• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dianalisis, baik secara nasional maupun secara regional (Arsyad, 2010:11).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dianalisis, baik secara nasional maupun secara regional (Arsyad, 2010:11)."

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang mengakibatkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu daerah dalam jangka panjang yang diikuti oleh perbaikan sistem kelembagaan. Pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses yang saling berkaitan dan berpengaruh antara faktor-faktor yang menghasilkan pembangunan ekonomi yang dapat dilihat dan dianalisis, baik secara nasional maupun secara regional (Arsyad, 2010:11).

Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Ketidakmerataan pembangunan juga disebabkan karena adanya perbedaan kondisi demografi antara wilayah satu dengan lainnya. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan pertumbuhan ekonomi antara wilayah yang maju dengan wilayah yang terbelakang atau kurang maju (Geppert el al, 2005). Begitu pula dengan Provinsi Bali yang memiliki delapan kabupaten dan satu kota dengan potensi daerahnya yang berbeda-beda dan setiap wilayahnya telah mengalami ketimpangan distribusi pendapatan (Gama, 2009).

Ketimpangan distribusi pendapatan merupakan masalah perbedaan pendapatan antara masyarakat atau perbedaan pendapatan antara daerah yang maju dengan daerah yang tertinggal. Semakin besar jurang pendapatan maka semakin besar pula variasi dalam distribusi pendapatan. Ketimpangan distribusi pendapatan akan menyebabkan terjadinya disparitas antar daerah. Hal tersebut tidak dapat dihindari karena adanya efek perembesan ke bawah (trickkle down

(2)

2

effect) dari output secara nasional terhadap masyarakat mayoritas yang tidak terjadi secara sempurna. Sedangkan, hasil output nasional hanya dinikmati oleh segelintir golongan minoritas dengan tujuan tertentu (Musfidar, 2012).

Sejak tahun 2001 telah diberlakukan otonomi daerah di Indonesia, kebijakan otonomi daerah di bawah Undang-Undang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004 dengan prinsip otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggungjawab sehingga peranan pemerintah daerah sangat berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan pembangunannya. Keberadaan undang-undang tersebut memberikan kewenangan semakin luas kepada daerah untuk memberdayakan diri terutama berkaitan dengan pengelolaan sumber pendanaan yang dimiliki dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lindaman dan Thurmaier (2002) juga mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat menimbulkan ketidakstabilan makro ekonomi, ketimpangan antar daerah, dan lain sebagainya. Setiap daerah melalui desentralisasi fiskal, dalam pelaksanaan pembangunannya mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi disertai dengan pemerataan, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakatnya. Berhasil atau tidaknya pembangunan ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi akibat adanya pendapatan yang meningkat. Ketidakmerataan tersebut disebabkan oleh beberapa hal antara lain masalah-masalah internal seperti adanya kesenjangan antar manusia, kesenjangan antar daerah dan kesenjangan ekonomi, sementara itu masalah eksternal misalnya persaingan antar wilayah, baik antar wilayah regional maupun nasional (Wahyuni et al., 2014).

(3)

3

Menurut Kuznets dalam Arsyad (2010:288) untuk mengukur ketimpangan distribusi pendapatan atau mengetahui apakah distribusi pendapatan timpang atau tidak, dapat menggunakan kategorisasi dalam kurva Lorenz atau menggunakan koefisien Gini. Pada tahap-tahap awal pertumbuhan ekonomi pendistribusian pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap-tahap berikutnya akan membaik. Hipotesis ini lebih dikenal sebagai hipotesis “U-terbalik” Kuznets, sesuai dengan bentuk rangkaian perubahan kecenderungan distribusi pendapatan dengan ukuran koefisien Gini dan pertumbuhan GNP perkapita yang akan terlihat seperti kurva yang berbentuk U-terbalik.

Ketidakmerataan distribusi pendapatan dapat diukur menggunakan Koefisien Gini yang diperoleh dengan menghitung luas daerah antara garis diagonal (ketidakmerataan sempurna) dengan kurva Lorenz dibandingkan dengan luas total dari separuh bujur sangkar dimana kurva Lorenz itu berada. Ukuran Gini Rasio sebagai ukuran pemerataan pendapatan mempunyai selang nilai antara 0 sampai dengan 1. Bila Gini Rasio mendekati nol menunjukkan adanya ketimpangan yang rendah dan bila Gini Rasio mendekati satu menunjukkan ketimpangan yang tinggi (Kuznets dalam Arsyad, 2010:290).

Gejala ketimpangan distribusi pendapatan per kapita antar kabupaten/kota di Provinsi Bali dapat diuraikan pada Tabel 1.1 dengan menggunakan indikator Gini Rasio Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2007-2013 (dalam persen).

(4)

4

Tabel 1.1 Gini Rasio Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009-2013 (dalam persen) Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 2013 Jembrana 0.237 0.258 0.402 0.371 0.365 Tabanan 0.253 0.260 0.365 0.347 0.379 Badung 0.227 0.286 0.339 0.326 0.329 Gianyar 0.249 0.272 0.328 0.336 0.320 Klungkung 0.287 0.286 0.378 0.347 0.355 Bangli 0.226 0.222 0.268 0.305 0.303 Karangasem 0.215 0.233 0.292 0.288 0.323 Buleleng 0.261 0.256 0.343 0.333 0.370 Denpasar 0.265 0.295 0.340 0.425 0.339 Bali 0.31 0.37 0.41 0.43 0.403

Sumber: Bali Dalam Angka, 2014.

Berdasarkan Tabel 1.1 angka indeks Gini Rasio kabupaten/kota di Provinsi Bali masih berada pada indikasi yang relatif rendah, karena ketidakmerataan rendah berkisar anatara 0,20-0,35 (Arsyad, 2010). Gini Rasio kabupaten/kota di Provinsi Bali lebih kecil dibandingkan dengan Gini Rasio Provinsi Bali tiap tahunnya, namun perkembangannya cenderung terus mengalami peningkatan disemua kabupaten/kota di Provinsi Bali setiap tahunnya.

Menurut Kuznets dalam Tambunan (2001:72) terdapat korelasi positif antara laju pertumbuhan dengan ketimpangan distribusi pendapatan, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi atau semakin besar pendapatan per kapita semakin besar perbedaan antara kaum miskin dan kaum kaya. Data mengenai Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Bali PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2007-2013 dapat dilihat pada Tabel 1.2.

(5)

5

Tabel 1.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Bali PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2009-2013 (dalam persen)

Sumber: BPS Provinsi Bali, 2014

Berdasarkan Tabel 1.2 laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali dari tahun 2009 hingga tahun 2013 cenderung mengalami peningkatan. Begitu pula dengan laju pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali mengalami perbedaan yang signifikan, pada tahun 2009 Kota Denpasar menduduki peringkat pertama dengan laju pertumbuhan 6,53 persen, bahkan laju pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar lebih tinggi dari laju pertumbuhan Provinsi Bali dan laju pertumbuhan Kabupaten Jembrana yang paling rendah hanya mencapai 4,82 persen. Pada tahun 2010 dan tahun 2011, laju pertumbuhan di Kota Denpasar masih mengungguli laju pertumbuhan kabupaten/kota di Provinsi Bali sebesar 6,57 persen pada tahun 2010 dan 6,77 persen pada tahun 2011 serta kabupaten yang terendah pada tahun 2010 adalah Kabupaten Jembrana yaitu sebesar 4,57 persen dan pada tahun 2011

KABUPATEN/KOTA 2009 2010 2011 2012 2013 Jembrana 4.82 4.57 5.61 5.9 5.38 Tabanan 5.44 5.68 5.82 5.91 6.03 Badung 6.39 6.48 6.69 7.3 6.41 Gianyar 5.93 6.04 6.76 6.79 6.43 Klungkung 4.92 5.43 5.81 6.03 5.71 Bangli 5.71 4.97 5.84 5.99 5.61 Karangasem 5.01 5.09 5.19 5.73 5.81 Buleleng 6.1 5.85 6.11 6.52 6.71 Denpasar 6.53 6.57 6.77 7.18 6.54 Bali 5.33 5.83 6.49 6.65 6.05

(6)

6

adalah Kabupaten Karangasem sebesar 5,19 persen. Namun, pada tahun 2012 laju pertumbuhan Kabupaten Badung lebih besar daripada laju pertumbuhan Kota Denpasar. Berdasarkan Tabel 1.2 ini juga kita bisa kita lihat ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dengan ketimpangan distrubusi pendapatan yang ditunjukkan oleh Tabel 1.1, hampir setiap tahun semua kabupaten/kota di Provinsi Bali laju pertumbuhan dan Gini Rasionya meningkat.

