• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIMPUNAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HIMPUNAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DA"

Copied!
1014
0
0

Teks penuh

(1)

HIMPUNAN PERATURAN

MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF

TAHUN 2012

JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM BIRO HUKUM DAN KEPEGAWAIAN

SEKRETARIAT JENDERAL

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, kami menyambut baik diterbitkannya Buku Himpunan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 sesuai dengan rencana. Buku himpunan ini diterbitkan untuk melaksanakan salah satu tugas dan fungsi Biro Hukum dan Kepegawaian, khususnya melakukan pengelolaan dokumentasi dan publikasi hukum, penyuluhan hukum serta Jaringan dokumentasi dan informasi hukum di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Maksud diterbitkannya buku himpunan ini selain untuk memberikan informasi dan pengetahuan peraturan perundang-undangan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif bagi para pemangku kepentingan (steakholders), juga sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dalam kesempatan ini, kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerjasama sehingga buku Himpunan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 dapat diterbitkan. Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan buku Himpunan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Akhirnya kritik dan saran pembaca kami harapkan untuk kesempurnaan penerbitan berikutnya.

Jakarta,

Kepala Biro Hukum dan Kepegawaian

(4)
(5)

DAFTAR ISI

Hal 1. KATA PENGANTAR...

2. DAFTAR ISI... 3. ABSTRAK... 4. PERATURAN MENTERI :

a. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.01/PL.104/MPEK/2012 TENTANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... b. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... c. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.20/OT.001/M.PEK/2012 TENTANG PENYESUAIAN NOMENKLATUR PADA PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ... d. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.27/UM.001/MPEK/2012 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN PADA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... e. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.35/UM.001/MPEK/2012 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2012 – 2014 ...

(6)

f. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.37/UM.001/MPEK/2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN BADAN PROMOSI PARIWISATA INDONESIA ... g. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.55/HK.001/MPEK/2012 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... h. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 133/UM.001/MPEK/2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TATA NASKAH DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF i. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 134/UM.001/MPEK/2012 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP FASILITATIF NON KEUANGAN DAN NON KEPEGAWAIAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... j. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 139/UM.001/MPEK/2012 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGAMANAN DAN KETERTIBAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... k. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.141/PW.204/MPEK/2012 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR: PM.55/PW.204/MKP/2008 TENTANG PEMANFAATAN JASA TEKNIK FILM DALAM NEGERI DALAM KEGIATAN PEMBUATAN DAN PENGGANDAAN FILM NASIONAL SERTA PENGGANDAAN FILM IMPOR ...

(7)

l. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.143/UM.001/MPEK/2012 TENTANG PENATAUSAHAAN KEUANGAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... m. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.144/HK.201/MPEK/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Dl LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ... n. SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN

EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.145/HK.201/MPEK/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ...

813

961

(8)
(9)

ABSTRAK

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2012

1. PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH - ELEKTRONIK 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR : PM.01/PL.104/MPEK/2012., LL KEMENPAREKRAF, 8 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Bahwa dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, persaingan sehat, adil tidak diskriminatif dan akuntabel dalam pelaksanaan pengadaan barang/ jasa Pemerintah di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, perlu dilaksanakan pengadaan barang/jasa Pemerintah secara elektronik untuk itu perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah PERKA LKPP No. 002/PRT/KA/VII/2009; PERKA LKPP No. 2 Tahun 2010.

(10)

jasa pemerintah dilarang mengacaukan, dan/atau merusak sistem pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik; dan mencuri informasi, memanipulasi data, dan/atau berbuat curang dalam pengadaan barang/ jasa pemerintah secara elektronik yang dapat mempengaruhi tujuan pengadaan, Penyedia barang/ jasa pemerintah dikenai sanksi bila melanggar ketentuan yang telah diatur dalam Peraturan Menteri.

(11)

2. ORGANISASI – TATA KERJA 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.07/HK.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 189 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

ABSTRAK : - Bahwa sebagai pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011 dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011, serta dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan urusan pemerintahan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, dipandang perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah: PERPRES No.47 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011, KEPPRES No. 84/P Tahun 2009, PERPRES No.24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011. - Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Organisasi

(12)

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terdiri atas Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Inspektorat Jenderal, Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Staf Ahli Bidang Perlindungan Keanekaragaman Karya Kreatif, Staf Ahli Bidang Jasa Ekonomi, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga, Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Pusat Data dan Informasi, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai dan Pusat Komunikasi Publik.Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan fungsi meliputi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif;pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di daerah; dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

(13)

- Pada saat mulai berlakunya Peraturan Menteri ini seluruh jabatan yang ada beserta pejabat yang memangku jabatan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tetap melaksanakan tugas dan fungsi Kementerian sampai dengan diatur kembali berdasarkan Peraturan Menteri ini.

- Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.27/HK.001/MKP-2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(14)

3. NOMENKLATUR – PENYESUAIAN - PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR : PM.20/OT.001/M.PEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 2 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PENYESUAIAN NOMENKLATUR PADA PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

ABSTRAK : - Bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, nama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk itu perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Penyesuaian Nomenklatur Pada Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. - Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No. 39 Tahun 2008; PEPPRES No.47 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011, PERPRES No.24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011. - Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Penyesuaian

nomenklatur pada setiap Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sebagai berikut, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dibaca menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dibaca menjadi Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif.

