• Tidak ada hasil yang ditemukan

pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK CERPEN “BULAN

TERBINGKAI JENDELA” KARYA INDRA TRANGGONO

UJIAN SEMESTER GASAL MATA KULIAH SOSIOLOGI SASTRA

NAMA : ERIN CAHYANING

NIM : 12210141031 KELAS : SASINDO A

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2014

I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

(2)

sastra berkaitan dengan usaha manusia memecahkan persoalan-persoalannya dalam kehidupan sosial yang nyata.

Goldmann (dalam Faruk, 1999:12) mempercayai bahwa struktur karya sastra merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan. Hal inilah yang membuat Goldmann mencetuskan teori strukturalisme genetik. Teorinya ini lantas didukung dengan kategori-kategori yang terdiri atas fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan. Goldmann (197 dalam Faruk, 1999:16) juga mengatakan bahwa dalam strukturalisme gentik, terdapat kategori pandangan dunia. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya.

Karya sastra yang besar berbicara tentang alam semesta dan hukum-hukumnya serta persoalan-persoalan yang tumbuh darinya (Goldmann, 1977 dalam Faruk, 1999:15). Berdasarkan pendapat yang telah diuraikan di atas, cerpen berjudul “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono ini dapat diklasifikasikan ke dalam jenis karya sastra besar. Cerpen yang menjadi salah satu cerpen terbaik Kompas tahun 2005 tersebut, mengangkat masalah politik, sosial, budaya, dan ekonomi yang berkembang di era Orde Lama. Cerpen ini berhubungan dengan adanya subjek fakta kolektif atau subjek fakta sosial (historis) dimana di era tersebut, rakyat Indonesia sedang aktifnya melakukan gerakan revolusioner. Pandangan atau ideologi individual muncul untuk membahas dilema kaum borjuis dan kaum proletar yang dilakukan melalui kesenian. Berdasarkan keselarasan tersebut, saya mengangkat strukturalisme genetik bermetode hermeneutika sebagai upaya pendekatan dalam mengkaji cerpen ini. Terdapat hal menarik lainnya yang saya lihat dari pandangan dunia yang tertuang dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela”. Patut untuk diketahui, sejauh mana gambarannya. Di samping itu, faktor sosial budaya dan latar belakang (genetika) apakah yang membuat pengarang menciptakan cerpen ini. Hal ini perlu diketahui karena bagaimanapun pengarang pasti punya landasan kuat dan argumen dalam kapasitasnya sebagai salah satu individu kolektif yang merasakan ketimpangan dalam kelas sosial di era itu.

(3)

1. Bagaimanakah struktur karya dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono?

2. Bagaimanakah pandangan dunia yang terdapat pada cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono?

3. Dalam konteks struktur sosial yang bagaimana, struktur karya dan pandangan dunia itu dimungkinkan?

C. Tujuan Kajian

1. Mengkaji struktur karya dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono.

2. Mengkaji pandangan dunia yang terdapat pada cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono.

3. Mengkaji struktur sosial dimana struktur karya dan pandangan dunia tersebut dimungkinkan yang terdapat dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono

II KAJIAN TEORI

A. Teori dan Metodologi Pendekatan Strukturalisme Genetik

(4)

terhadap karya sastera seharusnya dilihat sebagai suatu kesatuan; (2) karya sastera yang diteliti seharusnya karya sastera yang bernilai sastera, yaitu karya sastera yang mengandung tegangan (tension) antara keragaman dalam kesatuan dan keseluruhan (a coherent whole); dan (3) dianalisis dengan latar belakang sosial.

Secara definitif, Goldmann (1977:25) menjelaskan pandangan dunia sebagai ekspresi psike melalui hubungan dialektis, kolektifitas tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya dengan definisi yang berbeda-beda. Pandangan dunia sebagaimana dimaksudkan dalam karya satra, khusunya menurut visi strukturalisme genetik yang berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektifitas tertentu.

Meskipun demikian, sebagai teori yang telah teruji kebenarannya, struktural genetik masih perlu ditampung oleh teori-teori ilmu sosial dan pandangan dunia yang lain. Salah satunya adalah dengan memperkaya pendekatan struktural-genetik dengan teori psikologi Piaget Goldmann.

