MAKALAH
KEMISKINAN DI INDONESIA
Dosen pengampu: Zein Muttaqin S.E.I., M.A.
DISUSUN OLEH:
JEFRI HERI SOFYAN (14423099)
RIZKY RAHMATULLAH (14423174)
MATA KULIAH: BAHASA INDONESIA
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2 KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa shalawat serta salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kami dari zaman gelap gulita menuju ke zaman yang terang benerang.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang bertemakan kemiskinan di Indonesia . Dimana dalam makalah ini diharapkan lebih membuka wawasan berpikir dibidang terkait.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, Desember 2016
3 Daftar Isi
Kata Pengantar ... 2
Daftar Isi ... 3
BAB I. Pendahuluan ... 4
A. Latar Belakang ... 4
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan ... 5
BAB II. Pembahasan ... 6
A. Kemiskinan ... 6
B. Kemiskinan dalam Islam... 7
C. Standar Miskin dalam Al-Qur’an... 8
D. Faktor Penyebab Kemiskinan ... 8
E. Kemiskinan di Indonesia... 10
F. Mengukur Kemiskinan... 13
G. Tantangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia ... 14
H. Kebijakan dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia ... 16
BAB III. Penutup ... 17
A. Kesimpulan ... 17
4 BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kemiskinan menjadi masalah yang penting saat ini di Indonesia, sehingga menjadi
suatu fokus perhatian bagi pemerintah Indonesia. Bagi Indonesia yang merupakan salah
satu negara berkembang yang ada di ASEAN masalah kemiskinan bukan merupakan hal
yang baru. Hampir semua periode pemerintahan yang ada di Indonesia menempatkan
masalah kemiskinan menjadi isu pembangunan. Efektivitas dalam menurunkan jumlah
penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen
pembangunan. Masalah kemiskinan ini sangatlah kompleks dan bersifat
multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspek
lainnya. Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal di belahan dunia, khususnya
Indonesia yang merupakan Negara berkembang. Kemiskinan telah membuat jutaan anak
tidak bisa mengenyam pendidikan, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan
dan investasi, dan masalah lain yang menjurus ke arah tindakan kekerasan dan kejahatan.
Kemiskinan yang terjadi dalam suatu negara memang perlu dilihat sebagai suatu
masalah yang sangat serius, karena saat ini kemiskinan, membuat banyak masyarakat
Indonesia mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak factor
yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, antara lain kemiskinan bisa dikatakan sebagai
kekurangan materi seperti kebuthan sehari-hari, sandang, pangan, papan maupun
sedikitnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan pengangguran yang berpengaruh
terhadap kemiskinan. Ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan
pada akhirnya berpengaruh terhadap ketidak mampuan memenuhi kebutuhan gizi. Hal ini
menyebabkan adanya penurunan tingkat kesehatan masyarakat. Selain berdampak pada
kesehatan, kemiskinan juga mengakibatkan seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan
akan pendidikannya. Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan masyarakat semakin
tidak mampu bersaing dalam angkatan kerja. Pada akhirnya terciptalah pengangguran,
5 Berbagai upaya dan kebijakan pembangunan telah dilakukan pemerintah selama ini
terutama untuk memberikan peluang pada masyarakat pada masyarakat miskin untuk
meningkatkan kesejahteraan.
B. Rumusan Masalah
1. Definisi Kemiskinan Dalam Pengertian Umum dan Dalam Islam? 2. Bagaimana Kemiskinan di Indonesia?
C. Tujuan
6 BAB II
Pembahasan
A. Kemiskinan
Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau
sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat(Syawie, 2011). Sedangkan menurut
ideologi konservatif yang berakar pada kapitalisme dan liberalism abad ke-19.
