• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Media Baru terhadap Pembentukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Media Baru terhadap Pembentukan"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Media Baru Terhadap Pembentukan Gerakan

Sosial

Studi Terhadap Gerakan Akademi Berbagi

Oleh: Eugenia Ines Dwi Artvianti

Magister Ilmu Komunikasi UNPAD

1. Pendahuluan

Media dan teknologi baru telah memberikan cara bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan gagasan, cara baru untuk berinteraksi dengan teman maupun orang asing, juga cara baru untuk mempelajari dunia, identitas kita dan juga masa depan (Gamble, 2005). Jutaan orang saat ini terhubung dan berinteraksi melalui apa yang disebut dengan cyberspace, dimana sebuah dunia terhubung melalui komputer dan internet.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dalam beberapa dekade terakhir begitu ramai diperbincangkan karena membawa dampak yang begitu banyak ke berbagai sector, salah satunya di sector media dimana penyampaian dan pertukaran pesan dihadirkan melalui teknologi. Goldberg (2006) mengungkapkan bahwa komunikasi massa merupakan proses produksi dan distribusi pesan secara luas dan berkelanjutan oleh institusi berlandaskan teknologi dalam masyarakat industri. Teknologi secara luas membuat komunikasi semakin mudah untuk dilakukan, dengan adanya teknologi, era baru dalam media terbentuk. New Media hadir sebagai bentuk transformasi dari media konvensional.

(2)

Mediated Communication (CMC) sebagai bentuk komunikasi yang mendukung. A.F Wood dan M.J Smith (____) mengemukakan bahwa CMC sendiri merupakan segala bentuk komunikasi antar individu, individu dengan kelompok yang saling berinteraksi melalui computer dalam suatu jaringan internet. CMC hadir dalam bentuk blog, Myspace, Facebook, Youtube, dan Twitter dimana program-program tersebut dapat menjadi media yang membantu seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain melalui computer yang telah dihubungkan dengan jaringan internet.

Twitter hadir dengan berbagai fiturnya yang menarik dan mudah untuk digunakan yang juga menawarkan jaringan social berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan dan membaca pesan yang disebut dengan kicauan (tweets). Kicauan adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil penggunanya. Sejak tahun 2006, jejaring social yang dibentuk oleh Jack Dorsey ini telah mendapatkan popularitasnya di seluruh dunia dengan lebih dari 100 juta pengguna. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Alexa trafik web analisis, twitter merupakan salah satu dari 10 situs web yang paling sering dikunjungi di seluruh dunia.

Sosial media telah melampaui fungsinya dari hanya sekedar media untuk mengekspresikan diri, namun juga membentuk gerakan sosial segar yang menginspirasi. Hal ini tergambar pada bencana tsunami di tahun 2004 menghancurkan sebagian besar Aceh, beberapa relawan berhasil memulihkan komunikasi dan menyediakan koneksi internet yang terputus hanya dua hari setelah bencana menerjang Aceh. Tanpa adanya komunikasi dan jaringan koneksi internet, kerja bantuan kemanusiaan tidak dapat dilakukan secara cepat dan efektif (Nugroho, 2011). Tidak hanya Aceh, ketika bencana banjir menerjang Soreang, Kabupaten Bandung pada awal tahun 2012, banyak relawan yang memanfaatkan internet dan media sosial dalam proses mobilisasi relawan dan mendistribusikan bantuan yang ada.

(3)

gagasan mengenai “gerakan sosial baru”, yang organisasi dan skalanya dicirikan oleh penggunaan media sosial (Nugroho, 2011).

Tidak hanya Indonesia, Amerika Serikat pada tahun 2011 melakukan gerakan Anti Wall-Street yang tersebar hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu. Gerakan ini diluncurkan di Twitter pada tanggal 13 Juli 2011 dengan menggunakan hastag #OccupyWallStreet. Gerakan ini kemudian di mobilisasi ke seluruh penjuru dunia melalui internet sehingga demonstrasi besar pun terjadi hampir di seluruh dunia. Berdasarkan hasil yang telah dilansir dari Twitter, para demonstran secara serempak menentang pemerintah AS terhadap pengelolaan banker AS yang hanya memihak kepada yang kaya dan cenderung mengabaikan yang miskin mengenai permasalah perpajakan di Amerika Serikat dan berpengaruh terhadap bursa-bursa saham di seluruh dunia. Lebih dari ribuan demonstran di seluruh dunia, antara lain: Kanada, Taiwan, Australia, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman, Hongkong, Irlandia dan juga Swiss.

Sebelum era media baru, mobilisasi pada umumnya dilakukan dari mulut ke mulut karena akan menarik perhatian pemerintah dan rawan akan penangkapan. Tahun 1998 menjadi saksi pemberontakan mahasiswa yang pada kala itu hanya mengandalkan koordinasi dan mobilisasi massa melalui kabar dari mulut ke mulut dan SMS (Short Message Service). Mobilisasi massa pada era ini sudah jauh melampaui penyampaian kabar dari mulut ke mulut. Teknologi pada era ini memainkan peran pendukungnya yaitu melayani kebutuhan komunitas masyarakat sipil dalam pencapaian tujuan mereka. Hal ini tercermin dari kegiatan sosial pada saat bencana banjir melanda Soreang, Kabupaten Bandung. Dengan semangat masyarakat Bandung melalui twitter menyebarkan informasi mengenai banjir hebat yang terjadi malam itu, relawan yang dihimpun dari gerakan #AksiBandung pun menjadi relawan pertama yang sampai pada lokasi bencana dan membantu proses evakuasi dan distribusi kebutuhan korban bencana.