Teknik analisis yang digunakan dalam strukturalisme genetik adalah model dialektik yang melingkar. Model ini mengutamakan makna koheren (saling berhubungan). Menurut Goldmann (1970 dalam Faruk, 1999:21), teknik pelaksanaan metode dialektik yang melingkar berlangsung sebagai berikut. Pertama, peneliti membangun sebuah model yang dianggapnya memberikan tingkat probabilitas tertentu atas dasar bagian. Kedua, ia melakukan pengecekan terhadap model tersebut dengan membandingkannya dengan keseluruhan dengan cara menentukan hal sebagai berikut

1. Sejauh mana setiap unit yang dianalisis tergabungkan dalam hipotesis yang menyeluruh

2. Daftar elemen-elemen dan hubungan-hubungan baru yang tidak diperlengkapi dengan model semula

3. Frekuensi elemen-elemen dan hubungan-hubungan yang diperlengkapinya dalam model yang sudah dicek itu

Setelah menelaah karya sastra dari ketiga langkah ini, maka akan didapati benang merah yaitu makna totalitas. Makna totalitas, merupakan sebuah harapan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang.

(5)

Berdasarkan hasil penelitian yang telah saya lakukan, makalah dengan judul Analisis Strukturalisme Genetik Dalam Cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” Karya Indra Tranggono belum pernah dikaji oleh pihak manapun dalam bentuk apapun. Sehingga karya ini merupakan pengkajian sosiologi sastra yang pertama terhadap salah satu cerpen terbaik kompas tahun 2005 ini.

III PEMBAHASAN

A. Struktur Karya Cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” Karya Indra Tranggono Berdasarkan teori Lukacs yang diadaptasi oleh Goldmann (dalam Faruk,1999:19), cerpen berjudul “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono termasuk dalam jenis cerpen bentuk idealism anstrak. Menurut Lukacs (1978 dalam Faruk, 1999:18), hal tersebut dikarenakan tokoh di dalam cerpen ini masih ingin bersatu dengan dunia dan mengandung unsur idealisme. Akan tetapi, karena persepsi tokoh itu tentang dunia bersifat subjektif, didasarkan pada kesadaran yang sempit, idealismenya menjadi abstrak.

(6)

Lembaga Kebudayaan Rakyat yang sedang memakai topi hitam, Wikan, dan para tetangga. Tokoh antagonis dalam cerpen ini adalah tentara, para kapitalis birokrat, laki-laki yang menangkap para anggota Lekra.

Latar waktu yang terjadi dalam cerpen ini adalah sekitar tahun 1960-an. Tepatnya setelah merebaknya kasus partai komunis di Indonesia yang dilarang pemerintah dan pembersihan terhadap anggotanya. Desa dijadikan sebagai latar tempat yang paling banyak mengandung peristiwa. Latar suasana atau keadaan saat itu masih mencekam dan penuh kewaspadaan. Hal ini dikarenakan banyaknya organisasi berbasis revolusi yang tumbuh di lingkungan masyarakat, termasuk Lekra. Pemerintah juga khawatir terhadap partai yang mungkin setubuh dengan komunisme, sehingga dilakukan pemulihan keadaan politik.

Alur yang digunakan adalah alur mundur. Diawali dengan peristiwa meninggalnya Sum, sahabat sekaligus musuh Asih pada waktu mereka muda dahulu. Disusul dengan pengungkapan peristiwa yang terjadi pada tahun 60-an, dimana ia menjadi pemain sandiwara di Lekra, lalu menikah dengan Gangsar. Hingga pada akhirnya diceritakan bagaimana Gangsar mati tertembak saat menghadang militer yang hendak masuk ke desa dan menangkap para anggota Lekra. Tema dalam cerpen ini adalah ideologi terhadap kelas sosial. Di dalam cerpen ini jelas digambarkan mengenai ideologi yang diperjuangkan oleh masing-masing anggota kelas tersebut, antara kaum priyayi dan kaum borjuis.

Menurut Goldmann (dalam Faruk, 1999:17) struktur karya mempunyai konsep struktur yang tematik. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan obyek yang ada di sekitarnya. Konsep struktur dalam strukturalisme-genetik dekat dengan struktur Levi Strauss yang melihat pada oposisi biner atau berpasangan, dan kemungkinan adanya satuan yang tak termasuk dalam oposisi.

(7)

kaum buruh di desa semakin berani dan gagah menatap mata para tuan tanah yang hendak merampas tanahnya dan para juragan yang memeras tenaganya.

Hal di atas disimbolkan melalui latihan pementasan sandiwara dengan lakon Ki Ageng Mangir. Sosok pahlawan yang bernyali melawan Senopati yang digdaya dan adidaya, tetapi sewenang-wenang. Pada dasarnya, sastra dalam cerpen ini tidak hanya sebagai hiburan semata. Akan tetapi, juga sebagai perantara pihak kaum priyayi dalam membujuk kaum buruh secara halus untuk tidak menyerahkan diri terhadap kesewenang-wenangan kaum borjuis. Sastra Lekra dianggap membahayakan seiring dengan berkibarnya bendera partai komunis waktu itu.

