• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

3 MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMAT

MAKALAH

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Agama Islam dan Etika Dosen Pengampu Dr. H. Mahrus As’ad, M. Ag.

oleh:

Agi Syahrain (1102160242)

Fauzi Rulandi Aviantara G. (1102164172) Moch. Fahreza Darmawan (1102160123)

Mohd Raziq Aufa (110216426)

Muhammad Ridho Taufiqurrahman (1102160137) Reza Haykal Nafis (1102160025)

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

(2)

i KATA PENGANTAR

Terima kasih dipanjatkan kepada ke hadirat Allah swt. karena karunia-Nya, makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu, dan terima kasih juga diucapkan kepada dosen pembimbing, orang tua dan teman-teman seperjuangan yang telah mendukung pembuatan makalah ini.

Makalah ini membahas tentang masyarakat madani dan kesejahteraan umat. Pembahasan ini difokuskan pada pendalaman mengenai masyarakat madani dan hubungan antara masyarakat madani dan kesejahteraan umat.

Diharapkan setelah membaca makalah ini pembaca dapat memahami masyarakat madani, juga kesejahteraan umat dan hubungan dari keduanya.

Bandung, 19 Maret 2017

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB 1 1

BAB 2 2

1.1. Konsep Masyarakat Madani 2

1.2. Pengertian Masyarakat Madani 2

1.3. Masyarakat Madani dalam Perspektif Islam 3

1.4. Ciri Masyarakat Madani 4

1.5. Upaya Mewujudkan Masyarakat Madani 5

1.6. Hubungan Masyarakat Madani dengan Kesejahteraan Masyarakat 5

1.6.1. Zakat 6

1.6.2. Hibah 9

1.6.3. Wasiat 10

1.6.4. Wakaf 11

BAB 3 14

(4)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masyarakat Madinah banyak dirujuk sebagai salah satu contoh masyarakat mempunyai sifat-sifat baik. Seperti, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang sejalan dengan petunjuk Allah swt., maupun persatuan dan kesatuan. Adapun cara pelaksanaannya dengan hikmah, nasihat, dan tutur kata yang baik. Dalam rangka membangun “masyarakat madani modern”, meneladani Nabi Muhammad saw. bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau lakukan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.

Sifat dan sikap tersebut cocok diterapkan di masyarakat, khususnya masyarakat Muslim. Dengan begitu, Muslim bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan Islam hanya menunggu waktu saja.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat madani? 2. Apa ciri-ciri masyarakat madani?

3. Apa yang dimaksud kesejahteraan umat?

(5)

2 BAB 2

MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMAT

1.1. Konsep Masyarakat Madani

Konsep “Masyarakat Madani” merupakan penerjemahan atau pengislaman konsep Civil Society. Tokoh yang pertama kali mengungkapkan istilah ini adalah Anwar Ibrahim dan dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan Civil Society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad.

1.2. Pengertian Masyarakat Madani

Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.

(6)

3 Ada dua masyarakat madani dalam sejarah, yaitu:

1. Masyarakat Saba’, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman. Masyarakat yang hidup aman sejahtera, dianugerahkan kepada mereka rezeki yang melimpah, tetapi mereka tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah, akhirnya Allah turunkan azab kepada mereka berupa banjir bandang yang menghancurkan kehidupan mereka. Cerita mengenai ini ada pada QS Saba’ ayat 15-17

2. Masyarakat Madinah. Dibawah pimpinan Rasulullah adalah masyarakat ideal dalam konsep Islam. Masyarakat yang tunduk dan patuh kepada pemimpin, meskipun mereka terdiri dari dari berbagai agama dan kepercayaan; kaum muslimin yang mayoritas, yahudi, nasrani dan watsani. Mereka hidup rukun, saling menghormati, dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing.

1.3. Masyarakat Madani dalam Perspektif Islam

Dalam perspektif Islam, civil society lebih mengacu kepada penciptaan peradaban. Kata al-din, yang umumnya diterjemahkan sebagai agama, berkaitan dengan al-tamaddun atau peradaban. Keduanya menyatu ke dalam pengertian al-madinah yang arti harfiahnya adalah kota. Dengan demikian, masyarakat madani mengandung tiga hal, yakni: agama, peradaban, dan perkotaan. Dari konsep ini tercermin bahwa agama merupakan sumbernya, peradaban sebagai prosesnya, dan masyarakat kota adalah hasilnya.

