BAB IV
EVALUASI PROGRAM
I. METODOLOGI
Pengertian Evaluasi Program
Menurut WHO (1990) pengertian evaluasi adalah suatu cara sistematis untuk mempelajari berdasarkan pengalaman dan mempergunakan pelajaran yang dipelajari untuk memperbaiki kegiatan-¬kegiatan yang sedang berjalan serta men ingkatkan perencanaan yang lebih baik dengan seleksi yang seksama untuk kegiatan masa datang.19
Evaluasi menurut The American Public Association adalah suatu proses untuk menentukan nilai ataujumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut The International Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population Options, evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau standar yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saran-saran, yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program.20
Evaluasi juga merupakan suatu proses umpan balik atas kinerja masa lalu yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dimasa datang, sebagai suatu proses yang berkelanjutan, evaluasi menyediakan informasi mengenai kinerja dalam hubungannya terhadap tujuan dan sasaran (Notoatmodjo, 2003).
Pelaksanaan Evaluasi
Dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mendiagnosis suatu program yang hasilnya digunakan untuk pengembangan atau perbaikan program. Biasanya evaluasi formatif dilakukan pada proses program (program masih berjalan). Sedangkan evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program. Biasanya evaluasi sumatif ini dilakukan pada waktu program telah selesai (akhir program). Meskipun demikian pada praktek evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut (Notoatmodjo, 2003).21
Pendekatan Sistem
Terdapat beberapa macam pengertian dari sistem yang dikemukakan oleh berbagai ahli, antara lainsebagai berikut :
Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien.
Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang majemuk, dimana masing-masing bagian bekerja sama secara bebas dan terkait untuk mencapai sasaran kesatuan dalam suatu situasi yang majemuk pula.
Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen yang berhubungan serta saling mempengaruhi yang dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Unsur-Unsur Sistem 1. Masukan
Dalam sistem pelayanankesehatan, masukan terdiri dari tenaga, dana, metode, sarana/material.
2. Proses
Yang dimaksud dengan proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem danyang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Dalam sistempelayanan kesehatan terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian.
3. Keluaran
Yang dimaksud dengan keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dariberlangsungnya proses dalam sistem. Contohnya dalam program BIAS Campak adalah berupacakupan program di suatu wilayah.
4. Umpan Balik
Yang dimaksud dengan umpan balik (feed back) adalah kumpulan dari bagian atau elemen yangmerupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5. Dampak
Yang dimaksud dengan dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
6. Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola olehsistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
Keenam unsur sistem ini saling berhubungan dan mempengaruhi yang secara sederhana dapatdigambarkan seperti berikut :
Lingkungan
Keluaran Proses
Suatu sistem pada dasarnya dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telahditetapkan/disepakati bersama.Dan untuk terbentuknya sistem tersebut, perlu dirangkai berbagai unsuratau elemen sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan. Apabila prinsip pokok atau cara kerja sistem ini diterapkan ketika menyelenggarakan pekerjaan administrasi, maka prinsip pokok atau cara kerja ini dikenaldengan nama pendekatan sistem (system approach).2
Evaluasi Berdasarkan Pendekatan Sistem
Evaluasi Program berdasarkan pendekatan sistem adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalammembandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau standar dari masing-masing indikator yangtelah ditetapkan dari unsur keluaran (output), dilanjutkan dengan menemukan kausa (penyebab), padaunsur lain dari sistem tersebut,
Umpan Balik
Gambar 10.Unsur-Unsur Dalam Pendekatan Sistem
kemudian dilakukan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saransaranyang akan memperbaiki pencapaian sistem itu.
Tujuan Evaluasi Program Berdasarkan Pendekatan Sistem2
Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan dan tingkat keberhasilan pengelolaan suatu program kesehatan, di suatu tempattertentu, pada waktu tertentu.
Tujuan Khusus
Diketahuinya pelaksanaan pengelolaan suatu program kesehatan
Diketahuinya berbagai masalah pelaksanaan pengelolaan program kesehatan tersebut
Diketahuinya prioritas masalah
Diketahuinya berbagai penyebab dari masalah yang diprioritaskan tersebut
Diketahuinya prioritas penyebab masalah
Dirumuskannya pemecahan masalah bagi pelaksanaan pengelolaan
Langkah-Langkah Membuat Evaluasi Program Pengumpulan Data
Sebelum menetapkan permasalahan, terlebih dahulu data harus dikumpulkan, diolah kemudian disajikan. Dalam proses evaluasi program 1000 hari pertama kehidupan terhadap kajian jumlah inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif, dan promosi ASI, data-data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.
Data Primer
- Kuisioner tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu hamil mengenai ASI eksklusif.
- Wawancara dengan Kepala Puskesmas, penanggung jawab program IMD, ASI eksklusif, dan promosi ASI di Puskesmas Caringin.
Data sekunder
- Laporan Kinerja Puskesmas Caringin tahun 2014.
- Data laporan program IMD, ASI eksklusif, dan Promosi ASI secara perorangan maupun kelompok bulan Januari – Desember 2014 di Puskesmas Caringin.
Menetapkan indikator dari unsur keluaran.
Langkah awal untuk dapat menentukan adanya masalah dari pencapaian hasil keluaran (output) ataudampak (impact) adalah dengan menetapkan indikator yang akan dipakai untuk mengukur keluaran ataudampak sebagai keberhasilan dari suatu program kesehatan. Sebenarnya dampak merupakan hasil akhir dari suatu program kesehatan, tetapi sering sekali hasilnya belum dapat diukur bila program baru berjalanbeberapa bulan atau satu tahun. Misalnya keberhasilan program pemberantasan diare atau program KB,baru akan menunjukkan dampak yang signifikan setelah program berjalan beberapa tahun. Karena itubiasanya yang dipakai sebagai ukuran keberhasilan suatu program kesehatan adalah keluaran.
