• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCEMARAN PERAIRAN LAUT MENDATANGKAN KE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENCEMARAN PERAIRAN LAUT MENDATANGKAN KE"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENCEMARAN PERAIRAN LAUT

MENDATANGKAN KERESAHAN DAN KERUGIAN BESAR BAGI PARA NELAYAN DI KABUPATEN KEBUMEN 1)

Oleh:

Ida Ayu Lochana Dewi

I. Pendahuluan

Sumberdaya alam merupakan salah satu modal dasar pembangunan

masyarakat Indonesia, yang harus dikelola dengan baik guna memenuhi kebutuhan

generasi saat ini dan generasi yang akan datang (prinsip pembangunan

berkelanjutan). Berdasarkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan tersebut,

maka keseluruhan upaya pemanfaatan sumberdaya alam hendaknya disertai

dengan memperhatikan kelestariannya (Djajadiningrat, 2001). Namun demikian,

berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan

masyarakat Indonesia, ironisnya, mulai menunjukkan beberapa ketimpangan daya

dukung sumberdaya alam dan lingkungan.

Perairan merupakan salah lingkungan hidup yang didalamnya mengandung

berbagai sumberdaya hayati maupun non hayati, yang dapat dimanfaatkan oleh

manusia. Bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya permintaan pemenuhan

berbagai kebutuhan dan meningkatnya aktifitas pembangunan, khususnya yang

mengeluarkan bahan-bahan yang secara langsung maupun tidak langsung

berpengaruh pada daya dukung perairan, telah terjadi di beberapa tempat di

wilayah Indonesia. Sebagai contoh, pencemaran laut Kebumen oleh minyak, yang

berdampak negatif lanjutan terhadap menurunnya hasil tangkapan para nelayan

Kebumen. Kerugian yang diderita oleh para nelayan tersebut mencapai 1,1 miliar

rupiah 2).

Berdasarkan uraian tersebut, pencemaran perairan yang hingga kini belum

diketahui sumber dan jenis bahan pencemar yang ada, di duga telah membunuh

larva dan juvenil bahkan ikan dewasa di sekitar laut Kebumen. Banyaknya biota

akuatik yang musnah akibat pencemaran tersebut memberikan dampak negatif

lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan para nelayan di Laut Kebumen.

Hingga saat ini, penyelidikan tentang jenis dan sumber bahan pencemar telah

dilakukan oleh Pemkab Kebumen melalui Tim Investigasi yang telah dibentuk.

1) Dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang

(2)

Masalah pencemaran perairan di Laut Kebumen harus sesegera mungkin

diatasi guna mencegah perluasan areal pencemaran, pemulihan perairan sebagai

habitat berbagai biota akuatik dan menurunnya hasil tangkapan para nelayan, yang

pada akhirnya akan memperbesar biaya sosial yang ditimbulkannya.

II. Uraian Masalah

Dampak negatif pencemaran terhadap hasil tangkapan, awalnya diketahui

melalui pengamatan para nelayan terhadap fenomena menghilangnya ikan pelagis.

Pada kempatan lain, pada saat kapal penangkap telah menghabiskan 12 liter bahan

bakar dan telah mencapai daerah penangkapan, ternyata tidak menemukan ikan

sama sekali. Berdasarkan fenomena dan penghitungan armada penangkapan,

dapat dihitung total kerugian yang diderita oleh para nelayan.

Menurut Trie Prodjo (Kepala Sub Dinas Perikanan dan Kelautan Kebumen),

perhitungan kerugian itu berdasarkan jumlah perahu yang dioperasikan para

nelayan sebanyak 730 unit lebih, dengan rata-rata hasil tangkapan ikan senilai Rp

200 hingga Rp 250 ribu. Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan perhitungan tersebut,

dengan 730 unit perahu itu selama satu minggu, perhitungan kasar dapat

menghasilkan sekitar Rp 1,1 miliar. Namun pada kenyataannya, para nelayan tidak

medapatkan hasil tangkapan, sehingga dapat dikatakan bahwa nelayan mengalami

kerugian sebesar 1,1 miliar rupiah. Kerugian tersebut belum termasuk para

pengusaha tambak yang belum dirinci dengan pasti. Kerugian lain yang lebih

memprihatinkan, lanjut Ir Trie Prodjo menyatakan, kerusakan lingkungan di sekitar

laut dan pantai yang berdampak kematian biota di tempat itu. Meskipun sulit

dihitung secara meteriil, namun kerugian itu merupakan sesuatu yang sangat

mengganggu bagi aktifitas warga sekitarnya.

