• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Ketahanan Pangan Masa New Normal Covid-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Strategi Ketahanan Pangan Masa New Normal Covid-19"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-44 UNS Tahun 2020

“Strategi Ketahanan Pangan Masa New Normal Covid-19”

Kajian Kualitas Air dan Volume Pemanenan Air Hujan Sistem Atap Pada

Greenhouse Academic Leadership Grant

Lundu Septriharis Pasaribu1, Nurpilihan Bafdal2, Edy Suryadi2

1Mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran

2Staff Pengajar Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 40600

1Email: [email protected]

Abstrak

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peranan penting dalam kehidupan, dalam sektor pertanian air merupakan faktor penting untuk pemberian air irigasi tanaman. Pemanenan air hujan merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk pemanfaatan sumber daya air, hanya saja perlu diketahui kualitas air hujan dari hasil pemanenan air hujan dapat memenuhi baku mutu air untuk irigasi tanaman atau tidak dan apakah jumlah volume air hujan yang tetampung dapat memenuhi konsumsi atau kebutuhan air tanaman. Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume air hujan tertampung di Greenhouse Academic Leadership Grant (Greenhouse ALG) Universitas Padjadjaran seta perbedaan kualitas air antara air hujan langsung dengan air hujan hasil pemanenan air hujan. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse ALG Universitas Padjadjaran. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Berdasarkan pada beberapa parameter yaitu pH, EC, TDS, TSS, dan Kekeruhan. Kualitas air hujan dan langsung dan tidak langsung sangat layak digunakan sebagai sumber air irigasi karena memenuhi kriteria air irigasi menurut PP No. 82 Tahun 2001 dan Guidelines for Interoretation of Water Quality for Irrigation FAO. Volume akhir pemanenan air hujan yang terpanen secara aktual selama penelitian yaitu sebesar 121.024 liter.

Kata kunci: kualitas air hujan, volume, pemanenan air hujan

Pendahuluan

Air merupakan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk irigasi. Salah satu sumber air yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut yaitu berasal dari air hujan. Indonesia merupakan negara yang memiliki curah hujan cukup tinggi yaitu 500 mm/tahun hingga 5000 mm/tahun sesuai dengan letak dan ketinggian dari suatu daerah (Tukidi, 2010). Hanya saja curah hujan tidak merata pada setiap waktu karena Indonesia memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada

(2)

musim hujan, ketersediaan air dapat memenuhi kebutuhan irigasi tanaman bahkan tidak jarang pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan kelebihan air atau banjir. Sementara pada musim kemarau tanaman selalu kekurangan air, Hal ini menjadi permasalahan setiap tahunnya (Harsoyo,2010).

Menurut Karilota dan Koesmartadi (2013), dengan cara dan metode yang tepat air hujan dapat lebih bermanfaat dari pada terbuang sia-sia ataupun menyebabkan banjir. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya air adalah metode pemanenan air hujan dengan atap (Rooftop Rain Water Harvesting). Harsoyo (2010) menyebutkan bahwa di dunia internasional saat ini juga berupaya memanen hujan yang telah menjadi bagian penting dalam agenda global environmental water resources management dalam rangka penanggulangan ketimpangan air pada musim hujan dan kering (lack of water), kekurangan pasokan air bersih penduduk dunia dan untuk kebutuhan sektor pertanian, serta penanggulangan banjir dan kekeringan. Teknik pemanenan air hujan atau disebut juga dengan istilah rain water harvesting didefinisikan sebagai suatu cara pengumpulan atau penampungan air hujan atau aliran permukaan pada saat curah hujan tinggi untuk selanjutnya digunakan pada waktu air hujan rendah agar air selalu tersedia. Pemanenan air hujan dengan sistem atap (Rooftop Rain Water Harvesting) dapat membantu pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya yang terdapat di alam, serta mengurangi ketergantungan akan air tanah.

Air Hujan langsung adalah air hujan yang langsung jatuh kebumi pada saat terjadi hujan, sedangkan air hujan tidak langsung adalah air hujan hasil pemanenan sistem atap yang ditampung dan disimpan untuk selanjutnya digunakan sebagai sumber air irigasi untuk tanaman. Air hujan hasil pemanenan sistem atap yang digunakan sebagai air irigasi harus memiliki syarat atau baku mutu kualitas air tertentu, sehingga tidak membahayakan tanaman dan tidak memberikan dampak negative terhadap hasil tanaman dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 syarat baku mutu air irigasi yaitu memiliki nilai pH 5-9; TSS 1000-2000 mg/L dan TDS 50-400 mg/L, sedangkan menurut Guidelines for Interoretation of Water Quality for Irrigation ( FAO, 1985) kriteria mutu air irigasi tanaman harus memenuhi persyaratan parameter fisika daya hantar listrik (EC) sebesar 0,27 – 1,8 𝜇S/cm; pH 6-8,5; TSS 200-1000 mg/L; dan TDS 100-500 mg/L.

