• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANNORA ERINNA SETIAWAN SOETEDJO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANNORA ERINNA SETIAWAN SOETEDJO"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOTERAPI: TERAPI MUSIK

PENURUN STRES

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Psikoterapi

Oleh :

ANNORA ERINNA SETIAWAN SOETEDJO 15010110130085

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni. Mendengar musik pula adalah sejenis hiburan. Musik adalah sebuah fenomena yang sangat unik yang bisa dihasilkan oleh beberapa alat musik.

Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal.

Kebanyakan orang lebih sering mengalami stres karena banyaknya tuntutan di lingkungan sekitarnya. Salah satu cara yang baik dan sudah banyak memberikan hasil nyata berdasarkan berbagai penelitian untuk mengurangi stres adalah dengan melakukan terapi musik. Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.

(3)

pada diri seseorang karena dapat merangsang pengeluaran endorphine dan serotonin, yaitu sejenis morfin alami tubuh dan juga metanonin sehingga kita bisa merasa lebih relaks pada tubuh seseorang yang mengalami stres (Mucci, 2002).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka calon peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : Bgaimanakah terapi musik dapat menurunkan tingkat stres pada diri seseorang.

C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses terapi musik menurunkan tingkat stres pada diri seseorang.

D. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoretis

Makalah ini dapat memberikan sumbangan kepada Psikologi terutama bidang Psikologi Klinis khususnya Psikoterapi. Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bacaan yang dapat memberikan tambahan pengetahuan kepada mahasiswa, dosen, serta warga psikologi bahwa terapi dengan menggunakan musik dapat menurunkan tingkat stres pada diri seseorang.

2. Manfaat Praktis

(4)

BAB II DASAR TEORI

A. Terapi Musik

1. Sejarah Terapi Musik

Terapi musik di Amerika dimulai pada akhir abad 18 walaupun jauh sebelumnya sejak zaman kuno, musik telah menjadi media penyembuhan. Hal ikhwal penyembuhan dapat diketahui dari kitab suci dan tulisan-tulisan peninggalan sejarah dari Arab, Cina, India, Yunani, dan Roma. Sekarang kekuatan musik masih tetap sama hanya penggunaannya yang berbeda dengan zaman dulu. Profesi terapi musi di AS mulai berkembang selama Perang Dunia I ketika musik digunakan pada rumah sakit veteran perang sebagai penyembuhan akibat trauma perang. Para veteran perang baik secara aktif maupun pasif menggunakan aktivitas musik dengan fokus untuk mengurangi persepsi rasa sakit. Banyak dokter dan perawat menjadi saksi bagaimana pengaruh musik bekerja secara psikologis, fisiologis, dan kognitif, terhadap kondisi emosional dari para veteran perang. Sejak itu, lembaga pendidikan tinggi dan akademi-akademi mulai mengembangkan program pelatihan kepada para musisi untuk mendayagunakan musik dengan tujuan terapi.

(5)

2. Pengertian Terapi Musik

Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Perlu diingat bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu ber-irama. Sebagai contoh, nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama.

Terapi musik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang karena kita tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi musik sangat mudah diterima organ pendengaran kita dan kemudian melalui saraf pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem limbik). Christandy Andrean menyatakan bahwa musik memiliki tiga bagian penting yaitu beat, ritme,

dan harmoni. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa sedangkan harmoni mempengaruhi roh (Surilena, 2008).

(6)

Dengan demikian secara prinsip, seseorang dengan predikat terapis musik tidak berbeda dengan ahli terapi di luar musik yang disebut terapis. Dan, profesi terapis hanya bisa diimplementasikan oleh seorang profesional. Di Amerika, seorang terapis musik harus mencapai tingkat sarjana di bidang terapi musik dan telah diakreditasi oleh AMTA. Keterampilan yang harus dikuasai meliputi keterampilan bermain piano, vokal, gitar serta pengetahuan sejarah musik, teori dan komposisi, juga psikologi, sosiologi, anatomi, dan fisiologi.

