• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Akhir FEASIBILITY STUDY KLASTER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Akhir FEASIBILITY STUDY KLASTER"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Akhir

FEASIBILITY STUDY

KLASTER INDUSTRI BERBASIS PERTANIAN DAN

OLEOKIMIA DI

KUALA ENOK

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Bekerjasama

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

PROVINSI RIAU

(2)

Puji dan syukur dipersembahkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmatNya jualah maka laporan feasibility study klaster industri berasaskan pertanian dan oleokimia di Kabupaten Indragiri Hilir di Kecamatan Tanah Merah Kuala Enok kerjasama antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Riau dengan Lembaga Penelitian Universitas Islam Riau Pekanbaru Tahun Anggaran 2010 telah dapat diselesaikan dengan baik. Semoga hasil kajian ini dapat menjadi pedoman dan dasar Pengembangan Kawasan Indusri Kuala Enok yang lebih baik untuk masa yang akan datang.

Laporan ini disusun dengan melibatkan berbagai pihak baik dari Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Daerah maupun masyarakat di sekitar kawasan. Untuk itu kami mengucapakan terima kasih atas bantuan baik berupa administrasi, data maupun informasi lainnya yang sangat membantu dalam penyelesaian penulisan laporan ini. Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Pemerintah Provinsi Riau yang telah memberikan kepercayaan kepada Lembaga Penelitian Universitas Islam Riau untuk melaksanakan kegiatan ini .

Laporan ini telah disusun dengan sebaik mungkin dan apabila terdapat kekurangan ataupun kesalahan itu diluar kemampuan kami. Untuk itu tim penulis sangat mengharapkan kritikan dan sumbang saran untuk perbaikan dan kesempurnaan kajian ini. Akhir kata kami ucapkan semoga data dan informasi yang tertuang dalam laporan akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang berkepentingan.

Pekanbaru, Desember 2010

(3)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

ii

1.2. Tujuan, Sasaran dan Manfaat ……….

1.2.1.Tujuan ……….

1.2.2.Sasaran ………

1.2.3.Manfaat ………..

1.3. Luaran Kegiatan (output) ………

1

2.4. Analisis Pemanfaatan Produk Kelapa Sawit ………

4

3.1.2. Model Klaster Industri ………

3.2.Teknologi Pengolahan ……….

3.3.Analisis Kawasan Industri ……….

3.3.1. Kawasan Industri ……….

3.3.2. Perubahan Penggunaan Lahan ...

3.4. Kebijakan Kawasan Industri ………... 3.4.1. Kawasan Industri dalam Sistem Ruang Perkotaan ...

3.4.2. Kebijakan Pengaturan Kawasan Industri ...

6

4.3.1. Analisis Kelayakan Bahan Baku ………

4.3.2. Analisis Kelayakan Kawasan Industri ………...

4.3.3. Analisis Kelayakan Finansial ……….……

(4)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

iii

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Profil Daerah Kawasan Industri ………. 70

A. Profil Daerah Kecamatan Tanah Merah ………

5.1.1. Sejarah Kecamatan Tanah Merah ……….

5.1.2. Kondisi Wilayah ………

5.1.3. Luas Wilayah ... 5.1.4. Keadaan Alam ...

5.1.5. Batas - Batas Wilayah ……….

5.1.6. Sosial dan Budaya ...

5.1.7. Pemerintah Kecamatan dan Kependudukan ...

5.1.8. Kesehatan ... 5.1.9. Pendidikan ...

5.1.10. Koperasi dan Usaha Menengah ...

5.1.11. Pengendalian Lingkungan Hidup ………

5.1.12. Pelayanan Administrasi Umum Kecamatan ………

5.1.13. Penanaman Modal ………

5.1.14. Sarana dan Prasarana Umum ………

5.1.15. Perindustrian ………

B. Profil Daerah Kecamatan Sungai Batang ………

5.1.16 Geografis Kecamatan Sungai Batang ………

5.1.17 Kadaan Alam ……….

5.1.18 Iklim dan Curah Hujan ………

5.1.19 Luas Wilayah dan Sarana Prasarana ……….

5.1.20 Pemerintahan ……….

5.2.1 Permintaan Minyak Bati Indonesia dan Dunia ………

5.2.2 Permintaan CPO Riau ………..

5.2.3 Penawaran Bahan Baku …… ……….

5.2.4 Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS) ………

5.3 Analisis Kelayakan Kawasan Industri ………

5.3.1 Kawasan Lahan Fisik Lingkungan ………..

5.3.2 Penggunaan Lahan Kawasan Industri ...

5.3.3 Analisis Nilai Lahan ……….

5.3.4 Aksesibilitas dan Infrastruktur .……….

5.3.5 Rencana Pembangunan IHKS Kuala Enok ...……….

5.4 Analisis Kelayakan Finansial Pembangunan IHKS ………

(5)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

iv

3.1. Pola Penggunaan Lahan Pada Kawasan Industri ... 54

3.2. Alokasi Lahan Pada Kawasan Industri ... 55

3.3. Standar Teknis Pelayanan Umum di Kawasan Industri ... 56

4.1. Jenis Data dan Cara Pengumpulannya Dalam Studi Kelayakan

Penentuan Kawasan Calon Lokasi Industri Di Kuala Enok …... 66

5.1. Camat yang pernah menjabat di Kecamatan Tanah Merah ……… 71

5.2. Luas Wilayah Kecamatan Tanah Merah ………..………. 73

5.3. Jumlah Penduduk Kecamatan Tanah Merah 2010 ………... 75

5.4. Jumlah Sarana dan Tenaga Kesehatan di Kecamatan Tanah Merah 76

5.5. Jumlah Sarana dan Prasarana Pendidikan di Kecamatan Tanah

Merah ... 77

5.6. Jumlah Koperasi di Kecamatan Tanah Merah ... 78

5.7. Pengendalian Lingkunan Hidup di Kecamatan Tanah Merah ... 79

5.8. Pelayanan Administrasi Umum Kecamatan Tanah Merah ………. 79

5.9 Perkembangan Penanaman Modal Kecamatan Tanah Merah …… 80

5.10. Sarana dan Prasarana Umum di Kecamatan Tanah Merah …….. 80

5.11. Perindustrian di Kecamatan Tanah Merah ……… 81

5.12. Luas Wilayah Kecamatan Sungai Batang Tahun 2008 ………..….. 83

2.13. Panjang Jalan Kabupaten dan Jembatan Menurut Jenis Permukaan

di Kecamatan Sungai Batang Tahun 2008 ………. 83

5.14. Jarak antara Ibukota Kecamatan ke Desa/Kelurahan Kabupaten

tahun 2008 ………... 84

5.15. Jumlah Rumah Tangga dan Jumlah Penduduk Menurut Desa di

Kecamatan Sungai Batang Tahun 2008 ……….. 85

5.16. Jumlah Sarana Pendidikan menurut Desa/Kelurahan di

Kecamatan Sungai Batang tahun 2008 ………..……… 87

5.17 Jumlah Guru Menurut Desa/Kelurahan dan Jenjang Pendidikan Di

Kecamatan Sungai Batang Tahun 2008 ………. 87

5.18. Jumlah MDI, MTsN, MDA menurut Desa/Kelurahan di

(6)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

v

5.19. Jumlah Tenaga Medis Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan

Sungai Batang tahun 2008 ……… 89

5.20. Banyaknya Sarana dan Prasarana Kesehatan Kecamatan Sungai

Batang tahun 2008 ……….…………. 89

5.21. Banyaknya Sarana Ibadah di Kecamatan Sungai Batang tahun 2008 90

5.22. Penggunaan Lahan di Kecamatan Sungai Batang tahun 2008 ….. 91

5.23. Ekspor dan imporKelapa Sawit, Minyak Kacang Kedelai dan

Kelapa (Kopra) ... 92

5.24. Export CPO Provinsi Riau 2005-2009 ……… 97

5.25. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit

Di Kabupaten Indragiri Hilir dan Provinsi Riau, 1975 – 2007 ……. 99

5.26. Jumlah Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) Provinsi Riau, 2010 100

5.27. Export dan Import Produk Eleokimia Indonesia, 2005-2009 ... 105

5.28. Penggunaan Lahan di Kawasan Klaster Industri Kuala Enok …….. 112

5.29. Perbandingan Perkiraan Biaya Pembangunan Jalan dengan

Perkerasan Lentur (Flexible) dan Perkerasan Kaku (Rigid) ……….. 119

5.30. Panjang dan Kondisi Jalan di Kuala Enok ……… 119

5.31. Jenis dan Kapasitas Instruktur di Pelabuhan Kuala Enok …………. 121

5.32. Nama Anak-anak Sungai yang Bermuaraa ke Sungai Enok dan

Sungai Patah Parang ……… 129

5.33. Banyaknya Curah Hujan dan Hari Hujan Kecamatan Sungai

Batang dan Kecamatan Tanah Merah Pada Tahun 2008 ………. 131

5.34. Palm Biomassa Generated in Year 2005 ……… 135

5.35. Ultimate Analysis of Solid Oil Palm Residues ………. 136

5.36. Nilai Energy Thermal Limbah Sawit di Beberapa Daerah Riau …... 137

5.37. Energi yang Dihasilkan dari Limbah sawit ……….. 137

5.38. Evaluasi Lokasi Lahan Industri Di Kuala Enok Kabupaten

Indragiri Hilir ……….. 140

5.39. Kriteria Keyakan Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) 143

5.40.

