Strategi Percepatan Membangun
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
di Dunia Pendidikan Vokasi
dipresentasikan oleh
Tantangan Globalisasi
Menilai Potensi Nusantara
PERIKANAN PERKEBUNAN PERHUTANAN PETERNAKAN PERTANIAN
PARIWISATA KERAJINAN TEKSTIL MANUFAKTUR
INDONESIA MERUPAKAN NEGARA KEPULAUAN TERBESAR DI DUNIA YANG MEMILIKI
KEKAYAAN ALAM DAN HARTA TAK BENDA YANG TAK TERNILAI HARGANYA
pendidikan perdagangan transportasi pertambangan
kuliner kesenian jasaboga perhotelan flora fauna
dan ragam industri lainnya
KEUANGAN KESEHATAN JASA-‐JASA
Memahami Pencanangan MP3EI
MELALUI MP3EI DIPUTUSKAN PERLUNYA KEGIATAN EKONOMI INDONESIA
DIFOKUSKAN PADA 22 DOMAIN INDUSTRI UTAMA PADA 6 KORIDOR
SUMATERA
JAWA
KALIMANTAN
SULAWESI
BALI-‐Nusa
Tenggara
PAPUA-‐
Kep.Maluku
1
2
3
4
5
Menilai Pentingnya Peranan SDM
SALAH SATU PILAR KUNCI KEBERHASILAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (MP3EI)
TERLETAK PADA TERSEDIANYA SDM YANG KOMPETEN DAN BERKUALITAS
SUMBER DAYA
MANUSIA YANG
Menyusun Strategi Pengembangan SDM
MASING-‐MASING INDUSTRI HARUS BERUSAHA MEMPERSIAPKAN SDM YANG
KOMPETEN SESUAI DENGAN KEBUTUHAN SEKTOR INDUSTRINYA
& &
&
&
&
&&
Mencermati Tantangan dan Peluang
KEBERADAAN SDM YANG KOMPETEN AKAN MAMPU MEMBERIKAN KEUNGGULAN
KOMPETITIF BAGI BANGSA DI TENGAH LINGKUNGAN PERSAINGAN GLOBAL
KOMPETEN
berarV “memiliki kualifikasi untuk melakukan proses pekerjaan tertentu”
Cara Mengasah Kompetensi
Pendidikan PelaVhan
Belajar Mandiri
Pengalaman
Pengakuan Kepemilikan Kompetensi
SERTIFIKAT
KELULUSAN
PENDIDIKAN FORMAL SEBAGAI
PENGAKUAN KETUNTASAN STUDI
BERDASARKAN STANDAR
KOMPETENSI LULUSAN
PADA
BIDANG ILMU YANG DIPELAJARI
DAN DITEKUNINYA
SERTIFIKAT
KOMPETENSI
KERJA
NASIONAL DARI
BNSP
SEBAGAI PENGAKUAN
KEPEMILIKAN KOMPETENSI
SESUAI
STANDAR INDUSTRI
DAN
DIAKUI SECARA
NASIONAL
MAUPUN
INTERNASIONAL
SERTIFIKAT KOMPETENSI
IJASAH
Model Integrasi Lembaga Kompetensi
SATUAN
PENDIDIKAN
formal – non formal -‐ informal
LEMBAGA
SERTIFIKASI
PROFESI
SERTIFIKAT KOMPETENSI
IJASAH
PERLU ADANYA INFRASTRUKTUR INSTITUSI YANG MEMUNGKINKAN
DIPADUKANNYA MODEL PENDIDIKAN BERTUJUAN KOMPETENSI SISWA DIDIK
Syarat Pendirian LSP = Lisensi BNSP
ADA ENAM HAL YANG HARUS DIMILIKI INSTITUSI YANG TERTARIK UNTUK
BEROPERASI SEBAGAI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI YANG DILISENSI BNSP
STANDAR
SKEMA
SARANA
SUMBER
Pentingnya Keberadaan Standar
INDUSTRI MELALUI ASOSIASI YANG DIMILIKINYA SECARA KOLEKTIF MENDEFINISIKAN
DAN MENDESKRIPSIKAN KOMPETENSI KERJA SDM YANG DIBUTUHKAN SAAT INI
INDUSTRI
ASOSIASI PROFESI
ASOSIASI INSTITUSI
+
STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA
Konvensi untuk Menyepakati Standar
SELURUH PEMANGKU KEPENTINGAN BERKUMPUL BERSAMA DALAM SEBUAH
