BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan bagian sentral dalam kehidupan. Manusia menggunakan bahasa tidak hanya sebatas survival layaknya binatang. Manusia menggunakan bahasa untuk berbagai segi dalam kehidupan. Oleh karena itu, manusia dibekali LAD (Language Acquisition Devicion) sehingga mampu mengembangkan diri dalam berbahasa.
Penggunaan bahasa ini tidak terlepas dari proses pemerolehan bahasa yang dialami manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Bahasa yang digunakan anak dari masa kanak-kanaknya dan menjadi alat yang paling banyak digunakan dalam interaksi sosialnya adalah bahasa pertamanya. Jika ada istilah pertama tentu ada istilah bahasa kedua. Bahasa pertama (B1) merupakan bahasa yang paling dikuasai dan paling sering digunakan oleh seseorang, sedangkan bahasa kedua merupakan bahasa yang diperoleh melalui pembelajaran dan cenderung dipelajari dengan sengaja. Bahasa kedua bukan berarti sebatas bahasa kedua, tetapi bahasa lain yang dipelajari oleh seseorang entah itu satu bahasa, dua, maupun lebih dari itu.
Untuk pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, kita tentunya harus mengetahui lebih dalam mengenai pengenalan dan berbagai hipotesis mengenai permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai hipotesis dan penjabaran mengenai pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua (B2).
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu pemerolehan bahasa kedua?
3. Di mana dan seperti apa wilayah serta generalisasi mengenai pembelajaran bahasa kedua?
4. Bagaimana teori dan hipotesis pembelajaran bahasa kedua?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pengajaran Bahasa dan Sastra. Selain itu, untuk memberikan informasi mengenai pemerolehan bahasa kedua.
1.4 MANFAAT PENULISAN
Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai bagaimana pemerolehan bahasa kedua dan memberikan informasi mengenai teori-teori yang mendukung untuk pembelajarannya.
PEMBAHASAN 2.1 HAKIKAT PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA
Sebelum membahas lebih jauh mengenai apa itu pemerolehan bahasa kedua, ada baiknya kita memahami lebih dulu apa itu bahasa kedua. Bahasa kedua sendiri didefinisikan dalam pengertian-pengertian yang luas. Bahasa kedua secara sederhana dianggap sebagai bahasa yang diperoleh atau dipelajari setelah anak menguasai bahasa pertama.1
Pengertian lain yang lebih jauh mengungkapkan bahwa bahasa kedua merupakan bahasa resmi atau dominan secara sosial yang biasanya dibutuhkan untuk pendidikan, pekerjaan, dan tujuan lainnya. adapun bahasa asing diartikan sebagai salah satu bahasa yang tidak banyak digunakan oleh pembelajarnya dalam konteks sosial yang mungkin dapat digunakan untuk perjalanan masa depan atau komunikasi lintas budaya, namun tidak terlalu diperlukan dan aplikasi praktik langsung.2
Ketika bahasa pertama dianggap sebagai bahasa yang diperoleh tanpa upaya sadar, bahasa kedua ini memiliki karakteristik tersendiri dalam proses dan kondisi pemerolehannya. Terlebih, bahasa kedua tidak hanya terbatas pada bahasa yang dipelajari oleh anak, melainkan mencakup pemeroleh yang lebih heterogen dalam berbagai segi.
Jadi dapat diartikan bahwa bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh setelah bahasa pertama dikuasai dan dipelajari untuk tujuan yang variatif.
Berangkat pada hakikat pemerolehan bahasa kedua, ada baiknya kita memahami lebih dulu apa itu pemerolehan. Menurut Krashen, pemerolehan adalah sebuah proses bawah sadar dan intuitif dalam
pengembangan sistem sebuah bahasa, tidak beda dengan proses seorang anak untuk “belajar begitu saja sebuah bahasa.3
Dalam pengembangan bahasa kedua Krashen berpendapat bahwa bahasa kedua ini diperoleh dengan dua cara, yaitu:
(1) Pemerolehan (acquisition), merupakan proses subconcious
bawah sadar yang mengarah pada pengembangan kompetensi dan tidak bergantung pada kaidah gramatika.
(2) Pembelajaran (learning) mengacu pada consious kesadaran belajar dan pengetahuan kaidah gramatika.
