• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perang Asimetrik Global Regional dan Nas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perang Asimetrik Global Regional dan Nas"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Perang Asimetrik: global, regional dan nasional

1

Kusnanto Anggoro

2

Tak seorangpun menyangkal bahwa terorisme, penyebaran senjata pemusnah massal, kejahatan transnasional terorganisasi, dan penggunaan kekerasan oleh suatu kelompok sub-nasional merupakan masalah serius. Namun belum tentu semua orang sepakat bahwa mereka merupakan masalah asimetrik, peperangan asimetrik, atau perang asimetrik – yang sarat dengan konotasi politik dan hubungan relasional antar aktor, bukan sekedar masalah keamanan non-konvensional atau non-tradisional.1 Persamaan pada tataran global, regional maupun nasional hanya terlihat pada betapa fenomena asimetrik merupakan sesuatu yang unpredictable, unconventional, dan berbagai “un” yang lain. Perang ataupun peperangan asimetrik menjadi lebih rumit karena simetri (anti-asimetri) tidak bisa dirumuskan. Fenomena peperangan asimetrik membalik hampir seluruh diktum perang. Center of gravity bukan tulang punggung, tapi detak jantung. The fog of war dan the friction of war bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru harus diciptakan. Bagi pihak yang lebih lemah, tujuan politik bukan untuk menang tetapi self satisfaction, baik berupa martyrdom, keuntungan komersial, atau mengikis legitimasi politik lawan. Tentu ada variasi titik berat keberadaan karakter-karakter seperti pada beberapa aktor yang sering dianggap melakukan peperangan asimetrik – negara, insurgent/gerilyawan, organisasi kriminal transnasional, maupun teroris.

Fenomena asimetrik pada tingkat global

Siapa yang dianggap sebagai penabur ancaman asimetrik juga amat kontekstual, sebagian diantaranya karena memang asimetrisitas dirumuskan dalam konteks kemampuan, intensi, dan beragam masalah struktural. Amerika Serikat, misalnya, sebagian diantaranya karena peran global, menjadikan aktor negara seperti Iran, Korea Utara dan Kuba maupun mereka yang memiliki kemampuan cyber seperti China dan Rusia sebagai ancaman asimetrik.2 Amerika juga masih menganggap kekuatan insurgensi yang sering dihadapinya di daerah “operasi kemanusiaan” seperti Afghanistan dan Iraq merupakan ancaman asimetrik.3 Sementara itu China dan Rusia menganggap kekuatan domestik, misalnya Tibet dan Chechnya, sebagai ancaman asimetrik. Beberapa negara Asia Tenggara memasukkan fenomena subnasional, partikularisme identitas lokal, dan berbagai hal lain terkait dengan ancaman terhadap =bangsa dan bina-negara sebagai persoalan asimetrik.

1 Preliminary draft untuk diskusi tentang Peperangan Asimetrik, Seminar “Menjawab Tantangan Perkembangan Asymetric Warfare di Kawasan nasional, regional dan internasional”, Universitas Pertahanan Indonesia, Lantai VIII, Gedung Piere Tendean Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, 7 Desember 2011

(2)

Aksi terorisme, senjata pemusnah massal, insurgensi/gerilya modern, dan serangan cyber merupakan empat ancaman asimetrik yang paling serius bagi beberapa Barat. Langsung atau tidak, bagi Amerika Serikat mereka itu terkait dengan Al Qaeda, Korea Utara dan Iran maupun Kuba, para gerilyawan Iraq pasca-Saddam Hussein, dan bahkan China serta Russia. Mereka menjadi ancaman asimetrik karena mereka memang memiliki kriteria asimetrik terhadap pusat gravitas negara-negara itu.(Lihat background Paper). Mereka dibicarakan dalam konteks organisasional, khususnya dengan kejahatan kriminal terorganisasi, insurgensi dan gerilya, serta organisasi teroris internasional khususnya Al Qaeda. Mereka juga dikaitkan dengan senjata non-konvensional (nuklir, kimia dan biologi) maupun senjata unnon-konvensional seperti laser, cyber, ranjau darat maupun beberapa jenis senjata lain yang tidak berada dalam kekangan rejim anti/non-proliferasi.

