• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV evaluasi program. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bab IV evaluasi program. docx"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

EVALUASI PROGRAM

I. METODOLOGI

Pengertian Evaluasi Program

Menurut WHO (1990) pengertian evaluasi adalah suatu cara sistematis untuk mempelajari berdasarkan pengalaman dan mempergunakan pelajaran yang dipelajari untuk memperbaiki kegiatan-¬kegiatan yang sedang berjalan serta men ingkatkan perencanaan yang lebih baik dengan seleksi yang seksama untuk kegiatan masa datang.19

Evaluasi menurut The American Public Association adalah suatu proses untuk menentukan nilai ataujumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut The International Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population Options, evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau standar yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saran-saran, yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program.20

Evaluasi juga merupakan suatu proses umpan balik atas kinerja masa lalu yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dimasa datang, sebagai suatu proses yang berkelanjutan, evaluasi menyediakan informasi mengenai kinerja dalam hubungannya terhadap tujuan dan sasaran (Notoatmodjo, 2003).

(2)

Pelaksanaan Evaluasi

Dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mendiagnosis suatu program yang hasilnya digunakan untuk pengembangan atau perbaikan program. Biasanya evaluasi formatif dilakukan pada proses program (program masih berjalan). Sedangkan evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program. Biasanya evaluasi sumatif ini dilakukan pada waktu program telah selesai (akhir program). Meskipun demikian pada praktek evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut (Notoatmodjo, 2003).21

Pendekatan Sistem

Terdapat beberapa macam pengertian dari sistem yang dikemukakan oleh berbagai ahli, antara lainsebagai berikut :

 Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.

 Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien.

 Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang majemuk, dimana masing-masing bagian bekerja sama secara bebas dan terkait untuk mencapai sasaran kesatuan dalam suatu situasi yang majemuk pula.

 Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen yang berhubungan serta saling mempengaruhi yang dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Unsur-Unsur Sistem 1. Masukan

(3)

Dalam sistem pelayanankesehatan, masukan terdiri dari tenaga, dana, metode, sarana/material.

2. Proses

Yang dimaksud dengan proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem danyang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Dalam sistempelayanan kesehatan terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian.

3. Keluaran

Yang dimaksud dengan keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dariberlangsungnya proses dalam sistem. Contohnya dalam program BIAS Campak adalah berupacakupan program di suatu wilayah.

4. Umpan Balik

Yang dimaksud dengan umpan balik (feed back) adalah kumpulan dari bagian atau elemen yangmerupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.

5. Dampak

Yang dimaksud dengan dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

6. Lingkungan

Yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola olehsistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.

Keenam unsur sistem ini saling berhubungan dan mempengaruhi yang secara sederhana dapatdigambarkan seperti berikut :

Lingkungan

Keluaran Proses

(4)

Suatu sistem pada dasarnya dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telahditetapkan/disepakati bersama.Dan untuk terbentuknya sistem tersebut, perlu dirangkai berbagai unsuratau elemen sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan. Apabila prinsip pokok atau cara kerja sistem ini diterapkan ketika menyelenggarakan pekerjaan administrasi, maka prinsip pokok atau cara kerja ini dikenaldengan nama pendekatan sistem (system approach).2

Evaluasi Berdasarkan Pendekatan Sistem

Evaluasi Program berdasarkan pendekatan sistem adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalammembandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau standar dari masing-masing indikator yangtelah ditetapkan dari unsur keluaran (output), dilanjutkan dengan menemukan kausa (penyebab), padaunsur lain dari sistem tersebut,

Umpan Balik

Gambar 10.Unsur-Unsur Dalam Pendekatan Sistem

(5)

kemudian dilakukan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saransaranyang akan memperbaiki pencapaian sistem itu.

Tujuan Evaluasi Program Berdasarkan Pendekatan Sistem2

 Tujuan Umum

 Mengetahui pelaksanaan dan tingkat keberhasilan pengelolaan suatu program kesehatan, di suatu tempattertentu, pada waktu tertentu.

 Tujuan Khusus

 Diketahuinya pelaksanaan pengelolaan suatu program kesehatan

 Diketahuinya berbagai masalah pelaksanaan pengelolaan program kesehatan tersebut

 Diketahuinya prioritas masalah

 Diketahuinya berbagai penyebab dari masalah yang diprioritaskan tersebut

 Diketahuinya prioritas penyebab masalah

 Dirumuskannya pemecahan masalah bagi pelaksanaan pengelolaan

Langkah-Langkah Membuat Evaluasi Program Pengumpulan Data

Sebelum menetapkan permasalahan, terlebih dahulu data harus dikumpulkan, diolah kemudian disajikan. Dalam proses evaluasi program 1000 hari pertama kehidupan terhadap kajian jumlah inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif, dan promosi ASI, data-data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.

 Data Primer

- Kuisioner tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu hamil mengenai ASI eksklusif.

- Wawancara dengan Kepala Puskesmas, penanggung jawab program IMD, ASI eksklusif, dan promosi ASI di Puskesmas Caringin.

 Data sekunder

- Laporan Kinerja Puskesmas Caringin tahun 2014.

- Data laporan program IMD, ASI eksklusif, dan Promosi ASI secara perorangan maupun kelompok bulan Januari – Desember 2014 di Puskesmas Caringin.

(6)

Menetapkan indikator dari unsur keluaran.

Langkah awal untuk dapat menentukan adanya masalah dari pencapaian hasil keluaran (output) ataudampak (impact) adalah dengan menetapkan indikator yang akan dipakai untuk mengukur keluaran ataudampak sebagai keberhasilan dari suatu program kesehatan. Sebenarnya dampak merupakan hasil akhir dari suatu program kesehatan, tetapi sering sekali hasilnya belum dapat diukur bila program baru berjalanbeberapa bulan atau satu tahun. Misalnya keberhasilan program pemberantasan diare atau program KB,baru akan menunjukkan dampak yang signifikan setelah program berjalan beberapa tahun. Karena itubiasanya yang dipakai sebagai ukuran keberhasilan suatu program kesehatan adalah keluaran.