(4)

sesuatu yang dianggap baik, dan dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik tanpa melakukan perjuangan melawan pemerintah. Gerakan sosial baru ini memberikan ruangan yang besar pada masyarkat untuk melakukan sesuatu secara langsung guna merubah Indonesia ke arah yang lebih baik.

Gerakan Akademi Berbagi hadir sebagai gerakan yang bernilai positif berbasis internet. Akademi Berbagi merupakan gerakan sosial yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetisi di bidang yang telah dipilihnya (Ismail, 2012). Bentuk kegiatan ini adalah kelas singkat yang dilakukan selama 2 jam dan diajarkan oleh para ahli dan praktisi di dalam bidangnya masing-masing.

Juli 2010 menjadi bulan kelahiran Gerakan Akademi Berbagi. Berawal dari Twitter, kelas Akademi Berbagi mencoba mengkolaborasikan kegiatan online dan offline. Di tahun 2013 ini, Kelas Akademi Berbagi sudah tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia, antara lain: Medan, Palembang, Jambi, Bandung, Solo, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Balikpapan, Makassar, Ambon, Ende, Madura, Bali, Garut, Gorontalo, Jember, Lampung, Madiun, Madura, Pekalongan, Palembang, Ambon, Balikpapan, Jambi, Tangerang, Cianjur, Bondowoso, dan Palu. Melalui sosial media dan cerita dari mulut ke mulut juga jaringan antar komunitas, gerakan ini menjaga konsistensi kegiatan dengan terus berkomunikasi melalui jaringan internet.

(5)

Kegiatan yang dilakukan oleh Gerakan Akademi Berbagi yang berbasis online dan offline justru membawa warna baru yang akan menarik untuk ditelusuri lebih dalam lagi. Teknologi komunikasi, internet, dan media sosial telah menjadi sarana yang memudahkan masyarakat sipil dalam mengembangkan berbagai kegiatan masyarakat (Illich, 1973). Gerakan Akademi Berbagi ini diharapkan dapat menghadapi permasalahan-permasalahan terkini yang terjadi di Indonesia.

Hajal (2002) mengungkapkan bahwa perkembangan internet telah menjadi pendorong baru bagi lahirnya atau penemuan kembali “masyarkat sipil” yaitu terbentuknya jaringan gabungan dari organisasi, kelompok, dan gerakan masyarakat sipil yang bertujuan mencapai berbagai agenda madani seperti demokratisasi dan kebebasan informasi. Meskipun demikian, penelitian sistematis mengenai penggunaan inovasi teknologi internet dan media sosial dalam melakukan gerakan sosial masih terbatas, sehingga pengetahuan mengenai pengaruh media sosial terhadap kegiatan sosial semacam ini perlu digali lebih dalam lagi.

2. Rumusan Masalah

Adopsi internet pada masyarakat yang memberikan dampak signifikan dalam melakukan gerakan sosial selalu menarik untuk dikupas. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2011) bahwa gerakan sosial saat ini telah banyak dilakukan dengan cara mengadopsi internet dan mengenai lahirnya apa yang disebut dengan “one click activism” bahwa sebuah gerakan di dunia maya tidak akan membawa dampak apapun apabila tidak direalisasikan di dunia nyata.

Sesuai dengan fenomena yang terjadi, maka penulis kemudian memfokuskan penelitian ini pada kasus Gerakan Akademi Berbagi yang prakteknya bergerak bermula dari gerakan yang dilakukan melalui jejaring sosial. Penelitian ini difokuskan untuk meneliti secara empiris sejauh mana pengaruh sosial media dalam pembentukan Gerakan Akademi Berbagi. Kemudian fokus masalah tersebut diturunkan dalam identifikasi masalah sebagai berikut:

(6)

2) Apa implikasi Gerakan Akademi Berbagi terhadap murid Akademi Berbagi? 3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui pengaruh media sosial terhadap terbentuknya Gerakan Akademi Berbagi, dan 2) mengetahui implikasi Gerakan Akademi Berbagi terhadap murid Akademi Berbagi. Manfaat penelitian ini selain secara akademis dapat memperkaya kajian di bidang komunikasi mengenai media baru dalam pembentukan gerakan sosial, namun juga manfaat lainnya sebagai referensi oleh Gerakan Akademi Berbagi guna melihat implikasi media sosial terhadap gerakan mereka.

Berdasarkan kajian terdahulu, kebanyakan peneliti membahas mengenai gerakan sosial yang dilakukan tanpa mengadopsi teknologi internet, antara lain seperti gerakan sosial yang bermuara pada gerakan-gerakan petani dan perlawanan agrarian yang dicirikan sebagai perjuangan kelas dan gerakan yang dianggap sebagai gerakan sosial baru (Scoot, 1985; Moore, 1996; Triwibowo, 2006; Singgih, 2010). Sedangkan literatur mengenai penelitian tentang internet di Indonesia (Widyasari, 2002; Budiman, 2003; Haryati, 2004; Putri, 2008; Ismail, 2010) masih belum menyentuh bagaimana sebuah gerakan sosial terbentuk dari internet itu sendiri.