Tentu saja berbagai dimensi, aspek dan aktor itu telah banyak dibicarakan dalam berbagai perspektif. Perspektif asimetrik menekankan beberapa aspek saja, yang seharusnya memang dilihat sebagai sesuatu yang distinctive dari berbagai fenomena lain. Distinctive features itu adalah asimetri dari segi kemampuan, intensi, dan lingkungan struktural di mana mereka berada. Gambar 1 sekedar untuk menunjukkan komplikasi dari fenomena asimetrik, terutama tentang bagaimana elemen kemampuan tertentu, misalnya senjata pemusnah massal, cyber capability maupun organisasi jejaring meruppakan potensi asimetrik bagi negara atau non-negara; dan bagaimana perbedaan intensi aktor-aktor simetrik tersebut ketika melakukan peperangan di mandala yang tak lagi dapat dibatasi dari segi teritorialitas.

Perlu dicatat bahwa sesuatu yang bisa menjadi kemampuan bagi satu aktor, bisa menjadi intensi bagi aktor yang lain. Composite asymmetry merupakan tantangan baru dan tidak mudah dijawab baik secara akademik, orientasi kebijakan, maupun opsi-opsi strategis serta langkah operasional yang diperlukannya. Perpaduan antara kompleksitas struktur, yang menyebabkan fog of war

maupun friction of war taklagi dipahami seperti dalam pandangan Clausewitzian yang konvensional. Begitu pula halnya dengan kecenderungan multifacet, khususnya ketidakjelasan antara kemampuan dan intensi, menyebabkan center of gravity yang pada umumnya lebih dipahami sebagai tulang punggung kekuatan, dipahamai sebagai titik lemah. Strategic/tactical targetting oleh karenanya lebih mengutamakan sasaran-sasaran non-militer tetapi memiliki banyak makna,mulai dari sisi perekonomian maupun pelayanan publik ataupun sekedar simbol-simbol negara.

(3)

anggota KGB dalam Mafia Russia dan narco-terrorisme di Meksiko, 6 serta keterlibatan Korea Utara dalam beragam bentuk tindak kriminal transnasional, mulai dari penyelundupan senjata sampai dengan pemalsuan mata uang. Isu nuklir Iran dan/atau Korea Utara tidak bisa dilihat melulu dari segi perimbangan kekuatan regional dan/atau proliferasi nuklir tetapi dinilai sebagai sesuatu yang membawa komplikasi tersendiri bagi munculnya kecenderungan komposit dalam peperangan asimetrik.

Hal serupa berlaku untuk Rusia dan China. Dalam 8 tahun ini saja, China dicurigai telah melakukan lebih dari 10 kali serangan cyber ke sasaran-sasaran strategis di Amerika Serikat.7 Serangan-serangan itu menimbullan berbagai bentuk kerugian, mislanya pencurian data (Titan Rain 2004, Lockheed Martin 2009), diversi pengiriman data ke beberapa perwakilan AS di seluruh dunia (Biro Asia Timur 2006, Ghosnet 2009), serangan pribadi ke beberapa tokoh yang di kenal anti-China (Frank Wolf 2006, Bill Nelson 2009), sampai dengan sekedar gangguan untuk offline (NWC, Desember 2006) atau bahkan mengganti seluruh sistem dengan komputer baru (Departemen Perdagangan, 2003).8 Tahun 2011 Rusia dicurigai sebagai penyerang prasarana air minum di beberapa kota Amerika.