Kriteria Kelayakan Pabrik Inti Kelapa Sawit

143

5.41. Kriteria Kelayakan Pabrik Biodiesel dari Olein ... 144

5.42. Kriteria Kelayakan Pabrik Biodiesel dari Stearin……… 144

5.43. Kriteria Kelayakan Industri Olein (Minyak Goreng)-Stearin… 145

5.44. Kriteria Kelayakan Pabrik Fatty Acid……….. 145

5.45. Kriteria Kelayakan Industri Fatty Alcohol………. 146

5.46. Kriteria Kelayakan Industri Surfaktan MES (Metil Ester

Sulfonat) ...

(7)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

vi

(8)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1. Kerangka Strategi Pengembangan IHKS di Indonesia ... 9

3.2. Model Berlian Porter ……… 12

3.3. Rangkuman Konsep Klaster Industri ………. 15

3.4. Neraca Massa Pengolahan Kelapa Sawit ……… 22

3.5. Contoh Produk IHKS ……… 23

3.6. Teknologi Proses Pengolahan Minyak Sawit Menjadi Produk Pangan ………. 25

3.7. Teknologi Proses Pengolahan Minyak Sawit Menjadi Biodisel …… 27

3.8. Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Menjadi Produk Oleokimia ……… 29

3.9. Ilustrasi Kasus Penurunan Muatan ... 37

3.10. Keuntungan Lokasi Industri berdekatan dengan Pasar ... 38

4.1. Kawasan Industri Kuala Enok ... 63

5.1. Pelabuhan Agro Industri Kelapa PT. Pulau Sambu Kuala Enok .... 70

5.2. Pelabuhan Agro Industri Kelapa PT. Pulau sambu Kuala Enok ….. 72

5.3. Pohon Nipah Sepanjang Sungai………. 82

5.4. Jumlah Ekspor Minyak Nabati Tahun 2009 ………... 93

5.5. Jumlah Impor Minyak Nabati Tahun 2009 ……….. 94

5.6. Jumlah Ekspor Kelapa Sawit Indonesia tahun 2009 ………. 95

5.7. Jumlah Ekspor Kelapa Sawit Malaysia tahun 2009 ……… 96

5.8. Ekspor CPO Propinsi Riau tahun 2005-2009 ………... 97

5.9 Peata Pembangunan Kawasan Industri Kuala Enok ………. 109

5.10. Peta Penggunaan Lahan di KAwasan Industri Kuala Enok ……… 111

5.11. Peta Aksesibilitas Lokasi Kawasan Kluster Industri ……… 114

5.12. Pelabuhan Samudra Kuala Enok ……… 120

5.13. Kapasitas dan Fasilitas Pelabuhan ……… 125

5.14. Preserpoil PDAM Kuala Enok yang dibangun oleh PT. Pulau Sambu ……….. 127

5.15. Instalasi Air Bersih dari Waduk PT. Pulau Sambu ……… 128

(9)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

viii

5.17. Cangkang ……… 133

5.18. Serabut ………... 133

(10)

1.1 Latar Belakang

Provinsi Riau memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar dan beragam mencakup sumberdaya lahan, hutan, air dan mineral. Sumberdaya alam ini merupakan modal utama dan fundamental untuk pelaksanaan aktivitas pembangunan yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat. Sumberdaya alam yang dieksploitasi secara terus menerus akan mengalami penyusutan dan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungannya. Penyusutan sumberdaya alam tersebut secara kuantitatif akan mengurangi cadangan (stok), namun demikian apabila sumberdaya alam tersebut dioptimal fungsikan dapat menciptakan cadangan baru.

Sebagai wilayah yang memiliki potensi sumberdaya lahan yang cukup luas, Provinsi Riau juga merupakan daerah yang mempunyai perkembangan peratanian khususnya perkebunan kelapa sawit yang sangat pesat peningkatannya dari aspek luas areal tanam, yakni hampir mencapai 40 (empat puluh) persen dari luas total perkebunan kelapa sawit nasional. Peningkatan luas areal perkebunan tersebut tidak terlepas dari adanya peningkatan permintaan pasar ekspor minyak kelapa sawit disamping untuk pemenuhan dan penggunaan industri dalam negeri. Kondisi ini mendorong semakin luasnya upaya ekstensifikasi perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau dan jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan persoalan-persoalan ketimpangan pasar serta masalah lingkungan lainnya.

(11)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

2

ekonomi daerah serta nasional, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan peluang usaha sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan. Hal tersebut sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, termasuk didalamnya mengenai penetapan Kuala Enok sebagai pusat klaster industri berbasis Pertanian dan Oleochemical di Provinsi Riau.

1.2.Tujuan, Sasaran dan Manfaat 1.2.1. Tujuan

Kegiatan ini bertujuan:

a. Melakukan kajian kelayakan klaster industri berbasis pertanian dan olechemical di Kawasan Industri Kuala Enok.

b. Mengetahui kelayakan pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit baik industri inti, terkait maupun penunjang.

1.2.2. Sasaran

Tersusunnya detail rencana kawasan industri hilir kelapa sawit serta kelayakan klasterisasi industri inti, terkait dan penunjang terutama dari ketersediaan bahan baku.

1.2.3. Manfaat

a. Terwujudnya klaster industri hilir kelapa sawit di Kawasan Industri Kuala Enok.

b. Diketahunya kelayakan industri hilir kelapa sawit dari aspek potensi ketersediaan bahan baku, potensi pengembangan industri lanjutan, aspek sarana dan prasarana pendukung, kesesuaian lokasi, ketersediaan sumerdaya manusia/tenaga kerja, pendanaan, aspek ekonomi/pasar, sosial dan budaya serta kelayakan lingkungan di Provinsi Riau.

(12)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

3

d. Meningkat penerimaan negara dan daerah, terserapnya tenaga kerja, serta sebagai upaya pengendalian harga TBS dan CPO sehingga dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat di Provinsi Riau.

1.3. Luaran Kegiatan (output)

Luaran (output) dari Kegiatan ini berupa:

a. Dokumen kelayakan klaster industri hilir kelapa sawit pada kawasan industri Kuala Enok Provinsi Riau dalam bentuk cetakan (Hard copy) dan dalam bentuk Digital (Soft copy).

b. Album Peta (detail rencana) lokasi dalam bentuk cetakan ukuran A-3 dan dalam bentuk soft copy.

(13)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

4

2.1.Lingkup Wilayah

Wilayah studi mencakup lokasi yang dicadangkan sebagai kawasan industri di Kuala Enok.

2.2.Lingkup Materi

Lingkup materi Feasibility Study Klaster Industri Hilir Kelapa Sawit yaitu penilaian kelayakan kawasan untuk dijadikan sebagai klaster industri berbasis industri hilir kelapa sawit dan ketersediaan bahan baku.

2.3.Pemetaan Kawasan

Identifikasi luasan kawasan untuk dijadikan sebagai klaster industri hilir kelapa sawit serta melakukan penyusunan site plan.

2.4. Analisis Pemanfaatan Produk Kelapa Sawit.

Dilakukan untuk mengetahui besarnya cadangan/stok produk kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan baku yang dapat diturunkan, antara lain:

a. Produk Turunan (CPO) (industri inti): produk turunan CPO selain minyak goreng kelapa sawit dapat menghasilkan margarine, shortenings, vanaspati (vegetable ghee), ice creams, bakery fats, instant noodle, sabun dan detergen, cocoa butter extender, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled milk, lubrication, textiles oil dan bio diesel. Khusus untuk biodiesel permintaan akan produk ini pada beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan di beberapa negara Eropa dan Jepang untuk menggunakan renewable energy.