Pemerolehan bahasa kedua (SLA) juga mengacu pada pembelajaran sebuah bahasa sasaran (Target Language) baik oleh individu maupun kelompok untuk tujuan bahasa dan tujuan pembelajaran tertentu. Ruang lingkup SLA mencakup pembelajaran informal B2 yang terjadi secara naturalistik, pembelajaran formal B2 di ruang kelas, maupun campuran dari pengaturan dan keadaan tersebut.4
Sebelumnya telah disebutkan bahwa pemerolehan bahasa kedua berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama, B2 melibatkan proses dan kondisi yang tentunya berbeda. Oleh karena itu, pemerolehan ini melibatkan variabel-variabel yang seperti digambarkan oleh Yorio, di antaranya:5
1) Usia
Usia mencakup 3 bagian. Yaitu, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Pada kanak-kanak pembelajaran dipengaruhi oleh faktor biologis, faktor kognitif, dan faktor sosial yang mencakup pengaruh Orang Tua, sekolah, maupun tekanan kawan sebaya. Pada remaja, dipengaruhi oleh faktor biologis yang memang sedang mengalami masa kritis serta faktor sosial yang juga dipengaruhi oleh orang tua,
3 H.Doughlas Brown. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. (Pearson Education, 2007). H. 322.
4 Muriel Saville Troike. Op.Cit. H.2.
sekolah dan kawan sebaya. Adapun pada tahap dewasa faktor yang mempengaruhi adalah faktor biologis yang mencakup masa kritis, tekanan kawan sebaya, kontek belajar/mengajar, dan bahasa keduanya itu sendiri.
2) Kognisi
Kognisi ini mencakup kecerdasan umum dan bakat bahasa seseorang.
3) Bahasa Asli
Bahasa asli ini mempengaruhi transfer pada bahasa kedua bak dari segi fonologis, gramatikal, maupun semantik.
4) Masukan
Masukan dalam hal ini berkaitan dengan pembelajarnya sendiri. Yaitu pembelajar bebas dan pembelajar terbimbing. Pembelajar bebas bergantung pada konteks pengajaran yang mencakup tempat belajar (lingkungan bahasa asing, bahasa kedua, dwibahasa), jenis kontak bahasa, lingkungan bahasa keluarga dan lingkungan bahasa kawan sebaya. Pembelajar terbimbing bergantung pada konteks pembelajaran yang mencakup tipe bimbingan (formal, informal serta intensif/tidak intensif). Lamanya bimbingan, materi bimbingan, dan sumber bimbingan.
5) Wilayah Afektif
Wilayah afektif ini berkenaan dengan faktor sosial budaya, faktor egosentris, dan faktor motivasi.
6) Latar belakang pendidikan
Beberapa contoh faktor yang berkenaan dengan ini adalah buta huruf, melek huruf serta keprofesionalitasannya.
Pengajaran bahasa kedua mencakup ke dalam beberapa ranah. Pertama, mencakup pemahaman, secara umum, tentang apa itu bahasa, apa itu pembelajaran, dan untuk konteks ruang kelas, apa itu pengajaran. Kedua, pengetahuan tentang pembelajaran bahasa pertama pada anak-anak memberikan wawasan untuk memahami SLA.
Ketiga, bagaimana, sejumlah perbedaan esensial antara pembelajaran anak-anak dan orang dewasa dan antara pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua harus disampaikan secara hati-hati. Keempat, pembelajaran bahasa kedua adalah bagian dari dan mengikuti prinsipa-prinsip umum pembelajaran dan kecerdasan manusia. Kelima, terdapat variasi besar pada gaya kognitif di antara para pembelajara dan juga pemilihan strategi berbeda pada setiap pembelajar.
Keenam, kepribadian, cara orang melihat dirinya sendiri dan mengungkapkan dirinya sendiri dalam komunikasi akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas pembelajaran bahasa kedua. Ketujuh, mempelajari budaya kedua sering bertumpang tindih dengan mempelajari bahasa kedua. Kedelapan, pemerolehan kompetensi komunikatif dalam banyak hal adalah sosialisasi bahasa, dan merupakan tujan utama bagi para pembelajar saat mereka berurusan dengan fungsi, kemampuan mencerna, gaya, dan aspek-aspek nonverbal dari interaksi antarmanusia dan negosiasi politik. Kesembilan yaitu kontras-kontras linguistik antara bahasa asli dan bahasa sasaran menciptakan pangkal kesulitan dalam mempelajari bahasa kedua. Namun proses kreatif pembentukan sistem antarbahasa mendorong pembelajar untuk menggunakan banyak sumber dan kecakapan yang memudahkan. Dalam proses ini, kekeliruan merupakan aspek tak terhindarkan, namun dari sini pembelajar dan pengajar bisa memperoleh wawasan lebih mendalam.