4. Kerangka Konseptual 4.1 Kelompok

Olmsted (1962) mengungkapkan bahwa kelompok merupakan bentuk pluralitas individu yang saling berhubungan secara berkesinambungan, saling memperhatikan, dan sadar akan adanya suatu kemanfaatan bersama. Kelompok merupakan bagian dari masyrakat dimana proses interaksi dan peranan individu dapat diamati dan diuji (Cooley & Horton, 1909).

(7)

Selain sebagai gerakan sosial baru, Gerakan Akademi Berbagi dapat dipahami sebagai kelompok baru dalam masyarakat. Galston (2000; 196) memulai pembahasan mengenai keberadaan komunitas di dalam masyarakat:

A community involves a limited number of people in a somewhat restricted social space or network held together by shared understanding and a sense of obligation. Relationships are close, often intimate, and usually face to face. Individuals are bound together by affective or emotional ties rather than by a perception of individual self-interst. There is a “we-ness” in a community; one is a member.

[Suatu komunitas yang melibatkan sejumlah orang di dalam sebuah ruangan sosial tertentu atau jaringan kerja yang terbatas yang dibagun bersama dengan berbagi pengertian dan kewajiban. Hubungan antar individunya bersifat erat, intim. Setiap anggotanya teikat kuat dalam kebersamaan rasa atau emosional ketimbang didasari oleh persepsi mengenai persepsi masing-masing. Ada rasa “ke-kita-an” dalam sebuah komunitas, diri secara tunggal adalah anggota]

4.1.1 Fungsi Kelompok

Kelompok memberikan kepuasan yang bersifat afektif bagi para individu sehingga kehidupan menjadi menyenangkan bagi orang tersebut. Suatu kelompok utama berfungsi untuk memberikan latihan dan dukungan bagi para anggotanya.

4.1.2 Komunikasi dalam Kelompok

Komunikasi yang menjadi dasar dari semua interaksi manusia dalam melaksanakan fungsinya sebagai kelompok. Michael Burgoon dan Michael Ruffner (____) dalam bukunya memberikan batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti bagain informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan akurat.

(8)

dan juga fungsi terapi. Fungsi-fungsi ini dimanfaatkan untuk kepentingan masyarkat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri.

4.1.3 Kohesif Kelompok

Dalam penelitian dinamika kelompok, sifat kohesif merupakan seluruh kekuatan yang membuat anggota kelompok tetap menjadi bagian dari kelompok tersebut. Biasanya sifat kohesif dirumuskan atas dasar pilihan persahabatan secara sosiometrik. Taraf dalam sifat kohesif dapat ditentukan oleh beberapa factor, antara lain:

1) Lebih mementingkan kerjasama daripada persaingan 2) Lebih bersifat demokratis daripada otoriter atau liberal 3) Adanya organisasi dalam kelompok

4) Keanggotaan dalam kelompok kedudukan yang tinggi keduudkan sentral dalam kelompok kedudukan rendah

Anggota-anggota suatu kelompok biasanya saling menaruh perhatian yang besar terhadap sesamanya. Kelompok kohesif memiliki sikap terbuka terhadap perubahan maupun pengaruh lain serta lebih mudah meniwai kaidah-kaidah yang berlaku sehingga lebih tahan terhadap tekanan (Soekanto, 1986).

Fritzredl dalam Soekanto menyatakan bahwa unsure-unsur emosional kelompok merupakan landasan proses pembentukan kelompok (Soekanto, 1986). Anggota kelompok dengan tingkat kohesifitas yang tinggi lenih bersifat kooperatif dan pada umumnya mempertahankan dan meningkatkan integrasi kelompok sedangkan pada kelompok dengan tingkat kohesifitas yang lebih rendah akan cenderung lebih independen dan kurang memperhatikan anggota lain (Walgito, 2007).

(9)

4.1.4 Groupthink

Janis (1982) percaya bahwa ada tiga kondisi yang mendorong terjadinya groupthink, yaitu: 1) kohesivitas yang tinggi dari kelompok pengambil keputusan, 2) karakteristik structural spesifik dari lingkungan dimana kelompok ini bekerja, dan 3) karakteristik internal dan eksternal yang dapat menimbulkan tekanan, dari situasi yang ada.

Kondisi groupthink ini adalah sebuah gejala yang mengindikasikan cara berpikir seseorang atau kelompok yang kohesif untuk selalu sepakat karena kebulatan suara mayoritas dan mengabaikan alternative-alternatif tindakan yang realistis dan rasional (Mulyana, 1999). Bagi anggota kelompok hal ini bisa menjadi paksaan karena sebenarnya ia tidak setuju, namun karena mayoritas anggota kelompok loyal dan menjadikan dirinya seragam pada kelompoknya yang menciptkan tekanan-tekanan kelompok yang menyebabkan suatu tindakan atau kebijakan menjadi tidak bijak.

