• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENELITIAN KESEHATAN SUARA FORIKES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL PENELITIAN KESEHATAN SUARA FORIKES"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

i Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

JURNAL PENELITIAN KESEHATAN SUARA FORIKES

Diterbitkan oleh:

FORUM ILMIAH KESEHATAN (FORIKES)

Penanggungjawab:

Ketua Forum Ilmiah Kesehatan

Pemimpin Redaksi:

Subagyo, S.Pd, M.M.Kes

Anggota Dewan Redaksi:

H. Trimawan Heru Wijono, S.K.M, S.Ag, M.Kes H. Sukardi, S.S.T, M.Pd

Hj. Rudiati, A.P.P, S.Pd, M.M.Kes

Penyunting Pelaksana:

Budi Joko Santosa, S.K.M, M.Kes Handoyo, S.S.T

Suparji, S.S.T, M.Pd

Sekretariat:

Hery Koesmantoro, S.T, M.T Ayesha Hendriana Ngestiningrum, S.S.T

Sri Martini, A.Md

Alamat:

Jl. Cemara RT 01 RW 02 Ds./Kec. Sukorejo, Ponorogo Kode Pos: 63453 Telepon: 085235004462

Jl. Danyang-Sukorejo RT 05 RW 01 Serangan, Sukorejo, Ponorogo Kode Pos: 63453 Telepon: 081335718040

E-mail dan Website:

[email protected] dan www.suaraforikes.webs.com

Terbit setiap tiga bulan, terbit perdana bulan Januari 2010 Harga per-eksemplar Rp. 25.000,00

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume V

Nomor 2

Halaman 64 - 119

April 2014

ISSN 2086-3098

(2)

ii Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

EDITORIAL PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL

Salam dari Redaksi

Para pembaca yang budiman, kali ini kita bisa berjumpa kembali dengan media publikasi kita Jurnal Penelitian Kesehatan ”Suara Forikes”, Volume V Nomor 2, Bulan April 2014.

Seperti biasanya kami sajikan sepuluh artikel hasil penelitian dalam bidang kesehatan dari berbagai belahan tanah air kita Indonesia tercinta. Kali ini telah hadir para sejawat dengan hasil- hasil penelitian dari Medan dan Pematangsiantar Sumatera Utara, Surabaya, Jember, dan Magetan Jawa Timur, serta Bengkulu. Untuk itu kami sampaikan perhargaan yang setinggi-tingginya atas partisipasi Anda semua.

Kami berharap agar para penyumbang naskah publikasi ilmiah lebih meningkatkan kualitas penelitiannya, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas penelitian di tanah air kita secara umum.

Jika ingin mendapatkan keterangan lebih jauh, para pembaca dapat menghubungi kami melalui surat, telepon, atau e-mail. Para pembaca dapat pula menikmati isi jurnal ini melalui publikasi website kami www.suaraforikes.webs.com, serta portal PDII LIPI.

Terimakasih, semoga bisa berjumpa kembali dalam penerbitan berikutnya pada bulan Juli 2014 yang akan datang.

Redaksi

Kami menerima artikel asli berupa hasil penelitian atau tinjauan hasil penelitian kesehatan, yang belum pernah dipublikasikan, dilengkapi dengan: 1) surat ijin atau halaman pengesahan, 2) jika peneliti lebih dari 1 orang, harus ada kesepakatan urutan peneliti yang ditandatangani oleh seluruh peneliti. Dewan Redaksi berwenang untuk menerima atau menolak artikel yang masuk, dan seluruh artikel tidak akan dikembalikan kepada pengirim. Dewan Redaksi juga berwenang mengubah artikel, namun tidak akan mengubah makna yang terkandung di dalamnya. Artikel berupa karya mahasiswa (karya tulis ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, dsb.) harus menampilkan mahasiswa sebagai peneliti utama.

Persyaratan artikel adalah sebagai berikut:

1. Diketik dengan huruf Arial 9 dalam 2 kolom, pada kertas HVS A4 dengan margin kiri, kanan, atas, dan bawah masing-masing 3,5 cm.

2. Jumlah maksimum adalah 10 halaman, berbentuk softcopy (flashdisk, CD, DVD atau e-mail).

Isi artikel harus memenuhi sistematika sebagai berikut:

1. Judul ditulis dengan ringkas dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris tidak lebih dari 14 kata, menggunakan huruf kapital dan dicetak tebal pada bagian tengah.

2. Nama lengkap penulis tanpa gelar ditulis di bawah judul, dicetak tebal pada bagian tengah. Di bawahnya ditulis institusi asal penulis.

3. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dicetak miring. Judul abstrak menggunakan huruf kapital di tengah dan isi abstrak dicetak rata kiri dan kanan dengan awal paragraf masuk 1 cm. Di bawah isi abstrak harus ditambahkan kata kunci.

4. Pendahuluan ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan dan paragraf masuk 1 cm.

5. Metode ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Isi bagian ini disesuaikan dengan bahan dan metode penelitian yang diterapkan.

6. Hasil Penelitian ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Kalau perlu, bagian ini dapat dilengkapi dengan tabel maupun gambar (foto, diagram, gambar ilustrasi dan bentuk sajian lainnya).

Judul tabel berada di atas tabel dengan posisi di tengah, sedangkan judul gambar berada di bawah gambar dengan posisi di tengah.

7. Pembahasan ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Pada bagian ini, hasil penelitian ini dibahas berdasarkan referensi dan hasil penelitian lain yang relevan .

8. Simpulan dan Saran ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Simpulan dan saran disajikan secara naratif.

9. Daftar Pustaka ditulis dalam Bahasa Indonesia, bentuk paragraf menggantung (baris kedua dan seterusnya masuk 1 cm) rata kanan dan kiri. Daftar Pustaka mengacu pada Sistim Harvard.

Redaksi

(3)

iii Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes DAFTAR JUDUL

No Judul dan Penulis Halaman

1 PENGARUH TEKNIK RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA LANSIA YANG MENGALAMI ARTRITIS REUMATOID TAHUN 2013

Agustina Boru Gultom

64 - 68

2 KUALITAS LAYANAN PEMBELAJARAN LABORATORIUM KEBIDANAN PRODI DIII KEBIDANAN MAGETAN

N. Surtinah

69 – 72

3 PENGARUH STIMULASI DENGAN BACAAN AL QURAN SECARA MUROTAL TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELLITUS DI BENGKULU

Mulyadi, Derison Marsinova Bakara, Surani Warsito

73 – 78

4 HUBUNGAN SUPPORT SYSTEM KELUARGA DENGAN ANSIETAS ANAK DALAM PROSES HOSPITALISASI ANAK DI RSUD CURUP REJANG LEBONG TAHUN 2013

Andri Mulyadi, Derison Marsinova Bakara, Yusniarita

79 – 82

5 HUBUNGAN USIA MENARCHE DINI DENGAN USIA MENOPAUSE DINAGORI SAHKUDA BAYU KECAMATAN GUNUNG MALELA KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2013

Kandace Sianipar

83 – 90

6 HUBUNGAN BERAT BADAN JANIN DENGAN LAMA KALA II PADA PRIMIGRAVIDA

Sutrisno, Dian Aby Restanty

91 – 95

7 EFISIENSI POLY ALUMINIUM CHLORIDE (PAC), ALUMINIUM SULFAT (TAWAS) DAN FERRO SULFATE SEBAGAI KOAGULAN DALAM MENURUNKAN TSS AIR LIMBAH RUMAH SAKIT

Hery Koesmantoro, Noor Kamilatul Azizah, Handoyo

96 – 101

8 PEREMPUAN , CANTIK DAN MEDIA MASSA (STUDI SOSIOLOGIS TENTANG PEREMPUAN, CANTIK DAN PENGARUH MEDIA MASSA)

Liliek Soetjiatie

102 - 110

9 PENGARUH PEMBERIAN KAPSUL SARANG SEMUT (MYRMECODIA PENDANS) TERHADAP PERUBAHAN HIPERTENSI PADA WANITA MENOPAUSE DI DESA ANTIROGO KABUPATEN JEMBER

Gumiarti, Yuniasih

111 - 115

10 PENGARUH HYPNOBIRTHING DENGAN RELAKSASI MUSIK TERHADAP INTENSITAS RASA NYERI DAN LAMA KALA I PERSALINAN NORMAL DI BPS KABUPATEN NGAWI

Rahayu Sumaningsih

116 - 119

(4)

64 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN

TINGKAT NYERI PADA LANSIA YANG MENGALAMI ARTRITIS REUMATOID

TAHUN 2013

Agustina Boru Gultom (Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan)

ABSTRAK

Pendahuluan: Teknik relaksasi progresif adalah suatu gerakan yang menegangkan dan melemaskan secara berurutan 10 kelompok otot tubuh, dimulai dari kelompok otot paha dan kaki, pergelangan tangan, lengan bawah, lengan atas, perut, dada, punggung, bahu, leher, dan wajah (Maryam, 2010). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada lanjut usia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan one group pre test post test design yang dilakukan pada 15 orang responden, untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada lanjut usia yang mengalami rematik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa setelah dilakukan teknik relaksasi progresif terjadi penurunan frekuensi tingkat nyeri dari rata- rata 5,9 menjadi 4,2. Dari hasil uji t dependent test didapatkan bahwa hasil t hitung 11,33. Hasil t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 1,76. T tabel didapatkan dengan menggunakan tabel t dengan menggunakan derajat kebebasan n-1 = 14 dan α = 0,05.