Teori mengenai bahasa kedua merupakan seperangkat hipotesis atau klaim yang saling berkaitan mengenai bagaimana orang menjadi cakap dalam bahasa kedua. Lightbown membuat beberapa klaim mengenai bahasa kedua. Di antaranya:
1. Orang dewasa dan anak remaja bisa “memperoleh” bahasa kedua. 2. Para pembelajar menciptakan antarbahasa yang sistematis yang
sering ditandai dnegan kesalahan-kesalahan yang sama sistematisnya dengan kesalahan kanak-kanak yang mempelajari bahasa tersebut sebagai bahasa pertama, dan juga orang-orang lain yang mendasarkan diri pada bahasa asli mereka sendiri.
3. Ada bagian yang bisa digunakan dalam pemerolehan sehingga struktur-struktur tertentu harus diperoleh sebelum yang lainnya bisa dipadukan.
4. Praktek belum tentu menjadikan sempurna.
5. Mengetahui kaidah bahasa bukan berarti orang akan bisa menggunakan bahasa itu dalam interaksi yang komunikatif.
6. Koreksi kesalahan secara eksplisit dan terpisah biasanya tak efektif dalam mengubah perilaku bahasa.
7. Bagi kebanyakan pembelajar dewasa, pemerolehan berhenti-“memfosil”- sebelum pembelajara meraih kecakapan dalam bahasa sasaran yang mendekati kefasihan penutur asli. 8. Orang tidak bisa mencapai pemahaman menyeluruh pada bahasa
kedua yang mendekati penutur asli bahasa tersebut dengan satu jam sehari.
9. Pembelajar memikul beban berat karena bahasa sangat kompleks 10.Kemampuan seorang pembelajar untuk memahami makna bahasa
menurut konteksnya memperluas kemampuannya untuk memahami bahasa yang dilepaskan dari konteks dan untuk memproduksi bhasa yng kompleksitas dan akurasinya setara.6
Adapun pernyataan lain yang dibuat oleh LightBown dan Spada mengenai bahasa kedua ini. Di antaranya:
1. Pada umumnya, bahasa dipelajari melalui peniruan
2. Biasanya orang tua mengoreksi kanak-kanak ketika mereka membuat kesalahan
3. Orang dengan IQ tinggi adalah pembelajar bahasa yang baik
4. Semakin dini bahasa kedua diperkenalkan di sekolah, semain besar kemungkinan berhasilnya dalam pembelajaran
5. Kesalahan terbanyak yang dibuat oleh para pembelajar bahasa kedua adisebabkan oleh tumpang tindihnya dengan bahasa pertama
6. Kekeliruan-kekeliruan pembelajara seharusnya dikoreksi saat itu juga demi menghindarkan terbentuknya kebiasaan buruk.7
2.4 TEORI KOMPLEKSITAS
Untuk menggiring pada pengetahuan mengenai komponen-komponen jitu bagi teori bahasa kedua, dapat dikaitkan dengan teori kompleksitas yang dijabarkan oleh Diana Larsen-Freeman yang memaparkan mengenai kesamaan antara teori khaos dan bahasa kedua. Bahasa kedua dianggap sebagai sistem yang dinamis, kompleks, dan tak linier, tak beda dengan fisika, biologi, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Jalur-jalur yang ditempuh oleh para pembelajar untuk meraih keberhasilan adalah berbeda dan terkadang amat berbeda satu sama lain. 8
Brown kemudian membuat ikhtisar dari paparan Diane Larsen Freeman mengenai rancangan teori bahasa kedua yang berhubungan dengan teori kompleksitas.
1. Hati-hatilah terhadap dikotomi-dikotomi yang menyesatkan. Cari hubungan antarbagian (complementarity), keterjangkauan (inclusiveness), dan ruang bersama (antarmuka, interface).
