• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Penelitian Produksi Tanaman Say

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal Penelitian Produksi Tanaman Say"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Terung Belanda awalnya dikenal dengan nama Chypomandra betaceae Cav., akan tetapi kemudian direvisi oleh Sendtner menjadi Solanum betaceaum Cav. yang termasuk dalam famili Solanaceae. Terung Belanda (Solanum betaceaum Cav.) merupakan tanaman jenis terung-terungan dari famili Solanaceae. Terung Belanda tumbuh di Indonesia hanya pada beberapa daerah terutama di Berastagi kabupaten Karo Sumatera Utara. Terung Belanda merupakan tanaman yang bernilai komersial, sehingga perlu dikembangkan baik kualitas maupun kuantitasnya.

Solanum mauritianum atau Lancing adalah berupa pohon kecil atau semak dari Amerika Selatan, termasuk Argentina Utara, Brazil Selatan, Paraguay dan Uruguay. Tanaman ini memiliki waktu hidup hingga tiga puluh tahun dan dapat tumbuh hingga mencapai 33 kaki. Tanaman ini memiliki daun oval yang besar berwarna hijau ke abu-abuan. Bunganya berwarna ungu dengan berwarna kuning di tengah. Tumbuhan ini dapat berbunga sepanjang tahun dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. (Wikipedia, diakses februari 2016)

(2)

perbanyakan yang telah dilakukan yaitu secara konvensional namun hasil yang didapatkan juga kurang menguntungkan dan kurang efisien (Yuwono, 2006).

Masalah tersebut perlu dipecahkan dengan dilakukan suatu usaha perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan. Dengan menggunakan teknik kultur jaringan dapat dihasilkan tanaman yang identik dengan induknya (Departemen Pertanian, 2003). Perbanyakan dengan teknik kultur jaringan selain mampu memperoleh tanaman yang identik dengan induknya, juga dapat dimanfaatkan untuk memperoleh tanaman dengan kualitas yang lebih baik.

Produksi terung belanda yang bermutu sangat ditentukan oleh mutu benihnya. Benih yang baik akan menghasilkan produk yang baik pula. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil terong belanda di Indonesia adalah mutu bibit yang kurang baik. Bibit terung belanda dari generasi yang sudah lanjut akan menghasilkan buah teung belanda yang jelek. Hal ini terutama sekali disebabkan oleh infeksi virus yang makin lanjut generasinya makin menumpuk virusnya di dalam bibit terong belanda (Setiadi, 2009).

Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya.

Tujuan kegiatan kultur jaringan adalah perbanyakan massal tanaman yang biasanya sangat lambat dengan metoda konvensional dalam jumlah yang besar dalam waktu singkat, selain itu diperoleh tanaman yang bebas virus, membantu pemuliaan tanaman untuk mempercepat pencapaian tujuan penelitian pada tanaman yang biasa diperbanyak secara vegetatif (Lentner, M, 1986).

(3)

Kultur jaringan didukung oleh konsep totipotensi sel. Totipotensi adalah kemampuan dari sebuah sel untuk tumbuh dan berkembang bila tersedia lingkungan luar yang sesuai ( Mantell, Matthews dan McKee, 1985). Dalam tubuh tanaman terdapat senyawa khusus pembentuk organ seperti gula, pati, protein, asam-asam organic.

Dalam tubuh tanaman terdapat senyawa khusus pembentuk organ seperti gula, pati, protein, asam-asam organik, asam-asam amino dan asam-asam nukleat. Selain senyawa-senyawa tersebut tanaman juga mengandung senyawa-senyawa pendorong dimulainya proses-proses biokimia. Senyawa ini berfungsi sebagai zat pemicu (trigger substances), seperti auksin, giberelin, sitokinin dan fenolik. Zat pemicu tersebut lebih dikenal dengan Zat Pengatur Tumbuh (Wattimena, 1988).