Potensi dan kemungkinan meningkatnya ancaman asimetrik selalu ada. Yang sering menjadi persoalan lebih serius adalah seberapa besar kemungkinan itu akan terjadi. Betapapun seriusnya ancaman cyber attacks, misalnya, kemampuan seperti itu baru dimiliki oleh aktor negara seperti China, Iran, Rusia – selain Inggris dan Amerika Serikat. Menurut internal Memo dalam NATO, pelaku-pelaku non-negara mash dikategorikan sebagai near-capable.9 Betapapun seriusnya perpaduan antara terorisme dengan insurgensi, kejadian itu terutama terjadi di daerah pasca konflik yang melibatkan keikutsertaan aliansi barat. Namun fenomena yang tak bisa diingkari adalah bahwa transformasi aktor, opsi strategis, dan penyesuaian dari segi targetting tampaknya akan semakin cepat di masa yang akan datang. Mungkin itu pula sebabnya mengapa munculnya ancaman asimetrik telah membawa berbagai konsekuensi, antara lain penguatan rejim internasional, kerjasama keamanan, legalisasi kewenangan negara yang lebih kuat, sampai dengan upaya-upaya yang lebih spesifik terkait dengan force structure, force elements, maupun bagaimana modalitas operasi taktis harus dilakukan.

The danger of viscious militarization in Asia and the Pacific

Betulkah ada ancaman asimetrik di kawasan Asia Pasifik, dan seberapa besar ancaman itu memang bersifat asimetrik dan harus dihadapi dengan, sebut saja untuk sementara, strategi kontra-asimetri. Tidakkah mereka lebih mudah dianggap sebagai masalah keamanan non-tradisional atau non-konvensional saja. Kalau bukan peperangan asimetrik, tetapi cukup menganggu, tidakkah kemudian agak berlebihan untuk menyebutnya sebagai “war” atau sekedar “regional disorder”. Masing-masing membawa komplikasi tersendiri, misalnya kebutuhan akan “strategic warfare” dan counter-unconventional tactics atau sekedar pendekatan diplomatik untuk

(4)

Jawaban dari persoalan itu bervariasi, seringkali tergantung pada kepada siapa kita bertanya dan dalam konteks apa pertanyaan itu diajukan. Modernisasi persenjataan tak bisa dicegah, kecenderungan umum di Asia Pasifik adalah introduksi teknologi baru, khususnya matra udara dan laut, yang sangat sarat dengan teknologi information operation. Tiadanya perang bukan berarti tiadanya kegentingan. Si vis pacem para belum! “para-bellum” tidak melulu persoalan gelar sepapan, yetapi juga bagaimana mempersiapkan force element, strategic information, logictical support, maupun beragam tata organisasi yang diperlukan untuk dapat memasuki palagan dengan dada tengadah. Tiadanya deklarasi perang bukan berarti tidak ada peperangan, sekalipun mungkin terbatas dalam bentuk tertentu seperti electronic warfare, information warfare atau yang lain-lain sekalipun mungkin tidak pada tingkat military objectives yang ekstrim, sekedar untuk mengetahui apa yang terjadi dan dilakukan oleh pihak lain.

Dalam 5 tahun belakangan ini kecenderungan itu muncul dalam suasana ketegangan, belum dalam suasana permanen, misalnya ketika terjadi sengketa wilayah antara Korea dengan Jepanf atau China dengan Jepang. Bukan tidak mungkin hal serupa juga terjadi antara China dengan Taiwan. Tak jelas apakah itu memang harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang lead to a war, atau memang begitulah dinamika perang di dunia maya.

Pada tataran naratif tentu tidak sulit mengidentifikasi beberapa fenomena asimetrik di Asia Pasifik, sekalipun negara-negara Assia Pasifik memandang dari perspektif yang berbeda. Iran dan Korea Uara, misalnya, bukan aktor yang dipandang sebagai ancaman asimetrik, sekalipun sering dilihat sebagai negara yang mengancam keseimbangan kekuatan regional. Response terhadap hiruk pikuk yang ditumbulkan oleh mereka bukanlah militer, tetapi diplomatik. Mereka adalah soal konvensional dan balance of power. Pernyataan diplomatik dari Russia dan China, kedua-duanya anggota Dewan Keamanan PBB, tentang krisis nuklir Iran dan Semenjaung Korea, mengindikasikan asimetrik behaviour Teheran dan Pyongyang sebagai konsekuensi dari imperialisme dan arogansi Amerika. Kalaupun ada beberapa features dari Iran dan Korea Utara yang menjadi common concern di Asia Pasifik adalah weapons of mass destruction -- produksi, distribusi, dan ketidakpastian yang bisa terjadi di masa depan.