Kualitas air ditunjukkan oleh mutu ataupun kondisi air yang disesuaikan dengan keperluan tertentu. Air hujan langsung dan Air Hujan tidak langsung harus memiliki syarat atau baku mutu kualitas air tertentu, sehingga tidak membahayakan tanaman dan tidak memberikan dampak negative terhadap hasil tanaman dalam jangka waktu tertentu. Oleh

(3)

sebab itu Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengkaji kualitas air hujan secara langsung dan air hujan tidak langsung atau hasil dari sistem pemanenan air hujan diatap greenhouse ALG serta Mengetahui Volume air hujan yang tertampung pada sistem pemanenan air hujan di Greenhouse ALG (Academic Leadership Grant) secara aktual dan potensial. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi untuk perkembangan ilmu teknologi pertanian khususnya pada penerapan pemanenan air hujan sistem atap (Rooftop rain water harvesting) untuk sumber daya pertanian yang lebih efektif dan ramah lingkungan

Metodologi

Lokasi

Penelitian berlokasi di Greenhouse Academic Leadership Grant (Greenhouse ALG) di kawasan Pedca Utara, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor, Jawa Barat pada titik koordinat 6°92’ LS dan 107°77’ BT dan ketinggian 771 mdpl. Greenhouse ini memiliki luas 159,2 m2

.

Metode

Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif, yaitu melakukan pengukuran, pengamatan, perhitungan dan analisis data secara kuantitatif terhadap keterkaitan antara variabel kualitas dan kuantitas pemanenan air hujan sistem atap.

Pemanenan air hujan yang jatuh di atap Greenhouse Academic Leadership Grant

Pemanenan air hujan dilakukan saat terjadi hujan, air hujan yang jatuh di atap greenhouse ALG akan ditampung ditalang untuk kemudian dialirkan ke drum penyimpan air untuk digunakan untuk kebutuhan air pada tanaman. Pemanenan air hujan dengan atap bangunan mempunyai komponen yang penting yaitu daerah tangakapan air (catchment area), pipa penyaluran air hujan (talang) dan tangki penampungan air hujan. Air hujan yang jatuh pada atap greenhouse ALG akan disalurkan menggunakan talang menuju tampungan berupa 4 buah drum yang saling berhubungan berkapasitas 5300 liter per drum. Kemudian air yang telah tertampung akan dialirkan menggunakan pompa air menuju sebuah drum berkapasitas 1100 Liter yang letaknya berada 3 meter diatas permukaan tanah, dimana kemudian air dalam drum tersebut akan dialirkan secara gravitasi ke kran air untuk penggunaan diluar irigasi tanaman dan 4 buah drum nutrisi yang masing- masing berkapasitas 100 liter untuk kebutuhan tanaman. Pemberian air nutrisi untuk kebutuhan tanaman yaitu campuran antara

(4)

air dengan volume 100 liter dan larutan pekat nutrisi AB mix dengan volume 450 ml larutan A dan 450 ml larutan B. Ilustrasi greenhouse ALG Universitas Padjadjaran ditunjukkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. Greenhouse ALG Universitas Padjadjaran (Sumber: data pribadi, 2020)

Hasil dan Pembahasan

Kualitas air hujan langsung dan pemanenan air hujan sistem atap

Tabel 1. Kualitas air hujan langsung dan tidak langsung atau pemanenan air hujan sistem atap

Keterangan:

A1: Sampel 1 air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap A2: Sampel 2 air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap A3: Sampel 3 air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap A4: Sampel 4 air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap B1: Sampel 1 air hujan langsung

B2: Sampel 2 air hujan langsung

Berdasarkan hasil penelitian Sarah (2019) pada Tabel 1, diketahui bahwa rata-rata kualitas air hujan terpanen secara langsung memiliki nilai pH tata-rata 5,525; EC atau DHL 78,85 ms; TDS 10 ppm; TSS 7 ppm dan kekeruhan 5,30 NTU. Sedangkan kualitas air hujan tidak langsung atau yang terpanen melalui atap greenhouse ALG memiliki rata-rata pH 7,12; DHL 22,08 μmhos/cm; TDS 13,50 mg/liter; TSS 3,03 mg/liter dan kekeruhan sebesar 6,83