Umumnya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan pada orang
miskin sendiri. Mereka cenderung menilai positif struktur sosial yang sudah ada, maka
orang-orang yang miskin dianggap sebagai orang yang gagal menyesuaikan diri dalam
tata sosial yang ada atau bahkan menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang diharapkan
dan yang sudah disetujui masyarakat. Kaum konservatif senang menyebarluaskan
contoh-contoh orang yang berhasil naik jenjang. Kaum konservatif tidak memandang
kemiskinan sebagai masalah yang serius dan percaya bahwa kemiskinan akan
terselesaikan dengan sendirinya(Wijaya, 2015).
Prinsip kemiskinan yang melihat kepada ukuran melalui pendapatan dan kekayaan
adalah salah satu daripada petunjuk kemiskinan, dan ukuran ini harus diperbaiki kerana
dimensi kemiskinan turut merangkumkan sebab akibat yang jauh lebih besar impaknya.
Pengukuran berdasarkan keupayaan dan keperluan yang mencukupi mengundang agar
usaha membasmi kemiskinan dilihat dalam konteks perbandingan atau kemiskinan relatif.
Pengukuran mengikut kemiskinan relatif bermakna ukuran keupayaan dan keperluan
mencukupi mendorong usaha memperbaiki keadaan hidup golongan manusia yang
relatifnya miskin walaupun dalam masyarakat yang berada (Khalid, 2016).
Menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi
standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan.
Membandingkan tingkat konsumsi penduduk dengan garis kemiskinan atau jumlah
rupiah untuk konsumsi orang perbulan. Defenisi menurut UNDP dalam Cahyat (2004),
adalah ketidakmampuan untuk memperluas pilihan-pilihan hidup, antara lain dengan
7 sebagai salah satu indikator kemiskinan. Pada dasarnya defenisi kemiskinan dapat dilihat
dari dua sisi, yaitu:
1) Kemiskinan absolut
Kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan
yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang
memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan
diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan
yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian
dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya.
2) Kemiskinan relative
Kemiskinan dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah
dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah
dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan
antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin
besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan
relatif erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan.
B. Kemiskinan Dalam Islam
Kata Miskin asal katanya adalah as-sakan, artinya yaitu lawan kata dari hal yang selalu bergolak dan bergerak. Ibnu Faris berkata; “Huruf sin, kaf dan nun adalah huruf asli dan umum menandakan pada suatu makna kebalikan dari hal yang bergerak dan
bergejolak, seperti dikatakan, ‘Sakana asy-syai’u yaskunu sukunan sakinan.
Sehingga bisa diartikan orang miskin adalah orang yang ditenangkan oleh kefakiran
dan ia adalah orang yang sama sekali tidak memiliki apa-apa, atau orang yang memiliki
sesuatu yang tidak mencukupi kebutuhannya. Seorang dikatakan miskin, dikarenakan
kondisi dan situasinya benar-benar telah membuat geraknya menjadi sedikit lalu
mencegahnya untuk bergerak, atau bisa juga berarti orang yang berdiam diri di rumah
saja dan enggan pergi meminta-minta kepada manusia (Cahya, Kemiskinan Ditinjau dari
8 C. Standar Miskin Dalam al-Quran dan Hadis
Fakir dan miskin adalah golongan orang-orang yang tidak mampu untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri. Dan apabila kata miskin disebutkan secara sendiri maka kata
tersebut mencakup juga golongan fakir demikian juga sebaliknya.Tetapi jika keduanya
disebutkan secara berbarengan, para ulama berbeda pendapat tentang mana diantara
mereka yang paling memerlukan bantuan.
Kriteria fakir dan miskin sebagaimana telah dipaparkan dalam surat At-Taubah ayat
60, mereka adalah pihak-pihak yang berhak menerima zakat. Pada firman Allah swt.
yang lain pada surat al-Kahfi ayat 79, menegaskan bahwa orang miskin itu lebih baik
keadaannya daripada orang fakir dikarenakan mereka memiliki perahu atau bahtera yang
dapat dijadikan alat untuk mencari nafkah. Begitu pula yang terdapat dalam surat
al-Balad ayat 16 yang menerangkan keadaan miskin yang sangat. Dari penjelasan para
ulama di atas dapat kita pahami bahwa kriteria seseorang dikatakan miskin atau fakir
adalah jika orang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya(Cahya,
Kemiskinan Ditinjau dari Perspektif Al-Quran dan Hadis, 2015).