Beragam masalah keamanan non-tradisional muncul. Migrasi internasional dapat mengubah delicate ethnic balance di beberapa negara. Criminal organization merupakan nexus yang sekaligus mengancam otoritas negara dan kepentingan korporasi. Terorisme menebar maut kepada penduduk, dan mengurangi legitimasi negara. Di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara yang kerap diidentifikasi sebagai pelaku peperangan asimetrik adalah organisasi teroris, kejahatan transnasional, dan bentuk kekerasan terorganisasi yang lain. China, Jepang, Filipina dan Thailand masih concern tentang kekerasan terorganisasi di Xinjiang dan Tibet, radikalisme agama, gerilawan Moro, dan Thailand Selatan. Cyberwar belum merupakan kecemasan serius di Asia Pasifik, mungkin dengan perkecualian Singapura, Australia dan Jepang. Sekalipun mulai munncul di beberapa dokumen resmi, seperti Buku Putih China dan Jepang, hal itu hanya disinggung sepintas lalu dalam Buku Putih Pertahanan Malaysia, Indonesia, dan Vietnam. Australia dan Singapura secara spesifik memang menganggap cyberwar sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional mereka.

(5)

asimetrik. Sebab itu kalaupun harus dibuah distinksi, tanpa mengabaikan kemungkinan interseksi, dari apa yang terjadi pada tataran global adalah bagaimana cara negara-negara kawasan mengidentifikasi apa yang disebut sebagai peperangan asimetris. Di Barat, identifikasi itu mengandalkan pada struktural approach, dengan state/organizational type of identification, dan oleh sebab itu yang predominan adalah Al Qaeda, Korea Utara, Iran, gerilyawan Iraq pasca Saddam Hussein. Di Asia Pasifik, tentu dengan perkecualian bagi mereka yang terkait langsung dengan Amerika Serikat, identifikasi itu dilakukan berdasarkan gejala (phenomenological-based), dan sebab itu yang lebih menonjol adalah transnansionalisasi dari gerakan teror, kriminal, seperatis dan radikalisme domestik.

Kerjasama regional adalah satu-satunya modalitas yang feasibel untuk menghadapi peperangan asimetrik. Beberapa ancaman yang disebut diatas telah lama menjadi kecemasan bagi ARF, APEC, East Asian Summit, dan ASEAN. Namun solusi Asia Pasifik masih amat terbatas, titik paling jjauh yanag dihasilkan adalah CBM, Preventive Diplomacy, serta berbagai bentuk kerjsasama untuk peningkatan kapasitas negara (legislasi, kompetensi penegakan hukum, tukar-menukar informasi, coordinated cooperation, community bulding). Formula itu agak berbeda dengan Barat, misalnya dalam kerangka NATO, yang sudah sampai pada militarization of policing dan militarizatin of intelligence terutama dalam border protection tasks atau target identification tasks. Tidak tertampung dalam kerjasama di Asia Pasifik adalah, antara lain, isu terkait dengan modern warfare (naval, air srike, information, land). Proliferation Security Initiatives (PSI), Maritime Security Initiatives dan ReCAPP (Regional Cooperation on Arms Robbery and Piracy) adalah kerjasama beberapa negara tetapi tidak dalam kerangka regional.