Menurut Sanaky dalam Kusuma (2016), secara bahasa kata madinah adalah penyerapan dari kosakata Arab yang mempunyai dua pengertian. Pertama, madinah berarti kota atau disebut dengan "masyarakat kota”. Kedua, “masyarakat peradaban” karena madinah adalah juga penyerapan dari kata tamaddun ataumadaniyah yang berarti “peradaban”, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai civility dancivilization. Kata sifat dari kata madinah adalah madani.

(7)

4 pertama di kota Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasul Allah SAW dan diikuti oleh keempat al-Khulafa al-Rasyidun. Masyarakat madani yang dibangun pada zaman Nabi Muhammad SAW tersebut identik dengan civil society, karena secara sosio-kultural mengandung substansi ke-adaban atau civility. Model masyarakat ini sering dijadikan model masyarakat modern

1.4. Ciri Masyarakat Madani

Secara umum, ciri-ciri masyarakat madani yaitu hadirnya sikap toleransi, prinsip pluralisme dan juga pengakuan terhadap hak asasi pada setiap elemen pribadi manusia yang ada dalam sebuah kelompok masyarakat. Ada beberapa karakteristik masyarakat madani, yaitu :

1. Adanya integrasi antar individu

2. Kekuasaan tersebar merata di semua lapisan masyarakat dengan tujuan meminimalisasi dominasi kalangan tertentu

3. Program-program pembangunan berbasis masyarakat dicukupi dan mayoritasnya dikuasai oleh negara

4. Kreativitas masyarakat berkembang dengan cepat dan tidak dibatasi oleh rezim otoriter

5. Kepentingan individu atas negaranya terjembatani dengan baik. 6. Loyalitas dan kepercayaan masyarakat meningkat

7. Masyarakat dibebaskan melakukan berbagai kegiatan melalui lembagai sosial dari beragam perspektif

8. Bertuhan, artinya masyarakat memiliki agama, mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai pedoman yang mengatur kehidupan sosial

9. Damai

10. Tolong menolong 11. Toleran

12. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial

(8)

5 kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk umat manusia.

14. Berakhlak mulia

Dari karakteristik tersebut, dapat diambil karakteristik yang sesuai dengan pandangan islam, yaitu:

1. Berlandas hukum Allah 2. Aman dan damai 3. Tolong menolong 4. Toleransi

5. Keseimbangan antara hak dan kewajiban 6. Peradaban tinggi

7. Menguasai pengetahuan dan teknologi 8. Berakhlak mulia

1.5. Upaya Mewujudkan Masyarakat Madani

Upaya paling mudah mewujudkan masyarakat madani, khususnya di Indonesia ialah dari diri sendiri. Sikap paling utama adalah beriman pada Allah, karena masyarakat madani berlandas hukum Allah. Selain itu, sikap toleransi harus dijunjung, mulai dari lingkungan terdekat; diri sendiri , lingkungan sekitar hingga akhirnya ke lingkungan yang lebih besar. Dari hal itu, akan tercapai kondisi aman dan damai. Selain toleransi, rasa empati dan simpati harus dikuatkan, agar antar individu tidak terjadi kesenjangan yang tinggi, sikap tolong menolong akan terbentuk.

1.6. Hubungan Masyarakat Madani dengan Kesejahteraan Masyarakat Sejahtera menurut Kamus Besar bahasa Indonesia adalah aman, sentosa dan makmur, selamat terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran. Dengan demikian kesejahteraan umat merupakan keadaan masyarakat yang sejahtera. Prinsip kesejahteraan umat adalah,

1. Jangan mengeksploitasi orang lain. (QS As-Syura’, 26:183)

(9)

6 3. Dalam harta mereka, terdapat hak orang lain, (QS. Dzaariyat 51:19). 4. Bisikan yang paling baik: mengajak bersedekah, berbuat ma’ruf, atau

mengadakan perdamaian di antara manusia, (QS. An-Nisa’ 4:114) Dari prinsip tersebut, hubungan masyarakat madani dengan kesejahteraan masyarakat diwujudkan dengan sistem ekonomi islam. Penerapan yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan Zakat dan Wakaf.