Menurut Arsyad (2010:269), empat faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu masayarakat (negara) terdiri dari: i) akumulasi modal, ii) pertumbuhan penduduk, iii) kemajuan teknologi, iv) sumber daya institusi (sistem kelembagaan). Terdapat dua faktor yang akan dibahas dalam pertumbuhan, yang pertama adalah akumulasi modal (penanaman modal asing) dan kemajuan teknologi yang ditandai oleh ekspor. Hal ini dikarenakan, terdapat sumbangan tidak langsung dari teori export base dan resource yakni perkembangan sektor ekspor dalam pembangunan akan memudahkan masuknya inovasi dalam teknologi, pasaran dan keahlian usahawan. Industri-industri akan terdorong untuk mengimpor teknologi baru dari luar negeri dalam menghadapi persaingan luar negeri (Sukirno, 1976:133). Alasan kedua adalah menurut Tiebout dalam Tarigan (2005:38) pendapatan basis (pendapatan wilayah) terdiri atas penjumlahan dari pendapatan kegiatan ekspor dan kegiatan investasi tetapi dari bagian yang menjadi pendapatan lokal. Menurut Richardison dalam Tarigan (2005:56), hanya sektor ekspor saja yang dapat mendorong peningkatan pendapatan daerah karena sektor-sektor lain terikat peningkatannya oleh peningkatan pendapatan daerah. Sektor lain hanya meningkat apabila pendapatan

(7)

7

daerah secara menyeluruh meningkat. Jadi, satu-satunya yang bisa meningkat secara bebas adalah ekspor.

Menurut Pratiwi (2013), ekspor merupakan salah satu sumber devisa yang sangat dibutuhkan oleh negara atau daerah yang perekonomiannya bersifat terbuka seperti di Indonesia, karena ekspor secara luas ke berbagai negara memungkinkan peningkatan jumlah produksi yang mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga diharapkan dapat memberikan andil yang besar terhadap pertumbuhan dan stabilitas perekonomian. Data mengenai Ekspor Barang dan Jasa Atas Dasar Harga Konstan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2007-2013 diuraikan pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3 Ekspor Barang dan Jasa Atas Dasar Harga Konstan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2007-2013 (Juta Rupiah) KABUPATEN/KOTA 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Jembrana 1.093.395 1.274.436 1.329.317 1.405.537 1.454.777 1.471.079 1.475.523 Tabanan 1.680.119 2.136.874 1.872.335 2.030.390 2.226.649 2.297.303 2.344.361 Badung 6.781.053 8.204.318 8.822.993 9.672.025 10.705.271 11.058.135 11.999.965 Gianyar 2.318.243 2.738.062 2.828.392 3.080.225 3.384.357 3.424.114 3.527.322 Klungkung 829.182 985.221 1.028.348 1.087.167 1.158.323 1.160.557 1.244.448 Bangli 705.741 781.586 889.245 957.173 1.038.009 1.053.599 1.108.460 Karangasem 516.767 608.697 730.887 783.487 842.814 853.202 920.664 Buleleng 1.400.504 1.485.186 1.531.883 1.664.151 1.769.982 1.795.119 1.839.200 Denpasar 3.794.720 4.114.857 4.265.863 4.641.076 5.166.142 5.646.424 5.900.272

Sumber: BPS Provinsi Bali, 2014

Dilihat dari Tabel 1.3 ekspor barang dan jasa dari tahun 2007-2013 diseluruh kabupaten/kota meningkat. Akan tetapi pada tahun 2009 peningkatan ekspor di hampir semua kabupaten/kota hanya mengalami peningkatan ekspor yang kecil

(8)

8

dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya, bahkan di Kabupaten Tabanan mengalami penurunan ekspor, ini dikarenakan dampak krisis global yang menimpa Amerika dan berdampak diseluruh dunia. Ekspor barang dan jasa terbesar masih ditempati oleh Kabupaten Badung. Sedangkan untuk ekspor terendah ditempati oleh Kabupaten Karangasem. Kabupaten Badung dan Kota Denpasar merupakan daerah terbesar dalam hal ekspor.

Berdasarkan teori export base dan resource (Sukirno, 1976:133) terdapat sumbangan tidak langsung yakni salah satunya adalah ekspor akan mendorong dan meningkatkan perkembangan penanaman modal dari dalam maupun luar negeri, hal ini dikarenakan banyak industri mengalami perluasan pasar sebagai akibat dari perkembangan sektor ekspor. Penanaman modal asing (PMA) sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Modal asing membantu dalam industrialisasi, membangun modal overhead ekonomi, dan menciptakan kesempatan kerja. Modal asing tidak hanya membawa uang dan mesin tetapi juga keterampilan teknik. Penanaman modal asing (PMA) membuka daerah-daerah terpencil dan menggarap sumber-sumber yang belum dimanfaatkan (Jhingan, 2004:483). Oleh karena itu penanaman modal asing (PMA) mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan pendapatan wilayah. Data mengenai Realisasi Penanaman Modal Asing di Bali Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2009 – 2013 diuraikan pada Tabel 1.4.

(9)

9

Tabel 1.4 Realisasi Penanaman Modal Asing di Bali Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2009 – 2013 (Juta Rupiah) Kabupaten/Kota Regency/City 2 0 0 9 2 0 1 0 2 0 1 1 2 0 1 2 2 0 1 3 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Jembrana 22.092 - 10.829 1.860 1.395 2. Tabanan 3.640 238.895 25.643 54.349 331.912 3. Badung 1.968.457 2.626.328 1 430.453 4 081.991 3.021.220 4. Gianyar 28.392 2.360 79.848 180.015 95.897 5. Klungkung 1.365 - 1.001 1.853 4.937 6. Bangli 2.275 1.556 2.093 140 140 7. Karangasem 6.734 1.239.098 590.017 50.035 23.547 8. Buleleng 6.370 17.019 2.058.869 70.829 60.483 9. Denpasar 58.837 84.905 188.218 37.693 95.443 Jumlah Bali / Total Bali

: 2.098.162 4.210.161 4.386.970 4.478.765 3.634.974 Sumber : Badan Penanaman Modal dan Perizinan Provinsi Bali.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (2014) pada Tabel 1.4 menggambarkan bahwa kondisi penanaman modal asing (PMA)di Bali pada tahun 2012 berjumlah 4.478.765 (Juta Rupiah) penanaman modal asing (PMA) tertinggi berpusat di Kabupaten Badung yaitu sebesar 4.081.991 (Juta Rupiah) dengan persentase 91 persen dari seluruh jumlah penanaman modal asing (PMA)di Provinsi Bali, sedangkan penanaman modal asing (PMA) terendah berada di Kabupaten Bangli dengan persentase 0,0025 persen dari seluruh jumlah penanaman modal asing (PMA) di Provinsi Bali senilai 140 (Juta Rupiah). Penjelasan diatas mengindikasikan ketimpangan yang terjadi di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali sangat besar. Hal ini dikarenakan Kabupaten Badung memiliki potensi pariwisata yang sangat besar

(10)

10

dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya sedangkan belum meratanya pembangunan yang dilakukan pemerintah Provinsi Bali dikabupaten/kota lain menyebabkan para investor hanya tertarik untuk melakukan penanaman modal asing (PMA) di Kabupaten Badung.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan di Provinsi Bali hanya terkonsentrasi pada daerah-daerah yang relatif berkembang seperti Kabupaten Badung, sedangkan bagi daerah-daerah yang kurang berkembang belum menjadi fokus pembangunan. Berdasarkan data yang telah diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (2014), sebagian ekspor, penanaman modal asing (PMA), dan laju pertumbuhan kabupaten/kota di Provinsi Bali mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun ketimpangan distribusi pendapatan yang ditunjukkan dengan indeks Gini Rasio kabupaten/kota di Provinsi Bali juga mengalami peningkatan.Hal iniyang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian terhadap masalah ketimpangan distribusi pendapatan kabupaten/kota di Provinsi Bali.

Berdasarkan penjelasan diatas, secara singkat dapat disimpulkan bahwa variabel ekspor dan penanaman modal asing (PMA) memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengaruh tidak langsung terhadap ketimpangan distribusi pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi tersebut. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan suatu penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Ekspor Dan Penanaman Modal Asing Terhadap Ketimpangan Distribusi Pendapatan Melalui Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali.

(11)

11

1.2 Rumusan Masalah

1) Bagaimana pengaruh ekspor dan penanaman modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali?

2) Bagaimana pengaruh ekspor, penanaman modal asing dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan kabupaten/kota di Provinsi Bali?

