• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Kinerja (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Kinerja (1)"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pembangunan suatu negara diawali dengan pembentukan karakter pribadi seseorang, dimana karakter pribadi seseorang dapat ditentukan oleh pendidikan yang didapatkan. Pentingnya pendidikan untuk pembangunan nasional adalah untuk membentuk dan mempersiapkan manusia-manusia yang bermutu, bermartabat dan siap memberi inovasi-inovasi baru untuk memajukan negara.

Secara umum pendidikan dipandang sebagai faktor utama dalam bidang pembangunan. Pandangan ini mengandung suatu pengertian bahwa pendidikan dapat memotori dan menopang proses pembangunan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang dianggap sangat penting. Namun cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam proses pemenuhan akan pendidikan, khususnya di Indonesia yaitu masalah kualitas pendidikan.

(2)

Berbagai program telah di lakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada berbagai lembaga-lembaga pendidikan dengan tujuan agar dapat meningkatkan mutu dan kualitas manusia yang dapat memberi pengaruh positif untuk negara. Dalam undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 dinyatakan bahwa, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, juga untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(3)

untuk diamati sehingga juga lebih sulit mengalami perubahan. Perubahan terhadap elemen-elemen tersebut menciptakan usaha perbaikan dalam jangka panjang. Peningkatan mutu sekolah melalui intervensi budaya berpengaruh pada perubahan kinerja guru. Perubahan tersebut secara lebih lanjut mempengaruhi perubahan proses belajar-mengajar sehingga berdampak pada hasil belajar siswa. Berdasarkan beberapa pandangan yang dikemukakan dapat dijelaskan bahwa budaya sekolah secara garis besar memiliki dua peranan yaitu meningkatkan kinerja guru dan meningkatkan mutu sekolah. Peranan budaya sekolah dalam meningkatkan kinerja guru mencakup kinerja kepala sekolah, guru, staf, dan siswa. Sementara peranan budaya sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah berkaitan dengan kinerja guru dalam upaya mendidik para siswa/i.

(4)

Para guru dan karyawan ketika memasuki wilayah sekolah, pun segera akan menyesuaikan diri. Mereka dengan sadar dan spontan mengikuti nilai, norma, kebiasaan, harapan, dan cara-cara yang berlaku di sekolah. Pada saat memulai pembelajaran, para guru pun mulai melakukan kegiatan dengan serangkaian kegiatan seperti berdoa, menyapa keadaan siswa, menanyakan dan mendengarkan apa saja yang menjadi harapan para siswa, dan seterusnya.

Pada awalnya budaya sekolah dibentuk dalam jaringan yang sifatnya formal. Serangkaian nilai, norma, dan aturan ditentukan dan ditetapkan pihak sekolah sebagai panduan bagi warga sekolah dalam berikir, bersikap, dan bertindak. Dalam perkembangannya, secara perlahan budaya sekolah ini akan tertanam melalui jaringan kultural yang informal, karena sudah menjadi trade mark sekolah yang bersangkutan. Siapa pun yang masuk ke dalam wilayah sekolah, mereka akan dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di dalamnya. Kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa pada umumnya banyak berperan dalam jaringan ini.

(5)

tujuan-tujuan apa pun yang lebih baik. Budaya sekolah berada pada unsur yang lebih dalam dari sekolah.

Selama ini, sekolah telah mengembangkan dan membangun suatu kepribadian yang unik bagi para warganya. Kepribadian ini, atau budaya ini, dimanifestasikan dalam bentuk sikap mental, norma-norma sosial, dan pola perilaku warga sekolah. Contoh berpikir yang sederhana tentang budaya sekolah ini dapat dilihat pada cara mereka melakukan sesuatu. Budaya ini memengaruhi semua hal yang terjadi sekolah. Budaya ini memengaruhi dan membentuk cara-cara kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar yaitu dari guru yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran harus menantang, mendorong eksplorasi memberi pengalaman sukses, dan mengembangkan kecakapan berfikir siswa (Dimyati dan Madjiono 2006:116).

(6)

karena berbagai indikator menunjukkan bahwa pendidikan yang ada belum mampu menghasilkan sumber daya sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.

Sardiman (2005) mengemukakan guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahkan dan menuntun siswa dalam belajar. Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah.

(7)

maupun dengan peserta didik. Interaksi yang baik guru dengan siswaakan berpengaruh terhadapkepribadian atau karakter siswa tersebut.

Di lingkungan sekolah guru mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menciptakan situasi nilai-nilai karakter tersebut perilaku guru akan memberi warna terhadap watak peserta didik, diantaranya dengan cara: menciptakan kondisi sekolah yang mencerminkan nilai-nilai keberagaman, kemandirian, dan kesusilaan. Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. Dengan budaya sekolah yang sehat, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat untuk maju, dorongan bekerja keras dan kultur belajar mengajar yang bermutu dapat diciptakan. Siswa dan guru akan saling bekerjasama untuk berperilaku yang baik, bekerja maksimal, meletakkan target tertinggi serta mewaspadai adanya kultur negatif yang menyimpangdari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang menjadi komitmenbersama. Melalui pemahaman budaya sekolah, maka aneka permasalahan sekolah dapat diketahui dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan.

(8)

sabar dan relaberkorban untuk kepentingan pembelajaran, beribawa dihadapan siswa, bersikap baik terhadap guru-guru, bersikap baik terhadap masyarakat umum, benar-benar menguasai mata pelajaran yang diajarkan, menyukai matapelajaran yang diajarkan dan berpengetahuan luas.

Dengan terbentuknya budaya sekolah yang baik maka dapat membuat, terwujudnya peningkatan hasil belajar siswa, terciptanya kinerja guru yang tinggi, terarahnya perilaku warga sekolah untuk meningkatkan mutu proses dan hasil yang baik, terciptanya kerja tim warga sekolah yang kompak, tersaringnya budaya global yang tidak sesuai dengan budaya lokal sekolah, terwujudnya peningkatan komitmen dan motivasi warga sekolah dan orang tua siswa.

SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan sebagai objek penelitian yang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Berdasarakan wawancara yang dilakukan dengan guru di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan, terdapat 35 guru / pegawai yang terbagi 17 perempuan dan 18 laki-laki. Hasil wawancara yang diperoleh bahwa masih terdapat permasalahan bahwa dalam proses belajar mengajar dimana masih terdapat guru yang sebatas memberikan materi tanpa menjelaskan lebih lanjut materi yang disampaikan. Misalkan guru hanya menuliskan materi di papan tulis kemudian menyuruh siswa untuk mencatat.

(9)

Kurangnya partisipasi guru dalam pelaksanaan rapat yang dilaksanakan bagi seluruh guru dan staf atau karyawan dapat meghambat proses pengambilan keputusan atau kebijakan yang diambil oleh sekolah. Terkadang guru tidak mengikuti dengan tanpa memberikan alasan, padahal yang seharusnya guru dapat melaksanakan peraturan- peraturan sekolah yang telah dibuat. Permasalahan lainnya juga dimana terdapat siswa/I yang memiliki perilaku yang tidak sopan seperti halnya pada saat berpapasan dengan guru para siswa/I tidak menyapa atau memberi salam kepada guru.

masih terdapat juga guru yang memiliki sikap kaku dan tidak suka humor pada saat mengajar, hal tersebut dapat berpengaruh pada jalannya proses pembelajaran serta berpengaruh pada perbuatan dan tingkah laku warga sekolah terutama siswa. Siswa yang mengalami penurunan dalam pemahaman materi dapat berimbas pada prestasi siswa dimana masih banyak yang tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang harus dicapai yakni 75.

Pola kepemimpinan kepala sekolah akan sangat

berpengaruh bahkan sangat menentukan kemajuan

sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu

memotivasi bawahannya, karena keberhasilan seorang

pemimpin dalam menggerakkan orang dalam mencapai

tujuan, sangat bergantung kepada kewibawaan yang

dimilikinya. Paradigma baru manajemen pendidikan

memberikan kewenangan luas kepada kepala sekolah

(10)

pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pendidikan di

sekolah. Kondisi yang terjadi di lapangan Kepala sekolah belum menjadi

agen perubahan dalam hal mengkoordinir sumber daya pendidikan yang tersedia, sehingga pengembangan sekolah berjalan lambat, dan hanya sebatas menjalankan program-program yang telah digariskan oleh dinas pendidikan.

Banyak guru yang sudah terbiasa tidak disiplin dalam melaksanakan tugasnya, hai ini dapat dilihat dari fakta bahwa sebagian besar guru tidak tertib ketika mengawali dan mengakhiri KBM sehingga jam efektif menjadi berkurang, dengan adanya erilaku seperti ini dapat menghambat prestasi belajar siswa yang akan dicapai. Terdapat beberapa guru yang hanya memperlihatkan disiplin hanya jika kepala sekolah berada disekolah, dan jika mengetahui kepala sekolah berhalangan atau menghadiri rapat / pertemuan para guru merasa bebas dan kemudian menjadi tidak disiplin, hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru menjadi sangat rendah ketika tidak diawasi oleh kepala sekolah. Banyak sekolah sering mengadakan kegiatan-kegiatan incidental dengan mengorbankan jam-jam belajar efektif, seperti rapat guru , melayat, kegiatan – kegiatan perlombaan, dan kegiatan sosial lainnya, hal ini tentu mengurangi jam belajar efektif.

(11)

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :

1. Koordinasi kepala sekolah dalam melaksanakan pekerjaan cenderung masih kurang

2. Belum maksimalnya budaya sekolah yang menjadikan perubahan karakter pada guru dan peserta didik.

3. Kinerja guru cenderung masih kurang. 4. Prestasi siswa cenderung belum maksimal

1.3. PEMBATAS MASALAH

Berdasarkan masalah yang teridentifikasi diatas maka dalam penelitian ini peneliti membatasi masalah pada pengaruh budaya sekolah terhadap kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan.

1.4. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan batasan masalah diatas penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah Terdapat Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Kinerja Guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan Tahun Ajaran 2016/2017 ?

1.5. TUJUAN PENELITIAN

(12)

Budaya Sekolah Terhadap Kinerja Guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan Tahun Ajaran 2016/2017.

1.6. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:

1.6.1. Manfaat teoritis

Untuk menambah ilmu pengetahuan dan untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang pengaruh budaya sekolah terhadap kinerja guru.

1.6.2. Manfaat praktis

a. Bagi sekolah, dapat dijadikan dasar untuk pengembangan sekolah dimasa akan datang yaitu sekolah dapat memperbaiki karakter guru dan siswa yang kurang.

b. Bagi masyarakat dan orang tua khususnya, sebagai bahan masukan untuk menyusun Perencanaan dan peningkatan pendidikan untuk anaknya agar merasa terpenuhi atas kebutuhan belajarnya.

(13)

BAB 2 KAJIAN TEORI

2.1. Budaya Sekolah 2.1.1. Pengertian Budaya

Budaya merupakan suatu pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Budaya dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Kebudayaan juga didefinisikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar (Koentjaraningrat, 2003:72).

(14)

selanjutnya secara turun temurun dan tercermin dalam wujud fisik maupun abstrak.

2.1.2. Pengertian Budaya Sekolah

(15)

peraturan, hadiah, hukuman dan budaya sekolah lebih fokus pada perilaku dan kebiasaan bersama dari suatu sekolah.

Budaya sekolah merupakan salah satu unsur sekolah yang penting dalam mendukung peningkatan prestasi dan mutu sekolah. Konsep budaya dalam dunia pendidikan berasal dari budaya tempat kerja di dunia industri seperti yang disampaikan oleh Deal dan Peterson (2001: 3) merupakan Konsep budaya memiliki sejarah yang panjang dalam menjelaskan perilaku manusia pada umumnya dan kelompok-kelompok pada khususnya. Ilmuwan sosial lainnya kemudian menerapkan konsep budaya kepada aspek-aspek yang lebih spesifik atau terbatas yakni mengenai pola perilaku dan cara berpikir manusia dalam bekerja formal pada organisasi-organisasi. Budaya sekolah dikembangkan dari konsep budaya tersebut yang mengatur perilaku warga sekolah melalui penetapan tata tertib atau aturan-aturan yang harus ditaati bersama oleh warga sekolah. merupakan asumsi-asumsi dasar, norma-norma, nilai-nilai, budaya artifak yang diyakini warga sekolah dan dapat mempengaruhi fungsi sekolah. Definisi ini mengacu pada sejumlah elemen budaya yakni asumsi-asumsi dasar, norma dan nilai, dan budaya artifak, serta sejumlah aspek budaya yakni segala kebiasaan dan yang berpengaruh pada perilaku seseorang disekolah.