KONVENSI NASIONAL UNTUK BERSEPAKAT MENETAPKAN STANDAR KOMPETENSI
STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA
ASOSIASI PROFESI
+
+
+
ASOSIASI INSTITUSI KEMENTRIAN TEKNIS AKADEMISI KOMUNITAS
+
menyaksikan
+
STAKEHOLDER
Mensosialisasikan Standar Kompetensi
PARA PEMANGKU KEPENTINGAN SECARA BERSAMA-‐SAMA MENSOSIALISASIKAN
SKKNI SEBAGAI HASIL KONVENSI KE PUBLIK DAN SELURUH PIHAK TERKAIT
menggunakan
Mempesiapkan Mekanisme Sertifikasi
ASOSIASI INDUSTRI DAN BERBAGAI PIHAK YANG BERKEPENTINGAN MENGADAKAN
RAPAT MEMPELAJARI DAN MEMPERSIAPKAN INFRASTRUKTUR SERTIFIKASI
Panduan BNSP
+
Komponen Infrastruktur dan Suprastruktur Sistem SerVfikasi
Mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi
INDUSTRI SEGERA MENDIRIKAN CIKAL BAKAL LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
DIMANA KELAK AKAN DILISENSI OLEH BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
INDUSTRI
Mengembangkan Jejaring Tempat Uji Kompetensi
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MENUNJUK ATAU MENETAPKAN JEJARING TEMPAT
UJI KOMPETENSI YANG AKAN DIPERGUNAKAN DALAM PROSES SERTIFIKASI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
…..
Merekrut dan Mempersiapkan Asesor Kompetensi
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MEREKRUT DAN MEMPERSIAPKAN SUMBER DAYA
MANUSIA YANG MEMILIKI REKAM JEJAK SEBAGAI ASESOR KOMPETENSI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
ASESOR KOMPETENSI
Mengajukan Lisensi ke BNSP
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MENGAJUKAN PERMOHONAN UNTUK
MENDAPATKAN LISENSI RESMI DARI BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
MANAJEMEN
TEMPAT UJI KOMPETENSI
ASESOR KOMPETENSI INDUSTRI
Menilai dan Mengkaji Kesiapan LSP
BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI MENUGASKAN ASESOR LISENSI UNTUK
MENILAI KESIAPAN DAN KAPABILITAS CALON LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
MANAJEMEN
TEMPAT UJI KOMPETENSI
ASESOR KOMPETENSI
menugaskan
menilai
Memberikan Lisensi kepada LSP
BERDASARKAN PENILAIAN ASESOR, BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI
MEMBERIKAN LISENSI KEPADA LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI TERKAIT
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
memberikan lisensi
INDUSTRI
menyaksikan
MEDIA MASSA
Mengajukan Uji Kompetensi
INDUSTRI
SUMBER DAYA MANUSIA
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
mengajukan permohonan uji kompetensi
TEMPAT UJI KOMPETENSI
ASESOR KOMPETENSI
menjadwal dan mengalokasikan
Melaksanakan Uji Kompetensi
SESUAI DENGAN JADWAL YANG DITENTUKAN, LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
MELAKUKAN SERANGKAIAN UJI KOMPETENSI DENGAN BERSANDAR PADA SKKNI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
…..
