksi hukum , sehingga terwujud Negara Indonesia yang tegas terhadap pelaku penyalahgunaan Narkoba 3. Penelitian ini diniscayakan berguna bagi pengambil kebijakan mengenai

perlu tidaknya Undang-undang tentang Narkotika dan psikotropika direshuffle disesuaikan dengan kondisi dan parkembangan masyarakat. 4. Penelitian ini diharapkan menjadi sumber inspirasi peneliti yang akan

meneliti kejahatan Narkoba.

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian dan kajian tentang Narkoba banyak dilakukan oleh ulama, intelektual dan akademisi. Kajian tentang Narkoba telah ditulis oleh para ulama. Hal ini dapat ditemukan dalam kitab al-Muskirât wa al-Mukhaddirât baina al-Syarî'ah wa al-Qânûn karya Azat Husnain, kitab Majmû’ al Fatâwâ

(28)

al-Hasary dan kitab al-Fiqh al-`Islâmî wa `Adillatuhu karya Dr. Wahbah al-Zuhaili.

Kajian mereka pada umumnya menyoroti Narkoba berdasarkan satu madzhab fiqih atau terkadang lebih dari satu madzhab fiqih, tetapi tidak dengan pendekatan perbandingan (komparatif).

Kajian tentang Narkoba pun telah ditulis pula oleh para intelektual dan akademisi nasional. Hal ini dapat ditemukan dalam buku Narkotika dan Remaja Karya Drs. D. Soejono, SH, buku Konsep Islam memerangi AIDS dan NAZA karya Prof. DR. dr. H. Dadang Hawari, buku Gangguan Penggunaan Zat, Narkotika, alkohol dan Zat Adiktif lain karya Dr. Satya Jaewana, buku Narkotika: Masalah dan Bahayanya karya M. Ma'ruf Ridha, buku Penanggulangan Bahaya Narkotika dan Ketergantungan Obat karya Sumarno Ma'sum, buku Memahami Masalah Narkotika sebagai Masalah Nasional karya Sitanggang, BA, buku Perang Total Melawan Narkotika karya Soekarno, dan buku kejahatan narkotika dan psikotropika karya Dr. Andi Hamzah, SH. Kajian mereka pada umumnya menyoroti Narkoba dari aspek medis, sosial keagamaan, penanggulangan, rehabilitasi dan hukum.

(29)

spesifik mengkaji bahaya akibat zat aktif Narkoba terhadap mental dan perilaku, dan pendapat fuqaha dan perbandingan ilmu fiqih dengan ilmu hukum tentang penyalahgunaan Narkoba.

E. Metode Penelitian

1. Pendekatan

Mengingat subyek penelitian berupa penyalahgunaan Narkoba dalam perspektif Hukum Pidana Islam (baca: fiqih jinayah) yang bersumber pada wahyu, dan dalam perspektif Hukum Pidana Nasional, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif-teologis-yuridis. Sisi normatifitas-teologisnya terletak pada norma-norma hukum Islam (fiqih jinayah) yang di istinbâth kan dari wahyu baik dari al-Qur`an maupun dari Hadis Nabi. Karena itu pendekatan dalam penelitian ini dapat digolongkan pada penelitian kewahyuan. Sedangkan sisi normatifitas-yuridisnya terletak pada norma-norma hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia.

2. Jenis Penelitian dan Sumber Data

(30)

penelitian ini masuk ke dalam kategori jenis penelitian kepustakaan (library research). Oleh karena itu, penulis mengumpulkan data-data yang diperlukan baik data primer maupun data sekunder. Data primer yang dikumpulkan terdiri dari karya-karya yang ditulis oleh para ulama, intelektual dan akademisi yang bersifat otoritatif. Sedangkan sumber sekunder mencakup makalah, majalah dan surat kabar mengenai penyalahgunaan Narkoba.

3. Teknik Analisa Data

Data yang ditemukan akan dianalisis dengan menempuh tiga metode analisis, yaitu induktif, deduktif dan komparatif. Menurut Jacob Vredenbergt, analisis induktif adalah menarik kesimpulan-kesimpulan terhadap hubungan antara gejala-gejala sosial. Kesimpulan yang ditarik bersifat umum dan didasarkan atas sejumlah kesimpulan khusus. Sedangkan analisis deduktif berhubungan dengan penarikan kesimpulan dengan cara menjabarkan kesimpulan khusus dari kesimpulan umum.26 Menurut Muhammad Nazir, analisis komparatif adalah metode untuk membandingkan

____________________

22 Jacob Vredenbergt, Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat ( Jakarta: PT Gramedia,

1984), cet. vi hal .35-36. lihat juga Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer

(31)

faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis untuk memperlihatkan unsur-unsur perbedaan dan persamaannya.27

Analisis induktif digunakan untuk menganalisis data-data yang terkait dengan perbedaan argumentasi dan pandangan para ulama dan pakar, sedangkan analisis deduktif digunakan untuk menganalisis data-data yang terkait dengan norma-norma hukum baik yang tertera dalam al-Qur`an dan Hadis Nabi maupun dalam perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang berlaku di Negara Republik Indonesia, yang diperoleh dari riset kepustakaan. Dan analisis komparatif akan digunakan untuk membandingkan antara ketentuan-ketentuan hukum yang terkait dengan penyalahgunaan Narkoba, yang terdapat dalam Hukum Pidana Islam dan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia, sehingga dapat diketahui perbedaan dan persamaan antara Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Nasional.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Disertasi ini terdiri dari lima bab. Bab pertama, merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

____________________

27Muhammad Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 1998), cet iii., hal.