Kesimpulan: Ada perbedaan sebelum dan sesudah dilakukannya teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat nyeri.

Saran: Teknik relaksasi progresif merupakan teknik yang aman dan sederhana sehingga disarankan kepada lanjut usia untuk dapat melakukannnya secara mandiri dan teratur dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu selama 2 minggu.

Kata Kunci:

Relaksasi progresif, nyeri, lansia

PENDAHULUAN Latar Belakang

Usia lanjut adalah proses alami yang tidak dapat dihindarkan. Proses menjadi tua disebabkan oleh faktor biologik yang terdiri dari 3 fase yaitu fase progresif, fase stabil dan fase regresif. Dalam fase regresif, mekanisme lebih kearah kemunduran yang dimulai dalam sel, komponen terkecil dari tubuh manusia. Sel-sel menjadi aus karena lama berfungsi sehingga mengakibatkan kemunduran yang dominan dibandingkan terjadinya pemulihan (Depkes RI, 2005).

Usia yang dijadikan patokan untuk lanjut usia berbeda-beda, umumnya berkisar antara 60-65 tahun. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada empat tahapan lanjut usia yaitu usia pertengahan antara usia 45 sampai dari 59 tahun, lanjut usia dimulai umur 60 tahun sampai dari 74 tahun, lanjut usia tua dimulai usia 75 tahun sampai dari 90 tahun dan usia sangat tua usia lebih 90 tahun (Kushariyadi, 2010).

Di Amerika Serikat, umur harapan hidup lanjut usia pada tahun 2009 adalah 65 tahun dan estimasi ke depan, angka ini akan bertambah 19 tahun lagi. Peningkatan umur lanjut usia akan menjadi ganda (double) atau bahkan triple ditahun 2030 (Aurhahn C dkk, 2010).

Populasi lanjut usia di Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi dari pada populasi lanjut usia di wilayah Asia dan global setelah tahun 2050. Bila dilihat dari struktur kependudukannya, secara global berstruktur tua dari tahun 1950. Sedangkan Asia dan Indonesia berstruktur tua dimulai dari tahun 1990 dan 2000. Walaupun dikatakan berstruktur tua tetapi jumlah penduduk <15 tahun lebih besar dari penduduk lanjut usia (60+ tahun), tetapi pada tahun 2040 baik global/dunia, Asia dan Indonesia diprediksikan jumlah penduduk lansia sudah lebih besar dari jumlah penduduk <15 tahun (Kemenkes RI, 2013).

Jumlah penduduk lanjut usia pada tahun 2006 sebesar lebih kurang 19 juta dengan usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diprediksi jumlah lanjut usia sebesar 23,9% (9,77%) dengan usia harapan hidup 67,4. Sedangkan pada tahun 2020, diprediksi jumlah lanjut usia sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia ini antara lain disebabkan karena tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, kemajuan dibidang pelayanan kesehatan dan tingkat pengetahuan masyarakat yang meningkat (Efendi dan Makhfudli, 2009).

(5)

65 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Di Amerika Serikat, tidak hanya jumlah populasi lanjut usia yang bertambah tetapi juga terjadi peningkatan prevalensi penyakit kronis. Enam puluh persen dari lanjut usia akan mengalami lebih dari satu kondisi kronis. Kegemukan akan menjadi masalah yang mayoritas mempengaruhi lebih dari satu dari tiga lanjut usia. Diperkirakan bahwa satu dari empat lanjut usia akan menderita DM dan satu dari dua lanjut usia akan menderita arthritis (Aurhahn C dkk, 2010).

Bila dilihat perkembangannya dari tahun 2005-2012, derajat kesehatan penduduk lanjut usia mengalami peningkatan yang ditandai dengan menurunnya angka kesakitan pada lanjut usia. Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2012 sebesar 26,93% artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat 27 orang di antaranya mengalami sakit. Faktor yang juga mempengaruhi kondisi fisik dan daya tahan tubuh lansia adalah pola hidup yang dijalaninya sejak usia balita. Pola hidup yang kurang sehat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, masalah umum yang dialami adalah rentannya terhadap berbagai penyakit. Di dalam Susenas dikumpulkan informasi mengenai jenis keluhan kesehatan yang umum pada lanjut usia. Keluhan kesehatan yang paling tinggi adalah jenis keluhan lainnya (32,99%) di antaranya keluhan yang merupakan efek dari penyakit kronis seperti asam urat, darah tinggi, rematik, darah rendah dan diabetes (Kemenkes RI, 2013).

Artritis Reumatoid atau rematik adalah peradangan yang kronis sistemik, progresif yang lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria dengan perbandingan 3 : 1 (Long, 1996). Artritis Reumatoid dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan artritis reumatoid akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Darmojo dan Martono, 1999).

Patogenesis penyakit artritis reumatoid ini terjadi akibat rantai peristiwa imunologi yang menyebabkan proses destruksi sendi.

(Mansjoer, 2001). Tanda dan gejalanya antara lain nyeri sendi dan bengkak, kaku pada pagi hari, spasme otot, eritema, edema. (Hogstel, 1995)

Nyeri kronis merupakan diagnosa utama pada pasien dengan artritis reumatoid yang disebabkan oleh peradangan sendi (Ignatavicius et al, 1995, Beare dan Myers, 1990). Nyeri yang terjadi bisa timbul pada satu sendi tunggal seperti pada satu jari atau dari sendi secara multipel melalui tubuh.

(Mayo Foundations, 2010)

Sejumlah penduduk di Amerika Serikat hidup dengan berbagai bentuk artritis, dengan berbagai level tingkat nyeri. Tetapi diantara penduduk dengan gejala dan tanda yang sama, tidak semua dapat mengatasi dengan cara yang sama. Sebagian memperlihatkan perasaan tidak berdaya menghadapi penyakit yang dapat mengontrol nyeri dan keterbatasan gerak. Namun sebagian lagi berfokus apa yang bisa dilakukan dan mencoba tidak menyerah dengan keterbatasan. (Mayo Foundations, 2010)

Artritis Reumatoid yang terjadi pada usia lanjut ternyata memiliki perbedaan dalam hal prognosis dan terapinya bila dibandingkan dengan artritis reumatoid yang dimulai pada usia yang lebih muda. Efek sebagian besar bentuk arthritis dapat menimbulkan perubahan yang cukup besar pada gaya hidup pribadi dan bisa mengancam kemandirian seseorang. (Smeltzer dan Bare, 2002)

Terapi farmakologik yang diberikan pada pasien artritis reumatoid berupa analgesik, antipiretik dan anti inflamasi. (Ignatavicius et al, 1995). Namun, terapi farmakologik penyakit arthritis reumatoid pada pasien berusia lanjut lebih sulit dibandingkan pada pasien berusia lebih muda. Jika obat-obatan yang digunakan memiliki efek pada indera (pendengaran, kognitif), efek ini akan semakin intensif pada lanjut usia. Efek komulatif obat-obatan menjadi semakin menonjol karena perubahan fisiologik dalam proses penuaan. Sebagai contoh, penurunan faal ginjal pada lanjut usia akan mengubah metabolisme obat NSAID/Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs (Smeltzer dan Bare, 2002)

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri arthritis reumatoid pada lanjut usia adalah dengan menggunakan teknik relaksasi progresif.