Setelah menyelesaikan tingkat sarjana, seorang terapis musik harus mengikuti pelatihan profesi selama 6 bulan guna mendapatkan lisensi sebagai terapis. Selain persyaratan formal di atas, seorang terapis musik juga harus memiliki rasa percaya diri, sadar diri, dan persepsi yang realistis terhadap kelemahan serta kelebihan yang dimiliki. Lalu, cara berfikir kreatif, spontan, energik, fleksibel, dan memiliki rasa humor sebagai faktor penting. Hampir semua dari mereka akan menangani klien individu atau kelompok baik dalam sebuah institusi, komunitas, maupun praktek di klinik-klinik pribadi.

Di karenakan salah satu maksud dari terapis musik melalui intervensi musikal adalah untuk memulihkan, menjaga, memperbaiki emosi, fisik, fisiologi, dan kesehatan serta kesejahteraan spiritual maka dalam definisinya pun terdapat elemen-elemen pokok yanng ditetapkan sebagai materi intervensi, yaitu:

a. Terapi musik digunakan oleh terapis musik dalam sebuah tim yang terdiri dari dokter, pekerja sosial, psikolog, guru, atau orang tua.

(7)

c. Materi musik yang diberikan melalui latihan-latihan sesuai arahan terapis. Intervensi musikal yang digunakan terapis didasarkan pada pengetahuan tentang pengaruh musik terhadap perilaku serta memahami kelemahan atau kelebihan klien sebagai sasaran terapi. d. Terapi musik yang diterima klien disesuaikan secara fleksibel dengan

memperhatikan tingkat usia. Terapis musik bekerja langsung pada sasaran dengan tujuan terapi yang spesifik. Sasaran yang hendak dicapai termasuk komunikasi, intelektual, motor, emosi, dan keterempilan sosial. Walaupun klien tidak dilatih untuk terampil bermusik tetapi secara otomatis keterampilan musiknya akan berkembang. Keterampilan musik sama sekali bukan orientasi terapis. Perhatian lebih diberikan pada pengaruh aktivitas musikal terhadap respons emosi, fisik, fisiologi, serta fungsi sosio-ekonomi klien.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa terapi musik merupakan sebuah aplikasi yang unik dalam membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam perilakunya. Sering kali terapi jenis ini digunakan sebagai alternatif terakhir dari gangguan yang sudah tidak dapat direspons oleh psikolog atau dokter, pengobatan dengan latihan tertentu, atau medis lainnya.

(8)

Saat ini, terapis musik sudah banyak memiliki banyak metode dan model pendekatan dalam terapinya. Beberapa menggunkan alat musik yang berorintasi pada perilaku interaksi, berimprovisasi sambil mendengarkan atau aktif bermain musik. Ciri primer di balik aktivitas terapi musik adalah terjadinya koneksi non-verbal. Tanpa harus mengucapkan kata-kata, misalnya klien dapat mengekspresikan kemarahannya sambil berimprovisasi pada alat musik.

Demikain pula, klien alzheimer yang kehilangan kapasitas bahasa dapat didekati melalui lagu-lagu nostalgia (Tembang kenangan) atau hanya dengan mengikuti irama musiknya. Musik akan hadir dalam beberapa tahapan kesadaran seseorang. Ada yang dapat menikmati musik sebagai bunyi yang bagus. Ada juga yang hanya terfokus pada konsep abstrak yang dimiliki musik, seperti struktur irama, melodi, atau harmioninya saja. Seorang terapis musik dapat mulai dengan hal-hal konkret dan kemudian berkembang kepada yang lebih abstrak untuk meningkatkan rangsang pada klien.