TEMPAT UJI KOMPETENSI #1 TEMPAT UJI KOMPETENSI #2 TEMPAT UJI KOMPETENSI #3 TEMPAT UJI KOMPETENSI #N
Menetapkan Hasil Uji Kompetensi
HASIL UJI ASESOR KOMPETENSI MENENTUKAN KOMPETEN TIDAKNYA SEORANG
PESERTA UNTUK SELANJUTNYA DIBERIKAN TIDAKNYA SERTIFIKAT KOMPETENSI
LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI
ASESOR KOMPETENSI
melaporkan hasil uji kompetensi
menerbitkan melaporkan
diserahkan kepada
Memelihara Kompetensi
SECARA BERKALA SEORANG PROFESIONAL AKAN MELAKUKAN PROSES
PEMELIHARAAN KOMPETENSI YANG DIMILIKINYA MELALUI BERAGAM MEKANISME
SDM KOMPETEN
RE-‐SERTIFIKASI (UJI KOMPETENSI)
MENGIKUTI SEMINAR, KONFERENSI, PELATIHAN,
ATAU LOKAKARYA MENERAPKAN KOMPETENSI
DALAM PEKERJAAN DAN PENUGASAN SEHARI-‐HARI
MELIBATKAN DIRI PADA ASOSIASI PROFESI/INDUSTRI
INDUSTRI
STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA
Mengendalikan Kualitas Proses
BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI SECARA PERIODIK MELAKUKAN
PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN UNTUK MENJAMIN MANAJEMEN KUALITAS
memantau, mengawasi, dan mengendalikan
memperpanjang (relisensi) atau menghen9kan (suspensi)
Mempromosikan Sertifikat Nasional
BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI MEMPROMOSIKAN DAN MEMETAKAN
SERTIFIKAT AGAR DIAKUI SECARA FORMAL OLEH DUNIA INTERNASIONAL
PENDIDIKAN BERTUJUAN KOMPETENSI SISWA
HARUS ADA STANDAR YANG DIACU
Manajemen Perbankan
SKKNI
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia disusun oleh industri dan kementrian teknis melalui serangkaian p r o s e s p e n d e f i n i s i a n k e b u t u h a n h i n g g a penyelenggaraan konvensi yang dihadiri oleh seluruh a s o s i a s i p e m a n g k u kepentingan dan pihak-pihak terkait dan dijadikan sebagai a c u a n o l e h L e m b a g a Sertifikasi Profesi.
Pada dasarnya, terdapat b a n y a k s e k a l i s t a n d a r kompetensi kerja yang telah dikembangkan oleh industri, b a i k d a l a m l i n g k u n g a n nasional, regional, maupun internasional yang dapat diadopsi oleh siapapun yang membutuhkannya.
I n t i n y a a d a l a h b a h w a kompetensi harus dapat didefinisikan secara jelas agar dapat disusun strategi p e n c a p a i a n n y a s e s u a i dengan keinginan.
Teknologi Informasi
Contohnya adalah standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang IT Auditor (dikeluarkan oleh I S A C A d a n I T G I ) , a t a u I T P r o j e c t M a n a g e r (diperkenalkan oleh PMI dan GWU), atau IT Architect (dikembangkan oleh IASA dan TOGAF), atau Software Engineer (dibuat oleh SEI dan CMU), dan lain sebagainya.
Prinsip 1
HARUS MEMAHAMI ANATOMI KOMPETENSI
Kompetensi Kerja
Elemen Kompetensi
Bagian terkecil atau atom dari kompetensi disebut atau diistilahkan sebagai “elemen kompetensi”, yaitu sebuah pernyataan kapabilitas yang menggunakan kata kerja performatif agar dapat dengan mudah diukur tingkat pencapaiannya.
Indikator Unjuk Kerja
Adalah suatu ukuran yang dipergunakan untuk memastikan ketercapaian kompetensi seorang individu. Indikator ini harus didefinisikan sedemikian rupa sehingga selain mudah dilakukan pengukurannya, juga menggambarkan tingkat kehandalan pencapaian kompetensi seseorang (akurasi dan presisi). Jika kurang akurasi maka dibutuhkan latihan; sementara jika kurang presisi dibutuhkan ‘jam terbang’ yang lebih.
Prinsip 2
Dalam Taksonomi Bloom telah diperkenalkan daftar kata kerja performatif yang dapat dipergunakan untuk mendefinisikan elemen kompetensi yang ingin dicapai dan dapat dipergunakan oleh siapa saja yang membutuhkannya.
Kluster dan Okupasi
HARUS MEMIMIKKAN DUNIA KERJA
Lingkungan Kerja
Suasana Kelas
Interaksi antara peserta didik dengan dosennya harus sedapat mungkin membawa suasana pada terciptanya sebuah lingkungan yang menyamai dunia kerja dimana di dalamnya terdapat interaksi intensif, diskursus berkualitas, komunikasi kontekstual, dan lain sebagainya.
Model Pembelajaran
Dalam konteks ini, metode mengajar belajar konvensional biasanya sudah ditinggalkan – diganti dengan menitikberatkan pada kesempatan siswa untuk mempelajari studi kasus, membangun kerjasama tim, mengikuti kompetisi/simulasi bisnis, memaparkan ide-ide inovatif, mengembangkan ilmu secara mandiri, melaksanakan pembelajaran jarak jauh (e-learning), dan lain sebagainya.