Tentang tingkat pencemaran perairan Kebumen, secara visual dapat diamati

dengan adanya gumpalan hitam limbah minyak masih berada di permukaan air laut.

Kondisi itu menyebabkan ikan jenis pelargis4) atau yang hidup di daerah permukaan laut berpindah ke tempat lain untuk menghindari gumpalan tersebut. Kondisi inilah

yang diduga sebagai penyebab utama menurunnya stok ikan pelagis di perairan

Kebumen yang berdampak pada hasil tangkapan nelayan yang sangat kecil. Pada

waktu yang lebih lama apabila gumpalan hitam tersebut tidak segera diatasi,

dikhawatirkan akan tenggelam ke dasar perairan dan akan mengganggu ikan dasar

yang ada (Trie Prodjo, 2004).

(3)

Disisi lain Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen juga sudah

menghubungi Administratur Pelabuhan (Adpel) Nusantara Cilacap untuk bersedia

membantu dan meneliti limbah yang mencemari laut itu. Tentang sumber

pencemaran sendiri menurut Trie Prodjo, praduga tak bersalah yang paling mungkin

bisa dijadikan sinyalemen yakni berasal dari ceceran limbah kapal tanker milik

Pertamina. Karena itu perlu adanya penjelasan yang transparan dari Pertamina

perihal pengoprasian kapal milik perusahaan itu yang pada saat terjadi

pencemaran, didapati sedang melaut di perairan Kebumen.

Kerugian yang diderita oleh para nelayan di Laut Kebumen merupakan salah

satu dampak negatif, besar dan penting dari pencemaran5), yang saat ini tengah melanda salah satu sumberdaya alam di Indonesia dan harus memperoleh

tanggapan serius dari berbagai stakeholder di Kebumen.

Guna memperoleh solusi pemecahan masalah pencemaran yang sangat

serius ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen membentuk tim investigasi,

menyusul pencemaran yang melanda perairan laut Kebumen yang diduga berasal

dari limbah minyak mentah. Tim investigasi ini diketuai KM Nassiruddin AM (Wakil

Bupati Kebumen) dengan penanggungjawab Dra Rustriningsih (Bupati Kebumen).

Tugas tim ini meliputi semua kebutuhan yang bisa mendukung upaya penyelesaian,

mulai dari pengambilan sampel, laboratorium hingga melakukan ivestigasi tentang

sumber pencemaran, jumlah kerugian dan upaya pengajukan klaim berdasarkan

jumlah kerugian itu. Upaya lain untuk meredam kegelisahan para nelayan, Sub

Dinas Perikanan dan Kelautan setempat bersama dengan para pengurus kelompok

nelayan di Pasir, Argopeni, dan Karangduwur Kecamatan Ayah sudah berupaya

memanfaatkan forum pertemuan rutin selapanan, guna menjelaskan bencana yang

telah terjadi (Trie Prodjo-KaSubDin Perikanan dan Kelautan Kebumen).

Satu bulan kemudian, Tim Investigasi Pencemaran Laut Kebumen

menemukan indikasi kuat sumber pencemaran di pantai selatan sepanjang 57,5 km

itu dari arah timur. Ditemukan pula kesamaan visual jenis pencemaran di Kebumen

dan di Pantai Congot, Kulonprogo (Drs. H. M. Murgiyono-KaBapedalda Kebumen).

Kondisi ini diperkuat oleh arah angin selama pertengahan Mei hingga akhir bulan,

yaitu dari arah timur Samudra Indonesia. Data arah angin tersebut berdasarkan

data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Cilacap. Pencemaran ini juga

mendapat perhatian serius dari Dirjen Sumber Daya Perikanan dan Kelautan yang

meninjau langsung ke lokasi bersama Dinas Perikanan Jawa Tengah.

(4)

III. Analisa Masalah

Pencemaran perairan pada suatu wilayah badan air, yang terjadi akibat

kegiatan pembuangan limbah dan/atau bahan-bahan yang secara tidak sengaja

terlepas diperairan, yang berasal dari aktivitas di wilayah tersebut dan/atau jauh dari

wilayah perairan yang saat ini tercemar. Kondisi tersebut sangat memungkinkan

pada wilayah perairan laut yang memiliki pergerakan massa air yang lebih dinamis

dibandingkan dengan perairan darat. Dengan demikian, masuknya bahan pencemar

di suatu wilayah perairan akan mempengaruhi perairan di wilayah lainnya sebagai

akibat adanya arus dan gelombang.