Menetapkan indikator dari keluaran dapat dilakukan dengan mempelajari berbagai sumber rujukan. Bila dari satu sumber ditemukan beberapa indikator dan menurut pandangan kita salah satu atau beberapaindikator tersebut tidak realistis, kita dapat menghilangkannya kemudian menambahkan ataumenggunakan indikator keluaran dari sumber yang lain yang dirasakan lebih sesuai. Kita juga bolehmemodifikasi indikator tersebut sesuai dengan logika serta referensi yang lebih masuk akal.
Menentukan tolok ukur tiap indikator keluaran yang telah ditetapkan.
dan sebagainya.22 Internet merupakan salah satu sumber untuk memperoleh indikator dantolok ukurnya masing-masing.
Membandingkan pencapaian masing-masing indikator keluaran program dengan tolokukurnya.
Langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil pencapaian tiap-tiap indikator keluaran programdengan tolok ukur masing-masing.Bila ada kesenjangan antara pencapaian indikator keluaran programdengan tolok ukurnya, maka ditetapkan sebagai masalah.Masalah bisa lebih dari 1, tergantung daribanyaknya indikator yang dipakai untuk mengukur keberhasilan keluaran program.
Menetapkan prioritas masalah
Masalah-masalah pada komponen keluaran belum tentu semuanya dapat di atasi secara bersamaanmengingat keterbatasan kemampuan fasilitas kesehatan.Selain itu adanya kemungkinan masalah-masalahtersebut berkaitan satu dengan yang lainnya dimana bila diselesaikan salah satu masalah yangdianggap paling penting, maka masalah lainnya dapat teratasi pula. Oleh sebab itu, perlu ditetapkan prioritas masalah yang akan dicari pemecahannya.
Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan Teknik skoring Bryant.Teknik ini digunakan untuk menetapkan prioritas masalah. Parameter yang digunakan adalah:
Community Concern, yakni sejauh mana masyarakat menganggap masalah
tersebut penting.
Prevalence, yakni berapa banyak penduduk yang terkena penyakit tersebut.
Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut
Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk
mengatasinya.
PARAMETER MASALAH
A B C
Community Concern(CC)
Prevalence (P) Seriousness (S)
Manageability (M)
Masalah yang akan dijadikan prioritas adalah masalah yang mempunyai nilai Σ (CC + P + S + M) yang tertinggi. Setiap parameter diberikan nilai antara 1-5. Nilai 1 diberikan pada masalah ringan, dan nilai 5 untuk masalah paling berat dengan perincian sebagai berikut:
Nilai 1: Masalah ringan Nilai 2: Masalah sedang Nilai 3: Masalah cukup
Nilai 4: Masalah cukup berat Nilai 5: Masalah berat
Membuat kerangka konsep dari masalah yang diprioritaskan.
Untuk menentukan penyebab masalah yang telah diprioritaskan tersebut, perlu dibuat kerangka konsepprioritas masalah. Hal ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penyebab masalah yang berasal darikomponen sistem yang lainnya, yaitu komponen input, proses, lingkungan dan umpan balik. Denganmenggunakan kerangka konsep diharapkan semua faktor penyebab masalah dapat diketahui dan diidentifikasi sehingga tidak ada yang tertinggal.Jelaskan hubungan antara faktor-faktor dalam kerangkakonsep tersebut. Kadang-kadang ada faktor yang mempengaruhi prioritas masalah melalui faktor lain.Perhatikan benar-benar hubungan antar faktor tersebut.Dalam membuat kerangka konsep dapat dipakaidiagram pohon atau diagram tulang ikan. Semua variabel yang ada di dalam kerangka konsep, ditulis dalam bentuk netral.23,24
Identifikasi penyebab masalah.
Selanjutnya dilakukan identifikasi berbagai penyebab masalah yang terdapat pada kerangka konsep.Identifikasi penyebab masalah dilakukan dengan:
1. Mengelompokkan faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap prioritas masalah dalam unsur masukan, proses, umpan balik dan lingkungan,
2. Menentukan indikator-indikator serta tolok ukurnya masing-masing dari faktor-faktor tersebut
3. Mengukurbesarnya nilai indikator-indikator tersebut di lapangan,
4. Membandingkan nilai dari tiap-tiap indikator tersebut dengan tolok ukurnya. Bila terdapat kesenjangan, maka ditetapkan sebagai penyebab darimasalah yang diprioritaskan tadi.Tentu saja penyebabnya bisa lebih dari satu.Pada waktu mengukur besarnya nilai indikator di lapangan tersebut diperlukan pengumpulan data baik data yang ada dalamdokumen atau data yang diperoleh dari wawancara atau kuesioner.Bisa juga data diperoleh dari laporantahunan, triwulan dsbnya.Wawancara atau pemberian kuesioner dapat dilakukan terhadap petugas ataupengunjung fasilitas yang dinilai, tergantung kebutuhannya. Indikator yang tolok ukurnya sering tidak dibuatoleh mahasiswa adalah indikator dana. Tolok ukur dana harus dibuat, dengan memperkirakan besarnyabiaya yang harus disediakan oleh program yang dievaluasi tersebut agar menghasilkan keluaran yangbaik. Tolok ukur dana dinyatakan dalam bentuk rupiah.