(14)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

5

specialty fats, ice creams, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled milk, imitation cream, sabun, detergent, shampoo dan kosmetik.

(15)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

6

3.1 Konsep Klaster Industri

3.1.1 Definisi Klaster

Dalam Undang–Undang RI No 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS), pemerintah secara eksplisit merumuskan kebijakan pembangunan industri jangka panjang yang salah satunya diarahkan pada pembentukan klaster industri nasional. Filosofi yang melatarbelakangi pembentukan klaster industri tersebut adalah dalam rangka meningkatkan daya saing, mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan serta mendorong pemanfaatan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Dengan demikian, industri nasional diharapkan semakin efisien, mandiri, kuat dan memiliki keunggulan bersaing dalam menghadapi era persaingan bebas.

Istilah ―klaster (cluster)‖ mempunyai pengertian harfiah sebagai

kumpulan, kelompok, himpunan, atau gabungan obyek tertentu yang memiliki keserupaan atau atas dasar karakteristik tertentu. Dalam konteks

ekonomi/bisnis, ―klaster industri (industrial cluster)‖ merupakan terminologi

yang mempunyai pengertian khusus tertentu. Walaupun begitu, dalam literatur, istilah ―klaster industri‖ diartikan dan digunakan secara beragam. Berikut adalah beberapa contoh definisi klaster industri,yaitu :

1. Kumpulan/kelompok bisnis dan industri yang terkait melalui suatu rantai produk umum, ketergantungan atas keterampilan tenaga kerja yang serupa, atau penggunaan teknologi yang serupa atau saling komplementer (OECD, 2000);

2. Kelompok industri dengan focal/core industry yang saling berhubungan secara intensif dan membentuk partnership, baik dengan supporting industry maupun related industry (Deperindag, 2000);

(16)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

7

lainnya dan/atau memiliki kebutuhan serupa akan kemampuan, teknologi dan infrastruktur (Munnich Jr., et al. 1999);

4. Aglomerasi dari industri yang bersaing dan berkolaborasi di suatu daerah, yang berjaringan dalam hubungan vertikal maupun horizontal, melibatkan keterkaitan pembeli-pemasok umum, dan mengandalkan landasan bersama atas lembaga-lembaga ekonomi yang terspesialisasi (EDA, 1997);

5. Kelompok/kumpulan secara sektoral dan geografis dari perusahaan yang meningkatkan eksternalitas ekonomi (seperti munculnya pemasok spesialis bahan baku dan komponen, atau pertumbuhan kelompok keterampilan spesifik sektor) dan mendorong peningkatan jasa-jasa yang terspesialisasi dalam bidang teknis, administratif, dan keuangan (Ceglie dan Dini, 1999); 6. Hubungan erat yang mengikat perusahaan-perusahaan dan industri tertentu

secara bersama dalam beragam aspek perilaku umum, seperti misalnya lokasi geografis, sumber-sumber inovasi, pemasok dan faktor produksi bersama, dan lainnya (Bergman dan Feser, 1999);

7. Michael Porter mendefinisikan klaster sebagai sekumpulan perusahaan dan lembaga-lembaga terkait di bidang tertentu yang berdekatan secara geografis

dan saling terkait karena ―kebersamaan (commonalities) dan komplementaritas‖ (Porter, 1990);

8. Klaster merupakan jaringan produksi dari perusahaan-perusahaan yang saling bergantungan secara erat (termasuk pemasok yang terspesialisasi), agen penghasil pengetahuan (perguruan tinggi, lembaga riset, perusahaan rekayasa), lembaga perantara/bridging institution (broker, konsultan) dan pelanggan, yang terkait satu dengan lainnya dalam suatu rantai produksi peningkatan nilai tambah (Roelandt dan den Hertog, 1998);

9. Klaster merupakan suatu sistem dari keterkaitan pasar dan non pasar antara (a system of market and nonmarket links) perusahaan-perusahaan dan lembaga yang terkonsentrasi secara geografis (Abramson, 1998);

(17)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

8

Klaster industri bersifat macro level, less detail dan strategic level dimana banyak terdapat kebijakan-kebijakan, serta faktor-faktor eksternal maupun internal yang mempengaruhi klaster industri sehingga diperlukan sebuah pendekatan yang mampu mengakomodasi perubahan-perubahan dalam sistem. Pengembangan klaster industri seharusnya tidak dari nol, melainkan diawali dengan upaya identifikasi sejauh mana kondisi calon klaster industri yang ada saat ini, seperti bagaimana kelengkapan komponen klaster disepanjang rantai nilai mulai industri hulu hingga industri hilir, serta sejauhmana stakeholder atau pelaku yang telah ada telah menjalankan fungsi dan peranannya dalam penciptaan nilai tambah secara keseluruhan.

Klaster industri dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan perusahaan dan institusi yang saling terkait dan bergantung satu dengan lainnya dan benar-benar dapat melakukan interaksi sinergis dalam suatu jaringan mata rantai proses penciptaan nilai tambah dengan faktor kedekatan geografis. Porter (1980) juga mengembangkan definisi klaster industri sebagai sekumpulan perusahaan dan institusi yang terkait pada bidang tertentu yang secara geografis berdekatan, bekerjasama karena kesamaan dan saling memerlukan. Klaster industri tidak hanya sekedar untuk tujuan lobby

atau sekumpulan perusahaan dan institusi yang bekerja sama karena kedekatan lokasinya, akan tetapi yang penting adalah pembentukan klaster industri karena memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan daya saing produknya.

(18)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

9

industri pada suatu daerah, terutama terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah.

Sumber: Biosurfactant IPB, 2009

Gambar 3.1 Kerangka Strategi Pengembangan IHKS di Indonesia

(19)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

10

perlu dibangun Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS), ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan menekan jumlah ekspor CPO hingga 30 persen. Tranformasi CPO dan PKO menjadi beberapa produk turunan lainnya bertujuan untuk menambah devisa negara dan juga efek multiplier lainnya.

Antara efek yang dapat diperoleh dari pengembangan IHKS adalah: a. Meningkatkan daya saing IHKS. Semakin banyaknya IHKS yang

dibangun di Indonesia dengan CPO/PKO 70 persen akan menambah daya saing di pasaran internasional. Hal ini disebabkan oleh komoditas yang diekspor berupa barang jadi seperti minyak goreng, kosmetik, pupuk dan produk turunan lainnya.

b. Peningkatan tanaman pangan dan energi nasional. Ransangan terhadap pengembangan perkebunan sangat dirasakan apabila sektor pemasaran Tandan buah segar (TBS) maupun CPO domestik lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan pasaran dunia, disamping adanya dukungan pemerintah terhadap sektor ini. Kemudahan ini dapat memacu pertumbuhan tanaman pangan nasional baik secara kuantitas dan kualitas. Disamping peningkatan ketahanan pangan asional juga pada peningkatan ketersediaan energi nasional sejalan dengan peningkatan ketersediaan energi yang terbarukan terutama yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, seperti tandan kosong, cangkang sawit dan serat dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy untuk pembangkit listrik. Disamping energi yang dimanfaatkan untuk produksi IHKS juga menjadi pasokan energi bagi masyarakat.

(20)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

11

penghasilan. Tentunya dengan dukungan pemerintah dalam menfasilitasi berkembangnya investasi di Indonesia.

d. Peningkatan nilai tanbah (value added). Fatty acid, fatty alcohol, margarine, mayonais, sabun, surfaktan, dan PLTBS merupakan output dari IHKS yang mempunyai nilai tambah yang besar. Bentuk nilai tambah tersebut telah meningkatkan utilitas dan harga jual lebih tinggi. Hal ini merupakan indikator adanya kemampuan suatu negara dalam memanfaatkan teknologi produksi.

e. Penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan IHKS akan berkorelasi positif dengan penyerapan tenaga kerja. Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan tenaga kerja dalam IHKS maka perlu adanya kebijakan untuk meningkatkan kemampuan (skill) mereka, ini bertujuan supaya tenaga kerja yang terlibat dalam IHKS tidak lagi tenaga kerja dari luar negeri. Maka lembaga pendidikan dan pelatihan mempunyai peranan penting dan harus melakukan peningkatan kemampuan dalam rangka memenuhi kebutuhan permintaan tenaga kerja di IHKS kedepan.