Penangkapan dan bahkan pembunuhan terhadap personil Lekra oleh pihak militer dan para kaum kapitalis birokrat merupakan salah satu agenda untuk mempertahankan kestabilan politik. Di dalam cerpen ini, politiklah yang memegang kendali organisasi. Melalui sastra, mereka menyebarkan semangat perubahan, tetapi politik memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk memungkinkan pemertahanan eksistensi yang selama ini ada- kaum borjuis sebagai tuan atas kaum proletar.

Lekra pimpinan Gangsar yang berada di desa lebih memudahkan mereka dalam mengkomunikasikan pesan revolusioner mereka kepada kaum proletar melalui pertunjukan sandiwara. Secara tersirat, Gangsar menyatakan bahwa kaum proletar, seperti kaum buruh dan tani, masih bergantung pada tuan tanah selaku pemilik modal. Hal ini dikarenakan kaum proletar sebagai masyarakat biasa yang tinggal desa, kurang berpendidikan dan lebih mengutamakan kebiasaan bertahan hidup. Desa menjadi tempat yang efektif bagi Lekra karena di sana tinggal puluhan bahkan ratusan penduduk yang mayoritas merupakan kaum proletar tertindas.

(8)

ikut tewas dalam mempertahankan Lekra. Lekra memiliki dua fungsi, yaitu sebagai fasilitator kesenian dan wadah revolusi.

Sedikit berbeda dari Gangsar, teman-teman Gangsar, yaitu tokoh lelaki yang merokok dan lelaki yang memakai topi hitam masih cenderung ragu. Keduanya masih meragukan keefektifan Lekra, sebagai partai mereka, dalam mencapai tujuan revolusioner. Pandangan skeptis tentang kemampuan partai untuk menyemangati kaum buruh atau kaum tertindas menguat setelah mereka mengusulkan rencana melarikan diri sebagai taktik menghadapi pembasmian yang digencarkan pihak tentara dan para birokrat. Akan tetapi, segenap pemain LEKRA menunjukkan loyalitas mereka dengan menghadang para tentara dan birokrat yang telah memasuki desa.

Di pihak lainnya, jajaran pemerintahan seperti tentara dan para birokrat memandang Lembaga kebudayaan Rakyat sebagai musuh. Melalui kesenian yang ditampilkan dalam LEKRA, pemerintah merasa khawatir akan adanya bibit-bibit komunis yang mungkin lahir untuk meracuni pikiran rakyat. Komunisme disini diungkapkan secara tersirat melalui bendera dengan lambang alat kerja para petani. Ketidaksukaan mereka terhadap embel-embel Lekra ditunjukkan melalui penangkapan bahkan pembunuhan segenap pihak yang dianggap “Lekra”. Pihak yang ditangkap adalah tokoh Asih dan Wikan, sementara yang menjadi korban pembunuhannya adalah Gangsar beserta teman-teman partainya yang lain. Kata “Lekra” yang digunakan oleh pihak tentara dan birokrat dalam menginterogasi target, menjadi semacam pernyataan tersirat untuk mengatakan bahwa mereka adalah aktivis berbahaya. Lekra bahkan berhasil dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk menguak informasi tentangnya. Hal ini dibuktikan melalui penerimaan tokoh Sum oleh pihak pemerintah selepas ia berkhianat terhadap Lekra.

(9)

menentukan “hari depan bangsa”. Aktivis cenderung merupakan kaum priyayi atau kaum priyayi yang mencoba melepaskan belenggu marxis dalam kehidupan. Akan tetapi, sebagai manusia, para aktivis tidak selamanya loyal. Terbukti dengan tokoh Sum yang beralih haluan membela pemerintah dan keluar dari Lekra. Hal ini dipicu oleh kecemburuannya terhadap Asih yang dinikahi oleh Gangsar. Poin ini menegaskan bahwa politik lebih membuka peluang terhadap pihak musuh untuk bergabung asal satu visi misi.

Jajaran pemerintah, yaitu tokoh tentara dan para birokrat yang mengemban tugas membasmi aktivis berbahaya. Mereka tak segan melakukan pembunuhan terhadap siapa saja yang membangkang. Kehidupan mereka yang dinilai borjuis, memang tidak memiliki peran untuk membangkitkan semangat kaum proletar. Dalam kewajibannya itu, para jajaran birokrasi bahkan sering menangkap masyarakat sipil. Salah satunya adalah penangkapan terhadap tokoh Asih dan Wikan, para aktor sandiwara. Mereka menginterogasi paksa keduanya dan memasukkan mereka ke penjara untuk sementara.