D. Faktor Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan sendiri sangat bervariasi, antara lain disebabkan oleh karena
faktor lingkungan, sosiokultural, ekonomi, politik, kebijakan publik dan sebagainya.
Sementara itu, pengangguran dapat disebabkan karena ketidak mampuan mereka atau
tidak adanya peluang kerja dan usaha.
Secara kewilayahan, kondisi dan permasalahan kemiskinan tidak bisa
digeneralisasikan untuk semua wilayah. Pendekatan obyektif yang sering digunakan
untuk mendasari pengelompokan penduduk miskin dengan pendekatan garis kebutuhan
minimum manu- sia memberikan kondisi kemiskinan yang benar- benar fakir. Tanpa bisa
melihat adanya potensi- potensi internal yang bisa dioptimalkan dalam penanganan
9 Secara umum penyebab kemiskinan dapat dikategorikan dalam tiga bentuk, antara
lain, sebagai berikut (Maisaroh & Sukhemi, 2011):
1) Kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh hal-hal yang
berhubungan dengan kebijakan, peraturan maupun lembaga yang ada dimasyarakat
sehingga dapat meng- hambat peningkatan produktivitas dan mobilitas masyarakat;
2) Kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang berhubungan dengan adanya nilai-nilai
yang tidak produktif dalam masyarakat, tingkat pendidikan yang rendah, kondisi
kesehatan dan gizi yang buruk; dan
3) Kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang ditunjukkan oleh kondisi alam maupun
geografis yang tidak mendukung, misalnya daerah tandus, kering, maupun
keterisolasian daerah.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan (Ksriyati):
1) Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
2) Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
penyebab sub-budaya ("subcultural"), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
3) Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,
termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
4) Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil
dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat
dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per kapita di dunia) misalnya
memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang
tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis
10 E. Kemiskinan Di Indonesia
Indonesia terbagi atas dua kawasan yakni Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan
Kawasan Timur Indonesia (KTI). Kawasan Barat Indonesia terdiri atas pulau Sumatera
dan pulau Jawa & Bali sedangkan Kawasan Timur Indonesia terdiri atas pulau
Kalimantan, pulau Sulawesi dan Kepulauan Lainnya. Kesenjangan pembangunan
ekonomi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)
baik ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia, pendidikan,
komunikasi maupun infrastruktur telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia sejak
lama. Seperti pembentukan Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI)
pada tahun 1993 dan pembentukan Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan
Timur Indonesia (PPKTI) pada tahun 2000. Selanjutnya tahun 2010 yang merupakan
sasaran jangka menengah dalam upaya pemerataan pembangunan khususnya wilayah
yang kurang berkembang seperti Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan daerah terpencil
dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI) kesenjangan masih terjadi.
Kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia
(KTI) terlihat pada perbandingan nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi dan nilai rata-rata
persentase penduduk miskin. Selama periode pengamatan tahun 2001-2011, Kawasan
Barat Indonesia (KBI) memiliki nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi
jika disbanding dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yakni sebesar 5,45% per tahun
diatas rata-rata nasional (5,33% per tahun). Pulau Jawa & Bali memberikan kontribusi
yang lebih tinggi dalam pembentukan nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kawasan
Barat Indonesia (KBI) jika dibanding dengan pulau Sumatera. Selanjutnya Kawasan
Timur Indonesia (KTI) memiliki nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata
nasional yakni sebesar 4,71% per tahun. Rendahnya pertumbuhan ekonomi di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) ini disebabkan oleh akumulasi pertumbuhan ekonomi yang terjadi
di pulau pada kawasan tersebut seperti pulau Kalimantan dan Kepulauan lainnya.
Sedangkan pulau Sulawesi memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi yang tinggi (6,74%
per tahun) jika dibanding dengan pulau lain di Indonesia.