7 Patsy Lightbown and Nina Spada. How Languages Are Learned. (USA: Oxford University Press, 2013). Hh.11-116.
2. Hati-hatilah terhadap pendekatan sebab-akibat linier yang digunakan dalam membangun teori.
3. Hati-hatilah terhadap generalisasi yang berlebihan. Perhatikan detail. Faktor-faktor terkecil yang kelihatannya remeh bisa menjadi faktor penting dalam mempelajari bahasa kedua.
4. Sebaliknya, hati-hatilah terhadap pemikiran yang terlalu menyederhanakan. Dengan sistem yang kompleks dan kacau, niscaya sangat menggiurkan untuk membuat penyederhanaan dengan memngambil beberapa bagian kecil dan mengeluarkannya dar keseluruhan sistem.9
2.5 PEMBELAJARAN EKSPLISIT DAN IMPLISIT
Pembelajaran eksplisit dalam SLA (Second Language Acquisition) melibatkan kesadaran dan niat yang disengaja. Pembelajaran eksplisit diartikan sebagai pemrosesan masukan untuk menemukan apakah informasi mengandung keteraturan dan, jika demikian, untuk menyusun konsep dan kaidan yang dengannya keteraturan-keteraturan bisa ditangkap.
Pembelajaran implisit diartikan sebagai pembelajaran tana perhatian sengaja atau kesadaran. Pembelajaran implisit dan eksplisit ini juga berhubungan dengan pembelajaran intensional dan insidental yang saling berkaitan.10
2.6 PEMBELAJARAN SADAR DAN BAWAH SADAR
Topik panas lain yang terkait dalam SIA adalah sampai sejauh mana kemahfuman merupakan faktorsignifikan yang punya andil untuk pemerolehan. Kemahfuman untuk beberapa waktu, mungkin dianggap analog pembelajaran sadar (vs. bawah sadar), di mana pembelajar secara sengaja mengontrol perhatian mereka kepada sejumlah aspek masukan atau keluaran. Gagasan pikiran sadar ini bermasalah karena sulitnya
membuat definisi berkenaan dengan kompleksitas akar sejarahnya pada k Freud, Jung, dan psikologpsikolog lain era mereka. Sebagian karena permasalahan pendefinisian ini, Mclaughlin (1978) dan para psikolog kognitif lain (Slavin, 2003, misalnya) menghindar dari isu pikiran sadar ini dan lebih menekankan perhatian pusat dan periferal atau pinggiran. Dalam usulan Schmidt (1990) tentang hipotesis menyimak, dibahas singkat di bab sebelumnya, ia mengendalikan peran utama bagi perhatian pusat, yang berawal dari kemafhuman, supaya seorang pembelajar menyimal masukan bahasa.11 Menurur Schmidt dan yang lainnya (Robinson, 2003; Ellis, 1997; Leo, 2000), menyimak, atau memperhatikan sungguh-sungguh kepada sebuah unsur linguistik dalam sebuah masukan pembelajar, mungkin merupakan prasyarat esensial bagi kemampuan pembelajar untuk mengubah masukan menjadi asupan (intake), terutama masukan yang diniatkan sebagai umpan balik atas bentuk. (lihat bagian berikut untuk definisi dan diskusi masukan vs. asupan.) Kemafhuman sekarang sudah menjadi nama sebuah jurnal profesional, Language Awareness, dan topik ini terus menarik perhatian peneliti (Williams, 2005; Rosa & Leow & 2004; simard & Wong, 2004; Leow, 2000).
Seperti topik sebelumnya, debat mengenai tingkat kemafhuman yang dipersyaratkan dalam SLA adalah hal yang kompleks, dan menurut kecermatan menetapkan kondisi-kondisi sebelum kesimpulan diajukan. Timbul tenggelam di sepanjang sejarah pengajaran bahasa yang berubah-ubah, orang memproklamasikan bahwa bahasa seharusnya jangan pernah diperajari di bawah kondisi kemafhuman yang disadari (terhadap bentuk-benruk bahasa, misalnya)- Krashen dekat dengan klaim semacam itu dan mereka yang tetap berkeras tentang betapa pentingnya kemafhuman (akan bentul-bentuk) dalam SLA. Tugas anda, sebagai kreator teori Anda sendiri tentang SLA adalah menetapkan konteks secara cermat dan kemudian mengambil tindakan pedagosis yang sejalan.