3) Bagaimana pengaruh ekspor dan penanaman modal asing terhadap ketimpangan distribusi pendapatan secara tidak langsung melalui pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Untuk melihat pengaruh ekspor dan penanaman modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali.

2) Untuk melihat pengaruh ekspor, penanaman modal asing, dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan kabupaten/kota di Provinsi Bali.

3) Untuk melihat pengaruh ekspor dan penanaman modal asing terhadap ketimpangan distribusi pendapatan secara tidak langsung melalui pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali.

(12)

12

1.4 Kegunaan Penelitian

1) Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi, informasi dan wawasan untuk mendukung penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengaruh langsung maupun tidak langsung ekspor dan penanaman modal asing terhadap ketimpangan distribusi pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali kepada masyarakat dan pihak-pihak lain, atau sebagai bahan kepustakaan serta sumber pengetahuan.

2) Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa mengenai pengaplikasian teori yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi terutama mengenai ketimpangan pembangunan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Bali serta pengaruh langsung maupun tidak langsung ekspor dan penanaman modal asing terhadap ketimpangan pembangunan wilayah melalui pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali, serta mudah-mudahan menjadi pertimbangan bagi pemerintah Provinsi Bali dalam pengambilan kebijakan agar ketimpangan distribusi pendapatan dapat diperkecil atau bahkan tidak terjadi lagi di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab, yaitu sebagai berikut:

(13)

13 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Bab ini menguraikan teori yang mendukung pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu mengenai beberapa konsep yang meliputi ekspor, penanaman modal asing, ketimpangan distribusi pendapatan, dan pertumbuhan ekonomi serta pembahasan penelitian-penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai acuan dalam merumuskan hipotesis atau dugaan sementara.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan mengenai desain penelitian, lokasi dan ruang lingkup wilayah penelitian, obyek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data,dan metode pengumpulan data serta teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Bab ini menguraikan gambaran umum daerah penelitian, deskripsi data hasil penelitian, dan pembahasan mengenai permasalahan yang ada dalam penelitian.

(14)

14

Bab ini menguraikan mengenai simpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian dan saran yang dapat diberikan sehubungan dengan simpulan yang diperoleh agar nantinya dapat berguna bagi penelitian selanjutnya.

(15)

15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang mengakibatkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu daerah dalam jangka panjang yang diikuti oleh perbaikan sistem kelembagaan. Pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses yang saling berkaitan dan berpengaruh antara faktor-faktor yang menghasilkan pembangunan ekonomi yang dapat dilihat dan dianalisis, baik secara nasional maupun secara regional (Arsyad, 2010:11).

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu negara meningkat secara terus menerus dalam jangka panjang. Pembangunan ekonomi tidak hanya membahas mengenai perkembangan pendapatan nasional riil, tetapi juga kepada modernisasi kegiatan ekonomi, seperti mulai adanya masalah mengenai pergeseran sektor pertanian menuju kepada sektor industri, masalah percepatan pertumbuhan ekonomi dan masalah pemerataan pendapatan (Musfidar, 2012).

2.1.2 Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Sukirno (2011:9) pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu dan menyebabkan pendapatan nasional riil berubah. Namun, perkembangan kegiatan ekonomi tidak akan terjadi apabila suatu negara menutup diri dari perdagangan luar negeri (Tabassum, 2008).

(16)

16

Menurut Sukirno (2011:429) ada beberapa faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu:

1) Tanah dan kekayaan alam lainnya

Kekayaan alam suatu negara meliputi luas dan kesuburan tanah, keadaan iklim dan cuaca, jumlah dan jenis hasil hutan dan hasil laut yang dapat diperoleh, serta jumlah dan jenis kekayaan barang tambang yang tersedia. Kekayaan alam akan dapat mempermudah dalam mengembangkan perekonomian terutama pada masa permulaan pertumbuhan ekonomi. Pada awal pertumbuhan ekonomi akan terdapat banyak hambatan untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi. Apabila suatu negara mempunyai kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan dengan baik maka hambatan pertumbuhan ekonomi akan dapat diatasi dan pertumbuhan ekonomi akan tumbuh pesat.

2) Jumlah dan mutu dari penduduk dan tenaga kerja

Penduduk yang bertambah dari waktu ke waktu dapat menjadi pendorong bahkan penghambat suatu pertumbuhan ekonomi. Dorongan yang timbul dari perkembangan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi bersumber dari akibat pertambahan terhadap pasar. Perkembangan penduduk menyebabkan besarnya luas pasar dari barang-barang yang dihasilkan perusahaan menjadi besar pula. Karena peranannya ini, maka perkembangan penduduk akan menimbulkan dorongan kepada pertambahan dalam produksi nasional dan tingkat kegiatan ekonomi. Akibat buruk dari pesatnya pertambahan penduduk kepada pertumbuhan ekonomi terutama dihadapi oleh masyarakat yang kemajuan ekonominya belum tinggi tetapi telah menghadapi masalah kelebihan penduduk. Suatu Negara

(17)

17

dipandang menghadapi masalah kelebihan penduduk apabila jumlah penduduk adalah tidak seimbang dengan faktor-faktor produksi lain yang tersedia, yaitu jumlah penduduk yang jauh melebihi faktor produksi.

3) Barang-barang modal dan tingkat teknologi

Barang-barang modal penting artinya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Barang-barang modal yang bertambah jumlahnya dan teknologi yang telah bertambah modern memegang peranan penting di dalam mewujudkan kemajuan ekonomi. Kemajuan teknologi menimbulkan beberapa efek positif dalam pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan pesatnya pertumbuhan ekonomi. 4) Sistem sosial dan sikap masyarakat

Sistem sosial dan sikap masyarakat penting peranannya dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Sistem sosial yang dimiliki oleh masyarakat yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah masyarakat masih menggunakan cara tradisional dalam melakukan proses produksi. Sikap masyarakat yang dapat memberikan dorongan yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah sikap berhemat dan bertujuan untuk investasi.

Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan output per kapita. Dalam hal ini, terdapat dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu dari sisi output totalnya (PDB) dan sisi jumlah penduduknya. Proses kenaikan output per kapita harus dianalisis dengan melihat apa yang terjadi dengan output total dan jumlah penduduk. Aspek lain dari definisi “pertumbuhan ekonomi” adalah perspektif waktu, suatu perekonomian tumbuh apabila dalam jangka waktu yang cukup lama mengalami kenaikan output per kapita. Pada suatu saat memang bisa terjadi

(18)

18

penurunan output, tetapi apabila selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut output per kapita menunjukkan kecenderungan yang meningkat, maka dapat dikatakan bahwa terjadi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi membutuhkan penyediaan dan pengalokasian faktor-faktor produksi secara efisien. Modal sebagai salah faktor-faktor produksi untuk pembiayaan pembangunan nasional pada dasarnya berasal dari dua sumber yaitu sumber modal dalam negeri dan sumber modal luar negeri. Sumber modal dalam negeri berupa tabungan yang diciptakan dan dihimpun dengan cara menghemat konsumsi sekarang atau meningkatkan penerimaan baik dari sektor pemerintah maupun sektor swasta. Sedangkan sumber modal dari luar negeri berupa hibah (grant), utang luar negeri dan penanaman modal asing (PMA).

2.1.3 Teori-teori Pertumbuhan Ekonomi

1) Adam Smith

Dalam Lincolin Arsyad (2010:75), Smith menerangkan ada dua aspek utama dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu:

a) Pertumbuhan output total, dan b) Pertumbuhan penduduk

Menurut Smith, sumber daya alam yang telah ada di dunia merupakan suatu hal yang mendasar dari kegiatan produksi masyarakat. Jumlah sumberdaya alam yang telah tersedia merupakan “batas maksimum” bagi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Maksudnya, jika sumber daya yang telah tersedia belum mampu digunakan sepenuhnya maka jumlah penduduk dan stok modal yang mempunyai peranan untuk menggunakannya dalam pertumbuhan output. Tetapi, pertumbuhan

(19)