Teknik relaksasi progresif mempunyai rasional yaitu untuk meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol, dan meningkatkan kemampuan koping (Kushariyadi, 2010).

Teknik relaksasi, merupakan bentuk spesifik dari distraksi adalah pertama-tama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan berbagai keuntungan. Penggunaan teknik ini dapat mengurangi cemas klien akibat nyeri, menurunkan nyeri tegang otot, memberikan keuntungan maximal untuk periode istirahat dan tidur, meningkatkan efektifitas dari terapi nyeri yang lain dan menurunkan ketidakberdayaan dan depresi berkaitan dengan nyeri. (Kozier et al, 1991).

Penelitian Dewi D dkk tentang pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan persepsi nyeri pada lanjut usia

(6)

66 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

dengan arthritis reumatoid di Panti Wredha Griya Asih Lawang, didapatkan Z hitung (2,865) lebih besar dari Z tabel. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan persepsi nyeri pada lanjut usia dengan arthritis reumatoid.

Berdasarkan studi pendahuluan pada UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kisaran Dan Rantau Prapat Kabupaten Asahan didapatkan dari data dari studi dokumentasi, ada 33 orang lanjut usia, diantaranya ada 15 orang yang pernah mengeluh nyeri artritis reumatoid. Berdasarkan wawancara kepada 8 orang lansia yang mengalami artritis rheumatoid, 6 orang lanjut usia mengatakan bahwa untuk mengurangi nyeri arthritis rheumatoi hanya dilakukan dengan pengobatan medis dan 2 orang lanjut usia lainnya melakukan pengobatan medis dan alternatif, (pengobatan diluar farmakologi seperti olahraga pada pagi hari).

Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada lansia yang mengalami artritis reumatoid.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain quasi ekperimental tanpa kelompok kontrol dengan metode One Group Pre test-Post test Design. Rancangan ini hanya menggunakan satu kelompok sampel yang diwawancara sebanyak dua kali yaitu wawancara sebelum experimen (01) disebut pre test dan wawancara setelah experimen (02) disebut post test. Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Lanjut Usia Kisaran Dan Rantau Prapat Kabupaten Asahan dari bulan Juli sampai dari Desember 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lanjut usia sebanyak 33 lanjut usia. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 orang lanjut usia yang pernah mengeluh nyeri artritis rheumatoid.

Responden yang bersedia mengikuti penelitian dan memenuhi kriteria penelitian diberi pre-test dengan menggunakan lembar kuesioner untuk mengukur keluhan tingkat nyeri yang terjadi pada lanjut usia.

Pemberian teknik relaksasi otot progresif dilakukan 4 kali dalam seminggu selama 2 minggu dan dilakukan pada pagi hari pada pukul 09.00 wib dan pada sore hari pukul 16.00 wib.Waktu yang digunakan untuk pelaksanaan terapi ini antara 20-30 menit.

Setelah 2 minggu peneliti melakukan post- test dengan menggunakan kuesioner yang

sama untuk mengukur keluhan tingkat nyeri lanjut usia setelah pemberian teknik relaksasi otot progresif. Data yang diperoleh dikumpulkan dan kemudian dianalisis.

Adapun aspek pengukuran nyeri yang digunakan adalah skala numerik digunakan sebagai pengganti alat pendiskripsikan kata.

skala ini efektif digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan. Dengan kategori 0 : Tidak nyeri, 1-3 : Nyeri ringan, 4-6 : Nyeri sedang, 7-9 : Nyeri berat, 10 : Nyeri paling hebat. Data dianalisis uji t dependent test dengan persamaan pre-test dan post-test one group design dengan tingkat kemaknaan ( α ) = 0,05 (Arikunto, 2010). Jika hasil perhitungan t hitung lebih besar dari pada t tabel, maka secara statistik Ho ditolak berarti ada pengaruh atau ada perbedaan.

HASIL PENELITIAN

Setelah dilakukan penelitiant terhadap 15 orang lanjut usia yang mengalami nyeri arthritis rheumatoid maka didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Variabel Frekuensi Persentase Usia

60 – 69 70 – 79 80 - 89

3 10

2

20%

67%

13%

Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan

3 12

20%

80%

Suku

Batak Melayu Jawa

9 4 2

60%

27%

13%

Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik responden, sebagian besar responden berusia antara 70-79 tahun (67%), berjenis kelamin perempuan (80%) dan berlatarbelakang suku batak (60%).

Tabel 2. Distribusi Variabel Lanjut Usia Dengan Penurunan Tingkat Nyeri Sebelum

Dilakukan Teknik Relaksasi Progresif (pre-test) (n=15)

Variabel Mean SD Min-Maks Tingkat Nyeri

Rematik

5,9 1,58 4-8

Hasil analisis Tabel 2 bahwa responden rata-rata mengalami tingkat nyeri artritis reumatoid 5,9 sebelum dilakukan intervensi dengan standar deviasi 1,58. Nyeri terendah

(7)

67 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

pada skala 4 dan nyeri tertinggi pada skala 8.

Tabel 3. Distribusi Variabel Lanjut Usia Dengan Penurunan Tingkat Nyeri Sebelum

Dilakukan Teknik Relaksasi Progresif (post-test) (n=15)

Variabel Mean SD Min-Maks Tingkat Nyeri

Rematik

4,2 1,52 2-6

Berdasarkan Tabel 3, responden rata- rata mengalami tingkat nyeri 4,2 sesudah dilakukan intervensi dengan standar deviasi 1,52. Nyeri terendah pada skala 2 dan nyeri tertinggi pada skala 6.

Tabel 4. Analisis Hasil Penurunan Tingkat Nyeri Sebelum (Pres Test) Dan Sesudah

(Post Test) Dilakukan Teknik Relaksasi Progresif Lansia (n=15) No Pre-

Test Ket Post-

Test Ket D X X2 1. 8 Berat 6 Sedang 2 0,3 0,09 2. 8 Berat 6 Sedang 2 0,3 0,09 3. 7 Berat 5 Sedang 2 0,3 0,09 4. 4 Sedang 3 Ringan 1 -0,7 0,49 5. 5 Sedang 3 Ringan 2 0,3 0,09 6. 7 Berat 6 Sedang 1 -0,7 0,49 7. 4 Sedang 3 Ringan 1 -0,7 0,49 8. 7 Berat 5 Sedang 2 0,3 0,09 9. 4 Sedang 3 Ringan 1 -0,7 0,49 10. 5 Sedang 3 Ringan 2 0,3 0,09 11. 7 Berat 6 Sedang 1 -0,7 0,49 12. 4 Sedang 2 Ringan 2 0,3 0,09 13. 5 Sedang 3 Ringan 2 0,3 0,09 14. 6 Sedang 3 Ringan 3 1,3 1,69 15. 8 Berat 6 Sedang 2 0,3 0,09

Jml 89 63 2 0,5 4,95

Hasil analisis Tabel 4 menunjukkan bahwa responden sebelum dilakukan teknik relaksasi progresif terdapat nyeri berat sebanyak 7 responden dan nyeri sedang sebanyak 8 responden. Sedangkan setelah dilakukan teknik relaksasi progresif terdapat nyeri sedang sebanyak 7 responden dan nyeri ringan 8 responden. Hasil t hitung sebesar 11,33 lebih besar dari t tabel 1,76 dengan derajat kebebasan n=14 dan α = 0,05 menunjukkan bahwa ada perbedaan penurunan tingkat nyeri responden antara sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif.

PEMBAHASAN

Patofisiologi arthritis rheumatoid adalah dinisiasikan dengan adanya respon peradangan akibat agen external dimana agen itu meningkat jumlahnya didalam aliran

darah menuju sendi yang terinflamasi.

Tanda utana peradangan adalah kehilangan fungsi dan nyeri. (Beare dan Myers, 1990).

Nyeri merupakan masalah utama yang dilaporkan pasien lanjut usia dengan arthritis rheumatoid. Nyeri adalah perasaan tidak nyaman yang betul-betul subjektif dan hanya orang yang menderitanya dapat menjelaskan dan mengevaluasi. (Long, 1996). Setiap orang yang mengalami nyeri, akan berusaha mencari cara untuk mengurangi nyeri.