Hal keempat adalah aspek kemanusiaan yang berhubungan dengan relasi antar tokoh dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono. Pertama adalah relasi dari tokoh Gangsar dan tokoh Asri. Tokoh Asri berasal dari kaum kelas bawah, berhati lembut, dan cantik. Tokoh Gangsar bersifat tegas, penuh semangat menggebu, dan beridealisme kuat. Wujud fisik Gangsar gagah dan tampan. Idealisme Gangsar yang kuat ditunjukkan melalui keputusannya untuk menikahi Asri yang bukan merupakan golongan priyayi. Paham keselarasan kelas sosialnya benar-benar diamalkan dalam kehidupan Gangsar. Ketika melamar Asri, Gangsar yang terkenal garang dan tegas itu berubah menjadi sosok yang lembut. Bahkan kelembutan itu bertahan di kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi, Gangsar masih tetap profesional. Hal ini ditunjukkan melalui kritiknya pada Asih jika aktingnya tidak sesuai dengan lakon yang dimainkan. Profesionalitas dan ideologi Gangsar yang kuat ikut mendukung pergerakannya.

(10)

pada jalan revolusioner mereka. Berbeda dengan paham si tokoh bertopi hitam yang mewakili segenap anggota Lekra. Ia mengatakan mungkin selama ini mereka hanya menganggap bahwa diri mereka penting. Padahal sebenarnya rakyat tidak terlalu ambil pusing dengan pesan yang coba disampaikan lewat sandiwara-sandiwara yang ditampilkan di Lekra. Gangsar memang demokratis, tetapi ia menyanggah pendapat teman-temannya jika tak sesuai pemikirannya. Loyalitas kedua pihak ini menguat setelah mereka menahan hingga titik darah penghabisan gempuran tentara dan para birokrat yang hendak masuk ke desa.

Sekalipun tokoh Gangsar pintar dalam menghasut jalan pikiran orang menuju ke arah revolusi, tapi nyatanya ia tak mampu mempertahankan Sum. Sum sebagai salah satu pemain Lekra yang dibakar cemburu, melarikan begitu saja dari Lekra. Sum menganggap Gangsar sebagai belahan hati yang terenggut darinya. Sementara Gangsar hanya menganggap hubungannya dengan Sum hanya sebatas teman atau hubungan dalam profesionalitas kerja antara artis dan sutradara. Dilihat dari permasalahan ini, jelas hubungan keduanya tak terlalu erat. Di satu sisi, Sum ingin dianggap penting dan bermakna bagi Gangsar. Sementara di sisi lain, Gangsar menganggap Sum tak terlalu berperan penting terhadap dirinya dan Lekra. Hal ini dibuktikan melalui respon Gangsar yang tak ambil pusing dengan minggatnya Sum secara tiba-tiba. Hubungan ini mengindikasikan adanya kesenjangan hubungan sosial dalam suatu organisasi yang pasti terjadi.

(11)

Membahas masalah Sum dengan teman-teman seperjuangannya dengan Lekra. Amarah Sum tak mampu ditahannya lagi lantaran kecemburuanbya pada Asih yang dinikahi Gangsar. Teman-teman seperjuangannya sebenarnya masih peduli dengan Sum. Mereka mencari-cari Sum, tapi tetap tidak ditemukan. Jika ditilik secara langsung, sebenarnya dua pihak ini saling bekerjasama dengan baik. Komunikasi yang terjalin baik antar partner juga ditunjukkan dengan status sahabat nya dengan Asih sebelum konflik terjadi. Akan tetapi, ego Sum jauh lebih besar dari kekariban mereka selama mentas di Lekra. Sum lebih memilih lari dari kenyataan dengan berpihak pada kaum birokrat yang selama ini diperanginya. Ia menuju pada pihak yang mau menerima dan menghargai jasanya serta membalas rasa sakit hatinya. Sum lah yang membocorkan rahasia Lekra pimpinan Gangsar tersebut kepada pihak pemerintah.

B. Pandangan Dunia Terhadap Struktur Cerita

Goldmann (dalam Faruk,1999:15) mengatakan bahwa pandangan dunia merupakan kesadaran yang tiap orang tidak musti dapat memahaminya. Hubungan antara struktur masyarakat dengan struktur karya sastra itu tidak dipahami sebagai hubungan determinasi yang langsung, melainkan dimediasi oleh pandangan dunia atau ideologi.

