• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluas (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluas (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluasi Lingkungan Hidup :

Studi Pendahuluan bagi Metode Kajian Struktur Perencanaan Kota Maritim,

Mitigasi Wilayah Pesisir dan Manajemen Ecoregion

Nur Endah Nuffida

Abstrak

Urbanisasi dan akibat yang ditimbulkan dalam perencanaan kota merupakan permasalahan mendasar yang melatarbelakangi penulisan kajian ini. Perkembangan global yang ditandai dengan peningkatan jumlah populasi penduduk kota-kota besar dan tingkat kompleksitas yang menyertai fenomena tersebut mendorong negara-negara dengan populasi penduduk tinggi di berbagai belahan dunia untuk melakukan kerja sama internasional antar-kota-kota dunia dalam upaya untuk mengurangi dampak hal tersebut. Salah satu kerja sama yang ditandatangani oleh Indonesia, dengan pertimbangan letak geografis dan potensi sumber daya ruang dan kepulauan, adalah Yokohama City Convention, pada tahun 2002 yang menekankan pada kesepakatan untuk mendukung upaya mitigasi kawasan pesisir dan pantai daerah rawan bencana alam.

Berbagai fenomena bencana alam di berbagai kota di Indonesia, juga dialami banyak kota-kota lain di berbagai wilayah di dunia. Perencanaan kota di sisi lain, merupakan bidang keilmuan yang berkembang dengan penerapan kontekstual bidang-bidang ilmu lainyang terkait : sosial, ekonomi, teknik, kesehatan lingkungan, arsitektur dan permukiman kota, dan hukum. Luasnya cakupan bahasan kajian keilmuan di bidang perencanaan kota, merupakan konsekuensi dan sekaligus menggambarkan kecenderungan perubahan kebudayaan kemanusiaan yang secara spesifik dapat dipahami melalui kenyataan kehidupan urban sehari-hari di sekitar kita.

Evolusi kebudayaan kemanusiaan, melalui banyak kajian bidang keilmuan, mudah dipahami melalui historiografi budaya urban yang terekam melalui jejak tipologi dan morfologi struktur ruang kota yang secara fisik dapat ditelusuri melalui penataan permukiman kota. Penataan permukiman kota dan perencanaan aspek-aspek infrastruktur dan suprastruktur yang mendukung merupakan bahasan utama dalam tulisan ini. Titik berat pada aspek geografis wilayah Indonesia yang juga merupakan negara kepulauan merupakan alasan yang mendasari pemilihan tema kajian yaitu manajemen berbasis ekosistem regional kepulauan. Pentingnya peran perencana kota di tengah-tengah arus perkembangan kebudayaan urban dan kebutuhan akan perlindungan lingkungan hidup untuk kepentingan bersama merupakan bagian dari manfaat yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan bidang keilmuan perencanaan kota melalui kajian ilmiah terkait dengan konteks arsitektur ruang kota.

Pembahasan dan kajian terbatas pada kajian ilmiah tata-ruang kota di wilayah pesisir Indonesia. Kajian tidak membahas tipologi dan morfologi kota pesisir Indonesia melalui aspek perkembangan dan kesejarahan struktur ruang kota dari waktu ke waktu namun dititikberatkan pada preseden yang mendasari kondisi yang dihadapi stakeholder kota, dalam hal ini pemerintah kota di daerah-daerah pesisir pantai Indonesia, yang juga dihadapkan pada tanggung-jawab untuk dapat menyediakan fasilitas mitigasi untuk kondisi-kondisi darurat bencana alam selain pemenuhan kebutuhan akan kesejahteraan dan terjaminnya kualitas kehidupan penduduk kota sebagaimana amanat undang-undang dasar dan hukum yang bersifat melekat pada kewenangan dan tanggung-jawab sebagai aparatur negara.

(2)

2

I. PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

1.1.