Responden yang mengalami nyeri artritis reumatoid berupaya agar nyeri yang dialami dapat berkurang. Hal ini adalah keinginan dari mereka yang mengalami nyeri agar supaya ketika penurunan nyeri terjadi, mereka dapat melakukan aktifitas sehari-hari dengan lebih baik. Long mengungkapkan bahwa mengurangi nyeri dan tidak nyaman yang hebat merupakan intervensi keperawatan utama yang memerlukan ketrampilan seni dan pengetahuan keperarawatan.

Tujuan pokok teknik relaksasi adalah untuk menahan terbentuknya respon stress, terutama dalam sistem saraf dan hormone.

(National Safety Council, 2004). Ada empat komponen utama dari teknik relaksasi yaitu :1) lingkungan yang tenang (menghindarkan sebanyak mungkin kebisingan dan gangguan-gangguan),2)posisi yang nyaman (duduk tanpa ketegangan otot,3) sikap yang dapat diubah (mengosongkan semua pikiran-pikiran dari alam sadar),4) keadaan mental (memusatkan perhatian pada suara, kata-kata, imaginasi untuk merubah pikiran- pikiran secara internal menjadi pikiran yang lebih dapat diterima). (Long, 1996).

Relaksasi progresif memberikan cara mengindentifikasi otot dan kumpulan otot tertentu serta membedakan antara perasaan tegang dan relaksasi dalam. (Davis et al, 1995). Relaksasi progresif terdiri dari peregangan dan relaksasi sekelompok otot dan memfokuskannya perasaan relaksasi.

Teknik relaksasi progresif adalah suatu gerakan yang menegangkan dan melemaskan secara berurutan 10 kelompok otot tubuh, dimulai dari kelompok otot paha dan kaki, pergelangan tangan, lengan bawah, lengan atas, perut, dada, punggung, bahu, leher, dan wajah (Maryam, 2010).

Aplikasi yang sistematis dari relaksasi progresif ini mempunyai tiga efek utama yaitu 1) kelompok otot yang telah mengalami relaksasi maka akan lebih rileks lagi, 2) tiap- tiap kelompok utama rileks secara bergantian, 3) lebih banyak jumlah relaksasi yang dialami seseorang, maka orang itu akan bergerak menuju phase relaksasi (Long, 1996)

(8)

68 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Penelitian ini membuktikan bahwa adanya pengaruh pemberian teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat nyeri.

Hal ini didasarkan uji hipotesa dengan t- dependent test dengan menggunakan persamaan pre-test dan post-test one group design, dimana hasil t hitung sebesar 11,33 lebih besar dari t tabel 1,76 dengan derajat kebebasan n=14 dan α = 0,05. Hal ini sejalan dengan teori yang dinyatakan Long (1996) bahwa teknik relaksasi membantu relaksasi otot pada pasien yang mengalami nyeri atau ketidak nyamanan. Ini sesuai juga dengan pendapat Kushariyadi (2010) bahwa salah satu penanganan nyeri pasien artritis rheumatoid adalah teknik relaksasi progresif dengan rasional adalah meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan meningkatkan kemampuan koping.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan penurunan tingkat nyeri responden antara sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi progresif. Dengan demikian disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada lanjut usia dengan artritis reumatoid.

Saran

Disarankan agar perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada pasien lanjut usia yang mengalami nyeri akibat artritis reumatoid dapat menggunakan teknik relaksasi progresif sebagai salah satu intervensi untuk mengurangi nyeri akibat artritis reumatoid pada lanjut usia. Teknik relaksasi progresif merupakan teknik yang aman dan sederhana sehingga diharapkan kepada lanjut usia untuk dapat melakukannya secara mandiri dan teratur dengan frekuensi 2 kali seminggu.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Beare dan Myers, 1990. Principles and Practice of Adult Health Nursing, St.

Louis: C.V Mosby Company

Darmojo dan Martono, 1999. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Jakarta: Balai Penerbit FK UI

Depkes. 2005. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan

Davis et al, 1995. Panduan Relaksasi &

Reduksi Stress. Terjemahan, Jakarta:

EGC

Dewi dkk, 2009. Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Persepsi Nyeri Pada Lansia Dengan Artritis Reumatoid, Malang: Jurnal Keperawatan Soedirman Volume 4, No.2 Juli 2009

Gallo et al, 1998. Buku Saku Gerontologi.

Terjemahan, Jakarta: EGC

Hogstel, 1995. Clinical Manual of Gerontological Nursing, St.Louis: Mosby Year Book

Ignatavicius et al, 1995. Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, Philadelphia : W.B Saunders Company Kozier et al, 1991. Fundamental Of Nursing.

Concepts, Process and Practice, California: Addison Wesley

Kushariyadi, 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Lanjut Usia, Jakarta: Salemb Long, 1996. Perawatan Medikal Bedah.

Terjemahan, Bandung: Yayasan IAPK Padjadjaran.

Mansjoer dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius FK UI

Maryam, S. d. (2010). Buku Panduan Bagi Kader Posbindu Lansia. Jakarta: Trans Info Media

Mubarak dkk, 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas. Konsep dan Aplikasi, Jakarta:

Salemba Medika

Mayo Foundation for Medical Education and Research, 2010. Arthritis. Reducing pain, overcoming obstacles and leading an active life, USA

National Safety Council, 2004. Manajemen Stress. Terjemahan, Jakarta : EGC Oswari, 1997. Menyongsong Usia Lanjut

Dengan Bugar Dan Bahagia, Jakarta : Penebar Swadaya

Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, ISSN 2088-270X

Smeltzer dan Bare, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.

Terjemahan, Jakarta: EGC

(9)

69 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

KUALITAS LAYANAN PEMBELAJARAN LABORATORIUM KEBIDANAN

PRODI DIII KEBIDANAN MAGETAN

N. Surtinah

(Prodi Kebidanan Magetan, Poltekkes Kemenkes Surabaya)

ABSTRAK

Pendahuluan: Keberhasilan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh mutu layanan yang diberikan, di mana pelayanan yang bermutu dapat diidentifikasi melalui kepuasan pelanggan dalam hal ini adalah mahasiswa.

Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepuasan mahasiswa dalam layanan pembelajaran di laboratorium. Subyek penelitian adalah seluruh mahasiswa semester III Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya (69 orang).

Pengumpulan data menggunakan Kuesioner. Analisis data secara deskriptif, berupa distribusi frekuensi. Hasil: Dari keenam indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan pembelajaran laboratorium mahasiswa yang merasa puas adalah 27- 64%. Kepuasan terendah ada pada indikator kenyamanan. Sedangkan angka tertinggi pada indikator ketepatan waktu dosen dalam penyelenggaraan pembelajaran di laboratorium. Tingkat kepuasan netral juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, sebesar 10-48%. Saran: Dari hasil penelitian tersebut disarankan perlu upaya peningkatan mutu pelayanan Laboratorium Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya harus dilakukan agar mampu berkembang melalui beberapa hal seperti (1) penetapan standar kerja pada bagian penting dalam pelayanan mahasiswa, misalnyabagian laboratorium kebidanan, (2) peningkatan kemampuan dosen secara terus menerus, (3) Studi banding pada perguruan tinggi lain untuk menemukan kelebihan dan kelemahan prodi yang sering dijadikan mahasiswa untuk membandingkan pelayanan.

Kata kunci:

Laboratorium kebidanan, layanan, kepuasan

PENDAHULUAN Latar Belakang

Menurut Permenkes RI No 890/menkes/Per/VIII/2007 tentang organisasi dan tata kerja Poltekkes bahwa,Politeknik Kesehatan adalah unit pelaksana teknis (UPT) di lingkungan kemenkes yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan.Poltekkes dipimpin oleh seorang Direktur dan melaksanakan tugas sehari hari secara teknis fungsional dibina oleh Kepala Pusdiklatnakes.

Adapun tujuan dari Diknakes adalah menghasilkan tenaga yang profesional memiliki kemampuan untuk bekerja secara mandiri, sehingga diperlukan penyelenggaran yang berkualitas salah satu nakes adala prodi DIII kebidanan kampus Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya.