4.1.5 Computer Mediated Communication (CMC)

Teknologi komunikasi yang berkembang dengan signifikan dan melalui evolusi dari media tulis, ditandai dengan terjadinya diversifikasi teknologi informasi dengan begabungnya telepon, radio, dan computer dan televise menjadi satu dan menandai teknologi yang disebut dengan internet.

Sejak ditemukannya bahasa dasar computer yang menjadi cikal bakal penemuan computer pada tahun 1679 sampai pada tahun 1970-an, yang awalnya computer hanya dianggap sebagai benda fisik semata yang banyak dimanfaatkan oleh perusahaan hanya untuk meningkatkan efektivitas dalam bekerja dan dalam waktu yang relative sama, perkembangan teknologi komunikasi pun memberikan satu bentuk teknologi internet dimana hal tersebut oleh Bell (2001) dianggap sebagai arena sosial.

(10)

individu lain. Kenyataan tersebut akan semakin jelas jika dikaitkan dengan penggunaan computer di dalam masyarakat sebagai alat komunikasi. Maka munculah apa yang dinamakan sebagai Computer-Mediated Communication (CMC). CMC ini bisa meningkatkan kemampuan seorang individu untuk melihat dan mendengar. Para individu yang terlibat dengan CMC ini yang akan membentuk cybersociety.

Dengan adanya internet dan program-program yang digunakan dalam berkomunikasi, maka CMC akan terus berkembang dengan berbagai bentuk yang variatif. Komunikasi yang dahulu harus dilakukan secara tatap muka dalam waktu yang bersamaan dan tempat yang sama, kini disederhanakan oleh sosial media. Twitter kemudian dapat didefinisikan secara formal sebagai alat CMC, sebuah alat asinron (delay) yang memungkinkan komunikasi (one-to-one dan one-to-many) dan juga kolaborasi selama periode waktu melalui bentuk yang berbeda (Ashley, 2003).

CMC menyuguhkan sebuah fitur komunitas virtual dimana level komitmen terbentuk melalui hubungan yang dialami oleh para penggunanya. CMC dapat dikatakan sebagai agregasi sosial yang muncul ketika banyak orang membawa diskusi public cukup panjang dengan perasaan manusia untuk membangun website hubungan personal dalam cybersociety (Hine, 2000).

4.2 Warna Baru dalam Media: New Media

Teknologi mengalami perkembangan yang sangat luar biasa pesat ke segala penjuru bidang, seperti teknologi ilmu kedokteran, pertanian, peternakan, transportasi, maupun teknologi komunikasi. Dalam pembahasan ini, teknologi yang akan dikupas secara mendalam adalah physical technology dalam hal ini teknologi komputer yang tidak hanya dilihat sebagai benda mati melainkan menjadi sebuah social technology dalam hal ini teknologi internet yang dinilai sebagai arena sosial (Bell, 2001).

(11)

berbasis kabel optic broadband, satelit dan sistem transmisi gelombang mikro (Flew, 2008).

Flew (2008) mengidentifikasi lima karakteristik dalam media baru, yaitu:

1. Manipulable. Informasi digital mudah diubah dan diadptasi dalam berbagai bentuk, penyimpanan, pengiriman dan penggunaan.

2. Networkable. Informasi digital dapat dibagi dan dipertukarkan secara terus menerus oleh sejumlah besar pengguna diseluruh dunia.

3. Dense. Informasi digital berukuran besar dapat disimpan di ruang penyimpanan kecil (contohnya USB) atau penyedia layanan jaringan. 4. Compressible. Ukuran informasi digital yang diperoleh dari jaringan

manapun dapat diperkecil melalui proses kompres dan dapat didekompres kembali saat dibutuhkan.

5. Impartial. Informasi digital yang disebarkan melalui jaringan bentuknya sama dengan yang direpresentasikan dan digunakaan oleh pemiliknya.

McQuail (1987) memaparkan ciri-ciri utama media baru dibandingkan dengan media konvensional, yaitu:

1. Desentralisasi, pengadaan dan pemilihan berita tidak lagi sepenuhnya ada di tangan pemasok komunikasi.

2. Kemampuan tinggi, pengantaran melalui kabel dan satelit mengatasi hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pemancar siaran lainnya. 3. Komunikasi timbal balik (inter-activity), penerima dapat memilih,

menjawab kembali, menukar informasi dna dihubungkan dengan penerima lainnya secara langsung.

4. Kelenturan (fleksibilitas) bentuk, isi dan penggunaan.

(12)

4.2.1 Media Baru: Twitter

Twitter yang sudah menjadi bagian dari keseharian bagi masyarakat modern dikategorisasikan sebagai bentuk dari media baru. Epstein dan Kraft (2010) memaparkan bahwa Twitter adalah situs tidak berbayar yang berisi pesan yang hanya terdiri dari 140 karakter dengan sebutan tweets, dan disebarkan dengan sangat cepat kepada semua pengguna yang mengikuti satu akun tertentu. Hal yang membedakan dengan situs jejaring sosial lainnya adalah bahwa Twitter memiliki karakteristik unik yaitu adanya fitur “retweet” yang biasa berlabel RT di Twitter.