1.6.1. Zakat

Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Nisab adalah ukuran tertentu dari harta yang dimiliki yang mewajibkan dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah berjalan genap satu tahun. Zakat juga berarti kebersihan, setiap pemeluk Islam yang mempunyai harta cukup banyaknya menurut ketentuan (nisab) zakat, wajiblah membersihkan hartanya itu dengan mengeluarkan zakatnya. Allah berfirman dalam At-Taubah: 103

Adapun harta-harta yang wajib dizakati itu adalah sebagai berikut: 1. Harta yang berharga, seperti emas dan perak.

2. Hasil tanaman dan tumbuh-tumbuhan

(10)

7 4. Harta perdagangan.

5. Harta galian termasuk juga harta rikaz.

Berikut ini macam-macam zakat beserta besarannya:

1. Zakat Fitrah: Adalah zakat yang dikeluarkan menjelang hari Raya Idul Fitri oleh setiap individu. Besarnya adalah 2,5 kg atau 3,5 liter beras yang biasa dikonsumsi. Pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan cara membayarkan harga dari makanan pokok.

2. Zakat penghasilan/profesi: Adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi jika sudah mencapai nilai tertentu (nisab). Cara menghitung zakat profesi : nisab sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah atau setara dengan 520 kg beras. Besar zakat profesi yaitu 2,5 persen. 3. Zakat investasi adalah zakat yang dikenakan terhadap harta yang

diperoleh dari hasil investasi. Zakat investasi dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modalnya tidak dikenakan zakat. Besar zakat investasi yang dikeluarkan 5% untuk penghasilan kotor dan 10% untuk penghasilan bersih.

4. Zakat saham dan deposito: Saham atau deposito yang telah mengendap selama satu tahun dan mencapai nilai minimal (nishab) setara 85 gram emas wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 persen. 5. Zakat tabungan: Uang simpanan yang telah mengendap selama satu

tahun dan mencapai nilai minimal (nishab) setara 85 gram emas wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 persen.

6. Zakat emas atau perak: Nishab emas 85 gram, sedangkan perak 595 gram. Besar zakat 2,5 persen.

(11)

8 tidak di duga-duga maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20%. Jika sumber hibah sudah di duga dan diharapkan, maka hibah tersebut digabungkan dengan kekayaan yang ada. Besarnya 2,5%.

Adapun orang yang berhak menerima zakat adalah:

1. Fakir, ialah orang yang tidak mempunyai dan tidak pula berusaha. 2. Miskin, ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dengan

pendapatannya sehingga ia selalu dalam keadaan kekurangan.

3. Amil, ialah orang yang pekerjaannya mengurus dan mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya. 4. Muallaf, ialah orang yang baru masuk Islam yang masih lemah

imannya.

5. Riqab, ialah hamba sahaya atau budak belian yang diberi kebebasan berusaha untuk menebus dirinya agar menjadi orang merdeka.

6. Gharim, ialah orang yang berhutang yang tidak ada kesanggupan membayarnya.

7. Fi-sabilillah, ialah orang yang berjuang di jalan Allah demi menegakkan Islam.

8. Ibnussabil, ialah orang yang kehabisan biaya atau perbekalan dalam perjalanan yang bermaksud baik (bukan untuk maksiat).

(12)

9 yang menekankan kepada mekanisme kerja sama dan tolong-menolong. 1.6.2. Hibah

Menurut bahasa, kata hibah berasal berarti memberi atau pemberian dengan sukarela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain. Menurut istilah, hibah adalah adalah akad atau perjanjian yang menyatakan perpindahan milik seseorang kepada orang lain diwaktu ia masih hidup tanpa mengharapkan penggantian sedikitpun.