3.1.2 Model Klaster Industri

Berbagai model untuk mempelajari klaster industri telah dikembangkan oleh berbagai peneliti dan pakar selama beberapa dekade terakhir ini. Salah satu model yang sering dijadikan acuan dan rujukan dalam pengembangan klaster industri adalah Model Berlian Porter (Porter’s Diamond Model). Konsep ―the four diamond‖ Porter ini mengajukan empat faktor yang saling terkait dan

merupakan penentu keunggulan daya saing suatu industri, yaitu:  Strategi perusahaan, struktur dan persaingan,

 Kondisi permintaan,  Kondisi faktor,

(21)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

12

Porter juga menambahkan faktor chance dan government dalam model berlian tersebut, dimana kedua faktor tambahan ini bukanlah determinan tetapi berpengaruh terhadap keempat determinan di atas. Keenam faktor tersebut secara bersamaan membentuk sebuah sistem yang berbeda dari suatu lokasi dengan lokasi yang lain, dan hal ini menjelaskan mengapa beberapa perusahaan (industri) hanya berhasil di suatu lokasi tertentu saja. Tidak semua faktor harus optimal dalam menjamin keberhasilan sebuah perusahaan atau industri.

Strategi Perusahaan, Struktur dan Persaingan

(Firm Strategy, Structure,

and Rivalry)

Kondisi Permintaan

(Demand Factors)

Kondisi Faktor

(Factors Condistions)

Industri Terkait dan Pendukung (Related and

Supporting Industries)

Chance

Pemerintah

Gambar 3.2 Model Berlian Porter

Lebih detail, masing-masing faktor dari model berlian Porter dapat dijelaskan sebagai berikut.

(22)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

13

muncul/tumbuh, terorganisasi dan dikelola, serta sifat persaingan usaha di negara yang bersangkutan.

 Kondisi permintaan (demand conditions) merupakan sifat permintaan domestik (home demand) untuk produk (barang dan/atau jasa) dari industri yang bersangkutan. Porter mengemukakan bahwa inti penting dari faktor ini

adalah komposisi permintaan domestik merupakan ―akar‖ bagi keunggulan

daya saing, sementara ukuran dan pola pertumbuhannya dapat memperkuat keunggulan tersebut dengan mempengaruhi perilaku investasi,

timing, dan motivasi. Hal lain yang juga turut berkontribusi adalah

mekanisme internasionalisasi ―penarikan‖ permintaan domestik ke luar

negeri.

 Kondisi faktor (factor conditions) kondisi yang menggambarkan posisi suatu

negara dalam ―faktor-faktor produksi‖ (input yang dibutuhkan untuk bersaing), seperti tenaga kerja atau infrastruktur, yang diperlukan untuk bersaing dalam suatu industri.

 Industri terkait dan pendukung (related and supporting industries), kehadiran industri-industri pendukung dan yang terkait di negara yang bersangkutan yang memiliki daya saing (kompetitif) secara internasional. Kunci paling signifikan dalam hal ini adalah industri pendukung dan terkait yang dinilai penting bagi inovasi suatu industri, atau yang memberikan kesempatan/peluang untuk berbagi aktivitas kritis suatu industri.

Dalam model berlian tersebut, ―kejadian-kejadian yang bersifat

(23)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

14

Lyon dan Atherton selanjutnya mengatakan bahwa terdapat tiga hal mendasar yang dicirikan oleh klaster industri, terlepas dari perbedaan struktur, ukuran ataupun sektornya, yaitu:

1. Komunalitas, Keserupaan, Kebersamaan, Kesatuan (Commonality)

Bisnis-bisnis beroperasi dalam bidang-bidang ―serupa‖ atau terkait satu dengan lainnya dengan fokus pasar bersama atau suatu rentang aktivitas bersama.

2. Konsentrasi (Concentration)

Terdapat pengelompokan bisnis-bisnis yang dapat dan benar-benar melakukan interaksi.

3. Konektivitas (Connectivity)

Terdapat organisasi yang saling terkait/bergantung (interconnected/linked /interdependent organizations) dengan beragam jenis hubungan yang berbeda.

Esensi klaster industri terletak bukan hanya pada keberhasilan

mencapai ‖hasil akhir‖ tetapi juga proses penciptaan nilai (value creation) dan kekuatan rantai nilai (value chain) dari ‖keseluruhan‖ rantai nilai relevannya.

Dengan pertimbangan dimensi rantai nilai, secara umum terdapat dua pendekatan klaster industri, yaitu: Aglomerasi, merupakan pendekatan berdasarkan pada aspek keserupaan (similarity) sehimpunan aktivitas bisnis. Dalam hal ini misalnya, sentra industri/bisnis, industrial district, dan sejenisnya

yang mempunyai ―keserupaan‖ aktivitas bisnis dianggap sebagai suatu klaster

industri. Dan Michael Porter mengembangkan pola pendekatan yang lebih

menyoroti ―keterkaitan‖ (interdependency) atau rantai nilai sehimpunan aktivitas bisnis. Dalam pandangan ini, sentra industri/bisnis dan/atau industrial district

pada dasarnya merupakan bagian integral dari jalinan rantai nilai sebagai suatu klaster industri.

(24)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

15

prakarsa pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan/teknologi atau tema

sejenisnya, dan bukan ―sekedar‖ upaya memperoleh ―ekonomi aglomerasi‖

karena terkonsentrasinya aktivitas bisnis yang serupa. Hal yang penting dari pendekatan kedua ini adalah asumsi bahwa untuk berhasil, perusahaan tidak dapat bekerja sendiri secara terisolasi. Identik dengan ini adalah bahwa inovasi seringkali muncul dari interaksi multi pihak.

Bergman dan Feser (1999) mengungkapkan setidaknya ada 5 (lima) konsep utama yang mendukung literatur klaster industri daerah, yaitu: external economies, lingkungan inovasi, persaingan atau kompetisi kooperatif (cooperative competition), persaingan antar industri (interfirm rivalry), dan path dependence.

Selain itu, pendekatan yang keenam adalah yang dikenal dengan efisiensi kolektif (collective efficiency). Hubungan keterkaitan antara keenam teori tersebut akan dijelaskan sebagai berikut dan seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

(25)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

16

a) Eksternalitas Ekonomi

Secara umum ada dua pendekatan konseptual dalam literatur untuk memahami manfaat terkonsentrasinya perusahaan dalam ruang geografis tertentu, yaitu: Teori lokasi industri (yang bertumpu pada karya Weber dan Hoover di tahun 1930-an), di mana manfaat yang diperoleh sering disebut ekonomi aglomerasi, dan Teori Marshal yang diawali analisis eksternalitas

ekonomi dan kehadirannya dalam ―kawasan industri (industrial district)

Teori lokasi industri Weber mengidentifikasi ekonomi aglomerasi, yaitu penghematan biaya yang dinikmati oleh perusahaan-perusahaan akibat dari meningkatnya konsentrasi secara spasial, sebagai salah satu dari tiga sebab utama pengelompokan spasial atau aglomerasi. Sebab-sebab tersebut merupakan eksternalitas ekonomi yang bersifat internal. Hoover selanjutnya memperkenalkan ekonomi lokalisasi dan urbanisasi. Belakangan penekanan atas keuntungan dari jarak kedekatan (proximity) antar perusahaan, ketersediaan dan penggunaan fasilitas perbaikan yang terspesialisasi, infrastruktur bersama, berkurangnya resiko dan ketidakpastian bagi para wirausahawan, dan informasi yang lebih baik, diidentifikasi sebagai faktor penting dari aglomerasi.

(26)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

17

Krugman (1991) menelaah lokalisasi produksi industri dan mengidentifikasi tiga alasan lokalisasi tersebut, yaitu:

 Penghimpunan pasar tenaga kerja (labour market pooling): konsentrasi sektoral dan geografis menciptakan sehimpunan keterampilan yang terspesialisasi yang menguntungkan baik bagi tenaga kerja maupun perusahaan.

 Input antara (intermediate inputs): klaster perusahaan memungkinkan adanya dukungan dari pemasok input dan jasa-jasa yang lebih terspesialisasi.