(32)

Bab kedua, membahas tinjauan umum tentang hukum pidana menurut ilmu fiqih dan ilmu hukum; hukum pidana dalam perspektif ilmu fiqih yang terdiri dari; pengertian pidana dalam Islam, pengertian dan unsur-unsur tindak pidana dalam Islam, kategorisasi hukum pidana dalam Islam, sumber hukum pidana dalam Islam, hukuman dalam hukum pidana Islam, tujuan penghukuman dalam hukum pidana Islam, dan hukum pidana dalam perspektif ilmu hukum yang terdiri dari; pengertian pidana, pengertian tindak pidana, unsur-unsur tindak pidana, macam-macam tindak pidana, sumber hukum pidana, hukuman dalam hukum pidana dan tujuan hukuman dalam hukum pidana.

Bab ketiga, penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba yang terdiri dari; pengertian Narkoba menurut hukum pidana Islam dan hukum pidana nasional, jenis-jenis Narkoba, peralatan yang dipakai untuk Narkoba, penyalahgunaan Narkoba dalam lintasan sejarah, tanda-tanda seseorang telah menjadi pemakai Narkoba, gejala ketagihan Narkoba, penyebab penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba, dan akibat zat aktif Narkoba terhadap mental dan perilaku dan penanggulangan penyalahgunaan Narkoba.

(33)

menurut hukum pidana Islam dan hukum pidana, dan perbandingan antara hukum pidana Islam dan hukum pidana nasional tantang Narkoba.

(34)

24

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PIDANA

MENURUT ILMU FIQIH DAN ILMU HUKUM

A. Hukum Pidana dalam Perspektif Ilmu Fiqih

1. Pengertian Pidana dalam Islam

a. Pengertian Secara Etimologis

Pidana Islam dalam kosa kata bahasa Arab adalah ‘uqûbah

(

ﺔﺑﻮﻘ

ﻌﻟﺍ

)

.

‘Uqûbah, menurut bahasa, berkedudukan sebagai `isim mashdar yang berasal dari kata

ﺎﺑﺎﻘﻋ

،ﺔﺑﻮﻘﻋ

،ﺐﻘﻌﻳ

،ﺐﻘﻋ

yang berarti

ﺮﺸﻟﺎ

ﺀﺍﺰ

ﳉﺍ

, yaitu pembalasan dengan keburukan (siksaan)1, hukuman, pidana, balasan dan menahan.2

b. Pengertian Secara Terminologi

Pengertian pidana Islam secara terminologi, yaitu:

ﻘﻌﻟﺍ

ﻰﻠﻋ

ﺔﻋﺎﻤﳉﺍ

ﺔﺤﻠﺼﳌ

ﺭﺮﻘﳌﺍ

ﺀﺍﺰﳉﺍ

ﻰﻫ

ﺔﺑﻮ

ﻥﺎﻴﺼ

ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ

ﺮﻣﺍ

3

Artinya: Pidana adalah balasan yang ditetapkan untuk kemaslahatan umat terhadap pelanggaran perintah Syâri’ (Allah SWT dan RasulNya). Dalam definisi lain, yaitu:

1

Lowis Ma'lûf, al-Munjid f î al-Lughah wa al I'lâm (Beirût: Dâr al Masyriq, 1975), hal. 518.

2

Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Progresif, T.Th.) cet. I, hal. 1022-1023

3

(35)

ﻘﻌﻟﺍ

ﺰﺟ

ﻰﻫ

ﺔﺑﻮ

ﺀﺍ

ﻙﺮﺗﻭ

ﻪﻨﻋ

ﻰﺎﻣ

ﺏﺎﻜﺗﺭﺍ

ﻦﻋ

ﻉﺩﺮﻠﻟ

ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ

ﻪﻌﺿ

ﺎﻣ

ﻪﺑﺮﻣﺃ

4

Artinya: ‘Uqûbah adalah balasan yang dibuat oleh Syâri' (Allah SWT dan RasulNya) untuk menolak atau mencegah dari mengerjakan perbuatan yang dilarang, dan meninggalkan perbuatan yang diperintah.

Berdasarkan definisi di atas, menurut penulis, pidana dalam Islam harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Sanksi itu adalah produk Allah SWT.

2. Sanksi bertujuan untuk kemaslahatan ummat.

3. sanksi itu dibuat untuk orang yang melanggar perintah Allah SWT atau larangannya.

2. Pengertian Tindak Pidana dalam Islam

a. Pengertian Secara Etimologis

Tindak pidana dalam hukum Islam disebut jarîmah

(

ﳝﺮﳉﺍ

)

atau jinâyah

)

ﳉﺍ

ﻪﻳﺎﻨ

(

. Secara etimologi jarîmah adalah:

ﺮﳉﺍ

ﺄﻄﳋﺍﻭ

ﺐﻧﺬﻟﺍﻭ

ﻡﺮﳉﺍ

ﻲﻫ

ﺔﳝ

5

Artinya: Jarîmah yaitu melukai, berbuat dosa dan kesalahan.