Pencemaran di Laut Kebumen, di duga berasal dari minyak mentah yang

merupakan ceceran limbah minyak dari kapal tanker milik pertamina (Trie

Prodjo-KaSubDin Perikanan dan Kelautan Kebumen) dan/atau berasal dari kegiatan

pengangkut aspal Kalla Lines milik PT Bumi Sarana yang tahun lalu tenggelam di

Congot (Drs H Mahar Mugiyono HN-KaBapedalda Kebumen). Trie Prodjo,

berdasarkan asas praduga tak bersalah, menyatakan untuk memperoleh kepastian

terhadap dugaan yang dikemukakannya, Pertamina diharapkan secara terbuka

menjelaskan keberadaan kapal tanker yang dimaksud, yang pada saat terjadinya

pencemaran didapati sedang melaut (sumber http://kebumen.portal.dk3.com)6).

Sementara asas praduga tak bersalah yang diajukan oleh Kepala Babedalda

Kebumen, sumber pencemaran di perairan Kebumen berasal dari kapal pengangkut

aspal Kalla Lines milik PT Bumi Sarana yang tahun lalu tenggelam di Congot.

Namun lebih lanjut dijelaskan, Drs H Mahar Mugiyono HN belum menyatakan

kepastian hal itu mengingat sampai saat ini hasil uji laborat dari Balai Teknik

Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta, belum diketahui. (sumber

http://kebumen.portal.dk3.com)7).

Sementara itu, untuk memperoleh kejelasan tentang sifat dan daya racun dari

limbah yang terbuang di Laut Kebumen, penelitian tentang sejumlah sampel air

akan dilakukan. Laboratorium yang akan menjadi rujukan kemungkinan di UGM

Yogya dan alternatif lainnya di Jakarta. Dari hasil penelitian laboratorium tersebut,

nantinya akan diperoleh kepastian tentang bahan atau zat kimia apa saja yang

terkandung dalam bahan pencemar. Upaya untuk mengetahui data laboratorium itu

menurut Trie Prodjo, merupakan salah satu bentuk keseriusan Pemkab Kebumen

dalam memperhatikan nasib para nelayan yang mengalami kerugian besar, akibat

tidak bisa melaut.

(5)

Hasil penelitian terhadap sampel air Laut Kebumen, nantinya juga dijadikan

sebagai bahan pengajuan klai terhadap kerugian yang didereita oleh para nelayan.

Upaya untuk mengetahui data laboratorium tersebut, menurut Trie Prodjo,

merupakan salah satu bentuk keseriusan Pemkab Kebumen dalam memperhatikan

nasib para nelayan yang mengalami kerugian besar, akibat tidak bisa melaut.

Sebab hasil uji laboratorium itu, berkaitan dengan langkah pengajuan klaim

kerugian. Rencana pengajuan klaim itu, tim juga menjalin kerjasama dengan

Kepolisian Resor (Polres) Kebumen dan Kejaksaan Negeri setempat, khususnya

bila pada akhirnya terdesak dilakukannya class actio di pengadilan. Bersamaan

dengan berbagai upaya yang ditempuh oleh Pemkab Kebumen, pihak Menneg LH

siap memfasilitasi pertemuan pihak-pihak terkait yang bersengketa, baik Pemkab

maupun pihak ketiga yang diduga mencemari lingkungan perairan Laut Kebumen.

Pertemuan bagi para pihak yang bersengketa merupakan salah satu langkah

lanjutan dalam upaya perlindungan terhadap laut sebagai salah satu lingkungan

hidup dan juga upaya penegakan hukum mengingat kerugian akibat pencemaran

bagi para nelayan secara sosial ekonomi berdampak sangat besar.

Berdasarkan kronologis kejadian sebagai akibat dari pencemaran Laut

Kebumen, terdapat beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian oleh berbagai

pihak guna mencarikan jalan pemecahan yang baik dan benar, diantaranya:

1) Pencemaran laut oleh bahan beracun berbahaya, dalam hal ini minyak bumi,

berdampak negatif besar dan penting bagi makhluk hidup yang ada di

dalamnya (biota akuatik); dan dampak negatif lanjutan dari tercemarnya

perairan laut adalah besar dan penting secara sosial ekonomi masyarakat

pesisir, khususnya para nelayan di Kebumen (kajian ilmiah pencemaran

perairan);

2) Penelitian merupakan kajian ilmiah dalam pendugaan pencemaran perairan

dalam upaya penilaian terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dan upaya

penanggulangan dampak serta pengendaliannya di masa mendatang;

3) Penegakan hukum merupakan salah satu upaya perlindungan sumberdaya

alam dan lingkungan;

4) Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan pada masa mendatang,

diharapkan memiliki konsep pembangunan berkelanjutan berwawasan

lingkungan dalam kerangka Good Governance.