Budaya Bermukim, Kehidupan Perkotaan dan Urbanisasi

Pemahaman akan pentingnya kota sebagai tempat berkembangnya kebudayaan manusia,

community building, dan muara pertemuan berbagai aspek kehidupan : perdagangan,

politik, pendidikan,pemerintahan, dan ekonomi merupakan paradigma bagi pemahaman

akan budaya utama yang melatari tumbuhnya kota-kota di dunia. Budaya utama yang

muncul sebagai bagian dari latar utama yang mendasari pertumbuhan kota adalah budaya

bermukim di wilayah-wilayah tertentu yang memberikan daya dukung bagi kehidupan :

batas teritorial, sumber daya alam dan daya dukungnya .

Wacana akan perkembangan budaya urban atau budaya perkotaan dapat ditinjau melalui

kehidupan sehari-hari dalam permukiman yang dibangun di wilayah-wilayah perkotaan.

...It recognizes the importance of cities as places of and for local sentiment, community building, and the reenactment of cultural myths and rituals. Cities, consequently, are not approached merely as forums for economic and political confrontations but as places rich with meaning and value for those who live, work, and play in and near them. Moreover, it provides the best window into the ways that people develop a sense of a place as part of cultural repertoires..the important relationship that exists between culture and the places where culture is made. based on following ideas :the practices of rural cultures to the identity formation through which architecture and urban design have already pursued in citylife.1

1.2. Dialektika Keilmuan dan Wacana Global

Perencanaan tata ruang (spatial planning) merupakan metode-metode yang digunakan oleh

sektor publik untuk mengatur penyebaran penduduk dan aktivitas dalam ruang yang

skalanya bervariasi. Perencanaan tata ruang terdiri dari semua tingkat penatagunaan tanah,

(3)

3

termasuk perencanaan kota, perencanaan regional, perencanaan lingkungan, rencana tata

ruang nasional, sampai tingkat internasional seperti Uni Eropa.

Salah satu definisi awal perencanaan tata ruang diambil dari European Regional/Spatial

Planning Charter (disebut juga Torremolinos Charter), yang diadopsi pada tahun 1983 oleh

Konferensi Menteri Eropa yang bertanggung jawab atas Regional Planning (CEMAT), yang

berbunyi: "Perencanaan tata ruang memberikan ekspresi geografis terhadap

kebijakan-kebijakan ekonomi, sosial, budaya, dan ekologis. Perencanaan tata ruang juga merupakan

sebuah ilmu ilmiah, teknik administrasi, dan kebijakan, yang dikembangkan sebagai

pendekatan lengkap dan antar-ilmu, yang diarahkan kepada pengembangan regional dan

organisasi fisik terhadap sebuah strategi utama."

Di Indonesia konsep perencanaan tata ruang mempunyai kaitan erat dengan konsep

pengembangan wilayah. Konsep pengembangan wilayah telah dikembangkan antara lain

oleh Sutami pada era 1970-an, dengan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang

intensif akan mampu mempercepat terjadinya pengembangan wilayah, juga Poernomosidhi

(era transisi) memberikan kontribusi lahirnya konsep hirarki kota-kota yang hirarki

prasarana jalan melalui Orde Kota.

Selanjutnya Ruslan Diwiryo (era 1980-an) yang memperkenalkan konsep Pola dan

Struktur ruang yang bahkan menjadi inspirasi utama bagi lahirnya UU No.24/1992

tentang Penataan Ruang. Pada era 90-an, konsep pengembangan wilayah mulai

diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah, misal antara KTI dan KBI, antar

kawasan dalam wilayah pulau, maupun antara kawasan perkotaan dan perdesaan.