Rukun Hibah yaitu,

1. Pemberi hibah (al-Wahib)

Pemberi hibah hendaklah seorang yang berkeahlian seperti sempurna akal, dan baligh

2. Penerima hibah (al-Mauhub lahu)

3. Barang atau harta yang dihibahkan (al-Mauhub) Barang atau harta yang hendak dihibahkan perlu memenuhi syarat-syarat berikut:

3.1. Hendaklah barang atau harta yang halal. 3.2. Barang atau harta itu milik pemberi hibah. 3.3. Boleh dipindahtangan

3.4. Barang berwujud. Contohnya, tidak sah hibah barang yang belum ada seperti menghibahkan anak lembu yang masih dalam kandungan atau hibah hasil padi tahun hadapan sedangkan masih belum berbuah dan sebagainya.

3.5. Ijab dan kabul Syarat hibah yaitu,

1. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. Terpilih dan sungguh-sungguh

(13)

10 7. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu

8. Menyempurnakan pemberian 9. Tidak disertai syarat waktu

10. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka, dan mukallaf)

11. Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan. 1.6.3. Wasiat

Menurut istilah, wasiat adalah pesan terakhir yang diucapkan dengan lisan atau disampaikan dengan tulisan oleh seseorang yang merasa akan wafat berkenaan dengan harta benda yang ditinggalkan. Dalam Al-Qur'an kata wasiatmempunyai beberapa arti diantaranya berarti menetapkan, memerintahkan, dan mensyari'atkan.

Adapun syarat-syarat wasiat adalah: 1. Syarat benda yang diwasiatkan

1.1. Wasiat tidak boleh lebih dari 1/3 (sepertiga). Apabila lebih, maka untuk kelebihan dari 1/3 harus atas seijin ahli waris. 1.2. Wasiat tidak boleh diberikan pada salah satu ahli waris

kecuali atas seijin ahli waris lain.

1.3. Boleh berupa benda yang sudah ada atau yang belum ada seperi wasiat buah dari pohon yang belum berbuah.

1.4. Boleh berupa benda yang sudah diketahui atau tidak diketahui seperti susu dalam perut sapi.

1.5. Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat.

2. Syarat Pewasiat / Pemberi Wasiat (Al-Washi) 2.1. Akil baligh

2.2. Berakal sehat

2.3. Atas kemauan sendiri.

(14)

11 Penerima wasiat ada dua macam, yaitu wasiat umum seperti wasiat pembangunan masjid dan wasiat khusus, yaitu wasiat kepada orang/benda tertentu. Wasiat bersifat umum, maka tidak boleh untuk hal yang mengandung dosa (maksiat). Contoh, wasiat harta untuk pembangunan masjid boleh tetapi wasiat untuk membangun klab

malam tidak boleh.

Untuk wasiat khusus maka syaratnya adalah:

1. Penerima wasiat hidup (orang mati tidak bisa menerima wasiat)

2. Penerima wasiat diketahui (jelas identitas oragnya). 3. Dapat memiliki.

4. Penerima wasiat tidak membunuh pewasiat.

5. Penerima wasiat menerima (qabul) pemberian wasiat dari pewasiat. Kalau menolak maka wasiat batal.

Adapun rukun wasiat itu ada empat, yaitu 1. redaksi wasiat (shighat),

2. pemberi wasiat (mushiy), 3. penerima wasiat (mushan lahu),

4. barang yang diwasiatkan (mushan bihi), 5. kalimat wasiat (lafadz)

1.6.4. Wakaf

(15)

12 hari, karena Wakaf-nya merupakan satu bentuk amalan yang pahalanya akan terus mengalir selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Sedangkan dalam fungsi sosialnya, wakaf merupakan aset amat bernilai dalam pembangunan umat.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist yang menerangkan tentang wakaf ini ialah:

Al-Baqarah ayat 267:

Hadist Riwayat Muslim:

“Abu Hurairah r.a. menceritakan, bahwa Rasullullah SAW bersabda, ‘Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah masa ia melanjutkan amal, kecuali mengenai tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (waqafnya) selama masih dipergunakan, ilmunya yang dimanfaatkan masyarakat, dan anak salehnya yang mendo’akannya.’”