Memprioritaskan penyebab masalah
Bila penyebab masalah telah diketahui, teliti kembali apakah semua penyebab tersebut saling berkaitan.Bila saling berkaitan, tidak perlu dibuat prioritas penyebab masalah.Bila ternyata penyebab masalah amatbervariasi, usahakan untukmengelompokkan berdasarkan keterkaitan masing-masing penyebab tersebut.Bisa saja dari 10 penyebab masalah dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar.Tiga kelompok penyebabmasalah ini yang perlu dicari prioritasnya.
beberapa prioritas utama dari sedemikian banyak pilihan.Biasanya dilakukan dalam kelompok.terdiri dari 2 bagian: 1. Formalisasi sumbang saran, 2. Membuat pilihan.
Caranya adalah sebagai berikut: Dengan memperlihatkan kerangka konsep, pemimpin diskusimemaparkan semua penyebab masalah yang diperkirakan, serta data yang berhubungan dengankemungkinan penyebab masalah tersebut. Minta tiap anggota tim mengemukakan ide-idenya tentangpenyebab masalah tersebut. Ketua timmenuliskan penyebab-penyebab masalah yang dipaparkananggotanya. Langkah kedua dilaksanakan dengan membuang penyebab-penyebab yang dirasakan tidakterlalu penting. Anggota boleh membuang idenya, tetapi tidak boleh membuang ide orang lain. Selanjutnyakepada masing-masing anggota dibagikan kartu.Banyaknya kartu sesuai dengan banyaknya ide yangdituliskan.Bila ide kurang dari 20, cukup dibagikan 4 kartu.Tiap anggota menuliskan ide yang dipilihnya serta peringkatnya.Jadi bila ada 4 kartu, seorang anggota akan menulis, misalnya Ide A perngkat 1, Idenomer 4 peringkat 2. Ide nomer 6, peringkat 3.Ide nomer 10, peringkat 4.Di akhir sesi, dilihat ide manayang mempunyai peringkat tertinggi. Itu yang ditentukan sebagai penyebab masalah utama.25
Membuat alternatif pemecahan masalah.
Setelah kita mengetahui prioritas penyebab masalah, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalahmembuat 2 sampai 3 alternatif pemecahan masalah yang diperkirakan dapat mengatasi penyebabmasalah tersebut.Alternatif pemecahan masalah ini dibuat dengan memperhatikan kemampuan sertasituasi dan kondisi fasilitas kesehatan. Berarti diperlukan wawancara dengan petugas di fasilitas kesehatantersebut yang diperkirakan akan melaksanakan program tersebut. Sumber rujukan lain yang sangatpenting adalah referensi yang dapat diperoleh dari jurnal atau pengalaman orang lain yang telahdidokumentasikan. Komunikasi personal dengan seorang yang berpengalaman juga sangat dianjurkan.
menentukan apakah suatu alternatif pemecahan masalah nantinyaakan terpilih pada waktu melakukan pemilihan prioritas masalah. Rincian dana ini harus dikembangkanoleh penilai.
Membuat kesimpulan dan saran
Kesimpulan adalah penyampaian singkat semua hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan-tujuan yangingin dicapai.Sebagai hasil akhir dari penilaian adalah terpilihnya prioritas pemecahan masalah.
Saran merupakan kondisi atau prasyarat yang diharapkan dapat disediakan oleh fasilitas kesehatan agar pemecahan masalah yang diprioritaskan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
II. PENYAJIAN DATA
A. Data Jumlah Sekolah Dasar Dengan Kantin
Dari hasil pengumpulan data, diperoleh data jumlah seluruh sekolah dasar dan jumlah sekolah dasar yang memiliki kantin, yaitu sebagai berikut:
Desa Sasaran SD yang memiliki kantin sekolah Jumlah Sekolah Dasar Jumlah Presentase (%)
Suradita 5 3 60%
Dangdang 4 2 50%
Mekwarwangi 2 1 50%
Total 11 6 63%
B. Analisa Variabel
Untuk menjadikan suatu data, kita perlu mengetahui variable yang digunakan untuk setiap unsur system, serta indikator keberhasilan untuk setiap variable tersebut. Adanya variable dan indikator dalam penyajian data, maka kita dapat mengetahui ada tidaknya kesenjangan untuk setiap unsur dalam system.