Parameter satuan A1 A2 A3 A4 B1 B2 1 TSS mg/L 2.5 2.8 3.1 3.7 7 7 2 TDS mg/L 19 12 12 11 10 10 3 DHL µmhos/cm 31.9 19.2 19.1 18.1 78.7 79 4 pH - 7.26 7.15 7.05 7.03 5.53 5.52 5 Kekeruhan NTU 9.1 5.6 5.6 7 5.24 2.35

(5)

NTU. Kualitas air hujan tidak langsung atau yang terpanen melalui atap greenhouse ALG secara keseluruhan memiliki kualitas yang sangat baik karena nilai tersebut memenuhi syarat baku mutu irigasi berdasarkan Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 syarat baku mutu air irigasi yaitu memiliki nilai pH 5-9; TSS 1000-2000 mg/L dan TDS 50-400 mg/L, sedangkan menurut Guidelines for Interoretation of Water Qualityfor Irrigation (FAO, 1985) kriteria mutu air irigasi tanaman harus memenuhi persyaratan parameter fisika daya hantar listrik (EC) sebesar 0,27 – 1,8 𝜇S/cm; pH 6-8,5; TSS 200-1000 mg/L; dan TDS 100-500 mg/L

Kualitas air hujan terpanen yang dilakukan secara langsung dan kualiats air hujan tidak langsung atau yang terpanen melalui atap greenhouse ALG berbeda disetiap parameternya. Hal ini dapat dikarenakan berbagai faktor, seperti terdapatnya senyawa atau kotoran pada tempat penampungan air hujan, sehingga akan mempengaruhi kualitas air tersebut. Menurut Valentina (2016) Adanya kandungan atau senyawa kimia dan biologis yang mencemari air hujan terpanen menyebabkan kualitas air hujan yang digunakan sebagai fertigasi akan berubah dan air hujan yang telah terkontaminasi oleh debu-debu dan kotoran yang terbawa oleh angin. Perubahan nilai parameter kualitas air hujan ini akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman, sehingga perlu dijaga kualitasnya agar tetap baik.

Volume air hujan yang tertampung

Gambar 2. menunjukkan bahwa besarnya volume tersimpan air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap di greenhouse ALG secara aktual selama 73 hari yaitu pada periode 15 januari 2020 sampai dengan 27 maret 2020 adalah sebesar 20.176,12 liter. Volume air hujan yang tersimpan tersebut sudah dikurangi dengan penggunaan air sebagai sumber irigasi dan non irigasi untuk budidaya tanaman tomat di greenhouse ALG selama masa penelitian. Penambahan volume air hujan yang terpanen tertinggi yaitu sebesar 6.715,42 liter dimana curah hujan pada hari tersebut sebesar 80 mm, sedangkan penambahan volume air hujan yang terpanen terendah yaitu pada saat hari dimana tidak terjadi hujan dan juga saat kapasitas drum penampung air hujan sudah penuh yaitu sebesar 0. Ketinggian drum penampung atau penyimpan air hujan hasil pemanenan air hujan sistem atap adalah sebesar 213 cm, apabila air hujan yang disimpan di drum sudah mencapai ketinggian tersebut maka air hujan yang dapat disimpan didalam drum kapasitas volumenya sudah penuh, sehingga walaupun terjadi hujan, air hujan yang jatuh keatap greenhouse ALG tidak dapat disimpan lagi dan akan terbuang. Besarnya volume air hujan yang terpanen secara aktual bergantung

(6)

pada nilai curah hujan, luas atap, dan koefisien run off. Jika nilai curah hujan semakin tinggi, maka volume air hujan yang terpanen semakin besar (Subarkah, 1980).

Gambar 2. Grafik volume Air Hujan yang terpanen (Sumber: data pribadi, 2020)

Gambar 3. Perbandingan Volume Pemanenan Air Hujan

Berdasarkan Gambar 3, dapat diketahui bahwa jumlah volume potensial air hujan yang dapat dipanen jauh lebih besar dibandingkan volume air hujan yang tertampung aktual, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor seperti koefisien run off atau air yang terbuang pada saat pemanenan cukup banyak, konsumsi air yang digunakan untuk budidaya tanaman tomat di greenhouse ALG, dan juga kapasitas drum penampung yang memiliki batas maksimum air hujan yang dapat ditampung yaitu sebesar 21.200 liter.