Selain melihat aspek pertumbuhan ekonomi, kesenjangan juga terlihat pada nilai
ratarata persentase penduduk miskin di kedua kawasan tersebut. Persentase penduduk
11 Timur Indonesia (KTI). Rata-rata persentase penduduk miskin Kawasan Barat Indonesia
(KBI) sebesar 43% sedangkan rata-rata persentase penduduk miskin Kawasan Timur
Indonesia (KTI) sebesar 57%. Dengan melihat indikator pertumbuhan ekonomi dan
kemiskinan, dapat disampaikan bahwa kondisi Kawasan Barat Indonesia (KBI) relatif
lebih baik jika dibanding dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan ini merupakan
tugas pemerintah pusat dan daerah dalam melanjutkan atau menyusun alternatif kebijakan
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya Kawasan Timur Indonesia
(KTI) serta memperkecil disparitas pembangunan dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI)
(Sholeh, 2014).
Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu masalah yang paling mendesak
diIndonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari
AS$2- per hari hampir sama dengan jumlah total penduduk yang hidup dengan
penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua negara di kawasan Asia Timur
kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Di samping turut
menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau Millennium Development Goals)
untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok
dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk
mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada
tahun 2009. Walaupun angka kemiskinan nasional mendekati kondisi sebelum krisis, hal
ini tetap berarti bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan.
Lagi pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan menengah,
proporsi penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2,-per hari sama
dengan negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah
tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP
AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin
tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada
pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak
12 sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya
indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan
beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari
kemiskinan di Indonesia.
1) Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan nasional
sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional.
Hampir 42 persen dari seluruh rakyat
2) Kemiskinan dari segi non- pendapatan adalah masalah yang lebih serius dibandingkan
dari kemiskinan dari segi pendapatan. Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai
adalah:
a. Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun -
tahun terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk di
Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun- tahun terakhir
kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.
b. Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di
kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000
kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar dari
Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen persalinan dibantu oleh bidan
terlatih.Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke
sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin: di antara
kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55 persen yang lulus
SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89 persen untuk kohor yang
sama.
c. Rendahnya aksesterhadap air bersih, khususnya di antara penduduk miskin. Untuk
kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses air bersih di daerah
pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78 persen.
d. Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting.Delapan puluh persen
penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di perkotaan tidak
memiliki akses terhadap tangki septik, sementara itu hanya kurang dari satu
persen dari seluruh penduduk Ind onesia yangterlayani oleh saluran pembuangan
13 3) Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar daerah
merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan adanya perbedaan
antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari
orang miskin di Indonesia yang juga seringkali tidak memiliki akses terhadap
pelayanan infrastruktur dasar hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan
mempunyai akses terhadap sumber airbersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi
masyarakat miskin di perkotaan.Tetapi yang penting, dengan melintasi kepulauan
Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam kantong-kantong
kemiskinan di dalam daerah itu sendiri (Ksriyati).
F. Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan
Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten ,
tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran
absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang
kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan
dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari,
dengan batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi
kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari
$2/hari."Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem
telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.Melihat pada periode
1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari
telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun
waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti
tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini
menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran
14 masyarakat miskin, atau kelompok orang orang miskin, dan dalam pengertian ini
keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini,
negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang (Ksriyati).
G. Tantangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia
Berbagai upaya/strategi pengentasan kemiskinan sebetulnya telah dijalankan oleh
pemerintah setiap tahunnya. Akan tetapi program-program pengentasan kemiskinan
tersebut belum bisa mengatasi kemiskinan secara signifikan. Hal ini bukan karena
program pengentasan kemiskinan yang tidak sesuai, ataupun dana yang digelontorkan
tidak mencukupi. Kegagalan dari berbagai upaya pengentasan kemiskinan lebih
disebabkan oleh permasalahn strktural, dan juga adanya berbagai kecurangan dalam
program pengentasan kemiskinan.