Masalah paling utama dalam kultur jaringan adalah cara memproduksi kalus dan tunas secara massal dari eksplan yang dipakai, dimana media dasar yang digunakan dalam kultur jaringan belum cukup untuk mensuplai semua kebutuhan pertumbuhan jaringan. Maka untuk itu perlu ditambahkan Zat Pengatur Tumbuh yang berfungsi merangsang dan mendorong pertumbuhan eksplan dan zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan dapat berasal dari golongan auksin maupun sitokinin.

Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan dari golongan auksin adalah IBA, IAA, NAA, dan 2,4-D. sedangkan dari golongan sitokinin adalah Kinetin, Zeatin dan BAP (Gunawan, 1995). Dalam kultur jaringan auksin dapat digunakan untuk pembelahan sel dan diferensiasi akar (Bhojwani dan Radzan, 1983). Kinetin merupakan salah satu bentuk sitokinin sintetik. Zat Pengatur Tumbuh ini mengaktifkan enzim-enzim hidrolisa yang memecahkan makro molekul menjadi molekul yang sederhana yang dapat di manfaatkan oleh bakal tunas untuk pertunasan. Selang konsentrasi Kinetin biasa dipergunakan untuk pertunasan adalah 0,1 – 5, 0 mg/ l . pemberian zat pengatur tumbuh tersebut lebih baik dalam bentuk kombinasi daripada pemberian secara tunggal (Wattimena, 1990).

(4)

mempunyai sifat-sifat yang tidak baik, karena mempunyai kisaran kepekatannya yang sempit. Batasan kepekatan yang meracuni dari zat ini sangat mendekati kepekatan optimum untuk perakaran (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

IBA mempunyai sifat yang lebih baik dan efektif daripada hormon lain. Dengan demikian IBA paling cocok untuk merangsang aktivitas perakaran karena kandungan kimianya lebih stabil dan daya kerja lebih lama (Gunawan, 1987).

Dari uraian di atas, maka penilitian ini dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan meristem tanaman terong belanda dengan media Murashige dan skoog (MS) dengan berbagai kombinasi antara Kinetin dengan IBA.

1.2. Tujuan

Untuk mengetahui adanya pengaruh Kinetin dan IBA berbagai taraf terhadap multiplikasi planlet tanaman terung belanda secara in vitro.

1.3. Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah diduga

1. Ada pengaruh konsentrasi Kinetin terhadap multiplikasi dalam pembentukan tunas in vitro tanaman terong belanda.

2. Ada pengaruh konsentrasi IBA terhadap multiplikasi dalam pembentukan tunas in vitro tanaman terong belanda.

3. Ada pengaruh interaksi konsentrasi Kinetin dan IBA terhadap multiplikasi dalam pembentukan tunas in vitro tanaman terong belanda.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani Solanum betasium Cav.

(5)

Solanum betaceum (Cav) dan masuk kedalam famili dari Solanaceae. Tanaman ini juga dikenal dengan nama Tamarillo.Tanaman ini berasaldari pegunungan di Andes dan lebih kurang 30 species dari genus ini yang tersebar di bagian selatan Amerika, namun saat ini telah berkembang hingga kenegara-negara tropis lainnya seperti Indonesia. Setelah Terung Belanda menjadi sesuatu komoditi yang diperhitungkan tanaman ini banyak diekspor ke luar negeri termasuk Selandia Baru (Faucon, 1998). Tanaman ini menjadi sangat popular di negara Selandia Baru. Buahnya berbentuk bulat panjang dan memiliki kombinasi rasa antara buah tomat dan jambu biji sehingga masyarakat di Selandia Baru sangat menyukainya. Di Indonesia Terung Belanda dikembangkan di daerah Bali, Jawa Barat, dan Tanah Karo Sumatera Utara (Kumalaningsih, 2006).

Menurut Tjitrosoepomo (2000), kedudukan tanaman Terung Belanda dalam sistematika adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Klass : Dicotyledonae Ordo : Solanales Family : Solanaceae Genus : Solanum

Spesies : Solanum betaceum Cav.