Prinsip 3
Ruang dan suasana kelas maupun laboratorium harus d i k e m b a n g k a n s e d e m i k i a n r u p a s e h i n g g a merepresentasikan lingkungan kerja, sehingga peserta didik dapat memperoleh gambaran apa yang terjadi di dunia nyata. Hal paling mudah dilaksanakan adalah dengan merubahan tatanan kelas, dari yang bersifat teatrikal konvensional menjadi berbagai bentuk seperti yang kerap ditemui di kantor-kantor komersial seperti lingkaran, U-shape, berhadap-hadapan, dan lain-lain.
Tenaga Pendidik
HARUS MELATIH SISWA HINGGA KOMPETEN
Latihan
…
Latihan
…
Prinsip
Setiap individu memiliki kemampuan belajar, memahami, mencerna, menyerap, dan mempraktekkan yang berbeda-beda – sehingga merupakan tantangan bagi dosen untuk membuat masing-masing dari mereka menjadi kompeten dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda.
Teknik Pembelajaran
Di sinilah seorang dosen benar-benar dituntut untuk menjadi seorang fasilitator sekaligus pelatih (coach) yang baik, karena harus membuat suatu suasana mengajar-belajar yang mengarah pada tercapainya kompetensi siswa. Dalam hal ini, seorang dosen dapat menghadirkan pihak-pihak lain yang dapat membantu tercapainya kompetensi siswa sesuai dengan bidang yang ditekuni.
Prinsip 4
Untuk menjadikan seseorang menjadi individu yang komepten, yang bersangkutan harus secara aktif melakukan latihan berkali-kali sampai memenuhi indikator unjuk kerja yang ditetapkan – tanpa mengenal usia, waktu, dan biaya.
Di sinilah terdapat paradigma “mahasiswa tidak bisa menunggu” apa yang akan disampaikan dosen, melainkan yang bersangkutan harus secara aktif melakukannya agar bisa mencapai tahapan yang dikatakan sebagai “kompeten” dengan berbagai cara.
Spektrum Nilai
HARUS MENGGUNAKAN PENDEKATAN TERPADU
Makna Kompetensi
Alur Pembelajaran
Bayangkan jika seorang instruktur harus mengajarkan siswa-siswanya agar pandai berenang atau pandai naik sepeda. Pencapaian kompetensi akan sangat lambat dan cenderung mustahil jika dilakukan secara bertahap melalui proses yang bersifat teoritis dahulu baru praktek (sekuensial). Proses baru akan berhasil apabila dilakukan metoda pelatihan yang terintegrasi dimana secara perlahan-lahan instruktur mengajak siswanya untuk langsung masuk ke kolam renang atau mengendarai sepeda untuk belajar melalui perpaduan antara pengetahuan, pengalaman (experience), keterampilan dan eksperimen. Contoh lain adalah jika ingin menanamkan kompetensi kepemimpinan dalam diri seorang peserta didik, maka yang bersangkutan harus pernah mendapatkan kesempatan memimpin sekelompok komunitas secara nyata.
Manajemen Mata Kuliah
Dalam konteks ketuntasan pencapaian kompetensi di perguruan tinggi, dapat dilakukan berbagai metode klusterisasi mata kuliah, dimana ada pencapaian kompetensi per-mata kuliah atau per-kelompok mata kuliah atau sub mata kuliah atau bahkan per-pertemuan tatap muka.
Prinsip 5
Terjemahan bebas kompetensi adalah “kemampuan seorang individu dalam melakukan suatu tugas pekerjaan tertentu dengan baik”.
HARUS ADA MEKANISME UJI KOMPETENSI
Uji Kompetensi
Bentuk Evaluasi
Setiap peserta uji harus melakukan suatu “performance” atau memperlihatkan keterampilannya dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu di hadapan “asesor”.
Asesor yang dimaksud di sini seharusnya bukanlah dosen atau instruktur yang mengajari atau melatih peserta didik yang bersangkutan karena akan terjadi “conflict of interest” melainkan harus dari pihak independen yang menguasai atau tahu benar mengenai kompetensi yang diujikan.
Pada akhirnya, asesor akan memberikan hasil evaluasinya kepada dosen atau perguruan tinggi yang b e r s a n g k u t a n u n t u k d i t e t a p k a n a p a k a h y a n g bersangkutan telah dinilai memiliki kompetensi yang diujikan atau tidak.