(16)

keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak, tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah.

Budaya yang baik akan secara efektif menghasilkan kinerja yang terbaik pada Setiap individu, Kelompok kerja atau unit kerja, budaya pada setiap manusia memiliki perbedaan karena budaya tergantung pada apa yang terdapat dalam diri individu. Budaya sekolah terbentuk dari berbagai macam norma, pola perilaku, sikap, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh para anggota komunitas sebuah lembaga pendidikan. Kultur sekolah atau budaya sekolah itu sangatlah penting dikarenakan nilai-nilai budaya itu dapat dijadikan sebagai dasar / pedoman dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu. Posisi budaya sekolah sebagai sumber nilai dan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

(17)

Dasar pola berprilaku dan bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan yang ada di dalam tingkat lokal.

Budaya sekolah yang baik dapat dilihat dari komponen input sekolahan, cotohnya seperti kebiasaan atau habit yang ada didalam sekolahan tersebut. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah sering dilakukan di dalam bahkan di luar sekolah dapat mempengaruhi karaker siswa itu sendiri. Karena dengan kebiasaan yang dilakukan oleh siswa maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal positif, seperti membuang sampah pada tempatnya, senyum kepada teman, salam dan sapa kepada guru, menghormati penjaga sekolah, satpam, dan tukang bersih di sekolahan. Namun kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh siswa, namun juga oleh seluruh warga sekolah karna seorang anak akan mengikuti apa yang di lihatnya sehari-hari. Budaya sekolah yang baik akan mendorong seluruh anggota sekolah untuk disiplin dan tanggug jawab terhadap segala kewajibannya, karena nilai, moral, sikap dan perilaku siswa selama di sekolaha dipengaruhi oleh struktur dan budaya sekolah.

(18)

Budaya sekolah sebenarnya dapat dikembangkan terus-menerus kearah yang lebih positif.

Aspek-aspek mengenai budaya utama (core culture) yang direkomendasikan untuk dikembangkan sekolah yaitu sebagai berikut:

 Budaya jujur Adalah budaya yang menekankan pada aspek-aspek kejujuran pada masyarakat dan teman-teman.

 Budaya saling percaya Adalah budaya yang mengkondisikan para siswa dan warga sekolah untuk saling mempercayai orang lain.

 Budaya kerja sama Adalah budaya yang membuat orang-orang saling membantu dalam berbagai hal untuk mencapai tujuan.

 Budaya membaca Adalah budaya yang membuat seseorang menjadi gemar membaca.

 Budaya disiplin dan efisien Adalah budaya taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercayai termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.

 Budaya bersih Adalah budaya yang mengajarkan tentang bagaimana menjaga kebersihan baik badan maupun lingkungan.

 Budaya berprestasi Budaya yang menciptakan kondisi yang kompetitif untuk memacu prestasi siswa.

(19)
(20)

prestasi siswa yang membangakan adalah tiga hal yang akan menyuburkan budaya sekolah. Pengelolaan kelas yang baik maka akan menyebabkan prestasi akademik yang tinggi. Bila siswa memiliki karakter yang baik, maka hal ini akan berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik yang tinggi. Langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah menciptakan suasana atau iklim sekolah yang cocok yang akan membantu transformasi guru-guru dan siswa, juga staf-staf sekolah. Semua langkah dalam model pembelajaran nilainilai karakter ini akan berkontribusi terhadap budaya sekolah.

2.1.3. Peran Budaya Sekolah dalam meningkatkan Kinerja Guru dan Mutu Sekolah

Budaya sekolah memiliki dua peranan penting yaitu meningkatkan kinerja sekolah dan membangun mutu sekolah dikemukakan Hinde E.R. (2003) .

a. Budaya sekolah berperan dalam memperbaiki kinerja guru

apabila budaya yang berkembang di sekolah tersebut memenuhi kualifikasi sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Budaya sekolah yang memenuhi kualifikasi tersebut mencerminkan jati diri, kepribadian, dan adanya komitmen yang luas pada sekolah tersebut. Adanya budaya sekolah yang baik di lingkungan sekolah akan mampu mendorong guru dan siswa untuk bekerja dan berusaha mencapai target hasil tertinggi.

(21)

Budaya sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu sekolah. Peningkatan sekolah dapat ditunjukkan dengan penetapan program akademik yang baru, kebijakan kedisiplinan, pengembangan staf, guru, dan siswa. Hinde (2003: 7) mengidentifikasi Norma-norma dalam upaya peningkatan mutu sekolah berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan kualitas guru dan staf. Enam norma yang menunjukkan pengetahuan dan kualitas guru adalah kolegalitas, percobaan, harapan tinggi, keyakinan dan kepercayaan diri, dukungan nyata, dan mengacu pada dasar pengetahuan. Peranan budaya sekolah dalam membangun mutu sekolah juga memberikan kesempatan kepada staf untuk mengembangkan diri secara profesional dan secara nyata. Keefektifan staf dalam berinteraksi dengan guru tercermin dalam enam norma yaitu apresiasi dan pengakuan, kepedulian, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, melindungi hal-hal penting, tradisi, dan komunikasi terbuka.

Berdasarkan beberapa pandangan yang dikemukakan diatas dapat dijelaskan bahwa budaya sekolah secara garis besar memiliki dua peranan yaitu meningkatkan kinerja guru dan meningkatkan mutu sekolah. Dalam hal untuk meningkatkan kinerja guru mencakup kinerja kepala sekolah, budaya sekolah. Sementara peranan budaya sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah berkaitan dengan prestasi siswa.

