22 Universitas Kristen Petra
4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1. Sejarah Singkat Restoran “X”
Panen Boga Lestari pertama kali didirikan di Jakarta pada bulan Juli 1997. Panen Boga Lestari memiliki sebuah konsep, yaitu untuk membangun restoran mewah yang melayani pelaku bisnis, keluarga dan remaja-remaja yang mengunjungi department store dalam lingkup area tersebut.
Pemilik Panen Boga Lestari adalah Gajah Tunggal. Tujuan dari restoran ini adalah untuk memperluas pangsa pasar dalam bisnis restoran di Indonesia yang disertai dengan servis yang luar biasa dan tentu saja dengan kualitas makanannya. Panen Boga Lestari menyadari bahwa untuk memperoleh lokasi yang strategis, rasa dari makanan dan juga pelayan yang baik adalah merupakan faktor utama.
Pada tahun 1997, Panen Boga Lestari membawa outlet pertamanya yang dikenal sebagai Restoran “X” yang berlokasi di jalan Lebak Bulus, Jakarta. Kemudian berangsur-angsur membuka di banyak area lain di Jakarta. Setelah itu Panen Boga Lestari membawa lisensi dari Chatterbox di Singapura yang diikuti dengan dibukanya Sogo Bakery, Palm Café, dan Coultyard.
Panen Boga Lestari memperluas bisnisnya di Surabaya pada bulan September 2001 dan berlokasi di jalan Embong Malang 7-21 di dalam Tunjungan Plaza IV Surabaya di dekat Supermarket Sogo. Ketika buka pertama kali, Panen Boga Lestari membuka outletnya yang dibagi menjadi:
No Nama Outlet Tipe Produk
1 Restoran “X”
Berlokasi di lantai bawah tanah Sogo Department Store
Konsep Food Court Minuman Masakan Indonesia Dim Sum Chinese Food Japanese Food 2 Chatterbox
Berlokasi di lantai 2 Sogo Department Store
Didesain untuk masakan bercitarasa Singapore
Minuman (alkohol dan non alkohol) Teh dan Kopi
3 Sogo Bakery
Berlokasi di lantai bawah tanah Sogo Department Store
Untuk menjual bakery (roti dan kue) dan pastry (bermacam-macam cake)
Sekarang Panen Boga Lestari sudah menutup Chatterbox dan Sogo Bakery yang ada di Surabaya, sedangkan Restoran “X” masih dibuka di Surabaya. Di Jakarta Chatterbox masih tetap dibuka.
Akuntansi dan keuangan Panen Boga Lestari berada di bawah 1 department dalam pengawasan manager akuntansi dan keuangan. Untuk operasionalnya, Restoran “X” dikelola oleh 1 sous chef yang dibantu oleh 2 asisten yaitu captain dan assistant captain. Tiap counter memiliki 1 atau 2 koki. Tugas mereka adalah mempersiapkan makanan. Tiap koki mempunyai 2 atau 3 orang counter helper. Tugas mereka adalah membantu koki, melayani pembeli dan menjaga counter.
Ada juga beberapa counter yang tidak mempunyai counter helper. Mereka adalah Aneka Uleg Counter, Soto Counter, Beverage Counter, Japanese Counter, dan Oriental Counter, koki biasanya memiliki tugas ganda yaitu menjadi koki dan counter helper.
Disamping koki dan counters helper, juga ada 2 orang yang membantu untuk menyediakan bahan yang diperlukan. 1 orang menangani bahan-bahan yang disimpan di dalam lemari pendingin dan bahan-bahan-bahan-bahan yang harus dibeli di pasar. Seorang lagi bertanggung jawab untuk bahan-bahan yang disimpan di gudang.
Disamping counter yang menjual masakan buatan koki ada beberapa gerai yang menjual makanan yang berasal dari supplier seperti pempek Palembang, liwet, timbel, nasi atau mie goreng Jogja, bubur Madura, coto Makasar, dan gudeg.