4

Ahmad Fatih Bahnasi, al-Siyasah al-Jinâ`yiyah fî al-Syarî'ah al-`Islâmiyyah (Mesir: Dâr al- ‘Arabah, 1165), hal. 213.

(36)

Menurut Ahmad Warson Munawir, jarîmah secara etimologis berarti berbuat dosa atau kesalahan, berbuat kejahatan dan delik.6

b. Pengertian Secara Terminologis

Pengertian: Jarîmah secara terminologi adalah:

diancam oleh Allah SWT., dengan hukuman had atau ta'zîr.

Larangan-larangan tersebut adakalanya berupa mengerjakan perbuatan yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Dengan perkataan syara' pada pengertian tersebut di atas, yang dimaksud bahwa sesuatu perbuatan baru dianggap jarîmah apabila dilarang oleh syara'. Juga perbuatan atau tidak berbuat dianggap sebagai jarîmah, kecuali apabila diancam hukuman terhadapnya.

Para fuqahâ sering memakai kata jinâyah untuk maksud jarîmah. Menurut Abdul Qadir Audah, jinâyah secara etimologis adalah:

ﻨﳉﺍ

Artinya: Jinâyah adalah nama (sebutan) orang yang berbuat tindak pidana (delik) atau orang yang berbuat kejahatan.

Dalam definisi lain ia mengemukakan sebagai berikut:

6

Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab Indonesia, hal. 201.

7

Abd. al-Qadir ‘Audah, al-Fiqh al- Jinâ'i al-`Islâmî (Qâhirah: Dâr al-Turâts, T.Th.), jilid i, hal. 67, lihat pula Al Mawardi. Al Ahkâm Al Sulthânniyyah, hal. 70.

(37)

ﻨﳉﺍ

baik perbuatan yang mengenai jiwa orang, harta atau lainnya.

Sayid Sabiq memberikan definisi jinâyah sebagai berikut:

ﻨﳉﺍ

dan perbuatan yang diharamkan adalah setiap perbuatan yang dilarang oleh Allah (Syâri'), karena ada bahaya yang menimpa agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta.

Dengan memperhatikan definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa kata-kata jinâyah dalam istilah fuqahâ dianggap sama dengan kata-kata jarîmah. Sehingga definisi tindak pidana dalam Islam adalah setiap perbuatan yang diharamkan atau dilarang oleh Allah SWT dan RasulNya, yang membahayakan agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta, serta diancam oleh Allah SWT dengan hukuman had atau ta'zîr.

Berdasarkan definisi di atas, menurut hemat penulis, bahwa perbuatan seseorang dianggap sebagai perbuatan pidana apabila mempunyai kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Perbuatan itu diharamkan atau dilarang oleh syari’at

9

Ibid., hal. 67.

(38)

2. Perbuatan itu berbahaya bagi agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta.

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana Dalam Islam

Sebagaimana disebutkan di atas, pengertian jarîmah ialah larangan-larangan Syara' yang diancam hukuman had atau hukuman ta'zîr. Larangan tersebut adakalanya berupa perbuatan yang diharamkan, atau meninggalkan yang disuruh. Juga telah disebutkan, bahwa dengan penyebutan kata-kata "Syara'", dimaksudkan bahwa larangan-larangan harus datang dari ketentuan-ketentuan (nash-nash) Syara', dan berbuat atau tidak berbuat baru dianggap sebagai jarîmah, apabila diancam hukuman terhadapnya.

Karena perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut datang dari Syara' maka perintah-perintah dan larangan-larangan itu hanya ditujukan kepada orang yang berakal sehat dan dapat memahami pembebanan (taklîf), sebab pembebanan itu artinya panggilan (khitâb), dan selain orang seperti hewan dan benda-benda mati tidak dapat memahami, dengan begitu tidak mungkin menjadi obyek panggilan tersebut.

(39)

Oleh karena itu sukar diberi pembebanan (taklîf), karena untuk memahami pembebanan tersebut, bukan saja diperlukan pengertiannya terhadap pokok panggilan, tetapi juga diperlukan pengertiannya terhadap perincian-perinciannya.

Dari statemen di atas, setiap jarîmah harus mempunyai unsur-unsur umum yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Ada nash yang melarang tindak pidana dan ada pula sanksi hukumnya. Ini kami namakan dalam istilah undang-undang dengan rukn syar'i (unsur formil) untuk jarîmah.

2. Adanya perbuatan yang berbentuk jarîmah, baik berupa perbuatan atau sikap tidak berbuat. Ini kami menamakannya dengan rukn mâdî (unsur materil) untuk jarîmah.

3. Adanya pelaku tindak pidana tersebut adalah orang yang mukallaf

(cakap hukum), yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungan jawabannya. Ini kami menamakannya dengan rukn `adabî (unsur moril). Menurut hemat penulis, ketiga unsur tersebut adalah satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan. Bila salah satu dari tiga unsur tersebut tidak ada maka seseorang yang melakukan tindak pidana tidak bisa diberikan atau dijatuhi sanksi hukum.