No Variabel Tolak Ukur Penyajian Data Kesenjangan
INPUT
Penjual Sehat, tidak menderita penyakit
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala 2x/tahun
Tidak ada yang memeriksakan diri
Ada
Menggunakan pakaian kerja lengkap (celemek, pakaian bersih, tutup kepala, alas kaki)
Tidak ada yang menggunakan pakaian lengkap
Ada
Mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyentuh makanan
Tidak ada penjual yang mencuci tangan
Ada
Tidak merokok saat menyajikan makanan dan minuman
100% tidak merokok
Tidak ada
Kuku tangan pendek dan bersih, dan tidak menggunakan pewarna kuku
70% tidak memenuhi
Ada
Tidak menggaruk badan, mengorek hidung, atau meludah
100% tidak melakukan
Tidak ada
Tidak memiliki luka terbuka yang tidak ditutup perban
100% tidak memiliki luka
Tidak ada
Memiliki pengetahuan tentang gizi seimbang
Tidak ada yang memiliki pengetahuan
Ada
2. DANA Terdapatnya anggaran dana dari PEMDA untuk warung/kantin sekolah yang diberikan tepat waktu
100% tidak
a. Lantai Rata, halus, mudah dibersihkan 100% memiliki lantai (6/6)
Tidak ada
Tidak licin 100% licin (6/6) Ada
Agak miring agar mudah dibersihkan 100% tidak miring (6/6)
Ada
b. Dinding Rata, halus, mudah dibersihkan 83.3% memenuhi
indikator (5/6) Bahan kuat, tahan lama, tidak mudah
mengelupas
83.3% memiliki bahan kuat (5/6)
Ada
Warna terang 50% berwarna
terang (3/6)
Ada
c. Langit-langit
Berplafon, mudah dibersihkan 0%
menggunakan plafon (0/6)
Ada
Tidak bocor 100% tidak
bocor (6/6)
Ada
Tidak berlubang 100% tidak
berlubang (6/6)
Ada
Tidak mengelupas 100% tidak
mengelupas
Dibuat dari bahan tahan lama 0% memiliki jendela (0/6)
Ada
Tidak mudah pecah 0% memiliki
jendela (0/6)
Ada
Rata, halus, bersih 0% memiliki
jendela (0/6)
Ada
Warna terang 0% memiliki
jendela (0/6)
Ada
Dapat dibuka-tutup dengan baik 0% memiliki jendela (0/6)
Ada
Dilengkapi kasa yang dapat dilepas 0% memiliki jendela (0/6)
Ada
e. Ruang pengolahan
Ada ruang pengolahan 66.7% memiliki
ruang pengolahan (4/6)
Ada
Bersih 0% ruang
pengolahan bersih (0/4)
Ada
Total ventilasi minimum 20% terhadap luas lantai
100% memiliki maksimum di
ruang pengolahan (4/4)
Suplai air Tersedia suplai air bersih yang cukup untuk kebutuhan
Air bersih, tidak berwarna, dan tidak berbau
Bersih 0% tempat
pengolahan makanan bersih
Ada
Luasan yang cukup (tidak berdesakan dan leluasa bergerak)
83.3% memiliki luasan yang cukup (5/6)
Ada
Terpisah dari ruang penyajian dan ruang makan
100% terpisah dari ruang penyajian (6/6)
Ada
Tempat/meja yang permanen untuk persiapan dengan permukaan halus
50% memiliki meja persiapan (3/6)
Ada
Lampu penerangan yang cukup terang dan tidak berada langsung di atas meja pengolahan pangan
50% memiliki penerangan baik (3/6)
Ada
Ventilasi yang cukup agar udara panas dan lembab di dalam ruangan dapat dibuang keluar
Mempunyai tempat penyajian makanan seperti lemari display, etalase, atau lemari kaca yang memungkinkan konsumen dapat melihat makanan yang disajikan dengan jelas
33.3% memiliki etalase (2/6)
Ada
Makanan camilan harus mempunyai tempat penyajian yang terpisah dari
100% memisahkan
tempat penyajian makanan sepinggan penyajian (6/6) Makanan camilan yang dikemas dapat
digantung atau ditempatkan dalam wadah dan disajikan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung atau debu
Buah potong mempunyai tempat display tersendiri dan dijaga kebersihannya, terhindar dari
kontaminasi debu, serta dalam keadaan dingin/didinginkan
Meja dan kursi dalam jumlah yang cukup dan nyaman
0% meja dan kursi (0/6)
Ada
Permukaan meja harus mudah dibersihkan
0% meja dan kursi (0/6)
Ada
Untuk kantin dalam ruang tertutup, ruang makan harus mempunyai ventilasi yang cukup
0% meja dan kursi (0/6)
Ada
Untuk kantin yang menggunakan koridor, taman, atau halaman sekolah sebagai tempat makan, tempat tersebut harus selalu dijaga kebersihannya, rindang
0% meja dan kursi (0/6)
Ada
Jauh dari tempat sampah, WC, dan pembuangan limbah
Ada tempat penyimpanan bahan baku 83.3% memiliki tempat
penyimpanan bahan baku (5/6)
Ada
Ada tempat penyimpanan makanan jadi yang akan disajikan
50% memiliki (3/6)
Ada
pangan (3/6) Ada tempat penyimpanan peralatan
yang bersih
83.3% memiliki (5/6)
Ada
Tempat penyimpanan bahan mentah termasuk bumbu dan bahan tambahan pangan (BTP) terpisah dengan produk atau makanan yang siap disajikan
66.7% memiliki (4/6)
Ada
Tempat penyimpanan khusus untuk menyimpan bahan-bahan bukan pangan seperti bahan pencuci, minyak tanah
16.7% memiliki (1/6)
Ada
Mudah dibersihkan dan bebas dari hama seperti serangga, binatang pengerat seperti tikus, burung atau mikroba dan ada sirkulasi udara
33.3% memiliki (2/6)
Ada
Penyimpanan bahan baku dan produk pangan harus sesuai dengan suhu penyimpanan yang dianjurkan
Peralatan harus mudah dibersihkan, kuat, dan tidak mudah berkarat,
misalnya peralatan dari baja tahan karat
83.3% mudah dibersihkan (5/6)
Tidak ada
Permukaan peralatan yang kontak langsung dengan pangan harus halus, tidak bercelah, tidak mengelupas, dan tidak menyerap air
Jika terdapat peralatan bermotor seperti pengaduk dan blender hendaknya dapat dibongkar agar bagian-bagiannya mudah dibersihkan
Tersedia bak cuci piring dan peralatan dengan air mengalir
83.3% memiliki bak cuci (5/6)
Tidak ada
Tersedia rak pengering 66.7% memiliki
rak pengering (4/6)
Tersedia watafel dengan sabun / detergen dan lap bersih atau tissue di tempat makan
0% memiliki westafel (0/6)
Ada
Tersedia wastafel dengan sabun / detergen dan lap bersih atau tissue di tempat pengolahan / persiapan makanan
0% memiliki westafel (0/6)
Ada
Tersedia alat cuci /pembersih yang terawat baik seperti sapu lidi, sapu ijuk, selang air, kain lap, sikat, kain pel, dan bahan pembersih seperti sabun/detergen dan bahan sanitasi
16.7% memiliki alat cuci yang terawatt (1/6)
Ada
Tempat penyimpanan uang
Tempat penyimpanan uang berada jauh dari etalase display pangan siap saji
0% memiliki
Tempat sampah atau limbah padat di kantin harus tersedia dan jumlahnya cukup serta selalu tertutup
66.7% tersedia limbah cukup (4/6)
Ada
Di dalam maupun di luar kantin bebas dari sampah
83.3% bebas sampah (5/6)
Ada
Jarak kantin dengan tempat penampungan sampah sementara minimal 20 meter
83.3% jauh dari pembuangan sampah (5/6)
Ada
Selokan atau saluran pembuangan air dapat berfungsi degan baik serta mudah dibersihkan bila terjadi penyumbatan
66.7% selokan berfungsi baik (4/6)
Ada
Terdapat lubang angin yang berfungsi untuk mengalirkan udara segar dan membuang limbah gas hasil pemasakan makanan.
