• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Sumber Daya Air DAS Siak Kaw (3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengelolaan Sumber Daya Air DAS Siak Kaw (3)"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaan air merupakan bagian dari alam (nature) sehingga eksistensi air terkait erat dengan semua yang ada di alam ini. Secara lebih spesifik dapat dinyatakan bahwa kualitas dan kuantitas air bergantung kepada aspek teknis, ekonomi, kelembagaan, sosial dan lingkungan. Sejalan dengan kelima aspek diatas mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan yang berdampak negatif dan meningkatnya daya rusak air. Dengan demikian, hal tersebut menuntut Pengelolaan Sumber Daya Air terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Pola pengelolaan sumber daya air merupakan kerangka dasar di dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah Sungai, wilayah sungai Siak merupakan wilayah sungai strategis nasional yang terletak di Provinsi Riau.

Sungai Siak merupakan sungai terdalam di Indonesia yang memiliki karakteristik unik. Sungai ini panjangnya mencapai ± 14.239 km2 dengan debit aliran berkisar 47-250 m3/detik pada musim kemarau dan 325-760 m3/detik pada musim penghujan. Rasio debit musim kemarau terhadap debit musim hujan dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan, karena semakin rusaknya daerah tangkapan air yang disebabkan oleh tingginya alih guna lahan.

(2)

Saat ini, pemanfaatan sungai secara berlebihan mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas air sungai. Rusaknya ekosistem menyebabkan menurunnya jumlah debit air secara fluktuatif pada musim hujan dan kemarau, penurunan cadangan air serta penurunan jasa lingkungan.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik dengan kehidupan yang ada disekitar bantaran Sungai Siak yang sering berinteraksi dengan sungai serta mengetahui pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan yang sudah diterapkan di DAS Siak 1.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana rasa kepedulian masyarakat dibantaran Sungai Siak tehadap kebersihan lingkungan dan aliran sungai?

2. Bagaimana sistem pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan yang sudah diterapkan di Sungai Siak?

1.3 Tujuan

Tujuan dari Pengelolaan Sumber Daya Air di Sungai Siak adalah untuk: 1. Mengidentifikasi lingkungan dan aliran Sungai Siak dengan bertanya

langsung pada masyarakat yang bermukim disekitar sungai.

2. Mengetahui sistem pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan yang sudah diterapkan di Sungai Siak.

(3)

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertian Sumber Daya Air

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air tawar. 97% air di bumiadalah air asin,dan hanya 3%berupa air tawar yang lebih dari 2 per tiga bagiannya beradadalambentuk es di glasierdan es kutub.Air tawar yang tidak membeku dapat ditemukanterutama di dalam tanah berupaair tanah, dan hanya sebagian kecil berada di atas permukaan tanah dan di udara.

Air tawar adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersihterus berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa bagian di duniadan populasi dunia terus meningkat yang mengakibatkan peningkatanpermintaanterhadap air bersih.Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama dengan nilai pelayanan ekosistemnya.Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saatiniterus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.

2.2 Kondisi Sumber Daya Air

Seperti di banyak negara lain, kondisi sumber daya air di Indonesia telah sampai pada tahap di mana tindakan terpadu diperlukan untuk membalikkan tren yang terjadi saat ini yatiu penggunaan air yang berlebihan, polusi, dan meningkatnya ancaman kekeringan dan banjir.

(4)

dan kebijakan konservasi sumber daya air telah mendapat bagian yang substansial dalam agenda reformasi.

Didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air dijelaskan; Sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, undang-undang ini menyatakan bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil.Atas penguasaan sumber daya air oleh negara dimaksud, negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan melakukan pengaturan hak atas air.

Undang-undang dengan tegas mengataka bahwa negara memiliki peran utama dalam pengaturan, pendayagunaan dll, dengan melibatkan stakeholder lainnya.Penguasaan negara atas sumber daya air tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, seperti hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak-hak yang serupa dengan itu, sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pasal 1 dijelaskan bahwa pengaturan hak atas air diwujudkan melalui penetapan hak guna air, yaitu hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. Hak guna air dengan pengertian tersebut bukan merupakan hak pemilikan atas air, tetapi hanya terbatas pada hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan sejumlah (kuota) air sesuai dengan alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah kepada pengguna air, baik untuk yang wajib memperoleh izin maupun yang tidak wajib izin.