Perkembangan terakhir pada awal abad millennium, bahkan, mengarahkan konsep

pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

2

2

. Kajian Pendukung :

Richard H. Williams, European union spatial policy and planning, London Chapman 1996. ISBN 978-1-85396-305-6

Andreas Faludi, Bas Waterhout, The Making of the European Spatial Development Perspective, London Routledge 2002. ISBN 978-0-415-27264-3

(4)

4

1.3. Epistemologi Budaya Perkotaan : Tradisi Bermukim

Epistemologi budaya perkotaan muncul sebagai akibat dari tradisi

bermukim dengan segala aspek yang menjadi sumber intrepretasi sejarah sejak

pertama kali istilah

polis

muncul di Yunani pada abad 5 M. Kota-kota di dunia

berkembang dengan ciri khas yang sama yaitu kebutuhan hidup yang bersumber

dari tradisi bermukim di wilayah tertentu.Pentingnya pemahaman akan preseden tersebut

pada hakikatnya secara spesifik didasarkan pada kenyataan bahwa Indonesia merupakan

satu-satunya negara berbasis kepulauan, dengan sumber daya perairan dan maritim yang

mencakup lebih dari 70% dari keseluruhan wilayah dan teritorial antar pulau dan antar

wilayah negara dengan batas perairan laut. Kondisi tersebut dinyatakan melalui pranata

hukum lingkungan di Indonesia, tidak hanya berpotensi untuk menyatukan namun lebih

dari itu memberikan peluang untuk berpartisipasi aktif dalam perikehidupan dunia melalui

aspek-aspek dasar terselenggaranya institusi negara yaitu kebutuhan untuk melakukan

kerja-sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan dasar saling menghormati dan

pemenuhan kebutuhan kehidupan di berbagai bidang secara bermartabat sebagai bagian

dari komunitas kehidupan di dunia.

Kota dan perikehidupan yang tercermin melalui penataan kota merupakan jawaban atas

sejauh mana posisi sebuah negara dalam pergerakan global abad ini. Millenium

Development Goal 2020, yang mensyaratkan upaya penyediaan air bersih dari 60% menjadi

80%, diratifikasi oleh Indonesia, sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan evaluasi

lingkungan hidup sebagai dasar untuk merencanakan dan melakukan upaya-upaya terpadu

dalam pembangunan kota di abad ini, sebagaimana standar dan parameter yang juga

diterapkan oleh kota-kota besar lain di dunia. Mencegah arus perubahan dengan

menekankan pada identitas regional daerah dan bangsa, melalui banyak kajian ilmiah, tidak

terbukti berhasil karena pesatnya perkembangan teknologi komunikasi global, yang

menandai revolusi komunikasi melalui internet dan alat-alat komunikasi bergerak lainnya,

(5)

5

menjadikan jarak dan waktu bukan lagi sebagai penanda akan perbedaan.Oleh karena itu,

kajian ini membahas pola pemahaman struktur perencanaan kota, khususnya kota maritim

berbasis negara kepulauan melalui manajemen ekosistem dan evaluasi lingkungan hidup

untuk mendapatkan pemahaman akan dasar berpikir ilmiah yang dapat digunakan sebagai

metode untuk menguji ketepatan dan kemungkinan perkembangan konsep perencanaan

hingga implementasi di lapangan.

1.4. Isu-isu Lingkungan Hidup dan Pentingnya Penataan Ekosistem Ruang Hidup

1.4.1.

Unit Ekologis : Ekosistem Ruang Hidup

Sebagai suatu bidang ilmu, ekologi manusia mengkaji sistem sosial, sistem

ekologi dan hubungan antar keduanya serta perubahan sosial dan ekologis yang

terjadi sebagai konsekuensi berbagai aktivitas manusia.Lingkungan hidup terkait

dengan isu-isu yang berhubungan dengan ekosistem sebagai ruang

berkehidupan dan unit-unit ekologis yang mendukung ekosistem tersebut.

Barker (1968) menggunakan unit ekologis sebagai konstruksi untuk

menjembatani bidang keilmuan yang terkait dengan perancangan : arsitektur,

urban-planning, dan urban-design dengan ekologi, lingkungan dan

psikologi-sosial3.