Manajemen Ujian
Agak sulit menjalankan uji kompetensi dimaksud secara masif, karena setiap peserta didik harus diuji secara individu oleh asesor. Oleh karena itulah perlu dilakukan manajemen ujian yang efektif namun efisien bagi seluruh pihak sehingga dapat tercapai terlaksananya proses evaluasi yang diinginkan.
Prinsip 6
HARUS ADA PENGAKUAN KOMPETENSI
Sertifikat Kompetensi
Ijazah vs. Sertifikat
Karena ijazah pada hakekatnya merupakan tanda kelulusan, maka sifatnya adalah berlaku seumur hidup. Sementara untuk sertifikat bersifat sementara, karena kompetensi seseorang dapat pudar atau tidak relevan lagi akibat terjadinya perubahan atau dinamika kebutuhan industri – sehingga dokumen ini memiliki usia berlaku (misalnya 2, 3, atau 5 tahun). Untuk memperlihatkan bahwa yang bersangkutan tetap kompeten, maka dapat dilakukan proses re-sertifikasi, uji kompetensi, atau mengikuti program-program pemeliharaan kompetensi yang dirancang khusus oleh berbagai pihak yang berkepentingan.
Peran Pemerintah dan Industri
Standar Nasional Pendidikan disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk menjamin setiap satuan pendidikan memiliki kriteria minimum pencapaian mutu dalam 8 (delapan) aspek, yaitu: kompetensi lulusan, isi/konten, tenaga kependidikan, proses, sarana prasarana, pengelolaan, dan penilaian. Sementara standar kompetensi kerja dikembangkan oleh industri yang bersangkutan dengan kementrian terkait, dan uji sertifikasinya dilakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui LSP-LSP yang dibentuknya.
Prinsip 7
Seperti yang tertulis dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, pengakuan telah tuntasnya seorang peserta didik belajar dapat dinyatakan melalui penerbitan dua jenis dokumen, yaitu: ijazah dan/atau sertifikat kompetensi.
HARUS ADA SKEMA SERTIFIKASI
Skema Sertifikasi
Dinamika Kompetensi
Karena sifatnya yang dinamis, setiap perguruan tinggi yang ingin menerapkan KBK harus memiliki skema sertifikasi yang baku diterapkan di industri. Untuk Indonesia dapat mengacu pada skema sertifikasi yang telah dikembangkan oleh BNSP dimana perguruan tinggi berkesempatan menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi Tingkat Satu (LSP-1) sejauh memenuhi sejumlah persyaratan yang berlaku, yaitu memiliki 5S: Standar, Skema, Sarana Prasarana, Sumber Daya, dan Surveilans.
Tantangan dan Peluang
Dengan demikian paka lulusan perguruan tinggi tidak saja dibekali dengan ijazah, namun juga sejumlah sertifikat kompetensi sebagai bukti bahwa peserta didik telah menempuh program pembelajaran dimaksud dan telah kompeten di bidang yang digelutinya.
Disamping itu, alumni tersebut akan selalu kembali ke kampus apabila perguruan tinggi yang bersangkutan memiliki infrastruktur dan superstruktur untuk pemeliharaan dan pengembangan kompetensi yang bersifat dinamis tersebut, sehingga cita-cita “link and match” antara perguruan tinggi dengan dunia industri dapat tercapai.
Prinsip 8
NATIONAL$INDUSTRY$
GLOBALISATION$
AGENDA$ COMPETITION$PHENOMENA$ INTERNATIONAL$AGREEMENT$ WORKFORCE$MARKET$
NATIONAL$
REFORM$ EMPOWEREMENT$STRATEGY$ REGULATION$POLICY$AND$ ECONOMY,$SOCIAL,$and$POLITICS$
SKKNI$
External)Forces)
Internal)Forces)
LSP$LSP$ LSP$
TUK$ TUK$ TUK$ TUK$
HARUS ADA PANDUAN MANAJEMEN MUTU
PEDOMAN BNSP 103 Rev 1-2010
1 dari 22
PEDOMAN BNSP 217-2009
1 dari 8 Pedoman BNSP 301-Rev 1-2009
1 / 16
Badan Nasional Sertifikasi Profesi - BNSP
Draft Final
Pedoman Penyusunan Materi Uji Kompetensi 1 / 22