Spillover teknologi (technological spillovers): ―klasterisasi/pengklasteran‖

memfasilitasi difusi know how dan gagasan secara cepat.

b) Lingkungan Inovasi

Sebagaimana disampaikan oleh Roelandt dan den Hertog (1999), dalam perkembangan teori inovasi, perilaku dan aliansi strategis antar perusahaan, dan interaksi serta pertukaran pengetahuan antara perusahaan, lembaga-lembaga riset, perguruan tinggi dan lembaga lainnya telah menjadi ―pusat‖ dari analisis proses inovasi. Inovasi dan peningkatan (upgrading) kapasitas produktif dipandang sebagai suatu proses sosial yang dinamis yang acapkali berhasil berkembang dalam suatu jaringan di mana interaksi intensif terjadi antara

pelaku yang ―menghasilkan/menyediakan‖ pengetahuan dan pelaku yang ―membeli dan menggunakan‖ pengetahuan.

Sehubungan dengan itu, klaster industri sering dinilai sebagai alat kebijakan yang penting yang terkait dengan sistem inovasi nasional. Pandangan Lundvall (1992) tentang sistem inovasi nasional menekankan pentingnya kapabilitas pembelajaran (learning capability) dari perusahaan, lembaga-lembaga dan masyarakat pengetahuan.

(27)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

18 yang justru (dipandang) sebagai bagian yang tak ―terkodifikasi (codified)‖ atau

bersifat tacit (lekat dengan orang dan/ atau kelembagaan). Pengetahuan yang

tacit semakin penting seiring dengan cepatnya perubahan lingkungan ekonomi global. Pertukaran pengetahuan demikian terjadi antar multipihak, termasuk lembaga non bisnis. Karakteristik lingkungan setempat (daerah) yang mendukung terjadi interaksi multipihak untuk pertukaran pengetahuan dan informasi demikin akan memiliki keunggulan bagi perkembangan inovasi dibanding dengan daerah lainnya yang tidak. Seperti misalnya diungkapkan Saxenian (1994), bahwa perbedaan yang terjadi antara Silicon Valley dan Route 128 adalah akibat faktor modal sosial.

Pandangan lain tentang ini adalah ―teori‖ tentang ―lingkungan inovatif (innovative milieu)‖ Maillat (lihat misalnya Fromhold-Eisebith, 2002). Lingkungan (milieu) lebih merupakan tatanan yang mampu memprakarsai suatu proses sinergis. Pendekatan innovative/creative milieu mengasumsikan suatu endowment (anugerah) kelembagaan daerah yang baik dalam bentuk perguruan tinggi, laboratorium riset, lembaga-lembaga pendukung publik, beberapa perusahaan dan faktor lainnya sebagai prasyarat perlu, berfokus pada kekuatan-kekuatan utama yang mendorong lembaga-lembaga tersebut benar-benar berinteraksi dan terkoordinasi sedemikian sehingga membawa kepada hasil yang positif di daerah, utamanya perusahaan-perusahaan yang inovatif.

Seperti dikutip oleh Fromhold-Eisebith (2002) dari Camagni (1991),

GREMI (the Groupe de Recherche Europeen sur les Milieux Innovateurs)

mendefinisikan innovative milieu sebagai ―sehimpunan atau jaringan komplek

terutama dari hubungan-hubungan sosial informal pada suatu area geografis terbatas, yang seringkali menentukan ―citra‖ khusus tertentu di luar (eksternal)

dan suatu ―perwakilan/representasi‖ khusus serta rasa kepemilikan (sense of

(28)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

19

yang efektif dalam suatu kerangka daerah; kontak sosial yang meningkatkan proses pembelajaran; dan citra dan rasa memiliki.

c) Kompetisi Kooperatif

Dalam pandangan ini, perusahaan yang bersaing satu dengan lainnya akan berusaha mencarai cara untuk dapat bekerjasama dalam pengembangan produk ataupun merebut pasar. Pola kerjasama biasanya didasarkan atas kepercayaan, ikatan keluarga, dan tradisi, seperti dijumpai dalam industrial district di Third Italy. Belakangan, keterikatan sosial (social embeddedness)

nampaknya banyak melandasi perkembangan konsep tersebut. Fenomena ini nampaknya jarang dijumpai di luar literatur industrial district (Bergman dan Feser, 1999). Di Indonesia pun, fenomena demikian nampaknya lebih mungkin dijumpai di sentra-sentra industri kecil, yang secara historis telah berkembang lama (turun-temurun dari suatu generasi ke generasi berikut) dan ―keterikatan‖ sosial dan kultural antar pelaku telah menjadi bagian sangat penting dari komunitas sentra.

d) Persaingan/Rivalitas (Rivalry)

Serupa dengan tema dalam industrial district, konsep ini memandang bahwa persaingan (karena struktur industri dan/ataupun semangat berkompetisi dari perusahaan dalam industri) akan sangat mempengaruhi pembelajaran, inovasi dan kewirausahaan, yang akan membentuk pola perkembangan ekonomi daerah.

e) Path Dependence

Model-model polarisasi, core-periphery, dan kausalitas kumulatif semuanya merujuk kepada kecenderungan yang akan lebih memperkuat bagi daerah untuk terus maju atau mundur.

(29)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

20 (new growth theory) mengasumsikan kemungkinan peran increasing returns. Teori pertumbuhan baru memandang bahwa suatu keunggulan komparatif yang

terbentuk di suatu daerah atau negara (apakah karena faktor ―kebetulan,‖

distribusi sumber daya alam, ataupun fenomena yang bersifat non perilaku) akan sangat mungkin menguat sebagai akibat dari eksternalitas ekonomi.

Dalam ekonomi internasional yang ―baru‖ pun, faktor increasing returns

dalam perdagangan berimplikasi pada kemungkinan pola perkembangan yang sangat terkonsentrasi secara geografis, termasuk perbedaan dalam pendapatan dan penyerapan kerja antar daerah. Eksternalitas yang berkaitan dengan pengetahuan sangat mungkin menjadi fenomena lock-in effect, yang membuat suatu daerah mempunyai kelebihan dalam bidang tertentu (yang didukung oleh pengetahuan terkait yang berkembang) dibanding dengan daerah lainnya. Bagaimana kemungkinan hal ini terjadi ataupun berlanjut nampaknya lebih merupakan persoalan empiris.

Istilah path dependence dalam hal ini mengacu kepada keadaan umum di mana pilihan teknologi, walaupun nampaknya tidak efisien, inferior, ataupun yang suboptimal, akan mendominasi alternatif/pilihan lainnya dan akan

―memperkuat‖ terus (self-reinforcing), walaupun ini tak berarti bahwa dengan upaya intervensi yang cukup signifikan, hal tersebut tak dapat diubah.

Beberapa bukti empiris di Tanah Air juga mengindikasikan bahwa daerah-daerah tertentu mempunyai kelebihan dari daerah lainnya dalam bidang tertentu, yang dilandasi oleh pengetahuan/keterampilan spesifik terkait, yang berkembang dari waktu ke waktu. Walaupun, karena proses inovasi yang relatif lambat (misalnya karena relatif rendahnya tingkat pendidikan) dan/atau faktor lainnya, hal ini tak selalu menjadi keunggulan daerah yang terus

terpelihara. Daerah lain seringkali dapat ―meniru‖ dan bahkan mengungguli

(30)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

21

f) Efisiensi Kolektif (Collective Efficiency)

Selain kelima hal yang telah disampaikan, Schmitz (1997) adalah di

antara yang menelaah faktor/isu ―lain‖ sehubungan dengan klaster industri. Ia menekankan adanya ―efisiensi kolektif‖ (collective efficiency) dari suatu klaster industri yang berkontribusi pada keunggulan daya saing perusahaan. Artinya, perusahaan-perusahan dan organisasi terkait lainnya dapat termotivasi oleh ekspektasi adanya efisiensi kolektif yang dapat/akan diperolehnya jika

―bergabung‖ dalam suatu klaster industri tertentu.

Efisiensi kolektif ini teridiri atas dua aspek dan kombinasi dari keduanya akan beragam antara suatu klaster dengan lainnya dan juga berkembang dari waktu ke waktu, yaitu: Ekonomi eksternal lokal/setempat (local external economies) : yang berkaitan dengan manfaat ekonomi yang muncul dari terkonsentrasinya perusahaan di suatu tempat/wilayah geografis. Ini bersifat

insidental (tidak direncanakan), dan ―pasif.‖ Dan Tindakan/aktivitas bersama (joint action) : yang berkaitan dengan manfaat yang diperoleh akibat upaya yang dengan sadar direncanakan dan dilakukan bersama oleh anggota klaster. Elemen ini merupakan elemen yang sengaja direncanakan dan adakalanya

disebut elemen ―aktif.‖

(31)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

22

3.2 Teknologi Pengolahan

Komposisi hasil pengolahan tandan buah segar (TBS) ditampilkan pada diagram berikut:

Gambar 3.4 Neraca Massa Pengolahan Kelapa Sawit

Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dapat menghasilkan 65 persen buah, 13.5 persen kondensat dan 21 persen tandan kosong. 65 persen buah dapat dihasilkan biji (11,9%) dan mesocarp (53,4%). Cara pneumatis dan mekanis dapat digunakan dalam pemisahan biji dengan serabut. Pemisahan biji dengan menggunakan tarikan atau hisapan udara pada sebuah kolom pemisah di sebut Pneumatis. Pemecahan ampas pengempaan dengan cake breaker conveyor. Biji yang bersih dibawa ke kernel recovery station, sedangkan serabut dibawa ke shell/fibre conveyor.