3

Kajian Pendukung :

(6)

6

1.4.2. Usulan Metode Evaluasi dengan Pemahaman terhadap Konsep dan

Design-Thinking

dalam Perencanaan dan Penataan Ekosistem Ruang

Hidup

Design Approach to Community – Based and Tropical Environment Habitation

ASPECTS ELEMENTS CONCEPTS STRATEGY DESIGN APLICATION

 Tropical

(Sumber : Prayitno, 1998 dalam Nuffida,2010)

(7)

7

1.5. Pemahaman Geografis Negara Kepulauan : Potensi Wilayah Pesisir, Daya Dukung dan Penanggulangan Bencana Alam

Pengelolaan pesisir di Indonesia diatur dalam UU No.27 Tahun 2007 dengan pertimbangan

adanya Zona Ekonomi Eksklusif, Wawasan Nusantara dan azas negara kepulauan sebagai

potensi dan penyatu wilayah Republik Indonesia. Pengelolaan pesisir mencakup proses

perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian sumberdaya pesisir dan

pulau-pulau kecil. Perencanaan ini termasuk mengurangi kerentanan dari ancaman bencana alam

seperti bencana tsunami. Di Indonesia, bencana terjadi akibat bergeraknya lempeng

tektonik (triple junction plate convergence) yaitu, Benua Eurasia, Samudra Pasifik dan

Samudra Indo-Australia.Terkait UU No. 24 Tahun 2007, mitigasi direncanakan sebagai

bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk menanggulangi dan meminimalisasi resiko

bencana tsunami. Mitigasi tsunami yang dilakukan adalah perancangan kawasan, berupa

zonasi kawasan pesisir terkait dengan aspek fisik kawasan.

2. Tujuan

Kajian ini ditujukan untuk memahami dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang secara

metodologis dan ilmiah dapat digunakan sebagai metode evaluasi terhadap konsep, rancangan dan

hasil rancangan kota melalui pemahaman akan faktor, strategi, dan tahapan design-thinking secara

kualitatif. Usulan konseptual ini ditujukan untuk studi lanjut terhadap pemaknaan terhadap

fenomena-fenomena (verstehen)dalam skala kota untuk dapat digunakan sebagai dasar ilmiah

terhadap pembentukan teori berdasarkan kondisi nyata di lapangan (grounded theory).

3. Kajian Teoritis

a. Kajian teoritis yang digunakan merupakan bagian dari studi tentang pemaknaan fenomena

urban dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan kajian arsitektural, epistemologi, dan

sosial-ekonomi berdasarkan serangkaian kajian yang dilakukan sebelumnya. Definisi kajian teoritis

dalam hal ini memberikan definisi-definisi kontekstual dalam kerangka ilmiah yang universal.

Hal ini diperlukan dengan beberapa dasar sebagai berikut :

(8)

8

faktor : sosial-ekonomi, lingkungan, dan tata-kota.

 Faktor-faktor tersebut secara sendiri-sendiri belum pernah dievaluasi melalui konstruksi

ilmiah berdasarkan konsep perancangan ruang, khususnya tata ruang kota

 Hal tersebut disebabkan karena bidang keilmuan perencanaan kota, relatif berkembang

kurang dari 50 tahun, untuk mendapatkan sejumlah dasar ilmiah yang dapat digunakan

dalam pembentukan metode keilmuan yang spesifik bidang ilmu tersebut

 Beberapa kajian yang dilakukan di beberapa negara (RED Design, 2000) memberikan

fakta ilmiah bahwa belum pernah dilakukan upaya-upaya pembentukan teori valuasi

sebagaimana bidang ilmu lainnya. Hal tersebut umumnya merupakan kajian praktis yang

menggunakan teori-teori dari bidang keilmuan lain : sosial-ekonomi, psikologi, arsitektur

dan sosiologi.