4.1.2. Struktur Organisasi Perusahaan
Peranan struktur organisasi dapat dikatakan penting bagi Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya, karena dengan adanya struktur tersebut dapat diketahui dengan jelas batas-batas dari tugas, tanggungjawab, dan wewenang masing-masing karyawan sehingga dengan pembagian tersebut memungkinkan suatu hotel dapat teratur dan berkembang dengan baik. Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya adalah sebagai berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya
Sumber: Internal Restoran “X”, 2004
Tugas dari masing-masing bagian dari struktur organisasi Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya adalah sebagai berikut:
1. Sous Chef
Sous chef adalah individu yang ditunjuk sebagai kepala dalam kegiatan di dapur. Tugas dari seorang Sous chef adalah sebagai berikut:
a. Mengawasi segala kegiatan yang terjadi di dapur. b. Bertanggung jawab terhadap jalannya kegiatan di dapur.
c. Mengkoordinasi bahan-bahan yang diperlukan untuk kegiatan di dapur. d. Memberi pengarahan kepada para bawahannya yang sedang bertugas.
Direksi (Owner) Sous Chef Captain Assistant Captain Assistant Cook Counter Helper Bush Boy Steward
e. Bertanggung jawab terhadap segala urusan di dapur termasuk counter helper, baik dalam urusan makanan maupun penyetokan barang.
2. Captain
Captain adalah seseorang yang bertugas untuk: a. Mengontrol attendance card staff
b. Mengoreksi staff schedule
c. Mengontrol staff supplier dan kebersihan counter d. Mengontrol semua display makanan per counter e. Membuat daily sales report tiap hari
f. Melakukan stock op name
g. Mengontrol job description per department 3. Assistant Captain
Assitant captain adalah seseorang yang bertugas untuk: a. Melakukan Email daily sales report sebelum jam 11 siang b. Melakukan order audit roll di lantai 4 Sogo
c. Mengontrol nota semua supplier d. Mengawasi staff in charge di floor e. Handle chasier
f. Membuat modal chasier
g. Membantu staff counter dan bush boy
h. Melakukan polishing cutleries, chinese ware, tray, and glass ware i. Melakukan general cleaning setiap bulan sekali
j. Mengontrol break time staff
k. Mengontrol jumlah staff meal (catering)
l. Membuat food label setiap display makanan atau food promotion 4. Assistant Cook
Assistant Cook adalah seseorang yang bertugas untuk:
a. Melakukan order bahan-bahan untuk memasak ke store dengan form store requestation.
b. Memasak sesuai dengan schedule menu
masing-d. Mengawasi dan mengontrol counter helper e. Memotong lauk dan sayur sesuai dengan standart f. Membuat schedule staff masing-masing counter g. Mengontrol semua preparation di chiller h. Menawarkan produk masakannya
i. Membersihkan stove, working table, chiller, steamer, preparation table, lantai, dan rak preparation.
j. Mengontrol form (buku kas) preparation dan penjualan. k. Berkeliling dan membantu di setiap counter
5. Counter Helper
Counter helper adalah seseorang yang bertugas untuk:
a. Membersihkan lantai area counter dengan pembersih lantai b. Membersihkan saluran pembuangan
c. Membersihkan bain marie counter dan tinder counter chiller d. Membantu memotong dan mengupas bahan-bahan masakan e. Membersihkan microwave pada waktu tutup
f. Membersihkan tempat untuk menyajikan makanan (insert, pirex, standing kayu display, dan tempat sambal)
g. Memasak sesuai menu dan standart
h. Mengontrol display makanan dan melakukan garnish makanan i. Menawarkan produk makanan sendiri
j. Melakukan order bahan-bahan untuk memasak di store k. Melakukan handling chasier
l. Membuat modal chasier bagi yang punya ID dan password m. Membersihkan exhaust (penyedot asap)
n. Membersihkan dinding di area counter 6. Bush Boy
Bush Boy adalah seseorang yang bertugas untuk:
a. Membersihkan lantai di floor dengan pembersih lantai b. Menyapu kotoran-kotoran dan sampah di floor
d. Mengontrol dinner plate, soup bowl, glass, chilli set, straw, ashtray, trey, toothpick, dan B&B plate
e. Membersihkan kaca show case di setiap counter f. Melakukan greeting ke customer
g. Membersihkan meja kayu di depan floor h. Membersihkan kursi dan meja di floor i. Membersihkan tempat lilin gantung j. Membersihkan vas bunga gantung k. Melakukan polishing cuttlerays l. Melakukan polishing chinese ware m. Melakukan polishing glass ware n. Membersihkan dinding floor 7. Steward
Steward adalah seseorang yang bertugas untuk:
a. Membersihkan lantai di area kitchen dengan pembersih lantai b. Membersihkan saluran pembuangan air limbah di area kitchen
c. Menggelontor semua lubang saluran pipa air baik di area kitchen maupun di area counter dengan obat kimia (Hcl) setiap 1 minggu sekali
d. Merendam piring yang bernoda lemak/flek yang sulit dibersihkan e. Membersihkan pot washing di area kitchen
f. Membersihkan dish washing machine g. Mencuci semua chinese ware
h. Mencuci semua cuttlerays
i. Membersihkan rak piring dan melakukan clear up table j. Menata rapi krat botol dan kardus
k. Membersihkan dispenser air
l. Mengumpulkan barang-barang yang rusak/pecah m. Membuang sampah sesuai dengan schedule n. Membersihkan dinding di area kitchen o. Membersihkan tempat sampah
4.1.3. Karakteristik Responden
Karakteristik responden penelitian ini dilihat berdasarkan pada jenis kelamin, umur, pendidikan, dan lama bekerja.