Prodi Kebidanan Magetan telah melaksanakan Pelayanan Mutu Penyelenggaaan Pendidikan Tinggi meliputi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), diantaranya Evaluasi layanan laboratorium Kebidanan belum ada yang melaksanakannya.

Menurut Nugroho, HSW (2011) kualitas layanan termasuk di dalamnya layanan laboratorium Kebidann di Prodi Kebidanan Magetan, paling baik diukur dari sudut pandang konsumen dalam hal ini adalah mahasiaswa. Jika mahsiaswa menyatakan puas, berarti layanan laboratorium kebidanan berkualitas sebaliknya jika mahasiswa menyatakan tidak puas berarti layanan tersebut tidak berkualitas. Dengan kata lain layanan laboratorim kebidanan yang berkualitas adalah layanan yang mampu memberikan kepuasan kepada mahasiaswa. Untuk itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian layanan labortorium Kebidanan.

Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran layanan laboratorium Kebidanan di Prodi DIII Kebidanan Kampus Magetan

Tujuan Penelitian

Dapat mengetahui layanan laboratorium Kebidanan di Prodi DIII Kebidanan Kampus Magetan

(10)

70 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk mengidentifikasi atau menggambarkan tingkat kepuasan mahasiswa dalam layanan pembelajaran di laboratorium. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya, terdiri atas mahasiswa semester 3 sebanyak 69 orang dan semua diteliti. Variabel dalam penelitian adalah tingkat layanan labolatorim kebidanan meliputi kenyamanan, keselamatan, sikap instruktur, ketepatan waktu dan faktor pendukung. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner. Analisis data secara deskriptif, berupa data distribusi frekuensi dan persentase.

HASIL PENELITIAN Indikator Kepuasan

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Mahasiswa dalam Layanan Pembelajaran Laboratorium Kebidanan Indikator Kepuasan (f) (%) Kenyamanan

-Sangat Tidak Puas -Tidak Puas -Nutral -Puas -Sangat Puas Keselamatan

-Sangat Tidak Puas -Tidak Puas -Nutral -Puas -Sangat Puas Sikap Instruktur

-Sangat Tidak Puas -Tidak Puas -Nutral -Puas -Sangat Puas Ketepatan Waktu

-Sangat Tidak Puas -Tidak Puas -Nutral -Puas -Sangat Puas Sarana Pendukung

-Sangat Tidak Puas -Tidak Puas -Nutral -Puas -Sangat Puas

0 17 33 19 0 0 4 32 33 0 0 0 14

7 44

1 14

7 44

3 1 8 23 33 4

0 25 48 27 0 0 6 46 48 0 0 0 23 54 23 1 20 10 64 5 1 12 33 46 6 Dari hasil penelitian gambaran layanan laboratorium Kebidanan dapat di simpulkan sebagai bahwa keenam indikator yang

digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan pembelajaran laboratorium mahasiswa yang merasa puas sebesar 27-64%. Angka yang paling rendah tingkat kepuasan mahasiswa dalam mempersepsikan layanan pembelajaran dilaboratorium terlihat pada indikator kenyamanan. Sedangkan angka yang paling tinggi tingkat kepuasan mahasiswa dalam mempersepsikan layanan pembelajaran dilaboratorium terlihat pada indikator ketepatan waktu dosen dalam penyelenggaraan pembelajaran di laboratorium.

Penilaian tingkat kepuasan yang netral dari mahasiswa dalam mempersepsikan pelayanan laboratorium juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, ke enam indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan pembelajaran laboratorium mahasiswa yang merasa biasa saja atau netral sebesar 10- 48%. Angka yang paling rendah sikap netral mahasiswa dalam mempersepsikan layanan pembelajaran dilaboratorium terlihat pada indikator ketepatan waktu. Sedangkan angka yang paling tinggi sikap netral mahasiswa dalam mempersepsikan layanan pembelajaran di laboratorium terlihat pada indikator kenyamanan dalam penyelenggaraan pembelajaran di laboratorium.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukan bahwa secara umum mahasiswa merasa puas. Hal ini menunjukan kualitas layanan laboratorium kebidan kampus Magetan berkualitas tinggi.

Sesuai dengan pendapat Tjiptono (2006), kepuasan pelangan merupakan respon pelangan terhadap evaluasi ketidak sesuaian yang di rasakan antara harapan tentang kinerja dengan kinerja aktual yang dirasakan setelah pemakaianya. Dapat dikatakan kepuasan pelangan sebagai suatu keadan terpenuhinya kebutuhan pelanggan, dalam arti semua yang dibutuhkan dapat diterima sesuai kriteria yang diinginkan. Sugito (2005) mengatakan bahwa makin tinggi kapasitas kebutuhan yang terpenuhi makin tinggi pula kepuasan yang diterimanya.

Seperti telah di sebutkan di atas, jika mutu adalah keinginan untuk memuaskan dan kepuasan adalah rasa senang atas kinerja jasa yang dihasilkan, maka jika mutu jasa dibandingkan dengan tingkat kepuasan didapatkan suatu hubungan bahwa kepuasan akan menghasilkan penerimaan pelayanan. Dengan kata lain menimbulkan kepuasan.

(11)

71 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Salah satu pelayanan yang dirasakan mahasiswa sebagai pelanggan di laboratorium Prodi Kebidana Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya adalah dalam hal pembelajaran laboratorium kebidanan. Mahasiswa mempunyai harapan terhadap proses pembeljaran laboratoriun kebidan yang di berikan dosen. Bila mahasiswa merasa proses belajar yang di berikan dosen sesuai dengan yang diharapkan, mereka akan merasa puas dan mengatakan bahwa mutu pembelajaran laboratorium sudah baik.

Dalam penyelenggaran laboratorium kebidanan yang terorganisasi, penetapan mutu, merupakan upaya yang sangat penting karena mutu kinerja sering menentukan kelangsungan pengelolaan laboratorium kebidanan tersebut.

Mahasiswa dalam manajemen mutu perguruan tinggi merupakan pelanggan yang harus dipuaskan. Untuk memberikan kepuasan dalam pelayan laboratorium kebidanan kepada mahasiswa, perlu diketahui faktor apa yang dominan menentukan tingkat kepuasan akan terlihat indikator yang perlu di pertahankan atau ditingkatkan sehingga kepuasan mahasiswa terhadap layanan laboratoriunm kebidana akan semakin meningkat atau berkualitas sangat tinggi.

Peluang untuk meningkatkan kualitas laboratorium yaitu dengan jalan membenahi faktor faktor yang ada dan dianggap masih kurang memuaskan mahasiswa sebagai pengguna layanan laboratorium. Faktor yang dianggap mempengaruhi tingkat kepuasan mahasiswa dalam kegiatan layanan pembelajaran laboratorium di Prodi DIII Kebidanan Magetan menyangkut faktor kenyamanan ruangan, keselamatan, sikap instruktur, ketepatan waktu dan faktor pendukung lainnya. Hadisubroto (Kiemsean, dkk, 2003) menyatakan bahwa pelayanan merupakan satu bentuk kesatuan kerja dari peralatan, perlengkapan atau apa saja, dan karyawan dalam penyediaan akomodasi dari kegiatan yang diinginkan oleh orang atau publik. Hal di atas menunjukkan bahwa lembaga pendidikan dalam hal ini Prodi Kebidanan Magetan merupakan suatu lembaga pemberi jasa kepada para konsumen, dalam hal ini konsumennya adalah mahasiswa. Kepuasan pelanggan memiliki makna yang beragam. Kepuasan tidak selamanya diukur dengan uang, tetapi lebih didasarkan pada pemenuhan perasaan tentang apa yang dibutuhkan seseorang.

Menurut Kartono (1987) menyatakan bahwa uang tidak selamanya menjadi motif primer bagi seseorang, tetapi kebanggan dan minat yang besar terhadap sesuatu akan

memberikan kepuasaan tersendiri.

Kepuasan juga dapat dipandang sebagai suatu perbandingan apa yang dibuthkan dengan apa yang diperoleh. Seseorang akan terpenuhi kepuasaanya jika perbandingan tersebut cukup adil. Ketidak seimbangan perbandingan, khususnya yang merugikan akan menimbulkan ketidak puasan.