(22)

Mangkunegara (2004: 67) mendefinisikan kinerja adalah hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sulistiyani dan Rosidah (2003: 223) menyatakan kinerja merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya. Secara definitif (Bernandin dan Russell) dalam Sulistiyani dan Rosidah (2003) juga mengemukakan kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan, serta waktu. Penilaian kinerja adalah menilai rasio hasil kerja nyata dari standar kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan setiap karyawan, (Hasibuan, 2005: 87). Menurut Andrew F. Sikula dalam Hasibuan (2005), penilaian kinerja adalah evaluasi yang sistematis terhadap pekerjaan yang telah dilakukan oleh karyawan dan ditujukan untuk pengembangan.

(23)

berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena suatu organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia maka kinerja sesungguhnya merupakan perilaku manusia dalam menjalankan perannya dalam suatu organisasi untuk memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan agar membuahkan tindakan serta hasil yang diinginkan.

Berdasarkan pengertian tentang kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai seseorang dalam bidang pekerjaannya menurut kriteria tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu terutama atasan pegawai yang bersangkutan.

2.2.2. Pengertian Kinerja Guru

(24)

guru apapun hasilnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pimpinan dalam membuat rancangan selanjutnya.

(25)

terfokus pada penyedia bimbingan belajar bagi siswa. Belajar mengajar pada hakikatnya dapat menjadi dua aktivitas, yaitu kegiatan belajar dan kegiatan mengajar dan masing-masing kegiatan memiliki makna yang berbeda”.

Dengan demikian dari berbagai pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja guru merupakan prestasi guru yang dapat dicapai oleh seorang guru di lembaga pendidikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan pendidikan yang didasarkan pada kecakapan, pengalaman, dan kesungguhannya.

Menurut Kunandar (2011: 263), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. Dalam Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru, indikator kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran adalah:

1) guru memformulasikan tujuan pembelajaran dalam RPP sesuai dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik

2) guru menyusun bahan ajar secara runtut, logis, kontekstual, dan mutakhir

3) guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif; 4) guru memilih sumber belajar/ media pembelajaran sesuai

(26)

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran adalah proses interaksi yang dilakukan oleh guru dengan siswa baik di dalam kelas maupun diluar kelas yang didukung oleh lingkungan sekitar. Menurut Djahiri (Kunandar, 2011: 293), dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan nonfisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa yang akan datang (life skill). Dalam Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru, kegiatan program pembelajaran berupa:

1. Guru memulai pembelajaran dengan efektif; 2. Guru menguasai materi;

3. Guru menerapkan pendekatan/ strategi pembelajaran yang efektif; 4. Guru memanfaatkan sumber/ media dalam pembelajaran;

5. Guru memotivasi dan/atau memelihara keterlibatan siswa dalam pembelajaran;

6. Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran;

7. Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif.

Sedangkan kegiatan penilaian pembelajaran adalah:

1) Guru merancang alat evaluasi untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik;

(27)

3) Guru memanfaatkan berbagai hasil penilaian untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik tentang kemajuan belajarnya dan bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya.

Menurut Martinis Yamin dan Maisah (2010: 16-17), komponen pengelolaan pembelajaran terbagi menjadi empat kompetensi yang kemudian dibagi lagi menjadi indikator, yaitu:

1) Penyusunan rencana pembelajaran: mendikripsikan tujuan/ kompetensi pembelajaran, menentukan materi, mengorganisir materi, menentukan metode/strategi pembelajaran, menentukan sumber belajar/media/alat peraga, menyusun perangkat penilaian, menentukan teknik penilaian, mengalokasikan waktu.

2) Pelaksanaan interaksi belajar mengajar: membuka pelajaran, menyajikan materi, menggunakan metode/strategi, menggunakan alat peraga/media, menggunakan bahasa yang komunikatif, memotivasi siswa, mengorganisasi kegiatan, berintaksi secara komunikatif, menyimpulkan pelajaran, memberikan umpan balik, melaksanakan penilaian, tepat menggunakan waktu.

(28)

4) Pelaksanaan tindak lanjut: menyusun program tindak lanjut hasil penilaian, mengklarifikasikan kemampuan siswa, mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian, melaksanakan tindak lanjut, mengevaluasi hasil tindak lanjut, menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut.

2.2.3. Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja guru

Kinerja yang dilaksanakan oleh guru memiliki banyak faktor dalam

mencapai tingkat ketercapaian, faktor itu dapat berupa faktor intern maupun

faktor ekstern. Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru maka

dampak yang diberikan pun juga akan bervariatif, hal itu tergantung pada faktor

apa yang mempengaruhi kinerja guru.

Menurut Suyadi Prawirosentono (1999: 27-32) faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja antara lain:

1. Efektivitas dan efisiensi.

2. Otoritas dan tanggung jawab meliputi perencanaan program pengajaran,

kegiatan belajar mengajar, evaluasi

3. Disiplin, meliputi disiplin waktu, disiplin kerja, dan taat pada peraturan

yang berlaku.

4. Inisiatif dan kreatifitas,

2.3. KERANGKA BERPIKIR

(29)

dipengaruhi oleh struktur dan budaya sekolah. budaya sekolah merupakan lingkungan belajar yang mendorong perilaku positif dan kepribadian siswa sehingga menciptakan proses pembelajaran yang optimal. Setiap sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen sekolah secara internal dan eksternal. Oleh sebab itu, dengan memahami cirri-ciri kultural sekolah akan dapat diusahakan tindakan nyata untuk perbaikan mutu. jika tercipta budaya sekolah yang baik maka karakter siswa akan baik pula.

Keteladanan guru yang juga merupakan salah satu upaya untuk membentuk karakter siswa yang baik. Karakter baik tersebut ditunjukkan dalam kebiasaan dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku yang baik tersebut akan menarik simpati orang lain terhadap dirinya. Perilaku yang baik juga akan membuat seseorang mudah untuk mendapatkan teman dalam berinteraksi. perilaku yang baik seorang siswa membuat hubungan atau interaksi yang baik dengan teman-teman. Interaksi seorang siswa dengan teman-teman akan berpengaruh terhadap kepribadian atau karakter siswa tersebut.

(30)

merasa bosan kemudian malas untuk menerima materi yang disampaiakan. Guru harus menggunakan metode yang tepat dan bervariasi agar siswa tidak merasa bosan ketika proses pembelajaran.