(5)

pengelolaan sumber daya air yang lebih bersandar pada nilai ekonomi akan lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.Meski satu-satunya sumber alami bagi perairan permukaan hanya presipitasi dalam area tangkapan air, total kuantitas air dalam sistem dalam suatu waktu bergantung pada banyak faktor.Faktor-faktor tersebut termasuk kapasitas danau, rawa, dan reservoir buatan, permeabilitas tanah di bawah reservoir, karakteristik aliran pada area tangkapan air, ketepatanwaktu presipitasi dan rata-rata evaporasi setempat.Semua faktor tersebut jugamemengaruhi besarnya air yang menghilang dari aliran permukaan.

Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan kadang-kadangmenghancurkan faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali meningkatkankapasitas reservoir total dengan melakukan pembangunan reservoir buatan, danmenguranginya dengan mengeringkan lahan basah. Manusia juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan pembuatan saluran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi.Manusia dapat menyebabkanhilangnya sumber air permukaan dengan menjadikannya tidak lagi berguna,misalnya dengan cara polusi.

2.3.1 Pencemaran Sungai

(6)

Pencemaran air sungai terjadi apabila dalam air sungai terdapat berbagai macam zat atau kondisi yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Suatu sumber air dikatakan tercemar tidak hanya karena tercampur dengan bahan pencemar, akan tetapi apabila air tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tertentu, sebagai contoh suatu sungai yang mengandung logam berat atau mengandung bakteri penyakit masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah ditunjukkan secara utuh, melainkan sebagai pencemaraan dari komponen-komponen lingkungan hidup, seperti pencemaran air, pencemaran air sungai, pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan pencemaran udara. Dengan demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997.

Menurut UU Republik Indonesia No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan hidup yaitu; masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup, oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Demikian pula dengan lingkungan air yang terdapat di sungai yang dapat tercemar karena masuknya atau dimasukannya mahluk hidup atau zat yang membahayakan bagi kesehatan.Air sungai dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun sampai ke tingkat yang membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya.

2.3.2 Penanggulangan Pencemaran Air Sungai

(7)

Pemerintah dalam pengendalian pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH).Program ini merupakan upaya untuk menurunkan beban limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala menengah dan besar, serta dilakukan secara bertahap untuk mengendalikan beban pencemaran dari sumber-sumber lainnya.Program ini juga berusaha untuk menata pemukiman di bantaran sungai dengan melibatkan masyarakat setempat (KLH, 2004).

(8)

Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi sumber bencana yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun atau degradable (dapat didegradasi alam)? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan aman bagi makhluk hidup dan lingkungan ?Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air.Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar.Dari segi kebijakan atau peraturanpun mengenai pencemaran air ini telah ada.Bila kita ingin benar-benar hal tersebut dapat dilaksanakan, maka penegakan hukumnya harus dilaksanakan pula. Pada akhirnya, banyak pilihan baik secara pribadi ataupun social (kolektif) yang harus ditetapkan, secara sadar maupun tidak, yang akan mempengaruhi tingkat pencemaran dimanapun kita berada. Walaupun demikian, langkah pencegahan lebih efektif dan bijaksana.

Melalui penanggulangan pencemaran ini diharapkan bahwa pencemaran akan berkurang dan kualitas hidup manusia akan lebih ditingkatkan, sehingga akan didapat sumber air yang aman, bersih dan sehat.

2.4 Pengelolaan Sumber Daya Air

Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha, baik koperasi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. Sejalan dengan prinsip demokratis, masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air, tetapi berperan pula dalam proses perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan, pemantauan, serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air (Dadang Sudardja, 2007).

(9)

terjadi proses desertifikasi sebesar 6.000.000 ha/tahun. Proses deforestasi 17.000.000 ha/tahun. Proses erosi dan oksidasi tanah 26.000.000.000 ton/tahun serta proses hilangnya spesies-spesies tertentu sebesar 17.000 jenis/tanam.

Dari data di atas dapat kita lihat bahawa pembangunan tidak saja menghasilkan manfaat tetapi juga resiko.Pencemaran dan pengrusakan adalah dua resiko yang tidak dapat dihindari dalam rangka menjalankan pembangunan. Akibat pembangunan manusia sebagai penghuni Bumi ini paling tidak saat ini telah berhutang sekitar antara 16 trilyun dollar AS hingga 54 trilyun dollar AS pertahun, atau rata-rata 33 trilyun dollar AS atau kurang lebih Rp.66.000 trilyun setahun untuk segala materi “gratis” seperti udara, air dan pangan, demikian hasil perhitungan yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Robert Constanza dan disponsori oleh National Centre for Ecological Analysis and Synthesis di Santa Barbara, California (Kompas, 16 Mei 1997). Perkiraan inipun lanjut mereka adalah perkiraan minimum.