1. Karakteristik Responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 1
Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Pria 22 73,3
Wanita 8 26,7
Total 30 100
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa karyawan pria sebanyak 22 orang atau sebesar 73,3%. Sedangkan karyawan wanita sebanyak 8 orang atau sebesar 26,7%.
2. Karakteristik Responden berdasarkan umur
Berdasarkan segi umur, responden dalam penelitian ini dapat dikategorikan dalam berbagai kelompok yaitu:
Tabel 2 Usia Responden
Usia Frekuensi Persentase
17-25 tahun 15 50
25-30 tahun 10 33,3
30-35 tahun 4 13,3
> 35 tahun 1 3,3
Total 30 100
Sumber: Data yang diolah (Lampiran 3)
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa karyawan dengan usia 17-25 tahun sebanyak 15 atau sebesar 50%, karyawan dengan usia 25-30 tahun sebanyak 10 orang atau sebesar 33,3%, karyawan dengan usia 30-35 tahun sebanyak 4 orang atau sebesar 13,3%, dan karyawan dengan usia lebih dari 35 tahun sebanyak 1 orang atau sebesar 3,3%.
3. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan
Berdasarkan jenjang pendidikan, semua responden dapat di deskripsikan sebagai berikut:
Tabel 3
Tingkat Pendidikan Terakhir Responden
Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase
SD 0 0
SMP 0 0
SMU 17 56,7
Perguruan Tinggi 13 43,3
Total 30 100
Sumber: Data yang diolah (Lampiran 3)
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa karyawan dengan tingkat pendidikan terakhir SD tidak ada, tingkat pendidikan terakhir SMP tidak ada, tingkat pendidikan SMU sebanyak 17 orang atau sebesar 56,7 %, dan tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 13 orang atau sebesar 43,3 %.
4. Karakteristik Responden berdasarkan lama bekerja Tabel 4
Lama Bekerja di Restoran “X” Lama bekerja di Restoran “X” Frekuensi Persentase 1-2 tahun 14 46,7 3-4 tahun 11 36,7 > 4 tahun 5 16,7 Total 30 100
Sumber: Data yang diolah (Lampiran 3)
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa karyawan yang telah bekerja selama 1-2 tahun sebanyak 14 orang atau sebesar 46,7 %, karyawan yang telah bekerja selama 3-4 tahun sebanyak 11 orang atau sebesar 36,7%, sedangkan karyawan yang telah bekerja lebih dari 4 tahun sebanyak 5 orang atau sebesar 16,7%.
4.2. Analisa dan pembahasan 4.2.1. Analisis Data
4.2.1.1. Analisis total nilai, Mean dan Standar Deviasi
Hasil penyebaran data kuesioner tentang pengaruh lingkungan kerja terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya seperti yang tampak pada tabel 5 sebagai berikut:
Tabel 5
Total Nilai, Mean dan Standar Deviasi Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas Karyawan
No Pertanyaan Total Mean SD
Lingkungan Kerja Langsung (X1) Layout Internal (x.1.1.)
x.1.1.1. Pengaturan tata letak meja dan kursi pengunjung
memudahkan anda dalam melakukan clear up 111 3,70 0,88
x.1.1.2. Pengaturan tata letak meja kasir cukup strategis untuk memudahkan dalam melayani pengunjung
131 4,37 0,72
Tekstur (x.1.2.)
x.1.2.1. Tekstur meja dan kursi pengunjung (pemilihan bahan) cukup baik sehingga mudah dirawat dan
membersihkannya.