(6)

pengairan yang teratur (http://www.sinarharapan.co.id, diakses pada tanggal 28 februari 2016).

Secara fungsional buah Terung Belanda mempunyai khasiat khusus yang sangat unggul sebagai sumber antioksidan alami karena dapat meluruhkan zat-zat yang bersifat radikal bebas. Buah ini mengandung berbagai jenis vitamin antara lain vitamin E, vitamin A, vitamin C, vitamin B6 (Kumalaningsih, 2006). Terung belanda juga mengandung beberapa komponen lainnya seperti air 80 % -90 %, protein 1,4 % - 2 %, lemak 0,1 % - 0,6 %, serat 1,4 %-4,7 %,karbohidrat 110 KJ-150 KJ (Faucon, 1998).

2.2. Perbanyakan Tanaman Secara In vitro/ Mikropropagasi

Penggunaan teknik in vitro untuk tujuan perbanyakan vegetatif merupakan areal/bidang yang paling maju dalam teknik kultur jaringan. Perbedaan perbanyakan vegetatif secara in vitro dengan metode konvensional yang lain adalah:

1) dalam teknik in vitro, bahan tanaman yang dipergunakan lebih kecil, sehingga tidak merusak pohon induk,

2) lingkungan tumbuh kultur in vitro harus aseptik dan terkendali 3) kecepatan perbanyakan tinggi

4) menghasilkan benih bebas penyakit dari induk yang telah terinfeksi patogen internal, dan

5) membutuhkan tempat yang relatif kecil untuk menghasilkan jumlah benih yang banyak (Tohir, 1983).

2.3. Pengertian Kultur Jaringan

(7)

inkubasi atau cawan petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. (Marlina N,2004)

Kultur meristem (meristem culture) adalah kultur jaringan tanaman dengan menggunakan eksplan yang berupa jaringan maristematik. Jaringan meristem yang digunakan dapat berupa meristem pucuk terminal atau meristem tunas aksilar. Dalam kultur meristem, perkembangan diarahkan untuk mendapatkan tanaman sempurna dari jaringan meristem tersebut dan dapat sekaligus diperbanyak (Kharta, 1984).

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkam bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Raharja,2005).

Kultur jaringan didasari oleh teori sel yang dikemukakan dua ahli biologi dari Jerman, MJ. Scleiden dan Schwan. Secara tidak langsung teori tersebut menyatakan bahwa sel tumbuhan bersifat otonom dan mempunyai totipotensi. Sel bersifat otonom berarti dapat mengatur rumah tangganya sendiri, di sini yang dimaksud adalah bahwa sel dapat bermetabolisme, tumbuh, dan berkembang secara independen jika dipisahkan dari jaringan induknya. Totipotensi diartikan sebagai kemampuan dari sel tumbuhan, baik sel somatik atau vegetatif maupun sel gametik, untuk beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap kembali (Gunawan, 2010)

(8)

Menurut Hendaryono (1994), Dengan mengisolasi dari tanaman induknya dan kemudian menumbuhkannya di dalam atau di atas media, sel-sel eksplan yang tadinya dorman dihadapkan pada kondisi stress sehingga metabolismenya berubah. Respon yang terlihat pertama kali adalah terbentuknya jaringan penutup luka. Sel-sel itu akan terus membelah, yang mana jika pembelahannya tidak terkendali maka akan membentuk massa sel yang tidak terorganisasi, yang disebut kalus.

2.4. Teknik Kultur jaringan

Teknik kultur jaringan semula ditujukan untuk penelitian dasar di bidang biologi, terutama pembuktian totipotensi sel. Sekarang kultur jaringan sudah berkembang sedemikian pesat dan dipergunakan untuk berbagai keperluan lain, terutama untuk agrobisnis dan farmasi.

Keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi hal-hal sebagai berikut: 1) Bentuk regenerasi dalam kultur

2) Eksplan adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah genotip/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina).

3) Media tumbuh, yang mana di dalam media tumbuh itu terkandung komposisi garam an-organik dan zat pengatur tumbuh.