19

output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan sepenuhnya. Sumber daya manusia (jumlah penduduk) mempunyai peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output. Maksudnya, jumlah penduduk dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja dari suatu masyarakat. Meskipun telah disadari bahwa pertumbuhan ekonomi bergantung kepada banyak faktor, ahli-ahli ekonomi klasik lebih mefokuskankan perhatiannya kepada pengaruh pertambahan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Pada mulanya, ketika jumlah penduduk sedikit dankekayaan alam relatif banyak, maka tingkat pengembalian modal dari investasi yang dibuat justru akan meningkat. Ketika pertumbuhan penduduk semakin tinggi, pertambahan tersebut akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena produktifitas setiap penduduk akan berkurang dan pada saat keadaan tersebut terjadi, maka kemakmuran masyarakat menurun kembali. Berdasarkan kepada teori pertumbuhan klasik, dikenal suatu teori yang bernama teori penduduk optimum. Teori tersebut menjelaskan hubungan antara pendapatan perkapita dan jumlah penduduk. Apabiladalam suatu daerah kekurangan penduduk, produksi marjinal akan lebih tinggi daripada pendapatan perkapita. Maka pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan perkapita. Akan tetapi apabila penduduk semakin banyak, maka produksi marjinal akan semakin menurun. Oleh karenanya pendapatan nasional dan pendapatan perkapita tidak akan berkembang pesat. Jika penduduk terus bertambah, maka pada kondisi tersebut menyebabkan produksi marjinal

(20)

20

telah sama dengan pendapatan perkapita. Pada keadaan ini pendapatan perkapita telah sampai pada titik maksimum dengan nilai yang maksimum pula dan jumlah penduduk pada kondisi tersebut dinamakan penduduk optimum. Secara grafik, teori penduduk optimum dapat ditunjukkan oleh Gambar 2.1. Kurva 𝑌𝑝𝑘

menunjukkan tingkat pendapatan perkapita pada berbagai jumlah penduduk dan Madalah puncak kurva tersebut. Maka penduduk optimal adalah jumlah penduduk sebanyak 𝑁𝑜, dan pendapatan perkapita yang paling maksimum adalah 𝑌𝑜.

Gambar 2.1 Teori Pertumbuhan Klasik: Penduduk Optimum

Sumber: Sukirno, 2011

Efek dari pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh perkembangan ekonomi dapat menggeser kurva 𝑌𝑃𝐾 bergerak keatas menjadi 𝑌′𝑃𝐾. Perubahan tersebut dapat menyebabkan dua hal yakni: (i) penduduk optimum akan bergeser dari 𝑁0 ke kanan menjadi 𝑁1 dan pada penduduk optimum 𝑁1 pendapatan perkapita lebih tinggi dari 𝑌𝑜menjadi 𝑌1.

Stok modal menurut Smith memegang peranan paling penting dalam pembangunan ekonomi. Cepat lambatnya pembangunan ekonomi tergantung pada ketersediaan stok kapital. Selain itu, unsur produksi yang secaraaktif menentukan tingkat output. Peranan sangat sentral dalam proses pertumbuhan output. Jumlah

(21)

21

dan tingkat pertumbuhan output tergantungpada laju pertumbuhan stok modal (sampai batas maksimum dari sumberdaya alam).

Smith juga mengemukakan pengaruh stok modal terhadap tingkat output total bisa secara langsung dan tak langsung. Pengaruh langsung tersebut maksudnya adalah karena pertambahan modal (sebagai input) akan langsung meningkatkan output. Sedangkan pengaruh tidak langsung maksudnya adalah peningkatan produktivitas tenaga kerja yang dimungkinkan karena adanya spesialisasi.

2) Harrod-Domar

Dalam Arsyad (2010:83), teori Harrod-Domar ini menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar suatu perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Menurut Harrod-Domar, pembentukan modal merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Pembentukan modal tidak hanya dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kemampuan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang dan jasa, tetapi juga akan meningkatkan permintaan efektif masyarakat.

Harrod-Domar menekankan pentingnya peranan investasi (I). Mereka berpendapat bahwa investasi (I) mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat (Z) melalui proses multiplier, dan mempunyai pengaruh terhadap penawaran agregat (S) melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Investasi (I) dapat diartikan sebagai tambahan stok kapital (D K). Jadi I = DK. Hubungan antara stok kapital (K) dan output total potensial (QP) dapat dirumuskan sebagai: QP = hK ……… (1) Dimana h menunjukkan berapa unit output yang dapat dihasilkan dari setiap unit

(22)

22

kapital. Koefisien ini disebut output-capital ratio, dan kebalikannya 1/h adalah capital-output ratio. Hubungan antara K dan QP tersebut bersifat proporsional. Oleh karenanya, K/QP = DK/DQP = 1/h. DK/DQP disebut incremental capital-output ratio (ICOR).

Hubungan ini, selanjutnya dapat dikatakan bahwa penambahan kapasitas tersebut akan meningkatkan output potensial sebesar,

DQP = h DK = h I ……… (2) Besar nilai h tergantung pada keadaan masing-masing negara, tetapi secara umum berkisar antara 0,25-0,50. Peningkatan investasi (I) juga berpengaruh terhadap permintaan agregat (Z) melalui proses multiplir. Berdasarkan teori multiplier, investasi (I) akan menimbulkan permintaan agregat (Z) sebesar:

3) Teori Tahap-tahap Pertumbuhan Ekonomi

Teori ini dimunculkan oleh Prof. W.W. Rostow ysng memberikan lima tahap dalam pertumbuhan ekonomi. Analisis ini didasarkan pada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi akan tercapai sebagai akibat dari timbulnya perubahan yang fundamental dalam corak kegiatan ekonomi, juga dalam kehidupan politik dan hubungan sosial dalam suatu masyarakat dan negara. Adapun kelima tahapan tersebut adalah :

1) Tahap Masyarakat Tradisional ( The Traditional Society )

Rostow mengartikan bahwa masyrakat tradisional sebagai suatu masyarakat yang:

(23)

23

a) Cara-cara memproduksi yang relatif primitif dan sikap masyarakat serta cara hidupnya yang sangat dipengaruhi oleh nila-nilai yang dicetuskan oleh cara pemikiran yang bukan rasional, tetapi oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun-menurun. Tingkat produksi yang dapat dicapai masih sangat terbatas, karena ilmu pengetahuan dan teknologi modern belum digunakan secara sistematis dan teratur.

b) Tingkat produksi perkapita dan tingkat produktivitas per pekerja masih sangat terbatas. Oleh sebab itu sebagian besar dari sumber-sumber daya masyarakat digunakan untuk kegiatan dalam sektor pertanian. Dalam sektor ini struktur sosialnya sangat bersifat hirerarkis sehingga mobilitas secara vertikal dalam masyarakat sedikit sekali.

c) Kegiatan politik dan pemerintah terdapat di daerah-daerah dipegang oleh tuan-tuan tanah yang berkuasa, dan kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat selalu dipengaruhi oleh pandangan tuan-tuan tanah diberbagai daerah tersebut.

2) Tahap Persyaratan Lepas Landas

Tahap ini adalah tahap sebagai suatu masa tansisi pada saat masyarakat mempersiapkan dirinya atau dipersiapkan dari luar untuk mencapai pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untuk terus berkembang (self-sustaigrowth). Pada tahap ini dan sesudahnya pertumbuhan ekonomi akan berlaku secara otomatis. Tahap prasyarat lepas landas ini dibedekan menjadi dua, yaitu :

(24)

24

a) Tahap prasyarat untuk lepas landas yang dicapai oleh negara-negara eropa , asia, timur tengah, dan afrika yang dilakukan dengan merubah struktur masyarakat tradisional yang sudah ada.

b) Yang dinamakan Rostow bom free, yaitu prasyarat lepas landas yang dicapai Amerika serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, dengan tanpa harus merombak sistem masyarakat yang tradisional, karena masyarakat negara-negara itu terdiri dari emigren yang telah mempunyai sifat-sifat yang diperlukan oleh masyarakat untuk mencapai tahap prasyarat lepas landas.

3) Tahap Lepas Landas (Take Off)

Adalah suatu tahap interval dimana tahap masyarakat tradisional dan tahap prasyarat untuk lepas landas telah dilewati. Pada periode ini, beberapa penghalang pertumbuhan dihilangkan dan kekuatan 0 kekuatan yang menimbulkan kemajuan ekonomi diperluas dan dikembangkan, serta mendominasi masyarakat sehingga menyebabkan efektivitas investasi dan meningkatnya tabungan masyarakat. Ciri-ciri tahap lepas landas yaitu :

a) Adanya kenaikan dalam penanam modal investasi (yang produktif, dari 5% atau kurang, menjadi 10% dari Produk Nasional Neto). NNP=GNP-D (penyusutan).

b) Adanya perkembangan bebrapa sektor industri dengan laju perkembangan yang tinggi.

c) Adanya atau terciptanya suatu kerangka dasar politik, sosial dan institusional yang akan menciptakan: 1) Kenyataan yang membuat

(25)

25

perluasan di sektor modern. 2) Potensi ekonomi ekstern sehingga penyebabkan pertumbuhan terus-menerus berlangsung.