(Sugiyono, 2003:14) mengatakan bahwa Penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Berdasarkan keterangan diatas maka dapat dirumuskan bahwa budaya sekolah mempunyai peran yang penting terhadap kinerja guru dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel bebas Budaya Sekolah (X) dan variabel terikat Kinerja Guru (Y).

Berdasarkan uraian diatas, dapat digambarkan melalui kerangka berpikir berikut:

BUDAYA SEKOLAH (X)

KINERJA GURU (Y)

2.4. PENELITIAN YANG RELEVAN

Penelitian yag relevan dengan penelitian yang dilakukan penulis, atara lain:

1.

Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Siswa Kelas X Jurusan

(31)

dengan pendekatan expost facto. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMK N 3 Klaten, sedangkan sampel yang dibutuhkan adalah 72 siswa dengan taraf kesalahan yang digunakan sebesar 5% yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Uji coba angket dilakukan dengan 28 siswa.Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, uji persyaratan hipotesis (uji normalitas, uji linearitas). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: Variabel keadaan budayasekolah pada siswa kelas X jurusan tata boga SMK N 3 Klaten sebesar 45% termasuk dalam kategori cukup.

2.

Pengaruh budaya kerja terhadap kinerja guru dalam proses belajar

mengajar SMK Prambanan (Susi Suryani, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh budaya kerja terhadap kinerja guru dalam proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di Kecamatan Prambanan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Untuk validitas data menggunakan validitas isi. Hasil penelitan menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan budaya kerja terhadap kinerja guru Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di kecamatan Prambanan dengan

sumbangan efektif sebesar 22,1% dan persamaan regresinya �

=53,196+0,557 �, sehingga apabila terdapat kenaikan pada prediktor akan menyebabkan naiknya prediksi, begitupula sebaliknya.

(32)

Ha = Terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru SMPKatolik Bunda Hati Kudus Woloan

Ho = Tidak Terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN 3.1. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey. Menurut Kerlinger (Sugiyono, 2008; 11), penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut.

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian 3.2.1. Variabel Bebas (Y) Kinerja Guru

Kinerja guru adalah kemampuan dan usaha guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran sebaik-baiknya dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran, kinerja guru selain berkenaan dengan derajat penyelesaian tugas-tugas yang dicapai guru, juga merefleksikan seberapa baik guru telah memenuhi persyaratan pekerjaannya, sehingga kinerja diukur dalam artian hasil.

 Perencanaan program pengajaran,

 Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan

 Evaluasi hasil pembelajaran

(33)

Budaya sekolah adalah keyakinan, norma, perilaku dan kebiasaan di dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah. Budaya sekolah, dengan demikian, merupakan konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma, perilaku dan kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah.

 keyakinan,

 perilaku dan

 kebiasaan

3.3. SUBJEK PENELITIAN 3.3.1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan individu dari permasalahan yang diteliti. Suharsimi Arikunto (2010:173). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh guru dan pegawai Smp Katolik Bunda Hati Kudus Woloan yang berjumlah 35 orang

3.3.2. Sampel

Menurut Sugiyono (2009:90) sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Slovin (dalam Riduan,2009:95) sebagai berikut:

(34)

Keterangan :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

d2 = Presisi (ditetapkan 5% dengan tingkat kepercayaan 95%)

Dengan rumus tersebut jumlah sampel yang diperoleh adalah : n= N

N . d2+1=

35

(35).0,052+1=

35

1,0875=32,18

¿dibulatkan menjadi32sampel

3.4. Tempat Dan Waktu Penelitian 3.4.1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian telah dilaksanakan di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan

3.4.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari 2017 hingga Maret 2017.

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen angket(questioner) dan dokumentasi, instrument angket untuk Budaya Kerja (variabel bebas), dan Kinerja Guru (variabel terikat).

(35)

Menurut Sugiyono (2012; 137) wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan masalah yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit. Data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru memberikan informasi tentang masalah budaya sekolah yang mempengaruhi kinerja guru.

b. Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, (Sugiyono, 2012; 137). Kuesioner juga merupakan salah satu teknik pengumpuan data yang efisien apabila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan responden. Kuesioner juga cocok digunakan jika jumlah responden cukup besar.

c. Observasi

(36)

permasalahan yang muncul disekolah yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran.

3.6. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket untuk mengukur budaya sekolah dan kinerja guru. Angket merupakan sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang mendasar dari laporan diri sendiri, pengetahuan, dan atau keyakinan pribadi dari subjek yang diteliti dan berjumlah 32 guru yang ada di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Instrumen ini disusun sebanyak 30 butir pernyataan dengan teknik penskoran adalah sebagai berikut:Sangat Setuju (5), Setuju (4), Ragu – Ragu (3), Tidak Setuju (2), Sangat Tidak Setuju (1).

3.7. Teknik Analisa Data

Untuk menguji hipotesis pengaruh budaya sekolah terhadap kinerja guru menggunakan teknik analisis regresi sederhana antara X terhadap Y.

3.7.1. Teknik Analisis Regresi Sederhana

Teknik analisis regresi sederhana (Sugiyono, 2012:262) adalah sebagai berikut:

Ý=a+bX

Dimana:

a = Bilangan Konstanta b = Koefisien Regresi

(37)

Koefisien a dan b dapat dicari dengan rumus:

a=(∑ y)(∑ x

2

)−(∑ x)(∑ xy)

n(∑ x2)−(∑ x)2

b=n(∑ xy)−(∑ x)(∑ y) n(∑ x2)−(∑ x)2

3.7.2. Teknik Korelasi

Teknik korelasi Person (Product Moment Corelation) dari

Sugiyono (2012:255):Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

rxy= n(∑ xy)−(∑ x)(∑ y)

{(n ∑ x2¿)−(∑ x)2}{n(∑ y2)−(∑ y)2}¿

Dimana:

r = Koefisien Korelasi n = Jumlah Sampel ∑X = Jumlah Skor X ∑Y = Jumlah Skor Y

∑X2 = Jumlah Skor X Yang Dikuadratkan ∑Y2 = Jumlah Skor Y Yang Dikuadratkan ∑XY = Jumlah Hasil Kali X Dan Y

3.7.3. Uji t

(38)

t=√n−2

1−r2

Dimana:

t = signifikan koefisien korelasi r = koefisien korelasi

n = jumlah sampel

r2 = derajat penentu (koefisien determinasi)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1. HASIL PENELITIAN 4.1.1. Deskripsi Tempat Penelitian

A. Visi Misi SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan a. Visi

Terdidik, mandiri, religius, berbudaya, cerdas, dan terampil b. Misi

- Membentuk warga sekolah yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur dengan mengembangkan sikap dan perilaku religius baik didalam sekolah maupun diluar sekolah.