Missing point di Asia Pacific adalah kerjasama yang secara langsung bersentuhan dengan the use of force atau the potential of using force. Protection of border, jika dilakukan masih terbatas pada tukar menukar informasi intelijen, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum atau cara-cara tidak langsung, misalnya dengan membetuk perdagangan cross-border. Di Asia Pasific, combating terrorisme menjadi sesuatu yang miniscule dibanding dengan kecenderungan dominan untuk memerangi akar masalah terorisme. Pada tataran nasional, beberapa negara kembali menekankan pentingnya “keamanan negara” melalui restriksi kebebasan warganegara, misalmya seperti munculmya kembali rejim-rejim keamanan informasi atau kerahasiaan informasi di beberapa negara.

Betulkah ada concerns peperangan asimetrik di Asia Pasifik, seberapa besar konflik itu mengancam negara dan kestabilan regional kawasan tetap menjadi persoalan akademik. Selat Malaka semakin padat menjadi lintasan kepal komersial dari Timur Tengah menuju Asia Timur. Kerentanan domestik di Thailand, Kamboja, dan beberapa negara Asia Tenggara lain bukan tidak mungkin mengawali metamorfese dari modalitas dari satu model asimetri ke model yang lain. Terorisme dan piracy menurun, namun metamorfose selalu mungkin terjadi. Konon salah satu sebab metamorfose dari modalitas asimetrik satu ke lainnya, dalam skala yang lebih koersif, justru karena excessive respose. Perompak bisa saja justru menjadi teroris maritim.

(6)

Seperti halnya regional merupakan linking up antara yang internasional dan nasional, nasional adalah linking up antara regional dan sub-nasional. Dynamics of globalization dan localization jelas merupakan salah satu faktor yang menentukan tentang bagaimana Indonesia memandang peperangan asimetrik. Indonesia yang, menurut Anderson dianggap sebagai imagined community, tercermin dalam bagaimana rumusan itu dilakukan., kerawanan nasional dan penetrasi asing merupakan kunci segenap pembahasan tentang ancaman asimetrik. Di Indonesia, fenomena asimetrik sering dianggap sebagai fenomena perang modern (modern war) yang berisfat mutidimensional, bukan persoalan peperangan modern (modern warfare) yang harus dihadapi dengan strategi non- atau un-conventional.10 Tak heran jika formula yang kerap muncul adalah peningkatan ketahanan nasional, bukan peningkatan kapasitas keamanan nasonal. Inferiority complex sebuah negara bajang menyebabkan identifikasi tentang fenomena asimetrik lebih dipandang sebagai instrumen Barat untuk mengikis kedaulatan Indonesia, daripada kegagalan negara untuk membangun hubungan state-market-society yang lebih baik.

Persoalan kita di Indonesia bukanlah kesadaran mengenai ada/tidaknya fenomena asimetrik namun bagaimana menempatkan fenomena itu dalam konteks perang, strategi peperangan (strategic resposne) dan/atau taktis operasional. Kesadaran cukup besar, mungkin agak berlebihan dan terjadi distorsi, displacement, dan misorientasi untuk menjawabnya. Istilah asimetrik muncul dalam naskah akademik RUU Sistem Keamanan Nasional Lemhannas, diskursus keamanan nasional Kementerian Pertahanan maupun berbagai diskusi publik. Teknologi modern (internet), globalisasi nilai-nilai universal, fenomena kejahatan transnasional, terorisme, dan perkembangan pada tataran global maupun regional tercakup dalam wacana itu. Dalam Shangri La Dialogue pertengahan tahun ini, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyinggung tentang ancaman asimetrik sebagai salah satu ancaman paling serius yang telah menjadi fenomena global. Kementerian Kominfo bergumul dengan berbagai regulasi untuk mengamankan dunia maya dari berbagai bentuk ancaman melalui kerawanan sistem informasi. Salah satu konsideran Badan Intelijen Negara ketika mengajukan RUU Intelijen juga didera oleh kebutuhan untuk mengendalikan ruang pertempuran tak berbentuk itu.