 Teori-teori tersebut secara umum berhasil memberikan dasar berfikir ilmiah dalam

konstruksi pemikiran urban, namun tidak memberikan peluang bagi penafsiran

kontekstual bagi fenomena urban yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari terutama

apabila dikaitkan dengan ekosistem ruang kehidupan, ekologi, lingkungan hidup dan

fenomena bencana alam yang langsung dihadapi oleh pihak stake-holder yaitu

administratur kota dan perencana kota.

 Hal tersebut memberikan dasar berfikir teoritis dalam lingkup metodologis dan keilmuan

bahwa bidang perencanaan kota merupakan bidang yang penting karena menyangkut

kehidupan sehari-hari, memerlukan metode berfikir yang tidak saja ilmiah namun pula

kontekstual dan efisien dalam rangkaian : analisa, sintesa dan verifikasi. Rangkaian

pembangunan metode keilmuan tersebut adalah bagian dasar yang universal karena

dasar berfikir yang demikian mutlak dilakukan agar bidang keilmuan perencanaan kota

dapat mengkomunikasikan hasil konseptual berdasarkan bahasa keilmuan yang dapat

dipahami oleh bidang-bidang keilmuan lain.

 Pentingnya konsep-konsep keilmuan yang secara khusus digunakan dalam bidang

keilmuan perencanaan kota melalui telaah, penelitian dan kajian ilmiah adalah

memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan bidang keilmuan tersebut, mengingat

kota dan seluruh fenomenanya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan

(9)

9

politik, teknik, hukum dan sosio-ekologi sebagai bagian dari fokus pembangunan dan

titik pusat perhatian dunia dalam era ini hingga Millenium Development Goal 2015

nanti.

b. Metodologi dan Filosofi Kajian

Having identified a research topic and done the preliminary literature review the next logical step is to chalk out the route map for the research project. Looking at the research

process ‘onion’ (Saunders et. al., 2003 at Barker, 1998) one can identify various

approaches, strategies and data collection methods across the continuum of research philosophy.

Tabel 1 . Proses Kajian

Research Philosophy

Positivism

Intrepretivism Realism

Research Approach

Deductive

Inductive Deductive

Research Strategies

Comprehensive Analysis

Case Analysis Grounded Theory

Time Horizon

Cross-Sectional Longitudinal Linear

Data Collection Methods

Sampling Data Secondary Data Observation

Result Evaluation Valuation

(10)

10

By investigating the degree of intersubjectivity in the formation of judgements, the study

propose an epistimological model which describes various layers of

information-processing in which formal properties are incorporated into a judgement by a decreasing

extent while conceptualization increases. When defined as the experience of people in

city life, space-place experience must thus be embedded in all experiences. Theoritical

analysis is used to in-depth analysis of data from field-work whereas architecture is

experienced

(Nuffida, 2007)

 Studi Kajian terhadap Fenomena-Fenomena Kota Maritim, Mitigasi Tsunami, Wilayah Pesisir

dan Upaya Penanggulangannya di Indonesia yang menjadi Paradigma Kajian 4.1. Ketentuan Perancangan Kawasan Pesisir sebagai Mitigasi Tsunami (Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT),

Penelitian yang dilakukan Handayani (2008)4 memberikan dasar konstruksi metodologis terhadap perancangan kawasan pesisir yang langsung terkena dampak tsunami, sebagai

berikut :

Penelitian ini membangun teori berdasarkan pengalaman fenomena bencana tsunami yang

pernah terjadi, berdasarkan argumen dengan mencari kebenaran logika berdasarkan aspek

terkait. Aspek terkait berupa aspek resiko, karakteristik fisik,kriteria tak terukur,

pemanfaatan kawasan pesisir, penyediaan kelengkapan perlindungan kawasan pesisir yang

rentan tsunami. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan analisis

kuantitatif. Metode analisis kualitatif berupa deskriptif dan komparatif, digunakan untuk