protein, karbohidrat, vitamin, mineral,
Camilan Kemasan tidak bocor 100% cemilan
tidak bocor (6/6)
Tidak ada
Tanggal kadaluarsa belum terlewati 100% tanggal kadaluarsa tidak terlewati (6/6)
Tidak ada
Memiliki ijin dari badan POM/DINKES
100% memiliki ijin BPOM (6/6)
Tidak ada
Minuman Air putih dari air bersih atau mendidih 100% air bersih (6/6)
Tidak ada
Minuman ringan dalam kemasan utuh, tidak bocor, tidak gembung, tidak melewati kadaluarsa, memiliki ijin edar dari badan POM
100% minuman ringan kemasan utuh (6/6)
Tidak ada
Minuman campur dibuat dari air mendidih, es dengan air matang, tidak menggunakan pewarna dan pemanis yang melebihi takaran, buah di cuci dengan air bersih, gelas penyajian bersih
Di cuci dengan air mengalir 100% mencuci dengan air mengalir (3/3)
Ada
Bagian buah yang busuk di buang 100% membuang bagian yang busuk (3/3)
Mengupas buah dengan pisau bersih bukan bekas potong daging
100% mengupas dengna pisau bersih (3/3)
Ada
Didinginkan di kulkas atau di es yang terbuat dari air matang
66.7%
Tidak terdapat pecahan gelas, kawat stapler, potongan tulang, potongan kayu, kerikil, rambut, kuku, sisik, dll.
100% bebas
Pemeriksaan mikrobiologis sampel makanan secara rutin minimal 2x/tahun
Tidak ada yang pernah dinilai (0/6)
Ada
Bahaya kimia
Tidak berformalin 100% tidak
menggunakan formalin (6/6)
Tidak ada
Tidak mengandung pewarna
(Rhodamin B dan Methanyl Yellow)
83.3% tidak menggunakan pewarna (5/6)
Ada
Tidak menggunakan kertas fotokopian atau koran dalam penyajian
100% tidak menggunakan bahan fotokopi (6/6)
Tidak ada
Tidak menggunakan styrofoam untuk mewadahi makanan panas
33.3%
menggunakan Styrofoam (2/6)
Ada
Tidak menggunakan kemasan dari plastic bekas
kantin sehat
Terdapat pembinaan kantin sehat oleh sekolah 1. Perencanaan Adanya penyusunan program
pelaksanaan kantin sekolah sehat
Sekolah tidak
Adanya penentuan jumlah target per tahun
Adanya struktur organisasi yang bertanggung jawab mengembangkan program kantin sehat, yaitu tim pelaksana UKS
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
Adanya satu orang petugas pengelola program UKS di puskesmas (pengawas eksternal)
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
Adanya pembina dan pengawas internal kantin sekolah
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
3. Pelaksanaan Adanya kerja sama seluruh insitutsi sekolah dengan puskesmas dalam pembentukan warung sekolah sehat
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
Penyuluhan mengenai keamanan pangan kepada para penjaja di tiap sekolah secara rutin setiap tahun oleh sekolah
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
Penyuluhan mengenai keamanan pangan kepada para penjaja di tiap
Memenuhi tolak ukur
sekolah secara rutin setiap tahun oleh puskesmas
Peran serta orang tua murid di seluruh sekolah untuk memantau kantin sehat
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
Mengirim pembina dan pengawas kantin sekolah untuk mengikuti pelatihan kantin sehat oleh instansi terkait
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
Melakukan perbaikan dan penyediaan sarana kantin sehat
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
Kebijakan dan peraturan mengenai keamanan PJAS di lingkungan sekolah
Tidak
memenuhi tolak ukur
Ada
Mengedukasi anak-anak sekolah dalam memilih jajanan sehat
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
4. Pengawasan Adanya pemantauan dan evaluasi pelaksanaan warung atau kantin sekolah sehat yang dilakukan oleh tim pelaksana UKS (puskesmas dan sekolah)
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
Adanya supervisi dari dinas kesehatan terhadap pencatatan dan pelaporan program kantin sehat
Memenuhi tolak ukur
Tidak ada
Evaluasi pencapaian kantin sehat setiap tahun