113 3,77 1,09
x.1.2.2. Tekstur dinding bangunan dalam ruangan memberikan
suasana nyaman dalam bekerja 117 3,90 0,88
Desain Interior (x.1.3.)
x.1.3.1. Penataan meja dan kursi pengunjung di Restoran “X” memudahkan dalam membersihkan dan menata ulang
108 3,60 0,77
x.1.3.2. Kesesuaian luas ruangan pengunjung dengan ruas jalan di sela ruangan cukup luas untuk melakukan aktivitas sehari-hari
110 3,67 1,03
Rata-rata 115 3,83 0,45
Lingkungan Kerja Perantara (X2) Pencahayaan (x.2.1.)
x.2.1.1. Posisi atau letak lampu yang strategis memberikan
penerangan yang cukup dalam melakukan pengawasan 93 3,10 1,18
x.2.1.2. Penerangan lampu di Restoran “X” cukup baik sehingga mengurangi kesalahan dalam bekerja
104 3,47 1,14
Suhu Udara (x.2.2.)
x.2.2.1. Sirkulasi udara cukup baik sehingga ruangan terasa
nyaman untuk bekerja 100 3,33 1,06
Kebersihan di tempat kerja (x.2.3.)
x.2.3.1. Desain ruangan dengan pemilihan bahan yang tepat
membuat ruangan terlihat lebih bersih 103 3,43 1,10
x.2.3.2. Penempatan pembuangan sampah dan grease trap yang tepat tidak menimbulkan aroma atau bau yang tidak sedap
90 3,00 0,98
Keamanan di tempat kerja (x.2.4.)
x.2.4.1. Penempatan peralatan kerja cukup baik disertai dengan
bekerja sehingga terhindar dari kecelakaan
x.2.4.2. Kondisi peralatan kerja cukup baik sehingga aman untuk
digunakan 108 3,60 1,35
Rata-rata 101,286 3,38 0,38
Produktivitas (Y)
Y1 Layout internal seperti tata letak meja dan kursi
pengunjung, tata letak kasir yang strategis, pemilihan bahan untuk meja dan kursi membuat kerja anda lebih efisien
94 3,13 1,17
Y2 Peralatan kerja yang disediakan cukup memadai disertai dengan petunjuk penggunaannya membuat anda bekerja lebih efisien dan aman
97 3,23 1,10
Y3 Lingkungan kerja seperti penataan lampu dan pemilihan jenis lampu, sirkulasi udara, pembuangan sampah dan
grease trap cukup baik sehingga membuat kerja anda
lebih efisien dan nyaman
105 3,50 0,9
Y4 Umumnya layout, peralatan, dan lingkungan kerja yang ada di Restoran “X” sangat baik dalam mendukung produktivitas kerja anda
98 3,27 1,112
Rata-rata 98,5 3,28 0,532291
Sumber: Data yang diolah (Lampiran 2)
Untuk tangggapan 30 responden mengenai pernyataan lingkungan kerja yang meliputi lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara, dan produktivitas di Restoran “X” diperoleh rata-rata sebagai berikut:
1. Lingkungan kerja langsung di Restoran “X” diperoleh nilai rata-rata secara keseluruhan sebesar 3,83. Hal ini berarti bahwa jawaban karyawan yang menyangkut lingkungan kerja langsung di Restoran “X” relatif baik.
2. Lingkungan kerja perantara di Restoran “X” diperoleh nilai rata-rata secara keseluruhan sebesar 3,38. Hal ini berarti bahwa jawaban karyawan yang menyangkut lingkungan kerja perantara di Restoran “X” relatif baik.
3. Produktivitas karyawan di Restoran “X” diperoleh nilai rata-rata secara keseluruhan sebesar 3,28. Hal ini berarti bahwa jawaban responden yang menyangkut produktivitas karyawan di Restoran “X” relatif baik.
4.2.1.2. Analisis Korelasi Antar Sub Variabel terhadap Variabel Penelitian
Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS, diperoleh data yang menunjukkan adanya korelasi bersangkutan. Adapun data ini sebagaimana disajikan dalam lampiran 4. Hasil korelasi sub variabel penelitian dengan variabel penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. X1.1 dengan X1
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas pertama adalah sebesar 0,650. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi karena mendekati nilai satu, meskipun lebih rendah dari sub variabel lainnya.
2. X1.2 dengan X1
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas pertama adalah sebesar 0,748. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi karena mendekati satu dan lebih tinggi dari sub variabel pertama.
3. X1.3 dengan X1
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas pertama adalah sebesar 0,727. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi karena mendekati nilai satu dan tertinggi kedua setelah sub variabel X1.2.