(15)

4. TUGAS PEMBANTUAN DEKONSENTRASI 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.27/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 21 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN PADA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

ABSTRAK : - Bahwa dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, kegiatan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dan berubahnya organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, maka tugas dan fungsi kementerian menjadi berubah sehingga Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.104/UM.001/ MKP/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang Dilaksanakan Melalui Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan perlu diganti dengan Peraturan Menteri yang baru dengan menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif tentang Pelaksanaan Kegiatan Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan Pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

(16)

No.PM.16/UM.001/MKP/2010, PERMEN KEU No.248/ PMK.07/2010, PERMEN KEU No.249/PMK.02/2011, PERMEN PAREKRAF No.PM.07/HK.001/MPEK/2012. - Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Pelaksanaan Kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan dekonsentrasi meliputi kegiatan bidang pengembangan destinasi pariwisata; kegiatan bidang pemasaran pariwisata; kegiatan bidang ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya; kegiatan bidang ekonomi kreatif berbasis media, desain, dan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan kegiatan bidang pengembangan sumber daya pariwisata dan ekonomi kreatif. Pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi antara lain sinkornisasi dan koordinasi perencanaan; fasilitasi/dukungan; bimbingan teknis; pelatihan; pemberian penghargaan; penyuluhan; supervisi; penelitian dan survey; pembinaan; dan pengawasan dan pengendalian. Urusan Pemerintahan yang dapat dilaksanakan melalui Tugas Pembantuan yaitu bidang pengembangan destinasi pariwisata. Pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan meliputi Mekanisme Pencairan Dana, Penatausahaan BMN, Pelaporan dan Pertanggungjawaban, Pembinaan dan Pengawasan, Pemeriksaan, dan Serah Terima Barang, dan sanksi administratif terhadap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang melakukan kelalaian.

CATATAN : - Permen ini ditetapkan pada tanggal 5 April 2012 - Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan

(17)

5. RENCANA STRATEGIS – TAHUN 2012–2014 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.35/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 267 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2012-2014.

ABSTRAK : - Bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, tanggal 21 Desember 2011 telah dibentuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan sesuai Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, setiap Kementerian/Lembaga harus menyusun Rencana Strategis yang berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan,program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga dengan menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012-2014.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah: UU No.17 Tahun 2003, UU No.25 Tahun 2004, UU No.10 Tahun 2009, UU No.33Tahun 2009, PERPRES No. 47 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011, PERPRES No.24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011, PERPRES No.5 Tahun 2010, PERMEN PAREKRAF No.PM.07/HK.001/MPEK/2012.

(18)

pedoman dalam penyelenggaraan program dan kegiatan pembangunan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pembangunan pariwisata ditentukan atas bergantungnya pada keunggulan daya tarik wisata, kualitas sarana dan prasarana di destinasi wisata, dan keberadaan industri pariwisata. Penyelenggaraan usaha pariwisata meliputi Usaha daya tarik wisata; Usaha kawasan pariwisata; Jasa transportasi wisata; Jasa perjalanan wisata; Jasa makanan dan minuman; Penyediaan akomodasi; Penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; Penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran; Jasa informasi pariwisata; Jasa konsultan pariwisata; Jasa pramuwisata; Wisata tirta; dan Spa.

- Ekonomi kreatif merupakan sektor baru yang diangkat oleh pemerintah untuk dikelola ke tingkat Kementerian sehingga dibentuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sesuai dengan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2009 tentang Ekonomi Kreatif, maka ekonomi kreatif Indonesia dikelompokkan menjadi Arsitektur; Desain; Fesyen (Mode); Film, Video, dan Fotografi; Kerajinan; Musik; Pasar Seni dan Barang Antik; Penerbitan dan Percetakan; Periklanan; Permainan Interaktif; Penelitian dan Pengembangan; Seni Pertunjukan; Teknologi Informasi dan Piranti Lunak; dan Televisi dan Radio. Selain pengelompokan dalam Instruksi Presiden tersebut terdapat bidang tambahan yang akan dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupa kuliner yang sangat erat kaitannya dengan kepariwisataan dimana memiliki kekayaan kreativitas dan kearifan lokal.

(19)

6. BADAN PROMOSI PARIWISATA INDONESIA – PEDOMAN PELAKSANAAN 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.37/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 5 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN BADAN PROMOSI PARIWISATA INDONESIA.

ABSTRAK : - Dalam rangka memajukan kepariwisataan nasional perlu meningkatkan kegiatan promosi pariwisata Indonesia maka promosi pariwisata Indonesia dapat dilakukan oleh Badan Promosi Pariwisata Indonesia sebagai mitra kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Untuk pelaksanaan kegiatan promosi pariwisata Indonesia perlu adanya peraturan baru dengan menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Badan Promosi Pariwisata Indonesia.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No.17 Tahun 2003, UU No.1 Tahun 2004, UU No.15 Tahun 2004, UU No.25 Tahun 2004, UU No.10 Tahun 2009, PP No. 8 Tahun 2006, PP No. 60 Tahun 2008, PP No. 71 Tahun 2010, PP No.50 Tahun 2011 PERPRES No.24 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011, KEPPRES No. 22 Tahun 2011, PERMEN KEU No.171/PNK.05/2007, PERMEN KEU No.249/PMK.02/2011, PERMEN PAREKRAF No. PM.07/HK.001/MPEK/2012, PERMEN PAREKRAF No. PM.35/UM.001/MPEK/2012.

(20)

Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan melakukan riset dalam rangka pengembangan usaha dan bisnis pariwisata. Badan Promosi Pariwisata Indonesia dalam menyelengarakan kegiatan promosi berdasarkan kriteria yang meliputi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara serta pembelanjaan, pada saat tingkat kunjungan rendah (low season

tourism); mempromosikan ekonomi kreatif yang menjadi

(21)

7. INDIKATOR KINERJA UTAMA - KEMENPAREKRAF 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.55/HK.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 36 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/09/M.PAN/5/2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah,dan dalam upaya untuk memperjelas dan menyelaraskan antara Indikator Kinerja Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012-2014, serta kontrak kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II, perlu adanya penyempurnaan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan organisasi kementerian, maka perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

(22)

No.PER/09/M.PAN/5/2007, PERMEN PANRB No.20 Tahun 2010, PERMEN PAREKRAF No.PM.07/HK.001/ MPEK/2012.

- Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dengan menetapkan indikator kinerja utama sebagai acuan ukuran kinerja yang digunakan oleh unit kerja di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Untuk mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Menteri ini, Inspektorat Jenderal diberikan tugas melakukan telaah (review) atas capaian kinerja setiap unit kerja dalam rangka meyakinkan kehandalan informasi yang disajikan dalam laporan akuntabilitas kinerja dan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini dan melaporkan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. CATATAN : - Permen ini ditetapkan pada tanggal 16 Juli 2012

(23)

8. TATA NASKAH – PEDOMAN PELAKSANAAN 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.133/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 167 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TATA NASKAH DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Tata Naskah Dinas dan adanya perubahan organisasi dan tata kerja yang semula Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dipandang perlu untuk mengganti Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.51/UM.001/ MKP/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Tata Naskah Dinas di lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan peraturan baru, maka perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Pedoman Pelaksanaan Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

(24)

Ketatalaksanaan pemerintah merupakan pengaturan tentang mekanisme/ prosedur/tata kerja untuk melaksanakan tugas dan fungsi dalam berbagai bidang kegiatan pemerintahan. Ketatalaksanaan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan komponen penting dalam administrasi umum yang meliputi tata naskah dinas, singkatan, akronim, dan kearsipan. Tata naskah dinas sebagai salah satu unsur administrasi umum mencakupi pengaturan tentang jenis dan penyusunan naskah dinas, penggunaan Lambang Negara, cap dinas, tata surat, perubahan, pencabutan, pembatalan produk hukum, dan ralat. CATATAN : - Permen ini ditetapkan pada tanggal 13 November 2012

(25)

9. ARSIP FASILITATIF NON KEUANGAN DAN NON KEPEGAWAIAN -JADWAL RETENSI

2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.134/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 24 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP FASILITATIF NON KEUANGAN DAN NON KEPEGAWAIAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Bahwa untuk tercapainya tertib pelaksanaan penyusutan arsip di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, perlu adanya Jadwal Retensi Arsip Fasilitatif Non Keuangan dan Non Kepegawaian perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Jadwal Retensi Arsip Fasilitatif Non Keuangan dan Non Kepegawaian Di Lingkungan Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No.43 Tahun 2009, PP No.28 Tahun 2012, KEPPRES No.105 Tahun 2004, PERPRES No.47 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011, PEPPRES No. 24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No, 92 Tahun 2011, PERMEN BUDPAR No.PM.63/UM.001/MKP/2009, PERMEN PERKA ANRI No. 12 Tahun 2009, PERMEN PAREKRAF No.PM.07/ HK.001/MPEK/2012.

- Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Jadwal Retensi Arsip Fasilitatif Non Keuangan dan Non Kepegawaian. Arsip fasilitatif non keuangan dan non kepegawaian meliputi perencanaan, hukum, organisasi dan ketatalaksanaan, kearsipan, ketatausahaan dan kerumahtanggaan, hubungan masyarakat, penelitian, pengkajian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, perlengkapan, pengadaan Barang dan Jasa, perpustakaan, teknologi informasi dan komunikasi dan pengawasan.

(26)

10. PENGAMANAN - KETERTIBAN - TATA CARA PELAKSANAAN 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR : PM.139/UM.101/MPEK/2013, LL KEMENPAREKRAF, 15 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGAMANAN DAN KETERTIBAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Bahwa dengan terbentuknya organisasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu dilakukan peninjauan kembali Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.29/UM.001/MKP/02 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengamanan dan Ketertiban di lingkungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk itu perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengamanan dan Ketertiban di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No.2 Tahun 2002; PERPRES No.47 Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011; KEPRES No. 84/P Tahun 2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan KEPPRES No. 59/P Tahun 2011; PERPRES No.24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011; PERKA POLRI No.24 Tahun 2007; PERMEN PAREKRAF No.PM.07/HK.001/MPEK/2012; KEPMEN KEUANGAN No.112/KM.6/2012.

(27)
(28)

11. PEMANFAATAN JASA TEKNIK FILM DALAM NEGERI - PEMBUATAN DAN PENGGANDAAN FILM NASIONAL - PENGGANDAAN FILM IMPOR - PENGGANDAAN FILM NASIONAL –PERUBAHAN KEEMPAT 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR : PM.141/PW.204/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 3 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR: PM.55/PW.204/MKP/2008 TENTANG PEMANFAATAN JASA TEKNIK FILM DALAM NEGERI DALAM KEGIATAN PEMBUATAN DAN PENGGANDAAN FILM NASIONAL SERTA PENGGANDAAN FILM IMPOR

(29)
(30)

12. PENATAUSAHAAN KEUANGAN – KEMENPAREKRAF 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR PM.143/UM.001/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 77 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PENATAUSAHAAN KEUANGAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

ABSTRAK : - Bahwa dengan adanya perubahan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan dan perubahan organisasi Kementerian serta untuk mewujudkan efektifitas, efesiensi dan tertib administrasi keuangan negara, perlu meninjau kembali Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/KU.202/MKP/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan di lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. - Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No.17 Tahun 2003, UU No.1 Tahun 2004, UU No.15 Tahun 2004, PERPRES No 54 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.70 Tahun 2012, KEPMEN KEU No. KEP.563/KMK.03/2003, PERMEN KEU No.03/PMK.06/2006, PERMEN KEU No 73/PMK.05/2008, PERMEN KEU No. 97/PMK.05/ 2010, PERMEN KEU No 154/PMK.03/2010, PERMEN KEU No 113/PMK.05/2012, PERMEN KEU No. 190/ PMK.05/2012, PERMEN PAREKRAF No, PM.07/ HK.001/MPEK/2012.