Keunikan Twitter tidak hanya pada fitur tersebut, namun juga Twitter memungkinkan penggunanya untuk mencari kata atu frase tertentu dalam fitur search yang memudahkan para penggunanya untuk mengikuti trending topic atau topik terpanas yang sedang dibicarakan di Twitter. Fitur ini juga didukung dengan inovasi yang dilakukan oleh penggunanya dengan menggunakan hastags (#) pada tweet-nya sehingga mereka dapat dikelompokan dengan lebih mudah dan dihubungkan dengan topic yang serupa dengan hastag yang digunakan (Epstein & Kraft, 2010)

Sebagai Media Baru, Twitter memiliki karakteristik-karakteristik yang dijabarkan oleh Lister (2003), antara lain:

1. Digitality

Twitter menggunakan sistem digitalisasi, karena berbagai format yang dikirimkan oleh penggunanya secara sederhana mengalami proses digitalisasi sehingga menjadi tampilan seperti yang tertera di halaman Twitter masing-masing penggunanya. Teks tersampaikan, foto tersebar dimanapun kapanpun. 2. Interactivity

(13)

membedakan masing-masing tingkatannya. Dimana para penggunanya saling beinteraksi, dimana interaksi para-sosial, dibentuk melalui media baru yang dihasilkan secara online oleh penggunanya.

3. Dispersality

Adanya suatu yang bias antara mana yang menjadi produsen informasi dan yang mana yang menjadi konsumennya, karena semuanya begitu terkait. 4. Virtuality

Twitter memberikan pengalaman penggunanya dalam interaksi dengan pesan-pesan yang disampaikan secara virtual yang biasanya disampaikan lewat komputer maupun telepon genggam.

4.3 Internet dan Gerakan Sosial 4.3.1 Gerakan Sosial

Harper mengemukakan (1989) secara formal bahwa gerakan sosial dapat didefinisikan sebagai kolektivitas yang tidak konvensional dengan beragam derajat organisasinya yang berupaya mendorong ataupun mencegah perubahan. Harper juga mengemukakan bahwa gerakan sosial dapat dibedakan dari bentuk-bentuk sosial lainnya karena gerakan sosial:

1. Eksis diluar kerangka institusional kehidupan sehari-hari. 2. Berorientasi pada perubahan sosial tertentu.

Gerakan sosial adalah sekelompok orang yang terlibat dalam mencari penyelesaian atau untuk menghambat suatu proses perubahan sosial (Giddens, ____). Normalnya gerakan sosial muncul dalam hubungan konflik dengan organisasi yang tujuannya dan pandangannya sering bertentangan. Selain itu, Rudolf Herbele (1979) mendefinisikan gerakan sosial sebagai upaya kolektif guna mengubah kekuasaan sebagai wujud reaksi terhadap tren sosial tertentu, dalam hal ini tren sosial tersebut merupakan kondisi sosial yang mengkondisikan kemunculan sebuah gerakan.

(14)

maupun tidak. Anthony Giddens menambahkan bahwa gerakan sosial sebagai upaya kolektif demi mengejar kepentingan bersama melalui tindakan kolektif diluar ruang lingkup lembaga-lembaga mapan. Sedangkan menurut Misel (2004) gerakan sosial adalah seperangkat keyakinan dan tindakan yang tidak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan dalam masyarakat.

Ada tiga point kunci dalam gerakan sosial yang dikemukakan oleh Benford dan Snow (2000) yaitu: 1) gerakan bersifat kolektif yang didalamnya terdapat kepentingan dan tujuan kolektif serta tindakan kolektif untuk mewujudkannya, 2) gerakan didasarkan pada kepentingan dan tujuan yang sama, 3) gerakan mencari perubahan diluar institusi mapan.

Ada pun penyebab munculnya gerakan sosial adalah sebagai bentuk reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan oleh rakyat. Denny (_____) mengungkapkan tiga kondisi yang melahirkan gerakan sosial, yaitu: 1) gerakan sosial lahit dengan kondisi yang memberikan kesempatan bagi gerakan tersebut, 2) gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada , 3) gerakan sosial semata-mata masalah kemampuan kepemimpinan dari tokoh penggerak. Tokoh penggerak sebagai inspirator, membuat jaringan, membangun organisasi yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam gerakan tersebut (Fauzi, 2005).

David Aberle mengklasifikasikan gerakan sosial ke dalam empat kategori berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yang diinginkan. Tipologi yang dikemukakn oleh Aberle adalah sebagai berikut:

(15)

Supra-individual Individual Amount of Change Total Transformative Redemptive

Partial Reformative Alternative

Gambar 1. Tipe Gerakan Sosial

1. Alternative Movement adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah perilaku perseorangan. Contohnya berbagai kampanye untuk mengubah perilaku tertentu, seperti kampanye anti rokok dan penyalahgunaan narkoba.

2. Redemptive Movement adalah gerakan sosial yang ruang lingkupnya lebih luas daripada alternative movement. Tujuan yang hendak dicapai adalah perubahan menyeluruh pada perilaku seseorang. Gerakan sosial ini kebanyakan terdapat di bidang keagamaan. Contohnya melalui gerakan ini, misalnya perseorangan diharap untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya sesuai dengan ajaran agama.

