• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP MENTAL DAN ETIKA PROFESI HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SIKAP MENTAL DAN ETIKA PROFESI HUKUM"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

RPKPS

(RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) SIKAP MENTAL DAN ETIKA PROFESI HUKUM

A. LATAR BELAKANG

Program studi Ilmu Hukum banyak yang mengartikan sebagai program studi yang mengandalkan hafalan dan cenderung untuk menjadi pengangguran setelah lulus dari Fakultas Hukum. Pencirian ini terjadi juga di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Mengubah stigma ini perlu dilakukan sedini mungkin dengan cara membekali mereka dengan satu jenis mata kuliah yang menekankan sikap mental yang berorientasi pada profesi hukum bagi mahasiswa baru untuk konsolidasi internal dan eksternal. Konsolidasi internal berarti memunculkan pre-knowledge para mahasiswa dalam rangka memberikan penguatan perspektif, konteks dan logika hukum bagi mereka untuk mempelajari pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan hukum selnajutnya dan untuk mereduksi dan menghilangkan stigma itu.

Konsolidasi eksternal berarti pemberian mata kuliah tersebut ditujukan untuk membekali para mahasiswa setelah lulus dari Fakultas Hukum UGM untuk mampu mengaplikasikan ilmu hukum yang mereka peroleh yaitu dari aspek pengetahuan (knowledge), ketrampilan hukum (skills) dan nilai-nilai (value) pada profesi yang akan dijalani.

Pembekalan ilmu pengetahuan hukum menjadi dasar fundamental untuk menarik mintal akademis dari mahasiswa dengan aplikasi hukum yang dikaitkan dengan masalah-masalah aktual keprofesian, seperti hakim, jaksa, pengacara, birokrat dan aparat penegak hukum lainnya.

Di samping pembekalan pengetahuan, ketrampilan hukum terhadap aplikasi kemampuan analitis, argumentatif dan solutif terhadap permasalahan profesi hukum. Penekanan terhadap kontekstualisasi, perspektif dan logika hukum menjadi elemen utama pendekatan pengajaran mata kuliah sikap mental dan etika profesi hukum.

(2)

Ketiga tujuan pembelajaran tersebut dengan penekanan pada kontekstualisasi, perspektif dan penekanan logika hukum akan dilaksanakan dengan memberikan porsi atau kedudukan mahasiswa sebagai subyek pembelajaran dengan cara dua arah, simultan, holistik dengan pendekatan manusiawi. Cara pembelajaran menggunakan kombinasi pembelajaran Student Centred Learning (SCL) dan

Teacher Centred Learning (TCL) dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN

1. Nama : Sikap mental dan Etika Profesi Hukum

2. Kode : HKU – 1114

3. Sasaran : Mahasiswa Baru 2014

4. Pengelola : Heribertus Jaka Triyana, S.H., LL.M., M.A Antari Innaka, S.H., M.H.

Dian Agung Wicaksono, S.H., LL.M

5. Dosen / Tutor : Dosen Bagian yang ditunjuk oleh Ketua Bagian 6. Tujuan Pembelajaran :

Penguatan perspektif, konteks dan logika hukum menjadi tujuan dasar pelaksanaan program ini, sehingga setelah mengikuti mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan memahami sikap mental dan etika profesi hukum sebagai landasan ketika mereka mempelajari pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan hukum selnajutnya.

7. Materi Pembelajaran : a. Topik Bahasan :

(3)

Kelompok I dan II diampu Bagian Hukum Internasional - Kelompok III dan IV diampu Bagian Hukum Tata Negara;

- Kelompok V dan VI diampu Bagian Hukum Administrasi Negara; - Kelompok VII dan VIII diampu Bagian Hukum Islam;

- Kelompok IX dan X diampu Bagian Hukum Acara; - Kelompok XI dan XII diampu Bagian Hukum Pidana;

- Kelompok XIII dan XIV diampu Bagian Hukum Lingkungan; - Kelompok XV dan XVI diampu Bagian Hukum Agraria; - Kelompok XVII dan XVIII diampu Bagian Hukum Perdata; - Kelompok XIX dan XX diampu Bagian Hukum Dagang; - Kelompok XXI dan XXII diampu Bagian Hukum Adat; - Kelompok XXIII dan XXIV diampu Bagian Hukum Pajak; * Profesionalisme

Sikap dan perilaku yang mencerminkan profesionalisme dalma berkarya, bekerja dan belajar serta eksplorasi wawasan mengenai bidang kerja dan tanggung jawab pekerjaan akan dijadikan olahan permaslaahan yang memancing nalar, logika berfikir dan penghayatan akan nilai-nilai profesionalisme pekerjaan.

(4)

Rincian : 2 Profesi Hakim Pembacaan dan

pemahaman

3 Profesi Hakim Melaporkan hasil belajar mandiri 4 Profesi Jaksa Melaporkan hasil

(5)

NARA SUMBER DIALOG

5 Profesi Polisi Melaporkan hasil belajar mandiri (langkah 6) dan menganalisis

Diskusi 150’

Profesi Dosen Pembacaan dan pemahaman 6 Profesi Dosen Melaporkan hasil

belajar mandiri (langkah 6) dan menganalisis

Diskusi 150’

Profesi Advokat Pembacaan dan pemahaman 7 Profesi Advokat Melaporkan hasil

belajar mandiri (langkah 6) dan menganalisis

Diskusi 150’

8-9

10 Profesi Notaris Pembacaan dan pemahaman

(6)

NARA SUMBER DIALOG

Profesi Kurator Pembacaan dan pemahaman 13 Profesi Kurator Melaporkan hasil

belajar mandiri (langkah 6) dan menganalisis

Diskusi 150’

Profesi Diplomat Pembacaan dan pemahaman 14 Profesi diplomat Melaporkan hasil

belajar mandiri (langkah 6) dan menganalisis

Diskusi 150’

15-16

10 Profesi Notaris Pembacaan dan pemahaman

11 Profesi Notaris Melaporkan hasil belajar mandiri

8. Metode Pembelajaran : SCL dengan Metode PBL

(7)

Eksistensi mengenai metode pembelajaran dan evaluasi pembelajaran di Fakultas Hukum, khususnya di Fakultas Hukum UGM telah lama menjadi bahan pemikiran dalam rangka meningkatkan kualitas dan akuntabilitas pendidikan hukum di FH UGM1. Namun demikian, realisasi terhadap

perancangan, pembuatan dan pelaksanaan metode pengajaran dan evaluasi pembelajaran di FH UGM masih banyak mendapat hambatan dan tantangan dinamisasi dari civitas akademika itu sendiri, disamping perubahan eksternal UGM sebagai badan Usaha Milik Negara.

Hambatan-hambatan tersebut adalah kurangnya pengertian dan pemahaman mengenai arti penting metode pengajaran dan evaluasi baik dalam pengertian substansi maupun dalam pengertian teknis operatif. Selain itu, peran dosen dan mahasiswa sebagai perancang, pembuat dan pelaksana metode pengajaran dan evaluasi pembelajaran menjadi kendala utama selanjutnya dengan munculnya indikator ketidakmauan (unwillingness) dan ketidakmampuan (inability) dalam pelaksanaannya, apalagi semangat yang dibangun sekarang adalah pelaksanaan Student Center Learning (SCL) yang mengarah pada Problem Based Learning (PBL) yang merupakan evaluasi dari Teacher Centred Learning (TCL)2. Pelaksanaan dari program percepatan pembelajaran lewat kombinasi cara pembelajaran antara SCL dan TCL akan diterapkan bagi mahasiswa baru FH UGM mulai tahun ajaran 2014/2015. b. Struktur Tutorial :

Kasus (skenario) didesain sesuai dengan topik bahasan masing-masing, untuk kemudian didiskusikan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Klarifikasi terminologi yang tidak jelas maknanya 2) Penetapan masalah

3) Curah pendapat pengembangan hipoptesis

4) Merangkai penjelasan untuk kepentingan pemecahan masalah sementara 5) Penetapan tujuan pembelajaran