(40)

4. Kategorisasi Tindak Pidana Dalam Islam

Jarîmah dapat berbeda, menurut perbedaan cara meninjaunya:

a. Dilihat dari segi berat ringannya hukuman, jarîmah dibagi menjadi tiga, yaitu

jarîmahhudûd, jarîmahqishâsh diyât, dan jarîmah ta'zîr.

b. Dilihat dari segi niat si pembuat, jarîmah dibagi dua, yaitu: jarîmah sengaja dan jarîmah tidak sengaja.

c. Dilihat dari segi cara mengerjakannya, jarîmah dibagi menjadi jarîmah positif dan jarîmah negatif.

d. Dilihat dari orang yang menjadi korban (yang terkena) akibat perbuatan,

jarîmah dibagi menjadi jarîmah perseorangan dan jarîmah kelompok (masyarakat).

e. Dilihat dari segi tabiatnya yang khusus, jarîmah dibagi menjadi jarîmah biasa dan jarîmah politik.

Untuk lebih jelasnya penggolongan-penggolongan tersebut akan penulis jelaskan berikut ini :

a. Jarîmah Hudūd, Qishâsh, Diyât dan Ta'zîr

Penggolongan tersebut didasarkan atas berat ringannya hukuman.

(41)

Had (hudûd) secara etimologis mempunyai banyak arti, yaitu batasan sesuatu (ﺀﻰﺸﻟﺍ ﻰﻬﺘﻨﻣ) sesuatu yang telah ditentukan (ﲔﻌﳌﺍ ﺀﻰﺸﻟﺍ), hukuman (ﺔﺑﻮﻘﻌﻟﺍ), larangan (ﻉﻮﻨﻤﳌﺍ) dan marah(ﺐﻀﻐﻟﺍ). 12

Sedangkan pengertian hudûd secara terminalogis adalah:

Artinya : Had (hudûd) adalah hukuman yang telah ditentukan sebagai hak Allah SWT. Dan arti ‘uqûbah muqaddarah adalah bahwa hukuman telah dibatasi, ditentukan, tidak ada pada hukuman itu batasan terendah dan batasan tertinggi. Artinya bahwa hukuman itu adalah hak Allah SWT, dan bahwa hukuman itu tidak bisa digugurkan oleh individu-individu dan tidak pula oleh jamaah (kelompok).

Menurut hemat penulis, bahwa hukuman yang termasuk hak Tuhan ialah setiap hukuman yang dikehendaki oleh kepentingan umum (masyarakat), seperti untuk memelihara ketentraman dan keamanan masyarakat, dan manfaat penjatuhan hukuman tersebut akan dirasakan oleh keseluruhan masyarakat.

jarîmah-jarîmah yang termasuk hak Allah SWT itu ada tujuh, yaitu: zina, qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina), meminum minuman keras, mencuri, harabah (pembegalan/ perampokan, gangguan-keamanan), murtad dan pemberontakan ( al-bagyu).

12

Lowis Ma'luf, al-Munjid f î al-Lughah wa al I'lâm, hal. 120.

(42)

2). Jarîmah Qishâsh & Diyât

Qishâsh secara etimologis adalah balasan dan perbuatan yang sama seperti yang seseorang perbuat

(

ﻌﻓ

ﺎﻣ

ﻪﺑ

ﻞﻌ

ﻓﻭ

ﺎﺯ

)

. Sedangkan pengertian diyât

secara etimologis adalah denda.14

Sedangkan pengertian qishâsh dan diyât secara terminologis adalah :

Artinya : Jarîmah qishâsh dan diyât adalah tindak pidana yang diancam dengan hukuman qishâsh dan diyât. Setiap qishâsh dan diyât mempunyai hukuman yang telah ditentukan, sebagai hak perorangan. Maksud

muqaddarah (Hukuman yang telah ditentukan) adalah bahwa qishâsh

dan diyât mempunyai satu batasan, tidak ada baginya batasan tertinggi dan batas qishâsh yang terendah yang fleksibel antara keduanya. Maksud qishâsh dan diyât sebagai hak perorangan adalah bahwa si korban mempunyai hak memaafkan pelaku tindak pidana, bila ia menghendaki. Apalagi ia telah memaafkan, maka gugurlah hukuman.

Jarîmahqishâsh dan diyât ada 5 (lima) yaitu :

(43)

d). Penganiayaan sengaja

(

ﺪﻤ

ﻌﻟﺍ

ﳉﺍ

)

e). Penganiayaan tidak sengaja

(

ﺄﻄ

ﳋﺍ

ﳉﺍ

)

Berdasarkan definisi di atas, menurut hemat penulis, bahwa walaupun

qishâsh itu telah ditentukan sanksi hukumnya oleh Allah SWT, tapi qishâsh juga merupakan hak individu (perorangan), yang apabila si korban memaafkan maka gugurlah sanksi hukumnya.

3). Jarîmah Ta'zîr

a). Pengertian ta'zîr secara etimologis

ﺰﻋ

mencegah dan menolak atau mendidik dan memukul dengan sangat. b). Pengertian ta'zîr secara terminologis, yaitu:

ﺑﻮﻘﻋ

Artinya : Hukuman Pendidikan yang dijatuhkan hakim terhadap tindak pidana atau maksiat yang belum ditentukan hukumannya oleh Syarî’at, atau telah ditentukan hukumannya, akan tetapi tidak terpenuhi syarat pelaksanaannya seperti: bercumbu selain faraj, dan mencuri yang tidak terpenuhi syarat untuk pemotongan tangan.

16

Lowis Ma'luf, al-Munjid f î al-Lughah wa al I'lâm, hal. 503.