Sumber daya air merupakan bagian dari sumber daya yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan sumber daya alam lainnya.Air adalah sumber daya yang terbarui, bersifat dinamis mengikuti siklus hydrologi yang secara alamiah berpindah-pindah serta mengalami perubahan bentuk dan sifat.Tergantung dari waktu dan lokasinya, air dapat berupa zat padat sebagai es dan salju, dapat berupa air yang mengalir serta air permukaan.Berada dalam tanah sebagai air tanah, berada di udara sebagai air hujan, berada di laut sebagai air laut, dan bahkan berupa uap air yang didefinisikan sebagai air udara.

Dewasa ini permasalahan yang cenderung dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air meliputi:

1. Adanya kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan.

2. Persaingan dan perebutan air antara daerah hulu dan hilir atau konflik antara berbagai sektor.

(10)

5. Erosi sebagai akibat penggundulan hutan.

Permasalahan air yang semakin komplek ini menuntut kita untuk mengelolah sumberdaya air sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat dengan baik.Berdasarkan UU No 7/2004 tentang Sumberdaya Air, Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

Sudah menjadi pemandangan yang biasa dan gampang dilihat, air sudah menjadi permasalahan.Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih menguatnya nilai ekonomi air dibanding nilai dan fungsi sosialnya.Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan sumber daya air. Di sisi lain, pengelolaan sumber daya air yang lebih bersandar pada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial.

Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha, baik koperasi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. Sejalan dengan prinsip demokratis, masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air, tetapi berperan pula dalam proses perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan, pemantauan, serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air.

(11)

undang-undang baru sebagai pengganti Undang-undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.

Salah satu cara yang harus diperhatikan dalam pengelolaan air adalah pengelolaan yang berdasarkan pada ‘watershed’ (Daerah Aliran Sungai/DAS). Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Dengan pengelolaan air berdasarkan DAS maka diharapkan akan tercipta kesinambungan sumber daya air karena air tidak bisa dilihat satu bagian wilayah saja. Pengelolaan air pada suatu daerah tidak bisa begitu saja hanya memperhatikan variabel–variabel hidrologis pada wilayah itu saja.Bahkan, pengelolaan Waduk Saguling untuk keperluan PLTA, misalnya, tidak bisa hanya memperhatikan variabel– variabel disekitar waduk. Seluruh masalah pengelolaan sumber daya air harus memperhitungkan keseluruhan DAS karena bagaimanapun juga bahkan sebuah titik di ujung terluar DAS pun memiliki pengaruh terhadap keberadaan dan kualitas air di sungai utama. Jadi Pengelolaan sumber daya air yang bersifat parsial harus ditinggalkan.Selain itu, untuk mengelola sumber daya air berbasis DAS ini, kita harus mengacu pada aspek–aspek yang ada dalam DAS tersebut.“Bukan hanya dibatasi pada aspek fisika saja.Tapi juga sosial–budaya, kualitas air, aktivitas industri, politik, ekonomi, demografi (kependudukan).

(12)
(13)

BAB III

METODE

Sejarah kota merupakan seluruh perkembangan kebijakan pemerintah dan aktivitas masyarakat kota beserta pengaruhnya pada masyarakat maupun pada tata ruang kota termasuk unsur ekologisnya. Kuntowijoyo (2003:64) menjelaskan bahwa ekologi merupakan interaksi antara manusia dan alam sekitarnya serta perubahan ekologi terjadi bila salah satu dari komponen itu mengalami perubahan. Dalam konteks ini bagaimana perkembangan pola pikir dan sikap masyarakat berpengaruh ada pengelolaan sumber daya air di Sungai Siak menjadi fokus penelitian awal ini. Penelitian ini memaparkan kesadaran sosial masyarakat dan pengelolaan sumber daya air di Sungai Siak Kawasan Leighton II. Secara sederhana, peneliti memulai penelitian dengan menentukan topik penelitian yakni Laporan Pengelolaan Sumber Daya Air di Sungai Siak. Hal ini dipilih karena rasa keprihatinan penulis pada terancamnya sendang yang penulis duga karena faktor sikap manusia pada lingkungan.