4. X2.1 dengan X2
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas kedua adalah sebesar 0,744. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi karena mendekati nilai satu, meski lebih rendah dari sub variabel lainnya.
5. X2.2 dengan X2
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas kedua adalah sebesar 0,754. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi, dan lebih tinggi dari sub variabel sebelumnya.
6. X2.3 dengan X2
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas kedua adalah sebesar 0,863. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi karena mendekati nilai satu dan merupakan nilai yang tertinggi dari sub variabel lainnya.
7. X2.4 dengan X2
Nilai korelasi yang terjadi antara sub variabel ini dengan variabel bebas kedua adalah sebesar 0,801. Nilai korelasi ini dinilai cukup tinggi, dan tertinggi kedua setelah sub variabel X2.3.
Berdasarkan hasil korelasi, baik korelasi antara sub variabel bebas pertama dengan variabel bebas pertama (X1) maupun sub variabel bebas kedua dengan variabel bebas kedua (X2) adalah mendekati satu. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang kuat antara tiap sub variabel bebas dengan variabel bebasnya.
4.2.2. Analisis dan Pembahasan Hasil Pengolahan Data 4.2.2.1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum data diolah perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan program SPPS for Windows Release 10.0 dapat dilihat pada lampiran 5, 6, dan 7. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa data untuk lingkungan kerja langsung dinyatakan reliabel karena diperoleh nilai α sebesar 0,8877 atau berada diatas 0,5, data untuk lingkungan kerja perantara dinyatakan reliabel karena diperoleh nilai α sebesar 0,8584 atau berada diatas 0,5, sedangkan data untuk produktivitas dinyatakan reliabel karena diperoleh nilai α sebesar 0,7573 atau berada di atas 0,5. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa data untuk lingkungan kerja langsung dinyatakan valid karena setiap pernyataan dari setiap variabel nilainya diatas 0,3 , data untuk lingkungan kerja perantara dinyatakan valid karena setiap pernyataan dari setiap variabel nilainya diatas 0,3 , sedangkan data untuk produktivitas juga dinyatakan valid karena setiap pernyataan dari setiap variabel nilainya diatas 0,3.
4.2.2.2. Analisis Regresi Linier Berganda
Dalam pengolahan datanya digunakan program SPSS for Windows Release 10.0 dapat dilihat pada lampiran 8. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis statistik regresi linier berganda, persamaannya adalah:
Y= a+b1.X1+b2.X2+Ei
Hasil yang diperoleh dari perhitungan SPPS for Windows Release 10.0 ini adalah sebagai berikut:
a = 1,466 b1 = 0,390
b2 = 0,188
Sehingga persamaan regresi linier berganda adalah: Y = 1,466 + 0,390 X + 0,188 X + Ei
1. Besarnya a = 1,466, berarti nilai Y (produktivitas) = 1,466 , kalau X1, X2=0.
Pada persamaan regresi linier tersebut menunjukkan nilai a (konstanta) adalah positif sebesar 1,466. Nilai tersebut mempunyai arti bahwa jika lingkungan kerja (lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara) tidak ada, maka produktivitas karyawan di Restoran “X” sebesar 0,829.
2. Besarnya b1 = 0,390, berarti jika X1 (lingkungan kerja langsung) naik satu
satuan, sedangkan X2 konstan, maka Y (produktivitas) naik 0,390.
Nilai b1 (koefisien regresi) adalah lingkungan kerja langsung, menunjukan arti
bahwa perubahan lingkungan kerja langsung (kenaikan atau penurunan) di Restoran “X” akan diikuti dengan perubahan produktivitas (kenaikan atau penurunan) sebesar 0,390. Dalam hal ini, lingkungan kerja langsung mempunyai pengaruh positif terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X”.
3. Besarnya b2 = 0,188, berarti jika X2 (lingkungan kerja perantara) naik satu
satuan, sedangkan X1 konstan, maka Y (produktivitas) naik 0,188.
Nilai b2 (koefisien regresi) adalah lingkungan kerja perantara, menunjukan arti
bahwa perubahan lingkungan kerja perantara (kenaikan atau penurunan) di Restoran “X” akan diikuti dengan perubahan produktivitas (kenaikan atau penurunan) sebesar 0,188. Dalam hal ini, lingkungan kerja perantara mempunyai pengaruh positif terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X”.