(32)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

23

silo untuk dikeringkan, kemudian biji yang sudah dikeringkan tersebut dipecah cangkangnya dengan ripple mill dan dibawa ke LTDS I, II. Selanjutnya inti dibawa ke kernel silo untuk dikeringkan dan siap untuk dibawa ke pengolahan PKO.

Seterusnya mesocarp dapat mengasilkan tiga pecahan yaitu CPO (24%), fiber (14,4%), dan POME (53,5%). CPO dapat dikembangkan menjadi produk Olein/Stearin, Palm mid fraction (PMF), PFAD, Biodiesel dan Asam lemak, semntara PKO menghasilkan asam lemak.

Gambar 3.5 Contoh Produk IHKS

Salah satu turunan produk adalah minyak makan yang berkualitas baik melalui proses refinery (Industri Olein, Stearin, PFAD). Ada dua rute pemurnian CPO yaitu secara kimia (basic refining) dan fisik (physical refining). Perbedaan kedua rute ini terletak pada cara asam lemak dipisahkan dari minyak. Cara kimia dilakukan dengan memisahkan asam lemak bebas dengan pada minyak dengan cara mereaksikannya dengan soda api sehingga terbentuk soap stock

(33)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

24

memisahkan asam lemak bebas dari minyak dengan cara memproses minyak pada distilasi uap pada suhu tinggi dan kondisi vakum.

Proses pemurnian CPO secara fisik terdiri dari beberapa komposisi yaitu: bahan baku (CPO) dari storage tank masuk ke umpan dengan laju alir 35-60 ton per jam. Suhu awal CPO  40 – 60 oC. CPO dipompakan melewati sistem recovery panas untuk meningkatkan suhu hingga mencapai 60-90 oC. Selanjutnya 20% CPO diumpan ke slurry tank dan dicampur dengan bleaching earth (6-12 kg/ton CPO) membentuk slurry, slurry terbentuk dimasukkan ke bagian bleacher. Pada saat yang sama sekitar 80% CPO dipompakan melalui plat heat exchanger (PHE) dan steam heater untuk meningkatkan suhu CPO hingga 90-130 oC, yaitu seuhu yang diperlukan agar terjadi reaksi antara CPO dan asam fosfat. Kemudian CPO dipompakan ke static mixer dan ditambah asam fosfat dengan dosis 0,35-0,45 kg/ton CPO.

Proses pengadukan dengan minyak kasar untuk presipitasi gum. Kemudian hasil degumming proses dialirkan menuju bleacher section. Bagi mendapatkan hasil maksimum pada saat bleacher 20% slurry dan 80% degummed CPO dicampur dan proses bleaching terjadi pada suhu 100-130oC selama 30 menit. Membantu mengatasi masalah yang akan timbul perlu dibuang kotoran (pigman, trace metal, produk oksidasi) melalui proses bleaching earth.

Niagara filter berfungsi untuk melewatkan slurry dan bleaching earth untuk mendapatkan minyak yang bersih dengan stabilitas suhu 80 – 120 oC. minyak hasil penyaringan tersebut dipompakan menuju buffer tank sebelum proses selanjutnya. BPO (bleached palm oil) keluar di filter dan melewati serangkaian pemanas (Schmidt plate heat exchanger and Spiral) untuk memanaskan CPO dari suhu 80-12 oC.

(34)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

25

dari 10 torr. Steam dapat digunakan secara langsung untuk menghilangkan residu asam lemak bebas, aldehid dan keton. Berat melekul asam lemak yang lebih rendah dapat menguap lebuh mudah dan naik ke kolom dan dikeluarkan oleh sistem vakum, dikondensasikan dan dikumpulkan dalam kondensor asam lemak.

Seterusnya asam lemak didinginkan dan disebar ke tanki storage asam lemak pada suhu 60-80 oC sebagai PFAD. Produk yang dihasilkan berupa refined, Bleached, Deodorized Palm Oil (RBDPO) dipompakan melalui Schmidt PHE pada suhu 250-280 oC untuk mentransfer panasnya ke BPO bersuhu rendah, kemudian melewati filter lain pada suhu 120 – 140 oC. Kemudian dipompakan menuju penyimpanan dengan suhu 50-80 oC. Proses fraksinasi dilakukan untuk memisahkan RBDPO (stearin dan olein) berdasarkan titik cair. Proses ini akan menghasilkan 73% olein, 21% stearin, dan 5% palm fatty acid distillate (PFAD) dan 0,5% limbah.

Minyak sawit dapat juga menghasilkan beberapa produk pangan seperti yang tertera pada diagram dibawah ini:

(35)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

26

Pengolahan minyak sawit menjadi produk pangan setelah proses refining kemudian dilakukan lima proses berikutnya, yaitu esterifikasi, interesterifikasi, hidrogenasi, blending, dan distilasi molekuler. Produk pangan dari minyak sawit memalui proses esterifikasi dan distilasi molekuler menghasilkan vitamin E dan vitamin A. Melalui proses interesterifikasi dan blending menghasilkan vegetable ghee, dan proses hidrogenasi menghasilkan frying fat, margarine, shorterning, coating fat, confectioneries fat, coffe whitener, dan biscuit creamer. Selanjutnya proses hidrogenasi mengeluarkan CBE/CBS/CBX dan proses interesterifikasi menghasilkan Food Emulsifier.

Beberapa produk pangan berasal daripada minyak sawit dapat dijelaskan berikut ini:

a. Margarine

Bahan baku utama margarine adalah minyak dan lemak. Lemak yang digunakan berdasarkan pada pertimbangan pengaruhnya terhadap karakteristik kristalisasi selama produk margarine berlangsung dan juga pemilihan peralatan yang digunakan dalam line produksi margarine. Bahan tambahan lain yang diperlukan adalah bahan tambahan yang larut minyak (fat solube) dan larut air (water solube) seperti pewarna, lesitin, garam, emulsifier, potassium sorbet, asam sitrat, susu skim bubuk.

b. Mayonaise

Komponen utama Mayonaise adalah minyak nabati, air, kuning telur (emulsifier lainnya), garam, gula, cuka dan asam sitrat, untuk jenis tertentu ditambah bumbu. Kandungan lemak Mayonaise berbeda-beda, yaitu dari 15% (dressing) hingga 50-65% (salad mayonnaise), lebioh dari 80% (full fat mayonnaise). Kadar lemak dibawah 50%, perlu ditambahkan stabilizer seperti hidrokoloid pada komponen utama.

(36)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

27

- Telur : 10 – 11% - Air : 8 – 10% - Garam : 1%

- Gula : 1%

- Lemon : 0,5%

- Spice (essential oil) : 0,5%

Produksi skala kecil hingga 1000 kg/jam dilakukan dengan proses batch, sedangkan proses produksi skala besar proses produksi yang dilakukan secara kontinyu. Proses mayonnaise dapat dilakukan secara dingin dan panas.

c. Shortening

Proses ini meliputi proses fraksinasi dan hidrogenasi. Proses-proses ini memiliki fleksibilitas tinggi dan dapat diterapkan pada industri pangan dalam hal memilih jenis bahan baku minyak yang akan digunakan tergantung pada harga, ketersediaan dan kebutuhan konsumen.

(37)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

28

Pengolahan kelapa sawit menjadi bioenergi ditunjukkan secara rinci pada diagram dibawah ini. Secara umum, hampir semua komponen IHKS yang berasal dari kelapa sawit (minyak sawit, limbah padat, dan limbah cair) dapat dimanfaatkan.