menganalisis resiko pesisir sebagai kawasan rawan tsunami, analisis karakterisik fisik

kawasan pesisir, analisis pemanfaatan kawasan pesisir, analisis kriteria tak terukur, analisis

kebutuhan kelengkapan perlindungan tsunami. Metode analisis kuantitatif berupa

perhitungan radius/ jarak jangkauan tempat penyelamatan terhadap waktu tanggap

tsunami. Penelitian ini menghasilkan konsep bahwa Kelurahan Weri sebagai Pagar

Perlindungan Tsunami bagi Kota Larantuka, dengan pembagian kerentanan tinggi,

kerentanan sedang dan kerentanan rendah yangmenghasilkan batas, ketentuan

4

Ketentuan Perancangan Kawasan Pesisir sebagai Mitigasi Tsunami

(11)

11

pemanfaatan yang berbeda. Ketentuan ini dijelaskan dalam peraturan zonasi berupa peta zonasi (zoning map) dan aturan zonasi (zoning teks). Karakter ketentuan aturan

pemanfaatan kawasan yang dihasilkan meliputi 6 (enam) ketentuan untuk pemanfaatan

ruang terbuka hijau dan biru/ FC.Ketentuan pemanfaatan terminal/ T. Ketentuan

pemanfaatan kawasan pariwisata Meting Doeng/ TR. 3 (tiga)ketentuan untuk pemanfaatan kawasan perumahan/ R. 2 (dua) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan perdagangan & jasa/ C. Ketentuan pemanfaatan kawasan olahraga/ S. 3 (tiga) ketentuan untuk pemanfaatan

kawasan pendidikan/ E. 3 (tiga) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan perkantoran/ B. 2

(dua) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan peribadatan/ RL dan ketentuan pemanfaatan

kawasan industri/ M.

4.2. Ketentuan Building Code untuk Daerah Bencana di Indonesia (Studi Kasus : Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias)

Kajian yang dilakukan oleh Nuffida (2008) memberikan dasar evaluatif sebagai berikut:

Building Code merupakan peraturan dasar bangunan, lingkungan dan permukiman dalam

wilayah rawan bencana, dalam hal ini Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias,

yang dikerjakan oleh tim ahli Departemen Pekerjaan Umum sebagai serangkaian upaya

penanggulangan dampak bencana tsunami yang melanda kedua wilayah tersebut pada tahun

2007. Upaya melibatkan peran serta masyarakat untuk menjaga, mengelola, berinisiatif dan

memutuskan dalam konteks pembangunan kembali kota terkena dampak bencana alam adalah

merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Proses pelibatan secara langsung, sekaligus mendidik masyarakat untuk dapat merencanakan, mengorganisasi, dan menjamin

keberlanjutan program karena masyarakat merasa memiliki program tersebut. Organisasi

Swadaya Masyarakat yang secara khusus dibentuk untuk membantu pemerintah dirasakan

belum efektif karena yang diperlukan adalah berjalannya kebijaksanaan dan lembaga yang

dipercaya masyarakat.

Transformasi struktur tata-ruang kota dengan penerapan Building Code pertama kali di

Indonesia tersebut adalah sebagai berikut :

 Pentingnya jalur mitigasi sebagai penanggulangan bencana di daerah lepas pantai,

khususnya pesisir pantai

(12)

12

mutlak dijaga kelestariannya

 Kenaikan dan intrusi air laut akibat penurunan air tanah merupakan salah satu aspek

penyebab terjadinya gejala tsunami, terutama di daerah pesisir rawan gempa di NAD dan