Menetapkan indikator dari keluaran dapat dilakukan dengan mempelajari berbagai sumber rujukan. Bila dari satu sumber ditemukan beberapa indikator dan menurut pandangan kita salah satu atau beberapaindikator tersebut tidak realistis, kita dapat menghilangkannya kemudian menambahkan ataumenggunakan indikator keluaran dari sumber yang lain yang dirasakan lebih sesuai. Kita juga bolehmemodifikasi indikator tersebut sesuai dengan logika serta referensi yang lebih masuk akal.

Menentukan tolok ukur tiap indikator keluaran yang telah ditetapkan.

(7)

dan sebagainya.22 Internet merupakan salah satu sumber untuk memperoleh indikator dantolok ukurnya masing-masing.

Membandingkan pencapaian masing-masing indikator keluaran program dengan tolokukurnya.

Langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil pencapaian tiap-tiap indikator keluaran programdengan tolok ukur masing-masing.Bila ada kesenjangan antara pencapaian indikator keluaran programdengan tolok ukurnya, maka ditetapkan sebagai masalah.Masalah bisa lebih dari 1, tergantung daribanyaknya indikator yang dipakai untuk mengukur keberhasilan keluaran program.

Menetapkan prioritas masalah

Masalah-masalah pada komponen keluaran belum tentu semuanya dapat di atasi secara bersamaanmengingat keterbatasan kemampuan fasilitas kesehatan.Selain itu adanya kemungkinan masalah-masalahtersebut berkaitan satu dengan yang lainnya dimana bila diselesaikan salah satu masalah yangdianggap paling penting, maka masalah lainnya dapat teratasi pula. Oleh sebab itu, perlu ditetapkan prioritas masalah yang akan dicari pemecahannya.

Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan Teknik skoring Bryant.Teknik ini digunakan untuk menetapkan prioritas masalah. Parameter yang digunakan adalah:

Community Concern, yakni sejauh mana masyarakat menganggap masalah

tersebut penting.

Prevalence, yakni berapa banyak penduduk yang terkena penyakit tersebut.

Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut

Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk

mengatasinya.

PARAMETER MASALAH

A B C

Community Concern(CC)

Prevalence (P) Seriousness (S)

Manageability (M)

(8)

Masalah yang akan dijadikan prioritas adalah masalah yang mempunyai nilai Σ (CC + P + S + M) yang tertinggi. Setiap parameter diberikan nilai antara 1-5. Nilai 1 diberikan pada masalah ringan, dan nilai 5 untuk masalah paling berat dengan perincian sebagai berikut:

Nilai 1: Masalah ringan Nilai 2: Masalah sedang Nilai 3: Masalah cukup

Nilai 4: Masalah cukup berat Nilai 5: Masalah berat

Membuat kerangka konsep dari masalah yang diprioritaskan.

Untuk menentukan penyebab masalah yang telah diprioritaskan tersebut, perlu dibuat kerangka konsepprioritas masalah. Hal ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penyebab masalah yang berasal darikomponen sistem yang lainnya, yaitu komponen input, proses, lingkungan dan umpan balik. Denganmenggunakan kerangka konsep diharapkan semua faktor penyebab masalah dapat diketahui dan diidentifikasi sehingga tidak ada yang tertinggal.Jelaskan hubungan antara faktor-faktor dalam kerangkakonsep tersebut. Kadang-kadang ada faktor yang mempengaruhi prioritas masalah melalui faktor lain.Perhatikan benar-benar hubungan antar faktor tersebut.Dalam membuat kerangka konsep dapat dipakaidiagram pohon atau diagram tulang ikan. Semua variabel yang ada di dalam kerangka konsep, ditulis dalam bentuk netral.23,24

(9)

Identifikasi penyebab masalah.

Selanjutnya dilakukan identifikasi berbagai penyebab masalah yang terdapat pada kerangka konsep.Identifikasi penyebab masalah dilakukan dengan:

1. Mengelompokkan faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap prioritas masalah dalam unsur masukan, proses, umpan balik dan lingkungan,

2. Menentukan indikator-indikator serta tolok ukurnya masing-masing dari faktor-faktor tersebut

3. Mengukurbesarnya nilai indikator-indikator tersebut di lapangan,

4. Membandingkan nilai dari tiap-tiap indikator tersebut dengan tolok ukurnya. Bila terdapat kesenjangan, maka ditetapkan sebagai penyebab darimasalah yang diprioritaskan tadi.Tentu saja penyebabnya bisa lebih dari satu.Pada waktu mengukur besarnya nilai indikator di lapangan tersebut diperlukan pengumpulan data baik data yang ada dalamdokumen atau data yang diperoleh dari wawancara atau kuesioner.Bisa juga data diperoleh dari laporantahunan, triwulan dsbnya.Wawancara atau pemberian kuesioner dapat dilakukan terhadap petugas ataupengunjung fasilitas yang dinilai, tergantung kebutuhannya. Indikator yang tolok ukurnya sering tidak dibuatoleh mahasiswa adalah indikator dana. Tolok ukur dana harus dibuat, dengan memperkirakan besarnyabiaya yang harus disediakan oleh program yang dievaluasi tersebut agar menghasilkan keluaran yangbaik. Tolok ukur dana dinyatakan dalam bentuk rupiah.

Memprioritaskan penyebab masalah

Bila penyebab masalah telah diketahui, teliti kembali apakah semua penyebab tersebut saling berkaitan.Bila saling berkaitan, tidak perlu dibuat prioritas penyebab masalah.Bila ternyata penyebab masalah amatbervariasi, usahakan untukmengelompokkan berdasarkan keterkaitan masing-masing penyebab tersebut.Bisa saja dari 10 penyebab masalah dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar.Tiga kelompok penyebabmasalah ini yang perlu dicari prioritasnya.