Namun konsep asimetrik hanya disinggung sambil lalu dalam Buku Putih Pertahanan (2008) maupun Strategi Pertahanan Indonesia (2008).11 Itupun dalam konteks keamanan non-tradisional atau non-konvensional, dan oleh sebab itu condong menggarisbawahi tantangan terhadap keamanan nasional daripada langkah strategis untuk menghadapi sebuah peperangan yang bersifat asimetrik. Penguatan komponen utama difokuskan pada pembentukan beberapa ribu personil komponen cadangan ( reservis), bukan pada kemampuan industri dan teknologikal. Pada tataran kebijakan, titik paling jauh yang dicapai adalah bahwa “keamanan menyeluruh harus dihadapi dengan seluruh sumberdaya nasional”; “ancaman nirmiliter dihadapi oleh instansi sipil sebagai komponen utama dan TNI sebagai pendukung”. Dengan mengatakan bahwa “perang asimetrik terjadi dalam bentuk bermacam gangguan “ketika kerusuhan dan berbagai gejolak hukum telah melanda dan tidak dapat dihadapi”,12 seorang mayor infanteri yang bekerja di Kementerian Pertahanan tampaknya ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya melibatkan TNI dalam masalah-masalah non-pertahanan – yang dalam konteks Indonesia sampai saat ini tetap menjadi perdebatan politik, bukan opsi strategis.

(7)

melemahkan NKRI, atau yang lain. Mengaitkan kerentanan sosial dan meluasnya tapalbatas maya, Lemhannas dan Universitas Gajahmada condong menafsirkan fenomena asimetrik sebagai sesuatu yang mengancam ketahanan nasional daripada keamanan nasional. Solusi umumnya berkisar soal pelaksanaan pasal 33 UUD 194514 dan/atau pemantapan ketahanan nasional serta konsep sistem keamanan nasional yang komprehensif.

Di Indonesia, seperti di Barat, peperangan asimetrik diakui sebagai taktik perang kaum lemah melawan pihak yang lebih kuat. Namun berbeda dengan Barat yang condong mencari solusi strategis, Indonesia memilih menafsirkan perang asimetrik sebagai perang modern, yang memerlukan jawaban komprehensif, dan terutama dengan memperkuat ketahanan nasional. Sebagian karena konstruksi geostrategis dan historis, solusi Indonesia untuk meredam perang asimetrik adalah menyejahterakan kaum lemah sehingga tak ada lagi gugatan terhadap legitimasi negara. Barangkali karena sifatnya yang inward looking, atau karena semangat “million friends, zero enemy” strategi asimterik tidak akan digunakan untuk counter-asymmetric warfare melawan negara lain yang menggunakan irregularitas untuk mengikis otoritas, kemandirian, dan kemerdekaan Indonesia.

Catatan Akhir: sedulur papat, lima pancer!

Beberapa butir pemikiran berikut sekedar menegaskan ulang beberapa kecenderungan yang telah dipaparkan sebelumnya. Pertama, fenomena asimetrik merupakan “unknown, uknowns”, tak seorangpun tahu ke mana akan berujung. Fenomena yang mulai muncul adalah “emerging composite pictures” dari fenomena asimetrik itu sendiri. Rough-states-terorisme-kejahatan lintasbatas-gerakan radikal dalam negeri terajur menjadi satu. Perlindungan wilayah nasional, penegakan hukum, keselamatan dan ketertiban masyarakat menjadi tak terpisahkan satu dari yang lain. Kita tahu bahwa saat ini fenomena asimetrik sudah menjadi “emerging composite pictures”. Kita tetap tidak tahu apa yang akan terjadi besok karena dinamika fenomena asimetrik tidak hanya mengikuti non-linear curve tetapi juga tangential space. There will be no limit.