4.2.2.3. Analisis Korelasi dan Determinasi Berganda
Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara X1, X2 secara serentak terhadap Y. Hasil korelasi ini diperoleh dengan
menggunakan program SPSS for Windows Release 10.0 dapat dilihat pada lampiran 8. Koefisien determinasi berganda (R2) adalah sebesar 0,722 dan R adalah sebesar 0,850. Hal ini berarti bahwa variasi (naik/turunnya) variabel ttidak bebas yaitu produktivitas dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara adalah sebesar 72,2 % sementara sisanya 0,278 atau 27,8 % dipengaruhi faktor-faktor lain.
4.2.2.4. Analisis korelasi dan Determinasi parsial
Analisis korelasi dan determinasi parsial digunakan untuk mengetahui berapa persen kontribusi sumbangan efektif masing-masing prediktor terhadap respon kontribusi. Sumbangan efektif tiap prediktor dapat dilihat dari koefisien korelasi tiap prediktor. Hasil korelasi dan determinasi parsial ini diperoleh dengan menggunakan program SPSS for Windows Release 10.0 dapat dilihat pada lampiran 8, hasilnya:
- Sumbangan efektif prediktor yang diberikan lingkungan kerja langsung untuk menjelaskan produktivitas sebesar 0.638 atau 63.8 %.
- Sumbangan efektif prediktor yang diberikan lingkungan kerja perantara untuk menjelaskan produktivitas sebesar 0,321 atau 32.1 %.
Dari sumbangan efektif masing-masing prediktor diatas dapat diketahui bahwa diantara lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara yang memiliki pengaruh terbesar atau paling signifikan terhadap produktvitas di Restoran “X” adalah lingkungan kerja langsung yaitu sebesar 63.8 %. Dengan demikian berarti hipotesis kerja kedua dapat diterima kebenarannya.
4.2.3. Analisis Uji F dan Uji t 4.2.3.1. Analisis Uji F
Hasil uji Fhitung ini diperoleh dengan menggunakan program SPSS for
Windows Release 10.0 dapat dilihat pada lampiran 8, didapat hasil sebagai berikut:
Fhitung = 35,041
Ftabel = F(0,05 ; 2/27) = 3,354
Gambar 1
Distribusi Kriteria Penerimaan / Penolakan Hipotesis secara Simultan
Daerah Penolakan Ho Daerah
Penerimaan H
Dengan penentuan hipotesis:
H0 : b1 = b2 = 0 berarti variabel-variabel bebas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya.
H1 : b1 ≠ b2 = 0 berarti variabel-variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya.
H0 diterima apabila Fhitung < 3,354 H0 ditolak apabila Fhitung > 3,354
Karena Fhitung (35,041) > Ftabel (3,354) dan α < 0,05 yaitu sebesar 0,000, berarti
variabel bebas yaitu lingkungan kerja langsung (X1) dan lingkungan kerja
perantara (X2) secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap
produktivitas (Y), berarti hipotesis kerja pertama dapat diterima kebenarannya.
4.2.3.2. Analisis uji t
Pengujian uji t yang dilakukan menggunakan level of significance (α) yang digunakan adalah sebesar 0,025 dengan jumlah sampel adalah 30 orang sehingga degree of freedom (df) yang dihasilkan df = n–k-1 yaitu sebesar 27. Hasil analisis uji thitung ini diperoleh dengan menggunakan program SPSS for Windows Release
10.0 dapat dilihat pada lampiran 8, didapat hasil sebagai berikut: thitung-1 = 5,375, thitung-2 = 2,709.
Untuk α = (0,05 / 2) dari tabel t diperoleh ttabel (0,025 ; 27) = 2,052.
Gambar 2
Distribusi penerimaan / penolakan hipotesis variabel Lingkungan Kerja Langsung (X1)
Daerah penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho -2,052 2,052 5,375
H0 diterima apabila –ttabel ≤ thitung ≤ ttabel
H0 ditolak apabila thitung > ttabel atau thitung < -ttabel
Dengan penentuan, hipotesis, yang dilakukan pada setiap variabel lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara yang akan diuji.
H0 : bi = 0 berarti variabel-variabel bebas (lingkungan kerja langsung) secara parsial tidak mempengaruhi produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya
H1 : bi ≠ 0 berarti variabel-variabel bebas (lingkungan kerja langsung) secara parsial mempengaruhi produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya.
Karena thitung-1 = 5,375 > ttabel = 2,052 dan α < 0,05 yaitu sebesar 0,000, berarti H0
ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan kerja
langsung secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X”.