(10)

beberapa prioritas utama dari sedemikian banyak pilihan.Biasanya dilakukan dalam kelompok.terdiri dari 2 bagian: 1. Formalisasi sumbang saran, 2. Membuat pilihan.

Caranya adalah sebagai berikut: Dengan memperlihatkan kerangka konsep, pemimpin diskusimemaparkan semua penyebab masalah yang diperkirakan, serta data yang berhubungan dengankemungkinan penyebab masalah tersebut. Minta tiap anggota tim mengemukakan ide-idenya tentangpenyebab masalah tersebut. Ketua timmenuliskan penyebab-penyebab masalah yang dipaparkananggotanya. Langkah kedua dilaksanakan dengan membuang penyebab-penyebab yang dirasakan tidakterlalu penting. Anggota boleh membuang idenya, tetapi tidak boleh membuang ide orang lain. Selanjutnyakepada masing-masing anggota dibagikan kartu.Banyaknya kartu sesuai dengan banyaknya ide yangdituliskan.Bila ide kurang dari 20, cukup dibagikan 4 kartu.Tiap anggota menuliskan ide yang dipilihnya serta peringkatnya.Jadi bila ada 4 kartu, seorang anggota akan menulis, misalnya Ide A perngkat 1, Idenomer 4 peringkat 2. Ide nomer 6, peringkat 3.Ide nomer 10, peringkat 4.Di akhir sesi, dilihat ide manayang mempunyai peringkat tertinggi. Itu yang ditentukan sebagai penyebab masalah utama.25

Membuat alternatif pemecahan masalah.

Setelah kita mengetahui prioritas penyebab masalah, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalahmembuat 2 sampai 3 alternatif pemecahan masalah yang diperkirakan dapat mengatasi penyebabmasalah tersebut.Alternatif pemecahan masalah ini dibuat dengan memperhatikan kemampuan sertasituasi dan kondisi fasilitas kesehatan. Berarti diperlukan wawancara dengan petugas di fasilitas kesehatantersebut yang diperkirakan akan melaksanakan program tersebut. Sumber rujukan lain yang sangatpenting adalah referensi yang dapat diperoleh dari jurnal atau pengalaman orang lain yang telahdidokumentasikan. Komunikasi personal dengan seorang yang berpengalaman juga sangat dianjurkan.

(11)

menentukan apakah suatu alternatif pemecahan masalah nantinyaakan terpilih pada waktu melakukan pemilihan prioritas masalah. Rincian dana ini harus dikembangkanoleh penilai.

Membuat kesimpulan dan saran

Kesimpulan adalah penyampaian singkat semua hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan-tujuan yangingin dicapai.Sebagai hasil akhir dari penilaian adalah terpilihnya prioritas pemecahan masalah.

Saran merupakan kondisi atau prasyarat yang diharapkan dapat disediakan oleh fasilitas kesehatan agar pemecahan masalah yang diprioritaskan tersebut dapat terlaksana dengan baik.

II. PENYAJIAN DATA

A. Data Jumlah Sekolah Dasar Dengan Kantin

Dari hasil pengumpulan data, diperoleh data jumlah seluruh sekolah dasar dan jumlah sekolah dasar yang memiliki kantin, yaitu sebagai berikut:

Desa Sasaran SD yang memiliki kantin sekolah Jumlah Sekolah Dasar Jumlah Presentase (%)

Suradita 5 3 60%

Dangdang 4 2 50%

Mekwarwangi 2 1 50%

Total 11 6 63%

B. Analisa Variabel

Untuk menjadikan suatu data, kita perlu mengetahui variable yang digunakan untuk setiap unsur system, serta indikator keberhasilan untuk setiap variable tersebut. Adanya variable dan indikator dalam penyajian data, maka kita dapat mengetahui ada tidaknya kesenjangan untuk setiap unsur dalam system.

No Variabel Tolak Ukur Penyajian Data Kesenjangan

INPUT

(12)

Penjual Sehat, tidak menderita penyakit

Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala 2x/tahun

Tidak ada yang memeriksakan diri

Ada

Menggunakan pakaian kerja lengkap (celemek, pakaian bersih, tutup kepala, alas kaki)

Tidak ada yang menggunakan pakaian lengkap

Ada

Mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyentuh makanan

Tidak ada penjual yang mencuci tangan

Ada

Tidak merokok saat menyajikan makanan dan minuman

100% tidak merokok

Tidak ada

Kuku tangan pendek dan bersih, dan tidak menggunakan pewarna kuku

70% tidak memenuhi

Ada

Tidak menggaruk badan, mengorek hidung, atau meludah

100% tidak melakukan

Tidak ada

Tidak memiliki luka terbuka yang tidak ditutup perban

100% tidak memiliki luka

Tidak ada

Memiliki pengetahuan tentang gizi seimbang

Tidak ada yang memiliki pengetahuan

Ada

2. DANA Terdapatnya anggaran dana dari PEMDA untuk warung/kantin sekolah yang diberikan tepat waktu

100% tidak

a. Lantai Rata, halus, mudah dibersihkan 100% memiliki lantai (6/6)

Tidak ada

Tidak licin 100% licin (6/6) Ada

Agak miring agar mudah dibersihkan 100% tidak miring (6/6)

Ada

b. Dinding Rata, halus, mudah dibersihkan 83.3% memenuhi

(13)

indikator (5/6) Bahan kuat, tahan lama, tidak mudah

mengelupas

83.3% memiliki bahan kuat (5/6)

Ada

Warna terang 50% berwarna

terang (3/6)

Ada

c. Langit-langit

Berplafon, mudah dibersihkan 0%

menggunakan plafon (0/6)