Minyak sawit dapat diolah menjadi lima produk bioenergi, yaitu biodiesel, green gasoline, green olefin, green diesel, dan green jet. Seperti biodiesel dproduksi menggunakan bahan baku minyak sawit mentah (CPO), memerlukan pretreatment untuk memisahkan trigliserida dengan wax. Hal ini bertujuan untuk memisahkan dalam proses pemisahan biodiesel dari gliserol.

biodiesel dapat dihasilkan melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi trigliserida. Transesterifikasi adalah penggantian gugus alkohol dari suatu ester dengan alkohol lain dalam suatu proses yang mempunyai hidrolis. Terdapat perbedaan antara proses transesterifikasi dengan hidrolis, yaitu pada proses transesterifikasi yang digunakan adalah alkohol bukan air. Adapun katalis yang digunakan adalah sodium metilat, NaOH dan KOH.

Jenis alkohol yang sering digunakan adalah methanol, karena harga yang relative murah. Faktor utama yang mempengaruhi rendemen ester yang dihasilkan pada reaksi transesterifikasi adalah rasio molar antara trigliserida dan alkohol, waktu reaksi, kandungan air, dan kandungan asam lemak bebas pada bahan baku. Adapun factor lain yang mempengaruhi kandungan ester pada biodiesel ialah jumlah kandungan gliserol pada bahan minyak minyak, jenis alkohol, jumlah katalis sisa dan kandungan sabun.

Penanggulangan limbah cair dan limbah padat (tandan kosong, cangkakng, pelepah dan batang) dapat menambah nilai produksi lainnya, seperti bahan bakar pembangkit energy listrik, bio oil, etanol, dan gas metan.

(38)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

29

empat bahan baku yaitu gliserol, asam lemak (fatty acid), fatty alcohol dan metal ester asam lemak. Pada diagram dibawah ini dijelaskan beberapa produk oleokimia yang dapat dihasilkan dari minyak sawit.

Gambar 3.8 Teknologi Proses Minyak Kelapa Sawit Menjadi Produk Oleokimia

Antara produk oliokimia adalah surfaktan. Jenis produk surfaktan yang dapat diproduksi dengan menggunakan asam lemak dari minyak sawit antaranya ialah gliserol monopolmitat (GMP), gliserol monooleat (GMO) dan gliserol monostrearat (GMS) melalui proses esterifikasi. Sementara dengan

Teknologi Proses Pengolahan Minyak Sawit

Menjadi Produk Oleokimia

Sumber : Hui, 1996; Suryaniet al., 2008

(39)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

30

proses etoksilasi dapat dihasilkan asam lemak etoksilat dan poliglikol eter, dan melalui proses aminasi akan menghasilkan fatty amine dan fatty amine oxide.

3.3 Analisis Kawasan Industri

3.3.1 Teori Kawasan

Kawasan industri pertama kali dikembangkan pada tahun 1876 di Inggris yaitu Trafford Park Estates, dengan luas sekitar 500 Ha yang merupakan lokasi industri terluas sampai pada tahun 1950-an. Pada awal abad 20, lokasi industri di Amerika Serikat dikembangkan di kota Chicago yaitu antara lain Central Manufacturing District dibangun pada tahun 1902 dengan luas 105 Ha, The Clearing Industrial District yang dibangun pada tahun 1909 seluas 215 Ha, dan The Pershing Road District dibangun tahun 1910 dengan luas 40 Ha. Selanjutnya pada tahun 1960-an di Amerika Serikat telah berkembang lokasi industri yang dikenal dengan Science Park atau Technology Park yaitu lokasi industri untuk tujuan penelitian dan pengembangan. Pada tahun 1970-an, konsep Business Park dikembangkan dimana dalam suatu lokasi tertampung berbagai kegiatan seperti perkantoran dan industri yang ditunjang oleh kegiatan perdagangan dan rekreasi. Kemudian baru pada tahun 1980-an lokasi perumahan juga dimasukan dalam kawasan Business Park.

(40)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

31

Berikat atau Bonded Zone dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor non migas.

Kawasan Berikat merupakan suatu lokasi industri khusus dimana untuk melancarkan arus barang ekspor semua kegiatan kepabean. Berdasarkan Permendagri No. 5 Tahun 1974 diatur bahwa yang dapat diberikan lahan untuk usaha lokasi industri adalah badan hukum yang seluruh modalnya berasal dari Pemerintah. untuk barang ekspor dilakukan pada lokasi tersebut dan bahan baku untuk ekspor mendapat fasilitas bebas Bea Masuk. Seiring dengan perkembangan investasi yang terus meningkat, kemudian pihak swasta baru dilibatkan dalam usaha lokasi industri melalui Keppres No. 53 tahun 1989 dimana diatur bahwa usaha lokasi industri dapat dilaksanakan oleh pihak swasta domestik maupun asing dengan atau tanpa partisipasi BUMN. Sejak pihak swasta diperbolehkan mengembangkan lokasi industri, maka pertumbuhan lokasi industri bertumbuh dengan pesat sekali. Sampai pada tahun 1994 misalnya, jumlah lokasi industri yang tercatat di Himpunan Kawasan Industri (HKI) adalah sebanyak 146 lokasi dengan total luas lahan sebesar 42.019 Ha yang sebagian besar tersebar di propinsi Jawa Barat (21.289 Ha) dan kota Jakarta (3.064 Ha).

Beberapa teknik untuk menentukan pembangunan kawasan industri dengan menggunakan teori asal ekonomi, kesan penggada yang berkaitan dengan teori input-output dan penggunaan teori lokasi (Location Theory), teori tempat pusat (Central Place Theory) dan penerapan teori kutub pertumbuhan (Growth Pole Theory). Penjelasan setiap teori dapat disebutkan sebagai berikut (Tarigan Robinson, 1998):

a) Teori Lokasi, ada tiga hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan lokasi pembangunan iaitu (a) kos terendah (b) jangkaan pasaran dan (c) untung paling tinggi (Tarigan Robinson, 1998).

(41)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

32

perkhidmatan seperti jaring segi enam (heksagon). Bentuk pola tempat perkhidmatan heksagon ini secara teori mampu menghasilkan secara optimum penjimatan kos pengangkutan, pasaran dan pentadbiran (Haggett, 2001).

c) Teori Kutub Pertumbuhan, berbeza dengan pernyataan Christaller yang berlatar ahli geografi, teori Kutub Pertumbuhan digagaskan dan dikembangkan oleh para ahli ekonomi. Teori ini melahirkan konsep ekonomi seperti konsep industri penggerak (leading industry), konsep polarisasi dan konsep memberi pengaruh (trickle atau spread effect) (Tarigan Robinson, 1998).

Akan tetapi teori lokasi yang tradisional berpendapat bahawa kluster (pengelompokan) industri muncul terutama akibat minimumkan kos pengangkutan atau kos produksi (Isard, 1956, Weber, 1909). Teori lokasi industri Weber menurut model Weber adalah bergantung kepada tiga faktor iaitu pasaran, tenaga kerja dan bahan mentah. Penjelasan berasaskan kepada mencari lokasi dengan kos pengeluaran yang paling rendah dan keuntungan yang maksimal merupakan salah satu konsep geografi.

(42)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

33

Kedua, faktor tanggapan penduduk pada lokasi area yang telah ditentukan, hal ini tentu sangat mempunyai peranan dalam pelaksanaan aktiviti pada lokasi, kerana dengan mengetahui sikap penduduk pada rancangan pembangunan yang dicadangkan akan memudahkan pelaksanaan dan keberterusan aktiviti tersebut ke hadapan.

Kemajuan jaman dengan berbagai informasi yang diterima oleh pihak penduduk akan mempengaruhi sikap dan tindakan dalam menerima suatu aktiviti di daerahnya. Apakah sikap dan tindakan tersebut menguntungkan atau tidak, dapat diperoleh dari tanggapan yang diminta dari penduduk. Oleh itu kajian ini dengan disebut dalam istilah DLA menyesuaikan dengan teori lokasi Weber.

Lokasi industri secara umum mempunyai pengertian sebagai lahan atau tanah tempat pabrik dan sarananya melakukan proses produksi. Penentuan lokasi industri (pabrik) akan berkaitan dengan unit-unit lain. Menurut Budiharsono (2001) keputusan mengenai penentuan lokasi yang diambil oleh unit-unit pengambil keputusan akan menentukan struktur ruang wilayah yang terbentuk.

Ada tiga unit yang menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan penentuan lokasi industri (pabrik) yaitu: rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Setiap unit pengambil keputusan mempunyai kepentingan tersendiri yang bersumber dari aktivitas ekonomi yang dilakukan. Aktivitas ekonomi rumah tangga yang paling pokok adalah penjualan jasa tenaga kerja, dan konsumsi.