Lingkungan kerja terapis musik sangat luas mulai dari klien gangguan mental, cacat fisik, luka batin, demntia, gangguan saraf, mental, keterlambatan perkembangan, traumatis pada otak, ketidak mampuan belajar, sampai klien yang tidak menderita sakit tertentu berdasarkan diagnosis klinis. Mereka bekerja di rumah sakit-rumah sakit, tempat perawatan, sekolah, tempat rehabilitasi, kelompok-kelompok dalam rumah atau praktisi privat. Terapis musik juga bekerja pada beberapa tujuan yang non-musikal, termasuk mengembangkan kemampuan komunikasi, perilaku terbelakang, kemampuan akademik dan motor, konsentrasi, keterampilan sosial, menata rasa sakit serta mereduksi stres.

(9)

sekali bukan untuk mencapai keterampilan memainkan piano. Atu menggunakan alat musik untuk mengekspresikan emosi yang tidak dapat dilampiaskan secara verbal. Selain itu dengan aktif bergerak, bernyanyi, mendiskusikan lirik lagu sangat membantu klien mencapai sasaran seperti yang telah diprogramkan.

Salah satu model terapi yang banyak digunakan adalah Guided Imagery & Music dikembangkan oleh Bonny dan Bruscia (1996), berupa sebuah proses terapi yang mulai dari mendengarkan musik kemudian mengakses ke kedalaman jiwa serta aktualisasi diri dan kesehatan klien. Metode GIM ini juga mengikut sertakan imajinasi dalam rangka pengembangan kesadaran dengan maksud untuk memperoleh manfaat dari pengalaman berimajinasi itu sendiri. Sebagai sebuah model terapi, GIM dapat merepresentasikan respons emosi terdalam yang tersembunyi dengan menstimuli kretivitas yang dimiliki klien.

3. Semua Jenis Musik dapat Dijadikan Terapi

Pada dasarnya hampir semua jenis musik bisa digunakan untuk terapi musik. Namun kita harus tahu pengaruh setiap jenis musik terhadap pikiran. Setiap nada, melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya musik akan memberi pengaruh berbeda kepada pikiran dan tubuh kita. Dalam terapi musik, komposisi musik disesuaikan dengan masalah atau tujuan yang ingin kita capai.

(10)

Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmoni sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmoni (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmoni yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam di sekelilingnya.

Terapi Musik yang efektif menggunakan musik dengan komposisi yang tepat antara beat, ritme, dan harmoni yang sesuaikan dengan tujuan dilakukannya terapi musik. Jadi memang terapi musik yang efektif tidak bisa menggunakan sembarang musik.

4. Jenis – Jenis Terapi Musik

Dalam dunia penyembuhan dengan musik, dikenal 2 jenis terapi musik, yaitu:

a. Terapi Musik Aktif

Dalam terapi musik aktif pasien diajak bernyanyi, belajar main menggunakan alat musik, menirukan nada-nada, bahkan membuat lagu singkat. Dengan kata lain pasien berinteraksi aktif dengan dunia musik. Untuk melakukan terapi musik aktif tentu saja dibutuhkan bimbingan seorang pakar terapi musik yang kompeten.

b. Terapi Musik Pasif

(11)

5. Strategi Terapi Musik

Delapan alasan penggunaan terapi musik dalam kegiatan medis adalah sebagai berikut:

a. Sebagai audioanalgesik atau penenang – yang dapat menimbulkan pengaruh biomedis positif. Contoh: klien penyakit kronis diajak menggunakan musik untuk (a) menurunkan gangguan fisiologis dahn kadar distres, (b) mengalihkan perhatian dari rasa sakit, dan atau (c) merubah dan menurunkan tingkat persepsi terhadap rasas sakit. Partisipasi aktif klien dalam sebuah kelompok untuk menstimuli efektifitas sistem kekebalan tubuh.

b. Sebagai aktivitas memfokuskan perhatian. Contoh: seorang wanita hamil mendengarkan musik dalam proses persalinan sesuai dengan piliha musik dan mengikuti teknik melahirkan. Atau pasien menggunkan musik sebagai aktivitas untuk mengarahkan energi penyembuhan sesuai jenis penyakitnya.