6) Pengumpulan informasi dan belajar secara mandiri

1 Lihat argumen dari Churchill yang melihat bahwa metode dan evaluasi

pembelajaran di Fakultas tidak bisa dilepaskan dengan literatur hukum dalam Gregory Churchill, 1898, Petunjuk Penelusuran Literatur Hukum Indonesia, PDH UI, Jakarta, hlm.5

2 Baca argumen Geofrey . orman & Henk G. Schmidt, “Efectiveness oo

(8)

7) Berbagi hasil pencarian informasi (diskusi)

Ketujuh langkah tersebut lazim disebut dengan pendekatan The seven jumps

(tujuh langkah) pembelajaran. The seven jumps merupakan dasar dalam pelaksanaan diskusi kelompok dengan metode Problem-based learning. Rincian ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :3

Langkah 1 : Klarifikasi Terminologi yang tidak jelas maknanya

a. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi istilah atau kata-kata yang maknanya kurang jelas.

b. Tanyakan pada kelompok, barangkali ada anggota kelompok yang mengetahui dan dapat menjelaskan atau mendefinisikan istilah / kata-kata yang dianggap kurang jelas maknanya.

c. Tahap ini mahasiswa perlu memiliki perasaan aman tanpa perasaan malu atau takut dan harus jujur tentang hal-hal yang dianggapnya kurang jelas. Tutor berperan memancing mahasiswa untuk lebih berani berpendapat dan mengeksplorasi istilah/kata-kata yang kurang jelas maknanya.

1) Istilah/kata-kata yang tidak jelas maknanya dapat menjadi hambatan dalam pemahaman makna skenario secara keseluruhan. Klarifikasi yang bersifat setengah jalan dapat menjadi pijakan dalam proses diskusi. 2) Istilah/kata-kata yang belum disetujui maknanya oleh kelompok ditulis

(dalam daftar) sebagai tujuan pembelajaran, yaitu hal-hal yang akan dikupas lebih lanjut.

Langkah 2 : Penetapan Masalah

a. Mahasiswa didorong untuk berpartisipasi menyumbangkan pandangannya terhadap masalah yang sedang dibahas.

b. Tugas tutor mendorong para mahasiswa untuk memberikan sumbangan pikiran dan kemudian mengembangkannya secara luas dan cepat. c. Hasil tertulis berupa daftar topik yang perlu dijelaskan lebih lanjut.

Setiap anggota kelompok sangat mungkin mempunyai pandangan yang sangat berbeda terhadap masalah yang sedang dibahas.

Langkah 3 : Curah Pendapat Pengembangan Hippotesis

3 Harsono, 2005, Pengantar Problem-Based Learning, Edisi Kedua, Medika Fakultas

(9)

a. Tahap ini merupakan sesi terbuka tahap lanjut, dimana mahasiswa diminta untuk membuat formulasi, mencocokkan dan membandingkan buah pikiran mereka sebagai suatu penjelasan terhadap masalah atau kasus yang sedang dibahas.

b. Tugas tutor menjaga diskusi agar tetap dalam tahap hipotesis dan mecegah terjadinya diskusi yang terlalu rinci dan terlalu cepat.

c. Hipotesis berarti suatu usulan pikiran yang diajukan baik sebagai dasar penalaran tanpa asumsi keberanannya, atau sebagai titik awal pemikiran lebih lanjut.

d. Penjelasan berarti pemahaman rinci dan lebih dimengerti dengan maksud untuk pemahaman kelompok yang lebih baik.

e. Hasil tertulis berupa hipotesis atau penjelasan

1) Tahap ini adalah tahap yang sangat penting dan memerlukan prior knowledge mahasiswa.

2) Dalam langkah ini setiap anggota kelompok berkesempatan untuk mencocokkan atau menarik kembali pemahamannya sesuai dengan proses diskusi yang sedang berlangsung.

3) Rantai hipotesis atau penjelasan dapat dibangun dari hal-hal yang belum dipahami sepenuhnya oleh kelompok. Apabila proses ini dapat dilaksanakan secara baik, maka kelompok akan memperoleh makna pembelajaran yang dalam bukan lagi superficial atau sekedar daftar fakta.

Langkah 4 : Merangkai Penjelasan untuk Kepentingan Pemecahan masalah Sementara

a. Tahap ini mahasiswa akan memiliki buah pikiran yang berbeda-beda. Masalah dibahas lebih teliti dan dibandingkan hipotesis atau penjelasan yang sedang dikembangkan, untuk mengetahui apakah sudah ada kesesuaian makna atau belum. Bila belum ada kesesuaian maka perlu eksplorasi lebih lanjut. Dari sini kemudian kelompok mengembangkan tujuan pembelajaran dengan tidak tergesa-gesa.

(10)

berbeda. Proses ini menghasilkan catatan yang menggambarkan hubungan antara bagian-bagian informasi yang berbeda dan informasi yang telah tersimpan di dalam memori lama.

Tahap ini merupakan proses yang sangat aktif dan juga merupakan langkah restrukturisasi pengetahuan serta mengidentifikasi adanya kesenjangan pemahaman. Penentuan tujuan pembelajaran secara tergesa-gesa akan mengakibatkan proses pengembangan intelektual melalui jalan pintas, dengan demikian akan menghasilkan tujuan pembelajaran yang terlalu lebar dan superficial.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

a. Tahap ini kelompok sepakat tentang tujuan pembelajaran yang akan dipelajari oleh seluruh anggota kelompok. Tutor menyarankan kelompok agar berpikir lebih fokus, tidak melebar dan tujuan pembelajaran harus dapat dicapai dalam waktu yang ditentukan.

b. Hasil tertulis berupa tujuan pembelajaran yang merupakan hasil awal dari kerja kelompok. Tujuan pembelajaran diekspresikan dalam bentuk pertanyaan yang spesifik atau dalam kalimat hipotesis.

Tahap ini bukan hanya merupakan tujuan pembelajaran tetapi juga membuat kesimpulan sementara diskusi secara bersama-sama.

Langkah 6 : Pengumpulan Informasi dan Belajar Secara Mandiri a. Tahap ini mahasiswa diminta bekerja secara mandiri/independen

(privat study). Kegiatan mahasiswa mencari informasi baik melalui perpustakaan untuk mencari buku, jurnal, internet, disket, CD-ROM, video dan pakar atau apa saja yang menyediakan informasi yang tepat sesuai dengan topik bahasan.

b. Hasil tertulis berupa catatan mahasiswa secara individual

Langkah ke-6 ini merupakan proses pencarian dan penemuan informasi baru melalui usaha para mhasiswa sendiri. Langkah ke-6 memerlukan waktu beberapa hari sesuai dengan alokasi waktu/jadwal yang ditetapkan.

(11)

a. Langkah 7 dilaksanakan setelah diselesaikan langkah 6, yaitu pada pertemuan perkuliahan minggu berikutnya.

b. Pada awalnya kelompok kembali pada tujuan pembelajaran yang telah disepakati bersama.

c. Setiap anggota kelompok melaporkan sumber-sumber belajar yang digunakan dan hasil penelusuran informasi yang telah dicapainya. d. Seluruh hasil penelusuran informasi dikelompokkan dan apabila masih

ada kesulitan maka hal itu ditetapkan sebagai bahan studi lebih lanjut (bila perlu dengan bantuan dosen/pakar).

e. Setelah selesai maka para mahasiswa mencoba untuk menganalisis seluruh permasalahan secara lengkap.

c. Peran dan Tanggung Jawab Pembelajar (Mahasiswa) :

Hakikat tutorial bagi pembelajar adalah suatu proses diskusi kelompok yang memerlukan ketrampilan manajemen. Ketrampilan manajemen terkait dengan proses diskusi, struktur diskusi dan isi/materi diskusi. Dalam diskusi satu persatu para pembelajar memperoleh pengalaman sebagai pemimpin kelompok, sekretaris diskusi dan anggota kelompok yang bertanggung jawab atas keberhasilan jalannya diskusi. Peran pembelajaran dalam ketrampilan manajemen tutorial adalah sebagai berikut :

1. Setiap anggota kelompok saling mengenalkan diri untuk mencairkan kebekuan dan tiap anggota kelompok membuka diri serta berinteraksi secara bebas.