Kedua fenomena peperangan asimetrik bukanlah fenomena baru. Taktik asimetrik dikenal sejak lama, seperti terlihat dari Aswathama Gangsir, Samson-Goliath, Parthian-Alexander (Agung), Bhuyans-Sultan Akbar (India Moghul), maupun gerilyawan melawan para penguasa kolonial. Yang baru adalah lebih mudahnya aksesibilitas alat kekerasan, perluasan battlefield, terdiversifikasinya sasaran peperangan, dan motivasi self-satisfaction. Manipulasi kelemahan lawan adalah fenomena lama, setua sejarah perang, yanag sejak ribuan tahun silam dibayangkan oleh SunTzu, Chanakya Kautilya, Kresnadwipayana Wyasa, dan Walmiki. Titik kelemahan itu menjadi seakan-akan baru hanya dalam perspektif Wesphalian. The political elements of the center of gravity is changing.

(8)

prevailed ignorance. Penetrasi, intervensi, dan rekayasa asing, kalau ada, harus dijawab dengan pandangan outward looking.

Keempat, perang bisa saja multidimensional dan terjadi di berbagai battlespace, namun strategi tetap harus dirumuskan berdasarkan kontekstualisasi dimensi dengan particular battlefields. Differentiated stretegy itu harus menampilkan diri dalam specific operational tactics di setiap palagan – rongrongan media asing, propaganda, radikalisme, organisasi kejahatan transnasional, terorisme maritim, operasi informasi, maupun yang lain. Diferensiasi strategi dan partikularisasi taktik operasional itu merupakan konsekuensi logis dari pemerintahan demokratik tetapi juga kebutuhan alami untuk peningkatan kompetensi, profesionalitas para pelaksana yang akan memanggul tombak di lapangan yang berbeda.

Pada akhirnya, keempat hal itu bermuara pada kebutuhan ganda, dua sisi dari keping mata uang yang sama. Di satu sisi, yang diperlukan adalah otoritas sekuritisasi, tentu dalam batas-batas penyelenggaraan pemerintahan yang demokratik, peduli kemanusiaan, dan ambeg paramaartha kepentingan publik. Berbeda dari logika ketahanan nasional yang bertumpu pada solusi adanya redundancy, reserves, atau non-projective actions, sekuritisasi justru menuntut proventive actions. Di sisi lain, partikularisasi taktik operasional itu meniscayakan perlunya effect-based operation di setiap battlespace, termasuk tetapi tidak terbatas di dunia kemiliteran. Berbeda dari peperangan konvensional, effect based operation dalam peperangan asimetrik tampaknya tidak memiliki tujuan militer lebih dari sekedar “netralisasi”.

Bisa dipastikan bahwa keharusan ini akan membawa implikasi serius pada sesuatu yang di dunia kemiliteran dikenal dengan sebagai antara lain force structure, force elements, dan chain of command, rules of engagement, code of conducts dan sebagainya. Entah bagaimana mentransformasi gagasan-gagasan itu untuk juga diterapkan pada instansi-instansi penyelenggara pemerintahan yang lain -- tetap berpijak pada kompetensi dan fungsi normal masing-masing dengan tetap membuka ruang bagi kemungkinan sekuritisasi terbatas.

(9)

1 Secara teoretis ada beberapa persyaratan utuk menyebut sesuatu dalam kerangka, teori, dan analisis tentang asimetri. Tanpa menggunakan kerang yang tepat tidak mustahil fenomena asimetrik akan mengundang unnecessary securitization, non-differentiated strategy, dan inadequate tactical responses. Hal itu dapat bermuara lebih jauh, misalnya apa yang dalam literatur disebut sebagai defence dilemma, yaitu ketika postur pertahanan tidak lagi relevan dengan kebutuhan penangkalan dan/atau pertahanan. Untuk analisis singkat tentang masalah ini lihat Kusnanto Anggoro, “Fenomena Asimetrik: dinamika, karakter, dan agenda kajian” – paper yang pada mulanya disiapkan untuk seminar ini.