(43)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

34

3.3.1.1 Pendekatan Penentuan Lokasi Industri

Menurut Budiharsono (2001) pendekatan dalam penentuan lokasi industri terbagi tiga, yaitu: pendekatan meminimumkan biaya atau biaya terkecil, pendekatan wilayah pemasaran, dan pendekatan memaksimalkan keuntungan. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan satu per satu secara rinci.

1. Pendekatan Biaya Terkecil

Pendekatan biaya terkecil yang dikemukakan oleh Alfred Weber (dalam Budiharsono 2001: 23). Pendekatan ini didasarkan atas biaya transportasi terkecil. Setakat dengan pendekatan ini tiga faktor utama yang mempengaruhi lokasi industri adalah biaya transportasi, biaya tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi. Dalam hal ini Weber mengasumsikan bahwa biaya transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh dan berat barang, sehingga titik yang membuat biaya terkecil adalah bobot total pergerakan pengumpulan berbagai input dan pendistribusian hasil industri.

2. Pendekatan Wilayah Pemasaran

Berbeda dengan pendekatan biaya terkecil yang hanya memperhatikan sisi

input, namun kurang memperhatikan sisi output (permintaan), Losch (dalam Budiharsono 2001) melihat penetapan lokasi industri dari sisi permintaan. Dengan kata lain, pendekatan ini mempertimbangkan ukuran optimal dari pasar. Lokasi optimal adalah tempat di mana terjadi keuntungan maksimal dengan asumsi penyebaran faktor input merata, faktor penyebaran penduduk dan selera masyarakat sama, serta tidak ada ketergantungan lokasi antarperusahaan.

3. Pendekatan Keuntungan Maksimum

(44)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

35

cara mencari lokasi yang memberikan keuntungan yang maksimal setelah memperhatikan lokasi yang menghasilkan ongkos terkecil dan lokasi yang memberikan penerimaan terbesar, dengan mengintrodusir konsep average cost (biaya rata-rata) dan average revenue (penerimaan rata-rata) yang terkait dengan lokasi

Konsep di atas sangat sesuai di gunakan untuk melihat kesesuaian antara lokasi optimum dengan daerah yang menyediakan tenaga murah untuk menentukan biaya minimal angkutan, sehingga memudahkan pengusaha untuk mengambil keputusan berkenaan dengan lokasi industrinya.

Menurut lokasi industri secara umum ada tiga macam lokasi industri yang ada, yaitu:

1. Industri yang berhaluan bahan (dalam arti bahan mentah harus diperhitungkan secara khusus), berlokasi di tempat bahan mentah, meliputi : a. Pengolahan barang yang cepat rusak atau busuk, seperti daging, ikan,

bunga dan sebagainya.

b. Pengolahan barang dalam jumlah besar atau barang bagal atau curahan (bulky goods) karena angkutan mahal, seperti kulit kina, kayu, beras, batubara, dan sebagainya. Jika dalam pembuatan industri tertentu, perbandingan kehilangan berat mencapai 90 % dalam keadaan semua faktor yang sama, pabrik itu cenderung berlokasi di tempat bahan mentah.

c. Pengolahan pelikan, kecuali aluminium yang memerlukan listrik yang banyak dan murah.

2. Industri berhaluan pasar (market oriented), berlokasi ditempat pemasaran a. Jika dalam pembuatan industri tertentu, perbandingan kehilangan berat

(45)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

36

roti, rokok, karena setelah diolah beratnya tidak banyak berbeda dengan barang mentahnya (the weight loss ratio is low);

b. Pembotolan minuman (limun), karena air bersih mudah didapat;

c. Barang yang memerlukan ongkos tinggi, karena besar ukurannya (peti, mebel, dan sebagainya)

d. Industri pakaian karena mode yang cepat berubah 3. Industri yang berhaluan pekerja

Berlokasi ditempat tenaga kerja, ialah dalam pengerjaan barang industri yang memerlukan keahlian khusus (dalam hal ini lain umumnya tenaga buruh yang tertarik oleh industri), contoh : industri di Kudus mayoritas berhaluan tenaga kerja, seperti industri rokok, jenang, dsb (Jayadinata,1999:137).

3.3.1.2 Pertimbangan Penetapan Lokasi Industri

Pertimbangan penetapan lokasi sebagai kawasan industri adalah keadaan geografis. Dilihat dari keadaan geografisnya perkembangan kawasan dapat ditentukan dari bentuk fisik kawasan itu sendiri, penentuan lokasi, dan hal – hal yang dapat mempengaruhi fungsi, misalnya: daerah pertukaran barang dan jasa antar darat dengan laut, kedekatan dengan sumber bahan baku, ketersediaan sumber energi dan faktor infrastruktur lainnya serta kemudahan akses kepada pasar merupakan factor-faktor penting di dalam pemilihan suatu lokasi.

Walter Christaller menyatakan sejumlah asumsi yang dapat dijadikan sebagai dasar dan acuan penetapan suatu lokasi menjadi suatu kawasan industry, yaitu:

1. Adanya suatu dataran yang seragam bentuknya (homogen).

(46)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

37

3. Tempat – tempat (pemukiman) yang sentral terletak di dataran untuk memberikan barang, pelayanan, dan administrasi pada daerah sekitarnya. 4. Konsumen secara mudah dapat mengunjungi tempat – tempat sentral yang

terdekat yang menyediakan (barang dan jasa) tersebut.

5. Pemasok secara leluasa dapat memberikan kontribusi di dalam penyediaan bahan baku sehingga tercipta hubungan yang saling membutuhkan dengan industri yang ada pada kawasan tersebut.

Gambar berikut akan mengilustrasikan kasus penurunan muatan, dimana bobot produk akhir menjadi lebih rendah dibandingkan dengan bahan baku yang akan diproses.

Gambar 3.9 Ilustrasi kasus penurunan muatan

Pada diagram 3.9 lokasi industri ditempatkan tepat di antara sumber bahan baku dan pasar. Biaya yang akan ditimbulkan akan semakin meningkat terutama pada penyampaian produk akhir kepada pasar.

(47)

________________________

Laporan Akhir

Feasibility Study Klaster Industri Berbasis Pertanian Dan Oleokimia Di Kuala Enok

38

Melalui ketiga diagram tersebut, Weber mengisyaratkan bahwa, bobot bahan baku selalu lebih besar daripada bobot produk akhir, sehingga untuk melakukan pengriman bahan baku ke lokasi industry akan lebh besar dibandingkan pengriman produk jadi ke pasar sasaran. Jadi saran terbaik yang diberikan oleh Weber bahwa, lokasi industri yang terbaik adalah lokasi yang memiliki kedekatan dengan sumber bahan baku, sehingga akan menghemat biaya pengangkutan (transportation cost).

Tiga diagram berikut mengilustasikan pula keuntungan yang dapat diraih oleh industri jika lokasi industri berdekatan dengan pasar. Jika bobot produk lebih besar dibandingkan dengan bobot bahan baku, maka sebaliknya lokasi industri mesti lebih dekat dengan pasar.

Gambar 3.10 Keuntungan lokasi industri berdekatan dengan pasar

Jadi melalui ilustrasi yang digambarkan oleh beberapa diagram diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keputusan penentuan lokasi terbaik untuk pembangunan suatu kawasan industry bukan hanya ditentukan dari seberapa dekat antara kawasan industry dengan sumber bahan baku, ataupun dengan target pasar. Namun yang lebih penting lagi adalah factor bobot dan kapasitas dari entitas yang akan dipindahkan.

Gambar

Gambar 3.1   Kerangka Strategi Pengembangan IHKS di Indonesia
Gambar 3.3  Rangkuman Konsep Klaster Industri
Gambar 3.4  Neraca Massa Pengolahan Kelapa Sawit
Gambar 3.5  Contoh Produk IHKS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, praktikan mengucap syukur kehadirat Allah SWT, bahwa berkat rahmat dan karunia-Nya, praktikan dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akhir

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan ridho-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan ridho-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH

Alhamdulillah, puji dan syukur pcnulis haturkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat, kasih sayang dan karunia-Nya jualah rnaka akhirnya penulis dapat

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dalam rangka memenuhi

Puji Syukur penulis haturkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul EDUKASI KESEHATAN GIGI DAN

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allat SWT atas berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir

KATA PENGANTAR Segala Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmatNya sehingga laporan Tugas Akhir dengan judul “Perencanaan Dinding