(44)

Abu Ishaq Al-Siraji mendefinisikan ta`zir dengan hukuman yang tidak ditentukan oleh Al-Qur`an dan Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada terpidana dan mencegahnya untuk tidak mengulangi lagi kejahatan itu.18

Dengan demikian menurut hemat penulis, tujuan sanksi ta`zir itu bersifat prefentif (pencegahan), represif (diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi terpidana), kuratif (diharapkan mampu membawa perbaikan sikap dan perilaku terpidana dikemudian hari) dan edukatif (diharapkan dapat menyembuhkan hasrat terpidana untuk mengubah pola hidupnya ke arah yang lebih baik).

Syara' tidak menentukan macam-macam hukuman untuk tiap-tiap jarîmah ta'zîr, tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman, dari yang seringan-ringannya sampai kepada yang seberat-beratnya. Dalam hal ini, hakim diberi kebebasan untuk memilih hukuman-hukuman mana yang sesuai dengan macam

jarîmah ta'zîr serta keadaan si pembuatnya. Jadi hukuman-hukuman jarîmah ta'zîr tidak mempunyai batas tertentu.

Juga jenis jarîmah ta'zîr tidak ditentukan banyaknya, sedang pada

jarîmah-jarîmah hudûd dan qishâsh-diyât sudah ditentukan dan memang jarîmah ta'zîr tidak mungkin ditentukan jumlahnya. Syara' hanya menentukan sebagian

jarîmah-jarîmah ta'zîr, yaitu perbuatan-perbuatan yang selamanya akan tetap

18 Abu Ishaq Al-Syiraji, Al-Muhadzab, (Mesir: Isa Al Bab al Halabi, T.Th.), cet. ke dua, hal

(45)

dianggap sebagai jarîmah: seperti riba, menggelapkan titipan, memaki-maki orang, penyuapan dan sebagainya, sedang sebagian terbesar dari jarîmah-jarîmah ta'zîr diserahkan kepada penguasa untuk menentukannya, dengan syarat harus sesuai dengan kepentingan-kepentingan masyarakat dan tidak boleh berlawanan dengan nas-nas (ketentuan-ketentuan) syara' dan prinsip-prinsip yang umum.19

Menurut hemat penulis maksud pemberian hak penentuan jarîmah-jarîmah ta'zîr kepada para penguasa, ialah agar mereka dapat mengatur masyarakat dan memelihara kepentingan-kepentingannya.

b. Jarîmah Sengaja dan Tidak Sengaja

Pembagian tersebut didasarkan atas niatan si pembuat / pelaku tindak pidana. Yang dimaksud dengan jarîmah sengaja ialah:

ﳉﺍ

Artinya : jarîmah sengaja yaitu pelaku tindak pidana dengan sengaja melakukan perbuatan yang diharamkan dan ia tahu bahwa perbuatan itu diharamkan. Dan inilah makna umum jarîmah sengaja.

Pada jarîmah pembunuhan, kesengajaan mempunyai arti khusus yaitu :

ﻮﻫﻭ

Abd al-Qâdir 'Audah, al-Fiqh al- Jinâ'i al-`Islâmî, hal. 48.

(46)

Artinya : Sengaja mengerjakan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. Kalau pelaku tindak pidana dengan sengaja berbuat tetapi tidak menghendaki akibat-akibat perbuatannya itu, maka disebut pembunuhan semi sengaja.

Sedangkan yang dimaksud dengan jarîmah tidak sengaja yaitu :

ﳉﺍ

ﺓﺩ

ﻮﺼﻘﳌﺍ

ﲑﻏ

:

ﻟﺍ

ﻲﻫ

ﻳﻨ

ﻞﻌﻓ

ﻊﻘﻳ

ﻦﻜﻟﻭ

ﻡﺮﶈﺍ

ﻞﻌﻔﻟﺍ

ﻥﺎﻴﺗﺇ

ﱏﺎﳉﺍ

ﺎﻬﻴﻓ

ﻪﻨﻣ

ﺄﻄ

ﺔﺠﻴﺘﻧ

ﻡﺮﶈﺍ

.

22

Artinya : jarîmah tidak sengaja yaitu pelaku tindak pidana tidak sengaja mengerjakan perbuatan yang dilarang, akan tetapi perbuatan tersebut menjadi akibat kekeliruannya.

Kekeliruan itu ada dua macam, yaitu :

1). Pelaku dengan sengaja melakukan perbuatan tetapi jarîmah akibat perbuatannya itu sama sekali tidak diniatkan seperti seseorang menembak binatang buruan tetapi mengenai manusia.

b). Pelaku tidak sengaja berbuat dan jarîmah yang terjadi tidak diniatkannya sama sekali seperti orang yang sedang tidur jatuh dan mengenai orang lain.

c. Jarîmah Positif (

ﻴﺑ

ﺎﳚ

) dan Negatif

(

ﻴﺒﻠﺳ

)

Pembagian tersebut didasarkan atas tinjauan, apakah jarîmah itu diperintahkan atau dilarang, atau apakah jarîmah tersebut berupa perbuatan nyata

(47)

atau sikap tidak berbuat. Hal ini dijelaskan oleh Abd al-Qâdir 'Audah sebagai

Artinya : jarîmah positif terjadi karena mengerjakan sesuatu perbuatan yang dilarang seperti mencuri, zina, dan memukul. jarîmah negatif terjadi karena tidak mengerjakan sesuatu perbuatan yang diperintahkan, seperti seorang saksi tidak melaksanakan persaksiannya dan seseorang tidak mengeluarkan zakat. Kebanyakan jarîmah terdiri dari jarîmah

positif dan sedikit sekali yang berupa jarîmah negatif.