Berikut ini beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pengentasan
Kemiskinan (M.Saichudin):
1) Jumlah penduduk miskin yang sangat besar
Proporsi penduduk miskin yang begitu besar menjadi salah satu tantangan
terbesar bagi negara ini. Hal ini karena jumlah penduduk miskin yang besar juga akan
membutuhkan dana yang besar pula dalam upaya mengatasi kemiskinan tersebut.
Sampai akhir tahun 2015, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,51 juta
orang.
2) Semakin tingginya disparias pendapata
Kesenjangan pendapatan yang semakin tinggi menjadi catatan buruk dalam upaya
pengentasan kemiskinan. Walaupun sebetulnya negara yang memiliki pemerataan
pendapatan yang baik jarang ditemui, sekalipun negara maju. Namun perlu dijadikan
perhatian bahwa pemerataan pendapatan menjadi salah satu indikator kesejahteraan
masyarakat. Di Indonesia sendiri pemerataan pendapatan masih menjadi persoalan
yang besar. Mengingat pada tahun 2015 kesenjangan pendapatan di perkotaan
indonesia semakin tinggi.
Kesenjangan pendapatan yang tinggi menggambarkan bagaimana sumberdaya
ekonomi di Indonesia belum bisa dioptimalkan oleh seluruh masyarakat. seperti kita
15 pembangunan dan sumber permodalan. Orang-orang tersebut yaitu para pengusaha
dari golongan menengah keatas. Sementara bagi kelas bawah termasuk masyarakat miskin tidak memiliki akses untuk hal tersebut. Sehingga sudah jelas bahwa “yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin”.
3) Kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan Program pengentasan kemiskinan
Salah satu faktor yang menjadikan program pengentasan kemiskinan gagal yaitu
adanya berbagai kecurangan dalam penyelenggaraannya. Hal ini telah menjadi
dilematis karena praktek-praktek korupsi dilakukan pada program-program
kemanusian. Adanya berbagai kecurangan seperti korupsi, menjadikan dana-dana yang
seharusnya digunakkan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat miskin
bocor dan hilang sia-sia.
4) Isolisasi Penduduk miskin terhadap sumber-sumber permodalan
Sering kali masyarakat miskin terkendala dalam mencari pinjaman modal usaha.
Persyaratan yang rumit dan jaminan yang tidak dapat dipenuhi oleh penduduk miskin
membuat mereka tidak dapat mengakses sumber-sumber permodalan. Sehingga yang
sering terjadi adalah tersangkutnya para penduduk miskin pada pinjaman-pinjaman
non-formal dengan bunga yang tinggi seperti rentenir.
5) Tidak mampunya masyarakat miskin dalam beradaptasi dengan program
pembangunan perkembangan zaman
Sejatinya berbagai program pembangunan yang diselenggarakan pemerintah
adalah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Program bembangunan yang
dijalankan memang secara makro berhasil, yaitu dengan meningkatnya pertumbuhan
ekonomi negara. Namun jika dicermati secara lebih dalam, terlihat bahwa
pertumbuhan ekonomi tersebut hanya disumbangkan oleh para pengsaha besar/
menengah ke atas. Karena hanya para pengusaha menengah keatas lah yang mempu
merespon pembangunan misalnya prasarana jalan dan jembatan. Sementara bagi para
pengusaha kecil seperti golngan masyarakat miskin kurang mampu mendapatkan
imbas dari pembangunan tersebut. Hal ini dikarenakan oleh skala usaha yang kecil
dengan lingkup lokal sebenarnya program pembangunan yang paling dibutuhkan
16 H. Kebijakan dalam Pengentasan Kemiskinan
Pada prinsipnya penanggulangan kemiskinan adalah sebuah upaya dalam mengatasi
persoalan kemiskinan. Di Indonesia sudah dilakukan berbagai macam penanggulangan
kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah maupun bantuan donor. Program pemerintah
tersebut setidaknya meliputi IDT (Inpres Desa Tertinggal), Program Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program Pengembangan Kecamatan (PPK),
Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE), Program
Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK), Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) dan sebagainya (Saragih, 2015).
