• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemiskinan di Indonesia id. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kemiskinan di Indonesia id. pdf"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KEMISKINAN DI INDONESIA

Dosen pengampu: Zein Muttaqin S.E.I., M.A.

DISUSUN OLEH:

JEFRI HERI SOFYAN (14423099)

RIZKY RAHMATULLAH (14423174)

MATA KULIAH: BAHASA INDONESIA

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM

FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa shalawat serta salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kami dari zaman gelap gulita menuju ke zaman yang terang benerang.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang bertemakan kemiskinan di Indonesia . Dimana dalam makalah ini diharapkan lebih membuka wawasan berpikir dibidang terkait.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, Desember 2016

(3)

3 Daftar Isi

Kata Pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

BAB I. Pendahuluan ... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan ... 5

BAB II. Pembahasan ... 6

A. Kemiskinan ... 6

B. Kemiskinan dalam Islam... 7

C. Standar Miskin dalam Al-Qur’an... 8

D. Faktor Penyebab Kemiskinan ... 8

E. Kemiskinan di Indonesia... 10

F. Mengukur Kemiskinan... 13

G. Tantangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia ... 14

H. Kebijakan dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia ... 16

BAB III. Penutup ... 17

A. Kesimpulan ... 17

(4)

4 BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Kemiskinan menjadi masalah yang penting saat ini di Indonesia, sehingga menjadi

suatu fokus perhatian bagi pemerintah Indonesia. Bagi Indonesia yang merupakan salah

satu negara berkembang yang ada di ASEAN masalah kemiskinan bukan merupakan hal

yang baru. Hampir semua periode pemerintahan yang ada di Indonesia menempatkan

masalah kemiskinan menjadi isu pembangunan. Efektivitas dalam menurunkan jumlah

penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen

pembangunan. Masalah kemiskinan ini sangatlah kompleks dan bersifat

multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspek

lainnya. Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal di belahan dunia, khususnya

Indonesia yang merupakan Negara berkembang. Kemiskinan telah membuat jutaan anak

tidak bisa mengenyam pendidikan, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan

dan investasi, dan masalah lain yang menjurus ke arah tindakan kekerasan dan kejahatan.

Kemiskinan yang terjadi dalam suatu negara memang perlu dilihat sebagai suatu

masalah yang sangat serius, karena saat ini kemiskinan, membuat banyak masyarakat

Indonesia mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak factor

yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, antara lain kemiskinan bisa dikatakan sebagai

kekurangan materi seperti kebuthan sehari-hari, sandang, pangan, papan maupun

sedikitnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan pengangguran yang berpengaruh

terhadap kemiskinan. Ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan

pada akhirnya berpengaruh terhadap ketidak mampuan memenuhi kebutuhan gizi. Hal ini

menyebabkan adanya penurunan tingkat kesehatan masyarakat. Selain berdampak pada

kesehatan, kemiskinan juga mengakibatkan seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan

akan pendidikannya. Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan masyarakat semakin

tidak mampu bersaing dalam angkatan kerja. Pada akhirnya terciptalah pengangguran,

(5)

5 Berbagai upaya dan kebijakan pembangunan telah dilakukan pemerintah selama ini

terutama untuk memberikan peluang pada masyarakat pada masyarakat miskin untuk

meningkatkan kesejahteraan.

B. Rumusan Masalah

1. Definisi Kemiskinan Dalam Pengertian Umum dan Dalam Islam? 2. Bagaimana Kemiskinan di Indonesia?

C. Tujuan

(6)

6 BAB II

Pembahasan

A. Kemiskinan

Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau

sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan

mengembangkan kehidupan yang bermartabat(Syawie, 2011). Sedangkan menurut

ideologi konservatif yang berakar pada kapitalisme dan liberalism abad ke-19.

Umumnya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan pada orang

miskin sendiri. Mereka cenderung menilai positif struktur sosial yang sudah ada, maka

orang-orang yang miskin dianggap sebagai orang yang gagal menyesuaikan diri dalam

tata sosial yang ada atau bahkan menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang diharapkan

dan yang sudah disetujui masyarakat. Kaum konservatif senang menyebarluaskan

contoh-contoh orang yang berhasil naik jenjang. Kaum konservatif tidak memandang

kemiskinan sebagai masalah yang serius dan percaya bahwa kemiskinan akan

terselesaikan dengan sendirinya(Wijaya, 2015).