2. Anggota kelompok memilih satu orang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih secara demokratis.

3. Menetapkan prosedur diskusi, yaitu tentang bagaimana pokok bahasan didiskusikan, bagaimana memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien serta bagaimana menetapkan keputusan kelompok.

4. Pokok bahasan (skenario/kasus) harus dibaca oleh seluruh anggota kelompok.

5. Setelah membaca skenario, ketua kelompok membuka diskusi dengan mengajukan pertanyaan kepada para anggota.

6. Seluruh anggota bertanggung jawab atas pencapaian tujuan pembelajaran. 7. Sekretaris sebagai anggota kelompok tetap harus aktif berpartisipasi

(12)

8. Sekretaris harus mendengarkan pendapat anggota dan mencatat kesimpulan sementara (bukan mencatat kata demi kata yang diucapkan anggota kelompok).

9. Sekretaris mengelompokkan hasil diskusi dalam kategori tertentu sehingga hasil diskusi dapat disusun secara terstruktur. Selanjutnya hasil itu dicermati oleh kelompok apakah sudah sesuai dengan konsep yang dikembangkan kelompok.

10. Selanjutnya pembelajar masih harus menelusuri informasi secara mandiri baik melalui buku, jurnal, internet, video, CD-ROM ataupun pakar dalam bidang pokok bahasan. Penelusuran informasi harus didasarkan rasa tanggung jawab yang besar baik bagi diri sendiri maupun teman pembelajar lainnya.

11. Seluruh hasil penelusuran informasi mandiri dilaporkan dalma diskusi berikutnya untuk kemudian dirangkum dalam satu kesimpulan yang berisi pencapaian tujuan pembelajaran.

12. Dalam seluruh proses diskusi para pembelajar harus mengaktifkan prior knowledge yang terkait dengan pokok bahasan yang sedang didiskusikan. Pengaktifan prior knowledge ini perlu dibantu oleh tutor.

Adapun tanggung jawab pembelajar, meliputi : 1. Menghargai proses diskusi

2. Mengembangkan ketrampilan komunikasi

3. Bertanggung jawab dalam kehadiran diskusi, menyelesaikan tugas, menyajikan dan mengidentifikasi informasi yang relevan maupun yang tidak relevan serta keakuratan informasi yang disampaikan.

4. Kesadaran diri / evaluasi diri

d. Tugas dan peran Tutor :

Tugas tutor dapat dikelompokkan menjadi tigas tugas besar, yaitu : tugas pra aktif, tugas interaktif dan tugas pasca aktif

1. Tugas Pra Aktif adalah mendorong dan mengembangkan proses belajar, yang meliputi :

a. Tutor harus mengetahui struktur dan latar belakang skenario / kasus sebagai bahan diskusi

(13)

c. Tutor berusaha untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang prior knowledge para mahasiswa

d. Tutor menjaga proses diskusi tetap konsisten terhadap tujuan pembelajaran

e. Tutor perlu mengetahui proses kognitif mahasiswa, yaitu konsep yang berkembang di anggota kelompok, termasuk kemungkinan konflik di dalamnya

f. Tutor memberi fasilitas belajar mahasiswa, antara lain dengan mengajukan pertanyaan, menggunakan pertanyaan, menggunakan analogi dan metafora atau melakukan klarifikasi konsep

g. Tutor mengajukan pertanyaan dan “menantang” mahasiswa dalam penalaran, evaluasi kritis terhadap ide yang muncul dan hipotesis.

h. Tutor mendiagnosis proses belajar, mendorong perubahan konseptual. i. Tutor mendiagnosis adanya miskonsepsi, mendorong elaborasi gagasan. j. Tutor mengamati alasan-alasan yang diajukan mahasiswa dan

kemungkinan munculnya problem-solving (dalam kerangka PBL)

k. Tutor mencegah terjadinya analisis masalah dan sintesis temuan-temuan yang bersifat superfisial.

l. Tutor mendorong mahasiswa untuk melaksanakan student directed learning.

m. Tutor menyadari diri sendiri, apakah dia menghambat atau mendorong proses kognitif mahasiswa

n. Tutor mengevaluasi secara teratur, apakah para mahasiswa puas dengan proses yang sedang berlangsung, kemudian memberi saran untuk perbaikan.

2. Tugas Interaktif, yaitu mengembangkan dan menjaga kerjasama mahasiswa dan dinamika kelompok, yang meliputi :

a. Tutor mendorong mahasiswa untuk membuat persetujuan diantara mereka dalam hal prosedur kerja, partisipasi dan peran anggota kelompok.

b. Tutor mendorong anggota kelompok untuk aktif c. Tutor membina kepemimpinan kelompok

(14)

e. Tutor mengevaluasi proses diskusi f. Tutor memperhatikan efisiensi waktu g. Tutor mencatat kehadiran mahasiswa

h. Tutor memberikan tanggapan dan menciptakan iklim belajar yang nyaman

i. Tutor memberi dorongan kepada ketua dan sekretaris kelompok

j. Tutor mendorong kelompok untuk membuat evaluasi terhadap kerjasama yang sedang berlangsung

k. Tutor menjaga proses diskusi tetap berlangsung secara dinamik

l. Tutor memberi umpan balik dan mengevaluasi perkembangan/kemajuan kelompok

3. Tugas Pasca-aktif, yaitu sebagai penghubung antara mahasiswa dengan dosen/institusi, yang meliputi :

a. Tutor membantu mahasiswa untuk mencari nara sumber atau konsultan. b. Tutor memberi umpan balik kepada mahasiswa tentang mutu tugas yang

dilaksanakannya sesuai dengan bahan diskusi

c. Tutor menghadiri pertemuan tutor selama periode bahan diskusi yang bersangkutan

Peran Tutor, meliputi : 1. Tutor sebagai fasilitator 2. Tutor sebagai pendengar 3. Tutor sebagai profesional 4. Tutor sebagai pencatat 5. Tutor sebagai evaluator 9. Luaran Pembelajaran

a. Ranah Knowledge & Understanding (15%)

Setelah mengikuti program ini, mahasiswa FH UGM diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pengertian dasar dan ruang lingkup pengetahuan hukum.

b. Ranah Skills (15%)

Setelah mengikuti program ini, mahasiswa FH UGM diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pengertian dasar dan ruang lingkup kemampuan dan ketrampilan hukum.

(15)

Mampu menghasilkan pemahaman mandiri terhadap pemecahan masalah sikap mental dan etika profesi hukum, yaitu terampil mengidentifikasi, mengkonstatasi dan memberikan problem solving berdasarkan argumentasi hukum dengan pendekatan dan perspektif masalah, sesuai dengan kontektualitasnya mengenai sikap mental dan etika profesi hukum.

10. Evaluasi Hasil Pembelajaran

Komponen evaluasi penilaian terdiri atas :

a. Presensi : 20%

b. Ujian Tengah Semester (UTS) : 40% c. Ujian Akhir Semester (UAS) : 40%

Jumlah : 100%

11. Bahan, Sumber Informasi dan Referensi Kode Etik Profesi

RPKPS Bagian-Bagian Yurisprudensi

12. Risiko Kegagalan dan Antisipasi

No Risiko Kegagalan Antisipasi

1. Jika pertemuan tidak lengkap

Pertemuan pengganti akan dilaksanakan pada Hari Sabtu Minggu yang bersangkutan (koordinasi dengan Tim Pengelola Mata Kuliah dan Bagian Akademik)

2. Persyaratan mengikuti test take home

Wajib untuk evaluasi substantif

13. Skenario

a. Profesi Hakim

(16)

adalah Alfred. Sebagai junior, Edo sangat menghormati dan meneladani Alfred sebagai hakim senior dan Ketua Pengadilan Negeri yang memiliki integritas. Bagaimanakah seharusnya Edo bersikap dalam mengadili Alfred ?

Bahan bacaan :

1. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman 2. Keputusan Bersama Ketua MA RI dan Ketua Komisi Yudisial RI No.