c. Meningkatkan relasi terapis / pasien / dan keluarga. Contoh: seorang terapis mengembangkan relasi yang terbuka dengan seorang klien remaja dengan menggunakan musik kesenangannya. Atau remaja putri (“beresiko” menjadi “ibu muda”) diajarkan metode dan strategi pengasuhan anak (sebelum dan sesudah kelahiran) melalui pendekatan musik.

d. Memperkuat proses belajar. Contoh: anak diajarkan mengatur diri dan belajar disiplin dengan mengajarkan tahapannya dengan sebuah lagu. Atau sekelompok pasien mendengarkan sebuah lagu secara bersama agar dapat menguatkan sistem kekebalan tubuhnya sehingga mampu meningkatkan derajat kesehatannya.

(12)

ruang unit gawat darurat untuk mereduksi kebisingan suara-suara mesin dan elektronis lainnya.

f. Mengatur kegembiraan dan interaksi personal. Contoh: anggota keluarga klien sebagai kelompopk penunjang malekukan diskusi tentang lirik sebuah lagu, penulisan lagu, bernyanyi dan berimprovisasi untuk meningkatkan rasa saling percaya dan kooperatif satu sama lain dengan panduan seorang fasilitator.

g. Sebagai penguat atau penata untuk kesehatan dalam keterampilan fisiologis, emosi, dan gaya hidup. Contoh: seorang klien mendengarkan musik untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dan kreativitas dalam berkarir. Atau orang yang berpartisipasi dalam kelompok kebugaran akan lebih mudah melaksanakan perintah kalau musik latar yang dipergunakan sinkron dengan gerakannya.

h. Mereduksi stres pada pikiran-kesehatan tubuh. Contoh: staf unit gawat darurat sebaiknya menggunakan musik untuk mereduksi distress – dan mendengarkan musik selama 15 menit sebelum setiap pergantian jam jaga.

B. Stres

1. Definisi Stres

Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003).

(13)

dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.

Stress adalah ketegangan, ketakutan, tekanan batin, tegangan konflik antara lain, (1) Satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme. (2) Sejenis frustasi, dimana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi tidak terhalang-halangi peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was kuatir dalam pencapaian tujuan. (3) Kekuatan yang ditetapkan dalam suatu sistem tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi. (4) Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan menurut Chaplin (2010).

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu kondisi berupa perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif, dan perilaku sebagai penyesuaian diri individu ketika mengalami tekanan karena dihadapkan pada suatu kesenjangan antara kebutuhan dengan kenyataan sehingga tercipta suatu kondisi ketidak seimbangan. Keadaan stress muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa ataupun terlalu banyak yang mengancam kesejahteraan atau integritas individu. 2. Jenis-Jenis Stres

Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:

a. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.

(14)

kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. 3. Sumber Stres

Stres dapat terjadi karena: (1) fisik-biologik, penyakit sulit disembuhkan, cacat fisik, merasa penampilan kurang menarik; (2) psikologis, negative thinking, sikap permusuhan, iri hati, dendam, dan sejenisnya; (3) sosial: (a) kehidupan keluarga yang tidak harmonis; (b) faktor pekerjaan; (c) iklim lingkungan.

Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni:

- Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.

- Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.

- Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup.

- Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.

4. Cara Mengatasi Stres

Secara umum, terdapat dua cara untuk mengatasi stres , yaitu problem focus dan emotion focus

(15)

Maka hal yang dapat anda lakukan (berdasarkan problem focus) adalah tidak mengikuti dan membatalkan mata kuliah tersebut.