Prinsip kemiskinan yang melihat kepada ukuran melalui pendapatan dan kekayaan

adalah salah satu daripada petunjuk kemiskinan, dan ukuran ini harus diperbaiki kerana

dimensi kemiskinan turut merangkumkan sebab akibat yang jauh lebih besar impaknya.

Pengukuran berdasarkan keupayaan dan keperluan yang mencukupi mengundang agar

usaha membasmi kemiskinan dilihat dalam konteks perbandingan atau kemiskinan relatif.

Pengukuran mengikut kemiskinan relatif bermakna ukuran keupayaan dan keperluan

mencukupi mendorong usaha memperbaiki keadaan hidup golongan manusia yang

relatifnya miskin walaupun dalam masyarakat yang berada (Khalid, 2016).

Menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi

standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan.

Membandingkan tingkat konsumsi penduduk dengan garis kemiskinan atau jumlah

rupiah untuk konsumsi orang perbulan. Defenisi menurut UNDP dalam Cahyat (2004),

adalah ketidakmampuan untuk memperluas pilihan-pilihan hidup, antara lain dengan

(7)

7 sebagai salah satu indikator kemiskinan. Pada dasarnya defenisi kemiskinan dapat dilihat

dari dua sisi, yaitu:

1) Kemiskinan absolut

Kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan

yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang

memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan

diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan

yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian

dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya.

2) Kemiskinan relative

Kemiskinan dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah

dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah

dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan

antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin

besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan

relatif erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan.

B. Kemiskinan Dalam Islam

Kata Miskin asal katanya adalah as-sakan, artinya yaitu lawan kata dari hal yang selalu bergolak dan bergerak. Ibnu Faris berkata; “Huruf sin, kaf dan nun adalah huruf asli dan umum menandakan pada suatu makna kebalikan dari hal yang bergerak dan

bergejolak, seperti dikatakan, ‘Sakana asy-syai’u yaskunu sukunan sakinan.

Sehingga bisa diartikan orang miskin adalah orang yang ditenangkan oleh kefakiran

dan ia adalah orang yang sama sekali tidak memiliki apa-apa, atau orang yang memiliki

sesuatu yang tidak mencukupi kebutuhannya. Seorang dikatakan miskin, dikarenakan

kondisi dan situasinya benar-benar telah membuat geraknya menjadi sedikit lalu

mencegahnya untuk bergerak, atau bisa juga berarti orang yang berdiam diri di rumah

saja dan enggan pergi meminta-minta kepada manusia (Cahya, Kemiskinan Ditinjau dari

(8)

8 C. Standar Miskin Dalam al-Quran dan Hadis

Fakir dan miskin adalah golongan orang-orang yang tidak mampu untuk memenuhi

kebutuhan mereka sendiri. Dan apabila kata miskin disebutkan secara sendiri maka kata

tersebut mencakup juga golongan fakir demikian juga sebaliknya.Tetapi jika keduanya

disebutkan secara berbarengan, para ulama berbeda pendapat tentang mana diantara

mereka yang paling memerlukan bantuan.

Kriteria fakir dan miskin sebagaimana telah dipaparkan dalam surat At-Taubah ayat

60, mereka adalah pihak-pihak yang berhak menerima zakat. Pada firman Allah swt.

yang lain pada surat al-Kahfi ayat 79, menegaskan bahwa orang miskin itu lebih baik

keadaannya daripada orang fakir dikarenakan mereka memiliki perahu atau bahtera yang

dapat dijadikan alat untuk mencari nafkah. Begitu pula yang terdapat dalam surat

al-Balad ayat 16 yang menerangkan keadaan miskin yang sangat. Dari penjelasan para

ulama di atas dapat kita pahami bahwa kriteria seseorang dikatakan miskin atau fakir

adalah jika orang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya(Cahya,

Kemiskinan Ditinjau dari Perspektif Al-Quran dan Hadis, 2015).

D. Faktor Penyebab Kemiskinan

Penyebab kemiskinan sendiri sangat bervariasi, antara lain disebabkan oleh karena

faktor lingkungan, sosiokultural, ekonomi, politik, kebijakan publik dan sebagainya.

Sementara itu, pengangguran dapat disebabkan karena ketidak mampuan mereka atau

tidak adanya peluang kerja dan usaha.