(31)

pembukuan bendahara pengeluaran dan/atau bendahara pengeluaran pembantu pada Satuan kerja atau Unit Pelaksana Teknis (UPT), Pemeriksaan Kas Bendahara, surat perintah pembayaran (SPP), surat perintah membayar (SPM), Pertanggungjawaban keuangan dan pelaporan.

(32)

13. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR – PEDOMAN - PENYUSUNAN 2012

PERMEN PAREKRAF NOMOR : PM 144/HK.201/MPEK/2012, LL KEMENPAREKRAF, 25 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

ABSTRAK : - Bahwa untuk menyelenggarakan tata kelola kepemerintahan yang baik, transparan, dan akuntabel, yang menjamin kelancaran pelaksanaan pelayanan internal dan eksternal pada unit kerja di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, maka diperlukan standar operasional prosedur untuk itu perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

- Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah UU No.28 Tahun 1999; UU No. 17 Tahun 2003; UU No. 14 Tahun 2008; PERPRES No.47 Tahun2009 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.91 Tahun 2011; PERPRES No.24 Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011; KEPMEN PAN No.63/KEP/M.PAN/7/2003; PERMENNEG PAN & RB No.35 Tahun 2012; PERMEN PAREKRAF No.PM.07/HK.001/MPEK/2012.

(33)

CATATAN : -

Permen ini ditetapkan pada tanggal 18 Desember 2012.

-

Ketentuan yang mengatur mengenai pelaksanaan

pekerjaan yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan

Menteri ini, masih tetap berlaku untuk jangka waktu

paling lama 1 (satu) tahun.

(34)

14. KERANGKA ACUAN KERJA – PEDOMAN - PENYUSUNAN

2012

PERMEN PAREKRAF NO.145/HK.201/MPEK/2012,

LL KEMENPAREKRAF, 16 HLM

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJA DI

LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

ABSTRAK : -

Bahwa dengan adanya perubahan peraturan

perundang-undangan di bidang keuangan dan perubahan organisasi

Kementerian serta mewujudkan keseragaman dalam

menyusun rencana kerja dan anggaran di lingkungan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, perlu

meninjau kembali Peraturan Menteri Kebudayaan dan

Pariwisata Nomor PM. 12/HK.001/MKP/2007 tentang

Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK)

di lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,

yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan

kebutuhan untuk saat ini, maka perlu menetapkan

Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif.

-

Dasar hukum Peraturan Menteri ini adalah PP No. 90

Tahun 2010, PERPRES No 47Tahun 2009, PERPRES

No 24Tahun 2010 sebagaimana telah beberapa kali

diubah terakhir dengan PERPRES No.92 Tahun 2011,

PERPRES No. 70 Tahun 2012, PERMEN BUDPAR

No PM.12/HK.001/MKP/2007, PERMEN KEU

No.112/PMK.02/2012, PERMEN PAREKRAF

No. PM.07/HK.001/MPEK/2012.

-

Dalam Peraturan Menteri ini diatur tentang Pedoman

(35)

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Penyusunan kerangka acuan kerja harus

memperhatikan prinsip-prinsip yaitu ringkas, jelas,

sistematis dan terukur. Menetapkan kerangka acuan

kerja terdapat format yang meliputi latar belakang,

maksud dan tujuan, cara pelaksanaan kegiatan, tempat

pelaksanaan kegiatan, pelaksana dan penanggung

jawab kegiatan, jadwal kegiatan, total biaya yang

diperlukan.

CATATAN : -

Permen ini ditetapkan pada tanggal 18 Desember 2012.

-

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor

PM.12/HK.001/MKP/2007

tentang

Pedoman

Penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) di lingkungan

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dicabut dan

dinyatakan tidak berlaku.

(36)
(37)

SALINAN

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : PM.01/PL.104/MPEK/2012

TENTANG

PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK

DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI

KREATIF

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

:

a. bahwa dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektifitas,

transparansi, persaingan sehat, adil tidak diskriminatif

dan akuntabel dalam pelaksanaan pengadaan barang/

jasa Pemerintah di lingkungan Kementerian Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif, perlu dilaksanakan pengadaan

barang/jasa Pemerintah secara elektronik;

(38)

Mengingat

:

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4843);

2. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

Memperhatikan :

1. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Nomor 002/PRT/

KA/VII/2009 tentang Pedoman Pembentukan Unit

Layanan Pengadaan (ULP) Barang/Jasa Pemerintah;

2. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Nomor 2 Tahun 2010

tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI

KREATIF TENTANG PENGADAAN BARANG/JASA

PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK DI LINGKUNGAN

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:

1.

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik (

electronic

government procurement

) adalah proses pengadaan barang/jasa

pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik yang berbasis

web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan

informasi, yang meliputi pelelangan umum secara elektronik.

2.

E-Lelang Umum adalah pengadaan barang/jasa pemerintah yang proses

(39)

3.

Layanan Pengadaan Secara Elektronik, yang selanjutnya disebut LPSE

adalah unit kerja yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pelayanan

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik.

4.

Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit

organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan pengadaan barang/

jasa Pemerintah di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang

bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang

sudah ada.

5.

Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut PPK adalah pejabat

yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

6.

Penyedia Barang /Jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan

yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa

Lainnya.

7.

Kementerian adalah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

8.

Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai landasan hukum dalam pengadaan

barang/jasa pemerintah secara elektronik, dengan tujuan untuk lebih

meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, persaingan sehat, adil, tidak

diskriminatif serta akuntabel dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa

pemerintah di lingkungan Kementerian.