Para fuqahâ sepakat pendapatnya, bahwa jarîmah positif bisa terjadi dengan jalan tidak berbuat (negatif) dan pelakunya dijatuhi hukuman karenanya. Seperti menahan orang lain dan tidak diberi makan atau minum, sehingga mati karena lapar dan haus. Maka penahanan tersebut dianggap pembunuhan dengan sengaja, kalau dengan tidak memberinya makan atau minum itu untuk membunuhnya. Begitulah pendapat Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad.24

Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, perbuatan tersebut tidak digolongkan kepada pembunuhan, karena kematian terjadi sebagai akibat lapar

23

Ibid, hal. 87.

(48)

atau haus, bukan akibat penahanan sedang lapar dan haus tidak ada orang yang memperbuatnya.25

Akan tetapi imam Abu Yusuf dan imam Muhammad bin Hasan (kedua-duanya murid imam Abu Hanifah), menggolongkan, penahanan tersebut sebagai pembunuhan sengaja, karena manusia tidak bisa tahan hidup tanpa makan dan minum. Jadi menahan makanan dan minuman pada waktu terjadi lapar dan haus berarti membunuh juga.26

Dari contoh-contoh yang dikemukakan oleh para Fuqahâ, nampaknya, orang yang tidak berbuat, tidak dikenakan akibat sikapnya itu kecuali kalau menurut pandangan Syara' dan kebiasaan (`urf) seharusnya orang tersebut tidak bersikap demikian (seharusnya berbuat). Kalau Syara' dan kebiasaan menjadi dasar, maka sudah barang tentu akan terdapat perbedaan pendapat, selama segi tinjauan orang berbeda-beda. Misalnya menurut para Fuqahâ Hambalī, seseorang yang sanggup menolong orang lain dari suatu malapetaka, seperti api atau binatang buas, akan tetapi orang tersebut tidak mau menolongnya, sehingga orang lain tersebut mati maka orang yang dapat menolong itu tidak dapat dituntut, akan tetapi menurut golongan Hanabilah lain, orang tersebut dapat dituntut. Dasar perbedaan pendapat tersebut ialah apakah menolong tersebut wajib atau tidak.27

d. Jarîmah Kelompok (Masyarakat) dan Perseorangan

25

Lihat Nihâyah al-Muhtaj (TT: Dâr al- Fikr, T.Th.), juz vii, hal. 239.

26

Lihat Ibnu Qudamah, al-Mugnî (TT: Dâr al-Fikr, T.Th.), juz ix, hal. 328.

(49)

Pembagian tersebut didasarkan atas tinjauan terhadap orang yang menjadi korban. Pengertian jarîmah masyarakat adalah :

ﳉﺍ

Artinya : jarîmah

-

jarîmah yang mengenai had masyarakat ialah suatu jarîmah

yang sanksi hukumnya disyari’atkan untuk menjaga kemashlahatan jamaah (masyarakat), baik jarîmah tersebut mengenai perorangan atau mengenai jamaah ataupun mengenai keamanan dan ketertiban jamaah. Menurut para Fuqahâ, sanksi jarîmah macam ini disyari’atkan sebagai hak Allah SWT. Artinya secara istilah, bahwa sanksi disyari’atkan untuk menjaga jamaah, akan tetapi menjadikan sanksi itu sebagai hak Allah SWT, sebagai isyarat tidak adanya pengampunan, keringanan atau menunda pelaksanaannya.

Sedangkan pengertian jarîmah perseorangan adalah :

ﺍﺮﳉﺍ

Artinya : jarîmah yang mengenai perorangan adalah suatu jarîmah yang sanksi hukumnya disyari’atkan untuk menjaga kemashlahatan perorangan. Meskipun apa yang menyentuh kemashlahatan perorangan itu bisa terjadi menyentuh kemashlahatan jamaah.

28

Abd al-Qâdir 'Audah, al-Fiqh al- Jinâ'i al-`Islâmî, hal. 98.

(50)

Jarîmah-jarîmah hudûd termasuk jarîmah masyarakat, meskipun pada galibnya lebih banyak mengenai perseorangan seperti mencuri dan menuduh orang lain berbuat zina. Penggolongan kepada jarîmah masyarakat, tidak berarti pula bahwa kerugian dari perseorangan tidak masuk dalam pertimbangan, melainkan sekedar menguatkan kepentingan masyarakat atas kepentingan perseorangan, sehingga oleh karena itu apabila orang yang menjadi korban memberikan pengampunan, maka pengampunan ini tidak ada pengaruhnya terhadap penjatuhan hukuman.