3. Reformative Movement adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah masyarakat namun ruang lingkup yang hendak diubahnya hanya segi-segi tertentu masyarakat. Contohnya gerakan kaum homoseks untuk memperoleh pengakuan terhadap identitas seksual mereka, atau gerakan kaum perempuan untuk memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki.

4. Transformative Movement adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh. Contohnya gerakan komunis di Kamboja.

(16)

4.3.2.1 Hubungan antara Komunitas Online dan Jaringan Sosial

Komunitas online yang sudah menjadi satu kesatuan dari masyarkat modern. Komunitas yang tidak mengenal jenjang usia, pendidikan, latar belakang ini membuktikan bahwa penetrasi penggunaan sosial media pada masyarakat sangatlah siginifikan. Menurut pengamatan Hine (2000) mengenai situs jejaring sosiakl yaitu bahwa tidak terbatasnya halaman website dan aplikasinya sehingga website dan jaringan sosial lebih ditekankan dapat terintegrasi jaringan sosial antara yang satu dengan yang lain yang membentang luas di internet sehingga kita dapat bergerak melintasi jaringan sosial lain dalam link individu yang tersedia di situs jaringan sosial.

Schneider dan Foot (2008) memandang bahwa sebagai pengguna jejaring sosial dapat dianggap sebagai kelompok link dalam jejaring sosial yang menghubungkan minat yang sama dan/atau memiliki informasi dan profil yang sama dalam sebuah jaringan seperti pengguna sosial media sekarang dianggap sebagai link-link antar individu dan kelompok yang berinteraksi satu sama lain melalui sosial media dimana manusia direpresentasikan dengan link-link untuk berinteraksi seolah-olah secara fisik melalui internet.

Para pengguna dalam jaringan sosial dicontohkan pada salah satu fitur unik dari situs jaringan sosial: artikulasi dan perwujudan nyata dari jaringan sosial melalui daftar teman. (Boyd & Ellison, 2007). Situs jejaring sosial seperti Twitter dengan perangkat mobile-nya dapat tetap dapat diakses walaupun penggunanya jauh dari computer.

(17)

Penulis focus pada penelitian kasus Gerakan Akademi Berbagi yang dilihat sebagai fenomena sosial baru yang menarik untuk dibahas. Landasan kegiatan dalam Gerakan Akademi Berbagi unik dibandingkan dengan gerakan lainnya, namun di satu sisi Gerakan Akademi Berbagi dapat dipahami sebagai sebuah komunitas kelompok baru dalam masyarakat.

Sebelum era kemunculan internet, nilai dari hubungan efektif antara anggota kelompok masyarkat terlihat lebih penting bagi masyarakat dari aktualitas lokasi fisik. Globalisasi terus menunjukan kepada masyarakat bahwa ikatan sosial, tanggung jawab dan kewajiban dapat melintasi batasan-batasan Negara dengan adnaya internet (Axel, 2004). Secara labgsung, kemajuan teknologi telah mempengaruhi komunikasi dengan peningkatan eksponensial dalam kualitas, kecepatan, dan kemudahan akses yang dapat digunakan untuk mengikat anggota, menciptakan konvergensi kesempatan dan kebutuhan (Hine, 2000).

Sebagai tempat interaktif, internet memfasilitasi pergerakan informasi, uang, dan komoditas yang dibagi, diperdagangkan, dipertukarkan dan dijual, gambar dan symbol yang dipinjam, dikemas ulang dan melintasi batas bangsa dan etnis (Barber, 2001). Internet sebagai ekspresi dunia baru, berbagi segala ekspresi dan emosi dan ideology bagaimana dunia harus dibentuk.

5. Metodologi Penelitian

5.1 Paradigma Penelitian

(18)

Penulis menggunakan paradigma positivistik yang menempatkan ilmu sosial seperti halnya ilmu alam sebagai metode yang terorganisir yang mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris guna secara probabilistic menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang hokum sebab akibat yang bisa dipergunakan untuk memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.

Penulis di dalam penelitian ini mencoba melihat pengaruh sosial media terhadap pembentukan gerakan sosial yang diamati dari pergerakan Gerakan Akademi Berbagi melalui media sosial Twitter.

5.2 Pendekatan Penelitian

Ada pun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pengertian dari kuantitatif menurut Effendi dan Singarimbun (1998) adalah suatu upaya pengukuran untuk menerangkan fenomena sosial dengan cara memandang fenomena tersebut sebagai hubungan antar variable.

Ciri-ciri dari pendekatan kuantitatif adalah mengikuti pola berpikir deduktif, mempercayakan angka (statistik atau matematika) sebagai instrument untuk menjelaskan kebenaran, membangun validitas internal dan validitas eksternal sebaik mungkin. Data kuantitatif yang bersifat terstruktur atau berpola memperkaya ragam data yang diperoleh dari berbagai sumber (responden maupun obyek yang diamati).

Irawan (2006) mendefinisikan kata “kuantitatif” secara luas sebagai “keakuratan” deksripsi suatu variable dan kekurangan hubungan antara satu variable dengan variable lainnya serta memiliki aplikasi (generalisasi) yang luas.

(19)

Penelitian ini bersifat ekplanatif guna menemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Tujuan dari penelitian eksplanatif ini sendiri adalah menghubungkan pola-pola yang berbeda namun memiliki keterkaitan dan menghasilkan pola hubungan sebab-akibat (Prasetyo, ____).