Nias

 Bahan bangunan dan struktur bangunan merupakan aspek penting yang perlu dikaji

sebagai pertimbangan dalam pembangunan permukiman

 Bangunan publik seperti masjid, kantor pemerintah, sekolah dan balai desa (bale

gampong) seyogyanya difungsikan sebagai tempat perlindungan dan mitigasi untuk

memperkuat jalur mitigasi kota, karena telah ada, mudah dikenali dan berada pada

jalur-jalur yang umumnya mudah dicapai masyarakat. Untuk itu, seluruh bangunan publik harus

terstandarisasi dalam cakupan Building Code, karena bangunan publik secara keseluruhan

merupakan bagian dari amanat dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam

penggunaan, pe,meliharaan dan penanggulangan bencana

 Bangunan lebih dari 2 lantai, wajib memberikan laporan dan upaya standardisasi

bangunan tahan gempa dan memberikan jaminan tersedianya kecukupan infrastruktur

penyelamatan dan penanggulangan bencana, termasuk di dalamnya kebutuhan dasar

akan air, udara bersih, ruang tinggal dan sanitasi

 Pelabuhan, bandar ikan, dan lain-lain fasilitas publik harus menggunakan standar yang

sama yaitu peraturan pemerintah untuk bangunan dan permukiman, dalam hal ini

Building Code dan mendapatkan sertifikasi dan pengawasan berkala dari pemerintah

untuk pemeliharaan, pembangunan fasilitas baru dan penambahan level bangunan serta

jaminan struktur dan keselamatan kerja sebelum, selama dan setelah bencana

4.3. Makassar Menuju Kota Dunia : Studi Kasus Kota Makassar (2010)5 : Dasar Berfikir untuk

Usulan Konseptual Manajemen Eco-region dalam Kajian

Hasil pertemuan 43 wali kota sedunia dalam World Cities Summit di Singapura (2010) ,

memberikan dasar untuk perencana kota Makassar untuk merevitalisasi perencanaan

pembangunannya. Makassar dan Jakarta menjadi wakil Indonesia dalam pertemuan

(13)

13

tersebut.Revitalisasi tersebut harus memperhatikan empat indikator penting, yakni arus manusia, bagaimana fungsi kota bekerja, geliat bisnis, serta organisasi yang terakomodasi dalam kehidupan perkotaan. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan lingkungan serta keharmonisan warga.Makassar mengadopsi banyak hal dari beberapa kota besar yang

dinilai maju dalam menerapkan kota berwawasan lingkungan. Hasil ini kemudian akan dikomunikasikan dengan seluruh satuan kerja perangkat daerah.Pantai Losari dinilai sangat

berpeluang besar menjadi ikon kota pantai dunia. Untuk itu, Makassar merevisi Peraturan

Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai upaya untuk

mengantisipasi dinamika masyarakat.

5. Kesimpulan :

Kajian ini membahas tiga kajian utama, yaitu : preseden penataan kota berbasis evaluasi

lingkungan hidup sebagai dasar konseptual, konteks geografis dalam perencanaan kota dan

upaya-upaya penanggulangan bencana alam terkait dengan pergerakan aktivitas perkotaan

dan berkehidupan .

Pembahasan yang dilakukan dengan metode analisa-sintesa-verifikasi dalam setiap tahapan

proses ilmiah menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :

1. Pendekatan perencanaan kota melalui kajian keilmuan dapat dilakukan dengan metode

logika ilmiah yang dilakukan dengan evaluasi pada tahapan-tahapan perencanaan yang

diukur melalui parameter-parameter kontekstual yang mendasari perencanaan :

keterlibatan stakeholder, kontribusi positif elemen-elemen pembangunan, kerangka

dasar hukum, dan kinerja terukur.

2. Konteks geografis merupakan identitas spasial yang memberikan ruang bagi pergerakan,

perubahan, dan dinamika perencanaan tata ruang kota dan aspek-aspek lain yang terkait

3. Kenyataan akan posisi geografis yang memerlukan upaya penanggulangan bencana alam,

dapat dilakukan dengan : memperkuat struktur ruang yang ada, memanfaatkan

bangunan-bangunan publik sebagai jalur lintas mitigasi, dan memberikan kemungkinan

pemanfaatan bentang alam (landscape) sebagai konstruksi alamiah untuk mitigasi lepas

pantai.