047/KMA/SKB/IV/2009 dan No. 02/SKB/P.KY/IV/2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.

Pertemuan 1 : Tujuan Pertemuan :

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami salah satu kode etik hakim yaitu berlaku arif dan bijaksana.

Pra-diskusi :

Salah satu kode etik hakim adalah bahwa hakim dalam melaksanakan tugasnya harus bersikap arif dan bijaksana. Perintah tersebut diatur pada Bagian 3 Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Arif dan bijaksana bermakna mampu bertindak sesuai dengan norma-norma hidup dalam masyarakat baik norma-norma hukum, norma-norma keagamaan, kebiasaan-kebiasaan maupun kesusilaan dengan memperhatikan situasi dan kondisi pada saat itu, serta mampu memperhitungkan akibat dari tindakannya. Perilaku yang arif dan bijaksana mendorong terbentuknya pribadi yang berwawasan luas, mempunyai tenggang rasa yang tinggi, bersikap hati-hati, sabar dan santun.

Langkah 1 : Klarifikasi istilah sulit

* Hakim : menurut UU No. 48 Tahun 2009 pasal poin 5, hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut.

(17)

(perdata, pidana, permohonan) yang melibatkan masyarakat umum sebagai pihak dalam perkara.

Langkah 2 : Masalah yang ditetapkan

Bagaimanakah prinsip arif dan bijaksana diterapkan oleh hakim dalam tugasnya sebagai penegak hukum ?

Langkah 3 : Analisis dan hipotesis

Tujuan pembelajaran yang mungkin ditetapkan :

1. Apakah etis bagi hakim untuk mengadili anaknya/anggota keluarganya dalam suatu perkara ?

2. Akibat hukum apakah yang timbul apabila hakim memeriksa perkara yang melibatkan anggota keluarganya ?

Langkah 4 : Penjelasan atas tujuan pembelajaran

1. Tindakan hakim mengadili perkara yang melibatkan anaknya sendiri tidak etis. Hal ini terdapat dalam Bagian 3.1.3. Kode Etik dan pedoman perilaku hakum yang menyatakan bahwa hakim dilarang mengadili perkara di mana anggota keluarga hakim yang bersangkutan bertindak mewakili suatu pihak yang berperkara atau sebagai pihak yang memiliki kepentingan dengan perkara tersebut. Selain itu pasal 17 ayat (4) UU No. 48 Tahun 2009 juga menentukan bahwa Ketua majelis, hakm anggota, jaksa atau panitera wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami istri meskipun telah bercerai dengan pihak yang diadili atau advokat. Selain itu, seorang hakim atau panitera wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila ia mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas permintaan pihak yang berperkara.

(18)

Langkah 5 : penetapan tujuan pembelajaran

Dalam tahap ini, mahasiswa mendiskusikan lebih lanjut dan menyaring apakah tujuan-tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada langkah 3 relevan dan dapat diterima oleh semua anggota kelompok. Dari diskusi yang dilakukan, mahasiswa diharuskan menghasilkan kesimpulan sementara tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang relevan beserta dengan jawaban sementara. Isi kesimpulan sementara ini diserahkan pada mahasiswa sehingga hasilnya dapat bervariasi antara mahasiswa yang satu dengan yang lain.

Langkah 6 : Pencarian Informasi dan Belajar Mandiri

Dalam tahap ini mahasiswa diharapkan untuk belajar secara mandiri di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiswa ataupun dosen. Tahap ini berfungsi untuk cross check atas hasil diskusi yang telah dilakukan di langkah sebelumnya serta untuk menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang belum dapat dicari jawabannya di kelas. Output dari langkah 6 ini adalah laporan tertulis terhadap kemungkinan tujuan pembelajaran (possible learning goals) yang ditentukan dalam langkah 4 dan juga sarana untuk mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5.

Pertemuan 2 : Tujuan Pertemuan :

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memaparkan hasil studi yang diperoleh masing-masing mahasiswa dan untuk menilai apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan informasi dan hasil belajar mandiri

(19)

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiwa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permasalahan harus dijawba. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk ditelaah.

Kesimpulan :

Prinsip arif dan bijaksana sehubungan dengan kasus ini adalah hakim hendaknya mengundurkan diri sebagai hakim pemeriksa perkara. Karena ada konflik kepentingan yaitu tindakannya sebagai hakim yang harus berlaku adil dan objektif sedangkan disisi lain dia juga sebagai ayah yang punya kewajiban melindungi anaknya.

Hakim dilarang mengadili perkara di mana anggota keluarga hakim yang bersangkutan bertindak mewakili suatu pihak yang berperkara atau sebagai pihak yang memiliki kepentingan dengan perkara tersbeut.

1. Skenario Profesi jaksa

Abraham adalah seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kota Fakfak. Dia sedang menangani kasus narkoba dengan terdakwanya adalah seorang pemulung yang dijebak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab yang menaruh ganja di tas pemulung dan pemulung tersebut ditangkap saat ada razia oleh polisi. Pemulung tersebut mengatakan pada jaksa bahwa dia tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara, sehingga pada tahap penyelidikan, penyidikan pemulung tersebut tidak pernah didampingi oleh pengacara yang membelanya. Abraham sebagai jaksa yang menangani perkara tersebut mengalami gejolak batin. Di satu sisi, Abraham sangat iba dengan kondisi kehidupan pemulung tersebut, namun di sisi yang lain Abraham harus melakukan tugasnya untuk menuntut pemulung tersebut. Apakah yang harus dilakukan oleh Abraham ?

Bahan bacaan :

1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia

(20)

Pertemuan 1 : Tujuan pertemuan

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami kode etik dari jaksa, bahwa jaksa memiliki kewajiban memberitahukan dan/ atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa maupun korban. Disamping itu jaksa dilarang menggunakan kapasitas dan otoritasnya untuk melakukan penekanan secara fisik dan/atau psikis.

Pra-Diskusi

Seorang jaksa memiliki kewajiban untuk memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa maupun korban. Berbagai kewajiban dan larangan bagi jaksa juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

Langkah 1 : Klarifikasi istilah sulit

* Jaksa : pejabat Fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.

* Penyidikan : serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

* Penyelidikan : serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur oleh KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Langkah 2 : Masalah yang ditetapkan

Hal-hal apa saja yang menjadi kewajiban dari jaksa ?

Langkah 3 : Analisis dan Hipotesis

(21)

1. Apakah etis bagi seorang jaksa tidak memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa maupun korban ?

2. Apakah etis bagi seorang jaksa menggunakan kapasitas dan otoritasnya untuk melakukan penekanan secara fisik dan/atau psikis serta menjanjikan keringanan hukuman ?

Langkah 4 : Penjelasan atas tujuan pembelajaran

1. Tindakan jaksa tidak memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka / terdakwa maupun korban adalah tidak etis, karena di dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) apabila terdakwa tidak mampu membayar pengacara, maka Negara wajib menyediakannya.

2. Tindakan jaksa menggunakan kapasitas dan otoritasnya untuk melakukan penekanan secara fisik dan/atau psikis juga tidak etis, jaksa dilarang melakukan penekanan secara fisik dan/atau psikis karena itu melanggar hak asasi manusia tersangka/terdakwa sebagai manusia serta menjanjikan sesuatu yang berkaitan dengan substansi kasus, yang dalam hal ini berupa keringanan hukuman.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

Dalam tahap ini, mahasiswa mendiskusikan lebih lanjut dan menyaring apakah tujuan-tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam langkah 3 relevan dan dapat diterima oleh semua anggota kelompok. Dari diskusi yang dilakukan, mahasiswa diharuskan menghasilkan kesimpulan sementara tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang relevan beserta dengan jawaban sementara. Isi kesimpulan sementara ini diserahkan pada mahasiswa sehingga hasilnya dapat bervariasi antara mahasiswa yang satu dengan yang lain.

Langkah 6 : Pencarian informasi dan belajar mandiri

(22)

masalah-masalah yang belum dapat dicari jawabannya di kelas. Output dari langkah 6 ini adalah laporan tertulis terhadap kemungkinan tujuan pembelajaran (possible learning goals) yang ditentukan dalam langkah 4 dan juga sarana untuk mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5.