Jarîmah qishâsh diyât termasuk jarîmah perseorangan. Hal ini tidak berarti bahwa masyarakat tidak dirugikan oleh adanya jarîmah tersebut, melainkan sekedar lebih menguatkan hak perseorangan atas hak masyarakat. Oleh karena itu, maka orang yang menjadi korban dari jarîmah tersebut dapat menghapuskan hukuman-hukuman qishâsh sebagai hukuman-hukuman pokok untuk jarîmah-jarîmah qishâsh diyât. Hak penghapusan hukuman-hukuman bahwa jarîmah-jarîmah tersebut menyinggung haknya dengan langsung. Meskipun sudah dihapuskan dari pihaknya, namun hal ini tidak berarti bahwa si pembuat bebas sama sekali dari hukuman sebab ia bisa dijatuhi hukuman ta'zîr, dengan maksud untuk memelihara hak masyarakat yang telah dirugikan oleh pembuat tersebut dengan tidak langsung.

e. Jarîmah Biasa dan Politik

(51)

didasarkan atas kemaslahatan dan ketertiban masyarakat, dan atas pemeliharaan sendi-sendinya.

Oleh karena itu tidak setiap jarîmah yang diperbuat untuk tujuan-tujuan politik dapat disebut jarîmah politik, meskipun kadang-kadang ada jarîmah biasa yang diperbuat dalam suasana politik tertentu bisa digolongkan kepada jarîmah

politik.

Sebenarnya corak kedua macam jarîmah tersebut tidak berbeda, baik mengenai macam maupun cara memperbuatnya. Perbedaan antara keduanya terletak pada motif (faktor pembangkitnya).

Ketentuan ini didasarkan atas kejadian sejarah, yaitu pembunuhan khalîfah Ali bin Abi Thalib oleh seorang bernama Abdurrahman bin Muljam, untuk maksud-maksud politik. Khalîfah Ali berkata kepada Al-Hasan, putranya sebagai berikut : "Tawanlah dia baik-baik, kalau saya hidup, maka akulah yang berkuasa atas jiwaku, dan kalau aku mati, maka bunuhlah dia seperti dia membunuh aku".30 Dari kata-kata tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa khalīfah Ali R.A. memandang perbuatan Abdurrahman tersebut sebagai pembunuhan biasa, tentunya ia tidak akan menyatakan bahwa dirinya berkuasa atas jiwanya, yang berarti bisa mengambil hukuman qishash dan bisa pula memaafkannya, dan tentunya tidak minta kepada putranya untuk mengambil qishâshnya, yaitu dibunuh pula.

(52)

Jarîmah politik baru terdapat dalam keadaan luar biasa, tegasnya dalam keadaan pemberontakan atau perang saudara. Kalau terjadi peperangan antara sebagian rakyat dengan Negara (pemerintah), atau apabila ada sebagian rakyat memberontak kepada Negara, maka baru terdapat jarîmah politik asal pada rakyat yang memberontrak tersebut terdapat syarat tertentu. Boleh jadi syarat-syarat ini sudah terdapat tapi suasananya bukan suasana pemberontakan atau suasana perang. Maka jarîmah yang diperbuat bukan jarîmah politik, melainkan terjadi jarîmah biasa.

Syarat-syarat jarîmah politik

Di kalangan Fuqahâ, jarîmah politik disebut al-baghyu atau pelakunya disebut al-bughât atau fâ'il al bughyah.31

ﺒﻟﺍ

ﻢﻫ

ﺍﻟ

ﻥﻮﺟﺮ

ﻦﻳﺬﻟﺍ

ﻡﻮ

ﻹﺍ

ﻰﻠﻋ

ﻎﺋ

ﺎﺳ

ﻞﻳﻭﺄﺘﺑ

ﻡﺎﻣ

ﺔﻗﺮﻓ

ﻢﻫﻭﺃ

ﺔﻛﻮﺷﻭ

ﺔﻌﻨﻣ

ﻪﺒ

ﺎﻧ

ﻭﺃ

ﻢﻈﻋ

ﻡﺎﻣﻹﺍ

ﻔﻟﺎ

ﻤﻠﺴﳌﺍ

ﻦﻣ

.

Artinya : Bughât ialah orang-orang yang memberontak kepada imam (penguasa negara) berdasarkan ta'wil (alasan) tertentu dan mereka mempunyai kekuatan dan senjata, atau segolongan kaum muslimin yang menentang (melawan) penguasa Negara tertinggi (`imâm al-`a'dham), atau wakilnya.

Perbuatan menentang penguasa negara karena dua hal :

1). Tidak mau melaksanakan sesuatu kewajiban seperti zakat, atau sesuatu hukum syara' yang berhubungan dengan hak Tuhan atau manusia, atau tidak mau

(53)

menyatakan setia atau tunduk kepada penguasa tertinggi tersebut dengan mengeluarkan tangan untuk berjabat tangan bagi orang yang dekat, atau dengan memberitahukan demikian kepada orang lain, bagi orang yang tinggal jauh, kalau orang yang dekat atau berjauhan itu tergolong orang terkemuka (ahlu al-halli wa al- ‘aqdi).

2). Hendak mencopot penguasa tertinggi karena dipandang telah menyeleweng. Kalau golongan yang berontak (melawan) disebut al-bughât, maka golongan lain yang dilawan disebut `ahlu al- 'adlî.