Ruslan (___) mengemukakan dalam penelitian eksplanatoris tidak hanya memperkecil penyimpangan atau terjadinya bias, namun lebih meningkatkan nilai kepercayaan, dan untuk tujuan menguji hipotesis atau hubungan sebab akibat (penelitian kejelasan) dengan melakukan eksperimen. Adapun hubungan yang ingin dijelaskan dalam penelitian ini adalah pengaruh media sosial dalam pembentukan gerakan sosial melalui Gerakan Akademi Berbagi.

5.4 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa survey dengan cara menyebar kuesioner. Penelitian survey sendiri merupakan suatu penelitian kuantitatif dengan menggunakan pertanyaan terstruktur atau sistematis yang sama kepada banyak orang untuk kemudian seluruh jawaban yang diperoleh peneliti catat, olah kemudian dianalisis (Prasetyo,____)

Ariestondri (2006) mengemukakan fungsi kuestioner dalam penelitian adalah sebagai instrument untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan riset serta memiliki tingkat (realiability) dan kesahihan (validity). Tujuan dari survey sendiri adalah bersifat menerangkan atau menjelaskan yakni mempelajari fenomena sosial dengan meneliti hubungan variable penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1989).

(20)

5.5. Unit Analisis

Unit analisis yang akan diteliti dalam penbelitian ini adlaah individu yang terlibat dalam Gerakan Akademi Berbagi.

5.6 Populasi dan Sampel 5.6.1 Populasi

Populasi adalah semua individu atau unit-unit yang menjadi target penelitian (Purwanto, 2007). Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah para peserta kegiatan Gerakan Akademi Berbagi yaitu sebanyak _____

5.6.2 Sampel

Sample merupakan bagian dari populasi yang dipilih mengikuti prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya (Purwanto dan Sulistyastuti, 2007). Peneliti menggunakan teknik penarikan sampel purposive atau disebut juga dengan judgemental sampling yang dimana pengertiannya pemilihan sample berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap memiliki sangkut pautnya dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebeleumnya. Jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumusan Slovin, yaitu sebagai berikut:

Rumus Slovin: n: ukuran sampel N: ukuran populasi d: estimasi kesalahan

Jadi, jumlah sample dalam penelitian ini adalah:

(21)

Nd2 + 1

:

Hasil perhitungan menggunakan rumusan Slovin dalam penelitian ini berjumlah ______. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah peneliti hanya menyebar kuestioner pada ______ orang yang mengikuti Gerakan Akademi Berbagi. Semakin besar sampel yang diambil maka akan semakin kecil pula lah kemungkinan untuk terjadinya kesalahan. Untuk penelitian yang menggunakan analisis statistik, jumlah sample yang terkecil adalah 30 subjek.

5.6.3 Hipotesis Penelitian

McFedries (2007) menyajikan gambaran singkat mengenai media sosial, berkomentar bahwa satu tujuan dari media sosial adalah untuk meningkatkan kehadiran seseorang di dunia maya. Oleh karena itu pembentukan gerakan sosial sangat mungkin untuk terjadi bermula dari jejaring sosial. Penelitian ini dilakukan pada tahap pembentukan gerakan sosial yang bermula pada jejaring sosial.

Hipotesis utama penelitian ini adalah berupa dugaan mengenai adanya pengaruh antara media sosial dengan pembentukan Gerakan Akademi Berbagi. Maka hipotesis penelitian menjadi sebagai berikut:

Ha : Sosial media Twitter berpengaruh positif terhadap Pembentukan Gerakan Akademi Berbagi

Ho : Sosial media Twitter berpengaruh negative terhadap Pembentukan Gerakan Akademi Berbagi.

5.6.4 Hipotesis Statistik

(22)

Ho : Tidak terdapat pengaruh antara sosial media Twitter dengan pembentukan Gerakan Akademi Berbagi.

5.7. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Lexy dan Hasan (2000) memaparkan bahwa analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Pengolahan data bertujuan untuk memperlihatkan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena yang terdapat dalam penelitian, memberikan jawaban atas hipotesis yang diajukan, membuat kesimpulan serta implikasi-implikasi dan saran-saran yang berguna untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan menggunakan SPSS 17.0. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif.

5.8. Uji Vliditas dan Reabilitas

Validitas merupakan tingkat keandalan dan kesahihan alat ukur yang digunakan. Suatu instrument dapat dikatakn valid jika alat ukur yang digunakan untuk mengukur itu valid. Oleh karena itu sebelum melakukan pengukutan penting sekali untuk memastikan bahwa instrument tersebut benar-benar valid.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

(24)

Benford, Robert D. And David A. Snow. 2000. Framing Processes and Social Movements: An Overview and Assessment in Anniaul Review of Sociology. Vol 26: 611-639.

Bell, David. 2001. An Introduction to Cyberculture. Routledge: Taylor & Francis Group. London and New York

Budiman, Hikmat. 2003. Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace: Studi tentang Beberapa Kontradiksi Internet. Thesis Fisip Universitas Indonesia.

Cooley, Charles Horton. 1990. Social Organization: A Study of The Larger Mind. New York: Charles Scribner’s Sons.