2 David E. Long, “Countering Asymmetrical Warfare in the 21st Century: A Grand Strategic Vision”, Strategic Insights, Volume VII, Issue 3 (July 2008)

3 Patrick Henrichon, “Protecting Canadian Forces against Asymmetric threats”, the Canadian Military Journal (Winter 2002-2003)

4 Data dalam 5 tahun belakangan ini menunjukkan penurunan dari segi kurban jiwa maupun luka. Meskipun demikian, dari segi rasio serangan/kurban jiwa sebenarnya terjadi peningkatan dari 0.74 (2008), 0.71 (2009) menjadi 0.88 (2010). Menurunnya jumlah insiden tetapi meningkatnya rasio kurban itu merupakan petunjuk bahwa kemungkinan besar serangan teroris lebih banyak dilakukan terhadap sasaran-sasaran yang lebih terbuka dan/atau menggunakan senjata yang lebih mematikan (lethal). Tidak tertutup kemungkinan bahwa berkurangnya serangan itu merupakan pertanda bahwa upaya penanggulangan terorisme cukup berhasil di beberapa negara.

5 Doktrin perang laut yang dirumuskan pada tahun 2005 itu menegaskan tentang bagaimana intimidasi, selective targetting, dan martyrdom merupakan doktrin yang embedded bagi Iran. “intimidasi” dan “martyrdom: saja merupakan doktrin yang, dari sudut pandang Amerika, tidak rasional dan oleh sebab itu menjadikan Iran merupakan ancaman yang bersifat asimetris. Iran juga merupakan satu dari 5 negara yang memiliki memampuan cyber attacks.

6 Lihat David Goldman, “The cyber Mafia has already hacked you”, CNN MoneyTech, 27 Juli 2011

7 Jason, Fritz, “How china will use cyber warfare to leapfrog in military competitiveness”

Culture Mandala, Vol. 8, No. 1, October 2008, pp.28-80

8 Lihat Josh Rogin, “The top 10 Chinese cyber attacks”, 22 January 2010. 9 NATO versus Cyber attacker: Internal memo (24 Mei 2011)

10 Lokakarya yang diselenggarakan oleh Dewan Riset Nasional, 10 Juli 2007.Lokakarya tersebut membahas berbagai hal terkait dengan perang asimteris, termasuk teknologi informasi.

11Buku Putih Pertahanan Indonesia (Jakarta, kementerian Pertahanan Republik Indonesia, 2008): hal 13. Dalam Buku Putih Pertahanan itu istilah asimetrik dikaitkan sebagai bagian dari fenomena global, isu ancaman lintas negara (transnational) dalam beragam bentuk, misalnya pembuangan limbah beracun, narkotika dan obat terlarang sampai dengan terorisme.

12 Mayor Inf Andy Irawan Ch, S.Sos, “Analisa Perang Asimetris dihadapkan sebagai Pertahanan Semesta”, Tandef 2010.

13 Indonesia Jadi Sasaran Perang Asimetris Intelijen Asing, Antara, 9 April 2011

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi Learn Network Troubleshooting (Letshoot) yaitu media pembelajaran troubleshooting jaringan yang berbasis

Imej yang lebih dekat dengan realiti mampu untuk memberi satu kesan mendalam kepada khalayak untuk merasakan diri mereka berada dalam situasi sebenar yang

Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dampak sarana olahraga terhadap partisipasi masyarakat di Fakultas Ilmu Keolahragaan

Bersopan santun dan berbudi bahasa sememangnya semangat dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat di negara ini. Oleh sebab itu, dalam Rukun Negara perkara ini

Sedangkan pola asuh itu sendiri seperti yang diungkapan oleh, Thoha menyatakan bahwa pola asuh orang tua adalah merupakan suatu cara terbaik yang ditempuh orang tua

Walaupun penyusunan prosa dan puisi ini tidak cukup kronologis, sehingga kita yang belum pernah membacanya dan tidak mengenal pengarang akan sulit menerka maksud pengarang dan alur

adjusted R square adalah sebesar 0,084 atau sebesar 8,4% variabel manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2014 – 2015,

Dan bagi umat Kristen atau Katolik yang tidak dapat menjalankan ibadah Natal karena tempat ibadahnya masih ditutup, Muhammadiyah menawarkan sarana gedung atau