Gambar 3
Distribusi penerimaan / penolakan hipotesis variabel Lingkungan Kerja Perantara (X2)
H0 diterima apabila –ttabel ≤ thitung ≤ ttabel
H0 ditolak apabila thitung > ttabel atau thitung < -ttabel
Dengan penentuan, hipotesis, yang dilakukan pada setiap variabel lingkungan kerja langsung dan lingkungan kerja perantara yang akan diuji.
Daerah penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho -2,052 2,052 2,709
H0 : bi = 0 berarti variabel-variabel bebas (lingkungan kerja perantara) secara parsial tidak mempengaruhi produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya
H1 : bi ≠ 0 berarti variabel-variabel bebas (lingkungan kerja perantara) secara parsial mempengaruhi produktivitas karyawan di Restoran “X” Tunjungan Plaza 4 Surabaya.
Karena thitung-2 = 2,709 > ttabel = 2,052 dan α < 0,05 yaitu sebesar 0,012, berarti H0
ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan kerja
perantara secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas karyawan di Restoran “X”.
Hal ini berarti lingkungan kerja langsung (X1) dan lingkungan kerja
perantara (X2) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap
produktivitas (Y) berarti hipotesis kerja pertama dapat diterima kebenarannya.
4.2.4. Pembahasan
4.2.4.1. Lingkungan Kerja Restoran “X” 4.2.4.1.1. Lingkungan Kerja Langsung 1. Layout Internal
Berdasarkan teori dari Soekresno (2000): jarak kursi yang satu dengan yang membelakangi adalah minimun 90 cm atau 1 m, sedangkan untuk pergeseran kursi baik maju atau mundur yaitu antara 10-20 cm, dan untuk pergeseran mundur kursi untuk pelanggan berdiri adalah 30 cm.
Sedangkan di Restoran “X”, jarak kursi yang satu dengan yang membelakangi adalah 68 cm, untuk pergeseran maju mundur kursi untuk kebutuhan duduk 10 cm dan untuk pergeseran mundur kursi pelanggan yaitu 30 cm. Itu menunjukkan bahwa jarak kursi di Restoran “X” dibawah standar. Sedangkan untuk pergeseran maju mundur kursi untuk kebutuhan duduk dan pergeseran mundur kursi pelanggan sesuai dengan standar. Meskipun penempatan meja kursi yang ada dibawah standar, tetapi dapat dikatakan cukup baik sehingga memudahkan karyawan dalam melakukan clear up. Begitu juga dengan tata letak kasir (lihat lampiran 9). Dimana kedua hal tersebut memiliki nilai mean masing-masing adalah 3,70 dan 4,37. Sedangkan untuk nilai korelasi dari layout cukup tinggi, yaitu 0,650, yang menunjukkan
bahwa layout mempunyai pengaruh terhadap lingkungan kerja langsung yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
2. Tekstur
Tekstur meja dan kursi, dan tekstur dinding ruangan yang terdapat di Restoran “X”, yaitu:
1) Tekstur meja dari kayu dicat dengan warna coklat tua. 2) Tekstur kursi dari kayu
3) Tekstur dinding ruangan ada tiga yaitu: menggunakan batu-batu alam, batu bata, dan kertas koran.
Dari data hasil isian kuesioner, pemilihan tekstur meja dan kursi yang sebagian dari kayu ini menunjukkan kesan alami dan keserasian serta memudahkan karyawan dalam bekerja. Ini didasarkan pada hasil mean, yaitu 3,77. Sedangkan untuk tekstur dinding ruangan yang menggunakan batu-batu alam, batu bata, dan kertas koran membuat suasana terasa nyaman. Ini dasarkan pada hasil mean, yaitu 3,90 dimana hasil mean lebih tinggi dari tekstur meja dan kursi. Hal ini juga didukung dengan nilai korelasi yang cukup tinggi, yaitu 0,748. Yang menunjukkan bahwa tekstur secara keseluruhan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam lingkungan kerja langsung yang berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
3. Desain Interior
Kesesuaian luas ruangan dengan ruas jalan di sela ruangan cukup luas dan cukup baik sehingga tidak menghalangi atau menghambat kerja dari karyawan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil mean, yaitu 3,67. Sedangkan untuk kesesuaian penempatan meja kursi memiliki hasil mean, yaitu 3,60. Keseluruhan dari desain interior memiliki nilai korelasi yang cukup tinggi kedua dari sub variabel tekstur, yaitu 0,727. Dimana menunjukkan bahwa desain interior Restoran “X” mempunyai pengaruh terhadap lingkungan kerja langsung yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
Dari ketiga lingkungan kerja langsung diatas, yang paling berpengaruh adalah Tekstur.