Pertemuan 2 : Tujuan pertemuan :

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memaparkan hasil studi yang diperoleh masing-masing mahasiswa dan untuk menilai apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permaslaahan harus dijawab. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk ditelaah.

Kesimpulan :

Tindakan jaksa yang demikian tidak etis, karena jaksa memiliki kewajiban memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa maupun korban. Di dalam KUHAP sudah ditentukan bahwa apabila tersangka/terdakwa tidak memiliki biaya untuk menyewa pengacara, maka negara wajib menyediakannya, sehingga segala biaya dibebankan kepala negara, sebab tersangka/terdakwa memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan. Disamping itu jaksa tidak boleh melakukan penekanan dalam bentuk fisik dan/psikis serta menjanjikan sesuatu yang berkaitan dengan substansi perkara.

(23)

AKBP Djoko adalah seorang polisi yang saat ini menjabat sebagai Kapolres Sleman. Bulan Juni ini keluarga AKBP Djoko merencanakan akan berlibur ke Singapura. Permohonan cuti AKBP Djoko sudah dimasukkan sejak awal bulan Januari yang lalu. Namun, ketika menjelang liburan tiba, terbitlah surat perintah dari Kapolda DIY yang memerintahkan bagi seluruh Kapolres se-DIY untuk tetap berada di kantor masing-masing untuk menjaga situasi terkait isu bombuku. AKBP Djoko pada posisi yang sulit. Dia tetap ingin pergi berlibur dengan keluarganya ke Singapura selama seminggu karena tidak mau mengecewakan hati anak-anaknya dan tiket pun sudah dipesan satu bulan yang lalu. Namun di sisi yang lain, surat perintah Kapolda DIY juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Apa yang harus diperbuat AKBP Djoko?

Bahan bacaan :

1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

2. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin POLRI

3. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsi dan Standar Hak Azasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas POLRI.

4. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor Pol : 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pertemuan 1 : Tujuan Pertemuan :

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami salah satu etika profesi POLRI, yaitu : setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa tidak mengenal waktu istirahat selama 24 jam, atau tidak mengenal hari libur.

Pra-diskusi :

(24)

selama 24 jam, atau tidak mengenal hari libur. Hal ini diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor Pol : 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Langkah 1 : Klarifikasi Istilah Sulit

* POLRI adalah Pegawai Negeri Sipil pada Kepolisian Negara RI (Pasal 1 angka 2 UU No. 2 Tahun 2002).

* AKBP : Ajun Komisaris Besar Polisi, yaitu jabatan perwira menengah di jajaran Kepolisian RI.

Langkah 2 : Masalah yang ditetapkan

Etika apa saja yang harus ditaati oleh negara POLRI dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya ?

Langkah 3 : Analisa dan Hipotesis

Tujuan pembelajaran yang mungkin ditetapkan :

1. Apakah etis bagi seorang Polisi untuk menolak melaksanakan perintah atasan ?

2. Apakah etis bagi seorang Polisi untuk meninggalkan tugas kedinasan dan memilih berlibur dengan keluarga ?

Langkah 4 : Penjelasan atas tujuan pembelajaran

Tindakan POLRI yang demikian tidak etis, karena dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat seharusnya polisi senantiasa tidak mengenal waktu istirahat selama 24 jam, atau tidak mengenal hari libur. Terlebih lagi, di dalam ruang lingkup pelaksanaan tugas dan kewenangannya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia, maka setiap Anggota POLRI dilarang untuk meninggalkan wilayah tugas tanpa izin pimpinan dan menghindarkan diri dari tanggung jawab dinas.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

(25)

tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang relevan beserta dengan jawaban sementara. Isi kesimpulan sementara ini diserahkan pada mahasiswa sehingga hasilnya dapat bervariasi antara mahasiswa yang satu dengan yang lain.

Langkah 6 : Pencarian informasi dan belajar mandiri

Dalam tahap ini mahasiswa diharapkan untuk belajar secara mandiri di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiwa ataupun dosen. Tahap ini berfungsi untuk cross check atas hasil diskusi yang telah di langkah sebelumnya serta untuk menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang belum dapat dicari jawabannya di kelas. Output dari langkah 6 ini adalah laporan tertulis terhadap kemungkinan tujuan pembelajaran (possible learning goals) yang ditentukan dalam langkah 4 dan juga sarana untuk mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5.

Pertemuan 2 : Tujuan pertemuan :

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memaparkan hasil studi yang diperoleh masing-masing mahasiswa dan untuk menilai apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permaslaahan harus dijawab. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk ditelaah.

(26)

Berdasarkan skenario di atas, AKBP Syaiful Anwar sebagai salah satu anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor Pol : 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yaitu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa tidak mengenal waktu istirahat selama 24 jam, atau tidak mengenal hari libur. Namun, AKBP Syaiful Anwar tetap pergi berlibur dengan keluarganya ke Singapura selama seminggu walau tidak mendapatkan izin untuk cuti.

3. Skenario Profesi Dosen

Pak Tejo adalah seorang dosen di sebuah Fakultas hukum yang ternama dan sedang menempuh studi S3 di fakultas hukum tempat beliau bekerja. Salah satu tugas rutin yang dimiliki Pak Tejo adalah memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, baik berupa skripsi, maupun tesis. Dimanapun dan kapanpun, Pak Tejo selalu memberikan bimbingan dan pasti meluangkan waktu untuk membimbing kepada mahasiswanya, apalagi dengan kecanggihan teknologi, janji ketemu pembimbingan selalu diatur dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan dan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan memudahkan mahasiswa. Semua mahasiswa bimbingannya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai ilmu yang mumpuni dari hasil bimbingan Pak Tejo. Karena mendedikasikan dirinya, masa studi Pak Tejo ketika mengambil studi S3 nya melebihi waktu norma sehingga beasiswa yang diterimanya dihentikan dan pak Tejo harus menanggung biaya tersebut secara mandiri. Tentunya, permasalahan ini berdampak pada kestabilan situasi keuangan keluarga Pak Tejo dan menjadi penyebab ketidakharmonisan keluarga Pak Tejo. Bu Tejo adalah seorang ibu rumah tangga dan mereka memiliki 3 orang anak yang sedang menuntut ilmu di bangu SMA, SMP dan SD.

4. Skenario Profesi Advokat

(27)

menyatakan mengundurkan diri mengingat ada kemungkinan terjadi pertentangan kepentingan antara pihak-pihak yang yang bersangkutan. PT Abadi Sendiri tidak dapat menerima keputusan Mulya karena menurut mereka disebutkan dengan jelas dalam kode etik advokat bahwa advokat tidak dibenarkan melepaskan tugas yang dibebankan kepadanya.

Bahan bacaan :

1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Jabatan Advokat. 2. Kode Etik Advokat Indonesia oleh Komite Kerja Advokat Indonesia.

Pertemuan 1 : Tujuan Pertemuan :

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami salah satu etika profesi advokat, yaitu : advokat yang mengurus kepentingan bersama dari dua pihak atau lebih harus mengundurkan diri sepenuuhnya dari pengurus kepentingan-kepentingan tersebut, apabila di kemudian hari timbul pertentangan kepentingan antara pihak-pihak yang bersangkutan (conflict of interest).

Pra-diskusi :

Seorang advokat yang mengurus kepentingan bersama dari dua pihak atau lebih harus mengundurkan diri sepenuhnya dari pengurus kepentingan-kepentingan tersebut, apabila di kemudian hari timbul pertentangan kepentingan antara pihak-pihak yang bersangkutan (conflict of interest). Berbagai kewajiban dan larangan bagi Advokat juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

Langkah 1 : Klarifikasi Istilah Sulit

* Advokat : orang yang berpraktik memberi jasa hukum, baik di dalma maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang yang berlaku, baik sebagai Advokat, Pengacara, Penasehat Hukum, Pengacara Praktik ataupun sebagai Konsultan Hukum. * Klien : orang, badna hukum atau lembaga lain yang menerima jasa dan

atau bantuan hukum dari Advokat.