4) Tahap Gerakan ke Arah Kedewasaan (The Drive of Maturity)

Gerakan ke arah kedewasaan diartikan sebagai suatu periode ketika masyarakat secara efektif menerapkan teknologi modern dalam mengolah sebagian besar faktor-faktor produksi dan kekayaan alamnya. Ciri-ciri gerakan ke arah kedewasaan adalah:

a) Kematangan teknologi, dimana struktur keahlian tenaga kerja mengalami perubahan.

b) Sifat kepemimpian dalam perusahaan mengalami perubahan.

c) Masyarakat secara keseluruhan merasa bosan dengan keajaiban yang diciptakan oleh industrialisasi, karena berlakunya hukum kegunaan batas semakin berkurang.

5) Tahap Masa Konsumsi Tinggi.

Pada masa ini perhatian masyarakat mengarah kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat yang bukan lagi kepada masalah produksi. Leading sectors bergerak ke arah barang-barang konsumsi yang tahan lama serta jasa-jasa. Pada periode ini terdapat tiga macam tujuan masyarakat untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang tersedia dan dukungan politis, yaitu:

a) Memperbesar kekuasaan dan pengaruh negara tersebut ke luar negeri dan kecenderungan ini dapat berakhir pada penaklukan atas negara-negara lain.

(26)

26

b) Menciptakan suatu welfare state, yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada pendukungnya dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem perpajakan yang progresif, dalam sistem perpajakan seperti ini makin besar pendapatan maka makin besar pajaknya. Mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat di atas konsumsi dasar yang sederhana atas makanan, pakaian, rumah tangga secara terpisah dan juga barang konsumsi tahan lama serta barang-barang mewah.

2.1.4 Distribusi Pendapatan

Secara umum menurut Adelman dan Morris dalam Arsyad (2010:283), ada delapan penyebab timbulnya ketidakmerataan distribusi pendapatan, yaitu:

1) Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memicu penurunan pendapatan per kapita.

2) Inflasi dimana pendapatan atas uang bertambah namun tidak diikuti secara proporsional oleh pertambahan produksi barang-barang.

3) Ketidakmerataan pembangunan antar daerah.

4) Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal (capital intensive).

5) Rendahnya mobilitas sosial.

6) Pelaksanaan kebijakan industri substitusi impor yang mengakibatkan kenaikan harga-harga barang hasil industri.

7) Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi negara yang masih berkembang dalam perdagangan dengan negara yang maju.

(27)

27

8) Hancurnya industri-industri kerajinan rakyat seperti pertukangan, industri rumah tangga dan lain-lain.

Distribusi pendapatan sebagai suatu ukuran dibedakan menjadi tiga ukuran pokok, baik untuk tujuan analisis maupun untuk tujuan kuantitatif yaitu:

1) Distribusi pendapatan pribadi atau distribusi pendapatan berdasarkan ukuran atau besarnya pendapatan.

Distribusi pendapatan pribadi atau distribusi pendapatan berdasarkan besarnya pendapatan paling banyak digunakan ahli ekonomi. Distribusi ini hanya menyangkut orang per orang atau rumah tangga dan total pendapatan yang mereka terima, dari mana pendapatan yang mereka peroleh tidak dipersoalkan. Tidak dipersoalkan pula berapa banyak yang diperoleh masing-masing individu, apakah merupakan hasil dari pekerjaan mereka atau berasal dari sumber-sumber lain. Selain itu juga diabaikan sumber-sumber pendapatan yang menyangkut lokasi (apakah di wilayah desa atau kota) dan jenis pekerjaan.

2) Distribusi pendapatan “fungsional” atau distribusi pendapatan menurut bagian.

Indikator ini berusaha untuk menjelaskan pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing faktor produksi (tanah, modal, tenaga kerja dan kewirausahaan). Teori distribusi pendapatan fungsional ini pada dasarnya memfokuskan perhatiannya pada persentase penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan, bukan sebagai unit-unit usaha (faktor produksi) yang terpisah, dan kemudian membandingkannya dengan persentase pendapatan total yang berwujud

(28)

28

sewa, bunga dan laba (masing-masing merupakan hasil perolehan atas faktor produksi tanah, modal dan kewirausahaan).

3) Distribusi Regional

Aspek keadilan dan pemerataan, selain dapat ditinjau berdasarkan distribusi perorangan dan fungsional, dapat pula ditinjau berdasarkan distribusi regional (antardaerah). Misalnya, untuk kasus Indonesia, distribusi pendapatan antar kabupaten, antar provinsi, antar jawa – luar jawa, antar desa-kota. Untuk Indonesia, berdasarkan data yang tampak adanya perbedaan tingkat kesejahteraan antar wilayah/daerah di Indonesia. Beberapa faktor penting diduga sebagai penyebab terjadinya perbedaan pendapat antar wilayah ini adalah kepemilikan sumberdaya alam, ketersediaan infrastruktur, dan kualitas sumberdaya manusia.

2.1.5 Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Ketimpangan pada kenyataannya tidak dapat dihilangkan dalam pembangunan suatu daerah. Adanya ketimpangan, akan memberikan dorongan kepada daerah yang terbelakang untuk dapat berusaha meningkatkan kualitas hidupnya agar tidak jauh tertinggal dengan daerah sekitarnya. Selain itu daerah-daerah tersebut akan bersaing guna meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga ketimpangan dalam hal ini memberikan dampak positif. Akan tetapi ada pula dampak negatif yang ditimbulkan dengan semakin tingginya ketimpangan antar wilayah. Dampak negatif tersebut berupa inefisiensi ekonomi, melemahkan stabilitas sosial dan solidaritas, serta ketimpangan yang tinggi pada umumnya dipandang tidak adil (Todaro, 2004:235).

(29)

29

Menurut Kuznets (dalam Arsyad, 2010:293) seorang ekonom klasik menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara miskin pada awalnya cenderung menyebabkan tingginya tingkat kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan. Namun bila negara-negara miskin tersebut sudah semakin maju, maka persoalan kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan akan menurun (an inverse U shaped patern). Beberapa ekonom pembangunan tetap berpendapat bahwa tahapan peningkatan dan kemudian penurunan ketimpangan pendapatan yang dikemukakan Kuznets tidak dapat dihindari.

Kuznets menjelaskan disparitas dalam pembagian pendapatan cenderung bertambah besar selama tahap-tahap awal pembangunan, baru kemudian selama tahap-tahap lebih lanjut dari pembangunan berbalik menjadi lebih kecil, atau dengan kata lain bahwa proses pembangunan ekonomi pada tahap awal mengalami kemerosotan yang cukup besar dalam pembagian pendapatan, yang baru berbalik menuju suatu pemerataan yang lebih besar dalam pembagian pendapatan pada tahap pembangunan lebih lanjut. Seperti yang digambarkan dalam kurva Kuznets, dalam jangka pendek ada korelasi positif antara pertumbuhan pendapatan perkapita dengan disparitas pendapatan. Namun dalam jangka panjang hubungan keduanya menjadi korelasi yang negatif.

Untuk mengukur suatu ketidakmerataan distribusi pendapatan ada tiga cara yang bisa dilakukan yaitu:

1) Kurva Lorenz

Cara lain untuk menganalisis distribusi pendapatan perorangan adalah membuat kurva yang disebut kurva Lorenz yang diambil dari nama Conrad

(30)

30

Lorenz, seorang ahli statistika dari Amerika Serikat. Pada tahun 1905, ia menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok penduduk dan pangsa (share) pendapatan mereka.

Gambar 2.2 menunjukan bagaimana cara menggambarkan kurva Lorenz tersebut. Jumlah penerimaan pendapatan digambarkan pada sumbu horizontal, tidak dalam angka mutlak namun dalam presentase kumulatif. Misalnya, titik 20 menunjukan 20 persen penduduk termiskin (paling rendah pendapatannya), dan pada titik 60 menunjukan 60 persen penduduk terbawah pendapatannya, dan pada ujung sumbu horizontal menunjukan jumlah 100 persen penduduk yang dihitung pendapatannya. Sumbu vertikal menunjukan pangsa pendapatan yang diterima oleh masing-masing presentase jumlah penduduk. Jumlah ini juga kumulatif sampai 100 persen, dengan demikian kedua sumbu itu sama panjangnya dan akhirnya membentuk bujur sangkar.