- Mengembangkan budaya gemar membaca, rasa ingi tahu, bertoleransi, bekerja sama saling menghargai disiplin, jujur, kerja keras, kreatif dan inofatif.

- Meningkatkan nilai kecerdasan, cinta ilmu dan keingintahuan peserta didik dalam bidang akademik maupun nonakademik.

(39)

- Mengupayakan pemanfaatan waktu belajar, sumber daya fisik, dan manusia agar memberikan hasil yang terbaik bagi peserta didik.

- Menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan, cinta damai, cinta tanah air, semangat kebangsaan.

B. Pelaksanaan proses belajar mengajar SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan

Bentuk pelaksanaan belajar mengajar di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloandibagi menjadi dua bentuk kegiatan yaitu Inta Kurikuler dan Ekstra Kurikuler.

a. Kegiatan Intra Kurikuler

Kegiatan intra kurikuler adalah kegiatan belajar mengajar dimana materi yang disampaikan dikelas, yang mana telah disusun berdasarkan bidang studi dan disesuaikan dengan pengajaran secara terjadwal oleh pegawai setempat, yang pelaksanaannya diserahkan kepada wakil kepada sekolah urusan kurikulum. Kegiatan intra kurikuler bidang studi keterampilan ibadah disusun berdasarkan kurikulum lokal yang disampaikan dan disesuaikan dengan alokasi waktu yaitu siswa diharuskan masuk kesekolah pada pukul 06.45 untuk ibadah bersama sebelum proses belajar mengajar dimulai.

b. Kegiatan Ekstra Kurikuler

(40)

dari ekstra kurikuler yang dilaksanakan di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan adalah sebagai berikut: Pramuka, Kesenian (Drum Band, Tarian, Kolintang,), Olahraga, dll. Untuk Ekstra pramuka wajib diikuti siswa kelas VII dan siswa kelas VIII, yang dilaksanakan pada hari jumat sore.

4.1.2. Penyajian data

Untuk membuktikan kuat lemahnya pengaruh dan diterima atau ditolaknya hipotesis yang diajaukan dalam skripsi ini, maka akan dibuktikan dengan mencari nilai koefisien korelasi antara variabel X (Budaya Sekolah) dengan variabel Y (Kinerja Guru). Data penelitian yang diambil berbentuk kuesioner (kuesioner budaya sekolah dan kinerja guru). Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan dengan menggunakan microsoft excel. Data yang diambil sebanyak 32 guru di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan.

Melalui pedoman dan hasil pengumpulan data, maka diperoleh skor dari tiap individu sebagai berikut :

Tabel 4.1

Tabel Untuk Menghitung Regresi Linear Sederhana

N X Y X2 Y2 XY

1 120 115 14400 13225 13800

2 116 134 13456 17956 15544

3 139 145 19321 21025 20155

(41)

5 141 129 19881 16641 18189

6 144 146 20736 21316 21024

7 135 138 18225 19044 18630

8 137 134 18769 17956 18358

9 136 139 18496 19321 18904

10 133 143 17689 20449 19019

11 139 126 19321 15876 17514

12 132 127 17424 16129 16764

13 134 128 17956 16384 17152

14 137 123 18769 15129 16851

15 128 127 16384 16129 16256

16 138 132 19044 17424 18216

17 126 128 15876 16384 16128

18 142 135 20164 18225 19170

19 128 150 16384 22500 19200

20 142 134 20164 17956 19028

21 134 133 17956 17689 17822

22 114 110 12996 12100 12540

23 128 132 16384 17424 16896

24 127 125 16129 15625 15875

25 124 137 15376 18769 16988

26 129 126 16641 15876 16254

27 142 127 20164 16129 18034

28 136 130 18496 16900 17680

29 117 147 13689 21609 17199

30 108 120 11664 14400 12960

31 121 119 14641 14161 14399

32 128 136 16384 18496 17408

N

(32) 4187 4215 550403 557847 552437

Sumber diolah (2017) a. Pengolahan Data

1. Uji Validasi Angket

(42)

yang dinyatakan valid yaitu pada item pertanyaan nomor (2,3,4,5,7,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18, 20,21,22,23,24 ,26,27 ,28,29,30) (yang digunakan) sedangkan yang dinyatakan tidak valid sebanyak 5 item pertanyaan yakni pada nomor (1,6,8,19,25) (tidak digunakan). Sedangkan hasil untuk item variabel kinerja guru dengan jumlah 25 item soal yang dinyatakan valid yaitu pada item pertanyaan nomor (1,2,4,5,7,9,10,11,12,13,14,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30) (yang digunakan) sedangkan yang dinyatakan tidak valid sebanyak 5 item pertanyaan yakni pada nomor (3,6,8,15,16) (tidak digunakan). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 3

2. Uji Reliabilitas Instrument

Berdasarkan uji reliabilitas dengan menggunakan bantuan Microsoft Excel pada masing – masing variabel X (budaya sekolah) dan Y (kinerja guru) diperoleh pada uji reliabilitas budaya sekolah r11 sebesar 1,202 dan

Distribusi rtabel taraf kepercayaan 95% (taraf nyata = 0,05) dengan derajat

kebebasan (dk) = n- 2 (25-2 = 23) sebesar 0,388. Maka hasil yang diperoleh r11> rtabel (1,202 > 0,388). Dengan demikian hasil uji reliabilitas budaya

sekolah dapat disimpulkan bahwa Reliabel. Sedangkan hasil perhitungan uji reliabilitas kinerja guru diperoleh r11 sebesar 1,203 dan Distribusi rtabel sebesar

0,388. Maka hasil yang diperoleh r11> rtabel (1,203 > 0,388). Dengan demikian

hasil uji reliabilitas kinerja guru dapat disimpulkan bahwa Reliabel. jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5