Salah satu pandangan dunia yang terdapat dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” karya Indra Tranggono ini adalah adanya aspek kemanusiaan bahwa setiap warga negara memiliki Hak Asasai Manusia untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan dalam masyarakat, bebas mengutarakan pikiran dan perasaan, hak menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan, dan hak untuk hidup. Akan tetapi di sisi lain, dengan berlatarbelakangkan latar waktu cerpen, terdapat ideology pemerintah untuk mempertahankan kestabilan politik dengan melarang kegiatan komunisme. Hal ini dibuktikan dengan turunnya Surat Perintah Sebelas Maret pada tanggal 12 Maret 1966. Surat yang menjadi legitimasi bagi Soeharto untuk mendapatkan kuasa tak terbatas demi memulihkan keadaan. Salah satu inisiasi tindakan yang diambil adalah membubarkan PKI yang kemudian juga merembet ke berbagai ormas yang dianggap mempunyai afiliasi dengan PKI, termasuk Lekra.

(12)

organisasi massanya. Sebelumnya dalam sejarah tahun 1960-an, PKI mengadakan konferensi nasional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk menandingi KPPI dan membuktikan bahwa ranah seni dan sastra juga dikuasai PKI. Salah satu mantan anggota Lekra pada waktu itu adalah Putu Oka Sukanta. Kekontrasan pendapat muncul dari pemerintah yang mengklaim bahwa Lekra adalah salah satu didikan partai PKI. Sedangkan Putu Oka, mengatakan bahwa Lekra dan PKI secara organisasi terpisah, tapi mempunyai tujuan yang sama.

Pandangan lainnya yang tercermin dalam cerpen “Bulan Terbingkai Jendela” adalah hakikat manusia dalam dimensi pedagogis. Hakikat mereka sebagai pendidik, motivator, maupun fasilitator tidak hanya memberikan pendidikan semata melalui berbagai cara, tetapi juga merencanakan masa depan masyarakatnya. Akan tetapi, di sisi lain, manusia juga memiliki hak untuk bersikap dalam merespon pendidikan atau ajaran yang diberikan. Seperti yang tertuang dalam UU No.9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Berdasarkan pasal 5 terdapat hak manusia untuk bebas mengeluarkan pikiran dan mendapat perlidungan hukum. Akan tetapi, kebebasan manusia tersebut juga dibatasi oleh ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1998 Pasal 29 tentang pelaksanaan hak dan kebebasannya, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasanorang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban, serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.

(13)

sosialnya, dimana si kaya adalah tuan dari si miskin. Cerpen ini mencerminkan ideologi Indra Tranggono sebagai sosok pemerhati kebudayaan yang menyuarakan aspirasinya atau penilaiannya melalui sastra.

C. Struktur Sosial Cerpen “Bulan terbingkai Jendela” Karya Indra Tranggono Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sejauh mana sastra dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakatnya. Keadaan yang terjadi di dalam cerpen membuat cerpen ini menjadi suatu penguakan sejarah, kisah sejarah yang nyata. Cerpen-cerpen keluaran tahun 2005 memang lebih banyak menyuarakan aspirasi rakyat. Kehidupan sosial pengarang dalam kondisi stabil. Di salah satu sisinya ia menyatakan menolak terhadap kenyataan yang ada dan di sisi lain dia ingin menyatakan pemikirannya terhadap buruknya sistem kapitalisme secara langsung melalui pernyataan yang muncul dalam dialog cerpen.

Sesuai dengan nama tokoh yang disebutkan dalam cerpen seperti Asih, Sum, bisa dinyatakan kalau mereka merupakan masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa cenderung menganut budaya fatalisme atau nrima. Endraswara (2003:214) secara umum menyatakan bahwa nrima adalah menerima segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, sekedar menjalani hidup sebagai kenyataan yang harus dijalani dengan rasa tanggung jawab dan kesungguhan. Sikap hidup nrima ini dapat juga berarti sikap puas dengan nasibnya, tidak memberontak, menerima dengan rasa terima kasih.

Mengenai sikap nrima tersebut, secara tersirat dapat diketahui melalui kesadaran anggota partai Lekra, seperti pada tokoh lelaki bertopi hitam dan lelaki yang merokok. Keduanya mengakui keraguan mereka terhadap respon dari masyarakat. Sementara sang pimpinan, Gangsar, menganggap bahwa partai mereka itu telah memberikan masukan positif untuk membangkitkan semangat masyarakat. Perbedaan kedua pihak itu jelas menunjukkan bahwa masyarakat masih cenderung menganut paham fatalisme.

(14)

kesadaran palsu dan budaya sisa-sisa feodalisme, imperialisme, militerisme-fasisme, kapitalisme.