Gambar 2.2 Kurva Lorenz

Sumber: Arsyad, 2010

Sebuah garis diagonal kemudian digambarkan melalui titik origin menuju sudut kanan atas dari bujur sangkar tersebut. Setiap titik pada garis diagonal

100 Pendapatan % Penduduk 0 100 Kurva Lorenz Garis Kemerataan

(31)

31

tersebut menunjukan bahwa presentase pendapatan yang diterima sama persis dengan persentase penerima pendapatan tersebut. Sebagai contoh, titik tengah dari diagonal tersebut benar-benar menunjukan bahwa 50 persen pendapatan diterima oleh 50 persen jumlah penduduk. Demikian juga titik 75 atau 25, atau dengan kata lain, garis diagonal tersebut menunjukan distribusi pendapatan dalam keadaan kemerataan sempurna (perfect equality). Oleh karena itu, garis tersebut dapat juga disebut sebagai garis kemerataan-sempurna.

Semakin jauh kurva Lorenz tersebut dari garis diagonal (kemerataan sempurna), maka semakin tinggi pula derajat ketidakmerataan yang ditunjukan. Keadaan yang paling ekstrim dari ketidakmerataan sempurna, misalnya keadaan di mana seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang, akan ditunjukan oleh berimpitnya kurva Lorenz tesebut dengan sumbu horizontal bagian bawah dan sumbuh vetikal sebelah kanan.

Oleh karena tidak ada suatu negarapun yang mengalami pemerataan sempurna ataupun ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatannya, maka kurva-kurva Lorenz untuk setiap negara akan terletak di sebelah kanan kurva diagonal tersebut, seperti yang nampak pada gambar 2.2 tersebut. Semakin tinggi derajat ketidakmerataannya, maka kurva Lorenz tersebut juga akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horizontal sebelah bawah.

Suatu ukuran yang singkat mengenai derajat ketidakmerataan distribusi pendapatan dalam suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung luas daerah antara garis diagonal (kemerataan sempurna) dengan kurva Lorenz dibandingkan denga luas total dari sepuluh bujur sangkar dimana kurva Lorenz tersebut berada.

(32)

32

Pada gambar 2.3 koefisien Gini ditunjukan oleh perbandingan antara daerah A (luas daerah yang dilingkupi garis kemerataan sempurna dan kurva Lorenz) dengan luas segitiga BCD. Koefisien Gini diambil dari nama ahli statistik Itali yang bernama C. Gini yang pertama kali menemukan rumus tersebut pada tahun 1912.

Gambar 2.3 Perkiraan Koefisien Gini

Sumber: Arsyad, 2010

Koefisien Gini ini merupakan ukuran ketidakmerataan agregat dan nilainya terletak antara 0 (kemerataan sempurna) sampai 1 (ketidakmerataan sempurna). Koefisien Gini dari negara-negara yang mengalami ketidakmertaan tinggi berkisar antara 0,50-0,70; ketidakmerataan sedang berkisar antara 0,36-0,49; dan yang mengalami ketidakmerataan rendah berkisar antara 0,20-0,35.

2) Hipotesis Kuznets

Fenomena hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketidakmertaan pendapatan pertama kali diperkenalkan oleh Simon Kuznets sekitar 50 tahun lalu. Hipotesis Kuznets melahirkan sebuah wacana baru bahwa pembangunan disuatu negara pada batas-batas tertentu ternyata dapat memicu timbulnya kesenjangan

Kurva Lorenz Garis Kemerataan C % Pendapatan % Penduduk D B

(33)

33

ekonomi diantara warganya. Analisis Kuznets ini menggunakan pendekatan test cross-section country, dimana analisis ini dilakukan di banyak negara pada satu titik waktu tertentu, bukan membahas satu negara dalam kurun waktu yang panjang.

Dalam analisisnya, Kuznets menemukan relasi antara tingkat kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapata per kapita yang berbentuk U terbalik, yang menyatakan bahwa pada awal tahap pertumbuhan, distribusi pendapatan atau kesejahteraan cenderung memburuk. Namun pada tahap berikutnya, distribusi pendapatan tersebut akan membaik seiring dengan meningkatnya pendapatan perkapita.

Dewasa ini, terdapat banyak ulasan yang mencoba untuk menjelaskan mengapa pada awal tahap pembangunan, distribusi pendapatan cenderung memburuk, lalu kemudian pada tahap berkutnya mulai membaik. Sebagian besar dari ulasan tersebut mengaitkannya dengan kondisi struktural perekonomian tersebut. Dengan menggunakan acuan kerangka model dua sektornya Lewis, kita dapat menjelaskan bahwa tentang mengapa pada awal tahap pembangunan, kesenjangan pendapatannya begitu tinggi. Pada tahap awal pembangunan, pertumbuhan ekonomi biasanya terpusat di sektor modern. Pada tahap ini, lapangan kerjanya terbatas, namun tingkat upah dan produktivitasya terhitung tinggi. Ada kesenjangan pendapatan antara sektor modern dan sektor tradisional yang pada awalnya akan semakin melebar dalam waku yang singkat, namun pada akhirnya menyempit kembali. Ketimpangan di sektor modern relatif lebih tinggi daripada yang terjadi di sektor tradisional (sektor tradisional relatif stagnan).

(34)

34

Selain itu, pada tahap ini, langkah-langkah transfer pendapatan dan berbagai kebijakan lainnya yang diarahkan untuk mengurangi ketimpangan akan menemui jalan buntu, karena terbatasya dana pemerintah sehubungan dengan masih relatif rendahnya pendapatan nasional yang dimiliki.

3) Indeks Williamson

Salah satu indikator yang biasa dan dianggap cukup representatif untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan antardaerah (regional) adalah indeks ketimpangan daerah yang dikemukakan oleh Jeffrey G. Williamson (1965). Williamson mengemukakan model Vw (indeks tertimpang atau weighted index terhadap jumlah penduduk) dan Vuw (tidak tertimpang atau un-weighted index) untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan perkapita suatu negara pada waktu tertetu. Karena jumlah penduduk masing-masing daerah biasanya sangat variatif, maka model ketimpangan tertimbang menjadi lebih relevan. Dengan demikian, penjelasan tentang kecenderungan meningkat atau menurunnya ketimpangan tersebut dapat dijelaskan dengan memperhatikan pada besarnya penyebut atau pembagi dari penduduk daerah tersebut.

Dari perhitungan yang dilakukan di beberapa negara terlihat bahwa ketimpangan antardaerah itu cenderung berubah mengikuti suatu tren yang berbentuk U (U-Shape), dimana pada tahap awal pembangunan derajat ketimpangan pendapatan antardaerah cenderung meningkat, kemudian mengalami masa stabil, seterusnya menjadi berkurang. Namun, untuk negara-negara tertentu, bentu U tersebut tidak sepenuhnya berlaku. Ada variasi-variasi tertentu yang bersifat khusus.

(35)

35

Ada tiga kriteria dalam perhitungan Indeks Wiliamson ini, yaitu jika Indeks Wiliamson menunjukan:

a) Angka 0,0 sampai 0,2, maka ketidakmerataannya rendah b) Angka 0,21 sampai 0,35, maka ketidakmerataannya sedang c) Angka > 0,35, maka ketidakmerataannya tinggi.

2.1.6 Ekspor

Perdagangan internasional merupakan suatu cerminan dari negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Pada zaman globalisasi ini hampir tidak ada negara yang menganut sistem ekonomi tertutup. Hal ini terjadi karena tentu saja setiap negara tidak bisa memenuhi keseluruhan kebutuhan masyarakatnya hanya dengan hasil produksi negeri sendiri. Masyarakat di suatu negara perlu mengkonsumsi barang-barang lainnya yang tidak bisa di produksi negeri sendiri sehingga perlu adanya pertukaran atau perdagangan antar negara (Dachliani, 2006).

Beberapa teori yang menerangkan tentang timbulnya perdagangan internasional pada dasarnya adalah sebagai berikut:

1) Teori Klasik

a) Kemanfaatan absolut (absolut advantage) oleh Adam Smith

Teori ini lebih mendasarkan pada besaran variabel riil bukan moneter sehingga dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang

(36)

36

digunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (labor theory of value).

Cina Inggris

Padi 8 10

Pakaian 4 2

Cina lebih efisien dalam memproduksi padi karena tenaga kerja yang dibutuhkan lebih rendah dibanding Inggris (Cina memiliki absolute advantage dalam memproduksi Padi). Inggris lebih efisien dalam memproduksi pakaian karena tenaga kerja yang dibutuhkan lebih rendah dibanding Cina (Inggris memiliki absolute advantage dalam memproduksi pakaian). Menurut Adam Smith kedua negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi dan kemudian berdagang. Cina cenderung berspesialisasi pada produksi padi dan Inggris pada produksi pakaian. Dasar spesialisasi ini adalah absolute advantage dalam produksi barang-barang tersebut (Salvatore, 1997:25).