(14)

BAB IV

KONDISI EKSISTING DAN GAMBARAN UMUM

4.1 Luas Wilayah

Luas WS Siak sekitar ± 14.239 km2 yang membentang dari hulunya di perbukitan Kubu Beringin dan Bukit Suligi-Bukit Pandan di Kabupaten Rokan Hulu hingga hilirnya bermuara di Selat Malaka. Secara geografis WS Siak berada pada posisi antara 100º28’ BT - 102º12’BT dan 0º20’ LU - 1º16’ LU dengan batasan-batasan sebagai berikut:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis.

2. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Selat Malaka.

3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan.

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu.

Untuk lebih jelasnya mengenai luas WS Siak beserta kabupaten/kota yang masuk di dalamnya disajikan pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Luas WS Siak Ditinjau dari Kabupaten/Kota di dalamnya

No. Kabupaten Luas Persentase Luas

Sumber: Keppres No. 12 Tahun 2012 dan Hasil Analisis, Tahun 2012

Berdasarkan penjabaran pembagian daerah aliran sungai pada WS Siak, Leighton II berada di Kecamatan Palas, Kabupaten Siak. Pembagian daerah aliran sungai pada WS Siak berikut dengan anak sungai dan wilayah yang termasuk di dalamnya akan dideskripsikan sebagai berikut.

(15)

Sumber: Keppres No. 12 Tahun 2012 dan Hasil Analisis, 2012

1. DAS Siak

DAS Siak memiliki luas areal sebesar 11.527 km2.Wilayah ini didominasi oleh penutupan lahan berupa kebun sawit, lahan pertanian, lahan terbuka, hutan, kebun karet dan sebagian kecil merupakan lahan terbangun, semak belukar, kebun campuran serta badan air. Sebagian dari areal lahan terbuka merupakan kawasan pertambangan. Dengan demikian, Leighton II berada di DAS Siak.

2. DAS Siak Kecil

(16)
(17)
(18)

sampai berbukit di segmen wilayah DAS bagian hulu dan datar sampai bergelombang di segmen wilayah DAS bagian tengah dan hilir. Sedangkan berdasarkan topografinya kawasan DAS Siak memiliki ketinggian bervariasi 0 m dpl di pesisir pantai hingga 525 m dpl di perbukitan di segmen wilayah DAS bagian hulu. Secara rinci pembagian kawasan WS Siak berdasarkan kelas kelerengan dan kondisi topografi disajikan pada Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3 Luas dan Persentase yang ada di WS Siak

Sumber: Peta Bakosurtanal, Tahun 2010 dan Hasil Analisis, 2011

4.3 Lahan Kritis

Lahan kritis adalah lahan yang keadaan fisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air. Lahan tersebut dapat berupa lahan gundul yang sudah tidak bervegetasi sama sekali, padang alang-alang atau lahan yang ditumbuhi oleh semak belukar yang tidak produktif, areal yang berbatu-batu atau berparit sebagai akibat erosi tanah dan tanah yang kedalaman solumnya sudah tipis sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.

Berdasarkan kriteria yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, dalam menentukan kekritisannya, lahan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu:

(19)

tergolong sangat kritis terdapat dibagian hulu yaitu di DAS Tapung Kiri dan DAS Tapung Kanan yaitu masing-masing seluas 14.721,39 Ha dan 466,25 Ha atau total sekitar 1.35% dari total luas WS Siak.

Tabel 4.4 Luas Lahan Kritis di WS Siak

Sumber: Kemeterian Kehutanan, Tahun 2010 dan Analisis GIS, 2011 4.4 Tutupan Lahan

Tata guna lahan merupakan representasi kenampakan ruang yang dapat menggambarkan aktivitas ekonomi suatu kawasan serta untuk mengetahui kondisi umum suatu daerah.Oleh karena itu hampir dalam setiap kajian wilayah, informasi tutupan lahan dan tata guna lahan merupakan aspek pertama yang harus diketahui untuk menyusun rencana selanjutnya.

(20)

Dahulu keberadaan Sungai Siak merupakan urat nadi perekonomian penduduk setempat. Hal ini terlihat dari perkembangan aktivitas dan pemukiman penduduk disepanjang kawasan Sungai Siak. Di wilayah hilir, Sungai Siak masih dapat digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus. Bahkan kebutuhan air bersih dipasok dari Sungai Siak.