- Cara yang kedua adalah emotion focus, dimana mengatasi stres dengan cara memfokuskan diri dengan emosi yang dialami. Cara ini biasanya dilakukan ketika menghadapi masalah yang bersifat uncontrollable

(16)

BAB III PEMBAHASAN

Proses pengenalan musik di dalam otak diawali dari penjalaran gelombang suara berupa musik yang diterima oleh daun telinga. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membrana timpani bergetar. Getaran-getaran tersebut selanjutnya diteruskan menuju inkus dan stapes, melalui malleus yang terkait pada membrana. Karena gerakan-gerakan yang timbul pada setiap tulang, maka tulang-tulang tersebut memperbesar getaran yang kemudian disalurkan melalui fenestyra vestibuler menuju perilimfe (Pearce, 1999).

Getaran perilimfe dialihkan melalui membran menuju endolimfe dalam saluran kokhlea, dan rangsangan mencapai ujung-ujung akhir saraf dalam organ corti, untuk kemudian diantarkan menuju otak oleh nervus auditorius. Oleh otak tepatnya pada lobus temperalis kesan suara akan diterima dan ditafsirkan. Gelombang suara berirama teratur menghasilkan bunyi musikal yang nyaman didengar (Pearce, 1999).

Musik yang diterima oleh organ pendengaran akan langsung mempengaruhi sistem limbik. Bagian utama dari sistem limbik adalah hipotalamus. Fungsi dari hipotalamus yaitu mengatur sebagian besar fungsi vegetatif dan endokrin. Perangsangan dari fungsi vegetatif dan endokrin dari hipotalamus seringkali memberikan efek yang menyeluruh pada perilaku dan emosional (Guyton & Hall, 1997).

Dalam sistem limbik terdapat pusat ganjaran dan hukuman. Apabila perangsangan dilakukan pada area yang lebih rostral dari area rasa terhukum akan menyebabkan timbulnya rasa takut dan cemas. Tetapi sebaliknya, apabila perangsangan dilakukan pada area pusat ganjaran yang terletak di sepanjang rangkaian berkas bagian medial otak depan, maka akan timbul ketenangan dan kejinakan (Guyton & Hall, 1997).

Sebagian besar tanda awal stres adalah mulut kering. Pembunuh nyeri alami,

(17)

konstriksi untuk mengurangi perdarahan jika terjadi cedera. Limpa melepaskan lebih banyak sel darah merah untuk membantu membawa oksigen, dan sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah putih untuk melawan infeksi (Atkinson, Tanpa tahun).

Sebagian besar perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivitas dua sistem neuroendokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal. Hipotalamus juga dinamakan pusat stres otak karena fungsi gandanya dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya adalah mengaktifkan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang simpatis dari sistem saraf otonom beraksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah (Atkinson, Tanpa tahun).

Sistem simpatis juga menstimulasi medula adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin ke dalam pembuluh darah, sehingga berdampak meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, dan norepinefrin secara tidak langsung melalui aksinya pada kelenjar hipofisis melepaskan gula dari hati. Hormon adrenokortikotropik (ACTH) menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal (korteks adrenal) yang menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama adalah kortisol) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu di dalam darah (Atkinson, Tanpa tahun).

(18)

pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan menurunkan hormon ACTH (hormon stres) .

Pemberian terapi musik tersebut dapat menurunkan hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan, 2003). Selain itu musik juga dapat membawa seseorang dari kondisi otak Beta (terjaga) kepada kondisi Alpha (meditatif) sehingga membuat seseorang lebih rileks. Melalui musik juga, seseorang dapat melepaskan emosi terpendam dan kenangan yang tidak menyenangkan juga sangat efektif untuk membuat tubuh santai karena tubuh, emosi, dan jiwa seperti mengeluarkan desah lega. Musik yang mampu memicu perasaan yang kuat dan mengeluarkannya dari tubuh seperti mengeluarkan racun dari luka (Merrit, 2003).