2) Teori Heckscher-Ohlin (H-O)

Teori Heckscher-Ohlin (H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negara-negara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif melimpah secara intensif. Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah:

(37)

37

1) Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi di dalam suatu negara.

2) Faktor intensity, yaitu teknologi yang digunakan di dalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity.

Teori modern Heckescher-Ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan total biaya produksi yang sama dan kurva isoquant yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut teori ekonomi mikro kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu. Analisis hipotesis H-O dikatakan berikut:

1) Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara.

2) Comparative Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilikinya.

3) Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk memproduksinya.

4) Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya. Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara

(38)

38

relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi.

3) Teori Perluasan Pasar (Vent For Surplus)

Menurut analisa Adam Smith yang dikenal dengan doktrin vent for surplus, perdagangan luar negeri suatu negara dapat menaikkan produki barang dan jasa yang sudah tidak dapat dijual di dalam negeri akan tetapi masih dapat dijual di luar negeri. Dengan penjualan barang di luar negeri tersebut negara itu dapat mengimpor barang-barang luar negeri sehingga mampu memperbesar tingkat produksinya, dan juga menambah jumlah barang yang dikonsumsi oleh penduduk di negerinya. Perluasan pasar ini akan mendorong sektor produktif untuk menggunakan teknik produksi yang produktivitasnya lebih tinggi dikarenakan dengan adanya teknologi baru yang lebih baik daripada yang ada di dalam negeri. 4) Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)

Teori ini dikemukakan oleh David Ricardo dalam bukunya yang berjudul “Principles of Political Economy and Taxation“ tahun 1817. Teori keunggulan komparatif adalah keunggulan yang diperoleh suatu negara (dari menjalankan spesialisasi) karena dapat menghasilkan produk dengan biaya relatif yang lebih rendah daripada negara lain. Menurut teori ini setiap negara akan cenderung untuk melakukan spesialisasi dan mengekspor barang-barang produksinya yang memiliki keunggulan komparatif. Menurut teori ini perdagangan masih tetap bisa dilakukan meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan mutlak sekalipun terhadap negara lain dan tetap memperoleh keuntungan (Salvatore, 1997:27).

(39)

39

Teori Ricardo ini berdasarkan pada beberapa asumsi, yaitu (1) perdagangan internasional hanya terjadi antara dua negara, (2) barang-barang yang diperdagangkan hanya dua jenis, (3) perdagangan dilakukan secara bebas, (4) tenaga kerja bebas bergerak dalam negeri, (5) biaya produksi dianggap tetap, (6) biaya transportasi tidak ada, (7) tidak ada perubahan teknologi.

Menurut Afin dan Nur (2008) manfaat utama perdagangan internasional adalah meningkatkan kemakmuran, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada setiap negara untuk berspesialisasi dalam memproduksi barang dan jasa yang relatif efisien. Efisiensi relatif suatu negara dalam memproduksi produk tertentu dapat dijelaskan dari jumlah produk alternatif lain yang dapat diproduksi dengan input yang sama. Bila ditinjau dari pengertian ini, efisiensi relatif digambarkan sebagai keuntungan komparatif. Semua negara secara bersama-sama dapat memperoleh hasil dari eksploitasi keuntungan komparatifnya, juga dari skala produksi yang lebih besar dan pilihan produk yang lebih beragam yang semuanya dimungkinkan oleh adanya perdagangan internasional. Karena itu, keuntungan dari mengeksploitasi keuntungan komparatif hanyalah sebagian dari seluruh keuntungan perdagangan bebas.

Perdagangan internasional secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang mencakup ekspor dan impor, baik berupa barang dan jasa yang dilakukan antar negara atas pertimbangan tertentu (keuntungan) dan dilakukan tanpa adanya tekanan dari pihak manapun juga. Ekspor merupakan variabel injeksi yang menambah besaran aliran pendapatan seperti halnya investasi, hal ini dikarenakan ekspor berasal dari produksi dalam negeri yang diperdagangkan di

(40)

40

luar negeri. Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri keluar negeri dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Menurut Irham dan Yogi (2003) ekspor adalah menjual barang-barang ke luar negeri untuk memperoleh devisa yang akan digunakan bagi penyelenggaraan ekspor yang terjadi haruslah dengan diversifikasi ekspor sehingga bila terjadi kerugian dalam satu macam barang akan dapat diimbangi oleh keunggulan dari komoditi lainnya.

Menurut Priadi (2000) kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri ke luar negeri dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun. Ekspor merupakan barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri yang dijual secara luas ke luar.

Ditinjau dari sudut pengeluaran, ekspor merupakan salah satu faktor terpenting dari Gross National Product (GNP), sehingga dengan berubahnya nilai ekspor maka pendapatan masyarakat secara langsung juga akan mengalami perubahan. Di lain pihak, tingginya ekspor suatu negara akan menyebabkan perekonomian tersebut akan sangat sensitif terhadap keguncangan-keguncangan atau fluktuasi yang terjadi di pasaran internasional maupun di perekonomian dunia. Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain apabila barang tersebut diperlukan negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri. Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan dari negara tersebut untuk

(41)

41

mengeluarkan barang-barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri. Maksudnya, mutu dan harga barang yang dapat diekspor tersebut haruslah paling sedikit sama baiknya dengan yang diperjual belikan dalam pasaran luar negeri. Secara umum boleh dikatakan bahwa semakin banyak jenis barang yang mempunyai keistimewaan yang sedemikian dihasilkan oleh suatu negara, semakin banyak ekspor yang dapat dilakukan (Sukirno, 2006:56).

Menurut Salvatore (1997) dalam Komalasari (2009), terdapat beberapa alasan sehingga dilakukannya ekspor oleh suatu negara, antara lain: pertama, keinginan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dari produksi atau hasil dalam negeri, termasuk kebutuhan yang dapat diproduksi namun diperlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan jika diproduksi di luar negeri. Kedua, keinginan suatu negara untuk memperluas pemasaran komoditas domestik untuk meningkatkan sumber devisa bagi kegiatan pembangunan.

Menurut Lipsey (1995) dalam komalasari (2009) pertumbuhan ekspor suatu komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

1) Adanya daya saing dengan negara-negara lain di dunia. Oleh karena itu, suatu negara hendaknya melakukan spesialisasi sehingga negara tersebut dapat mengekspor komoditi yang telah diproduksi untuk dipertukarkan dengan apa yang dihasilkan negara lain dengan biaya yang lebih rendah dan pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di negara tersebut.

2) Adanya penetapan harga pasar dalam negeri dan harga pasar internasional. Jika harga pasar internasional lebih tinggi daripada harga pasar domestik, maka produsen akan lebih memilih untuk memasarkan komoditi yang dia

(42)

42

produksi ke pasar internasional sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di negara tersebut.

3) Adanya permintaan dari luar negeri, semakin tinggi permintaan dari luar negeri akan komoditi yang dihasilkan oleh suatu negara, maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekspor di negara tersebut.

4) Nilai tukar mata uang. Apabila suatu negara mengalami depresiasi nilai tukar, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di negara tersebut. Hal itu terjadi karena depresiasi nilai tukar menyebabkan harga-harga komoditi domestik terlihat lebih murah di mata internasional sehingga permintaan luar negeri untuk komoditi tersebut akan meningkat.

2.1.7 Penanaman Modal Asing

Menurut Mankiw (2008:53) meningkatkan investasi di suatu negara dapat membuat pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi asing dilakukan dalam berbagai macam bentuk. Investasi modal yang dimiliki dan dikelola oleh pihak asing disebut dengan investasi asing langsung sedangkan investasi yang dibiayai oleh pihak asing tetapi dioperasikan oleh pihak domestik disebut investasi asing portofolio. Investasi asing salah satu cara sebuah negara untuk dapat berkembang. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian keuntungan dari investasi mengalir ke luar negeri, investasi asing dapat meningkatkan persediaan modal ekonomi, menuju produktivitas yang lebih tinggi, dan upah yang lebih besar. Investasi merupakan salah satu cara mudah bagi negara miskin untuk mempelajari seni penggunaaan teknologi yang dikembangkan dan digunakan negara kaya. Untuk alasan ini, banyak ekonom yang menyarankan kepada pemerintah di negara

(43)

43

yang perekonomiannya belum berkembang untuk menggunakan kebijakan investasi dari luar negeri. Investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi yang dilakukan oleh pihak swasta dan investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Investasi swasta dibagi menjadi dua yaiu penananaman modal asing (PMA) dan penananaman modal dalam negeri (PMDN).