Agaknya sangat bermanfaat bagi para pembelajar untuk menjadi mafhum akan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri dan secara sadar terlibat dalam bentuk-bentuk bahasa sasaran, sampai tingkatan bahwa kemafhuman terhadap jalinan bentuk tersebut menghalangi kemampun mereka untuk fokus pada makna. Kita akan menyimak konsep pembelajaran sadar dan bawah sadar dalam pembahasan selanjutnya tentang model Mclaughlin.
Masukan dan Keluaran
Suatu topik yang pernah kontroversial, tetapi kian berkurang kadarnya, adalah hubungan antara masukan dan keluaran dalam SLA.
Masukan tak lain adalah proses memahami bahasa (mendengar dan membaca) dan keluaran adalah produksi (bicara dan menulis). Sekalipun tidak selaiu, sekarang tampak jelas bahwa baik masukan :laupun keluaran merupakan proses yang penting pada tingkatnya masing.masing dalam perjalanan linguistik pembelajar bahasa. Tetapi seperti yang akan kita lihat di bagian selanjurnya, proporsi oprimal dari setiap moda sudah mendapat berbagai rekomendasi. Lebih lanjut, masih ada pcrdebatan sengit mengenai apa yang disebut kualitas optimal masukan dan keluaran.
2.7 Frekuensi
saja kemungkinan bahwa yang disebut belakangan itu boleh ladl adalah faktor penyebab pemerolehan. 12
2.8 HIPOTESIS MASUKAN KRASHEN
Salah satu perspektif teoretis paling kontroversial dalam SLA pada 25 tahun terakhir abad kedua puluh disodorkan oleh Stephen Krashen (1977,1981, 1982, 1985, 1992, 1997) dalam sebuah himpunan artikel dan buku. Hipotesis Krashen mempunyai nama-nama yang berbeda. Dalam tahun-tahun awal, “Model Monitor” dan “Hipotesis Pemerolehan-Pembelajaran” adalah nama-nama yang lebih popular; dalam tahun-tahun terakhir “Hipotesis Masukan” digunakan untuk menyebut satu set yang terdiri atas lima hipotesis yang saling berkait. Masing-masing dirangkur di bawah
Lima Hipotesis
1. Hipotesis Pemerolehan-Pembelajaran. Krashen menyatakan bahwa pembelajaran bahasa kedua dewasa punya dua cara untuk menyerap bahasa sasaran. Pertama adalah “pemerolehan”, sebuah proses bawah sadar dan intuitif dalam pengembangan sistem sebuah bahasa, tidak beda dengan proses seorang anak untuk “belajar begitu saja” sebuah bahasa. Cara kedua adalah sebuah proses "pembelajaran" sadar di mana pembelajar memperhatikan bentuk, memahami aturan, dan secara umum mafhum akan proses mereka sendiri. Menurut Krashen, "kecakapan dalam performa bahasa kedua seiring dengan apa yang sudah kita peroleh, bukan apa yang kita pelajari". Oleh karenanya, orang dewasa harus memperoleh sebanyak mungkin agar bisa mencapai kecakapan komunikatif; bila tidak, mereka akan berhenti pada pembelajaran aturan dan terlalu memperhatikan secara sadar bentuk bahasa dan terlalu
mengawasi kemajuan mereka sendiri. Lebih lanjut, Proses pembelajaran sadar kita dan proses pemerolehan bawah sadar kita berdiri sendiri-sendiri: pembelajar tak bisa "menjadi" pemerolehan. Klaim mengenai "tak adanya titik singgung antara pemerolehan dan pembelajaran ini dipakai untuk memperkuat argument bagi perekomendasian dosis yang lebih besar aktivitas pemerolehan di ruang kelas, dengan sedikit saja peran keil untuk pembelajaran.13 2. Model Monitor "Monitor" ada dalam pembelajaran, bukan
pemerolehan. Ia adalah alat untuk "memantau" keluaran seseorang, untuk menyunting dan membuat perubahan atau mengoreksi ketika keluaran-keluaran itu dipikiran secara sadar. Pembelajaran yang eksplisit dan intensional semacam itu, menurut Krashen, harus dihindari jauh-jauh, karena dianggap merintangi pemerolehan. Hanya begitu kecakapan mapan, barulah pemantauan atau penyuntingan yang cukup digunakan. Hipotesis mengenai pemantau(monitor) pembelajaran berfungsi sebagai pemantau. Pembelajaran tampil untuk menggantikan bentuk ujaran sesudah ujaran dapat diproduksi berupa sistem. Penerapan pemantau dapat menghasilkan efektifitas jika pemakai B2 memusatkan perhatian pada bentuk yang benar. Mc.Laughlin menyatakan bahwa monitor jarang dipakai dalam kondisi normal pemakaian dan dalam pemerolehan B2 dan monitor secara teoritis merupakan konsep yang tak berguna.