Kurun waktu 10 tahun terakhir, air sungai tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai air minum, mandi, cuci dan kakus karena kualitas fisika, kimia dan biologi air menurun akibat dampak-dampak yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan di sekitar Sungai Siak. Oleh karena itu, masyarakat tidak mengonsumsi air sungai, sehingga mereka mendapati kesulitan dalam memperoleh air bersih.

Berdasarkan hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa penduduk setempat menggandalkan air tanah dangkal sebagai sumber air bersih. Akan tetapi, kami mendapati air tanah tersebut keruh, berbau, dan berminyak. Hal tersebut diakibatkan oleh air sungai yang tercemar merembes ke dalam tanah sehingga tidak layak untuk dikonsumsi sehari-hari. Oleh karena itu, masyarakat setempat juga membeli air minum dari Depot Air Minum Isi Ulang.

4.5.2 Sistem Pengolahan Air Limbah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi merupakan salah satu penyebab pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kawasan Leighton II terlihat aktivitas masyarakat dan pemukiman penduduk yang padat diantaranya perkebunan kelapa sawit dan perbengkelan. Pihak terkait belum memiliki kesadaran sosial terhadap buruknya kualitas Sungai Siak sehingga mereka langsung membuang sampah dan limbah langsung ke sungai.

Di Kawasan Leighton II, masyarakat sudah memakai WC permanen dan

(21)

penghujan, air sungai akan meluap menyebabkan terjadinya banjir, tanah menjadi sangat mudah tergerus oleh air. Selain itu, Kawasan Leighton II belum dibangun sistem drainase yang berkelanjutan.

4.5.4 Prasarana Jalan dan Transportasi

Kondisi prasarana jalan dan transportasi memprihatikan. Jalan belum permanen.

4.5.5 Sistem Pengelolaan Persampahan

(22)
(23)

1. Teknis

Masyarakat di DAS Siak Kawasan Leighton II sulit untuk mengakses air bersih. Warga setempat kebanyakan memiliki sumur bor, namun air yang dihasilkan buruk dengan ciri-ciri air yang keruh berwarna kekuningan, air yang berbau, dan permukaan air yang berminyak. Rata-rata warga menganggap keadaan tersebut tidak mempengaruhi kesehatan.

Tabel 5.1 Jenis permasalahan dan akar masalah di DAS Siak

(24)

2. Ekonomi

Di bantaran sungai terlihat pemukiman masyarakat. Mereka memiliki tingkat pendapatan menengah ke bawah. Tidak hanya itu, terdapat kegiatan perbengkelan, perkebunan, dan kegiatan rumah tangga. Kedua rencana usaha dan/atau kegiatan membuang limbah langsung ke badan air. Limbah yang dibuang langsung ke badan air diantaranya limbah organik yang berasal dari perkebunan kelapa sawit, limbah perbengkelan berupa oli bekas, dan limbah rumah tangga.

a. Limbah perkebunan kelapa sawit

Beberapa warga memiliki perkebunan kelapa sawit. Meskipun luas area perkebunan kelapa sawit terbilang tidak terlalu luas, mereka membuang tendon kosong langsung ke sungai.

b. Limbah perbengkelan

Berdasarkan hasil survei dan data lapangan, bengkel membuang limbah cair berupa oli langsung ke sungai.

c. Limbah pemukiman

Pemukiman warga setempat berada di bantaran Sungai Siak. Di sekitar pemukiman belum tersedia tempat pembuangan sementara (TPS) sehingga mereka meletakkan sampahnya di luar rumah. Apabila hujan datang, sampah tersebut akan jatuh dan terhanyut di sungai.

3. Kelembagaan

(25)

Pemerintah hanya bantuan-bantuan seadanya kepada masyarakat. Masyarakat beranggapan bahwa banjir sudah sering terjadi sehingga menganggap hal ini merupakan hal biasa. Banjir menyebabkan kerugian pun seperti rusaknya rumah dan harta benda mereka, timbul penyakit yang banyak menyerang anak-anak seperti gatal-gatal dan pusing.

4. Sosial

Sarana dan prasarana yang tidak memadai dapat memicu terjadinya pencemaran lingkungan hidup. Berdasarkan hasil survei dan data pengamatan, kurangnya sarana pengumpulan dan pengangkutan sampah mengakibatkan masyarakat membuang sebagian sampah mereka ke sungai. Selain itu, Kawasan Leighton II tidak terlayani air bersih dan sulit mendapatkan air bersih, sehingga harus melakukan aktivitas MCK dengan keadaan air yang tidak sehat.