100% penjual atau penjamah makanan di sekolah telah mendapatkan
pembinaan atau penyuluhan mengenai kantin sehat
80% pendidikan akhir penjual adalah lulus SMP
80% murid mengetahui tentang pentingnya memilih jajanan sehat
70% murid
3. Pengetahuan penjual mengenai pentingnya jajanan sehat
100% penjual mengetahui tentang pentingnya menjual jajanan sehat
80% penjual
Terjadi peningkatan pembinaan penjual jajanan di sekolah dibandingkan tahun 2013 berdasarkan analisis variabel, terdapat satu indikator output yang belum terpenuhi, yaitu: Belum tercapainya presentase sekolah yang memenuhi standard kantin sekolah sehat. Berdasarkan analisis variabel, dapat diidentifikasi penyebab masalah, yaitu:
3. Kurangnya kepedulian penjual terhadap kesehatan anak sekolah
IV. PEMBAHASAN
Penetapan masalah dari evaluasi program ini diambil dari kesenjangan yang ditemukan pada indikator output dan kesenjangan – kesenjangan lain diluar output merupakan penyebab dari masalah yang sudah ditetapkan. Pada umumnya apabila terdapat lebih dari satu kesenjangan pada indikator output, perlu dilakukan penetapan prioritas masalah salah satunya dengan metode Bryant tetapi dalam evaluasi program ini tidak diperlukan mengingat hanya satu indikator yang memiliki kesenjangan. Dari kedua indikator output dalam analisis variabel, satu dari dua indikator tersebut tidak mencapai target, yaitu tidak terpenuhinya standar kriteria kantin sehat. Dari pengumpulan data sekunder periode 26 Oktober 2015 sampai 19 Desember 2015 ditemukan seluruh kantin sekolah tidak memenuhi standar kriteria kantin sehat, sehingga target di puskesmas suradita tidak tercapai hanya ….% dari target yang seharusnya …%.
mengawasi dan membina kantin sekolah. Selain itu, sekolah juga tidak benar-benar memahami protap kantin sehat. Dari pihak puskesmas, pembinaan yang dilakukan kurang mendalam sehingga kepedulian penjual akan pentingnya jajanan sehat masih minimal.
Kunci utama dari adanya kesenjangan sarana dan prasarana adalah tidak adanya dana untuk membangun kantin yang ideal. Pada seluruh sekolah lantai tidak terbuat dari kramik melainkan hanya terbuat dari tanah sehingga tidak memenuhi kriteria keamanan dan kebersihan dari lantai untuke kantin sehat. Hal yang sama juga terjadi pada dinding dan langit-langit kantin. Dinding terbuat dari tripleks, bamboo atau bahkan beberapa kantin tidak memiliki dinding, sedangkan seluruh langit-langit terbuat dari seng. Meskipun tidak bocor tetapi seluruh material ini bukanlah material yang ideal dalam membangun kantin sehat. Sebagian besar kantin tidak memiliki ruang pengolahan yang terpisah dari ruang penyajian. Kantin sekolah biasanya berukuran 2 x 2 meter dimana bagian belakang digunakan untuk ruang pengolahan dan bagian depan digunakan untuk penyajian makanan sehingga keadaan ini juga tidak sesuai dengan kriteria kantin sehat. Seluruh sekolah tidak memilki wastafel dan tempat makan untuk murid-murid. Kedua hal ini juga merupakan penyebab tidak terwujudnya kantin sehat. Dimana wastafel sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan para penjual dan murid untuk mencegah penyakit. Hal lain yang menjadi fokus penting adalah tidak adanya satu orang khusus yang ditunjuk sebagai kasir. Padahal uang adalah salah sumber bakteri yang paling mudah menyebabkan penyait.
Berdasarkan faktor lingkungan, pendidikan penjual juga berpengaruh terhadap terwujudnya kantin sehat. Jika >80% penjual adalah lulusan SMP, maka diharapkan penjual tersebut lebih mengerti mengenai jajanan sehat dan menyokong terwujudnya kantin sehat. Namun, hanya 30% dari penjual di kantin yang adalah lulusan SMP. Sehingga hal ini mempengaruhi ragam makanan dan kandungan gizi yang dijual di kantin sekolah.