0 5000 10000 15000 20000 25000 1 6 11 16 21 26 31 36 41 46 51 56 61 66 71 V ol u m e ( Li te r) Hari

ke-Vol. Air Hujan Tertampung Aktual (Liter)

Vol. Air Hujan Tertampung Aktual (Liter)

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 1 6 11 16 21 26 31 36 41 46 51 56 61 66 71 V ol u m e v (L it e r) Hari

ke-Perbandingan Volume Pemanenan Air Hujan

Vol. Air Hujan Tertampung Aktual (Liter)

(7)

Kesimpulan dan Saran

Hasil kualitas air pada sistem pemanenan air hujan di greenhouse sudah baik dan sesuai kriteria irigasi FAO dan PP No. 82 tahun 2001 tentang syarat baku mutu air irigasi. Volume pemanenan air hujan yang tetampung selama penelitian yaitu sebesar 20.176,12 liter. Berdasarkan hal tersebut, maka sistem pemanenan air dengan atap greenhouse ALG efektif sebagai sumber air untuk irigasi. Saran untuk penelitian ini yaitu Atap, talang, dan drum penampung di Greenhouse ALG (Academic Leadership Grant) perlu diperbaiki dan dibersihkan untuk mengurangi kontaminasi debu dan bahan organik serta kehilangan air hujan karena kebocoran.

Daftar pustaka

FAO. (1985). Water quality for agriculture. R.S. Ayers and D.W. Westcot. Irrigation and Drainage Paper 29 Rev. 1. FAO, Rome.

Harsoyo, B. (2010). Teknik pemanenan air hujan (rain water harvesting) sebagai alternatif upaya penyelamatan sumberdaya air di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 11, 29-39.

Kamaludin. (2014). Studi kasus air hujan dalam identifikasi potensi pemanenan air hujan di kawasan terbangun Jatinangor. Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

Karolita, M. & Koesmartadi, C. (2013). Teknologi pemanenan air hujan pada perancangan arsitektur rumah tinggal Heinz Frick. Jurnal Tesa Arsitektur, 11, 108 – 116.

Kendarto, D.R., Nurpilihan, B. & Dwiratna, S. (2017). Kinerja sistem fertigasi autopot pada budidaya tomat cherry. Indonesian Journal of Applied Sciences, 7, 56-60

Nurpilihan (2016). Rainfall harvesting as resources of self watering fertigation system with various growing medias. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 6, 787–792.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82. 2001. Syarat Baku Mutu Irigasi. Jakarta Sarah, S. (2019). Kajian kualitas air pada sistem pemanenan air hujan dan kualitas hasil panen buah melon. Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

Subarkah, I. (1980). Hidrologi untuk Perencanaan Bangunan Air. Bandung. Idea Dharma. Tukidi. 2010. Karakter curah hujan di indonesia. Jurnal Geografi 7(2), 136-145

UNEP International Technology Centre (2001). Rainwater Harvesting. Murdoch University of Western Australia

Valentina, P. (2016). Analisis penurunan sisa klor dan peningkatan pH air hujan menggunakan filte zeolit dan karbon aktif (Studi kasus di gedung FTIP Unpad). Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

Gambar

Gambar 1. Greenhouse ALG Universitas Padjadjaran  (Sumber: data pribadi, 2020)
Gambar 2. Grafik volume Air Hujan yang terpanen  (Sumber: data pribadi, 2020)

Referensi

Dokumen terkait

Pandangan hukum Islam terkait penyalahgunaan obat Tramadhol sudah sangat jelas melarang akan sesuatu yang memabukkan apalagi penyalah gunaanya secara berlebihan

Darii uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian penyandang disabilitas tubuh secara keseluruhan setelah menerima program pelayanan dan rehabilitasi sosial

Berdasarkan keunggulan yang dimiliki oleh bambu sebagai sumber daya alam pengganti kayu, memiliki manfaat bagi lingkungan hidup, dan sebagai bahan baku yang sustainable,

Retakan dan liang yang wujud pada antara muka tersebut mencadangkan kemungkinan perkecaian akan berlaku jika tempoh pengoksidaan adalah lebih lama seperti yang dilaporkan

1) Pembuatan iklan GRSB Yogyakarta melalui 3 tahapan proses yaitu pra produksi, produksi, pasca produksi. Tahap pra produksi berisi mengenai rancangan yang menjadi pedoman

Pada ANOVA yang dilanjutkan dengan uji LSD, hasilnya menunjukkan bahwa pada pengamatan menit ke-120, pemberian ektrak tapak liman dosis 400 mg/kg BB menunjukan adanya hambatan

Menurut Agrios (1996), tanaman yang terserang penyakit akan melakukan perlawanan terhadap serangan patogen dan mengubah struktur anatomi, termasuk menambah

Jika dibandingkan kadar Cd dalam sedimen jauh lebih tinggi dari pada air hal ini disebabkan karena logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di