Sebaliknya, ketidak seimbangan yang dinilai menguntungkan akan memebrikan kepuasan. Hal ini sama halnya dengan gambaran respon mahasiswa sebagai pelanggan yang memberikan respon terhadap evaluasi ketidak sesuaian yang dirasakan antara harapan tentang kualitas layanan laboratorium (kinerja) dengan kinerja aktual produk yang dirasakan mahasiswa setelah menggunakannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan sebagai suatu keadaan terpenuhinya kebutuhannya, dalam arti semua yang dibutuhkan dapat diterima sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Kriteria yang dimaksud disini adalah berdasarkan hasil pengukuran kepuasan mahasiswa dalam menggunakan atau mengikuti proses pembelajaran di laboratorium yang meliputi unsur kenyamanan ruangan, keselamatan, sikap instruktur, ketepatan waktu dan faktor pendukung. Makin tinggi kapasitas kebutuhan yang terpenuhi, maka makin tinggi pula kepuasan yang diterima.

Salah satu pelayanan yang dirasakan mahasiswa sebagai pelanggan di lembaga perguruan tinggi dalam hal ini Prodi DIII Kebidanan Kampus Magetan dalam hal pembelajaran. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam peningkatan pembelajaran di perguruan tinggi (Sudarwan,1995) meliputi: (1) metode mengajar, (2) mutu pembelajaran, (3) tidak hanya bersifat descriptive oriented tetapi mencakup penerapan ilmu yang dipelajari, dan (4)kegiatan pembelajaran membentuk mahasiswa untuk dapat berdiri sendiri secara akademis melalui pola pikir analitis.

Mahasiswa mempunyai harapan tertentu terhadap proses pembelajaran yang diberikan oleh dosen. Bila mahasiswa merasa proses pembelajaran yang diberikan dosen sesuai dengan yang diharapkan, mereka akan merasa puas dan mengatakan bahwa mutu pembelajarn dosen sudah sangat baik. Sebaliknya, bila yang diterima sangat jauh dari yang diharapkan, dikatakan bahwa mutu pembelajaran dosen sangat kurang baik. Penilaian terhadap mutu pembelajaran dosen berdasarkan tingkat pemenuhan harapan mahasiswa tersebut dipandang sebagai persepsi mahasiswa tentang mutu pembelajaran dosen.

(12)

72 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari ke enam indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan pembelajaran laboratorium mahasiswa yang merasa puas sebesar 27-64%. Kepuasan terendah pada indikator kenyamanan, sedangkan angka tertinggi pada indikator ketepatan waktu dosen dalam penyelenggaraan pembelajaran di laboratorium.

Penilaian tingkat kepuasan yang netral juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, sebesar 10-48%. Angka terrendah sikap netral mahasiswa dalam mempersepsikan layanan pembelajaran dilaboratorium terlihat pada indikator ketepatan waktu. Sedangkan angka tertinggi pada indikator kenyamanan dalam penyelenggaraan pembelajaran di laboratorium.

Saran

Peningkatan mutu pelayanan laboratorium kebidanan prodi DIII kebidanan Kampus Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya harus dilakukan agar mampu berkembang melalui beberapa hal seperti (1) penetapan standar kerja pada bagian penting dalam pelayanan mahasiswa, misalnyabagian laboratorium kebidanan, (2) peningkatan kemampuan dosen secara terus menerus, (3) Studi banding pada perguruan tinggi lain untuk menemukan kelebihan dan kelemahan prodi yang sering dijadikan mahasiswa untuk membandingkan pelayanan.

DAFTAR PUSTAKA

Handayani, R, Yermias T. K., dan Ratminto.

2003, “ Analisis Kepuasan Pemakai Terhadap Pelayanan Perpustakaan Nasional Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Sosiosains, Volume 17 Nomor 2, April 2003. Pasca Sarjana Fisipol UGM, Yogyakarta.

Irawan, H.2002, 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan, PT Elex Media Kompotindo Gramedia.Jakarta.

Kartono,K.1987,Pimpinan dan

Kepemimpinan : Apakah Kepemimpinan itu Abnormal. Jakarta: Rajawali.

Kimsean,Y, Yermias T.K, dan Ag.Subarsono, 2004, Analisis Kinerja Publik pada Pelayanan Terpadu Satu Atap Kota Yogyakarta. Sosiosains, Volume 17, nomor 3, Juli 2004, pasca Sarjana Fisipol UGM: Yogjakarta.

Nugroho, HSW. 2011. Kualitas Layanan Kesehatan Menurut Konsumen, Ragam Pendekatan Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan Sebagai Indikator Kualitas Layanan Kesehatan, Magetan:

Forum Ilmiah Kesehatan.

Sadat,A.M. 2000, Analisis Hubungan Kinerja Perguruan Tinggi Terhadap Kepuasan Mahasiswa: Studi Kasus Universitas Indonesia. Program Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi dan Manajemen Universitas Indonesia, Jakarta.

Semiawan,C.R,1998, Pendidikan Tinggi Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin, Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.

Jakarta.

Simamora Bilson. 2002. Panduan Riset Perikalu Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sugito,H,2005, Mengukur Kepuasan Pelanggan,(on-line), www.ep- rints.qut.edu/achive/0003941/-

01/3491/pdf.diakses 2 juli 2008.

Tjiptono, F. 2006. Manajemen Jasa. Edisi Kedua,Yogyakarta: Andi Offset.

Windhyastiti, I dan Khouroh, U. 2003, Mutu Pelayanan Jasa Pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang (Pendekatan Serquel). Jurnal Penelitian Ilmu Sosial. Volume XV, Nomor 2.

Lembaga Penelitian Universitas Merdeka, Malang.

(13)

73 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

PENGARUH STIMULASI DENGAN BACAAN AL QURAN SECARA MUROTAL TERHADAP PENINGKATAN

KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELLITUS

DI BENGKULU

Mulyadi (JurusanKeperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu)

Derison Marsinova Bakara (JurusanKeperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu)

Surani Warsito (JurusanKeperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu)

ABSTRAK

Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit kronis yang serius di Indonesia.

Metode: Rancangan penelitian adalah quasi experimental, teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling, ukuran sampel 30 orang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi diberikan dengan bacaan Al Quran secara murotal selamat 15 menit. Sebelum dan sesudah intervensi diukur tingkatkualitas hidup mengunakan kuesioner WHO (The World Health Organization Quality Of Life-BREF/WHOQOL-BREF). Data dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil: Hasilpenelitian menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tingkat kualitas hiduppasien Diabetes Mellitus sebelum dan sesudah intervensi bacaan Al Quran secara murotal antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p<0,05).

Keterbatasan penelitian ini adalah kesulitan dalam pengendalian karakteristik responden sebagai variabel pengganggu Kesimpulan:

Implikasi penelitian ini bahwa intervensi bacaan Al Quran secara murotal dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien DM, dan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi.

Kata kunci:

Al Quran, murotal, kualitas hidup, Diabetes Mellitus

PENDAHULUAN Latar Belakang

DM telah menjadi pandemi, prevalensinya terus meningkat dengan cepat bahkan di negara berkembang seperti Indonesia (Mohan and Deepa.2012).Diabetes mellitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan (Waspadji, 2005).

Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang paling menantang secara psikologis, yang menuntut perubahan gaya hidup banyak orang, menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, dan membutuhkan kepatuhan pendidikan, kesadaran dan konstan dengan pengobatan di pihak pasien (Rubin and Peyrot. 1999).

Menurut Asdie (2000) mempertahankan kualitas hidup merupakan salah satu tujuan utama pengobatan penyakit diabetes mellitus.

Saat ini telah mulai dikembangkan intervensi alternatif yang merupakan complementary therapy untuk menurunkan kecemasan, salah satunya adalah terapi suara atau terapi musik. Musik sering dijadikan pilihan untuk relaksasi, dan yang banyak dipilih orang adalah musik klasik.

Penelitian tentang efek relaksasi terapi musik telah banyak dilakukan, mendengarkan murottal Al Qur’an juga membangkitkan tanggapan relaksasi (Abdurrahman, Perdana

& Andhika, 2008).

Menurut Lewis, Heitkemper, dan Dirksen (2004) menyatakan bahwa pendekatan spiritual dapat menurunkan kecemasan, pendekatan spiritual juga bisa membantu mengatasi permasalahan psikososial akibat penyakit yang dialaminya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mardiyono dan Songwathana (2009) menyimpulkan bahwa relaksasi Islam telah efektif digunakan pada penanganan masalah psikologi. Menurut Syed (2003), mengemukakan bahwa relaksasi Islam merupakan metode relaksasi yang melibatkan ibadah-ibadah dalam Islam, pengulangan bacaan Al Qur’an, mendengarkan bacaan Al Qur’an, dan berzikir untuk mencapai respon relaks berupa ketenangan dan mood yang baik.

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel pada penelitian ini dibagi menjadi kelompok dua kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Perlakuan yang

(14)

74 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

dilakukan adalah dengan memberikan stimulasi dengan bacaan Al Quran pada pasien diabetes mellitus yang mengalami penurunan kualitas hidup. Tingkat kualitas hidup diukur dengan mengunakan instrument WHO (The World Health Organization Quality Of Life- BREF/WHOQOL-BREF).

Penelitian dilaksanakan di Ruang Poli Penyakit Dalam RSUD Curup dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2012.

Sampel penelitian berjumlah 30 pasien Diabetes Mellitus yang sesuai kriteria inklusi dan eklusi dengan 15 pasien sebagai kelompok intervensi dan 15 pasien sebagai kelompok kontrol.

Pengukuran kualitas hidup pasien diabetes mellitus dengan menggunakan lembar observasi pada subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Setelah pengukuran kualitas hidup pasien diabetes mellitus hari pertama, kelompok intervensi diberikan stimulasi bacaan Al Quran 20 - 30 menit selama 3 kali seminggu selama 2 minggu, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan. Terapi pasien diabetes mellitus tetap diberikan kepada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesuai standar pengobatan.Setelah 2 minggu, dinilai kembali kualitas hidup pasien diabetes mellitus dengan menggunakan instrument kualitas hidup pada kedua kelompok tersebut. Pengukuran kualitas hidup pasien diabetes mellitus menggunakan kuesionerWHO-QoL BREF.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh stimulasi dengan bacaan Al Quran secara murottal terhadap peningkatan kualitas hidup penderita diabetes mellitus di RSUD Curup.

HASIL PENELITIAN

Responden di bagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mendapatkan intervensi bacaan Al Qurandengan Murrotal dan kelompok yang tidak mendapatkan intervensi bacaan Al Quran dengan Murrotal.

Karakteristik Responden

Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien DM yang berusia 51 tahun lebih, dalam masa proses pengobatan. Responden di bagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mendapatkan intervensi bacaan Al Qurandengan Murrotal dan kelompok yang tidak mendapatkan intervensi bacaan Al Qurandengan Murrotal.

Tabel 1. Hasil Uji Beda Karakteristik Responden pada Kelompok Intervensi

(n=15) dan Kelompok Kontrol (n=15) Karakteristik Kelompok

X2 Nilai Intervensi p

Frekuensi (%)

Kontrol Frekuensi

%) Jenis kelamin:

- Perempuan - Laki-laki

5 (33,3) 10(66,7)

6 (40) 9 (60)

0,144 0,705

Usia (tahun) : - < 59 - ≥ 59 Rerata (SD)

5(33,3) 10(66,7) 60(5,05)

6(40) 9(60) 58,7(11,7)

0,144 0,705

Pendidikan - SD - SMP - SMA/SLTA - PT

3 (20) 3 (20) 6 (40) 3 (20)

2 (13,3) 4 (26,7) 7 (46,7) 2 (13,)

0,620 0,892

Pekerjaan - Bekerja - Tak bekerja

7 (46,7) 8 (53,3)

8 (53,3) 7 (46,7)

0,133 0,715

Uji statistik yang digunakan untuk melihat beda karakteristik responden adalah chi square, pada semua karakteristik responden dapat digambarkan pada tabel 1.

antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil uji statistik menunjukkan karakteristik jenis kelamin sebagian besar adalah perempuan yaitu pada kelompok intervensi sebesar 10(66,7%), pada kelompok kontrol sebagian besar perempuan 9(60%).

Pada karakteristik usia sebagian besar berusia ≥ 59 tahun yaitu pada kelompok intervensi 10(66,7%) sedangkan pada kelompok kontrol 9(60%). Pada karakteristik pendidikan sebagian besar berpendidikan SLTA yaitu pada kelompok intervensi 6(40%) sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 7(46,7%). Pada karakteristik pekerjaan sebagian besar tidak bekerja yaitu pada kelompok intervensi 8(53,3%) sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar bekerja 8(53,3%).

Hasil Uji Normalitas Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Uji normalitas tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat terlihat pada tabel berikut:

(15)

75 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan Sesudah

Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Waktu Kelompok Rerata SD Nilai p Sebelum

Sesudah

Kontrol Intervensi

Kontrol Intervensi

1,40 1,40 1,40 1,40

0,507 0,507 0,507 0,507

0,001 0,001 0,001 0,001

Pada Tabel 2 menampilkan hasil uji normalitas dengan menggunakan uji statistik Shpiro-Wilk. Hasil uji normalitas menunjukan nilai p tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebagian besar kurang dari 0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat kualitas hidup pasien DM pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat disimpulkan data tidak berdistribusi normal, sehingga uji statistik yang tepat untuk dilakukan adalah dengan menggunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon.

Perbedaan Rerata Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan Sesudah pada Kelompok Kontrol

Uji statistik yang digunakan melihat kualitas hidup pasien DM adalah non parametrik Wilcoxon karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol didapatkan hasil distribusi data tidak normal dan tidak homogen.

Tabel 3. Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan

Sesudah pada Kelompok Kontrol Kelompok Rerata Z P

Sebelum Sesudah

15,50 11,00

0,001 1,000

Hasil uji statistik perbedaan rerata tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum intervensi pada kelompok kontrol yang ditampilkan pada Tabel 3, didapatkan nilai p>0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum

dan sesudah pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan yang bermakna.

Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Intervensi

Uji statistik yang yang digunakan melihat kualitas hidup pasien DM adalah non parametrik Wilcoxon karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.

Tabel 4. Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum dan

Sesudah Intervensi pada Kelompok Intervensi

Kelompok Rerata Z P Sebelum

Sesudah

15,50 20,00

-3,525 0,00 1 Hasil uji statistik perbedaan rerata tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum intervensi pada kelompok intervensi yang ditampilkan pada Tabel 4. pada kualitas hidup pasien DM didapatkan nilai p<0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa kualitas hidup pasien DM sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi ada perbedaan yang bermakna.

Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Uji statistik yang yang digunakan melihat kualitas hidup pasien DM adalah non parametrik Mann-Whitney karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.

Tabel 5. Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum Intervensi pada Kelompok Kontrol dan

Kelompok Intervensi Kelompok Rerata Z P

Kontrol Intervensi

18,93 21,73

-0,000 1,000

Hasil uji statistik kualitas hidup pasien DM sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi yang ditampilkan pada Tabel 5 didapatkan nilai z

(16)

76 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

adalah -0,000 dan nilai p>0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data kualitas hidup pasien DM sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi tidak ada perbedaan yang bermakna.

Berikut digambarkan perubahan tingkat kualitas hidup pasien DM sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

___ : Kelompok Intervensi --- : Kelompok Kontrol

Gambar 1. Perbedaan Rerata Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sebelum Intervensi pada Kelompok Kontrol dan

Kelompok Intervensi

Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sesudah Intervensi pada Kelompok Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Uji statistik yang yang digunakan melihat kualitas hidup pasien DM adalah non parametrik Mann-Whitney karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.

Tabel 6. Perbedaan Rerata Tingkat Tingkat Kualitas Hidup Pasien DM Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan

Kelompok Intervensi Kelompok Rerata Z P

Kontrol Intervensi

11,00 20,00

-3,525 0,001

Hasil uji statistik beda kualitas hidup pasien DM sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi yang ditampilkan pada tabel 6. didapatkan nilai p<0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat kualitas hidup

pasien DM sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang bermakna.

Berikut digambarkan perubahan tingkat kualitas hidup pasien DM sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

___ : Kelompok Intervensi --- : Kelompok Kontrol

Gambar 2. Perbedaan Rerata Tingkat Kualitas hidup pasien DM Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan

Kelompok Intervensi PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji beda pada karakteristik jenis kelamin, usia pendidikan dan pekerjaan didapatkan nilai p> 0,05, artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara karakteristik kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Karena semua karakteristik tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol maka kedua kelompok dapat dibandingkan.

Pengaruh Intervensi Bacaan Al Quran Secara Murrotal Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM

Hasil uji statistik pada tabel 6 menunjukkan rerata tingkatdepresi sesudah intervensi antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang bermakna dengan nilai z adalah - 3,525 dan p >0,05. Hal ini menunjukan ada pengaruh intervensi bacaan Al Quran secara Murrotal terhadap peningkatan kualitas hidup pasien DM. Dapat disimpulkan ada perbedaan yang bermakna tingkat kualitas hidup pasien DM responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi bacaan Al Quran secara Murrotal pada kelompok intervensi, sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi bacaan Al Quran secara Murrotal tidak mengalami peningkatan kualitas hidup pasien DM.

0 0.5 1 1.5 2 2.5

1 3 5 7 9 11 13 15

0 2 4

1 3 5 7 9 11 13 15

(17)

77 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Mendengarkan bacaan Al Qur’an sebagai salah satu relaksasi Islam telah efektif digunakan pada penanganan masalah psikologi, dengan mendengarkan Al Qur’an seseorang dapat mencapai respon relaks berupa ketenangan dan mood yang baik (Syed, 2003). Kepercayaan spiritual memberi makna terhadap kehidupan dan kematian, dengan agama seseorang akan mampu memiliki kekuatan ketika dalam kondisi kritis dan memberi rasa aman (Kozier, Erb & Blais, 1995).

Mendengarkan murotal Al Qur’an dapat memberikan ketenangan pada orang yang mendengarkannya, seperti hasil penelitian Abdurahman, Perdana dan Andhika (2008), yang melakukan perekaman electro enchepalo graphy (EEG) setelah diperdengarkan murotal Al Qur’an. Hasil perekaman EEG didominasi oleh gelombang delta di daerah frontal dan sentral baik pada sisi kanan maupun kiri otak, bila didominasi gelombang delta artinya berada dalam ketenangan, ketentraman dan kenyamanan pada naracoba. Muhammad Kamil Abdussamad dalam bukunya Al Ijaz al ilmi fi Al Qur’an yang menulis bahwa alat-alat observasi elektronik yang dikomputerisasi telah digunakan untuk mengukur perubahan fisiologis pada orang yang sehat yang sedang mendengarkan Al Qur’an baik yang memahami bahasa arab maupun yang tidak memahami, diperoleh hasil bahwa mendengarkan bacaan Al Qur’an memberikan efek menenangkan hingga 97%

yang dilihat dari berkurangnya ketegangan saraf (Musbikin, 2007). Murottal merupakan salah satu musik dengan frekuensi 50 Db yang membawa pengaruh positif bagi pendengarnya (Wijaya, M, 2009).

Penurunan kecemasan pasien setelah mendengarkan murottal Al Qur’an selain karena memiliki nilai spiritualitas, dari aspek suara telah memenuhi kriteria musik sebagai terapi relaksasi disebabkan karena secara fisiologis di dalam tubuh, musik dapat menstimulus pada akson-akson serabut saraf asendens ke neuron-neuron RAS.Stimulus kemudian ditransmisikan ke area korteks cerebral, sistem limbik dan korpus kalosum, sedangkan dikirim ke bawah juga menuju saraf otonom dan sistem neuroendokrin.Ketika musik diputar, seluruh daerah sistem limbik dirangsang menghasilkan sekresi feniletilamin, yang merupakan suatu neuroamin yang bertanggung jawab pada perasan cinta.

Pada saraf otonom, stimulus suara berupa musik menyebabkan sistem saraf parasimpatis berada di atas sistem saraf simpatis sehingga merangsang gelombang otak alfa yang menghasilkan kondisi relaks.

Musik juga menyebabkan pelepasan endorfin oleh kelenjar pituitari, sehingga akan mempengaruhi keadaan mood seseorang (Chiu & Kumar, 2003).

Terapi spiritual menimbulkan respon relaksasi dan kesehatan, dapat menimbulkan keyakinan dalam perawatan diri, dan bermanfaat terhadap kecemasan dan panik pada pasien terminal yang dapat menimbulkan ketenangan (Syed, 2003).

Menurut Lewis et al. (2004), pendekatan spiritual dapat menurunkan depresi karena memberikan perasaan tenang dan membantu mengatasi permasalahan psikososial akibat penyakit.

Keadaan psikologis yang tenang akan mempengaruhi sistim limbik dan saraf otonom yang menimbulkan rileks, aman, dan menyenangkan sehingga merangsang pelepasan zat kimia gamma amino butric acid, enchepalin dan beta endorfin yang akan mengeliminasi neurotranmiter rasa nyeri maupun kecemasan sehingga menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati (mood) pasien. Endorfin adalah polipeptida yang mengandung 30 unit asam amino yang mengikat pada reseptor opiat di otak dan dapat menimbulkan perasaan euforia, nafsu makan, modulasi hormon dan memiliki sifat menghilangkan rasa sakit.Endorfin adalah neurotransmitter yang berinteraksi dengan neuron reseptor morfin untuk mengurangi rasa sakit.Pada gangguan nyeri kronis, endorfin ditemukan dalam jumlah tinggi (Bailey, 2006).

Sebagaimana dinyatakan oleh Achiryani (1999), bahwa pada saat mengalami stres, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya. Dukungan ini sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakit pasien yang dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yang lama dengan hasil yang belum pasti. Intervensi spiritual yang berorientasi religius menunjukan reaktivitas fisiologis terhadap pengurangan stres, tidak takut akan kematian, dan memiliki ketentraman ketenangan (Scot, 2007).

Spiritual dapat mempengaruhi psikoneuroimunologi yang merangsang imunitas sehingga mempengaruhi relaksasi dan dapat menyebabkan sistem syaraf mengeluarkan endorfin, delison dan berbagai neurotransmiter yang lain yang membawa manfaat pada peningkatan imunitas, peningkatan aktifitas interferon dan makrofag (Spencer & McEwen, 1990).

Perawat sangat berperan penting dalam memberikan kontribusi memberikan asuhan keperawatan spiritual melalui proses keperawatan. Pasien sebagai seorang manusia tidak dapat dipisahkan dari

Gambar

Gambar 1. Perbedaan Rerata Tingkat  Kualitas Hidup Pasien DM  Sebelum  Intervensi pada Kelompok Kontrol dan
Tabel 1. Distribusi Frekuensi   Support System Keluarga Responden   di Rumah Sakit Umum Daerah Curup
Tabel 4. Distribusi Frekuensi   Paritas Ibu Menopause
Tabel 1. Distribusi Usia Ibu Bersalin  di RSUD dr.Haryoto Lumajang tahun 2013
+4

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan antara penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian ini menggunakan tuturan deklaratif BM dan analisis frekuensi pada tuturan deklaratif dan nada

Dalam penelitian ini dievaluasi kandungan dan komposisi kimiawi, tingkat konsumsi sebagai pakan tunggal dan koefisien cerna bahan kering serta optimasi penggunaan ampas nenas

untuk berinvestasi dengan cara membangun instalasi/pabrik/ gedung kantor adalah data Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pembangunan yang akan diinvestasikan tersebut. 23) Dari

Dalam menyampaikan informasi tentang produk yang ditawarkan, Smartfren perlu melakukan promosi melalui iklan.. dengan cara inovatif dan intensif, sehingga pesan yang ingin

IMPLEMENTASI DARI SISTEM MANAGEMEN STRATEJIK YANG TELAH DIBANGUN MELALUI BALANCED SCORECARD, PENGAWASAN YANG BAIK, VISI, STRATEGY, DAN PERFORMANCE. PERUSAHAAN TIDAK

Dari hasil analisis dan pengembangan implementasi model pembelajaran kontekstual terhadap peningkatan karakter siswa di SDN Dukuh 07 Petang Jakarta Timur masih banyak

Bidang-bidang visual merupakan bagian dari ruang yang diukur dalam besaran sudut, yang dapat dilihat saat kepala tidak bergerak.. Bidang visual ini diistilahkan

Memberikan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan dengan sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Pemegang Saham Seri B Terbanyak untuk menetapkan imbalan jasa audit dan