(28)

Hal-hal apa saja yang dilarang bagi Advokat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya ?

Langkah 3 : Analisa dan Hipotesis

Tujuan pembelajaran yang mungkin ditetapkan :

Apakah etis bagi seorang advokat yang mengurus kepentingan bersama dari dua pihak atau lebih untuk mengundurkan diri sepenuhnya dari pengurusan kepentingan-kepentingan tersebut ?

Langkah 4 : Penjelasan atas tujuan pembelajaran

Advokat yang mengurus kepentingan bersama dari dua pihak atau lebih harus mengundurkan diri sepenuhnya dari pengurusan kepentingan-kepentingan tersebut. Apalagi bila ia yakin bahwa dikemudian hari dapat timbul pertentangan-pertentangan antara pihak-pihak yang bersangkutan (conflict of Interest).

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

Dalam tahap ini, mahasiswa mendiskusikan lebih lanjut dan menyaring apakah tujuan-tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam langkah 3 relevan dan dapat diterima oleh semua anggota kelompok. Dari diskusi yang dilakukan, mahasiswa diharuskan menghasilkan kesimpulan sementara tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang relevan beserta dengan jawaban sementara. Isi kesimpulan sementara ini diserahkan pada mahasiswa sehingga hasilnya dapat bervariasi antara mahasiswa yang satu dengan yang lain.

Langkah 6 : Pencarian informasi dan belajar mandiri

Dalam tahap ini mahasiswa diharapkan untuk belajar secara mandiri di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiwa ataupun dosen. Tahap ini berfungsi untuk cross check atas hasil diskusi yang telah di langkah sebelumnya serta untuk menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang belum dapat dicari jawabannya di kelas. Output dari langkah 6 ini adalah laporan tertulis terhadap kemungkinan tujuan pembelajaran yang ditentukan dalam langkah 4 dan juga sarana untuk mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5.

(29)

Tujuan pertemuan :

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memaparkan hasil studi yang diperoleh masing-masing mahasiswa dan untuk menilai apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permaslaahan harus dijawab. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk ditelaah.

Kesimpulan :

Seorang advokat yang mengurus kepentingan bersama dari dua pihak atau lebih apalagi bila ia yakin bahwa di kemudian hari dapat timbul pertentang kepentingan antara pihak-pihak yang bersangkutan (conflict of Interest) harus mengundurkan diri dari kasus tersebut.

5. Skenario Profesi Notaris

Skenario Profesi Notaris Endang adalah seorang notaris dengan wilayah kerja di meliputi Kabupaten Sleman. Sahabatnya, Indri, akan melaksanakan ujian terbuka dalam rangka memperoleh derajat doktor dari fakultas Hukum Universitas Gadjah mada. Oleh karena kedekatan persahabatan mereka, Endang bermaksud memberikan karangan bunga di dekat lokasi tempat ujian terbuka, sebagai bentuk ucapan selamat karena sahabatnya itu akan segera mencapai gelar doktor di bidang ilmu hukum. Endang lalu memesan karangan bunga dari salah satu toko bunga, dengan tidak lupa mencantumkan nama dan jabatannya di bawah ucapan selamat yang tertulis pada karangan bunga tersebut.

(30)

1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. 2. Kode Etik Notaris oleh Ikatan Notaris Indonesia.

Pertemuan 1 : Tujuan pertemuan

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami kode etik Notaris, yaitu larangan untuk melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama, dengan mencantumkan nama dan jabatannya, menggunakan sarana media cetak dan/atau elektronik dalam bentuk, salah satunya, ucapan selamat.

Pra-Diskusi

Salah satu Kode Etik Notaris adalah bahwa notaris dalam melaksanakan tugasnya dilarang melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama, dengan mencantumkan nama dan jabatannya, menggunakan sarana media cetak dan/atau elektronik dalam bentuk, salah satunya, ucapan selamat. Larangan tersebut diatur dalam pasal 4 angka 3 huruf b. Kode Etik Notaris yang ditetapkan Ikatan Notaris Indonesia. Berbagai kewajiban dan larangan bagi Notaris juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

Langkah 1 : Klarifikasi istilah sulit

* Notaris : pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris).

Langkah 2 : Masalah yang ditetapkan Masalah yang ditetapkan :

(31)

Langkah 3 : Analisis dan Hipotesis

Tujuan pembelajaran yang mungkin ditetapkan :

Apakah etis bagi notaris untuk memberikan karangan bunga dengan menyertakan nama dan jabatannya, sebagai ucapan selamat bagi sahabatnya yang telah mendapat derajat doktor di suatu bidang ilmu ?

Langkah 4 : Penjelasan atas tujuan pembelajaran

Tindakan notaris yang demikian tidak etis, karena karangan bunga tersebut mengandung unsur promosi diri dan jabatan, dengan harapan banyak pihak yang akan melihatnya dan datang padanya untuk membuat akta otentik. Sebagai seorang pejabat Negara, notaris dilarang mempromosikan diri dengan cara-cara seperti yang dilakukan oleh profesi komersial.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

Dalam tahap ini, mahasiswa mendiskusikan lebih lanjut dan menyaring apakah tujuan-tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam langkah 3 relevan dan dapat diterima oleh semua anggota kelompok. Dari diskusi yang dilakukan, mahasiswa diharuskan menghasilkan kesimpulan sementara tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang relevan beserta dengan jawaban sementara. Isi kesimpulan sementara ini diserahkan pada mahasiswa sehingga hasilnya dapat bervariasi antara mahasiswa yang satu dengan yang lain.

Langkah 6 : Pencarian informasi dan belajar mandiri

Dalam tahap ini mahasiswa diharapkan untuk belajar secara mandiri di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiwa ataupun dosen. Tahap ini berfungsi untuk cross check atas hasil diskusi yang telah di langkah sebelumnya serta untuk menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang belum dapat dicari jawabannya di kelas. Output dari langkah 6 ini adalah laporan tertulis terhadap kemungkinan tujuan pembelajaran (possible learning goals) yang ditentukan dalam langkah 4 dan juga sarana untuk mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5.

(32)

Tujuan pertemuan :

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memaparkan hasil studi yang diperoleh masing-masing mahasiswa dan untuk menilai apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permaslaahan harus dijawab. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk ditelaah.

Kesimpulan :

Tindakan notaris yang demikian tidak etis, karena karangan bunga tersebut mengandung unsur promosi diri dan jabatan, dengan harapan banyak pihak yang akan melihatnya dan datang padanya untuk membuat akta otentik. Sebagai soerang pejabat Negara, notaris dilarang mempromosikan diri dengan cara-cara seperti yang dilakukan oleh profesi komersial.

6. Skenario Profesi Polisi

(33)

klaim-klaim yang terkandung dalam invensi PT Sidi Jaya kepada PT labai Jaya dan juga menginformasikan klaim-klaim yang terkandung invensi PT. Sidi Jaya dan PT Labai Jaya. Tujuannya adalah agar mereka memperbaiki klaim mereka masing-masing sehingga bisa lebih lengkap dan dapat disetujui oleh Direktorat Jenderal hak kekayaan Intelektual. Disamping itu, Naro Labuh berjanji bahwa klaim mereka akan disetujui oleh Direktorat Jenderal hak Kekayaan Intelektua.

Bahan bacaan :

1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten

2. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Konsultan HAKI.

Pertemuan 1 : Tujuan pertemuan

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan untuk memahami kewajiban dari konsultan HAKI, bahwa konsultan HAKI wajib melindungi kepentingan kliennya dengan menjaga kerahasiaan informasi berkaitan dengan permohonan HAKI yang dikuasakannya oleh pemohon kepadanya.

Pra-Diskusi

Salah satu kewajiban dari konsultan HAKI adalah untuk melindungi kepentingan pengguna jasa, dengan menjaga kerahasiaan informasi yang berkaitan dengan permohonan Hak Kekayaan Intelektual yang dikuasakan kepadanya. Hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 9 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah RI No. 2 Tahun 2005 tentang Konsultan Hak Kekayaan Intelektual.