Ada

Tidak bocor 100% tidak

bocor (6/6)

Ada

Tidak berlubang 100% tidak

berlubang (6/6)

Ada

Tidak mengelupas 100% tidak

mengelupas

Dibuat dari bahan tahan lama 0% memiliki jendela (0/6)

Ada

Tidak mudah pecah 0% memiliki

jendela (0/6)

Ada

Rata, halus, bersih 0% memiliki

jendela (0/6)

Ada

Warna terang 0% memiliki

jendela (0/6)

Ada

Dapat dibuka-tutup dengan baik 0% memiliki jendela (0/6)

Ada

Dilengkapi kasa yang dapat dilepas 0% memiliki jendela (0/6)

Ada

e. Ruang pengolahan

Ada ruang pengolahan 66.7% memiliki

ruang pengolahan (4/6)

Ada

Bersih 0% ruang

pengolahan bersih (0/4)

Ada

Total ventilasi minimum 20% terhadap luas lantai

100% memiliki maksimum di

(14)

ruang pengolahan (4/4)

Suplai air Tersedia suplai air bersih yang cukup untuk kebutuhan

Air bersih, tidak berwarna, dan tidak berbau

Bersih 0% tempat

pengolahan makanan bersih

Ada

Luasan yang cukup (tidak berdesakan dan leluasa bergerak)

83.3% memiliki luasan yang cukup (5/6)

Ada

Terpisah dari ruang penyajian dan ruang makan

100% terpisah dari ruang penyajian (6/6)

Ada

Tempat/meja yang permanen untuk persiapan dengan permukaan halus

50% memiliki meja persiapan (3/6)

Ada

Lampu penerangan yang cukup terang dan tidak berada langsung di atas meja pengolahan pangan

50% memiliki penerangan baik (3/6)

Ada

Ventilasi yang cukup agar udara panas dan lembab di dalam ruangan dapat dibuang keluar

Mempunyai tempat penyajian makanan seperti lemari display, etalase, atau lemari kaca yang memungkinkan konsumen dapat melihat makanan yang disajikan dengan jelas

33.3% memiliki etalase (2/6)

Ada

Makanan camilan harus mempunyai tempat penyajian yang terpisah dari

100% memisahkan

(15)

tempat penyajian makanan sepinggan penyajian (6/6) Makanan camilan yang dikemas dapat

digantung atau ditempatkan dalam wadah dan disajikan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung atau debu

Buah potong mempunyai tempat display tersendiri dan dijaga kebersihannya, terhindar dari

kontaminasi debu, serta dalam keadaan dingin/didinginkan

Meja dan kursi dalam jumlah yang cukup dan nyaman

0% meja dan kursi (0/6)

Ada

Permukaan meja harus mudah dibersihkan

0% meja dan kursi (0/6)

Ada

Untuk kantin dalam ruang tertutup, ruang makan harus mempunyai ventilasi yang cukup

0% meja dan kursi (0/6)

Ada

Untuk kantin yang menggunakan koridor, taman, atau halaman sekolah sebagai tempat makan, tempat tersebut harus selalu dijaga kebersihannya, rindang

0% meja dan kursi (0/6)

Ada

Jauh dari tempat sampah, WC, dan pembuangan limbah

Ada tempat penyimpanan bahan baku 83.3% memiliki tempat

penyimpanan bahan baku (5/6)

Ada

Ada tempat penyimpanan makanan jadi yang akan disajikan

50% memiliki (3/6)

Ada

(16)

pangan (3/6) Ada tempat penyimpanan peralatan

yang bersih

83.3% memiliki (5/6)

Ada

Tempat penyimpanan bahan mentah termasuk bumbu dan bahan tambahan pangan (BTP) terpisah dengan produk atau makanan yang siap disajikan

66.7% memiliki (4/6)

Ada

Tempat penyimpanan khusus untuk menyimpan bahan-bahan bukan pangan seperti bahan pencuci, minyak tanah

16.7% memiliki (1/6)

Ada

Mudah dibersihkan dan bebas dari hama seperti serangga, binatang pengerat seperti tikus, burung atau mikroba dan ada sirkulasi udara

33.3% memiliki (2/6)

Ada

Penyimpanan bahan baku dan produk pangan harus sesuai dengan suhu penyimpanan yang dianjurkan

Peralatan harus mudah dibersihkan, kuat, dan tidak mudah berkarat,

misalnya peralatan dari baja tahan karat

83.3% mudah dibersihkan (5/6)

Tidak ada

Permukaan peralatan yang kontak langsung dengan pangan harus halus, tidak bercelah, tidak mengelupas, dan tidak menyerap air

Jika terdapat peralatan bermotor seperti pengaduk dan blender hendaknya dapat dibongkar agar bagian-bagiannya mudah dibersihkan

Tersedia bak cuci piring dan peralatan dengan air mengalir

83.3% memiliki bak cuci (5/6)

Tidak ada

Tersedia rak pengering 66.7% memiliki

rak pengering (4/6)

(17)

Tersedia watafel dengan sabun / detergen dan lap bersih atau tissue di tempat makan

0% memiliki westafel (0/6)

Ada

Tersedia wastafel dengan sabun / detergen dan lap bersih atau tissue di tempat pengolahan / persiapan makanan

0% memiliki westafel (0/6)

Ada

Tersedia alat cuci /pembersih yang terawat baik seperti sapu lidi, sapu ijuk, selang air, kain lap, sikat, kain pel, dan bahan pembersih seperti sabun/detergen dan bahan sanitasi

16.7% memiliki alat cuci yang terawatt (1/6)

Ada

Tempat penyimpanan uang

Tempat penyimpanan uang berada jauh dari etalase display pangan siap saji

0% memiliki

Tempat sampah atau limbah padat di kantin harus tersedia dan jumlahnya cukup serta selalu tertutup

66.7% tersedia limbah cukup (4/6)

Ada

Di dalam maupun di luar kantin bebas dari sampah

83.3% bebas sampah (5/6)

Ada

Jarak kantin dengan tempat penampungan sampah sementara minimal 20 meter

83.3% jauh dari pembuangan sampah (5/6)

Ada

Selokan atau saluran pembuangan air dapat berfungsi degan baik serta mudah dibersihkan bila terjadi penyumbatan

66.7% selokan berfungsi baik (4/6)

Ada

Terdapat lubang angin yang berfungsi untuk mengalirkan udara segar dan membuang limbah gas hasil pemasakan makanan.