Di samping itu, musik dapat menyelaraskan iklim emosional seseorang dengan cara mempengaruhi suasana hati, pikiran, emosi dan perilaku seseorang. Penyelarasan yang dimaksud adalah menyelaraskan tipe musik dengan keadaan batin seseorang, kemudian secara berangsur-angsur menggeser musik tersebut untuk mencerminkan suasana emosional yang dikehendaki atau diharapkan. Musik dan suara menyentuh manusia dengan cara merambat melalui udara sebagai penghantar. Perambatan musik memiliki potensi untuk meresonan perasaan pendengar dengan perubahan dari negatif ke positif dan meningkatkan kondisi kegembiraan dan ketenangan (Salampessy, 2001). Selain itu, melalui musik juga seseorang dapat berusaha untuk menemukan harmoni internal (inner harmony).

Jadi, musik adalah alat yang bermanfaat bagi seseorang untuk menemukan harmoni di dalam dirinya. Hal ini dirasakan perlu, karena dengan adanya harmoni di dalam diri seseorang, ia akan lebih mudah mengatasi stres, ketegangan, rasa sakit, dan berbagai gangguan atau gejolak emosi negatif yang dialaminya (Ortiz, 1997). Selain itu musik melalui suaranya dapat mengubah frekuensi yang tidak harmonis tersebut kembali ke vibrasi yang normal, sehat, dan dengan demikian memulihkan kembali keadaan yang normal (Salampessy, 2001).

(19)

suasana yang baik untuk melakukan terapi musik, ada beberapa prosedur yaitu antara lain:

1. Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.

2. Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.

3. Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.

4. Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Fokuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.

5. Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.

(20)

Ada berbagai metode yang bisa digunakan dalam terapi musik antara lain: - Bernyanyi untuk membantu klien yang mengalami gangguan perkembangan

artikulasi pada keterampilan bahasa, irama, dan kontrol pernafasan. Di dalam kelompok, klien akan terbantu untuk mengembangkan perhatiannya terhadap orang lain melalui bernyanyi bersama. Banyak lagu yang membantu kaum manula untuk mengingat peristiwa atau kenangan dalam kehidupan mereka. Lirik lagu juga digunakan untuk membantu klien gangguan mental dalam melakukan rangkaian tugas bahasa.

- Bermain musik membantu pengembangan dan koordinasi kemampuan motorik. Bermain alat musik secara ansambel membantu klien gangguan belajar untuk mengontrol impuls saraf yang kacau melalui latihan secara terstruktur dalam kelompok. Mempelajari sebuah karya musik denagn cara memainkannya dapat mengembangkan keterampilan musik serta membangun rasa percya diri dan disiplin diri.

- Gerak ritmis digunakan untuk mengembangkan jangkauan fisiologis, menggabungkan mobilitas / ketangkasan / kekuatan, keseimbangan, koordinasi, konsistensi, pola-pola pernafasan, dan rilaksasi otot. Komponen ritmis sangat penting untuk meningkatkan motivasi, minat, perhatian, dan kegembiraan, sebagai media non-verbal dalam mendorong spirit individu. - Mendengarkan musik dapat mengembangkan keterampilan kognisi, seperti

(21)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Musik bisa dikatakan merupakan metode pengurangan tingkat stres yang baik. Musik dapat melakukan keajaiban dan meringankan tubuh sakit serta tekanan mental. Banyak orang dapat merasa nyaman sambil mendengarkan musik yang indah dan menenangkan. Musik memiliki kekuatan besar untuk menyembuhkan dan pesona musik itu sendiri sangat menenangkan bahwa orang yang stres dapat menyingkirkan semua rasa sakit mereka dengan mendengarkan beberapa musik ringan. Pemberian terapi musik tersebut dapat menurunkan hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang merupakan hormon stres.