pembinaan, tetapi pada tahun 2015, 100% penjual pernah mengikuti pembinaan. Namun, peningkatan angka yang signifikan ini tidak diikuti dengan perubahan pola berjualan dari para penjual. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembinaan yang dilakukan belum cukup efektif untuk merubah pola pikir penjual menuju ke arah perwujudan kantin sehat. Maka, angka dari jumlah kantin sehat di wilayah Suradita tetap tidak tercapai, dan mayoritas kantin cenderung buruk. Perbandingan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini,
Variabel Indikator Juli 2013 November 2015
INPUT TENAGA
Penjual Sehat, tidak
menderita penyakit menular
100% 100%
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala 2x/tahun
20% 0%
Menggunakan pakaian kerja lengkap (celemek, pakaian bersih, tutup kepala, alas kaki)
20% 0%
Mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyentuh makanan
100% 0%
Tidak merokok saat menyajikan makanan dan minuman
70% 100%
Kuku tangan pendek dan bersih, dan tidak
menggunakan pewarna kuku
DANA Terdapatnya
anggaran dana dari PEMDA untuk
Lantai Kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan
50% 100%
Ventilasi Cukup 30% 0%
Tempat pengelolahan makanan
Bangunan dapur terjaga kebersihannya
60% 0%
Westafel Tersedia dengan
sabun
50% 0%
Pencucian alat Tersedia 0% 83.3%
Tempat sampah Tersedia 100% 66.7%
Alat pengelolahan
Snack Tidak kadaluarsa 100% 100%
Sanitasi air Air bersih 90% 100%
METODE Protap pelaksanaan
dan pembinaan kantin
Ada Terdapat protap
pelaksanaan, tetapi tidak dilakukan pembinaan
Ada, 4x/tahun
PROSES
PERENCANAAN Ada penyusunan
program pelaksaan
Tidak ada Tidak ada
Penentuan jumlah target
Tidak ada Ada
ORGANISASI Ada struktur
organisasi yang bertanggung jawab
Tidak ada Tidak ada
pengelola program UKS di puskesmas PELAKSANAAN Kerjasama institusi
sekolah dan puskesmas
20% 100%
Penyuluhan
mengenai keamanan pangan ke penjaja
30% (1x/tahun) 100%
PENGAWASAN Pemantauan dan
evaluasi pelaksanaan
Tidak ada Ada
Adanya supervise dinas kesehatan
Ada, tetapi tidak rutin
Tidak ada
OUTPUT Presentase cakupan
kantin sehat
100% jumlah sekolah memenuhi kriteria
60% dikategorikan sebagai kantin buruk 20% cukup baik 20% baik
100% kantin buruk
100% penjual mendapat pembinaan
30% mendapat pembinaan
100% penjual mendapat pembinaan
V. PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH A. Penyebab masalah pertama
Kurangnya pengetahuan pihak sekolah mengenai kriteria standard kantin sehat. Hal ini terlihat dari adanya kesenjangan pada beberapa variabel, yaitu:
INPUT
Tenaga
o Tidak ada penjual yang melakukan pemeriksaan kesehatan berkala selama 2x/tahun
o Tidak ada penjual yang menggunakan pakaian kerja lengkap
o Penjual tidak memiliki ilmu tentang gizi seimbang
Sarana
o Kurangnya pengetahuan mengenai gizi seimbang dilihat dari tidak adanya kantin yang menjual makanan yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air
o Kurangnya penjualan makanan sepingan dan buah-buahan di kantin
PROSES
Perencanaan
o Sekolah tidak memiliki program pelaksanaan kantin sehat
Pengorganisasian
o Tidak adanya struktur organisasi yang bertanggung jawab dalam mengembangkan program kantin sehat
o Tidak adanya pembina dan pengawas internal kantin sekolah
Pengawasan
o Sekolah tidak melibatkan peran orang tua murid dalam memantau kantin sehat
o Tidak memiliki kebijakan dan peraturan mengenai keamanan PJAS di lingkungan sekolah
Alternatif jalan keluar: INPUT
Tenaga
o Sekolah meminta penjual memiliki surat sehat yang dikeluarkan oleh tempat pelayanan kesehatan terdekat sebanayak 2x/tahun.
o Sekolah menyediakan dan mewajibkan penjual untuk menggunakan pakaian kerja lengkap
o Sekolah dan puskesmas memberikan penyuluhan mengenai gizi seimbang dan ragam pangan yang seharusnya dijual di kantin.
o Sekolah membuat kebijakan mengenai kantin sehat yang dimengerti dan disetujui oleh kedua belah pihak yaitu sekolah dan penjual, meliputi:
Keamanan PJAS di lingkungan sekolah yang mengacu pada Pedoman Keamanan Pangan di Sekolah Dasar, yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2011.
Ragam makanan yang boleh dijual
Kebersihan penjual makanan
Kebersihan tempat pengolahan, peralatan makan, dan penyajian
makanan
Melakukan pemeriksaan kesehatan 2x/tahun
Sarana
o Melakukan pemeriksaan makanan untuk menilai keamanan biologis secara rutin, minimal 2x/tahun, dengan cara mengambil sanpel makanan dari setiap penjual.
PROSES
Perencanaan
o Puskesmas memberikan pembinaan mengenai Kantin Sekolah Sehat kepada pihak sekolah (termasuk kepala sekolah, guru, dan orang tua murid)
o Sekolah harus memiliki program pelaksanaan kantin sehat yang mengacu pada Menuju Kantin Sehat di Sekolah tahun 2011, oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan Nasional.
o Sekolah harus membuat target yang akan dicapai dalam pelaksanaannya setiap tahunnya.
Pengorganisasian
o Membentuk struktur organisasi pembentukan kantin sekolah, termasuk pembina dan pengawas internal kantin sekolah untuk mengembangkan program kantin sehat, dengan syarat:
Telah mengikuti pelatihan pembinaan pengawas kantin sekolah
Memiliki pengetahuan mengenai gizi seimbang dan beragam, keamanan pangan, cara pengolahan pangan yang baik, sanitasi dan hygiene, serta persyaratan sarana dan prasarana kantin sehat.
Membantu memberikan pengarahan dalam hal menentukan makanan jajanan sekolah yang bernilai gizi dan aman dikonsumsi selama berada di sekolah dan mengawasi para penjaja/penjual agar menjual makanan yang memenuhi syarat kesehatan.
Pengawasan
o Melibatkan orang tua dalam memantau kantin sehat dengan cara:
Memberikan pembinaan kepada orang tua mengenai pentingnya jajanan sehat untuk anak sekolah, keamanan pangan, dan gizi seimbang.
Jajanan yang dijual di sekolah dan menegur secara halus makanan
yang tidak sesuai dengan perjanjian antara sekolah dan penjual
Jajanan yang dipilih oleh anak sekolah dan menegur anak jika membeli jajanan yang tidak sesuai dengan standard jajanan sehat.
o Melakukan sidak yang mengacu pada kebijakan kantin sehat yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak secara rutin 1x setiap bulan. Termasuk melakukan:
Memberikan surat peringatan pada penjual yang menyimpang dari persetujuan kebijakan yang sudah dibuat.