(18)

protein, karbohidrat, vitamin, mineral,

Camilan Kemasan tidak bocor 100% cemilan

tidak bocor (6/6)

Tidak ada

Tanggal kadaluarsa belum terlewati 100% tanggal kadaluarsa tidak terlewati (6/6)

Tidak ada

Memiliki ijin dari badan POM/DINKES

100% memiliki ijin BPOM (6/6)

Tidak ada

Minuman Air putih dari air bersih atau mendidih 100% air bersih (6/6)

Tidak ada

Minuman ringan dalam kemasan utuh, tidak bocor, tidak gembung, tidak melewati kadaluarsa, memiliki ijin edar dari badan POM

100% minuman ringan kemasan utuh (6/6)

Tidak ada

Minuman campur dibuat dari air mendidih, es dengan air matang, tidak menggunakan pewarna dan pemanis yang melebihi takaran, buah di cuci dengan air bersih, gelas penyajian bersih

Di cuci dengan air mengalir 100% mencuci dengan air mengalir (3/3)

Ada

Bagian buah yang busuk di buang 100% membuang bagian yang busuk (3/3)

(19)

Mengupas buah dengan pisau bersih bukan bekas potong daging

100% mengupas dengna pisau bersih (3/3)

Ada

Didinginkan di kulkas atau di es yang terbuat dari air matang

66.7%

Tidak terdapat pecahan gelas, kawat stapler, potongan tulang, potongan kayu, kerikil, rambut, kuku, sisik, dll.

100% bebas

Pemeriksaan mikrobiologis sampel makanan secara rutin minimal 2x/tahun

Tidak ada yang pernah dinilai (0/6)

Ada

Bahaya kimia

Tidak berformalin 100% tidak

menggunakan formalin (6/6)

Tidak ada

Tidak mengandung pewarna

(Rhodamin B dan Methanyl Yellow)

83.3% tidak menggunakan pewarna (5/6)

Ada

Tidak menggunakan kertas fotokopian atau koran dalam penyajian

100% tidak menggunakan bahan fotokopi (6/6)

Tidak ada

Tidak menggunakan styrofoam untuk mewadahi makanan panas

33.3%

menggunakan Styrofoam (2/6)

Ada

Tidak menggunakan kemasan dari plastic bekas

(20)

kantin sehat

Terdapat pembinaan kantin sehat oleh sekolah 1. Perencanaan Adanya penyusunan program

pelaksanaan kantin sekolah sehat

Sekolah tidak

Adanya penentuan jumlah target per tahun

Adanya struktur organisasi yang bertanggung jawab mengembangkan program kantin sehat, yaitu tim pelaksana UKS

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

Adanya satu orang petugas pengelola program UKS di puskesmas (pengawas eksternal)

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

Adanya pembina dan pengawas internal kantin sekolah

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

3. Pelaksanaan Adanya kerja sama seluruh insitutsi sekolah dengan puskesmas dalam pembentukan warung sekolah sehat

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

Penyuluhan mengenai keamanan pangan kepada para penjaja di tiap sekolah secara rutin setiap tahun oleh sekolah

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

Penyuluhan mengenai keamanan pangan kepada para penjaja di tiap

Memenuhi tolak ukur

(21)

sekolah secara rutin setiap tahun oleh puskesmas

Peran serta orang tua murid di seluruh sekolah untuk memantau kantin sehat

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

Mengirim pembina dan pengawas kantin sekolah untuk mengikuti pelatihan kantin sehat oleh instansi terkait

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

Melakukan perbaikan dan penyediaan sarana kantin sehat

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

Kebijakan dan peraturan mengenai keamanan PJAS di lingkungan sekolah

Tidak

memenuhi tolak ukur

Ada

Mengedukasi anak-anak sekolah dalam memilih jajanan sehat

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

4. Pengawasan Adanya pemantauan dan evaluasi pelaksanaan warung atau kantin sekolah sehat yang dilakukan oleh tim pelaksana UKS (puskesmas dan sekolah)

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

Adanya supervisi dari dinas kesehatan terhadap pencatatan dan pelaporan program kantin sehat

Memenuhi tolak ukur

Tidak ada

Evaluasi pencapaian kantin sehat setiap tahun

(22)

100% penjual atau penjamah makanan di sekolah telah mendapatkan

pembinaan atau penyuluhan mengenai kantin sehat

80% pendidikan akhir penjual adalah lulus SMP

80% murid mengetahui tentang pentingnya memilih jajanan sehat

70% murid

3. Pengetahuan penjual mengenai pentingnya jajanan sehat

100% penjual mengetahui tentang pentingnya menjual jajanan sehat

80% penjual

Terjadi peningkatan pembinaan penjual jajanan di sekolah dibandingkan tahun 2013 berdasarkan analisis variabel, terdapat satu indikator output yang belum terpenuhi, yaitu: Belum tercapainya presentase sekolah yang memenuhi standard kantin sekolah sehat. Berdasarkan analisis variabel, dapat diidentifikasi penyebab masalah, yaitu:

(23)

3. Kurangnya kepedulian penjual terhadap kesehatan anak sekolah

IV. PEMBAHASAN

Penetapan masalah dari evaluasi program ini diambil dari kesenjangan yang ditemukan pada indikator output dan kesenjangan – kesenjangan lain diluar output merupakan penyebab dari masalah yang sudah ditetapkan. Pada umumnya apabila terdapat lebih dari satu kesenjangan pada indikator output, perlu dilakukan penetapan prioritas masalah salah satunya dengan metode Bryant tetapi dalam evaluasi program ini tidak diperlukan mengingat hanya satu indikator yang memiliki kesenjangan. Dari kedua indikator output dalam analisis variabel, satu dari dua indikator tersebut tidak mencapai target, yaitu tidak terpenuhinya standar kriteria kantin sehat. Dari pengumpulan data sekunder periode 26 Oktober 2015 sampai 19 Desember 2015 ditemukan seluruh kantin sekolah tidak memenuhi standar kriteria kantin sehat, sehingga target di puskesmas suradita tidak tercapai hanya ….% dari target yang seharusnya …%.