4) Zat pengatur tumbuh tanaman, yang mana faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan, dan periode masa induksi dalam kultur tertentu.

5) Lingkungan tumbuh yang mempengaruhi regenerasi tanaman (Yuliarti,2010).

(9)

Media MS (Murashige dan Skoog,1962) merupakan media yang banyak digunakan saat ini. Media ini mengandung garam dan nitrat dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding media lain, sukses digunakan pada berbagai tanaman dikotil.

Menurut Biondi dan Trevor dalam Thorpe (1981) prinsip dasar dari teknik kultur jaringan adalah :

1) Mengisolasi bagian tanaman yang dikulturkan.

2) Mengkulturkan bagian tanaman tersebut pada media yang cocok serta kondisi lingkungan optimum.

3) Menjaga kedua tahap tersebut dalam kondisi aseptik

Teknik kultur jaringan tanaman dapat digunakan sebagai salah satu untuk mendapatkan planlet dan bibit kentang yang bebas virus, teknik perbanyakan cepat, penyimpanan plasma nuftah dan pertukaran plasma nuftah secara internasional (Miller dan Lipschutz dalam Ammirato, 1984).

Kultur jaringan sebagai suatu teknik perbanyakan tanaman memiliki keunggulan tertentu dibandingkan perbanyakan tanaman dengan cara lainnya. Menurut Wattimena (1990), keuntungan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan adalah:

1) Menghasilkan propagula (bibit) dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.

2) Menghasilkan bibit bebas penyakit.

3) Tidak tergantung pada musim dan tidak merusak pohon induk.

4) Tidak tergantung pada pohon induk jika sudah mempunyai sumber eksplan in vitro.

5) Tanaman yang tidak dapat diperbanyak dengan cara konvensional dapat diperbanyak dengan metode perbanyakan mikro.

6) Tidak ada istilah tanaman langka. Sekali teknik pembiakan mikro telah dikuasai untuk tanaman langka tertentu, maka selanjutnya tanaman tersebut dapat diproduksi dalam jumlah puluhan ribu.

(10)

2.5. Multiplikasi Tanaman

Menurut Gunawan (1984), Jika kultur aseptik telah berhasil diperoleh, langkah berikutnya adalah induksi multiplikasi. Pada beberapa spesies, eksplan mungkin akan membentuk akar pada tahap awal pertumbuhan di media yang sederhana. Spesies lain menghasilkan banyak tunas tanpa perlakuan khusus. Dalam hal ini kebutuhan akan media yang lebih kompleks bergantung pada tingkat multiplikasi yang diperlukan.

Tunas yang sudah ada mungkin tidak akan dapat tumbuh pada kondisi normal karena dihalangi oleh daun atau dominasi apikal. Pembuangan ujung tunas dapat dilakukan untuk mengatasi dominasi apikal, tetapi seringkali perlakuan hormon yang dipilih. Produksi banyak tunas pada media yang kaya sitokinin akan mengatasi dominasi apikal (Taiz and Zeiger, 1991).

Jika multiplikasi sudah didapat, kultur perlu diberi kondisi khusus untuk pemanjangan tunas. Biasanya pemindahan kultur ke media tanpa hormon setelah tahap multiplikasi cukup untuk merangsang pertumbuhan tunas. Pemberian GA juga dapat menginduksi pertumbuhan memanjang (Richard and Robert, 1981).

2.8. Peranan Zat Pengatur Tumbuh

Zat Pengatur Tumbuh memegang peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kultur, atau mengatur proses fisiologis di dalam tanaman. Pada kadar yang lebih tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan mematikan tanaman. Zat pengatur tumbuh yang sangat penting dalam kultur jaringan ada dua golongan yaitu auksin dan sitokinin. Auksin digunakan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel dan akar.

Zat pengatur tumbuh yang sudah biasa digunakan adalah dari golongan auksin. Auksin berperan pada berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Beberapa aspek tersebut diantaranya untuk pembesaran sel, penghambat mata tunas samping, absisi atau pengguguran daun, merangsang aktivitas dari cambium dan pertumbuhan akar (wattimena, 1988).