Fauzi, Noer. 2005. Memahami Gerakan-Geralan Rakyat Dunia Ketiga. Yogyakarta: Insist Press.

Flew, Terry. 2008. New Media: An Introduction (3rd Edition). South Melbourne: Oxford

University Press.

Gamble and Gamble. 2005. Communication Works (Eight Ed). New York: Mc Graw-Hill.

Goldberg, Alvin A, Carl E. Larson. 2006. Komunikasi Kelompok: Proses-proses Diskusi dan Penerapannya. Jakarta: UI Press

Hajal, P. 2002. Civil Society in The Information Age. Ashgate, Hampshire

Haryanti. 2004. Chatting: Isu Budaya dalam Kesenjangan Digital, Pengalaman Pengguna Internet di Jakarta Memaknai Ruang Budaya Baru. Thesis Fisip Universitas Indonesia.

Hine, Christian. 2000. Virtual Ethnography. SAGE Publication.

Ismail, Ahmad. 2010. Berteman Lewat Facebook. Studi jaringan Sosial Mahasiswa Fisip Unhas. (Skripsi). Fisip Universitas Hasanuddin.

McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (Terjemahan Agus Dharma & Aminudin Ram). Jakarta: Erlangga.

(25)

Social Movement. Edited by R. Peet and M.Watts. Pp. Xie, 273 London: New York: Routledge.

Mulyana, Deddy. 2011. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Kencana.

Nugroho, Yanuar. 2011. @ksi Warga: Kolaborasi, Demokrasi Partisipatoris dan Kebebasan Infromasi – Memetakan Aktivisme Sipil Kontemporer dan Penggunaan Media Sosial di Indonesia. Laporan. Kolaborasi Penelitian antara Manchester Institute of Innovation Research, University of Manchester dan HIVOS Regional office Southeast Asia Manchester dan Jakarta: MIOIR dan HIVOS.

Olmstead, Michael Quinn. 2002. The Small Group. New York: Random House.

Prasetya, B.d. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rakhmat, Jalaluddin. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Schneider, S. M., and K.A. Foot. 2008. “Web Sphere Analysis: An Approach to Studying Online Action” in Virtual Methods: Issues in Social Research on the Internet Edited by C. Hine, pp. 157-170. New York: Berg. Scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication.

Scoot, J. 2007. Senjatanya Orang-Orang yang Kalah. Penerbit Yayasan Obor Indonesia.

Soekanto, Soerjono. 1986. Pengantar Sosiologi Kelompok. Bandung: PT. Remadja Karya.

Singh, Rajendra. 2010. Gerakan Sosial Baru. Penerbit Resist Book. Yogjakarta.

Utami, Dibyareswari. 2012. Peran Media Baru dalam Membentuk Gerakan Sosial: Studi Kasus Pada Individu yang Terlibat Dalam IndonesiaUnite di Twitter. Skripsi Fisip Universitas Indonesia.

Walgito, Bimo. 2007. Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Penerbit ANDI

(26)

Referensi Internet

Egger, Anne. Research Methods: Description,

http://www.visionlearning.com/library/module_viewer.php?mid+151, diakses tanggal 3

Oktober 2013

Halimatusa. Komunitaspr’s weblog: Festival Sebagai Sarana Pencitraan dan Pelestarian Budaya.

http://komunitaspr.wordpress.com/2011/11/16/festival-sebagai-sarana-pencintraan-dan-pelestarian-budaya/, diakses tanggal 4 Oktober 2013

Setiaman, Agus. 2008. Media Massa dan Pelestarian Budaya Nasional.

Gambar

Gambar 1. Tipe Gerakan Sosial

Referensi

Dokumen terkait

Dari fenomena - fenomena yang telah dipaparkan diatas dan didukung dengan data yang ada, kemudian penelitian dilakukan pada perusahaan pembiayaan, maka penulis tertarik memilih

Dari fenomena - fenomena yang telah dipaparkan diatas dan didukung dengan data yang ada, kemudian penelitian dilakukan pada perusahaan pembiayaan, maka penulis tertarik memilih

Kerentanan gerakan massa rendah pada Sub DAS Progo Hulu disebabkan karena daerah tersebut memilki tingkat kestabilan lereng yang stabil dengan intensitas fenomena fisik

Dengan ini kita dapat berbagi tentang apa yang telah terjadi hari ini mengenai diri kita, saling bertukar pikiran, berbagai cerita. Hal ini akan membentuk seorang anak

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan yatu mdengan mengunakanalat ukur penelitian berupa kuesioner yang kemudian di analisis menggunakan teknik analisis

jumlah yang meningkat setiap tahunnya dan tetap terjadi keterlambatan dalam penyelesaian sejumlah proyek, oleh karena itu berdasarkan fenomena fakta yang terjadi penulis

Fenomena yang terjadi inilah yang kemudian menjadi acuan bagi penulis untuk menilisik lebih jauh tentang Pendidikan Agama Kristen yang dilakukan oleh Gereja sehingga memberi dampak bagi

Fenomena "No viral, No justice" di media sosial Indonesia mencerminkan pengaruh platform digital terhadap penegakan hukum, di mana keadilan sering kali dikaitkan dengan viralnya suatu kasus di media