Musik membawa perubahan dalam aktivitas gelombang otak membuat lebih mudah bagi otak untuk beralih ke keadaan tenang dan meditatif lebih mudah sendiri ketika kebutuhan muncul di masa depan. Oleh karena itu, musik memiliki dampak yang langgeng pada respon kita terhadap stres. Kekuatan musik tidak berhenti di situ. Orang berjuang melawan dengan jumlah yang tinggi stres negatif sering merasa frustrasi dan kecemasan. Ini respon stres negatif dapat merusak malapetaka pada tubuh, pikiran dan kehidupan orang yang menderita dari itu. Musik dapat digunakan untuk mendorong keadaan pikiran yang positif pada orang yang stres.

B. Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, et al. (Tanpa Tahun). Pengantar Psikologi Jilid Dua Edisi Kesebelas. Batam: Penerbit Interaksara.

Djohan. (2003). Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik.

Djohan. (2006). Terapi Musik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress. Irawaty, Jenny. (Tanpa Tahun). Terapi Musik, Alternatif yang Patut Dicoba,

(Online), diambil dari situs: http://www.deherba.com/terapi-musik-alternatif-yang-patut-dicoba.html

Nevid, Jeffrey S, dkk. (2005). Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Primadita, Adhe. (). Efektifitas Intervensi Terhadap Terapi Musik Klasik Terhadap Stress Dalam Menyusun Skripsi Pada Mahasiswa PSIK UNDIP Semarang. Available online at http://eprints.undip.ac.id/33143/2/ARTIKEL_efektifitas_intervensi_terapi_ musik_klasik_terhadap_stres_mahasiswa_skripsi.pdf. (diakses 29 April 2013).

Salempessy, W. (2001). Terapi dengan Musik. Jakarta: Pustaka Jaya. Satiadarma, M.P. (2001). Terapi Musik. Jakarta: Millenia Popular.

Setyaningsih, Dewi dan Tamsil Muis. (Tanpa Tahun). Pengaruh Kombinasi Musik Klasik dan Latihan Relaksasi Untuk Menurunkan Stres Pada Siswa Kelas XI IPA 2 SMA intensif Taruna Pembangunan Surabaya. Available online at http://ppb.jurnal.unesa.ac.id/bank/jurnal/7.artikel_dewi_dan_tamsil.pdf (diakses 29 April 2013).

Suryana, Dayat. (2012). Terapi Musik, (Online), diambil dari situs: http://books.google.co.id/books?id=fuCO5gqmoVcC&printsec=frontcover &dq=terapi+musik&hl=id&sa=X&ei=5LCAUbmrGYaXiAeOiYDwAg&ve d=0CD4Q6AEwBA

Referensi

Dokumen terkait

GAMBARAN KUALITAS HIDUP WANITA LANJUT USIA YANG MENGIKUTI TERAPI MUSIK ANGKLUNG DI UNIT LANSIA KLINIK PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG.. Universitas

GAMBARAN KUALITAS HIDUP WANITA LANJUT USIA YANG MENGIKUTI TERAPI MUSIK ANGKLUNG DI UNIT LANSIA KLINIK PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG. Universitas

GAMBARAN KUALITAS HIDUP WANITA LANJUT USIA YANG MENGIKUTI TERAPI MUSIK ANGKLUNG DI UNIT LANSIA KLINIK PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG.. Universitas

GAMBARAN KUALITAS HIDUP WANITA LANJUT USIA YANG MENGIKUTI TERAPI MUSIK ANGKLUNG DI UNIT LANSIA KLINIK PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG.. Universitas

Untuk mengidentifikasi gambaran kualitas hidup wanita lansia yang mengikuti terapi musik angklung berdasarkan hubungan sosial di unit lansia klinik pelayanan

2.5 Prosedur Terapi Musik STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TERAPI MUSIK Pengertian Terapi music adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri

Deskripsi Frekuensi Kualitas Tidur Sebelum Pemberian Terapi Musik Instrument Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Hasil kualitas tidur sebelum dilakukan pemberian terapi musik

lansia yang memiliki kualitas tidur buruk di berikan terapi musik di harapkan kualitas tidur pada lanjut usia membaik, setelah di lakukan terapi musik terhadap 31 responden di dapatkan