Langkah 1 : Klarifikasi istilah yang tidak jelas Kemungkinan istilah sulit yang digunakan :

(34)

* Konsultan Hak Kekayaan Intelektual adalah orang yang memiliki keahlian di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan secara khusus memberikan jasa di bidang pengajuan dan pengurusan permohonan di bidang Hak Kekayaan Intelektual yang dikelola oleh Direktorat jenderal dan terdaftar sebagai

* Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Direktorat Jenderal

Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri.

* Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

Invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses.

Langkah 2 : Penentuan masalah hukum

Apakah etis seorang konsultan HAKI, Naro Labuh, memberitahukan informasi klaim yang terkandung dalam suatu invensi, yang dikuasakan kepada pihak lain (kompetitor perusahaan kliennya)?

Langkah 3 : Analisis dan Hipotesis Pertanyaan lain yang mungkin timbul ?

1. Apa sajakah kewajiban-kewajiban bagi seorang konsultan HAKI dalam melaksanakan tugasnya ?

2. Apakah syarat-syarat untuk memperoleh paten ?

3. Apakah etis seorang konsultan HAKI, Naro Labuh, memberitahukan informasi klaim yang terkandung dalam suatu invensi, yang dikuasakan kepada pihak lain (kompetitor perusahaan kliennya) ?

(35)

a. mentaati peraturan perundang-undangan di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan ketentuan hukum lainnya;

b. melindungi kepentingan pengguna jasa, dengan menjaga kerahasiaan informasi yang berkaitan dengan permohonan Hak Kekayaan Intelektual yang dikuasakan kepadanya; dan

c. memberikan pelayanan konsultasi dan sosialisasi di bidang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk tata cara permohonan pengajuan di bidang Hak Kekayaan Intelektual.

(pasal 8 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah RI No. 2 Tahun 2005 tentang Konsultan Hak Kekayaan Intelektual)

2. Paten diberikan terhadap invensi yang baru, mengandung langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam industri. Ketentuan ini diatur dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.

3. Tindakan Konsultan HAKI tersebut di atas, Naro Labuh, adalah tidak etis. Selain itu, tindakan tersebut melanggar ketentuan pasal 8 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah RI No. 2 Tahun 2005 tentang Konsultan Hak Kekayaan Intelektual dimana dinyatakan bahwa konsultan berkewajiban untuk melindungi kepentingan pengguna jasa, dengan menjaga kerahasiaan informasi yang berkaitan dengan permohonan Hak Kekayaan Intelektual yang dikuasakan kepadanya.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

Dalam langkah ini, mahasiswa dipersyaratkan untuk menulis kesimpulan yang bersifat sementara dari diskusi.

Langkah 6 : Pengumpulan informasi dan belajar secara independen (di luar kelas)

(36)

mengevaluasi kesimpulan sementara yang ditetapkan di langkah 5. Tutor harus memastikan bahwa setiap mahasiswa berkontribusi dalam setiap aktivitas dengan mensyaratkan mahasiswa membuat laporan tertulis.

Pertemuan 2 : Tujuan pertemuan :

Pertemuan ini bertujuan untuk berbagi informasi yang telah dikumpulkan setiap mahasiswa dan mengkroscek apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua tujuan pembelajaran yang mungkin dan permaslaahan harus dijawab. Kesimpulan sementara harus dicek apakah perlu atau tidak untuk direview.

Kesimpulan :

Tindakan konsultan HAKI tersebut di atas, Naro Labuh, adalah tidak etis. Tindakan tersebut juga melanggar ketentuan pasal 8 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah RI No. 2 Tahun 2005 tentang Konsultan Hak Kekayaan Intelektual dimana dinyatakan bahwa konsultan berkewajiban untuk melindungi kepentingan pengguna jasa, dengan menjaga kerahasiaan informasi yang berkaitan dengan permohonan Hak Kekayaan Intelektual yang dikuasakan kepadanya.

(37)

Sebuah perusahaan yang memiliki banyak hutang pada beberapa kreditur, akhirnya dipailitkan oleh penetapan Pengadilan jakarta Pusat. Dua kreditur dari perusahaan itupun menurut pembayaran utang mereka sesuai dengan nomonal utang dan dengan segera. Selain memiliki utang pada kreditur-kreditur tersebut, perusahaan juga masih memiliki tunggakan kewajiban pembayaran pajak pada negara sebagai kreditur preferen. Untuk mengatasi pemberesan utang-utang tersebut ditunjuklah seorang kurator untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kurator tersebut adalah seorang kurator yang memiliki reputasi yang cukup baik dan terkenal mampu menyelesaikan permasalahan secara adil. Secara kebetulan, kurator tersebut adlaah keponakan dari salah satu direktur perusahaan yang pailit.

Bahan bacaan :

1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang / KUHD (Wetboek van Koophandel)

2. Undang-Undang No. 37 Tahun 2014 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

3. Standar Profesi Kurator dan Pengurus Indonesia

Pertemuan 1 : Tujuan pertemuan

Siswa diharapkan dapat mengerti tentang kewajiban, etika, dan kode etik bagi profesi kurator.

Pra-Diskusi

Penjelasan tutor terhadap topik dan tujuan pertemuan/tatap muka. Kurator harus bertindak secara independen, tidak boleh memiliki konflik kepentingan baik dengan debitur maupun kreditur dan harus bertindak secara objektif.

Langkah 1 : Klarifikasi terminologi-terminologi yang harus jelas Kemungkinan terminologi yang kurang jelas :

(38)

Kehakiman dan hak Asasi Manusia, sebagaimana dimaksud dalam UU Kepailitan (pasal-pasal 67 dan 67A) dan peraturan pelaksananya.

* Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas.

* Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.

* Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.

Langkah 2 : Penentuan masalah hukum

Apakah etis menunjuk dan mempekerjakan kurator yang memiliki hubungan kekerabatan dengan debitur ?

Langkah 3 : Analisis dan Hipotesis Pertanyaan lain yang mungkin timbul ? 1. Apakah kode etik untuk profesi kurator ?

2. Apakah persyaratan untuk menyatakan bahwa sebuah perusahaan dikatakan pailit ?

3. Bagaimana mengatur pembagian harta pailit debitur jika terdapat kreditur preferen bersama dengan kreditur-kreditur lainnya ?

Langkah 4 : Penjelasan atas kemungkinan permasalahan yang muncul 1. Berikut beberapa kode etik yang tertuang dalam ketentuan umum kurator

sesuai dengan standar kurator dan pengurus Indoensia :

a. Kurator harus independen, tidak memiliki benturan kepentingan dengan debitur atau kreditur dan bertindak objektif.

b. Kurator hanya dapat menjalankan tugasnya jika pada setiap waktu ia tidak memiliki benturan kepentingan dalam penugasan tersebut. c. Dalam menjalankan tugasnya, kurator wajib mempergunakan keahlian

profesionalnya dengan cermat dan seksama.

(39)

e. Pengurusan dan pemberesan harta pailit serta pengurusan harta debitur harus dilaksanakan oleh kurator yang memiliki keahlian khusus yang diperlukan untuk itu.

2. Persyaratan untuk menyatakan bahwa debitur pailit : Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya.

3. Pengaturan harta pailit debitur jika terdapat kreditur preferen (Negara) dengan kreditur-kreditur lain.

Harta kekayaan debitur akan digunakan dahulu untuk melunasi kewajiban pajak terhadap negara, sisanya kemudian baru digunakan untuk membayar utang pada kreditur lain. Jika harta sisa tidak mencukupi, maka mereka akan berbagi secara proporsional.

Langkah 5 : Menentukan Tujuan Pembelajaran

Pada langkah ini, mahasiswa diharapkan dapat menulis kesimpulan sementara dari diskusi-diskusi terdahulu. Kemungkinan kesimpulan sementara ini ditentukan masing-masing oleh para mahasiswa.