Penanaman modal asing (PMA) menurut UU No.25 tahun 2007 adalah kegiatan menanam aset dalam bentuk uang atau bentuk lain yang bukan uang yang dimiliki oleh asing baik dalam perorangan maupun badan usaha. Penamanan modal asing diperlukan bagi negara berkembang untuk membantu mempercepat pertumbuhan ekonominya. Hal ini dikarenakan peran modal asing membantu dalam industrialisasi dan pembaharuan teknologi yang digunakan dalam negara berkembang tersebut. Selain itu modal asing diperlukan untuk menciptakan kesempatan lapangan kerja baru dan menambah keterampilan keahlian dari tenaga kerja.

Didalam UU No.25 tahun 2007 menjelaskan bahwa penanaman modal mempunyai tujuan yaitu:

1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional 2) Menciptakan lapangan kerja

3) Menigkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan 4) Meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional 5) Meningkatkan kapasitas dan kemapuan teknologi nasional 6) Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan

(44)

44

7) Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal baik dari dalam negeri maupun luar negeri 8) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Menurut Jhingan (2004:483) Penanaman Modal Asing (PMA) sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Modal asing membantu dalam industrialisasi, dalam membangun modal overhead ekonomi dan dalam menciptakan kesempatan kerja. Modal asing tidak hanya membawa uang dan mesin tetapi juga keterampilan teknik. Ia membuka daerah-daerah terpencil dan menggarap sumber-sumber yang belum dimanfaatkan.

Arus sumber keuangan internasional dapat terwujud dalam dua bentuk, yang pertama adalah penanaman modal asing “langsung” atau PMA, yang biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa multinasional atau biasa juga disebut perusahaan transnasional, yaitu suatu perusahaan besar yang berkantor pusat berada di negara-negara maju asalnya, sedangkan cabang operasi atau anak-anak perusahaannya tersebar di berbagai penjuru dunia. Dana investasi ini langsung diwujudkan dengan berupa pendirian pabrik, pengadaan fasilitas produksi, pembelian mesin-mesin dan sebagainya. Investasi asing swasta ini juga berupa investasi portofolio (portofolio investment) yang dana investasinya tidak diwujudkan langsung sebagai alat-alat produksi, melainkan ditanam pada aneka instrumen keuangan seperti saham, obligasi, sertifikat deposito, surat promes investasi, dan sebagainya.

Pertumbuhan penanaman modal asing secara langsung yakni dana-dana investasinya langsung digunakan untuk menjalankan kegiatan bisnis atau

(45)

45

pengadaan alat-alat atau fasilitas produksi seperti membeli lahan, membuka pabrik-pabrik, mendatangkan mesin-mesin, membeli bahan baku dan sebagainya, (untuk membedakan dengan investasi portofolio) berlangsung dengan cepat khususnya masa sebelum krisis ekonomi. Pada kenyataannya, dana investasi asing akan selalu tertuju ke negara-negara atau kawasan yang menjanjikan tingkat hasil finansial dan kadar kepastian yang tinggi.

Pada dasarnya, investasi (penanaman modal) secara langsung ini jauh lebih kompleks dari sekedar transfer modal ataupun pendirian bangunan pabrik dari suatu perusahaan asing di wilayah suatu negara berkembang. Perusahaan-perusahaan raksasa tersebut juga membawa teknik atau teknologi produksi yang lebih canggih, selera dan gaya hidup, jasa-jasa manajerial, berbagai praktek bisnis termasuk pemberlakuan dan pengaturan perjanjian kerjasama. Investasi asing langsung juga dapat berarti bahwa perusahaan dari negara penanam modal secara de facto dan de jure melakukan pengawasan terhadap aset (aktiva) yang ditanam di negara lain. Dengan cara demikian, investasi asing langsung dapat mengambil beberapa bentuk di antaranya pembentukan suatu perusahaan dimana perusahaan investor memiliki mayoritas saham, pembentukan suatu perusahaan di negara pengimpor yang hanya dibiayai oleh perusahaan yang terletak di negara investor untuk secara khusus di negara lain, atau dapat juga menaruh aset tetap di negara lain oleh perusahaan di negara investor.

Investor dalam melakukan ekspansi investasinya mempunyai motivasi agar mendapatkan return dikemudian hari. Menurut UNCTAD (2006) bahwa terdapat 3 motivasi atau alasan untuk melakukan investasi langsung ke luar negeri.

(46)

46

Pertama market-seeking, dimana investor bertujuan untuk menembus dari pasar domestik dan pada umumnya dihubungkan antara ukuran pasar dengan pendapatan perkapita, pertumbuhan ekonomi, akses perdagangan antar negara sekitar, dan selera dari masyarakat negara yang akan di pilih. Kedua resource-asset, di mana investor berdasarkan jumlah bahan baku mulai sumber daya alam, biaya tenaga kerja, angkatan kerja, tenaga kerja terampil, infrastruktur fisik (jalan, pelabuhan, dan telekomunikasi), dan teknologi. Terakhir yaitu efficiency-seeking, investor mempunyai motivasi untuk menciptakan daya saing baru bagi perusahaan karena biaya produksi yang lebih rendah dalam melakukan produktivitasnya.

2.1.8 Hubungan Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Ekspor merupakan proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Menurut Sukirno (1976:133) mengenai hubungan ekspor terhadap pertumbuhan menggunakan teori export base dan resource. Teori export base dan resource yaitu sektor ekspor yang dapat menjadi penggerak dalam pembangunan ekonomi. Sumbangan yang diberikan oleh sektor ekspor dalam pembangunan dibedakan menjadi sumbangan langsung dan sumbangan tidak langsung. Sumbangan langsung dari sektor ekspor dalam pembangunan yakni (i) kenaikan dalam jumlah ekspor memungkinkan sesuatu negara untuk menaikkan jumlah impor, termasuk impor barang modal yang penting peranannnya dalam pembangunan ekonomi, (ii) dengan mengembangkan sektor ekspor maka dana pembangunan yang tersedia akan dialirkan ke dalam sektor yang paling efisien, yaitu sektor penghasil barang ekspor, yang sanggup bersaing dengan industri-industri lain di luar negeri, (iii)

Gambar

Tabel 1.1  Gini Rasio Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009- 2009-2013 (dalam persen)  Kabupaten/Kota  2009  2010  2011  2012  2013  Jembrana  0.237  0.258  0.402  0.371  0.365  Tabanan  0.253  0.260  0.365  0.347  0.379  Badung  0.227  0.286  0.
Tabel 1.2  Laju  Pertumbuhan  Ekonomi  Kabupaten/Kota  di  Provinsi  Bali PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2009-2013  (dalam persen)
Tabel 1.3  Ekspor  Barang  dan  Jasa  Atas  Dasar  Harga  Konstan  Menurut  Kabupaten/Kota  di  Provinsi  Bali  Tahun  2007-2013  (Juta  Rupiah)  KABUPATEN/KOTA  2007  2008  2009  2010  2011  2012  2013  Jembrana  1.093.395  1.274.436  1.329.317  1.405.537
Tabel 1.4  Realisasi  Penanaman  Modal  Asing  di  Bali  Menurut  Kabupaten/Kota  di  Provinsi  Bali  Tahun  2009  –  2013  (Juta  Rupiah)     Kabupaten/Kota      Regency/City  2 0 0 9  2 0 1 0  2 0 1 1  2 0 1 2  2 0 1 3     (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6)
+7

Referensi

Dokumen terkait

pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dan sebagian subjek evaluasi sudah mampu dalam membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar,

Penerimaan pendapatan melalui pajak daerah akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di suatu negara maupun daerah Meningkatnya pertumbuhan ekonomi melalui indikator

Adapun tujuan lain dari penelitian ini ialah memberikan alternatif lain dalam melihat fenomena reformasi sistem jaminan sosial tidak hanya berupa alasan-alasan normatif tetapi

Dari hasil analisa bivariat diperoleh bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang Basic Trauma Cardiac Life Support dengan penanganan Primary Survey

Pola asuh orang tua demokratis di PAUD Melati Komplek Green Garden.ditandai dengan menegur dan menanyakan sebab-sebabnya bila anak tidak belajar, selalu memperhatikan

Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Pratiwi (2014) bahwa perusahaan belum sesuai dengan SAK ETAP karena belum menyajikan laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas,

Dengan melihat keberadaan Relokasi tersebut , penelitian ini disusun dengan tujuan untuk meneliti penataan ruang pada interior bangunan relokasi tersebut yang dilakukan

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disebut Musrenbang merupakan proses menggali aspirasi dan gagasan masyarakat terhadap usulan perencanaan