Secara kewilayahan, kondisi dan permasalahan kemiskinan tidak bisa

digeneralisasikan untuk semua wilayah. Pendekatan obyektif yang sering digunakan

untuk mendasari pengelompokan penduduk miskin dengan pendekatan garis kebutuhan

minimum manu- sia memberikan kondisi kemiskinan yang benar- benar fakir. Tanpa bisa

melihat adanya potensi- potensi internal yang bisa dioptimalkan dalam penanganan

(9)

9 Secara umum penyebab kemiskinan dapat dikategorikan dalam tiga bentuk, antara

lain, sebagai berikut (Maisaroh & Sukhemi, 2011):

1) Kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh hal-hal yang

berhubungan dengan kebijakan, peraturan maupun lembaga yang ada dimasyarakat

sehingga dapat meng- hambat peningkatan produktivitas dan mobilitas masyarakat;

2) Kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang berhubungan dengan adanya nilai-nilai

yang tidak produktif dalam masyarakat, tingkat pendidikan yang rendah, kondisi

kesehatan dan gizi yang buruk; dan

3) Kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang ditunjukkan oleh kondisi alam maupun

geografis yang tidak mendukung, misalnya daerah tandus, kering, maupun

keterisolasian daerah.

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan (Ksriyati):

1) Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari

perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;

2) Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;

penyebab sub-budaya ("subcultural"), yang menghubungkan kemiskinan dengan

kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;

3) Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,

termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;

4) Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil

dari struktur sosial.

Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat

dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per kapita di dunia) misalnya

memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang

tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis

(10)

10 E. Kemiskinan Di Indonesia

Indonesia terbagi atas dua kawasan yakni Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan

Kawasan Timur Indonesia (KTI). Kawasan Barat Indonesia terdiri atas pulau Sumatera

dan pulau Jawa & Bali sedangkan Kawasan Timur Indonesia terdiri atas pulau

Kalimantan, pulau Sulawesi dan Kepulauan Lainnya. Kesenjangan pembangunan

ekonomi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)

baik ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia, pendidikan,

komunikasi maupun infrastruktur telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia sejak

lama. Seperti pembentukan Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI)

pada tahun 1993 dan pembentukan Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan

Timur Indonesia (PPKTI) pada tahun 2000. Selanjutnya tahun 2010 yang merupakan

sasaran jangka menengah dalam upaya pemerataan pembangunan khususnya wilayah

yang kurang berkembang seperti Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan daerah terpencil

dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI) kesenjangan masih terjadi.

Kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia

(KTI) terlihat pada perbandingan nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi dan nilai rata-rata

persentase penduduk miskin. Selama periode pengamatan tahun 2001-2011, Kawasan

Barat Indonesia (KBI) memiliki nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi

jika disbanding dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yakni sebesar 5,45% per tahun

diatas rata-rata nasional (5,33% per tahun). Pulau Jawa & Bali memberikan kontribusi

yang lebih tinggi dalam pembentukan nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kawasan

Barat Indonesia (KBI) jika dibanding dengan pulau Sumatera. Selanjutnya Kawasan

Timur Indonesia (KTI) memiliki nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata

nasional yakni sebesar 4,71% per tahun. Rendahnya pertumbuhan ekonomi di Kawasan

Timur Indonesia (KTI) ini disebabkan oleh akumulasi pertumbuhan ekonomi yang terjadi

di pulau pada kawasan tersebut seperti pulau Kalimantan dan Kepulauan lainnya.

Sedangkan pulau Sulawesi memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi yang tinggi (6,74%

per tahun) jika dibanding dengan pulau lain di Indonesia.

Selain melihat aspek pertumbuhan ekonomi, kesenjangan juga terlihat pada nilai

ratarata persentase penduduk miskin di kedua kawasan tersebut. Persentase penduduk

(11)

11 Timur Indonesia (KTI). Rata-rata persentase penduduk miskin Kawasan Barat Indonesia

(KBI) sebesar 43% sedangkan rata-rata persentase penduduk miskin Kawasan Timur

Indonesia (KTI) sebesar 57%. Dengan melihat indikator pertumbuhan ekonomi dan

kemiskinan, dapat disampaikan bahwa kondisi Kawasan Barat Indonesia (KBI) relatif

lebih baik jika dibanding dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan ini merupakan

tugas pemerintah pusat dan daerah dalam melanjutkan atau menyusun alternatif kebijakan

dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya Kawasan Timur Indonesia

(KTI) serta memperkecil disparitas pembangunan dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI)

(Sholeh, 2014).

Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu masalah yang paling mendesak

diIndonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari

AS$2- per hari hampir sama dengan jumlah total penduduk yang hidup dengan

penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua negara di kawasan Asia Timur

kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan

Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Di samping turut

menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau Millennium Development Goals)

untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok

dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk

mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada

tahun 2009. Walaupun angka kemiskinan nasional mendekati kondisi sebelum krisis, hal

ini tetap berarti bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan.

Lagi pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan menengah,

proporsi penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2,-per hari sama

dengan negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.

Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah

tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP

AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin

tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada

pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak

(12)

12 sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya

indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan

beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari

kemiskinan di Indonesia.

1) Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan nasional

sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional.

Hampir 42 persen dari seluruh rakyat

2) Kemiskinan dari segi non- pendapatan adalah masalah yang lebih serius dibandingkan

dari kemiskinan dari segi pendapatan. Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai

adalah:

a. Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun -

tahun terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk di

Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun- tahun terakhir

kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.

b. Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di

kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000

kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar dari

Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen persalinan dibantu oleh bidan

terlatih.Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke

sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin: di antara

kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55 persen yang lulus

SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89 persen untuk kohor yang

sama.

c. Rendahnya aksesterhadap air bersih, khususnya di antara penduduk miskin. Untuk

kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses air bersih di daerah

pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78 persen.

d. Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting.Delapan puluh persen

penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di perkotaan tidak

memiliki akses terhadap tangki septik, sementara itu hanya kurang dari satu

persen dari seluruh penduduk Ind onesia yangterlayani oleh saluran pembuangan

(13)

13 3) Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar daerah

merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan adanya perbedaan

antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari

orang miskin di Indonesia yang juga seringkali tidak memiliki akses terhadap

pelayanan infrastruktur dasar hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan

mempunyai akses terhadap sumber airbersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi

masyarakat miskin di perkotaan.Tetapi yang penting, dengan melintasi kepulauan

Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam kantong-kantong

kemiskinan di dalam daerah itu sendiri (Ksriyati).

F. Mengukur Kemiskinan

Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan

Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten ,

tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran

absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang

kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).

Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan

dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari,

dengan batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi

kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari

$2/hari."Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem

telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.Melihat pada periode

1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari

telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun

waktu tersebut.

Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti

tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini

menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran

(14)

14 masyarakat miskin, atau kelompok orang orang miskin, dan dalam pengertian ini

keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini,

negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang (Ksriyati).

G. Tantangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

Berbagai upaya/strategi pengentasan kemiskinan sebetulnya telah dijalankan oleh

pemerintah setiap tahunnya. Akan tetapi program-program pengentasan kemiskinan

tersebut belum bisa mengatasi kemiskinan secara signifikan. Hal ini bukan karena

program pengentasan kemiskinan yang tidak sesuai, ataupun dana yang digelontorkan

tidak mencukupi. Kegagalan dari berbagai upaya pengentasan kemiskinan lebih

disebabkan oleh permasalahn strktural, dan juga adanya berbagai kecurangan dalam

program pengentasan kemiskinan.

Berikut ini beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pengentasan

Kemiskinan (M.Saichudin):

1) Jumlah penduduk miskin yang sangat besar

Proporsi penduduk miskin yang begitu besar menjadi salah satu tantangan

terbesar bagi negara ini. Hal ini karena jumlah penduduk miskin yang besar juga akan

membutuhkan dana yang besar pula dalam upaya mengatasi kemiskinan tersebut.

Sampai akhir tahun 2015, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,51 juta

orang.

2) Semakin tingginya disparias pendapata

Kesenjangan pendapatan yang semakin tinggi menjadi catatan buruk dalam upaya

pengentasan kemiskinan. Walaupun sebetulnya negara yang memiliki pemerataan

pendapatan yang baik jarang ditemui, sekalipun negara maju. Namun perlu dijadikan

perhatian bahwa pemerataan pendapatan menjadi salah satu indikator kesejahteraan

masyarakat. Di Indonesia sendiri pemerataan pendapatan masih menjadi persoalan

yang besar. Mengingat pada tahun 2015 kesenjangan pendapatan di perkotaan

indonesia semakin tinggi.