(11)

Melihat sifat-sifat tersebut sekian banyak auksin, pilihan untuk pembentukan akar stek umumnya pada NAA dan IBA. NAA dan IBA mempunyai sifat translokasi yang lambat dan persistensinya tinggi. Kedua auksin ini juga mempunyai aktivitas yang rendah sehingga selang pendorong perakaran dan keracunan itu cukup lebar (Wattimena, 1990).

Sitokinin adalah turunan adenin yang berperan dalam mendorong pembelahan sel dan jaringan yang digunakan sebagai eksplan dan merangsang perbanyakan tunas pucuk. Sitokinin sintetik yang biasa digunakan dalam kultur jaringan adalah Kinetin, Benzil Amino Purin (BAP) dan Zeatin.Jika dalam media kultur jaringan diberikan auksin dan sitokinin dengan perbandingan tertentu, maka efeknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan jaringan akan tertentu pula dimana kinetin sendiri tanpa IAA tidak dapat menjalankan pembelahan sel jaringan yang diambil batang tembakau (Wattimena, 1990).

BAB 3

BAHAN DAN METODE

3.1. Tempat dan Waktu

(12)

3.2. Bahan dan Alat Penelitian 3.2.1. Bahan Eksplan

Bahan eksplan yang digunakan berasal dari terong belanda, yang diambil dari Laboratorium Kultur Jaringan IPB

3.2.2. Bahan Media Pertumbuhan

Bahan yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS) yang terdiri dari: NH4NO3, KNO3, CaCl2, 2H2O, MgSO4, 7H2O, KH2PO4, KI, H3BO3, MnSO4, 4H2O, ZnSO4, 7H2O, NaM0O4, 2H2O, CoCl2, 6H2O, CuSO4, 5H2O, FeSO4, 7H2O, Na2EDTA, 2H2O, Thiamin-HCL, Meso-inositol, Asam Nikotianat (Niasin), Pirodoksin-HCL, Sukrosa, Agar-agar, Glisin, Air, dan Arang Aktif.

3.2.3. Bahan Sterilisasi

Bahan yang digunakan untuk mensterilisasi adalah NaOCl2, Alkohol 96%, deterjen.

3.2.4. Bahan Zat Pengatur Tumbuh

Kinetin dan IBA (indole-3-butyrue acid) dengan konsentrasi berbeda-beda

3.2.5. Alat-alat yang Digunakan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah Autoklaf, Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), pH-meter, Kompor Gas, Botol Kultur, Beacker Gelas 100 cc, Beacker Gelas 500 cc, Beacker Gelas 1000 cc, Labu Takar 100 cc, Labu Takar 500 cc, Labu Takar 1000 cc, Pipet Tetes, Hand Sprayer, Botol pensterilan 500 cc, Corong, Rak Pertumbuhan, Oven Sterilisasi, Timbangan Analitik, Gelas Ukur, Erlenmeyer, Cawan Petri, Tabung reaksi, Hot Plate dengan pengaduk magnetic, AC, Alumunium Foil, Kulkas, Batang Pengaduk, pisau scalpel, Pinset, Spatula, Lampu Bunsen, Kertas saring, Kertas Label, Kalkulator, Alat Tulis, dan lain-lain.

(13)

Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu Kinetin dan IBA. Faktor Pertama adalah Kinetin terdiri dari 4 taraf yaitu:

K0 : 0 PPm K1 : 0,2 PPm K2 : 0,4 PPm K3 : 0,6 PPm

Faktor Kedua adalah IBA terdiri dari 4 taraf yaitu: I0 : 0 PPm

I1 : 0,05 PPm I2 : 0,10 PPm I3 : 0,15 PPm

Jumlah kombinasi perlakuan 4 x 4 = 16 dengan susunan sebagai berikut: K0I3 K0I1 K1I2 K3I2

K3I1 K3I3 K3I0 K1I0 K2I3 K1I1 K2I2 K0I2 K2I0 K1I3 K2I1 K0I0

Dengan demikian, jumlah kombinasi perlakuan adalah 4 x 4 = 16 kombinasi perlakuan. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali, jumlah unit percoabaan sebanyak 16 x 3 = 48 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri 5 unit untuk 1 kombinasi perlakuan, jumlah seluruhnya 48 x 5 = 240 unit percobaan.