BAB III

RUANG LINGKUP

Pasal 3

(40)

BAB IV

PARA PIHAK DALAM PELAKSANAAN

PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK

Pasal 4

Para pihak yang terlibat dalam pengadaan barang/jasa pemerintah secara

elektronik di lingkungan Kementerian terdiri atas :

a.

LPSE;

b.

PPK;

c.

ULP; dan

d.

Penyedia barang/jasa.

Pasal 5

(1) LPSE mempunyai tugas meliputi :

a.

memfasilitasi PA/KPA mengumumkan rencana umum pengadaan;

b.

memfasilitasi ULP menayangkan pengumuman pelaksanaan

pengadaan;

c.

memfasilitasi ULP/pejabat pengadaan melaksanakan pemilihan

penyedia barang/jasa pemerintah secara elektronik; dan

d.

memfasilitasi penyedia barang/jasa pemerintah dan pihak-pihak yang

berkepentingan menjadi pengguna sistem pengadaan secara

elektronik.

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), LPSE

mempunyai fungsi sebagai berikut:

a.

penyusunan program kegiatan ketatausahaan, evaluasi dan pelaporan

pengelolaan Pengadaan Barang/Jasa pemerintah secara Elektronik

di lingkungan Kementerian;

b.

pengelolaan sistem pengadaan secara elektronik dan infrastrukturnya;

c.

pelaksanaan registrasi dan verifikasi pengguna sistem pengadaan

secara elektronik; dan

d.

pelaksanaan pelayanan pelatihan dan dukungan teknis pengoperasian

sistem pengadaan secara elektronik.

(41)

Pasal 6

(1) Pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik dilakukan oleh PPK

yang diangkat oleh PA/KPA Kementerian.

(2) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas:

a.

menetapkan rencana dan paket-paket pekerjaan pengadaan barang/

jasa pemerintah;

b.

menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS),

jadwal, tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan;

c.

menetapkan dan pengesahan hasil dokumen pengadaan secara

elektronik.

d.

menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan

barang/jasa pemerintah secara elektronik dimulai; dan

e.

menindaklanjuti pemberitahuan dari LPSE apabila ditemukan

penyimpangan prosedur pengadaan barang/jasa pemerintah.

Pasal 7

(1) ULP mempunyai tugas:

a.

menyusun rencana pemilihan penyedia barang/jasa pemerintah;

b.

menetapkan dokumen pengadaan;

c.

menetapkan besaran nominal jaminan penawaran;

d.

menayangkan pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah di

website Kementerian dan menyampaikan ke LPSE untuk diumumkan

dalam portal pengadaan nasional;

e.

menilai kualifikasi penyedia barang/jasa pemerintah melalui

prakualifikasi atau pascakualifikasi;

f.

mengevaluasi administrasi teknis dan harga terhadap penawaran

yang masuk;

g.

mengusulkan calon pemenang;

h.

memberikan jawaban sanggahan;

i.

menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah untuk:

1)

pelelangan atau penunjukan langsung untuk paket pengadaan

barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bernilai paling

tinggi Rp 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah); atau

2)

seleksi atau penunjukan langsung untuk paket pengadaan jasa

(42)

j.

menyerahkan salinan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa

pemerintah kepada PPK; dan

k.

menyimpan dokumen asli pemilihan penyedia barang/jasa pemerintah.

(2) Pembentukan dan struktur organisasi ULP Kementerian akan diatur lebih

lanjut dalam Keputusan Menteri.

Pasal 8

(1) Penyedia barang/jasa pemerintah wajib memenuhi persyaratan sebagai

berikut:

a.

mendaftarkan diri kepada LPSE dan bersedia untuk dilakukan verifikasi

secara azas nyata oleh LPSE, sebelum penyedia barang/jasa

pemerintah diberi kode akses untuk masuk ke dalam sistem pengadaan

secara elektronik;

b.

memenuhi ketentuan perundang-undangan untuk menjalankan usaha/

kegiatan sebagai penyedia barang/jasa pemerintah;

c.

memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial

untuk menyediakan barang/jasa pemerintah;

d.

tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya

tidak sedang dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan

atas nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana;

e.

secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkan diri pada

kontrak;

f.

sebagai wajib pajak sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

dan telah memenuhi kewajiban perpajakkan tahun terakhir (Surat

Pemberian Tahunan) serta memiliki laporan bulanan Pajak Penghasilan

sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak

Penghasilan Pasal 21 (PPH Pasal 21), PPH Pasal 23 (bila ada

transaksi), PPH pasal 25/pasal 29 dan Pajak Pertambahan Nilai

(PPN) untuk Pengusaha kena pajak dalam kurang 3 (tiga) bulan

terakhir dalam tahun berjalan.

g.

memperoleh paling kurang 1 (satu) pekerjaan sebagai penyedia

barang/jasa dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir baik di

lingkungan pemerintah maupun swasta, termasuk pengalaman

subkontrak;

h.

ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf g, dikecualikan bagi

(43)

i.

memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain

yang diperlukan dalam pengadaan barang/jasa pemerintah;

j.

tidak masuk dalam daftar hitam;

k.

memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos;

l.

menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanakan pengadaan

barang/jasa pemerintah secara elektronik dimulai; dan

m. memiliki Kemampuan Dasar (KD) untuk usaha non-kecil, kecuali

untuk pengadaan barang dan jasa konsultansi.

(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g dan huruf m,

dikecualikan bagi penyedia barang/jasa pemerintah orang perorangan.

(3) Penyedia Barang/Jasa yang keikutsertaannya menimbulkan pertentangan

kepentingan dilarang menjadi penyedia barang/jasa pemerintah.