Tentang syarat-syarat yang harus terdapat pada golongan yang memberontak untuk dapat disebut sebagai bughât maka ada tiga macam.32

a) Tujuan, yakni, harus mempunyai tujuan tertentu yaitu kehendak mencopot kepala negara atau badan eksekutif (pemerintahan) atau tidak hendak tunduk kepadanya. Kalau tujuan tersebut terpenuhi, dengan ditambah syarat-syarat lain, maka jarîmah yang dilakukan adalah jarîmah politik. Kalau tujuan

jarîmah ialah hendak mengadakan perubahan-perubahan yang berlawanan dengan ketentuan-ketentuan Syarî'at Islam, atau hendak menyiapkan jalan bagi kekuasaan negara asing, atau hendak melemahkan kedudukan negeri sendiri di mata negara lain, maka jarîmah yang diperbuat untuk maksud tersebut tidak disebut pemberontakan (baghyu), yakni jarîmah politik,

(54)

melainkan disebut perusakan (`ifsâd) dan tantangan terhadap Tuhan serta Rasul-Nya, dimana untuk perbuatan tersebut diancam hukuman yang berat. b). Alasan, yakni, pembuat jarîmah politik harus mempunyai alasan (ta'wil), yaitu

mengemukakan alasan pemberontakannya serta dalil-dalil kebenaran pendirian mereka, meskipun dalil itu sendiri lemah. Seperti alasan golongan yang memberontak terhadap khalîfah Ali R.A. dengan mengatakan bahwa ia sebenarnya mengetahui pembunuh khalīfah Utsman R.A. dan ia tidak mau bertindak karena sudah ada kesepakatan sebelumnya.

Kalau golongan yang memberontak tidak mengemukakan alasan bagi perbuatannya, atau mengemukakan alasan yang tidak dibenarkan bagi perbuatannya, atau mengemukakan alasan yang tidak dibenarkan oleh Syara' sama sekali, seperti minta pencopotan kepala negara tanpa menyebutkan kesalahan-kesalahannya, atau dengan alasan bahwa ia bukan kawan senegerinya atau sesukunya, maka mereka digolongkan kepada pengrusak yang mempunyai hubungan sendiri, dan mereka bukan pembuat jarîmah

politik.

c). Suasana pemberontakan dan perang. Untuk digolongkan kepada jarîmah

politik, maka sesuatu perbuatan harus dilakukan dalam keadaan pemberontakan atau perang saudara yang dikorbankan untuk mewujudkan maksud-maksud jarîmah. Kalau perbuatan tersebut tidak dilakukan dalam keadaan pemberontakan atau perang saudara, maka dipandang sebagai

(55)

Ketentuan tersebut diambil dari peristiwa sejarah, yaitu ketika sudah mulai nampak tanda-tanda munculnya golongan khawarij yang memberontak kepada khalîfah Ali R.A. ketika ia tengah berpidato dari suatu mimbar, maka segolongan orang-orang khawarij menyela-nyela pidatonya sambil berkata: "Hanya Tuhan

yang berhak memutuskan" (Lâ hukma illâ Lillâhi). (

ﹼﻻ

ﻢﻜ

)

Dengan kata-kata ini, mereka bermaksud mengeritik khalifah Ali R.A. karena ia mau berdamai dengan sahabat Muawiyah dan golongannya, dengan perantaraan para pendamai. Menurut mereka, seharusnya ia tidak boleh tunduk kepada keputusan itu.

Maka dari mimbar ini pula, Khalifah Ali R.A. menjawab sebagai berikut: "kata-kata itu benar tetapi dipakai untuk maksud yang salah. Engkau sekalian mempunyai hak atas kami dalam tiga perkara; Pertama, kami tidak melarang masjid-masjid Tuhan bagimu untuk mengagungkan namanya; kedua, kami tidak akan memulai berperang dengan engkau sekalian; ketiga, kami tidak akan melarang akan engkau sekalian bersama-sama kami (yakni selama tidak memberontak terhadap kami)."33

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan, bahwa

jarîmah politik adalah perbuatan menentang pemerintah (penguasa negara) yang

(56)

sah menurut hukum (syâri'at) dan undang-undang yang berlaku, yang biasanya mempunyai tujuan tertentu, alasan tertentu, dan dalam situasi tertentu.

Hukuman Jarîmah Politik

Hukuman jarîmah politik dapat berbeda-beda, menurut perbedaan keadaan dimana jarîmah itu terjadi. jarîmah-jarîmah yang dilakukan dalam suasana pemberontakan atau perang, maka dapat dibagi kepada dua, yaitu jarîmah

yang diperlukan oleh suasana tersebut, dan jarîmah-jarîmah lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan keperluan pemberontakan dan perang.

Contoh jarîmah macam pertama ialah menganiaya orang-orang pemerintahan yang ditentang dan membunuhnya. Menguasai harta benda negara, merusak jalan-jalan dan jembatan-jembatan, membakar gedung-gedung dan gudang-gudang musium, dan perbuatan-perbuatan lain yang diperlukan oleh strategi pertempuran.

Referensi

Dokumen terkait

Penyalahgunaan narkoba atau narkotika sudah mendekati pada suatu tindakan yang sangat membahayakan, tidak hanya menggunakan obat-obatan saja, tetapi sudah

Sedangkan sanksi hukuman yang di- berikan bagi pengedar narkotika menurut hukum positif di Indonesia, yaitu dengan pidana minimal pidana penjara 2 tahun dan pidana maksimal

Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara

1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman,

a Menanam , memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan, atau menguasai narkotika dalam bentuk tanaman atau bukan tanaman diatur dalam pasal 111 sampai dengan pasal 112;

Memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, bahwa terhadap unsur ketiga, Majelis Hakim mempertimbangkan: - Menimbang, bahwa perbuatan Terdakwa

4 Dalam pasal 111 ayat 1 UU Narkotika disebut setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan I