• Tidak ada hasil yang ditemukan

241 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "241 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

241

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes --- http://forikes-ejournal.com/index.php/SF PENAMBAHAN JENIS STARTER DALAM

MENINGKATKAN KUALITAS KOMPOS DARI ECENG GONDOK (Eichornia

crassipes Solms)” Selfi’un Linda Apsari (Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya)

Demes Nurmayanti (Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya)

Narwati

(Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya)

ABSTRAK

Eceng gondok adalah tanaman gulma di perairan, oleh karena itu akan digunakan sebagai bahan pembuatan kompos yang dipercepat dengan starter. Starter yang digunakan berasal dari darah sapi, rumen sapi dan bonggol pisang karena keberadaanya merupakan sampah yang kurang dimanfaatkan bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan jenis starter dalam meningkatkan kualitas kompos dari eceng gondok (Eichornia crassipes Solms) menggunakan rancangan After Only Design dengan 6 kali pengulangan, dengan 4 perlakuan yaitu pengomposan eceng gondok (Eichornia crassipes Solms): 1) tanpa penambahan starter (K), 2) dengan darah sapi (P1), 3) dengan rumen sapi (P2) dan 4) dengan bonggol pisang (P3). Analisis hasil yang diteliti menggunakan uji statistik paired sample t-tes dan one way annova. Berdasarkan parameter fisik, kompos yang dihasilkan oleh perlakuan K menunjukkan warna coklat, tidak berbau dan bertekstur menggumpal sedangkan kompos P1, P2, dan P3 menunjukkan warna hitam, berbau tanah dan bertekstur remah. Berdasarkan parameter kimia, kompos yang dihasilkan dari keempat perlakuan K, P1, P2 dan P3 menunjukkan kadar C/N rasio sebesar sebesar 7,53; 9,19; 16,70; 10,47. Kompos dengan penambahan starter rumen sapi memiliki waktu degradasi tercepat yaitu 20 hari dengan menghasilkan kualitas kompos yang bagus bila dilihat dari parameter fisik maupun kimia, oleh karena itu diperlukan pengaplikasian ke tanaman untuk

mengetahui perbedaan secara

signifikannya. Kata Kunci:

Kompos, Starter, Eceng gondok

PENDAHULUAN

Tumbuhan air yang keberadaannya sangat cepat dan mudah tumbuh adalah eceng gondok. Perkembangbiakannya terjadi secara generatif dengan biji maupun secara vegetatif dengan membentuk tunas (stolon) di atas akar. Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa.

Eceng gondok sangat toleransi terhadap keadaan unsur haranya didalam air yang kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap unsur hara yang tinggi juga cukup besar. Setiap individu tanaman ini mampu menghasilkan rumpun atau populasi tanaman baru seluas 1 m3 dalam waktu kurang dari dua bulan (Gerbono dkk, 2009). Kandungan C/N rasio untuk eceng gondok adalah 25 (Trihadiningrum dkk, 2013).

Salah satu alternatif pemecahan

masalahnya adalah dengan

memanfaatkannya menjadi kompos yang berguna untuk kesuburan tanaman, selain itu kompos dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang bisa menyebabkan penumpukan residu yang dapat membuat tanah sulit terurai. Pembuatan kompos memperlukan organisme untuk menguraikan bahan organik. Mikroorganisme ini dapat berasal dari hewani yaitu darah dan rumen sapi sedangkan dari nabati adalah bonggol pisang.

Darah sapi adalah salah satu limbah yang berasal dari rumah pemotongan hewan. Darah sapi yang berasal dari pemotongan hewan langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga berpotensi menjadi limbah yang dapat mengganggu lingkungan. Penelitian (Hastin dkk, 2015) menyatakan bahwa limbah darah sapi dan tumbuhan kiambang berpotensi digunakan sebagai pupuk organik ramah lingkungan untuk tanaman sayuran yang dibudidayakan pada lahan gambut.

Rumen sapi adalah bagain dari tubuh sapi yang berisi hasil pencernaan sebelum dikeluarkan dan diolah di dalam usus besar yang ada di ruang perut sebelah kiri hewan rumansia. Rumen sapi bisa digunakan sebagai bioaktivator dan penggunaan bioaktivator rumen sapi yang ditambahkan dengan EM-4 memiliki tekstur yang halus, warna hijau pekat, dan bau ammonia sedangkan parameter kimia kualitas

(2)

ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

242

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes --- http://forikes-ejournal.com/index.php/SF kompos yang menggunakan bioaktivator

rumen sapi memiliki kandungan C-organik 39,4% ; Nitrogen total 2,6% ; Rasio C/N14,9 (Fitriani, 2016).

Bonggol pisang merupakan limbah yang sudah tidak terpakai dari pemanenan pisang. Bonggol pisang berpotensi untuk dijadikan mikroorganisme pengurai pada pembuatan kompos (Kesumaningwati, 2015). Secara sederhana starter diartikan sebagai bakteri yang tercipta secara alami dari alam. Kemudian bakteri ini dibiakkan lagi untuk mendapatkan bakteri (mikroba) yang diperlukan untuk menguraikan kotoran hewan. Bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan starter adalah tanah hutan dan isi lambung sapi atau kambing (Agromedia, 2008).

Berdasarkan dari uraian permasalahan di atas untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pemanfaatan bahan yang kurang bermanfaat bagi lingkungan, maka diperlukan upaya dalam pemanfaatan limbah darah sapi, rumen sapi dan bonggol pisang agar dapat mendukung pertanian dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis starter dalam meningkatkan kualitas kompos dari eceng gondok (Eichornia crassipes Solms).

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian eksprerimen ini adalah After Only Design, dengan 4 perlakuan dan 6 kali pengulangan. Kompos dibuat dengan perbandingan 2:1 antara bahan dengan starter yaitu darah sapi, rumen sapi dan bonggol pisang. Penelitian dilakukan secara laboratorium untuk menganalisis perbedaan C/N rasio yang dihasilkan dari pupuk yang sudang matang dengan penambahan berbagai jenis starter. Variabel dalam penelitian ini adalah: a) Variabel bebas yang terdiri dari starter darah sapi, rumen sapi dan bonggol pisang yang masing-masing seberat 1kg; b) Variabel terikat merupakan kandungan C/N rasio pada kompos yang dihasilkan.

Kriteria kompos matang yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Bewarna kehitaman b. Berbau tanah

c. Bertekstur remah (tidak menggumpal) Pengumpulan data dan instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) observasi yang dilakukan pada proses

pembuatan kompos yang meliputi warna, bau dan tekstur, 2) pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui nilai C/N rasio yang dihasikan pada akhir pengomposan.

Eceng gondok segar dicacah dengan ukuran ±3cm. Melarutkan gula merah (1/10) dengan air secukupnya. Darah sapi yang akan digunakan diiamkan ±5jam sehingga terbentuk padatan. Kemudian eceng gondok dicampur dengan darah sapi dan ditambahkan larutan gula sampai homogen. Setelah tercampur diletakkan di dalam karung dan dilakukan pengamatan warna, bau dan tekstur ±40 hari (sampai menunjukkan ciri kompos jadi), suhunya dipertahankan 40-50 0C. Pembuatan kompos dengan starter rumen sapi dan bonggol pisang juga diperlakukan sama seperti pembuatan kompos eceng gondok dengan penambahan starter darah sapi yaitu ditambahkan dengan larutan gula, dicampurkan sampai merata dan dilakukan proses fermentasi. Pembuatan kontrol (tanpa starter) juga diberikan penambahan gula dan dilakukan pengamatan warna, bau dan tekstur ±40 hari.

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan narasi kemudian dianalisis menggunakan ANNOVA untuk mengetahui perbedaan nilai C/N rasio dari jenis starter yang digunakan dalam proses pengomposan.

HASIL PENELITIAN

Pengamatan Fisik Pada Akhir Proses Pengomposan

Dalam proses pengomposan perlu dilakukan pengamatan secara fisik untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Hasil akhir proses pengomposan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Sifat Fisik Pada Akhir Proses Pengomposan

No. Jenis

starter Rata-rata proses pengomposan

(hari)

Warna Bau Tekstur

1. Tanpa

Starter >40 Kecoklatan Tidak berbau menggumpal

2. Darah

Sapi 34 Hitam seperti tanah Berbau tanah Remah dan kasar

3. Rumen

Sapi 20 Hitam seperti tanah Berbau tanah Remah dan halus

4. Bonggol

Pisang 24 Hitam seperti tanah Berbau tanah Remah

Tabel 1 merupakan hasil pengamatan selama proses pengomposan. Kompos matang apabila dilihat secara fisik memiliki ciri bewarna kehitaman dan berbau tanah (SNI 19-7030-2004) serta bertekstur remah

(3)

ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

243

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes --- http://forikes-ejournal.com/index.php/SF tidak menggumpal (Simanora dkk, 2006).

Kompos eceng gondok tanpa penambahan starter sampai hari ke-40 masih bewarna kecoklatan, tidak berbau dan bertekstur menggumpal. Kompos dengan penambahan starter darah sapi mengalami proses pengomposan selama 34 hari yang Memiliki ciri bewarna hitam, berbau tanah, bertekstur remah dan kasar. Kompos eceng gondok dengan penambahan starter rumen sapi mengalami proses dekomposisi bahan selama 20 hari dengan ciri bewarna hitam, berbau tanah, bertekstur remah dan halus. Kompos eceng gondok dengan penambahan starer bonggol pisang mengalamai proses dekomposisi bahan organik selama 24 hari dengan ciri bewarna hitam, berbau tanah dan bertekstur remah.

Nilai C/N rasio pada Kompos Matang

Tabel 2. Hasil Analisis C/N rasio pada Akhir Pengomposan Jenis Starter Rata-rata kandungan C/N rasio Syarat C/N rasio menurut SNI 19-7030-2004 Tanpa Starter 7,53 10-20 Darah Sapi 9,19 Rumen Sapi 16,70 Bonggol Pisang 10,47

Tabel 2 merupakan nilai C/N rasio pada kompos matang yang dihasilkan dari berbagai jenis starter. Syarat C/N rasio menurut SNI 19-7030-2004 berkisar antara 10-20. Kompos eceng gondok tanpa penambahan starter memiliki C/N rasio sebesar 7,53; dengan penambahan starter darah sapi 9,19; dengan penambahan starter rumen sapi 16,70; dengan penambahan bonggol pisang 10,47.

Analisis Perbedaan Nilai C/N Rasio pada Kompos Matang

Pengaruh penambahan jenis starter dalam pembuatan kompos eceng gondok terhadap nilai C/N rasio pada kompos matang dianalisis menggunakan uji statistik ANNOVA. Analisis pengaruh penambahan jenis starter dalam pembuatan kompos eceng gondok dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Analisis Perbedaan Jenis Starter Berdasarkan C/N rasio Terhadap Kematangan Kompos Dari Eceng Gondok

Jenis Starter P

Darah Sapi 0,00*

Rumen Sapi 0,00*

Bonggol Pisang 0,00* *P ≤ 0,05 (signifikan)

Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penambahan starter dan tanpa penambahan starter. Signifikasi penambahan starter darah sapi (p=0,00), penambahan starter rumen sapi (p=0,00), penambahan starter bonggol pisang (p=0,00).

PEMBAHASAN

Pengamatan Fisik Pada Akhir Proses Pengomposan

Tabel 1 merupakan hasil pengamatan pembuatan kompos. Kompos dengan penambahan starter rumen sapi membutuhkan waktu paling cepat dalam proses dekomposisi bahan organik yaitu 20 hari untuk menguraikan bahan organik. Padahal proses pembuatann yang terjadi secara alami berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Pembuatan kompos memerlukan waktu 2-3 bulan bahkan ada yang memerlukan waktu hingga 6-12 bulan tergantung dari bahan baku. Kecepatan waktu degradasi yang dibutuhkan dalam proses pengomposan diduga karena adanya keberadaan mikroorganisme yang ada berjumlah cukup banyak bila dibandingkan dengan darah sapi dan bonggol pisang.

Dalam rumen sapi terdapat mikroba aerob dan anaerob yang secara alami ada didalamnya, salah satunya bakteri pencerna selulosa, seperti Bacteroides succinogenes, Ruminococcus flavepaciens, Ruminococcus albus, Butyrivibrio fibriosolvens dan bakteri pencerna hemiselulosa, seperti Butyrivibrio fibriosolvens, Bacteriodes ruminicola dan Ruminicoccus sp (Yuli, 2012). Genus Bacillus dengan spesies Bacillus megaterium dan Bacillus mycoides juga terisolasi. Genus Bacillus mampu medegradasi selulosa karena bakteri ini memiliki enzim selulase.

Berdasarkan ciri fisik, kompos yang dihasilkan dari penambahan starter rumen sapi memiliki ciri bewarna kehitaman, berbau tanah dan bertekstur remah. Perubahan ciri fisik pada waktu proses pengomposan diakibatkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh mikroba pada saat proses penguraian bahan pengomposan dan faktor pendukung lainnya seperti perubahan suhu, kelembaban, jumlah bahan organik yang digunakan dalam

(4)

ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

244

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes --- http://forikes-ejournal.com/index.php/SF proses pengomposan dan ketersediaan

oksigen (Yulipriyanto, 2010).

Nilai C/N Rasio pada Kompos Matang

C/N rasio sangat penting untuk memasok hara yang diperlukan mikroorganisme selama proses pengomposan. Karbon diperlukan mikroorganisme sebagai sumber energi untuk memecahkan bahan-bahan organik menjadi bahan yang mengandung humus dan mengoptimalkan unsur hara yang ada didalamnya dan nitrogen dibutuhkan untuk membentuk protein. Mikroorganisme akan mengikat nitrogen tetapi tergantung pada ketersedian karbon.

Dari keempat perlakuan yang memiliki C/N rasio tertinggi adalah kompos eceng gondok dengan penambahan rumen sapi. Hal ini dikarenakan rumen sapi mengandung berjuta-juta mikroorganisme bercampur dengan makanan dan air. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Mirni dkk, 2011) dalam cairan rumen terdapat bakteri selulolitik aerob yang diperoleh 7 spesies bakteri yaitu Nitrosomonas europae, Bacillus sphaericus, Cellulomonas cellulans, Cytophaga hutchinsoi, Acidothermus cellulyticus, Lactobacillus acidophilus, dan Cellvibrio mixtus. Diduga ketujuh isolat tersebut mampu mengekskresikan enzim selulase.

Hal itu juga disebabkan adanya aktivitas mikroba yang menghasilkan CO2 dan air.

Pada proses pengomposan akan terjadi penguraian bahan organik oleh mikroba. Mikroba mengambil air, oksigen, dan nutrisi dari bahan organik yang kemudian bahan organik tersebut akan mengalami penguraian dan membebaskan CO2 dan

O2. Selain itu juga didukung adanya

mikroorganisme yang ada di dalamnya. Pada pembuatan kompos eceng gondok tanpa penambahan starter dan penambahan starter dari darah sapi memiliki C/N rasio yang kurang menenuhi SNI 19-7030-2004 yang bekisar antara 10-20. Kemungkinan C/N rasio yang rendah pada kompos eceng gondok tanpa penambahan starter disebabkan karena kompos belum matang sempurna yaitu bewarna kecoklatan, tidak berbau tanah (tidak ada bau) dan bertekstur menggumpal sedangkan pada kompos eceng gondok dengan penambahan darah sapi diguga memiliki kandungan C yang rendah dan memiliki kandungan N yang tinggi.

Nilai C maupun N sangat mempengaruhi pada kematangan kompos. Meskipun secara fisik kompos dengan penambahan starter darah sapi sudah memiliki ciri berwarna hitam seperti tanah, berbau tanah dan bertekstur remah namun masih kasar. Hal ini disebabkan karena kurang optimumnya mikroorganisme yang bekerja pada proses pengomposan. Sehingga ketersediaan oksigen yang berasal dari dalam berkurang yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang ada menjadi lambat untuk menguraikan bahan organik. Begitupula dengan pembuatan kompos eceng gondok tanpa penambahan starter memiliki C/N rasio yang rendah karena tidak adanya mikroorganisme yang mendorong untuk mensuplai ketersedian karbon dan nitrogen selama proses pengomposan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Secara fisik kompos dengan penambahan starter dari rumen sapi dan bonggol pisang memiliki kualitas yang bagus yaitu berwarna kehitaman, berbau tanah dan bertekstur halus. Kadar C/N rasio yang memenuhi SNI 19-7030-2004 adalah kompos eceng gondok dengan penambahan starter rumen sapi (16,70) dan bonggol pisang (10,47). Waktu tercepat proses pengomposan adalah kompos eceng gondok dengan penambahan starter rumen sapi yaitu selama 20 hari.

Saran

Dalam proses pengomposan, bahan baku yang digunakan jangan terlalu sedikit (>3kg ) sehingga bisa mempercepat proses dekomposisi bahan. Pembuatan kompos yang paling cepat menggunakam penambahan starter rumen sapi akan tetapi dalam pengaplikasiannya untuk masyarakat desa lebih cocok menggunakan bonggol pisang karena mudah didapatkan. Dalam penelitian berikutnya perlu dilakukan penambahan bahan tertentu untuk mengurangi kelembaban pada saat proses pengomposan karena kemungkinan bisa mempercepat proses pengomposan, perlu dilakukan pengaplikasiannya ke tanaman untuk melihat percepatan pertumbuhan dan perkembangbiakan dari kompos yang diberikan serta membandingkan antara batang dan daun eceng gondok untuk

(5)

ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

245

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes --- http://forikes-ejournal.com/index.php/SF dijadikan bahan baku dalam proses

pengomposan.

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia Redaksi, 2008. Cara Praktis Membuat Kompos. Jakarta, PT Agromedia Pustaka. Hal 13-14, 21-22, 35-36.

Badan Standardisasi Nasional. 2004. SNI : 19-7030-2004. Spesifikasi Kompos Dari Sampah Organik Domestik

Fitriani, Ayu, 2016. Pengaruh Variasi Volume Rumen Sapi Sebagai Bioaktivator Pembuatan Kompos Dari

Sampah Rumah Tangga.

Http://Digilib.Unila.Ac.Id/23121/12/Skrips i Tanpa Bab Pembahasan.pdf.

Gerbono Anton., Abbas. 2009. Teknologi Tepat Guna Kerajinan Enceng Gondok. Kanisius. Cetakan ke 5. https://books.google.co.id/books?id=SeT T4J_D5hQC&printsec=frontcover&dq=k erajin+eceng+gondok&hl=id&sa=X&ved =0ahUKEwimlf6hmbbSAhXCtpQKHSp8 BfEQ6AEIGzAA#v=onepage&q=kerajin %20eceng%20gondok&f=false.

Hastin Ernawati., Nur Chusnul Chotimah., Susi Kresnatita., Gusti Irya Ichriani. 2015. Pemanfaatan Limbah Darah Sapi Dan Kiambang Sebagai Pupuk Ramah Lingkungan Untuk Mendukung Pertanian Lahan Gambut Yang Berkelanjutan. Pengabdian Kepada Masyarakat 14 (1): 13–17. http://ojs.unud.ac.id/index.php/jum/articl e/view/13205. 3 Desember 2016

Kesumaningwati, Roro. 2015. Penggunaan Mol Bonggol Pisang (Musa Paradisiaca) Sebagai Dekomposer Untuk Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit. Ziraa’ah Majalah Ilmiah Pertanian

40 (2): 40–45.

http://ojs.uniska.ac.id/index.php/ziraah/a rticle/view/96/91.

Mirni Lamid., tri Prasetyo Nugroho., Sri Chusniati., Kusriningrum Rochiman. 2011. Eksplorasi Bakteri Selulotik Asal Cairan Rumen Sapi Potong Sebagai Bahan Inokulum Limbah Pertanian. Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan,Universitas Airlangga 4 (1): 37– 42. http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-7_Jurnal FKH_Eksplorasi Bakteri Selulolitik.pdf.

Simamora Suhut., Salundik. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Jakarta, PT Agro Media Pustaka. Hal : 10-22.

Trihadiningrum., Rina Yani L,. Yulianah. 2013. Pemanfaatan Biomassa Eceng Gondok Sisa Pengolahan Tekstil Pencelupan Benang Sebagai Penghasil

Biogas. 1–13.

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10749-Paper.pdf. Yuli Andriani., Sukaya Sastrawibawa., Ratu

Safitri., Abun. 2012. Isolasi Dan Identifikasi Mikroba Selulotik Sebagai Biodegradator Serat Kasar Dalam Bahan Pakan Dari Limbah Pertanian.

IJAS 2: 100–105.

http://download.portalgaruda.org/article. php?article=104201&val=1389.

Yulipriyanto, Heironymus, 2010. Biologi Tanah Dan Strategi Pengelolaannya. Yogyakarta, Graha Ilmu. Hal : 159-166.

Gambar

Tabel 1. Hasil Pengamatan Sifat Fisik Pada  Akhir Proses Pengomposan

Referensi

Dokumen terkait

Gambaran sinyal ECG pada subjek pre exercise pada awalnya dalam kondisi normal, setelah menjalankan exercise selama 15 menit dan minum minuman.. Sedangkan pada

Jumlah obyek yang dapat diamati Unit Laboratorium UPTD Puskesmas Ngadiluwih pada bulan Maret 2015 sebanyak 561 objek.Hasil penghitungan supply maksimum di Poli Gigi

Desain penelitian ini adalah cross sectional. Untuk kelas XII peneliti tidak melakukan penelitian berhubung siswa kelas XII sibuk mempersiapkan diri untuk

Sampel dalam penelitian ini adalah penduduk yang berumur >18 tahun di wilayah kerja Puskesmas Binanga, menderita hipertensi primer atau tidak sebanyak 228

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa status merokok dengan kejadian TB paru tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.(Rukmini,

Peningkatan ini dikarenakan sebelum adanya program JAMPERSAL masih ada kasus penapisan persalinan yang tidak tertangani dikarenakan faktor finansial maka dengan

Pada Ny.S hari pertama mendapatkan skor 12 yaitu insomnia ringan setelah dilakukan terapi wudhu skor menjadi 3 yaitu tidak insomnia, dan pada Tn.T hari pertama mendapatkan skor 10 yaitu

Hilda Meriyandah Agil Program studi Keperawatan dan Ners, STIKes Medistra Indonesia; [email protected] telah melalui rangkaian proses perbaikan, dan akhirnya bisa ”DITERIMA”