Pasal 9

LPSE, PPK, Panitia Pengadaan/ULP, dan Penyedia barang/jasa pemerintah

bertanggung jawab secara hukum terhadap:

a.

kerahasiaan dan penyalahgunaan kode akses (user ID dan password)

dalam penyelenggaraan barang/jasa pemerintah elektronik;

b.

kerahasiaan dan penyalahgunaan data dan informasi elektronik yang

tidak diperuntukkan untuk umum; dan

c.

pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam pengadaan

barang/jasa pemerintah.

BAB V

PROSEDUR PELAKSANAAN

Pasal 10

(1) Pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik oleh pengguna

barang dapat menggunakan metode:

a.

metode e – lelang umum prakualifikasi dengan 1 (satu) file;

b.

metode e – lelang umum prakualifikasi dengan 2 (dua) file;

c.

metode e – lelang umum pascakulaifikasi dengan 1 (satu) file; dan

d.

metode e – lelang umum pascakualifikasi dengan 2 (dua) file.

(44)

BAB VI

LARANGAN DAN ETIKA

Pasal 11

LPSE, PPK, Panitia Pengadaan/ULP, dan Penyedia barang/jasa pemerintah

dilarang:

a.

mengacaukan, dan/atau merusak sistem pengadaan barang/jasa

pemerintah secara elektronik; dan

b.

mencuri informasi, memanipulasi data, dan/atau berbuat curang dalam

pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik yang dapat

mempengaruhi tujuan pengadaan.

Pasal 12

Selain pemenuhan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan

Pasal 11, LPSE, PPK, Panitia Pengadaan/ULP, dan Penyedia barang/jasa

harus mematuhi etika pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana diatur

dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 13

(1) Pembinaan LPSE dan ULP pengadaan barang/jasa pemerintah secara

elektronik dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian melalui pelatihan

pengadaan barang/jasa pemerintah.

(2) Pengawasan LPSE dan ULP pengadaan barang/jasa pemerintah secara

elektronik dilakukan oleh Inspektur Jenderal Kementerian.

BAB VIII

SANKSI

Pasal 14

(1) PPK, Panitia Pengadaan/ULP yang melakukan pelanggaraaan/kecurangan

dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 11 dikenakan sanksi berupa:

a.

sanksi administratif;

b.

tuntutan ganti rugi; dan/atau

(45)

(2) Penyedia barang/jasa pemerintah yang melakukan pelanggaran/

kecurangan dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 11 dikenakan sanksi berupa:

a.

sanksi administratif;

b.

pencantuman dalam daftar hitam;

c.

tuntutan ganti rugi; dan/atau

d.

dilaporkan secara pidana.

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 15

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan

ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 5 Januari 2012

MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

REPUBLIK INDONESIA,

ttd

MARI ELKA PANGESTU

Diundangkan di Jakarta

pada tangal 9 Januari 2012

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AMIR SYAMSUDIN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 39

Salinan sesuai dengan aslinya

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF RI

Kepala Biro Hukum dan Kepegawaian,

ZAINI BUSTAMAN, SH, MM

(46)

SALINAN

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

TENTANG

ORGANISASI DAN TATA KERJA

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 47

Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian

Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011 dan

Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,

Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan

Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara,

sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan

Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011, serta dalam

rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan urusan

pemerintahan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif,

dipandang perlu menetapkan Peraturan Menteri Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif tentang Organisasi dan Tata Kerja

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

Mengingat

: 1.

Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang

(47)

2.

Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 sebagaimana

telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 59/P

Tahun 2011;

3.

Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang

Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara

serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon

I Kementerian Negara, sebagaimana telah beberapa kali

diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92

Tahun 2011;

Memperhatikan :

Surat Persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor:

B/307/M.PAN-RB/1/2012 tanggal 27 Januari 2012;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI

KREATIF TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF.

BAB I

KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI

Pasal 1

(1) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berada di bawah dan

bertanggung jawab kepada Presiden.

(2) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dipimpin oleh Menteri

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 2

Dalam memimpin Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Menteri

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat

(2) dibantu oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 3

(48)

Pasal 4

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempunyai tugas membantu

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam memimpin pelaksanaan tugas

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 5

Ruang lingkup bidang tugas Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, yaitu:

a.

membantu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam perumusan

dan pelaksanaan kebijakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

dan

b.

membantu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mengoordinasikan

pencapaian kebijakan strategis lintas unit organisasi eselon I di lingkungan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 6

Rincian tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 meliputi:

a.

membantu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam proses

pengambilan keputusan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

b.

membantu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam melaksanakan

program kerja dan kontrak kinerja;

c.

memberikan rekomendasi dan pertimbangan kepada Menteri Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

d.

melaksanakan pengendalian dan pamantauan pelaksanaan tugas dan

fungsi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

e.

membantu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam penilaian dan

penetapan pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif;

f.

melaksanakan pengendalian reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

g.

mewakili Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada acara tertentu

dan/atau memimpin rapat sesuai dengan penugasan Menteri Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif;

h.

melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Pariwisata dan

(49)

i.

dalam hal tertentu, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

melaksanakan tugas khusus yang diberikan langsung oleh Presiden atau

melalui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 7

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempunyai tugas

menyelenggarakan urusan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dalam

pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan

pemerintahan negara.

Pasal 8

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan fungsi:

a.

perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pariwisata

dan ekonomi kreatif;

b.

pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

c.

pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif;

d.

pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di daerah; dan

e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

BAB II

SUSUNAN ORGANISASI

Pasal 9

(1) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terdiri atas:

a.

Sekretariat Jenderal;

b.

Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata;

c.

Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata;

d.

Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya;

e.

Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;

f.

Inspektorat Jenderal;

g.

Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

(50)

i.

Staf Ahli Bidang Jasa Ekonomi;

j.

Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga;

k.

Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;

l.

Pusat Data dan Informasi;

m. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai; dan

n.

Pusat Komunikasi Publik.

(2) Struktur Organisasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini.

BAB III

SEKRETARIAT JENDERAL

Bagian Pertama

Kedudukan, Tugas, dan Fungsi

Pasal 10

(1) Sekretariat Jenderal adalah unsur pembantu pemimpin yang berada di

bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif.

(2) Sekretariat Jenderal dipimpin oleh Sekretaris Jenderal.

Pasal 11

Sekretariat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan

tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh

unit organisasi di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 12

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Sekretariat

Jenderal menyelenggarakan fungsi:

a.

koordinasi kegiatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

b.

koordinasi dan penyusunan rencana dan program Kementerian Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif;

c.

pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi

ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, arsip dan

dokumentasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

d.

pembinaan dan penyelenggaraan organisasi dan tata laksana, kerja

(51)

e.

koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan

hukum;

f.

penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara; dan

g.

pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif.

Bagian Kedua

Susunan Organisasi

Pasal 13

Sekretariat Jenderal terdiri atas:

a.

Biro Perencanaan dan Organisasi;

b.

Biro Hukum dan Kepegawaian;

c.

Biro Keuangan;

d.

Biro Kerja Sama Luar Negeri; dan

e.

Biro Umum.

Bagian Ketiga

Biro Perencanaan dan Organisasi

Pasal 14

Biro Perencanaan dan Organisasi mempunyai tugas melaksanakan koordinasi

dan penyusunan rencana program, penganggaran, pemantauan, evaluasi

dan pelaporan, serta penataan dan peningkatan kapasitas organisasi dan

tata laksana di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 15

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Biro

Perencanaan dan Organisasi menyelenggarakan fungsi:

a.

pelaksanaan koordinasi dan penyusunan rencana program;

b.

pelaksanaan koordinasi dan penyusunan anggaran;

c.

pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan rencana

program dan penganggaran;

d.

pelaksanaan penataan dan peningkatan kapasitas organisasi dan

ketatalaksanaan; dan

(52)

Pasal 16

Biro Perencanaan dan Organisasi terdiri atas:

a.

Bagian Rencana Program;

b.

Bagian Penganggaran;

c.

Bagian Evaluasi dan Pelaporan;

d.

Bagian Organisasi dan Tata Laksana; dan

e.

Kelompok Jabatan Fungsional.

Pasal 17

Bagian Rencana Program mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan

penelaahan, pengolahan dan koordinasi perumusan dan penyusunan kebijakan

rencana program Kementerian.

Pasal 18

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, Bagian

Rencana Program menyelenggarakan fungsi:

a.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

dan penyusunan kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Rencana Strategis, Rencana

Kerja Pemerintah dan Forum Diskusi Kebijakan Pembangunan Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif, serta Forum Regional Daerah;

b.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

dan penyusunan kebijakan Rencana Kerja, Rencana Kerja Tahunan, dan

Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga, serta dukungan kegiatan

tambahan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

dan

c.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

dan penyusunan kebijakan Forum Komunikasi, Forum Diskusi, Rapat

Kerja, Rapat Koordinasi, Rapat Koordinasi Teknis/Daerah, Penyelenggaraan

Forum Komunikasi Perencanaan Internal dan Eksternal Kementerian,

serta Musrenbang.

Pasal 19

Bagian Rencana Program terdiri atas:

a.

Subbagian Rencana Progam I;

b.

Subbagian Rencana Program II; dan

(53)

Pasal 20

(1) Subbagian Rencana Program I mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan

kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Rencana

Pembangunan Jangka Menengah, Rencana Strategis, Rencana Kerja

Pemerintah dan Forum Diskusi Kebijakan Pembangunan Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif, serta Forum Regional Daerah.

(2) Subbagian Rencana Program II mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan

kebijakan Rencana Kerja, Rencana Kerja tahunan, dan Rencana Kerja

Anggaran Kementerian/Lembaga, serta dukungan kegiatan tambahan di

lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

(3) Subbagian Rencana Program III mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan

kebijakan, Forum Komunikasi, Forum Diskusi, Rapat Kerja, Rapat

Koordinasi, Rapat Koordinasi Teknis/Daerah, Penyelenggaraan Forum

Komunikasi Perencanaan Internal dan Eksternal Kementerian, serta

Musrenbang.

Pasal 21

Bagian Penganggaran mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan

penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan anggaran

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 22

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Bagian

Penganggaran menyelenggarakan fungsi:

a.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

dan penyusunan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, Petunjuk Operasional

Kegiatan serta penyesuaian/revisi dokumen anggaran Kementerian;

b.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

dan penyusunan Surat Keputusan Pejabat Pengelola Anggaran, dan

Rancangan Bahan Nota Keuangan, serta Penetapan Kinerja kementerian;

dan

c.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan

(54)

Pasal 23

Bagian Penganggaran terdiri atas:

a.

Subbagian Penganggaran I;

b.

Subbagian Penganggaran II; dan

c.

Subbagian Penganggaran III dan Tata Usaha Biro.

Pasal 24

(1) Subbagian Penganggaran I mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan

Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, Petunjuk Operasional Kegiatan serta

penyesuaian/revisi dokumen anggaran Kementerian Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif.

(2) Subbagian Penganggaran II mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi perumusan dan penyusunan

Surat Keputusan Pejabat Pengelola Anggaran dan Rancangan Bahan

Nota Keuangan serta Penetapan Kinerja Kementerian Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif.