(24)

mengawasi dan membina kantin sekolah. Selain itu, sekolah juga tidak benar-benar memahami protap kantin sehat. Dari pihak puskesmas, pembinaan yang dilakukan kurang mendalam sehingga kepedulian penjual akan pentingnya jajanan sehat masih minimal.

Kunci utama dari adanya kesenjangan sarana dan prasarana adalah tidak adanya dana untuk membangun kantin yang ideal. Pada seluruh sekolah lantai tidak terbuat dari kramik melainkan hanya terbuat dari tanah sehingga tidak memenuhi kriteria keamanan dan kebersihan dari lantai untuke kantin sehat. Hal yang sama juga terjadi pada dinding dan langit-langit kantin. Dinding terbuat dari tripleks, bamboo atau bahkan beberapa kantin tidak memiliki dinding, sedangkan seluruh langit-langit terbuat dari seng. Meskipun tidak bocor tetapi seluruh material ini bukanlah material yang ideal dalam membangun kantin sehat. Sebagian besar kantin tidak memiliki ruang pengolahan yang terpisah dari ruang penyajian. Kantin sekolah biasanya berukuran 2 x 2 meter dimana bagian belakang digunakan untuk ruang pengolahan dan bagian depan digunakan untuk penyajian makanan sehingga keadaan ini juga tidak sesuai dengan kriteria kantin sehat. Seluruh sekolah tidak memilki wastafel dan tempat makan untuk murid-murid. Kedua hal ini juga merupakan penyebab tidak terwujudnya kantin sehat. Dimana wastafel sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan para penjual dan murid untuk mencegah penyakit. Hal lain yang menjadi fokus penting adalah tidak adanya satu orang khusus yang ditunjuk sebagai kasir. Padahal uang adalah salah sumber bakteri yang paling mudah menyebabkan penyait.

Berdasarkan faktor lingkungan, pendidikan penjual juga berpengaruh terhadap terwujudnya kantin sehat. Jika >80% penjual adalah lulusan SMP, maka diharapkan penjual tersebut lebih mengerti mengenai jajanan sehat dan menyokong terwujudnya kantin sehat. Namun, hanya 30% dari penjual di kantin yang adalah lulusan SMP. Sehingga hal ini mempengaruhi ragam makanan dan kandungan gizi yang dijual di kantin sekolah.

(25)

pembinaan, tetapi pada tahun 2015, 100% penjual pernah mengikuti pembinaan. Namun, peningkatan angka yang signifikan ini tidak diikuti dengan perubahan pola berjualan dari para penjual. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembinaan yang dilakukan belum cukup efektif untuk merubah pola pikir penjual menuju ke arah perwujudan kantin sehat. Maka, angka dari jumlah kantin sehat di wilayah Suradita tetap tidak tercapai, dan mayoritas kantin cenderung buruk. Perbandingan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini,

Variabel Indikator Juli 2013 November 2015

INPUT TENAGA

Penjual Sehat, tidak

menderita penyakit menular

100% 100%

Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala 2x/tahun

20% 0%

Menggunakan pakaian kerja lengkap (celemek, pakaian bersih, tutup kepala, alas kaki)

20% 0%

Mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyentuh makanan

100% 0%

Tidak merokok saat menyajikan makanan dan minuman

70% 100%

Kuku tangan pendek dan bersih, dan tidak

(26)

menggunakan pewarna kuku

DANA Terdapatnya

anggaran dana dari PEMDA untuk

Lantai Kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan

50% 100%

Ventilasi Cukup 30% 0%

Tempat pengelolahan makanan

Bangunan dapur terjaga kebersihannya

60% 0%

Westafel Tersedia dengan

sabun

50% 0%

Pencucian alat Tersedia 0% 83.3%

Tempat sampah Tersedia 100% 66.7%

Alat pengelolahan

Snack Tidak kadaluarsa 100% 100%

Sanitasi air Air bersih 90% 100%

METODE Protap pelaksanaan

dan pembinaan kantin

Ada Terdapat protap

pelaksanaan, tetapi tidak dilakukan pembinaan

Ada, 4x/tahun

PROSES

PERENCANAAN Ada penyusunan

program pelaksaan

Tidak ada Tidak ada

Penentuan jumlah target

Tidak ada Ada

ORGANISASI Ada struktur

organisasi yang bertanggung jawab

Tidak ada Tidak ada

(27)

pengelola program UKS di puskesmas PELAKSANAAN Kerjasama institusi

sekolah dan puskesmas

20% 100%

Penyuluhan

mengenai keamanan pangan ke penjaja

30% (1x/tahun) 100%

PENGAWASAN Pemantauan dan

evaluasi pelaksanaan

Tidak ada Ada

Adanya supervise dinas kesehatan

Ada, tetapi tidak rutin

Tidak ada

OUTPUT Presentase cakupan

kantin sehat

100% jumlah sekolah memenuhi kriteria

60% dikategorikan sebagai kantin buruk 20% cukup baik 20% baik

100% kantin buruk

100% penjual mendapat pembinaan

30% mendapat pembinaan

100% penjual mendapat pembinaan

V. PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH A. Penyebab masalah pertama

Kurangnya pengetahuan pihak sekolah mengenai kriteria standard kantin sehat. Hal ini terlihat dari adanya kesenjangan pada beberapa variabel, yaitu:

INPUT

 Tenaga

o Tidak ada penjual yang melakukan pemeriksaan kesehatan berkala selama 2x/tahun

o Tidak ada penjual yang menggunakan pakaian kerja lengkap

o Penjual tidak memiliki ilmu tentang gizi seimbang

 Sarana

(28)

o Kurangnya pengetahuan mengenai gizi seimbang dilihat dari tidak adanya kantin yang menjual makanan yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air

o Kurangnya penjualan makanan sepingan dan buah-buahan di kantin

PROSES

 Perencanaan

o Sekolah tidak memiliki program pelaksanaan kantin sehat

 Pengorganisasian

o Tidak adanya struktur organisasi yang bertanggung jawab dalam mengembangkan program kantin sehat

o Tidak adanya pembina dan pengawas internal kantin sekolah

 Pengawasan

o Sekolah tidak melibatkan peran orang tua murid dalam memantau kantin sehat

o Tidak memiliki kebijakan dan peraturan mengenai keamanan PJAS di lingkungan sekolah

Alternatif jalan keluar: INPUT

 Tenaga

o Sekolah meminta penjual memiliki surat sehat yang dikeluarkan oleh tempat pelayanan kesehatan terdekat sebanayak 2x/tahun.

o Sekolah menyediakan dan mewajibkan penjual untuk menggunakan pakaian kerja lengkap

o Sekolah dan puskesmas memberikan penyuluhan mengenai gizi seimbang dan ragam pangan yang seharusnya dijual di kantin.

o Sekolah membuat kebijakan mengenai kantin sehat yang dimengerti dan disetujui oleh kedua belah pihak yaitu sekolah dan penjual, meliputi:

 Keamanan PJAS di lingkungan sekolah yang mengacu pada Pedoman Keamanan Pangan di Sekolah Dasar, yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2011.

 Ragam makanan yang boleh dijual

 Kebersihan penjual makanan

(29)

 Kebersihan tempat pengolahan, peralatan makan, dan penyajian

makanan

 Melakukan pemeriksaan kesehatan 2x/tahun

 Sarana

o Melakukan pemeriksaan makanan untuk menilai keamanan biologis secara rutin, minimal 2x/tahun, dengan cara mengambil sanpel makanan dari setiap penjual.

PROSES

 Perencanaan

o Puskesmas memberikan pembinaan mengenai Kantin Sekolah Sehat kepada pihak sekolah (termasuk kepala sekolah, guru, dan orang tua murid)

o Sekolah harus memiliki program pelaksanaan kantin sehat yang mengacu pada Menuju Kantin Sehat di Sekolah tahun 2011, oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan Nasional.

o Sekolah harus membuat target yang akan dicapai dalam pelaksanaannya setiap tahunnya.

 Pengorganisasian

o Membentuk struktur organisasi pembentukan kantin sekolah, termasuk pembina dan pengawas internal kantin sekolah untuk mengembangkan program kantin sehat, dengan syarat:

 Telah mengikuti pelatihan pembinaan pengawas kantin sekolah

 Memiliki pengetahuan mengenai gizi seimbang dan beragam, keamanan pangan, cara pengolahan pangan yang baik, sanitasi dan hygiene, serta persyaratan sarana dan prasarana kantin sehat.

 Membantu memberikan pengarahan dalam hal menentukan makanan jajanan sekolah yang bernilai gizi dan aman dikonsumsi selama berada di sekolah dan mengawasi para penjaja/penjual agar menjual makanan yang memenuhi syarat kesehatan.

 Pengawasan

o Melibatkan orang tua dalam memantau kantin sehat dengan cara:

 Memberikan pembinaan kepada orang tua mengenai pentingnya jajanan sehat untuk anak sekolah, keamanan pangan, dan gizi seimbang.

(30)

 Jajanan yang dijual di sekolah dan menegur secara halus makanan

yang tidak sesuai dengan perjanjian antara sekolah dan penjual

 Jajanan yang dipilih oleh anak sekolah dan menegur anak jika membeli jajanan yang tidak sesuai dengan standard jajanan sehat.

o Melakukan sidak yang mengacu pada kebijakan kantin sehat yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak secara rutin 1x setiap bulan. Termasuk melakukan:

 Memberikan surat peringatan pada penjual yang menyimpang dari persetujuan kebijakan yang sudah dibuat.

 Surat peringatan diberikan sebanyak 3x

 Pada peringatan ke 4, akan ditindaklanjuti dengan melarang penjual menjual makanan di kantin sekolah.

B. Penyebab masalah kedua

Tidak adanya pendanaan untuk mewujudkan kantin sehat. Hal ini terlihat dari adanya kesenjangan pada beberapa variabel, yaitu:

INPUT

 Dana

o Tidak adanya anggaran dana dari PEMDA untuk kantin sekolah sehat yang diberikan tepat waktu

 Sarana

o Tidak terdapat lantai,dinding, langit-langit, pintu dan ventilasi yang ideal

o 2 dari 6 sekolah tidak memiliki ruang pengolahan. Sedangkan sekolah memiliki ruang/tempat pengolahan yang cenderung tidak ideal.

o 4 dari 6 sekolah tidak memiliki tempat penyajian makanan seperti lemari display, etalase, atau lemari kaca yang memungkinkan konsumen dapat melihat makanan yang disajikan dengan jelas

o Tidak ada sekolah yang memiliki tempat makan untuk muridnya

o Seluruh sekolah memiliki tempat penyimpanan yang tidak ideal

o Tidak ada sekolah yang memiliki westafel

o Seluruh sekolah tidak memiliki tempat penyimpanan uang yang ideal

o Semua sekolah tidak memiliki tempat sampah, selokan, atau lubang angin yang ideal.