(26)
(27)
(28)

saat ini yatiu penggunaan air yang berlebihan, meningkatnya ancaman kekeringan dan banjir. Mengingat tantangan yang dihadapi oleh sektor sumber daya air dan sektor irigasi di abad ke-21, pola pengelolaan sumber daya air didukung aspek teknis, ekonomi, kelembagaan, sosial dan lingkungan.

Didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air dijelaskan bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, undang-undang ini menyatakan bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil. Dengan demikian, kelima aspek tersebut perlu berintegrasi dalam mencapai pengelolaan sumber daya air yang terpadu.

1. Teknis

(29)

26 Tahun 2007) dan masterplan wilayah yang ada. Aspek-aspek teknis penataan ruang yang berkaitan dengan kegiatan pengendalian terhadap fenomena alam haruslah benar-benar tepat sasaran, agar dana yang ada tidak terbuang sia-sia. Beberapa aspek teknis yang berkaitan dengan infrastruktur keairan antara lain: bendungan, kolam penampungan, tanggul penahan banjir, saluran by pass, sistem drainase, pembuatan sumur bor artesis, dll.

Tidak hanya sampai disitu, aspek teknis juga memperhatikan komponen teknologi. Pemilihan teknologi meliputi riset dan pengembangan, petunjuk penilaian teknologi, petunjuk pemilihan teknologi, dan pemilihan teknologi tepat guna.

2. Ekonomi

Perekonomian masyarakat disekitar Sungai Siak masih tergolong menengah ke bawah memaksa mereka untuk menggunakan air sumur bor sebagai sumber air baku, dimana air sungai telah meresap ke dalam tanah sehingga air tanah berbau dan berminyak. Oleh karena itu. penganggaran menjadi suatu bagian terpenting dalam mewujudkan maksud dan tujuan dari kegiatan penataan ruang. Penentuan anggaran yang terencana dan tersistem merupakan salah satu alat manajemen dalam kegiatan penataan ruang.

(30)

pada proses kontrol, evaluasi dan monitoring. Laporan anggaran yang lengkap harus meliputi kriteria-kriteria antara lain sebagai pendukung kebijakan, petunjuk operasional, dan sebagai alat mediator dalam berkomunikasi. Dari penjelasan diatas, program PAMSIMAS dapat diaplikasikan dalam aksi nyata pemerintah dan Bank Dunia untuk meningkatkan penyediaan air minum, sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta kebijakan-kebijakan denda diberlakukan kepada seluruh pemangku kepentingan mengenai pembuangan limbah industri/sampah/limbah tinja langsung ke sungai.

3. Kelembagaan

Dalam kegiatan penataan ruang aspek hukum dan kelembagaan merupakan aspek yang penting untuk mengetahui sebuah proses hukum dan legalitas dari berlakunya sebuah perundang-undangan.

Aspek hukum memberikan justifikasi dari suatu proses pembangunan. Dengan kata lain produk pembangunan akan berdampak pada produk hukum yang ada serta dimungkinkan dilakukan perubahan-perubahannya. Proses hukum dapat berjalan dengan baik kalamana hukum memberikan rasa keadilan terhadap pihak-pihak yang terkait. Lembaga-lembaga pembuat peraturan bisa melakukan perubahan penyempurnaan atau pencabutan terhadap peraturan yang sudah ditetapkan itu bila ternyata pelaksanaannya tidak menunjukkan rasa keadilan bagi pihak yang terkait, atau terdapat kekeliruan dalam penetapannya.

(31)

a. Pemerintah

Pemerintah tidak dapat melaksanakan pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan sendirian. Pemerintah memerlukan dukungan dan kerjasama dengan masyarakat dalam melakukan hal tersebut. Perlu disadari bahwa masyarakat dapat beperan sebagai objek dan menjadi pengelola. Oleh karena itu, pemerintah memberikan sarana dan prasarana tanpa melakukan pendekatan kepada masyarakat, maka sudah dapat dipastikan tidak ada suatu penyediaan air yang keberlanjutan.