(3) Subbagian Penganggaran III dan Tata Usaha Biro mempunyai tugas

melakukan penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, dan koordinasi

perumusan dan penyusunan Standar Biaya Khusus, dan Forum Komunikasi

Perencanaan Pusat dan Daerah, serta urusan tata usaha Biro.

Pasal 25

Bagian Evaluasi dan Pelaporan mempunyai tugas melaksanakan pemantauan

dan pengevaluasian pelaksanaan rencana program dan anggaran, serta

penyusunan laporan Kementerian dan penyiapan bahan sidang/rapat pimpinan.

Pasal 26

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Bagian

Evaluasi dan Pelaporan menyelenggarakan fungsi:

a.

pemantauan dan pengevaluasian pelaksanaan rencana program, kegiatan

dan anggaran, sistem pengendalian internal pemerintah, Indikator Kinerja

Utama, rekomendasi hasil pemantauan di lingkungan Kementerian

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

b.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, koordinasi perumusan dan

penyusunan Laporan Kementerian; dan

c.

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, koordinasi perumusan dan

(55)

Pasal 27

Bagian Evaluasi dan Pelaporan terdiri atas:

a.

Subbagian Pemantauan dan Evaluasi Program;

b.

Subbagian Pelaporan Kementerian; dan

c.

Subbagian Penyiapan Bahan Pimpinan.

Pasal 28

(1) Subbagian Pemantauan dan Evaluasi Program mempunyai tugas

melakukan penyiapan bahan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan

rencana program, kegiatan dan anggaran, sistem pengendalian internal

pemerintah, Indikator Kinerja Utama, rekomendasi hasil pemantauan di

lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

(2) Subbagian Pelaporan Kementerian mempunyai tugas melakukan penyiapan

bahan penelaahan, pengolahan, koordinasi perumusan dan penyusunan

Laporan Kementerian.

(3) Subbagian Penyiapan Bahan Pimpinan mempunyai tugas melakukan

penyiapan bahan penelaahan, pengolahan, koordinasi perumusan dan

penyusunan bahan Sidang/Rapat Pimpinan.

Pasal 29

Bagian Organisasi dan Tata Laksana mempunyai tugas melaksanakan penataan

dan peningkatan kapasitas organisasi, dan pengembangan jabatan fungsional,

tata laksana, serta fasilitasi reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 30

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Bagian

Organisasi dan Tata Laksana menyelenggarakan fungsi:

a.

penyiapan bahan penelaahan, analisis, evaluasi, koordinasi perumusan

dan penyusunan organisasi, analisis jabatan, evaluasi jabatan, analisis

beban kerja, serta pengembangan jabatan fungsional di lingkungan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

b.

penyiapan bahan penelaahan, analisis, evaluasi, koordinasi perumusan

(56)

c.

penyiapan bahan pemantauan, dokumentasi, penatausahaan dan pelaporan

pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 31

Bagian Organisasi dan Tata Laksana terdiri atas:

a.

Subbagian Organisasi dan Pengembangan Jabatan Fungsional;

b.

Subbagian Tata Laksana; dan

c.

Subbagian Fasilitasi Reformasi Birokrasi.

Pasal 32

a.

Subbagian Organisasi dan Pengembangan Jabatan Fungsional mempunyai

tugas melakukan penyiapan bahan penelaahan, analisis, evaluasi,

koordinasi perumusan dan penyusunan organisasi, penyusunan analisis

jabatan, evaluasi jabatan, analisis beban kerja, serta pengembangan

jabatan fungsional di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif.

b.

Subbagian Tata Laksana mempunyai tugas menyiapkan bahan penelaahan,

analisis, evaluasi, koordinasi perumusan dan penyusunan norma, standar

prosedur kerja/SOP, kriteria, tata cara, dan pedoman kerja, serta pembakuan

sarana kerja di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

c.

Subbagian Fasilitasi Reformasi Birokrasi mempunyai tugas melakukan

penyiapan bahan pemantauan, dokumentasi, penatausahaan dan pelaporan

pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Pariwisata

dan Ekonomi Kreatif.

Bagian Keempat

Biro Hukum dan Kepegawaian

Pasal 33

Biro Hukum dan Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan koordinasi

dan penyusunan peraturan perundang-undangan, penelaahan dan bantuan

hukum, serta melaksanakan pengelolaan dan pembinaan kepegawaian di

lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pasal 34

Gambar

Tabel 1-1 Perkembangan Perekonomian Dunia
Grafik 1-5 Perkembangan Ekonomi BRIC
Tabel 1-3 Peringkat Daya Saing Kepariwisataan 10 Negara dengan PilarPendukung
Grafik 1-10 Pertumbuhan Pasar Wisman Dunia berdasarkan Region, 2009–2010Sumber: UNWTO, 2011
+7

Referensi

Dokumen terkait

Urusan Agama mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan

(1) Subbidang Standar Advokasi dan Evaluasi mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan, penyusunan standar kriteria, bimbingan teknis, pelaksanakan dan

Subbidang Informasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan teknis, rencana, program, pelaksanaan penyebarluasan informasi hasil penelitian,

Melaksanakan penyiapan bahan penyusunan program kerja, bahan pengoordinasian perumusan kebijakan teknis operasional, bahan penyusunan kebijakan teknis operasional, bahan

Bidang Program dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pengkajian dan pengembangan program dan model pendidikan

(1) Subbidang Afiliasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan teknis, rencana, program, pelaksanaan, dan pelaporan kerja sama penelitian,

Pasal 322 1 Seksi Perancangan Teknis Fasilitas Pelabuhan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan

• Seksi Wilayah I mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan program dan rencana kerja, penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis dan administrasi, penyiapan pelaksanaan dan