PROSES

(31)

o Tidak melakukan perbaikan dan penyediaan sarana kantin sehat

Alternatif jalan keluar:

 Menetapkan penjual sebagia pegawai tetap sekolah, agar sekolah dapat menentukan harga makanan yang dijual, lalu membagi hasilnya sekian persen untuk penjual, dan sekian persen untuk pembangunan kantin sekolah.

 Kantin dikelola oleh organisasi orang tua murid (dewan koperasi sekolah), yang bertugas untuk mengumpulkan dana dan semaksmimal mungkin membantu pencapaian kantin sehat.

 Sekolah membuat proposal tahunan yang ditujukan kepada Kementrian Pendidikan untuk mendapatkan dana pembuatan kantin sehat.

C. Penyebab masalah ketiga

Kurangnya kepedulian penjual terhadap kesehatan murid-murid sekolah

Hal ini terlihat dari adanya 100% penjual yang sudah mengikuti pembinaan mengenai jajanan sehat di sekolah, tetapi masih mengabaikan kepentingannya. Hal ini terlihat pada beberapa variabel yaitu:

 INPUT

o Tenaga

 Penjual tidak mencuci tangan sebelum menyentuh makanan

 Penjual tidak memperhatikan kebersihan diri (kuku tangan)

 Penjual tidak memiliki ilmu tentang gizi seimbang

o Makanan

 Hanya 1 dari 6 penjual yang menjual makanan bergizi

 Hanya 2 dari 6 penjual yang menjual makanan sapingan

 Masih adanya penjual yang menyediakan es terbuat dari air mentah

 Masih adanya penjual yang menggunakan pewarna dalam

makanannya

 Masih ada kantin yang menggunakan styrofoam dalam penyajian

 Tidak semua kantin menjual buah

 Penjual tidak menyimpan buah sesuai standard

Alternatif jalan keluar:

 Mendorong orang tua murid untuk berjualan di kantin sekolah karena dianggap

(32)

 Menetapkan penjual sebagai pegawai tetap sekolah agar sekolah dapat

mengontrol makanan yang dijual.

 Mendorong para penjual kantin untuk menggunakan bahan alami dalam pembuatan jajanan anak sekolah, dapat diawali dengan menanam sendiri kebutuhan memasak di sekitar rumah.

 Puskesmas melakukan pelatihan masak (1x/bulan) untuk para penjual kantin.

Dimana pada pelatihan ini, penjual kantin akan diajarkan membuat makanan sepinggan dengan bahan yang murah, mudah didapatkan, tetapi tetap menghasilkan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anak sekolah.

 Puskesmas dan sekolah memberikan pendidikan yang lebih dalam mengenai jajanan sehat di sekolah secara rutin, sehingga anak-anak menjadi lebih bijaksana dalam memilih jajanan di sekolah. Dengan harapan, semakin sedikit anak-anak yang membeli makanan tidak sehat di kantin, dapat membuat para penjual kantin berpikir untuk menjual makanan yang lebih sehat.

 Puskesmas memberikan pembinaan yang lebih menyeluruh mengenai kantin sehat yang meliputi beberapa topik di bawah ini. Semua topik tidak harus di bahas dalam 1x pertemuan, dan bisa di bahas dalam beberapa kali pertemuan dan di awali dengan penyegaran mengenai topik sebelumnya. Usahakan pembinaan dilakukan dengan cara yang interaktif, menarik, dan mudah dicerna untuk berbagai usia dan latar belakang pendidikan.

o Memberitahukan pentingnya peran penjual jajanan di sekolah bagi masa depan murid-murid sekolah

o Meningkatkan rasa empati para penjual dengan cara mengajak mereka berpikir bagaimana jika keluarga mereka sendiri yang mengkonsumsi makanan yang mereka jual

o Komponen gizi seimbang

o Kebutuhan gizi anak sekolah dasar

o Keamanan pangan

 Tenaga: pakaian penjual kantin yang ideal, mencuci tangan menggunakan sabun, kebersihan kuku, kesehatan penjual

 Makanan: keamanan biologis, fisik, dan kimia

 Cara pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan yang aman

(33)

Gambar

Gambar 11.dilanjutkan dengan menemukan kausa (penyebab), padaunsur lain dari sistem tersebut,Sistem Pelayanan Kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, apabila pembelajaran memanfaatkan lingkungan sebagai media/ alat dalam proses belajar mengajar maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang

First Station: Jesus is condemned to death Druga postaja: Isus prima na se križ Second Station: Jesus carries His cross... (179-188) Željka Čorak: Slikar i njegov križ –

Senyawa bioaktif yang terkandung pada Gelidium latifolium yaitu triterpenoid, steroid dan alkaloid, Gelidium latifolium memiliki potensi sebagai antijamur alami dengan

Penggarapan naskah Sarip Tambak Oso ini pada dasarnya memiliki bentuk seperti ludruk tetapi tidak sepenuhnya ludruk karena ada beberapa unsur pendukung lain yang tidak

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode survey deskriptif menggunakan teknik pengumpulan data dengan sistem wawancara yang telah disiapkan

Dengan melihat Gambar 4.8, suhu tertinggi terjadi di Bulan Agustus yaitu sebesar 31,88°C pada bulan ini sedang terjadi musim timur, suhu menurun sampai menjelang

dengan mi kr oskop dan di bi akkan unt uk menget ahui or gani sme penyebabnya.. Unt uk menget ahui adanya keganasan, di

Teknik analisa data yang digunakan untuk menganalisis Pengeluaran Pemerintah Di sektor Pendidikan dan Kesehatan terhadap Kemiskinan di 29 Kab dan 9 Kota tahun 2009-2014