3.4. Analisis Data Penelitian

Analisis data pengamtan yang digunakan adalah analisa ragam berdasarkan model linier, yaitu:

Model matematis yang digunakan dalam analisa data penelitian ini yaitu: Yijk = µ + α1 + βj + (αβ)ij + εijk

Dimana :

Yijk : Hasil pengamatan dari satuan percobaan pemberian Kinetin taraf ke-I, IBA taraf ke-j dan ulangan taraf ke-k.

µ : Nilai tengah populasi

(14)

(αβ)ijk : Pengaruh interaksi Kinetin taraf ke-i dan IBA taraf ke-j

εijk : Pengaruh galat dari suatu percobaan yang diberikan Kinetin ke-i, IBA taraf ke-j, dan ulangan taraf ke-k

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati maka diakhir penelitian disusun Daftar Sidik Ragam (DSR). Terhadap perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 % dan 1 % terhadap perlakuan yang beda nyata (Hanafiah,2003).

3.5. Pelaksanaan Penelitian 3.5.1. Sterilisasi Botol dan Besi

Botol kultur yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan deterjen, setelah bersih direndam dengan menggunakan Clorox yang dicampur dengan air selama ± 3 jam. Setelah direndam dengan Clorox kemudian dibilas dengan menggunakan air yang mengalir, lalu ditiriskan. Kemudian botol-botol tersebut disterilkan dengan menggunakan oven pada suhu 1500 C selama ± 4 jam. Tetapi alat-alat yang berbahan besi sebelum dimasukkan kedalam oven dibungkus atau digulung terlebih dahulu dengan menggunakan kertas.

3.5.2. Sterilisasi LAFC (laminar Air Flow Cabinet)

Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) disterilkan dengan terlebih dahulu dengan alcohol 96% dengan cara menyatakn permukaan bagian dalam laminar dengan kapas atau tisu yang disemprot dengan alcohol 96% yang penyapuan sejajar dari arah dalam ke arah luar dan alkohol 96% tersebut juga disemprotkan LAFC dan kemudian di UV selama ± 60 menit.

3.5.3. Alat-alat lain

(15)

3.5.4. Pembuatan larutan Stok Murashige dan Skoog (MS)

1. Larutan stok I, Dibuat dengan menimbang 165 g NH4-NO3, 190 g KNO3, 44 g CaCl2.2H2O dan melarutkannya dalam 1000 cc Aquades.

2. Larutan Stock II, Dibuat dengan menimbang 37 g MgSO47H2O, 2, 23 g MnSO4.4H2O, 0,86 g ZnSO4.7H2O, 0,0025 g CuSO4.5H2O dan melarutkannya dalam 1000 cc aquades.

3. Larutan Stock III. Dibuat dengan menimbang 0,62 g H3BO3, 17 g KH2PO4, 0,083 g KI, 0,025 g Na2MOO4.2H2O dan 0,0025 g CoCl2.6H2O dan melarutkannya dalam 1000 cc aquades.

4. Larutan Stock IV. Dibuat dengan 2,78 g FeSO4.7H2O dan 3,73 g Na2EDTA serta melarutkannya dalam 1000 cc aquades.

5. Larutan Stock Vitamin. Dibuat dengan menimbang 10 mg Thiamin-HCL. 50 mg Nicotianic acid, 50 mg Piridoxin HCL dan 200 mg Glisin. Bahan tersebut dilarutkan dalam aquades dan dipenuhkan hingga tanda tera 100 ml.