(32)

bantaran Siak sehingga perlu suatu aksi lapangan berupa kegiatan dalam bentuk aksi pencegahan, antisipasi maupun penanggulangan. Apabila aksi-aksi diwujudnyatakan, maka akan menciptakan suatu hubungan yang harmonis antara pemerintah dengan masyarakat. Hal itu juga dapat menunjang dalam proses keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya air.

b. Instrumen Manajemen

Wadah koordinasi beranggotakan unsur pemerintah dan unsur non -pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan, serta strategi pengelolaan. Instrumen manajemen berfungsi untuk:

 Analisis sumber daya air

 Perancangan dan perencanaan pengelolaan sumber daya air terpadu

 Pengelolaan kebutuhan

 Instrumen perubahan sosial

 Resolusi konflik

 Instrumen pengatur

 Instrumen ekonomi

(33)

Secara sederhana partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai upaya terencana untuk melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan. Partisipasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses dimana pihak yang akan memperoleh dampak (positif dan/atau negatif) ikut mempengaruhi arah dan pelaksanaan kegiatan, tidak hanya menerima hasilnya.

 Bentuk Partisipasi

Bentuk partisipasi masyarakat dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu partisipasi dalam:

a. Tahap Pembuatan Keputusan

Dalam hal ini, sejak awal masyarakat telah dilibatkan dalam proses perencanaan dan perancangan kegiatan serta dalam pengambilan keputusan atas rencana yang akan dilaksanakan.

b. Tahap Implementasi

Keterlibatan masyarakat juga diupayakan pada tahap pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, masyarakat dapat mengontrol bagaimana kegiatan dilaksanakan di lapangan. c. Tahap Evaluasi

(34)

1. Keterpaduan antar sektor yang terkait dalam perumusan kebijakan, dan program di tingkat pusat dan daerah. Keterpaduan dalam aspek ini diperlukan untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan ekonomi dengan kebijakan pembangunan sosial serta lingkungan hidup.

2. Keterpaduan antar semua pihak yang terkait (stakeholder) dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Keterpaduan dalam aspek ini merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan pendayagunaan air. Saat ini masing-masing pihak yang terkait masih menempatkan prioritas kepentingan yang berbeda-beda, bahkan seringkali bertentangan satu sama lain. Dalam kaitan ini perlu dikembangkan instrumen operasional untuk menggalang sinergi dan penyelesaian konflik.

3. Keterpaduan antar wilayah administrasi baik secara horisontal maupun vertikal. Dalam aspek ini tidak saja perlu ada kejelasan tentang pembagian wewenang dan tanggung jawab pengelolaan, tetapi perlu juga dikembangkan pola kerjasama antar daerah atas dasar saling menggantungkan dan saling menguntungkan.

4. Sosial

(35)

pengelola menjadi permasalahan sosial yang kompleks memerlukan solusi tepat sasaran. Kita dapat mengenalkan sanitasi dan menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sejak dini.

Sudaryono (2002) menyebutkan, pengelolaan DAS di DKI perlu melibatkan peran aktif manusia, sehingga tercapai manfaat yang maksimal dan berkesinambungan. Oleh, karena itu sasaran pembinaan aktivitas manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam mencakup penyuluhan/pendidikan dan pembinaan untuk meningkatkan persepsi dan kemampuan mengelola lingkungan dan mengembangkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Anak adalah sasaran utama dalam mensosialisasikan pentingnya air dan sanitasi. Anak-anak memiliki dua peran penting sebagai bagian dari strategi sosialisasi sanitasi ini. Selain menanamkan pemahaman kepada anak-anak mengenai sanitasi sejak dini, mereka juga dapat mengingatkan orang tua mereka akan pentingnya menjaga air bersih. Pembelajaran kesadaran masyarakat melalui perantara anak-anak ini dapat menekan keberadaan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) masyarakat yang berada di sungai.

Selain sosialisasi dalam rangka upaya penanaman persepsi bahwa air dan sanitasi itu penting. Maka perlu juga menumbuhkan sifat individu masyarakat yang cinta lingkungan. Hal ini di tujukan agar upaya untuk menormalisasi Sungai Siak mudah tercapai.

5. Lingkungan

(36)

- Pengelolaan air tanah dapat dilakukan antara lain perbaikan drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman,

- Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik.

- Pelaksanaan audit lingkungan untuk beberapa industri yang ada di Sungai Siak.