Keempat poin penting yang secara sederhana dapat digunakan sebagai bahan

(6)

3.1 Pencemaran minyak mentah di perairan laut dan dampak negatif yang ditimbulkannya bagi biota akuatik serta pengaruhnya terhadap hasil tangkapan para nelayan di Laut Kebumen

Pencemaran perairan diartikan sebagai masuk dan/atau dimasukkannnya

bahan-bahan dalam bentuk gas, cair, padatan dan organisme ke dalam lingkungan

perairan laut yang melebihi batas kemampuan laut untuk menetralisirnya, hingga

menyebabkan menurunnya daya dukung laut sebagai lingkungan hidup (Connell et

al., 1995). Lebih lanjut dikemukakan, hidrokarbon minytak bumi merupakan bahan

pencemar utama di laut sehingga sering menimbulkan dampak negatif besar dan

penting bagi biota8) yang ada di dalamnya. Minyak bumi, baik bahan mentah maupun limbah, masuk ke dalam laut melalui beberapa cara diantaranya, hasil

pengeboran lepas pantai, tumpahnya minyak dari kapal tanker, dan perang.

Fenomena relatif seringnya pecahnya kapal tanker dan pelimpahan dari

pengeboran lepas pantai, menjadikan masyarakat dunia memberikan perhatian

khusus terhadap kegiatan industri pertambangan tersebut.

Hidrokarbon merupakan bahan pencemar dalam katagori bahan beracun

berbahaya. Hal ini disesuaikan dengan sifatnya yang relatif sulit diuraikan oleh

pengurai dan sifat bioakumulasinya9) di dalam tubuh makhluk hidup melalui rantai makanan. Penyebaran bahan beracun10) di perairan laut relatif cepat ke wilayah di sebelahnya atau jauh dari tempat kejadian karena adanya arus dan gelombang.

Volume minyak yang masuk, kecepatan arus, besarnya gelombang dan topografi

perairan, sangat menentukan kecepatan perpindahan dan dampak dari bahan

pencemar ke perairan lainnya.

Daya racun minyak bumi sangat tinggi. Connell (1982) dalam Connell et al.,

(1995) menyatakan, hidrokarbon (senyawa yang mengandung gugus hidrogen dan

karbon) memiliki kelarutan yang rendah di dalam air dan sangat lipofilik serta cepat

menyerap pada bahan partikulat di daerah perairan. Cincin benzena yang dimiliki

oleh minyak bumi merupakan aspek yang berbahaya bagi biota perairan.

8) Bioakumulasi yaitu angka banding konsentrasi dalam jaringan tubuh makhluk hidup terhadap konsentrasi dalam air (Connell et al., (1995)

9) Biota adalah istilah di yang mewakili seluruh makhluk hidup yang hidup pada lingkungan hidup tertentu (umumnya digunakan dalam bidang perikanan)

(7)

Beberapa jenis bakteri memiliki kemampuan untuk memetabolisme hidrokarbon dari

minyak bahan bakar sehingga keberadaan minyak sangat sulit secara alami di cuci

oleh perairan dan tentunya membutuhkan waktu yang sangat lama (self

purification).

Minyak mentah dan bahan bakar di perairan akan diabsorbsi oleh biota dalam

proses pernafasan, pencernaan (gastrointestinal) dan tersimpan dalam jaringan

lemak (GESAMP, 1977 dalam Connell et al., 1995). Meskipun demikian, bioat

memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap besarnya minyak yang

terakumulasi di dalam tubuhnya. Apabila melampaui batas toleransinya, maka

seluruh prose metabolisme akan terganggu hingga berdampak pada kematian biota,

khususnya biota sesile (hidup menetap pada dasar perairan). Pada kondisi yang

sangat ekstrem, pencemaran perairan yang diakibatkan oleh minyak akan

memusnahkan biota lainnya, khususnya biota sesile. Berbeda dengan ikan,

perenang aktif, secara alami mampu mendeteksi wilayah perairan yang tercemar

dan sesegera mungkin untuk berpindah ke wilayah perairan lain yang tidak

tercemar. Perpindahan berbagai jenis ikan tersebut, baik untuk sementara dan/atau

waktu yang lama sebagai akibat pencemaran perairan berdampak pada

menurunnya keragaman populasi ikan pada suatu ekosistem perairan.