6. Larutan Stock Hormon. Dibuat dengan menimbang 5 mg Hormon IBA dan dilarutkan dengan bantuan pemanasan. Selanjutnya volumenya dipenuhkan menjadi 100 ml. hormon Kinetin dibuat dengan menimbang 5 mg, dilarutkan dengan bantuan pemanasan dan volumenya dipenuhkan menjadi 100 ml.

3.5.5. Pembuatan dan Media Tumbuh

1. Media tumbuh yang dipersiapkan disesuaikan dengan jumlah kombinasi perlakuan yaitu 16 kombinasi dan dari kombinasi tersebut didapat 240 unit percobaan dan masing-masing dibuat sebanyak 25 ml. ditimbang 30 g gula, 6 g agar dan dilarutkan 30 ml di dalam beacker gelas 100 cc.

2. Ditambahkan larutan stock I, II, III, dan IV masing-masing sebanyak 1 ml. 3. Stock Vitamin ditambahkan sebanyak 0,1 ml dan inositol diberikan

sebanyak 10 mg

(16)

pengambilan 0,2 ppm dalam volume 500 ml di ambil 2 ml, 0,4 ppm dalam volume 500 ml di ambil 4 ml, dan 0,6 ppm dalam 500 ml di ambil 6 ml. Untuk IBA 0,0 ppm (kontrol), untuk 0,05 ppm dalam volume 500 ml di ambil 0,5 ml, untuk 0,10 ppm dalam volume 500 ml di ambil 1 ml dan 0,15 ppm dalam volume 500 ml di ambil 1,5 ml.

5. Ditambahkan air kelapa sebanyak 15 ml dan selanjutnya aquades ditambahkan hingga volume mencapai 100 cc

6. pH diatur antara 5,5 hingga 5,7 dengan menggunakan pH meter. Apabila pH diatas tersebut, diturunkan dengan menambahkan larutan HCl 0,1 N dan apabila dibawah pH tersebut dinaikkan dengan menambahkan larutan NaOH 0,1 N beberapa tetes.

7. Ditambahkan agar-agar 0,8 g dan sebelumnya dituangkan media kedalam beacker gelass sebagai wadah pemanas media dengan tujuan untuk melarutkan agar-agar.

8. Larutan dimasukkan ke dalam botol pensterilan volume 500 cc dan ditutup dengan tutup botol kultur atau alumunium foil.

9. Media yang dimasukkan ke dalam botol kultur pertumbuhan diisi ± 20 ml media. Botol-botol yang telah berisi media ditutup rapat dengan menggunakan tutup botol kultur atau alumunium foil.

10. Larutan disterilkan dalam autoclave pada tekanan 15 psi, suhu 121o C selama ± 30 menit.

11. Setelah selesai disterilisa di autoklaf kemudian media disimpan dirak kultur di dalam ruang tanam dan selelah ± 3 hari berikutnya media sudah siap digunakan.

3.6. Parameter yang diamati

1. Umur terbentuknya tunas (hari)

Dihitung umur terbentuknya tunas pertama kali muncul, berdasarkan umurnya terbentuknya tunas setiap hari sejak diinokulasi sampai tumbuh tunas dari stek tunas tanaman kentang.

(17)

Dihitung umur terbentuknya akar pertama kali muncul, berdasarkan umur terbentuknya akar setiap hari sejak diinokulasi sampai tumbuh akar sekunder dari stek tunas tanaman kentang.

3. Jumlah Tunas

Dihitung jumlah tunas yang tumbuh dari setiap explant. Pengamatan dimulai dari 1 mst sampai akhir penelitian dengan interval waktu 1 minggu sekali.

4. Jumlah Buku

Dihitung jumlah tunas yang tumbuh dari setiap satu botol kultur. Pengamatan dimulai dari 1 mst sampai akhor penelitian dengan interval waktu 1 minggu sekali.

5. Jumlah Akar

Dihitung jumlah akar yang tumbuh dari setiap satu botol kultur. Pengamatan dimulai dari 1 mst sampai akhir penelitian dengan interval waktu 1 minggu sekali.