(43)

Berdasarkan hasil yang didapat dengan menggunakan SPSS V.23,0, diketahui, bahwa nilai signifikan sebesar 0,200, yang berarti 0,200 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang akan diuji berdistribusikan Normal. jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 7.

b. Analisis Data 1. Uji Regresi

Bentuk persamaan regresi adalah Ý = a + bX. Untuk dapat menghitung regresi maka lebih dahulu dicari nilai konstanta a dan koefisien b adalah sebagai berikut :

Ý=a+bX

b=n(∑ xy)−(∑ x)(∑ y) n(∑ x2)−(∑ x)2

b=32(55243732 )−(4187)(4215)

(550403)−¿¿

b=17677984−1764820517612896−17530969=b=2977981927=0,363

a=(∑ y)(∑ x

2

)−(∑ x)(∑ xy)

n(∑ x2)−(∑ x)2

(44)

a=2319948645−231305371917612896−17530969

a=689492681927 =81,16

Dengan demikian Hasil Persamaan Regresi Yakni : Ý ¿81,16+0,363X hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru, dimana dapat dilihat bahwa apabila budaya sekolah bertambah 81,16 maka akan terjadi peningkatan kinerja guru sebesar 0,363.

Tabel 4.2

Pengelompokan data untuk menguji kelinieran dan keberartian regresi

(45)

139

2. Menguji kelinieran dan keberartian regresi (Uji Varian)  JK(T)=ΣY2

Ringkasan ANAVA untuk menguji kelinearitas dan keberartian regresi Sumber variansi Dk JK RJK Fhitung Ftabel

Total JK (T) n ΣY2

(Bahan ajar Ekonometrika Fakultas Ekonomi UNIMA Oleh Dr. Joubert Dame, M.Si)

(46)

JK(α)=¿ ¿ = 1776622532 = 555195

JK b/a=0,363(552437−(418732) (4215))

= 0,363 (930,5938) = 337,8055313

JK (G) = Σ¿

Tabel Analisis Varian (ANAVA) untuk regresi regresi linear Y = 81,16 + 0,363X

Sumber

Variansi Dk JK RJK Fhitung Ftabel

Total JK

(47)

Regresi

*) Signifikan pada taraf 0,05

Pengambilan keputusan pengujian keberartian dengan menggunakan dk pembilang k – 2 (22 – 2 = 20) dan dk penyebut n – k (32 – 22 = 10) maka diperoleh Ftabel sebesar 2,77 pada taraf signifikan 0,05. Dari hasil diatas

diperoleh Fhitung sebesar 1,31 maka Ftabel < Fhitung sebesar 2,77< 1,13.

Berdasarkan hasil tersebut maka peneliti menarik kesimpulan bahwa Ha diterima dan tolak Hoyang berarti pengaruh budaya sekolah terhadap

kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan berbentuk regresi linear.

3. Teknik Korelasi

Teknik korelasi Person (Product Moment Corelation) dari Sugiyono (2012:255): Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

rxy=n(∑ xy)−(∑ x)(∑ y)

(48)

rxy= 32(552437)−(4187)(4215)

{(32.550403¿)−(4187)2}{32(557847)−(4215)2}¿

rxy= 17677984−(17648205)

{(17612896¿)−(17530969) }{(17851104)−(17766225) }¿

rxy= 29779

{81927}

{84879}rxy=

29779

(286,23)(291,34)rxy=

29779 83389,94

rxy=0,357

Berdasarkan perhitungan uji korelasi diatas diperoleh nilai rxy sebesar

0,357 dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa antara variabel x (budaya sekolah) dan variabel y (kinerja guru) terdapat hubungan sebesar 0,357.

c. Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Mencari besarnya sumbangan (kontribusi) variabel X (budaya sekolah) dengan variabel Y (kinerja guru), dengan menggunakan rumus : KP=r2x100

¿(0,357x0,357)100=¿) 100 = 12,75%

(49)

d. Uji t

Untuk menguji signifikan dari koefesien korelasi digunakan uji t (Sugiyono, 2012:259), dengan rumus sebagai:

t=√n−2

1−r2 t= √32−2

√1−0,1275

t= √30

√0,872t=

5,47723

0,93406t=5,86386

Hipotesis dalam penelitian ini yakni :

1. Jika thitung ≥ ttabel, maka tolak Ho dan terima Ha, artinya terdapat

pengaruh yang signifikan antara budaya sekolah dengan kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan,

2. Jika thitung ≤ ttabel, maka tolak Ha dan terima Ho, artinya tidak terdapat

pengaruh yang signifikan antara budaya sekolah dengan kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan,

Berdasarkan perhitungan diatas, pengujian hipotesis dengan taraf kepercayaan 95% dan taraf nyata = 0,05 dan n = 32, dengan dk = n-2 (32-2 = 30) sehingga diperoleh hasil Ttabel sebesar 1,69726.

Kesimpulan dari hasil tersebut dapat diartikan thitung ≥ ttabel sebesar

(50)

bahwa terdapat hubungan antara budaya sekolah terhadap kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan yang tidak dapat diabaikan.

4.2. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya sekolah dan kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan, Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel budaya sekolah dan kinerja guru. Budaya sekolah diukur dengan menggunakan angket / kuesioner yang diberikan kepada 32 guru yang merupakan anggota dari populasi guru-guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan. Angket tersebut menggunakan skala likert dengan 30 butir pertanyaan, dimana setiap alternatif pilihan jawaban memiliki skor yang berbeda. Kinerja guru juga diukur dengan menggunakan angket yang diberikan kepada 32 guru yang merupakan bagian dari populasi guru-guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan.Variabel kinerja guru diukur dengan 30 butir pertanyaan yang juga menggunakan skala likert.

Setelah kedua variabel tersebut diukur, maka dapat digunakan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh budaya sekolah dan kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan, dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara budaya sekolah dengan kinerja guru. maka dituangkan dalam bentuk hipotesis kemudian diuji dengan menggunakan analisis regresi sederhana.