4. Manajemen eco-region merupakan bagian dasar dari kesepakatan alamiah yang

(14)

14

bijaksana di ruang-ruang perkotaan berbasis keanekaragaman hayati dan pemahaman

akan pentingnya menempatkan manusia dan kecenderungan perilakunya dalam

(15)

15

REFERENSI

Antoniades, Anthony C. (1992). Epic Space : Towards The Roots of Western Architecture. Van Nostrandt Reinhold, New York.

Barker, Roger. 1968. “Behavioral Setting : Defining Attributes and Valuing Attributes “ dalam Ecological Psychology : Concepts and Methods for Studying the Environment of Human Behavior. Stanford, CA : Stanford University Press, p.183-193.

Carr, Stephen et.al 1992. Public Space. New York : Cambridge University Press.

Crowe, Norman. 1995. Nature and The Idea of Man-Made World : An Investigation into the Evolutionary Roots of Form and Order in the Built Environment. MIT Press.

Dovey, Kim. 1999. Framing Places : Mediating Power in Built Form. Routledge, New York.

Gehl, Jan. 1987. Life Between Buildings Using Public Space. Van Nostrandt Reinhold Company, New York.

Kusno, Abidin. 2000. Architext : Behind The Postcolonial : Architecture, Urban Space and Political Culture in Indonesia. Routledge, New York.

Lang, Jon. 1987. Creating Architectural Theory, The Role of Behavioral Science in Environmental Design. Van Nostrandt Reinhold Co., New York.

Lawson, Bryan . 1990. How Designers Think. Second Edition. Butterworth Architecture, Oxford.

Maxwell, Robert (1992). Sweet Disorder and The Carefully Careless : Theory and Criticism in Architecture. Princeton Papers on Architecture, United Kingdom.

Nuffida, Nur Endah. 2010. City Life and Dynamic Process at Surabaya : Kampung Community, Social Space, and The Neighborhood. 2010. Paper on International Conference of “Kampung : A Target of Policy or An Abandoned Zones?”, Surabaya ,8 – 10th January 2010. Department of History, University of Airlangga, Surabaya.

---, 2008.Implementing Building Code programmes in post-tsunami Aceh: experiences and lessons learned , paper on International Technology and Knowledge Flows for Post Disaster Reconstruction , Meeting and Conference, Surabaya 8 – 10th January 2008,Department of ArchitectureITSKNAW – TU Eindhoven

---, 2003. Meaning in Public Space : Comprehension Through User’s Behavior Pattern in Lapangan Taman Tugu Pahlawan Surabaya, Thesis, Post Graduate, Department of Architecture, ITS Surabaya

Gambar

Tabel 1 . Proses Kajian

Referensi

Dokumen terkait

Data atau sistem informasi yang diberikan di sistem yang lama tidak terstruktur dan dilakukan secara manual; maksudnya ketika analis kredit menganalisa berkas permohonan

[r]

Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh Spradley diatas maka tahapan pertama untuk mencapai pada analisis domain sebelumnya dilakukan pengamatan deskriptif,

1) Karakteristik fisik, mereka lebih menampakkan kecacatanya. Secara fisik dapat jelas terlihat karena pada tingkat ini banyak dijumpai tipe Down syndrome dan.. Koordinasi motoric

Human Resource Software atau perangkat lunak pengelolaan sumber data manusia adalah jenis perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola data sumber daya manusia

Umumnya studi kualitas jasa difokuskan pada perspektif pelanggan dalam mengevaluasi ekspektasi dan/atau persepsi konsumen terhadap kualitas jasa

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor dominan yang mempengaruhi kemiskinan di Provinsi Riau yaitu rata-rata

SPAM (Stupid pointless Annoying Message) yang berarti e-mail sampah atau email yang tidak kita butuhkan.,merupakan kata yang sering didengar.Sebenarnya email