6. Jumlah Daun (helai)

Jumlah daun yang dihitung (helai) mulai dari daun yang telah tumbuh dengan sempurna. Pengamatan dilakukan mulai dari 2 mst sampai akhir penelitian dengan interval waktu 1 minggu sekali.

7. Panjang Akar (cm)

Pengamatan pada panjang akar (cm) dilakukan pada akhir penelitian. Tanaman (planlet) diambil secara hati-hati lalu panjang akar diukur mulai dari pangkal sampai keujung akar dengan menggunakan rol pengukuran dilakukan pada akhir penelitian.

8. Tinggi Planlet (cm)

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Fisiologi Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi.

Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Hortikultura. Lembang.

Bhojwani, S.S. and M. K. Radzan, 1983. Plant Tissue Culture Theority and Practise. Elsivier New York.

Budipramana, S.L., 1991. Kultur Jaringan Tumbuhan, Laboratorium Biologi. Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Surabaya.

(19)

Fitter. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Gunawan, W.L., 1984. Tissue Culture Technique, Training Course on Seed Technology of Forest Tress. Bogor.

Gunawan LW. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. Hal. 252.

Hariyanto, 1989. Menanam Tunas Kentang secara Kultur Jaringan. Erlangga, Jakarta.

Kartha, 1984. Meristem Culture and Cryopreservation: Methods and Applications. New York Academic Perss.

Kumalaningsih, S. 2006. Tamarillo (Terung Belanda). Cetakan 1. Surabaya. Trubus Agrisarana. hlm: 1-2

Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Yasaguna. Jakarta.

Lakitan dan Benjamin.1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Kampus Padang. Padang

Marlina. N., 2004. Teknik modifikasi media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro. Buletin Teknik Pertanian 9(1):4-6.

Mantell, S. H. J. A. Matthews and R. A. Mckee. 1985. Principles of plant Biotechnology, An Introduction to Genetic Engineering in Plants. Blackwell Scientific Publications. Oxford. 269 P.

(20)

Richard, E.L. and Robert A. Conover, 1989. Effect of Sex Type, Season, and other Factors on in Vitro Establishment and Cultures of Solanum Tuberosum L. Explants. Universityof Florida. Institue of Food and Agricultural.

Setiadi, 1993. Kentang Varietas dan Pembudidayaan. Swadaya, Jakarta.

Skoog, F. and F.O.Miller., 1975. Chemical Regulation of Growth and Organ Formation in Plant Tissue Culture in Vitro.

Taji, A., P. Kumar, and P. Lakshmanan. 2002. In Vitro Plant Breeding. New York: Haworth Press, Inc.

Thorpe, T.A., 1981. Plant Tissue Culture, Academic Press. New York.

Yuliarti, N.,2010. Kultur Jaringan Tanaman Sekala Rumah Tangga, Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Yustina, 2003. Cytokinin/auxin balance in crown gall tumors is regulated by specific loci in the T-DNA. J. Proc. Natl. Acad. Sci. 80: 407-411

Wattimena, G.A., 1987. Multipikasi Tanaman Hortikultura secara Kultur Jaringan, Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman. PAU Bioteknologi IPB. Bogor.

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan Reorder Point System adalah titik/tingkat persediaan, dimana pemesanan kembali harus dilakukan, model persediaan sederhana mengasumsikan bahwa

Product Design: Fundamentals and

Dalam konteks pengembangan kota, RPKPP merupakan rencana terpadu bidang permukiman dan infrastuktur bidang Cipta Karya pada lingkup wilayah perencanaan berupa kawasan

Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa zona hambat pada proporsi lidah buaya 6% dengan tepung sukun 3% (L3T1) dan proporsi lidah buaya 6% dan tepung umbi ganyong

The accountant of the agency shall credit “Cash – National Treasury – MDS” each time a payment is made charged against the NCA and debit the specific account being paid for, either

Terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaiamana merancang sistem pengendali posisi ketinggian pada towercopter dengan kendali PID dan hasil respon sistem dinamik