(51)

positif .Artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya sekolah terhadap kinerja guru. Jadi hipotesis yang peneliti ajukan yaitu terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru adalah benar dan dapat diketahui.Artinya semakin tinggi tingkat budaya sekolah, maka semakin tinggi pula kinerja guru di SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan.Dengan demikian, hipotesis yang peneliti ajukan dapat diterima.

Hasil Persamaan Regresi Yakni :Y ¿81,16+0,363X, hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru, artinya setiap ada peningkatan 1 unit pada variabel budaya sekolah maka akan terjadi peningkatan pada kinerja guru sebesar 0,363. Adapun untuk uji t terhadap koefisien regresi diperoleh sebesar = 5,86386 kemudian diinterpretasikan dalam tabel taraf signifikan 5% (df = 30) = 1,69726 dan taraf signifikan 1% (df = 30) = 2,45726 diperoleh thitung> ttabel,

pada taraf signifikan 5 % (df = 30) sebesar 5,86386 >1,69726 dan pada taraf signifikan 1 % (df = 32) sebesar 5,86386 >2,45726. Selanjutnya mencari nilai koefisien determinasi antara variabel X dan variabel Y, maka digunakan rumus sebagai berikut: (R)2 = r2 X 100% = (0,1275)2 X 100% =

(52)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan antara lain :

a. Berdasarkan hasil dari dari perhitungan Persamaan Regresi Yakni : Y

¿81,16+0,363X hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara budaya sekolah terhadap kinerja guru, dimana dapat dilihat bahwa apabila budaya sekolah bertambah 81,16 maka akan terjadi peningkatan kinerja guru sebesar 0,363.

b. Berdasarkan hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa adanya pengaruh budaya sekolah terhadap kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai Thitung > Ttabel

pada taraf signifikan 5 % sebesar (5,86386> 1,69726) dan pada taraf signifikan 1 % menunjukan bahwa nilai Thitung > Ttabel sebesar (5,86386

> 1,69726). Budaya sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru SMP Katolik Bunda Hati Kudus Woloan. c. Berdasarkan hasil dari dari perhitungan oleh koefisien determinasi

(53)

5.2. SARAN

Melihat hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Karena adanya pengaruh antara budaya sekolah dan kinerja guru, maka diharapkan guru selalu memperhatikan dan mempertahankan budaya sekolah yang ada serta mampu mengembangan budaya sekolah tersebut demi terwujudnya tujuan pendidikan yang diharapkan

b. Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar untuk menggapai cita-cita yang tinggi dengan adanya para guru - guru yang akan selalu membimbing dan berusaha untuk memberikan pendidikan sebagaimana mestinya.

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi. Revisi). Jakarta : Rineka Cipta

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, Rineka Cipta.

Doni Koesoema.(2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Kanisius: Yogyakarta.

Hasbulla. (2005). Dasar-dasar ilmu pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Prasada

Hasibuan, Malayu S.P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi. Bumi Aksara, Jakarta.

Herminarto Sofyan. (2005). Pengembangan kultur sekolah. Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Hinde, E.R. (2003). School culture and change: An examination of the effects of school culture on the process of change. Arizona State University West.

Ide Lia Marzuki, 1323012011 (2015) PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH DI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG. Masters thesis, Universitas Lampung.

(55)

Rineka Cipta.

Mangkunegara dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Sumber Daya Manusia” (2004:67)

Martoyo, Susilo. 2007. Manajemen Sumberdaya Manusia. Edisi 5. BPFE. Yogyakarta

Mohamad Surya. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Mulyasa, E. 2004. “Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan Implementasi”. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : Rosdakarya

Mulyasa, E. Standar Kompetensi fl/ dan Sertifikasi Guru, Bandung'. Rosdakarya, 2007.

Peterson, Kent D. and Terrence E. Deal. 2009. The Shaping School Culture Filedbook. San Francisco: Josses-Bass.

Poespawardojo, S:2007. Pengertian Kearifan Lokal dan Relevasinya dalam Modernisasi dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

(56)

Sardiman, 2005, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta

Sugiyono. (2012) Memahami penelitian kuantitatif”. Bandung : ALFABETA

Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung. Pusat Bahasa Depdiknas.

Sulistiyani dan Rosidah, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia,. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Suryani Susi. (2013) Pengaruh Budaya Kerja Terhadap Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Sekolah Menengah Atas Dan Kejuruan Di Kecamatan Prambanan

Vela Miari Nurma Arimbi. (2011). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru SMK Negeri Di Temanggung. Skripsi. MP FIP UNY.

Wirawan. (2009). Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia Teori Aplikasi dan Penelitian. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.

(57)

Gambar

Tabel 4.1Tabel Untuk Menghitung Regresi Linear Sederhana
Tabel 4.2Pengelompokan data untuk menguji kelinieran dan keberartian regresi
Tabel 4.3Ringkasan ANAVA untuk menguji kelinearitas dan keberartian regresi
Tabel 4.4Tabel Analisis Varian (ANAVA) untuk regresi regresi linear Y = 81,16 +

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Dan Budaya Sekolah Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri Di Wilayah Kerja Uptd Kecamatan Pasirjambu.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Terwujudnya kinerja yang berkualitas sangat ditentukan oleh manajemen yang baik dan benar. Pengelola manajemen sekolah dimotori oleh kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam jurnal nasional Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Guru (Studi pada MA di Kota Tasikmalaya) (Arifah R,

Dari hasil penelitian tampak bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi sekolah secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap kinerja guru mengah

Disiplin kerja, budaya organisasi dan kepuasan kerja sebagai salah satu penunjang dalam proses kerja yang dapat berakibat terhadap peningkatan kinerja karyawan pada

Sumber : Data diolah Peneliti Kendala dan Solusi Peningkatan Kompotensi Kinerja Guru Di SMA Negeri 11 Pangkep Peran kepemimpinan ditinjau dari budaya kerja kepala sekolah sudah

Jurnal Pendidikan Tambusai 4632 Pengaruh Persepsi tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah Budaya Kerja dan Citra Diri terhadap Kinerja Guru Tidak Tetap Sekolah Menengah Kejuruan Negeri

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja guru yang berada di SMA Negeri 1 Sumberejo Kabupaten Tanggamus sudah terbilang baik Selain itu, budaya sekolah merupakan elemen yang