(37)

1. Aspek teknis berkaitan dengan pembangunan infrastruktur keairan antara lain bendungan, kolam penampungan, tanggul penahan banjir, saluran by pass, sistem drainase, pembuatan sumur bor artesis, dll. Tidak hanya sampai disitu, aspek teknis juga memperhatikan komponen teknologi diantaranya riset dan pengembangan, petunjuk penilaian teknologi, petunjuk pemilihan teknologi, dan pemilihan teknologi tepat guna.

2. Program PAMSIMAS dapat diaplikasikan, serta kebijakan-kebijakan denda diberlakukan kepada seluruh pemangku kepentingan mengenai pembuangan limbah industri/sampah/limbah tinja langsung ke sungai.

3. Aspek kelembagaan dikelompokkan menjadi 6 grup, taitu penyediaan pelayanan, pengatur, organisasi pendukung, perencana, operator, dan pemakai.

(38)

polluter pay principle”.

 Menyiapkan infrastruktur kawasan pengembangan industri yang telah ditetapkan dalam RTRW.

 Pemerintah haruslah bertindak adil dalam menerapkan segala jenis aturan untuk mengelola sumber daya air, dengan mengambil keputusan yang tepat.

b. Instrumen Manajemen

 Analisis sumber daya air

 Perancangan dan perencanaan pengelolaan sumber daya air terpadu

 Pengelolaan kebutuhan

 Instrumen perubahan sosial

 Resolusi konflik

 Instrumen pengatur

 Instrumen ekonomi

 Pengalihan dan pengelolaan informasi

(39)

persepsi dan kemampuan mengelola lingkungan dan mengembangkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

5. Lingkungan

- Pelestarian dan perlindungan sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah.

- Pengelolaan air tanah dapat dilakukan antara lain perbaikan drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman,

- Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik.

- Pelaksanaan audit lingkungan untuk beberapa industri yang ada di Sungai Siak.

(40)

Grigg, Neil, dan Fontane G. Darell, 13 July 2000. Infrastructure Systems Management and Optimization. International Seminar “Paradigm and Strategy of Infrastructure Management”, Civil Engineering Department Diponegoro University.

Gusriani, Yeni. 2014. Strategi Pengendalian Pencemaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak di Kabupaten Siak. Jurnal peneitian. 07 Januari 2014, Pekanbaru. Hal. 5.

Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. 2004. Pembangunan Wilayah, Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta

Putri, A. N. Dwi. 2011. Kebijakan Pemerintah dalam Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak (Studi pada Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir). Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan. 03 September 2011, Tanjung Pinang. Hal. 3. Randolph, John. 2004. Environmental Land Use Planning and Management. Island

Press: Washington.

Sudaryono. 2002. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Das) Terpadu, Konsep

Pembangunan Berkelanjutan. [Serial Online].http://ejurnal.bppt.go.id [Diakses Pada Tanggal 6 Oktober 2013].

Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

(41)
(42)
(43)

Gambar

Tabel 4.1 Luas WS Siak Ditinjau dari Kabupaten/Kota di dalamnya
Gambar 4.1 Peta Administrasi WS Siak
Gambar 4.2 Peta Daerah Aliran Sungai di WS Siak
Tabel 4.3 Luas dan Persentase yang ada di WS Siak
+5

Referensi

Dokumen terkait

DI KABUPATEN BANTUL ”. Bagaimanakah pengelolaan limbah cair PG-PS Madukismo sebagai. upaya pengendalian pencemaran lingkungan di

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembuangan limbah cair industri pabrik tahu di Kelurahan Pakunden terhadap sifat fisis dan indeks pencemaran

Stakeholder yang sangat berperan aktif dalam pengelolaan sumberdaya air sepanjang kawasan DAS Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi, Balai Pengelola

Dari hasil pemantauan program kali bersih (Prokasih) yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah di Sungai Garang dari tahun 2006 sampai

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa peran PDAM dalam pengelolaan limbah cair sebagai upaya pengendalian pencemaran berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3

41 tahun 1999 tentang Kehutanan, tentang Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Latihan serta Penyuluhan Kehutanan, bagian kedua Penelitian dan Pengembangan

DAS Sekampung merupakan salah satu DAS utama di Provinsi Lampung yang masuk ke dalam Wilayah Sungai Seputih-Sekampung yang dikategorikan sebagai Wilayah Sungai strategis nasional

Untuk Perumahan Widya Graha I dan Perumahan Delima Puri, rumusan kebijakan pengendalian pencemaran air bersih dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru adalah: 1, himbauan melalui