Surat peringatan diberikan sebanyak 3x
Pada peringatan ke 4, akan ditindaklanjuti dengan melarang penjual menjual makanan di kantin sekolah.
B. Penyebab masalah kedua
Tidak adanya pendanaan untuk mewujudkan kantin sehat. Hal ini terlihat dari adanya kesenjangan pada beberapa variabel, yaitu:
INPUT
Dana
o Tidak adanya anggaran dana dari PEMDA untuk kantin sekolah sehat yang diberikan tepat waktu
Sarana
o Tidak terdapat lantai,dinding, langit-langit, pintu dan ventilasi yang ideal
o 2 dari 6 sekolah tidak memiliki ruang pengolahan. Sedangkan sekolah memiliki ruang/tempat pengolahan yang cenderung tidak ideal.
o 4 dari 6 sekolah tidak memiliki tempat penyajian makanan seperti lemari display, etalase, atau lemari kaca yang memungkinkan konsumen dapat melihat makanan yang disajikan dengan jelas
o Tidak ada sekolah yang memiliki tempat makan untuk muridnya
o Seluruh sekolah memiliki tempat penyimpanan yang tidak ideal
o Tidak ada sekolah yang memiliki westafel
o Seluruh sekolah tidak memiliki tempat penyimpanan uang yang ideal
o Semua sekolah tidak memiliki tempat sampah, selokan, atau lubang angin yang ideal.
PROSES
o Tidak melakukan perbaikan dan penyediaan sarana kantin sehat
Alternatif jalan keluar:
Menetapkan penjual sebagia pegawai tetap sekolah, agar sekolah dapat menentukan harga makanan yang dijual, lalu membagi hasilnya sekian persen untuk penjual, dan sekian persen untuk pembangunan kantin sekolah.
Kantin dikelola oleh organisasi orang tua murid (dewan koperasi sekolah), yang bertugas untuk mengumpulkan dana dan semaksmimal mungkin membantu pencapaian kantin sehat.
Sekolah membuat proposal tahunan yang ditujukan kepada Kementrian Pendidikan untuk mendapatkan dana pembuatan kantin sehat.
C. Penyebab masalah ketiga
Kurangnya kepedulian penjual terhadap kesehatan murid-murid sekolah
Hal ini terlihat dari adanya 100% penjual yang sudah mengikuti pembinaan mengenai jajanan sehat di sekolah, tetapi masih mengabaikan kepentingannya. Hal ini terlihat pada beberapa variabel yaitu:
INPUT
o Tenaga
Penjual tidak mencuci tangan sebelum menyentuh makanan
Penjual tidak memperhatikan kebersihan diri (kuku tangan)
Penjual tidak memiliki ilmu tentang gizi seimbang
o Makanan
Hanya 1 dari 6 penjual yang menjual makanan bergizi
Hanya 2 dari 6 penjual yang menjual makanan sapingan
Masih adanya penjual yang menyediakan es terbuat dari air mentah
Masih adanya penjual yang menggunakan pewarna dalam
makanannya
Masih ada kantin yang menggunakan styrofoam dalam penyajian
Tidak semua kantin menjual buah
Penjual tidak menyimpan buah sesuai standard
Alternatif jalan keluar:
Mendorong orang tua murid untuk berjualan di kantin sekolah karena dianggap
Menetapkan penjual sebagai pegawai tetap sekolah agar sekolah dapat
mengontrol makanan yang dijual.
Mendorong para penjual kantin untuk menggunakan bahan alami dalam pembuatan jajanan anak sekolah, dapat diawali dengan menanam sendiri kebutuhan memasak di sekitar rumah.
Puskesmas melakukan pelatihan masak (1x/bulan) untuk para penjual kantin.
Dimana pada pelatihan ini, penjual kantin akan diajarkan membuat makanan sepinggan dengan bahan yang murah, mudah didapatkan, tetapi tetap menghasilkan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anak sekolah.
Puskesmas dan sekolah memberikan pendidikan yang lebih dalam mengenai jajanan sehat di sekolah secara rutin, sehingga anak-anak menjadi lebih bijaksana dalam memilih jajanan di sekolah. Dengan harapan, semakin sedikit anak-anak yang membeli makanan tidak sehat di kantin, dapat membuat para penjual kantin berpikir untuk menjual makanan yang lebih sehat.
Puskesmas memberikan pembinaan yang lebih menyeluruh mengenai kantin sehat yang meliputi beberapa topik di bawah ini. Semua topik tidak harus di bahas dalam 1x pertemuan, dan bisa di bahas dalam beberapa kali pertemuan dan di awali dengan penyegaran mengenai topik sebelumnya. Usahakan pembinaan dilakukan dengan cara yang interaktif, menarik, dan mudah dicerna untuk berbagai usia dan latar belakang pendidikan.
o Memberitahukan pentingnya peran penjual jajanan di sekolah bagi masa depan murid-murid sekolah
o Meningkatkan rasa empati para penjual dengan cara mengajak mereka berpikir bagaimana jika keluarga mereka sendiri yang mengkonsumsi makanan yang mereka jual
o Komponen gizi seimbang
o Kebutuhan gizi anak sekolah dasar
o Keamanan pangan
Tenaga: pakaian penjual kantin yang ideal, mencuci tangan menggunakan sabun, kebersihan kuku, kesehatan penjual
Makanan: keamanan biologis, fisik, dan kimia
Cara pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan yang aman