Pencahayaan di Restoran “X” secara sentral dari pihak SOGO. Untuk penempatan posisi atau tata letak lampu, Restoran “X” meletakkan lampu diatas counter-counter dan ditengah-tengah atas meja kursi pengunjung, dimana dirasa cukup tepat untuk membantu karyawan dalam bekerja. Sedangkan posisi lampu berdasarkan hasil mean, yaitu 3,10, ini menunjukkan posisi lampu cukup tepat sehingga memudahkan karyawan dalam melakukan pengawasan meski nilainya sedikit. Sedangkan untuk penerangan lampu di Restoran “X” terlihat remang-remang atau kurang terang, tetapi berdasarkan hasil mean, yaitu 3,47, ini menunjukkan bahwa penerangan lampu di Restoran “X” cukup terang sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam bekerja. Secara keseluruhan pencahayaan di Restoran “X” berpengaruh cukup baik dengan nilai korelasi yang cukup tinggi, yaitu 0,744. Yang menunjukkan bahwa pencahayaan memiliki pengaruh terhadap lingkungan kerja perantara yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
2. Suhu Udara
Suhu udara yang ada di Restoran “X” dikontrol dari pusat, yaitu SOGO. Berdasarkan hasil mean, yaitu 3,33. Ini menunjukkan bahwa suhu udara yang ada cukup baik sehingga ruangan terasa nyaman untuk bekerja. Didukung dengan nilai korelasi yang cukup tinggi, yaitu 0,754, yang menunjukkan bahwa suhu udara berpengaruh terhadap lingkungan kerja perantara yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
3. Kebersihan
Kebersihan di Restoran “X” cukup terjaga dengan pemilihan bahan yang tepat untuk membuat ruangan terlihat bersih, dan hal ini didukung dengan hasil mean yang cukup baik, yaitu 3,43. Sedangkan penempatan tempat sampah dan grease trap diletakkan ditempat yang tepat, yaitu jauh dari pengunjung sehingga terhindar dari bau tidak sedap. Berdasarkan hasil mean, yaitu 3,00. ini menunjukkan bahwa penempatan tempat sampah dan grease trap cukup tepat meski memiliki nilai kecil atau rendah dari sub variabel sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan secara keseluruhan mempunyai pengaruh yang cukup baik terhadap lingkungan kerja perantara denagn memiliki nilai korelasi yang cukup tinggi, yaitu 0,863, yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
4. Keamanan
Keamanan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kinerja para karyawannya karena dapat membuat karyawan menjadi senang dalam melaksanakan pekerjaannya. Keamanan di Restoran “X”, cukup baik dalam hal penempatan peralatan kerja yang cukup rapi, dimana peralatan kerja yang digunakan ditata sesuai dengan alur, sebagai contoh counter minuman dimana peralatan ditata mulai gelas saji, bahan-bahan yang digunakan, lalu alat untuk membuat minuman, dan terakhir tempat penyediaan es batu, dan semua itu disertai dengan petunjuk penggunaannya. Hal ini juga didukung dengan hasil mean yang cukup baik, yaitu 3,70. Sedangkan untuk kondisi peralatan kerja, di peroleh hasil mean yang ada yaitu 3,60, menunjukkan kondisi peralatan kerja yang ada cukup baik, dalam hal ini kondisi peralatan tidak ada yang rusak, sehingga aman digunakan. Secara keseluruhan keamanan di Restoran “X” cukup berpengaruh terhadap lingkungan kerja perantara dengan memiliki nilai korelasi yang cukup tinggi yaitu 0, 801, yang juga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
Dari keempat lingkungan kerja perantara diatas, yang paling berpengaruh adalah Kebersihan di tempat kerja.
4.2.4.2. Produktivitas
Secara parsial lingkungan kerja langsung mempunyai pengaruh lebih besar (63,8%) dari pada lingkungan kerja perantara (32,1%) terhadap produktivitas karyawan. Dimana hasil ini mendukung pendapat dari Kussriyanto (1993), yaitu pengaturan layout, kondisi peralatan kerja, dan lingkungan kerja mempengaruhi produktivitas karyawan. Sedangkan sisanya yaitu 4,1% dipengaruhi oleh faktor lain seperti upah intensif dan pembagian tugas yang tepat.