Rendahnya hasil tangkapan para nelayan di Laut Kebumen, jauh

dibandingkan sebelumnya, merupakan salah satu indikasi bahwa minyak mentah

telah memcemari perairan tersebut. Pada kondisi yang sangat ekstrem, tergantung

kepekatan bahan pencemar, perpindahan ikan akan bersifat tetap. Keadaan inilah

yang dikhawatirkan akan mengubah tatanan kehidupan penangkapan. Berdasarkan

uraian tersebut, mengharuskan para stakeholders segera melakukan tindakanan

penyelamatan lingkungan guna mengantisipasi keadaan yang lebih parah dan

sangat merugikan, bukan hanya bagi para nelayan tetapi juga masyarakat Kebumen

pada umumnya. Tindakan kedua yang harus segera dilakukan adalah penelitian

dan/atau kajian terhadap kondisi perairan Laut Kebumen untuk memperoleh data

yang akurat bagi penelusuran kronologis terjadinya pencemaran. Data tersebut,

selanjutnya dijadikan bahan acuan dalam penelusuran kemungkinan terjadinya

ketimpangan dalam upaya penegakan hukum.

Kerugian yang diderita oleh para nelayan sangat besar. Kerugian tersebut

belum termasuk kerugian jangka panjang apabila sumberdaya alam dan lingkungan

perairan Laut Kebumen tidak ditangani secara cepat, tepat dan benar. Apabila

(8)

masyarakat akan lebih besar dan relatif sulit dicarikan alternatif pemecahan

permasalahan yang yang ada.

3.2 Kajian lapang dan penelitian terhadap sampel air sebagai bahan pertimbangan pendugaan pencemaran perairan laut

Penelitian terhadap sampel air wilayah perairan yang tercemar, diperlukan

untuk mengetahui jenis, jumlah dan luasan areal yang terkena dampak limpasan

minyak. Pada kasus pencemaran Laut Kebumen, adalah hal yang tepat apabila

pengujian terhadap sampel air dilakukan di Laboratorium Universitas Gadjah Mada

dan/atau di Jakarta. Hal ini berdasarkan pertimbangan kelayakan suatu

laboratorium dalam menguji sampel air, yang akan berimplikasi pada ketepatan

analisa sampel. Kajian ini sebaiknya melibatkan berbagai pihak dengan

pertimbangan komponen yang terkena dampak sangatlah besar, diantaranya sosial

ekonomi masyarakat, sifat fisika-kimia-biologi perairan, pemerintah, dan sumber

dampak. Dengan demikian diharapkan dapat dihasilkan data yang tepat dan benar.

Kesulitas yang mungkin akan dijumpai adalah sifat perairan yang dinamis

akan berpengaruh pada penetapan keputusan terhadap sumber dampak yang

sebenarnya. Ditambah dengan adanya dugaan pencemaran di Laut Kebumen

merupakan limpasan dari daerah lain, mengharuskan berbagai pihak yang peduli

dengan permasalahan tersebut, ditutuntut untuk melakukan kajian dengan arif dan

bijaksana.

Data dan kronologis hasil kajian ilmiah di lapangan, selanjutnya dilihat dari

segi hukum untuk mengetahui jenis pelanggaran yang telah dilakukan, dan jenis

pertanggungjawaban yang akan dikenakan pada badan usaha yang dengan

sengaja dan/atau tidak sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan

pencemaran di Laut Kebumen, termasuk kewajiban membayar ganti rugi sesuai

dengan perundang-undangan yang berlaku (Hamdan, 2000).

3.3 Penegakan hukum merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan perairan Laut Kebumen

Penegakan hukum sangat diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya alam

dan lingkungan di Indonesia. Peraturan11) dan lembaga yang berwewenang untuk mengeluarkan ijin serta tahapan perolehan ijin merupakan piranti hukum dalam

pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Hingga saat ini terdapat

(9)

dengan upaya pengelolaan dan/atau perlindungan terhadap sumberdaya alam dan

lingkungan, khususnya perairan laut, lima diantaranya adalah:

1) UU No: 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

2) UU No: 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air;

3) PP No: 19 Tahun 1999, tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau

Perusakan Laut

4) KepMenLH No: 77 Tahun 2003, tentang Pembentukan Lembaga Penyedia

Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar

Pengadilan (LPJP2SLH) pada Kementerian Lingkungan Hidup;