3. Hipotesis Urutan Alamiah. Menyusul studi-studi awal urutan morfem dari Dulay dan Burt (1974b, 1976) dan yang lainnya, Krashen menyatakan bahwa kita memperoleh kaidah-kaidah bahasa dalam sebuah urutan yang bisa diprediksi atau "alamiah". 4. Hipotesis Masukan. Menurut Krashen masukan yang bisa dipahami
adalah “satu-satunya alasan bagi pemerolehan bahasa kedua.14
13 S. Kreshen. 1982. Principles and practice in second Language acquisition. Oxford: Pergamon Press. h. 10-11
“Hipotesis Masukan menyatakan bahwa “kondisi bagi terwujudnya pemerolehan bahasa adalah ketika si pembelajar memahami (melalui mendengarkan atau membaca) masukan yang strukturnya mengandung hal yang “sedikit merampaui” tingkat kompetensinya saat ini.... Jika pembelajar berada di tingkat i, masukan yang ia pahami seharusnya berisi i + 1" .15 Dengan kata lain bahasa yang dipaparkan kepada para pembelajar semestinya sedikit di atas kompetensi mereka dan masih bisa mereka pahami, tetapi tetap menantang mereka untuk berkembang. yang harus diperhatikan adalah bahwa masukan ini tidak boleh terlalu jauh di luar jangkauan sehingga mereka kewalahan (misalnya saja i + 2) atau terlalu dekat dengan tingkat mereka saat ini yang menyebabkan mereka ddak tertantang sama sekah (i + 0).
Bagian penting dari Hipotesis Masukan ini adalah rekomendasi Krashen bahwa percakapan jangan diajarkan langsung atau terlalu dini di ruang kelas. Kecakapan wicara akan "muncul" ketika pembelajar telah mengembangkan pemahaman yang memadai terhadap masukan (i + 1), sebagaimana kita lihat dalam Bab 3 dalam pembahasan tenrang Pendekatan Alamiah.
5. Hipotesis Saringan Afektif. Krashen lebih lanjut menyatakan bahwa pemerolehan terbaik akan terjadi dalam lingkungan yang tingkar kecemasannya rendah dan tidak ada sikap defensil arau, daiam istilah Krashen, dalam konteks di mana “filter afekti” rendah.
BAB III KESIMPULAN
Pemerolehan bahasa kedua beriringan dengan pembelajaran bahasa kedua. Keefektifan pembelajaran bahasa kedua dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti faktor usia, juga termasuk sosial dan kultural. Terdapat banyak hipotesis mengenai bagaimana seharusnya pembelajaran bahasa kedua, dimulai dari generalisasi LightBown mengenai keharusan dan kenyataan SLA dalam pandangannya, perumpaan/analogi Larsen teori chaos dengan pembelajaran SLA, serta beberapa pandangan pembelajaran dari sudut kesadaran, pusat perhatian, hingga pada konstruktivisme sosial. Semua sudut pandang tersebut dikembalikan lagi pada hakikat ketergantungan gaya dan rancangan pembelajaran untuk pemerolehan bahasa kedua.
Ellis, Rod. Second Language Acquistion. New York: Oxford University Press, 2003.
Freeman, Diane Larsen. Chaos/Complexity Science and Second Language Acquisition. (Oxford: Apllied Linguistics. 1997.
H.Doughlas Brown. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa.Pearson Education.2007.
Kreshen, S. Principles and practice in second Language acquisition. Oxford: Pergamon Press. 1982.
_________. Second Language acquisition and second language learning. oxford: Pragamon Press. 1984.
LightBown, Patsy . Great Expectations: Second-Language Acquisition Research and Classroom Teaching.Oxford: Applied Linguistics. 1985.
Lightbown, Patsy and Nina Spada. How Languages Are Learned. USA: Oxford University Press, 2013.
Scmidt , R.. The Role of consciousness in Second Language Learning. Applied Linguistics 1990.