Selain itupula tercermin kondisi sosial dimana terdapat ketidakpuasan rakyat terhadap pengkondisian kelas sosial atas kaum kapitalis yang mendominasi kaum proletar. Sehingga, menciptakan kesenjangan sosial. Partai komunis menekan perkembangan kehidupan material masyarakat modern. Bung Karno pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Bolehkah Serikat Sekerdja Berpolitik? pada tahun 1933 di koran Fikiran Ra’jat. Pada intinya beliau mengatakan bahwa antara kerja dan modal memang tidak dapat dipisahkan sampai kapanpun. Bahwa pergerakan sekerja harus melawan tiap stelsel kapitalisme, menghilangkan tiap stelsel kapitalisme, mengejar stelsel produksi yang sama rata sama rasa.

IV KESIMPULAN

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Bexley, Angie. 2000. Sejarah Pergerakan Seni Radikal Di Dalam Transisi Kekuasaan Indonesia.

Endraswara, Suwardi. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang: Cakrawala. Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia Tahun 1998, Buku 2. Tranggono, Indra. 2005. Bulan Terbingkai Jendela. Kompas.

LAMPIRAN

Bulan Terbingkai Jendela

Indra Tranggono

(16)

sedikit batuk, itu tak lebih dari ongkos yang harus ia bayar buat mengagumi ketegaran dan kesetiaan angin yang tetap saja bertiup, entah sampai kapan. Hanya air yang selalu mengalir, pikirnya, yang mampu menandingi kesetiaan angin. Juga ombak, yang tak pernah jera memukul-mukul pantai dan karang. Betapa melelahkan. Tapi, cinta tak pernah mengenal lelah dan sia-sia, pikirnya.

Bulan perak sebesar semangka itu masih bertengger di langit. Ia diam tak bergerak, seperti terjebak dalam bingkai jendela kamar perempuan itu. Dari dalam kamarnya, perempuan itu menatap bulan lekat-lekat, seolah menghisap seluruh cahayanya. Suatu kebiasaan yang membuat hatinya tergetar. Kini, bulan itu menari-nari di manik matanya. Menjelma wajah seorang lelaki yang sangat dirindukannya: suaminya, yang jantungnya meledak oleh timah panas pada sebuah zaman yang begitu gelap, begitu kalap, di mana setiap kekuatan dan semangat menjelma menjadi api yang membakar ratusan ribu jiwa hingga tinggal rangka. Memandang bulan itu, ia merasakan ada getaran kerinduan yang mengaliri rongga jiwanya. Kerinduan yang terasa pahit, tapi tetap saja diharapkan hadir memeluknya.

Tapi getaran itu terasa aneh malam itu, tak seperti hari-hari sebelumnya. Perempuan itu menunduk, menimbang-nimang perasaan dengan bimbang. Ia baru saja ditelpon tetangganya yang mengabarkan, Bu Sum meninggal malam ini. Jenazah akan dimakamkan besok jam 14. Berita itu sontak menghidupkan mimpi buruk dalam lipatan-lipatan ingatannya.

Nama Sum begitu melekat di hatinya. Bahkan lebih dari sekadar sahabat. Sahabat? Mendadak ia mempertimbangkan sebutan itu. Sum, yang ia kenal sejak remaja, semula memang teman karibnya. Di balik bintik-bintik jerawat puber pertama dan rambut ekor kuda, ia dan Sum mereguk keceriaan. Mereka menjadi pujaan para jejaka yang masih memelihara jambul pada potongan rambutnya yang lengket dengan minyak rambut dengan aroma menyengat serta dengan celana komprang dari dril. membuat orang begitu suka dengan mulut berbusa. Kalimat-kalimat gagah disertai tatapan mata yang berkilat-kilat hampir dimiliki setiap anak muda dari berbagai organisasi yang menjadi underbouw parpol. Mereka bersaing untuk menjadi yang utama buat menentukan “hari depan bangsa”.

(17)

“Asih, kamu mesti tahu, Pembayun itu anak Panembahan Senopati yang dijadikan rantai emas untuk menundukkan Ki Ageng Mangir. Tapi, caramu ngomong mirip orang penyakitan. Tidak ada tenaga. Tidak ada gereget. Ia harus hadir sebagai perempuan yang cerdas, memikat…. Paham?” Gangsar meradang pada latihan sandiwara yang lakonnya diadaptasi dari cerita ketoprak Ki Ageng Mangir.

“Begitu juga kamu, Hardo. Kamu harus tahu. Yang kamu perankan itu Mangir Wanabaya, tokoh besar, pahlawan wong cilik. Dia itu gagah dan sangat berani melawan Senopati yang digdaya, adidaya tapi sewenang-wenang. Kenapa caramu memerankan tak lebih dari orang berdarah tikus!” sergah Gangsar.

Hardo dan Asih terpukul. Dada mereka sesak.