Setelah data analisa laboratorium terhadap sampel air diperoleh, maka selanjutnya

dilakukan pendugaan terhadap kronologis perpindahan bahan pencemar. Setelah

diketahui penyebab pencemaran dengan pasti, berdasarkan data dan kronologis,

penelusuran untuk mengetahui pihak yang harus bertanggungjawab terhadap

permasalahan tersebut dapat dilakukan. Berdasarkan Undang-undang No: 23

Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, terdapat bab yang mengatur

penyelesaian sengketa lingkungan hidup, yang di dalamnya memuat sangsi hukum

bagi badan usaha yang terbukti dengan pasti melakukan kelalaian. Permasalahan

selanjutnya, menurut Hamdan (2000), sesaat setelah badan usaha didapati

benar-benar melakukan tindak pidana pencemaran, langkah selanjutnya adalah mengenai

pertanggungjawaban pidana atas kelalaian telah dilakukan.

Lebih lanjut dijelaskan, pada umumnya yang dapat dipertanggungjawabkan

dalam hukum pidana adalah si pembuat, meskipun tidak selamanya demikian.

Permasalahannya tergantung juga pada cara atau sistem perumusan

pertangggungjawaban yang ditentukan oleh pembuat Undang-undang. Berdasarkan

khazanah peraturan perundang-undangan di Indonesia, terdapat tiga golongan yang

dapat dipertanggungjawabkan apabila suatu badan hukum melakukan tindakan

pidana diantaranya orang sebagai pribadi yang melakukan tindak pidana, orang

sebagai pengurus badan hukum, dan badan hukum itu sendiri. Berkenaan dengan

kasus pencemaran Laut Kebumen, keseluruhan aspek harus dikaji dengan baik

guna menetapkan pihak yang harus bertanggungjawab, saat ini terdapat dua pihak

yang perlu dimintai keterangan, yaitu pertamina dan PT. Bumi Sarana.

11) Peraturan lain yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengelolaan sumberdaya perairan dan lingkungan hidup perairan laut diantaranya:

a) PP No: 70 Tahun 1996, tentang Kepelabuhan;

b) PP No: 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;

(10)

Penentuan pihak yang harus bertanggungjawab didasarkan pada hasil

analisis dan telaah kronologis pencemaran. Hingga saat ini, kajian terhadap badan

hukum sebagai penyebab pencemaran Laut Kebumen, sedang dilakukan. Kajian

tersebut pada umumnya memerlukan waktu yang relatif panjang, penyelesaian

tindak pidana memerlukan data yang tepat dan akurat, berdasarkan kajian lapang

dari berbagai aspek. Setelah ditetapkan badan hukum yang benar-benar melakukan

kelalaian tersebut, selanjutnya dapat dimintai pertanggungjawabab atas kelalaian

yang telah dilakukan. Bentuk pertanggungjawaban yang bisa diajukan diantaranya

ganti rugi apabila kelalaian tersebut menyebabkan kerugian bagi pihak lain, dalam

hal ini para nelayan Laut Kebumen dan/atau masyarakat pesisir yang secara umum

menggantungkan kehidupannya pada wilayah Laut Kebumen.

Penetapan salah satu badan hukum yang harus dikenai sangsi, tidak saja

dikenai sangsi pertanggungjawaban pidana, tetapi juga sangsi administratif, bila

memungkinkan berupa pencabutan ijin usaha. Penetapan sangsi administratif

tersebut didasarkan pada peninjauan kembali kelayakan oprasional badan usaha

yang bersangkutan. Kelalaian tersebut, bukan hanya dilakukan oleh badan hukum

yang telah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi juga terdapat kemungkinan

lembaga yang seharusnya melakukan pengawasan rutin terhadap kegiatan badan

hukum tersebut. Rumitnya penelusuran untuk menetapkan orang dan/atau badan

hukum serta lembaga pengawas yang harus bertanggungjawab, mengharuskan

adanya pendampingan terhadap beberapa komponen yang terkena dampak untuk

meluruskan permasalahan yang ada. Tanggapan positif dari Pemerintah Kabupaten

Kebumen, Dinas Perikanan dan Kelautan Kebumen dan Pemerintah Pusat,

merupakan langkah awal dari proses penegakan hukum dalam rangka perlindungan

terhadap sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Pembahasan lebih mendalam

belum dapat dilakukan mengingat bedah hasil laboratorium dan penelusuran proses

terjadinya pencemaran belum dilaporkan secara tertulis.