Adapun beberapa rukun wakaf ialah: 1. Yang berwakaf, syaratnya:

1.1. Berhak berbuat kebaikan walau bukan Islam sekalipun 1.2. Kehendak sendiri, tidak sah karena dipaksa

2. Sesuatu yang diwakafkan, syaratnya:

(16)

13 2.2. Kepunyaan yang mewakafkan.

3. Tempat berwakaf (yang berhak menerima hasil wakaf itu). 4. Lafadz wakaf, seperti: “saya wakafkan ini kepada orang-orang

miskin dan sebagainya Adapun Syarat wakaf ada tiga, yaitu:

1. Ta’bid, yaitu untuk selama-lamanya/tidak terbatas waktunya. 2. Tanjiz, yaitu diberikan waktu ijab kabul.

3. Imkan-Tamlik, yaitu dapat diserahkan waktu itu juga Hukum Wakaf

1. Pemberian harta wakaf tidak dapat ditarik kembali sesudah diamalkannya karena Allah.

2. Pemberian harta wakaf yang ikhlas karena Allah akan mendapatkan ganjaran terus-menerus selagi benda itu dapat dimanfaatkan oleh umum dan walaupun bentuk bendanya ditukar dengan yang lain dan masih bermanfaat.

(17)

14 BAB 3

Kesimpulan dan Saran

3.1. Kesimpulan

Masyarakat madani menurut Islam adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi, dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman. Karakteristik masyarakat madani menurut islam adalah berlandaskan hukum Allah, aman dan damai, tolong menolong, toleransi, keseimbangan antara hak dan kewajiban, peradaban tinggi, menguasai pengetahuan dan teknologi, dan berakhlak mulia.

Kesejahteraan umat adalah kondisi masyarakat sejahtera. Prinsipnya adalah tidak mengeksploitasi orang lain, memberi kelebihan rezeki, kepada yang tidak mampu, dan bersedekah. Masyarakat madani erat sekali hubungannya dengan kesejahteraan umat. Penerapannya adalah melalui zakat dan wakaf. Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Sedangkan Wakaf adalah memindahkan hak milik pribadi menjadi milik satu badan yang memberi manfaat bagi masyarakat. 3.2. Saran

(18)

iii DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahannya. (2008). Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Badar, A. K. (2013, Desember 10). Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat. Dipetik Februari 22, 2017, dari Makalah:

http://makalahkite.blogspot.co.id/2013/12/masyarakat-madani-dan-kesejahteraan-umat.html

N/A. (2008, Juni). Makalah Masyarakat Madani. Dipetik Maret 19, 2017, dari Fix My World: https://fixguy.wordpress.com/makalah-masyarakat-madani/ Prasetyo, W. T. (2015, Maret 14). Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat.

Dipetik Februari 27, 2017, dari Warnai Dunia: http://weningtprasetyo- story.blogspot.co.id/2015/03/masyarakat-madani-dan-kesejahteraan-umat.html

Referensi

Dokumen terkait

20 Apakah terdapat barang-barang lain yang tidak berhubungan dengan proses pengolahan makanan disimpan di area penyimpanan (misalnya perlengkapan tidur,

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk perluasan dan/atau pendalaman materi

Dampak kompetensi profesional guru SKI dalam mengelola kelas PAIKEM di MAN Binjai terhadap hasil belajar siswa yaitu menunjukkan dampak yang positif. Dari sepuluh

bakpia Mengolah kulit bakpia Mencetak bakpia Memanggang Mengemas bakpia.. 35 Tahun 1991 Pasal 1 yang dimaksud dengan sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah

Sebaiknya tidak menggunakan motif wallpaper yang terlalu besar atau berlebihan sehingga komposisinya dalam ruangan akan tetap sesuai porsi dan dengan begitu bisa tetap merasa nyaman

Diharapkan adanya penelitian ini menginspirasi pengadaan koperasi, yang di dalamnya terdapat program pemberdayaan perempuan terutama para ibu rumah tangga agar lebih produktif

Pengembangan alat ukur tersebut dilakukan karena kedua versi sebelumnya lebih berfokus pada indikator perilaku tidak ketergantungan sebagai alternatif rasa kemandirian,

Secara geografis Kabupaten Pati terletak pada posisi yang sangat strategis karena terletak di jalan Pantura yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya yang merupakan mobilitas