Langkah 6 : Pengumpulan informasi dan belajar secara independen (di luar kelas)

Mahasiswa diwajibkan untuk melaksanakan studi independen di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiwa ataupun dosen. Langkah ini berfungsi pengecekan silang ke arah diskusi-diskusi yang telah dilakukan pad alangkah-langkah sebelumnya dan juga untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang belum dijawab. Output

(40)

Pertemuan 2 : Tujuan pertemuan :

Tujuan dari pertemuan ini bertujuan untuk berbagi informasi yang telah dikumpulkan setiap mahasiswa dan mengkroscek apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Berbagai informasi dan hasil belajar independen

Mahasiswa melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi independen melalui laporan tertulis. Semua kemungkinan tujuan pembelajaran dan rumusan masalah haruslah terjawab. Kesimpulan sementara harus diperiksa.

Kesimpulan :

Tidak etis mempekerjakan seorang kurator untuk melakukan pemberesan harta pailit, jika kurator tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan debitur. Hal tersebut tercantum dalam ketentuan mengenai standar kurator dan pengurus Indonesia. Seorang keponakan dianggap sebagai pihak tereaalisasi dari debitur tersebut.

6. Skenario Profesi Polisi

(41)

melalui Internet, mereke berdua memutuskan untuk menikah. Setelah menikah mereka tinggal di Jenewa, Probo melanjutkan tugasnya dan sang istri, Lestari menjadi seorang Junior Lawyer di sebuah firma hukum terkemuka di Wina. Karier keduanya perlahan namun pasti merangkak dan membaik sehingga menjadi contoh bagi rekan-rekannya.

Bahan bacaan :

1. Fakultas Hukum Universitas Gadjah mada, 2010, Mengenal Profesi Diplomat Lebih Dekat.

2. Vienna Convention on diplomatic Relations, 1961. 3. Standar Profesi Kurator dan Pengurus Indonesia

Pertemuan 1 : Tujuan pertemuan

Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa diharapkan dapat mengerti bagaimanakah fungsi dan tanggung jawab seorang diplomat, perutusan tetap suatu negara pada organisasi internasional dan konsekuensi bagi pasangan mereka.

Pra-Diskusi

Penjelasan tutor mengenai topik dan tujuan pembelajaran.

Pasangan dari perwakilan tetap negara pada organisasi internasional diharuskan dapat mendampingi suami atau istrinya yang merupakan seorang pejabat diplomatik.

Langkah 1 : Klarifikasi pada terminologi-terminologi yang kurang jelas

Kemungkinan terminologi yang kurang jelas :

* Perwakilan tetap : seorang pejabat diplomatik yang bertugas pada organisasi internasional.

* Diplomat : seorang yang menjalankan fungsi diplomatik antar negara. * Lawyer : seseorang yang terdidik di bidang hukum yang dapat bertindak

(42)

Langkah 2 : Penentuan rumusan masalah

Apakah seorang istri dari perutusan tetap negara diperbolehkan bekerja pada sektor formal ?

Langkah 3 : Analisis dan Hipotesis Pertanyaan lain yang mungkin timbul ? 1. Apa sajakah kode etik bagi diplomat ?

2. Apakah yang dimaksud dengan bidang kerja informal ?

3. Apakah menjadi seorang lawyer merupakan pekerjaan yang termasuk bidang formal ?

Langkah 4 : Penjelasan dari kemungkinan permasalahan yang muncul 1. Di Indonesia terdapat pembedaan antara diplomat karir dan pejabat

diplomatik, untuk lebih jelas lihat bagan di bawah ini :

(43)

Pasangan dari seorang perutusan tetap memiliki kewajiban mengikuti istri/suaminya dalam melaksanakan tugasnya sebagai perutusan tetap. Tugas ini membuat seorang yang memiliki pekerjaan di bidang formal menjadi sulit untuk senantiasa mengatur waktu dan memprioritaskan tugas pendampingan tersebut. Pasangan dari perutusan tetap dapat tetap bekerja, asalkan dalam lingkup informal atau kerja-kerja sosial, sehingga memiliki waktu yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan kegiatan suami/istrinya sebagai pejabat diplomatik. Sebagai informasi tambahan, seorang yang hendak menikah dengan pejabat perwakilan diplomatik dididik dan dilatih secara khusus untuk dapat mengikuti gaya hidup sesuai standar dan pergaulan internasional.

2. Pekerjaan-pekerjaan di bidang informal adalah pekerjaan-pekerjaan dengan unsur-unsur sosial, sehingga tidak memiliki tanggung jawab hukum atau dapat pula pekerjaan-pekerjaan sukarela tanpa bayaran. 3. Seorang lawyer memiliki tanggung jawab hukum melalui kontrak yang

telah ia sepakati dengan kliennya dan tidak dapat sesuai kehendak membatalkan janji atau menghindari mendampingi klien untuk beracara di pengadilan. Dengan demikian, pekerjaan tersebut tidak dapat dimasukkan suatu pekerjaan di bidang informal.

Langkah 5 : Penetapan Tujuan Pembelajaran

Pada langkah ini, mahasiswa diharapkan dapat menulis kesimpulan sementara dari diskusi-diskusi terdahulu. Kemungkinan kesimpulan sementara ini ditentukan masing-masing oleh para mahasiswa.

Langkah 6 : Pengumpulan informasi dan belajar secara independen (di luar kelas)

Mahasiswa diwajibkan untuk melaksanakan studi independen di luar kelas. Informasi dapat diperoleh dari buku, jurnal, sesama mahasiswa atau dosen. Langkah ini menjadi berfungsi sebagai pengecekan silang ke arah diskusi-diskusi yang telah dilakukan pad alangkah-langkah sebelumnya dan juga untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang belum terjawab.

(44)

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa memberikan kontribusi untuk kegiatan pembelajaran dengan mewajibkan setiap mahasiswa menyerahkan laporan.

Pertemuan 2 : Tujuan pertemuan :

Pertemuan ini bertujuan untuk berbagi informasi yang telah dikumpulkan oleh masing-masing siswa dan untuk melakukan pengecekan silang apakah informasi yang didapat adalah akurat.

Langkah 7 : Pemaparan Informasi dan hasil belajar mandiri

Mahasiswa diharapkan melaporkan temuannya kepada kelompok lain, saling tukar informasi dan mengevaluasi ketepatan informasi. Pada langkah ini, tutor seharusnya menjelaskan dengan seksama setiap informasi yang diperoleh dan tanggap terhadap berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan. Tutor bertanggung jawab pada ketepatan informasi yang diperoleh.

Tutor memastikan bahwa setiap mahasiswa melakukan penelitian dalam studi mandirinya dengan meminta setiap mahasiswa menunjukkan laporan tertulis. Semua kemungkinan tujuan pembelajaran dan rumusan masalah haruslah terjawab. Kesimpulan-kesimpulan sementara harus diperiksa.

Kesimpulan :

Pasangan dari perutusan tetap tidak diperbolehkan bekerja sebagai seorang

Referensi

Dokumen terkait

Pada kelas eksperimen, model pembelajaran berbasis proyek disertai analisis kejadian fisika menuntun siswa untuk belajar bekerja sama dalam kelompok, sehingga

Penelitian ini bertujuan untuk menilai risiko penggunaan obat golongan ACEi dengan kaptopril sebagai standar dibandingkan lisinopril dan ramipril terhadap kejadian batuk kering

Perencanaan pembelajaran (RPP) atau silabus yang digunakan pada program kelas unggulan tidak memiliki perbedaan yang signifikan, anamun terdapat penekanan pada mata

persyaratan yang harus dilengkapi tidak terpenuhi, maka dilakukan tindakan penolakan dengan menerbitkan Surat Penolakan (formulir KT-13) dan bibit anggrek

Sumber: http://melileanetwork.wordpress.com/category/02-susu-kedelai-organic/ Dalam hal ini terkait dengan kelebihan susu kedelai yang memiliki kandungan – kandungan yang kaya

Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi keselamatan kerja dan membuat variasi yang baru dalam mengkomunikasikan keselamatan kerja,

pilih tidak terdaftar dalam pemilu terdaftar dalam daftar pemilih

A number of international institutions have released some publications and surveys containing some determinant variables as indicators on the ease of doing business and