3.4 Pembangunan berkelanjutan sebagai upaya perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan di Laut Kebumen dalam kerangka Good Governance

Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, kini tengah marak terjadi di

Indonesia. Menurunnya populasi ikan dan kualitas lingkungan hidup, khususnya

perairan merupakan permasalahan serius yang harus segera diatasi. Ironisnya,

perangkat hukum dan upaya penyadaran kepada masyarakat terhadap arti penting

(11)

diantaranya adalah rendahnya kesadaran masyarakat, relatif lemahnya fungsi

pengawasan oleh instansi terkait terhadap usaha dan/atau kegiatan yang telah

diberi ijin usaha, ketidak peduliah para pengusaha terhadap manfaat lingkungan

hidup, dan minimnya sarana pengujian sampel air yang tercemar.

Tata pemerintahan yang baik (Good Governance) merupakan salah satu

solusi yang dapat digunakan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan

hidup, khususnya perlindungan terhadap laut dari kegiatan perusakan dan

pencemaran. Santosa (2001), konsep rule of law dalam Good Governance paling

tidak harus memenuhi beberapa karakter, diantaranya supremasi hukum/ the

supremacy of law, kepastian hukum/ legal sertainity, hukum yang responsif

(memiliki kemampuan menyerap aspirasi masyarakat), penegakan hukum yang

konsisten dan non diskriminatif, dan keberadaan independensi peradilan.

Disamping karakter-karakter dalam the rule of law tersebut diatas, kesadaran

masayarakat terhadap lingkungan tidak menjamin keberhasilan pembangunan

berkelanjutan, tanpa dilakukan perombakan serta pembenahan dalam tatanan

sosial, politik dan hukum yang dibangun oleh rejim Orde Baru (Santosa, 2001).

Lebih lanjut Santosa (2001) mengatakan, untuk memenuhi dan memperkuat good

governance di Indonesia, paling tidak mensyaratkan beberapa hal sebagai berikut:

1) Lembaga perwakilan yang mampu menjalankan fungsi kontrol yang efektif

(effective representative system);

2) Pengadilan yang independen (mandiri, bersih, dan profesional);

3) Aparatur pemerintah (birokrasi) yang profesional dan memiliki integritas yang

kokoh.

Upaya penyelesaian kasus pencemaran Laut Kebumen, bukan hanya

semata-mata pemberian sangsi tetapi juga upaya pemulihan kualitas lingkungan

hidup, merupakan salah satu upaya untuk mencapai keselarasan hidup. Namun

demikian, hasil akhir dari kasus tersebut sangat ditentukan oleh keberhasilan

pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menyikapi permasalahan tersebut

berdasarkan tata pemerintahan yang baik (good governance). Pada akhirnya,

penyadaran masyarakat untuk menghargai lingkungan sangat bergantung pada

upaya pemerintah menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap hak-haknya

untuk hidup sejahtera di lingkungan yang sehat. Tata pemerintahan yang baik,

diharapkan dapat membantu percepatan pemulihan kualitas lingkungan hidup dan

sumber daya alam sehingga kebutuhan generasi yang akan datang juga dapat

(12)

IV. Kesimpulan dan Saran/Rekomendasi

Berdasarkan uraian masalah tentang kasus pencemaran Laut Kebumen oleh

minyak mentah dapat disimpulkan beberapa hal diantanya:

1) Perhatian instansi terkait terhadap keresahan masyarakat pesisir, khususnya

nelayan, melalui pembentukan tim investigasi merupakan bentuk kepedulian

terhadap lingkungan hidup dan masyarakat, dan diharapkan mampu

menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap hak mereka dalam

menjalani hidup di alam yang sehat;

2) Kajian lanjutan terhadap berbagai pihak harus dilakukan untuk memperoleh

data tentang badan hukum yang melakukan kelalaian, sumber dan jenis

bahan pencemar, dan upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup;

3) Penegakan hukum dalam penyelesaian sengketa yang meruapakan bentuk

nyata komitmen pemerintah daerah dan istansi terkait untuk melakukan

perlindungan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan berkelanjutan

dan upaya membangun tata pemerintahan yang bai/Good Governance.

4) Langkah lanjutan dalam pembangunan berwawasan lingkungan, diawali

dengan penyelesaian kasus Laut Kebumen, adalam penyadaran selurus

stakeholders yang secara bersama-sama memiliki ketergantungan pada

sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Kabupeten Kebumen.