Pengalaman di negara-negara Asia menunjukkan bahwa model mobilisasi
perekonomian pedesaan untuk memerangi kemiskinan, yaitu: Pertama, mendasarkan
pada mobilitas tenaga kerja agar terjadi pembentukan modal di pedesaan. Tenaga kerja
yang masih belum didayagunakan pada rumah tangga petani kecil dan gurem merupakan
sumberdaya yang tersembunyi dan potensi tabungan.
Alternatif cara untuk memobilisasi tenaga kerja dan tabungan pedesaaan diantaranya
adalah: Pertama, menggunakan pajak langsung atas tanah, seperti yang dilakukan di
Jepang. Kedua, dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan di pedesaan yang
memungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan modal tanpa
perlu menambah upah. Ini persis yang dilakukan Cina yang menerapkan sistem
kerjasama kelompok dan brigades ditingkat daerah yang paling rendah (communes).
Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam
itensitas tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja.
Model kedua, menitik beratkan pada tranfer daya dari pertanian ke industri melalui
mekanisme pasar. Ide bahwa penawaran tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah
tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan dan formasi modal lewat proses pasar.
Model ketiga, menyoroti pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka
dengan kemajuan teknologi dan kemungkinan sektor yang memimpin, Model ini dikenal
dengan nama Model Pertumbuhan Berbasis Teknologi, atau Rural- Led Development.
Model keempat, menyoroti dimensi spasial dalam menanggulangi kemiskinan.
Kemiskinan bisa diatasi dengan cara kemudahan dalam mengakses dua bidang, yaitu: 1)
17 BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau kelompok tidak dapat
memenuhi hak-hak dasarnya dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan
kehidupan yang bermartabat. Sedangkan dalam Ideologi Konservatif yang
berpegangan pada kapitalisme dan liberalism abad ke-19. Kaum konservatif
memandang bahwa masalah kemiskinan adalah kesalahan pada orang miskin itu
sendiri. Dalam Islam kemiskinan adalah orang yang ditenangkan oleh kefakiran dan ia
adalah orang yang sama sekali tidak memiliki apa-apa, atau orang yang memiliki
sesuatu yang tidak mencukupi kebutuhannya. Seorang dapat dikatan miskin,
dikarenakan kondisi dan situasinya benar-benar telah membuat geraknya menjadi
sedikit lalu mencegahnya untuk bergerak, atau bisa juga berarti orang yang berdiam
diri di rumah saja dan enggan pergi meminta-minta kepada manusia.
Indonesia terbagi dalam dua kawasan yaitu Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan
Kawasan Timur Indonsia (KTI). Kesenjangan yang terjadi antara Kawasan Barat
Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) nampak pada perbandingan
nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi dan nilai rata-rata persentase penduduk
miskinnya. Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama,
banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara
dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong
tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan
pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya.
Banyak orang yang mungkin tidak tergolong (miskin dari segi pendapatan) dapat
dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar
serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat
luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri
18 Daftar Pustaka
Cahya, B. T. (2015). Kemiskinan Ditinjau dari Perspektif Al-Quran dan Hadis. Jurnal Penelitian. Khalid, K. A. (2016). Dilema Kemiskinan: Falsafah, Budaya dan Strategi. Akademia 86(2). Ksriyati. (n.d.). Kemiskinan dan Penyebabnya di Indonesia.
M.Saichudin. (n.d.). Tantangan Pengetasan Kemiskinan di Indonesia.
Maisaroh, S., & Sukhemi. (2011). Pemerdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Budaya
Kewirausahaan Untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan. JEJAK, Volume 4, Nomor 1. Murdiansyah, I. (2014). EVALUASI PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN BERBASIS. Jurnal WIGA Vol. 4
No. 1.
Saragih, J. P. (2015). ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi, Vol. VII, No. 02.
Sholeh, A. (2014). Pertumbuhan Kemiskinan dan Kemiskinan di Indonesia. Syawie, M. (2011). Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial. Informasi, Vol. 16 No. 03.