Kesenjangan pendapatan yang tinggi menggambarkan bagaimana sumberdaya

ekonomi di Indonesia belum bisa dioptimalkan oleh seluruh masyarakat. seperti kita

(15)

15 pembangunan dan sumber permodalan. Orang-orang tersebut yaitu para pengusaha

dari golongan menengah keatas. Sementara bagi kelas bawah termasuk masyarakat miskin tidak memiliki akses untuk hal tersebut. Sehingga sudah jelas bahwa “yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin”.

3) Kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan Program pengentasan kemiskinan

Salah satu faktor yang menjadikan program pengentasan kemiskinan gagal yaitu

adanya berbagai kecurangan dalam penyelenggaraannya. Hal ini telah menjadi

dilematis karena praktek-praktek korupsi dilakukan pada program-program

kemanusian. Adanya berbagai kecurangan seperti korupsi, menjadikan dana-dana yang

seharusnya digunakkan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat miskin

bocor dan hilang sia-sia.

4) Isolisasi Penduduk miskin terhadap sumber-sumber permodalan

Sering kali masyarakat miskin terkendala dalam mencari pinjaman modal usaha.

Persyaratan yang rumit dan jaminan yang tidak dapat dipenuhi oleh penduduk miskin

membuat mereka tidak dapat mengakses sumber-sumber permodalan. Sehingga yang

sering terjadi adalah tersangkutnya para penduduk miskin pada pinjaman-pinjaman

non-formal dengan bunga yang tinggi seperti rentenir.

5) Tidak mampunya masyarakat miskin dalam beradaptasi dengan program

pembangunan perkembangan zaman

Sejatinya berbagai program pembangunan yang diselenggarakan pemerintah

adalah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Program bembangunan yang

dijalankan memang secara makro berhasil, yaitu dengan meningkatnya pertumbuhan

ekonomi negara. Namun jika dicermati secara lebih dalam, terlihat bahwa

pertumbuhan ekonomi tersebut hanya disumbangkan oleh para pengsaha besar/

menengah ke atas. Karena hanya para pengusaha menengah keatas lah yang mempu

merespon pembangunan misalnya prasarana jalan dan jembatan. Sementara bagi para

pengusaha kecil seperti golngan masyarakat miskin kurang mampu mendapatkan

imbas dari pembangunan tersebut. Hal ini dikarenakan oleh skala usaha yang kecil

dengan lingkup lokal sebenarnya program pembangunan yang paling dibutuhkan

(16)

16 H. Kebijakan dalam Pengentasan Kemiskinan

Pada prinsipnya penanggulangan kemiskinan adalah sebuah upaya dalam mengatasi

persoalan kemiskinan. Di Indonesia sudah dilakukan berbagai macam penanggulangan

kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah maupun bantuan donor. Program pemerintah

tersebut setidaknya meliputi IDT (Inpres Desa Tertinggal), Program Penanggulangan

Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program Pengembangan Kecamatan (PPK),

Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE), Program

Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK), Program Nasional Pemberdayaan

Masyarakat (PNPM) dan sebagainya (Saragih, 2015).

Pengalaman di negara-negara Asia menunjukkan bahwa model mobilisasi

perekonomian pedesaan untuk memerangi kemiskinan, yaitu: Pertama, mendasarkan

pada mobilitas tenaga kerja agar terjadi pembentukan modal di pedesaan. Tenaga kerja

yang masih belum didayagunakan pada rumah tangga petani kecil dan gurem merupakan

sumberdaya yang tersembunyi dan potensi tabungan.

Alternatif cara untuk memobilisasi tenaga kerja dan tabungan pedesaaan diantaranya

adalah: Pertama, menggunakan pajak langsung atas tanah, seperti yang dilakukan di

Jepang. Kedua, dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan di pedesaan yang

memungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan modal tanpa

perlu menambah upah. Ini persis yang dilakukan Cina yang menerapkan sistem

kerjasama kelompok dan brigades ditingkat daerah yang paling rendah (communes).

Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam

itensitas tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja.

Model kedua, menitik beratkan pada tranfer daya dari pertanian ke industri melalui

mekanisme pasar. Ide bahwa penawaran tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah

tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan dan formasi modal lewat proses pasar.