Saran/rekomendasi yang dapat diberikan terhadap upaya penanganan kasus

pencemaran di Laut Kebumen antara lain adalah:

1) Perlu dilakukan pengolahan limbah minyak mentah yang bertujuan untuk

meminimalkan dampak negatif lanjutan yang ditimbulkannya terhadap

perairan Laut Kebumen;

2) Pengalihan mata pencarian masyarakat untuk sementara waktu, dari

penangkapan ikan-ikan pelagik ke penangkapan biota akuatik lainnya;

3) Kajian lapang, penegakan hukum dan upaya penanggulangan dampak harus

dilakukan secara bersamaan dengan melibatkan berbagai pihak guna

mencegah kerugian dan/atau hilangnya mata pencarian para nelayan;

4) Upaya penyelesaian sengketa, sebisa mungkin dilakukan secara musyawarah

yang memiliki kecenderungan lebih mudah dan memerlukan waktu dan biaya

relatif sedikit dibandingkan dengan penyelesaian sengketa lingkungan hidup

di pengadilan;

5) Good Governance dapat digunakan dalam kegiatan pembangunan

(13)

Daftar Pustaka

Anonimus, 2004. Redaksi The 3D Graphic Artists Web Portal. Akibat Pencemaran Nelayan Rugi mencapai Rp 1,1 M. Posted on Wednesday, May 29 @ 06:55:35 GMT by redaksi. Sumber http://kebumen.portal.dk3.com.

Anonimus, 2004. Redaksi The 3D Graphic Artists Web Portal. Sumber Pencemaran Laut Kebumen dari Timur. Posted on Wednesday, June 12 @ 06:55:35 GMT by redaksi. Sumber http://kebumen.portal.dk3.com.

Connell W., dan Gregory J. Miller, 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.

Djajadiningrat, S. T, 2001. Untuk Generasi Masa Depan: Pemikiran, Tantangan dan Permasalahan Lingkungan. Studio Tekno Ekonomi. Departemen Teknik Industri. Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Bandung. Penerbit Aksara Buana didukung oleh PT. Freeport Indonesia.

Kepres No: 10 Tahun 2000, tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Diambil dari Data Base Kebijakan Indonesia Wetlands International-Indonesian Programe).

Hamdan, M, 2000. Tindak Pidana Pencemaran Lingkungan Hidup. Penerbit Cv. Mandor Maju, Bandung.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999, tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Diambil dari Data Base Kebijakan Indonesia Wetlands International-Indonesian Programe).

Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 1996, tentang Kepelabuhan. (Diambil dari Data Base Kebijakan Indonesia Wetlands International-Indonesian Programe).

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. (Diambil dari Data Base Kebijakan Indonesia Wetlands International-Indonesian Programe).

Santoso, Mas Achmad, 2001. Good Governance dan Hukum Lingkungan. Indonesian Centre for Environmental Law.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (dalam Hamdan, M, 2000. Tindak Pidana Pencemaran

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas perairan Teluk Kayeli dalam kondisi baik dan sesuai dengan bakumutu yang dipergunakan untuk kehidupan biota laut (budi daya laut) maupun wisata bahari.. Kaitannya

Perairan Pantai Nirwana terkenal sebagai tempat rekreasi dan pelabuhan. Hal ini membawa dampak negatif bagi kehidupan biota-biota laut. Karang merupakan komponen

KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN YANG DIKELOLA SECARA EFEKTIF DAPAT MELINDUNGI HABITAT SEBAGIAN BESAR BIOTA LAUT, MENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT, MEMBERIKAN PERLINDUNGAN

Berdasarkan hasil dari ketiga stasiun penelitian di Perairan Pulau Saponda Laut ditemukan sebanyak 6 (enam) jenis penyakit karang yang menginveksi biota

Berdasarkan hasil dari ketiga stasiun penelitian di Perairan Pulau Saponda Laut ditemukan sebanyak 6 (enam) jenis penyakit karang yang menginveksi biota

Berdasarkan hasil dari ketiga stasiun penelitian di Perairan Pulau Saponda Laut ditemukan sebanyak 6 (enam) jenis penyakit karang yang menginveksi biota

Dampak negatif yang telah ditimbulkan dari pencemaran ini tidak hanya dapat membahayakan kehidupan biota dan lingkungan laut, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan manusia atau

Kerangka pikir penelitian Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak Mengandung Senyawa Berbahaya Senyawa Alifatik dan Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Menimbulkan Dampak Negatif Bagi