“Maaf kawan Gangsar. Saya ini bukan pemain ketoprak, tapi pemain sandiwara…. Saya kira lakon ini kurang tepat. Bagaimana kalau lakonnya kita ganti saja…,” Hardo memompa nyalinya.

“Diganti? Diganti dengan lakon-lakon borjuis itu? Kita ini pejuang, kawan. Bukan hanya seniman. Apa kata kawan-kawan partai nanti kalau drama kita lembek? Karena itu aku angkat Mangir. Dia itu simbol perlawanan…! Baik, sekarang diulang sekali lagi…. Eh Asih, kalau kamu masih main seperti orang loyo, aku ganti! Paham?”

Perempuan itu tersenyum, mengenang peristiwa lapuk yang mengendap di benak lebih dari 30 tahun lalu. Asih, yang waktu itu masih remaja, hanya bisa menangis. Kata-kata Gangsar lebih dari sekadar kasar. Tapi, kini, ia merasa geli ditikam kenangan yang begitu mengesankan. Ia pun tak menyangka, Gangsar yang sangat garang itu ternyata begitu lembut. Juga ketika ia mengungkapkan cintanya kepada Asih yang tidak menolaknya, karena memang suka. Bahkan ketika Gangsar melamarnya.

Asih tidak tahu, Sum mendadak menghilang dari desa sejak ia menikah dengan Gangsar. Ada yang bilang Sum patah hati karena diam-diam ia juga mencintai Gangsar. Ia tak menduga pernikahan itu menjelma sembilu yang memutuskan tali persahabatan dengan Sum. Asih mengenang semua itu dengan dada sesak. Anak pertama lahir, anak kedua lahir, namun kenangan pahit itu tetap saja menggores.

Tidak seperti malam-malam sebelumnya, hari itu Gangsar memutuskan menghentikan kegiatan kelompok sandiwaranya untuk sementara. Gangsar lebih banyak rapat dengan orang-orang Lekra, seperti juga malam itu. Rapat itu berlangsung sangat tegang. Kepala-kepala mereka seperti mengepulkan asap kecemasan. Sambil menyeduh kopi di dapur, Asih lamat-lamat mendengar ucapan galau suaminya.

“Gawat. Tentara dan kapitalis-kapitalis birokrat itu sudah menguasai Jakarta! Lambat atau cepat, mereka pasti merangsek kemari. Untuk sementara, kita bekukan kegiatan kita, sampai keadaan normal kembali!” ujar Gangsar gusar.

(18)

“Terus apa yang bisa kita lakukan, kawan Gangsar. Bagaimana kalau kita lari atau…?” ujar seseorang sambil menyulut rokoknya. Menghisap dalam-dalam lalu menghembuskan asap kuat-kuat.

“Lari? Sejak kapan partai mendidik kita jadi pengecut?” sergah Gangsar dengan mata yang berkilat-kilat.

“Bukan itu maksud saya, kawan. Itu hanya taktik saja. Kita toh tak ingin mati konyol….”

“Mati konyol? Kamu pikir kita ini tidak memperjuangkan apa-apa?! Tiap detik kita hanya memikirkan rakyat. Jiwa kita, rakyat. Darah kita, rakyat. Nafas kita, rakyat! Waktu 24 jam bagi kita tidak cukup untuk memikirkan rakyat, kawan….” Gangsar kembali meradang, dengan tekanan suara yang berat dan pelan.

Ruangan senyap. Detak jam dinding terdengar sangat keras, seiring dengan detak cepat jantung mereka. Gangsar mencoba memompa keberanian kawan-kawannya.

“Usaha kita makin menunjukkan hasilnya, kawan. Lewat seni, partai kita berhasil bikin kawan-kawan tani dan buruh di desa ini punya tatapan mata bertenaga dan punya sinar. Luar biasa, mata mereka tidak lagi loyo, kosong, tapi bersinar. Mereka makin berani dan gagah menatap mata para tuan tanah yang hendak merampas tanahnya. Begitu juga kawan-kawan kita kaum buruh. Mereka makin punya nyali menghadapi para juragan yang memeras tenaganya.”

“Tapi apa benar mereka berpihak pada jalan revolusioner kita, kawan?” seseorang bertopi hitam mencoba menyela.

“Jelas! Kita dan mereka sudah satu nafas!” ujar Gangsar.

“Aku sendiri diam-diam tak begitu yakin. Eee… maksud saya, mungkin selama ini hanya kita saja yang menganggap perjuangan kita ini penting….”

“Kamu telah dirasuki setan-setan borjuis, kawan. Cabut omonganmu!”