Model ketiga, menyoroti pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka

dengan kemajuan teknologi dan kemungkinan sektor yang memimpin, Model ini dikenal

dengan nama Model Pertumbuhan Berbasis Teknologi, atau Rural- Led Development.

Model keempat, menyoroti dimensi spasial dalam menanggulangi kemiskinan.

Kemiskinan bisa diatasi dengan cara kemudahan dalam mengakses dua bidang, yaitu: 1)

(17)

17 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau kelompok tidak dapat

memenuhi hak-hak dasarnya dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan

kehidupan yang bermartabat. Sedangkan dalam Ideologi Konservatif yang

berpegangan pada kapitalisme dan liberalism abad ke-19. Kaum konservatif

memandang bahwa masalah kemiskinan adalah kesalahan pada orang miskin itu

sendiri. Dalam Islam kemiskinan adalah orang yang ditenangkan oleh kefakiran dan ia

adalah orang yang sama sekali tidak memiliki apa-apa, atau orang yang memiliki

sesuatu yang tidak mencukupi kebutuhannya. Seorang dapat dikatan miskin,

dikarenakan kondisi dan situasinya benar-benar telah membuat geraknya menjadi

sedikit lalu mencegahnya untuk bergerak, atau bisa juga berarti orang yang berdiam

diri di rumah saja dan enggan pergi meminta-minta kepada manusia.

Indonesia terbagi dalam dua kawasan yaitu Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan

Kawasan Timur Indonsia (KTI). Kesenjangan yang terjadi antara Kawasan Barat

Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) nampak pada perbandingan

nilai rata-rata pertumbuhan ekonomi dan nilai rata-rata persentase penduduk

miskinnya. Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama,

banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara

dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong

tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan

pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya.

Banyak orang yang mungkin tidak tergolong (miskin dari segi pendapatan) dapat

dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar

serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat

luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri

(18)

18 Daftar Pustaka

Cahya, B. T. (2015). Kemiskinan Ditinjau dari Perspektif Al-Quran dan Hadis. Jurnal Penelitian. Khalid, K. A. (2016). Dilema Kemiskinan: Falsafah, Budaya dan Strategi. Akademia 86(2). Ksriyati. (n.d.). Kemiskinan dan Penyebabnya di Indonesia.

M.Saichudin. (n.d.). Tantangan Pengetasan Kemiskinan di Indonesia.

Maisaroh, S., & Sukhemi. (2011). Pemerdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Budaya

Kewirausahaan Untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan. JEJAK, Volume 4, Nomor 1. Murdiansyah, I. (2014). EVALUASI PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN BERBASIS. Jurnal WIGA Vol. 4

No. 1.

Saragih, J. P. (2015). ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi, Vol. VII, No. 02.

Sholeh, A. (2014). Pertumbuhan Kemiskinan dan Kemiskinan di Indonesia. Syawie, M. (2011). Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial. Informasi, Vol. 16 No. 03.

Referensi

Dokumen terkait

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pihak Bank Sumsel Babel Capem Sako Kenten Palembang sebagai pelaku kegiatan perbankan yang memberikan fasilitas

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan berbagai anugerah kepada peneliti, diantaranya adalah berupa kesempatan dan kemampuan untuk menyelesaikan penulisan

(4) definitiveness, artinya perencanaan pendidikan harus mampu memastikan bahwa dengan data-data yang digunakan akan dapat memprediksi pencapaian tujuan pendidikan

kegiatan ekonomi kreatif, kondisi fisik bangunan serta kondisi sosial masyarakat. Faktor lokasi dalam perkembangan kegiatan pariwisata kurang begitu berperan. Indikator

data mengenai bahan baku, tenaga kerja, dan operasi mesin yang digunakan untuk memproduksi barang... Permintaan pembelian

Dalam penelitian ini data primer diperoleh secara langsung dari pelaku perkawinan anak di bawah umur, pejabat desa serta para ulama Desa Tegaldowo, KUA kecamatan Gunem

Tahapan  rehabilitasi  dan rekonstruksi  harus dilaksanakan  secara lebih terarah  dan  terencana  dalam  upaya  normalisasi  prasarana  dan  fasilitas  sosial/ 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurikulum yang menghendaki pelaksanaan evaluasi hasil belajar secara komprehensif, baik pada ranah kognitif, afektif maupun