Asih berdiri mematung di kamar. Ia menangkap getar kecemasan suaminya di balik gelora semangatnya. Tanpa sadar, jantungnya pun berdetak cepat. Kamarnya yang cukup besar mendadak menyempit. Malam yang dingin, terasa sangat panas. Asih membuka jendela, pelan-pelan. Ketika gorden disibak, ia menatap bulan perak sebesar semangka diam tak bergerak, seolah terjebak dalam bingkai jendela.

Sejak peristiwa malam itu, keadaan makin tak menentu. Malam-yang bisanya bergairah karena suara gamelan dan gelegak anak-anak muda yang sarat kalimat mengkilat-sekadar menjelma kegelapan. Serangga malam berpesta pora suara. Waktu terasa membeku. Angin mati. Ke mana para pemuda itu? Ke mana Gangsar?

(19)

“Mbakyu, tentara-tentara telah memasuki desa kita. Apa pun caranya, Mbakyu harus lari…,” ujar laki-laki itu.

“Di mana Mas Gangsar?”

Laki-laki itu tertunduk.

“Di mana suamiku?”

Laki-laki itu membisu.

“Kamu tahu di mana dia?!”

Angin mati. Waktu membeku.

“Kawan Gangsar tertembak malam tadi. Bersama kawan-kawan partai ia mencoba menghadang pasukan dari kota….” ujar laki-laki itu lirih. Hampir tak terdengar.

Asih terpaku kaku. Ia seperti ada di alam yang aneh, asing. Semua gelap. Sangat gelap. Tubuhnya seperti melayang dalam gelap.

Dengan sisa-sisa kekuatan, ia mencoba beranjak ke kamar. Mencoba membangunkan dua anaknya yang masih tertidur. Namun mendadak pintu rumahnya didobrak. Orang-orang yang tidak dia kenal masuk dan merangsek ke kamarnya. Asih digelandang, diiringi pekik tangis dua anaknya. Dengan mata terbebat kain, ia didorong masuk jeep. Dalam kegelapan mata, ia tak tahu mobil itu bergerak ke mana. Ia hanya merasakan mobil itu melaju begitu cepat.

“Turun!” suara orang mendorong Asih dari jok jeep. Ia berjalan. Kakinya dirasakan menjamah lantai yang dingin. Dengan kasar, seseorang membuka kain yang membebat matanya. Ia digelandang masuk ke dalam. Di koridor bangunan kuno itu, ia berpapasan dengan seorang perempuan. Ia minta berhenti, Otaknya bekerja keras mengingat.

“Sum? Kamu di sini?” ujar Asih pelan.

Perempuan yang dipanggil Sum itu tak menanggapi. Ia cepat berlalu dengan senyum yang dirasakan mengejek. Dua orang laki-laki kembali menggelandang Asih menuju ke suatu ruangan.

“Kamu Lekra kan!!! Ngaku saja!!!” bentak salah seorang dari mereka.

“Saya pemain sandiwara!” jawab Asih.

(20)

Pintu sel dibuka. Seorang wanita didorong masuk. Asih kaget, perempuan itu ternyata Wikan, kawannya saat main sandiwara. Mereka berpelukan. Mata mereka basah. Namun, tak ada kata yang terucap. Yang terdengar hanya tarikan nafas mereka. Ketika Asih mampu menguasai perasaan, ia pun berucap pelan, “Kamu tadi melihat Sum di sini?”

Mata Wikan terbelalak, “Dia ada di sini?”

Asih mengangguk.

“Jadi benar kabar itu. Sum telah lama bekerja sama dengan mereka yang menangkap kita…,” ujar Wikan pelan.

Asih terdiam. Ditatapnya dinding sel. Dingin, beku dan angkuh. Ia terpaku di jeruji besi, dibekap perasaan yang campur aduk. Tangannya masih gemetar memegang kisi-kisi sel.

Bulan perak sebesar semangka masih terjebak di bingkai jendela kamar Asih, perempuan paruh baya itu. Tangan Asih masih memegang kisi-kisi jendela. Ditatapnya bulan itu lekat-lekat. Ia seperti menjumpai suaminya yang terbang di antara gumpalan awan.

Ia kembali teringat kabar yang baru saja diterimanya bahwa “Bu Sum telah meninggal dunia”. Wajah Sum hadir kembali. Juga saat ia berpapasan dengan Asih di ruang menuju kamar tahanan lebih dari 30 tahun lalu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Dalam beberapa saat, ia berbenah. Ia raih baju hangat, kemudian keluar kamar. Ia bergegas menuju rumah Bu Sum, yang terletak di ujung jalan desa. Kedatangan Asih membuat tercengang para pelayat. Asih menyalami mereka, menyalami suami, anak-anak Bu Sum. Menyalami handai tolan Bu Sum.

Referensi

Dokumen terkait